alyadara

Reynaldi menatap satu persatu anak buahnya. Dengan satu tangannya, ia memasukkan peluru ke *loading peluru dan jarinya hampir saja menarik pelatuk pistolnya, mengarahkannya ke deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhan jarinya dan meletakkan pistol apinya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajah Reynaldi, “Saya mau apa pun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya.”

Sang kepala bodyguard angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan pendapatnya, “Tapi Bos, gimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi.”

“Petarung nggak akan mundur sebelum berperang,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi sepakat untuk ketemu. 3 hari lagi, lokasinya di sini,” jelas Rudi.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini peta rencana kita. Setelah kedua kubu bertemu, kita akan kasih salinan buktinya dan saat itu pasukan polisi siap mengeksekusi,” ujar Bagas.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi terhasut,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara menoleh ke samping kanannya, ia memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal. Suaminya itu menghembuskan napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah kehasut. Tapi gue curiga Reynaldi nyiapin back up plan. Nggak mungkin dia menyerah semudah ini,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka pada Aryo. Risa dan Aurorae kemudian mengangguk setuju. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu dia berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak memiliki keturunan, maka dia bertekad membuat perusahaan ada di tangannya,” tutur Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu, kira-kira apa kelemahan dari tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Saat ini Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya,” ungkap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras kemungkinan yang di ucapkan Rudi.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara pelan, sebuah tatapan getir terpancar dari bola matanya.

“Iya Ra?” Aryo menatap balik Tiara dan pikirannya mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya seperti sebuah ada sirine pengingat akan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana mereka.

Tiara mengatakan bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk di jadikan senjata.

Mendengar pemikiran Tiara tersebut, seketika membuat pikian semua orang yang ada di ruangan itu terbuka. Reynaldi sudah tahu bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga palsu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikir secetek itu dan melepaskan targetnya dengan begitu gampang.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri. Genggaman tangan Aryo di tangan Tiara mengerat, pria itu berusaha menampik sebuah pemikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi akan menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah jika Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka, Maka tim mereka harus siap untuk menerima boomerang yang akan Reynaldi berikan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Reynaldi menatap satu persatu anak buahnya. Dengan satu tangannya, ia memasukkan peluru ke *loading peluru dan jarinya hampir saja menarik pelatuk pistolnya, mengarahkannya ke deretan botol-botol kaca berisi minuman mahal di ruangannya. Namun pria itu mengurungkan niatnya, ia menjauhan jarinya dan meletakkan pistol apinya di atas meja.

Sebuah senyum picik tercetak di wajahnya, “Saya mau gimanapun caranya, bukti itu sampai ke tangan saya.”

Sang kepala bodyguard angkat bicara ketika tidak ada satu orang pun yang berani mengemukakan pendapatnya, “Tapi Bos, gimana caranya? Bukti itu sudah ada di tangan Rudi.”

“Petarung nggak akan mundur sebelum berperang,” ujar Reynaldi. “Siapkan semua senjata terbaik yang kita punya di markas. Kita perlu menyusun rencana,” tukas Reynaldi.

***

Markas Polisi

“Reynaldi sepakat untuk ketemu. 3 hari lagi, lokasinya di sini,” jelas Rudi.

Di samping Rudi, Bagas membuka sebuah gulungan karton tebal di atas meja panjang di hadapan mereka. “Ini peta rencana kita. Setelah kedua kubu bertemu, kita akan kasih salinan buktinya dan saat itu pasukan polisi siap mengeksekusi,” ujar Bagas.

“Sesuai rencana awal kita, Reynaldi terhasut,” ujar Akmal yang diangguki oleh semua orang yang ada di sana.

Tiara menoleh ke samping kanannya, ia memerhatikan Aryo yang nampak tidak setuju dengan ucapan Akmal. Suaminya itu menghembuskan napas pelan sembelum berujar, “Gue pikir Reynaldi emang udah kehasut. Tapi gue curiga Reynaldi nyiapin back up plan. Nggak mungkin dia menyerah semudah ini,” ujar Aryo.

Semua pasang mata mengarahkan tatapan mereka pada Aryo. Risa dan Aurorae kemudian mengangguk setuju. “Yang Aryo bilang ada benarnya. Gue tau Reynaldi orang yang seperti apa. Dari dulu dia berambisi untuk menguasai perusahaan. Karena dia nggak memiliki keturunan, maka dia bertekad membuat perusahaan ada di tangannya,” tutur Risa.

“Jadi apa yang harus kita lakuin untuk mengantisipasi ini?” tanya Bagas.

“Kita harus tau lebih dulu, kira-kira apa kelemahan dari tim kita yang bisa dijadiin sasaran empuk Reynaldi untuk nyerang kita balik,” ujar Risa.

Rudi setuju dengan perkataan Risa. “Saat ini Reynaldi menjadikan kita sebagai musuh besarnya. Tapi dia nggak mungkin menyerang satu persatu dari kita, itu cuma akan membuang waktunya,” ungkap Rudi. Semua yang ada di sana seketika berpikir keras kemungkinan yang di ucapkan Rudi.

Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di benak Tiara. Ia mengambil tangan Aryo di sampingnya dan mengenggamnya. “Aryo,” ujar Tiara pelan, sebuah tatapan getir terpancar dari bola matanya.

“Iya Ra?” Aryo menatap balik Tiara dan pikirannya mulai terasa kacau. Di dalam kepalanya seperti sebuah ada sirine pengingat akan bom waktu yang kapan saja bisa meledak dan menghancurkan semua recana mereka.

Tiara mengatakan bahwa ada kemungkinan Reynaldi mencari keberadaan Michelle untuk di jadikan senjata.

Mendengar pemikiran Tiara tersebut, seketika membuat pikian semua orang yang ada di ruangan itu terbuka. Reynaldi sudah tahu bahwa bukti kematian Michelle Taninka Sinaga palsu. Penjahat kelas kakap sekelas Reynaldi tidak mungkin berpikir secetek itu dan melepaskan targetnya dengan begitu gampang.

Pupil mata Aryo yang menatap Tiara, bergerak ke kanan dan kiri. Genggaman tangan Aryo di tangan Tiara mengerat, pria itu berusaha menampik sebuah pemikiran yang baru saja terlintas di benaknya. Sebuah pemikiran bahwa Reynaldi akan menargetkan Tiara untuk mengancam titik terlemah tim mereka. Kemungkinan terburuknya adalah jika Reynaldi menemukan fakta bahwa Tiara adalah Michelle Taninka, Maka tim mereka harus siap untuk menerima boomerang yang akan Reynaldi berikan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

#

Video Tiara Aryo

#

Video Tiara Aryo

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kita masuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?” tanya Bagas.

“Gue kepikiran satu cara. Kita perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan jejak apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu dan usahakan,” ujar Aurorae.

“Setelah kita dapat buktinya, kita nggak bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dengan menyadap suara di area markas taregt dan beberapa lokasi yang memungkinkan. Atas kerja sama tim, bantuan orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Dedek bayi laper lagi kali,” ujar Tiara sembari mengelus-ngelus perutnya.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk ikut mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa. Mencari roti maryam pukul sebelas malam begini, bukanlah hal yang sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh ataupun menembak target, begitu pikir Aryo.

***

Ferdi Siregar, notaris Erlangga, akhirnya berhasil ditemukan. Ferdi memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Ferdi membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota untuk melindungi dirinya dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Ferdi juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah kasih ke gue, sebelum beliau pergi. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya cocok sama brankasnya?” pertanyaan Tiara tersebut terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap liontin berbentuk kunci di hadapannya yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan, setidaknya ada harapan untuk kuncinya cocok. Gue percaya, Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan cukup menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas untuk menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu kali ini tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

Tiara mengulaskan senyuman ramahnya. “Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiara. “I just think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa gue nggak akan cemburu untuk itu.”

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You are the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehamilan lo, gue ikut senang dengar kabarnya.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. Beberapa saat yang lalu ia hanya mendengarkan dari jarak yang tidak terlalu dekat. “Kalian ngomongin apa?” tanya Aryo.

I must to go. Kalau kamu ingin tau, kamu bisa tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae sambil bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil memenangkan kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar ketika mendengarnya.

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya, Tiara,” terang Aryo.

Oke well, tell me about the limit. Aku nggak akan cemburu.”

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. I'm already yours, truly, one and only, Sweety.” Aryo mengikuti langkah Tiara menuju mobil. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo menahan pintu mobil yang hendak Tiara buka.

Mendengar rentetan kata yang diucapkan Aryo, membuat Tiara menyunggingkan senyumnya hingga nampak deretan gigi depannya yang rapih.

Aryo balas menatap Tiara. Dari tatapan pria itu, Tiara merasa kehadirannya di dunia ini begitu berharga dan dicintai. “I'm serious, I can't stop loving you, Tiara. You know, when you got jealous, it's really showed you're really fall in love and that's really cute,” ujar Aryo.

Tiara mengernyitkan alisnya, “So I will get jealous in my entire life.”

Why?

Because I will love you more and more. You will busy thinking about me, everyday, every second, until you even cannot look into other girl,” cerocos Tiara. Aryo yang memperhatikan itu tersenyum lebar, ia selalu menyukai Tiara yang cerewet seperti ini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara sambil tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari perempuan itu. “Kamu cerewet kayak gini di depan aku aja, yaa?” ujar Aryo.

“Kamu suka kalau aku cerewet?”

“Suka banget.”

“Sayang aku nggak?” tanya Tiara sambil mendekatkan wajahnya pada Aryo dan menatap suaminya dengan gemas.

“Sayang, sayang banget.”

Tiara menampakkan cengirannya. Beberapa detik kemudian, tampak sebuah kilatan di mata Tiara, pandangannya berubah sendu. “Terima kasih kamu udah sayang sama aku,” Tiara menjeda ucapannya, perempuan itu tersenyum kecil, “Setelah ayah dan bunda yang paling aku sayang di dunia ini, kamu adalah yang kedua setelah mereka. Orang tuaku pasti bahagia banget, kalau aja mereka sempat mengenal kamu, menyaksikan kamu hadir di hidup aku,” ungkap Tiara.

Tiara menjelaskan pada Aryo bahwa kehadiran pria itu layaknya pengganti orang tuanya. Aryo memberikan kasih sayang yang selama ini seperti hilang dari dalam dirinya. Aryo sosok yang melengkapi hidup Tiara, menyiraminya dengan afeksi yang tidak bisa Tiara dapatkan hanya dari orang tua sambungnya. Sehingga seiring berjalannya waktu, afeksi tersebut telah membuat bunga-bunga di taman hatinya hidup kembali, setelah sekian lama telah mati.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Semua pasang mata di ruangan itu menatap seorang perempuan yang kini di bawa oleh Aryo ke markas. Sebelumnya Aryo telah menyampaikan pemikirannya, bahwa mereka membutuhkan satu komponen lagi untuk menjalankan rencana baru. Komponen tersebut adalah satu hal yang mereka belum miliki, jadi meminta bantuan kepada ahlinya adalah salah satu alternatif yang dapat di lakukan.

“Aurorae Hartanto,” perempuan bersurai hitam legam itu memperkenalkan dirinya.

“Rudi Abimana, senang bisa bertemu dengan Anda lagi,” ucap Aurorae ketika pandangannya bertemu dengan Rudi. Dari semua yang hadir di ruangan itu, hanya Rudi yang sudah mengenal Aurorae. Seperti yang Aurorae katakan, siapa pebisnis yang tidak mengenal Rudi Abimana. Ini merupakan pertemuannya dengan Rudi yang ketiga kalinya.

Setelah perkenalan singkat tersebut, Aurorae menjelaskan lebih dulu alasannya berada di sini dan apa yang dapat ia berikan sebagai bantuan.

Rudi mengeluarkan sebuah foto di atas meja. Aurorae memerhatikan foto tersebut, tangannya lantas terulur untuk mengambilnya. “Reynaldi Brodjohujodyo. Are you guys ... want to against him?” Aurorae menatap Rudi, Bagas, dan Rama secara bergantian. Kemudian perempuan cantik itu mengarahkan tatapannya ke arah Aryo.

Aryo pun mengangguk. “Reynaldi diduga adalah dalang dari kecelakaan Erlangga Sinaga sebelas tahun yang lalu. Pembunuhan berencana, suap, dan pembelian properti ilegal,” jelas Aryo.

It's not that easy to beat him. But we still have a chance. Berapa bukti yang udah berhasil di temukan? Oh wait, who is Erlangga Sinaga?”

Rudi dan Bagas menjelaskan lebih detail kepada Aurorae. Setelah mendengar semuanya, perempuan itu membuat sebuah coret-coretan di whiteboard besar di hadapan mereka. Menggunakan spidol merah, Aurorae membuat sebuah kesimpulan agar mereka dapat menentukan langkah selanjutnya.

“Jadi maksud lo kita harus masuk ke sarang musuh untuk mendapatkan bukti kuatnya?” tanya Rama selesai ia membaca mind miping yang dibuat oleh Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis, ia meletakkan spidol merahnya. “Correct. Satu-satunya cara menangkap musuh kali ini adalah dengan mendapatkan bukti yang kuat.”

“Gimana kalau kita nggak dapat apa-apa dan justru eksekusi itu membuat kita terperangkap di sarang musuh?” ujar Bagas menyuarakan pemikirannya.

We will never know if we never try, right? Dalam dunia hukum, kejahatan kayak gini memerlukan bukti yang kuat. Benar begitu, Om Rudi?” ujar Aurorae sambil mengarahkan tatapannya pada Rudi.

Rudi mengangguk. “Yang di bilang Aurorae benar. Kita akan terus stuck kalau nggak punya bukti kuat untuk mengungkap perbuatan Reynaldi.”

Okey, let say kita masuk ke sarang musuh. Tapi gimana caranya kita ke sana tanpa tercium?” tanya Bagas

“Gue kepikiran satu cara. Kita perlu teknologi yang canggih untuk masuk ke sana tanpa meninggalkan jejak apapun. Untuk persoalan itu, gue akan coba bantu dan usahakan,” ujar Aurorae.

“Setelah kita dapat buktinya, kita nggak bisa langsung buat laporan kasus ini ke polisi. Reynaldi pasti sudah mempersiapkan semuanya untuk mencuci tangannya. Dilihat dari trek rekornya, dia beberapa kali lolos dari kasus suap dan penggelapan dana,” ungkap Aryo.

Rudi berdiri dari kursinya dan berjalan ke depan, pria itu membuat sebuah catatan di papan tulis, “Setelah kita dapat buktinya, kita pancing musuh untuk masuk ke perangkap,” Rudi menarik sebuh garis yang dihubungkan ke garis yang lainnya. “Tepat saat itu, kita akan siapkan pasukan di belakang untuk menangkap musuh di tempat kejadian,” pungkasnya.

***

Tim mereka berhasil melakukan sabotase dengan menyadap suara di area markas taregt dan beberapa lokasi yang memungkinkan. Atas kerja sama tim, bantuan orang dalam, dan kemampuan bernegosiasi, mereka membobol markas Reynaldi tanpa meninggalkan jejak sedikit pun.

Dari hasil rekaman suara yang di dapat, Reynaldi mengatakan bahwa ada sebuah brankas yang selama ini dicari olehnya. Sampai saat ini Reynaldi belum dapat menemukan dimana Erlangga menyimpan brankas tersebut.

“Sekarang kita udah tau kalau buktinya ada di brankas itu. Tapi tim kepolisian Om Rudi belum bisa nemuin dimana Ayah kamu nyimpan brankasnya,” ujar Aryo.

“Aryo.”

“Ya?” Aryo menghentikan usapan tangannya di surai Tiara.

“Ayah punya notaris, tapi jauh sebelum Om Rudi berniat buka lagi kasusnya, kita sempat cari keberadaan beliau dan belum ketemu. Kita nggak tau beliau dimana, tapi ada kemungkinan beliau tau sesuatu soal brankas itu,” ucap Tiara.

Mendengar perkataan Tiara, membuat Aryo memikirkannya. “Ayah kamu nggak mungkin nyimpan brankas itu di sembarang tempat.” Aryo beranjak dari posisi tidurannya, ia menghubungi seseorang melalui ponselnya.

“Kamu mau cari notarisnya ayah?”

Aryo mengangguk, “Semoga segera ada titik terang untuk ini.” Aryo memerhatikan paras Tiara, jelas ada kekhawatiran yang bergelayut di sana.

“Hei, kamu mikirin apa?” tanya Aryo.

“Aku cuma khawatir.”

It's oke.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap pipi Tiara.

“Aryo, aku laper. Mau makan lagi.”

“Lho, tadi kan kita baru aja makan, Ra.”

“Yaa mana aku tau. Si bayi laper lagi kali,” ujar Tiara.

Aryo lantas tergelak mendengarnya. “Oke, kita cari makanan. Kamu mau makan apa?”

“Aku mau roti maryam yang khas Aceh itu.”

“Kamu serius?” tanya Aryo sambil bangun dari posisi rebahannya. Ia tidak terpikirkan bahwa Tiara akan meminta sesuatu yang cukup sulit didapat malam-malam seperti ini.

Tiara yang melihat wajah kantuk Aryo, menjadi tidak tega. “Yaudah deh nggak usah kalau kamu ngantuk. Besok-besok aja.”

“Aku nggak ngantuk, Sayang. Kita keluar cari roti maryamnya, oke?” tutur Aryo sambil tersenyum. Sebelum mengambil kunci mobilnya, pria itu memerintahkan ajudannya untuk mencarikan makanan yang diinginkan Tiara. Asistennya haruslah serba bisa, pikir Aryo. Mencari roti maryam jam 11 malam begini, itu tidak sulit jika dibandingkan dengan mengintai musuh dan menembak target, bukan?

***

Ferdi Siregar, notaris Erlangga, akhirnya berhasil ditemukan. Ferdi memberitahu bahwa brankas itu disimpan menggunakan jasa safe deposit box di sebuah bank. Selama sebelas tahun, Ferdi membayar rutin biaya penyimpanannya. Pria itu telah lama memutuskan pindah ke luar kota demi melindungi diri dari Reynaldi.

“Percuma kalian mengambil brankas itu dari bank. Kunci untuk membuka brankasnya hanya Erlangga yang mengetahuinya.” Ferdi juga menambahkan bahwa brankas itu memiliki kekuatan tahan api dan bantingan kuat, sehingga hanya bisa dibuka menggunakan kunci yang telah dibuat khusus.

Siang ini tim mereka kembali mengadakan rapat. Tiara mengeluarkan sebuah kotak beludru di atas meja. Kemudian ia membuka kotak tersebut untuk memperlihatkan isi di dalamnya.

Liontin Tiara

“Benda ini satu-satunya yang ayah kasih ke gue, sebelum beliau pergi. Bentuknya mirip kunci, apa ada kemungkinan kuncinya cocok sama brankas itu?” pertanyaan Tiara tersebut terdengar seperti sebuah pernyataan baginya dan semua orang yang ada di sana.

Rudi menatap liontin berbentuk kunci di hadapannya yang seketika membuat sebuah senyum tercetak di wajahnya. “Kita akan coba buktikan, setidaknya ada harapan untuk kuncinya cocok. Gue percaya, Erlangga nggak mungkin pergi tanpa ninggalin petunjuk apapun,” ucap Rudi.

***

Aurorae bertemu dengan Aryo dan Tiara ketika mereka akan mengambil mobil. Setelah rapat yang panjang dan cukup menguras pikiran, satu persatu mereka memutuskan untuk pulang ketika hari sudah beranjak sore.

“Aurorae.” Tiara menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan menghampiri Aurorae. Aryo yang melihat itu memerhatikan sejenak sebelum akhirnya ia bergegas untuk menyusul Tiara.

Tiara mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae, tatapan perempuan itu kali ini tidak seperti saat mereka bertemu di resepsi dan stasiun kereta waktu itu.

Tiara mengulaskan senyum ramahnya. “Gue mau bilang terima kasih sama lo. Lo udah sangat banyak membantu kita,” ujar Tiara. “I just think about it. For what happened in past, about you and Aryo, it's just a past. Lo dan Aryo berhak memiliki itu dan yaa gue nggak akan cemburu untuk itu.”

Aurorae mengulaskan senyumnya, detik berikutnya ia membalas jabatan tangan Tiara. “Well, gue juga berterima kasih sama lo. You are the reason for him to be a better person. Selamat juga atas kehamilan lo, gue ikut senang dengar kabarnya.”

Di tengah-tengah perbincangan itu, Aryo pun menghampiri keduanya. Beberapa saat yang lalu ia hanya mendengarkan dari jarak yang tidak terlalu dekat. “Kalian ngomongin apa?” tanya Aryo.

I must to go. Kalau kamu ingin tau, kamu bisa tanya ke istri kamu,” ujar Aurorae sambil bergantian menatap Aryo dan Tiara. “Ohya, jangan lupa imbalan untuk aku kalau kita berhasil,” ujar Aurorae sebelum perempuan itu memasuki lamborghini merahnya.

Sepeninggalan Aurorae, Tiara mengalihkan tatapannya pada Aryo. “Imbalan apa yang dimaksud Aurorae?” tanya Tiara.

“Dia boleh minta apa aja kalau kita berhasil memenangkan kasusnya.”

What? Are you serious about that?” Bola mata Tiara sukses melebar ketika mendengarnya.

“Lho, kenapa emangnya Sayang?”

“Emang kamu tau apa yang akan dia minta? Kalau dia minta yang macem-macem gimana?”

You said that you will not get jealous, Ra. Aku tau apa yang ada di pikiran kamu, Sayang. Aku udah kasih syarat soal permintaan yang nggak bisa dia minta. Semuanya tetap punya limit-nya, Tiara,” terang Aryo.

Oke well, tell me about the limit. Aku nggak akan cemburu.”

Aryo menatap Tiara, detik berikutnya ia mengulaskan seringai jenakanya dan menaikkan sebelah alisnya, “She can ask for anything. But she can't never ask me to comeback with her. She's already moved on from me. I'm already yours, truly, one and only, Sweety.” Aryo mengikuti langkah Tiara menuju mobil. Kemudian dengan satu tangannya, Aryo menahan pintu mobil yang hendak Tiara buka.

Mendengar rentetan kata yang diucapkan Aryo, membuat Tiara menyunggingkan senyumnya hingga nampak deretan gigi depannya yang rapih.

Aryo balas menatap Tiara. Dari tatapan pria itu, Tiara merasa kehadirannya di dunia ini begitu berharga dan dicintai. “I'm serious, I can't stop loving you, Tiara. You know, when you got jealous, it's really showed you're really fall in love,” ujar Aryo.

Tiara mengangguk dan mengernyitkan alisnya, “So I will get jealous in my entire life.”

Why?

Because I will love you more and more. You will busy thinking about me, everyday, every second, until you even cannot look into other girl,” cerocos Tiara. Aryo yang memperhatikan itu tersenyum lebar, ia selalu menyukai Tiara yang cerewet hanya ketika di hadapannya seperti ini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara sambil tidak melepaskan pandangannya sedikit pun dari perempuan itu. “Kamu cerewet kayak gini di depan aku aja, yaa?” ujar Aryo.

“Kamu suka emangnya kalau aku cerewet?”

“Suka banget.”

“Sayang aku nggak?” tanya Tiara sambil mendekatkan wajahnya pada Aryo dan menatap suaminya dengan gemas.

“Sayang, sayang banget.”

Tiara menampakkan cengirannya. Beberapa detik kemudian, tampak sebuah kilatan di mata Tiara, pandangannya berubah sendu. “Terima kasih kamu udah sayang sama aku,” Tiara menjeda ucapannya, perempuan itu tersenyum kecil, “Setelah ayah dan bunda yang paling aku sayang di dunia ini, kamu adalah yang kedua setelah mereka. Orang tuaku pasti bahagia banget, kalau aja mereka sempat mengenal kamu, menyaksikan kamu hadir di hidup aku,” ungkap Tiara.

Tiara menjelaskan pada Aryo bahwa kehadiran pria itu layaknya pengganti orang tuanya. Aryo memberikan kasih sayang yang selama ini seperti hilang dari dalam dirinya. Aryo sosok yang melengkapi hidup Tiara, menyiraminya dengan afeksi yang tidak bisa Tiara dapatkan hanya dari orang tua sambungnya. Sehingga seiring berjalannya waktu, afeksi tersebut telah membuat bunga-bunga di taman hatinya bisa hidup kembali, setelah sekian lama telah mati.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Masih dengan mata yang terpejam, Aryo meraba-raba kasur di sampingnya. Dahinya mengkerut ketika hanya udara yang menyapa tangannya. Pria itu lekas membuka netranya dan benar saja, ia tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.

Aryo berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, ia pun menemui Felicia di dapur. Kemarin dirinya dan Tiara memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Tiara mengatakan ada baiknya mereka berkunjung. Istrinya itu memikirkan bagaimana Edi dan Felicia begitu merindukan kehadiran anak mereka di rumah.

Setelah mengambil segelas air putih dari kulklas, Aryo bertanya pada Felicia tentang keberadaan Tiara.

“Papamu mau jogging, terus Tiara pengen ikut katanya, mau temenin papa. Yaudah pergi berdua deh mereka.” Penjelasan Felicia sukses membuat Aryo membelalak dan hampir saja gelas kaca di tangannya meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tiara berpikiran untuk jogging padahal perempuan itu tengah mengandung.

“Kamu kenapa? Kok ekspresimu begitu?” tanya Felicia sambil memerhatikan putranya.

“Nggak papa. Aryo mau susul Tiara dulu deh Mah,” Aryo hendak pergi dari sana dan mengambil kunci mobilnya, tapi aksinya itu tertahan ketika melihat papanya dan Tiara sudah kembali. Kedua orang itu membawa satu bungkus plastik yang ternyata berisi empat bungkus nasi uduk.

“Tadi pulang jogging Tiara sama Papa beli nasi uduk, Tiara pengen katanya. Sekalian aja deh beliin buat kamu dan Mama juga,” tutur Edi.

Aryo melempar tatapan meminta penjelasan pada Tiara yang hanya di balas dengan cengiran kecil oleh istrinya itu. Aryo mengehela napasnya, lalu menarik kursi meja makan di samping Tiara. Mereka berempat pun memutuskan sarapan bersama. Felicia dan Tiara lantas mengambilkan piring untuk Edi dan Aryo.

“Tadi jogging-nya lama nggak Pah?” tanya Aryo di sela-sela suapannya.

“Enggak lama kok,” sahut Tiara sebelum Edi sempat menjawab pertanyaan Aryo.

“Iya, nggak lama kok. Emang kenapa?” tanya Edi.

“Tiara nggak boleh jogging Pah, dia kan lagi—”

“Aku udah sembuh, Aryo. Itu Pah, Mah, kemarin Tiara sempat nggak enak badan aja,” sela Tiara sebelum Aryo hampir saja mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung.

“Ohhh gitu. Mama kirain Tiara hamil lho tadi. Bikin kaget aja kamu, Aryo,” sahut Felicia yang langsung membuat Tiara dan Aryo saling melempar pandangan.

***

Edi mendapati putranya mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan ingin berbicara mengenai hal yang lumayan penting.

“Ada apa Aryo? Apa yang mau kamu bicarain soal perusahaan?” tembak Edi tepat sasaran.

“Iya Pah, ini soal perusahaa,” jawab Aryo.

Edi mengulaskan senyum lembut khasnya. “Kamu bisa bicarakan apapun itu sama Papa.”

“Mama ada bilang sesuatu ke Papa sebelumnya?”

Edi mengangguk. “Mama ke rumah kamu beberapa hari yang lalu. Beliau bilang Tiara nggak ada di sana. Kamu sama Tiara udah baik-baik aja, kan?”

Aryo mengangguk. “Yes. We are fine after we fixed our problem. Day by day, about me and her it's just getting better.

Alright, Papa senang dengarnya. Kamu sama Tiara bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Kamu tau, permasalahan dalam pernikahan akan selalu ada, tapi bisa selesai kamu ingin menyelesaikannya. So apa yang mau kamu tanyakan soal perusahaan ke Papa?”

“Ini soal penarikan saham yang jumlahnya cukup besar oleh pemagang saham, Pah. Saat ini masalah itu cukup membaut kondisi perusahaan chaos. Aryo ingin meminta bantuan Papa dan mama,” ungkap Aryo.

Edi menatap putranya sesaat sebelum menorehkan senyum bangganya, “Papa akan dengan senang hati membantu kamu. Papa ngeliat usaha kamu selama ini, kamu sudah belajar banyak dan menerapkannya dengan sangat baik.”

“Makasih Pah,” ujar Aryo diiringi senyumnya.

Sebelum pamit pergi dari ruang kerja Edi, Aryo menyampaikan sesuatu kepada papanya. “Pah, ada hal lumayan besar yang lagi Aryo kerjakan saat ini. Aryo melakukannya sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami Tiara. Saat ini Aryo nggak bisa kasih tau ke ke Papa dan mama, tapi suatu saat Aryo akan sampaikan. Aryo harap Papa dan mama mendukung apa yang Aryo lakukan. Seperti yang Papa ajarkan, Aryo akan selalu ada di pihak yang benar.”

***

Seseorang menekan tombol di samping elevator, membuat pintu gandanya kembali terbuka. Pandangan kedua orang itu lantas bertemu dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Lantai berapa?” tanya Aryo pada Aurorae. Ya, perempuan yang satu lift dengannya itu adalah Aurorae.

“Lantai sepuluh. Aku ada urusan dengan salah satu pemegang saham di sini,” jelas Aurorae seolah dapat membaca pikiran Aryo.

Oke.” Aryo menekan tombol angka sepuluh sesuai yang disebutkan oleh Aurorae.

“Aku tau soal penarikan saham di perusahaan ini,” ujar Aurorae sebelum ia keluar dari lift.

Aryo pun ikut turun di lantai 10 dan mengikuti langkah Aurorae.

Sure. Berita itu pasti kesebar dengan cepat,” ujar Aryo.

“Kamu lupa, Kakek aku juga salah satu pemegang saham di Harapan Jaya?” ujar Aurorae.

“Beliau ingin menarik sahamnya juga? Maksud aku, salah satu yang sudah menarik sahamnya punya hubungan bisnis dengan perusahaan beliau,” terang Aryo.

“Kakek masih memikirkan buat narik atau enggak. Aku minta kakek untuk mempertimbangkan dulu. Aku ngerasa ada yang aneh dari semuanya.”

“Maksud kamu apanya yang aneh?” tanya Aryo.

Project pertama kamu sebagai presiden direktur berjalan baik dan profit-nya sangat memuaskan. I don't know, but aku ngerasa ada permainan di balik pemegang saham yang mau narik saham mereka secara tiba-tiba. Apalagi alasannya cuma karena kebijakan baru yang kamu buat. Mereka yang mau narik sahamnya, adalah mereka yang selama ini bersikap loyal kepada Harapan Jaya. I smell something wrong in here.

“Aku udah sempat mikirin itu, Aurorae. Tapi saat ini fokusku adalah membujuk para pemegang saham agar tidak menarik sahamnya. I still have a chance for that.”

Yes, kamu harus dapatkan kesempatan itu.”

“Aurorae, aku mau meminta bantuan kamu. Selain soal pemegang saham, aku lagi ngerjain satu hal yang cukup besar. Kalau kamu bersedia, aku akan kasih tau kamu soal project tersebut,” jelas Aryo.

You ask me to help you?” tanya Aurorae yang langsung diangguki oleh Aryo. “Ketika kamu meminta bantuan kepada seseorang, kamu akan selalu meminta sama orang yang tepat dan kamu percaya orang itu bisa melakukannya. Apa ini bisnis? Apa yang aku dapatkan kalau aku berhasil?” tanya Aurorae.

“Apapun yang kamu mau. Tapi satu hal yang nggak bisa, jangan minta balikan sama aku.”

Aryo tertawa sekilas, lalu ia menatap Aryo. “Satu hal yang kamu perlu tau, Aryo. Awalnya itu memang sulit, tapi aku berhasil move on dari kamu. Kamu jadi lebih baik bersama dia, aku bisa lihat itu dan aku ikut senang.” Aurorae mengulaskan senyum tulusnya.

Oke. So are we deal for the project?” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis sambil mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu lantas menerima uluran tangan Aryo, ia menjabatnya, “Alright. We are deal.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Masih dengan mata yang terpejam, Aryo meraba-raba kasur di sampingnya. Dahinya mengkerut ketika hanya udara yang menyapa tangannya. Pria itu lekas membuka netranya dan benar saja, ia tidak melihat keberadaan istrinya di sampingnya.

Aryo berjalan keluar kamar dan menuruni tangga, ia pun menemui Felicia di dapur. Kemarin dirinya dan Tiara memutuskan untuk menginap di rumah orang tuanya. Tiara mengatakan ada baiknya mereka berkunjung. Istrinya itu memikirkan bagaimana Edi dan Felicia begitu merindukan kehadiran anak mereka di rumah.

Setelah mengambil segelas air putih dari kulklas, Aryo bertanya pada Felicia tentang keberadaan Tiara.

“Papamu mau jogging, terus Tiara pengen ikut katanya, mau temenin papa. Yaudah pergi berdua deh mereka.” Penjelasan Felicia sukses membuat Aryo membelalak dan hampir saja gelas kaca di tangannya meluncur begitu saja. Bagaimana bisa Tiara berpikiran untuk jogging padahal perempuan itu tengah mengandung.

“Kamu kenapa? Kok ekspresimu begitu?” tanya Felicia sambil memerhatikan putranya.

“Nggak papa. Aryo mau susul Tiara dulu deh Mah,” Aryo hendak pergi dari sana dan mengambil kunci mobilnya, tapi aksinya itu tertahan ketika melihat papanya dan Tiara sudah kembali. Kedua orang itu membawa satu bungkus plastik yang ternyata berisi empat bungkus nasi uduk.

“Tadi pulang jogging Tiara sama Papa beli nasi uduk, Tiara pengen katanya. Sekalian aja deh beliin buat kamu dan Mama juga,” tutur Edi.

Aryo melempar tatapan meminta penjelasan pada Tiara yang hanya di balas dengan cengiran kecil oleh istrinya itu. Aryo mengehela napasnya, lalu menarik kursi meja makan di samping Tiara. Mereka berempat pun memutuskan sarapan bersama. Felicia dan Tiara lantas mengambilkan piring untuk Edi dan Aryo.

“Tadi jogging-nya lama nggak Pah?” tanya Aryo di sela-sela suapannya.

“Enggak lama kok,” sahut Tiara sebelum Edi sempat menjawab pertanyaan Aryo.

“Iya, nggak lama kok. Emang kenapa?” tanya Edi.

“Tiara nggak boleh jogging Pah, dia kan lagi—”

“Aku udah sembuh, Aryo. Itu Pah, Mah, kemarin Tiara sempat nggak enak badan aja,” sela Tiara sebelum Aryo hampir saja mengatakan bahwa dirinya tengah mengandung.

“Ohhh gitu. Mama kirain Tiara hamil lho tadi. Bikin kaget aja kamu, Aryo,” sahut Felicia yang langsung membuat Tiara dan Aryo saling melempar pandangan.

***

Edi mendapati putranya mengetuk pintu ruang kerjanya dan mengatakan ingin berbicara mengenai hal yang lumayan penting.

“Ada apa Aryo? Apa yang mau kamu bicarain soal perusahaan?” tembak Edi tepat sasaran.

“Iya Pah, ini soal perusahaa,” jawab Aryo.

Edi mengulaskan senyum lembut khasnya. “Kamu bisa bicarakan apapun itu sama Papa.”

“Mama ada bilang sesuatu ke Papa sebelumnya?”

Edi mengangguk. “Mama ke rumah kamu beberapa hari yang lalu. Beliau bilang Tiara nggak ada di sana. Kamu sama Tiara udah baik-baik aja, kan?”

Aryo mengangguk. “Yes. We are fine after we fixed our problem. Day by day, about me and her it's just getting better.

Alright, Papa senang dengarnya. Kamu sama Tiara bisa menjalani pernikahan kalian dengan baik. Kamu tau, permasalahan dalam pernikahan akan selalu ada, tapi bisa selesai kamu ingin menyelesaikannya. So apa yang mau kamu tanyakan soal perusahaan ke Papa?”

“Ini soal penarikan saham yang jumlahnya cukup besar oleh pemagang saham, Pah. Saat ini masalah itu cukup membaut kondisi perusahaan chaos. Aryo ingin meminta bantuan Papa dan mama,” ungkap Aryo.

Edi menatap putranya sesaat sebelum menorehkan senyum bangganya, “Papa akan dengan senang hati membantu kamu. Papa ngeliat usaha kamu selama ini, kamu sudah belajar banyak dan menerapkannya dengan sangat baik.”

“Makasih Pah,” ujar Aryo diiringi senyumnya.

Sebelum pamit pergi dari ruang kerja Edi, Aryo menyampaikan sesuatu kepada papanya. “Pah, ada hal lumayan besar yang lagi Aryo kerjakan saat ini. Aryo melakukannya sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami Tiara. Saat ini Aryo nggak bisa kasih tau ke ke Papa dan mama, tapi suatu saat Aryo akan sampaikan. Aryo harap Papa dan mama mendukung apa yang Aryo lakukan. Seperti yang Papa ajarkan, Aryo akan selalu ada di pihak yang benar.”

***

Seseorang menekan tombol di samping elevator, membuat pintu gandanya kembali terbuka. Pandangan kedua orang itu lantas bertemu dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Lantai berapa?” tanya Aryo pada Aurorae. Ya, perempuan yang satu lift dengannya itu adalah Aurorae.

“Lantai sepuluh. Aku ada urusan dengan salah satu pemegang saham di sini,” jelas Aurorae seolah dapat membaca pikiran Aryo.

Oke.” Aryo menekan tombol angka sepuluh sesuai yang disebutkan oleh Aurorae.

“Aku tau soal penarikan saham di perusahaan ini,” ujar Aurorae sebelum ia keluar dari lift.

Aryo pun ikut turun di lantai 10 dan mengikuti langkah Aurorae.

Sure. Berita itu pasti kesebar dengan cepat,” ujar Aryo.

“Kamu lupa, Kakek aku juga salah satu pemegang saham di Harapan Jaya?” ujar Aurorae.

“Beliau ingin menarik sahamnya juga? Maksud aku, salah satu yang sudah menarik sahamnya punya hubungan bisnis dengan perusahaan beliau,” terang Aryo.

“Kakek masih memikirkan buat narik atau enggak. Aku minta kakek untuk mempertimbangkan dulu. Aku ngerasa ada yang aneh dari semuanya.”

“Maksud kamu apanya yang aneh?” tanya Aryo.

Project pertama kamu sebagai presiden direktur berjalan baik dan profit-nya sangat memuaskan. I don't know, but aku ngerasa ada permainan di balik pemegang saham yang mau narik saham mereka secara tiba-tiba. Apalagi alasannya cuma karena kebijakan baru yang kamu buat. Mereka yang mau narik sahamnya, adalah mereka yang selama ini bersikap loyal kepada Harapan Jaya. I smell something wrong in here.

“Aku udah sempat mikirin itu, Aurorae. Tapi saat ini fokusku adalah membujuk para pemegang saham agar tidak menarik sahamnya. I still have a chance for that.”

Yes, kamu harus dapatkan kesempatan itu.”

“Aurorae, aku mau meminta bantuan kamu. Selain soal pemegang saham, aku lagi ngerjain satu hal yang cukup besar. Kalau kamu bersedia, aku akan kasih tau kamu soal project tersebut,” jelas Aryo.

You ask me to help you?” tanya Aurorae yang langsung diangguki oleh Aryo. “Ketika kamu meminta bantuan kepada seseorang, kamu akan selalu meminta sama orang yang tepat dan kamu percaya orang itu bisa melakukannya. Apa ini bisnis? Apa yang aku dapatkan kalau aku berhasil?” tanya Aurorae.

“Apapun yang kamu mau. Tapi satu hal yang nggak bisa, jangan minta balikan sama aku.”

Aryo tertawa sekilas, lalu ia menatap Aryo. “Satu hal yang kamu perlu tau, Aryo. Awalnya itu memang sulit, tapi aku berhasil move on dari kamu. Kamu jadi lebih baik bersama dia, aku bisa lihat itu dan aku ikut senang.” Aurorae mengulaskan senyum tulusnya.

Oke. So are we deal for the project?” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Aurorae.

Aurorae tersenyum tipis sambil mengedikkan kedua bahunya. Perempuan itu lantas menerima uluran tangan Aryo, ia menjabatnya, “Alright. We are deal.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang ini di adakan rapat para pemegang saham Harapan Jaya Grup. Semua pasang mata yang ada di sana mengarahkan tatapan mereka pada sosok yang baru saja memasuki ruangan, sosok presiden direktur mereka, Aryo Bimo Brodjohujodyo.

“Pak, apa rapatnya bisa kita mulai sekarang?” tanya seorang sekretaris perusahaan yang akan menjadi pembawa acara hari ini.

“Kita bisa mulai sekarang,” ujar Aryo sebelum melangkahkan kakinya menuju kursinya.

“Selamat siang, para pemegang saham yang kami hormati. Terima kasih sebelumnya saya ucapkan atas kehadiran Anda semua. Pada rapat ini, kami akan membahas tentang pengajuan penarikan saham Harapan Jaya Grup,” ujar Irfan yang berdiri tepat di samping Aryo.

***

“Bos, gue curiga tentang satu hal,” ujar Rama ketika rapat selesai dan semua orang sudah keluar dari ruangan.

Aryo memicingkan matanya, lalu beralih menatap Rama di hadapannya, “Maksud lo?” tanyanya. Pria itu melepas kacamata yang bertengger di batang hidungnya.

“Ini janggal banget. Semuanya baik-baik aja sampai tiba-tiba para pemegang saham mau narik sahamnya. Semakin aneh saat mereka yang adalah pemilik saham yang jumlahnya besar,” ujar Rama sembari berdiri dari kursinya. “Ada yang sengaja mau nempatin lo di posisi yang sulit ini,” lanjut Rama.

Aryo nampak berpikir sejenak, lalu pria itu hendak beranjak dari posisinya. Namun Rama terlebih dulu menahannya.

“Lo mau kemana? Please, jangan gegabah. Kita bahas ini sama Rudi, Bagas dan yang lainnya. Kita bahas ini bareng-bareng. Inget lo nggak sendiri, lo punya kita,” ujar Rama.

“Apa kasus Reynaldi ada hubungannya dengan pemegang saham yang tiba-tiba mau narik saham mereka?” pertanyaan Aryo itu terasa seperti sebuah pernyataan untuk dirinya sendiri.

“Bisa jadi. Kalau itu benar, kemungkinan terburuknya adalah Reynaldi udah mencium aksi kita dan mengibarkan bendera perangnya untuk lo.”

***

Siang ini Tiara dan teman-temannya mengerjakan tugas kelompok di penthouse. Valdo, Sandi, dan Adrian tampak begitu senang mengunjungi tempat tinggal Tiara. Mereka bertiga takjub akan tempat mewah yang memiliki beberapa fasilitas yang menawan. Ada balkon yang menyajikan pemandangan perkotaan, sebuah jacuzzi indoor, ruangan fitness pribadi, serta infinity pool eksklusif khusus penghuni penthouse yang hanya terdiri dari 2 unit ini.

Akmal yang selalu berkesempatan menjadi ketua kelompok, punya pekerjaan paling banyak. Di tambah pula teman-teman lelakinya itu malah asyik berendam di jacuzzi. Jadilah hanya Tiara dan Akmal mengerjakan tugas di ruang tamu agar pekerjaan mereka bisa cepat selesai. Di tengah-tengah kegiatan mereka, terdengar suara bel pintu yang menandakan seseorang telah datang.

“Mal, gue bukain pintu dulu ya. Kayaknya Aryo udah pulang,” ujar Tiara. Setelah Akmal mengiyakan, perempuan itu segera beranjak untuk membukakan pintu.

Tiara melihat seseorang di depan pintu melalui layar kecil di samping pintu. Ketika mendapati sosok Aryo berada di sana, Tiara segera membuka pintunya.

Seketika pintunya terbuka, Aryo langsung menghambur memeluk tubuhnya. Pria itu membenamkan kepalanya di bahu Tiara.

Hey, what happen? Everything is oke?” tanya Tiara.

“Ada sesuatu yang terjadi di kantor. There is a bad news but I will fix it as soon as possible,” ujar Aryo.

Alis Tiara bertaut mendengarnya, tapi ia memilih untuk tidak membahas itu lebih jauh saat ini. Ia berpikir bahwa Aryo hanya butuh di dengar.

“Masih ada temen-temen aku lho, nggak mau dilepas dulu ini?” bisik Tiara di dekat Aryo ketika mereka masih berpelukan di depan pintu. Aryo yang matanya menangkap bahwa empat orang teman istrinya tengah melihat mereka, perlahan-lahan melepaskan dekapannya pada Tiara.

Teman-teman Tiara nampak tersenyum kikuk, rambut mereka masih setengah basah karena baru saja membilas diri setelah berendam di jacuzzi. Akmal yang duduk di sofa, mengalihkan tatapannya dari Aryo dan Tiara kepada layar laptop di hadapannya.

Aryo menyunggingkan senyum tipisnya dan menyapa teman Tiara satu persatu sebelum ia pamit untuk ke kamar dan berbersih diri. Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap puncak kepala Tiara sekilas, “Aku ke kamar dulu ya. Kamu lanjutin aja kerja kelompoknya,” ujar Aryo sebelum melenggang pergi.

***

Tiara menuju kamar untuk menemui Aryo. Pekerjaan kelompoknya telah selesai pukul 5 sore dan Tiara baru saja mengantar teman-temannya pulang sampai pintu.

Ketika mendapati Tiara di sana, Aryo merentangkan lengannya ke arah perempuan itu. Tiara memerhatikan raut wajah Aryo yang tidak secerah biasanya, ada kesedihan yang ia tangkap di sana.

“Apa nih maksudnya?” tanya Tiara pura-pura tidak paham apa yang diinginkan Aryo, padahal nyatanya ia sangat paham. Tiara akan mencoba bermain-main untuk menghibur suaminya itu lebih dulu sebelum menenangkan perasaannya.

“*I need you here with me.” Aryo berucap manja.

“Gemes banget ya suami aku kalau manja gini. Sini, sini aku peluk.” Tiara mendekatkan dirinya dan segera membawa Aryo ke pelukannya.

Aryo and Tiara Hugging

Beberapa detik keduanya hanya saling mendekap tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tiara mengusapkan tangannya di punggung lebar Aryo dengan gerakan vertikal, berusaha menenangkan perasaan kalut yang sedang di rasakan suaminya.

“Gimana tadi kerja kelompoknya? Udah selesai atau besok harus di kerjain lagi?” tanya Aryo membuka percakapan ketika pelukan mereka terurai.

“Udah selesai. Temen-temen aku happy banget tadi, mereka berendam di jacuzzi.”

“Ohya? That's good. Are you happy too?”

Of course, I'm happy. Aku jadi nggak kesepian lagi di rumah. Pas kamu pulang, aku tambah seneng, karena ada kamu.”

Glad to hear that.”

Can I tell you something?” tanya Tiara.

Sure. You can tell me.”

“Jadi tadi temen-temen aku nanya ke aku, lucu banget deh,” Tiara menahan senyumannya ketika mengingat obrolannya tadi bersama teman-temannya.

Aryo yang memerhatikan ekspresi tersebut menjadi gemas dan perasaannya jauh lebih tenang hanya dengan melihat senyuman Tiara.

“Mereka nanya apa?” tanya Aryo antusias dan ia siap mendengarkan.

“Mereka nanya gini, Ra suami lo bau duit nggak sih? Gitu masa,” ujar Tiara kemudian ia tertawa geli.

Really? Oh my godness,” Aryo pun ikutan tertawa. Pertanyaan macam apa itu, pikirnya. Namun setelah di pikir-pikir itu lucu juga.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo setelah tawa mereka agak mereda.

“Aku jawab nggak lah, mana ada bau duit.”

“Teurs kalau nggak bau duit, aku bau apa?” dahi Aryo menekuk mendengar penuturan Tiara.

“Yaa kan kamu nggak bau duit. Kamu wangi parfume Jo Malone,” ujar Tiara.

“Kamu suka banget kayaknya wangi parfum itu.”

Tiara sembari mengulaskan senyum manisnya, “Iya, kamu jangan ganti parfum ya. Itu aja parfumnya.”

“Oke, besok aku beli 5 botol Jo Malone.”

“Kurang, Sayang.”

“Terus berapa?”

“10 gimana?”

“Oke,” putus Tiara sambil pandangannya tidak lepas sama sekali dari Aryo. Kemudian ia kembali merengkuh Aryo ke dalam pelukannya dan sedikit di goyangkan gemas.

“Ra,” ujar Aryo.

“Yaa?”

Life is suck sometimes. But at least I have you, and I'm grateful for that,” ujar Aryo pelan sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Tiara.

You always have me to come,” ujar Tiara sambi menyisir surai legam Aryo perlahan dengan jemarinya. “I'm your home and always remember about that thing, oke?” balas Tiara dan Aryo mengangguk di balik punggungnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Rama in Bodyguard Suit

Di balik penutup wajahnya, Rama menorehkan senyum smirk-nya sebelum menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkannya satu kali ke dinding kaca di lantai lima. Suara tembakan yang begitu keras membuat semua orang di sana mencari ke arah datangnya sumber suara.

You guys is not lucky today,” sapa Rama dengan suara lantangnya sambil melangkahkan kakinya. Salah satu penjaga markas menatap pria jangkung itu dengan tatapan remeh, apalagi Rama hanya berdiri sendiri tanpa apapun di belakangnya.

Rama mengarahkan tangannya untuk menepuk pundak si satu yang berbadan paling besar. Detik selanjutnya, ia melakukan aksi melumpuhkan lawannya dalam hitungan dua detik. Kesempatan tersebut lantas dimanfaatkan Bagas dan timnya untuk membuka pintu ruangan dengan menembakinya menggunakan senapan serbu kaliber berkekuatan besar.

How is it? You guys like it? Cause I love it too, to do my job,” ujar Rama diiringi tatapan menyeringainya. Ia telah berhasil mengalahkan 4 orang sekaligus. Pria itu kembali mengisi pistol apinya dengan peluru dan menembakkannya hingga dinding kaca di lantai lima hampir separuhnya hancur.

Bagas dan tim satu berhasil menyelamatkan Rudi dan mereka bergegas untuk pergi dari sana. Sebuah helikopter yang diperintahkan Rama datang untuk menjemputnya dan tim Bagas yang tersisa.

“Lapor, Bos. Sandera kita di bawa kabur. Mereka sangat terlatih dan jumlahnya banyak,” ujar seorang penjaga markas melalui walky talky di tangannya.

“Mereka sudah tau dengan siapa mereka berhadapa, tapi sayangnya mereka belum benar-benar mengenal siapa lawan mereka,” balas suara di ujung sana.

***

Reynaldi marah besar dan mengarahkan para ajudannya untuk mencari tau siapa kepala yang ada di balik penyelamatan Rudi Abimana.

Seseorang telah mengibarkan bendera perang kepadanya. Pria berusia 50 tahunan itu duduk santai di atas kusi kebesarannya sembari menghembuskan uap dari vape yang ada di tangannya.

Reynaldi

Dua orang ajudannya menemui Reynaldi dan memberikan file berupa hasil pencarian mereka. Reynaldi menemukan bahwa Aryo ada di balik penyelamatan Rudi Abimana. Artinya keponakannya sendiri lah yang telah berani untuk melawannya.

Reynaldi berusaha memutar otak dan menarik benang merah. Ia segera memerintahkan ajudannya untuk mencari tau hubungan antara Aryo dan Rudi. Alasan apa yang membuat mereka bisa berada di kapal yang sama.

Reynaldi meletakkan vape di tangannya ke atas meja, “It's just the beginning. I will make sure that he will regret decided to against me.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷