alyadara

“Tante Risa?” kalimat pendek itu yang keluar dari bibirnya Aryo ketika netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Gyatri, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi membuat keluarga memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” jelas Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Gyatri, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yan gdi dengarnya tempo hari.

“Reynaldi kerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, itu bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kemungkinan baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya mengenai ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan berhasilnya sekitar 60 persen. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai di eksekusinya ada kecacatan.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aj,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti dengan siapa pria itu pernah bekerja sama, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor bodyguard-nya. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusi,” ujar Risa.

“Kita bisa bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan pastiin semuanya aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu alam urusan koneksi orang dalam yang di milikinya. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Ya?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu, Tiara jadi nampak mungil kalau di samping Aryo.

“Aku kasih Akmal tugas kok. Kalau kamu tugasnya cuma duduk manis di rumah.” Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itumenutup dan lekas mengunci pintunya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah masuk ke kamar.

“Tidur siang. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja gini sama dia.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat Tiara menyaksikan pemandangan gratis tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor, terus aku harus mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat temenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya, ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo itu. “Dulu aja nggak boleh,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih, Sayang,” balas Tiara diiringi senyum semringahnya.

“Sama-sama, Sayang.”

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjaan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, ia pun berhasil menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, sehingga torso keduanya hampir saja menempel.

“Kamu mau kemana?” ujar Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” titah Tiara yang seketika membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan memiliki seribu akal. Aryo menatap Tiara lekat, lalu mengarahkan tangan perempuan itu untuk berada di pundaknya. Dengan jarak mereka yang begitu intim, netra Tiara dapat dengan jelas melihat pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang dapat mendeskripsikan pahatan di hadapan Tiara saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya Aryo yang menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara mengangguk pelan. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perut milik Aryo. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan itu sungguh keras dan sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi ekspekstasi.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum smirk di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengannya berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Yes, you can touch them. Everytime you want,” jawab Aryo seraya mengulaskan senyum lembutnya.

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu membuka matanya. Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, rasa lelah yang sebelumnya hinggap kini menghilang entah kemana.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan kerutan di keningnya.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya ya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya, lalu tangannya bergerak untuk usapin halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya, galak lagi. Coba ... gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya iara dan Aryo lantas menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah.

Tiara nampak memikirkan sesuatu. Itu sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kamu lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Pribadinya tetap sama. Michelle or Tiara, adalah dua perempuan hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu sama ayah dan bunda.”

Sure. Meskipun nggak secara langsung, aku mau menyampaikan banyak hal buat mereka.”

“Kamu mau bilang apa aja emangnya?”

“Rahasia dong, Sayang. Nanti kamu juga akan tau.”

***

*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Tante Risa?” kalimat pendek itu yang keluar dari bibirnya Aryo ketika netranya menangkap sosok perempuan yang sangat dikenalnya, kini berada di hadapannya. Risa Brodjohujodyo, putri dari Gyatri, istri kedua Prawira Brodjohujodyo. Setelah bertemu tantenya itu, Aryo dan Risa diberi waktu untuk berbicara berdua di ruangan lain.

Risa memberi sedikit penjelasan kepada Aryo mengenai alasannya bersedia membantu Tiara dan masuk ke dalam tim.

“Tante tau, Tante nggak akan bisa melawan Reynaldi sendiri,” jelas Risa. Perempuan itu mengatakan, ia menyimpan dendam terhadap Reynaldi karena mendapat perlakuan tidak adil di keluarga. Ibu kandungnya yang merupakan istri kedua Prawira, nyatanya tidak pernah benar-benar di terima di keluarga mereka.

“Sejak kapan Tan?” tanya Aryo.

“Sejak Reynaldi selalu berhasil mendoktrin eyang kakung dan berambisi menguasai seluruh kepemilikan perusahaan. Tante kenal sama Erlangga, ayah kandungnya Tiara. Dulu Erlangga sering bantu mama dan tante setiap kali Reynaldi membuat keluarga memperlakukan kami dengan tidak adil. Setelah Erlangga kecelakaan, Rudi menemui Tante dan meminta bantuan, akhirnya kita bekerja sama,” jelas Risa.

Pada saat itu Aryo masih berusia dua belas tahun, saat eyang kakung menikah lagi dan membawa istri keduanya ke rumah keluarga. Aryo belum terlalu mengerti situasi di usianya yang masih remaja. Satu hal yang hanya dapat ia pahami, beberapa waktu setelah itu, eyang kakung memiliki dua rumah. Rumah pertama untuk eyang putri, rumah kedua untuk Gyatri, istri keduanya.

Setelah Aryo dan Risa bicara berdua, mereka kembali ke ruangan dimana ada Tiara, Akmal, dan Bagas. Tiara sudah mengatakan sebelumnya bahwa Aryo telah mengetahui semuanya dan berniat membantu mengungkap kasus itu, jadi saat ini mereka berada di kapal yang sama.

“Selama ini Reynaldi mencari keberadaan Michelle Taninka,” ujar Tiara membuka pembicaraan. Mereka memutuskan melakukan rapat tim untuk merencanakan langkah yang harus di ambil selanjutnya.

Tiara menatap bergantian empat orang di meja panjang itu. Ia memaparkan percakapan antara Reynaldi dan El yan gdi dengarnya tempo hari.

“Reynaldi kerja sama dengan El untuk mencari Michelle dan membawanya ke hadapannya, hidup ataupun mati. Situasi ini bisa kita manfaatkan untuk mengecoh Reynaldi dengan ngasih dia pancingan,” ujar Aryo menyampaikan pemikirannya yang sebelumnya ide tersebut sudah ia katakan pada Tiara.

“Keterangan kematian palsu atas nama Michelle Taninka Sinaga, itu bisa jadi pancingan untuk buat Reynaldi lengah. Dia udah dapetin om Rudi di tangannya, tapi kemungkinan baiknya adalah Reynaldi belum tau kalau om Rudi nggak sendiri untuk melawan dia,” jelas Tiara.

Dari semua yang ada di ruangan itu, akhirnya Bagas yang lebih dulu mengutarakan pendapatnya mengenai ide Aryo dan Tiara. “Ide itu kemungkinan berhasilnya sekitar 60 persen. Kita harus siap tanggung resikonya kalau sampai di eksekusinya ada kecacatan.”

“Rekayasa keterangan kematian gue rasa nggak bisa cuma dengan pernyataan tertulis aj,” ujar Risa.

“Tante Risa benar,” cetus Akmal. Lantas semua pasang mata yang ada di ruangan itu menatap ke arah Akmal.

“Lawan kita bukan orang biasa,” Akmal pun mengeluarkan selembar kertas yang berisi biografi singkat Reynaldi Brodjohujodyo yang telah di buat oleh ayahnya. Di sana tertulis riwayat hidupnya, seperti dengan siapa pria itu pernah bekerja sama, aset senjata yang di miliknya, serta trek rekor bodyguard-nya. Memang Reynaldi bukanlah sembarang orang, seperti yang di katakan Akmal, mereka harus benar-benar mematangkan rencana yang akan mereka jalankan.

“Selain pernyataan kematian tertulis yang resmi, kita perlu merekayasa bukti fisik kematian. Rekayasa abu hasil kremasi, apa kira-kira itu memungkinkan?” cetus Bagas.

“Eksekusinya mungkin akan sedikit sulit. Kita harus mengurus beberapa hal dan tentunya punya koneksi orang dalam untuk memudahkan eksekusi,” ujar Risa.

“Kita bisa bagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing. Tujuannya supaya kita bisa tetap fokus dan pastiin semuanya aspeknya berjalan baik,” saran Aryo.

Atas usulan tersebut, akhirnya mereka membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing di bidangnya. Risa dan Aryo akan mengurus masalah dokumen kematian yang membutuhkan akses hukum. Risa merupakan seorang pengacara dan Aryo akan membantu tantenya itu alam urusan koneksi orang dalam yang di milikinya. Sementara Bagas akan mengurus bukti kematian berupa bukti fisik, pria itu memiliki koneksi yang berhubungan dengan urusan tersebut.

***

“Aryo.”

“Yaa, Sayang?”

“Aku sama Akmal nggak dapat tugas?” tanya Tiara begitu mereka memasuki penthouse.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap Aryo yang merangkul bahunya, karena tingginya hanya sebatas bahu pria itu, Tiara jadi nampak mungil kalau di samping Aryo.

“Aku kasih Akmal tugas kok.”

Aryo masih merangkul Tiara hingga mereka memasuki kamar. Pria itu menutup dan mengunci pintunya.

“Mau ngapain kita ke kamar?” tanya Tiara yang baru tersadar bahwa mereka kini sudah masuk ke kamar.

“Tidur siang bareng. Kelonin ya?” pinta Aryo. Tiara melemparkan senyum khasnya kalau Aryo sudah manja-manja gini sama dia.

“Akmal kamu kasih tugas apa?” tanya Tiara yang mengikuti langkah Aryo ke walk in closet. Tiara mendapati suaminya itu sudah menanggalkan kemeja putih dari tubuhnya, membuat Tiara menyaksikan pemandangan gratis tubuh shirtless Aryo.

“Tugas dia jagain kamu aja. Aku akan lebih sibuk dari biasanya, pekerjaan di kantor dan mempersiapkan semuanya untuk rencana kita. Kalau kamu kesepian di rumah, kamu boleh ajak teman-teman kamu ke sini buat nemenin kamu. Gimana?”

Tiara melebarkan matanya, ia mengatakan bahwa dirinya sedikit tidak percaya atas ucapan Aryo itu. “Dulu aja nggak boleh,” celetuk Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak sebelum menjawab, “Iya, sekarang boleh.”

“Oke. Terima kasih,” balas Tiara diiringi senyum semringahnya.

***

“Aryo ... pake bajunya nggak. Astaga, kamu yaa,” omel Tiara sambil berjaan mundur perlahan menjauhi Aryo. Aryo segera menyusulnya, ia pun berhasil menangkap Tiara dan menahan punggung perempuan itu dengan lengannya, sehingga torso keduanya hampir saja menempel.

“Kamu mau kemana?” ujar Aryo dengan suara lembutnya di dekat Tiara.

“Nggak ada kelon ya, kalau kamu belum pakai baju,” titah Tiara yang seketika membuat Aryo mencebikkan bibirnya.

“Tapi gerah Ra, enakan nggak pake baju gini,” ujar Aryo.

“Nanti kamu masuk angin lho shirtless begitu. Kalau kamu sakit, yang repot siapa coba? Aku juga kan.”

Namun bukan Aryo namanya jika tidak keras kepala dan memiliki seribu akal. Aryo menatap Tiara lekat, lalu mengarahkan tangan perempuan itu untuk berada di pundaknya. Dengan jarak mereka yang begitu intim, netra Tiara dapat dengan jelas melihat pahatan sempurna otot lengan dan perut Aryo yang nampak liat dan keras itu. Sempurna, indah, dan menawan, entah kata apa lagi yang dapat mendeskripsikan pahatan di hadapan Tiara saat ini.

Aryo menorehkan senyumnya, “Kamu ... mau pegang ini?” tanya Aryo yang menangkap basah Tiara tengah memandang abs-nya.

Tiara terkejut karena ia tertangkap jelas memandangi perut six pack milik Aryo. Tatapan mereka pun bertemu dan Aryo lekas mengunci pandangan Tiara. Atas perintah pikirannya, Tiara mengangguk pelan. Rasa penasaran yang kuat mendorong Tiara untuk menyentuh otot-otot itu, meskipun ia sudah pernah melakukannya. Hei, setan apa yang sedang merasuki dirimu Tiara, ayolah sadar! batinnya.

It's all yours, Tiara.” Aryo meraih tangan Tiara untuk membawanya menyentuh otot-otot perut milik Aryo. Ketika meletakkan tangannya di sana, Tiara dapat merasakan itu sungguh keras dan sesuai penampilannya, perasaan ketika menyentuhnya, sungguh melebihi ekspekstasi.

“Jadi aku pake baju aja atau shirtless gini?” tanya Aryo diiringi senyum smirk di wajah tampannya.

Tiara menatap paras Aryo, ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang tidak karuan di dalam sana. Kini kedua lengannya berpindah untuk melingkar di seputaran leher Aryo.

I can touch them ... again?” tanya Tiara mengikuti perintah otak dan hatinya yang kali ini benar-benar sinkron.

Yes, you can touch them. Everytime you want,” jawab Aryo seraya mengulaskan senyum lembutnya.

***

I love you, Michelle,” gumam Aryo ketika pria itu membuka matanya. Mereka berakhir tidur siang bersama dengan Aryo yang shirtless dan tidak melepaskan Tiara dari dekapannya sama sekali. Sudah sekitar 3 jam mereka terlelap dan ketika terbangun, rasa lelah yang sebelumnya hinggap kini menghilang entah kemana.

“Siapa kamu bilang? Michelle??” tanya Tiara dengan keningnya yang menekuk.

“Michelle Taninka kan kamu, Sayang,” jelas Aryo.

“Ohiya. Aku kira kamu selingkuh sama cewek namanya Michelle.”

“Mana ada aku selingkuh. Kamu lucu banget yaa, posesif gini.”

Tiara menampakkan cengirannya, lalu tangannya bergerak untuk usapin halus pipi Aryo, “Berani nggak kamu selingkuh?” tanya Tiara.

“Aku udah ketemu pawangnya, galak lagi. Coba ... gimana berani aku selingkuh?”

“Okee, bagus bagus.” Tiar pun tergelak. “Aku galak ya emang?” tanya iara dan Aryo lantas menjawabnya dengan anggukan berkali-kali.

“Kalau nggak galak, artinya nggak sayang,” ujar Tiara.

“Gitu ya?” Aryo memandangi paras cantik Tiara yang sukses membuat perempuan itu salah tingkah.

Tiara nampak memikirkan sesuatu. Itu sebuah kilas balik ketika Andi dan Alifia merubah marga mereka menjadi Lubis dan mengubah namanya. “Kalau di pikir-pikir, Michelle Taninka nggak akan di kenal sama banyak orang. Tapi Mutiarani Ivanka nggak akan pernah di kenal sama ayah dan bunda,” ungkap Tiara.

“Iya juga ya. Kamu lebih suka jadi Michelle atau Tiara?” tanya Aryo.

“Aku suka jadi dua-duanya. Michelle akan selalu di kenang dan disayang sama ayah dan bunda. Mungkin luka itu akan tetap ada di salah satu ruang di hati Michelle. Tapi Tiara, dia udah coba untuk berdamai dengan luka itu. Kalau kamu lebih suka yang mana?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi Ra, menurut aku, nama itu cuma sebuah identitas. Pribadinya tetap sama. Michelle or Tiara, adalah dua perempuan hebat.”

“Aryo.”

“Ya?”

Tiara merubah posisinya agar dirinya dan Aryo saling berhadapan. “Aku mau kenalin kamu sama ayah dan bunda.”

Sure. Meskipun nggak secara langsung, aku mau menyampaikan banyak hal buat mereka.”

“Kamu mau bilang apa aja emangnya?”

“Rahasia dong, Sayang. Nanti kamu juga akan tau.”

***

*Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Setelah memberi tahu ayah dan bunda, Aryo dan Tiara menuju penthouse yang Aryo katakan akan menjadi kediaman mereka yang baru. Mereka juga telah mengambil bebebrapa pakaian untuk di bawa. Andi dan Alifia perlu tahu soal rencana yang akan Aryo jalankan untuk mengungkap kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian dimana Ayah kandung Tiara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiara kehilangan ayahnya, kemudian disusul oleh kepergian bundanya.

Saat diberitahu mengenai rencana tersebut, Andi dan Alifia sempat khawatir, tapi Aryo meyakinkan mereka. Ayah dan bundanya akhirnya menerima rencana itu. Ayahnya meminta maaf pada Aryo karena sebelumnya telah ragu pada pria itu dan beliau mengatakan keraguannya adalah hal yang keliru.

Alifia mengatakan pada Tiara saat mereka hanya sedang berdua, bahwa Aryo adalah menantu idamannya sejak awal pria itu datang melamar putrinya. Maka dari itu, sebenarnya bundanya yang paling kecewa saat mengetahui fakta bahwa orang yang menyebabkan kepergian Erlangga masih memiliki hubungan saudara dengan Aryo.

“Bunda bisa liat, dia benar-benar sayang sama kamu, Nak. Bunda sungkan bilangnya, jadi Bunda titip ke kamu ya. Bilang ke suami kamu, Bunda bahagia dan bangga banget memilikinya sebagai menantu. Dia keliatan sangat mencintai kamu dan bisa menjaga kamu dengan baik.” Begitu kira-kira perkataan Alifia. Tiara ingat ekspresi bundanya yang semringah ketika mengungkapkannya. Tiara merasa sepertinya Aryo memiliki mantra yang bisa membuat Andi dan Alifia seketika luluh.

Aryo dan Tiara menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di sebuah penthouse eksklusif yang hanya terdiri dari 2 unit yang terdapat di lantai paling atas bangunan ini.

Sampai di lantai 50 dimana unit mereka berada, Aryo meminta bodyguard-nya untuk meletakkan barang-barang pentingnya di sudut ruang tamu.

“Gimana, Sayang? Kamu suka tempat tinggal kita yang baru?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Suka banget,” jawab Tiara.

“Lebih suka ini atau rumah kita yang dulu?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi rumah itu besar banget. Aku takut kalau sendirian nggak ada kamu,” ungkap Tiara.

“Bilang aja kamu kangen aku. Tiara yang aku tau adalah perempuan pemberani.”

“Dimana aja aku suka sih, asal sama kamu,” balas Tiara.

Kali ini Tiara yang berhasil membuat Aryo nampak salah tingkah. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara yang mana jika ia menatap matanya, Aryo tidak tahu lagi akan seaneh apa reaksinya.

“Kamu beneran baru beli penthouse ini?” tanya Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan ketika ia juga merasa jantungnya berdebar hebat di dalam sana. Tiara merutuki ucapannya yang sebelumnya. Namun ia juga merasa senang karena gantian dirinya yang menggoda Aryo setelah berkali-kali suaminya berhasil dengan mudah membuatnya bersemu.

“Aku udah lama beli penthouse ini, tapi belum pernah di tempatin permanen.” Aryo mengikuti langkah Tiara yang antusias melihat-lihat tempat tinggal mereka yang baru.

“Sayang, jangan langsung tidur lho. Mandi dulu baru tidur, oke?” seru Tiara memperingati Aryo.

“Gimana kalau kita mandi bareng Ra?” tanya Aryo diiringi senyum jahilnya.

“Astaga,” Tiara tertawa disusul wajah merah padamnya.

“Kamu mandi duluan aja, biar aku siapin tempat tidur. Jadi, habis mandi kamu bisa langsung tidur.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo yang tampak lelah.

“Mandi barengnya kapan?” rengek Aryo dengan nada manjanya. Pria itu mencebikkan bibirnya yang otomatis membuat Tiara gemas melihatnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, “Besok. Udah sana kamu mandi dulu.”

“Cium dulu boleh?” pinta Aryo.

“Boleh, mau cium dimana?”

Aryo langsung menunjuk bibirnya dan lekas diangguki oleh Tiara. Lengan kekar Aryo menarik pinggang ramping istrinya untuk mendekat padanya, lalu ia mulai mencumbu bibir ranum Tiara dengan sensual. Tiara membalasnya, menikmati setiap sesapan yang diberikan Aryo dan mengusap lembut tengkuk suaminya.

Couple kissing

Aryo lekas berlalu dari hadapannya setelah mereka saling memuaskan dan menyalurkan kasih. Sebelum menghilang dari hadapannya, pria tampan itu melemparkan sebuah senyum gemas kepada Tiara.

Tiara pun melenggang untuk melakukan tugasnya setelah memastikan Aryo masuk ke kamar mandi. Sebenarnya Tiara yakin setiap penjuru tempat ini telah dibersihkan dan dirawat secara berkala, tapi ia tetap akan menyiapkan tempat tidur mereka malam ini.

Tiara menuju kamar utama yang terletak di lantai atas. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyiapkan kasur karena memang semuanya sudah tertata rapi dan bersih. Tiara menyalakan humidifier yang terdapat di kamar itu supaya suasananya lebih nyaman dan rileks. Tiara juga akan mempersiapkan baju tidur untuk suaminya dan juga untuk dirinya.

***

Setelah kurang lebih 20 menit, Aryo selesai dengan kegiatannya dan ia mendapati boks besar berisi barang-barang pentingnya tidak ada di ruang tamu. Sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Aryo mencari keberadaan Tiara.

Aryo menemukan Tiara di kamar utama di lantai atas. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan barang-barang penting miliknya. Boks tersebut berisi beberapa berkas saat Reynaldi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus CEO sebelas tahun yang lalu.

“Sayang, kamu liat isinya?” tanya Aryo dan seketika Tiara menoleh menatapnya.

Tiara menggeleng menjawab pertanyaan Aryo. Aryo lantas mengambil alih beberapa file yang ada di tangan Tiara dan pria itu menuju ruang penyimpanan yang terdapat di samping walk in closet.

“Di dalam boks ini, isinya beberapa bukti yang akan aku pakai untuk mengungkap perbuatan Reynaldi. Kamu mau lihat isinya?” tanya Aryo saat Tiara mengarahkan tatapannya pada file besar di tangannya.

Tiara tampak gugup. Sejujurnya ia memang ingin melihatnya, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya masih menolak itu. Ada sebagian dalam dirinya yang masih merasakan trauma. Dengan melihat sesuatu yang berhubungan dengan Reynaldi akan membuatnya teringat lagi masa lalu itu.

“Kamu nggak perlu maksain diri, kalau itu bisa bikin kamu ingat kamu masa lalu kamu.”

You’re right. Kayaknya untuk saat ini aku belum sanggup,” ujar Tiara.

Aryo pun mengangguk, lalu ia memasukkan file tersebut ke dalam brankas besar miliknya dan menguncinya. Aryo mengenggam tangan Tiara dan mereka keluar dari ruangan penyimpanan itu.

Aryo sedang berganti pakaian dan Tiara menunggu suaminya itu sambil memerhatikan isi pakaian yang ada di walk in closet.

“Baju yang ada disini style kamu banget. Tempat ini juga bersih dan rapi,” ujar Tiara saat suaminya telah berganti stelan dengan piyama biru dongker yang telah Tiara siapkan.

“Sebenarnya aku lumayan suka penthouse ini dan aku beberapa kali nginep di sini.”

“Kalau ruangan di sana itu apa?” tanya Tiara penasaran pada sebuah connecting door yang terdapat di ruangan walk in closet.

“Kamu mau ke sana?”

“Boleh emangnya? Aku pikir itu ruangan rahasia. Soalnya cuma pintu ruangan itu yang dikunci.”

“Ruangan itu emang ruang rahasia. Aku punya niat, suatu hari aku akan tunjukin ruangan itu ke orang yang spesial.”

Aryo memasukkan sebuah kode untuk membuka kunci pintu ruangan tersebut. Saat memasukinya dan melihat isi di dalamnya, Tiara dibuat terpana. Melalui sebuah tombol yang di tekan Aryo, lampu dan langit-langit di ruangan ini berubah warna menjadi seperti galaksi di angkasa.

Galaxy room

Aryo mengajaknya melihat barang-barang yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di ruangan ini. Namun bagi Aryo yang ada disini adalah yang pernah berarti dalam hidupnya.

Di sudut kanan terdapat lemari yang berisi koleksi minuman milik Aryo. Pria itu mengatakan bahwa minuman ini di dapatkannya dari teman-teman semasa kuliahnya dan beberapa dari kolega bisnisnya. Karena minuman-minuman ini berasal luar negeri, sehingga langka dan mahal, Aryo menyimpannya dengan apik. Terdapat juga koleksi vape, shisha dan tumpukan kotak rokok yang disusun rapi di dalam sebuah lemari kaca. Aryo mengatakan semua itu miliknya, tapi hanya digunakan untuk teman-temannya jika mereka berkunjung ke sini.

“Beneran, Sayang. Aku nggak konsumsi itu lagi,” ucap Aryo meyakinkan Tiara.

“Sesekali aja kalau lagi ingin,” sambung Aryo. Ia juga mengatakan, ia hanya minum beberapa minuman saat dirinya sedang merasa kalut. Maka Aryo akan ke ruangan ini dan minum sendiri.

“Terakhir kapan?” tanya Tiara.

“Aku lupa. Tapi kayaknya udah lama. Sebelum ketemu sama kamu, aku pernah ke sini sekali, minum, terus ketiduran sampai pagi di ruangan ini.”

“Artinya itu belum lama, Aryo.”

“Iya, itu belum lama. Tapi sekarang aku nggak ingin semua ini lagi. Aku simpan untuk teman-temanku aja karena mereka bisa gila kalau aku jual atau buang.” Aryo terkekeh karena mengingat kelakukan teman-temannya yang sangat mencintai barang-barang seperti ini.

“Kenapa kamu nggak ingin lagi? Karena setauku, teman-temanku juga susah banget lepas dari benda-benda kayak gini.”

“Aku nggak tahu alasan pastinya. Tapi sejak menikah, aku udah janji sama Tuhan. Aku akan menjaga kamu dan ingin berubah jadi yang lebih baik buat kamu. Selain itu untuk keluarga kecil kita kedepannya.”

Tiara terharu mendengar penuturan tersebut. Ia tidak pernah menyangka dan rasanya masih seperti mimpi bahwa ia dipertemukan dengan Aryo dan menikahi pria itu. Tiara mencintainya dan mendapat balasannya dengan merasa begitu dicintai oleh Aryo setiap harinya.

Aryo menunjukkannya sebuah jar yang berisi sebuah kertas. Di dalam kertas itu, terdapat 9 list yang Aryo buat saat dirinya berusia 17 tahun.

“Aku belum pernah nunjukin ini ke siapapun,” ungkap Aryo.

“Ini apa?” tanya Tiara ketika Aryo menyerahkan jar itu ke genggamannya.

“Kamu boleh buka dan baca isinya.”

Tiara lantas membuka kertas tersebut dan sebuah foto berukuran 3x4 meluncur dari dalam lipatan kertasnya. Tiara mengambil foto itu yang ternyata sebuah foto seorang perempuan.

“Kamu masih nyimpen foto mantan kamu. Kamu masih sayang dia?” ujar Tiara yang mendapati itu adalah potret Aurorae.

“Enggak gitu, Sayang. Ak-aku niat mau buang kok. Aku udah minta Erza buang ini tapi ternyata belum dibuang.”

Tiara lantas membuka kertas itu dan membaca isinya yang bertuliskan “9 Things I Will Do With My Wife”.

“Harusnya Aurorae yang baca ini, gitu?”

“Kamu jangan marah dong, Sayang. Ini cuma masa lalu. Sekarang yang aku nikahin kan kamu, cuma kamu yang aku sayang.”

“Tetap aja. Kamu udah bikin aku bete.” Tiara menyerahkan kertas itu pada Aryo, lalu berbalik meninggalkan Aryo di ruangan itu sendiri.

Aryo bergegas menyusul langkah Tiara. Aryo mana tahu tiba-tiba foto itu ada di sana. Sungguh diluar ekspektasinya. Padahal suasananya sudah romantis dan momentum yang tepat untuk menunjukkan tulisan yang ia buat kepada istrinya.

***

Beberapa menit kemudian, Aryo menyusul Tiara ke kamar setelah ia membiarkan Tiara meredam emosinya. Aryo memerhatikan istrinya yang sudah berganti stelan tidur gaun sutra bunga-bunga itu. Semerbak harum bedak yang lembut dan parfum vanilla campur coklat khas Tiara mengilhami indera penciuman Aryo. Kalau seperti ini, Aryo bawaannya ingin langsung memeluk Tiara. Namun sepertinya istrinya itu masih marah terhadapnya.

“Kamu masih bete?” tanya Aryo.

“Menurut kamu aja.” Tiara baru saja selesai melakukan kegiatan skincare malamnya, lalu ia beranjak ke kasur, menaikkan selimut sampai sebatas bahunya dan coba memejamkan matanya.

“Jangan lama-lama dong betenya, Sayang. Maafin aku yaa,” ucap Aryo lagi. Kali ini ekspresinya seperti anak anjing yang baru saja diomeli oleh empunya.

“Aku udah terlanjur liat, Aryo. Gimana nggak bete coba.” Tiara sebenarnya juga mempertanyakan dalam hatinya, kenapa ia bersikap begitu kekanakan seperti ini. Kalau dipikir-pikir, itu memang hal yang sepele. Aryo juga sudah jujur bahwa foto itu hanyalah sebuah masa lalu.

“Yaudah deh, kamu bete aja dulu, puasin ya. Tapi aku harap besok kamu nggak marah lagi sama aku,” ucap Aryo dan setelah itu Tiara tidak mendengar suara suaminya lagi. Apakah suaminya itu sudah tidur lebih dulu?

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo sudah memejamkan matanya. Tiara memutuskan untuk tidur juga, tapi yang terjadi adalah apa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan. Tiara tidak bisa terpejam begitu saja.

Kedua mata Tiara menangkap kertas biru di meja kamar. Kertas itu adalah 9 list yang ditulis oleh Aryo. Rasa penasaran pun mendorong Tiara beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas tersebut, lalu ia membacanya.

“Kamu kenapa belum tidur?” sapa sebuah suara yang membuat Tiara berbalik. Ia menemukan Aryo dengan wajah kantuknya saat Tiara hampir selesai membaca 9 list itu.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kamu baca tulisan aku?”

“Belum aku baca, aku cuma liat karena ada disini.”

“Kamu baca list itu, Tiara.”

“Okey, iya aku baca,” ucap Tiara akhirnya yang memang tidak bisa berbohong kepada Aryo.

“Kamu nggak beneran tidur ya dari tadi?” selidik Tiara.

“Aku tau kamu belum tidur, jadi mana aku bisa tidur. Kamu mau wujudin tulisan aku yang ada di list itu? Kayaknya kita bisa lakuin hal yang pertama.”

Playing UNO at midnight?

***

Aryo dan Tiara memainkan UNO sebanyak 4 kali dan setiap babaknya Tiara yang menang. Tiara nampak senang karena ia dapat mengalahkan Aryo.

“Gimana bisa kamu bikin list mau main UNO tapi kamunya kalah terus,” ujar Tiara.

“Aku pura-pura kalah aja, Sayang. Biar kamunya seneng.”

“Alasan kamu mah.”

“Mau main sekali lagi?” tawar Aryo.

“Besok kan kamu harus kerja, gimana kalau kita udahan aja?” Aryo pun menyetujui saran Tiara. Memang benar besok pagi dirinya harus ke kantor dan ini sudah pukul 1 malam.

“Terima kasih, Tiara,” ujar Aryo.

“Untuk?”

“Karena kamu udah jadi istri aku.”

“Sama-sama,” Tiara lantas mengulaskan senyumnya.

“Aku tau kamu marah karena kamu cemburu,” ujar Aryo.

“Siapa yang cemburu, nggak ada tuh.”

It’s your emotion. When women show her emotion, it means she’s really love you.

“Fotonya kamu buang kan nanti?”

“Iya Sayang, astaga. Kamu serem ya kalau udah cemburu. Ohiya, aku mau tanya sama kamu. Apa kemungkinan insomnia kamu datang karena suatu hal?”

“Aku nggak tahu pasti. Mungkin karena udah lama. Dulu waktu ayah pergi, bunda udah tidur, tapi aku nggak bisa tidur. Bunda kebangun karena aku, dan akhirnya beliau peluk aku sampai bisa tidur,” cerita Tiara.

“Apa ada hubungannya sama berkas-berkas itu?”

Nope, it’s oke. Lagian harusnya aku nggak mindahin barang-barang kamu tanpa bilang dulu ke kamu.”

Aryo menatap Tiara lekat, “Ra, aku nggak akan pernah tahu rasanya apa yang kamu alami sebelas tahun lalu. Itu pasti berat banget untuk kamu.” Aryo membayangkan apa yang terjadi pada Tiara pada saat itu. Saat mengetahui Tiara harus melewati hal tersebut, Aryo ikut merasakan rasa sakit di hatinya, meskipun ia tahu tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan Tiara.

Aryo meraih tangan Tiara, menyelipkan jemarinya di antara jemari Tiara, “I wish I could remove your sadness, Ra,” ujarnya sambil menatap ke iris legam wanitanya.

“Kok kita jadi mellow gini sih? Kamu mah.” Tiara yang awalnya merasa biasa saja, malah terbawa suasana karena tatapan Aryo padanya. Tatapan itu seperti ada rasa marah, sedih, dan hancur secara bersamaan.

Tiara lantas menatap Aryo sembari mengulaskan senyum simpulnya, “You already do. You removed my sadness and all my pain. Life with you is my happiness,” ungkap Tiara.

Aryo spontan mengulaskan senyumnya mendengar ungkapan Tiara. Ia merasa begitu bahagia mendapati bahwa dirinyalah alasan Tiara bahagia.

“Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Waktu malam pertama setelah kita resepsi,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kamu nggak bisa tidur, persis kayak gini. Waktu aku tanya, kamu bilang itu bukan urusanku. Yaudah aku tidur duluan.”

“Kamu nggak peka.”

“Wanita emang sulit untuk dipahamin. Walaupun aku mau banget meluk kamu saat itu, tapi aku pikir kayaknya bukan itu yang benar-benar kamu butuhin. Sekarang aku bisa meluk kamu kapan aja, kayak gini.” Aryo lantas merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.

“Kamu benar. Tapi gimana ya, kalau pertemuan kedua kita bukan aku yang nolongin kamu.”

“Aku udah punya niat untuk ungkapin perasaan aku ke kamu.”

You kissed me that night. Jadi waktu itu kamu main-main doang atau serius sih?”

“Pengaruh alkohol itu tinggal sedikit, kayaknya karena aku habis dipukulin preman-preman itu. Aku sadar sepenuhnya saat aku menginginkan kamu,” Aryo sangat ingat bahwa ia bersama Tiara dan menginginkan gadis itu tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadapnya.

“Aku mau tau perasaan kamu ke aku. Waktu itu aku sama Aurorae udah nggak ada hubungan apapun. Tapi dia datang ke bar untuk nemuin aku.”

“Kenapa kamu putus sama Aurorae?”

“Kita nggak bisa bareng lagi. Kadang sesuatu yang terlalu kuat, nggak bisa jamin bisa jadi satu.”

Tiara mengangguk paham akan perumpamaan yang Aryo jelaskan.

Who is your first kiss?” tanya Tiara tiba-tiba.

“Ada beberapa bagian dari masa lalu aku yang seharusnya memang dibuang. Kamu harus tau, kamu adalah perempuan pertama yang aku cium dan ingin aku nikahi,” ujar Aryo. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah pria yang sempurna, ada bagian dalam hidupnya sebelum menikah yang ia sesali dan ingin perbaiki kedepannya.

“Tapi kenapa kamu berani cium aku padahal kita baru kenal?”

Aryo tertawa mendengar penurutan Tiara. “Maaf ya, aku udah lancang sama kamu. Aku lumayan kacau malam itu dan kamu datang lebih mengacaukan semuanya.” Aryo mengungkapkan rasa penyesalannya sekaligus perasaan jujurnya.

“Maksudnya aku pengacau gitu?”

“Iya, kamu buat hati aku kacau.”

“Kamu tau nggak, ayah bisa aja habisin kamu, kalau kamu nggak nikahin aku,” terang Tiara.

“Kamu tenang aja, itu nggak akan terjadi, Ra. Aku udah bertekad akan membuat kamu suka sama aku. Sesuatu yang diawal keliatan buruk, ternyata punya rencana indah di akhir,” ujar Aryo dan Tiara setuju tentang itu.

Tiara mengulaskan senyumnya sambil menatap Aryo, “Apapun masa lalu kamu, itu cuma akan jadi sebuah memori. Kamu berhak untuk memilikinya. Kamu yang ada di sini sekarang, adalah kamu suami aku. I love what you are now and what you will be in the future.”

Aryo menatapnya dengan tatapan bahagia dan terharu, lantas ia menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara.

“Aku mau tanya satu hal,” ujar Tiara.

“Apa itu Sayang?”

“Kamu yakin banget bisa buat aku suka sama kamu?”

“Yakin. Buktinya bisa, kan? Kalau kamu nggak suka sama aku, si bayi nggak akan hadir sebagai anugerah untuk kita di sini,” ucap Aryo sambil mengusapkan tangannya di perut Tiara. Aryo dapat merasakan ada gundukan kecil di sana yang seketika menciptakan desiran hangat di rongga dadanya.

“Aryo, aku mau wujudin 9 list yang kamu buat.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo, ibu jarinya bergerak untuk mengusap lembut permukaan kulit pipi suaminya.

“Oke. Kita akan ngelakuin delapan sisanya setelah aku berhasil mengungkap perbuatan Reynaldi terhadap ayah kamu.”

“Bukannya perjalanan itu masih panjang? Mungkin akan makan waktu yang lama sampai kasusnya selesai.”

“Kamu benar, kita masih harus cari bukti yang kuat. Aku kepikiran satu cara yang mungkin bisa menjebak Reynaldi, supaya kita selamatin om Rudi secepatnya.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Setelah memberi tahu ayah dan bunda, Aryo dan Tiara menuju penthouse yang Aryo katakan akan menjadi kediaman mereka yang baru. Mereka juga telah mengambil bebebrapa pakaian untuk di bawa. Andi dan Alifia perlu tahu soal rencana yang akan Aryo jalankan untuk mengungkap kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian dimana Ayah kandung Tiara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiara kehilangan ayahnya, kemudian disusul oleh kepergian bundanya.

Saat diberitahu mengenai rencana tersebut, Andi dan Alifia sempat khawatir, tapi Aryo meyakinkan mereka. Ayah dan bundanya akhirnya menerima rencana itu. Ayahnya meminta maaf pada Aryo karena sebelumnya telah ragu pada pria itu dan beliau mengatakan keraguannya adalah hal yang keliru.

Alifia mengatakan pada Tiara saat mereka hanya sedang berdua, bahwa Aryo adalah menantu idamannya sejak awal pria itu datang melamar putrinya. Maka dari itu, sebenarnya bundanya yang paling kecewa saat mengetahui fakta bahwa orang yang menyebabkan kepergian Erlangga masih memiliki hubungan saudara dengan Aryo.

“Bunda bisa liat, dia benar-benar sayang sama kamu, Nak. Bunda sungkan bilangnya, jadi Bunda titip ke kamu ya. Bilang ke suami kamu, Bunda bahagia dan bangga banget memilikinya sebagai menantu. Dia keliatan sangat mencintai kamu dan bisa menjaga kamu dengan baik.” Begitu kira-kira perkataan Alifia. Tiara ingat ekspresi bundanya yang semringah ketika mengungkapkannya. Tiara merasa sepertinya Aryo memiliki mantra yang bisa membuat Andi dan Alifia seketika luluh.

Aryo dan Tiara menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di sebuah penthouse eksklusif yang hanya terdiri dari 2 unit yang terdapat di lantai paling atas bangunan ini.

Sampai di lantai 50 dimana unit mereka berada, Aryo meminta bodyguard-nya untuk meletakkan barang-barang pentingnya di sudut ruang tamu.

“Gimana, Sayang? Kamu suka tempat tinggal kita yang baru?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Suka banget,” jawab Tiara.

“Lebih suka ini atau rumah kita yang dulu?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi rumah itu besar banget. Aku takut kalau sendirian nggak ada kamu,” ungkap Tiara.

“Bilang aja kamu kangen aku. Tiara yang aku tau adalah perempuan pemberani.”

“Dimana aja aku suka sih, asal sama kamu,” balas Tiara.

Kali ini Tiara yang berhasil membuat Aryo nampak salah tingkah. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara yang mana jika ia menatap matanya, Aryo tidak tahu lagi akan seaneh apa reaksinya.

“Kamu beneran baru beli penthouse ini?” tanya Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan ketika ia juga merasa jantungnya berdebar hebat di dalam sana. Tiara merutuki ucapannya yang sebelumnya. Namun ia juga merasa senang karena gantian dirinya yang menggoda Aryo setelah berkali-kali suaminya berhasil dengan mudah membuatnya bersemu.

“Aku udah lama beli penthouse ini, tapi belum pernah di tempatin permanen.” Aryo mengikuti langkah Tiara yang antusias melihat-lihat tempat tinggal mereka yang baru.

“Sayang, jangan langsung tidur lho. Mandi dulu baru tidur, oke?” seru Tiara memperingati Aryo.

“Gimana kalau kita mandi bareng Ra?” tanya Aryo diiringi senyum jahilnya.

“Astaga,” Tiara tertawa disusul wajah merah padamnya.

“Kamu mandi duluan aja, biar aku siapin tempat tidur. Jadi, habis mandi kamu bisa langsung tidur.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo yang tampak lelah.

“Mandi barengnya kapan?” rengek Aryo dengan nada manjanya. Pria itu mencebikkan bibirnya yang otomatis membuat Tiara gemas melihatnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, “Besok. Udah sana kamu mandi dulu.”

“Cium dulu boleh?” pinta Aryo.

“Boleh, mau cium dimana?”

Aryo langsung menunjuk bibirnya dan lekas diangguki oleh Tiara. Lengan kekar Aryo menarik pinggang ramping istrinya untuk mendekat padanya, lalu ia mulai mencumbu bibir ranum Tiara dengan sensual. Tiara membalasnya, menikmati setiap sesapan yang diberikan Aryo dan mengusap lembut tengkuk suaminya.

Couple kissing

Aryo lekas berlalu dari hadapannya setelah mereka saling memuaskan dan menyalurkan kasih. Sebelum menghilang dari hadapannya, pria tampan itu melemparkan sebuah senyum gemas kepada Tiara.

Tiara pun melenggang untuk melakukan tugasnya setelah memastikan Aryo masuk ke kamar mandi. Sebenarnya Tiara yakin setiap penjuru tempat ini telah dibersihkan dan dirawat secara berkala, tapi ia tetap akan menyiapkan tempat tidur mereka malam ini.

Tiara menuju kamar utama yang terletak di lantai atas. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyiapkan kasur karena memang semuanya sudah tertata rapi dan bersih. Tiara menyalakan humidifier yang terdapat di kamar itu supaya suasananya lebih nyaman dan rileks. Tiara juga akan mempersiapkan baju tidur untuk suaminya dan juga untuk dirinya.

***

Setelah kurang lebih 20 menit, Aryo selesai dengan kegiatannya dan ia mendapati boks besar berisi barang-barang pentingnya tidak ada di ruang tamu. Sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Aryo mencari keberadaan Tiara.

Aryo menemukan Tiara di kamar utama di lantai atas. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan barang-barang penting miliknya. Boks tersebut berisi beberapa berkas saat Reynaldi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus CEO sebelas tahun yang lalu.

“Sayang, kamu liat isinya?” tanya Aryo dan seketika Tiara menoleh menatapnya.

Tiara menggeleng menjawab pertanyaan Aryo. Aryo lantas mengambil alih beberapa file yang ada di tangan Tiara dan pria itu menuju ruang penyimpanan yang terdapat di samping walk in closet.

“Di dalam boks ini, isinya beberapa bukti yang akan aku pakai untuk mengungkap perbuatan Reynaldi. Kamu mau lihat isinya?” tanya Aryo saat Tiara mengarahkan tatapannya pada file besar di tangannya.

Tiara tampak gugup. Sejujurnya ia memang ingin melihatnya, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya masih menolak itu. Ada sebagian dalam dirinya yang masih merasakan trauma. Dengan melihat sesuatu yang berhubungan dengan Reynaldi akan membuatnya teringat lagi masa lalu itu.

“Kamu nggak perlu maksain diri, kalau itu bisa bikin kamu ingat kamu masa lalu kamu.”

You’re right. Kayaknya untuk saat ini aku belum sanggup,” ujar Tiara.

Aryo pun mengangguk, lalu ia memasukkan file tersebut ke dalam brankas besar miliknya dan menguncinya. Aryo mengenggam tangan Tiara dan mereka keluar dari ruangan penyimpanan itu.

Aryo sedang berganti pakaian dan Tiara menunggu suaminya itu sambil memerhatikan isi pakaian yang ada di walk in closet.

“Baju yang ada disini style kamu banget. Tempat ini juga bersih dan rapi,” ujar Tiara saat suaminya telah berganti stelan dengan piyama biru dongker yang telah Tiara siapkan.

“Sebenarnya aku lumayan suka penthouse ini dan aku beberapa kali nginep di sini.”

“Kalau ruangan di sana itu apa?” tanya Tiara penasaran pada sebuah connecting door yang terdapat di ruangan walk in closet.

“Kamu mau ke sana?”

“Boleh emangnya? Aku pikir itu ruangan rahasia. Soalnya cuma pintu ruangan itu yang dikunci.”

“Ruangan itu emang ruang rahasia. Aku punya niat, suatu hari aku akan tunjukin ruangan itu ke orang yang spesial.”

Aryo memasukkan sebuah kode untuk membuka kunci pintu ruangan tersebut. Saat memasukinya dan melihat isi di dalamnya, Tiara dibuat terpana. Melalui sebuah tombol yang di tekan Aryo, lampu dan langit-langit di ruangan ini berubah warna menjadi seperti galaksi di angkasa.

Galaxy room

Aryo mengajaknya melihat barang-barang yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di ruangan ini. Namun bagi Aryo yang ada disini adalah yang pernah berarti dalam hidupnya.

Di sudut kanan terdapat lemari yang berisi koleksi minuman milik Aryo. Pria itu mengatakan bahwa minuman ini di dapatkannya dari teman-teman semasa kuliahnya dan beberapa dari kolega bisnisnya. Karena minuman-minuman ini berasal luar negeri, sehingga langka dan mahal, Aryo menyimpannya dengan apik. Terdapat juga koleksi vape, shisha dan tumpukan kotak rokok yang disusun rapi di dalam sebuah lemari kaca. Aryo mengatakan semua itu miliknya, tapi hanya digunakan untuk teman-temannya jika mereka berkunjung ke sini.

“Beneran, Sayang. Aku nggak konsumsi itu lagi,” ucap Aryo meyakinkan Tiara.

“Sesekali aja kalau lagi ingin,” sambung Aryo. Ia juga mengatakan, ia hanya minum beberapa minuman saat dirinya sedang merasa kalut. Maka Aryo akan ke ruangan ini dan minum sendiri.

“Terakhir kapan?” tanya Tiara.

“Aku lupa. Tapi kayaknya udah lama. Sebelum ketemu sama kamu, aku pernah ke sini sekali, minum, terus ketiduran sampai pagi di ruangan ini.”

“Artinya itu belum lama, Aryo.”

“Iya, itu belum lama. Tapi sekarang aku nggak ingin semua ini lagi. Aku simpan untuk teman-temanku aja karena mereka bisa gila kalau aku jual atau buang.” Aryo terkekeh karena mengingat kelakukan teman-temannya yang sangat mencintai barang-barang seperti ini.

“Kenapa kamu nggak ingin lagi? Karena setauku, teman-temanku juga susah banget lepas dari benda-benda kayak gini.”

“Aku nggak tahu alasan pastinya. Tapi sejak menikah, aku udah janji sama Tuhan. Aku akan menjaga kamu dan ingin berubah jadi yang lebih baik buat kamu. Selain itu untuk keluarga kecil kita kedepannya.”

Tiara terharu mendengar penuturan tersebut. Ia tidak pernah menyangka dan rasanya masih seperti mimpi bahwa ia dipertemukan dengan Aryo dan menikahi pria itu. Tiara mencintainya dan mendapat balasannya dengan merasa begitu dicintai oleh Aryo setiap harinya.

Aryo menunjukkannya sebuah jar yang berisi sebuah kertas. Di dalam kertas itu, terdapat 9 list yang Aryo buat saat dirinya berusia 17 tahun.

“Aku belum pernah nunjukin ini ke siapapun,” ungkap Aryo.

“Ini apa?” tanya Tiara ketika Aryo menyerahkan jar itu ke genggamannya.

“Kamu boleh buka dan baca isinya.”

Tiara lantas membuka kertas tersebut dan sebuah foto berukuran 3x4 meluncur dari dalam lipatan kertasnya. Tiara mengambil foto itu yang ternyata sebuah foto seorang perempuan.

“Kamu masih nyimpen foto mantan kamu. Kamu masih sayang dia?” ujar Tiara yang mendapati itu adalah potret Aurorae.

“Enggak gitu, Sayang. Ak-aku niat mau buang kok. Aku udah minta Erza buang ini tapi ternyata belum dibuang.”

Tiara lantas membuka kertas itu dan membaca isinya yang bertuliskan “9 Things I Will Do With My Wife”.

“Harusnya Aurorae yang baca ini, gitu?”

“Kamu jangan marah dong, Sayang. Ini cuma masa lalu. Sekarang yang aku nikahin kan kamu, cuma kamu yang aku sayang.”

“Tetap aja. Kamu udah bikin aku bete.” Tiara menyerahkan kertas itu pada Aryo, lalu berbalik meninggalkan Aryo di ruangan itu sendiri.

Aryo bergegas menyusul langkah Tiara. Aryo mana tahu tiba-tiba foto itu ada di sana. Sungguh diluar ekspektasinya. Padahal suasananya sudah romantis dan momentum yang tepat untuk menunjukkan tulisan yang ia buat kepada istrinya.

***

Beberapa menit kemudian, Aryo menyusul Tiara ke kamar setelah ia membiarkan Tiara meredam emosinya. Aryo memerhatikan istrinya yang sudah berganti stelan tidur gaun sutra bunga-bunga itu. Semerbak harum bedak yang lembut dan parfum vanilla campur coklat khas Tiara mengilhami indera penciuman Aryo. Kalau seperti ini, Aryo bawaannya ingin langsung memeluk Tiara. Namun sepertinya istrinya itu masih marah terhadapnya.

“Kamu masih bete?” tanya Aryo.

“Menurut kamu aja.” Tiara baru saja selesai melakukan kegiatan skincare malamnya, lalu ia beranjak ke kasur, menaikkan selimut sampai sebatas bahunya dan coba memejamkan matanya.

“Jangan lama-lama dong betenya, Sayang. Maafin aku yaa,” ucap Aryo lagi. Kali ini ekspresinya seperti anak anjing yang baru saja diomeli oleh empunya.

“Aku udah terlanjur liat, Aryo. Gimana nggak bete coba.” Tiara sebenarnya juga mempertanyakan dalam hatinya, kenapa ia bersikap begitu kekanakan seperti ini. Kalau dipikir-pikir, itu memang hal yang sepele. Aryo juga sudah jujur bahwa foto itu hanyalah sebuah masa lalu.

“Yaudah deh, kamu bete aja dulu, puasin ya. Tapi aku harap besok kamu nggak marah lagi sama aku,” ucap Aryo dan setelah itu Tiara tidak mendengar suara suaminya lagi. Apakah suaminya itu sudah tidur lebih dulu?

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo sudah memejamkan matanya. Tiara memutuskan untuk tidur juga, tapi yang terjadi adalah apa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan. Tiara tidak bisa terpejam begitu saja.

Kedua mata Tiara menangkap kertas biru di meja kamar. Kertas itu adalah 9 list yang ditulis oleh Aryo. Rasa penasaran pun mendorong Tiara beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas tersebut, lalu ia membacanya.

“Kamu kenapa belum tidur?” sapa sebuah suara yang membuat Tiara berbalik. Ia menemukan Aryo dengan wajah kantuknya saat Tiara hampir selesai membaca 9 list itu.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kamu baca tulisan aku?”

“Belum aku baca, aku cuma liat karena ada disini.”

“Kamu baca list itu, Tiara.”

“Okey, iya aku baca,” ucap Tiara akhirnya yang memang tidak bisa berbohong kepada Aryo.

“Kamu nggak beneran tidur ya dari tadi?” selidik Tiara.

“Aku tau kamu belum tidur, jadi mana aku bisa tidur. Kamu mau wujudin tulisan aku yang ada di list itu? Kayaknya kita bisa lakuin hal yang pertama.”

Playing UNO at midnight?

***

Aryo dan Tiara memainkan UNO sebanyak 4 kali dan setiap babaknya Tiara yang menang. Tiara nampak senang karena ia dapat mengalahkan Aryo.

“Gimana bisa kamu bikin list mau main UNO tapi kamunya kalah terus,” ujar Tiara.

“Aku pura-pura kalah aja, Sayang. Biar kamunya seneng.”

“Alasan kamu mah.”

“Mau main sekali lagi?” tawar Aryo.

“Besok kan kamu harus kerja, gimana kalau kita udahan aja?” Aryo pun menyetujui saran Tiara. Memang benar besok pagi dirinya harus ke kantor dan ini sudah pukul 1 malam.

“Terima kasih, Tiara,” ujar Aryo.

“Untuk?”

“Karena kamu udah jadi istri aku.”

“Sama-sama,” Tiara lantas mengulaskan senyumnya.

“Aku tau kamu marah karena kamu cemburu,” ujar Aryo.

“Siapa yang cemburu, nggak ada tuh.”

It’s your emotion. When women show her emotion, it means she’s really love you.

“Fotonya kamu buang kan nanti?”

“Iya Sayang, astaga. Kamu serem ya kalau udah cemburu. Ohiya, aku mau tanya sama kamu. Apa kemungkinan insomnia kamu datang karena suatu hal?”

“Aku nggak tahu pasti. Mungkin karena udah lama. Dulu waktu ayah pergi, bunda udah tidur, tapi aku nggak bisa tidur. Bunda kebangun karena aku, dan akhirnya beliau peluk aku sampai bisa tidur,” cerita Tiara.

“Apa ada hubungannya sama berkas-berkas itu?”

Nope, it’s oke. Lagian harusnya aku nggak mindahin barang-barang kamu tanpa bilang dulu ke kamu.”

Aryo menatap Tiara lekat, “Ra, aku nggak akan pernah tahu rasanya apa yang kamu alami sebelas tahun lalu. Itu pasti berat banget untuk kamu.” Aryo membayangkan apa yang terjadi pada Tiara pada saat itu. Saat mengetahui Tiara harus melewati hal tersebut, Aryo ikut merasakan rasa sakit di hatinya, meskipun ia tahu tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan Tiara.

Aryo meraih tangan Tiara, menyelipkan jemarinya di antara jemari Tiara, “I wish I could remove your sadness, Ra,” ujarnya sambil menatap ke iris legam wanitanya.

“Kok kita jadi mellow gini sih? Kamu mah.” Tiara yang awalnya merasa biasa saja, malah terbawa suasana karena tatapan Aryo padanya. Tatapan itu seperti ada rasa marah, sedih, dan hancur secara bersamaan.

Tiara lantas menatap Aryo sembari mengulaskan senyum simpulnya, “You already do. You removed my sadness and all my pain. Life with you is my happiness,” ungkap Tiara.

Aryo spontan mengulaskan senyumnya mendengar ungkapan Tiara. Ia merasa begitu bahagia mendapati bahwa dirinyalah alasan Tiara bahagia.

“Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Waktu malam pertama setelah kita resepsi,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kamu nggak bisa tidur, persis kayak gini. Waktu aku tanya, kamu bilang itu bukan urusanku. Yaudah aku tidur duluan.”

“Kamu nggak peka.”

“Wanita emang sulit untuk dipahamin. Walaupun aku mau banget meluk kamu saat itu, tapi aku pikir kayaknya bukan itu yang benar-benar kamu butuhin. Sekarang aku bisa meluk kamu kapan aja, kayak gini.” Aryo lantas merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.

“Kamu benar. Tapi gimana ya, kalau pertemuan kedua kita bukan aku yang nolongin kamu.”

“Aku udah punya niat untuk ungkapin perasaan aku ke kamu.”

You kiss me that night. Jadi waktu itu kamu main-main doang atau serius sih?”

“Pengaruh alkohol itu tinggal sedikit, kayaknya karena aku habis dipukulin preman-preman itu. Aku sadar sepenuhnya saat aku menginginkan kamu,” Aryo sangat ingat bahwa ia bersama Tiara dan menginginkan gadis itu tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadapnya.

“Aku mau tau perasaan kamu ke aku. Waktu itu aku sama Aurorae udah nggak ada hubungan apapun. Tapi dia datang ke bar untuk nemuin aku.”

“Kenapa kamu putus sama Aurorae?”

“Kita nggak bisa bareng lagi. Kadang sesuatu yang terlalu kuat, nggak bisa jamin bisa jadi satu.”

Tiara mengangguk paham akan perumpamaan yang Aryo jelaskan.

Who is your first kiss?” tanya Tiara tiba-tiba.

“Ada beberapa bagian masa lalu yang seharusnya memang dibuang. Kamu harus tau, kamu adalah perempuan pertama yang aku cium dan ingin aku nikahi,” ujar Aryo. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah pria yang sempurna, ada bagian dalam hidupnya sebelum menikah yang ia sesali dan ingin perbaiki kedepannya.

“Tapi kenapa kamu berani cium aku padahal kita baru kenal?”

Aryo tertawa mendengar penurutan Tiara. “Maaf ya, aku udah lancang sama kamu. Aku lumayan kacau malam itu dan kamu datang lebih mengacaukan semuanya.” Aryo mengungkapkan rasa penyesalannya sekaligus perasaan jujurnya.

“Maksudnya aku pengacau gitu?”

“Iya, kamu buat hati aku kacau.”

“Kamu tau nggak, ayah bisa aja habisin kamu, kalau kamu nggak nikahin aku,” terang Tiara.

“Kamu tenang aja, itu nggak akan terjadi, Ra. Aku udah bertekad akan membuat kamu suka sama aku. Sesuatu yang diawal keliatan buruk, ternyata punya rencana indah di akhir,” ujar Aryo dan Tiara setuju tentang itu.

Tiara mengulaskan senyumnya sambil menatap Aryo, “Apapun masa lalu kamu, itu cuma akan jadi sebuah memori. Kamu berhak untuk memilikinya. Kamu yang ada di sini sekarang, adalah kamu suami aku. I love what you are now and what you will be in the future.”

Aryo menatapnya dengan tatapan bahagia dan terharu, lantas ia menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara.

“Aku mau tanya satu hal,” ujar Tiara.

“Apa itu Sayang?”

“Kamu yakin banget bisa buat aku suka sama kamu?”

“Yakin. Buktinya bisa, kan? Kalau kamu nggak suka sama aku, si bayi nggak akan hadir sebagai anugerah untuk kita di sini,” ucap Aryo sambil mengusapkan tangannya di perut Tiara. Aryo dapat merasakan ada gundukan kecil di sana yang seketika menciptakan desiran hangat di rongga dadanya.

“Aryo, aku mau wujudin 9 list yang kamu buat.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo, ibu jarinya bergerak untuk mengusap lembut permukaan kulit pipi suaminya.

“Oke. Kita akan ngelakuin delapan sisanya setelah aku berhasil mengungkap perbuatan Reynaldi terhadap ayah kamu.”

“Bukannya perjalanan itu masih panjang? Mungkin akan makan waktu yang lama sampai kasusnya selesai.”

“Kamu benar, kita masih harus cari bukti yang kuat. Aku kepikiran satu cara yang mungkin bisa menjebak Reynaldi, supaya kita selamatin om Rudi secepatnya.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Setelah memberi tahu ayah dan bunda, Aryo dan Tiara menuju penthouse yang Aryo katakan akan menjadi kediaman mereka yang baru. Mereka juga telah mengambil bebebrapa pakaian untuk di bawa. Andi dan Alifia perlu tahu soal rencana yang akan Aryo jalankan untuk mengungkap kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian dimana Ayah kandung Tiara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiara kehilangan ayahnya, kemudian disusul oleh kepergian bundanya.

Saat diberitahu mengenai rencana tersebut, Andi dan Alifia sempat khawatir, tapi Aryo meyakinkan mereka. Ayah dan bundanya akhirnya menerima rencana itu. Ayahnya meminta maaf pada Aryo karena sebelumnya telah ragu pada pria itu dan beliau mengatakan keraguannya adalah hal yang keliru.

Alifia mengatakan pada Tiara saat mereka hanya sedang berdua, bahwa Aryo adalah menantu idamannya sejak awal pria itu datang melamar putrinya. Maka dari itu, sebenarnya bundanya yang paling kecewa saat mengetahui fakta bahwa orang yang menyebabkan kepergian Erlangga masih memiliki hubungan saudara dengan Aryo.

“Bunda bisa liat, dia benar-benar sayang sama kamu, Nak. Bunda sungkan bilangnya, jadi Bunda titip ke kamu ya. Bilang ke suami kamu, Bunda bahagia dan bangga banget memilikinya sebagai menantu. Dia keliatan sangat mencintai kamu dan bisa menjaga kamu dengan baik.” Begitu kira-kira perkataan Alifia. Tiara ingat ekspresi bundanya yang semringah ketika mengungkapkannya. Tiara merasa sepertinya Aryo memiliki mantra yang bisa membuat Andi dan Alifia seketika luluh.

Aryo dan Tiara menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di sebuah penthouse eksklusif yang hanya terdiri dari 2 unit yang terdapat di lantai paling atas bangunan ini.

Sampai di lantai 50 dimana unit mereka berada, Aryo meminta bodyguard-nya untuk meletakkan barang-barang pentingnya di sudut ruang tamu.

“Gimana, Sayang? Kamu suka tempat tinggal kita yang baru?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Suka banget,” jawab Tiara.

“Lebih suka ini atau rumah kita yang dulu?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi rumah itu besar banget. Aku takut kalau sendirian nggak ada kamu,” ungkap Tiara.

“Bilang aja kamu kangen aku. Tiara yang aku tau adalah perempuan pemberani.”

“Dimana aja aku suka sih, asal sama kamu,” balas Tiara.

Kali ini Tiara yang berhasil membuat Aryo nampak salah tingkah. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara yang mana jika ia menatap matanya, Aryo tidak tahu lagi akan seaneh apa reaksinya.

“Kamu beneran baru beli penthouse ini?” tanya Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan ketika ia juga merasa jantungnya berdebar hebat di dalam sana. Tiara merutuki ucapannya yang sebelumnya. Namun ia juga merasa senang karena gantian dirinya yang menggoda Aryo setelah berkali-kali suaminya berhasil dengan mudah membuatnya bersemu.

“Aku udah lama beli penthouse ini, tapi belum pernah di tempatin permanen.” Aryo mengikuti langkah Tiara yang antusias melihat-lihat tempat tinggal mereka yang baru.

“Sayang, jangan langsung tidur lho. Mandi dulu baru tidur, oke?” seru Tiara memperingati Aryo.

“Gimana kalau kita mandi bareng Ra?” tanya Aryo diiringi senyum jahilnya.

“Astaga,” Tiara tertawa disusul wajah merah padamnya.

“Kamu mandi duluan aja, biar aku siapin tempat tidur. Jadi, habis mandi kamu bisa langsung tidur.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo yang tampak lelah.

“Mandi barengnya kapan?” rengek Aryo dengan nada manjanya. Pria itu mencebikkan bibirnya yang otomatis membuat Tiara gemas melihatnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, “Besok. Udah sana kamu mandi dulu.”

“Cium dulu boleh?” tanya Aryo.

“Boleh, mau cium dimana?”

Aryo langsung menunjuk bibirnya dan diangguki oleh Tiara. Lengan Aryo menarik pinggang ramping istrinya untuk mendekat, lalu ia mencumbu bibir ranum Tiara dengan sensual. Tiara membalasnya, menikmati setiap sesapan yang diberikan Aryo dan mengusap lembut tengkuk suaminya.

Couple kissing

Aryo pun berlalu dari hadapannya setelah mereka saling memuaskan dan menyalurkan kasih.

Tiara lekas melenggang untuk melakukan tugasnya. Meski ia yakin setiap penjuru tempat ini telah dibersihkan dan dirawat secara berkala, tapi ia tetap akan menyiapkan tempat tidur mereka malam ini.

Tiara menuju kamar utama yang terletak di lantai atas. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyiapkan kasur karena memang semuanya sudah tertata rapi dan bersih. Tiara menyalakan humidifier yang terdapat di kamar itu supaya suasananya lebih nyaman dan rileks. Tiara juga akan mempersiapkan baju tidur untuk suaminya dan juga untuk dirinya.

***

Setelah kurang lebih 20 menit, Aryo selesai dengan kegiatannya dan ia mendapati boks besar berisi barang-barang pentingnya tidak ada di ruang tamu. Sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil, Aryo mencari keberadaan Tiara.

Aryo menemukan Tiara di kamar utama di lantai atas. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan barang-barang penting miliknya. Boks tersebut berisi beberapa berkas saat Reynaldi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus CEO sebelas tahun yang lalu.

“Sayang, kamu liat isinya?” tanya Aryo dan seketika Tiara menoleh menatapnya.

Tiara menggeleng menjawab pertanyaan Aryo. Aryo lantas mengambil alih beberapa file yang ada di tangan Tiara dan pria itu menuju ruang penyimpanan yang terdapat di samping walk in closet.

“Di dalam boks ini, isinya beberapa bukti yang akan aku pakai untuk mengungkap perbuatan Reynaldi. Kamu mau lihat isinya?” tanya Aryo saat Tiara mengarahkan tatapannya pada file besar di tangannya.

Tiara tampak gugup. Sejujurnya ia memang ingin melihatnya, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya masih menolak itu. Ada sebagian dalam dirinya yang masih merasakan trauma. Dengan melihat sesuatu yang berhubungan dengan Reynaldi akan membuatnya teringat lagi masa lalu itu.

“Kamu nggak perlu maksain diri, kalau itu bisa bikin kamu ingat kamu masa lalu kamu.”

You’re right. Kayaknya untuk saat ini aku belum sanggup,” ujar Tiara.

Aryo pun mengangguk, lalu ia memasukkan file tersebut ke dalam brankas besar miliknya dan menguncinya. Aryo mengenggam tangan Tiara dan mereka keluar dari ruangan penyimpanan itu.

Aryo sedang berganti pakaian dan Tiara menunggu suaminya itu sambil memerhatikan isi pakaian yang ada di walk in closet.

“Baju yang ada disini style kamu banget. Tempat ini juga bersih dan rapi,” ujar Tiara saat suaminya telah berganti stelan dengan piyama biru dongker yang telah Tiara siapkan.

“Sebenarnya aku lumayan suka penthouse ini dan aku beberapa kali nginep di sini.”

“Kalau ruangan di sana itu apa?” tanya Tiara penasaran pada sebuah connecting door yang terdapat di ruangan walk in closet.

“Kamu mau ke sana?”

“Boleh emangnya? Aku pikir itu ruangan rahasia. Soalnya cuma pintu ruangan itu yang dikunci.”

“Ruangan itu emang ruang rahasia. Aku punya niat, suatu hari aku akan tunjukin ruangan itu ke orang yang spesial.”

Aryo memasukkan sebuah kode untuk membuka kunci pintu ruangan tersebut. Saat memasukinya dan melihat isi di dalamnya, Tiara dibuat terpana. Melalui sebuah tombol yang di tekan Aryo, lampu dan langit-langit di ruangan ini berubah warna menjadi seperti galaksi di angkasa.

Galaxy room

Aryo mengajaknya melihat barang-barang yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di ruangan ini. Namun bagi Aryo yang ada disini adalah yang pernah berarti dalam hidupnya.

Di sudut kanan terdapat lemari yang berisi koleksi minuman milik Aryo. Pria itu mengatakan bahwa minuman ini di dapatkannya dari teman-teman semasa kuliahnya dan beberapa dari kolega bisnisnya. Karena minuman-minuman ini berasal luar negeri, sehingga langka dan mahal, Aryo menyimpannya dengan apik. Terdapat juga koleksi vape, shisha dan tumpukan kotak rokok yang disusun rapi di dalam sebuah lemari kaca. Aryo mengatakan semua itu miliknya, tapi hanya digunakan untuk teman-temannya jika mereka berkunjung ke sini.

“Beneran, Sayang. Aku nggak konsumsi itu lagi,” ucap Aryo meyakinkan Tiara.

“Sesekali aja kalau lagi ingin,” sambung Aryo. Ia juga mengatakan, ia hanya minum beberapa minuman saat dirinya sedang merasa kalut. Maka Aryo akan ke ruangan ini dan minum sendiri.

“Terakhir kapan?” tanya Tiara.

“Aku lupa. Tapi kayaknya udah lama. Sebelum ketemu sama kamu, aku pernah ke sini sekali, minum, terus ketiduran sampai pagi di ruangan ini.”

“Artinya itu belum lama, Aryo.”

“Iya, itu belum lama. Tapi sekarang aku nggak ingin semua ini lagi. Aku simpan untuk teman-temanku aja karena mereka bisa gila kalau aku jual atau buang.” Aryo terkekeh karena mengingat kelakukan teman-temannya yang sangat mencintai barang-barang seperti ini.

“Kenapa kamu nggak ingin lagi? Karena setauku, teman-temanku juga susah banget lepas dari benda-benda kayak gini.”

“Aku nggak tahu alasan pastinya. Tapi sejak menikah, aku udah janji sama Tuhan. Aku akan menjaga kamu dan ingin berubah jadi yang lebih baik buat kamu. Selain itu untuk keluarga kecil kita kedepannya.”

Tiara terharu mendengar penuturan tersebut. Ia tidak pernah menyangka dan rasanya masih seperti mimpi bahwa ia dipertemukan dengan Aryo dan menikahi pria itu. Tiara mencintainya dan mendapat balasannya dengan merasa amat dicintai oleh Aryo setiap harinya.

Aryo menunjukkannya sebuah jar yang berisi sebuah kertas. Di dalam kertas itu, terdapat 9 list yang Aryo buat saat dirinya berusia 17 tahun.

“Aku belum pernah nunjukin ini ke siapapun,” ungkap Aryo.

“Ini apa?” tanya Tiara ketika Aryo menyerahkan jar itu ke genggamannya.

“Kamu boleh buka dan baca isinya.”

Tiara lantas membuka kertas tersebut dan sebuah foto berukuran 3x4 meluncur dari dalam lipatan kertasnya. Tiara mengambil foto itu yang ternyata sebuah foto seorang perempuan.

“Kamu masih nyimpen foto mantan kamu. Kamu masih sayang dia?” ujar Tiara yang mendapati itu adalah potret Aurorae.

“Enggak gitu, Sayang. Ak-aku niat mau buang kok. Aku udah minta Erza buang ini tapi ternyata belum dibuang.”

Tiara lantas membuka kertas itu dan membaca isinya yang bertuliskan “9 Things I Will Do With My Wife”.

“Harusnya Aurorae yang baca ini, gitu?”

“Kamu jangan marah dong, Sayang. Ini cuma masa lalu. Sekarang yang aku nikahin kan kamu, cuma kamu yang aku sayang.”

“Tetap aja. Kamu udah bikin aku bete.” Tiara menyerahkan kertas itu pada Aryo, lalu berbalik meninggalkan Aryo di ruangan itu sendiri.

Aryo bergegas menyusul langkah Tiara. Aryo mana tahu tiba-tiba foto itu ada di sana. Sungguh diluar ekspektasinya. Padahal suasananya sudah romantis dan momentum yang tepat untuk menunjukkan tulisan yang ia buat kepada istrinya.

***

Beberapa menit kemudian, Aryo menyusul Tiara ke kamar setelah ia membiarkan Tiara meredam emosinya. Aryo memerhatikan istrinya yang sudah berganti stelan tidur gaun sutra bunga-bunga itu. Semerbak harum bedak yang lembut dan parfum vanilla campur coklat khas Tiara mengilhami indera penciuman Aryo. Kalau seperti ini, Aryo bawaannya ingin langsung memeluk Tiara. Namun sepertinya istrinya itu masih marah terhadapnya.

“Kamu masih bete?” tanya Aryo.

“Menurut kamu aja.” Tiara baru saja selesai melakukan kegiatan skincare malamnya, lalu ia beranjak ke kasur, menaikkan selimut sampai sebatas bahunya dan coba memejamkan matanya.

“Jangan lama-lama dong betenya, Sayang. Maafin aku yaa,” ucap Aryo lagi. Kali ini ekspresinya seperti anak anjing yang baru saja diomeli oleh empunya.

“Aku udah terlanjur liat, Aryo. Gimana nggak bete coba.” Tiara sebenarnya juga mempertanyakan dalam hatinya, kenapa ia bersikap begitu kekanakan seperti ini. Kalau dipikir-pikir, itu memang hal yang sepele. Aryo juga sudah jujur bahwa foto itu hanyalah sebuah masa lalu.

“Yaudah deh, kamu bete aja dulu, puasin ya. Tapi aku harap besok kamu nggak marah lagi sama aku,” ucap Aryo dan setelah itu Tiara tidak mendengar suara suaminya lagi. Apakah suaminya itu sudah tidur lebih dulu?

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo sudah memejamkan matanya. Tiara memutuskan untuk tidur juga, tapi yang terjadi adalah apa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan. Tiara tidak bisa terpejam begitu saja.

Kedua mata Tiara menangkap kertas biru di meja kamar. Kertas itu adalah 9 list yang ditulis oleh Aryo. Rasa penasaran pun mendorong Tiara beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas tersebut, lalu ia membacanya.

“Kamu kenapa belum tidur?” sapa sebuah suara yang membuat Tiara berbalik. Ia menemukan Aryo dengan wajah kantuknya saat Tiara hampir selesai membaca 9 list itu.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kamu baca tulisan aku?”

“Belum aku baca, aku cuma liat karena ada disini.”

“Kamu baca list itu, Tiara.”

“Okey, iya aku baca,” ucap Tiara akhirnya yang memang tidak bisa berbohong kepada Aryo.

“Kamu nggak beneran tidur ya dari tadi?” selidik Tiara.

“Aku tau kamu belum tidur, jadi mana aku bisa tidur. Kamu mau wujudin tulisan aku yang ada di list itu? Kayaknya kita bisa lakuin hal yang pertama.”

Playing UNO at midnight?

***

Aryo dan Tiara memainkan UNO sebanyak 4 kali dan setiap babaknya Tiara yang menang. Tiara nampak senang karena ia dapat mengalahkan Aryo.

“Gimana bisa kamu bikin list mau main UNO tapi kamunya kalah terus,” ujar Tiara.

“Aku pura-pura kalah aja, Sayang. Biar kamunya seneng.”

“Alasan kamu mah.”

“Mau main sekali lagi?” tawar Aryo.

“Kamu kan besok harus kerja, gimana kalau kita udahan aja?” Aryo pun menyetujui saran Tiara. Memang benar besok pagi dirinya harus ke kantor dan ini sudah pukul 1 malam.

“Terima kasih, Tiara,” ujar Aryo.

“Untuk?”

“Karena kamu udah jadi istri aku.”

“Sama-sama,” Tiara lantas mengulaskan senyumnya.

“Aku tau kamu marah karena kamu cemburu,” ujar Aryo.

“Siapa yang cemburu, nggak ada tuh.”

It’s your emotion. When women show her emotion, it means she’s really love you.

“Fotonya kamu buang kan nanti?”

“Iya Sayang, astaga. Kamu serem ya kalau udah cemburu. Ohiya, aku mau tanya sama kamu. Apa kemungkinan insomnia kamu datang karena suatu hal?”

“Aku nggak tahu pasti. Mungkin karena udah lama. Dulu waktu ayah pergi, bunda udah tidur, tapi aku nggak bisa tidur. Bunda kebangun karena aku, dan akhirnya beliau peluk aku sampai bisa tidur,” cerita Tiara.

“Apa ada hubungannya sama berkas-berkas itu?”

Nope, it’s oke. Lagian harusnya aku nggak mindahin barang-barang kamu tanpa bilang dulu ke kamu.”

Aryo menatap Tiara lekat, “Ra, aku nggak akan pernah tahu rasanya apa yang kamu alami sebelas tahun lalu. Itu pasti berat banget untuk kamu.” Aryo membayangkan apa yang terjadi pada Tiara pada saat itu. Saat mengetahui Tiara harus melewati hal tersebut, Aryo ikut merasakan rasa sakit di hatinya, meskipun ia tahu tidak akan sebanding dengan apa yang dirasakan Tiara.

I wish I could remove your sadness,” ujar Aryo.

“Kok jadi mellow sih? Kamu mah.” Tiara yang awalnya merasa biasa saja, malah terbawa suasana karena tatapan Aryo padanya. Tatapan itu seperti ada rasa marah, sedih, dan hancur secara bersamaan.

You already do. You removed my sadness and all my pain. Life with you is my happines,” ungkap Tiara.

Aryo mengulaskan senyumnya mendengar ungkapan Tiara. Ia sungguh bahagia mendapati bahwa dirinya adalah alasan Tiara bahagia.

“Oh iya, aku ingat sesuatu. Waktu malam pertama setelah kita resepsi,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kamu nggak bisa tidur, persis kayak gini. Waktu aku tanya, kamu bilang itu bukan urusanku. Yaudah aku tidur duluan.”

“Kamu nggak peka.”

“Wanita emang sulit untuk dipahamin. Walaupun aku mau banget meluk kamu saat itu, tapi aku pikir kayaknya bukan itu yang benar-benar kamu butuhin. Sekarang aku bisa meluk kamu kapan aja, kayak gini.” Aryo lantas merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.

“Kamu benar. Tapi gimana ya, kalau pertemuan kedua kita bukan aku yang nolongin kamu.”

“Aku udah punya niat untuk ungkapin perasaan aku ke kamu.”

You kiss me that night. Jadi waktu itu kamu main-main doang atau serius sih?”

“Pengaruh alkohol itu tinggal dikit, kayaknya karena aku habis dipukulin preman-preman itu. Aku sadar sepenuhnya saat aku menginginkan kamu,” Aryo sangat ingat bahwa ia bersama Tiara dan menginginkan gadis itu tahu bahwa ia memiliki perasaan terhadapnya.

“Aku mau tau perasaan kamu ke aku. Waktu itu aku sama Aurorae udah nggak ada hubungan apapun. Tapi dia datang ke bar untuk nemuin aku.”

“Kenapa kamu putus sama Aurorae?”

“Kita nggak bisa bareng lagi. Kadang sesuatu yang terlalu kuat, nggak bisa jamin bisa jadi satu.”

Tiara mengangguk paham akan perumpamaan yang Aryo jelaskan.

Who is your first kiss?” tanya Tiara tiba-tiba.

“Ada beberapa bagian masa lalu yang seharusnya memang dibuang. Kamu harus tau, kamu adalah perempuan pertama yang aku cium dan ingin aku nikahi,” ujar Aryo. Ia mengakui bahwa dirinya bukanlah pria yang sempurna, ada bagian dalam hidupnya sebelum menikah yang ia sesali dan ingin perbaiki kedepannya.

“Tapi kenapa kamu berani cium aku padahal kita baru kenal?”

Aryo tertawa mendengar penurutan Tiara barusan. “Maaf ya, aku udah lancang sama kamu. Aku lumayan kacau malam itu dan kamu datang lebih mengacaukan semuanya.” Aryo mengungkapkan rasa penyesalannya sekaligus perasaan jujurnya.

“Maksudnya aku pengacau gitu?”

“Iya, kamu buat hati aku kacau.”

“Kamu tau, ayah bisa aja habisin kamu, kalau kamu nggak nikahin aku.”

“Kamu tenang aja, itu nggak akan terjadi. Aku udah bertekad akan membuat kamu suka sama aku. Sesuatu yang diawal keliatan buruk, ternyata punya rencana indah di akhir,” ujar Aryo dan Tiara setuju tentang itu.

Tiara mengulaskan senyumnya sambil menatap Aryo, “Apapun masa lalu kamu, itu cuma akan jadi sebuah memori. Kamu berhak untuk memilikinya. Kamu yang ada di sini sekarang, adalah kamu suami aku. I love you. What you are now and what you will be in future.”

Aryo menatapnya dengan tatapan bahagia dan terharu, lantas ia menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara.

“Aku mau tanya satu hal,” ujar Tiara.

“Apa itu Sayang?”

“Kamu yakin banget bisa buat aku suka sama kamu?”

“Yakin. Buktinya bisa, kan? Kalau kamu nggak suka sama aku, si bayi nggak akan hadir sebagai anugerah untuk kita di sini,” ucap Aryo sambil mengusapkan tangannya di perut Tiara. Aryo dapat merasakan ada gundukan kecil di sana yang seketika menciptakan desiran hangat di rongga dadanya.

“Aryo, aku mau wujudin 9 list yang kamu buat.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo, ibu jarinya bergerak untuk mengusap lembut permukaan kulit pipi suaminya.

“Oke. Kita akan ngelakuin delapan sisanya setelah aku berhasil mengungkap perbuatan Reynaldi terhadap ayah kamu.”

“Bukannya perjalanan itu masih panjang? Mungkin akan makan waktu yang lama sampai kasusnya selesai.”

“Kamu benar, kita masih harus cari bukti yang kuat. Aku kepikiran satu cara yang mungkin bisa menjebak Reynaldi, supaya kita selamatin om Rudi secepatnya.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Malam ini digelar acara ulang tahun di kediaman keluarga besar Brodjohujodyo dan Tiara hadir di sana. Tiara memperkirakan bahwa bangunan ini lebih besar dua kali lipat dari rumah yang menjadi tempat tinggalnya setelah menikah dengan Aryo.

Tiara tidak berniat datang ke acara ini pada awalnya, karena ia tidak berani melanggar perintah suaminya untuk pergi. Bahkan Aryo sendiri tidak hadir di acara ini. Namun takdir berkata lain dan akhirnya membawanya datang kemari. Tadi siang, Tiara dikabari oleh Erza bahwa mama mertuanya mengunjungi rumahnya. Tiara tidak ingin membuat mertuanya itu khawatir karena ketidakberadaannya di rumah, jadi Tiara bergegas pergi ke sana dan Egha yang mengantarnya. Tiara mengatakan pada Egha untuk tidak memberitahu apapun pada Aryo.

Lantas Felicia mengajak Tiara menghadiri acara ulang tahun eyang dan Tiara terpaksa berbohong dengan mengatakan Aryo juga akan datang. Suaminya akan menyusul karena masih memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan. Tiara hanya tidak ingin membuat mertuanya khawatir dengan apa yang terjadi padanya dan Aryo.

Disatu sisi, berbohong memang bukanlah hal yang baik, tapi untuk saat ini, mertuanya lebih baik tidak mengetahui dulu apa yang sedang terjadi. Tiara setuju untuk ikut ke acara ulang tahun ini bersama Felicia karena ia memiliki sebuah tujuan, setelah tidak sengaja ia mendengar pembicaraan Aryo dengan Egha. Mereka mengatakan bahwa penyandera Rudi mengancam akan menghabisi Rudi dalam waktu yang tidak lama lagi.

Seperti perkataan Aryo, orang itu besar kemungkinan hadir di acara ini. Orang yang bertanggungjawab atas kepergian ayah kandungnya. Tiara ingin mencari informasi yang barangkali bisa ia dapatkan untuk menyelamatkan Rudi.

Tiara mengatakan pada Felicia bahwa ia akan menyusulnya menemui keluarga Brodjohujodyo yang lain, karena ia harus mencari toilet untuk menyelesaikan panggilan alamnya. Tiara menggunakan alasan tersebut untuk menjalankan rencananya.

Tiara bertanya pada salah satu maid di lantai berapa biasanya para tetua berkumpul. Tempat ini sangat luas, jadi tidak mungkin Tiara mengitarinya tanpa petunjuk sama sekali. Tiara menekan tombol lift di angka 5 sesuai dengan informasi diberikan oleh maid tadi.

Tiara sampai di lantai 5 yang memiliki desain interior yang sedikit berbeda dengan desain di lantai lainnya. Lantai ini di desain dengan gaya minimalis yang benuansa hitam, putih, dan sedikit sentuhan silver. Tiara menyusuri tempat yang memiliki banyak lorong yang tidak terlalu luas ini. Tiara menghafalkan perjalanannya agar ia tidak tersesat saat nanti ingin kembali. Tiara tidak habis pikir apa tujuan tempat yang dibuat seperti labirin.

Tunggu.

Ya, itu dia tujuannya. Tiara menemukan benang merah di kepalanya. Lantai ini dibangun untuk menyesuaikan fungsinya, yakni tempat berkumpul para tetua. Tiara juga tidak tahu dengan pasti, tapi para tetua yang merupakan pemegang saham dan petinggi perusahaan tentu memerlukan privasi yang ketat dan bukankah sebuah rahasia harusnya disimpan dengan rapi?

Tiara melanjutkan langkahnya dan sebuah pemikiran terlintas di benaknya. Bagaimana ia bisa mendapatkan informasi kalau ruangan-ruangan di lantai ini di desain kedap suara. Tiara sukses tidak dapat mendengar suara apapun ketika ia melewati lorong yang di kanan dan kirinya terdapat ruangan.

Tiara memperhatikan sekitarnya dan netranya menangkap sebuah tangga yang hanya terdiri dari beberapa anak tangga. Tangga tersebut menghubungkan ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, jadi tempat itu terlihat seperti rumah pohon dari sini.

Tiara melangkahkan kakinya ke sana. Ia menapaki anak tangga dan bersembunyi disamping sebuah pajangan guci mewah yang berukuran lebih besar dari tubuhnya itu. Dari tempatnya saat ini, tentu ia tidak bisa mencuri dengar pembicaraan orang yang ada di dalam, tapi Tiara tidak ingin menyerah begitu saja.

Setelah mendengar bunyi ‘beep’ yang menandakan otomatic door ruangan itu terbuka, Tiara menutup mulutnya dengan tangannya sendiri untuk memastikan ia tidak akan menimbulkan suara sekecil apapun. Seorang pria paruh baya keluar dari ruangan itu bersama seorang pria muda.

Tiara tentu mengetahui siapa pria muda itu. Pria itu adalah Elnino, rival suaminya pada pemilihan jabatan presiden direktur. Namun pria paruh baya yang bersama El tersebut, Tiara tidak yakin ia mengetahuinya, tapi wajahnya fameliar dan apakah pria itu adalah Reynaldi Brodjohujodyo?

“Bukannya semuanya akan lebih mudah kalau kita habisin Rudi?” ucap El.

“Keponakanku, kamu kayaknya masih perlu banyak belajar. Om emang akan habisin dia, tapi nanti. Bukan sekarang.”

“Kapan waktunya?”

“Nggak akan lama lagi. Rudi Abimana tau semuanya soal kejadian sebelas tahun lalu.”

El nampak mengangguk mengerti. “Oh iya, gimana dengan keturunan Erlangga? Apa om udah nemuin keberadaannya?”

“Belum. Sebelum Om mendapatkan bukti kematiannya di depan mata Om, Om akan terus cari dia.”

“Gimana kalau aku bisa bawa bukti itu ke hadapan Om?” tawar El.

“Hidup atau mati?”

“Om tinggal pilih. Om mau aku bawa dia hidup-hidup atau cuma jasadnya aja?”

“Terserah kamu. Lakukan itu untuk Om.”

“Setelah itu, apa yang akan aku dapatkan sebagai balasannya?”

“Apapun yang kamu mau. Om tau, kamu sudah memikirkan ini dari lama.”

“Oke. Aku cuma mau Aryo Bimo dan keluarganya hancur.”

“Itu gampang. Kalau gitu kita sepakat.”

Tiara mendengar semua isi percakapan tersebut dan dua orang itu hendak melangkah melewati tempat persembunyiannya. Tiara menahan napasnya agar keberadaannya tidak diketahui karena sepertinya suara hembusan pelan napasnya saja bisa terdengar di sini.

Tepat sebelum dua orang itu melewatinya, tangannya di tarik kuat oleh seseorang dan sebuah tangan membekap mulutnya. Tiara hampir ketahuan karena ia sempat menimbulkan suara dari mulutnya yang meminta dilepaskan oleh orang yang mendekapnya. Namun Tiara sadar ia tidak bisa melakukan itu untuk saat ini. Maka yang dilakukannya hanyalah menahan napasnya dalam dekapan orang yang tidak diketahuinya tersebut. Orang itu lantas membawanya ke sebuah kamar bernuansa serba hitam. Pintu kamar terkunci otomatis tanpa menimbulkan suara ketika mereka masuk.

“Hey Tiara, it's me. Don’t worry.” Orang itu membuka topi hitam yang digunakannya ketika mereka hanya berdua di dalam kamar tersebut.

Tiara mendapati sosok Aryo yang hanya berjarak beberapa centi darinya saat ini. Baru saja Tiara menghembuskan napas lega, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan ia hampir saja tidak dapat melihat apapun.

“Aryo, kenapa lampunya mati?”

“Nggak papa, Sayang. Sebentar lagi lampunya nyala.”

Sesuai perkataan Aryo, beberapa detik kemudian, lampunya pun kembali menyala. Tiara mengamati suaminya yang berada dihadapannya itu.

“Gimana kamu tau aku disini?” tanya Tiara.

“Harusnya aku yang tanya kamu. Kenapa kamu datang ke acara ini?”

“Maaf Aryo, aku—”

“Dengan kamu datang ke sini, sama aja membahayakan keselamatan kamu sendiri. Kita nggak tau kemungkinan apa yang bisa dia lakukan.”

“Aryo, aku udah tau semuanya. Aku dengar pembicaraan kamu sama Egha soal penyandera om Rudi. Kalau kamu tetap lanjutin penyelidikan ini, aku yang bisa kehilangan kamu. Orang itu dan El, mereka kerja sama buat hancurin kamu,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturam. Aryo meraih pergelangan tangannya, tapi Tiara langsung bergerak untuk menolaknya.

Aryo menghela dagu Tiara pelan, meminta perempuan itu untuk menatapnya, “Tiara, dengerin aku.”

“Apa?”

“Aku nggak akan biarin mereka merealisasikan rencana itu.” Aryo meraih lengannya, lalu membawa torso Tiara ke dekapannya.

“Kamu percaya ya sama aku?” tanya Aryo pelan.

“Aku percaya kamu. Tapi mereka bener-bener bahaya, Aryo. Aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Kamu nggak ngerti ya,” ucap Tiara dengan nadanya teramat khawatir. Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang bergelayut di pikirannya setelah ia mendengar percakapan Reynaldi dan El.

Aryo lantas mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Tiara, lalu kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah istrinya itu.

You are my whole world, Tiara. Kamu yang buat aku mau berjuang untuk memenangkan kasus ini. You don’t need to be worry, oke?” Aryo kembali memeluknya kali ini lebih erat. Pria itu menaruh tangannya di pinggang Tiara dan membelai rambut panjang istrinya.

“Sekarang kita turun dari lantai ini, tanpa seorang pun yang akan tahu. Aku akan telfon mama dan bilang kamu pulang sama aku.” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Tiara untuk kemudian perempuan itu raih dan genggam.

***

“Tiara, aku terpaksa harus ngasih kamu hukuman,” ujar Aryo dengan saat mereka berhasil keluar dari tempat diadakannya pesta. Tiara tidak tahu caranya, tapi yang pasti Aryo mengatakan tidak akan ada yang tahu mereka keluar dari sana.

“Tapi—”

“Kamu tahu kan, kamu udah ngelakuin kesalahan?” tanya Aryp.

“Iya, aku tau aku salah. Tapi kamu juga sembunyiin faktanya dari aku, Aryo.”

“Kamu jahat.” Tiara masuk ke mobil lebih dulu dan Aryo segera menyusul istrinya itu.

“Hukumannya tetap harus kamu jalanin, Tiara,” ucap Aryo ketika ia sudah berada di dalam mobil dengan Tiara.

“Aku juga punya hukuman buat kamu,” ujar Tiara.

“Oke, aku akan terima hukuman itu.” Aryo mengakui dirinya juga salah dengan menyembunyikan fakta terkait penyanderaan Rudi Abimana. Aryo melakukannya karena ia punya alasan. Ia tidak ingin Tiara kepikiran dan menjadi stress karena itu dapat memengaruhi kondisi janin yang dikandung istrinya.

“24 jam kamu harus ada di sampingku. Ohya, tapi kayaknya nggak bisa. Kamu tetap harus ke kantorm kan? Oke, gini aja. Selama kamu nggak di kantor, kamu harus sama aku dan ada di samping aku. Aku harus tahu apapun yang terjadi dan berkaitan sama kamu tanpa terkecuali,” tutur Tiara.

“Itu hukuman?” tanya Aryo sambil menyatukan alisnya dan sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Iya, itu hukumannya,” ujar Tiara yakin.

“Ada hukuman lain?”

“Nggak ada. Cuma itu dan kita nggak akan berdebat lagi soal ini. Bapak Aryo Bimo, anda harus mematuhi hukumannya.”

“Oke, aku terima hukuman kamu. Aku udah minta Erza siapin penthouse yang nggak terlalu besar untuk kita. Gimana kalau kita pindah ke sana?”

“Rumah kita yang sebelumnya emangnya kenapa?” tanya Tiara.

“Di sana udah nggak aman, Tiara. Kemungkinan besar mereka udah curiga sama kita.”

“Mereka masih curiga soal itu, Aryo. Mereka belum tau dengan pasti.”

“Maksud kamu?”

“Dia nggak akan diam, sebelum dia nemuin Michelle Taninka di hadapannya.”

***

Selama di perjalanan, Tiara memberi tahu pada Aryo semua isi percakapan yang ia dengar antara Elnino dan Reynaldi. Beberapa minggu belakangan, Aryo meminta timnya untuk menyelidiki satu persatu riwayat para tetua yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur Harapan Jaya Group. Sebelas tahun yang lalu, tepatnya saat Reynaldi Brodjohujodyo menjabat sebagai Presdir, ditemukan beberapa berkas mengenai hal yang dilakukan omnya itu selama masa menjabat. Berkas-berkas tersebut terdiri dari data pengeluaran perusahaan untuk pembelian property ilegal dan beberapa juga adalah pengeluaran yang dipergunakan untuk hal yang tidak ada korelasinya dengan kepentingan perusahaan.

Aryo tidak punya waktu lagi karena Reynaldi akan menghabisi Rudi dalam waktu dekat. Berdasarkan informasi yang didapat oleh Tiara, untuk menarik musuh ke dalam perangkap, diperlukan sebuah umpan yang besar. Reynaldi ingin menemukan keturunan Erlangga di hadapannya, jadi Aryo harus memberi umpan tersebut pada Reynaldi.

Egha memerhatikan tuan dan nyonyanya dari kaca kecil dekat kemudi di jok belakang mobil. Aryo dan Tiara sudah lengket lagi seperti diberi power glue. Padahal beberapa menit yang lalu, tuan dan nyonyanya itu saling berdebat untuk menyuarakan pendapat masing-masing.

“Kamu harus minta maaf sama Egha,” ujar Aryo pada Tiara. Aryo merengkuh istrinya dari samping yang membuat Tiara nampak kecil di dalam dekapannya.

“Aku tahu kesalahanku. Tapi kenapa minta maaf Egha?”

“Aku marahin Egha karena nurutin kamu datang ke pesta itu. Bisa-bisanya Egha lebih nurut sama kamu ketimbang aku, bosnya sendiri.”

Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo yang berada lebih tinggi dari posisinya. Bibir perempuan itu mem-pouty diiringi puppy eyes-nya. “Bukan salah Egha, tapi salah aku. Maaf ya, aku udah buat kamu khawatir. Egha maafin gue juga ya,” ucap Tiara dengan nada penuh penyesalannya.

“Ohiya, kamu belum tau hukuman kamu.” Aryo meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara, lalu sedikit menekannya gemas disana.

“Kamu tega ngehukum istri sendiri?”

“Aku tega karena aku sayang kamu.”

“Oke. Jadi apa hukumannya?”

Aryo mengangkat tangannya dan mengusap sisi kepala Tiara dengan lembut, lalu ia mengambil mantel untuk memakaikannya di tubuh Tiara.

“Nyonya Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo, hukuman untuk Anda adalah, Anda harus diawasi oleh tambahan bodyguard yang akan menjaga Anda selama 24 jam.”

Really? 24 jam?”

Aryo tertawa mendapati ekspresi Tiara yang menggemaskan menurutnya. “Intinya, kalau kamu pergi kemana pun, kamu akan selalu di kawal. Oke, Ma'am?

Tiara nampak berpikir. Ia tidak bisa membayangkan hal tersebut. Namun situasinya mengharuskan begitu dan Tiara tidak ingin membuat Aryo khawatir terhadapnya.

Oke, Sir. I will accept the punishment.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Pak, bubur komplitnya dua ya.”

“Dibungkus atau makan di sini Mas?”

“Makan di sini aja Pak.”

“Siap Mas, ditunggu ya.”

Setelah memesan bubur, Aryo kembali pada Tiara yang menunggunya. “Lho Sayang, belum dapet kursi?”

“Belum ada, penuh banget. Apa kita makan di mobil aja ya?” ujar Tiara.

“Katanya kamu mau makan di sini, ini kan tempat bubur favorit kamu.”

“Lain kali aja makan di sini nggak papa.”

“Permisi Bu, ada bangku lagi nggak ya? Soalnya istri saya ngidam makan bubur di sini.” Aryo bertanya pada ibu yang melayani di tempat jualan bubur itu.

“Istrinya lagi hamil ya Mas?”

“Iya, Bu. Bubur di sini kesukaan istri saya,” ujar Aryo sambil tersenyum ramah.

“Oh gitu ya, Mas. Sebentar saya carikan bangku tambahan ya.” Ibu itu tersenyum pada Aryo, lalu beranjak pergi untuk mengambilkan bangku.

Beberapa pengunjung di sana sontak menatap ke arah mereka karena mau tidak mau percakapan Aryo dengan ibu tadi terdengar. Tiara pun tidak dapat menyembunyikan semburat merah di pipinya dan senyuman yang mengembang di wajahnya.

“Kamu nih,” ujar Tiara pelan di dekat Aryo.

“Lho kenapa, Sayang?” Aryo memerhatikan wajah Tiara yang berubah kemerahan itu. Cantik sekali menurutnya. Kemudian ia paham apa yang membuat istrinya jadi bersemu di pagi hari yang cerah ini.

“Kamu malu? Masa punya suami seganteng ini malu sih?” goda Aryo dengan nada jahil.

“Kau pede banget ya.”

Aryo menaik turunkan alisnya sambil menatap Tiara dengan tatapan menggoda, “Tapi emang ganteng kan?”

***

“Aku berangkat dulu,” ucap Aryo yang sudah rapi dengan stelan formalnya. Kalau sudah begini, suaminya itu terlihat berkali lipat lebih tampan dan berwibawa. Duh, rasanya Tiara jadi nggak mau ditinggal.

“Kamu datang ke ulang tahun eyang?” tanya Tiara.

“Kamu maunya aku datang atau enggak?”

“Datengnya sama aku ya? Masa kamu dateng sendiri.”

“Nggak bisa, Sayang. Dia pasti hadir disana,” jelas Aryo.

Tiara akhirnya menurut pada suaminya itu. Ia mengatakan pada Aryo kalau suaminya tidak datang, suaminya harus mengirim hadiah ulang tahunnya untuk eyang.

Okey, I will sent a birthday gift for grandpa.

Nice. Kamu hati-hati di jalan, jangan sampai telat makan di kantor.” Tiara mengambil tangan Aryo, lalu memberikan ciuman di punggung tangannya.

Sebelum pergi, Aryo berbalik lagi menuju Tiara. Ia mendekap tubuh istrinya itu lumayan erat. Tiara balas memeluk torso Aryo dengan kedua tangan yang ia satukan di balik punggung suaminya.

“Nanti aku telfon kamu. Kelas terakhir kamu jam berapa?” tanya Aryo.

“Kamu telfonnya sore aja jam 5.”

“Oke. Aku berangkat dulu ya. I love you.”

Tiara tertawa ringan, lalu mengulaskan senyumnya, “I love you too.

***

“Pastikan hadiah saya langsung sampai ke tangan eyang,” ucap Aryo pada orang suruhannya melalui telfon.

“Baik, Pak. Apa Bapak tidak akan datang ke acara malam ini?”

“Saya tidak bisa datang. Tolong sampaikan salam saya pada beliau.”

“Akan saya akan sampaikan Pak.”

Aryo mengakhiri sambungan telfonnya dan teringat untuk menelfon Tiara. Hanya nada sambung yang didapatinya selama beberapa kali ia menelfon istrinya. Dahi pria itu menekuk. Entah kenapa, pikirannya melayang pada istrinya yang mungkin saja pergi ke acara ulang tahun eyangnya.

“Egha, tolong ke ruangan saya sekarang,” ucap Aryo melalui intercom wireless yang ada di ruangannya.

Kemunculan Egha di ruangan Aryo langsung disambut oleh tatapan selidik dari atasannya itu.

“Tolong minta beberapa bodyguard untuk mengawasi kediaman eyang saya sekarang. Kemungkinan istri saya datang ke pesta itu,” ujar Aryo. Ia lantas mengambil sebuah pistol dari laci mejanya dan dimasukkan ke dalam saku jasnya, “Kalau sampai sesuatu terjadi sama istri saya, kamu tahu kamu bertanggungjawab atas itu, kan?” Setelah mengucapkannya, Aryo bergegas meninggalkan ruangannya.

“Lapor, ada perintah dari bos. Kirim beberapa bodyguard ke kediaman keluarga Brodjohujodyo sekarang.” Egha berbicara melalui earpods wireless pada seseorang di ujung sana. Kemudian pria bertubuh kekar itu lekas beranjak untuk melaksanakan tugasnya sesuai yang diperintahkan oleh atasannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Aku nggak tahu aku pengen apa Aryo,” ucap Tiara untuk ketiga kalinya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan yang tidak memiliki tujuan, karena Tiara tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi Aryo kekeuh ingin menuruti keinginannya.

Aryo meminta Egha untuk tidak mengganggu keduanya, jadi Egha tidak perlu menyupir untuk tuan dan nyonyanya itu.

“Kamu nggak ngidam sesuatu gitu?” tanya Aryo.

“Nggak ada sih kayaknya. Mungkin belum,” jawab Tiara.

Aryo memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan nuansa putih dan biru. Bangunan itu memiliki desain interior yang lucu dan menggemaskan. Kebetulan mereka melewati toko tersebut dan sepertinya justru Aryo yang sekarang memiliki keinginan.

Mereka memasuki toko perlengkapan bayi yang beberapa saat lalu menarik penglihatan Aryo. Ya, toko perlengkapan bayi. Mungkin tokonya sebentar lagi sudah akan tutup, karena ini sudah malam. Tiara tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Aryo dengan mengunjungi toko perlengkapan bayi malam-malam seperti ini.

“Halo, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu Ayah dan Bunda?” Pelayan toko menyambut mereka dengan senyuman ramahnya.

Salah satu pelayan akhirnya membantu Tiara memilih beberapa perlengkapan untuk bayi new born.

“Kamu pilih aja yang kamu mau.” Aryo menatap istrinya sambil tersenyum. Aryo ikut antusias membantu Tiara memilih-milih pakaian untuk bayi yang entah mengapa nampak begitu lucu di matanya. Ia berjalan ke section lain di toko itu, ketika ada yang menarik matanya, langsung ia putuskan untuk membelinya.

“Aryo, kita kan belum tau bayinya perempuan atau laki-laki,” ujar Tiara saat mereka ke section baju tidur untuk bayi. Berbagai warna dan model pun tersedia di sana. Pelayan toko juga membantu Tiara dan menjelaskan baju bayi yang cocok untuk usia new born.

Benar juga apa yang dikatakan Tiara, pikir Aryo. Kenapa juga ia melupakannya. Mereka belum dapat mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Ah, tapi itu tidak terlalu masalah bagi Aryo, ia akan membeli semuanya. Karena kebingungan mereka itu, beberapa baju yang dipilih ada yang berwarna feminin dan ada yang memiliki warna maskulin.

“Aryo.” Tiara menahan tangan suaminya yang menggandengnya keluar toko.

“Ya?”

“Kayaknya aku udah tau deh, aku mau apa.”

“Ohya? Kamu kamu apa?” Aryo ekspresinya sangat antusias ketika menatap Tiara.

Tiara nampak menimang sejenak, “Kehadiran kamu.”

Aryo lantas mengulaskan senyumnya mendengar penuturan Tiara.

“Kalau nanti kita udah tahu bayinya perempuan atau laki-laki, kita kesini lagi ya,” ujar Tiara.

“Oke. Nanti kamu bisa pilih apapun dan aku akan beliin.”

“Duit kamu banyak banget ya? Konglomerat bukan?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum jenakanya.

“Aku bahkan bisa beli toko ini,” ujar Aryo sambil menunjuk toko di hadapan mereka.

“Beli toko? Nggak usah macem-macem deh kamu,” ucap Tiara. Namun kalau Tiara dipikir-pikir lagi, suaminya itu sungguhan seorang konglomerat. Perusahaan Harapan Jaya yang memiliki property dan anak perusahaan dimana-mana yang jika dihitung nilainya akan cukup sampai 10 keturunan bahkan mungkin lebih.

“Aryo.”

“Yaa?”

“Jadi aku beneran nikah sama konglomerat ya?”

“Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Aryo terbahak mendengar pertanyaan spontan Tiara.

“Jawab aja.”

“Bisa jadi. Semoga asset suami kamu ini nggak habis sampai dua puluh keturunan dan akan terus berlanjut. Biar kamu beneran udah nikah sama konglomerat.”

“Artinya apa anak kita harus jadi pewaris juga kayak kamu?”

Aryo nampak berpikir sejenak, kedua alis pria itu bertaut dan ekspresi wajahnya kini justru membuatt Tiara yang melihatnya menjadi gemas.

Aryo menatap Tiara dengan tatapan hangatnya, “Aku akan tanya pendapat kamu lebih dulu. Karena kamu ibunya dan kamu yang mengandung dan akan melahirkan dia ke dunia ini. Kalau kamu nggak ingin dia jadi pewaris, aku nggak akan minta dia jadi penerus ayahnya.”

Tiara mengulaskan senyumannya, “Aku juga ingin dia bisa milih jalan hidupnya dan apa yang dia mau.” Tiara sudah memikirkannya, kelak nanti ia ingin anaknya dapat menentukan keinginannya. Tugasnya dan Aryo hanya akan membimbing dan mengarahkan mana yang baik dan yang kurang baik, selebihnya biar anak mereka yang menentukan jalannya.

***

Seperti yang dikatakan Tiara, ia hanya menginginkan kehadiran Aryo di sisinya. Jadi Aryo menginap lagi di rumahnya malam ini. Sebagai asisten yang siap sedia, Egha diminta untuk menjaga Tuan dan Nyonyanya. Beberapa bodyguard di bawah pimpinan Egha pun dikerahkan untuk menjaga rumah Tiara.

Tiara sedang menunggu Aryo selesai mandi. Setelah mereka membeli pakaian bayi, mereka juga membeli baju tidur untuk Aryo berganti. Tiara telah mendapat jawaban bahwa ia sungguh menikahi seorang konglomerat. Harapan Jaya Group adalah perusahaan multi industri yang mengkombinasikan lebih dari 5 perusahaan yang menjalin bisnis secara keseluruhan yang berbeda dan jatuh di bawah satu kelompok perusahaan. Selain itu Harapan Jaya melibatkan sebuah perusahaan induk dan beberapa subsidier.

Aryo mengatakan jika Tiara mengizinkannya, Aryo sangat mampu membeli mall dan seisinya untuk Tiara. Tiara sekarang percaya Aryo bisa melakukannya, jadi ia tidak mengizinkan Aryo membeli mall dan suaminya itu menuruti perkataannya.

Tiara mendapati dompet Aryo di nakas samping kasur dengan posisi terbuka. Nampak sebuah foto berukuran kecil disana. Saat Tiara coba melihatnya, ternyata itu adalah potret calon anak mereka yang beberapa hari lalu Aryo meminta duplikatnya pada Tiara. Tiara mengamati foto tersebut yang kemudian membuat ujung-ujung bibirnya tertarik hingga membentuk sebuah senyuman.

Tiara merasa sangat kagum dengan hadirnya nyawa mungil yang tuhan titipkan di rahimnya. Selama kehamilannya, Tiara belum merasakan ngidam atau ingin melakukan sesuatu. Namun ia sadar kehadiran Aryo merupakan hal yang paling ia inginkan. Makhluk kecil yang dititipkan Tuhan di rahimnya sungguh luar biasa dampaknya.

Saat Tiara merapikan jaket hitam milik Aryo yang suaminya itu letakkan di sandaran kursi, ia menemukan sebuah benda yang berukuran tidak terlau besar di bagian kantungnya. Itu adalah sebuah pistol. Tiara tidak mengerti alasan mengapa Aryo sampai perlu membawa benda tersebut bersamanya. Bukankan artinya apa yang sedang di hadapi suaminya bukanlah hal sepele dan mudah. Ini berhubungan dengan hal yang cukup berbahaya. Tiara menaruh benda itu kembali ke tempatnya dan menunggu Aryo selesai mandi.

Aryo yang beberapa menit kemudian selesai, mendapati Tiara menunggunya di depan kamar mandi.

“Tidur duluan aja kalau kamu udah ngantuk Ra,” ujar Aryo yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan bercermin di depan kaca yang ada di kamar Tiara. Tiara melingkarkan lengannya di torso suaminya dari belakang. Aryo yang masih melakukan kegiatannya menjadi kesulitan berkat ulah Tiara. Aryo pun memutuskan menyudahinya aktivitasnya. Ia menaruh handuk putih kecil di tangannya dan berbalik bergantian untuk memeluk istrinya dari depan.

“Aryo, aku mau tanya. Pistol di jaket kamu buat apa?” tanya Tiara dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tiara tidak lantas mendapat jawaban dari Aryo. Tiara mengurai pelukannya dan menuju ke kasur lebih dulu, ia membaringkan dirinya di sana dengan posisi membelakangi Aryo.

“Jadi gini istriku kalau lagi khawatir ya?” ujar Aryo yang segera menyusul wanitanya.

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo berbaring di sampingnya sambil menatapnya.

“Tidurnya mau dipeluk nggak? Kalau mau sini, kamu jangan jauh-jauh.”

“Apa beneran bahaya sampai kamu membawa benda itu kemana-mana?”

“Cuma untuk jaga-jaga, Ra,” jelas Aryo. “Aku ngerti kamu khawatir. Tapi aku mohon kamu percaya sama aku ya,” lanjut Aryo.

“Kamu hampir ngorbanin semuanya cuma untuk ini, Aryo.”

Aryo terdiam dan berusaha menyusun kalimat yang dapat membuat Tiara paham. “Aku ingin ngelakuin ini sebagai bentuk terima kasih aku sama Ayah kamu. Aku mau jadi menantu yang berbakti untuk beliau,” ujar Aryo akhirnya.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Tiara.

“Tanpa beliau, kamu nggak ada di sini. Kita nggak akan bertemu.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap surai legam Tiara.

“Aku udah janji sama mama untuk bawa kamu balik ke rumah. Artinya aku harus menangin kasus itu, Ra. Kalau aku nggak berhasil, mama minta aku buat ngelepas kamu. Mama ngasih pilihan bawa kamu kembali atau bercerai. Beliau tau aku nggak akan milih pilihan yang kedua, jadi aku akan berusaha bawa kamu kembali ke rumah. Mama sayang banget sama kamu, Ra.”

“Mama udah tau soal kehamilan aku?” tanya Tiara. Mendengar penuturan Aryo membuat perasaannya menghangat. Tiara seketika membayangkan mertuanya itu pasti sangat bahagia jika mengetahui keberadaan calon cucu pertamanya.

“Aku belum ngasih tau ke mama. Beliau pasti seneng banget kalau tau, tapi mungkin dalam waktu dekat ini nggak bisa ngasih tau dulu. Keadaannya cukup kacau sekarang. Barusan aku dapat laporan kalau tim aku belum nemuin titik terang keberadaan om Rudi. Aku nggak mau ngambil resiko apapun dengan kamu berada di rumah. Saat ini, yang terbaik kamu tinggal dulu di sini. Oke?” Aryo meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan tangan besarnya.

“Kamu lebih suka nggak ada aku di rumah ya?” tanya Tiara pura-pura memasang wajah sedihnya.

“Gimana bisa kamu mikir gitu? Kamu tega suami kamu berasa jadi bujang lagi, nggak ada yang nemenin tidur, hmm … ? Aku kangen banget sama kamu, Tiara,” ungkap Aryo.

“Aku juga kangen kamu. Kangen banget,” aku Tiara.

Aryo merasakan perasaan itu, rasanya begitu hampa tanpa kehadiran Tiara di sisinya. Setiap celah di dalam rumah, aspek kehidupannya, dan di benaknya sekalipun, telah dipenuhi oleh sosok di hadapannya saat ini. Bahkan orang-orang yang bekerja untuknya memiliki andil dengan mengemban tugas dari istrinya untuk memastikan kondisinya selama Tiara tidak berada di rumah.

You’re so cute, Darling,” ujar Aryo.

Don’t darling me.

I called you Darling cause you are my dear.” Aryo menatap Tiara hangat yang dibalas perempuan itu dengan senyum lembutnya.

“Sayang, aku mau itu,” celetuk Tiara spontan.

“Kamu ... panggil aku apa?”

“Sayang, gitu,” Tiara menampakkan cengirannya.

“Kita nggak jadi pisah kan, Ra?” tanya Aryo.

“Enggak, Sayang,” Tiara mau tidak mau tersenyum. Pipinya tampak sedikit memerah.

“Oke, Sayang. Kamu mau apa tadi?” Aryo tidak mengerti yang diinginkan oleh Tiara.

“Katanya kamu mau nurutin apa yang aku mau,” ujar Tiara

“Tapi aku nggak paham ‘itu’ maksud kamu apa.”

Tiara mengarahkan telunjuknya ke bibirnya kemudian bergerak mengarah bibir Aryo. Aryo yang cepat tanggap dengan kode yang diberikan oleh Tiara, langsung tersenyum lebar.

“Sini,” ujar Aryo.

“Beneran?” Tiara matanya berbinar.

Tiara lantas menggerutu saat Aryo ternyata hanya memeluknya dan sedikit digoyangkan gemas. Namun bukan sebuah pelukan yang saat ini diinginkan Tiara.

“Aku nggak mau kelepasan Ra,” ujar Aryo. Aryo sangat paham yang diinginkan istrinya karena ia juga begitu merindukan Tiara.

It’s only a kiss,” ujar Tiara.

“Aku nggak mau nyakitin si bayi kalau sampai kelepasan menginginkan kamu, Tiara. Kata dokter kan aku harus puasa dulu 2 bulan. Right?” Aryo menjauhkan wajahnya sedikit agar dapat melihat wajah istrinya, lalu ia memberi kecupan hangat di kening Tiara.

“Iya, 2 bulan. Lama juga ya—”

Secara tiba-tiba ucapan Tiara terhenti karena sesuatu yang terasa kenyal dan lembab menyapa belah bibirnya.

“Tadi bilangnya nggak mau, dasar,” ucap Tiara ketika Aryo melepas pagutan halus itu. Penyatuan itu terjadi dalam durasi yang singkat dan Aryo melakukannya dengan sangat lembut.

Dengan ibu jarinya, Aryo mengusap bibir Tiara yang saat ini tidak terlihat terlalu lembab seperti sebelumnya. Lip balm Tiara sepertinya sudah tertransfer hampir semuanya ke bibirnya sendiri.

You’re a good kisser. My lip balm is almost gone,” cetus Tiara dan Aryo membalasnya dengan gelak tawa.

I’ll give it back to you.” Aryo menghela satu sisi wajah Tiara untuk memangkas habis jarak mereka dan kembali mempertemukan belah bibirnya dengan bibir Tiara. Tiara membalas ciumannya dan itu membuat Aryo sedikit kualahan. Rasa bibir Tiara begitu lembut dan manis, hingga membuat Aryo ingin merasakannya seperti ia menikmati permen.

Mereka sama-sama menginginkan lebih, tapi sepertinya saat ini waktunya kurang tepat.

“Kamu udah jago ya sekarang,” celetuk Aryo.

“Masa iya?”

Yes. You’re so cool, Babe.

“Iya, dong. Aku kan belajar langsung sama ahlinya,” ujar Tiara.

“Siapa?”

“Kamu ahlinya.”

Aryo lantas tertawa dan ia mendekat untuk mengecup kening Tiara.

“Kamu besok kerja?” tanya Tiara.

“Iya. Kenapa? Jadwal kamu periksa kandungan ya?”

“Periksa kandungan masih seminggu lagi. Tadi waktu kamu mandi, ada chat dari mama. Kata mama besok ada acara penting di rumah eyang.”

Not really important. It’s just grandpa birthday party.

“Itu acara penting, Aryo. Aku temenin kamu dateng ke sana, ya?”

Aryo terlihat berpikir, ia lantas menggeleng, “Ra, pasti dia juga hadir di sana.”

“Dia siapa yang kamu maksud?”

“Dia yang melakukan perbuatan itu sama ayah kandung kamu. Kalau kamu ketemu dia, aku khawatir itu bisa nyakitin kamu lagi. Aku nggak mau hal itu sampai terjadi.”

***

Tiara terbangun lebih dulu dibandingkan Aryo. Ini masih pukul 4.30 dan Tiara pikir ia terlalu pagi untuk bangun. Netra Tiara mendapati rupa surgawi suaminya yang membuatnya tersenyum kecil. Tiba-tiba terlintas di pikiran Tiara pertemuan pertamanya dengan Aryo. Kalau dipikir-pikir, lucu juga mengingat kejadian itu. Tiara dan Aryo layaknya dua kutub magnet yang berbeda. Namun justru dua kutub magnet yang berbeda itulah yang membuat mereka saling terhubung, karena adanya daya tarik menarik yang mempertemukan keduanya. Merka di dekatkan oleh sesuatu yang bernama takdir dan diikat oleh pernikahan.

Meskipun banyak yang terjadi antara dirinya dan Aryo, tapi perjalanan mereka sudah sampai sejauh ini dan semua itu telah mengajarkan banyak hal berharga. Mereka telah sama-sama bertahan dan berjuang untuk cinta mereka.

Saat ini Tiara tidak ingin menyerah untuk rintangan apapun yang akan ia hadapi di depannya. Karena ia memiliki alasan untuk berjuang. Alasannya adalah manusia yang saat ini tertidur di sampingnya. Ohiya, satu lagi alasannya, yakn belahan jiwanya. Buah hatinya bersama Aryo yang saat ini ada di dalam kandungannya. Meskipun belum bisa bertemu langsung, Tiara sangat menyayangi makhluk kecil yang tumbuh bersamanya saat ini. Mengandung rasanya begitu menakjubkan. Setiap hari ia selalu ingin mengetahui perkembangan bayinya dan menikmati setiap perubahan yang ia rasakan pada tubuhnya.

“Aryo ... kamu kapan bangunnya sih? Bangun dong,” ucap Tiara yang bosan karena ia tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi, sementara Aryo masih nampak pulas sambil memeluk tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Aryo perlahan membuka matanya, “Kamu mau tau cara bikin aku cepet bangun?” gumam pria bermata sipit itu.

“Emang bisa? Gimana caranya?”

Kiss me and I will wake up.” Aryo kembali terpejam, tapi sebuah senyum kecil terbit di wajahnya.

“Gampang. Gitu doang?” ujar Tiara dengan suara yang dipelankan dan segala indra Aryo seperti terbangun detik itu juga mendengar suara seksi istrinya.

Berhasil. Justru tanpa ciuman seperti yang dikatakan Aryo, pria itu membuka mata saat Tiara mengeluarkan jurus andalannya.

“Kamu curang,” ujar Aryo ketika ia sudah sepenuhnya membuka mata.

“Lho aku nggak ngapa-ngapain. Kamunya aja gampang kepancing,” bela Tiara.

“Kepancingnya suma sama kamu.”

Kini giliran netra Aryo yang menatapi wajah cantik Tiara. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.

Hello, my life. Good morning,” Aryo memberi kecupan di pipi Tiara. Sebuah kecupan di pagi hari di saat udara terasa masih sangat sejuk. Di bawah satu selimut yang sama, rasanya jadi lebih hangat karena hadirnya seseorang yang ada di dekapan dan begitu dicintai.

“Kamu dan baby mau sarapan apa?” tanya Aryo.

“Kayaknya aku ada ke pengen sesuatu deh, semalam kepikiran.”

“Ohya? Oke, kamu mau apa?”

“Tapi kalau susah dicarinya nggak usah nggak papa. Soalnya yang jualan kadang buka kadang enggak gitu.”

“Egha akan cari kemana pun makanan itu sampai dapat. Kalau tempatnya nggak buka, nanti aku minta bodyguard aku buat bujuk penjualnya, biar jualan buat kamu aja.”

“Ohhh suami aku Egha ya bukannya Aryo Bimo?”

“Kamu bisa bilang apa yang kamu mau. Aku yang beliin,” serbu Aryo cepat.

“Anak kamu maunya kamu yang beliin. Harus kamu dan cuma kamu.” Tiara mendongak sedikit untuk menatap suaminya, lalu ia mendapat kecupan gemas di kening lalu di kedua belah pipinya.

Watermark-nya Aryo Bimo banget ya?”

“Apa?”

“Kalau nyium pasti sampai basah gini.”

“Iya dong. Kamu mau lagi nggak dapet watermark?”

“Mau!!” seru Tiara dengan nadanya yang terdengar begitu antusias.

You got a lifetime watermark, Honey.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Aku nggak tahu aku pengen apa Aryo,” ucap Tiara untuk ketiga kalinya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan yang tidak memiliki tujuan, karena Tiara tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi Aryo kekeuh ingin menuruti keinginannya.

Aryo meminta Egha untuk tidak mengganggu keduanya, jadi Egha tidak perlu menyupir untuk tuan dan nyonyanya itu.

“Kamu nggak ngidam sesuatu gitu?” tanya Aryo.

“Nggak ada sih kayaknya. Mungkin belum,” jawab Tiara.

Aryo memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan nuansa putih dan biru. Bangunan itu memiliki desain interior yang lucu dan menggemaskan. Kebetulan mereka melewati toko tersebut dan sepertinya justru Aryo yang sekarang memiliki keinginan.

Mereka memasuki toko perlengkapan bayi yang beberapa saat lalu menarik penglihatan Aryo. Ya, toko perlengkapan bayi. Mungkin tokonya sebentar lagi sudah akan tutup, karena ini sudah malam. Tiara tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Aryo dengan mengunjungi toko perlengkapan bayi malam-malam seperti ini.

“Halo, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu Ayah dan Bunda?” Pelayan toko menyambut mereka dengan senyuman ramahnya.

Salah satu pelayan akhirnya membantu Tiara memilih beberapa perlengkapan untuk bayi new born.

“Kamu pilih aja yang kamu mau.” Aryo menatap istrinya sambil tersenyum. Aryo ikut antusias membantu Tiara memilih-milih pakaian untuk bayi yang entah mengapa nampak begitu lucu di matanya. Ia berjalan ke section lain di toko itu, ketika ada yang menarik matanya, langsung ia putuskan untuk membelinya.

“Aryo, kita kan belum tau bayinya perempuan atau laki-laki,” ujar Tiara saat mereka ke section baju tidur untuk bayi. Berbagai warna dan model pun tersedia di sana. Pelayan toko juga membantu Tiara dan menjelaskan baju bayi yang cocok untuk usia new born.

Benar juga apa yang dikatakan Tiara, pikir Aryo. Kenapa juga ia melupakannya. Mereka belum dapat mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Ah, tapi itu tidak terlalu masalah bagi Aryo, ia akan membeli semuanya. Karena kebingungan mereka itu, beberapa baju yang dipilih ada yang berwarna feminin dan ada yang memiliki warna maskulin.

“Aryo.” Tiara menahan tangan suaminya yang menggandengnya keluar toko.

“Ya?”

“Kayaknya aku udah tau deh, aku mau apa.”

“Ohya? Kamu kamu apa?” Aryo ekspresinya sangat antusias ketika menatap Tiara.

Tiara nampak menimang sejenak, “Kehadiran kamu.”

Aryo lantas mengulaskan senyumnya mendengar penuturan Tiara.

“Kalau nanti kita udah tahu bayinya perempuan atau laki-laki, kita kesini lagi ya,” ujar Tiara.

“Oke. Nanti kamu bisa pilih apapun dan aku akan beliin.”

“Duit kamu banyak banget ya? Konglomerat bukan?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum jenakanya.

“Aku bahkan bisa beli toko ini,” ujar Aryo sambil menunjuk toko di hadapan mereka.

“Beli toko? Nggak usah macem-macem deh kamu,” ucap Tiara. Namun kalau Tiara dipikir-pikir lagi, suaminya itu sungguhan seorang konglomerat. Perusahaan Harapan Jaya yang memiliki property dan anak perusahaan dimana-mana yang jika dihitung nilainya akan cukup sampai 10 keturunan bahkan mungkin lebih.

“Aryo.”

“Yaa?”

“Jadi aku beneran nikah sama konglomerat ya?”

“Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Aryo terbahak mendengar pertanyaan spontan Tiara.

“Jawab aja.”

“Bisa jadi. Semoga asset suami kamu ini nggak habis sampai dua puluh keturunan dan akan terus berlanjut. Biar kamu beneran udah nikah sama konglomerat.”

“Artinya apa anak kita harus jadi pewaris juga kayak kamu?”

Aryo nampak berpikir sejenak, kedua alis pria itu bertaut dan ekspresi wajahnya kini justru membuatt Tiara yang melihatnya menjadi gemas.

Aryo menatap Tiara dengan tatapan hangatnya, “Aku akan tanya pendapat kamu lebih dulu. Karena kamu ibunya dan kamu yang mengandung dan akan melahirkan dia ke dunia ini. Kalau kamu nggak ingin dia jadi pewaris, aku nggak akan minta dia jadi penerus ayahnya.”

Tiara mengulaskan senyumannya, “Aku juga ingin dia bisa milih jalan hidupnya dan apa yang dia mau.” Tiara sudah memikirkannya, kelak nanti ia ingin anaknya dapat menentukan keinginannya. Tugasnya dan Aryo hanya akan membimbing dan mengarahkan mana yang baik dan yang kurang baik, selebihnya biar anak mereka yang menentukan jalannya.

***

Seperti yang dikatakan Tiara, ia hanya menginginkan kehadiran Aryo di sisinya. Jadi Aryo menginap lagi di rumahnya malam ini. Sebagai asisten yang siap sedia, Egha diminta untuk menjaga Tuan dan Nyonyanya. Beberapa bodyguard di bawah pimpinan Egha pun dikerahkan untuk menjaga rumah Tiara.

Tiara sedang menunggu Aryo selesai mandi. Setelah mereka membeli pakaian bayi, mereka juga membeli baju tidur untuk Aryo berganti. Tiara telah mendapat jawaban bahwa ia sungguh menikahi seorang konglomerat. Harapan Jaya Group adalah perusahaan multi industri yang mengkombinasikan lebih dari 5 perusahaan yang menjalin bisnis secara keseluruhan yang berbeda dan jatuh di bawah satu kelompok perusahaan. Selain itu Harapan Jaya melibatkan sebuah perusahaan induk dan beberapa subsidier.

Aryo mengatakan jika Tiara mengizinkannya, Aryo sangat mampu membeli mall dan seisinya untuk Tiara. Tiara sekarang percaya Aryo bisa melakukannya, jadi ia tidak mengizinkan Aryo membeli mall dan suaminya itu menuruti perkataannya.

Tiara mendapati dompet Aryo di nakas samping kasur dengan posisi terbuka. Nampak sebuah foto berukuran kecil disana. Saat Tiara coba melihatnya, ternyata itu adalah potret calon anak mereka yang beberapa hari lalu Aryo meminta duplikatnya pada Tiara. Tiara mengamati foto tersebut yang kemudian membuat ujung-ujung bibirnya tertarik hingga membentuk sebuah senyuman.

Tiara merasa sangat kagum dengan hadirnya nyawa mungil yang tuhan titipkan di rahimnya. Selama kehamilannya, Tiara belum merasakan ngidam atau ingin melakukan sesuatu. Namun ia sadar kehadiran Aryo merupakan hal yang paling ia inginkan. Makhluk kecil yang dititipkan Tuhan di rahimnya sungguh luar biasa dampaknya.

Saat Tiara merapikan jaket hitam milik Aryo yang suaminya itu letakkan di sandaran kursi, ia menemukan sebuah benda yang berukuran tidak terlau besar di bagian kantungnya. Itu adalah sebuah pistol. Tiara tidak mengerti alasan mengapa Aryo sampai perlu membawa benda tersebut bersamanya. Bukankan artinya apa yang sedang di hadapi suaminya bukanlah hal sepele dan mudah. Ini berhubungan dengan hal yang cukup berbahaya. Tiara menaruh benda itu kembali ke tempatnya dan menunggu Aryo selesai mandi.

Aryo yang beberapa menit kemudian selesai, mendapati Tiara menunggunya di depan kamar mandi.

“Tidur duluan aja kalau kamu udah ngantuk Ra,” ujar Aryo yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan bercermin di depan kaca yang ada di kamar Tiara. Tiara melingkarkan lengannya di torso suaminya dari belakang. Aryo yang masih melakukan kegiatannya menjadi kesulitan berkat ulah Tiara. Aryo pun memutuskan menyudahinya aktivitasnya. Ia menaruh handuk putih kecil di tangannya dan berbalik bergantian untuk memeluk istrinya dari depan.

“Aryo, aku mau tanya. Pistol di jaket kamu buat apa?” tanya Tiara dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tiara tidak lantas mendapat jawaban dari Aryo. Tiara mengurai pelukannya dan menuju ke kasur lebih dulu, ia membaringkan dirinya di sana dengan posisi membelakangi Aryo.

“Jadi gini istriku kalau lagi khawatir ya?” ujar Aryo yang segera menyusul wanitanya.

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo berbaring di sampingnya sambil menatapnya.

“Tidurnya mau dipeluk nggak? Kalau mau sini, kamu jangan jauh-jauh.”

“Apa beneran bahaya sampai kamu membawa benda itu kemana-mana?”

“Cuma untuk jaga-jaga, Ra,” jelas Aryo. “Aku ngerti kamu khawatir. Tapi aku mohon kamu percaya sama aku ya,” lanjut Aryo.

“Kamu hampir ngorbanin semuanya cuma untuk ini, Aryo.”

Aryo terdiam dan berusaha menyusun kalimat yang dapat membuat Tiara paham. “Aku ingin ngelakuin ini sebagai bentuk terima kasih aku sama Ayah kamu. Aku mau jadi menantu yang berbakti untuk beliau,” ujar Aryo akhirnya.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Tiara.

“Tanpa beliau, kamu nggak ada di sini. Kita nggak akan bertemu.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap surai legam Tiara.

“Aku udah janji sama mama untuk bawa kamu balik ke rumah. Artinya aku harus menangin kasus itu, Ra. Kalau aku nggak berhasil, mama minta aku buat ngelepas kamu. Mama ngasih pilihan bawa kamu kembali atau bercerai. Beliau tau aku nggak akan milih pilihan yang kedua, jadi aku akan berusaha bawa kamu kembali ke rumah. Mama sayang banget sama kamu, Ra.”

“Mama udah tau soal kehamilan aku?” tanya Tiara. Mendengar penuturan Aryo membuat perasaannya menghangat. Tiara seketika membayangkan mertuanya itu pasti sangat bahagia jika mengetahui keberadaan calon cucu pertamanya.

“Aku belum ngasih tau ke mama. Beliau pasti seneng banget kalau tau, tapi mungkin dalam waktu dekat ini nggak bisa ngasih tau dulu. Keadaannya cukup kacau sekarang. Barusan aku dapat laporan kalau tim aku belum nemuin titik terang keberadaan om Rudi. Aku nggak mau ngambil resiko apapun dengan kamu berada di rumah. Saat ini, yang terbaik kamu tinggal dulu di sini. Oke?” Aryo meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan tangan besarnya.

“Kamu lebih suka nggak ada aku di rumah ya?” tanya Tiara pura-pura memasang wajah sedihnya.

“Gimana bisa kamu mikir gitu? Kamu tega suami kamu berasa jadi bujang lagi, nggak ada yang nemenin tidur, hmm … ? Aku kangen banget sama kamu, Tiara,” ungkap Aryo.

“Aku juga kangen kamu. Kangen banget,” aku Tiara.

Aryo merasakan perasaan itu, rasanya begitu hampa tanpa kehadiran Tiara di sisinya. Setiap celah di dalam rumah, aspek kehidupannya, dan di benaknya sekalipun, telah dipenuhi oleh sosok di hadapannya saat ini. Bahkan orang-orang yang bekerja untuknya memiliki andil dengan mengemban tugas dari istrinya untuk memastikan kondisinya selama Tiara tidak berada di rumah.

You’re so cute, Darling,” ujar Aryo.

Don’t darling me.

I called you Darling cause you are my dear.” Aryo menatap Tiara hangat yang dibalas perempuan itu dengan senyum lembutnya.

“Sayang, aku mau itu,” celetuk Tiara spontan.

“Kamu ... panggil aku apa?”

“Sayang, gitu,” Tiara menampakkan cengirannya.

“Kita nggak jadi pisah kan, Ra?” tanya Aryo.

“Enggak, Sayangku,” Tiara mau tidak mau tersenyum. Pipinya tampak sedikit memerah.

“Oke, Sayang. Kamu mau apa tadi?” Aryo tidak mengerti yang diinginkan oleh Tiara.

“Katanya kamu mau nurutin apa yang aku mau,” ujar Tiara

“Tapi aku nggak paham ‘itu’ maksud kamu apa.”

Tiara mengarahkan telunjuknya ke bibirnya kemudian bergerak mengarah bibir Aryo. Aryo yang cepat tanggap dengan kode yang diberikan oleh Tiara, langsung tersenyum lebar.

“Sini,” ujar Aryo.

“Beneran?” Tiara matanya berbinar.

Tiara lantas menggerutu saat Aryo ternyata hanya memeluknya dan sedikit digoyangkan gemas. Namun bukan sebuah pelukan yang saat ini diinginkan Tiara.

“Aku nggak mau kelepasan Ra,” ujar Aryo. Aryo sangat paham yang diinginkan istrinya karena ia juga begitu merindukan Tiara.

It’s only a kiss,” ujar Tiara.

“Aku nggak mau nyakitin si bayi kalau sampai kelepasan menginginkan kamu, Tiara. Kata dokter kan aku harus puasa dulu 2 bulan. Right?” Aryo menjauhkan wajahnya sedikit agar dapat melihat wajah istrinya, lalu ia memberi kecupan hangat di kening Tiara.

“Iya, 2 bulan. Lama juga ya—”

Secara tiba-tiba ucapan Tiara terhenti karena sesuatu yang terasa kenyal dan lembab menyapa belah bibirnya.

“Tadi bilangnya nggak mau, dasar,” ucap Tiara ketika Aryo melepas pagutan halus itu. Penyatuan itu terjadi dalam durasi yang singkat dan Aryo melakukannya dengan sangat lembut.

Dengan ibu jarinya, Aryo mengusap bibir Tiara yang saat ini tidak terlihat terlalu lembab seperti sebelumnya. Lip balm Tiara sepertinya sudah tertransfer hampir semuanya ke bibirnya sendiri.

You’re a good kisser. My lip balm is almost gone,” cetus Tiara dan Aryo membalasnya dengan gelak tawa.

I’ll give it back to you.” Aryo menghela satu sisi wajah Tiara untuk memangkas habis jarak mereka dan kembali mempertemukan belah bibirnya dengan bibir Tiara. Tiara membalas ciumannya dan itu membuat Aryo sedikit kualahan. Rasa bibir Tiara begitu lembut dan manis, hingga membuat Aryo ingin merasakannya seperti ia menikmati permen.

Mereka sama-sama menginginkan lebih, tapi sepertinya saat ini waktunya kurang tepat.

“Kamu udah jago ya sekarang,” celetuk Aryo.

“Masa iya?”

Yes. You’re so cool, Babe.

“Iya, dong. Aku kan belajar langsung sama ahlinya,” ujar Tiara.

“Siapa?”

“Kamu ahlinya.”

Aryo lantas tertawa dan ia mendekat untuk mengecup kening Tiara.

“Kamu besok kerja?” tanya Tiara.

“Iya. Kenapa? Jadwal kamu periksa kandungan ya?”

“Periksa kandungan masih seminggu lagi. Tadi waktu kamu mandi, ada chat dari mama. Kata mama besok ada acara penting di rumah eyang.”

Not really important. It’s just grandpa birthday party.

“Itu acara penting, Aryo. Aku temenin kamu dateng ke sana, ya?”

Aryo terlihat berpikir, ia lantas menggeleng, “Ra, pasti dia juga hadir di sana.”

“Dia siapa yang kamu maksud?”

“Dia yang melakukan perbuatan itu sama ayah kandung kamu. Kalau kamu ketemu dia, aku khawatir itu bisa nyakitin kamu lagi. Aku nggak mau hal itu sampai terjadi.”

***

Tiara terbangun lebih dulu dibandingkan Aryo. Ini masih pukul 4.30 dan Tiara pikir ia terlalu pagi untuk bangun. Netra Tiara mendapati rupa surgawi suaminya yang membuatnya tersenyum kecil. Tiba-tiba terlintas di pikiran Tiara pertemuan pertamanya dengan Aryo. Kalau dipikir-pikir, lucu juga mengingat kejadian itu. Tiara dan Aryo layaknya dua kutub magnet yang berbeda. Namun justru dua kutub magnet yang berbeda itulah yang membuat mereka saling terhubung, karena adanya daya tarik menarik yang mempertemukan keduanya. Merka di dekatkan oleh sesuatu yang bernama takdir dan diikat oleh pernikahan.

Meskipun banyak yang terjadi antara dirinya dan Aryo, tapi perjalanan mereka sudah sampai sejauh ini dan semua itu telah mengajarkan banyak hal berharga. Mereka telah sama-sama bertahan dan berjuang untuk cinta mereka.

Saat ini Tiara tidak ingin menyerah untuk rintangan apapun yang akan ia hadapi di depannya. Karena ia memiliki alasan untuk berjuang. Alasannya adalah manusia yang saat ini tertidur di sampingnya. Ohiya, satu lagi alasannya, yakn belahan jiwanya. Buah hatinya bersama Aryo yang saat ini ada di dalam kandungannya. Meskipun belum bisa bertemu langsung, Tiara sangat menyayangi makhluk kecil yang tumbuh bersamanya saat ini. Mengandung rasanya begitu menakjubkan. Setiap hari ia selalu ingin mengetahui perkembangan bayinya dan menikmati setiap perubahan yang ia rasakan pada tubuhnya.

“Aryo ... kamu kapan bangunnya sih? Bangun dong,” ucap Tiara yang bosan karena ia tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi, sementara Aryo masih nampak pulas sambil memeluk tubuhnya.

Beberapa saat kemudian, Aryo perlahan membuka matanya, “Kamu mau tau cara bikin aku cepet bangun?” gumam pria bermata sipit itu.

“Emang bisa? Gimana caranya?”

Kiss me and I will wake up.” Aryo kembali terpejam, tapi sebuah senyum kecil terbit di wajahnya.

“Gampang. Gitu doang?” ujar Tiara dengan suara yang dipelankan dan segala indra Aryo seperti terbangun detik itu juga mendengar suara seksi istrinya.

Berhasil. Justru tanpa ciuman seperti yang dikatakan Aryo, pria itu membuka mata saat Tiara mengeluarkan jurus andalannya.

“Kamu curang,” ujar Aryo ketika ia sudah sepenuhnya membuka mata.

“Lho aku nggak ngapa-ngapain. Kamunya aja gampang kepancing,” bela Tiara.

“Kepancingnya suma sama kamu.”

Kini giliran netra Aryo yang menatapi wajah cantik Tiara. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.

Hello, my life. Good morning,” Aryo memberi kecupan di pipi Tiara. Sebuah kecupan di pagi hari di saat udara terasa masih sangat sejuk. Di bawah satu selimut yang sama, rasanya jadi lebih hangat karena hadirnya seseorang yang ada di dekapan dan begitu dicintai.

“Kamu dan baby mau sarapan apa?” tanya Aryo.

“Kayaknya aku ada ke pengen sesuatu deh, semalam kepikiran.”

“Ohya? Oke, kamu mau apa?”

“Tapi kalau susah dicarinya nggak usah nggak papa. Soalnya yang jualan kadang buka kadang enggak gitu.”

“Egha akan cari kemana pun makanan itu sampai dapat. Kalau tempatnya nggak buka, nanti aku minta bodyguard aku buat bujuk penjualnya, biar jualan buat kamu aja.”

“Ohhh suami aku Egha ya bukannya Aryo Bimo?”

“Kamu bisa bilang apa yang kamu mau. Aku yang beliin,” serbu Aryo cepat.

“Anak kamu maunya kamu yang beliin. Harus kamu dan cuma kamu.” Tiara mendongak sedikit untuk menatap suaminya, lalu ia mendapat kecupan gemas di kening lalu di kedua belah pipinya.

Watermark-nya Aryo Bimo banget ya?”

“Apa?”

“Kalau nyium pasti sampai basah gini.”

“Iya dong. Kamu mau lagi nggak dapet watermark?”

“Mau!!” seru Tiara dengan nadanya yang terdengar begitu antusias.

You got a lifetime watermark, Honey.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo harus berhadapan dengan Felicia yang pagi ini mengunjungi rumahnya dan mendapatkan ketidakberadaan istrinya di rumah mereka.

Aryo tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Satu hal pasti, ia belum bisa menceritakan soal kejadian 11 tahun silam dan mengenai rencananya mengungkap kasus itu. Sebenarnya Aryo sangat ingin mamanya mengetahui bahwa Tiara tengah mengandung anaknya, tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat memberitahu kabar bahagia tersebut. Membutuhkan waktu menjelaskan semua hal pada mamanya dan Aryo tidak memiliki waktu yang banyak untuk menceritakan kabar itu saat ini.

“Bisa kamu jelasin apa yang terjadi antara kamu dan Tiara? Kenapa kalian pisah rumah?” tanya Felicia.

“Aryo akan jelasin semuanya, tapi nggak bisa sekarang, Mah. Aryo harap Mama ngerti itu.”

“Kalian bertengkar?” Kedua alis Felicia bertaut.

“Aryo sama Tiara baik-baik aja. Aryo lagi ngelakuin sesuatu dan Aryo nggak ingin Tiara terlibat di dalamnya.”

Aryo menjeda ucapannya dan menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit berat, “Aryo janji akan bawa Tiara kembali ke rumah ini.”

Felicia menatap Aryo dan ia dapat membaca dari sorot mata putra sematawayangnya itu, bahwa putranya sungguhan mencintai Tiara. Awalnya Felicia sedikit ragu saat Aryo bersikeras untuk menikahi Tiara. Pernikahan di keluarga mereka biasanya terjadi melalui sebuah perjodohan dengan tujuan memenuhi kepentingan bisnis. Namun Aryo bertekad kuat memilih sendiri pendamping hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, rupanya Tiara mampu menjadikan putranya pria yang tangguh yang ada di hadapannya. Kini ada seorang perempuan hebat yang mendampingi putranya dengan kasih sayang dan penuh kesabaran. Felicia sangat tahu sifat anaknya yang keras kepala, perfeksionis, dan egois. Sifat itu tidak hilang, tapi dengan cinta yang diberikan Tiara, segala kelebihan dan kekurangan Aryo itu menjadi kekuatan dan peluang baginya untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Felicia berdeham lantas ia menatap putranya, “Oke, Mama akan pegang janji kamu. Kamu harus bawa menantu Mama pulang. Kalau kamu nggak bisa nepatin itu, lebih baik kalian berpisah. Karena suami dan istri itu seharusnya tinggal bersama. Kalau kamu butuh bantuan Mama dan papa, jangan sungkan untuk meminta itu ya, Nak. Setangguh apapun kamu, kamu tetap anak Mama. Mama dan papa akan selalu ada buat kamu,” tutur Felicia.

***

Hari ini Aryo memiliki jadwal muay thai dan latihan menembak setelah jam kantornya. Egha menyiapkan mobil yang akan atasannya pakai ini sekaligus menyetir untuk tuannya itu.

“Gue bisa bawa mobil sendiri Gha,” ucap Aryo ketika diperjalanan.

“Saya hanya menjalankan perintah Non Tiara, Tuan.”

“Maksudnya?”

“Non Tiara meminta saya mengantar Tuan.”

Egha tidak sengaja mendapati ekspresi tuannya yang berubah cerah setelah kalimatnya berusan.

“Makanan yang semalam di meja makan juga atas perintah Non Tiara. Beliau tidak ingin sampai Tuan telat makan lagi,” ungkap Egha.

***

Aryo sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan meminta tolong pada Rama untuk meng-handle beberapa pekerjaannya yang masih tersisa. Aryo ingin mengisi dayanya setelah melakukan kegiatannya yang cukup padat dan menguras tenaga seharian ini. Tiara adalah sumber dayanya dan Aryo membutuhkan istrinya berada di sisinya.

Saat Tiara pergi dari rumah mereka, sebagian jiwanya terasa pergi bersama perempuan itu. Sebuah definisi yang tidak bisa dijelaskan oleh Aryo sendiri. Namun Aryo tidak ingin menyerah begitu saja. Aryo bertekad akan membawa Tiara kembali padanya. Ia percaya Tiara masih mencintainya dan tidak ada yang dapat merubah perasaannya pada Tiara. Istrinya itu sudah menempati setiap ruang di hati dan isi kepalanya.

Aryo sampai di rumah mertuanya dan mendapati Tiara sedang bersama sahabat-sahabat lelakinya berada di teras rumah, termasuk ada Akmal juga di sana. Mereka sedang mengobrol dan tidak ada satupun yang merokok disana. Jadi Aryo pikir, Tiara-nya aman bersama mereka.

Tiara menghampiri Aryo begitu melihat sosoknya. Teman-teman Tiara seperti mengerti bahwa perempuan itu butuh waktu berdua dengan Aryo. Jadi lah mereka pamit pada Tiara untuk pindah ke kafe di samping rumahnya.

Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang masih mengenakan stelan kantor. “Kamu baru pulang kantor?” tanya Tiara.

“Iya. Maaf ya, aku ke sini nggak ngabarin,” tutur Aryo.

It’s oke,” balas Tiara.

“Kamu udah makan?” tanya Tiara.

“Udah. Egha yang beliin tadi.”

Tiara mengerutkan dahinya, “Egha bilang apa aja ke kamu?”

“Nggak bilang apa-apa,” dusta Aryo. Sepertinya biarkan seperti ini. Aryo bersikap seolah tidak tahu bahwa Tiara masih perhatian padanya.

“Egha mana?”

“Yang dicari Egha? Suami kamu di depan kamu lho ini.”

“Kamu nggak nyetir sendiri kan?” tanya Tiara sambil menatap selidik pada Aryo.

“Aku punya supir, ngapain nyetir sendiri,” senyum dibibir Aryo otomatis mengembang melihat tingkah istrinya yang sedang mengkhawatirkannya.

“Sekarang aku yang tanya, boleh?” tanya Aryo. Oh astaga, begini rasanya rindu, batinnya.

“Kamu mau nanya apa?”

“Kamu udah makan? Udah minum vitamin dari dokter?”

“Udah.” Tiara menjawab semua pertanyaan Aryo.

“Oke, satu pertanyaan lagi. Boleh aku peluk kamu?”

Tiara menatap Aryo, lalu menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Ia membiarkan Aryo merengkuhnya ke pelukan pria itu. Tiara balas memeluk torso suaminya ketika Aryo merengkuhnya. Segala tentang suaminya yang ia rindukan, akan ia ungkapkan malam ini.

Sebuah perasaan menyakitkan yang tidak bisa Tiara gambarkan ketika ia harus pergi dari rumah meninggalkan Aryo. Hatinya sungguh sakit membayangkan perpisahan yang kelak mungkin harus dirinya dan Aryo hadapi.

“Aryo, aku minta maaf ya.” Suara Tiara bergetar dan perempuan itu mulai terisak. Aryo masih memeluknya dan mendapati kemejanya basah karena air mata Tiara.

“Tiara … kenapa?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya. Pelukan mereka lantas terurai.

“Aku nggak bener-bener mau ninggalin kamu waktu pergi dari rumah. Aku cuma nggak mau mereka nyakitin kamu karena aku,” ungkap Tiara. Ia jufa mengatakan setelah kepulangannya ke rumah, rupanya Andi dan Alifia sudah mengetahui rencananya dengan Rudi untuk membuka kembali kasus kecelakaan itu. Ayah dan bundanya juga tahu soal tujuan Tiara menikah dengan Aryo yakni karena ingin mencari bukti kuat supaya bisa menangkap orang yang menyebabkan Erlangga tiada. Indri, istri Rudi meminta pertanggungjawaban atas suaminya yang saat ini tidak di ketahui keberadaannya. Indri tahu semuanya bahwa Rudi diam-diam nekat membuka kembali kasus sebelas tahun lalu yang sudah resmi ditutup.

“Aku nggak tau mereka siapa. Mereka ngancam lewat telfon mau nyakitin kamu dengan cara apapun,” ujar Tiara menjelaskan maksud dari perkataannya.

“Apa aja yang mereka bilang ke kamu?”

“Selama kamu ada di dekat aku, mereka bisa ngelakuin apa aja untuk nyakitin kamu.”

Aryo menghembuskan napasnya, “Ra, dengerin aku ya. Aku akan cari tahu soal mereka. Aku pastiin mereka nggak akan bisa nyakitin siapa pun. Kamu, aku, bahkan keluarga kita. Ohiya, om Rudi yang kamu maksud itu Rudi Abimana?”

Tiara mengangguk, “Iya. Om Rudi adalah detektif yang dulu nanganin kasus kecelakaan Ayah sekaligus orang yang selama ini bantuin aku. Tapi beberapa hari yang lalu, beliau dan tangan kanannya, om Bagas, di serang gerombolan orang dan sampai saat ini belum kembali. Om Bagas selamat, tapi Om Rudi di bawa sama mereka. Mereka nggak minta uang tebusan atau apapun, tapi mereka bilang bisa lakuin apa aja ke om Rudi. Apa mungkin mereka punya tujuan gunain om Rudi untuk ngancam kita? Kalau orang yang sandera om Rudi adalah orang yang sama dengan target kita, ada kemungkinan dia udah tau semuanya dan memang mengincar om Rudi dari lama,” papar Tiara.

Aryo nampak memikirkan ucapan Tiara. Kemudian pria itu berdeham sebelum berbicara, “Bisa jadi itu benar. Tapi sebaiknya kita jangan gegabah dulu hadapin semua ini. Aku akan cari om Rudi dan bawa beliau kembali dengan keadaan selamat. Aku akan berusaha untuk itu, Ra. Kamu percaya kan aku bisa?”

Tiara menatap suaminya lekat. Perasaannya kini campur aduk. Di satu sisi, ia ingin sekali orang yang sudah menyebabkan kepergian ayahnya mendapat balasan yang setimpal. Namun di sisi lain, rencana ini dapat membahayakan suaminya sendiri.

“Aryo, kamu mau nggak nurutin satu aja permintaan aku?” tanya Tiara.

“Apa itu?”

“Kalau aku minta kamu nggak usah terlibat dengan kasus ini, gimana?”

“Tapi Ra—”

“Ini bahaya, Aryo. Aku mohon, dengerin aku. Aku khawatir, takut, dan cemas. Aku nggak siap kehilangan seseorang yang aku sayang untuk kedua kalinya,” ucap Tiara dengan gamblang. Pupil matanya bergerak ke kanan dan kiri, ia menatap Aryo dengan tatapan khawatir. “Aku nggak mau kehilangan kamu,” tukas Tiara.

Aryo yang mendengar rentetan perkataan istrinya itu justru mengulaskan senyum tipis di wajahnya.

“Aku lagi khawatir sama kamu, kamu malah senyum-senyum.” Tiara memerhatikan Aryo dan wajahnya berubah jadi masam.

Do you love me so?

“Kamu masih nanya? Ngapain aku khawatir kalau aku nggak cinta. Aku nggak tahu lagi kalau harus kehilangan kamu. Mungkin aku bisa gila, Aryo,” cerocos Tiara.

“Kamu nggak akan kehilangan aku, Tiara,” ucap Aryo berusaha meyakinkan Tiara. Pria itu menangkup kedua sisi wajah wanitanya, ia menatapnya dengan tatapan hangat.

“Nggak ada jaminan untuk itu, Aryo. Kamu sendiri tau, kamu akan berhadapan sama siapa. You’re stuborn.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷