alyadara

Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika ada perempuan lain mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahan untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri sejak di stasiun, tapi sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.

Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.

Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu berhubungan langsung dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.

Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan keluar untuk mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain karena kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu, kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan tenaga.

Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.

“Lagi cari apa?”

Tiara lantas menoleh ke arah sebuah suara yang menyapanya ketika ia baru akan menekan tombol lift.

“Cari suami gue,” ucap Tiara pada Aurorae.

“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu,” ujar Aurorae lagi.

“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”

“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae melipat kedua lengannya di depan dada.

“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah jadi suami orang, hmm?”

Tiara menorehkan senyumnya sekilas, lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.

“Lepas,” ucap Tiara.

“Lo harus tahu satu hal yang akan buat kamu terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”

Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia berusaha menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.

Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.

“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak percayanya.

“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan di sini.

“Ohh, dia penting banget ya buat lo?” tanya Tiara.

Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.

“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.

***

Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.

Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada di sana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.

“Udah ada info soal Tiara?” tanya Aryo pada Rama.

Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.

***

Aryo menghembuskan nafasnya sambil menatap pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah. Beberapa waktu lalu Aryo memang sudah mengganti akses masuk rumahnya, sehingga Tiara bisa mengaksesnya sendiri menggunakan visualnya.

“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.

Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan, ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.

“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.

“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi honeymoon sejak awal kita nikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja,” jelas Aryo.

Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.

“Gue nggak mau buat semuanya jadi semakin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga juga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah secepatnya. Keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, lo buka dulu pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintu sudah terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan kondisi Tiara yang nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.

“Ra, are you okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.

“Gue cuma demam,” ujar Tiara.

Aryo mengarahkan punggung tangannya untuk menyentuh kening Tiara.

“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.

“Lo emang harus cepat sembuh, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.

“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”

“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue yang kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinya ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung dimana letak kesalahan Aryo. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo, pria yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwa itu kesalahan Aryo.

“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun caranya,” sambung Aryo.

“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.

“Lo bisa kasih tau gue, apapun itu.”

“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh. Ohiya, gue juga mau lego disney yang unlimited edition itu.”

***

Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat yang cukup. Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.

“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya, memberi obat untuk Tiara, serta menemaninya menyusun lego disney baru yang seketika mencipatakan raut bahagia di paras Tiara.

“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.

“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.

“Berarti nanti dimaafin?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi tidak lama setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.

“Tadinya gue merasa egois banget karena mau dapet perhatian lebih dari lo. Tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Ohh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.

Kesalapahaman di antara mereka akhirnya clear. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa yang terjadi adalah pemblejaran untuk mereka lebih baik lagi kedepannya.

“Kita jadi pergi honeymoon, kan?” tanya Tiara sambil menatap Aryo lekat. Mata bulat gadis itu terlihat berbinar dan Aryo selalu suka menatap kedua mata indah itu.

“Lo belum sembuh total, Tiara,” ujar Aryo.

“Gue udah sembuh, Aryo. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue.” Tiara sengaja menatap Aryo dengan seksama hingga membuat Aryo salah tingkah.

“Oke, lusa kita ke Maldives. Atau lo mau kita kemana?”

“Maldives sounds good. Gue suka pantai.” Tiara tersenyum semringah hingga menampakkan deretan gigi depannya yang rapih.

Aryo memerhatikan Tiara yang masih fokus dengan legonya, padahal ia sendiri sudah merasa mengantuk. “Lo mau tidur jam berapa? Liat, ini udah jam dua belas, Ra. Besok lagi ya nyusun legonya?” bujuk Aryo pada Tiara yang masih terlihat bersemangat menyusun perintalan mainannya yang jumlahnya tidak sedikit itu.

“Oke. Nyusun lego bisa di lanjutin besok. Yang penting kita jadi ke Maldives.” Tiara lekas merapikan mainan barunya ke dalam boks dan meletakkan di sudut kamarnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo menatap paras cantik Tiara dengan seksama. Perempuan itu masih berada di dekapan kedua lengannya. Aryo menatap sepasang mata bulat Tiara yang berbinar, ciri khas perempuan itu ketika sedang antusias. Ketika Tiara hanya menatapnya, perempuan itu telah memberikan seluruh isi dunia yang ingin Aryo miliki.

Saat sampai di kamar, Aryo membaringkan Tiara di atas kasur berukuran king size di sana. Setelah melepas jaket hitamnya, Aryo menghampiri Tiara dan memosisikan lengannya di sisi kanan dan kiri tubuh Tiara.

Tiara jadi terlihat tambah mungil ketika Aryo memanjarakannya dengan kedua lengan kekar pria itu. Tangan Aryo menjepit kedua belah pipi Tiara yang gembil, hingga bibir gadis itu jadi menyatu di tengah dan jadi kesulitan bicara. Berkat ulah Aryo itu, pipi Tiara memerah lagi seperti tadi di mobil.

“Hai, pipi tomat,” sapa Aryo dengan nada jahil setelah tangannya melepaskan pipi Tiara.

“Kamu cubit beneran, ya merah lah,” protes Tiara.

Lantas Aryo menjalarkan tangannya untuk menangkup pipi Tiara dan mengusapnya di sana. “Masih sakit? Maaf ya,” ucap Aryo dengan ekspresi khawatirnya.

“Udah nggak terlalu, tapi aku mau balas dendam ke kamu.”

“Apa—”

Tidak sampai dua detik kemudian, Tiara pun menarik tengkuk Aryo dan segera melumat lembut bibir pria itu. Aryo posisinya masih duduk, sementara Tiara sudah sepenuhnya berbaring di kasur, membuat Aryo harus menjaga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Tiara.

Kurang dari 15 detik, Tiara menyudahi ciumannya dan bergerak dari posisinya untuk duduk. Tiara menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Perempuan itu lantas menampilkan senyum jahilnya dan ekspresinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Barusan itu balas dendam?” tanya Aryo.

“Huum,” jawab Tiara sambil memainkan jemarinya di sekitaran rahang tegas Aryo.

Aryo wajahnya berubah serius menatap Tiara ketika perempuan itu masih memasang tampang lempengnya.

Mata mereka kembali bertemu. Aryo mendekatkan wajahnya pada wajah Tiara, memangkas sisa jarak yang ada untuk memagut bibir Tiara. Aryo memperdalam ciumannya dan melesakkan lidahnya untuk mengabsen apapun milik Tiara yang ada di dalam. Tiara mengusapkan tangannya di belakang kepala Aryo, mengisyaratkan prianya untuk memperlama aktivitas mereka.

Setelah beberapa menit penyatuan yang indah itu, bibir keduanya sama-sama menyunggingkan senyum ketika sudah saling melepaskan. Aryo menatap netra Tiara, menyelam ke dalam iris gelap yang binarnya sangat indah itu.

Posisi Tiara kini berada di bawah Aryo berkat aktivitas yang mereka lakukan. Napas keduanya saling berhembus memburu, mengisi kamar yang menjadi tidak begitu sunyi lagi. Jangan lupakan sprei putih yang bentuknya sudah berbeda, dari saat mereka baru memasuki kamar ini.

Aryo mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Tiara, sekaligus menyilakan helaian surainya yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga. Beberapa helai rambut Tiara mencuat keluar dari ikatan ponytail-nya berkat ciuman mereka yang cukup brutal kali ini. Bibir Tiara rasanya sedikit nyeri dan nyut-nyutan karena Aryo menghisap bibir bawahnya dengan cukup kuat.

“Maaf, Ra. Aku kelepasan tadi. Kekencengan ya?” Aryo mengusap bibir Tiara menggunakan ibu jarinya. Tiara tersenyum lembut dan meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo.

“Oke, dimaafin,” ujar Tiara.

Tiara meminta Aryo untuk menunggunya. Aryo tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan perempuan itu. Rupanya Tiara tidak terlalu lama berada di walk in closet. Sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan itu sudah kembali dengan pakaian yang berbeda. Aryo menyaksikan dengan kedua matanya, sebuah one set all black yang begitu menawan dan melekat pas di tubuh ramping Tiara.

One Set All Black

Aroma vanilla bercampur kopi yang manis menguar di sekitar Aryo ketika Tiara mendekat padanya. Tiara mendapati Aryo hanya menatapnya tanpa berminat melihat ke arah lain ataupun berkedip satu kali saja. Posisi Aryo masih merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengambil satu bantal untuk diletakkan dibawah kepala, lalu kembali memandangi Tiara yang duduk di tepi kasur.

Aryo melepaskan rolex di pergelangan tangannya dan beberapa aksesoris yang melekat di jemarinya. Pria itu mengulaskan senyumnya sembari tangannya merengkuh pinggang Tiara supaya tubuh perempuan itu lebih mendekat padanya. Seperti melakukan latihan sit up, Aryo memajukan tubunya untuk mengecup bibir Tiara. Kecupan yang singkat, tapi Aryo melakukannya bertubi-tubi.

Aryo lantas bangun dari posisinya, melepaskan ikatan ponytail Tiara sehingga surai panjang gadis itu terurai sampai sebatas punggungnya. Aryo memosisikan Tiara berada di bawahnya dengan jarak mereka yang tersisa sekitar dua centi.

I love you, Tiara,” ucap Aryo.

Tiara langsung mencium Aryo dari posisinya. Mereka saling melepaskan apa yang masih melekat di tubuh keduanya, hingga saat ini satu helai benang pun tidak ada di sana.

“Kenapa one set itu susah banget dilepasin,” keluh Aryo.

Aryo menatap one set all black yang sudah terdampar naas di lantai marmer putih, berkat kerja kerasanya beberapa menit yang lalu. Seperti melalui sebuah medan perang, pertama Aryo harus melepaskan resleting di bagian depannya, lalu beranjak ke pengait yang terdapat di bagian kanan dan kirinya. Ohya, jangan lupa tali memiliki ada pengaitnya di bagian kedua paha. Tadi Aryo sempat kesulitan melepaskan kaitan-kaitan tersebut.

“Kamu nggak sabaran sih ngelepasinnya, padahal kan bisa pelan-pelan,” ujar Tiara.

“Gimana aku bisa sabar? Istri aku cantik banget gini. Sejak kapan kamu punya baju itu? Kamu mau buat aku gila ya, Ra?”

Tiara tertawa ringan mendapati ekspresi Aryo yang cemberut, “I bought that one set before the wedding. That was so sexy and beautiful. So I think I must have that one. Waktu kita honeymoon aku lupa pakai, jadi sayang kan, kalau nggak dipakai. Kamu suka?”

Look so freaking amazing on you. But you don’t have idea to wear it again.

“Kalau kita mau berenang di pantai lagi gimana? One set berenang bentuknya kan kayak baju tadi,” ucap Tiara.

You’re a naughty girl. Kita bisa berenang di indoor jacuzzi. Atau kamu aku buatin kolam renang pribadi yang besar?”

Tiara justru tertawa mendengar penuturan Aryo tersebut.

“Kok kamu ketawa?” tanya Aryo.

“Habis kamu lucu banget. Waktu berenang di Maldives kemarin, kamu bolehin tuh aku pake one set renang yang seksi.”

“Yaudah, iya boleh. Tapi jangan terlalu sering, oke?”

“Siap Bos.”

“Kayaknya aku harus sering latihan biar nggak kesusahan kayak tadi.” Aryo kembali memangkas jarak antara mereka untuk mengecup bibir Tiara. Tiara dapat merasakan deru napas hangat Aryo menyapa permukaan kulitnya dari pipi, turun ke rahang, hingga sampai ke tengkuknya. Tingkah Aryo tersebut membuat dada Tiara berdesir bahagia dan membuncah hingga meletup-letup kencang.

Tiara meremas sprei dengan kuku jemarinya dan menggeliat di bawah ketika Aryo mengecup tengkuknya. Itu memberikan sensasi nikmat dan mendebarkan bagi Tiara. Rasanya saat ini jutaan kupu-kupu terbang di perutnya hingga menimbulkan rasa geli dan menggelitik.

Tiara menggigit bibir bawahnya ketika ciuman Aryo turun ke bagian puncak buah dadanya yang terasa sudah mengencang. Aryo memberi kecupan lembut di sana yang bisa membuat Tiara lebih rileks dan merasa nyaman.

“Ra, ini akan sakit. Kamu tahan ya,” ujar Aryo.

Tiara mengangguk sebelum Aryo memasukkan sesuatu pada bagian bawahnya. Itu memang terasa sakit sama seperti pertama mereka melakukannya. Namun kini Tiara sudah lebih rileks dan terbiasa.

Aryo menambah satu lagi jarinya ketika Tiara mengatakan ia menginginkan lebih. Aryo menggerakkan jarinya di surga miliknya yang membuat Tiara melengkungkan bibirnya ke dalam. Tiara melebarkan matanya saat Aryo semakin dalam melancarkan jarinya pada miliknya.

Pembukaan jalan Tiara sudah cukup besar dan miliknya sudah cukup lembab dan licin, sehingga Aryo lebih mudah memersatukan mereka. Aryo mengecup bibirnya lembut saat puncak penyatuan itu terjadi dan memeluk tubuhnya, mengusapkan tangan hangatnya di punggung Tiara untuk membuatnya nyaman dan tenang.

Saat semakin dalam sesuatu panjang dan keras itu memasuki miliknya di bawah, Tiara merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun berkat rasa cintanya pada Aryo, Tiara dapat mengalahkan rasa sakit itu. Sebuah hormon memberi sinyal kepada otaknya untuk memunculkan sebuah perasaan bahagia.

Tiara mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryo. Mata mereka saling bertemu, lalu tangan Tiara bergerak menyisir helaian rambut Aryo. Tiara merasakan sesuatu itu kembali menghentaknya di bawah sana, menyebabkan punggungnya melengkung dan pelupuk matanya mengeluarkan setitik cairan bening.

Aryo mengecup area sekitar matanya dengan lembut. Tiara dapat merasakan Aryo mencintainya dengan tulus dari setiap perlakuan pria itu terhadapnya.

“Akhhh sakittt ... ” rintih Tiara sambil memejamkan kedua matanya.

“Sayang, buka mata kamu. Kamu bisa lihat aku,” bisik Aryo. Suara Aryo rasanya seperti air lemonade yang segar di kala musim panas. Tiara tersihir dan akhirnya membuka matanya untuk bertemu dengan mata indah milik Aryo.

Saat Tiara membuka netranya, ia sudah tidak terlalu merasakan sakit. Justru perasaannya sangat bahagia, hanya dengan mengetahui fakta bahwa ia melakukannya bersama orang yang mencintainya dan juga ia cintai.

Aryo mengusapkan ibu jarinya di bibir Tiara yang terlihat hampir lecet karena Tiara sempat menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit dari penyatuan mereka.

Tiara melantunkan nama Aryo saat mereka berdua menemukan pelepasan masing-masing. Kemudian keduanya terengah bersama dan saling menikmati menatap wajah yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo bergerak untuk berbaring di sampingnya dan mengamati setiap detail wajah Tiara. Paras yang tidak bisa ia lupakan sejak pertama kali pertemuan mereka dan membawanya untuk mencintai Tiara.

Let's sleep. Kamu besok kuliah, kan? Aku khawatir kamu nggak bisa bangun karena kecapean.” Aryo pun terkekeh jahil.

“ARYO!!” Tiara memukul pelan pundak polos suaminya. Aryo meraih pergelangan tangannya, lalu mengecup punggung tangannya di sana.

Aryo mendekap tubuh Tiara dengan pelukannya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Tiara.

“Besok aku antar kamu ke kampus,” ucap Aryo.

“Emangnya kamu nggak kerja? Aku ada kelas pagi jam delapan lho.”

“Aku bisa datang telat ke kantor. Aku mau mastiin kalau istriku baik-baik aja.”

Tiara merasakan Aryo mengeratkan pelukan pada torsonya.

“Tiara, terima kasih. Have a sweet dream, Baby. I love you,” ucap Aryo sembari menyematkan kecupan hangat di dahi Tiara.

Sebelum memejamkam matanya, Tiara menatap wajah Aryo dan bergumam, “I love you too,” ucap Tiara sembari menyematkan kecupan halus di sisi wajah prianya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo menatap paras cantik Tiara dengan seksama. Perempuan itu masih berada di dekapan kedua lengannya. Aryo menatap sepasang mata bulat Tiara yang berbinar, ciri khas perempuan itu ketika sedang antusias. Ketika Tiara hanya menatapnya, perempuan itu telah memberikan seluruh isi dunia yang ingin Aryo miliki.

Saat sampai di kamar, Aryo membaringkan Tiara di atas kasur berukuran king size di sana. Setelah melepas jaket hitamnya, Aryo menghampiri Tiara dan memosisikan lengannya di sisi kanan dan kiri tubuh Tiara.

Tiara jadi terlihat tambah mungil ketika Aryo memanjarakannya dengan kedua lengan kekar pria itu. Tangan Aryo menjepit kedua belah pipi Tiara yang gembil, hingga bibir gadis itu jadi menyatu di tengah dan jadi kesulitan bicara. Berkat ulah Aryo itu, pipi Tiara memerah lagi seperti tadi di mobil.

“Hai, pipi tomat,” sapa Aryo dengan nada jahil setelah tangannya melepaskan pipi Tiara.

“Kamu cubit beneran, ya merah lah,” protes Tiara.

Lantas Aryo menjalarkan tangannya untuk menangkup pipi Tiara dan mengusapnya di sana. “Masih sakit? Maaf ya,” ucap Aryo dengan ekspresi khawatirnya.

“Udah nggak terlalu, tapi aku mau balas dendam ke kamu.”

“Apa—”

Tidak sampai dua detik kemudian, Tiara pun menarik tengkuk Aryo dan segera melumat lembut bibir pria itu. Aryo posisinya masih duduk, sementara Tiara sudah sepenuhnya berbaring di kasur, membuat Aryo harus menjaga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Tiara.

Kurang dari 15 detik, Tiara menyudahi ciumannya dan bergerak dari posisinya untuk duduk. Tiara menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Perempuan itu lantas menampilkan senyum jahilnya dan ekspresinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Barusan itu balas dendam?” tanya Aryo.

“Huum,” jawab Tiara sambil memainkan jemarinya di sekitaran rahang tegas Aryo.

Aryo wajahnya berubah serius menatap Tiara ketika perempuan itu masih memasang tampang lempengnya.

Mata mereka kembali bertemu. Aryo mendekatkan wajahnya pada wajah Tiara, memangkas sisa jarak yang ada untuk memagut bibir Tiara. Aryo memperdalam ciumannya dan melesakkan lidahnya untuk mengabsen apapun milik Tiara yang ada di dalam. Tiara mengusapkan tangannya di belakang kepala Aryo, mengisyaratkan prianya untuk memperlama aktivitas mereka.

Setelah beberapa menit penyatuan yang indah itu, bibir keduanya sama-sama menyunggingkan senyum ketika sudah saling melepaskan. Aryo menatap netra Tiara, menyelam ke dalam iris gelap yang binarnya sangat indah itu.

Posisi Tiara kini berada di bawah Aryo berkat aktivitas yang mereka lakukan. Napas keduanya saling berhembus memburu, mengisi kamar yang menjadi tidak begitu sunyi lagi. Jangan lupakan sprei putih yang bentuknya sudah berbeda, dari saat mereka baru memasuki kamar ini.

Aryo mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Tiara, sekaligus menyilakan helaian surainya yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga. Beberapa helai rambut Tiara mencuat keluar dari ikatan ponytail-nya berkat ciuman mereka yang cukup brutal kali ini. Bibir Tiara rasanya sedikit nyeri dan nyut-nyutan karena Aryo menghisap bibir bawahnya dengan cukup kuat.

“Maaf, Ra. Aku kelepasan tadi. Kekencengan ya?” Aryo mengusap bibir Tiara menggunakan ibu jarinya. Tiara tersenyum lembut dan meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo.

“Oke, dimaafin,” ujar Tiara.

Tiara meminta Aryo untuk menunggunya. Aryo tidak bisa menebak apa yang akan dilakukan perempuan itu. Rupanya Tiara tidak terlalu lama berada di walk in closet. Sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan itu sudah kembali dengan pakaian yang berbeda. Aryo menyaksikan dengan kedua matanya, sebuah one set all black yang begitu menawan dan melekat pas di tubuh ramping Tiara.

One Set All Black

Aroma vanilla bercampur kopi yang manis menguar di sekitar Aryo ketika Tiara mendekat padanya. Tiara mendapati Aryo hanya menatapnya tanpa berminat melihat ke arah lain ataupun berkedip satu kali saja. Posisi Aryo masih merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengambil satu bantal untuk diletakkan dibawah kepala, lalu kembali memandangi Tiara yang duduk di tepi kasur.

Aryo melepaskan rolex di pergelangan tangannya dan beberapa aksesoris yang melekat di jemarinya. Pria itu mengulaskan senyumnya sembari tangannya merengkuh pinggang Tiara supaya tubuh perempuan itu lebih mendekat padanya. Seperti melakukan latihan sit up, Aryo memajukan tubunya untuk mengecup bibir Tiara. Kecupan yang singkat, tapi Aryo melakukannya bertubi-tubi.

Aryo lantas bangun dari posisinya, melepaskan ikatan ponytail Tiara sehingga surai panjang gadis itu terurai sampai sebatas punggungnya. Aryo memosisikan Tiara berada di bawahnya dengan jarak mereka yang tersisa sekitar dua centi.

I love you, Tiara,” ucap Aryo.

Tiara langsung mencium Aryo dari posisinya. Mereka saling melepaskan apa yang masih melekat di tubuh keduanya, hingga saat ini satu helai benang pun tidak ada di sana.

“Kenapa one set itu susah banget dilepasin,” keluh Aryo.

Aryo menatap one set all black yang sudah terdampar naas di lantai marmer putih, berkat kerja kerasanya beberapa menit yang lalu. Seperti melalui sebuah medan perang, pertama Aryo harus melepaskan resleting di bagian depannya, lalu beranjak ke pengait yang terdapat di bagian kanan dan kirinya. Ohya, jangan lupa tali memiliki ada pengaitnya di bagian kedua paha. Tadi Aryo sempat kesulitan melepaskan kaitan-kaitan tersebut.

“Kamu nggak sabaran sih ngelepasinnya, padahal kan bisa pelan-pelan,” ujar Tiara.

“Gimana aku bisa sabar? Istri aku cantik banget gini. Sejak kapan kamu punya baju itu? Kamu mau buat aku gila ya, Ra?”

Tiara tertawa ringan mendapati ekspresi Aryo yang cemberut, “I bought that one set before the wedding. That was so sexy and beautiful. So I think I must have that one. Waktu kita honeymoon aku lupa pakai, jadi sayang kan, kalau nggak dipakai. Kamu suka?”

Look so freaking amazing on you. But you don’t have idea to wear it again.

“Kalau kita mau berenang di pantai lagi gimana? One set berenang bentuknya kan kayak baju tadi,” ucap Tiara.

You’re a naughty girl. Kita bisa berenang di indoor jacuzzi. Atau kamu aku buatin kolam renang pribadi yang besar?”

Tiara justru tertawa mendengar penuturan Aryo tersebut.

“Kok kamu ketawa?” tanya Aryo.

“Habis kamu lucu banget. Waktu berenang di Maldives kemarin, kamu bolehin tuh aku pake one set renang yang seksi.”

“Yaudah, iya boleh. Tapi jangan terlalu sering, oke?”

“Siap Bos.”

“Kayaknya aku harus sering latihan biar nggak kesusahan kayak tadi.” Aryo kembali memangkas jarak antara mereka untuk mengecup bibir Tiara. Tiara dapat merasakan deru napas hangat Aryo menyapa permukaan kulitnya dari pipi, turun ke rahang, hingga sampai ke tengkuknya. Tingkah Aryo tersebut membuat dada Tiara berdesir bahagia dan membuncah hingga meletup-letup kencang.

Tiara meremas sprei dengan kuku jemarinya dan menggeliat di bawah ketika Aryo mengecup tengkuknya. Itu memberikan sensasi nikmat dan mendebarkan bagi Tiara. Rasanya saat ini jutaan kupu-kupu terbang di perutnya hingga menimbulkan rasa geli dan menggelitik.

Tiara menggigit bibir bawahnya ketika ciuman Aryo turun ke bagian puncak buah dadanya yang terasa sudah mengencang. Aryo memberi kecupan lembut di sana yang bisa membuat Tiara lebih rileks dan merasa nyaman.

“Ra, ini akan sakit. Kamu tahan ya,” ujar Aryo.

Tiara mengangguk sebelum Aryo memasukkan sesuatu pada bagian bawahnya. Itu memang terasa sakit sama seperti pertama mereka melakukannya. Namun kini Tiara sudah lebih rileks dan terbiasa.

Aryo menambah satu lagi jarinya ketika Tiara mengatakan ia menginginkan lebih. Aryo menggerakkan jarinya di surga miliknya yang membuat Tiara melengkungkan bibirnya ke dalam. Tiara melebarkan matanya saat Aryo semakin dalam melancarkan jarinya pada miliknya.

Pembukaan jalan Tiara sudah cukup besar dan miliknya sudah cukup lembab dan licin, sehingga Aryo lebih mudah memersatukan mereka. Aryo mengecup bibirnya lembut saat puncak penyatuan itu terjadi dan memeluk tubuhnya, mengusapkan tangan hangatnya di punggung Tiara untuk membuatnya nyaman dan tenang.

Saat semakin dalam sesuatu panjang dan keras itu memasuki miliknya di bawah, Tiara merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun berkat rasa cintanya pada Aryo, Tiara dapat mengalahkan rasa sakit itu. Sebuah hormon memberi sinyal kepada otaknya untuk memunculkan sebuah perasaan bahagia.

Tiara mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryo. Mata mereka saling bertemu, lalu tangan Tiara bergerak menyisir helaian rambut Aryo. Tiara merasakan sesuatu itu kembali menghentaknya di bawah sana, menyebabkan punggungnya melengkung dan pelupuk matanya mengeluarkan setitik cairan bening.

Aryo mengecup area sekitar matanya dengan lembut. Tiara dapat merasakan Aryo mencintainya dengan tulus dari setiap perlakuan pria itu terhadapnya.

“Akhhh sakittt ... ” rintih Tiara sambil memejamkan kedua matanya.

“Sayang, buka mata kamu. Kamu bisa lihat aku,” bisik Aryo. Suara Aryo rasanya seperti air lemonade yang segar di kala musim panas. Tiara tersihir dan akhirnya membuka matanya untuk bertemu dengan mata indah milik Aryo.

Saat Tiara membuka netranya, ia sudah tidak terlalu merasakan sakit. Justru perasaannya sangat bahagia, hanya dengan mengetahui fakta bahwa ia melakukannya bersama orang yang mencintainya dan juga ia cintai.

Aryo mengusapkan ibu jarinya di bibir Tiara yang terlihat hampir lecet karena Tiara sempat menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit dari penyatuan mereka.

Tiara melantunkan nama Aryo saat mereka berdua menemukan pelepasan masing-masing. Kemudian keduanya terengah bersama dan saling menikmati menatap wajah yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo bergerak untuk berbaring di sampingnya dan mengamati setiap detail wajah Tiara. Paras yang tidak bisa ia lupakan sejak pertama kali pertemuan mereka dan membawanya untuk mencintai Tiara.

Let's sleep. Kamu besok kuliah, kan? Aku khawatir kamu nggak bisa bangun karena kecapean.” Aryo pun terkekeh jahil.

“ARYO!!” Tiara memukul pelan pundak polos suaminya. Aryo meraih pergelangan tangannya, lalu mengecup punggung tangannya di sana.

Aryo mendekap tubuh Tiara dengan pelukannya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Tiara.

“Besok aku antar kamu ke kampus,” ucap Aryo.

“Emangnya kamu nggak kerja? Aku ada kelas pagi jam delapan lho.”

“Aku bisa datang telat ke kantor. Aku mau mastiin kalau istriku baik-baik aja.”

Tiara merasakan Aryo mengeratkan pelukan pada torsonya.

“Tiara, terima kasih. Have a sweet dream, Baby. I love you,” ucap Aryo sembari menyematkan kecupan hangat di dahi Tiara.

Sebelum memejamkam matanya, Tiara menatap wajah Aryo dan bergumam, “I love you too,” ucap Tiara sembari memberikan kecupan di sisi wajah prianya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo memutar stir menggunakan satu tangannya ketika memundurkan mobilnya. Setelah menarik rem tangan, mobil pun terparkir dengan sempurna di garasi basement rumah mereka.

Mesin mobil dan radio yang masih menyala memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar nyaman dan indah. Lagu milik Rex Orange Country berjudul Best Friend terdengar memenuhi mobil.

And that's because I wanna be your favorite boy I wanna be the one that makes your day The one you think about as you lie awake I can't wait to be your number one I'll be your biggest fan and you'll be mine But I still wanna break your heart and make you cry

Usai penggalan lirik tersebut, tatapan Aryo dan Tiara secara otomatis bertemu. Tangan Aryo yang tidak lagi memegang stir, menghela sisi wajah Tiara untuk mendekat, lalu ia mengusap lembut pipi Tiara menggunakan ibu jarinya.

I’m grateful to have you, Tiara,” ucap Aryo. Kehadiran Tiara di hidupanya terasa begitu cukup bagi Aryo.

Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara untuk mengecup bibir ranum wanitanya. Tangan kanan Aryo yang bebas bergerak mematikan radio dan mesin mobil karena tidak ingin apapun mengangggu kegiatan mereka. Penyatuan itu terjadi dengan tempo yang lambat, tapi begitu pasti dan terasa begitu sempurna.

Aryo dengan mudahnya menghela tubuh mungil Tiara untuk berpindah ke pangkuannya. Ketika keduanya menggunakan waktu untuk mengambil napas, Aryo malah mendapat tatapan protes dari Tiara.

Couple Kissing in Car

“Ada yang bilang nggak mau bikin istrinya kecapean. Tapi apa—”

Aryo memajukan tubuhnya untuk mengunci bibir Tiara dengan bibirnya, lagi. Hanya dengan satu kecupan singkat, dapat langsung membuat Tiara bungkam. Aryo menjaga tubuh Tiara di pangkuannya dengan melingkarkan lengannya di pinggangnya. Wajah Tiara memberengut kecil sekaligus merona.

“Pipi kamu merah kayak tomat. These cheeks are so cute,” ujar Aryo dengan nada menggodanya.

“Apa?” Tangan Tiara reflek memegangi keduanya pipinya yang benar saja terasa hangat. Aryo tertawa menyaksikan warna merah yang kontras dengan kulit putih Tiara.

“Mesin mobilnya mati Aryo, pantes aja jadi panas,” kilah Tiara. Aryo mengunci pandangan Tiara yang membuat perempuan itu terdiam malu.

“Nggak di sini juga Aryo, ini sempit,” peringat Tiara ketika ia mengerti kemana mereka akan menuju selanjutnya.

“Kursinya kan bisa dimundurin,” ujar Aryo pelan.

Kemudian yang terjadi adalah Tiara mendapati Aryo memundurkan kursinya, sehingga bagian mobil yang mereka tempati menjadi sedikit lebih luas.

“Laki-laki dengan segala idenya,” ujar Tiara.

“Tapi kamu suka ide itu kan,” ujar Aryo dan kembali menyatukan belah bibir mereka. Kedua lengan kekar Aryo menghela pinggang Tiara semakin mendekat untuk memudahkan aktivitas mereka.

Tiara yang merasakan penyatuan tersebut semakin intens, berusaha mendapatkan kekuatan dengan melingkarkan lenganya di seputaran leher Aryo dan juga untuk mempermudah segalanya.

Tempo yang lebih cepat menjadikan jok mobil bergerak dengan konstan. Pajero hitam itu menjadi saksi bisu atas kegiatan keduanya menyalurkan kasih.

Jemari Tiara menelusup masuk di antara helaian rambut legam Aryo yang terasa halus. Ia meremas pelan surai itu ketika Aryo melancarkan kecupan di sekitar tengkuk hingga turun ke bagian atas dadanya.

We need a room,” ucap Tiara ketika Aryo menghentikan kegiatannya.

Of course, Honey.” Aryo menyatukan keningnya dengan kening Tiara, tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah Tiara yang permukaan kulitnya terasa lembab dan hangat. Peluh sama-sama membanjiri mereka diiringi debaran membahagiakan yang mengisi rogga dada keduanya.

***

“Sementara leatakin barang-barang di lantai satu aja. Besok, tolong pindahin ke lantai dua,” tutur Aryo kepada Erza dan Egha.

Keduanya pun menuruti perintah atasan mereka dan hanya membawakan barang-barang dari depan rumah sampai ke ruang tamu lantai satu. Erza dan Egha pun pamit dari hadapan Aryo dan Tiara sebelum meninggalkan keduanya.

“Kenapa barang-barangnya nggak dibawa langsung ke lantai dua?” tanya Tiara yang bingung atas perintah Aryo itu.

“Biar tempat ini cuma jadi miliki kita, Tiara.” Aryo mengerahkan lengan kekarnya untuk meraih tubuh ramping Tiara dan menggendong perempuan itu persis seperti koala. Tiara yang terkejut atas perlakuan Aryo yang tiba-tiba itu, reflek mengaitkan lengannya di pundak Aryo untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Aryo menaruh lengannya di bawah kedua paha Tiara, menjaga Tiara tetap aman bersamanya. Masih tetap dalam posisi seperti itu, mereka menuju lantai dua. Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Aryo sembari menatap wajah rupawan suaminya dari posisinya nyamannya saat ini.

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Aryo terkekeh karena tingkah Tiara yang sedari tadi hanya menatapnya.

Tiara menggeleng, membuat rambut panjangnya yang diikat ponytail bergerak lucu. Tiara mengeratkan pelukannya pada pundak Aryo, ia membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.

Mereka sampai di lantai dua dan langsung menuju kamar.

“Dimana kuncinya?” Aryo mencari-cari kunci kamar yang tidak ia temukan di kantong celananya.

“Kayaknya kita perlu minta tolong bantuan Erza atau Egha. Kamu pasti lupa naruh kuncinya,” ujar Tiara.

“Nggak perlu. Rumah ini punya banyak kamar, Ra.”

“Kayaknya tempat ini lebih cocok untuk disewain deh,” ucap Tiara.

“Kita nggak perlu sewain tempat ini, Ra.”

“Kenapa? Rumah ini besar lho, kalau cuma kita berdua sepi. Lantai satu atau lantai tiga bisa banget kalau mau disewain.”

“Nanti tempat ini akan ramai dengan kehadiran anak-anak kita.”

“Rumah ini besar banget, Aryo. Kamu mau punya anak berapa emangnya?”

We’ll see.” Aryo menatapnya sembari tersenyum simpul, lalu memutar langkahnya menuju kamar lain yang tadi pria itu sebutkan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo memutar stir menggunakan satu tangannya ketika memundurkan mobilnya. Setelah menarik rem tangan, mobil pun terparkir dengan sempurna di garasi basement rumah mereka.

Mesin mobil dan radio yang masih menyala memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar nyaman dan indah. Lagu milik Rex Orange Country berjudul Best Friend terdengar memenuhi mobil.

And that's because I wanna be your favorite boy I wanna be the one that makes your day The one you think about as you lie awake I can't wait to be your number one I'll be your biggest fan and you'll be mine But I still wanna break your heart and make you cry

Usai penggalan lirik tersebut, tatapan Aryo dan Tiara secara otomatis bertemu. Tangan Aryo yang tidak lagi memegang stir, menghela sisi wajah Tiara untuk mendekat, lalu ia mengusap lembut pipi Tiara menggunakan ibu jarinya.

I’m grateful to have you, Tiara,” ucap Aryo. Kehadiran Tiara di hidupanya terasa begitu cukup bagi Aryo.

Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara untuk mengecup bibir ranum wanitanya. Tangan kanan Aryo yang bebas bergerak mematikan radio dan mesin mobil karena tidak ingin apapun mengangggu kegiatan mereka. Penyatuan itu terjadi dengan tempo yang lambat, tapi begitu pasti dan terasa begitu sempurna.

Aryo dengan mudahnya menghela tubuh mungil Tiara untuk berpindah ke pangkuannya. Ketika keduanya menggunakan waktu untuk mengambil napas, Aryo malah mendapat tatapan protes dari Tiara.

Couple Kissing in Car

“Ada yang bilang nggak mau bikin istrinya kecapean. Tapi apa—”

Aryo memajukan tubuhnya untuk mengunci bibir Tiara dengan bibirnya, lagi. Hanya dengan satu kecupan singkat, dapat langsung membuat Tiara bungkam. Aryo menjaga tubuh Tiara di pangkuannya dengan melingkarkan lengannya di pinggangnya. Wajah Tiara memberengut kecil sekaligus merona.

“Pipi kamu merah kayak tomat. These cheeks are so cute,” ujar Aryo dengan nada menggodanya.

“Apa?” Tangan Tiara reflek memegangi keduanya pipinya yang benar saja terasa hangat. Aryo tertawa menyaksikan warna merah yang kontras dengan kulit putih Tiara.

“Mesin mobilnya mati Aryo, pantes aja jadi panas,” kilah Tiara. Aryo mengunci pandangan Tiara yang membuat perempuan itu terdiam malu.

“Nggak di sini juga Aryo, ini sempit,” peringat Tiara ketika ia mengerti kemana mereka akan menuju selanjutnya.

“Kursinya kan bisa dimundurin,” ujar Aryo pelan.

Kemudian yang terjadi adalah Tiara mendapati Aryo memundurkan kursinya, sehingga bagian mobil yang mereka tempati menjadi sedikit lebih luas.

“Laki-laki dengan segala idenya,” ujar Tiara.

“Tapi kamu suka ide itu kan,” ujar Aryo dan kembali menyatukan belah bibir mereka. Kedua lengan kekar Aryo menghela pinggang Tiara semakin mendekat untuk memudahkan aktivitas mereka.

Tiara yang merasakan penyatuan tersebut semakin intens, berusaha mendapatkan kekuatan dengan melingkarkan lenganya di seputaran leher Aryo dan juga untuk mempermudah segalanya.

Tempo yang lebih cepat menjadikan jok mobil bergerak dengan konstan. Pajero hitam itu menjadi saksi bisu atas kegiatan keduanya menyalurkan kasih.

Jemari Tiara menelusup masuk di antara helaian rambut legam Aryo yang terasa halus. Ia meremas pelan surai itu ketika Aryo melancarkan kecupan di sekitar tengkuk hingga turun ke bagian atas dadanya.

We need a room,” ucap Tiara ketika Aryo menghentikan kegiatannya.

Of course, Honey” Aryo menyatukan keningnya dengan kening Tiara, tangannya bergerak untuk mengusap sisi wajah Tiara yang permukaan kulitnya terasa lembab dan hangat. Peluh sama-sama membanjiri mereka diiringi debaran membahagiakan yang mengisi rogga dada keduanya.

***

“Sementara leatakin barang-barang di lantai satu aja. Besok, tolong pindahin ke lantai dua,” tutur Aryo kepada Erza dan Egha.

Keduanya pun menuruti perintah atasan mereka dan hanya membawakan barang-barang dari depan rumah sampai ke ruang tamu lantai satu. Erza dan Egha pun pamit dari hadapan Aryo dan Tiara sebelum meninggalkan keduanya.

“Kenapa barang-barangnya nggak dibawa langsung ke lantai dua?” tanya Tiara yang bingung atas perintah Aryo itu.

“Biar tempat ini cuma jadi miliki kita, Tiara.” Aryo mengerahkan lengan kekarnya untuk meraih tubuh ramping Tiara dan menggendong perempuan itu persis seperti koala. Tiara yang terkejut atas perlakuan Aryo yang tiba-tiba itu, reflek mengaitkan lengannya di pundak Aryo untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Aryo menaruh lengannya di bawah kedua paha Tiara, menjaga Tiara tetap aman bersamanya. Masih tetap dalam posisi seperti itu, mereka menuju lantai dua. Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Aryo sembari menatap wajah rupawan suaminya dari posisinya nyamannya saat ini.

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Aryo terkekeh karena tingkah Tiara yang sedari tadi hanya menatapnya.

Tiara menggeleng, membuat rambut panjangnya yang diikat ponytail bergerak lucu. Tiara mengeratkan pelukannya pada pundak Aryo, ia membenamkan kepalanya di dada bidang pria itu.

Mereka sampai di lantai dua dan langsung menuju kamar.

“Dimana kuncinya?” Aryo mencari-cari kunci kamar yang tidak ia temukan di kantong celananya.

“Kayaknya kita perlu minta tolong bantuan Erza atau Egha. Kamu pasti lupa naruh kuncinya,” ujar Tiara.

“Nggak perlu. Rumah ini punya banyak kamar, Ra.”

“Kayaknya tempat ini lebih cocok untuk disewain deh,” ucap Tiara.

“Kita nggak perlu sewain tempat ini, Ra.”

“Kenapa? Rumah ini besar lho, kalau cuma kita berdua sepi. Lantai satu atau lantai tiga bisa banget kalau mau disewain.”

“Nanti tempat ini akan ramai dengan kehadiran anak-anak kita.”

“Rumah ini besar banget, Aryo. Kamu mau punya anak berapa emangnya?”

We’ll see.” Aryo menatapnya sembari tersenyum simpul, lalu memutar langkahnya menuju kamar lain yang tadi pria itu sebutkan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukuman untuk Tiara adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo hanya ingin menikmati waktunya bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki profesional.

Candle Light Dinner

“Di resort dan pantai cuma akan ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan penutup setelah menyantap menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.

“Aku sewa pulau ini sepenuhnya, biar cuma ada kita,” terang Aryo.

Keduanya pun saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang otomatis menular pada Aryo.

“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo sangsi. Ia menebak bahwa makanan ini memiliki harga yang tidak di atas wajar.

“Bisa ditukar dengan satu kendaraaan roda dua,” jawab Aryo sambil terkekeh.

Tiara melongo mendengarnya. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tinggal tersisa setengah. Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.

The Golden Phoenix Cupcake

“Aryo, thank you for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum di bibir ranumnya.

I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat.

“Mungkin suatu hari kamu akan tau semuanya. Tapi aku mau kamu selalu ingat, perasaanku ke kamu nggak akan berubah.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diutarakan.

“Apa yang lagi kamu bicarain Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.

“Tiara, kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.

“Pembicaraan itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.

So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.

Yes. You’re already stuck in my mind. Always,” ungkap Aryo.

Mereka berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.

“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.

“Terus kamu mau aku ngapain?” tanya Aryo.

“Nggak tau. Pokoknya kamu nggak romantis,” Tiara menendang-nendangkan langkah kaki pelan sambil matanya yang melihat jalan berpasir putih yang mereka lalui.

Tiara semakin merasa sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.

Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.

“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.

“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”

“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”

“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya kan romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.

Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.

“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya.

Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara tersebut membuat Aryo menurunkan posisi tangannya kembali menjadi posisi semula.

“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.

“Kalau gitu, suami juga harus romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.

Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal. Menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.

***

Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan masalah atau lari dari masalah itu. Aryo paham makna kalimat itu sekarang. Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada hal janggal tentang Tiara yang ia temukan sebelum mereka menikah.

Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia telah menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiara terhadapnya.

Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar. Setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Situasinya pun berubah menjadi rumit, tapi Aryo justru memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat gadis itu mencintainya.

Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di halaman depan. Pria itu berjalan menuju kamar dan mencari keberadaan Tiara.

“Tiara?” panggilnya.

“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.

“Kenapa mandi malam-malam gini?” tanya Aryo dari depan pintu kamar mandi.

Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang mungkin membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.

Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.

Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir 30 menit tidak ada tanda-tanda Tiara akan keluar dari sana.

“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara di sana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur coklat menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.

“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.

“Cuacanya lumayan panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.

Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya.

“Masih marah?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo tersenyum cerah.

“Masih sih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.

“Bukannya kita harus baikan?” Aryo menghembuskan nafasnya. “Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”

Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, lalu pria itu tersenyum sekilas. Entah keberapa kalinya Tiara berdebar bahkan hanya dengan menyaksikan senyum itu.

Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara hanya memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasana nampak normal, tapi saat ini terasa agak berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.

Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.

“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang seketika membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.

Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran dengan jemari Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.

“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya di atas tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.

“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.

Tiara menatap Aryo sesaat. “Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?”

Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk yakin, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.

“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.”

Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara. “Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. I love you, Ra,” ucap Aryo dengan tulus.

Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.

You will be mine tonight, Ra” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman di dekapan pria itu.

***

“Aku mau tanya sesuatu, kamu jawab ya. Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Tiara.

“Hmm ... aku suka banyak makanan,” jawab Aryo sambil menyipitkan matanya. Ia pikir dirinya tidak terlalu pemilih kalau soal makanan.

“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya memberengut lucu. Aryo yang melihatnya pun menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.

“Oke, kalau cuma satu, aku pilih American food,” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat untuk mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.

“Banyak dong, curang kamu. Makanannya dong, bukan jenisnya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara meebarkan matanya dan menahan senyumnya.

Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.

“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.

“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”

“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kalau tempat favorit kamu?”

“Switzerland.”

“Kenapa Switzerland?”

Switzerland is like a paradise. It's such a beautiful place.

“Kamu udah pernah ke sana?”

“Belum. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”

“Aku pengen tau aja sih. Aku mau tahu lebih banyak tentang kamu,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.

Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku Tiara dan senyuman perempuan itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal ketika menyaksikannya.

“Okee, kamu mau tanya apa lagi? Aku bisa jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.

“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”

“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena peceraian. Maksud kamu yang mana?”

“Perceraian, maybe.”

“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”

“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”

“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu. Aku nggak mau berpisah sama kamu.”

“Meskipun jalan yang harus dilaluin punya banyak duri yang bisa aja bikin kaki kamu berdarah?”

Aryo mengangguk. Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.

I want you to know. I’m who I am right now because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.

You are the reason, every hope and every dream I’ve had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.

“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap air mata di pipi Tiara setelah keduanya mengakhiri ciumannya.

“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku diam-diam pergi sama mama ke dokter,” cerita Tiara.

“Oke. Mama punya ide apa lagi?”

“Ngecek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, jadi mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, Aryo junior akan segera hadir. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.

“Emang bisa secepet itu Ra?”

“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”

“Ya, Tuhan. Ramuan apa itu Tiara?” Kedua mata Aryo sukses melebar. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan tersebut begitu menguasai dan mendesaknya untuk menyentuh Tiara.

“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juga minum rumuannya. Tujuannya biar makin subur dan cepat jadi,” ucap Tiara dengan suara pelan. Lantas Tiara tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.

“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”

“Serius kamu mau?” tanya Tiara.

Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Menurut kamu gimana?”

***

Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa begitu berkesan bagi keduanya. Keduanya menikmati waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang menakjubkan ini.

Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang lama.

Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk ketika menyapa permukaan kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.

“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.

“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara membuatnya tampak tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.

“Aku kira kamu kode minta yang semalam diulang lagi.”

“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.

Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo tersebht.

Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo juga atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup kuat untuk mereka melakukannya sampai pagi hari. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo.

Keduanya merasa sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintainya, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.

Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.

“Aku nggak bisa cepet selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.

“Kita honeymoon-nya sebentar banget Ra,” ujar Aryo.

“Iya sih. Tapi bukannya hari pemilihan udah dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?”

“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?

I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau kerjanya udah selesai,” ujar Tiara.

Aryo tersenyum. Ia merubah posisinya dan membalikkan tubuh Tiara sehingga mereka kini saling berhadapan.

“Iya. Aku akan langsung pulang. Janji,” ujar Aryo sembari mengulaskan senyumnya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping, perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.

Namun tiba-tiba Tiara teringat kembali satu hal mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan pria itu tidak akan selamanya bisa menjadikannya tempat untuk pulang.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukuman untuk Tiara adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo hanya ingin menikmati waktunya bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki profesional.

Candle Light Dinner

“Di resort dan pantai cuma akan ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan penutup setelah menyantap menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.

“Aku sewa pulau ini sepenuhnya, biar cuma ada kita,” terang Aryo.

Keduanya pun saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang otomatis menular pada Aryo.

“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo sangsi. Ia menebak bahwa makanan ini memiliki harga yang tidak di atas wajar.

“Bisa ditukar dengan satu kendaraaan roda dua,” jawab Aryo sambil terkekeh.

Tiara melongo mendengarnya. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tinggal tersisa setengah. Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.

The Golden Phoenix Cupcake

“*Aryo, thank you for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum manisnya.

I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat dari suaminya.

“Mungkin suatu hari kamu akan tau semuanya. Tapi aku mau kamu selalu ingat, perasaanku ke kamu nggak akan berubah.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diutarakan.

“Apa yang lagi kamu bicarain Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.

“Tiara, kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.

“Pembicaraan itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.

So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.

Yes. You’re already stuck in my mind. Always,” ungkap Aryo.

Mereka berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.

“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.

“Terus kamu mau aku ngapain?” tanya Aryo.

“Nggak tau. Pokoknya kamu nggak romantis,” Tiara menendang-nendangkan langkah kaki pelan sambil matanya yang melihat jalan berpasir putih yang mereka lalui.

Tiara semakin merasa sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.

Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.

“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.

“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”

“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”

“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya kan romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.

Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.

“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya.

Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara tersebut membuat Aryo menurunkan posisi tangannya kembali menjadi posisi semula.

“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.

“Kalau gitu, suami juga harus romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.

Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal. Menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.

***

Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan masalah atau lari dari masalah itu. Aryo paham makna kalimat itu sekarang. Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada hal janggal tentang Tiara yang ia temukan sebelum mereka menikah.

Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia telah menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiara terhadapnya.

Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar. Setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Situasinya pun berubah menjadi rumit, tapi Aryo justru memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat gadis itu mencintainya.

Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di halaman depan. Pria itu berjalan menuju kamar dan mencari keberadaan Tiara.

“Tiara?” panggilnya.

“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.

“Kenapa mandi malam-malam gini?” tanya Aryo dari depan pintu kamar mandi.

Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang mungkin membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.

Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.

Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir 30 menit tidak ada tanda-tanda Tiara akan keluar dari sana.

“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara di sana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur coklat menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.

“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.

“Cuacanya lumayan panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.

Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya.

“Masih marah?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo tersenyum cerah.

“Masih sih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.

“Bukannya kita harus baikan?” Aryo menghembuskan nafasnya. “Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”

Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, lalu pria itu tersenyum sekilas. Entah keberapa kalinya Tiara berdebar bahkan hanya dengan menyaksikan senyum itu.

Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara hanya memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasana nampak normal, tapi saat ini terasa agak berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.

Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.

“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang seketika membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.

Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran dengan jemari Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.

“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya pada tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.

“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.

Tiara menatap Aryo sesaat. “Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?”

Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk yakin, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.

“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.”

Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara. “Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Kamu telah sepenuhnya mengisi hati aku, Tiara. I love you,” ucap Aryo dengan tulus.

Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.

You will be mine tonight, Ra” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman di dekapan pria itu.

***

“Aku mau tanya sesuatu, kamu jawab ya. Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Tiara.

“Hmm ... aku suka banyak makanan,” jawab Aryo sambil menyipitkan matanya. Ia pikir dirinya tidak terlalu pemilih kalau soal makanan.

“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya memberengut lucu. Aryo yang melihatnya pun menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.

“Oke, kalau cuma satu, aku pilih American food,” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat untuk mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.

“Banyak dong, curang kamu. Makanannya dong, bukan jenisnya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara meebarkan matanya dan menahan senyumnya.

Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.

“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.

“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”

“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kalau tempat favorit kamu?”

“Switzerland.”

“Kamu udah pernah ke sana?”

“Belum. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”

Tiara menyatukan alisnya, tampak berpikir. Ia juga tidak tahu pasti jawabannya. “Aku pengen tau aja sih. Aku mau tahu lebih banyak tentang kamu,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.

Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku dan senyuman itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal.

“Okee, kamu mau tanya apa lagi? Aku akan jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.

“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”

“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena peceraian. Maksud kamu yang mana?”

“Perceraian, maybe.”

“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”

“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”

“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu. Aku nggak mau berpisah sama kamu.”

“Meskipun jalan yang harus dilaluin punya banyak duri yang bisa aja bikin kaki kamu berdarah?”

Aryo mengangguk. Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.

I want you to know. I’m who I am right now because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.

You are the reason, every hope and every dream I’ve had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.

“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap air mata di pipi Tiara setelah keduanya mengakhiri ciumannya.

“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku diam-diam pergi sama mama ke dokter,” cerita Tiara.

“Oke. Mama punya ide apa lagi?”

“Ngecek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, jadi mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, Aryo junior akan segera hadir. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.

“Emang bisa secepet itu Ra?”

“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”

“Ya, Tuhan. Ramuan apa itu Tiara?” Kedua mata Aryo sukses melebar. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan tersebut begitu menguasai dan mendesaknya untuk menyentuh Tiara.

“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juga minum rumuannya. Tujuannya biar makin subur dan cepat jadi,” ucap Tiara dengan suara pelan. Lantas Tiara tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.

“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”

“Serius kamu mau?” tanya Tiara.

Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Menurut kamu gimana?”

***

Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa begitu berkesan bagi keduanya. Keduanya menikmati waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang menakjubkan ini.

Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang lama.

Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk ketika menyapa permukaan kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.

“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.

“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara membuatnya tampak tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.

“Aku kira kamu kode minta yang semalam diulang lagi.”

“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.

Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo tersebht.

Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo juga atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup kuat untuk mereka melakukannya sampai pagi hari. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo.

Keduanya merasa sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintainya, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.

Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.

“Aku nggak bisa cepet selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.

“Kita honeymoon-nya sebentar banget Ra,” ujar Aryo.

“Iya sih. Tapi bukannya hari pemilihan udah dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?”

“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?

I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau kerjanya udah selesai,” ujar Tiara.

Aryo tersenyum. Ia merubah posisinya dan membalikkan tubuh Tiara sehingga mereka kini saling berhadapan.

“Iya. Aku akan langsung pulang. Janji,” ujar Aryo sembari mengulaskan senyumnya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping, perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.

Namun tiba-tiba Tiara teringat kembali satu hal mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan pria itu tidak akan selamanya bisa menjadikannya tempat untuk pulang.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon Felicia sebelum mereka berangkat. Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Ma,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara mau minta maaf. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Nggak mau nunggu di mobil aja?” saran Tiara.

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Ketika Aryo baru masuk dan menghadap ke arah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak hal yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Yaudah gue turun dulu ya. Kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk turun, tapi Tiara menahan lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya, tapi terlihat bodoh disaat bersamaan. Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan yang tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, Aryo dan Tiara disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih. Selain itu alam cantik di sekitaran pantai nampak begitu menakjubkan, membuat pikiran terasa tenang dan rileks ketika memandangnya.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang dari sisinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan antusias. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, sambil menorehkan senyum jahil khasnya.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau begitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya, Nyonya Tiara,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Ra, I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menyelam ke iris legam Tiara. “I'm falling for you, Tiara,” Aryo mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me. I want to see your smile every day, and make you happy to be my side. I love you more than I can ever saying. Maaf, aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara mencerna semua kalimat yang Aryo utarakan, ia lantas menatap Aryo dengan tatapan harunya. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar merasa bahagia setiap waktu yang dijalaninya bersama Aryo. Momen tersebut akan selalu tersimpan di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

I will keep this happy moment with you in my memory,” Tiara mengangkat tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo. Aryo balas menatap Tiara penuh cinta, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap tangan Tiara yang masih berada di sisi wajahnya.

Tiara berpikir bahwa ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan pria ini. Meskipun saat itu Tiara belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Aryo dengan tatapan sayangnya, “Thank you for loving me. You know, from the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

Tiara and Aryo at Beach

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon mama sebelum mereka berangkat pagi ini. Mereka telah mempersiapkan semuanya untuk trip honeymoon ke Maldives.

Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mama,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaiin Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara minta maaf ya. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo pun berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Bisa naik ke mobil sebentar?”

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Tepat ketika Aryo baru masuk dan menghadap kearah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak cerita yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Gue turun dulu ya, kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untukturun, tapi Tiara menaha lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya tapi terlihat bodoh disaat bersamaan.

Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, mereka disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih, pasir yang putih, serta alam cantik di sekitaran pantai yang menakubkan. Seketika keindahan tersebut membuat pikiran terasa tenang dan rileks.

Tiara benar-benar merasa bahagia. Momen ini akan tersimpan selamanya di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

Tiara pikir ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan Aryo. Meskipun saat itu Tiara juga belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan Tiara berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Aryo selalu mampu membuatnya bahagia setiap detik keberadaan lelaki itu di dekatnya.

Tiara memeperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan hanya dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang darinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan semangat. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, diiringi senyum jahil khas gadis itu.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau gitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Ya?”

I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menatap Tiara lembut. “I'm falling for you, Tiara.” Aryo menjeda ucapannya dan pria itu mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me, I want to see your smile every day, and make your life happy. I love you more than I can ever saying. Maaf aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan terharunya. Gadis itu lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap wajah Aryo dengan penuh sayang, “Thank you for loving me. From the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon mama sebelum mereka berangkat pagi ini. Mereka telah mempersiapkan semuanya untuk trip honeymoon ke Maldives.

Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mama,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaiin Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara minta maaf ya. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo pun berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Bisa naik ke mobil sebentar?”

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Tepat ketika Aryo baru masuk dan menghadap kearah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak cerita yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Gue turun dulu ya, kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untukturun, tapi Tiara menaha lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya tapi terlihat bodoh disaat bersamaan.

Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, mereka disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih, pasir yang putih, serta alam cantik di sekitaran pantai yang menakubkan. Seketika keindahan tersebut membuat pikiran terasa tenang dan rileks.

Tiara benar-benar merasa bahagia. Momen ini akan tersimpan selamanya di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

Tiara pikir ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan Aryo. Meskipun saat itu Tiara juga belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan Tiara berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Aryo selalu mampu membuatnya bahagia setiap detik keberadaan lelaki itu di dekatnya.

Tiara memeperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan hanya dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang darinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan semangat. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, diiringi senyum jahil khas gadis itu.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau gitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Ya?”

I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menatap Tiara lembut. “I'm falling for you, Tiara.” Aryo menjeda ucapannya dan pria itu mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me, I want to see your smile every day, and make your life happy. I love you more than I can ever saying. Maaf aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan terharunya. Gadis itu lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap wajah Aryo dengan penuh sayang, “Thank you for loving me. From the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷