alyadara

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon mama sebelum mereka berangkat pagi ini. Mereka telah mempersiapkan semuanya untuk trip honeymoon ke Maldives.

Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mama,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaiin Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara minta maaf ya. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo pun berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Bisa naik ke mobil sebentar?”

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Tepat ketika Aryo baru masuk dan menghadap kearah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak cerita yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Gue turun dulu ya, kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untukturun, tapi Tiara menaha lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya tapi terlihat bodoh disaat bersamaan.

Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, mereka disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih, pasir yang putih, serta alam cantik di sekitaran pantai yang menakubkan. Seketika keindahan tersebut membuat pikiran terasa tenang dan rileks.

Tiara benar-benar merasa bahagia. Momen ini akan tersimpan selamanya di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

Tiara pikir ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan Aryo. Meskipun saat itu Tiara juga belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan Tiara berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Aryo selalu mampu membuatnya bahagia setiap detik keberadaan lelaki itu di dekatnya.

Tiara memeperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan hanya dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang darinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan semangat. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, diiringi senyum jahil khas gadis itu.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau gitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Ya?”

I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menatap Tiara lembut. “I'm falling for you, Tiara.” Aryo menjeda ucapannya dan pria itu mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me, I want to see your smile every day, and make your life happy. I love you more than I can ever saying. Maaf aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan terharunya. Gadis itu lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap wajah Aryo dengan penuh sayang, “Thank you for loving me. From the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika ada perempuan lain mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahan untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri sejak di stasiun, tapi sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.

Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.

Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu berhubungan langsung dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.

Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan keluar untuk mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain karena kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu, kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan tenaga.

Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.

“Lagi cari apa?”

Tiara lantas menoleh ke arah sebuah suara yang menyapanya ketika ia baru akan menekan tombol lift.

“Cari suami gue,” ucap Tiara pada Aurorae.

“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu,” ujar Aurorae lagi.

“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”

“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae melipat kedua lengannya di depan dada.

“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah jadi suami orang, hmm?”

Tiara menorehkan senyumnya sekilas, lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.

“Lepas,” ucap Tiara.

“Lo harus tahu satu hal yang akan buat kamu terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”

Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia berusaha menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.

Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.

“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak percayanya.

“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan di sini.

“Ohh, dia penting banget ya buat lo?” tanya Tiara.

Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.

“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.

***

Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.

Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada di sana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.

“Udah ada info soal Tiara?” tanya Aryo pada Rama.

Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.

***

Aryo menghembuskan nafasnya sambil menatap pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah. Beberapa waktu lalu Aryo memang sudah mengganti akses masuk rumahnya, sehingga Tiara bisa mengaksesnya sendiri menggunakan visualnya.

“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.

Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan, ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.

“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.

“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi honeymoon sejak awal kita nikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja,” jelas Aryo.

Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.

“Gue nggak mau buat semuanya jadi semakin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga juga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah secepatnya. Keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, lo buka dulu pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintu sudah terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan kondisi Tiara yang nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.

“Ra, are you okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.

“Gue cuma demam,” ujar Tiara.

Aryo mengarahkan punggung tangannya untuk menyentuh kening Tiara.

“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.

“Lo emang harus cepat sembuh, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.

“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”

“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue yang kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinya ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung dimana letak kesalahan Aryo. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo, pria yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwa itu kesalahan Aryo.

“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun caranya,” sambung Aryo.

“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.

“Lo bisa kasi tau gue, apapun itu.”

“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh. Ohiya, gue juga mau lego disney yang unlimited edition itu.”

***

Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat yang cukup. Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.

“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya, memberi obat untuk Tiara, serta menemaninya menyusun lego disney baru yang seketika mencipatakan raut bahagia di paras Tiara.

“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.

“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.

“Berarti nanti dimaafin, kan?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.

“Tadinya gue merasa egois banget saat ingin dapet perhatian lebih dari lo. Tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Ohh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.

“Jadi, kita mau pergi honeymoon kemana?” lanjut Tiara sambil menatap Aryo lekat. Mata bulat gadis itu terlihat berbinar dan Aryo selalu suka menatap kedua mata indah itu.

“Lo belum sembuh total, Tiara,” ujar Aryo.

“Gue udah sembuh, Aryo. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue.” Tiara sengaja menatap Aryo dengan seksama hingga membuat Aryo salah tingkah.

“Oke, lusa kita ke Maldives. Atau lo punya tempat lain yang mau lo kunjungin?”

“Maldives sounds good. Gue suka pantai.” Tiara tersenyum semringah hingga menampakkan deretan gigi depannya.

“Lo mau tidur jam berapa? Liat, ini udah jam dua belas. Besok lagi ya nyusun legonya,” bujuk Aryo pada Tiara yang masih terlihat bersemangat menyusun perintalan mainannya yang jumlahnya tidak sedikit.

“Oke. Nyusun lego bisa di lanjutin besok. Yang penting kita jadi ke Maldives.” Tiara lekas bergerak merapikan mainan barunya dan meletakkan boksnya di sudut kamarnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara mendapati Rama-lah yang menemuinya setelah ia menunggu hampir tiga puluh menit di lobi hotel. Rama mengutarakan permintaan maafnya karena telah membuat Tiara menunggu cukup lama.

“Rama, boleh gue tau dimana suami gue?” tanya Tiara pada Rama ketika mereka menaiki lift. Rama mengatakan Tiara bisa menunggu di kamar hotel sampai Aryo datang menemuinya.

“Pak Bos lagi tinjauan lokasi sama—”

“Aurorae?”

“Benar, Bu Bos. Pak Bos lagi tinjauan sama Mbak Aurorae dan timnya.”

“Kira-kira selesai jam berapa?”

“Kalau soal itu, tadi Bos bilang diusahain secepatnya.”

Tiara lantas mengulaskan senyum semringahnya mendengar jawaban Rama.

***

Aryo berpikir bahwa istrinya itu memang ajaib dan seperti tidak kehabisan akal. Satu malam keberadaannya di Lembang, ia mendapat sebuah kabar dari pihak hotel bahwa seorang wanita bernama Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo ingin menemuinya.

Sementara tadi siang Aryo masih harus melakukan tinjauan project yang berada di bawah tanggung jawabnya. Aryo terjebak macet di jalanan kota Lembang ketika perjalanan pulang. Tiba-tiba ia jadi teringat pembicaraannya dengan Aurorae tadi siang.

“Kamu kenapa sih seharian ini?” tanya Aurorae yang melihat gelagat Aryo yang berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat memikirkan hal lain sehingga beberapa kali Aurorae mendapati Aryo kurang fokus.

“Emangnya aku kenapa?” tanya Aryo.

“Kayak bukan kamu aja. Karena istri kamu? Udah aku bilang, lebih baik kamu nggak menikahi dia.”

“Ini nggak ada hubungannya dengan menikahinya atau enggak, Aurorae.” Aryo menatap Aurorae, lalu pria itu menghembuskan napasnya. “Itu adalah keputusan yang aku ambil sendiri tanpa ada campur tangan siapa pun.”

“Kamu emang udah ada hubungan sama dia, kan? Apa itu sebelum kita memutuskan berpisah?” Aurorae menatapnya penuh luka dan matanya berkaca-kaca.

“Tiara nggak ada hubungannya sama sekali sama masa lalu kita. Aku harap kamu ngerti itu,” pungkas Aryo mengakhiri pembicaraannya dengan Aurorae.

“Bos, kita udah sampai.” Suara Rama menyadarkan Aryo dari pikiran yang barusan bersarang di kepalanya. Aryo mengucapkan terima kasih pada asistennya itu dan segera turun dari mobil.

***

Aryo melepas sepatunya ketika ia sampai di kamar hotel. Ia melenggang menuju kamar dan mendapati Tiara yang sudah menyatu dengan kasur.

Aryo memperhatikan cara tidur Tiara yang menurutnya ajaib. Kepala gadis itu menyembul keluar dari selimut, sementara tubuhnya tenggelam di bawah selimut yang besar.

“Lo pulangnya lama banget ... “ Tiara berbicara di dalam tidurnya. Aryo yang mendengar ucapan tersebut lantas memberikan atensinya pada Tiara.

“Maaf ya,” ucap Aryo di dekat Tiara.

Tiara membalas ucapan Aryo dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Suaminya kerja sampe malam bareng mantannya, huft. Bikin istrinya bete,” Tiara membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Aryo.

Aryo melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Ia berpindah untuk menghadap Tiara dan menumpu tubuhnya dengan kedua lutut di lantai.

“Kamu bete ya?” tanya Aryo sambil terkekeh.

“Iyalah. Perempuan itu sengaja ngatur semuanya untuk ngerebut suami aku.” Tiara merentangkan satu tangannya ke udara, lalu diraih oleh Aryo untuk diturunkan kembali. Aryo bergerak memperbaiki posisi selimut yang turun hingga kembali menutupi tubuh Tiara sampai ke bahunya.

“Nggak ada yang saling merebut disini, Tiara,” ucap Aryo.

“Oke deh, aku percaya. Aku bakal bilang aku kangen kamu, kalau kamu juga bilang.”

Kedua alis Aryo bertaut mendengar kalimat yang diucapan Tiara, tapi sesaat kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Kamu diam aja, berarti nggak kangen aku ya??” gumam Tiara lagi.

“Aku kangen kamu,” ucap Aryo tulus dari dalam hatinya. Netranya memandang wajah Tiara dengan pandangan sayang.

“Aku juga kangen kamu. Makanyarela jauh-jauh ke sini,” ujar Tiara.

“Ohya? Kamu jauh-jauh ke sini karena kangen aku?”

Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya dan Aryo tersenyum kecil melihat itu.

“Ayo kita tidur, aku ngantuk banget,” ucap Tiara.

“Aku mandi dulu ya—”

“Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pergi.”

Tangan Tiara mendarat di atas tangannya yang berada di sisi kasur. Aryo statis di posisinya, ia membiarkan Tiara memegangi tangannya sampai bebepa menit kemudian, gadis itu membuka matanya.

Tiara mendapat pemandangan pertamanya adalah Aryo, “Selamat ulang tahun ya. Maaf gue telat ngucapinnya secara langsung,” ucap Tiara dengan suara rendahnya khas bangun tidur. Mata sabit gadis itu kini telah sepenuhnya terbuka.

“Jauh-jauh cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya.

“Mau klarifikasi dan jauhin perempuan itu dari suami gue.” Tiara wajahnya berubah tidak suka ketika menyebutkan tujuan keduanya.

“Klarifikasi soal apa?”

Notes warna peach yang lo terima, bukan mama yang nulis.”

“Ohya? Terus siapa yang nulis notes itu?” Wajah Aryo nampak sedikit terkejut mendengar fakta tersebut.

“Gue yang nulis ucapan itu buat lo,” jelas Tiara.

Aryo menatapnya sejenak dan sekarang ia lebih terkejut, tapi perasaanya begitu bahagia. “Terima kasih, Tiara,” ucap Aryo lantas merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya.

“Sama-sama,” balas Tiara sembari mengulaskan senyumnya di balik punggung Aryo dan membalas pelukan lelaki itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Kedatangan Aryo ke acara keluarga besar mengundang tanya para anggota keluarga karena ia datang ke sana sendiri. Aryo tidak berniat menjelaskan apapun mengenai istrinya dan pernikahannya. Acara malam ini dilaksanakan untuk merayakan pengangkatan resmi presiden direktur yang baru. Saat Aryo mengambil segelas minuman soda di meja, Prawira Brodjohujodyo datang menghampirinya.

“Aryo, selamat ya, atas jabatan kamu yang baru. Kamu pantas mendapatkannya, cucuku,” ucap Prawira Brodjohujodyo diiringi senyuman di wajahnya.

“Makasih, Eyang,” balas Aryo sopan.

Prawira menatap cucunya dan menepuk pundaknya. “Sekarang perusahaan berada di kedua pundak kamu. Eyang harap kamu bisa menjadi pemimpin yang bijak dan adil.”

“Ohiya Eyang, Aryo boleh tanya satu hal?”

“Boleh. Kamu mau tanya apa memangnya?”

“Soal menjadi pemimpin yang bijak dan adil, Aryo masih perlu banyak belajar,” ujar Aryo sambil menatap sosok yang baru saja menghampiri mereka.

Prawira pun menoleh dan mendapati salah satu putranya bergabung dengannya dan Aryo.

“Mungkin Om Reynaldi bisa bantu Aryo. Aryo akan belajar lebih banyak lagi dari beliau,” ucap Aryo sebelum meneguk minuman dari gelasnya.

“Kamu benar. Kamu bisa belajar banyak dari Reynaldi. Dulu saat Reynaldi memimpin perusahaan, Harapan Jaya mengalami masa gemilangnya. Mungkin Eyang belum bisa bersikap adil pada keluarga sendiri, tapi Eyang percaya kamu dapat melakukannya, Aryo. Antara kamu dan El, kalian cucu Kakek yang sama-sama hebat. Kalian sudah melakukan yang terbaik sampai hari ini,” tutur Prawira.

“Aryo, selamat atas jabatan kamu yang baru. Om ikut senang, meskipun Om dan Eyang memberikan suara kami pada El. Tapi Om yakin, kamu bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita, melakukan semaksimal mungkin untuk memajukan perusahan,” ujar Reynaldi.

Aryo mengangguk, “Terima kasih Om. Om udah ngajarin banyak hal berharga untuk Aryo.”

***

Tiara mendapati ponselnya berdering ketika ia kembali dari kamar mandi. Tiara tidak langsung mengangkat panggilan tersebut ketika membaca ID call di layar ponselnya. Tiara lebih dulu menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu baru ia menggeser layar ponselnya ke tanda hijau.

“Halo?” sapanya.

“Tiara,” sapa balik suara yang sangat fameliar itu.

Tiara menahan isakan yang ingin lolos dari bibirnya kala mendengar suara yang amat dirindukannya itu.

“Boleh aku ketemu kamu?” Aryo kembali berbicara di telepon ketika Tiara tidak mengatakan apapun.

“Malam-malam gini?”

“Iya. Aku harus ngasih tau kamu sesuatu yang penting.”

“Oke. Aku juga mau ngasih tau sesuatu,” balas Tiara.

Setelah itu sambungan pun diakhiri. Tiara mengambil sesuatu dilaci nakas samping tempat tidurnya. Itu adalah sebuah amplop yang akan ia berikan pada Aryo ketika pria itu datang.

***

Aryo datang ke rumahnya dan meminta izin menemui Tiara kepada Ayah dan Bunda. Andi dan Alifia memberikannya izin untuk bertemu dan berbicara berdua.

“Gimana pun kalian masih suami istri. Ayah sama Bunda nggak punya hak melarang Aryo menemui istrinya,” ucap Andi sebelum membiarkan Aryo dan Tiara bicara berdua di ruang tamu.

Suasana malam hari di rumah Tiara sudah sepi karena kedua adiknya sudah terlelap. Untung saja Kelvin tidak mendapati Aryo datang kerumahnya, karena adiknya itu kerap kali menanyakan soal Aryo dan alasan kenapa kakaknya kembali ke rumah bukannya tinggal bersama Aryo.

“Aku juga mau bilang sesuatu. Tapi kamu bisa bilang duluan,” ujar Tiara membuka percakapan.

Aryo menatapnya dan pria itu sedikit berdeham sebelum berbicara. “Tiara, aku nggak ingin kita berpisah. Aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Aku tahu, kata maaf sebanyak apapun nggak akan pernah cukup untuk mengganti yang terjadi sebelas tahun lalu.”

“Semua yang udah kita lewatin, membuat aku punya satu tujuan, yaitu membahagiakan kamu. Aku akan berjuang untuk mengungkap kasus itu, Ra.”

“Kamu mau ngelakuin apa?” tanya Tiara mencoba mencerna kalimat Aryo.

“Aku mau orang yang ngelakuin perbuatan itu ke Ayah kamu mendapat balasan yang setimpal.”

Mata Tiara melebar dan ia menatap Aryo seolah omongan pria itu tidak serius. “Kamu tau, itu terlalu bahaya dan resikonya besar, Aryo. Kamu nggak bisa ngelawan keluarga kamu sendiri,” ucap Tiara dengan tatapan serius di kedua matanya.

“Aku ngelakuin itu sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami kamu, Tiara Aku nggak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia ninggalin luka itu baut kamu, Tiara.” Aryo mengambil kedua tangan Tiara untuk digenggam dengan tangannya.

“Kamu orang paling keras kepala yang aku tahu,” ucap Tiara.

“Aku tau, Ra,” Aryo menundunukkan kepalanya. Sesaat kemudian ia kembali menatap Tiara. “Ohiya, kamu mau ngomong apa ke aku? Aku udah selesai dan aku harap kamu akan dukung rencanaku.”

Tiara lantas menaruh sebuah amplop putih diatas meja. Aryo melihat benda itu dan melemparkan tatapan tanya pada Tiara.

“Gimana pun keadaan kita sekarang, kamu harus tetap tau soal ini,” ucap Tiara sebelum Aryo membuka dan mengambil kertas yang ada di dalam amplop tersebut.

Aryo membaca dengan seksama tulisan di kertas yang ada di tangannya itu. Surat itu menyatakan hasil pemeriksaan kandungan atas nama Ny. Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo yang berasal dari rumah sakit. Setelah membaca isinya, Aryo meletakkan kertas tersebut di atas meja. Tiara pun mendapati tatapan terkejut bercampur haru Aryo yang diarahkan padanya.

“Se-sejak kapan Ra?” ucap Aryo dengan sedikit terbata.

“Kata dokter usianya baru 2 minggu. Waktu diperiksa, kondisinya sehat dan semuanya bagus,” papar Tiara.

Tiara menata Aryo dan tersenyum lembut, “Selamat ya. Kamu akan jadi seorang Ayah.”

Aryo nampak terkejut dan berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Tiara. Ia sungguh yakin kalau dirinya tidak sama sekali salah mendengar.

“Ra, ini beneran kan?” tanya Aryo. Tiara pun mengangguk menjawab pertanyaannya.

Aryo menghembuskan napasnya, “Apa dia bikin kamu repot selama ini?” tanya Aryo.

“Sedikit sih. Dokter bilang itu hal yang wajar waktu awal kehamilan,” papar Tiara.

Aryo bergerak dari posisinya, ia lantas berlutut di lantai, lalu berbicara di dekat perut Tiara.

“Hai, little one. Kamu sayang sama ibu kamu kan? Kamu jangan buat ibu terlalu cape ya. Terimakasih ya, kamu telah hadir di antara kami. Kamu harus tau, kami sayang banget sama kamu,” Aryo mengulaskan senyum bahagianya. Sadanya terasa berdesir hangat dan air matanya tidak dapat di bendung lagi.

Tiara menyaksikan pertama kalinya Aryo menangis di hadapannya. Hatinya berdesir hangat hingga menimbulkan rona kemerahan di kedua pipinya.

This is such a best give for me, Ra. Terima kasih ya,” ungkap Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

2 minggu kemudian

Hari ini merupakan hari voting untuk pemilihan presiden direktur Harapan Jaya Group yang berikutnya. Hadirin yang datang ke acara itu adalah dua calon kandidat, petinggi perusahaan, pemegang saham, serta perwakilan dari Dewan Komisaris yang bertugas melakukan pengawasan dan pemberi nasehat atas pelaksanaan kegiatan hari ini.

Aryo berada dibagian sayap kanan dan Elnino berada di sayap kiri. Papanya hari ini hadir sebagai petinggi perusahaan sedangkan mamanya sebagai pemegang saham. Ketika perwakilan Dewan Komisaris memasuki aula luas tersebut, tandanya acara akan segera dimulai. Kegiatan pertama adalah pembukaan acara oleh Dewan Komisaris yang sudah naik ke atas podium, Rico Brodjohujodyo, salah satu putra keluarga Brodjohujodyo.

Rangkaian acara dilakukan dengan singkat dan padat, sehingga tidak memakan waktu yang lama. Satu persatu orang bergantian maju ke depan untuk memberikan hasil suaranya yang dimasukkan ke dalam kotak kaca bening berukuran besar.

“Terima kasih untuk para partisipan pemilihan suara hari ini. Hasil voting akan diumumkan lusa pukul 10.00 ditempat yang sama. Saya akhiri, selamat siang,” ucap pembawa acara untuk menutup acara hari ini.

Para hadirin satu persatu mulai meninggalkan aula tersebut. Aryo yang masih duduk di tempatnya mendapati Elnino menghampirinya.

“Lo tau kan, eyang kakung ada dipihak gue.” El menghampiri Aryo dan menumpu satu tangannya ke meja.

“Lo cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

“Udah jelas siapa yang akan mendapatkan posisi itu, Bro. You better back off than become a loser.

Aryo menatap El sejenak, lalu ia tertawa rendah. Pria itu memasang tampang santainya dan seolah ucapan sepupunya barusan tidak mengusiknya sama sekali.

“Lo bisa ngomong apa pun yang lo mau,” Aryo berdiri dari kursinya dan hendak melangkah melewati El namun pria itu menahan pundaknya.

“Denger. Harusnya lo bisa berpikir lebih pintar. Kayaknya istri lo itu lebih berharga dari pada apa yang udah lo milikin sekarang. Kita liat, apa lo lebih milih melingunginya atau berjuang untuk mendapatkan posisi pewaris itu,” ujar El.

***

Ini kesekian kalinya dalam waktu dua minggu, Aryo berusaha untuk menemui Tiara. Aryo memakirkan Jeepnya di depan rumah mertuanya. Dua minggu yang lalu, Aryo tidak menemukan Tiara di rumah ketika ia pulang dari kantor. Tiara membawa hampir semua pakaiannya yang ada di lemari di kamar tidur mereka dan menolak untuk bertemu dengannya.

Sebelum mengetuk pintu coklat mahony di hadapannya itu, Aryo menggantungkan tangannya di udara karena ia mendengar percakapan dari dalam rumah.

Isi percakapan tersebut mengatakan bahwa kedua orang tua kandung Tiara telah meninggal sebelas tahun yang lalu. Aryo ingin coba memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya barusan tidak lah benar.

“Kamu menikah sama dia tanpa ngasih tau Ayah sama Bunda, kalau keluarganya adalah penyebab orangtua kamu tiada, Tiara,” suara Andi terdengar dari dalam.

Satu kalimat itu berhasil membekukan semua indera di tubuh Aryo. Aryo pun berniat untuk meluruskan apa yang barusan ia dengar. Pria itu mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu dibukakan dari dalam.

Ketika pintunya dibuka, Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Tiara. Wajah yang telah ia rindukan selama dua pekan belakangan.

***

Setelah mendapati Aryo berada di teras rumahnya, keduanya hanya saling diam dan menatap. Ayahnya tidak memperbolehkan Aryo menemui Tiara. Namun Aryo tetap bersikeras meminta penjelasan atas apa yang didengarnya.

Andi dan Aryo duduk berdua di ruang tamu. Sorot mata mertuanya tersebut telah berubah dari pertama kali Aryo datang untuk melamar Tiara dan kemudian menikahi perempuan itu. Tatapannya tidak hangat dan bersahabat, padahal sebelumnya Andi memperlakukan Aryo sudah seperti anak lelakinya sendiri.

“Tiara ingin bercerai dari kamu.” Kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut Andi.

Aryo menatap Andi, “Ayah, tolong izinin Aryo untuk dapat penjelasan soal orangtua kandung Tiara,” pintar Aryo.

“Seperti yang kamu dengar, saya dan istri saya bukan orang tua kandungnya. Saya adalah Omnya Tiara. Saya dan istri saya yang membesarkan Tiara sejak usaianya tujuh tahun, saat kedua orang tua kandungnya meninggal.”

Andi menceritakan rentetan kejadian sebelas tahun lalu. Setelah Erlangga Sinaga meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, Tiara dan mamanya, Clarissa, pergi ke Australia, dengan tujuan untuk melindungi diri dari orang yang berhubungan dengan kecelakaan Erlangga. Di sana adalah tempat tinggal Andi dan Alifia.

2 tahun berselang, Clarissa pergi menyusul Erlangga karena jatuh sakit. Atas amanat kakak iparnya dan rasa sayangnya terhadap Tiara, Andi berjanji di hadapan pusara Erlangga dan Clarissa, bahwa ia akan menjaga Tiara dan memastikannya hidup dengan aman.

Andi dan Alifia memutuskan menggunakan marga Lubis sebagai nama belakang mereka. Mereka juga merubah nama asli Tiara yakni ‘Michelle Taninka Sinaga’ jadi ‘Mutiarani Ivanka Lubis’. Identitas Tiara yang merupakan anak Erlangga sudah diuabh menjadi anak kandung Andi. Hampir semua proses tersebut dibantu oleh Rudi Abimana yang merupakan sahabat baik Erlangga.

Mendengar semua ceria tersebut membuat sebuah cairan bening mendorong keluar dari pelupuk mata Aryo. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik mendapati fakta menyakitkan yang selama ini Tiara sembunyikan darinya.

***

Tiara tidak dapat menatap mata Aryo yang kini ada di hadapannya. Tiara takut tembok pertahanan sudah ia bangun hancur begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu tidak menyerah menemuinya dan memintanya untuk kembali.

“Tiara,” panggil Aryo dengan nada paraunya. Aryo telah tahu mengenai kejadian 11 tahun lalu. Kejadian yang membuat Tiara kehilangan kedua orang tua kandungnya. Pertahanan Aryo hancur ketika mendapati penyebab luka bertahun-tahun orang ia cintai adalah keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar dan sebuah bendungan air di mata di pelupukny, akhirnya lolos begitu saja.

“Aku harap kita bisa bercerai secepatnya,” ujar Tiara sambil mencoba menatap Aryo.

“Semuanya cuma kebohongan Aryo. Pernikahan kita, semua yang sudah kita laluin bareng, keinginan aku punya anak, semua itu cuma kepalsuan bagi aku,” sambung Tiara.

“Maksud kamu apa Ra?”

“Apa kata-kata aku kurang jelas? Aku nikah sama kamu karena ingin balas dendam. Aku ngerencanain semuanya, Aryo. Semuanya,” ucap Tiara penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Nggak, Ra. Kasih tau ke aku kalau kamu bohong,” ucap Aryo berusaha menampik fakta yang disampaikan Tiara.

“Semuanya benar. Aku nggak pernah cinta sama kamu,” Tiara mengalihkan pandangannya dari Aryo agar lelaki itu tidak dapat menangkap sorot matanya. Pandangan Tiara terasa sedikit buram saat menatap Aryo di hadapannya. Tiara pikir itu disebabkan oleh bendungan air di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar.

Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat kuat. Sebelum semuanya menjadi gelap, Tiara hanya mendapati wajah Aryo yang mencemaskannya.

***

Saat Tiara siuman, ia mendapati Aryo mengenggam tangannya dan wajah pria itu nampak khawatir. Kepala Tiara masih terasa pusing dan tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk digerakkan.

“Ra, kamu baik-baik aja? Kita ke dokter ya?” ujar Aryo.

“Kayaknya nggak perlu ke dokter. Mungkin aku cuma kecapean,” balas Tiara.

“Oke, kalau itu mau kamu. Karena aku udah lihat kamu baik-baik aja, aku akan pulang. Ayah nggak ngizinin aku di sini lama-lama. Sejujurnya aku masih kangen kamu,” ucap Aryo gamblang.

Pria itu lantas mengambil jas abu-abunya yang ia sampirkan di kursi dan sedikit merapikan kemeja putihnya. Rambut Aryo nampak mulai memanjang di bagian depan dan hampir menyentuh mata dari terakhir kali Tiara melihatnya.

“Kamu istiraha ya Ra. Nggak perlu mikirin apa-apa dulu,” Aryo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

2 minggu kemudian

Hari ini merupakan hari voting untuk pemilihan presiden direktur Harapan Jaya Group yang berikutnya. Hadirin yang datang ke acara itu adalah dua calon kandidat, petinggi perusahaan, pemegang saham, serta perwakilan dari Dewan Komisaris yang bertugas melakukan pengawasan dan pemberi nasehat atas pelaksanaan kegiatan hari ini.

Aryo berada dibagian sayap kanan dan Elnino berada di sayap kiri. Papanya hari ini hadir sebagai petinggi perusahaan sedangkan mamanya sebagai pemegang saham. Ketika perwakilan Dewan Komisaris memasuki aula luas tersebut, tandanya acara akan segera dimulai. Kegiatan pertama adalah pembukaan acara oleh Dewan Komisaris yang sudah naik ke atas podium, Rico Brodjohujodyo, salah satu putra keluarga Brodjohujodyo.

Rangkaian acara dilakukan dengan singkat dan padat, sehingga tidak memakan waktu yang lama. Satu persatu orang bergantian maju ke depan untuk memberikan hasil suaranya yang dimasukkan ke dalam kotak kaca bening berukuran besar.

“Terima kasih untuk para partisipan pemilihan suara hari ini. Hasil voting akan diumumkan lusa pukul 10.00 ditempat yang sama. Saya akhiri, selamat siang,” ucap pembawa acara untuk menutup acara hari ini.

Para hadirin satu persatu mulai meninggalkan aula tersebut. Aryo yang masih duduk di tempatnya mendapati Elnino menghampirinya.

“Lo tau kan, eyang kakung ada dipihak gue.” El menghampiri Aryo dan menumpu satu tangannya ke meja.

“Lo cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

“Udah jelas siapa yang akan mendapatkan posisi itu, Bro. You better back off than become a loser.

Aryo menatap El sejenak, lalu ia tertawa rendah. Pria itu memasang tampang santainya dan seolah ucapan sepupunya barusan tidak mengusiknya sama sekali.

“Lo bisa ngomong apa pun yang lo mau,” Aryo berdiri dari kursinya dan hendak melangkah melewati El namun pria itu menahan pundaknya.

“Denger. Harusnya lo bisa berpikir lebih pintar. Kayaknya istri lo itu lebih berharga dari pada apa yang udah lo milikin sekarang. Kita liat, apa lo lebih milih melingunginya atau berjuang untuk mendapatkan posisi pewaris itu,” ujar El.

***

Ini kesekian kalinya dalam waktu dua minggu, Aryo berusaha untuk menemui Tiara. Aryo memakirkan Jeepnya di depan rumah mertuanya. Dua minggu yang lalu, Aryo tidak menemukan Tiara di rumah ketika ia pulang dari kantor. Tiara membawa hampir semua pakaiannya yang ada di lemari di kamar tidur mereka dan menolak untuk bertemu dengannya.

Sebelum mengetuk pintu coklat mahony di hadapannya itu, Aryo menggantungkan tangannya di udara karena ia mendengar percakapan dari dalam rumah.

Isi percakapan tersebut mengatakan bahwa kedua orang tua kandung Tiara telah meninggal sebelas tahun yang lalu. Aryo ingin coba memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya barusan tidak lah benar.

“Kamu menikah sama dia tanpa ngasih tau Ayah sama Bunda, kalau keluarganya adalah penyebab orangtua kamu tiada, Tiara,” suara Andi terdengar dari dalam.

Satu kalimat itu berhasil membekukan semua indera di tubuh Aryo. Aryo pun berniat untuk meluruskan apa yang barusan ia dengar. Pria itu mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu dibukakan dari dalam.

Ketika pintunya dibuka, Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Tiara. Wajah yang telah ia rindukan selama dua pekan belakangan.

***

Setelah mendapati Aryo berada di teras rumahnya, keduanya hanya saling diam dan menatap. Ayahnya tidak memperbolehkan Aryo menemui Tiara. Namun Aryo tetap bersikeras meminta penjelasan atas apa yang didengarnya.

Andi dan Aryo duduk berdua di ruang tamu. Sorot mata mertuanya tersebut telah berubah dari pertama kali Aryo datang untuk melamar Tiara dan kemudian menikahi perempuan itu. Tatapannya tidak hangat dan bersahabat, padahal sebelumnya Andi memperlakukan Aryo sudah seperti anak lelakinya sendiri.

“Tiara ingin bercerai dari kamu.” Kalimat itu yang pertama kali keluar dari mulut Andi.

Aryo menatap Andi, “Ayah, tolong izinin Aryo untuk dapat penjelasan soal orangtua kandung Tiara,” pintar Aryo.

“Seperti yang kamu dengar, saya dan istri saya bukan orang tua kandungnya. Saya adalah Omnya Tiara. Saya dan istri saya yang membesarkan Tiara sejak usaianya tujuh tahun, saat kedua orang tua kandungnya meninggal.”

Andi menceritakan rentetan kejadian sebelas tahun lalu. Setelah Erlangga Sinaga meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil, Tiara dan mamanya, Clarissa, pergi ke Australia, dengan tujuan untuk melindungi diri dari orang yang berhubungan dengan kecelakaan Erlangga. Di sana adalah tempat tinggal Andi dan Alifia.

2 tahun berselang, Clarissa pergi menyusul Erlangga karena jatuh sakit. Atas amanat kakak iparnya dan rasa sayangnya terhadap Tiara, Andi berjanji di hadapan pusara Erlangga dan Clarissa, bahwa ia akan menjaga Tiara dan memastikannya hidup dengan aman.

Andi dan Alifia memutuskan menggunakan marga Lubis sebagai nama belakang mereka. Mereka juga merubah nama asli Tiara yakni ‘Michelle Taninka Sinaga’ jadi ‘Mutiarani Ivanka Lubis’. Identitas Tiara yang merupakan anak Erlangga sudah diuabh menjadi anak kandung Andi. Hampir semua proses tersebut dibantu oleh Rudi Abimana yang merupakan sahabat baik Erlangga.

Mendengar semua ceria tersebut membuat sebuah cairan bening mendorong keluar dari pelupuk mata Aryo. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik mendapati fakta menyakitkan yang selama ini Tiara sembunyikan darinya.

***

Tiara tidak dapat menatap mata Aryo yang kini ada di hadapannya. Tiara takut tembok pertahanan sudah ia bangun hancur begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu tidak menyerah menemuinya dan memintanya untuk kembali.

“Tiara,” panggil Aryo dengan nada paraunya. Aryo telah tahu mengenai kejadian 11 tahun lalu. Kejadian yang membuat Tiara kehilangan kedua orang tua kandungnya. Pertahanan Aryo hancur ketika mendapati penyebab luka bertahun-tahun orang ia cintai adalah keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar dan sebuah bendungan air di mata di pelupukny, akhirnya lolos begitu saja.

“Aku harap kita bisa bercerai secepatnya,” ujar Tiara sambil mencoba menatap Aryo.

“Semuanya cuma kebohongan Aryo. Pernikahan kita, semua yang sudah kita laluin bareng, keinginan aku punya anak, semua itu cuma kepalsuan bagi aku,” sambung Tiara.

“Maksud kamu apa Ra?”

“Apa kata-kata aku kurang jelas? Aku nikah sama kamu karena ingin balas dendam. Aku ngerencanain semuanya, Aryo. Semuanya,” ucap Tiara penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Nggak, Ra. Kasih tau ke aku kalau kamu bohong,” ucap Aryo berusaha menampik fakta yang disampaikan Tiara.

“Semuanya benar. Aku nggak pernah cinta sama kamu,” Tiara mengalihkan pandangannya dari Aryo agar lelaki itu tidak dapat menangkap sorot matanya. Pandangan Tiara terasa sedikit buram saat menatap Aryo di hadapannya. Tiara pikir itu disebabkan oleh bendungan air di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar.

Tiba-tiba kepalanya terasa berat dan seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat kuat. Sebelum semuanya menjadi gelap, Tiara hanya mendapati wajah Aryo yang mencemaskannya.

***

Saat Tiara siuman, ia mendapati Aryo mengenggam tangannya dan wajah pria itu nampak khawatir. Kepala Tiara masih terasa pusing dan tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk digerakkan.

“Ra, kamu baik-baik aja? Kita ke dokter ya?” ujar Aryo.

“Kayaknya nggak perlu ke dokter. Mungkin aku cuma kecapean,” balas Tiara.

“Oke, kalau itu mau kamu. Karena aku udah lihat kamu baik-baik aja, aku akan pulang. Ayah nggak ngizinin aku di sini lama-lama. Sejujurnya aku masih kangen kamu,” ucap Aryo gamblang.

Pria itu lantas mengambil jas abu-abunya yang ia sampirkan di kursi dan sedikit merapikan kemeja putihnya. Rambut Aryo nampak mulai memanjang di bagian depan dan hampir menyentuh mata dari terakhir kali Tiara melihatnya.

“Kamu istirahat dan nggak perlu mikirin apa-apa dulu,” Aryo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara merekah ketika melihat pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja hitam yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian barat. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang sangat luas.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Kamu maunya ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising dan perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah seluruh tempat ini yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia merasakan naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang terkihat tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah kita ada di ketinggian 7.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, co-pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 7000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Kayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiar sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di dahi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu jangan takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara menggerakan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara antusias. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasakan kebahagian. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, lalu ia terkekeh. “Ada-ada aja kamu. Kepikiran nanya kayak gitu.”

“Ohhh I see. Oke, jadi aku nggak perlu cemburu ya sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

Tiara nampak berpikir. Benar juga, mana mungkin hidup suaminya selalu diawasi oleh regu pengawal yang banyak selama 24 jam.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main.”

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya.

Aryo pun mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku buat. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu keluar? Padahal kamu bisa aja menutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk menjadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be better person since we first met. Kamu membuat aku ingin coba memulai.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan, berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya setelah pria itu menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya di sana.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya hingga membuat pandangannya kabur dan mulai merasakan kantuk.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap sosok suaminya yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiaar memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama saat mereka menaiki helly dan berkuda, sehingga Tiara memintanya untuk berganti pakaian.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya ldan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara memulai ciumannya terlebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa untuk mereka.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh istrinya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin baut nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ujar Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyum menawannya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu indah.

Tiara merebahkan kepalanya di lengan Aryo dan tampak begitu nyaman. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membaut Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka yang seperti ini.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya ya,” ucap Tiara.

“Suami kamu lah.”

Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo.

Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria yang paling beruntung karena memiliki Tiara dalam hidupnya. Aryo mencium bibirnya lebih dulu dengan sangat lembut, ia memindahkan posisi Tiara untuk berada dibawahnya, hingga satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara telah terlepas dan jatuh ke lantai.

Keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat kali ini setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam waktu cepat tersebut, tapi tetap terasa begitu indah bagi keduanya.

Berkali-kali Aryo mampu membuatnya merasa seperti terbang ke langit ke tujuh. Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil memanyunkan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk matanya dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang akan meluncur itu, tapi Tiara dengan cepat menyekanya lebih dulu menggunakan tangannya.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut.

Aryo membalas tatapannya dan mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan secantik kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, dan bibir kecil yang ranum berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau dapat mata sipit kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil menyunggingkan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. Aku iri. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Anak kita akan punya kedua mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, keliatan bagus aja.”

Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun sedang lelap.

Tiara memerhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, lalu ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di kedua belah pipinya.

Tiara memerhatikan mata Aryo yang terpejam, namun detik setelahnya Aryo kembali mencimui wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi.

Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin lelap, “You have to know, that everything will happens in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum menyematkan kecupan dalam di pipi prianya. ***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara merekah ketika melihat pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja hitam yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian barat. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang sangat luas.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Kamu maunya ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising dan perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah seluruh tempat ini yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia merasakan naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang terkihat tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah kita ada di ketinggian 7.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, co-pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 7000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Kayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiar sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di dahi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu jangan takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara menggerakan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara antusias. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasakan kebahagian. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, lalu ia terkekeh. “Ada-ada aja kamu. Kepikiran nanya kayak gitu.”

“Ohhh I see. Oke, jadi aku nggak perlu cemburu ya sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

Tiara nampak berpikir. Benar juga, mana mungkin hidup suaminya selalu diawasi oleh regu pengawal yang banyak selama 24 jam.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main.”

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya.

Aryo pun mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku buat. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu keluar? Padahal kamu bisa aja menutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk menjadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be better person since we first met. Kamu membuat aku ingin coba memulai.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan, berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya setelah pria itu menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya di sana.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya hingga membuat pandangannya kabur dan mulai merasakan kantuk.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap sosok suaminya yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiaar memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama saat mereka menaiki helly dan berkuda, sehingga Tiara memintanya untuk berganti pakaian.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya ldan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara memulai ciumannya terlebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa untuk mereka.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh istrinya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin baut nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ujar Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyum menawannya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu indah.

Tiara merebahkan kepalanya di lengan Aryo dan tampak begitu nyaman. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membaut Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka yang seperti ini.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya ya,” ucap Tiara.

“Suami kamu lah.”

Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo.

Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria yang paling beruntung karena memiliki Tiara dalam hidupnya. Aryo mencium bibirnya lebih dulu dengan sangat lembut, ia memindahkan posisi Tiara untuk berada dibawahnya, hingga satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara telah terlepas dan jatuh ke lantai.

Keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat kali ini setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam waktu cepat tersebut, tapi tetap terasa begitu indah bagi keduanya.

Berkali-kali Aryo mampu membuatnya merasa seperti terbang ke langit ke tujuh. Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil memanyunkan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk matanya dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang akan meluncur itu, tapi Tiara dengan cepat menyekanya lebih dulu menggunakan tangannya.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut.

Aryo membalas tatapannya dan mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan secantik kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, dan bibir kecil yang ranum berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau dapat mata sipit kamu. *Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil menyunggingkan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. Aku iri. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Anak kita akan punya kedua mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, keliatan bagus aja.”

Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun sedang lelap.

Tiara memerhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, lalu ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di kedua belah pipinya.

Tiara memerhatikan mata Aryo yang terpejam, namun detik setelahnya Aryo kembali mencimui wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi.

Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin lelap, “You have to know, that everything will happens in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum menyematkan kecupan dalam di pipi prianya. ***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan gedung-gedung perkotaan dan langit malam melalui kaca besar di ruang kerjanya. Ia berbalik dan menatap sosok keponakannya yang mengatakan ingin menemuinya di ruangannya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta untuk tidak libatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu. Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi yang mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan Harapan Jaya. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau resiko yang harus kamu hadapi, untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo memang belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyungingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Reynaldi menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya, mendapati keponakannya mulai mengibarkan bendera perang terhadapnya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya untuk memastikan bahwa ini bukan khayalan atau pun mimpi. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak berapa lama setelah Tiara memandangi wajah tidur suaminya, Aryo pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini mereka telah di mata-matai.

“Aku tahu, kamu akan marah. Maaf yaa, nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo untuk melindunginya, tapi perasaannya masih terluka karena Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan. Hari pemilihan sudah dekat, dan Reynaldi ada di pihak El,” ucap Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian kemarin yang dialami oleh istrinya. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana dan menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastiin nggak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol berwarna hitam legam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat yang manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okeey,” ucap Aryo dengan nada memohon.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I wanna spend my life with you.” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Saat Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat.”

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.” Lengan Aryo bergerak menarik pinggang Tiara untuk memangkas jarak mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dan satu tangan Tiara berada di pundak pria itu.

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang kemarin nolongin aku?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He’s confess it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya. “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara.” ucap Aryo ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ua sadar arah pembicaraan mereka.

A little bit. He has his own place in your heart.

Tiara tertawa dan menatap prianya itu dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang berbeda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

Tanpa bisa ditahan, sebuah senyum lebar mengembang di wajah Aryo. Ia menghela lengan Tiara untuk melingkari bahunya. “Tiara, terima kasih udah hadir di dunia ini,” ungkap Aryo sambil menatap dalam ke mata Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan gedung-gedung perkotaan dan langit malam melalui kaca besar di ruang kerjanya. Ia berbalik dan menatap sosok keponakannya yang mengatakan ingin menemuinya di ruangannya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta untuk tidak libatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu. Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi yang mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan Harapan Jaya. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau resiko yang harus kamu hadapi, untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo memang belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyungingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Reynaldi menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya, mendapati keponakannya mulai mengibarkan bendera perang terhadapnya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya untuk memastikan bahwa ini bukan khayalan atau pun mimpi. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak berapa lama setelah Tiara memandangi wajah tidur suaminya, Aryo pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini mereka telah di mata-matai.

“Aku tahu, kamu akan marah. Maaf yaa, nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo untuk melindunginya, tapi perasaannya masih terluka karena Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan. Hari pemilihan sudah dekat, dan Reynaldi ada di pihak El,” ucap Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian kemarin yang dialami oleh istrinya. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana dan menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastiin nggak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol berwarna hitam legam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat yang manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okeey,” ucap Aryo dengan nada memohon.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I wanna spend my life with you.” Kalimat itu lolos begitu saja dari bibirnya. Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Saat Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat.”

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.” Lengan Aryo bergerak menarik pinggang Tiara untuk memangkas jarak mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dan satu tangan Tiara berada di pundak pria itu.

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang kemarin nolongin aku?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He’s confess it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya. “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara.” ucap Aryo ketika Tiara memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika sadar arah pembicaraan mereka.

A little bit. He has his own place in your heart.

Tiara tertawa dan menatap prianya itu dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang berbeda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

Tanpa bisa ditahan, sebuah senyum lebar mengembang di wajah Aryo. Ia menghela lengan Tiara untuk melingkari bahunya. “Thank you for being in this world, Tiara. Aku bersyukur punya kamu di hidup aku.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷