alyadara

2 minggu kemudian

Hari ini merupakan hari voting untuk pemilihan presiden direktur Harapan Jaya Group. Hadirin yang datang ke acara itu adalah dua calon kandidat, para petinggi perusahaan, pemegang saham, serta perwakilan dari Dewan Komisaris yang bertugas melakukan pengawasan dan pemberi nasehat atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Aryo berada dibagian sayap kanan dan Elnino berada di sayap kiri. Edi Brodjohujodyo hari ini hadir sebagai petinggi perusahaan sedangkan Felicia Batari Brodjohujodyo sebagai pemegang saham.

Ketika perwakilan Dewan Komisaris memasuki aula besar tersebut, menandakan bahwa acara akan segera dimulai. Kegiatan pertama adalah pembukaan acara oleh Dewan Komisaris yang sudah naik ke atas podium, Rico Brodjohujodyo, salah satu putra keluarga Brodjohujodyo.

Rangkaian acara dilakukan dengan singkat dan padat, sehingga tidak memakan waktu yang lama. Satu persatu orang bergantian maju ke depan untuk memberikan hasil suaranya yang dimasukkan ke dalam kotak kaca bening berukuran besar.

“Terima kasih untuk para partisipan pemilihan suara hari ini. Hasil voting akan diumumkan lusa pukul 10.00 ditempat yang sama. Saya akhiri, selamat siang,” ucap pembawa acara untuk menutup acara hari ini.

Para hadirin satu persatu mulai meninggalkan aula tersebut. Aryo yang masih duduk di tempatnya mendapati Elnino menghampirinya.

“Lo tau kan, eyang kakung berada dipihak gue.” El menghampiri Aryo dan menumpu satu tangannya di atas meja.

“Lo cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

“Udah jelas siapa yang akan mendapatkan posisi itu, Bro. You better back off than become a loser.

Aryo menatap El sejenak, lalu ia tertawa sekilas. Aryomemasang tampang santainya dan seolah ucapan sepupunya barusan tidak mengusiknya sama sekali.

“Lo bisa ngomong apa pun yang lo mau.” Aryo berdiri dari kursinya dan hendak melangkah melewati El namun pria itu menahan pundaknya.

“Denger. Harusnya lo bisa berpikir lebih pintar. Kayaknya istri lo itu lebih berharga dari pada apa yang udah lo milikin sekarang. Kita liat, apa lo lebih milih melindunginya atau berjuang untuk mendapatkan posisi pewaris itu,” ujar El.

***

Ini kesekian kalinya dalam waktu dua minggu, Aryo berusaha untuk menemui Tiara. Aryo memakirkan Jeepnya di depan rumah mertuanya. Dua minggu yang lalu, Aryo tidak menemukan Tiara di rumah ketika ia pulang dari kantor. Tiara membawa hampir semua pakaiannya yang ada di lemari di kamar tidur mereka dan menolak untuk bertemu dengannya.

Sebelum mengetuk pintu coklat mahony di hadapannya tersebut, Aryo menggantungkan tangannya di udara karena ia mendengar percakapan dari dalam rumah.

Isi percakapan itu mengatakan bahwa kedua orang tua kandung Tiara telah meninggal sebelas tahun yang lalu. Aryo ingin coba memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya barusan tidak lah benar. Terlebih ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan tersebut.

“Kamu menikah sama dia tanpa ngasih tau Ayah sama Bunda, kalau keluarganya adalah penyebab orangtua kamu tiada, Tiara,” suara Andi terdengar dari dalam.

Satu kalimat itu berhasil membekukan semua indera di tubuh Aryo. Aryo pun berniat untuk meluruskan apa yang barusan didengarnya. Pria itu mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu untuk dibukakan.

Ketika pintunya dibuka, Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Tiara. Wajah yang telah ia rindukan selama dua pekan belakangan.

***

Andi tidak memperbolehkan Aryo untuk bertemu dengan Tiara. Namun Aryo tetap bersikeras meminta penjelasan atas apa yang didengarnya.

Andi dan Aryo akhirnya duduk berdua di ruang tamu. Sorot mata mertuanya tersebut telah berubah dari pertama kali Aryo datang untuk melamar Tiara dan kemudian menikahi perempuan itu. Tatapannya tidak hangat dan bersahabat, padahal sebelumnya Andi memperlakukan Aryo seperti anak lelakinya sendiri.

“Tiara ingin bercerai dari kamu.” Kalimat tersebut adalah kalimat yang keluar dari mulut Andi.

Aryo menatap Andi, “Ayah, tolong izinin Aryo untuk dapat penjelasan soal orangtua kandung Tiara,” pinta Aryo.

“Seperti yang kamu dengar, saya dan istri saya bukan orang tua kandung Tiara. Saya adalah Omnya Tiara. Saya dan istri saya yang membesarkannya sejak usianya tujuh tahun, setelah kedua orang tua kandungnya meninggal. Ayahnya Tiara meninggal karena kecelakaan, tapi Rudi Abimana nemuin bukti yang mengungkap bahwa kecelakaan itu di sengaja. Kaarena kasus itu sudah lama, kasusnya resmi ditutup oleh kepolisian.”

Andi menceritakan rentetan kejadian sebelas tahun yang lalu. Berawal dari Erlangga Sinaga yang meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Setelah itu istri Erlangga, Clarissa Laura dan anaknya pergi ke Australia. Clarissa memiliki tujuan untuk melindungi diri dari orang yang berhubungan dengan kecelakaan Erlangga. Di Australia merupakan tempat tinggal Andi dan Alifia.

2 tahun berselang, Clarissa pergi menyusul Erlangga karena jatuh sakit. Atas amanat kakak iparnya dan rasa sayangnya terhadap Tiara, Andi berjanji di hadapan pusara Erlangga dan Clarissa, bahwa ia akan menjaga Tiara dan memastikannya hidup dengan aman.

Andi dan Alifia memutuskan menggunakan marga Lubis sebagai nama belakang mereka. Mereka juga merubah nama asli Tiara yakni ‘Michelle Taninka Sinaga’ menjadi ‘Mutiarani Ivanka Lubis’. Identitas Tiara yang merupakan anak Erlangga juga diubah menjadi anak kandung Andi. Hampir semua proses tersebut dibantu oleh Rudi Abimana, seorang detektif dari Badan Reserse Kriminal Kepolisian yang merupakan sahabat baik Erlangga.

Setelah mendengar semua cerita tersebut, sebuah cairan bening mendorong keluar dan hampir terjun dari pelupuk mata Aryo. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik mendapati fakta menyakitkan yang selama ini Tiara sembunyikan darinya.

***

Tiara tidak dapat menatap Aryo yang kini ada di hadapannya. Tiara takut tembok pertahanan sudah ia bangun hancur begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu tidak menyerah menemuinya dan memintanya untuk kembali.

“Tiara,” panggil Aryo dengan nada paraunya. Aryo hancur mendapati penyebab luka bertahun-tahun orang ia cintai adalah keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar dan sebuah bendungan air di mata di pelupuknya, akhirnya lolos begitu saja.

“Aku harap kita bisa bercerai secepatnya,” ujar Tiara sambil mencoba untuk menatap Aryo.

“Semuanya cuma kebohongan Aryo. Pernikahan kita, semua yang sudah kita laluin bareng, keinginan aku untuk punya anak, semua itu cuma kepalsuan bagi aku,” sambung Tiara.

“Maksud kamu apa Ra?” tanya Aryo dengan tatapan tidak percayanya.

“Apa kata-kata aku kurang jelas? Aku nikah sama kamu cuma karena ingin balas dendam. Aku ngerencanain semuanya, Aryo. Semuanya,” ucap Tiara penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Nggak, Ra. Kasih tau ke aku kalau kamu lagi bohong,” ucap Aryo berusaha menampik fakta yang disampaikan oleh Tiara.

“Semua yang aku bilang benar. Aku nggak pernah cinta sama kamu,” Tiara mengalihkan pandangannya dari Aryo agar lelaki itu tidak dapat menangkap sorot matanya. Pandangan Tiara terasa sedikit buram dan i ia pikir itu disebabkan oleh bendungan air di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar.

Tiba-tiba kepala Tiara terasa berat dan seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat kuat. Sebelum semuanya menjadi gelap, Tiara hanya mendapati wajah Aryo yang mencemaskannya.

***

Saat Tiara siuman, yang pertama kali ia temukan adalah Aryo menggenggam tangannya dan wajah pria itu nampak khawatir. Tiara masih merasa pusing di kepalanya dan tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk digerakkan.

“Ra, kita ke dokter ya? Aku khawatir sama kamu,” ujar Aryo.

“Kayaknya nggak perlu ke dokter. Aku cuma kecapean,” balas Tiara.

“Oke, kalau itu mau kamu,” Aryo menjeda ucapannya. “Karena aku udah lihat kamu baik-baik aja, aku akan pulang. Ayah nggak ngizinin aku di sini lama-lama. Sejujurnya aku masih kangen sama kamu,” ucap Aryo gamblang.

Pria itu lantas mengambil jas abu-abunya yang ia sampirkan di kursi dan sedikit merapikan kemeja putihnya. Rambut Aryo nampak mulai memanjang di bagian depan dan hampir menyentuh mata dari terakhir kali Tiara melihatnya.

“Kamu istirahat ya, Ra. Aku pulang dulu,” Aryo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara mengembang saat netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja putih yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian selatan. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang begitu luas. Ia dibuat terkagum-kagum dengan yang saat ini berada di hadapannya.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Di bagian utara ada tempat golf dan di sampingnya ada bar. Ada aula khusus untuk ngadain acara, kolam renang, arena bermain dengan tanah berpasir, jogging track yang luas, dan kebun. Kamu mau ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, lalu ia mengulaskan senyum bahagianya. “Terima kasih ya. Tempat ini lebih dari cukup dari yang aku inginkan.”

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising serta perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah keseluruhan area rumah yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang nampak tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah 1.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 1000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Mau dong,” jawab Tiara antusias. “ayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiara sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di pipi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu nampak gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu nggak perlu takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara mengulurkan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara dengan raut bahagianya. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasa bahagia. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tengah tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, “Ada-ada aja kamu, kepikiran kayak gitu,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

“Ohhh I see. Kalau gitu aku nggak perlu cemburu sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang aku buth mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main,” ujar Tiara.

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya. Ia tahu bahwa Aryo memiliki rival dan musuh yang akan selalu ada pihak yang kontra terhadap suaminya.

Aryo kemudian mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku bikin. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu muncul? Padahal kamu bisa aja nutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae juga lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk jadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be a better person since we met. Kamu membuat aku ingin coba mulai semuanya.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan. Drone itu berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya, setelah ia menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam, ia merasa beigut mengantuk karena pengaruh obat. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap Aryo yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju ke alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama, sehingga ia memintanya untuk berganti pakaian lebih dulu.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur untuk memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya dan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara mulai mencium Aryo lebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka saling mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka pun hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh wanitanya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin baut nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ungkap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga ya.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyumnya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu menawan.

Tiara merebahkan kepalanya di lengan Aryo, tampak begitu nyaman di sana. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membuat Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka saat ini.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya ya,” ucap Tiara.

“Suami kamu lah.” Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo. Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria paling beruntung karena telah memiliki Tiara dalam hidupnya.

Aryo kembali mencium bibirnya lebih dulu dengan begitu lembut, memindahkan posisi Tiara untuk berada di bawahnya. Aryo melepas satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara terlepas dan jatuh ke lantai.

Kali ini keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam singkat, tapi tetap terasa begitu menakjubkan bagi keduanya.

Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil mem-pouty kan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk mata Tiara dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang siap meluncur itu, tapi dengan cepat perempuan itu menyekanya lebih dulu.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Aryo mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu dengan bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan cantik kayak kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, serta bibir penuh yang berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau punya mata sipit kayak kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Pasti lucu ya Ra kalau anak kita punya mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, akan tetap terlihat bagus,” ujar Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang sudah Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun dalam kondisi tertidur.

Tiara memperhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di pipinya.

Tiara memandang mata Aryo yang terpejam dan detik setelahnya Aryo kembali menciumi wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi. Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin nyenyak, “You have to know, that everything will happen in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum akhirnya menyematkan kecupan tulus di pipi suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara mengembang saat netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja putih yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian selatan. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang begitu luas. Ia dibuat terkagum-kagum dengan yang saat ini berada di hadapannya.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Di bagian utara ada tempat golf dan di sampingnya ada bar. Ada aula khusus untuk ngadain acara, kolam renang, arena bermain dengan tanah berpasir, jogging track yang luas, dan kebun. Kamu mau ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, lalu ia mengulaskan senyum manisnya. “Terima kasih ya. Tempat ini lebih dari cukup dari yang aku inginkan.”

Are you happy?” tanya Aryo sambil menatapnya. Tiapa lantas menjawab Aryo dengan anggukan.

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising serta perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah keseluruhan area rumah yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang nampak tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah 1.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 1000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Mau dong,” jawab Tiara antusias. “ayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiara sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di pipi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu nampak gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu jangan takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara mengulurkan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara dengan raut bahagianya. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasa bahagia. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tengah tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, lalu ia terkekeh. “Ada-ada aja kamu, kepikiran nanya kayak gitu.”

“Ohhh I see. Oke, jadi aku nggak perlu cemburu ya sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang aku buth mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main,” ujar Tiara.

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya. Ia tahu bahwa Aryo memiliki rival dan musuh yang akan selalu ada pihak yang kontra terhadap suaminya.

Aryo kemudian mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku bikin. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu muncul? Padahal kamu bisa aja nutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae juga lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk jadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be a better person since we met. Kamu membuat aku ingin coba memulai.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan. Drone itu berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya, setelah ia menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam, ia merasa beigut mengantuk karena pengaruh obat. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap Aryo yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju ke alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama, sehingga ia memintanya untuk berganti pakaian lebih dulu.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur untuk memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya dan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara memulai ciumannya terlebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka saling mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka pun hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh wanitanya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin baut nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ungkap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga ya.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyumnya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu menawan.

Tiara merebahkan kepalanya di lengan Aryo, tampak begitu nyaman di sana. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membuat Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka saat ini.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya ya,” ucap Tiara.

“Suami kamu lah.” Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo. Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria paling beruntung karena telah memiliki Tiara dalam hidupnya.

Aryo kembali mencium bibirnya lebih dulu dengan begitu lembut, memindahkan posisi Tiara untuk berada di bawahnya. Aryo melepas satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara terlepas dan jatuh ke lantai.

Kali ini keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam singkat, tapi tetap terasa begitu menakjubkan bagi keduanya.

Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil mem-pouty kan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk mata Tiara dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang siap meluncur itu, tapi dengan cepat perempuan itu menyekanya lebih dulu.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Aryo mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu dengan bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan cantik kayak kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, serta bibir penuh yang berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau punya mata sipit kayak kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Pasti lucu ya Ra kalau anak kita punya mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, akan tetap terlihat bagus,” ujar Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang sudah Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun dalam kondisi tertidur.

Tiara memperhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di pipinya.

Tiara memandang mata Aryo yang terpejam dan detik setelahnya Aryo kembali menciumi wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi. Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin nyenyak, “You have to know, that everything will happen in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum akhirnya menyematkan kecupan tulus di pipi suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan langit malam serta gedung-gedung perkotaan melalui kaca besar di ruangannya. Ia berbalik dan menatap keponakannya yang meminta untuk menemuinya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta Om tidak melibatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu.

Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau, resiko yang perlu kamu hadapi untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar Aryo sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Aryo in Suit

Reynaldi balas menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak lama setelah Tiara memandangi wajah tidur Aryo, suaminya pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini telah memata-matai mereka.

“Aku tahu kamu akan marah. Maaf yaa, aku nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan presdir semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo adalah untuk melindunginya, tapi perasaannya terluka mendapati Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan,” ujar Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian yang dialami oleh istrinya kemarin. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana, lalu menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastikan tidak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha sebelum melangkah pergi dari sana.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol keramik berwarna hitam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Okey, apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okee, Sayang?” pinta Aryo dengan wajah memelasnya.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat kedua alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I want to spend my time with you.” Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Ketika Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk sambil menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat. Perjanjian diantara kita dibatalkan,” ujar Aryo dengan senyumnya yang semakin lebar.

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget sih hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.”

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang nolongin aku kemarin?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu gitu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He was confessed it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya, “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara,” ucap Aryo ceapt ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ia sadar kemana arah pembicaraan mereka.

I'm pretty jealous. He has his own place in your heart,” ujar Aryo.

Tiara tergelak dan menatap Aryo dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang beda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

“Okee, aku nggak cemburu lagi,” Aryo menjeda ucapannya, “Ra, terima kasih ya karena udah hadir di dunia ini. Aku sayang kamu,” ungkap Aryo sambil menatap ke dalam mata Tiara.

“Kamu jangan lucu gini, aku jadi gemes,” cetus Tiara.

Aryo mengarahkan tangannya untuk menghela pinggang Tiara, memangkas sisa jarak diantara mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dengan satu tangannya berada di pundak pria itu. Tiara beralih untuk duduk di pangkuan Aryo dan mengalungkan lengannya di pundak prianya.

“Gini ya istri aku kalau lagi manja, hmm?” tanya Aryo sembari meletakkan lengannya di pinggang Tiara untuk menjaga perempuan itu tetap aman di dekapannya.

“Kamu ke kantor nggak hari ini?” Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo.

“Aku hari ini libur. Kenapa?”

Ekspresi Tiara seketika menjadi lebih cerah dari sebelumnya. “Aku mau ngurung kamu di rumah. Aku kan juga kangen kamu, kamunya kerja terus.”

Alright, Ma'am.”

“Seharian ini kita bisa pacaran. Gimana?”

Sounds great. Aku rencananya mau ajak kamu naik helly dan berkuda. Kamu mau?”

Mata Tiara sukses melebar mendengar perkataan Aryo. “Mau dong, seru banget pasti. Kita harus berangkat dulu ke helly pad-nya kan?”

“Engga, Sayang. Helly pad-nya ada di bagian selatan rumah kita.”

“Tempat kuda pacunya?”

“Ada di bagian selatan barat daya. Kamu mau apa lagi? Aku bisa wujudin semua keinginan kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan langit malam serta gedung-gedung perkotaan melalui kaca besar di ruangannya. Ia berbalik dan menatap keponakannya yang meminta untuk menemuinya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta Om tidak melibatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu.

Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau, resiko yang perlu kamu hadapi untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar Aryo sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Aryo in Suit

Reynaldi balas menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak lama setelah Tiara memandangi wajah tidur Aryo, suaminya pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini telah memata-matai mereka.

“Aku tahu kamu akan marah. Maaf yaa, aku nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan presdir semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo adalah untuk melindunginya, tapi perasaannya terluka mendapati Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan,” ujar Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian yang dialami oleh istrinya kemarin. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana, lalu menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastikan tidak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha sebelum melangkah pergi dari sana.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol keramik berwarna hitam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Okey, apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okee, Sayang?” pinta Aryo dengan wajah memelasnya.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat kedua alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I want to spend my time with you.” Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Ketika Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk sambil menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat. Perjanjian diantara kita dibatalkan,” ujar Aryo dengan senyumnya yang semakin lebar.

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget sih hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.”

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang nolongin aku kemarin?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu gitu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He’s confess it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya, “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara,” ucap Aryo ceapt ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ia sadar kemana arah pembicaraan mereka.

I'm pretty jealous. He has his own place in your heart,” ujar Aryo.

Tiara tergelak dan menatap Aryo dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang beda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

“Okee, aku nggak cemburu lagi,” Aryo menjeda ucapannya, “Ra, terima kasih ya karena udah hadir di dunia ini. Aku sayang kamu,” ungkap Aryo sambil menatap ke dalam mata Tiara.

“Kamu jangan lucu gini, aku jadi gemes,” cetus Tiara.

Aryo mengarahkan tangannya untuk menghela pinggang Tiara, memangkas sisa jarak diantara mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dengan satu tangannya berada di pundak pria itu. Tiara beralih untuk duduk di pangkuan Aryo dan mengalungkan lengannya di pundak prianya.

“Gini ya istri aku kalau lagi manja, hmm?” tanya Aryo sembari meletakkan lengannya di pinggang Tiara untuk menjaga perempuan itu tetap aman di dekapannya.

“Kamu ke kantor nggak hari ini?” Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo.

“Aku hari ini libur. Kenapa?”

Ekspresi Tiara seketika menjadi lebih cerah dari sebelumnya. “Aku mau ngurung kamu di rumah. Aku kan juga kangen kamu, kamunya kerja terus.”

Alright, Ma'am.”

“Seharian ini kita bisa pacaran. Gimana?”

Sounds great. Aku rencananya mau ajak kamu naik helly dan berkuda. Kamu mau?”

Mata Tiara sukses melebar mendengar perkataan Aryo. “Mau dong, seru banget pasti. Kita harus berangkat dulu ke helly pad-nya kan?”

“Engga, Sayang. Helly pad-nya ada di bagian selatan rumah kita.”

“Tempat kuda pacunya?”

“Ada di bagian selatan barat daya. Kamu mau apa lagi? Aku bisa wujudin semua keinginan kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan langit malam serta gedung-gedung perkotaan melalui kaca besar di ruangannya. Ia berbalik dan menatap keponakannya yang meminta untuk menemuinya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta Om tidak melibatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu.

Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau, resiko yang perlu kamu hadapi untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar Aryo sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Aryo in Suit

Reynaldi balas menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak lama setelah Tiara memandangi wajah tidur Aryo, suaminya pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini telah memata-matai mereka.

“Aku tahu kamu akan marah. Maaf yaa, aku nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan presdir semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo adalah untuk melindunginya, tapi perasaannya terluka mendapati Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan,” ujar Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian yang dialami oleh istrinya kemarin. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana, lalu menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastikan tidak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha sebelum melangkah pergi dari sana.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol keramik berwarna hitam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Okey, apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okee, Sayang?” pinta Aryo dengan wajah memelasnya.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat kedua alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I want to spend my time with you.” Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Ketika Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk sambil menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat. Perjanjian diantara kita dibatalkan,” ujar Aryo dengan senyumnya yang semakin lebar.

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget sih hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.”

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang nolongin aku kemarin?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu gitu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He’s confess it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya, “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara,” ucap Aryo ceapt ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ia sadar kemana arah pembicaraan mereka.

I'm pretty jealous. He has his own place in your heart,” ujar Aryo.

Tiara tergelak dan menatap Aryo dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang beda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

“Okee, aku nggak cemburu lagi,” Aryo menjeda ucapannya, “Ra, terima kasih ya karena udah hadir di dunia ini. Aku sayang kamu,” ungkap Aryo sambil menatap ke dalam mata Tiara.

“Kamu jangan lucu gini, aku jadi gemes,” cetus Tiara.

Aryo mengarahkan tangannya untuk menghela pinggang Tiara, memangkas sisa jarak diantara mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dengan satu tangannya berada di pundak pria itu. Tiara beralih untuk duduk di pangkuan Aryo dan mengalungkan lengannya di pundak prianya.

“Gini ya istri aku kalau lagi manja, hmm?” tanya Aryo sembari meletakkan lengannya di pinggang Tiara untuk menjaga perempuan itu tetap aman di dekapannya.

“Kamu ke kantor nggak hari ini?” Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo.

“Aku hari ini libur. Kenapa?”

Ekspresi Tiara seketika menjadi lebih cerah dari sebelumnya. “Aku mau ngurung kamu di rumah. Aku kan juga kangen kamu, kamunya kerja terus.”

Alright, Ma'am.”

“Seharian ini kita bisa pacaran. Gimana?”

Sounds great. Aku rencananya mau ajak kamu naik helly dan berkuda. Kamu mau?”

Mata Tiara sukses melebar mendengar perkataan Aryo. “Mau dong, seru banget pasti. Kita harus berangkat dulu ke helly pad-nya kan?”

“Engga, Sayang. Helly pad-nya ada di bagian selatan rumah kita.”

“Tempat kuda pacunya?”

“Ada di bagian selatan barat daya. Kamu mau apa lagi? Aku bisa wujudin semua keinginan kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan langit malam serta gedung-gedung perkotaan melalui kaca besar di ruangannya. Ia berbalik dan menatap keponakannya yang meminta untuk menemuinya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta Om tidak melibatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu.

Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau, resiko yang perlu kamu hadapi untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar Aryo sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Aryo in Suit

Reynaldi balas menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak lama setelah Tiara memandangi wajah tidur Aryo, suaminya pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini telah memata-matai mereka.

“Aku tahu kamu akan marah. Maaf yaa, aku nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan presdir semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo adalah untuk melindunginya, tapi perasaannya terluka mendapati Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan,” ujar Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian yang dialami oleh istrinya kemarin. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana, lalu menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastikan tidak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha sebelum melangkah pergi dari sana.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol keramik berwarna hitam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Okey, apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okee, Sayang?” pinta Aryo dengan wajah memelasnya.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat kedua alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I wanna spend my time with you.” Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Ketika Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk sambil menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat. Perjanjian diantara kita dibatalkan,” ujar Aryo dengan senyumnya yang semakin lebar.

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget sih hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.”

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang nolongin aku kemarin?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu gitu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He’s confess it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya. “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara,” ucap Aryo ceapt ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ia sadar kemana arah pembicaraan mereka.

I'm a little bit jealous. He has his own place in your heart,” ujar Aryo.

Tiara tergelak dan menatap Aryo dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang beda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

“Okee, aku nggak cemburu lagi,” Aryo menjeda ucapannya, “Ra, terima kasih ya karena udah hadir di dunia ini. Aku sayang kamu,” ungkap Aryo sambil menatap ke dalam mata Tiara.

“Kamu jangan lucu gini, aku jadi gemes,” cetus Tiara.

Lengan Aryo bergerak menarik pinggang Tiara untuk memangkas sisa jarak diantara mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dengan satu tangannya berada di pundak pria itu. Tiara beralih untuk duduk di pangkuan Aryo dan mengalungkan lengannya di pundak lelakinya.

“Gini ya istri aku kalau lagi manja, hmm?” tanya Aryo sembari meletakkan lengannya di pinggang Tiara untuk menjaga perempuan itu tetap aman di dekapannya.

“Kamu ke kantor nggak hari ini?” Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo.

“Aku hari ini libur. Kenapa?”

Ekspresi Tiara seketika menjadi lebih cerah dari sebelumnya. “Aku mau ngurung kamu di rumah. Aku kan juga kangen kamu, kamunya kerja terus.”

Alright, Madam.”

“Seharian ini kita bisa pacaran. Hmm ... what should we gonna do for our date?

“Aku rencananya mau ajak kamu naik helly dan berkuda. Kamu mau?”

Mata Tiara sukses melebar mendengar perkataan Aryo. “Mau dong, seru banget pasti. Kita harus berangkat ke helly pad-nya kan?”

“Engga, Sayang. Helly pad-nya ada di belakang rumah.”

“Tempat kuda pacunya?”

“Ada di sini juga. Kamu mau apa lagi? Aku bisa wujudin semua keinginan kamu.”

Baiklah, Tiara sukses dibuat terkejut bertubi-tubi kali ini.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Pagi ini Aryo mengantar Tiara ke kampusnya. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantar Tiaa sampai ke gedung fakultasnya, tapi perempuan itu tidak mengizinkannya.

Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat ia memaksa ingin turun dari mobil.

“Kamu anternya sampai sini aja,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya.

Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”

“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.

“Oke,” putus Aryo.

Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo dan mengecupnya di sana.

“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.

“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”

“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”

Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.

Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.

“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.

“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.

Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.

“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go. Bye.”

No kiss for me?” Aryo matanya masih tidak beralih sedikit pun dari Tiara.

You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan turun dari sana.

Aryo menunggu Tiara sampai perempuan itu memasuki gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.

Selesai mengakhiri sambungan telfonnya, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.

***

Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah marketing dan bisnis internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya diadakan minggu depan.

Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.

Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.

Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.

“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.

“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.

“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya Non,” ucap Egha.

“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.

“Makasih ya udah nawarin. Gue pulang sama Egha.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.

Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.

***

Tiara membaca pesan yang dikirim oleh Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya bergurau.

Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke

Sent

Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Kurang dari 30 detik setelahnya, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.

“Egha, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.

“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.

Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”

“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.

Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.

“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.

“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.

Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.

Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, seorang pengendara motor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.

Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.

“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara.

“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.

“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.

Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal setelah memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.

***

I love him.

Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.

Sebuah kenyataan yang harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.

Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan senja. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.

Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan bahwa sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya—yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meski harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Pagi ini Aryo mengantar Tiara ke kampusnya. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantar Tiaa sampai ke gedung fakultasnya, tapi perempuan itu tidak mengizinkannya.

Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat ia memaksa ingin turun dari mobil.

“Kamu anternya sampai sini aja,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya.

Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”

“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.

“Oke,” putus Aryo.

Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo dan mengecupnya di sana.

“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.

“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”

“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”

Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.

Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.

“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.

“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.

Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.

“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go. Bye.”

No kiss for me?” Aryo matanya masih tidak beralih sedikit pun dari Tiara.

You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.

Aryo menunggu Tiara sampai perempuan itu memasuki gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.

Selesai mengakhiri sambungan telfonnya, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.

***

Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah marketing dan bisnis internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya diadakan minggu depan.

Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.

Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.

Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.

“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.

“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.

“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya Non,” ucap Egha.

“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.

“Makasih ya udah nawarin. Gue pulang sama Egha.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.

Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.

***

Tiara membaca pesan yang dikirim oleh Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya bergurau.

Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke

Sent

Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Kurang dari 30 detik setelahnya, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.

“Egha, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.

“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.

Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”

“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.

Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.

“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.

“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.

Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.

Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, seorang pengendara motor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.

Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.

“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara.

“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.

“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.

Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal setelah memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.

***

I love him.

Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.

Sebuah kenyataan yang harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.

Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan senja. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.

Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan bahwa sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya—yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meskipun harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Khusus hari ini, Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukuman untuk Tiara adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo hanya ingin menikmati waktunya bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki profesional.

Candle Light Dinner

“Di resort dan pantai cuma akan ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan penutup setelah menyantap menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.

“Aku sewa pulau ini sepenuhnya, biar cuma ada kita,” terang Aryo.

Keduanya pun saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang otomatis menular pada Aryo.

“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo sangsi. Ia menebak bahwa makanan ini memiliki harga yang tidak di atas wajar.

“Bisa ditukar dengan satu kendaraaan roda dua,” jawab Aryo sambil terkekeh.

Tiara melongo mendengarnya. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tinggal tersisa setengah. Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.

The Golden Phoenix Cupcake

“Aryo, thank you for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum di bibir ranumnya.

I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat.

“Mungkin suatu hari kamu akan tau semuanya. Tapi aku mau kamu selalu ingat, perasaanku ke kamu nggak akan berubah.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diutarakan.

“Maksud kamu apa Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.

“Tiara, kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.

“Pembicaraan itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.

So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.

Yes. You’re already stuck in my mind. Always.

Mereka berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.

“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.

“Terus kamu mau aku ngapain?” tanya Aryo.

“Nggak tau. Pokoknya kamu nggak romantis,” Tiara menendang-nendangkan langkah kakinya ke pasir sambil menatap ke jalanan yang mereka lalui.

Tiara semakin merasa sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.

Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.

“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.

“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”

“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”

“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya kan romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.

Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.

“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya.

Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara tersebut membuat Aryo menurunkan posisi tangannya kembali menjadi posisi semula.

“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.

“Kalau gitu, suami juga harus romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.

Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal. Menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.

***

Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan masalah atau lari dari masalah itu. Aryo paham makna kalimat itu sekarang. Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada hal janggal tentang Tiara yang ia temukan sebelum mereka menikah.

Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia telah menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiara terhadapnya.

Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar. Setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Situasinya pun berubah menjadi rumit, tapi Aryo justru memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat gadis itu mencintainya.

Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di halaman depan. Pria itu berjalan menuju kamar dan mencari keberadaan Tiara.

“Tiara?” panggilnya.

“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.

“Kenapa mandi malam-malam gini?” tanya Aryo dari depan pintu kamar mandi.

Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang mungkin membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.

Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.

Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir 30 menit tidak ada tanda-tanda Tiara akan keluar dari sana.

“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara di sana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur coklat menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.

“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.

“Cuacanya lumayan panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.

Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya.

“Masih marah?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo tersenyum cerah.

“Masih sih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.

“Bukannya kita harus baikan? Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”

Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, lalu pria itu tersenyum sekilas. Entah berapa kali jantung Tiara berdebar hanya dengan menyaksikan senyum tersebut.

Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasananya nampak normal, tapi saat ini terasa sedikit berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.

Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.

“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang seketika membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.

Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran dengan jemari Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.

“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya di atas tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.

“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.

Tiara menatap Aryo sesaat. “Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?”

Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk yakin, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.

“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.”

Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara. “Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. I love you, Ra,” ucap Aryo dengan tulus.

Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.

You will be mine tonight, Ra” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman di dekapan pria itu.

***

“Aku mau tanya sesuatu, kamu jawab ya. Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Tiara.

“Hmm ... aku suka banyak makanan,” jawab Aryo sambil menyipitkan matanya. Ia pikir dirinya tidak terlalu pemilih kalau soal makanan.

“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya memberengut lucu. Aryo yang melihatnya pun menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.

“Oke, kalau cuma satu, aku pilih American food,” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat untuk mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.

“Banyak dong, curang kamu. Makanannya dong, bukan jenisnya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara meebarkan matanya dan menahan senyumnya.

Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.

“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.

“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”

“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kamu punya tempat impian yang mau kamu datengin?”

“Switzerland.”

“Kenapa Switzerland?”

Switzerland is like a paradise. It's such a beautiful place. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”

“Aku mau tahu lebih banyak tentang kamu,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.

Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku Tiara dan senyuman perempuan itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal kala menyaksikannya.

“Okee, kamu mau tanya apa lagi? Aku bisa jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.

“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”

“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena perceraian. Maksud kamu yang mana?”

“Perceraian, maybe.”

“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”

“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”

“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu. Aku nggak mau berpisah sama kamu.”

“Meskipun jalan yang harus dilaluin punya banyak duri yang bisa aja bikin kaki kamu berdarah?”

Aryo mengangguk. Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.

I want you to know. I’m who I am right now because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.

You are the reason, every hope and every dream I’ve had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.

“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap air mata di pipi Tiara setelah keduanya mengakhiri ciumannya.

“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku pergi sama mama ke dokter,” cerita Tiara.

“Oke. Mama punya ide apa lagi?”

“Cek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, jadi mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, Aryo junior akan segera hadir. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.

“Emang bisa secepet itu Ra?”

“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”

“Ya, Tuhan. Ramuan apa itu Tiara?” Kedua mata Aryo sukses melebar. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan tersebut begitu menguasai dan mendesaknya untuk menyentuh Tiara.

“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juga minum rumuannya. Tujuannya biar makin subur dan cepat jadi,” ucap Tiara dengan suara pelan. Perempuan itu lantas tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.

“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”

“Serius kamu mau?” tanya Tiara.

Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Menurut kamu gimana?”

***

Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa begitu berkesan bagi keduanya. Keduanya menikmati waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang menakjubkan ini.

Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang terlalu lama.

Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk ketika menyapa permukaan kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.

“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.

“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara membuatnya tampak tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.

“Aku kira kamu kode minta yang semalam diulang lagi.”

“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.

Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo tersebht.

Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo juga atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup kuat untuk mereka melakukannya sampai pagi hari. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo.

Keduanya merasa sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintainya, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.

Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.

“Aku nggak bisa cepet selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.

“Kita honeymoon-nya sebentar banget ya Ra,” ujar Aryo.

“Iya sih,” Tiara memasang wajah sedihnya. “Tapi bukannya hari pemilihan udah dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?” tanyanya memastikan.

“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?

I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau kerjanya udah selesai,” ujar Tiara.

Aryo pun mengulaskan senyumnya. Ia menghela tubuh Tiara, sehingga posisi mereka saat ini saling berhadapan.

“Iya. Aku akan langsung pulang,” ujar Aryo sembari mengulaskan senyumnya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping-keping, perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh kembali.

Namun tiba-tiba Tiara teringat satu hal mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan Aryo tidak bisa selamanya menjadikannya tempat untuk pulang.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷