alyadara

Sebuah ballroom hotel bergaya eropa klasik menjadi tempat digelarnya resepsi pernikahan Aryo dan Tiara. Sekitar tujuh ribu tamu yang hadir memberi ucapan selamat berbahagia untuk kedua mempelai yang tampil menawan malam ini. Berbagai hidangan mewah dan terlihat lezat pun disajikan, mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup.

Wedding Venue

Dari sekian banyak tamu yang datang, seseorang yang tidak Aryo sangka, memberi selamat kepadanya dan Tiara di pelaminan. Eksistensinya itu cukup menarik perhatian, karena sebagian besar kerabat mengenalinya. Perempuan itu merupakan mantan kekasih Aryo yang terakhir, sebelum pria itu akhirnya menggemparkan seluruh lapisan masyarakat dengan kabar pernikahannya yang tiba-tiba. Aurorae Hartanto, hadir di pernikahannya bersama kakeknya yang diundang sebagai kolega bisnis perusahaannya.

Congrats ya, buat kalian berdua. Aku denger, kabar pernikahan kalian diumumin nggak lama setelah aku dan Aryo putus. Kayaknya menambah kekuatan untuk perusahaan bukan alasannya, lalu apa alasannya?” ucap perempuan cantik itu diiringi sebuah senyum penuh arti di wajahnya. Setelah mengucapakannya, Aurorae turun dari panggung pelaminan. Namun beberapa meter dari sana, ia masih menatap kearah Aryo dan tidak berniat pergi dari sana.

“Mantan lo kayak psycho ya,” bisik Tiara di samping Aryo. Detik selanjutnya, ia merasa tatapan mantan kekasih Aryo itu tertuju padanya dengan tatapan yang Tiara sendiri tidak mengerti maksudnya.

Oh my god, I'm scared. She’s look at me? Alright, she’s really look at me,” ucap Tiara lagi sambil tertawa seolah menganggap ini adalah kejadian yang lucu dan cukup seru untuk disaksikan. Tanpa aba-aba, Aryo menarik tangannya untuk turun dari pelaminan. Tiara masih syok dan kebingungan. Jelas saja, Aryo itu sinting, pikirnya. Pria itu telah membuat pengantin meninggalkan tamu-tamunya begitu saja.

This is cute. You hold my hands and take me from there, so I can breathe and take a rest for a minute,” cerocos Tiara ketika Aryo membawanya ke lorong menuju ruangan khusus bride and groom.

Aryo menghempaskan genggamannya begitu saja. Tiara menatap Aryo nyalang dengan kedua matanya yang membola.

“Kabur dari mantan? It’s not a gentleman, Dude,” ucap Tiara sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Kita periksa kaki lo,” cetus Aryo.

“Eh? Kaki gue nggak papa kok. Emangnya kenapa?” tampang Tiara justru terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Lo berdiri lama, pakai high heels.” Setelah mengatakannya, Aryo kembali menarik tangan Tiara, namun kali ini terasa lebih halus dibandingkan sebelumnya.

Kini mereka berada di ruangan yang disediakan khusus untuk pengantin. Tiara duduk di sofa dan matanya menatap ke arah Aryo yang sibuk mencari-cari sesuatu di meja.

“Lo nyari apa?” tanya Tiara.

Handsaplast.”

“Jelas nggak ada.”

“Lo tunggu dulu di sini, jangan kemana-mana,” tutur Aryo sebelum ia meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian. Sambil menunggu Aryo, Tiara penasaran apa benar kakinya lecet atau terluka. Ternyata benar saja, tumitnya memerah dan ketika Tiara melepaskan high heels-nya, terdapat rasa perih yang tertinggal di kulitnya.

Aryo lumayan cepat kembali. Namun pria itu tidak membawa apapun di tangannya.

“Di mana handsaplast-nya?” tanya Tiara.

“Lagi di bawain.”

“Lo minta orang buat cari?”

Aryo mengangguk menjawab pertanyaan Tiara.

“Gue nggak melakukannya semata untuk lo,” celetuk Aryo lantas mengalihkan pandangannya dari Tiara.

“Ohhh ya? Terus?” Tiara justru menatap Aryo lekat tanpa berniat mengalihkan fokusnya pada apapun selain pria itu.

I know, you use me to escape, from your ex girlfriend. Lo masih cinta dia rupanya,” sambung Tiara.

“Lo kayak tau segalanya aja tentang hidup gue,” ucap Aryo dengan kedua alisnya yang menyatu. Ekspresinya seolah mengejek Tiara yang bertingkah sok mengetahui semua tentangnya.

Tiara mengangkat kedua bahunya. “Yaa, gue emang nggak tahu sih. Ohiya, gue mau diskusiin seusautu sama lo.”

“Kalau kita diskusi, nggak akan selesai hanya dengan satu kalimat dari kita masing-masing. Kita tunda dulu,” ucap Aryo.

“Kapan?”

Maybe tonight.”

“Kenapa harus nanti malam?”

“Ini kita sudah berdiskusi, Tiara. Malam ini kita punya banyak waktu.” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, aroma maskulin yang dominan bercampur sedikit aroma vanilla lantas memenuhi indra penciuman Tiara.

Tiara bahkan dapat merasakan deru napas Aryo di dekat rahangnya. Tiara mengerjapkan matanya saat Aryo semakin mendekat padanya, lalu ia memejamkan matanya entah untuk alasan apa. Sampai terdengar sebuah ketukan pintu dan menampakkan seorang pria di sana. Aryo dan Tiara berusaha terlihat normal seolah tidak ada yang terjadi. Pria berstelan formal itu memberikan apa yang Aryo minta, lalu pamit setelah membungkukkan badannya.

Tiara memperhatikan Aryo menempelkan handsaplast di kedua tumitnya. Aryo menumpu badannya dengan satu kaki ke lantai dan dengan telaten melakukan kegiatan tersebut.

“Kita harus balik ke pelaminan,” ucapan Aryo membuyarkan fokus Tiara yang beberapa detik lalu hanya menatap pria itu.

***

Tiara tertawa dalam hatinya. Sepertinya Aryo berpikir bahwa hanya pria itu yang merasa paling diuntungkan atas adanya pernikahan ini. Meskipun pernikahan mereka terbilang kilat dan terjadi tanpa adanya perasaan cinta, laki-laki tetaplah akan menjadi laki-laki dengan kebutuhan biologisnya. Namun Tiara sudah mempersiapkan kuda-kuda dan jurus andalannya, jika Aryo berani melakukan sesuatu terhadapnya. Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya sebelum Tiara mendapat apa yang ia inginkan dari menikahi pria itu.

Keduanya telah sampai di tempat yang akan mereka tinggali setelah menikah. Dari pintu masuk menuju bangunannya, membutuhkan waktu sekitar lima menit mengendarai mobil. Tiara mencoba memperkirakan berapa hektar luas rumah yang akan mereka tempati ini.

“Kita nggak tinggal di sini kan? Aryo, tempat ini luas banget.” Mata Tiara masih fokus menyapu ke sekeliling area bangunan itu, sampai mobil yang dikendarai Aryo pun berhenti tepat di depan sebuah bangunan utama, setelah mereka mengitari bundaran air mancur yang besar. Bangunan itu sangat besar dan megah, hingga sukses membuat Tiara membuka mulutnya karena terkejut.

“Kita akan tinggal disini,” jawab Aryo.

“Lo pasti punya tujuan lain dengan kita tinggal di sini, kan?” Tiara melepas seat belt-nya dan membuka pintu mobil, lalu ia menginjakkan kakinya pada jalanan yang kedua sisinya ditumbuhi rumput hijau yang dipangkas pendek. Semua yang ada disini terlihat sangat rapih dan terawat dengan baik.

Aryo menyusul Tiara dan mengitari mobilnya.

What do you think about the purpose?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Lo mau jadiin gue asisten lo, kan? Tempat ini bisa diakses atas kuasa lo. Denger ya, jangan harap lo bisa ngekang gue. Pernikahan ini, punya perjanjian yang harus kita sepakatin.” Tiara berjalan lebih dulu menuju entrance dari bangunan itu.

“Lo salah, Tiara.” Aryo menanggapi ucapan Tiara dengan nada tenang khas pria itu ketika menghadapi lawan bicaranya.

“Ohya? Tell me where I’m wrong.”

Aryo berjalan ke arahnya. Kemudian ia menghela pinggang ramping Tiara dan membawa tubuh gadis itu untuk mendekat padanya, sehingga torso Tiara hampir menempel pada tubuh kekarnya.

“Lo suka semua ini, kan? Gimana rasanya menikah dengan calon pewaris Harapan Jaya, hmm … ?” tanya Aryo.

“Apa banyak cewek yang pengen ada di posisi ini? Kalau iya, artinya gue udah sangat beruntung,” balas Tiara.

Aryo tertawa sekilas menanggapi ucapan Tiara tersebut. “Jadi asisten adalah hal yang lebih mudah, dari pada lo mencoba untuk kabur dari tempat ini, Tiara. Gimana, menurut lo?” Aryo mengangkat satu tangannya, lalu ia mengusap sisi wajah Tiara dengan usapan yang lembut. Tiara berusaha menjauhkan wajahnya dan membuang pandangannya dari pria itu. Aryo pun tersenyum smirk lalu menjauhkan tangannya begitu saja dari wajah Tiara.

Tiara berpikir pada awalnya, tidak baik juga menjadi asisten bagi Aryo. Namun melihat sifat aslinya, lebih baik Tiara menjadi asistennya dari pada harus menjadi istri sungguhan untuk pria arogan itu.

Kehadiran dua orang di antara mereka pun menginterupsi. Mereka mengatakan akan membantu membawa barang dari bagasi mobil. Mereka adalah dua asisten yang menjaga tempat ini dan tinggal di paviliun yang terpisah dari bangunan utama.

“Tolong langsung bawa ke lantai dua. Terimakasih,” ucap Aryo pada dua orang lelaki yang bekerja untuknya itu. Lantas Tiara mengikuti langkah Aryo yang lebih dulu memasuki kondominium.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo's Wedding Car

Aryo mengendarai BMW putihnya untuk sampai ke venue pemberkatan pernikahannya hari ini. Pria itu tampil sempurna dengan kemeja putih yang dilapisi tuxedo hitamnya. Rambutnya telah ditata rapi oleh seorang hair style beberapa menit yang lalu. Persiapan untuknya sendiri cukup simpel dan tidak memakan waktu yang lama. Berbeda dengan Tiara yang saat ini masih di make up oleh dua orang makeup artist profesional.

Aryo bertemu para sepupu dan tantenya, mereka berbincang sebentar sampai Rama menahan pergerakannya ketika ia beranjak dari tempatnya.

“Lo mau kemana?” tanya bodyguard-nya itu.

“Mau ketemu Tiara,” jawab Aryo.

Rama memerhatikan sekitarnya dan menyapukan pandangannya sekilas, “Mana boleh ketemu sekarang, sabar kali. Ohya, gue punya info baru. Laporannya gue kirim ke lo nanti malam,” ujar Rama.

“Sialan. Jangan nanti malam,” desis Aryo.

Rama terkekeh mendapati wajah kesal atasannya itu, “Oh ya, gue lupa. Malam pertama sama istri nih ceritanya. Semangat ya Bos,” Rama menepuk pundak Aryo sebelum melenggang pergi dari hadapan atasannya itu.

***

The Altar

Aryo on His Wedding Day

Aryo berdiri gagah di depan altar dan pandangannya menatap lurus ke arah Tiara. Perempuan itu berjalan dengan anggun, satu lengannya berada di lengan ayahnya. Sesekali gadis itu melihat ke arah hadirin sembari melemparkan senyum cantiknya.

Aryo memerhatikan paras menawan itu, dressdan bride veil putih yang sederhana dan elegan itu tampak sempurna dikenakan Tiara. Aryo menyaksikan semua itu dan merasakan kedua matanya memanas. Sejenak ia mengalihkan tatapannya dari sosok Tiara, guna mencegah air mata merembas dari pelupuk matanya. Saat Tiara sampai di hadapannya, Aryo menatap perempuan itu sembari mengulaskan senyum simpulnya.

Andi Lubis menyerahkan tangan putrinya pada Aryo, sebagai sebuah tanda bahwa seorang ayah telah merelakan putrinya untuk menjadi milik pria lain. Aryo menerima uluran tersebut, ia membawa lengan Tiara untuk melingkar di lengannya.

Seorang pendeta di hadapan keduanya menuntun Aryo dan Tiara untuk bergantian mengucapkan ikrar pernikahan.

Aryo meraih kedua tangan Tiara dan mengenggamnya, “Saya merima kamu, Tiara, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita,” tutur Aryo sambil menatap lembut paras Tiara.

Tiara balas menatap Aryo sembari tersenyum, ia berdeham sejenak sebelum gantian mengucapkan ikrarnya, “Saya menerima kamu, Aryo, menjadi suami saya,” ucap Tiara mengikuti apa yang Aryo ucapkan sebelumnya.

Prosesi tersebut berjalan dengan lancar dan sangat intimate. Kini keduanya pun telah menjadi sepasang suami istri yang sah di hadapan agama dan hukum negara.

Setelah memasang cincin di jari manis pasangan secara bergantian, pendeta mempersilakan mereka untuk memadu kasih sebagai sepasang jiwa baru yang telah disatukan. Tiara mendapati Aryo menatap matanya dan ia merasakan jantungnya berdebar kencang. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, yang seketika membuat Tiara memejamkan kedua matanya.

Aryo menyematkan kecupan di keningnya dan Tiara otomatis membuka netranya. Perempuan itu tersenyum kikuk dan malah dihadiahi sebuah senyum jenaka dari Aryo.

“Kenapa gugup? Kita udah pernah melakukannya,” bisik Aryo di dekat Tiara.

Tiara mencebikkan bibirnya dan membuang pandangannya dari Aryo sebisa mungkin.

Look at me, Tiara,” tutur Aryo. Dalam hitungan dua detik, tangannya bergerak lembut untuk menghela sisi wajah Tiara. Kemudian Aryo memberikan ciuman lembut di bibir wanitanya. Dunia Tiara seperti berhenti ketika merasakan bibir lembab Aryo menyapa bibirnya. Hanya terjadi kurang dari 7 detik, Aryo pun kembali menjauhkan dirinya dari Tiara.

Lantas Aryo meraih tangan Tiara untuk digenggam, lalu melempar senyumnya ke arah para tamu, yang lantas berseru gembira menyaksikan momen bahagia keduanya.

***

Acara pemberkatan tersebut mengusung tema garden party, sesuai dengan keinginan yang Tiara utarakan sebelum pernikahan. Awalnya Tiara ragu, Aryo akan menuruti kemauannya dan perempuan itu mencoba untuk mengerti. Dimana konsep outdoor sendiri akan lebih repot untuk mengurus masalah privasinya. Namun semua itu dapat diatasi dan Tiara mendapatkan pernikahan impiannya.

Acara berjalan lancar dengan penjagaan yang sangat ketat. Tidak ada media yang diperbolehkan untuk meliput, sehingga dokumentasi hanya ada dari pihak pribadi.

Wedding Venue

Tiara mendapati Aryo menghampirinya ketika ia sedang bersama kedua adiknya, Kelvin dan Chelsea. Tanpa di sangka, adik lelakinya yang paling kecil itu mendekat pada Aryo.

“Kak Aryo, jangan dibawa pulang ya Kak Tiaranya ya. Kelvin masih mau sama Kakak,” tutur bocah berusia 5 tahun itu dengan wajah polosnya. Aryo nampak bingung menanggapi ucapan Kelvin, ia menatap ke arah Tiara dan sesaat mereka hanya saling bertukar pandang sambil tersenyum kikuk.

Saat situasi canggung seperti ini, bundanya menghampiri mereka dan mencoba untuk membujuk anak lelakinya itu. Kelvin diberi pengertian oleh bundanya dan kemudian ia langsung beranjak untuk memeluk tubuh Alifia.

“Sebentar aja kok adik kamu begini, nanti juga baikan lagi. Bunda coba kasih pengertian ke Kelvin pelan-pelan ya,” ucap Alifia sambil mengulaskan senyumnya pada Tiara dan Aryo. Kejadian itu berlangsung begitu saja dan akhirnya Kelvin mau dibujuk untuk pulang tanpa Tiara.

Sebelum benar-benar memisahkan diri, Aryo dan Tiara berpamitan pada kedua keluarga. Ayahnya dan Aryo berbicara berdua tanpa Tiara tahu apa yang sedang kedua pria itu bicarakan. Ayahnya itu terlihat tersenyum kepada Aryo dan raut bahagia terpancar di wajahnya.

Aryo benar-benar menampakkan sosok menantu dan suami idaman di hadapan kedua orang tua dan keluarganya. Namun bagi Tiara, sifat asli pria itu akan muncul ketika mereka hanya sedang berdua.

***

Tiara berpikir tentang hal apa yang harus ia mulai terlebih dahulu. Kehidupan pernikahannya tetap lah nyata, meskipun ia memiliki tujuan lain dari pernikahan ini. Tiara tidak terlalu menyukai ketika ia harus kembali beradaptasi, terlebih tanpa orang yang ia sayang berada di sekelilingnya.

Tiara melirik Aryo yang menyetir di sampingnya dengan hanya satu tangan memegang kemudi. Meskipun mereka sudah mengambil jalan tol, mereka tetap harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai ke tempat tujuan.

“Kenapa nggak pakai supir aja?” tanya Tiara yang sejujurnya ingin tahu kenapa Aryo memilih menyetir dengan jarak tempuh yang cukup jauh di hari pernikahannya sendiri. Setelah pernikahannya, Tiara menjadi tahu seberapa kaya pria yang dinikahinya, tapi pria ini rupanya cukup pelit, pikirnya.

“Biar cuma ada kita berdua di sini,” jawaban Aryo membuat Tiara terdiam dan terpatahkan sudah spekulasi di dalam kepalanya. Namun jangan salah berpikir Tiara akan diam saja dan menelan mentah-mentah perkataan spesies buaya darat bernama Aryo Bimo. Aryo memang menikahi seorang perempuan bukannya hantu, tapi Tiara tidak sudi kalah omongan dengan Aryo. Aryo pikir dirinya itu siapa, bisa membuatnya tidak berkutik hanya dengan kalimat yang berorientasi mesum dari lelaki itu.

“Lo mau berapa babak? Tujuh ? Sepuluh? Ayo kita lakuin,” ucap Tiara menantang Aryo. Tidak disangka oleh Tiara, pria itu menepikan mobilnya di sebuah rest area yang tidak terlalu ramai. Mereka masih berada di dalam tol, jadi hanya dapat berhenti di rest area saja.

I’ve been read in some article, doing something in car can gave a different sensation.” Tiara mendekatkan tubuhnya pada Aryo dengan berani. Namun pria itu hanya menatapnya dan bergeming di tempatnya. Setelah beberapa detik, Tiara yang merasa kalah pun kembali menjauhkan tubuhnya dari pria itu.

Tiara memainkan jemarinya tanpa berniat sedikit pun melihat kearah Aryo lagi. Lelaki itu memang sialan. Tiara pastikan Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya.

***

Ketika sampai di hotel dan membersihkan diri, Tiara berniat mendiamkan Aryo dan langsung menjamah kasur berukuran king size di dalam president suit room yang telah disiapkan untuk mereka.

Tiara sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sejak satu jam yang lalu. Sehingga hanya Aryo saja yang tertidur sambil sesekali mendekap tubuhnya ketika pria itu ingin melakukannya. Dasar, lelaki hampir semuanya sama saja! Apa yang ada di dalam kepala mereka, orientasinya selalu tidak jauh dari wanita dan ranjang.

Saat ini, Aryo persis seperti bayi besar yang sedang dikeloni oleh ibunya. Tiara juga merasakan lelah pada tubuhnya, tapi Tiara pikir Aryo lebih lelah darinya karena pria itu langsung tertidur dengan pulas.

Belasan tahun yang lalu, saat Tiara mendapati kesulitan tidur, bundanya akan memeluknya dan itu membuatnya merasa nyaman, sehingga ia berhasil tertidur. Tiara mengarahkan tatapannnya pada langit-langit kamar, guna menetralisir perasaan yang kini kembali datang dan terasa mengganggunya.

Sadar diperhatikan, Tiara menoleh pada Aryo yang terbangun dari tidurnya dengan keadaan masih memeluk tubuhnya.

“Jam berapa sekarang?” ujar suara husky Aryo yang kini memasuki indra pendengaran Tiara.

“Lo bisa lanjut tidur, resepsinya masih empat jam lagi,” ucap Tiara.

“Lo kenapa nggak tidur?” Aryo melepaskan dekapannya pada Tiara dan menatap gadis itu dari posisi baringannya.

Gadis itu memasang wajah datar dan minim ekspresinya, ia menjawab pertanyaan Aryo dengan hanya menggelengkan kepalanya. Tiara mengalihkan tatapannya dari Aryo, ia menatapi kukunya yang hari ini nampak cantik karena di hias oleh nail art bernuansa biru cerah.

“Jangan nyalahin siapapun, kalau nanti malam lo kecapean, Tiara. Acara resepsinya sampai malam.” Setelah mengatakannya, Aryo membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan kembali tidurnya. Bagi Tiara, tidak penting bagaimana Aryo bersikap padanya sekarang maupun nanti. Tiara yang akan mengontrol sikapnya terhadap Aryo.

Tiara harus dapat mengatur apa yang ia tampilkan di depan Aryo. Begitu pun dengan apa yang tidak boleh ia tampilkan saat bersama pria di sampingnya ini.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara telah membayar kebutuhan yang mereka beli. Terdapat beberapa perabot untuk mengisi rumah yang akan mereka tempati nanti setelah menikah.

Salah satu bodyguard Aryo mengantar sebuah mobil yang lebih normal untuk tuan dan calon nyonya mereka. Bagi Tiara, mobil ini tampak lebih baik di bandingkan tesla X yang pintunya di buka ke atas itu. Lantas Aryo meminta supirnya untuk memberikan kunci mobil padanya dan beliau pun dibebas tugaskan.

“Saya mau nikmatin waktu berdua sama calon istri saya. Kalian saya bebas tugaskan,” ucap Aryo sambil menatap Tiara diiringi senyuman tipisnya. Tiara sedikit terkejut saat lengan Aryo merangkul pinggangnya, sehingga tubuh rampingnya kini menempel dengan pria itu. Kemudian Aryo meraih dan menggenggam tangannya ketika mereka berjalan menuju parkiran, tempat di mana mobil yang dibawakan bodyguard-nya itu berada.

“Tiara, nanti di rumah cuma akan ada dua asisten utama yang tugasnya menjaga keamanan dan kebersihan. Karena lo milih untuk tinggal mandiri dan gue udah nurutin permintaan lo. Jadi, kerjaan rumah yang ringan-ringan bakal kita kerjain berdua. Lo mau ambil bagian apa?” papar Aryo ketika mereka sampai di parkiran khusus pemilik akses VVIP.

“Lo sangat mampu membayar asisten untuk mengurus rumah, Bapak Aryo Bimo Brodjohujodyo. Kenapa gue harus repot-repot bersihin rumah? Tinggal tambah asisten lagi untuk ngurus masalah itu,” ucap Tiara yang tidak terima dengan keputusan Aryo itu. Tiara lantas melepaskan tangannya dari genggaman Aryo. “Untuk apa gue nikah sama calon pewaris Harapan Jaya kalau—”

“Kalau apa?” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga saat ini wajahnya hanya berjarak sekitar dua centi dari gadis itu.

“Gue nggak pernah minta lo nikah sama gue, remember that fact. Keluarga lo yang meminta—no. Mereka menggunakan reputasi keluarga gue, supaya kita bisa menikah. Are you forget about that?” tanya Aryo.

“Lo nggak perlu bawa orang tua gue dalam hal ini. Lagian lo juga dapet keuntungan dari pernikahan ini. Lo selalu mikirin caranya nyelamatin reputasi lo untuk dapetin posisi pewaris itu, kan?” Tiara meninggalkan Aryo masuk ke dalam mobil lebih dulu. Aryo langsung menyusul calon istrinya itu dengan langkah besarnya.

Di dalam mobil, keduanya pun terjebak dalam suasana hening selama beberapa detik, hingga Aryo memutuskan untuk membuka suaranya lebih dulu.

“Tiara, gue minta maaf. Gue akuin, ucapan gue tadi keterlaluan,” ungkap Aryo dengan penuh penyesalan dalam nada bicaranya.

“Gue mau ada perjanjian di antara kita.” Tiara pun mengalihkan tatapannya dari jendela pada Aryo yang berada di sampingnya.

“Perjanjian apa?”

“Kita tetep dua orang asing walaupun kita udah nikah. Gue yakin lo tau maksud gue,” ujar Tiara.

You can got it. Tapi gue nggak bisa janji, kalau keluarga nggak akan nuntut sesuatu dari kita.”

“Maksud lo?” Kedua alis Tiara bertaut. Ia tidak mengerti maksud perkataan Aryo itu.

Aryo meletakkan satu lengannya di atas stir mobil, lantas ia menatap Tiara dengan lekat, “Kita nggak tau, kapan perusahaan bakal tau soal pernikahan kita terjadi karena skandal tersebut.”

“Itu cuma bakal jadi urusan lo, Aryo. It’s not gonna be my business at all.” Tiara tidak habis pikir kenapa pernikahannya menjadi serumit ini.

“Semua orang tau kita akan nikah, Tiara. Menurut lo, apa artinya sebuah pernikahan tanpa adanya seorang anak?” Pemaparan Aryo itu layaknya sebuah sirine di dalam kepala Tiara. Sirine yang mengingatkannya kembali bahwa pernikahannya dengan Aryo adalah hal yang nyata adanya. Mereka akan menikah secara sah di mata agama dan hukum. Mereka memiliki hak yang akan didapatkan. Di samping itu, ada juga kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai suami dan istri.

Tiara tidak memikirkan sampai sejauh itu, bahwa dirinya dan Aryo harus secepatnya memiliki anak. Setelah Aryo menjelaskan padanya, pria itu menyalakan mesin mobilnya dengan Tiara yang tetap bergeming. Selama perjalanan, tidak ada percakapan yang terjadi hingga Tiara melihat pemandangan di depannya adalah pagar rumahnya.

“Aryo,” ucap Tiara ketika Aryo menarik rem tangan mobilnya.

“Kenapa?”

“Bisa kan, kita tunda dulu?” pinta Tiara. “Kita tunda satu tahun dengan alasan gue harus fokus kuliah,” sambungnya dengan wajah memelas.

“Terus mereka akan semakin mempertanyakan, kenapa lo mau nikah sama gue secepat ini? Lo punya jawabannya?”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan nyalangnya. “Gue akan bilang, kalau gue pengen nikah sama lo karna uang. Gue nggak punya alasan selain itu,” Tiara membuka pintu mobil dan melangkah pergi sebelum Aryo sempat membalas perkataannya. Di dalam sana, Aryo sedang berusaha menahan gejolak emosinya karena baru saja menghadapi kelakuan ajaib calon istrinya itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tepat dua minggu lagi, pernikahan Aryo dan Tiara akan dilaksanakan. Berbagai persiapan pun dilakukan dan sudah 90% selesai. Namun terdapat beberapa hal yang perlu Tiara dan Aryo diskusikan dan lakukan bersama. Rasanya sampai di titik ini, Tiara masih tidak menyangka. Lelaki yang akan dinikahinya adalah laki-laki yang menabrak motornya, yang ia tolong malam itu di bar, dan yang mengambil ciuman pertamanya. Fakta yang terakhir adalah, pria itu merupakan keturunan keluarga Brodjohujodyo, sekaligus calon pewaris Harapan Jaya Group yang selanjutnya. Mungkin ini yang disebut kebetulan untuk membalas dendam dengan cara yang cukup halus.

Jam 12 siang ini, Aryo akan menjemput Tiara di kampus setelah kelas terakhir mata kuliahnya. Beberapa orang telah mengenali identitasnya sebagai calon istri Aryo Bimo. Saat ini, para mahasiswi di fakultasnya sedang menghebohkan seorang calon penerus Harapan Jaya yang akan menjemput tunangannya yang berkuliah di kampus mereka. Tiara tidak tahu berita kedatangan Aryo ke fakultasnya tersebut menyebar dari mana, yang jelas kabar itu tersebar luas dengan sangat cepat.

“Lo nggak turun, Ra? Calon suami lo di bawah kan jemput lo?” tanya Latisha, teman sekelasnya yang masih berada di kelas ; disaat semua mahasiswa sudah berebut lift untuk turun.

Mungkin cewek-cewek dari kelasnya salah satu dari sekian banyak yang ingin melihat secara langsung, si pewaris Harapan Jaya tersebut. Dibawah sana, sepertinya sudah terjadi hiruk pikuk manusia yang ingin melihat sosok Aryo Bimo Brodjohujodyo dengan mata mereka sendiri.

“Ini gue mau turun kok. Gue duluan ya Tish, bye!” ujar Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Latisha.

***

Tiara berhasil masuk ke mobil setelah melewati jalur tersembunyi. Salah satu bodyguard Aryo menjemputnya dan melindunginya dari kerumunan massa. Gerombolan tersebut dikelabuhi dan akhirnya mereka dapat selamat dari terpaan orang-orang itu.

“Gimana mereka bisa tau lo ada di sini?” tanya Tiara pada Aryo yang kini duduk di sampingnya. Mereka dalam perjalanan dengan mobil yang Tiara duga, mobil inilah yang ikut menjadi andil suasana heboh siang ini di kampusnya.

Aryo menurunkan kacamata aviator abu-abu yang bertengger di pangkal hidungnya. Kemudian pria itu menoleh untuk menatap Tiara. “Gue nggak tahu soal itu. Tapi sekarang lo aman, kan?” ucap Aryo sembari menaikkan sebelah alisnya.

“Lo tau, satu kampus gue heboh karena kedatangan lo,” ucap Tiara. Bagaimana bisa pria itu berpikir menjemputnya ke kampus dengan mobil yang sangat mencolok seperti ini. Tentu itu akan semakin mengundang perhatian ketika sebuah tesla memasuki area fakultasnya.

Bodyguard gue cukup handal untuk situasi kayak gini, Tiara. Jadi lo nggak perlu khawatir,” ucap Aryo. Tiara sukses melongo dibuatnya. Sepertinya ia harus membiasakan diri dengan apapun yang bisa saja terjadi ketika ia sedang bersama Aryo Bimo.

***

Aryo mendorong troli belanjaan dengan Tiara yang berjalan di sisinya. Ketika melewati area kasir, Tiara merasa Aryo tidak berada di sampingnya. Ia pun menoleh ke belakang dan menemukan pria itu memasukkan satu barang ke troli ; yang diambilnya dari etalase yang terletak di dekat kasir.

Tiara melihat barang tersebut dan mendapati benda dengan kemasan berwarna ungu yang berukuran tidak terlalu besar itu.

“Ngapain beli ini?” tanya gadis itu setelah melihat dengan jelas dan menemukan bahwa benda itu adalah alat kontrasepsi.

For our first night,” ucap Aryo dengan tampang lempengnya. Kemudian pria itu memasukkan satu tangannya ke saku celananya dan kembali mendorong trolinya. Hari ini Aryo mengenakan stelan formal, yakni kemeja putih yang dilapisi tuxedo hitam yang nampak licin, celana bahan hitam, dan tidak lupa kacamata aviatornya yang ia sematkan di atas kepalanya. Penampilan Aryo yang sedemikan rupa itu, berhasil membuat para pengunjung di supermarket rela menghabiskan lima detik mereka—untuk sekedar menatap ke arah pria tinggi dan gagah itu.

Can you repeat your words?” tanya Tiara sambil menatap Aryo dengan tatapan beraninya.

For our first night, Tiara.” Aryo mengulangi ucapannya, kali ini dengan penekanan pada setiap kata-katanya.

We will never do that,” ucap Tiara cepat.

Aryo menatap Tiara tepat di iris matanya dan mencondongkan tubuhnya untuk mendekat. “We will see,” ucap Aryo pelan, namun Tiara dapat sangat jelas mendengar kalimat pria itu.

Aryo kembali mendorong trolinya dan berjalan meninggalkan Tiara beberapa langkah di belakangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seharian ini Tiara berusaha memikirkan cara efisien agar ia bisa mendapatkan keinginannya melalui Aryo. Namun sudah menjelang malam, tidak ada satupun ide yang terlintas di benaknya. Kalaupun itu ada, resikonya akan berbahaya untuk keamanan rencananya. Tiara tahu, ini tidak akan mudah, justru akan sulit mengingat bagaimana karakter Aryo. Pria itu sepertinya terlatih untuk teliti dalam segala hal, perfeksionis, dan selalu memiliki cara untuk membuat Tiara menjadi gadis yang penurut.

Seperti yang sudah terjadi, keputusan mengenai tempat tinggal yang akan mereka tinggali permanen, merupakan keputusan dari Aryo. Mereka sepakat tinggal di kondominium walaupun Aryo sudah membeli rumah berlantai dua yang lebih kecil di banding kawasan yang lebih mirip komplek perumahan ini. Tiara akhirnya setuju karena ia tidak mau ambil pusing lagi masalah tempat tinggal.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran Tiara karena ia merasa bosan. Sepertinya mengganggu Aryo saat ini akan sangat seru. Sejak tadi siang sampai sudah lewat senja, Aryo sibuk bekerja di ruang kerjanya dan mereka hanya bertemu saat makan siang. Sebenarnya, Tiara itu istri atau cuma pajangan pria itu saja di rumahnya ini, sih?

Tiara mengetuk pintu kayu berpelitur putih di hadapannya. Belum ada sahutan dari dalam, tapi gadis itu langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Tiara mendapati Aryo berada di balik meja yang diisi oleh tumpukan-tumpukan file dan kertas.

“Aryo ... gue bosen tau. Mau beli cemilan di minimarket, boleh nggak?” Tiara menampakkan puppy smile-nya.

“Jam kerja Erza sama Egha udah selesai hari ini,” ucap Aryo yang hanya sekilas melihat Tiara, kemudian pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.

“Apa hubungannya, sama jam kerja mereka?” Tiara nampak bingung. Memangnya ada hubungan jam kerja para asisten di kondominium ini dengan dirinya yang hanya ingin keluar sebentar ke minimarket?

“Mereka yang akan nganter lo ke minimarket.” Aryo mengambil ipad-nya di nakas samping meja dan fokusnya kini hanya tertuju pada benda elektronik itu, tidak menatap ke arah Tiara sama sekali.

“Gue bisa kok jalan sendiri,” ujar Tiara. Gini lho, ia berusaha menjadi istri yang baik dengan tidak merepotkan Aryo atas hal kecil yang ingin ia lakukan. Namun tidak nggak juga sih, karena Tiara tidak bisa membuka sendiri pintu utama, apalagi kalau bukan akibat keegoisan pria dihadapannya ini yang menggunakan sensor identitasnya sebagai akses keluar dan masuk. Sepertinya Aryo membuat Tiara membutuhkan pria itu dan bergantung padanya. Tunggu, apa-apaan semua ini?!

“Lo udah tau apa jawaban gue. Ada banyak makanan dan cemilan di lemari atau kulkas, lo bisa ambil di sana,” ucap Aryo.

“Erza kayaknya bisa deh nemenin gue. Gue mau telfon dia,” Tiara mengambil ponsel dari saku cardigannya, lalu ia mendial sebuah nomor di sana.

Aryo masih tidak berkutik sampai seseorang di ujung sana mengangkat panggilan Tiara, dan gotcha! Aryo langsung meletakkan ipad di tangannya dan memberikan atensi penuhnya pada Tiara.

“Halo Za? Boleh minta tolong nggak, temenin gue ke minimarket depan buat beli cemilan?”

Sambungan pun di akhiri dan Tiara menampakkan senyum semringahnya. “Erza mau tuh nemenin gue,” ucap Tiara dengan nada kemenangan seolah ia memang sudah menang dari Aryo.

“Lo boleh pergi sama Erza, tapi biarin gue periksa hp lo,” ucap Aryo pada akhirnya mengizinkan Tiara. Namun tetap saja pria itu punya syarat yang membuat Tiara tidak terima.

Tiara langsung melemparkan tatapan sebalnya. “Ada apa sih? Lo beneran jadiin istri lo tahanan dan pajangan di rumah ini, ya?”

“Oke, gue akan telfon Erza, biar dia lebih milih perintah bos utamanya,” ucap Aryo dengan wajah menyebalkannya itu menurut Tiara.

“Tapi kan gue juga Nyonya disini,” seru Tiara.

Aryo tidak mendengarkan ucapannya dan sungguhan menelfon Erza dengan hanya memencet salah satu tombol pada telfon kabel yang ada di atas mejanya.

Niat Tiara adalah mengerjai Aryo, namun yang terjadi justru dirinya yang harus kembali menuruti perintah pria itu. Dengan terpaksa, Tiara meletakkan ponselnya di atas meja. Aryo mengambil ponsel gadis itu dan menyimpannya di dalam laci.

***

Saat Tiara kembali dari minimarket, ia mendapati Aryo menunggunya living room lantai satu. Tiara menampakkan wajah malasnya. Kehidupannya sungguh seperti tahanan kalau seperti ini terus. Kalau saja Tiara tidak dalam misi menjinakkan Aryo, sudah ia muntahkan kalimat-kalimat sumpah serapah untuk pria itu.

Living Room

“Dimana hp gue?” tanya Tiara begitu dirinya dan Aryo sampai di lantai dua. Tiara menengadahkan tangannya di hadapan Aryo.

“Lo butuh buat apa?” Aryo memasukkan satu tangannya ke saku celananya.

“Buat komunikasi sama temen-temen gue lah,” balas Tiara.

“Sementara belum bisa lo pake. Mungkin besok.” Tiara mengekori Aryo sampai ke ruang kerja pria itu dan Aryo langsung mengusirnya dari sana.

“Balikin dulu hp gue. Lo nggak bisa buka-buka handphone gue, lo nggak inget perjanjian kita?”

“Lo mau tau kenapa gue minta hp lo?”

“Apalagi kalau bukan mau memonitor kehidupan gue.”

Tiara memanyunkan bibirnya dan kedua alisnya menyatu karena Aryo tidak menggubrisnya. Pria itu sepertinya siap untuk kembali pada pekerjaannya yang membuat Tiara rasanya ingin meledak sekarang juga. Meski tanpa berkas-berkas itu, sifat Aryo padanya juga sudah kelewat cuek.

“Apa ada hubungannya untuk menjaga image pernikahan? Erza said that you've planned all of this for taking care of me, even sebelum lo bawa gue kesini. Upsie ... how sweet my husband,” ujar Tiara yang pandangannya tidak lepas dari Aryo. Dengan sekejap, Tiara merubah ekspresinya dengan senyuman manis di bibirnya, lalu ia mengarahkan tangannya untuk memegang ujung kaus Aryo.

Tiara memperhatikan Aryo menjalarkan tangannya untuk menyentuh tangannya. Tiara sudah gembira dalam hati, namun detik setelahnya, Aryo malah menghempaskan tangannya dari sana.

“Lo bisa tidur di kamar lo, Tiara.”

Tiara melongo sambil menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Astaga, ia malu sekali karena baru saja melakukan hal yang berorientasi pada memurahkan dirinya sendiri di hadapan pria yang ia benci ini.

“Nggak,” ujar Tiara tidak ingin menyerah dan kalah terlalu cepat.

“Nggak untuk apa?” sahut Aryo.

“Gue nggak akan tidur sebelum hp gue balik.”

“Gue nggak mau buang uang untuk seseorang yang nggak bisa menghargainya,” cetus Aryo.

“Emangnya lo buang uang untuk siapa? Untuk gue?”

“Semenjak kita nikah, jadi kewajiban gue untuk membiayai dan menafkahi lo. Itu termasuk uang kuliah dan kebutuhan lo yang lain. Jadi, cara paksaan bukan suatu kesalahan kalau gue harus melakukannya, ketika lo susah di atur,” papar Aryo panjang lebar.

“Oke. Kalau gitu, gue bisa kok tidur disini. Besok pagi gue bakal bangun tepat waktu dan berangkat kuliah tanpa telat.” Tiara berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan ini. Ia menepuk-nepuk permukaan sofa tersebut, lalu membaringkan tubuhnya di sana.

Aryo melirik sekilas ke arahnya, lalu menggelengkan kepala sambil berdecak heran pada kelakuan Tiara yang keras kepala dan tidak mau kalah darinya itu. Aryo terlihat tidak peduli dan memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu akibat ulah Tiara.

Di tempatnya, Tiara tidak sungguhan tidur. Gadis itu hanya pura-pura memejamkan matanya. Tiba-tiba terbesit di pikirannya untuk apa Erza yang mengantarnya ke minimarket, padahal Aryo bisa melakukan itu untuknya kalau pria itu khawatir. Ohya, Tiara melupakan fakta bahwa Aryo mengkhawatirkannya karena Tiara adalah aset pribadi yang akan berpengaruh pada reputasi pria itu, kalau terjadi sesuatu padanya.

Sesekali Tiara membuka matanya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Aryo di mejanya. Hanya hal biasa yang dilakukan pria itu, yakni membaca berkas-berkas sesaat, kemudian menandatanganinya.

Tiara memberengut kesal dan membalikkan badannya agar tidak menghadap kearah Aryo. Ia memaksa matanya untuk terpejam dari pada harus bangun lalu berjalan secara sukarela ke kamarnya. Berakting seolah dirinya berjalan saat tertidur, adalah pilihan yang tidak akan Tiara ambil. Bukannya menyelesaikan permasalahan yang ada, justru akan menambah adegan memalukan dirinya sendiri di hadapan Aryo.

Sekitar setengah jam berlalu, Tiara merasakan tubuhnya melayang di udara. Aroma cinnamon bercampur mint yang segar mengilhami indra penciuman Tiara dalam sekejap. Wangi itu rasanya sampai menelusup masuk ke dalam rongga dadanya, sehingga mengakibatkan jantungnya berdentum lebih kencang dari dentuman normal.

Sesampainya di kamar Tiara, Aryo membaringkan tubuhnya dengan perlahan di kasur. Kemudian terdengar bunyi pintu ditutup dan suara langkah kaki yang bergerak menjauh.

Tiara membuka matanya perlahan untuk memastikan Aryo sudah pergi dari kamarnya. Kemudian menghembuskan napas lega dan mengusapi dadanya yang tidak kunjung kembali bersikap dengan normal.

***

Pagi harinya saat Tiara terbangun, ia mendapati meja makan yang sudah terisi oleh menu sarapan. Tiara yang memiliki kebiasaan ‘harus sarapan’ dan perutnya terasa sangat keroncongan, langsung menarik kursi dan siap untuk mengisi energinya. Rasanya indah juga mendapatkan kehidupan seperti ini. Namun membayangkan para pengantin baru lain memiliki kehidupan pernikahan normal yang berbeda darinya, membuat Tiara tiba-tiba terpikirkan akan kehidupan pernikahannya.

Dirinya harus terjebak di tempat ini untuk menjadi istri seseorang yang akan membuka jalan bagi rencananya. Setelah tujuannya tercapai, ia akan bercerai. Tidak ada manusia yang menginginkan perceraian dalam pernikahannya, tapi Tiara tidak punya jalan lain.

“Egha yang bakal nganter lo kuliah,” ujar sebuah suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik orang yang dua detik lalu baru saja berada di pikirannya.

Tiara melihat Aryo sudah berpenampilan rapi dengan kemeja formal dan celana panjangnya. Sial, tiba-tiba Tiara jadi teringat wangi parfum pria itu yang semalam sangat dekat dengan indra penciumannya. Aryo berjalan melewatinya dan terlihat keheranan, waktu Tiara tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dengan sigap dari pria itu. Tiara tidak tahu pasti, gerakan spontan barusan terjadi karena apa. Kemudian gadis itu berusaha menelan salivanya yang kali ini terasa sulit untuk ia lakukan.

“Gue bisa berangkat sendiri kok. Tapi makasih ya, udah kepikiran buat nganterin gue.” Tiara kembali fokus dengan sarapannya.

“Beberapa bulan lagi adalah pemilihan jabatan presiden direktur yang baru. Lo tahu apa yang harus lo lakuin?” tanya Aryo.

“Apa?” Tiara sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai istrinya Aryo.

Aryo pun mendaratkan ibu jari dan telunjuknya di kening Tiara.

“Aw!!” Tiara merintih kesakitan dan mengusapi keningnya yang jadi sasaran Aryo barusan.

“Gue beneran nggak tau. Gue harus ikut kampanye untuk support lo gitu, yaa?” Tiara menampakkan wajah bingungnya.

“Lo udah dikasih makan, tapi tetep aja masih lemot.” Aryo mengambil sarapan untuknya dan menarik kursi di hadapan Tiara.

Okey, I will do nothing.” Tiara mengedikkan bahunya, lalu ia memberikan senyum cerahnya pada Aryo. Kalau begitu, ia tidak akan punya pekerjaan selain kuliah dan tentunya menghabiskan uang Aryo yang menurutnya tidak akan habis 10 keturunan.

“Lo adalah istri gue saat ini Tiara—”

“Emangnya siapa yang nanti akan gantiin posisi gue setelah kita cerai?”

We are not going to discuss about that. Karena lo istri gue dan saat ini banyak yang ingin menjatuhkan gue, untuk dapetin posisi presiden direktur itu. Otomatis, situasi ini bisa berdampak untuk lo juga.”

“Ohh kalau gue akan jadi trendsetter.”

“Lo pikir itu bagus?”

“Bagus dong. Nanti satu Indoensia bakal kenal gue sebagai istri calon presiden direktur Harapan Jaya. It’s gonna be cool, right?” ucap Tiara yang kemudian melanjutan acara makannya dengan tenang dan bahagia.

Aryo lantas memijit pangkal hidungnya dan berdecak heran mendengar pemikiran gadis itu. Aryo sudah selesai dengan sarapannya dan ia beranjak dari meja makan.

“Lho? Apa yang salah sih?” Tiara mengekori Aryo sampai kedepan lift namun karena Tiara membuntutinya, Aryo pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Tiara.

“Nanti lo bisa tanyain sama Erza atau Egha soal ini. Gue harus berangkat sekarang.” Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangan kirinya.

“Sebentar, gue butuh hp gue. Ada dimana?”

“Di laci meja kerja gue, lo bisa ambil di sana.”

“Oke. Lo hati-hati di jalan,” ucap Tiara canggung dan lidahnya terasa aneh ketika mengatakan itu.

Wait.” Aryo mengatakannya sambil menampakkan gestur mengingat sesuatu yang ia lupakan.

“Kenapa?”

“Siapa inisial R yang nelfon ke nomor lo sampe lima kali semalam?” Tiara terlihat terkejut namun ia berusaha mengontrol reaksi dan ekspresi di wajahnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Tiara.

You know that person?

Yes, I know him. Bukan orang asing, gue emang kenal,” Tiara memberikan senyumnya seolah tidak terjadi apapun.

Aryo pun mengangguk dan ia mengatakan pada Tiara kalau ia harus pergi. Tiara mengiyakan dan ia menatap punggung tegap Aryo yang mulai menjauh dari pandangannya. Tiara harus lebih berhati-hati lagi dengan Aryo kalau tidak ingin rencananya dicurigai oleh pria itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara baru melakukan seperempat putaran mengitari area kondominium, tapi sekujur tubuhnya sudah dibanjiri oleh keringat. Matahari setia menemani kegiatan membakar kalori di tubuhnya pagi ini. Tiara memutuskan untuk menyudahi jogging-nya dan kembali ke kondominium. Namun ia bertemu salah satu pria yang bekerja merawat area ini setelah melewati area taman.

“Gue boleh minta waktunya sebentar?” ucapan Tiara menahan aksi pria itu untuk berlalu setelah menyapanya dengan sopan.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”

“Panggil gue Tiara aja. Kayaknya kita seumuran deh,” Tiara tersenyum lalu mengulurkan tangannya.

“Erza.” Pria itu membalas uluran tangan Tiara.

“Gue butuh bantuan lo. Tapi jangan bilang apapun ke Aryo, please?” Tiara tersenyum dengan menampakkan deretan gigi rapihnya.

“Bantuan apa Nyonya?”

“Sebenernya gue cuma mau bawa temen-temen gue ke tempat ini, sesekali aja. Sayangnya Aryo nggak ngasih gue izin,” jelas Tiara.

Erza terlihat langsung mengerti dengan arah pembicaraan tersebut. “Saya mau bantu, tapi sayangnya permintaan Nyonya bertentangan dengan amanah yang diberikan Tuan Aryo pada saya.”

Tiara membelalakkan matanya. Mau taruh dimana mukanya setelah mendengar jawaban Erza yang mengejutkannya itu. Tiara mencoba untuk tetap tenang, lalu ia menarik napas dan menghembuskannya lagi sebelum kembali berbicara.

“Oke ... tapi kan gue juga Nyonya lo. Bisa dong lo coba pertimbangin permintaan gue?”

“Maaf, Nyonya. Tapi yang bisa pertimbangin permintaan Nyonya cuma Tuan, yaitu suami Nyonya sendiri.” Erza menjawabnya dengan seulas senyum santun di bibirnya.

Tiara memasang wajah tidak percaya dan menahan rasa kesal di dalam dirinya.

I can’t believe this. Why he's being a dictator,” Tiara menghembuskan napasnya frustasi dengan satu tangan yang ia letakkan di pinggangnya.

Tiara melihat Erza memegang walky talky dan berbicara dengan seseorang melalui benda itu. Erza hanya mengatakan bahwa ia mengerti dan pembicaraan pun berakhir.

“Nyonya, Tuan mengkhawatirkan Anda. Apa Tuan nggak tahu kalau Nyonya berkeliling kondominium ini?”

“Lo serius? I mean he is not worry about me*. Dia cuma ingin ngekang gue, Za,” ucap Tiara.

“Saya nggak tahu pasti, Nyonya. Tapi Tuan udah siapin semuanya sebelum Nyonya datang kesini, untuk menjamin keamanan Nyonya.”

***

Tiara menemui Aryo di fitness room yang berada di basement. Aryo sedang melakukan up and down sit up menggunakan alat bantu grip yang diletakkan di belakang kedua lengannya. Kegiatan pria itu tetap berlanjut, meski saat ini Tiara menampakkan diri dihadapannya dan meminta perhatiannya.

“Gimana jogging-nya?” tanya Aryo sambil menatap kearah Tiara yang berada di hadapannya seolah tidak ada yang terjadi. Padahal kenyataannya, berkat pria itu Tiara merasa hidupnya telah dikekang.

“Gue kesini mau bicarain perjanjian itu sama lo. Sekarang juga,” ujar Tiara tanpa melepas sebuah senyum manis di bibir ranumnya.

“Lo nggak bisa ngekang gue, Aryo,” lanjutnya dengan nada bicara tenang seperti cara yang biasa Aryo gunakan untuk menghadapinya.

“Gue nggak ngelakuinnya tanpa alasan, Tiara.”

“Terus, apa alasannya?”

“Untuk melindungi status pernikahan kita.”

“Ohya? Buktiin kalau alasannya emang cuma itu.”

“Lo mau apa untuk pembuktian?” tanya Aryo.

“Dengan membuat peraturan dalam perjanjian. kalau pernikahan kita ini cuma status, nggak lebih. Jad,i lo nggak bisa ngatur apa yang mau gue perbuat,” Tiara bergerak mendekat, lalu ia memosisikan tubuhnya berada diatas Aryo, sehingga pria itu melakukan up and down sambil memangku tubuh Tiara dengan kedua pahanya.

“Kita punya privasi masing-masing dan nggak akan mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Setelah satu tahun nikah, kita bisa bercerai untuk mengakhiri pernikahan ini,” Tiara terheran rupanya Aryo cukup kuat melakukan workout dengan menahan berat tubunya. Tiara mengalungkan lengannya di seputaran bahu Aryo untuk menjaga tubuhnya tetap seimbang dan aman.

“Lo udah siap dengerin syarat dari gue? Kalau lo setuju, gue akan menyepakati perjanjian kita,” ucap Aryo dengan hembusan napas yang sedikit lebih berat karena beban tubuh Tiara menambah jumlah energi yang harus ia keluarkan.

“Apa syaratnya?” tanya Tiara.

Kedua mata kecil Aryo memandang paras Tiara yang hanya berjarak satu jengkal dari parasnya, “Gue ngasih lo kebebasan, selama lo bisa menjaga nama baik keluarga gue. Lo tetap istri gue, dan harus bisa bersikap layaknya seorang istri di hadapan publik, keluarga dan para petinggi perusahaan. Lo nggak bisa nginep diluar seperti sebelum menikah atau rencana apapun yang dapat mencurigakan status pernikahan kita.”

“Oke, gue pikir itu gampang. Jadi istri dihadapan publik aja kan? Kalau kita lagi berdua gini, masing-masing bebas mau bersikap seperti apa. Syarat dari gue, lo nggak boleh membuat gue hamil apapun itu alasannya,” ujar Tiara.

We’re deal. Lo lagi ngelakuin kebebasan itu sekarang? It means, I free to do the same,” ucap Aryo sambil mengulas senyum tipis di bibirnya. Aryo melepas satu tangannya pada pegangan grip, lalu diarahkan untuk menarik lembut pinggang ramping Tiara.

What you’re gonna doing?” Tiara merasakan deru napas Aryo menyapu area pipinya. Mata Tiara tidak lepas sedetikpun dari Aryo, ia bersiaga atas apa yang akan dilakukan pria itu.

Hanya butuh dua detik untuk Aryo menyatukan bibirnya dengan bibir Tiara. Bibir Tiara langsung terasa lembab ketika Aryo menciumnya lembut tanpa melumat, melainkan hanya mengecupnya dengan halus. Lengan pria itu masih mendekap pinggangnya, hingga tidak sampai lima belas detik, ciuman mereka terlepas dan Tiara langsung bangun dari posisinya.

Tiara mencoba mengatur napasnya yang berkejaran, “Are you crazy?! You think this is a game that you can play anytime?” Tiara menatap Aryo dengan tatapan terkejut bercampur marahnya.

Sementara Aryo sedang mengatur napasnya yang lebih tidak beraturan dibanding dengan Tiara. Ibaratnya Aryo melakukan workout dengan beban yang ditambah tiga kali lipat.

Are you mad at me?” tanya Aryo dengan wajah tanpa dosanya itu.

“Lo selalu seenaknya ngelakuin apapun tanpa berpikir. Why do I marry this guy?” Setelah mengucapkannya, Tiara pun berlalu meninggalkan Aryo disana.

Aryo tidak mengerti mengapa hanya ciuman bisa membuat istrinya semarah itu padanya?

Gym Room

Alat Gym

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara merutuki kecerobohannya yang tertidur saat di perjalanan. Ketika ia terbangun, tahu-tahu Aryo sudah membawanya ke tempat yang memiliki luas lebih dari tiga hektar dengan sistem keamanan yang super canggih dan ketat ini.

Saat mereka masuk ke bangunan utama, terdapat sensor khusus yang hanya dapat diakses dengan sensor visual oleh Aryo Bimo Brodjohujodyo. Beberapa ruangan memiliki sensor untuk menyalakan lampu dan pendingin ruangan secara otomatis.

Dengan interior dan desain yang modern, di dalamnya terdapat elevator yang berfungsi menggantikan tangga untuk menuju ke lantai dua dan tiga. Kondominium ini terdiri dari tiga lantai dan satu buah basement. Aryo mengatakan malam ini mereka akan menempati kamar di lantai dua.

“Gue nggak mau tinggal disini,” ucap Tiara saat mereka hanya berdua di dalam lift.

Sementara para asisten yang membawakan barang menaiki lift khusus barang yang berbeda dengan lift untuk tuan dan nyonya mereka.

“Lo nggak punya pilihan, Tiara,” ucap Aryo.

Ting!

Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Tempat yang semula tanpa cahaya itu menjadi terang ketika mereka melewati batas sensor di lantai dua.

“Oke, kalau gitu. Ide bagus juga sih tinggal di sini. Karena temen-temen gue bisa main kapan-kapan. Kondominium ini sangat lebih dari cukup,” ucap Tiara dengan nada cerianya.

“Tamen-temen mana yang lo maksud?” tanya Aryo.

“Teman kuliah gue dong,” jawab Tiara.

“Siapa yang ngizinin?”

Me. I just said that.”

Who own this place?”

“Lo pemiliknya. Nggak boleh emang gue ajak mereka kesini? Oke, kalau gitu gue yang nyamperin mereka. Kita selalu nongkrong sampai malam, terus biasanya nginep, stay cation gitu.” Tiara tersenyum lebar, lalu kakinya melangkah untuk menjelajahi tempat ini. Rupanya di lantai dua terdapat balkon luas yang memberikan pemandangan seluruh area kondominium serta gedung-gedung perkotaan yang tampak kecil dan berkilau dari sini.

Lampu-lampu milik kondominium menyala menerangi sepanjang jalan dari pintu masuk hingga dua paviliun yang terdapat di sisi kanan dan kiri. Tiara menyadari bahwa Aryo menyusul langkahnya. Wajah pria itu masih sama, dengan eskpresi datar dan tenangnya yang nampak menyebalkan bagi Tiara.

Tiara menampakkan ekspresi beraninya. Padahal sebenarnya, ketika Aryo menatapnya seperti ini, ia sedang berusaha menjaga image-nya agar terlihat tidak terpengaruh dengan intimidasi pria itu. Beberapa kali ia mencoba untuk mengontrol emosi dan ekspresinya di hadapan Aryo.

C’mon, Tiara. You can do this! Tiara menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

How beautiful this view. Oh my god, I love this lights, and this one too.” Tiara mencoba terlihat antusias dan memuji tempat ini. Ia memang suka tempat ini. Namun hanya berdua dengan Aryo di kondominium yang bak istana ini, tidak pernah menjadi mimpi dalam hidupnya.

Condominium

This is such a good place,” ujar Tiara lagi sambil menikmati angin semilir yang menyapa lembut kulit wajahnya. Udaranya menjadi lumayan dingin karena Tiara hanya menggunakan blouse sutra tanpa lengan dan hotpants yang menjadi outfit favoritnya itu.

“Nggak akan ada perjanjian itu, kalau lo mau keinginan lo yang tadi gue turutin,” tutur ujar Aryo sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak terimanya. Dadanya bergemuruh dan emosi seketika menguasai dirinya.

Tiara mengambil langkah untuk mendekati pria jangkung itu. “Gue perlu izin dari lo gitu?”

Aryo mengangguk. Tiara membalas dengan berdecih dan memutar bola matanya.

It’s you’re choice, Tiara. Kita nggak akan berdebat lagi soal ini. Ayo masuk, di sini dingin.” Aryo berbalik dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Tiara di balkon. Tiara berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu ia segera menyusul Aryo dengan segala emosi yang sangat ingin ia luapkan pada pria itu.

***

Keduanya telah selesai membersihkan diri masing-masing. Aryo yang mandi setelahnya, keluar dari walk in closet dengan tampilan lebih santai. Pria itu mengenakan sebuah kaus lengan pendek hitam dan sweat pants panjang abu-abu.

Selang waktu lima belas menit, Tiara melepas handuk di kepalanya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer di walk in closet. Saat kembali, ia tidak mendapati Aryo di kamar. Tiara memutuskan untuk langsung tidur setelah melakukan kegiatan skincare malamnya.

Tiara baru akan terjun ke alam mimpinya, ketika merasakan pergerakan di atas kasur, yang seketika dapat menariknya kembali ke dunia nyata. Tercium semerbak aroma maskulin bercampur mint segar di dekatnya.

“Ada yang mau gue bicarain sama lo, tapi kayaknya lo udah tidur,” ucap Aryo di dekat punggungnya, lalu Tiara merasakan pinggangnya di dekap ringan oleh lengan besar pria itu.

Tiara yang belum terpejam, lantas melepaskan tangan Aryo dari pinggangnya, lalu ia berbalik dan mereka pun berhadapan.

“Lo habis dari mana?” tanya Tiara pada Aryo.

I need to called someone to finish my work,” jawab Aryo

“Apa gue nggak boleh denger, sampai lo harus nelfon di luar?”

“Kayaknya istri gue capek banget malam ini, jadi gue nggak ingin mengganggunya,” ujar Aryo.

“Lo mau ngomong apa tadi? You can tell me now” Tiara menaruh satu tangannya di bawah wajahnya sambil menatap kearah Aryo.

Oke, listen to me. Saat lo jadi istri gue, lo emang nggak bisa ngelakuin apa yang ingin lo lakukan, Tiara. Lo nggak bisa sebebas dulu, Tiara. We are married without love and I don’t have a choice to marry you, and you too. Posisi lo saat ini adalah istri gue. Lo harus tau, apa yang boleh dan nggak boleh lo lakuin untuk menjaga pernikahan dan nama baik keluarga gue,” jelas Aryo.

“Jadi maksudnya, lo nyalahin gue atas pernikahan ini? Lo pikir pernikahan ini nguntungin gue? Kalau lo mikir kayak gitu, lo salah.” Tiara sangat paham pembicaraan Aryo akan mengarah pada satu titik di mana mereka menikah hanya karena kesalahannya. “Gue nggak menginginkan pernikahan ini, you have to know that,” pungkas Tiara.

“Semuanya udah terjadi, Tiara. Kita bisa buat perjanjian dalam pernikahan ini. Kalau ada perjanjian, harus ada syarat dan ketentuannya. Kita bicarain lagi tentang perjanjiannya besok,” jelas Aryo.

Alright. Lo bebas ngasih syarat, begitupun juga gue,” ucap Tiara lalu membalikkan badannya memunggungi Aryo.

Tidak sampai 10 menit, bahu Tiara nampak naik turun dan napasnya mulai terdengar beraturan. Aryo menatap punggung kecil itu sebelum ia memutuskan untuk berbaring di samping Tiara.

Pikiran Aryo pun bercabang-cabang setelah menerima informasi yang ditemukan oleh Rama. Kepala bodyguard-nya itu mengirim sebuah email padanya dan mengatakan Aryo bahwa harus segera mengeceknya. Rama memaparkan bahwa ada sesuatu yang janggal setelah ia menyelidiki tentang Rudi Abimana. Jadi Aryo memutuskan menelfon Rama di luar kamar dan memintanya untuk menjelaskan lagi lebih detail.

Semua informasi tentang Rudi, Bagas, dan Akmal, serta hubungan mereka dengan Tiara, membuatnya ingin mencari tahu lebih jauh tentang itu. Aryo merasa ada benang merah yang harus ia temukan.

Logikanya mengatakan bahwa tidak seharusnya ia mencari tahu lebih lanjut, karena akhirnya ia dan Tiara juga akan bercerai. Namun hatinya berkata lain. Aryo memutuskan meminta Rama dan timnya untuk melanjutkan pencariannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah ballroom hotel bergaya eropa klasik menjadi tempat digelarnya resepsi pernikahan Aryo dan Tiara. Sekitar tujuh ribu tamu yang hadir memberi ucapan selamat berbahagia untuk kedua mempelai yang tampil menawan malam ini. Berbagai hidangan mewah dan terlihat lezat pun disajikan, mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup.

Wedding Venue

Dari sekian banyak tamu yang datang, seorang yang tidak Aryo sangka, memberi selamat kepadanya dan Tiara di pelaminan. Eksistensinya itu cukup menarik perhatian, karena sebagian besar kerabat mengenali perempuan itu. Mantan kekasih Aryo yang terakhir, sebelum pria itu akhirnya menggemparkan seluruh lapisan masyarakat dengan kabar pernikahannya yang tiba-tiba. Aurorae Hartanto, hadir di pernikahannya bersama kakeknya yang diundang sebagai kolega bisnis perusahaannya.

Congrats ya, buat kalian berdua. Aku dengar. kabar pernikahan kalian diumumin nggak lama setelah aku dan Aryo putus. Kayaknya menambah kekuatan untuk perusahaan bukan alasannya, lalu apa alasannya?” ucap perempuan cantik diiringi senyum penuh arti dibibirnya. Setelah mengucapakannya, Aurorae turun dari panggang pelaminan. Namun beberapa meter dari sana, ia masih menatap kearah Aryo dan tidak berniat pergi dari sana.

“Mantan lo kayak psycho ya,” bisik Tiara di samping Aryo. Detik selanjutnya ia merasa tatapan mantan kekasih Aryo itu tertuju padanya dengan tatapan yang Tiara sendiri tidak dapat mengerti maksudnya.

Oh my god, I'm scared. She’s look at me? Alright, she’s really look at me,” ucap Tiara lagi sambil tertawa seolah menganggap ini adalah kejadian yang lucu dan cukup seru untuk disaksikan. Tanpa aba-aba, Aryo menarik tangannya untuk turun dari pelaminan. Tiara masih syok dan kebingungan. Jelas saja, Aryo itu sinting, pikirnya. Pria itu telah membuat pengantin meninggalkan tamu-tamunya begitu saja.

This is so cute. You hold my hands and take me from there, so I can breathe and take a rest for a minute,” cerocos Tiara ketika Aryo membawanya ke lorong menuju ruangan khusus bride and groom.

Aryo menghempaskan tangannya begitu saja. Tiara menatap Aryo nyalang dengan kedua matanya yang membola.

“Kabur dari mantan? It’s not a gentleman, Dude,” ucap Tiara sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Kita periksa kaki lo,” cetus Aryo.

“Eh? Kaki gue nggak papa kok. Emangnya kenapa?” tampang Tiara justru terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Lo berdiri lama, pakai high heels.” Setelah mengatakannya, Aryo kembali menarik tangan gadis itu namun kali ini terasa lebih halus dibandingkan sebelumnya.

Kini mereka berada di ruangan yang disediakan khusus untuk pengantin. Tiara mengambil posisi duduk di sofa dan matanya hanya menatap ke arah Aryo yang sibuk mencari-cari sesuatu.

“Lo nyari apa?” tanya Tiara.

Handsaplast.”

“Jelas nggak ada disini.”

“Lo tunggu dulu di sini, jangan kemana-mana,” tutur Aryo sebelum ia meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian. Sambil menunggu Aryo, Tiara penasaran apa benar kakinya lecet atau terluka. Ternyata benar saja, tumitnya memerah dan ketika Tiara melepaskan high heels-nya, terdapat rasa perih yang tertinggal di kulitnya.

Aryo lumayan cepat kembali. Namun pria itu tidak membawa apapun di tangannya.

“Di mana handsaplast-nya?” tanya Tiara.

“Lagi di bawain.”

“Lo minta orang buat cari?”

Aryo mengangguk menjawab pertanyaan Tiara.

Don’t make your face like that. Gue nggak melakukannya semata untuk lo,” celetuk Aryo lantas mengalihkan pandangannya dari Tiara.

“Ohhh ya? Terus?” Tiara justru menatap lekat Aryo tanpa berniat mengalihkan fokusnya pada apapun itu selain Aryo.

I know, you use me to escape, from your ex girlfriend. Lo masih cinta dia rupanya,” sambung Tiara.

“Lo kayak tau segalanya aja tentang hidup gue,” ucap Aryo dengan kedua alisnya yang menyatu. Ekspresinya seolah mengejek Tiara yang bertingkah sok mengetahui semua tentangnya.

Tiara mengangkat kedua bahunya. “Yaa, gue emang nggak tahu sih. Ohiya, gue mau diskusiin seusautu sama lo.”

“Kalau kita diskusi, gue tau, nggak akan selesai hanya dengan satu kalimat dari kita masing-masing. Kita tunda dulu.”

“Kapan?”

Maybe tonight.”

“Kenapa harus nanti malam?”

“Ini kita sudah berdiskusi, Tiara. Malam ini kita memiliki banyak waktu.” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, aroma maskulin yang dominan bercampur sedikit aroma vanilla lantas memenuhi indra penciuman Tiara.

Tiara bahkan dapat merasakan deru napas Aryo di dekat rahangnya. Tiara mengerjapkan matanya saat Aryo semakin dekat padanya lalu ia memejamkan matanya entah untuk alasan apa. Sampai terdengar sebuah ketukan pintu dan menampakkan seorang pria di sana. Aryo dan Tiara berusaha terlihat normal seolah tidak ada yang terjadi. Pria berstelan formal itu memberikan apa yang Aryo minta, lalu pamit setelah membungkukkan badannya.

Tiara memperhatikan Aryo menempelkan handsaplast di kedua tumitnya. Aryo menumpu badannyadengan satu kaki ke lantai dan dengan telaten melakukan kegiatan tersebut.

“Kita harus balik ke pelaminan,” ucapan Aryo membuyarkan tatapan Tiara yang beberapa detik lalu hanya terfokus pada pria itu.

***

Tiara tertawa dalam hatinya. Sepertinya Aryo berpikir bahwa hanya pria itu yang merasa paling diuntungkan atas adanya pernikahan ini. Meskipun pernikahan mereka terbilang kilat dan terjadi tanpa adanya perasaan cinta, laki-laki tetaplah akan menjadi laki-laki dengan kebutuhan biologisnya. Namun Tiara sudah mempersiapkan kuda-kuda dan jurus andalannya, jika Aryo berani melakukan sesuatu terhadapnya. Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya sebelum Tiara mendapat apa yang ia inginkan dari menikahi pria itu.

Keduanya telah sampai di tempat yang akan mereka tinggali setelah menikah. Dari pintu masuk menuju bangunannya, membutuhkan waktu sekitar lima menit mengendarai mobil. Tiara mencoba memperkirakan berapa hektar luas rumah yang akan mereka tempati ini.

“Kita nggak tinggal di sini kan? Aryo, tempat ini luas banget.” Mata Tiara masih fokus menyapu ke sekeliling area bangunan itu, sampai mobil yang dikendarai Aryo berhenti tepat di depan sebuah bangunan utama, setelah mereka mengitari bundaran air mancur yang besar. Bangunan itu sangat besar dan megah, hingga sukses membuat Tiara membuka mulutnya karena terkejut.

“Kita akan tinggal disini,” jawab Aryo.

“Lo pasti punya tujuan lain dengan kita tinggal di sini, kan?” Tiara melepas seat belt-nya dan membuka pintu mobil, kemudian menginjakkan kaki pada jalanan dengan kedua sisinya ditumbuhi rumput hijau yang dipangkas pendek. Semua yang ada disini terlihat sangat rapih dan terawat dengan baik.

Aryo menyusul Tiara dan mengitari mobilnya.

What do you think about the purpose?” tanyanya sambil menatap Tiara.

“Lo mau jadiin gue asisten lo, kan? Tempat ini diakses atas kuasa lo. Denger ya, jangan harap lo bisa ngekang gue. Pernikahan ini, punya perjanjian yang harus kita sepakatin.” Tiara berjalan lebih dulu menuju entrance dari bangunan itu.

“Lo salah, Tiara.” Aryo menanggapi ucapan Tiara dengan nada tenang khas pria itu ketika menghadapi lawan bicaranya.

“Ohya? Tell me where I’m wrong.”

Aryo berjalan ke arahnya. Kemudian oa menghela pinggang ramping Tiara dan membawa tubuh gadis itu untuk mendekat padanya, sehingga torsonya hampir menempel pada tubuh kekarnya.

“Lo suka semua ini, kan? Gimana rasanya menikah dengan calon pewaris Harapan Jaya, hmm … ?” gumam Aryo.

“Apa banyak cewek yang pengen ada di posisi ini? Kalau iya, artinya gue udah sangat beruntung,” balas Tiara.

Aryo tertawa rendah menanggapi ucapan Tiara tersebut. “Jadi asisten adalah hal yang lebih mudah, dari pada lo mencoba untuk kabur dari tempat ini, Tiara. Gimana, menurut lo?” Aryo mengangkat satu tangannya, lalu ia mengusap sisi wajah Tiara dengan usapan yang lembut. Tiara berusaha menjauhkan wajahnya dan membuang pandangannya dari pria itu. Aryo pun tersenyum smirk lalu menjauhkan tangannya begitu dari wajah Tiara.

Tiara berpikir pada awalnya, tidak baik juga menjadi asisten bagi Aryo. Namun melihat sifat aslinya, lebih baik Tiara menjadi asistennya dari pada harus menjadi istri sungguhan untuk pria arogan itu.

Kehadiran dua orang diantara mereka pun menginterupsi dan mengatakan akan membantu membawakan barang dari bagasi mobil. Mereka adalah dua asisten yang menjaga tempat ini dan tinggal di paviliun yang terpisah dari bangunan utama.

“Tolong langsung bawa ke lantai dua. Terimakasih,” ucap Aryo pada dua orang lelaki yang bekerja untuknya itu. Lantas Tiara mengikuti langkah Aryo yang lebih dulu memasuki kondominium.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah ballroom hotel bergaya eropa klasik menjadi tempat digelarnya resepsi pernikahan Aryo dan Tiara. Sekitar tujuh ribu tamu yang hadir memberi ucapan selamat berbahagia untuk kedua mempelai yang tampil menawan malam ini. Berbagai hidangan mewah dan terlihat lezat pun disajikan, mulai dari makanan pembuka hingga makanan penutup.

Wedding Venue

Dari sekian banyak tamu yang datang, seorang yang tidak Aryo sangka, memberi selamat kepadanya dan Tiara di pelaminan. Eksistensinya itu cukup menarik perhatian, karena sebagian besar kerabat mengenali perempuan itu. Mantan kekasih Aryo yang terakhir, sebelum pria itu akhirnya menggemparkan seluruh lapisan masyarakat dengan kabar pernikahannya yang tiba-tiba. Aurorae Hartanto, hadir di pernikahannya bersama kakeknya yang diundang sebagai kolega bisnis perusahaannya.

Congrats ya, buat kalian berdua. Aku dengar. kabar pernikahan kalian diumumin nggak lama setelah aku dan Aryo putus. Kayaknya menambah kekuatan untuk perusahaan bukan alasannya, lalu apa alasannya?” ucap perempuan cantik diiringi senyum penuh arti dibibirnya. Setelah mengucapakannya, Aurorae turun dari panggang pelaminan. Namun beberapa meter dari sana, ia masih menatap kearah Aryo dan tidak berniat pergi dari sana.

“Mantan lo kayak psycho ya,” bisik Tiara di samping Aryo. Detik selanjutnya ia merasa tatapan mantan kekasih Aryo itu tertuju padanya dengan tatapan yang Tiara sendiri tidak dapat mengerti maksudnya.

Oh my god, I'm scared. She’s look at me? Alright, she’s really look at me,” ucap Tiara lagi sambil tertawa seolah menganggap ini adalah kejadian yang lucu dan cukup seru untuk disaksikan. Tanpa aba-aba, Aryo menarik tangannya untuk turun dari pelaminan. Tiara masih syok dan kebingungan. Jelas saja, Aryo itu sinting, pikirnya. Pria itu telah membuat pengantin meninggalkan tamu-tamunya begitu saja.

This is so cute. You hold my hands and take me from there, so I can breathe and take a rest for a minute,” cerocos Tiara ketika Aryo membawanya ke lorong menuju ruangan khusus bride and groom.

Aryo menghempaskan tangannya begitu saja. Tiara menatap Aryo nyalang dengan kedua matanya yang membola.

“Kabur dari mantan? It’s not a gentleman, Dude,” ucap Tiara santai sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dada.

“Kita periksa kaki lo,” cetus Aryo.

“Eh? Kaki gue nggak papa kok. Emangnya kenapa?” tampang Tiara justru terlihat seperti orang bodoh sekarang.

“Lo berdiri lama, pakai high heels.” Setelah mengatakannya, Aryo kembali menarik tangan gadis itu namun kali ini terasa lebih halus dibandingkan sebelumnya.

Kini mereka berada di ruangan yang disediakan khusus untuk pengantin. Tiara mengambil posisi duduk di sofa dan matanya hanya menatap ke arah Aryo yang sibuk mencari-cari sesuatu.

“Lo nyari apa?” tanya Tiara.

Handsaplast.”

“Jelas nggak ada disini.”

“Lo tunggu dulu di sini, jangan kemana-mana,” tutur Aryo sebelum ia meninggalkan Tiara di ruangan itu sendirian. Sambil menunggu Aryo, Tiara penasaran apa benar kakinya lecet atau terluka. Ternyata benar saja, tumitnya memerah dan ketika Tiara melepaskan high heels-nya, terdapat rasa perih yang tertinggal di kulitnya.

Aryo lumayan cepat kembali. Namun pria itu tidak membawa apapun yang tadi dicarinya.

“Terus mana handsaplast-nya?” tanya Tiara.

“Lagi di bawain.”

“Lo minta orang buat cari?”

Aryo mengangguk menjawab pertanyaannya itu.

Don’t make your face like that. Gue nggak melakukannya semata untuk lo,” celetuk Aryo.

“Ohhh ya? Terus?”

I know, you use me to escape, from your ex girlfriend. Lo masih cinta dia rupanya,” sambung Tiara.

“Lo kayak tau segalanya aja tentang hidup gue,” ucap Aryo dengan kedua alisnya yang menyatu. Ekspresinya seolah mengejek Tiara yang bertingkah sok mengetahui segala tentangnya.

Tiara mengangkat kedua bahunya. “Ya, gue emang nggak tahu sih. Ohiya, gue mau diskusiin seusautu sama lo.”

“Kalau kita diskusi, gue tahu, nggak selesai hanya dengan satu kalimat dari kita masing-masing. Kita tunda dulu.”

“Kapan?”

Maybe tonight.”

“Kenapa harus nanti malam?”

“Ini kita sudah berdiskusi, Tiara. Malam ini kita memiliki banyak waktu.” Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, aroma maskulin yang dominan bercampur sedikit aroma vanilla lantas memenuhi indra penciuman Tiara.

Tiara bahkan dapat merasakan deru napas Aryo di dekat rahangnya. Tiara mengerjapkan matanya saat Aryo semakin dekat padanya lalu ia memejamkan matanya entah untuk alasan apa. Sampai terdengar sebuah ketukan pintu dan menampakkan seorang pria di sana. Aryo dan Tiara berusaha terlihat normal seolah tidak ada yang terjadi. Pria berstelan formal itu memberikan apa yang Aryo minta, lalu pamit setelah membungkukkan badannya.

Tiara memperhatikan Aryo menempelkan handsaplast di kedua tumitnya. Aryo menumpu badannyadengan satu kaki ke lantai dan dengan telaten melakukan kegiatan tersebut.

“Kita harus balik ke pelaminan,” ucapan Aryo membuyarkan tatapan Tiara yang beberapa detik lalu hanya terfokus pada pria itu.

***

Tiara tertawa dalam hatinya. Sepertinya Aryo berpikir bahwa hanya pria itu yang merasa paling diuntungkan atas adanya pernikahan ini. Meskipun pernikahan mereka terbilang kilat dan terjadi tanpa adanya perasaan cinta, laki-laki tetaplah akan menjadi laki-laki dengan kebutuhan biologisnya. Namun Tiara sudah mempersiapkan kuda-kuda dan jurus andalannya, jika Aryo berani melakukan sesuatu terhadapnya. Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya sebelum Tiara mendapat apa yang ia inginkan dari menikahi pria itu.

Keduanya telah sampai di tempat yang akan mereka tinggali setelah menikah. Dari pintu masuk menuju bangunannya, membutuhkan waktu sekitar lima menit mengendarai mobil. Tiara mencoba memperkirakan berapa hektar luas rumah yang akan mereka tempati ini.

“Kita nggak tinggal di sini kan? Aryo, tempat ini luas banget.” Mata Tiara masih fokus menyapu ke sekeliling area bangunan itu, sampai mobil yang dikendarai Aryo berhenti tepat di depan sebuah bangunan utama, setelah mereka mengitari bundaran air mancur yang besar. Bangunan itu sangat besar dan megah, hingga sukses membuat Tiara membuka mulutnya karena terkejut.

“Kita akan tinggal disini,” jawab Aryo.

“Lo pasti punya tujuan lain dengan kita tinggal di sini, kan?” Tiara melepas seat belt-nya dan membuka pintu mobil, kemudian menginjakkan kaki pada jalanan dengan kedua sisinya ditumbuhi rumput hijau yang dipangkas pendek. Semua yang ada disini terlihat sangat rapih dan terawat dengan baik.

Aryo menyusul Tiara dan mengitari mobilnya.

What do you think about the purpose?” tanyanya sambil menatap Tiara.

“Lo mau jadiin gue asisten lo, kan? Denger ya, jangan berharap lo akan mendapatkannya. Pernikahan ini, memiliki perjanjian yang harus kita sepakati.” Tiara berjalan lebih dulu menuju entrance dari bangunan itu.

“Lo salah, Tiara.” Aryo menanggapi ucapan Tiara dengan nada tenang khas pria itu ketika menghadapi lawan bicaranya.

“Ohya? Tell me where I’m wrong.” Tiara melihat Aryo yang berjalan ke arahnya, lalu pria itu menghela pinggang rampingnya dan membawa tubuh Tiara mendekat hingga hampir menempel pada tubuh kekarnya.

“Lo suka semua ini, bukan? Gimana rasanya menikah dengan calon pewaris Harapan Jaya, hmm … ?” gumam Aryo.

“Apa banyak yang menginginkan posisi ini? Kalau iya, artinya gue udah sangat beruntung,” balas Tiara.

Aryo tertawa rendah menanggapi ucapan Tiara tersebut. “Jadi asisten adalah hal yang lebih mudah daripada lo mencoba kabur dari tempat ini, Tiara. Gimana menurut lo?” Aryo mengangkat satu tangannya lalu ia mengusap sisi wajah Tiara dengan usapan yang lembut. Tiara berusaha menjauhkan wajahnya dari Aryo dan membuang pandangannya. Aryo pun tersenyum smirk lalu menjauhkan tangannya begitu dari wajah Tiara.

Tiara berpikir pada awalnya tidak baik juga menjadi asisten bagi Aryo. Namun melihat sifat aslinya, lebih baik Tiara menjadi asistennya dari pada menjadi istri sungguhan untuk pria arogan itu.

Setelah itu kehadiran dua orang menginterupsi mereka untuk membantu membawakan barang dari bagasi mobil. Mereka adalah dua asisten yang menjaga tempat ini dan tinggal di paviliun yang terpisah dari bangunan utama yang akan ditempati Aryo dan Tiara.

“Tolong langsung bawa ke lantai dua. Terimakasih ya,” ucap Aryo pada dua orang lelaki yang bekerja untuknya itu. Lantas Tiara mengikuti langkah Aryo yang lebih dulu memasuki kondominium.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo's Wedding Car

Aryo mengendarai BMW putihnya unuk sampai ke venue pemberkatan pernikahannya hari ini. Pria itu tampil sempurna dengan kemeja putih yang dilapisi tuxedo hitamnya. Rambutnya telah ditata rapi oleh seorang hair style beberapa menit yang lalu. Persiapan untuknya sendiri cukup simpel dan tidak memakan waktu yang lama. Berbeda dengan Tiara yang saat ini masih di make up oleh dua orang makeup artist profesional.

Aryo bertemu para sepupu dan tantenya, mereka berbincang sebentar sampai Rama menahan pergerakannya ketika ia beranjak dari tempatnya.

“Lo mau kemana?” tanya bodyguard-nya itu.

“Mau ketemu Tiara,” jawab Aryo.

Rama memerhatikan sekitarnya dan menyapukan pandangannya sesaat, “Mana boleh ketemu sekarang, sabar kali. Ohya, gue punya info baru. Laporannya gue kirim ke lo nanti malam,” ujar Rama.

“Sialan. Jangan nanti malam,” desis Aryo.

Rama terkekeh mendapati wajah kesal atasannya itu, “Oh ya, gue lupa. Malam pertama sama istri nih ceritanya. Semangat ya Bos,” Rama menepuk pundak Aryo sebelum melenggang pergi dari hadapan atasannya itu.

***

The Altar

Aryo on His Wedding Day

Aryo berdiri gagah di depan altar dan pandangannya menatap lurus ke arah Tiara. Perempuan itu berjalan dengan anggun, satu lengannya berada di lengan ayahnya. Beberapa kali gadis itu melihat ke arah hadirin sembari melemparkan senyum cantiknya.

Aryo memerhatikan paras menawan itu, dressdan bride veil putih yang sederhana namun elegan itu tampak sempurna dikenakan Tiara. Aryo menyaksikan semua itu dan merasakan kedua matanya memanas. Sejenak ia mengalihkan tatapannya dari sosok Tiara, guna mencegah airmata merembas dari pelupuk matanya. Saat Tiara sampai di hadapannya, Aryo menatap perempuan itu sembari mengulaskan senyum simpulnya.

Andi Lubis menyerahkan tangan putrinya pada Aryo, sebagai sebuah tanda bahwa seorang ayah telah merelakan putrinya untuk menjadi milik pria lain. Aryo menerima uluran tersebut, ia membawa lengan Tiara untuk melingkar di lengannya.

Seorang pendeta di hadapan keduanya menuntun Aryo dan Tiara untuk bergantian mengucapkan ikrar pernikahan. Prosesi tersebut berjalan dengan lancar dan sangat intimate.

Aryo meraih kedua tangan Tiara dan mengenggamnya, “Saya merima kamu, Tiara, menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita,” tutur Aryo sambil menatap lembut paras Tiara.

Tiara balas menatap Aryo sembari tersenyum, ia berdeham sejenak sebelum gantian mengucapkan ikrarnya, “Saya menerima kamu, Aryo, menjadi suami saya,” ucap Tiara mengikuti apa yang Aryo ucapkan sebelumnya.

Kini keduanya pun telah resmi menjadi sepasang suami istri di hadapan agama dan hukum negara.

Setelah memasang cincin di jari manis pasangan secara bergantian, pendeta mempersilakan mereka untuk memadu kasih sebagai sepasang jiwa baru yang telah disatukan. Tiara mendapati Aryo menatap matanya dan merasakan jantungnya berdebar kencang. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, yang seketika membuat Tiara memejamkan kedua matanya.

Aryo menyamatkan kecupan di keningnya dan Tiara otomatis membuka netranya. Perempuan itu tersenyum kikuk dan malah dihadiahi sebuah senyum jenaka dari Aryo.

“Kenapa gugup? Kita udah pernah melakukannya,” bisik Aryo di dekat Tiara.

Tiara mencebikkan bibirnya dan membuang pandangannya dari Aryo sebisa mungkin.

Look at me, Tiara,” tutur Aryo yang dalam hitungan detikan kemudian, tangannya bergerak lembut untuk menghela sisi wajah Tiara. Lalu pria itu memberikan ciuman lembut di bibir wanitanya. Dunia Tiara seperti berhenti ketika merasakan bibir lembab Aryo menyapa bibirnya. Hanya terjadi kurang dari 7 detik, Aryo pun kembali menjauhkan dirinya dari Tiara. Kemudian pria itu meraih tangannya untuk digenggam dan melempar senyumnya ke arah para tamu, yang lantas berseru gembira menyaksikan momen bahagia mereka.

***

Acara pemberkatan tersebut mengusung tema garden party, sesuai dengan keinginan yang Tiara utarakan sebelum pernikahan. Awalnya Tiara ragu, Aryo akan menuruti kemauannya tersebut dan perempuan itu mencoba untuk mengerti. Dimana konsep outdoor sendiri akan lebih repot ketika mengurus masalah privasinya. Namun semua itu dapat diatasi dan Tiara mendapatkan pernikahan impiannya.

Acara berjalan lancar dengan penjagaan yang sangat ketat, tidak ada media yang diperbolehkan untuk meliput, sehingga dokumentasi hanya ada dari pihak pribadi.

Wedding Venue

Tiara mendapati Aryo menghampirinya ketika ia sedang bersama kedua adiknya, Kelvin dan Chelsea. Tanpa di sangka, adik lelakinya yang paling kecil itu mendekat pada Aryo.

“Kak Aryo, jangan dibawa pulang ya Kak Tiaranya. Kelvin masih mau sama Kakak,” tutur bocah berusia 5 tahun itu dengan wajah polosnya. Aryo nampak bingung menanggapi ucapan Kelvin, ia menatap ke arah Tiara dan sesaat mereka hanya saling bertukar pandangan sambil tersenyum kikuk.

Saat situasi canggung seperti ini, bundanya menghampiri mereka dan mencoba untuk membujuk anak lelakinya itu. Kelvin diberi pengertian oleh bundanya dan kemudian ia langsung beranjak untuk memeluk tubuh Alifia.

“Sebentar aja kok adik kamu begini, nanti juga baikan lagi. Bunda coba ngasih pengertian pean-pelan ya,” ucap Alifia sambil mengulaskan senyumnya pada Tiara dan Aryo. Kejadian itu berlangsung begitu saja dan akhirnya Kelvin mau dibujuk untuk pulang tanpa Tiara.

Sebelum benar-benar memisahkan diri, Aryo dan Tiara berpamitan pada kedua keluarga. Ayahnya dan Aryo berbicara berdua tanpa Tiara tahu apa yang sedang kedua pria itu bicarakan. Ayahnya itu terlihat tersenyum kepada Aryo dan menampakkan raut bahagia di wajahnya.

Aryo benar-benar menampakkan sosok menantu dan suami idaman di hadapan kedua orangtua dan keluarganya. Namun bagi Tiara, sifat asli pria itu akan muncul ketika mereka hanya sedang berdua.

***

Tiara berpikir tentang hal apa yang harus ia mulai terlebih dahulu. Kehidupan pernikahannya tetaplah nyata, meskipun ia memiliki tujuan lain dari pernikahan ini. Tiara tidak terlalu menyukai ketika ia harus kembali beradaptasi, terlebih tanpa orang yang ia sayang berada di sekelilingnya.

Tiara melirik Aryo yang menyetir di sampingnya dengan hanya satu tangan memegang kemudi. Meskipun mereka sudah mengambil jalan tol, rupanya mereka harus menempuh perjalanan yang cukup lama untuk sampai ke tempat tujuan.

“Kenapa nggak pakai supir aja?” tanya Tiara yang sejujurnya ingin tahu kenapa Aryo memilih menyetir dengan jarak tempuh yang cukup jauh di hari pernikahannya sendiri. Setelah pernikahannya, Tiara menjadi tahu seberapa kaya pria yang dinikahinya, tapi pria ini rupanya cukup pelit, pikirnya.

“Biar cuma ada kita berdua disini,” jawaban Aryo membuat Tiara terdiam dan terpatahkan sudah spekulasi di dalam kepalanya. Namun jangan salah berpikir Tiara akan diam saja dan menelan mentah-mentah perkataan spesies buaya darat bernama Aryo Bimo. Aryo memang menikahi seorang perempuan bukannya hantu, tapi Tiara tidak sudi kalah omongan dengan Aryo. Aryo pikir dirinya itu siapa, bisa membuatnya tidak berkutik hanya dengan kalimat yang berorientasi mesum dari lelaki itu.

“Lo mau berapa babak? Tujuh ? Sepuluh? Ayo kita lakuin,” ucap Tiara menantang Aryo. Tidak disangka oleh Tiara, pria itu menepikan mobilnya di sebuah rest area yang tidak terlalu ramai. Mereka masih berada di dalam tol, jadi hanya dapat berhenti di rest area saja.

I’ve been read in some article, doing something in car can gave a different sensation.” Tiara mendekatkan tubuhnya pada Aryo dengan berani. Namun pria itu hanya menatapnya dan bergeming di tempatnya. Tiara yang merasa kalah pun kembali menjauhkan tubuhnya dari pria itu.

Tiara memainkan jemarinya tanpa berniat sedikit pun melihat kearah Aryo lagi. Lelaki itu memang sialan. Tiara pastikan Aryo tidak akan mendapatkan apapun darinya malam ini.

***

Ketika sampai di hotel, Tiara berniat mendiamkan Aryo dan langsung menjamah kasur berukuran king size di dalam president suit room yang telah disiapkan untuk mereka.

Tiara sama sekali tidak dapat memejamkan matanya sejak satu jam yang lalu. Sehingga hanya Aryo saja yang tertidur sambil sesekali mendekap tubuhnya ketika pria itu ingin melakukannya. Dasar, lelaki hampir semuanya sama saja! Apa yang ada di dalam kepala mereka, orientasinya selalu tidak jauh dari wanita dan ranjang.

Saat ini, Aryo persis seperti bayi besar yang sedang dikeloni oleh ibunya. Tiara juga merasakan lelah pada tubuhnya, tapi Tiara pikir Aryo lebih lelah darinya karena pria itu langsung tertidur dengan pulas.

Belasan tahun yang lalu, saat Tiara mendapati kesulitan tidur, bundanya akan memeluknya dan itu membuatnya nyaman, sehingga ia berhasil tertidur. Tiara mengarahkan tatapannnya pada langit-langit kamar guna menetralisir perasaan yang kini kembali datang dan terasa mengganggunya.

Sadar diperhatikan, Tiara menoleh pada Aryo yang terbangun dari tidurnya dengan keadaan masih memeluk tubuhnya.

“Jam berapa sekarang?” ujar suara husky Aryo yang kini memasuki indra pendengaran Tiara.

“Lo bisa lanjut tidur, resepsinya masih empat jam lagi,” ucap Tiara.

“Lo kenapa nggak tidur?” Aryo melepaskan dekapannya pada Tiara dan menatap gadis itu dari posisi baringannya.

Gadis itu memasang wajah datar dan minim ekspresinya, ia menjawab pertanyaan Aryo dengan menggelengkan kepalanya. Tiara mengalihkan tatapannya dari Aryo, ia menatapi kukunya yang hari ini nampak cantik karena di hias oleh nail art bernuansa biru cerah.

“Jangan nyalahin siapapun, kalau nanti malam lo kecapean, Tiara. Acara resepsinya sampai malam.” Setelah mengatakanya, Aryo membalikkan tubuhnya untuk melanjutkan kembali tidurnya. Bagi Tiara, tidak penting bagaimana Aryo bersikap padanya sekarang maupun nanti. Tiara yang akan mengontrol sikapnya terhadap pria itu.

Tiara harus dapat mengatur apa yang ia tampilkan di depan Aryo. Begitu juga sebaliknya, tentang apa yang tidak boleh ia tampilkan saat bersama pria di sampingnya ini.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷