alyadara

Raegan baru saja melepas sepatunya dan ia melangkah memasuki rumahnya. Begitu sampai di ruang tamu, sayup-sayup Raegan dapat mendengar obrolan dua orang. Hal yang terasa asing di rumah ini, hingga mampu membuat Raegan penasaran. Siapa yang sebenarnya sedang bersama mamanya di dapur?

Ketika langkah Raegan sampai di tempat tujuannya, dua perempuan berbeda generasi di sana langsung menatap ke arahnya. Di sana ada mamanya dan Kaldera, keduanya nampak sedang mengobrol di meja makan. Kaldera terlihat akrab dengan Indri. Raegan dapat melihat Indri tersenyum lagi, setelah beberapa bulan ini Raegan hanya melihat kesedihan yang terpancar di wajah mamanya.

“Raegan, kamu mau langsung makan malam atau nanti aja?” tanya Indri memecah keheningan yang terjadi di antara mereka.

“Nanti aja Mah,” jawab Raegan.

“Yaudah kalau gitu. Itu di meja makan ada makanan. Tadi mama masak udah bareng Kaldera, nanti kamu tinggal angetin aja ya.”

Raegan lantas mengangguki ucapan mamanya itu. Setelah itu Raegan pamit berlalu dari hadapan Indri dan Kaldera. Saat Raegan akan membuka pintu kamarnya, tangannya terhenti dan menggantung di gagang pintu. Raegan pun berbalik, ia menatap pintu berpelitur putih yang berada di seberang kamarnya.

Raegan mengurungkan niatnya untuk pergi ke kamarnya. Pria itu malah menyentuh gagang pintu kamar Zio, lalu melangkah memasuki kamar itu.

Begitu sampai di dalam, Raegan pun menyapukan matanya pada kamar bernuansa monokrom tersebut. Tiba-tiba perasaannya terasa campur aduk dan dadanya terasa sedikit sesak. Raegan meraup udara sebisa mungkin, lalu ia menghembuskan napasnya dengan helaan yang cukup panjang.

Ketika Raegan akan berbalik dan pergi dari kamar itu, sebuah figura di nakas samping tempat telah tidur mencuri perhatiannya. Raegan mengambil figura itu dan melihat potret yang ada di sana. Di potret itu nampak Zio dan Kaldera yang berfoto dengan latar taman hiburan. Zio tersenyum di foto itu, nampak begitu bahagia.

Raegan lantas bertanya-tanya, kapan terakhir kali ia melihat adiknya sebahagia di foto ini? Raegan pun tidak memiliki jawaban tersebut. Apakah sudah terlalu lama Zio kehilangan kebahagiaannya dan menemukannya kembali saat bertemu dengan Kaldera?

“Mas Raegan.” Panggilan itu seketika membuat Raegan menoleh. Raegan menemukan Kaldera di belakangnya dan gadis itu kini tengah menatapnya. Pandangan Kaldera lantas tertuju pada figura yang masih berada di tangan Raegan.

Raegan segera meletakkan figura itu kembali ke tempatnya. Keduanya kini saling menatap, dan seolah tau apa yang dipikiran Raegan, Kaldera mengatakan maksudnya tiba-tiba datang ke kamar Zio.

I missed him,” ucap Kaldera sembari mengalihkan tatapannya entah ke mana. Gadis itu tengah berusaha mencegah air matanya untuk turun.

Pandangan Raegan seketika tertuju pada arah yang sama dengan Kaldera. Di meja belajar di kamar Zio itu, ada sebuah buku berwarna biru dongker. Kaldera mengambil album foto yang berukuran cukup besar itu, tangannya lantas mengusap sekilas benda tersebut.

Kaldera hanya membuka album itu pada lembar keduanya, lalu ia kembali menutupnya dan meletakkannya di meja. Begitu Kaldera akan melangkah melewati Raegan, lelaki itu menahannya.

“Kaldera,” ucap Raegan.

Kaldera seketika menoleh, ia menatap Raegan dengan tatapan bertanya.

“Kenapa kamu melakukan ini? Apa kamu melakukan semua ini untuk membujuk aku dan membuat aku ngubah keputusan?” tanya Raegan.

Rupanya Kaldera cukup gigih melakukannya. Gadis yang dicintai almarhum adiknya itu benar-benar menunjukkan secara tidak langsung rasa cintanya yang begitu besar terhadap Zio. Tidak hanya itu, hari ini Raegan juga tahu bahwa Zio begitu mencintai Kaldera sedalam ini. Di kamar adiknya ini, tersimpan banyak memori indah yang dimiliki Zio. Fakta yang membuat Raegan tertegun adalah bahwa Kaldera merupakan pemeran utama dalam menciptakan kebahagiaan tersebut.

Dari sorot mata Kaldera, Raegan mampu melihat sebuah cinta yang besar. Raegan merasa bahwa rasa cinta tersebut yang membuat Kaldera gigih dan tidak ingin menyerah begitu saja dengan kasus itu.

“Kaldera, saya akan izinkan kamu. Tapi saya punya satu syarat yang harus kamu penuhi,” ucap Raegan.

Kaldera nampak sedikit tidak percaya akan ucapan Raegan. Kaldera pun tidak menyangka Raegan akhirnya luluh juga dan memberinya izin untuk melakukannya.

“Apa syaratnya?” tanya Kaldera, kedua alis gadis itu nampak menyatu. Kaldera tidak dapat memikirkan kira-kira syarat apa yang akan Raegan ajukan padanya.

Kali ini Raegan tidak memberitahu Kaldera saat itu juga. Raegan mengatakan bahwa ia akan kembali mengabari Kaldera soal syarat yang akan pria itu ajukan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera sedikit tidak percaya begitu mendapati bahwa Raegan sore ini menjemputnya di sekolah. Raegan tidak mengatakan banyak hal, pria itu hanya meminta Kaldera untuk pergi bersamanya. Belum cukup dengan kemunculan Raegan di hadapannya, Kaldera kembali dikejutkan ketika Arjuna membelokkan setir mobilnya ke sebuah tempat yang Kaldera ketahui adalah sebuah rumah tahanan negara.

Rumah Tahanan Negara merupakan tempat tersangka atau terdakwa ditahan selama proses penyidikan, penuntutan, dan pemeriksaan di sidang pengadilan. Ketika mereka masuk ke sebuah tempat untuk mengunjungi tahanan, sudah ada seorang pria yang kemudian Kaldera ketahui adalah pengacara yang ditugaskan Raegan untuk menangani kasus Zio.

“Untuk apa kita ke sini?” tanya Kaldera yang belum dapat menebak situasi yang tengah terjadi di depan mata. Tidak lama berselang, akhirnya Kaldera menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan di dalam benaknya.

Aksa, lelaki yang ditahan karena menjadi tersangka kasus pembunuhan Zio, hadir di sana setelah petugas memberinya izin untuk bertemu dengan pengunjung.

Kaldera masih nampak bingung, sampai akhirnya Erwin menjelaskan pada Kaldera alasan Raegan membawanya ke sini. Mereka ingin mendengar cerita lengkap kejadian malam itu dari Kaldera, yang mana Kaldera merupakan satu-satunya saksi yang kemungkinan melihat kejadian malam itu.

“Kaldera, hanya satu pertanyaan saya untuk kamu. Jawab ini, apa kamu ada di sana sebelum kejadian atau sesudah kejadian?” tanya Erwin.

Kaldera tanpa ragu pun menjawab pertanyaan Erwin. “Sebelum kejadian, aku udah sampai di sana,” ujar Kaldera. Kemudian dengan sebuah anggukan pasti, Kaldera pun menceritakan apa yang malam itu ia lihat. Kaldra yakin betul dengan apa yang dilihatnya di depan matanya. Raegan, Aksa, dan Erwin pun mendengarkan dengan seksama rentetan kejadian yang disaksikan oleh Kaldera.

“Bukan Aksa pelakunya, aku ngeliat itu dengan jelas. Orang itu kabur setelah melakukannya.” Kaldera pun mengakhiri ceritanya.

“Tapi saat ini bukti di tempat kejadian mengarah ke Aksa. Cara satu-satunya untuk membuktikan Aksa nggak bersalah adalah menyerahkan bukti yang kuat ke pengadilan. Cara itu juga bisa kita gunakan untuk mengetahui dan menangkap pelaku yang sebenarnya,” jelas Erwin.

Usai mendengar penjelasan Erwin, Kaldera segera mengeluarkan ponselnya dan meletakkan benda pipih itu di atas meja. Sontak ketiga lelaki di hadapannya itu menatap ke arahnya.

“Kamu punya bukti itu di hp kamu?” tanya Raegan.

Kaldera pun mengangguk, ia segera memperlihatkan foto yang sempat dirinya ambil saat di tempat kejadian perkara. Sebagai seorang pengacara yang handal, Erwin mengatakan bahwa bukti foto itu nampak kurang jelas. Ada kemungkinan kejaksaan akan meragukan bukti tersebut.

“Kita bisa cari bukti lain sebagai cadangan dari bukti foto ini. Pasti ada bukti di tempat kejadian yang bisa dijadikan alternatif,” ungkap Raegan. Namun kenyataannya Erwin kurang setuju dengan ide Raegan tersebut.

“Kenapa? Apa cara itu nggak bisa?” tanya Raegan.

“Ada cara yang lebih mudah dan kemungkinan ini dapat lebih kuat dari pada bukti itu, Raegan.”

“Cara yang lebih mudah?” Raegan mempertanyakannya, tanpa bisa menebak apa yang ada di dalam pikiran pengacaranya itu.

Tatapan Erwin seketika beralih kepada Kaldera. Begitu juga dengan Raegan dan Aksa, mereka mengarahkan tatapannya pada Kaldera.

“Saya rasa Anda sudah tau apa yang ada di pikiran saya, Pak Raegan. Kita punya saksi mata yang bisa memberikan kesaksiaannya di persidangan nanti. Untuk memperkuat kesaksian, kita bisa menggunakan bukti foto itu,” jelas Erwin panjang lebar.

***

Saat di perjalanan pulang, Kaldera mengatakan pada Raegan bahwa ia bersedia untuk menjadi saksi di persidangan. Sesuai yang dikatakan oleh Erwin, itu adalah cara yang cukup mutakhir, jika kemungkinan bukti foto di ponsel Kaldera tidak cukup kuat untuk membebaskan Aksa.

“Kaldera, saya tidak mengizinkan kamu untuk melakukan itu,” ucap Raegan. Pria itu meletakkan ipadnya dan kini menatap Kaldera tepat di matanya.

“Alasannya?” tanya Kaldera.

Kaldera tidak mengerti mengapa Raegan melarangnya. Mereka sudah berada di langkah yang tepat dan tidak bisa membiarkan pelaku itu berkeliaran bebas, setelah apa yang dilakukannya terhadap Zio. Kaldera ingin menghukum orang itu, sama seperti Raegan, jadi Kaldera pikir kini mereka telah berada di kapal yang sama.

Begitu Arjuna memberhentikan mobilnya tepat di depan gang rumah Kaldera, Raegan meminta Kaldera untuk turun dari sana. Namun Kaldera bersikukuh dan tidak bergerak dari posisinya sedikit pun.

“Kaldera, kamu bisa turun sekarang. Kita udah selesai bahas ini,” ucap Raegan, nada bicaranya terdengar tidak terbantahkan. Raegan mengalihkan tatapannya dari Kaldera, ia enggan melihat kedua mata itu.

“Mas, aku akan berusaha terus yakinin kamu, sampai kamu izinin aku buat jadi saksi di pengadilan. Tolong, kita udah semakin dekat untuk menangkap pelakunya. Aku cuma ingin orang itu dapat sesuatu dari apa yang udah dia perbuat ke Zio,” ujar Kaldera.

Raegan masih diam dan tidak merespon ucapan Kaldera sama sekali. Namun rupanya Kaldera tidak ingin menyerah. Sampai akhirnya Raegan menoleh dan menatap Kaldera. Raegan menyaksikan kedua mata Kaldera, terdapat guratan kesedihan dan luka dalam yang terpancar dari kedua mata bulat itu.

“Malam itu aku liat sendiri di depan mataku, gimana orang itu nyakitin Zio. Sampai sekarang, aku nggak bisa ngelupain kejadian itu,” ujar Kaldera dengan suaranya yang terdengar agak parau.

“Kaldera, kamu nggak ngerti. Ini terlalu berbahaya. Orang itu bukan sembarang orang seperti yang kamu pikirkan,” terang Raegan.

“Siapa orang itu sebenarnya?” tanya Kaldera.

“Kamu nggak perlu tau. Yang jelas, saya tidak akan melibatkan kamu ke dalam hal ini,” tukas Raegan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang berkejaran.

“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang Aksa yang ditahan.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau lo akan anggap gue kurang ajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin, bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang menghampirinya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio,” ujar Aksa lagi.

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak berjanji bahwa itu akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, berada di gedung ini. Jadi mereka akan mencoba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu Kaldera dan Kafka sampai di pintu lobi, langkah keduanya ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad untuk menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Apa betul gadis itu calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya. Gadis itu datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Di kursi kebesarannya, Raegan terlihat menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya, tanpa berniat membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, pengadilan akan membuktikan itu di persidangan nanti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Bukti yang ada jelas mengarah ke sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang tengah terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh, akan muncul permasalahan yang lebih besar lagi.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas di raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah dilakukan sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang membuat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia menunduk dan hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Kaldera bertanya-tanya di dalam hatinya.

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di kapal yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya katakan ini sama kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap ke arah dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak sudi untuk berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan orang yang memiliki hubungan dengan tersangka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Kaldera merasa bahwa keputusannya menolak permintaan Raegan adalah pilihan yang paling tepat. Kaldera tidak ingin Indri dan Raegan terlibat dengannya, yang artinya mereka harus berurusan juga dengan tantenya. Ini adalah yang terbaik, begitu pikir Kaldera.

Terkadang Kaldera masih menyalahkan apa yang sudah terjadi. Setelah kedua orang tuanya pergi, mengapa Tuhan kembali mengambil orang yang begitu ia cintai? Mengapa ia harus melalui hal seberat ini?

“Kaldera!” seruan yang memanggil namanya itu seketika membuat Kaldera menoleh. Di koridor lantai satu sekolahnya, Kaldera mendapati Icha tengah berlari ke arahnya.

Begitu Icha sampai di hadapannya, perempuan itu berusaha mengatur napasnya yang berkejaran.

“Lo kenapa Cha lari-lari gitu? Ngejar apa sih?” tanya Kaldera yang keheranan melihat tingkah sahabatnya itu.

Icha menghembuskan napasnya sebelum akhirnya berujar, “Lo harus tau ini, Kal. Itu si Aksa ditahan sama polisi!” seru Icha dengan wajah paniknya.

“Gue denger-denger dari anak OSIS, Aksa jadi tersangka kasusnya Zio, Kal ...” lanjut Icha, tatapannya turut prihatin.

Kaldera masih belum merespon Icha, hingga akhirnya Icha menggerakkan tangannya di depan wajah Kaldera untuk menyadarkan gadis itu dari lamunannya.

“Kal, lo nggak tau apa-apa soal ini?” tanya Icha.

“Gue baru tau berita ini dari lo,” jawab Kaldera apa adanya. Ia memang tidak tahu menahu tentang Aksa yang ditahan.

Di tengah-tengah situasi itu, tiba-tiba seorang lelaki menghampiri Kaldera dan Icha. Lelaki itu adalah Kafka. Kafka adalah sepupu Aksa yang malam itu memberitahu Kaldera lokasi yang dituju Zio untuk membantu Aksa.

“Kal, gue tau lo akan anggap gue kurang ajar kalau gue bilang ini. Tapi gue mohon Kal, tolong bantu Aksa untuk bebas dari penjara. Gue yakin, bukan sepupu gue pelakunya.” Ucapan Kafka seketika membuat Kaldera menoleh dan menatap lelaki itu tepat di iris matanya. Kaldera nampak bingung harus merespon apa. Semua ini terasa bertubi-tubi datang menghampirinya.

“Kal, cuma lo yang bisa bujuk keluarga Zio untuk cabut tuntutannya. Zio sama Aksa sahabatan, Aksa nggak punya motif apapun untuk celakain Zio,” ujar Aksa lagi.

***

Kaldera telah setuju untuk membantu membebaskan Aksa dari tuntutan itu. Kaldera akan mencobanya, tapi ia tidak berjanji bahwa itu akan berhasil. Di sinilah Kaldera dan Kafka sekarang, di lobi sebuah gedung mewah pencakar langit yang merupakan kantor perusahaan batu bara ternama. Seseorang yang diduga membuat tuntutan tersebut, berada di gedung ini. Jadi mereka akan mencoba menemuinya untuk membicarakan tuntutan itu.

Begitu Kaldera dan Kafka sampai di pintu lobi, langkah keduanya ditahan oleh dua orang satpam berbadan tinggi dan besar.

“Mohon maaf, ada keperluan apa datang ke sini? Apakah sudah membuat janji untuk bertemu?” tanya salah seorang satpam.

Kaldera dan Kafka lantas saling berpandangan. Kaldera akhirnya membuka suara setelah menimang itu di dalam pikirannya. “Saya ingin bertemu dengan bapak Raegantara Rahagi. Saya sudah menelfon beliau, tapi belum mendapat respon,” jelas Kaldera.

“Kalau belum ada persetujuan dari beliau, mohon maaf Anda tidak bisa bertemu,” ujar satpam itu lagi.

“Tapi saya harus bertemu dengan beliau,” ucap Kaldera tetap berusaha mendapatkan izin masuk itu.

“Baik, kalau Anda memaksa. Saya akan sampaikan pada bapak Raegan. Tapi bisa jelaskan lebih dulu hubungan apa yang Anda miliki dengan beliau?”

***

Siang ini Raegan sedang berada di ruangannya ketika bodyguard-nya mengatakan bahwa ada seseorang yang bertekad untuk menemuinya.

“Calon istri?” tanya suara bariton itu. Raegan beranjak dari kursi kebesarannya, ia melempar tatapan tidak percaya pada bodyguard yang telah lama bekerja untuknya. Pasalnya Arjuna mengatakan bahwa orang yang ingin menemuinya adalah calon istrinya.

“Betul, Pak. Di luar ruangan Anda, ada seorang gadis delapan belas tahun yang mengaku sebagai calon istri Bapak. Saya tidak percaya karena dia tidak punya bukti apapun. Mohon maaf telah mengganggu waktu Bapak, saya akan mengurus ini segera,” ucap Arjuna dan hendak berbalik pergi dari hadapan Raegan.

“Tunggu,” ucap Raegan menghentikan langkah Arjuna.

“Dia gadis SMA?” tanya Raegan dengan matanya yang nampak memicing.

“Benar, Pak.”

“Izinkan dia masuk. Saya mengenalnya,” putus Raegan.

“Apa betul gadis itu calon istri Bapak? Bukannya mbak Kaluela—”

“Tugas kamu di sini hanya melakukan apa yang saya perintahkan, bukan untuk mencampuri urusan pribadi saya,” tukas Raegan yang seketika membuat Arjuna bungkam.

***

Raegan menatap dua orang yang kini ada di hadapannya. Kaldera Ruby Rinjani, sosok kekasih almarhum adiknya. Gadis itu datang bersama seorang lelaki yang memiliki hubungan keluarga dengan tersangka pembunuh adiknya.

Raegan menatap Kaldera dengan tatapan datarnya. Pria itu tampak acuh dengan kehadiran Kaldera dan Kafka. Di kursi kebesarannya, Raegan terlihat menselancarkan jemarinya pada layar ipad di tangannya, tanpa berniat membuka pembicaraan terlebih dahulu.

“Kenapa Anda menuntut orang yang tidak bersalah?” akhirnya Kafka membuka suara.

Raegan yang mendengar kalimat itu, langsung menaruh ipad-nya di meja dengan gerakan sedikit kasar. Raegan mengarahkan tatapannya pada Kafka. “Kalau sepupu Anda tidak bersalah, pengadilan akan membuktikan itu di persidangan nanti. Saya melakukan tuntutan bukan tanpa bukti yang kuat. Bukti yang ada jelas mengarah ke sepupu Anda,” tukas Raegan dengan satu tarikan napas.

“Anda bisa melakukan penyelidikan tanpa menghancurkan masa depan Aksa. Saya tau, Anda punya uang sehingga bisa membeli hukum dengan uang itu. Dengan mudahnya Anda memasukkan orang ke penjara,” ujar Kafka lagi.

Kaldera yang duduk di samping Kafka, mencegah lelaki itu untuk melanjutkan lagi ucapannya. Kaldera merasakan bahwa situasi yang tengah terjadi antara Kafka dan Raegan berangsur memanas. Dikhawatirkan jika semakin jauh, akan muncul permasalahan yang lebih besar lagi.

Tanpa Kafka memprediksinya, kalimat sembrononya itu telah menciptakan amarah yang kentara jelas di raut wajah Raegan. Raegan beranjak dari posisi duduknya, ia melangkah menuju Kafka dan berujar, “Lantas apa yang telah dilakukan sepupu kamu terhadap adik saya? Lebih dari menghancurkan, bukan?”

Berikutnya tatapan Raegan beralih pada Kaldera. Dari sorot mata itu, Kaldera dapat melihat ada kekecewaan.

“Kaldera, kamu nggak perlu ikut campur ke dalam urusan ini,” ucap Raegan.

“Aku punya alasan untuk ikut campur,” ujar Kaldera.

Raegan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya. “Alasan apa yang membuat kamu ada di pihak pembunuh pacar kamu, Kaldera?” Raegan masih di sana, menatap Kaldera dengan mata elangnya. Kaldera dapat merasakan tatapan tajam bercampur rasa kecewa yang dalam, saat iris legam Raegan menatapnya.

Kaldera bergeming di tempatnya, ia menunduk dan hanya dapat menatap ke arah lantai marmer hitam di ruangan ini.

“Aku nggak memihak siapa pun,” ucap Kaldera kemudian. Kaldera berusaha menatap Raegan meski rasanya Raegan dapat mengulitinya melalui sorot mata itu.

“Apa kamu nggak sadar kalau dia lagi manfaatin kamu untuk kepentingannya sendiri?” tanya Raegan. Pria itu menjeda ucapannya sesaat. Raegan menghela napasnya, lalu menghembuskannya dengan sedikit kasar. “Dengar Kaldera, sekalipun kamu yang saya meminta untuk mencabut tuntutan itu, saya tidak akan melakukannya. Kamu memang orang yang dicintai adik saya, tapi itu tidak cukup untuk merubah keputusan saya.”

Semua perkataan Raegan rasanya seperti tamparan tak kasat mata bagi Kaldera. Benarkah bahwa Kaldera telah melakukan hal yang seharusnya tidak ia lakukan? Kaldera bertanya-tanya di dalam hatinya.

Belum cukup semua perkataan tajam Raegan padanya, Kaldera rupanya masih mencoba melunakkan hati Raegan. “Kita bisa selesaikan ini dengan kepala dingin dan nemuin pelaku sebenarnya. Aku mohon sama kamu, tolong cabut tuntutannya,” ucap Kaldera.

Raegan tidak habis pikir bahwa Kaldera justru berada di kapal yang sama dengan musuhnya. Kaldera mencoba menjelaskan pada Raegan, tapi pria itu keras kepala. Raegan tetaplah pria yang berpegangan kuat terhadap apa yang ia yakini benar.

“Saya katakan ini sama kamu untuk yang terakhir kali,” Raegan menatap ke arah dengan tatapan tegasnya. “Saya tidak sudi untuk berhubungan dengan orang yang telah menyebabkan adik saya tiada. Saya bisa menemukan pelakunya dengan tangan saya sendiri,” tukas Raegan.

Seolah perkataan Raegan adalah telak dan tidak dapat diganggu gugat. Raegan memilih berlabuh menggunakan kapalnya sendiri dan tidak ingin bekerja sama dengan orang yang memiliki hubungan dengan tersangka.

“Kalian bisa pergi dari ruangan saya,” ucap Raegan kemudian. Pria itu tidak segan-segan mengerahkan bodyguard-nya untuk mengantar Kaldera dan Kafka meninggalkan ruangannya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Satu minggu kemudian

Bel pulang sekolah telah berbunyi beberapa saat yang lalu. Di kelas 12 IPS 3, terlihat Kaldera masih merapikan barang-barangnya dan memasukkannya ke dalam tas putihnya. Icha, teman sebangku Kaldera, menatapnya dengan tatapan khawatir. Pasalnya kondisi Kaldera nampak mengkhawatirkan. Sahabatnya itu terlihat murung dan lebih sering melamun.

“Kal, habis ini lo nggak langsung balik, kan?” tanya Icha yang sudah lebih dulu selesai merapikan barang-barangnya.

“Iya, Cha. Gue harus nemuin bu Tata dulu di ruang guru,” jawab Kaldera.

“Gue temenin sampe lo selesai, gimana? Nanti kita pulang bareng aja,” ujar Icha.

“Nggak papa Cha, nggak usah. Gue bisa balik sendiri kok. Lo pulang aja ya,” ujar Kaldera sambil menampakkan senyum kecilnya.

Icha akhirnya menerima keputusan Kaldera. Mungkin sahabatnya memang sedang membutuhkan ruang untuk sendiri. Kehilangan seseorang yang disayangi bukanlah hal yang mudah. Melupakan pun juga membutuhkan waktu. Namun sepertinya sosok Zio selamanya tidak akan terlupakan di hati Kaldera.

***

Kaldera sedang menjalani hukuman yang diberikan oleh bu Tata, guru mata pelajaran matematika di sekolahnya. Kaldera ketahuan melamun di kelas dan tidak dapat menjawab pertanyaan yang diajukan oleh gurunya. Berakhirlah saat ini Kaldera harus menulis rumus mencari quartil 2 pada tiga lembar kertas folio, sebagai tanda bahwa ia menyesal dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya lagi.

Begitu Kaldera teringat akan sesuatu, tangannya yang sebelumnya menulis tiba-tiba terhenti. Kaldera memang paling lemah di pelajaran matematika. Kala itu, ada seseorang yang begitu sabar yang rela mengajarinya sampai ia mengerti.

Redanzio.

Kaldera lagi-lagi teringat lelaki itu. Baru saja satu minggu sejak kepergian Zio, rasanya Kaldera sudah begitu rindu. Rindunya terasa begitu menyakitkan, karena ia tidak dapat bertemu sosok itu lagi untuk selamanya.

Kaldera menghembuskan napasnya panjang, lalu ia memutuskan untuk kembali melanjutkan menulis. Kaldera ingin cepat pulang ke rumah dan pergi tidur, berharap rasa sakitnya dapat reda atau setidaknya ia bisa bertemu dengan Zio meskipun hanya di dalam mimpi.

Berada di sekolah semakin mengingatkannya kepada Zio. Tempat ini telah menyimpan begitu banyak kenangan untuk Kaldera dan Zio. Tempat yang dulu paling suka Kaldera datangi, kini justru berubah menjadi momok baginya.

“Kaldera, apa tugas dari Ibu sudah selesai?” suara bu Tata membuat Kaldera seketika menoleh.

“Sudah saya selesaikan, Bu,” ucap Kaldera sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada bu Tata.

Wanita yang merupakan gurunya itu lantas tampak terkejut, begitu melihat cairan merah kental mengalir dari hidung Kaldera.

“Kaldera, kamu mimisan, Nak. Ayo, Ibu antar kamu ke UKS sekarang ya. Ya ampun, kamu kenapa nggak bilang kalau sakit,” ucap bu Tata dengan nadanya yang terdengar panik.

Kaldera tidak sadar terhadap apa yang terjadi pada dirinya. Apakah benar ia sakit? Namun mengapa tubuhnya seolah sudah kebal, hingga tidak dapat lagi merasakan rasa sakit itu?

***

Perlahan-lahan Kaldera mencoba untuk membuka matanya. Setelah kejadian mimisan itu, Kaldera segera di bawa ke UKS sekolah dan mendapat penanganan. Kemudian Kaldera tidak ingat lagi apa yang terjadi. Kin iketika terbangun dari tidur singkatnya, tubuhnya terasa kurang bertenaga dan kepalanya sedikit pusing. Begitu menoleh ke sampingnya, Kaldera tidak menemukan siapa pun di ruang UKS sekolahnya itu. Namun samar-samar dari balik bilik pembatas, Kaldera dapat mendengar percakapan antara petugas kesehatan UKS dan seseorang yang belum diketahuinya.

“Saya sudah coba menghubungi kontak walinya Kaldera. Tapi beliau tidak mengangkat telfonnya. Jadi saya menghubungi nomor terakhir yang ada di riwayat panggilan hpnya Kaldera,” ujar petugas kesehatan itu.

“Apakah Bapak walinya Kaldera? Atau mungkin Bapak bisa jelaskan pada saya hubungan Anda dengan Kaldera?”

Beberapa detik setelah itu, Kaldera dapat mendengar jawaban dari orang yang berbicara dengan petugas perempuan itu.

“Perkenalkan Bu, saya Raegan. Saya adalah walinya Kaldera,” ujar suara berat lelaki itu.

“Baik, Pak Raegan. Kalau begitu, saya ingin menyampaikan sesuatu mengenai kondisi Kaldera. Berdasarkan info yang saya dapat dari wali kelas Kaldera dan guru mata pelajaran lainnya, beberapa kali Kaldera sempat pingsan di sekolah dan hari ini dia mengalami mimisan. Saya harap setelah Bapak mengetahui hal ini, Bapak dapat lebih memperhatikan kondisi kesehatan Kaldera.”

***

Tadi siang Raegan mendapat telfon saat ia sedang berada di kantornya. Panggilan itu berasal dari nomor tidak dikenal yang ternyata merupakan nomor sekolah Kaldera. Raegan akhirnya datang setelah dapat informasi bahwa Kaldera jatuh sakit.

Saat ini Raegan dalam perjalanan bersama Kaldera. Raegan sudah mengatakan bahwa ia akan melakukan yang diminta oleh petugas kesehatan di sekolah Kaldera.

“Ayo, kita turun,” ucap Raegan setelah tangannya menarik rem mobilnya.

Kaldera mengangguk pelan, ia tidak bisa menolak saat Raegan membawanya untuk berobat ke rumah sakit. Begitu mereka sampai di ruangan dokter dan Kaldera diperiksa, dokter meminta agar Kaldera melakukan tes laboratorium.

Kaldera dan Raegan menunggu hasil lab, mereka duduk bersebelahan di kursi ruang tunggu. Tidak ada yang memulai percakapan, sampai akhirnya Kaldera mengucapkan permintaan maaf pada Raegan.

“Maaf udah ngerepotin kamu,” ucap Kaldera sambil menoleh ke arah Raegan.

“Kenapa kamu nggak angkat telfon dari saya?” Raegan malah mempertanyakan hal lain. Kaldera terlihat sedikit terkejut mendapati pertanyaan Raegan.

“Kamu juga mengabaikan chat dari saya,” tambah Raegan lagi.

Kaldera sedikit bersyukur ketika seorang perawat menghampiri mereka. Hasil laboratoriumnya telah keluar, otomatis pembicaraannya dengan Raegan terhenti begitu saja. Kaldera dapat menghindari pertanyaan Raegan, soal mengapa ia mengabaikan pesan Raegan saat lelaki itu membahas wasiat yang Zio berikan.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya lancar?” tanya seorang perempuan berusia 30 tahun yang kini ada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu ia melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada Kaluela Gabriel, perempuan yang merupakan kekasih hatinya selama kurang lebih 3 tahun belakangan.

Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf ya. Aku nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannya cepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung ke makam?” tanya Raegan.

Sure. Aku belum ngirim doa secara langsung untuk Zio. Oh iya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu. Mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang kemudian langsung diiyakan oleh Raegan.

“Oh iya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai di Jakarta kemarin malam dan menemui Raegan hari ini di kantornya.

“Dia pacarnya Zio. Dia dateng sama laki-laki yang merupakan sepupu tersangka kasus itu. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka, bukannya ada pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Mengingat kejadian tadi, rasanya emosi Raegan bisa naik lagi ke permukaan dengan begitu mudahnya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih ngertiin dia. Coba anggap kayak adik kamu sendiri. Aku ngerasa, dia adalah alasan Zio bisa bangkit dari kesedihannya sejak mama dan papa berpisah. Pasti ada alasan pacarnya Zio dateng ke sini tadi. Aku yakin, dia sayang dan peduli banget sama Zio.”

Kaluela tahu betul apa yang dialami oelh keluarga kekasihnya, tepatnya sejak orang tua Raegan dan Zio berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orang tuanya telah membuat Zio menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dan Raegan menjadi tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja, begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Jadi ini salah aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kalu.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tau, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak tahu caranya nunjukin kasih sayang kamu,” ucap Kalu terang-terangan.

“Kalu, sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku pastiin pelakunya akan dapat hukuman yang setimpal. Aku mau nebus semua kesalahanku sama Zio. Aku tau, aku belum sempat jadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah jadi kakak yang terbaik untuk Zio,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan teringat akan kalimat Zio beberapa saat sebelum adiknya menghembuskan nafas terakhir. Zio hanya mengatakannya pada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapa pun. Setelah memberikan wasiat pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Mas, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya buat jagain Kaldera. Gue tau, lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba lo mengenal Kaldera dulu. Kalau akhirnya lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue, mungkin ini permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Malam ini di sebuah kafe outdoor dilengkapi live music, beberapa lelaki nampak berkumpul di salah satu meja. Ketidakhadiran seorang lelaki yang merupakan bagian dari mereka, segera mengundang tanda tanya. Zio yang merupakan sahabat Aksa pun menjadi sasaran teman-temannya yang menanyakan di mana keberadaan lelaki itu.

“Zio, lo tau kenapa Aksa nggak bisa dateng malem ini?” tanya Aldi kepada Zio.

“Aksa nggak ngasih tau gue kenapa dia nggak bisa dateng,” jawab Zio apa adanya.

Kemudian Gilang menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger pembicaraan Aksa di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget, deh. Dia sama sekali nggak cerita tentang kerjaannya. Nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Ferdi sembari menyalakan pemantik untuk rokoknya. Ferdi akhirnya menceritakan apa saja yang ia ketahui. 2 bulan yang lalu, Aksa memang menerima tawaran pekerjaan freelancer di bidang IT. Aksa dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya, oleh seorang senior yang sudah menjadi alumni sekolahnya.

Setelah percakapan tentang Aksa tersebut, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya telfon itu adalahh dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola mengetahui apa yang sedang terjadi dengan Aksa. Rupanya sikap aneh Aksa yang kurang terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana,” ujar Kafka di telfon.

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka yang hendak menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga ya,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya. Atasannya Aksa bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk menolong sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah mengapa, Kaldera tidak dapat berpikiran jernih saat ini. Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif, jadi Kaldera tidak bisa menghubunginya untuk mengetahui keberadaan lelaki itu.

Kaldera masih memiliki satu harapan. Kafka, sepupu Aksa yang juga merupakan sahabat Zio, kemungkinan mengetahui apa yang tengah terjadi.

Setelah mendapat telfon dari Kaldera, Kafka memberikan alamat itu. Kafka pun berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang untuk membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi Kafka tetap memberi tahu Kaldera. Di satu sisi, Kafka tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan itu. Kaldera kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, ia berharap bahwa dirinya salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dengan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya merupakan ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, sudah lama berubah menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkahkan kakinya semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu dimulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga kekasihnya khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuat Kaldera terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera. Namun yang pasti dapat ia lihat, pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu.

Usai pembicaraan itu, Kaldera melihat pria berpakaian serba hitam tersebut melepaskan pelindung kulit dari pisau di tangannya. Entah apa yang terbesit di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret pria itu yang hampir saja mengarahkan senjatanya kepada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru Zio yang tertusuk. Benda tajam itu tertancap tepat di bagian perut Zio. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini. Maka air matanya meluruh begitu saja membasahi pipinya.

Kaldera merasakan sesak di dadanya, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari tempat persembunyiannya.

Saat melihat Kaldera ada di sana, Zio dan Aksa nampak terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur lebih banyak, tubuhnya pun luluh lantak di samping Zio. Kedua lutut Kaldera berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya secara bertubi-tubi.

“Kal, makasih ya kamu pernah ada di hidup aku. Aku sayang kamu,” ucap Zio dengan suara pesannya. Kamudian Zio mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua iris legam Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayangnya.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, kamu harus selalu bahagia. Janji sama aku, yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang-ngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa mengiyakan janji yang Zio pinta kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Di sebuah rumah berlantai dua yang megah, terlihat sosok lelaki muda bertubuh lumayan kekar yang dipersilakan memasuki rumah oleh penjaga di depan. Arjuna, bodyguard pribadi Raegan itu mengetuk pintu berpelitur putih di hadapannya.

Setelah pintu dibukakan oleh salah satu asisten rumah tangga yang bekerja di sana, Arjuna melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruang kerja Raegan.

“Malam, Pak. Sesuai permintaan Anda, saya ingin menyerahkan laporan tentang kegiatan sehari-hari Kaldera,” ucap Arjuna.

Saat Raegan mempersilakannya untuk memberikan laporan itu, Arjuna segera meletakkan sebuah map coklat besar di atas meja atasannya. Berikutnya Raegan membuka map itu dan melihat dengan seksama beberapa hasil foto yang didapatkan oleh Arjuna.

“Apa yang dia lakuin sampai harus pulang malam hampir setiap hari?” tanya Raegan, ia masih memegang foto-foto itu di tangannya.

“Gadis itu melakukan pekerjaan part time dari senin sampai jumat, Pak. Hampir setiap hari dia pulang malam, sekitar jam 8. Selebihnya kegiatannya hanya seperti remaja pada umumnya.”

“Gimana kondisi di rumahnya?” tanya Raegan.

“Semuanya keliatan normal sejauh ini. Kaldera tinggal dengan tantenya yang setelah saya cari tau, beliau adalah wali sah Kaldera sejak kedua orang tuanya meninggal.”

“Ada satu hal yang aneh dan kamu tidak sadar itu. Menurut kamu, kenapa seorang wali yang bertanggung jawab membiarkan anak remaja yang masih sekolah untuk bekerja paruh waktu sampai malam hari?”

Arjuna seketika tidak dapat menjawab pertanyaan Raegan. Arjuna tidak menyangka sekaligus kagum akan pemikiran bosnya yang sama sekali tidak terpikirkan olehnya.

“Beberapa kali saya temukan di rumah itu hanya ada Kaldera, Pak. Walinya tidak ada di sana,” ungkap Arjuna sambil mencoba ikut memikirkan semuanya.

“Oke, saya minta kamu untuk cari tau lagi. Dapatkan informasi soal walinya Kaldera. Apapun itu yang kamu dapat, pastikan sampaikan ke tangan saya,” ujar Raegan.

“Baik, Pak,” ucap Arjuna mengiyakan perintah atasannya.

Setelah itu, Raegan memperbolehkan Arjuna untuk meninggalkan ruangannya. Sepeninggalan Arjuna dari sana, Raegan kembali teringat kalimat yang pernah Kaldera katakan padanya. Sebagian hatinya percaya bahwa perkataan Kaldera adalah benar, gadis itu tidak membohonginya. Kaldera pernah mengatakan pada Raegan bahwa Aksa merupakan sahabat dekat Zio. Jadi kemungkinan besar, memang tidak ada motif kejahatan yang dimiliki Aksa hingga membuatnya berakhir membunuh Zio.

Atas keyakinan tersebut, Raegan akhirnya mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang. Begitu sambungannya terhubung, Raegan langsung disapa oleh suara orang yang begitu fameliar.

“Raegantara Rahagi, apa ada yang bisa saya lakukan untuk membantu kamu?” tanya orang itu.

“Langsung saja saya sampaikan. Saya ingin Anda menangani kasus pembunuhan adik saya. Saya ingin membahas itu secepatnya.”

***

Aksa menemui seseorang yang ingin bertemu dengannya di sel tahanan siang ini. Aksa sedikit tidak percaya ketika ia menemukan Raegan berada di sana. Pria itu adalah sosok yang membuat tuntutan terhadapnya. Jelas saja, Aksa terkejut dan menerka-nerka apa alasan Raegan datang untuk menemuinya.

Aksa menarik kursi di hadapannya. Raegan tidak datang sendiri, pria itu rupanya membawa seorang pengacara bersamanya.

“Saya akan memberi kamu satu kesempatan untuk mengatakan yang sebenarnya soal kejadian malam itu,” ucap Raegan pada Aksa.

Awalnya Aksa tidak ingin membuka suaranya sama sekali. Ia takut salah mengambil langkah. Bagaimana pun Raegan adalah lawannya, dan Aksa tidak tahu apa motif Raegan memintanya mengatakan yang sebenarnya.

“Klien saya akan memberi Anda kesempatan untuk menceritakan detail kejadian yang sebenarnya,” ucap Erwin, pengacara yang duduk di samping Raegan. “Apa yang terjadi malam itu, Anda bisa memberi tahu kami. Apa yang Anda katakan akan menjadi pertimbangan klien saya untuk mencabut tuntutannya terhadap Anda atau tidak. Jika perkataan Anda terbukti benar, Anda bisa bebas dari sini,” jelas Erwin panjang lebar.

Setelah beberapa menit memikirkan perkataan Erwin, Aksa akhirnya setuju untuk menceritakan kejadian malam itu. “Leonel Nathan Tarigan, orang itu yang membunuh Zio. Bukan saya pelakunya,” ucap Aksa memulai kalimatnya.

Dari kalimat tersebut, akhirnya mengalir cerita tentang apa yang sebenarnya terjadi malam itu. Aksa memiliki urusan dengan seseorang yang membayar pekerjaan freelance-nya. Akhirnya tanpa sepegatahuan Aksa, Zio datang ke tempat itu karena menduga bahwa Aksa berada dalam bahaya.

Setelah Aksa menyebutkan nama tersebut, Raegan langsung mengetahui siapa sosok Leonel Nathan Tarigan yang sebenarnya.

“Jawab dengan jujur pertanyaan saya. Apa kamu tau kamu berurusan dengan siapa?” tanya Raegan pada Aksa.

“Saya hanya bekerja dengannya karena ada seseorang yang mengenalkan kami. Saya nggak tau siapa Leonel sebenarnya,” Aksa mengatakan apa yang ia ketahui, bahwa ia memang tidak tahu siapa sosok yang membayarnya itu.

“Yang jelas, dia adalah orang yang punya kekuatan dan kuasa. Dia nggak akan tinggal diam sampai tujuannya tercapai,” ucap Aksa lagi. Aksa juga mengungkapkan bahwa tujuan Leonel adalah dirinya. Entah hidup atau mati, Leonel berkeinginan kuat untuk mendapatkan Aksa dengan tangannya sendiri.

Dari cerita Aksa tersebut, Raegan dapat menarik sebuah kesimpulan. Malam itu Leonel membunuh Zio karena adiknya telah terlibat dan menghalangi Leonel untuk mencapai tujuannya.

“Kamu harus bisa membuktikan kalau kamu tidak bersalah. Saya akan bantu kamu dan saya harap kamu tidak mengecewakan saya. Saya nggak bisa mencabut tuntutannya dan membiarkan pelaku sebenarnya lolos gitu aja. Saya akan tetap mencari pelaku pembunuhan adik saya dan memastikan dia mendapat hukumannya,” ujar Raegan.

Aksa yang mendengar itu dengan cepat menggelengkan kepalanya. “Anda nggak bisa melawan Leonel. Dia orang yang sangat berbahaya,” terang Aksa. Ekspresi wajah Aksa ketika mengatakannya, dipenuhi oleh ketakutan. Aksa sungguhan memperingati Raegan bahwa pria itu tidak bisa melawan Leonel.

Dari situasi yang tengah terungkap itu, Erwin mengatakan bahwa mereka bisa mencari bukti bahwa Leonel adalah pelaku sebenarnya. Di tempat kejadian perkara, pasti ada sesuatu yang dapat dijadikan bukti. Raegan akan mencari bukti itu dengan kemampuan yang ia miliki, itu yang ia katakan pada Aksa.

Sebelum Raegan dan Erwin pergi dari sana, Aksa teringat sesuatu dan mengatakan bahwa ada satu orang saksi yang kemungkinan dapat memberi kesaksiannya di pengadilan nanti.

“Siapa orang itu?” tanya Raegan.

“Kaldera.” Aksa pun menyebutkan sebuah nama. “Kaldera adalah satu-satunya saksi mata di tempat kejadian waktu itu,” terang Aksa.

Kalau meminta pendapat Erwin, pria itu jelas menyarankan bahwa Kaldera harus bersaksi untuk membebaskan Aksa dan menjadikan Leonel sebagai tersangka.

Sebelum Raegan beranjak dari kursinya, Aksa membisikkan sesuatu kepadanya. “Kita nggak tau apa yang Leonel sekarang rencanakan. Leonel bisa nargetin orang-orang yang berhubungan dengan kasus ini. Leonel bisa aja nargetin Kaldera sebagai target selanjutnya.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya lancar?” tanya seorang perempuan berusia 30 tahun yang kini ada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu ia melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada Kaluela Gabriel, perempuan yang merupakan kekasih hatinya selama kurang lebih 3 tahun belakangan.

Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf ya. Aku nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannya cepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung ke makam?” tanya Raegan.

Sure. Aku belum ngirim doa secara langsung untuk Zio. Oh iya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu. Mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang kemudian langsung diiyakan oleh Raegan.

“Oh iya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai di Jakarta kemarin malam dan menemui Raegan hari ini di kantornya.

“Dia pacarnya Zio. Dia dateng sama laki-laki yang merupakan sepupu tersangka kasus itu. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka, bukannya ada pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Mengingat kejadian tadi, rasanya emosi Raegan bisa naik lagi ke permukaan dengan begitu mudahnya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih ngertiin dia. Coba anggap kayak adik kamu sendiri. Aku ngerasa, dia adalah alasan Zio bisa bangkit dari kesedihannya sejak mama dan papa berpisah. Pasti ada alasan pacarnya Zio dateng ke sini tadi. Aku yakin, dia sayang dan peduli banget sama Zio,” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya, tepatnya sejak orang tua mereka berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orang tuanya telah membuat Zio menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja, begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Jadi ini salah aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kalu.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tau, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak tahu caranya nunjukin kasih sayang kamu,” ucap Kalu terang-terangan.

“Kalu, sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku pastiin pelakunya akan dapat hukuman yang setimpal. Aku mau nebus semua kesalahanku sama Zio. Aku tau, aku belum sempat jadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah jadi kakak yang terbaik untuk Zio,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan teringat akan kalimat Zio beberapa saat sebelum adiknya menghembuskan nafas terakhir. Zio hanya mengatakannya pada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapa pun. Setelah memberikan wasiat pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Mas, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya buat jagain Kaldera. Gue tau, lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba lo mengenal Kaldera dulu. Kalau akhirnya lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue, mungkin ini permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Gimana perkembangan kasus Zio? Apa semuanya lancar?” tanya seorang perempuan berusia 30 tahun yang kini ada di hadapan Raegan.

Raegan mematikan laptopnya, lalu ia melangkah menuju ke sofa di sudut ruang kerjanya dan mengambil tempat di samping perempuan itu. “Semuanya lancar. Polisi udah ngeluarin surat penangkapan dan langsung nahan tersangka.” Raegan mengulaskan senyum tipisnya pada perempuan itu. Kaluela Gabriel, kekasih hatinya dan mereka sudah menjalin hubungan asmara selama kurang lebih 3 tahun.

Kaluela menemuinya tidak berapa lama setelah kejadian Raegan harus menghadapi dua bocah SMA yang tiba-tiba datang ke kantornya siang ini.

“Raegan, aku minta maaf ya. Aku nggak bisa langsung terbang dari Sydney waktu hari pemakaman,” ucap Kalu dengan nada penuh penyesalannya.

“Nggak apa-apa. Kejadiannya cepet banget dan hari itu juga Zio langsung dimakamkan. Habis ini kamu mau berkunjung ke makam?” tanya Raegan.

Sure. Aku belum ngirim doa secara langsung untuk Zio. Oh iya, gimana keadaan mama sekarang?”

“Mama udah lumayan membaik, walaupun kadang beliau masih suka nangis,” jelas Raegan.

“Kamu temenin mama terus ya. Kurangin sedikit kerjaan kamu. Mama pasti butuh seseorang untuk ada terus di sampingnya,” saran Kalu yang kemudian langsung diiyakan oleh Raegan.

“Oh iya, Arjuna tadi bilang kamu baru aja kedatangan tamu. Siapa yang dateng?” Kaluela membuka tas bekal berisi makan siang yang dimasaknya sendiri untuk Raegan. Kalu baru saja sampai di Jakarta kemarin malam dan menemui Raegan hari ini di kantornya.

“Dia pacarnya Zio. Dia dateng sama laki-laki yang merupakan sepupu tersangka kasus itu. Aku nggak ngerti kenapa dia milih ada di pihak tersangka, bukannya ada pihak yang sama denganku.” Raegan sedikit melonggarkan ikatan dasi di lehernya. Mengingat kejadian tadi, rasanya emosi Raegan bisa naik lagi ke permukaan dengan begitu mudahnya.

“Sayang, mungkin kamu harus lebih ngertiin dia. Coba anggap kayak adik kamu sendiri. Aku ngerasa, dia adalah alasan Zio bisa bangkit dari kesedihannya sejak mama dan papa berpisah. Pasti ada alasan pacarnya Zio dateng ke sini tadi. Aku yakin, dia sayang dan peduli banget sama Zio,” Kaluela tahu betul apa yang dialami keluarga kekasihnya, tepatnya sejak orang tua mereka berpisah. Saat itu Zio baru saja menginjak masa menuju remaja, dan perpisahan orang tuanya telah membuat Zio menjadi pribadi yang dingin dan tidak tersentuh. Bahkan hubungan Zio dengan Raegan tidak terlalu baik sejak saat itu. Raegan sibuk bekerja, begitupun dengan Indri. Zio masih begitu kecil untuk dapat memahami bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Tanpa Raegan dan Indri sadari, yang Zio butuhkan adalah eksistensi keduanya, bukan sekedar materi yang melimpah.

“Jadi ini salah aku?” tanya Raegan, tatapannya nampak nanar dan ada penyesalan dari nada bicaranya. Raegan merasa bersalah dan sepertinya ia tidak perlu memastikan itu lagi dengan bertanya kepada Kalu.

“Aku nggak nyalahin kamu, Raegan. Aku tau, kamu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk mama dan juga Zio. Hanya aja, kadang kamu nggak tahu caranya nunjukin kasih sayang kamu,” ucap Kalu terang-terangan.

“Kalu, sekarang aku lagi ngelakuin itu. Aku pastiin pelakunya akan dapat hukuman yang setimpal. Aku mau nebus semua kesalahanku sama Zio. Aku tau, aku belum sempat jadi kakak yang baik untuk dia,” ucap Raegan.

No, kamu nggak boleh bilang kayak gitu. Aku yakin, Zio sayang banget sama kamu. Kamu udah jadi kakak yang terbaik untuk Zio,” Kaluela mengulaskan senyum lembutnya pada Raegan. Hal itu akhirnya dapat sedikit menenangkan perasaan Raegan yang lumayan kalut hari ini.

Kalimat Kaluela tiba-tiba membuat Raegan teringat akan kalimat Zio beberapa saat sebelum adiknya menghembuskan nafas terakhir. Zio hanya mengatakannya pada Raegan tanpa sepengetahuan Kaldera atau siapa pun. Setelah memberikan wasiat pada Raegan dan Kaldera, Zio meminta waktu berdua untuk bicara dengan Raegan saja.

Mas, gue cinta banget sama Kaldera. Gue nggak mau siapa pun nyakitin dia. Kalau gue nggak bisa bertahan, cuma lo orang yang gue percaya buat jagain Kaldera. Gue tau, lo punya kak Kalu yang sempurna dan lo cinta banget sama dia. Tapi coba lo mengenal Kaldera dulu. Kalau akhirnya lo nggak jatuh cinta, lo cuma perlu sayang sama dia kayak lo sayang sama gue. Tolong jaga dia untuk gue, mungkin ini permintaan gue yang terakhir.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂