alyadara

Aryan & Karin's Kissed

Aryan & Karin's Kissed

Suasana kelas Analisis dan Permodelan E-Business siang itu terlihat begitu damai dan tenteram. Itu lah yang akan terjadi ketika dosen yang mengampu mata kuliah tersebut masuk ke dalam jajaran dosen yang terkenal killer. Mata kuliah itu hanya hadir setiap 2 kali seminggu, tapi rasanya dua hari tersebut berjalan seperti dua abad lamanya.

Bapak Hari Tanjung, seorang dosen berusia 50 tahunan tersebut menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, sebelum akhirnya beliau berujar, “Hari ini saya akan membagikan hasil ujian tengah semester kalian minggu lalu.”

Pak Hari mengambil salah satu kertas hasil ujian dari dalam map yang dibawanya. Setelah melihat sebuah nama di sana, beliau lekas memanggil satu nama tersebut. “Aryan Sakha Brodjohujodyo. Coba silakan maju ke depan,” ucap pak Hari.

Seketika semua mata di ruangan itu mengarah kepada sosok lelaki jangkung yang kebetulan duduk di baris kedua dari depan. Aryan memasang tampang lempengnya, seolah panggilan pak Hari barusan tidak membuatnya merasa panik atau terbebani barang sedikitpun. Berikutnya Aryan segera bergerak dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke depan kelas.

Sesampainya Aryan di hadapan pak Hari, semua pasang mata masih menatap intens ke arahnya. Aryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tidak merasa membuat kesalahan pada dosen yang terkenal killer di hadapannya ini.

“Maaf Pak, ada keperluan apa memanggil saya ke depan?” tanya Aryan begitu pak Hari belum mengatakan apa pun padanya.

“Kamu mengerjakan ujian kemarin gimana? Menurut kamu mudah atau sulit, soal yang saya berikan?” tanya pak Hari.

Aryan pun menjawab bahwa soal yang diberikan pak Hari tidak mudah, tapi tidak terlalu sulit juga baginya. Saat teman-temannya kemarin belum selesai mengerjakan, Aryan termasuk yang cukup cepat menyelesaikannya sehingga ia bisa pulang lebih dulu.

“Aryan, Kamu dapat nilai 100 di ujian saya. Waktu saya buat soal ujiannya, saya pikir nggak akan ada yang bisa mendapat nilai sempurna. But again, congrats for your achievement. You made it,” ucap pak Hari sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada Aryan.

***

Kantin rooftop siang ini nampak ramai oleh para mahasiswa maupun mahisiswi yang mempunyai waktu luang. Sebagian dari mereka sedang menunggu kelas atau sekedar mengerjakan tugas di sana.

Di tempat tersebut juga mereka biasa menghabiskan beberapa batang rokok atau menghembuskan uap vape, karena memang kantin atas merupakan smooking area. Mayoritas tempat ini memang banyak digunakan untuk nongkrong, sementara kantin di bawah lebih sering digunakan bagi yang ingin menikmati makanan.

Di salah satu meja yang diisi oleh para lelaki di pojok kantin itu, mereka nampak sedang mengobrol mengenai beberapa hal. Topik pun tiba-tiba berganti, mereka membicarakan nilai 100 yang di dapat oleh Aryan di kelas pak Hari. Nilai sempurna yang sepanjang sejarah tidak pernah diberikan oleh dosen yang terkenal galak itu, kini telah pecah rekor.

Leon dan William, selaku sahabat Aryan sejak waktu yang lama, tengah menganggung-agungkan nama lelaki itu. Mereka mengatakan bahwa pihak kampus tidak pernah keliru menjadikan Aryan salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan mereka. Selain banyak memenangkan lomba yang berhubungan dengan mata kuliah jurusan, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki nilai akademik yang bagus. William mengatakan bahwa rupanya Aryan tidak cuma modal tampang saja untuk membuatnya dikagumi para cewek cantik di kampus, tapi rupanya sahabatnya itu modal otak juga.

Leon nampak menggeser sekotak rokok ke hadapan Aryan. “Sebatang aja,” ujar Leon yang sudah lebih dulu menyalakan rokoknya dengan pemantik. Detik berikutnya Leon menghisapnya dan menghembuskan asapnya. Aryan pun menatap rokok yang disodorkan oleh Leon dan yang membuat Leon terkejut adalah Aryan kembali menolak tawarannya.

“Udah sini, buat gue aja kalau Aryan nggak mau,” seru William yang baru kembali dari membeli minuman.

“Lo beneran udah berhenti?” tanya Leon sambil menatap Aryan dengan tatapan penuh tanya.

“Bukan berhenti, gue coba buat kurangin,” jelas Aryan.

“Will, bener kan apa yang gue bilang. Lo nggak percaya sih sama gue. Sahabat lo beneran mau tobat ini,” ucap Leon pada William.

Kemarin William memang tidak percaya saat Leon bilang Aryan tidak datang ke club. Sekarang akhirnya William percaya setelah mendengar langsung pernyataan yang keluar dari mulut Aryan.

“Lo ada rencana buat sepenuhnya berhenti rokok?” tanya William pada Aryan.

“Ada sih gue rasa,” cetus Leon sebelum Aryan sempat menjawab pertanyaan dari William.

“Gila, keren banget lo Bro. Ngomong-ngomong bener kata Leon ini karna istri lo? Karin ngelarang lo clubbing gitu?” William yang masih penasaran itu pun mengkorek lebih jauh.

“Karin nggak ngelarang gue. Gue menghargai dia dan itu juga demi kesehatan gue. Gue harap lo berdua bisa respect sama keputusan gue,” jelas Aryan.

“Oke, gue akan respect keputusan lo itu,” ujar William akhirnya.

Tidak lama berselang, William berpamitan untuk pergi lebih dulu karena ia ada kelas yang berbeda, hingga tersisa Aryan dan Leon di sana.

“Nanti sore habis kelas lo ada acara?” tanya Leon.

“Ada,” jawab Aryan.

“Gue tebak pasti Karin lagi.”

“Iya. Gue mau nganterin Karin cek kandungan.”

“Kalau Juma’t gimana? Lo free?” tanya Leon lagi.

“Belum tau. Emang kenapa?”

“Anak-anak ngajakin makrab ke puncak. Anjir lah, kalau nanyain jadwal lo kayak gini, berasa lebih-lebih dari Karin gue. Emang beda ya kalau udah nikah.” Leon pun tertawa sekilas.

Aryan mengangguki Leon. “Sekarang gue punya tanggung jawab dan prioritas. Kina bukan lagi prioritas gue, tapi Karin dan anak gue sekarang yang utama.” Aryan pun mengatakan ia akan mengabari Leon seandainya memungkinkan ia ikut acara malam keakraban di puncak.

Leon terkesiap mendengarnya kalimat yang Aryan ucapkan. Leon tidak menyangka, perlahan-lahan ia dapat melihat perubahan positif dari sahabatnya itu.

“Aryan, lo dengerin gue deh. Gini ya, gue udah coba menganalisa perilaku lo ke Karin, gitu juga sebaliknya Karin ke lo,” ujar Leon.

“Maksud lo?” tanya Aryan yang tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu.

“Gue melihat sikap lo ke Karin udah beda. Sebenarnya lo udah mulai ada rasa ke Karin, tapi lo belum sadar itu. Setiap aspek kehidupan lo sekarang, lo selalu bawa Karin di dalamnya. Beda sama awal-awal lo nikah sama dia. Yaelah, gue kenal lo udah berapa lama sih,” tutur Leon panjang lebar.

Leon yang notabenenya merupakan sahabat Aryan sejak SMP dan telah begitu mengenal sosok Aryan, mengatakan bahwa sebenarnya sudah timbul perasaan Aryan kepada Karin. Aryan hanya belum menyadarinya dan menganggap perilakunya ke Karin hanyalah bentuk rasa tanggung jawab terhadap anak mereka.

Aryan pun memikirkan kata-kata Leon selama beberapa saat. Namun akhirnya Aryan menampik dugaan yang Leon layangkan tersebut.

“Yee malah mau pergi nih anak,” decak Leon begitu melihat Aryan mengambil tasnya dan menyampirkannya di satu pundaknya.

Sebelum Aryan pergi dari sana, Leon kembali menahan Aryan dengan perkataannya. “Karin bisa ngasih dampak yang positif buat lo. Tanpa lo sadar, Karin alasan terbesar untuk lo jadi orang yang lebih baik. Gue harap sih lo secepatnya menyadari itu.”

“Terus apa yang gue harus lakuin kalau itu emang benar?” Aryan justru bertanya kepada Leon. Kini Aryan menjadi bingung usai memikirkan perkataan sahabatnya itu.

You need to tell your feeling to her. Mungkin itu nggak akan mudah, tapi nggak ada salahnya buat lo coba dulu. Jangan sampai lo menyesal saat dia udah benar-benar pergi. Gue pikir Karin orang yang tepat dan dia pantas untuk lo perjuangin. Kalau lo butuh bantuan, lo bisa kasih tau gue. Good luck, Bro.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Selama dalam perjalanan pulang, Dara tidak mendapat banyak penjelasan dari Karin. Karin hanya mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mendorong Kina. Kejadian yang terlihat nyatanya bukanlah seperti itu.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Karin berada di ruang tamu, ia menunggu Aryan untuk kembali. Namun kenyataan rasanya seperti menampar Karin. Ia lekas bertanya pada dirinya sendiri, kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa ia harus mengharapkan Aryan kembali? Kina jelas punya posisi yang lebih tinggi darinya di hidup Aryan. Sementara Karin? Karin pun tidak merasa bahwa Aryan perlu mempercayai penjelasannya.

Karin tidak dapat lagi membendung air matanya. Perempuan itu terisak, mengeluarkan semua rasa perih dan kesalnya yang kini terasa menjadi satu. Aryan … kenapa lelaki itu dapat membuatnya merasa sesakit ini?

***

Pagi harinya sekitar pukul delapan, Aryan baru kembali ke apartemen. Semalam Kina meminta untuk ditemani, sehingga Aryan memutuskan tinggal satu malam di rumah Kina.

Begitu Aryan sampai, ia tidak menemukan Karin di setiap penjuru apertemen. Setelah mengecek ponselnya dan tidak menemukan pesan apa pun dari Karin, Aryan segera melangkahkan kakinya ke lantai atas.

Aryan membuka lemari pakaian dan menemukan sebagian pakaian Karin telah tiada dari sana. Sebuah koper di atas lemari yang biasa ada di sana, tidak juga Aryan temukan. Aryan pun mencoba untuk menghubungi Karin, tapi ia tidak mendapatkan jawaban apa pun.

Begitu Aryan akan melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah, sebuah telfon masuk ke ponselnya pun menahannya. Itu adalah telfon dari papanya. Aryan lekas mengangkatnya dan mendengarkan semua yang papanya ucapkan dengan seksama.

“Oke Pah, Aryan ke sana sekarang ya,” ucap Aryan setelah papanya selesai berbicara. Sambungan telfon pun di akhiri dan Aryan bergegas keluar dari apartemennya sambil membawa kunci mobilnya.

***

Aryan menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan datar dan dinginnya. Bagaimana tidak, sesaat lagi Aryan akan mendengarkan secara langsung dari perempuan itu mengenai apa yang terjadi di Bali antara dirinya dan Karin. Perempun berambut coklat gelap di depannya ini adalah sosok yang telah membawa Karin ke kamarnya malam itu.

Air muka Aryan nampak memerah karena menahan amarah, rahangnya pun terlihat mengeras. Rama, kepala bodyguard papanya yang mengamati hal tersebut, berusaha mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Rama mencoba menenangkan Aryan dan mengatakan bahwa lelaki itu perlu mengontrol emosinya.

“Indira, silakan kamu jelaskan pada Aryan soal kejadian itu. Saya minta kamu mengatakan selengkap-lengkapnya, tanpa ada yang kamu tutupi,” ujar Rama pada perempuan di hadapan Aryan.

Aryan nampak asing mendengar nama yang Rama sebutkan barusan, hingga terlihat sebuah kerutan di keningnya. Aryan pun mengalihkan tatapannya pada orang kepercayaan papanya itu. “Om, dia bukannya Arumi? Terus Arumi Lestari itu siapa?” tanya Aryan.

“Kamu dengarkan dulu penjelasannya, Aryan. Indira, silakan,” ujar Aryo menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aryan. Papanya itu melayangkan tatapan tegasnya pada Aryan, meminta Aryan untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan dari Indira.

Indira kini mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Ia mendapati Aryan menatapnya dingin dan kilatan di matanya sangat menggambarkan bahwa lelaki itu tengah diluputi oleh emosi. Tania berdeham sekilas, sebelum akhirnya perempuan itu berani membuka suaranya, “Kejadian di Bali waktu itu, semuanya direncanakan. Saya diminta seseorang untuk melakukannya.”

“Siapa orang yang nyuruh kamu?” tanya Aryan.

“Orang yang nyuruh saya ingin menjatuhkan Karina dengan cara menjebaknya untuk tidur dengan pria lain. Tapi rencana malam itu nggak sepenuhnya berhasil.”

Aryan menghembuskan napasnya kasar. Apa yang barusan diucapkan Indira benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Rupanya Indira juga adalah orang yang mencampur minuman Karin dengan obat perangsang. Rencana sudah disusun, tapi kenyataannya tidak semulus yang diharapkan.

“Rencananya nggak berhasil karena seharusnya bukan kamu laki-laki yang terjebak dengan Karin malam itu. Setelah membawa Karin ke sana, ternyata ada satu kesalahan. Key card yang diberikan Shakina salah, jadi Karin malah pergi ke kamar kamu,” lanjut Indira lagi. Pada bagian tersebut, Aryan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Indira.

Saat Aryan melayangkan tatapan menghunusnya ke arah Indira, perempuan berusia 25 tahun itu nampak ketakutan. Aryo dan Rama segera menahan Aryan yang hendak menghampiri Indira dan mencegah sesuatu yang mungkin bisa saja terjadi.

“Aryan, kamu tenang dulu. Kasih waktu untuk Indira jelasin sampai selesai,” ujar Aryo.

“Apa maksud kamu membawa nama Shakina?” tanya Aryan dengan nadanya yang terdengar sedikit bergetar.

Aryan kembali duduk di kursinya setelah ditenangkan oleh Aryo dan Rama. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya secara kasar, tatapannya kini kembali menatap Indira dengan intens.

Beberapa detik setelahnya, Indira pun kembali berujar, “Shakina menginginkan project Clairs Beauty di Bali waktu itu. Tapi karena Karin yang akhirnya mendapatkan project itu, Kina meminta saya untuk menjebak Karin. Saya nggak punya pilihan, saya butuh uang dan jumlah yang Kina tawarkan sangat cukup untuk biaya berobat ibu saya di rumah sakit. Saya terpaksa menerima pekerjaan itu.”

Indira melakukannya karena ingin mendapatkan uang dari orang yang menyuruhnya, yakni Shakina. Arumi Lestari merupakan ibu dari Indira, beliau harus menjalani pengobatan di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut yang akhirnya mendasari Indira menerima tawaran yang diajukan Shakina padanya.

“Saat Shakina tau Karin hamil, dia semakin membenci Karin. Karin mengandung anak pacarnya sendiri, Kina menyalahkan semua yang telah terjadi,” jelas Indira lagi.

Soal rumor perselingkuhan Aryan dan Karin di internet, Indira menjelaskan bahwa Kina sengaja merekayasa rumor tersebut untuk membuat seolah Karinlah yang bersalah. Kina ingin isu yang tersebar adalah Karin yang merebut kekasihnya, sampai berujung dirinya mengandung anak dari pacar orang lain.

Aryan terlihat memejamkan matanya sejenak. Rasanya beribu anak panah kini seperti menghujam jantungnya. Aryan tidak dapat berpikir dengan jernih. Fakta yang terungkap barusan berhasil membuatnya malu terhadap dirinya sendiri. Aryan tidak dapat memikirkan bagaimana jika Karin mengetahui semuanya, mungkin perempuan itu akan jauh lebih sakit ketimbang dirinya saat ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dalam perjalanan dari Puncak menuju Jakarta malam ini, Aryan memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Aryan telah berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Aryan hampir tidak fokus selama menjalani acara makrab bersama teman-temannya. Raganya memang berada di sana, tapi jiwanya seperti berada bersama Karin. Ia selalu memikirkan Karin di setiap waktunya.

Aryan merasakan sebuah perasaan yang begitu menggebu, ia pikir itu adalah rindu. Tadinya Aryan berniat mengajak Karin ke puncak dan ia merencanakan sesuatu untuk menyatakan perasannya pada Karin di sana. Namun Aryan perlu mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Karin juga sedang mengandung, jadi Aryan punya kekhawatiran jika harus membawa Karin pergi.

Saat kepergian Aryan diketahui oleh mamanya, beliau langsung membawa Karin untuk menginap di rumah. Aryan mengingat perkataan Karin soal keinginannya punya keluarga yang lengkap, jadi Aryan pikir akan sangat bagus jika Karin menginap di rumah orang tuanya. Aryan berharap Karin dapat merasakan hangatnya keluarga yang sempurna seperti yang selama ini perempuan itu dambakan.

Beberapa jam yang lalu saat mereka akan pulang, Leon yang melihat Aryan uring-uringan pun memintanya untuk tidak menyetir. Jadi Leon memutuskan mengambil alih kemudi dari Puncak sampai Jakarta. Aryan duduk di samping kiri pengemudi, sementara kursi belakang ada William dan Andra yang beberapa saat lalu telah tertidur pulas.

“Leon,” ujar Aryan.

“Apaan?” Leon menyahuti sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.

I will make a confession to Karin.”

Perkataan Aryan seketika membuat Leon terkejut, bahkan lelaki itu sampai terdiam sesaat. Begitu keluar dari tol dan kini mereka sudah sampai di Jakarta, Leon pun menoleh sekilas ke arah Aryan sambil bertanya, “Lo serius?”

“Gue serius,” jawab Aryan diiringi sebuah anggukan di kepalanya.

“Nggak bisa bohong kan lo sama perasaan lo sendiri,” celetuk Leon.

“Tapi kalau Karin nolak gue gimana ya?” tanya Aryan tiba-tiba. Pemikirannya pun seketika dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Pikirin itu belakangan. Gue tau lo pinter. Jangan cuma pinter di akademik aja, masalah percintaan juga harus pinter. By the way, siapa aja yang udah tau soal ini?”

“Baru lo sama Nayna,” terang Aryan.

“Mantep. Nanti kalau nyokap lo kalau tau, beliau juga pasti seneng. Tante Tiara keliatan sayang banget sama Karin. Kalau Nayna sih, udah pasti dukung seratus persen. Adek lo tuh di garda paling depan untuk urusan yang berhubungan sama lo dan Karin.”

Aryan menyetujui perkataan Leon barusan. Aryan bersyukur atas kenyataan bahwa Karin dapat akrab dengan keluarganya, sebaliknya keluarganya juga sangat menerima dan menyayangi Karin. Semuanya terasa lebih baik secara bertahap saat Karin datang ke hidupnya. Aryan mungkin terlambat menyadari itu, tapi ia masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Karin. Hatinya tidak lagi bisa berbohong, Aryan telah jatuh cinta kepada Karin. He’s really fall in love with her.

***

Aryan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya eropa modern berlantai tiga. Bangunan yang cukup luas itu membuatnya harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di halaman belakang.

Saat Aryan sampai di halaman seluas hampir 1 hektar tersebut, tempat itu di penuhi oleh para saudaranya. Ada makanan dan minuman di meja prasmanan, layar besar untuk menyetel film, lampu-lampu, serta sebuah musik yang di setel di area sudut halaman. Acara movie night-nya sudah selesai, kini tinggal acara bebas dan para tamu diperbolehkan untuk menikmati waktu sesuai keinginan masing-masing.

Aryan menyapa opa dan omanya, papa dan mamanya, serta beberapa keluarganya yang lain. Begitu berpapasan dengan Nayna, Aryan langsung menanyakan keberadaan Karin kepada adik perempuannya itu. Aryan belum melihat sosok Karin di antara banyaknya tamu yang ada di sana.

“Acaranya hampir selesai, Ko. Tadi gue tinggal kak Karin sebentar, pas gue balik, kak Karin ketiduran di sofa ruang tamu,” terang Nayna. Adik perempuan Aryan itu menjelaskan belum lama Karin tertidur, jadi memang belum berniat dipindahkan ke kamar karena takut Karin malah terbangun dari tidurnya.

Nayna pun meninggalkan Aryan setelah kakaknya itu berada di samping Karin yang tertidur di sofa. Posisi ruang tamu itu cukup jauh dari halaman, jadi sepengelihatan Aryan, kini Karin nampak nyenyak dengan tidurnya.

Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aryan mengusapkan tangannya di puncak kepala Karin. Aryan memberikan usapan lembut di sana, sebuah sentuhan yang halus dan terjadi begitu saja. Aryan menyadari bahwa hatinya membuncah bahagia hanya dengan memandang wajah Karin seperti ini.

“Hei, Karin. I missed you,” ucap Aryan masih sambil memandangi paras Karin. Tidak lama berselang dari itu, Aryan mendapati Karin bergerak dari posisinya dan perlahan-lahan Karin membuka matanya. Nampak sebuah kerutan di kening Karin ketika mendapati Aryan berada di hadapannya.

“Kamu udah nyampe dari tadi?” itu yang pertama Karin tanyakan setelah ia merasa bahwa nyawanya telah terkumpul sempurna.

“Engga, aku baru aja nyampe kok,” ujar Aryan.

Karin posisinya masih setengah berbaring, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dari posisi Karin saat ini, ia dapat melihat Aryan yang jaraknya cukup dekat darinya. Sayup-sayup tadi Karin mendengar apa yang Aryan ucapkan ketika ia tidur. Namun karena tidak ingin salah mengira, Karin pun memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

“Karin,” ujar Aryan memecah pemikiran monolog Karin. Karin pun kembali menoleh dan memberikan atensinya kepada Aryan.

“Iya Kak? Kenapa?”

“Kamu senang selama nginep di rumah mama? Acara malam ini di rumah oma, apa kamu senang dengan semua ini?” tanya Aryan.

Tanpa berpikir lama-lama, Karin pun lekas menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. “Of course, I’m happy. I feel like I have a complete family,” ucap Karin diiringi sebuah senyum simpul di wajahnya.

“Oh iya Kak, acaranya udah hampir selesai. Oma tadi bilang, kalau kamu mau, nanti bisa dibuatin lagi acaranya pas kamu ada. Kira-kira kamu bisanya kapan?”

“Kalau lusa gimana?”

Mendengar tiga kata yang dilontarkan oleh Aryan, sontak membuat mata Karin membelalak. Sebelum Karin sempat menanggapi perkataan Aryan, Aryan lebih dulu berujar sambil menatap Karin dalam-dalam. “Karin, aku yang akan buat acaranya, tapi hanya untuk kita berdua.”

Kedua alis Karin pun nampak menyatu, “Acara apa? Kamu nggak pernah bilang sebelumnya. Acaranya mendadak ya?”

“Sebenarnya nggak mendadak. Aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu, kita akan camping di rumah. Kamu punya request untuk dekorasi atau makanannya?”

Setelah Aryan mengungkapkan maksudnya tersebut, kedua mata Karin pun tampak berbinar. Nampaknya Karin begitu suka dan bersemangat akan rencana yang telah Aryan susun. “Kak, kira-kira kalau camping-nya pakai tenda di dalam apartemen bisa nggak ya?” Karin akhirnya mengungkapkan permintaannya.

Setelah memikirkannya, Aryan pun menjawab, “Oke, kayaknya bisa. Nanti aku coba usahain ya,” ucap Aryan.

Karin lantas mengangguk sembari mengulaskan sebuah senyum di wajahnya. Senyuman Karin dapat memancarkan kebahagiaan yang bisa Aryan rasakan juga sampai ke relung hatinya.

Beberapa saat kemudian, Karin kembali berujar sembari tidak melepaskan pandangannya dari Aryan, “Kak, makasih ya buat kesempatan yang kamu kasih malam ini. Aku bisa ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang lengkap. Ada papa dan mama, oma dan opa, dan masih banyak lagi keluarga yang lain.” Karin menjeda ucapannya. Bertemu dengan Aryan dan mengenal keluarganya dengan lebih dekat, dapat memberikan kehangatan dan sebuah kasih sayang yang mungkin selama ini hanya menjadi mimpi buat Karin.

“Kak, meskipun nanti kita akan berpisah, I will always remember this night. The chance that someone gave to me,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Mungkin diawal pertemuannya dengan Aryan bagi Karin adalah bencana. Namun lambat laun setelah lebih mengenal sosok Aryan dan juga keluarga, Karin merasa bahwa dirinya beruntung diberi kesempatan itu. Perjalanannya dengan Aryan hanya sementara, tapi itu memberi banyak pelajaran dan pengalaman indah juga buat Karinn.

Karin kembali menatap Aryan setelah sebelumnya hanya menatap kuku-kuku jarinya. “Kak, Thank you for everything, I’ve glad that I’ve met you and your family,” tutur Karin.

Selesai Karin dengan ucapannya, Aryan kembali menatap Karin dalam-dalam. Aryan begitu ingin Karin mengetahuinya. Tiba-tiba Aryan tidak dapat membayangkan hari tersebut akan terjadi. Hari di mana saat dirinya dan Karin akan berpisah. Seperti yang dikatakan oleh Leon, Aryan tidak ingin dirinya menyesal jika suatu hari Karin benar-benar pergi dari hidupnya. Maka Aryan memiliki tekad yang kuat dalam hatinya. Ia akan berjuang dan membuat Karin untuk tetap tinggal di sisinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mengambil sebuah dress sebatas lutut berwarna sage green dari dalam lemari pakaian. Ia pikir ini cukup bagus. Tampilannya terlihat simple, tidak terlalu berlebihan, jadi cocok untuk acara dinner dan camping di tenda malam ini. Setelah siap dengan gaunnya, Karin mengecek sekali lagi riasannya di kaca. Di rasa bahwa makeup-nya telah pas, Karin pun mengambil parfum beraroma vanilla bercampur sedikit scent floral yang segar. Karin menyemprotkan parfum tersebut di sekitar pergelangan tangan dan tengkuknya.

Karin pun telah siap. Ia memutuskan melangkah menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah. Di ruang tamu, Aryan sudah siap lebih dulu beberapa menit yang lalu. Saat netra Aryan menangkap kehadiran Karin di anak tangga terakhir, hingga perempuan itu sampai tepat di hadapannya, Aryan pun tidak bisa melepas pandangannya dari Karin. Aryan merasa bahwa dunianya telah berhenti berputar dan hanya terarah pada satu titik.

Aryan lekas mengalihkan tatapannya agar Karin tidak menangkap basah dirinya. Beberapa detik yang lalu Aryan tengah memperhatikan Karin dan terpesona terhadap perempuan itu. Rupanya Karin sendiri sedang memperhatikan penampilan Aryan yang malam ini nampak berbeda dari biasanya. Aryan mengenakan kemeja coklat tua yang bagian lengannya sedikit di gulung dan celana bahan hitam panjang. Tidak lupa di pergelangan tangan kirinya, Aryan mengenakan jam tangan hitam dari merek favoritnya. Apa yang Aryan kenakan, semuanya terasa pas di tubuh pria itu.

Karin tersadar bahwa beberapa detik yang lalu ia terlalu fokus pada Aryan. Karin pun segera mengalihkan perhatiannya pada ke sisi kanan ruang tamu. Di sana sudah ada sebuah tenda putih yang berukuran cukup besar, lengkap dengan sebuah kasur lantai dan bantal-bantal yang telah ditata dengan rapi. Tidak hanya itu, sebuah lampu hias berwarna kuning temaram digantung di dalam tenda, terlihat menyempurnakan kecantikan dekorasi tersebut.

“Kak, tendanya bagus banget,” ucap Karin dengan kedua matanya yang nampak berbinar bahagia.

Mendapati Karin tampak senang dengan hasilnya, rasanya semua seperti terbayarkan, usaha Aryan tidak sia-sia. Meskipun pengerjaaan tadi siang dilakukan oleh mas-mas tukang, tapi Aryan berandil banyak untuk mewujudkan dekor impian Karin untuk menjadi kenyataan.

Sebelum mencoba tenda tersebut, Aryan dan Karin akan menikmati makan malam terlebih dahulu. Karin punya andil untuk memasak makanannya. Masakan yang Karin buat cukup sederhana, tapi semua menunya ini adalah request dari Aryan. Karin mencoba untuk membuat makanan Chinese kesukaan Aryan setelah ia sempat mempelajarinya sedikit dari mama mertuanya.

Aryan dan Karin duduk berhadapan bersila di lantai, di depan mereka kini mereka sudah tersaji dua jenis menu masakan. Begitu Aryan menyuap makanannya untuk pertama kali, Karin memperhatikannya karena ingin melihat reaksi Aryan.

Begitu netra keduanya bertemu, Aryan menatap Karin tepat di irisnya, lelaki itu pun serta merta mengulaskan senyum simpulnya. “Masakan kamu enak, Karin. Aku suka,” ucap Aryan.

“Kemarin aku sempat belajar dikit sama mama. Mama bilang ini Chinese food yang paling gampang dari sekian banyak yang kamu suka. Mungkin rasanya nggak seenak buatan mama,” ujar Karin sembari mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

“Kamu bisa belajar lagi, suatu saat pasti bisa sama persis sama buatan mama. Mungkin bisa lebih enak,” cetus Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyum kecilnya sembari mengangguk. Keduanya melanjutkan menikmati makanan masing-masing dan tidak ada pembicaraan selama itu berlangsung. Sepanjang makan sampai dengan selesai, Aryan pun terpikirkan akan ucapannya sendiri. Suatu saat Karin akan bisa membuat masakan yang lebih enak dari ini. Namun apakah Karin akan memasak untuknya atau untuk pria lain?

“Kak,” celetuk Karin.

Aryan segera tersadar dari lamunannya dan menatap Karin. “Iya?”

“Sebenarnya aku udah tau dari Nayna, alasan kamu ngadain acara malam ini,” ujar Karin.

Sontak Aryan pun membelalak begitu mendengarnya. Namun ia mencoba untuk tetap bersikap tenang. Aryan lantas mengulaskan senyumnya dan bertanya, “Nayna bilang apa ke kamu?”

Karin terdiam selama beberapa detik, sampai akhirnya ia tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bahkan Karin sedikit tertawa sebelum akhirnya berujar, “Nayna nggak bilang apa-apa ke aku. Aku cuma asal nebak aja, Kak.”

Karin masih tersenyum bahkan kini terkesan senyumannya itu tengah meledek Aryan. “Kayaknya Nayna emang jadi kotak rahasia kamu ya. Ekspresi kamu nggak bisa bohong tau, Kak.”

“Ohya?” Aryan pun heran sendiri terhadap dirinya. Apakah semudah itu Karin dapat membaca apa yang ada di dalam pikirannya.

Karin pun mengangguk dengan cepat. Setelah itu Karin kembali menyuap makanannya yang belum habis. Namun ketika Karin melihat Aryan, justru kini dirinya yang seperti terkunci oleh tatapan Aryan itu. Aryan menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Karin berusaha untuk menampik hal tersebut. Ia pikir apa yang ada dalam pikirannya saat ini mengenai Aryan hanya kekeliruan.

Karin akhirnya mengalihkan tatapannya dari Aryan. Asal tidak melihat Aryan, Karin bisa merasa lebih rileks dan jantungnya kembali berdetak dengan normal.

“Karin,” ucap Aryan yang lantas membuat Karin kembali menatap Aryan. “Acara malam ini memang diadakan karena sebuah alasan,” ujar Aryan kemudian.

“Setelah makan malam ini, aku ingin membuat sebuah pengakuan sama kamu. Dua hari yang lalu, aku udah berencana untuk bikin malam spesial ini buat kamu,” sambung Aryan masih sambil menatap Karin dengan tatapan teduhnya.

Mendapati Aryan menatapnya dengan lembut, membuat Karin seketika terdiam. Kedua mata kecil Aryan yang indah itu, seperti membawa Karin kembali pada malam di Bali waktu itu. Rentetan kejadian tersebut sialnya malah membuat Karin merasakan jantungnya berdegup dengan begitu kencang.

Rasanya tatapan Aryan saat ini persis seperti tatapannya malam itu. Sebagian diri Karin memang terpengaruh oleh obat, tapi sebagian lain dirinya menyadari semua yang terjadi. Aryan adalah sosok yang membuat Karin terjatuh telak. Sosok yang Karin kagumi dengan sisa-sisa kesadaran dan akal warasnya kala itu.

***

Setelah makan malam berakhir, Aryan dan Karin memutuskan untuk menikmati sajian dessert di dalam tenda. Mereka melakukan camping sungguhan dan ini merupakan hal yang pernah Karin inginkan waktu ia kecil. Karin belum sempat mewujudkannya dan malam ini tanpa diduga olehnya, terjadi begitu saja dalam hidupnya.

Karin pun merasa bahagia malam ini. Sebenarnya bukan soal tenda, dekorasi, dan makanan yang enak. Namun yang Karin tidak duga adalah orang yang mengusahakan melakukannya setelah tahu bahwa Karin begitu menginginkannya.

Karin menoleh ke samping, rupanya tepat saat itu Aryan juga tengah melihat ke arahnya. Tenda ini berukuran cukup besar, jadi memungkinkan mereka berdua yang berada di dalam masih memiliki jarak yang cukup luas.

Detik berikutnya Aryan meletakkan piring dessert miliknya dan milik Karin yang telah bersih di meja kayu kecil di luar tenda. Sekembalinya Aryan, ia menempatkan dirinya untuk berada lebih dekat dengan Karin. Jarak yang sebelumnya terasa besar itu, kini jadi terlihat kecil.

Aryan menatap Karin dalam-dalam, detik berikutnya yang terjadi, Aryan meraih kedua tangan Karin dan menggenggamnya. “Karin.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, lelaki berparas oriental itu mengulaskan senyumnya.

Sebuah senyum yang begitu mempesona di mata Karin. Karin pikir dirinya sudah tidak waras karena baru saja memuja Aryan layaknya seorang perempuan kepada seorang lelaki pada umumnya.

Aryan menelan salivanya sekali, sebelum akhirnya ia berujar, “Dinner dan camping kecil-kecilan yang kamu inginkan, aku bersyukur bahwa aku bisa mewujudkan ini untuk kamu. Semua yang udah kita lalui, waktu aku kehilangan arah, kamu justru begitu peduli sama aku. Aku juga sangat bersyukur untuk itu.”

Aryan mengatakan bahwa ketika dirinya berada di dalam jurang yang gelap, Karin datang padanya tanpa memedulikan pembatas yang ada di antara mereka. Rasa empati dan peduli Karin selama ini, perlahan-lahan dapat membuat Aryan menemui seberkas cahaya. Aryan dapat menemukan petunjuk untuk keluar dari jurang yang gelap itu berkat Karin.

Karin memperhatikan pergerakan Aryan yang mengambil sesuatu dari balik tumpukan bantal yang ada di tenda. Rupanya benda tersebut adalah sebuah buket bunga dengan nuansa pink yang nampak begitu cantik. Aryan memberikan bunga tersebut kepada Karin. Karin menatap buket itu sejenak, sebuah senyum kecil lantas tersungging di bibirnya ketika menerima bunga tersebut.

“Karin, you’re look so beautiful this night. I never realized that actually you’re always amazing in your own way,” ungkap Aryan.

Aryan menjeda ucapannya, ia merasa begitu gugup saat ini. Karin pun masih menunggu Aryan untuk mengungkapkan semuanya. Usai menghela napasnya dan menghembuskannya, Aryan pun kembali berujar, “Aku pikir dua tahun yang lalu aku cuma kagum sama kamu. Rasa itu mungkin hanya akan aku rasakan sebentar dan bisa hilang gitu aja. Aku nggak berpikir kalau kita akan bertemu dan menikah. Sampai akhirnya aku sadar, setiap waktu yang kita lalui, itu berharga buat aku. Karin, I love you. I really fell in love with you. Aku ingin melindungi kamu dan membuat kamu bahagia. Aku mau mewujudkan keluarga yang lengkap buat kamu dan anak kita nanti. Kalau kamu bersedia, aku ingin kita mencoba hubungan yang sesungguhnya dan mengakhiri kesepakatan pernikahan yang kita buat sebelum menikah.”

Aryan selesai dengan semua yang ingin ia ungkapkan kepada Karin. Aryan tahu bahwa Karin begitu mencintai Rey. Rey adalah sosok yang sempurna sebagai seorang kekasih dan tempat bagi Karin disaat bahagia maupun terpuruknya. Aryan tahu jalan yang akan ia lalui tidak mudah, tapi Aryan akan tetap berusaha untuk memperjuangkan Karin. Selain anak mereka yang membuatnya bertahan dari kehancuran, rupanya Karin juga menjadi alasan bagi Aryan untuk bangkit dan berjuang menjadi sosok lebih baik.

Karin menatap Aryan dengan tatapan terharunya. Karin sedikit terkejut dengan pernyataan Aryan malam ini. Karin melihat bunga yang diberikan Aryan di tangannya, senyumnya pun terulas manis sekali.

Karin menatap Aryan tepat di matanya, lalu ia berujar, “Thank you for the dinner, the camping, and this flowers. Aku menghargai semua usaha yang kamu lakukan untuk mewujudkan malam ini. Aku nggak pernah berpikir malam ini akan terjadi. But it just happened and I was very surprised for that.” Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba di benak Karin terputar memori-memorinya bersama Aryan beberapa bulan belakangan. Ada senang maupun sedih di sana. Namun tanpa Karin sadari, semua yang telah ia lalui bersama Aryan terasa berharga baginya. Setiap perhatian yang Aryan berikan padanya, rasanya begitu tulus. Bukan hanya untuk anak di kandungannya saja, tapi untuk Karin juga.

Masih sambil menatap Aryan, Karin pun kembali berujar, “Kak, aku butuh waktu untuk memberikan jawaban ke kamu. Kalau kamu bersedia untuk nunggu, aku akan membuat keputusan untuk mempertahankan rumah tangga kita atau enggak.”

Karin menjelaskan bahwa ia tidak ingin perasaannya keliru. Karin ingin benar-benar merasakan perasaannya yang sejujurnya terhadap Aryan. Karin juga akan akan memberi Aryan kesempatan untuk membuktikan pernyataan cintanya tersebut, bukan hanya dari perkataan, tapi juga dari perbuatan.

Karin berpikir bahwa jatuh cinta itu rumit. Apa mungkin seseorang bisa menemukan cinta lainnya di saat hatinya sudah bertuan? Mungkinkah Aryan sungguh-sungguh terhadap perkataannya? Apa Karin bisa mencintai Aryan ketika ada sosok sempurna yang jelas-jelas mencintainya selama ini?

Karin mendongak kala Aryan meraih satu tangannya yang tidak memegang buket bunga untuk digenggam. “Karin, I will let you to do it. Aku akan memperjuangkan kamu dan menunggu kamu memberi jawaban.” Aryan mengatakan bahwa ia bertekad memperjuangkan Karin dan bersedia menghadapi badai yang menanti di depan.

Jatuh cinta bukan hanya tentang perasaan kita sendiri, melainkan juga tentang perasaan orang lain. Aryan ingin membiarkan Karin merasakan perasaannya yang sesungguhnya dari dalam hatinya. Karin harus bahagia dengan keputusan yang nanti akan dipilihnya. Begitupun sebaliknya, Aryan akan bersedia menerima apa pun keputusannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dalam perjalanan dari Puncak menuju Jakarta malam ini, Aryan memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Aryan telah berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Aryan hampir tidak fokus selama menjalani acara makrab bersama teman-temannya. Raganya memang berada di sana, tapi jiwanya seperti berada bersama Karin. Ia selalu memikirkan Karin di setiap waktunya.

Aryan merasakan sebuah perasaan yang begitu menggebu, ia pikir itu adalah rindu. Tadinya Aryan berniat mengajak Karin ke puncak dan ia merencanakan sesuatu untuk menyatakan perasannya pada Karin di sana. Namun Aryan perlu mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Karin juga sedang mengandung, jadi Aryan punya kekhawatiran jika harus membawa Karin pergi.

Saat kepergian Aryan diketahui oleh mamanya, beliau langsung membawa Karin untuk menginap di rumah. Aryan mengingat perkataan Karin soal keinginannya punya keluarga yang lengkap, jadi Aryan pikir akan sangat bagus jika Karin menginap di rumah orang tuanya. Aryan berharap Karin dapat merasakan hangatnya keluarga yang sempurna seperti yang selama ini perempuan itu dambakan.

Beberapa jam yang lalu saat mereka akan pulang, Leon yang melihat Aryan uring-uringan pun memintanya untuk tidak menyetir. Jadi Leon memutuskan mengambil alih kemudi dari Puncak sampai Jakarta. Aryan duduk di samping kiri pengemudi, sementara kursi belakang ada William dan Andra yang beberapa saat lalu telah tertidur pulas.

“Leon,” ujar Aryan.

“Apaan?” Leon menyahuti sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.

I will make a confession to Karin.”

Perkataan Aryan seketika membuat Leon terkejut, bahkan lelaki itu sampai terdiam sesaat. Begitu keluar dari tol dan kini mereka sudah sampai di Jakarta, Leon pun menoleh sekilas ke arah Aryan sambil bertanya, “Lo serius?”

“Gue serius,” jawab Aryan diiringi sebuah anggukan di kepalanya.

“Nggak bisa bohong kan lo sama perasaan lo sendiri,” celetuk Leon.

“Tapi kalau Karin nolak gue gimana ya?” tanya Aryan tiba-tiba. Pemikirannya pun seketika dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Pikirin itu belakangan. Gue tau lo pinter. Jangan cuma pinter di akademik aja, masalah percintaan juga harus pinter. By the way, siapa aja yang udah tau soal ini?”

“Baru lo sama Nayna,” terang Aryan.

“Mantep. Nanti kalau nyokap lo kalau tau, beliau juga pasti seneng. Tante Tiara keliatan sayang banget sama Karin. Kalau Nayna sih, udah pasti dukung seratus persen. Adek lo tuh di garda paling depan untuk urusan yang berhubungan sama lo dan Karin.”

Aryan menyetujui perkataan Leon barusan. Aryan bersyukur atas kenyataan bahwa Karin dapat akrab dengan keluarganya, sebaliknya keluarganya juga sangat menerima dan menyayangi Karin. Semuanya terasa lebih baik secara bertahap saat Karin datang ke hidupnya. Aryan mungkin terlambat menyadari itu, tapi ia masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Karin. Hatinya tidak lagi bisa berbohong, Aryan telah jatuh cinta kepada Karin. He’s really fall in love with her.

***

Aryan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya eropa modern berlantai tiga. Bangunan yang cukup luas itu membuatnya harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di halaman belakang.

Saat Aryan sampai di halaman seluas hampir 1 hektar tersebut, tempat itu di penuhi oleh para saudaranya. Ada makanan dan minuman di meja prasmanan, layar besar untuk menyetel film, lampu-lampu, serta sebuah musik yang di setel di area sudut halaman. Acara movie night-nya sudah selesai, kini tinggal acara bebas dan para tamu diperbolehkan untuk menikmati waktu sesuai keinginan masing-masing.

Aryan menyapa opa dan omanya, papa dan mamanya, serta beberapa keluarganya yang lain. Begitu berpapasan dengan Nayna, Aryan langsung menanyakan keberadaan Karin kepada adik perempuannya itu. Aryan belum melihat sosok Karin di antara banyaknya tamu yang ada di sana.

“Acaranya hampir selesai, Ko. Tadi gue tinggal kak Karin sebentar, pas gue balik, kak Karin ketiduran di sofa ruang tamu,” terang Nayna. Adik perempuan Aryan itu menjelaskan belum lama Karin tertidur, jadi memang belum berniat dipindahkan ke kamar karena takut Karin malah terbangun dari tidurnya.

Nayna pun meninggalkan Aryan setelah kakaknya itu berada di samping Karin yang tertidur di sofa. Posisi ruang tamu itu cukup jauh dari halaman, jadi sepengelihatan Aryan, kini Karin nampak nyenyak dengan tidurnya.

Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aryan mengusapkan tangannya di puncak kepala Karin. Aryan memberikan usapan lembut di sana, sebuah sentuhan yang halus dan terjadi begitu saja. Aryan menyadari bahwa hatinya membuncah bahagia hanya dengan memandang wajah Karin seperti ini.

“Hei, Karin. I missed you,” ucap Aryan masih sambil memandangi paras Karin. Tidak lama berselang dari itu, Aryan mendapati Karin bergerak dari posisinya dan perlahan-lahan Karin membuka matanya. Nampak sebuah kerutan di kening Karin ketika mendapati Aryan berada di hadapannya.

“Kamu udah nyampe dari tadi?” itu yang pertama Karin tanyakan setelah ia merasa bahwa nyawanya telah terkumpul sempurna.

“Engga, aku baru aja nyampe kok,” ujar Aryan.

Karin posisinya masih setengah berbaring, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dari posisi Karin saat ini, ia dapat melihat Aryan yang jaraknya cukup dekat darinya. Sayup-sayup tadi Karin mendengar apa yang Aryan ucapkan ketika ia tidur. Namun karena tidak ingin salah mengira, Karin pun memutuskan untuk menyimpannya sendiri.

“Karin,” ujar Aryan memecah pemikiran monolog Karin. Karin pun kembali menoleh dan memberikan atensinya kepada Aryan.

“Iya Kak? Kenapa?”

“Kamu senang selama nginep di rumah mama? Acara malam ini di rumah oma, apa kamu senang dengan semua ini?” tanya Aryan.

Tanpa berpikir lama-lama, Karin pun lekas menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. “Of course, I’m happy. I feel like I have a complete family,” ucap Karin diiringi sebuah senyum simpul di wajahnya.

“Oh iya Kak, acaranya udah hampir selesai. Oma tadi bilang, kalau kamu mau, nanti bisa dibuatin lagi acaranya pas kamu ada. Kira-kira kamu bisanya kapan?”

“Kalau lusa gimana?”

Mendengar tiga kata yang dilontarkan oleh Aryan, sontak membuat mata Karin membelalak. Sebelum Karin sempat menanggapi perkataan Aryan, Aryan lebih dulu berujar sambil menatap Karin dalam-dalam. “Karin, aku yang akan buat acaranya, tapi hanya untuk kita berdua.”

Kedua alis Karin pun nampak menyatu, “Acara apa? Kamu nggak pernah bilang sebelumnya. Acaranya mendadak ya?”

“Sebenarnya nggak mendadak. Aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu, kita akan piknik di rumah. Kamu punya request untuk dekorasi atau makanannya?”

Setelah Aryan mengungkapkan maksudnya tersebut, kedua mata Karin pun tampak berbinar. Nampaknya Karin begitu suka dan bersemangat akan rencana yang telah Aryan susun. “Kak, kira-kira kalau pikniknya pakai tenda di dalam apartemen bisa nggak ya?” Karin akhirnya mengungkapkan permintaannya.

Setelah memikirkannya, Aryan pun menjawab, “Oke, kayaknya bisa. Nanti aku coba usahain ya,” ucap Aryan.

Karin lantas mengangguk sembari mengulaskan sebuah senyum di wajahnya. Senyuman Karin dapat memancarkan kebahagiaan yang bisa Aryan rasakan juga sampai ke relung hatinya.

Beberapa saat kemudian, Karin kembali berujar sembari tidak melepaskan pandangannya dari Aryan, “Kak, makasih ya buat kesempatan yang kamu kasih malam ini. Aku bisa ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang lengkap. Ada papa dan mama, oma dan opa, dan masih banyak lagi keluarga yang lain.” Karin menjeda ucapannya. Bertemu dengan Aryan dan mengenal keluarganya dengan lebih dekat, dapat memberikan kehangatan dan sebuah kasih sayang yang mungkin selama ini hanya menjadi mimpi buat Karin.

“Kak, meskipun nanti kita akan berpisah, *I will always remember this night. The chance that someone gave to me,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Mungkin diawal pertemuannya dengan Aryan bagi Karin adalah bencana. Namun lambat laun setelah lebih mengenal sosok Aryan dan juga keluarga, Karin merasa bahwa dirinya beruntung diberi kesempatan itu. Perjalanannya dengan Aryan hanya sementara, tapi itu memberi banyak pelajaran dan pengalaman indah juga buat Karinn.

Karin kembali menatap Aryan setelah sebelumnya hanya menatap kuku-kuku jarinya. “Kak, Thank you for everything, I’ve glad that I’ve met you and your family,” tutur Karin.

Selesai Karin dengan ucapannya, Aryan kembali menatap Karin dalam-dalam. Aryan begitu ingin Karin mengetahuinya. Tiba-tiba Aryan tidak dapat membayangkan hari tersebut akan terjadi. Hari di mana saat dirinya dan Karin akan berpisah. Seperti yang dikatakan oleh Leon, Aryan tidak ingin dirinya menyesal jika suatu hari Karin benar-benar pergi dari hidupnya. Maka Aryan memiliki tekad yang kuat dalam hatinya. Ia akan berjuang dan membuat Karin untuk tetap tinggal di sisinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Suasana kelas Analisis dan Permodelan E-Business siang itu terlihat begitu damai dan tenteram. Itu lah yang akan terjadi ketika dosen yang mengampu mata kuliah tersebut masuk ke dalam jajaran dosen yang terkenal killer. Mata kuliah itu hanya hadir setiap 2 kali seminggu, tapi rasanya dua hari tersebut berjalan seperti dua abad lamanya.

Bapak Hari Tanjung, seorang dosen berusia 50 tahunan tersebut menyapukan pandangannya ke seluruh penjuru kelas, sebelum akhirnya beliau berujar, “Hari ini saya akan membagikan hasil ujian tengah semester kalian minggu lalu.”

Pak Hari mengambil salah satu kertas hasil ujian dari dalam map yang dibawanya. Setelah melihat sebuah nama di sana, beliau lekas memanggil satu nama tersebut. “Aryan Sakha Brodjohujodyo. Coba silakan maju ke depan,” ucap pak Hari.

Seketika semua mata di ruangan itu mengarah kepada sosok lelaki jangkung yang kebetulan duduk di baris kedua dari depan. Aryan memasang tampang lempengnya, seolah panggilan pak Hari barusan tidak membuatnya merasa panik atau terbebani barang sedikitpun. Berikutnya Aryan segera bergerak dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke depan kelas.

Sesampainya Aryan di hadapan pak Hari, semua pasang mata masih menatap intens ke arahnya. Aryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tidak merasa membuat kesalahan pada dosen yang terkenal killer di hadapannya ini.

“Maaf Pak, ada keperluan apa memanggil saya ke depan?” tanya Aryan begitu pak Hari belum mengatakan apa pun padanya.

“Kamu mengerjakan ujian kemarin gimana? Menurut kamu mudah atau sulit, soal yang saya berikan?” tanya pak Hari.

Aryan pun menjawab bahwa soal yang diberikan pak Hari tidak mudah, tapi tidak terlalu sulit juga baginya. Saat teman-temannya kemarin belum selesai mengerjakan, Aryan termasuk yang cukup cepat menyelesaikannya sehingga ia bisa pulang lebih dulu.

“Aryan, Kamu dapat nilai 100 di ujian saya. Waktu saya buat soal ujiannya, saya pikir nggak akan ada yang bisa mendapat nilai sempurna. But again, congrats for your achievement. You made it,” ucap pak Hari sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada Aryan.

***

Kantin rooftop siang ini nampak ramai oleh para mahasiswa maupun mahisiswi yang mempunyai waktu luang. Sebagian dari mereka sedang menunggu kelas atau sekedar mengerjakan tugas di sana.

Di tempat tersebut juga mereka biasa menghabiskan beberapa batang rokok atau menghembuskan uap vape, karena memang kantin atas merupakan smooking area. Mayoritas tempat ini memang banyak digunakan untuk nongkrong, sementara kantin di bawah lebih sering digunakan bagi yang ingin menikmati makanan.

Di salah satu meja yang diisi oleh para lelaki di pojok kantin itu, mereka nampak sedang mengobrol mengenai beberapa hal. Topik pun tiba-tiba berganti, mereka membicarakan nilai 100 yang di dapat oleh Aryan di kelas pak Hari. Nilai sempurna yang sepanjang sejarah tidak pernah diberikan oleh dosen yang terkenal galak itu, kini telah pecah rekor.

Leon dan William, selaku sahabat Aryan sejak waktu yang lama, tengah menganggung-agungkan nama lelaki itu. Mereka mengatakan bahwa pihak kampus tidak pernah keliru menjadikan Aryan salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan mereka. Selain banyak memenangkan lomba yang berhubungan dengan mata kuliah jurusan, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki nilai akademik yang bagus. William mengatakan bahwa rupanya Aryan tidak cuma modal tampang saja untuk membuatnya dikagumi para cewek cantik di kampus, tapi rupanya sahabatnya itu modal otak juga.

Leon nampak menggeser sekotak rokok ke hadapan Aryan. “Sebatang aja,” ujar Leon yang sudah lebih dulu menyalakan rokoknya dengan pemantik. Detik berikutnya Leon menghisapnya dan menghembuskan asapnya. Aryan pun menatap rokok yang disodorkan oleh Leon dan yang membuat Leon terkejut adalah Aryan kembali menolak tawarannya.

“Udah sini, buat gue aja kalau Aryan nggak mau,” seru William yang baru kembali dari membeli minuman.

“Lo beneran udah berhenti?” tanya Leon sambil menatap Aryan dengan tatapan penuh tanya.

“Bukan berhenti, gue coba buat kurangin,” jelas Aryan.

“Will, bener kan apa yang gue bilang. Lo nggak percaya sih sama gue. Sahabat lo beneran mau tobat ini,” ucap Leon pada William.

Kemarin William memang tidak percaya saat Leon bilang Aryan tidak datang ke club. Sekarang akhirnya William percaya setelah mendengar langsung pernyataan yang keluar dari mulut Aryan.

“Lo ada rencana buat sepenuhnya berhenti rokok?” tanya William pada Aryan.

“Ada sih gue rasa,” cetus Leon sebelum Aryan sempat menjawab pertanyaan dari William.

“Gila, keren banget lo Bro. Ngomong-ngomong bener kata Leon ini karna istri lo? Karin ngelarang lo clubbing gitu?” William yang masih penasaran itu pun mengkorek lebih jauh.

“Karin nggak ngelarang gue. Gue menghargai dia dan itu juga demi kesehatan gue. Gue harap lo berdua bisa respect sama keputusan gue,” jelas Aryan.

“Oke, gue akan respect keputusan lo itu,” ujar William akhirnya.

Tidak lama berselang, William berpamitan untuk pergi lebih dulu karena ia ada kelas yang berbeda, hingga tersisa Aryan dan Leon di sana.

“Nanti sore habis kelas lo ada acara?” tanya Leon.

“Ada,” jawab Aryan.

“Gue tebak pasti Karin lagi.”

“Iya. Gue mau nganterin Karin cek kandungan.”

“Kalau Juma’t gimana? Lo free?” tanya Leon lagi.

“Belum tau. Emang kenapa?”

“Anak-anak ngajakin makrab ke puncak. Anjir lah, kalau nanyain jadwal lo kayak gini, berasa lebih-lebih dari Karin gue. Emang beda ya kalau udah nikah.” Leon pun tertawa sekilas.

Aryan mengangguki Leon. “Sekarang gue punya tanggung jawab dan prioritas. Kina bukan lagi prioritas gue, tapi Karin dan anak gue sekarang yang utama.” Aryan pun mengatakan ia akan mengabari Leon seandainya memungkinkan ia ikut acara malam keakraban di puncak.

Leon terkesiap mendengarnya kalimat yang Aryan ucapkan. Leon tidak menyangka, perlahan-lahan ia dapat melihat perubahan positif dari sahabatnya itu.

“Aryan, lo dengerin gue deh. Gini ya, gue udah coba menganalisa perilaku lo ke Karin, gitu juga sebaliknya Karin ke lo,” ujar Leon.

“Maksud lo?” tanya Aryan yang tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan sahabatnya itu.

“Gue melihat sikap lo ke Karin udah beda. Sebenarnya lo udah mulai ada rasa ke Karin, tapi lo belum sadar itu. Setiap aspek kehidupan lo sekarang, lo selalu bawa Karin di dalamnya. Beda sama awal-awal lo nikah sama dia. Yaelah, gue kenal lo udah berapa lama sih,” tutur Leon panjang lebar.

Leon yang notabenenya merupakan sahabat Aryan sejak SMP dan telah begitu mengenal sosok Aryan, mengatakan bahwa sebenarnya sudah timbul perasaan Aryan kepada Karin. Aryan hanya belum menyadarinya dan menganggap perilakunya ke Karin hanyalah bentuk rasa tanggung jawab terhadap anak mereka.

Aryan pun memikirkan kata-kata Leon selama beberapa saat. Namun akhirnya Aryan menampik dugaan yang Leon layangkan tersebut.

“Yee malah mau pergi nih anak,” decak Leon begitu melihat Aryan mengambil tasnya dan menyampirkannya di satu pundaknya.

Sebelum Aryan pergi dari sana, Leon kembali menahan Aryan dengan perkataannya. “Karin bisa ngasih dampak yang positif buat lo. Tanpa lo sadar, Karin alasan terbesar untuk lo jadi orang yang lebih baik. Gue harap sih lo secepatnya menyadari itu.”

“Terus apa yang gue harus lakuin kalau itu emang benar?” Aryan justru bertanya kepada Leon. Kini Aryan menjadi bingung usai memikirkan perkataan sahabatnya itu.

You need to tell your feeling to her. Mungkin itu nggak akan mudah, tapi nggak ada salahnya buat lo coba dulu. Jangan sampai lo menyesal saat dia udah benar-benar pergi. Gue pikir Karin orang yang tepat dan dia pantas untuk lo perjuangin. Kalau lo butuh bantuan, lo bisa kasih tau gue. Good luck, Bro.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷