alyadara

Ini sudah satu minggu sejak Aryan merasa bahwa dirinya berada di dalam jurang yang begitu gelap. Rasanya Aryan seperti hilang arah kala itu. Setelah melewati waktu yang tidak mudah, saat ini Aryan merasa kalau kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Karin, Aryan perlu melihat lebih dekat tentang apa yang sekarang ia miliki. Aryan harus bangkit dari rasa sakit itu dan belajar melihat ke hal-hal baik yang ada di sekitarnya.

Ini merupakan sabtu pagi yang cerah dan Aryan baru saja kembali dari latihan gymnya. Begitu sampai di apartemen, Aryan segera berbersih diri agar bisa sarapan di meja makan bersama Karin.

Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk berada kamar mandi. Sekitar dua puluh menit kemudian, lelaki itu sudah duduk di kursi meja makan dengan tampilannya yang nampak fresh. Aryan mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek di atas lutut. Surai legamnya masih setengah kering dan Aryan menyisirnya rapih ke belakang hingga menampakkan keningnya.

Aryan memperhatikan Karin yang mengambilkan sarapan ke piringnya. Baru setelah itu Karin mengambil untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Aryan.

“Kak, tadi pas kamu mandi, ada yang nelfon ke hp kamu,” ujar Karin setelah menelan satu suapan makanannya.

“Oh iya? Siapa yang nelfon?” tanya Aryan.

“Kina.”

Aryan seketika menghentikan aksi sarapannya. Aryan pun bergerak dari kursinya dan segera mengambil ponselnya di meja ruang tamu. Karin memperhatikan Aryan di hadapannya tengah menghubungi seseorang.

“Halo, Kina,” ujar Aryan pertama kali.

“Iya, tadi aku nggak denger kamu nelfon. Aku udah bilang, aku nggak bisa keluar malam ini,” sambung Aryan.

It’s up to you. Intinya aku nggak bisa, Kina.”

Aryan mendengarkan balasan Kina di telfon sebelum akhirnya kembali berujar, “Aku minta kamu untuk ngerti. Oke, bye. I'll see you.”

Setelah itu sambungan telfon pun diakhiri. Aryan kembali melanjutkan sarapannya. Tidak lama dari itu, Aryan mendapati Karin hanya menatapnya lalu bertanya, “Kak, kamu ada acara nanti malam?”

“Ohh nggak ada,” jawab Aryan.

Setelah itu Karin hanya mengangguk dan kembali fokus ke makanannya.

“Kamu hari ini di rumah, kan? Kerjaan kamu udah beres semua?” tanya Aryan.

“Udah,” jawab Karin.

Alright. Aku malam ini juga di rumah.” Aryan kembali menyuap sepotong daging bacon di piringnya. Kemudian Aryan meneguk kopi susu yang biasa dibuatkan oleh Karin untuknya.

“Kak, tadi kak Leon chat aku,” ucap Karin.

Mendengar kalimat tersebut, alis Aryan pun bertaut, lelaki itu meletakkan gelas kopinya di meja. “Leon chat kamu? Dia bilang apa?” tanya Aryan.

“Nanyain kamu.”

“Kenapa nggak langsung chat aku?”

Karin nampak mengedikkan kedua bahunya. “Kak Leon minta tolong aku untuk bujuk kamu. Ini kan malam minggu, kak Leon ajakin kamu ke clubbing. Katanya kamu nolak terus waktu diajak.”

Aryan nampak menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya Aryan tengah memaki Leon. Sialan Leon. Apa saja yang sahabatnya itu telah katakan pada Karin soal clubbing.

Setelah selesai dengan acara sarapannya, Aryan melenggang ke ruang tamu dan duduk di sofa. Waktu Karin melewati Aryan dan hendak melangkah ke naik ke kamar, samar-samar Karin mendengar pembicaraan antara Aryan dan Leon di telfon. Keduanya sedang membahas soal rencana pergi ke clubbing.

“Malam ini Karin ada di rumah. Gue nggak mau ninggalin dia sendiri. Lo tau kan, gue lagi berusaha ngurangin alkohol,” ujar Aryan di telfon.

Usai mendengar balasan Leon di ujung sana, Aryan pun kembali berujar, “Thank you lo udah ngerti. Maybe next time I will join.”

***

Malam ini Aryan dan Karin pergi untuk membeli makan malam di luar. Mereka membeli dua boks pizza berukuran besar dengan topping yang berbeda. Karin nampak lahap memakan pizzanya. Aryan memperhatikan mata Karin yang berbinar ketika Karin menikmati makanan itu.

Satu kotak besar pizza rasa papperoni pun sudah hampir habis. Karin mengatakan bahwa perutnya sudah terisi penuh dan ia merasa sangat kenyang sekarang.

“Kamu di sini aja, aku ambilin minum,” ujar Aryan yang lantas di angguki oleh Karin. Sebelumnya keduanya telah memutuskan untuk menyetel tayangan reality show di TV sembari menikmati makan malam mereka di sofa ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Aryan kembali ke hadapan Karin membawakan sebuah botol besar berisi air dan dua buah gelas. Karin lantas segera mengambil minumannya dan meneguknya.

“Kamu habis berapa potong pizzanya?” tanya Aryan.

“Lupa. Kayaknya empat deh, atau lima ya?” Karin nampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Karin pun menampakkan cengirannya di hadapan Aryan.

“Kak, kita belinya kebanyakan deh kayaknya. Padahal cuma kita berdua yang makan, sayang-sayang kalau nggak habis,” ujar Karin sembari menatap dua boks pizza yang kini masih tersisa beberapa potong. Padahal Karin maupun Aryan sama-sama sudah merasa kenyang.

“Nggak papa kalau sesekali. Aku beliin yang kamu mau.”

“Sayang uangnya, Kak. Tadi beli satu boks udah cukup sebenarnya. Besok aku masak aja ya, biar nggak beli di luar,” ujar Karin.

Aryan sebenarnya pernah mengatakan pada Karin bahwa ia sanggup membelikan apa yang Karin inginkan. Karin tidak perlu memasak kalau sedang tidak ingin melakukannya. Karin pun menghargai setiap pemberian yang Aryan berikan. Namun Karin mengatakan ia ingin Aryan menggunakan apa yang lelaki itu miliki dengan lebih bijaksana. Sesekali mereka bisa memasak, selain lebih sehat, biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak dibandingkan membeli makanan di luar.

Karin mengajarkan Aryan banyak hal yang sebelumnya Aryan tidak menganggapnya berarti. Perlahan-lahan perilaku Karin pun dapat membuat Aryan sadar dan bangkit. Aryan seperti menemukan seberkas cahaya di dalam jurang gelapnya. Aryan bisa merasakan bahwa Karin tulus peduli padanya, tanpa memandang latar belakang Aryan sama sekali. Setelah semua yang terjadi, Karin tidak melihat sisi kelamnya Aryan. Kesedihan yang pernah Aryan berikan untuk Karin, tidak mendorong Karin untuk menjauh dari Aryan ketika lelaki itu membutuhkan bantuan. Karin memperlakukannya selayaknya manusia memperlakukan satu sama lain. Setiap perlakuan Karin padanya, memotivasi Aryan untuk menjadi sosok yang lebih baik.

“Kak, besok kamu ada acara keluar rumah?” tanya Karin.

“Belum tau. Kenapa?”

“Aku mau coba resep masakan baru. Resepnya sih keliatannya gampang, semoga aku bisa masaknya.”

“Oke, kamu masak aja. Aku besok di rumah. Maybe I can help you a little bit,” ucap Aryan.

Karin nampak memicingkan matanya dan tersenyum sangsi ke arah Aryan.

Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Karin, Aryan pun berujar, “Aku pernah bikinin kamu sandwich. Kamu suka sandwich buatan aku, kan? Aku bisa masak, Karin. Sedikit sih. Mama pernah buat semua orang yang ada di rumah untuk bantuin beliau masak.”

“Terus kamu ikutan masak juga?” tanya Karin tampak penasaran dengan cerita spontan yang Aryan lontarkan.

“Kalau mama yang udah ngasih perintah, nggak ada yang berani melanggar. Apalagi papa. Padahal papa paling nggak suka masak,” terang Aryan.

“Gimana ceritanya waktu papa ikutan masak?” tanya Karin lagi, ia ingin tahu lebih jauh.

“Seperti dugaan semua orang, papa cuma bikin dapur berantakan dan akhirnya mama nggak nyuruh papa masak lagi,” cerita Aryan.

Karin pun tertawa hingga nampak deretan gigi depannya dan sebuah eye smile tercetak di wajahnya. “That’s a funny and nice story at the same time.”

Selama sepersekian detik, Aryan hanya memperhatikan itu terjadi dengan netranya. Setelah tawa Karin mulai reda, pandangan keduanya pun bertemu di satu titik. “Aku akan buktiin ke kamu besok,” ujar Aryan.

“Kamu mau buktiin apa?”

“Aku akan bantuin kamu masak dan aku lebih jago dari papa. Aku nggak akan bikin dapur berantakan kayak yang papa lakuin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sore ini sekitar pukul 5, Aryan baru saja kembali ke apartemennya. Aryan menghabiskan waktunya bersama dengan Kina dan seolah memang tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aryan menepati janjinya pada Kina untuk tidak meninggalkan perempuan itu. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan yang Aryan rasakan terhadap hatinya. Aryan tidak dapat berbohong. Hatinya terasa begitu sakit saat dirinya harus bersama seseorang yang telah membuatnya merasakan rasa sakit tersebut.

Saat Aryan baru memasuki masa remajanya dan mulai mengerti mengenai latar belakang keluarganya, lelaki itu berpikir bahwa memiliki hampir segalanya dalam hidup adalah selalu tentang keberuntungan. Namun lambat laun Aryan belajar dari beberapa peristiwa yang terjadi saat dirinya beranjak dewasa. Harta, aset pribadi, latar belakang keluarga, membuatnya sulit untuk membedakan mana yang benar-benar tulus padanya atau sekedar memandang apa yang ia miliki.

Itu juga yang terjadi ketika Aryan menjalani hubungan percintaan. Aryan memutuskan memberi kepercayaannya kepada Shakina dua tahun yang lalu. Shakina membuatnya percaya bahwa Aryan pantas dicintai bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena memang itu dirinya. Namun kenyataan yang Aryan dapatkan dari pembicaraan Shakina dengan teman-temannya, membuat semua rasa percaya itu hancur. Seperti sebuah benda pecah belah, Aryan tidak memiliki harapan untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah pecah tersebut.

Ketika terdengar suara yang menandakan bahwa ada yang datang dari pintu, Aryan segera bergerak dari posisinya. Sebelumnya Aryan setengah berbaring di sofa, tapi kini tubuhnya menegak kala matanya menangkap sosok Karin di sana. Karin baru kembali dari studio di apartemennya untuk urusan pekerjaan.

Kehidupan Aryan dan Karin berjalan normal persis seperti awal mereka menikah. Karin menjalani harinya seperti biasa, Rey mengantar dan menjemputnya pulang. Begitu pun dengan Aryan. Ia menjalani kehidupannya seperti saat sebelum bertemu dengan Karin. Seolah pernikahannya dengan Karin hanyalah surat yang tertulis di atas hukum dan agama. Pada kenyataannya Aryan dan Karin tidak menikah dalam artian yang sesungguhnya.

Setelah menaruh barang-barang yang dibawanya dan sedikit berbersih diri, Karin lekas menghampiri Aryan memandang lekat wajahnya. “Kak, are you okay?” tanya Karin.

Why? I’m okay.” Aryan berdusta.

Are you drunk?” tanya Karin begitu ia mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh Aryan. Nampak guratan kekhawatiran di wajah Karin.

Just a little bit, Karina,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyum hambarnya di hadapan Karin.

“Aku tau toleransi alkohol kamu tinggi, tapi coba kamu kurangin dulu. Ya?” bujuk Karin. Karin menatap Aryan dengan tatapan tidak tega, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Aryan sekacau ini.

Karin memperhatikan wajah Aryan yang nampak pucat. Seketika Karin merasakan hawa panas di permukaan kulit tangannya ketika ia menempelkannya di kening Aryan. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa ia begitu merasa sangat mengantuk sekarang.

“Kamu tidur dulu di atas, ya? Biar aku masakin sesuatu. Nanti aku bangunin buat makan dan minum obat. Oke?” tutur Karin.

Karin akhirnya membantu Aryan bangun dan memapah tubuhnya untuk sampai ke kamar. Begitu Aryan merebahkan tubuhnya di kasur, Karin bergerak untuk menyelimutinya. Karin memperhatikan Aryan yang menggigil, bibir lelaki itu sedikit bergetar karena menahan rasa panas dan nyeri di sekujur tubuhnya.

“Karin,” ucap Aryan dengan nada lirihnya. Aryan nampak berusaha membuka matanya untuk menatap Karin di hadapannya. “It's oke for me to cry?” tanya Aryan.

Karin melihat ke arah tangan Aryan yang kini menggenggam tangannya. Perlahan-lahan Karin membalas genggaman itu, ia berusaha membuat Aryan merasa lebih tenang.

Dalam hidupnya Karin tidak pernah membayangkan akan melihat Aryan dan air matanya. Karin pun hanya sanggup termangu melihat semuanya terjadi. Karin dapat melihat dan merasakan bahwa Aryan benar-benar tulus. Rasanya tidak akan mungkin sesakit itu jika Aryan tidak sungguh-sungguh mengenai perasaannya terhadap Shakina.

***

Aryan merasa lebih baik setelah tidur selama kurang lebih satu jam. Meskipun begitu, Karin tetap memintanya untuk lanjut istirahat selesai Aryan makan dan meminum obatnya. Karin masih mencuci peralatan bekas masaknya ketika ia mendapati Aryan belum beranjak dari kursi meja makan.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

“Aku akan coba buat kurangin alkohol.”

Karin yang mendengar kalimat itu seketika menoleh ke arah Aryan. Karin mematikan keran air di wastafel dan menatap Aryan seolah lelaki itu adalah hantu di siang bolong.

“Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?” tanya Aryan sembari tertawa.

“Kamu udah bisa ketawa. Berarti udah baikan ya,” ucap Karin diiringi seulas senyum kecil di wajahnya. Karin yang telah selesai dengan segala kegiatan berberesnya, kini bergerak menghampiri Aryan dan berujar lagi, “Oke, itu ide bagus, kamu perlu kurangin alkohol sama vape.”

“Vape juga?”

Karin dengan cepat menggangukkan kepalanya, “ Iya, vape juga. Itu untuk kesehatan kamu, Kak.”

***

Rupanya Aryan belum tidur ketika Karin naik ke kamar. Aryan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur dan langsung menoleh begitu Karin bergabung bersamanya.

“Kamu nggak papa aku tidur di sini? Aku bisa tidur di sofa. Aku udah baikan, tadi cuma demam biasa dan karena efek alkohol,” ujar Aryan. Keduanya kini dalam posisi berbaring dan berhadapan dengan sebuah guling sebagai pembatas di tengah-tengah.

Karin mengerti bahwa Aryan memikirkan kenyamanannya. Bagaimana pun tentunya terasa agak aneh jika mereka tidur di satu ranjang yang sama. Aryan pun mengusulkan jika Karin ingin tinggal di apartemennya atau rumah kak Syerin untuk sementara, Aryan akan memperbolehkannya untuk pergi. Namun Karin justru memberikan jawaban sebaliknya.

“Aku nggak tega ninggalin kamu di sini sendiri,” ungkap Karin.

Aryan lantas mendapati Karin menatapnya dengan tatapan lembutnya. “Kak, kamu tau, setiap orang berharga dan pantas untuk dicintai. Saat seseorang memberi rasa sakitnya ke kamu, sebenarnya bukan kamu yang rugi. Dia yang rugi karena telah menyia-nyiakan perasaan kamu yang tulus.”

Nampaknya Karin begitu mengerti dengan rasa sakit yang kini Aryan rasakan. Seolah-olah Karin pernah mengalaminya sehingga begitu memahaminya.

Karin memang pernah merasakannya, itu merupakan luka yang telah lama Karin pendam. Namun Karin mengatakan ia bersedia untuk membagikannya kepada Aryan yang mungkin saja bisa menjadi pembelajaran berharga juga untuk lelaki itu. “Setelah pisah sama mama Vanessa dan punya satu anak, yaitu kak Syerin, papaku menikah lagi. Dari pernikahan kedua, papa punya aku dan Kavin. Waktu umurku empat belas tahun, papa meninggal karena sakit. Mama kandungku pergi dan sampai sekarang aku maupun Kavin nggak tau soal keberadaan beliau. Akhirnya mama Vanessa dan kak Syerin memutuskan untuk merawat aku dan Kavin. Tapi aku nggak bisa terus bergantung sama mereka. Gimana pun aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”

Karin merasakan bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh sosok ibu yang mana ia begitu percaya. Namun terkadang memang takdir tidak selamanya indah dan berjalan mulus seperti yang manusia inginkan. Seseorang yang kita pikir sangat mencintai kita, bisa saja meninggalkan kita. Rasa sakit yang ditinggalkan terasa begitu membekas, tapi Karin memiliki untuk berdamai dan menyembuhkan luka dalam dirinya itu.

Karin memberi penjelasan pada Aryan bahwa lelaki itu perlu melihat lebih dekat. Aryan masih memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya. Aryan memiliki keluarga yang lengkap dan sangat hangat, dan itu merupakan hal yang patut untuk disyukuri. Karin bukan ingin mengadu nasib dan membandingkan hidupnya dengan Aryan yang nampak sangat berbeda. Namun ada hal penting yang dapat dipetik dari setiap peristiwa dan rasa sakit. Kita perlu melihat pada hal baik dari pada hanya berlarut memikirkan satu hal buruk yang telah terjadi.

“Kak, nggak papa kalau sekarang kamu merasa sedih. Sometimes people need a time to cry and feel sad. Tapi kamu harus percaya, suatu saat nanti, akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus. You deserved that, Kak. Every people deserved to be loved. Bukan karena dia siapa, bukan karena apa yang dia miliki, tapi dia dicintai karena itu dirinya.”

Usai kalimat Karin tersebut, Aryan pun mengangguk menyetujuinya. Aryan sekarang paham alasan Karin bisa menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Setiap orang memiliki hidupnya masing-masing. Namun terkadang di luar sana, kita tidak pernah tahu ada ribuan bahkan jutaan orang yang mendambakan untuk memiliki kehidupan seperti kita.

Aryan tidak pernah tahu kehidupan yang Karin jalani selama ini nyatanya begitu sulit. Karin tidak memiliki figur seorang ibu yang menyayanginya. Karin tidak berkesempatan merasakan kasih sayang tersebut. Menjalani kehidupan seperti itu tentu bukanlah hal yang mudah. Namun Karin dapat melaluinya dan itu justru menjadikannya sosok yang hebat seperti yang Aryan lihat saat ini.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

Aryan masih menatap Karin, entah untuk alasan apa, sebuah senyum terukir tulus di wajahnya. “Terima kasih kamu udah ngajarin aku sesuatu yang berharga.”

Aryan berpikir bahwa dua tahun lalu ia terpesona ketika melihat sosok Karin. Perasaan suka itu telah pergi begitu saja dari hatinya. Aryan tidak memikirkan perasaannya lebih jauh. Aryan pun berpikir mungkin perasaannya pada Karin hanya sekedar rasa kagum, bukan rasa cinta. Namun kini sebuah pernyataan mengejutkan baru saja menghampirinya. Aryan telah terpesona pada Karin untuk yang kedua kalinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyetir seperti orang gila. Seluruh darahnya seperti di pompa dengan cepat ke arah jantung, hingga rasanya dadanya berdegup dengan begitu kencang. Aryan kembali menambah kecepatan laju mobilnya dan pegangan tangannya di setir pun tampak begitu erat. Aryan bersumpah tidak akan mengampuni Kina kalau sampai perempuan itu melakukan sesuatu yang buruk kepada Karin.

Tidak sampai setengah jam kemudian, Aryan akhirnya sampai di pelataran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki jangkung itu bergegas menuju gedung fakultas manajemen. Di sana nampak sepi, ini masih terbilang cukup pagi dan biasanya tidak ada jam kuliah di waktu seperti ini. Namun Aryan ingat bahwa hari ini Karin ada presentasi untuk ujian tengah semesternya. Jadi memang ada kemungkinan Karin berniat datang lebih pagi ke kampus karena ingin mempersiapkan semuanya dengan matang.

Aryan telah bertanya kepada beberapa orang sampai petugas keamanan sekali pun, tapi belum ada yang melihat sosok Karin di penjuru gedung. Aryan menyisir rambutnya ke belakang dan nampak frustasi. Di saat itu juga, ponselnya berbunyi dan rupanya itu panggilan dari Karin. Begitu Aryan mengangkat telfonnya, bukan suara Karin yang ia dengar, melainkan suara Kina.

“Halo, Sayang. Kamu lagi cari seseorang ya?” tanya Kina di telfon dengan nada pelannya.

“Kina, apa pun yang kamu rencanakan, aku pastiin kamu akan menyesal setelah ini,” ucap Aryan.

“Hei, hei, take it easy, Babe. Kalau kamu cari Karin, kamu sendiri yang harus berusaha untuk nemuin dia. Aku cuma mau bilang, sebaiknya kamu bisa menemukan Karin sebelum semuanya terlambat.”

***

Di gedung kampus tersebut, terdapat sebuah ruangan untuk tangga darurat. Keadaan yang masih sepi tersebut, dimanfaatkan oleh Kina untuk menjalankan aksinya. Karin berada di ujung tangga dengan Kina yang memegang lengannya.

Kina menatap Karin dan mengulaskan senyum tipisnya, “Karin, listen to me. Kamu nggak bisa mendapatkan apa yang sebelumnya bukan milik kamu. Salah satunya adalah Aryan. Aryan akan ninggalin kamu kalau udah nggak ada anak di antara kalian. Semua permasalahan akan selesai dan kamu bisa selamanya pergi dari hidup Aryan,” ujar Kina.

Karin terdiam di tempatnya. Jika ia melawan untuk lepas dari Kina, maka kemungkinan terburuk dirinya bisa terjatuh dari tangga. Karin pun memutuskan untuk tidak menunjukkan rasa takutnya di hadapan Kina. Ia mengenal sosok Kina dan jika Karin kehilangan keberaniannya, maka Kina akan merasa semakin berada di atas awan.

“Kina, kamu perlu tau ini,” ujar Karin sambil menatap Kina dengan berani. “Kak Aryan memang mencintai kamu, tapi satu hal, dia juga sangat mencintai anaknya. Kalau dia tau kamu berniat mencelakai anaknya, mungkin selamanya dia nggak bisa maafin kamu,” ujar Karin.

Kalimat yang dilontarkan Karin tersebut seketika membuat Kina nampak berpikir. Beberapa saat setelah itu, sebuah pintu menuju ruangan tangga tersebut dibuka oleh seseorang. Karin melihat Aryan berada di sana dengan wajah khawatirnya.

“Kina, kamu lepasin Karin sekarang,” ujar Aryan dengan nada tegasnya.

Kina menyunggingkan senyum tipisnya seraya menatap Aryan dan berujar, “Kamu pikir bisa semudah itu? Kalau kamu mau sesuatu, kamu juga harus menukarnya dengan sesuatu, Aryan. Bukannya itu yang keluarga kamu ajarkan untuk membangun suatu bisnis yang sukses? Kamu pasti banyak belajar soal itu kan, Sayang?”

Aryan menghembuskan napasnya dan kemudian berujar, “Oke, kamu bisa bilang sama aku. Kamu mau menukarnya dengan apa?”

Mendengar kalimat yang Aryan lontarkan tersebut, Karin lantas menggelengkan kepalanya. Aryan beralih menatap Karin dengan tatapan lembutnya. Dari matanya seolah Aryan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Karin tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.

“Permintaan aku cuma satu, Aryan. Kamu harus kembali sama aku dan selamanya kamu adalah milik aku. Kamu bisa menolak itu, tapi kamu tau resikonya, kan?”

Aryan memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan sesuatu. “Alright. Aku akan turutin permintaan kamu,” ujar Aryan diiringi tatapan getirnya.

Detik berikutnya Kina nampak mengulaskan senyum kemenangannya. “Well, kamu membuat keputusan yang bagus. Selama kamu menepati perjanjiannya, semuanya bisa diatur.” Kina menjauhkan dirinya dari Karin dan melepaskan tangannya di lengan Karin.

You will forever be mine, Aryan Sakha. I’ll see you tomorrow, I have to go right now,” sambung Kina sebelum melenggang pergi dari sana.

***

Saat Karin keluar dari kelas terakhirnya, ia mendapati Aryan berada di depan ruangan kelasnya. Kekhawatiran jelas tergambar di paras lelaki itu. Aryan pun langsung mengajak Karin untuk pulang, bahkan lelaki itu mengantarnya sampai ke kamar dan menunggui Karin hingga tertidur.

Beberapa menit setelah Karin coba memejamkan matanya, rupanya perempuan itu kembali terjaga. Melihat Aryan masih berada di samping ranjangnya, Karin pun berujar, “Kamu pasti capek. Kamu juga butuh tidur, nggak perlu tungguin aku di sini.”

Aryan menatap Karin, lalu tangannya terangkat dan mengusap punggung tangan Karin sekilas. “Aku khawatir sama kamu. Biarin aku di sini sampai kamu tidur, ya?”

Karin akhirnya mengangguk. Sebelum kembali memejamkan matanya, Karin menatap langit-langit sejenak, kemudian pandangannya beralih kepada Aryan. “Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

Karin bergerak dari posisi baringannya untuk duduk, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran kasur. “Kamu mau tidur di sini?” tanya Karin sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. Sebelum semuanya nampak canggung, Karin mengambil satu buah guling dan meletakkannya di tengah.

“Nggak papa. We still have boundaries between us,” ujar Karin. Pandangan Karin tertuju pada kedua mata sayu Aryan. Bukti fisik yang terlihat tentu tidak bisa berbohong. Karin seperti tahu ada sesuatu yang terjadi tanpa Aryan perlu mengatakannya.

Detik berikutnya, Aryan bergerak untuk berbaring di samping Karin. Keduanya kini saling berhadapan, Karin menatap Aryan dengan tatapan khawatirnya. “Kak, kamu semalam ke mana? Apa ada sesuatu waktu kamu nganter Kina pulang?” tanya Karin.

“Sebenarnya semalam aku mau buktiin sesuatu,” terang Aryan.

“Buktiin apa?”

“Aku sama Kina putus. We ended up last night. Aku tau akhirnya Kina nggak benar-benar tulus sama aku. She want to be with me just to feel lucky. She’s not truly loves me,” ujar Aryan.

Aryan pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Soal Kina yang hampir membuatnya tidur bersamanya. Namun Aryan sudah dapat menebak apa yang akan terjadi, sejak Kina melontarkan ajakan pesta bersama teman-temannya. Maka dari itu Aryan sengaja merencanakan semuanya untuk menangkap basah Kina dan memutuskan hubungan mereka saat itu juga.

Aryan tidak ingin membuat Karin kepikiran, sehingga ia tidak mengatakan yang sebenarnya soal dirinya yang ingin membuktikan sesuatu.

“Karin, aku nggak akan tinggalin kamu lagi kayak kemarin. Aku janji,” ujar Aryan sembari menatap Karin dalam-dalam.

Karin balas menatap Aryan, pikirannya pun melayang pada perkataan Aryan pada Kina. “Kak … tapi gimana janji kamu sama Kina?” Karin berucap dengan nadanya yang terdengar lirih. Karin mengatakan bahwa dirinya merasa bersalah kepada Aryan. Aryan telah berusaha keluar dari rasa sakit saat bersama Kina, tapi justru harus kembali menghadapi rasa sakit itu hanya untuk melindungi Karin dan bayinya.

“Karin, kamu dengerin aku ya. Aku akan urus semuanya. Kamu nggak perlu khawatir, aku cuma mau bikin Kina terkecoh. Tadi yang aku pikirin cuma kamu dan anak kita,” ucap Aryan. Aryan memandangi wajah Karin, ia menelusuri setiap inci paras Karin menggunakan netranya. “Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kalian,” sambung Aryan.

Kata-kata Aryan terasa menembus hati Karin dan memberikan kehangatan di dalam rongga dadanya. Karin tidak mampu mengeluarkan kata-katanya. Karin pun hanya mengulaskan senyumnya.

Hari sudah beranjak sore, udara sejuk yang terasa menelusup ke kamar itu melalui sela-sela jendela, membuat Karin dengan cepat dapat terlelap. Karin memeluk gulingnya, wajahnya nampak begitu damai tertidur. Rupanya Aryan belum melakukan hal yang sama seperti Karin, lelaki itu justru nampak betah mengamati Karin yang tertidur.

Sesaat kemudian, Aryan bergerak menarik selimut tebal sampai menutupi bahu Karin. Sebelum memejamkan matanya, Aryan berujar di hadapan Karin yang tengah tertidur, “Karina, I was liked you. Two years ago.”

Pikiran Aryan pun melayang pada kejadian dua tahun yang lalu. Sebuah senyum kecil lantas terukir di wajah Aryan kala mengingat saat-saat tersebut di dalam hidupnya. Dua tahun yang lalu Aryan berada di satu tingkat di atas Karin dan menjadi panitia untuk orientasi mahasiswa baru. Dari sana untuk pertama kali Aryan mengetahui tentang Karin.

Waktu itu satu angkatan memang sudah tahu kalau di jurusan mereka terdapat mahasiswa yang merupakan seorang public figure yang cukup terkenal. Berita itu heboh dan membuat para lelaki baik dari angkatan atas maupun seangkatannya membicarakan tentang Karin. Bahkan ada yang terang-terangan mengincar Karin sampai mengirimkan beberapa hadiah maupun bunga untuk menarik perhatian sang primadona.

Sosok Karina yang cantik, humble, dan pintar, membuat Aryan sempat mengaguminya. Namun yang terjadi saat itu, Aryan mengetahui bahwa Karin telah memiliki kekasih. Tidak lama dari waktu tersebut, Aryan bertemu dengan Kina dan hubungan keduanya pun mulai berjalan. Semuanya terjadi begitu saja. Mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tapi Aryan mengetahui tentang Karin. Beberapa kali Aryan pernah berkesempatan bertemu Karin karena Kina bekerja di industri yang sama dengan Karin.

Tentunya Karin mengetahui Aryan sebagai kekasih Kina. Sejak kejadian malam itu, Karin meminta Aryan merahasiakannya karena ia tidak ingin menyakiti temannya sendiri. Sampai kemarin Aryan tahu bahwa Kina yang merencanakan semuanya, Aryan begitu kecewa dan marah terhadap Kina. Kenyataan bahwa Aryan telah menghancurkan hidup Karin, membuatnya merasa begitu buruk.

Aryan kembali menatap wajah Karin dalam-dalam. Karin yang ada di hadapannya saat ini, adalah sosok yang begitu ingin ia lindungi. Saat Karin menatapnya khawatir dan terdapat guratan sedih di wajah ini, entah mengapa Aryan merasa bahwa dirinya ikut hancur. “Karin, sebelum aku ketemu sama Kina, orang yang pernah aku sukai itu kamu. Kamu seseorang yang baik, pintar, dan berbakat. Aku kagum sama kamu,” ucap Aryan pelan.

Selang beberapa menit kemudian, Aryan mendapati Karin bergerak dalam tidurnya. Aryan pun seketika terkesiap. Tidak mungkin kan Karin mendengar semua perkataannya. Aryan pun berujar dalam hatinya. Bagaimana kalau Karin mendengarnya? Apa reaksi yang akan diberikan Karin kalau sampai tahu orang yang Aryan dulu sukai adalah orang Karin sendiri. Pikiran Aryan pun menjadi rumit memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Kak …” Karin bergumam dalam tidurnya.

“Karin kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan berusaha menenangkan Karin yang tengah mengigau.

“Kak, kamu jangan pergi,” ucap Karin lagi. Aryan memperhatikan nampak sebuah kerutan di kening Karin, tapi kedua mata Karin masih terpejam.

Aryan mengangkat tangannya, lalu perlahan mendaratkannya di puncak kepala Karin, ia mengusapnya lembut di sana, “Ssshhh… ssshhh … aku di sini, Karin. Aku nggak pergi.”

Perlahan-lahan Karin mulai tenang kembali. Napasnya terdengar teratur dan igauannya telah berhenti. Aryan mengamati paras tertidur Karin yang nampak damai. Rasanya Aryan dapat lebih tenang ketika memandang wajah ini. Segala kekhawatiran dan ketakutan Aryan di hatinya, sedikit demi sedikit mulai terasa menguap. Bagaimana bisa Karin membuatnya seperti ini?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Apartemen Kina yang luas memungkinkan tempat tersebut disulap menjadi tempat pesta yang meriah. Kina mengundang sekitar 20 orang temannya untuk datang ke pesta yang ia adakan malam ini.

Makanan dan minuman, lampu-lampu, serta musik keras dari seorang DJ membuat tempat itu nampak seperti bar sungguhan. Beberapa teman Kina yang datang bersama kekasih mereka, tengah berdansa bersama mengikuti alunan musik di lantai dansa. Seperti yang sudah tidak asing lagi di kota-kota besar, berbagai kejadian dapat terjadi di sebuah pesta yang biasanya diisi oleh anak-anak muda tersebut.

“Sayang, kamu mau minum apa?” tanya Kina pada Aryan. Di salah satu meja, kini Kina tengah duduk di samping Aryan. Hampir tidak ada jarak di antara mereka. Pemandangan yang dapat dilihat Aryan di depan matanya adalah beberapa sahabat Kina yang tengah asyik bercumbu bersama kekasih mereka.

“Vodka, champagne atau apa pun yang kamu mau. You can tell me what you want,” sambung Kina sembari mengusapkan tangannya dengan pelan di pipi Aryan.

“Kina,” ucap Aryan sambil menghela dagu Kina agar perempuan itu menatapnya.

Yes?

I won’t drink. I just want you,” ucap Aryan.

Mendengar ucapan Aryan tersebut, sebuah senyum lantas tersungging di bibir Kina. “Are you sure? Hmm … okey. We can have this night, only for us, Baby,” bisik Kina dengan nada sensual setelah mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Aryan.

Oke. Can I ask you something before?” tanya Aryan.

Sure. Kamu boleh minta apa pun sama aku,” ucap Kina lantas menyematkan kecupan lembut di pipi Aryan.

***

Sesuai yang diminta oleh Aryan, saat ini Kina berada di kamarnya bersama dua orang sahabatnya untuk mengambil sesuatu. Kina membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah lingerie sutra berwarna merah dari sana.

Kina menunjukkan pakaian tersebut kepada Vivian dan Pricilla. “How do you think about this?” tanya Kina.

Looks so nice, Bestie. Ini bagus banget. Gue jamin malam ini lo akan dapetin Aryan seutuhnya,” ujar Pricil.

Good job, Kin. Oh wait, gimana minumannya? Aryan udah minum yang lo tawarin?” tanya Vivian yang sontak membuat Kina beralih menatap sahabatnya yang satu itu.

Not yet. Tapi kayak yang Pricil bilang, dengan atau tanpa minuman itu, I will definitely make him mine tonight,” ujar Kina dengan nada percaya dirinya.

You’re the best, Kina. Lo beruntung banget sih bisa mendapatkan Aryan,” cetus Pricil.

You know, hampir semua perempuan di kampus kita mendambakan gimana rasanya jadi pacar Aryan Sakha. He have everything in his life. Good looking, rich parents, nice car, big house. Oh my god, he’s totally have everything.” Vivian menimpali diiringi tawa kecilnya.

Sure, I'm the luckiest,” Kina menjeda ucapannya sesaat. Matanya memicing kala mengingat takdir yang berjalan tidak sesuai keinginannya, yang membuat hampir semua mimpinya menjadi berantakan. Kina lantas berdeham kecil, lalu ia kembali berujar. “Seharusnya gue yang menikah sama Aryan, tapi semuanya berantakan sejak perempuan itu datang. But tke a note, gue nggak akan biarin Aryan ninggalin gue. Kalian bisa pegang omongan gue,” ujar Kina sambil tersenyum penuh arti.

Pembicaraan ketiganya pun seketika terhenti begitu terdengar sebuah ketukan di pintu kamar. Vivian dan Pricil tersenyum penuh arti kepada Kina karena menebak sosok yang tengah berada di depan kamar adalah Aryan.

Benar saja, begitu Kina membuka pintunya, ia mendapati Aryan berada di sana. Kina lantas meminta dua sahabatnya untuk melenggang dari kamarnya. Sepeninggalan Vivian dan Pricil dari kamarnya, Kina pun membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan Aryan untuk masuk.

Setelah menutup pintu kamarnya, Kina melangkahkan kakinya menuju Aryan. Aryan sudah mengambil tempat di sisi ranjang queen size di kamar itu. Kina yang sudah berada di hadapannya pun langsung menempatkan lengannya di kedua pundak Aryan.

“Kina, I want to ask you something. Are you happy ... to be with me?” tanya Aryan sambil menatap Kina tepat diiris matanya.

Tanpa babibu, Kina menjawabnya dengan sangat lugas, “Of course Baby, I’m happy to be with you. Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?”

Aryan pun menggeleng sekilas. “No, you’re not happy to be with me, Shakina.”

“Maksud kamu? Aku bahagia bisa sama kamu, Aryan. Dua tahun kita pacaran, kamu masih nanya aku bahagia apa engga sama kamu. Really?”

Aryan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya sesaat sebelum wajahnya kembali berekspresi datar. Aryan menatap Kina lurus tepat di matanya dan berujar, “Dua tahun, aku coba mewujudkan kehidupan yang sempurna untuk kamu, tapi semua itu tetap nggak membuat kamu merasa cukup, Kina. You’re just obsessed with me, you’re not purely loved me. Tujuan kamu bersama aku hanya untuk membuat kamu merasa beruntung di antara teman-teman kamu. Is it true, right?”

Ucapan Aryan dan tatapannya yang berbeda itu membuat Kina seketika terdiam. Masih belum cukup rupanya, Aryan kembali meminta Kina untuk mendengarkannya baik-baik. “Aku terlalu mencintai kamu, sampai aku nggak bisa melihat dan lupa untuk merasakan seseorang yang benar-benar mencintai aku dengan tulus.”

Aryan terlalu memperlakukan Shakina dengan sempurna, sampai dirinya tidak sadar dan lupa mementingkan soal apa yang sebenarnya ia butuhkan dari sebuah hubungan.

Aryan menatap Kina dengan tatapan intensnya, lelaki itu berdeham sebelum kembali berujar, “Kina, we are break up right now. I want to ended up everything with you.” Setelah mengatakannya, Aryan bergerak menghela tubuh Kina agar menjauh darinya. Aryan hendak melenggang dari sana, tapi Kina dengan cepat menahannya.

We can’t break up, Aryan. You have to know that I really loves you. Kamu meragukan aku? Setelah dua tahun kita bareng. Apa semudah ini kita berakhir? Apa kamu punya perempuan lain?” Kina mengajukan pertanyaan beruntun tersebut kepada Aryan.

Mendengar semuanya, Aryan pun melayangkan tatapan marahnya kepada Kina. “Kamu sebaiknya hati-hati sama apa yang kamu ucapkan, Kina,” ucap Aryan. Aryan menghela napasnya, lalu menghembuskannya secara kasar. Aryan berusaha menahan emosinya, sambil masih menatap tajam ke arah Kina, ia berujar, “Dua tahun memang waktu yang lama, tapi itu nggak bisa jadi jaminan kalau seseorang bisa tulus mencintai. Di antara aku dan kamu, sekarang semuanya udah berakhir,” ucap Aryan dengan penekanan di setiap kata-katanya.

Setelah berhasil melepaskan pegangan Kina di lengannya, Aryan lekas berbalik dan berjalan menuju pintu. Ketika Aryan hendak meraih knop pintu, aksi Aryan itu tertahan berkat kalimat yang Kina lontarkan. “Kamu bisa pergi dari sini, Aryan. Tapi satu hal yang kamu harus tau. Aku nggak akan biarin kamu pergi dari hidupku. Aku akan buat kamu kembali, apa pun itu caranya.”

***

Jika Aryan mengatakan bahwa dirinya tidak hancur, maka itu adalah sebuah kebohongan. Aryan mencintai Kina, perasaannya pun masih tertinggal dan tidak mudah untuk dihapuskan begitu saja, tapi kini hatinya terlalu sakit karena rasa cinta itu sendiri.

Dua tahun menjalin hubungan dan Aryan mencoba untuk memberikan segalanya untuk Shakina, tapi sebuah kenyataan telah menjatuhkan Aryan ke dalam jurang yang begitu dalam. Aryan kecewa pada Kina dan merasa bahwa dirinya tidak berharga bagi Kina. Kina ingin bersamanya karena apa yang Aryan miliki, bukan karena itu dirinya. Waktu, cinta, perhatian, semua yang Aryan berikan nyatanya tidak cukup bagi Kina. Kina sampai rela melakukan perbuatan di luar nalar untuk memenuhi kebahagiannya sendiri. Aryan pikir dirinya cukup untuk Kina, tapi nyatanya tidak.

Semalam Aryan mengingkari perkataannya kepada Karin. Aryan tidak pulang ke apartemen. Ia terlalu kacau dan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Esok paginya saat Aryan membuka pintu apartemennya, ia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Karin di sana.

“Karin,” panggil Aryan sembari menyisiri setiap sudut apartemen. Sampai ke atas kamar pun, Aryan hanya disambut oleh udara kosong.

Begitu Aryan akan pergi meninggalkan apartemennya untuk menemukan Karin, sebuah sticky note kecil di meja makan membuat Aryan meliriknya. Aryan mengambil kertas berwarna biru pastel tersebut dan membacanya.

Di sana tertulis bahwa Karin menunggunya pulang semalam. Pagi ini Karin yakin bahwa Aryan akan pulang. Namun Karin harus berangkat ke kampus karena ada kelas pagi, jadi ia menulis sebuah note pada Aryan. Seusai membacanya, pikiran Aryan pun melayang pada kemungkinan yang mungkin dapat terjadi. Aryan mengingat kata-kata yang Kina ucapkan padanya semalam. Aryan curiga bahwa Kina tidak akan diam begitu saja. Kina sangat berpotensi melakukan sesuatu pada Karin dan mungkin dapat lebih parah dari kejadian di acara awards malam itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Apartemen Kina yang lumayan luas sangat memungkinkan tempat tersebut disulap menjadi tempat pesta yang meriah. Kina mengundang sekitar 20 orang temannya untuk datang ke pesta yang ia adakan malam ini.

Makanan, minuman, serta musik keras dari seorang DJ membuat tempat itu nampak seperti bar sungguhan. Beberapa teman Kina yang datang bersama kekasih mereka, tengah berdansa bersama mengikuti alunan musik yang bertempo cepat. Seperti yang sudah tidak asing lagi di kota-kota besar, berbagai kejadian dapat terjadi di sebuah pesta yang biasanya diisi oleh anak-anak muda.

“Sayang, kamu mau minum apa?” tanya Kina pada Aryan. Di salah satu meja, kini Kina tengah duduk di samping Aryan. Hampir tidak ada jarak di antara mereka. Pemandangan yang dapat dilihat Aryan di depan matanya adalah sahabat Kina yang tengah asyik bersama kekasih mereka.

“Vodka, champagne atau apa pun yang kamu mau. You can tell me what you want,” ucap Kina.

“Kina,” ucap Aryan sambil menghela dagu Kina agar perempuan itu menatapnya.

Yes?

I won’t drink. I just want you,” ucap Aryan.

Mendengar ucapan Aryan tersebut, sebuah senyum lantas tersungging di bibir Kina. “Are you sure? Hmm … okey … we can have this night. Only for us, Baby,” bisik Kina dengan nada sensual setelah mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Aryan.

Oke. Can I ask you something before?” tanya Aryan.

Sure. Kamu boleh minta apa pun sama aku. Just tell me,” ucap Kina sembari menyematkan kecupan lembut di pipi Aryan.

***

Sesuai yang diminta oleh Aryan, saat ini Kina berada di kamarnya bersama dua orang sahabatnya untuk mengambil sesuatu. Kina membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah lingerie sutra berwarna merah dari sana.

Kina menunjukkan pakaian tersebut kepada Vivian dan Pricilla. “How do you think about this?” tanya Kina.

Looks so nice, Bestie. Ini bagus banget. Gue jamin malam ini lo akan dapetin Aryan seutuhnya,” ujar Pricil.

“Ohiya, gimana minumannya? Aryan udah minum yang lo tawarin?” tanya Vivian yang sontak membuat Kina beralih menatap sahabatnya yang satu itu.

Not yet. Tapi kayak yang Pricil bilang, dengan atau tanpa minuman itu, I will definitely make him mine tonight,” ujar Kina dengan nada percaya dirinya.

You’re the best, Kina. Lo beruntung banget bisa mendapatkan Aryan,” cetus Pricil.

You know, hampir semua perempuan di kampus kita mendambakan gimana rasanya jadi pacar Aryan Sakha. He have everything in his life. Good looking, rich parents, nice car. Oh my god, he’s definitely have everything.” Vivian menimpali.

Alright. Seharusnya gue yang menikah sama Aryan, tapi semuanya berantakan sejak perempuan itu datang. Tapi gue nggak akan biarin Aryan ninggalin gue. Kalian bisa pegang omongan gue,” ujar Kina sambil tersenyum penuh arti.

Pembicaraan ketiganya pun seketika terhenti begitu terdengar sebuah ketukan di pintu kamar. Vivian dan Pricil tersenyum penuh arti kepada Kina karena menebak sosok yang tengah berada di depan kamar adalah Aryan.

Benar saja, begitu Kina membuka pintunya, ia mendapati Aryan berada di sana. Kina lantas meminta dua sahabatnya untuk melenggang dari kamarnya. Sepeninggalan Vivian dan Pricil dari sana, Kina pun membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan Aryan untuk masuk.

Setelah menutup pintu kamarnya, Kina melangkahkan kakinya menuju Aryan. Aryan mengambil tempat di sisi ranjang queen size di kamar itu. Kina yang sudah berada di hadapannya pun langsung menempatkan lengannya di kedua pundak Aryan.

“Kina, I want to ask you something. Are you happy ... to be with me?” tanya Aryan sambil menatap Kina diiris matanya.

Tanpa babibu, Kina menjawabnya dengan sangat lugas, “Of course Baby, I’m happy to be with you. Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?”

Aryan pun menggeleng sekilas. “No, you’re not happy to be with me, Shakina.”

“Maksud kamu? Aku bahagia bisa sama kamu, Aryan. Dua tahun kita pacaran, kamu masih nanya aku bahagia apa engga sama kamu. Really?”

Aryan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya sesaat sebelum wajahnya kembali berekspresi datar. Aryan menatap Kina tepat di iris matanya dan berujar, “Dua tahun, aku coba mewujudkan kehidupan yang sempurna untuk kamu, tapi semua itu tetap nggak membuat kamu merasa cukup, Kina. You’re just obessed with me, you’re not purely loved me. Tujuan kamu bersama aku hanya untuk membuat kamu merasa beruntung di antara teman-teman kamu. Is it true, right?” ujar Aryan panjang lebar.

Kina seketika terdiam mendengar semua penuturan Aryan itu. Masih belum cukup rupanya, Aryan kembali memintanya mendengarkannya baik-baik. “Aku terlalu mencintai kamu, sampai aku nggak bisa melihat dan lupa untuk merasakan seseorang yang benar-benar mencintai aku dengan tulus.”

Aryan terlalu memperlakukan Shakina dengan sempurna, sampai dirinya tidak sadar dan lupa mementingkan soal apa yang sebenarnya ia butuhkan dari sebuah hubungan.

Aryan menatap Kina dengan tatapan intensnya, lelaki itu berdeham sebelum kembali berujar, “Kina, we are break up right now. I want to ended up everything with you.” Setelah mengatakannya, Aryan bergerak menghela tubuh Kina agar menjauh darinya. Aryan hendak melenggang dari sana, tapi Kina dengan cepat menahannya.

We can’t break up, Aryan. You have to know that I love you so much. Kamu meragukan aku? Setelah dua tahun kita bareng. Apa semudah ini kita berakhir? Apa kamu punya perempuan lain?” Kina mengajukan pertanyaan beruntun tersebut kepada Aryan.

Mendengar semuanya, Aryan pun melayangkan tatapan marahnya kepada Kina. “Kamu sebaiknya hati-hati sama apa yang kamu ucapkan, Kina,” ucap Aryan. Aryan menghela napasnya lalu menghembuskannya secara kasar. Aryan berusaha menahan emosinya, sambil masih menatap tajam ke arah Kina, Aryan pun berujar, “Dua tahun memang waktu yang lama, tapi itu nggak bisa jadi jaminan kalau seseorang bisa tulus mencintai. Di antara aku dan kamu,sekarang semuanya udah berakhir,” ucap Aryan dengan penekanan nada di setiap kata-katanya.

Setelah berhasil melepaskan pegangan Kina di lengannya, Aryan lekas berbalik dan berjalan menuju pintu. Saat Aryan hendak meraih knop pintu, Kina berujar lagi dan itu menahan aksi Aryan. “Kamu bisa pergi dari sini, Aryan. Tapi satu hal yang kamu harus tau. Aku nggak akan biarin kamu pergi dari hidupku. Aku akan buat kamu kembali, apa pun itu caranya.”

***

Jika Aryan mengatakan bahwa dirinya tidak hancur, maka itu adalah suatu kebohongan. Aryan mencintai Kina, perasaannya pun masih tertinggal dan tidak mudah dihapuskan begitu saja, tapi kini hatinya terlaku sakit karena rasa cinta itu sendiri.

Dua tahun menjalin hubungan dan Aryan mencoba untuk memberikan segalanya untuk Shakina, tapi sebuah kenyataan telah menjatuhkan Aryan ke dalam jurang yang begitu dalam. Aryan kecewa pada Kina dan merasa bahwa dirinya tidak berharga bagi Kina. Waktu, cinta, perhatian, semua yang Aryan berikan nyatanya tidak cukup bagi Kina. Kina sampai rela melakukan perbuatan di luar nalar untuk memenuhi kebahagiannya sendiri. Aryan pikir dirinya cukup untuk Kina, tapi nyatanya tidak.

Semalam Aryan mengingkari perkataannya kepada Karin. Aryan tidak pulang ke apartemen. Ia terlalu kacau dan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Esok paginya saat Aryan membuka pintu apartemennya, ia tidak menemukan tanda-tanda Karin berada di sana.

“Karin,” panggil Aryan sembari menyisiri setiap sudut apartemen. Sampai ke atas kamar pun, Karin tidak ada di sana.

Begitu Aryan akan pergi meninggalkan apartemennya untuk menemukan Karin, sebuah sticky note kecil di meja makan membuat Aryan meliriknya. Aryan mengambil kertas berwarna biru pastel itu dan membacanya.

Di sana tertulis bahwa Karin menunggunya pulang semalam. Pagi ini Karin yakin Aryan akan pulang, tapi Karin harus berangkat ke kampus karena ada kelas pagi. Seusai membacanya, pikiran Aryan pun melayang pada kemungkinan yang mungkin dapat terjadi. Aryan mengingat kata-kata yang Kina ucapkan padanya semalam. Aryan curiga bahwa Kina tidak akan diam begitu saja. Kina sangat berpotensi melakukan sesuatu pada Karin dan mungkin dapat lebih parah dari kejadian di acara awards waktu itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan membuka pintu apartemennya dan langsung menemukan Shakina di sana. Shakina nampak mengulaskan senyum semringahnya dan mendekat kepada Aryan. Detik berikutnya, Kina merangkul lengannya sembari berujar, “Sayang, aku boleh masuk, kan? Karin ada di dalam?”

“Ada Karin dan mamaku. Kamu nggak bisa masuk, Kina,” jawab Aryan.

“Kak, siapa yang dateng?”

Kehadiran Karin yang tiba-tiba di tengah keduanya, seketika membuat Aryan menoleh ke arah Karin.

“Karin, gue boleh masuk, kan?” ujar Kina sembari melayangkan tatapannya kepada Karin.

Karin masih terdiam di tempatnya, ia tidak menjawab pertanyaan Kina, sampai akhirnya Kina berujar lagi sembari menatap Aryan, “Aku telfon kamu dari kemarin, tapi hp kamu nggak aktif. Aku kangen banget lho sama kamu.”

Dengan perlahan Aryan berusaha melepaskan lengan Kina yang berada di lengannya. Namun Kina yang keras kepala, bergantian mengambil tangan Aryan lalu menggenggamnya.

“Kalau kamu mau masuk, silakan. Rencananya kita mau makan siang bareng mama juga,” ujar Karin yang seketika membuat Aryan menatap Karin dengan tatapan penuh tanda tanya.

Namun Karin lebih dulu melenggang masuk ke dalam, berlalu dari hadapan Aryan dan Kina. Karin mengatakan bahwa ia harus kembali membantu mama memasak di dapur. Hidangan makan siang sebentar lagi akan siap dan mereka bisa makan bersama.

***

Aryan duduk di samping Kina, sementara di hadapannya ada Karin dan Tiara. Pagi tadi mamanya memang datang ke apartemennya dan berencana untuk memasak bersama Karin. Mamanya juga membawakan beberapa stok makanan yang rupanya merupakan makanan kesukaan Karin.

“Karin, gimana masakan Mama? Kira-kira rasanya kurang apa, Sayang?” tanya Tiara sambil menatap Karin.

Karin mengulaskan senyumnya ke arah Tiara dan berujar, “Rasanya hampir pas semua, Mah. Enak banget, makasih ya Mah,” ujar Karin.

“Sama-sama, Sayang. Buat menantu sama calon cucu, Mama senang banget kalau bisa berbuat sesuatu,” ucap Tiara diiringi seulas senyum di wajahnya.

Acara makan pun berlanjut dan tidak ada obrolan berarti yang terjadi. Ketika Karin hendak menuangkan minuman ke gelas Aryan, Kina bergerak lebih dulu mengambil teko air di meja dan melakukan hal yang hendak dilakukan oleh Karin.

Beberapa saat yang lalu, Kina telah mencoba untuk membuka obrolan agar akrab dengan Tiara, tapi ibu dari Aryan itu malah menjawabnya ala kadarnya. Justru Tiara terlihat sangat menyayangi Karin dan Kina seperti hanya mendapat angin kosong. Hal tersebut membuat Kina kesal, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya.

Selang 20 menit kemudian, acara makan pun selesai. Rupanya Tiara belum ingin pulang dari sana. Mamanya mengatakan bahwa masih ingin mengobrol bersama Karin. Sementara itu Kina memberitahu Aryan bahwa ia ingin pulang tepat selesai acara makan siang.

Aryan melenggang untuk menghampiri Karin di dapur dan mengatakan kalau ia akan mengantar Kina pulang. “Karin, aku anter Kina dulu ya. Aku habis ini langsung pulang, kamu sama mama di sini dulu ya.”

Awalnya Tiara sempat tidak setuju kalau Aryan mengantar Kina. Tiara tentu sudah tahu semuanya soal Kina. Tiara berusaha sebisa mungkin bersikap baik di hadapan perempuan itu. Tiara mengatakan untungnya ia ia masih sanggup untuk melakukannya. Hal tersebut sebagian besar terjadi karena peringai Karin. Karin telah berusaha meyakinkan Tiara dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Ketika sampai di apartemennya, Kina menahan Aryan untuk pulang. Kina mengatakan bahwa sebentar lagi teman-temannya akan datang untuk melakukan pesta di apartemennya. “We can have this night for us. I know you well, Babe. You like party and vodka so much, and tonight I will give it all for you,” ujar Kina.

Begitu Aryan hanya diam dengan wajah minim ekspresinya dan tidak lekas menjawabnya, Kina pun memicingkan matanya dan berujar, “Apa bener kalau kamu sama Karin udah punya perasaan khusus? Kamu mau ninggalin aku, Aryan?”

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina, tapi Kina berusaha untuk membuat Aryan kembali menatapnya. Detik berikutnya, Kina lantas sedikit berjinjit dan segera menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Kina mencium Aryan, tapi detik berikutnya alis Kina mengernyit kala Aryan tidak membalas ciuman tersebut. Aryan hanya mematung di sana dan perlahan menjauhkan tubuh Kina darinya, hingga bibir Kina akhirnya terlepas begitu saja dari Aryan.

Oke, I will stay this night for the party,” ujar Aryan sambil menatap Kina tepat di iris coklat gelapnya.

Nice. You chose the right choice, Baby. C’mon,” ucap Kina sembari meraih tangan Aryan dan mengajaknya masuk ke dalam apartemen miliknya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin menginap di rumah Syerin dan belum tau kapan akan kembali. Rasanya Karin tidak ingin melihat Aryan. Ia terlalu takut dengan rasa sakit yang akan menghampirinya, entah untuk alasan apa Karin merasakannya. Harusnya Karin merasa baik-baik saja, toh sejatinya yang dilakukan oleh Aryan sesuai dengan apa kata hatinya. Aryan jelas akan lebih memihak kepada Kina apapun yang mungkin terjadi.

Karin teralihkan dari pikirannya begitu ponselnya berbunyi. Kali ini bukan Aryan yang coba menghubunginya, melainkan Nayna. Karin menatap layar ponselnya sesaat, ia tidak kunjung menjawab telfonnya sampai akhirnya sambungan tersebut terputus dengan sendirinya.

Rupanya tidak sampai lima detik kemudian, Nayna kembali menghubunginya. Karin akhirnya memutuskan mengangkat telfon tersebut, hatinya mendorongnya untuk melakukannya dan mungkin ada sesuatu penting yang ingin disampaikan Nayna.

“Halo … Kak Karin,” ujar Nayna dengan suaranya yang terdengar panik.

“Halo Nay? Ada apa Nay?” balas Karin.

“Kak, koko baru aja tau soal pelaku dibalik kejadian di Bali.”

Nayna pun menjelaskan detail mengenai kronologi kejadian. Setelah semuanya, Karin tidak menyahuti panggilan Nayna di ujung sana. Karin masih terlalu shock dan tidak tahu harus memberikan respon apa.

“Kak?” panggil Nayna lagi setelah Karin hanya terdiam.

“Nayna, kamu tau Kak Aryan sekarang di mana?” tanya Karin setelah perlahan-lahan berhasil mengumpulkan kekuatannya untuk kembali berbicara.

“Barusan koko pergi Kak setelah tau semuanya. Papa sama om Rama coba cegah, tapi koko keburu pergi. Koko nggak pulang ke apartemen ya Kak?”

***

Karin memutuskan untuk kembali ke apartemen dengan membawa koper yang berisi sebagian bajunya. Begitu sampai di sana, Karin langsung mencari sosok Aryan. Namun kekhawatiran Nayna beberapa saat lalu sungguhan terbukti. Aryan tidak pulang ke apartemen. Saat ini Karin merasakan hal yang sama, ia juga khawatir terhadap Aryan.

Karin mengambil ponselnya di tasnya, ia mencoba menelfon Aryan berkali-kali. Karin menunggu Aryan menjawabnya dengan harap cemas, tapi hasilnya nihil. Aryan tidak menjawab panggilannya dan pesan yang Karin kirimkan juga belum dibaca.

Karin memang kecewa dengan keadaan yang terjadi. Setelah mengetahui pelaku di balik kejadian malam itu dan apa motifnya, tentu membuat Kairn merasa marah dan kecewa. Namun usai semua itu, Karin justru lebih memikirkan kondisi Aryan.

Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Karin. Karin pun memutuskan meminta bantuan seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Aryan. Karin tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi kepada Aryan.

***

Karin memutuskan untuk kembali setelah hampir 1 jam ia dan Leon mencari Aryan. Mereka telah mendatangi beberapa tempat yang kemungkinan menjadi tujuan Aryan. Tempat terakhir yang mereka datangi adalah apartemen Kina. Leon yang turun ke sana, sementara Karin tetap di mobil. Sekembalinya Leon ke mobil, tatapan lelaki itu sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Gimana Rin? Masih mau cari lagi?” tanya Leon begitu mereka sudah dalam perjalanan.

“Kak Leon, tolong anter gue pulang aja ya,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Rin, lo yakin? Kita masih bisa cari Aryan kalau lo mau.”

“Gue yakin nanti Kak Aryan bakal balik. Gue percaya dia nggak ngelakuin hal yang kita semua khawatirkan.”

***

Karin sampai di apartemen dan memutuskan untuk tidur setelah mengganti pakaiannya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 malam dan belum ada tanda-tanda Aryan kembali. Karin beberapa kali turun ke lantai bawah untuk mengecek, tapi lagi-lagi hanya udara kosong yang menyambutnya.

Karin merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar sembari memanjatkan doa di dalam hatinya. Karin ingin Tuhan melindungi Aryan dengan segala yang telah terjadi. Karin berharap Aryan masih dapat berpikir jernih lalu memutuskan untuk kembali.

Tengah malam ketika Karin terjaga dari tidurnya, ia melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah. Saat netranya menangkap sosok dari arah balkon, Karin segera menuju ke sana. Meskipun lampu ruang tamu tidak dinyalakan, Karin tetap bisa melihat dari pintu kaca balkon bahwa Aryan tengah berada di sana. Dengan sebuah vape di satu tangannya, Aryan menghembuskan uap dari benda tersebut.

Karin masih berdiri di depan pintu ketika Aryan menyadari kehadirannya. Keduanya lalu saling bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Karin menggeser pintu kaca balkon dan kini berada tepat di depan Aryan.

Balcon

“Karin, kamu ngapain di sini? Kamu masuk ya, angin di sini kenceng,” ujar Aryan sembari mematikan vapenya lalu memasukkannya ke saku jaketnya.

Karin terlihat menghembuskan napasnya yang terdengar lega. “Kak, semua orang khawatir sama kamu lho,” ujar Karin sambil menatap Aryan lekat-lekat.

“Khawatir soal apa?” tanya Aryan.

“Waktu kamu tau semuanya, Nayna bilang kamu langsung pergi gitu aja. Nayna nelfon aku dan aku langsung pulang, tapi kamu nggak ada. Aku cari kamu sama Leon ke beberapa tempat, sampai ke apartemen Kina, tapi kamu juga nggak ada di sana.”

Aryan dapat melihat guratan kekhawatiran di wajah Karin. Aryan maju selangkah, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap bahu Karin sekilas.

“Aku nggak papa, Karin,” ucap Aryan.

Karin akhirnya mengangguk, lalu ia sedikit mendongak untuk menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu kenapa nggak jawab telfonku? Jam berapa kamu pulang? Kenapa nggak bangunin aku biar aku tau kalau kamu udah pulang?” tanya Karin bertubi-tubi.

“Waktu aku nyampe tadi, aku langsung ke atas, aku liat kamu udah tidur. Koper kamu juga ada di sana. Kamu udah pulang dan tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin kamu,” jelas Aryan.

Karin baru teringat. Kemarin ia pergi begitu saja dengan membawa sebagian bajunya, tanpa memberi tahu Aryan sama sekali.

“Maaf, aku ke nggak bilang kamu. Aku ke rumah kak Syerin kemarin dan nggak bilang apa-apa ke kamu,” ungkap Karin.

“Kenapa kamu tiba-tiba ke rumah kak Syerin?” Pertanyaan Aryan itu tidak memiliki jawaban yang pasti di dalam benak Karin. Karin ingin menceritakan yang sebenarnya pada Aryan soal kejadian Kina yang terjatuh, tapi Karin terlalu takut Aryan tidak akan mempercayainya.

It’s oke. Kita bahas itu nanti. Sekarang kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan.

Karin malah menggeleng, “Kak, kita harus bicara.”

“Soal apa?”

“Kamu nggak akan bikin kita semua khawatir lagi kan, Kak?” Di kedua mata Karin nampak sebuah kilatan bening. “Mama, papa, Nayna, om Rama, semuanya khawatir sama kamu.”

Setelah terdiam beberapa detik, Aryan pun mengeluarkan suaranya, “Iya, Karin. Aku nggak akan bikin kalian khawatir lagi. Aku janji,” ucap Aryan.

Karin yang duduk di hadapan Aryan, ia memperhatikan Aryan tengah menundukkan kepalanya. Fakta yang terungkap pasti sulit bagi Aryan saat ini, Karin bisa melihat bagaimana hancurnya lelaki itu.

Detik berikutnya, Aryan mendongakkan kepalanya dan menatap Karin tepat di iris matanya. “Karin, aku minta maaf sama kamu,” ujar Aryan dengan suara bergetar, matanya nampak memerah dan berkaca-kaca. “Kamu harus mengandung, kamu harus siap menjadi ibu di usia yang muda. You trapped with me and I’ve ruined your life,” sambung Aryan.

Karin pun hanya menatap Aryan selama beberapa detik. Melihat Aryan seperti ini, entah mengapa membuat Karin merasa sama hancurnya.

“Kak, ini bukan salah kamu. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu,” ucap Karin dengan nada lembutnya. “Apa yang udah terjadi, kita nggak bisa terus menyesalinya, Kak. Di balik ini semua, pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Buat kamu, buat aku, dan mungkin juga buat Kina. You don’t need to say sorry to me,” tambah Karin.

“Kamu ingat soal rencana kita buat mancing Kina?” tanya Karin.

Aryan pun mengangguk. “Iya, aku ingat. Kenapa?”

“Aku pikir itu berhasil. Waktu acara awards kemarin, Kina tiba-tiba nemuin aku di ruang tunggu. Aku mau jelasin ini ke kamu, tapi aku takut kamu nggak percaya sama aku,” ucap Karin.

Aryan lantas terdiam. Mungkin benar yang dikatakan oleh Karin. Bisa jadi saat itu Aryan tidak akan mempercayai penjelasan Karin. Aryan tahu di pikiran dan hatinya hanya ada sosok Kina dan dirinya terlalu buta untuk melihat sosok Kina yang sebenarnya.

“Karin, you can tell me. What is actually happened last night?” tanya Aryan.

Karin menatap Aryan, ia mengangguk dan mengatakan akan menceritakan semuanya. “Kina bilang, seharusnya piala itu jadi miliknya, bukan milikku. Kina yang harus menikah sama kamu, bukan aku. Aku harus menjauh dari kamu meskipun kita terikat pernikahan. Setelah Kina bilang semuanya, aku mau pergi dari sana, tapi Kina nahan aku. Dia bilang antara kita akan selesai kalau udah nggak ada seorang anak sebagai pengikat.”

Selanjutnya yang terjadi, Aryan hampir bisa menebaknya sendiri tanpa Karin menjelaskannya lebih lanjut. Karin memperhatikan reaksi Aryan setelah mendengar semuanya. Aryan terlihat sedang berusaha menahan amarahnya.

“Karin, aku akan memastikan Kina dapat pelajaran dari apa yang udah dia perbuat,” ujar Aryan sambil menatap Karin penuh keyakinan.

“Maksudnya? Kamu mau bawa kasus ini ke jalur hukum?” tanya Karin.

Aryan mengangguk, “Aku akan coba tanya pendapat ke kuasa hukum papa. Semuanya bisa diurus, aku akan mengusahakannya.”

Karin pun dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Aryan. Aryan terlihat sungguh-sungguh dan bertekad kuat atas apa yang lelaki itu katakan sebelumnya.

Aryan kembali menatap Karin lekat, kemudian ia berujar, “Karin, aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak akan membiarkan semuanya selesai semudah ini. Kamu dan anak kita, kalian adalah prioritas utamaku. Aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kalian lagi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Selama dalam perjalanan pulang, Dara tidak mendapat banyak penjelasan dari Karin. Karin hanya mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mendorong Kina. Kejadian yang terlihat nyatanya bukanlah seperti itu.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Karin berada di ruang tamu, ia menunggu Aryan untuk kembali. Namun kenyataan rasanya seperti menampar Karin. Ia lekas bertanya pada dirinya sendiri, kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa ia harus mengharapkan Aryan kembali? Kina jelas punya posisi yang lebih tinggi darinya di hidup Aryan. Sementara Karin? Karin pun tidak merasa bahwa Aryan perlu mempercayai penjelasannya.

Karin tidak dapat lagi membendung air matanya. Perempuan itu terisak, mengeluarkan semua rasa perih dan kesalnya yang kini terasa menjadi satu. Aryan … kenapa lelaki itu dapat membuatnya merasa sesakit ini?

***

Pagi harinya sekitar pukul delapan, Aryan baru kembali ke apartemen. Semalam Kina meminta untuk ditemani, sehingga Aryan memutuskan tinggal satu malam di rumah Kina.

Begitu Aryan sampai, ia tidak menemukan Karin di setiap penjuru apertemen. Setelah mengecek ponselnya dan tidak menemukan pesan apa pun dari Karin, Aryan segera melangkahkan kakinya ke lantai atas.

Aryan membuka lemari pakaian dan menemukan sebagian pakaian Karin telah tiada dari sana. Sebuah koper di atas lemari yang biasa ada di sana, tidak juga Aryan temukan. Aryan pun mencoba untuk menghubungi Karin, tapi ia tidak mendapatkan jawaban apa pun.

Begitu Aryan akan melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah, sebuah telfon masuk ke ponselnya pun menahannya. Itu adalah telfon dari papanya. Aryan lekas mengangkatnya dan mendengarkan semua yang papanya ucapkan dengan seksama.

“Oke Pah, Aryan ke sana sekarang ya,” ucap Aryan setelah papanya selesai berbicara. Sambungan telfon pun di akhiri dan Aryan bergegas keluar dari apartemennya sambil membawa kunci mobilnya.

***

Aryan menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan datar dan dinginnya. Bagaimana tidak, sesaat lagi Aryan akan mendengarkan secara langsung dari perempuan itu mengenai apa yang terjadi di Bali antara dirinya dan Karin. Perempun berambut coklat gelap di depannya ini adalah sosok yang telah membawa Karin ke kamarnya malam itu.

Air muka Aryan nampak memerah karena menahan amarah, rahangnya pun terlihat mengeras. Rama, kepala bodyguard papanya yang mengamati hal tersebut, berusaha mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi. Rama mencoba menenangkan Aryan dan mengatakan bahwa lelaki itu perlu mengontrol emosinya.

“Indira, silakan kamu jelaskan pada Aryan soal kejadian itu. Saya minta kamu mengatakan selengkap-lengkapnya, tanpa ada yang kamu tutupi,” ujar Rama pada perempuan di hadapan Aryan.

Aryan nampak asing mendengar nama yang Rama sebutkan barusan, hingga terlihat sebuah kerutan di keningnya. Aryan pun mengalihkan tatapannya pada orang kepercayaan papanya itu. “Om, dia bukannya Arumi? Terus Arumi Lestari itu siapa?” tanya Aryan.

“Kamu dengarkan dulu penjelasannya, Aryan. Indira, silakan,” ujar Aryo menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aryan. Papanya itu melayangkan tatapan tegasnya pada Aryan, meminta Aryan untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan dari Indira.

Indira kini mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Ia mendapati Aryan menatapnya dingin dan kilatan di matanya sangat menggambarkan bahwa lelaki itu tengah diluputi oleh emosi. Tania berdeham sekilas, sebelum akhirnya perempuan itu berani membuka suaranya, “Kejadian di Bali waktu itu, semuanya direncanakan. Saya diminta seseorang untuk melakukannya.”

“Siapa orang yang nyuruh kamu?” tanya Aryan.

“Orang yang nyuruh saya ingin menjatuhkan Karina dengan cara menjebaknya untuk tidur dengan pria lain. Tapi rencana malam itu nggak sepenuhnya berhasil.”

Aryan menghembuskan napasnya kasar. Apa yang barusan diucapkan Indira benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Rupanya Indira juga adalah orang yang mencampur minuman Karin dengan obat perangsang. Rencana sudah disusun, tapi kenyataannya tidak semulus yang diharapkan.

“Rencananya nggak berhasil karena seharusnya bukan kamu laki-laki yang terjebak dengan Karin malam itu. Setelah membawa Karin ke sana, ternyata ada satu kesalahan. Key card yang diberikan Shakina salah, jadi Karin malah pergi ke kamar kamu,” lanjut Indira lagi. Pada bagian tersebut, Aryan hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya dari mulut Indira.

Saat Aryan melayangkan tatapan menghunusnya ke arah Indira, perempuan berusia 25 tahun itu nampak ketakutan. Aryo dan Rama segera menahan Aryan yang hendak menghampiri Indira dan mencegah sesuatu yang mungkin bisa saja terjadi.

“Aryan, kamu tenang dulu. Kasih waktu untuk Indira jelasin sampai selesai,” ujar Aryo.

“Apa maksud kamu membawa nama Shakina?” tanya Aryan dengan nadanya yang terdengar sedikit bergetar.

Aryan kembali duduk di kursinya setelah ditenangkan oleh Aryo dan Rama. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya secara kasar, tatapannya kini kembali menatap Indira dengan intens.

Beberapa detik setelahnya, Indira pun kembali berujar, “Shakina menginginkan project Clairs Beauty di Bali waktu itu. Tapi karena Karin yang akhirnya mendapatkan project itu, Kina meminta saya untuk menjebak Karin. Saya nggak punya pilihan, saya butuh uang dan jumlah yang Kina tawarkan sangat cukup untuk biaya berobat ibu saya di rumah sakit. Saya terpaksa menerima pekerjaan itu.”

Indira melakukannya karena ingin mendapatkan uang dari orang yang menyuruhnya, yakni Shakina. Arumi Lestari merupakan ibu dari Indira, beliau harus menjalani pengobatan di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut yang akhirnya mendasari Indira menerima tawaran yang diajukan Shakina padanya.

“Saat Shakina tau Karin hamil, dia semakin membenci Karin. Karin mengandung anak pacarnya sendiri, Kina menyalahkan semua yang telah terjadi,” jelas Indira lagi.

Soal rumor perselingkuhan Aryan dan Karin di internet, Indira menjelaskan bahwa Kina sengaja merekayasa rumor tersebut untuk membuat seolah Karinlah yang bersalah. Kina ingin isu yang tersebar adalah Karin yang merebut kekasihnya, sampai berujung dirinya mengandung anak dari pacar orang lain.

Aryan terlihat memejamkan matanya sejenak. Rasanya beribu anak panah kini seperti menghujam jantungnya. Aryan tidak dapat berpikir dengan jernih. Fakta yang terungkap barusan berhasil membuatnya malu terhadap dirinya sendiri. Aryan tidak dapat memikirkan bagaimana jika Karin mengetahui semuanya, mungkin perempuan itu akan jauh lebih sakit ketimbang dirinya saat ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Malam ini sebuah acara bergengsi diadakan oleh Musse, yakni salah satu platform yang cukup ternama. Musse sendiri merupakan platform sosial media berbasis video yang mewadahi para content creator Indonesia hingga dunia untuk menunjukkan bakat dan kreativitasnya.

Musse Awards tahun ini digelar di salah satu gedung stasiun televisi yang cukup terkenal dan disiarkan secara live. Perhelatan akbat tersebut tidak hanya diisi dengan pembacaan nominasi dan pemberian hadiah bagi para pemenang, tapi juga ada penampilan spesial dari para penyanyi papan atas.

Pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang, diselingi dengan penampilan dari para performance. Para pemenang akan menaiki panggung untuk menerima penghargaan dari kategori masing-masing. Kini tiba saatnya untuk pembacaan nominasi untuk kategori Top Beauty Influencer. Kategori tersebut merupakan alasan bagi Karin dan beberapa teman beauty influencer lainnya untuk datang ke acara ini. Mereka yang masuk ke dalam kategori mendapat undangan khusus untuk bisa menghadari Musse Awards.

Dari panggung di depan sana, dua orang pembaca nominasi akan membacakan pemenang kategori Top Beauty Influencer yang didapat hasil dari voting audiens.

“Setelah melihat siapa saja yang mengisi kategori top beauty influencer, berikut kami akan membacakan pemenang dari hasil voting,” ujar salah satu MC.

“Baiklah, pemenang kategori top beauty influencer Musse Awards diberikan kepada Karina Roland. Kepada Karina, kami persilakan untuk menerima penghargaan di atas panggung.”

***

Karin menatap piala penghargaan yang kini berada di tangannya, seketika sebuah senyum terulas di wajahnya. Mungkin ini hanya sebuah simbol dengan ukiran namanya di sana. Namun bagi Karin ini lebih dari itu. Usaha dan ketekunannnya selama ini telah membuahkan hasil dan Karin cukup bangga dengan apa yang telah ia capai.

Karin kini tengah menunggu Dara yang sedang pergi ke toilet. Managernya itu memintanya untuk berada di ruang tunggu sebelum nanti mereka keluar dari gedung bersama. Acara malam ini telah selesai, beberapa teman-teman sejawat Karin ada yang sudah pulang dan sebagian memilih mengadakan acara after party seusai acara awards ini. Karin memutukan untuk langsung pulang, karena ia juga sudah janjian dengan Aryan dan mereka akan bertemu di lobi gedung.

Tiba-tiba sebuah bunyi pintu yang dibuka dan suara langkah kaki yang mendekat, membuat Karin menoleh. Di ruangan itu yang sebelumnya hanya ada Karin, kini terlihat sosok Shakina yang berjalan ke arahnya dengan sebuah senyum tipis di bibir penuhnya.

Begitu Shakina sampai di hadapan Karin, perempuan bersurai coklat gelap sepunggung itu berdeham sebelum akhirnya berujar, “Jadi ini alasan kamu bisa jadi mapres dan mendapatkan segalanya yang kamu inginkan. Aku akuin, kamu emang pintar Karin. Kamu pintar untuk memanfaatkan keadaan,” ujar Kina.

Karin hanya menatap Kina dan mendengarkan ucapannya. Kedatangan Kina secara tiba-tiba ke ruangan yang dikhususkan untuknya tersebut, membuat Karin sedikit terkejut. Namun Karin berusaha menutupi itu, ia membiarkan Kina untuk menyelesaikan ucapannya.

“Piala yang kamu pegang sekarang, harusnya jadi milik aku. Orang yang kamu anggap sebagai suami kamu saat ini, dia yang nawarin kamu kesepakatan buat bercerai, tapi kamu tetap bersedia untuk menikah sama dia. Dia ngelakuin semua itu demi aku, Karin,” Kina menjeda ucapannya beberapa saat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Setelah menghembusan napasnya dengan sedikit kasar, Kina kembali berujar, “Dia nggak peduli sama kamu, dia cuma peduli sama anaknya yang ada di kandungan kamu. Between you and him, itu semua cuma kecelakaan. So you better watch what you’re doing with my boyfriend,” ucap Kina sambil tidak melepas tatapannya dari Karin sedikit pun.

“Kamu udah selesai?” tanya Karin setelah ia menahan dirinya untuk tetap diam.

Kina tidak menjawab Karin, jadi Karin kembali membuka suaranya, “Kalau kamu udah selesai dengan ucapan kamu, aku permisi.”

Karin pun hendak melangkahkan kakinya melewati Kina, tapi pergerakannya tersebut ditahan oleh Kina yang kini memegang pergelangan tangannya.

“Kamu pikir, kamu bisa pergi gitu aja? Kamu pikir aku rela kamu dan Aryan menikah?” sarkas Kina.

Karin balas menatap Kina, dengan tatapan tenangnya, Karin pun berujar, “Aku nggak berniat untuk ikut campur dalam hubungan kamu dan Kak Aryan. Andaikan aja malam itu kamu nggak nolak lamarannya, mungkin dia nggak akan menikahi perempuan lain. Kalau emang kamu benar-benar cinta sama Kak Aryan, harusnya kamu nggak menyakiti hatinya malam itu.”

Mendengar ucapan Karin bahkan dengan nadanya yang begitu tenang, rupanya sukses untuk membuat emosi Kina tersulut. Kilatan amarah di mata Kina pun terpancar, lalu detik berikutnya Kina mengarahkan tangannya untuk mendarat mulus di pipi Karin.

Karin merasakan pipinya memanas. Kina baru saja menamparnya. Karin nampak menundukkan kepalanya, ia berusaha menahan rasa perih itu dan air matanya yang hampir saja terdorong untuk keluar.

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Karin pun memutuskan untuk melangkah melewati Kina begitu saja. Namun belum sampai Karin di pintu, Kina lebih dulu menarik lengannya dan mencengkramnya erat.

“Dari awal semua permasalahan akan selesai kalau bayi di kandungan kamu nggak ada. Bayi itu yang udah halangin hubungan aku dan Aryan,” ucap Kina dengan nada pelannya di dekat telinga Karin.

Kina kini tersenyum penuh kemenangan pada Karin yang tidak bisa berkutik di tempatnya. Karin sangat tahu apa yang akan Kina lakukan dan Karin hanya memikirkan anaknya saat ini. Dengan segala usaha Karin untuk lepas dari Kina, akhirnya Karin pun berhasil melakukan perlawanan dan meloloskan dirinya.

Rintihan kesakitan pun keluar dari mulut Kina bertepatan dengan pintu ruangan yang dibuka. Di sana nampak beberapa staff yang kini melihat kejadian tersebut. Kina terjatuh di lantai berkat usaha Karin melakukan perlawanan. Kaki Kina terkilir karena ia mengenakan high heels yang cukup tinggi.

Belum selesai dengan semua itu, Karin mendapati kehadiran Aryan di sana yang rupanya sedari tadi tengah berusaha untuk menghubunginya. Aryan melayangkan tatapannya pada Karin selama beberapa detik sebelum akhirnya menatap ke arah Kina.

Karin menyaksikannya. Aryan berlutut di dekat Kina dan saat itu juga Kina mengatakan bahwa Karin-lah yang baru saja mendorongnya.

“Aryan, kaki aku sakit,” ujar Kina sambil menatap Aryan.

Aryan pun perlahan membantu Kina untuk bangun dari posisinya. Kina mengatakan ia tidak bisa berjalan, jadi Aryan memutuskan untuk menggendongnya.

Tepat sebelum Aryan pergi membawa Kina dari sana, Dara pun muncul. Manager Karin itu meminta para staff untuk memberinya jalan. Ketika melihat Karin, Dara otomatis melayangkan tatapan khawatirnya.

“Karin, lo nggak papa, kan? Ada kejadian apa sih barusan?” tanya Dara. Pandangan Dara juga tidak luput dari Aryan dan Kina. Seolah mengerti dengan situasinya, Dara pun segera mengajak Karin untuk pergi. Namun Karin justru mematung di sana, ia mendapati tatapan kecewa yang Aryan tujukan padanya. Aryan telah pergi dengan Kina yang berada di gendongannya, lelaki itu juga meminta bantuan pada seorang staff untuk menyiapkan mobil untuk membawa Kina.

Masih di ruang tunggu itu, Karin belum berniat menjawab pertanyaan managernya tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dara akhirnya meminta Karin untuk duduk di kursi, agar Karin bisa lebih tenang. Dara memperhatikan mata Karin yang kini nampak berkaca-kaca. Karin masih termangu dengan semua rasa sakit yang tiba-tiba terasa meremas hatinya, menggantikan rasa perih di pipinya berkat tamparan Kina beberapa saat yang lalu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Ini sudah sepekan berlalu sejak acara fashion parade di Singapore. Dari kecurigaan yang Karin ungkapkan kepada Aryan, keduanya akhirnya berencana untuk melakukan suatu tes. Mereka akan berkencan malam ini, tepat sekali di malam minggu. Ide ini Aryan yang mengungkapkannya untuk pertama kali. Memang di awal terdengar sedikit aneh, tapi Aryan punya tujuan dari rencananya tersebut. Sebuah restoran grill dan barbeque pun menjadi pilihan keduanya. Mereka akan makan malam bersama dan menjalankan akting sesuai dengan rencana yang sudah dirancang sebelumnya.

“Kak, kamu yakin tes ini bisa berhasil?” tanya Karin begitu di hadapannya dan Aryan tersaji berbagai hidangan daging yang siap untuk dipanggang sendiri.

Aryan terlihat mengambil satu jenis daging yang sebelumnya telah ditunjuk oleh Karin, lelaki itu akan memanggangnya.

“Kemungkinan berhasilnya delapan puluh persen. Aku tau Kina orang yang seperti apa,” ujar Aryan.

Karin pun mengulaskan senyumnya sekilas. “Alright,” ujar Karin sembari menuangkan minuman di gelasnya dan kemudian melakukan hal yang sama pada gelas milik Aryan.

Beberapa menit berlalu, daging yang dipanggang oleh Aryan pun telah matang. Aryan lekas mengasurkan daging itu ke piring milik Karin, lalu melakukannya juga ke piring miliknya. Keduanya pun menikmati makanan dengan tenang. Karin makan dengan lahap dan lumayan banyak, matanya nampak berbinar ketika merasakan daging lembut dan nikmati yang tengah disantapnya.

“Kak, soal yang di Singapore kemarin, aku akan ceritain ke kamu detail yang aku denger,” ujar Karin setelah beberapa menit mereka menyantap makanan. Beberapa piring kecil yang sebelumnya berisi daging kini sedikit lagi hampir tandas.

“Kamu makan aja dulu, Karin,” ucap Aryan sambil tertawa pelan. “Habis kita makan, kamu bisa cerita ke aku.”

***

Karin mengatakan bahwa perutnya terasa sangat kenyang. Beberapa bulan yang lalu sejak tahu dirinya hamil, Karin tidak bisa makan daging kesukaannya. Sekarang saat rasa mualnya sudah berangsur berkurang di usia 12 minggu kandungannya, Karin dapat kembali menikmati makanan kesukaannya itu.

Karin menjadi kalap makan tadi, hingga kini mereka memutuskan untuk berjalan di alun-alun kota. Karin mengatakan pada Aryan bahwa dengan berjalan biasanya makanannya akan cepat turun dan begah di perutnya akan menghilang.

“Karin,” ujar Aryan yang membuat langkah Karin terhenti.

Karin mengalihkan atensinya dari pemandangan gedung dan lampu kota Jakarta kepada Aryan yang berada di sampingnya.

“Kenapa Kak?”

“Kamu mau foto di sini? Lampunya bagus untuk jadi background,” ucap Aryan.

Karin pun menorehkan pandangannya pada lampu yang ditunjuk oleh Aryan, yang berada tepat di belakangnya. “Boleh. Kamu fotoin yang bagus ya,” putus Karin kemudian.

Sesi berfoto itu pun berlangsung dengan Karin yang berpose candid. Latar di belakangnya adalah lampu-lampu kota yang memiliki perpaduan warna yang nampak begitu cantik. Setelah beberapa kali mengambil foto, Karin mengatakan bahwa hasil jepretan yang Aryan ambil lumayan bagus.

“Kak, gantian aku fotoin kamu ya?” ujar Karin.

“Mau ngapain kamu foto aku?”

Karin pun nampak berpikir, alisnya sedikit menyatu. “Buat bahan tes kita malam ini dong, Kak. Nanti aku upload di Instagram story. Kita harus buat beberapa dokumentasi, Kak. Nggak cukup satu.”

Alright. Kamu bisa fotoin aku.” Aryan akhirnya menyetujui ide tersebut.

***

Saat hari mulai beranjak semakin malam, Aryan dan Karin memutuskan untuk pulang. Mereka berada di dalam mobil dengan mesin yang dinyalakan dan baru saja menghabiskan dua mangkuk es buah yang dibeli di dekat alun-alun. Karin yang memintanya dan Aryan menurutinya. Karin mengatakan kalau dirinya merasa kembali lapar, akhirnya Aryan mengikuti Karin dan mereka berakhir menikmati es buah di dalam mobil.

“Aku nggak sengaja dengar info itu dari beberapa teman model lainnya. Di industri ini, hal kayak gitu memang udah lumrah. Apalagi kalau seseorang punya privilege tersebut, kecil kemungkinan untuk dia nggak menggunakan kesempatan itu. Selain itu, dua hari lalu aku dapat info dari Fannia, PR Clairs Beauty yang bersedia membantu kita cari tau soal Arumi,” cerita Karin. Aryan belum menjalankan mobilnya, mesin hanya dinyalakan dan Karin berkata bahwa akan menceritakan detail kejadiannya.

“Fannia bilang apa ke kamu?”

Karin mengubah posisi duduknya sedikit untuk sepenuhnya menghadap Aryan. “Jadi sebelum Clairs dealing sama aku buat project di Bali, ada model yang menginginkan job itu. Aku nggak tau mekanismenya gimana, tapi akhirnya Clairs dealing-nya sama aku. Model yang mengincar project itu adalah Kina.”

Aryan pun berusaha menyambungkan benang-benang merah untuk dapat jawaban dari kejadian ini. Sebagian fakta yang telah terungkap, memang membuat panahnya mengarah pada Kina.

“Waktu itu ada seminar bisnis perusahaan papa di Bali dan aku diminta untuk datang ke sana,” ucap Aryan. Ini lah awal mula mengapa dirinya bisa pergi ke Bali bersamaan dengan Kina. “Kina bilang mau nyusul, karena dia juga ada kerjaan di Bali waktu itu. Orang yang punya akses untuk ke kamar aku, cuma Kina. Siangnya Kina minta duplikat key card kamar hotelku. Aku baru ketemu sama Kina malamnya, setelah acara seminar,” ujar Aryan panjang lebar.

“Kalau emang cuma Kina yang punya akses ke kamar kamu, kira-kira apa motif dia ngelakuin semua itu?” ujar Karin lebih ke sebuah pertanyaan yang terdengar sangat abu-abu.

Aryan menghembuskan napasnya panjang. Pegangan satu tangannya di kemudi mobil pun tiba-tiba mengerat. Tidak terpikirkan sedikit pun di dalam benaknya, kalau Kina adalah pelaku di balik kejadian antara dirinya dan Karin di Bali. Itu terasa tidak mungkin, tapi fakta yang dikatakan oleh beberapa saksi teman sejawat Karin, semakin menguatkan semua dugaan tersebut.

Ada potensi kuat penyebab Kina melakukannya adalah karena rasa persaingan di dalam pekerjaan. Antara Karin dan Kina, yang mungkin selama ini Karin hanya menganggapnya hal biasa, tidak menutup kemungkinan bahwa timbul rasa cemburu. Perasaan tersebut yang akhirnya dapat mendorong seseorang melakukan sesuatu yang bahkan di luar nalar manusia sekali pun.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷