alyadara

Management Olympics atau yang lebih di kenal dengan M-Olympics adalah acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen FEB Universitas Pelita Bhakti, guna memperingati ulang tahun HIMA Manajemen. M-Olympics tahun ini diadakan dengan lima rangkaian acara yang terdiri dari kegiatan ilmiah, sosial, dan seremonial.

Di minggu ketiga, di mana hampir sampai pada penghujung acara, sampailah pada rangkaian acara Bazar dan Art Festival. Para mahasiswa dan mahasiswi wajib untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Setiap angkatan di jurusan manajemen membagi tugas untuk kepanitian agar seluruh acara dapat terlaksana dengan baik dan sesuai tujuan program kerja yang telah disusun.

Karin dan beberapa sahabatnya berpartisipasti menjadi panitia dalam acara Bazar. Letak acara tersebut berada di sayap kiri aula luas milik FEB. Hari ini terlihat aula telah disulap menjadi tempat yang sangat keren. Mengusung tema peduli lingkungan, tempat itu di dekor dengan nuansa alam, hingga suasananya terasa seperti berada di dalam hutan peri yang dipenuhi dengan pepohonan dan karpet yang mirip dengan rerumputan.

“Rin, ayang lo jadi dateng nanti?” celetuk Aulia yang tepat berada di samping kanan Karin. Mereka sedang berkeliling untuk memastikan para pedagang telah siap dengan tenant makanan mereka. Sebentar lagi acara akan mulai, para panitia pun berpencar menjalankan tugas masing-masing sesuai job description yang telah di berikan.

Karin menoleh ke arah ke Aulia. “Jadi. Tadi udah ngabarin katanya mau dateng habis kelas,” ujar Karin menjawab pertanyaan sahabatnya itu.

Aulia pun mengangguk-angguk. “Sayang ya, nggak bisa satu kepanitiaan sama ayang. Emang doi ngambil acara apa Rin kemarin?”

“Marketing competition doang, di hari pertama kemarin. Soalnya jadwal magang sama kuliahnya lumayan padat,” jelas Karin.

“Ohiya, mahasiswa menuju akhir semester gitu ya. Cerah banget sih muka lo karena mau disamperin doi. Duh enaknya yang punya ayang,” goda Aulia.

Karin yang digoda seperti itu lantas hanya mengulaskan senyumnya. Seperti itulah yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Semuanya antara Karin dan Aryan berjalan dengan baik. Mereka menjalani hubungan yang sesungguhnya, bahkan di hadapan orang-orang yang seringkali membuat mereka mengira bahwa nikah muda adalah hal yang sangat menyenangkan.

Reaksi yang diberikan teman-teman Karin maupun Aryan rupanya juga sangat positif dan begitu me-support keduanya. Masa lalu yang Karin dan Aryan miliki kini sama-sama telah sampai di halaman terakhir sebuah buku. Sejak saat itu, lembar baru Aryan dan Karin pun sudah dimulai.

***

Aryan telah sampai di aula dan langsung menemukan Karin yang tengah berada di salah satu tenant makanan. Karin sedang bersama beberapa sahabatnya dan tengah menikmati sebuah jajanan khas korea.

Tempat tersebut seketika heboh ketik Aryan hadir di sana. Aryan menyapa teman-teman Karin dan rupanya hampir semua teman Karin sudah mengenalnya. Rupanya lelaki itu cukup tenar juga di kalangan adik tingkatnya.

“Cie, disamperin sama Ayang,” celetuk Beryl, salah satu teman laki-laki Karin.

“Review dong Rin, gimana rasanya nikah muda,” timpal salah satu teman perempuannya, Delia.

Obrolan singkat antara Aryan dan teman-teman Karin pun akhirnya mengalir begitu saja. Mereka membahas beberapa hal yang ringan atau sesekali menggoda Karin yang kerap menceritakan soal Aryan pada teman-temannya. Kartu AS Karin ada di teman-temannya, sehingga terjadilah sesi pembocoran rahasia di sana.

Aryan dapat dengan mudah membaur dan akrab dengan teman-temannya. Karin senang melihatnya. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari mempunyai sahabat yang ikut mendukung apa yang kita jalani. Pernikahan Aryan dan Karin, adalah salah satu bagian dari hidup Karin yang begitu didukung oleh sahabatnya.

“Kak Aryan, tadi Karin kepengen boba gula aren di tenant yang warna ungu di sana. Tapi karena stand-nya lumayan jauh sama ngantrinya penuh banget, jadi belum sempet beli deh tadi,” adu Sarah kepada Aryan. Seketika Aryan menoleh pada Sarah dan menanyakan hal tersebut pada Karin untuk memastikan.

“Aku beliin ya? Kamu tunggu di sini sebentar,” ujar Aryan kemudian.

Karin belum menjawab Aryan sampai Nadhifa lebih dulu menyeletuk, “Tenang Kak, Karin aman di sini sama kita-kita. Kakak beli aja bobanya.” Nadhifa lanas terkikik dan langsung diikuti oleh teman-temannya yang lain.

Akhirnya Aryan pun pergi dari sana untuk membeli minuman yang diinginkan oleh Karin. Saat Aryan mulai menjauh dan punggung lebarnya tidak lagi terlihat, Karin melayangkan tatapannya pada teman-temannya yang segera dibalas oleh senyuman penuh arti dan mereka kembali menggoda Karin untuk yang kesekian kalinya.

“Hmm … apa pun di lakukan demi ayang. Mantep lah, sweet banget Rin laki lo,” cetus Delia.

“Hari ini TMI banget ya guys,” ujar Karin.

“Nggak papa dong. Lo harus lebih tancep gas, Rin. Gue sih kalau jadi lo, punya suami kayak kak Aryan, udah gue kurung terus di rumah. Nggak akan gue biarin ada cewek yang ngelirik doi.”

***

Karin menunggu Aryan kembali cukup lama. Karin jadi tidak tega, pasti antreannya sungguhan panjang. Sebentar lagi akan ada live music yang diisi oleh bintang tamu yang merupakan salah satu penyanyi terkenal. Teman-teman Karin ingin menonton acara tersebut, tapi jadi tertunda karena harus menemani Karin duduk di salah satu bangku di dekat tenant.

“Guys, kalian kalau mau ke panggung, duluan aja. Gue nunggu kak Aryan dulu di sini, nanti gue nyusul,” ucap Karin pada teman-temannya.

“Kita nggak mungkin ninggalin lo di sini sendiri, Rin. Bumil harus dijagain. Santai lah, nonton dari agak jauh juga nggak papa,” ujar Delia.

Tidak lama berselang, Aryan pun akhirnya kembali. Namun pria itu tidak datang sendiri. Di sampingnya ada sosok perempuan yang begitu Karin dan teman-temannya kenali. Perempuan tersebut adalah Shakina, mantan pacar dari Aryan.

Teman-teman Karin terdiam dan saling melempar pandangan. Mereka nampak tidak suka dengan kehadiran Kina di sana. Sudah jelas-jelas yang mereka tahu antara Aryan dan Kina sudah berakhir. Bukan hanya mereka yang tahu, hampir di jurusan Manajemen baik di angkatan atas mau pun bawah, sudah mengetahui kabar tersebut berkat informasi yang tersebar dengan begitu cepat.

Karin mengarahkan tatapannya pada Aryan dan Kina, yang dibalas Kina dengan sebuah senyum tipis di wajahnya. Tidak sampai lima detik kemudian, begitu Kina hendak meraih tangan Aryan untuk digenggam, Aryan pun menghempaskannya dengan tegas.

Aryan beralih menuju ke sisi Karin. Rupanya saat membeli minuman boba untuk Karin tadi, Aryan bertemu dengan Kina dan perempuan itu tidak mau menjauh darinya. Shakina masih nekat mendatangi Aryan, padahal Aryan sudah memutuskan hubungannya secara tegas pada Kina.

Aryan nampak menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit kasar. Kina tidak ingin pergi juga dari sana. Aryan pun mengatakan bahwa ia akan menegaskan sesuatu kepada Kina, di hadapan banyak orang, toh Kina sendiri bersedia untuk itu. Rupanya Kina pun cukup bermuka tebal.

“Kina, aku udah akhirin semuanya sama kamu. Di antara kita semuanya udah selesai,” ucap Aryan.

Kina masih dengan tampang lempengnya, maju selangkah lebih dekat pada Aryan dan Karin. Aryan dengan sigap melindungi Karin, menghela Karin untuk berada di balik punggungnya.

“Kamu yakin? Kamu udah nggak peduli soal kesepakatan yang kita buat waktu itu?” ujar Kina dengan berani.

Tidak sepantasnya ini dibicarakan di depan banyak orang. Di antara Aryan, Karin, dan Kina ini adalah persoalan yang cukup pribadi. Aryan pun melayangkan tatapan memperingatinya ke arah Kina.

“Kina, kamu bebas mau ngelakuin apa pun yang kamu mau,” Aryan menjeda ucapannya sesaat. Detik berikutnya Aryan meraih satu tangan Karin untuk digenggam erat dengan tangan besarnya. “Tapi kamu lebih baik tau, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu sampai ngelakuin suatu ke Karin. Kamu tau kan, aku nggak pernah main-main sama apa yang aku bilang,” ucap Aryan tegas.

Usai kejadian itu, Aryan meminta izin pada teman-teman Karin untuk memberi ruang pada Karin, Aryan, dan Kina untuk berbicara. Teman-teman Karin mengatakan bahwa mereka mempersilakan itu, mereka memaklumi situasi yang tengah terjadi.

Aryan, Karin, dan Kina akhirnya menjauh dari keramaian. Di sini lah, di dekat parkiran mobil, ketiganya pun berhadapan dan harus menyelesaikan apa yang terjadi.

“Aku cuma mau ngomong berdua sama kamu, Aryan,” ucap Kina.

“Di antara kita udah selesai. Kalau kamu merasa masih punya urusan sama aku, artinya kamu juga punya urusan sama Karin,” tukas Aryan yang seketika membuat Kina terdiam.

“Kina, aku dan Karin udah tau semua yang kamu lakukan. Kita akan bawa kasus itu ke jalur hukum,” ujar Aryan lagi.

Sebelum semua ini, Aryan sudah mengatakan pada Kina bahwa hubungan mereka benar-benar berakhir. Aryan tidak peduli akan kesepatakan dan ancaman yang Kina berikan untuk menyakiti Karin. Selama Aryan berada di samping Karin, ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh perempuannya.

“Aryan, aku nggak ngerti apa yang kamu bilang. Maksud kamu kasus apa?” tanya Kina.

Aryan lantas mengulaskan senyum smirk-nya, lalu lelaki itu berujar, “Don’t even act like you don’t know anything. Kamu mungkin merasa pintar udah ngerencanain semuanya. Tapi satu hal, karena kamu berani melakukannya, kamu harus berani juga untuk nanggung resikonya.”

Kedua pupil mata Kina nampak membesar begitu otaknya dapat mencerna maksud dari perkataan Aryan. Dari ekspresi Kina saat ini, perempuan itu tidak dapat lagi mengelak dari semua perbuatannya. Wajahnya mengatakan kalau Kina paham betul apa yang Aryan katakan.

“Aryan, kenapa kamu lebih milih dia dibanding aku? Kita udah pacaran dua tahun, sedangkan kamu baru ketemu sama dia beberapa bulan,” ujar Kina bertubi-tubi.

“Kamu beneran mau tau alasannya?” tanya Aryan.

“Iya, aku mau tau,” balas Kina cepat.

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin yang berada di sampingnya. Setelah dua detik menatap Karin dengan tatapan teduhnya, Aryan kemudian mengambil tangan Karin dan menggenggamnya.

Pandangan Kina pun tertuju kepada dua buah cincin serupa yang melekat di jari manis Aryan dan di jari manis Karin. Rahang Kina nampak mengeras dan air mukanya berubah menjadi agak merah.

“Mungkin ini kesalahan aku di masa lalu. Aku terlalu memperlakukan kamu dengan istimewa, Kina,” ucap Aryan.

Selama ini Aryan memperlakukan Kina layaknya seorang ratu, mungkin hal itu adalah faktor yang membuat Kina menjadi sosok yang egois, self oriented, dan selalu ingin menang sendiri. Kina mencintai Aryan, itu memang benar, tapi Kina lupa cara untuk menghargainya.

“Apa semuanya karena dia hamil anak kamu? Kamu jadi kasian sama dia,” ucap Kina. Kina menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan nyalangnya. “Karin, lo sengaja ngerencanain semua ini, kan? Lo mau ngerebut apa yang sebelumnya jadi milik gue. Gue nggak nyangka lo sejahat ini.”

Usai mendengar ucapan Kina itu, Karin merasakan genggaman tangan Aryan di tangannya mengerat. Karin memperhatikan air muka Aryan yang kini berbeda, lelaki itu nampak sedang menahan amarahnya.

Karin beralih menatap Aryan, ia mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha untuk menenangkannya.

“Aku nggak pernah merebut apa pun milik orang lain, Kina,” Karin membuka suaranya. Karin lantas menatap Kina tepat di iris matanya, tatapan Karin tetap santai, tapi terasa tegas. “Kak Aryan punya masa lalu sama kamu. Tapi sekarang, dia punya masa depan sama aku. Aku akan mastiin dia bahagia sama aku. Aku pikir cukup pinter untuk ngerti semuanya,” pungkas Karin.

Kina terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian, Kina kembali berujar sambil tidak melepas tatapannya dari Aryan. “Kenapa harus dia, Aryan? Kenapa? Aku bisa ngasih semua yang kamu mau, aku selalu ada buat kamu, aku cinta sama kamu. Kamu cuma terpengaruh sama dia, Aryan. Kamu nggak sadar itu?” Kina masih kekeuh dengan pikiran keras dan sikap egoisnya.

Aryan menatap Kina lurus, tatapan tersebut terasa begitu tegas dan menghunus. Aryan menghela napasnya panjang, lalu ia berujar, “Kina, ini terakhir kali aku bilang ini sama kamu. Kamu sama Karin beda. Karin menghormati aku, dia tau apa yang bener-bener aku butuhin dari sebuah hubungan, dari sebuah komitmen. Karin peduli sama aku tanpa ngeliat apa yang pernah aku lakuin sama dia. Aku pernah nyakitin Karin, tapi itu nggak sama sekali ngilangin rasa peduli dan hormatnya sama aku. Everything between you and me, is clear right now. Aku harap kamu bisa menghormati hubungan aku dan Karin.”

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin. Aryan mengulaskan senyum hangatnya untuk Karin. Berikutnya ia mengayunkan tangan Karin yang berada di genggaman tangannya, mengajak Karin untuk pergi dari sana. Karin mengangguk, ia segera mengikuti langkah Aryan untuk berjalan di sisinya.

Aryan berjanji pada Karin, selama lelaki itu berada di sampingnya, ia akan memastikan bahwa Karin aman. Sama dengan janji Aryan padanya, Karin pun akan melakukan yang sama. Karin akan berada di sisi Aryan, membalas genggaman tangannya, memastikan lelakinya bahagia dan mendapat kasih sayang yang cukup darinya.

Karin dan Aryan memang memiliki pengikat yang di awal telah mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Mereka dipertemukan dengan kejadian yang tidak terduga, sesuatu yang sama sekali tidak mereka harapkan. Namun rasa cinta yang tumbuh perlahan di antara mereka adalah rasa yang murni. Karin dan Aryan telah sama-sama hancur di awal, tapi berkat usaha dan tekad kuat keduanya, mereka berhasil mewujudkan kebahagiaan itu. Bukan hanya untuk Aryan dan Karin sendiri, melainkan juga untuk bayi mungil yang hidup di rahim Karin. Nyawa kecil itu merupakan alasan kedua setelah cinta yang membuat Karin dan Aryan memutuskan untuk bersatu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan mengerti mengapa Karin tidak membiarkannya untuk turun dari mobil. Selama Karin bertemu dan berbincang dengan Rey di kafe, Aryan menunggunya. Karin mengatakan bahwa ia memikirkan perasaan Rey. Rey adalah masa lalu bagi Karin yang akan hanya menjadi kenangan. Aryan pun menghargai masa lalu milik Karin tersebut. Aryan berpikir bahwa buku yang dimiliki Karin dan Rey telah menemui akhir kisahnya. Kini Karin akan memulai lembar di buku yang baru bersama Aryan.

“Kak,” ujar Karin.

Tanpa menoleh ke samping karena harus fokus menyetir, Aryan menanggapi panggilan Karin, “Iya?”

Karin memperhatikan Aryan yang tengah menyetir menggunakan satu tangannya. Kemudian Karin mendekatkan dirinya, ia bergerak memeluk satu lengan Aryan yang bebas. Aksi Karin tersebut membuat Aryan menjadi kurang fokus terhadap jalanan di depannya. Aryan, lo harus fokus nyetir, ucap Aryan dalam hatinya

“Nggak papa aku gini?” Karin bertanya dengan nadanya yang terdengar sedikit sungkan.

“Nggak papa,” jawab Aryan cepat. Dalam hatinya, Aryan merasa begitu senang mendapati perilaku Karin padanya.

Karin dan Aryan telah sepakat untuk memulai lembar kehidupan mereka yang baru. Setelah masing-masing mengakhiri hubungan dengan pasangan mereka, Aryan dan Karin memutuskan untuk belajar saling mencintai. Mereka akan membuka hati dan menjalani kehidupan berumah tangga bersama. Karin akan belajar untuk mencintai Aryan, setelah lebih dulu Aryan mengungkapkan perasaan padanya.

Aryan dan Karin melakukannya untuk masa depan keduanya dan juga anak mereka kelak. Bayi di dalam kandungan Karin akan membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya. Jika Aryan dan Karin sebagai orang tua saja tidak tahu rasanya saling mencintai, bagaimana bisa bersamaan memberikan cinta tersebut untuk sang bayi? Itu terdengar agak mustahil untuk terjadi. Aryan dan Karin telah memutuskan untuk memberikan kasih sayang terbaik untuk satu sama lain dan juga untuk anak mereka.

Aryan menoleh sekilas ke arah Karin dan melihat Karin nampak memejamkan matanya. Kepala Karin mendusel di lengan Aryan, nampak nyaman, mirip seperti bayi koala.

“Karin, kamu ngantuk?” tanya Aryan dengan suara pelan. Mendengar pertanyaan Aryan, Karin segera mendongakkan kepalanya. Mata mereka bertemu dan Karin mengurai pelukannya di lengan Aryan. Saat ini mobil mereka sedang berhenti karena lampu merah di depan, jadi Aryan bisa memberikan fokus penuhnya kepada Karin.

“Mau peluk aja. Aku nggak ngantuk sih sebenarnya,” jawab Karin diiringi senyum kecilnya.

Alright, peluk aja,” ucap Aryan sembari mengusap sekilas pipi Karin. Jeda dua detik berikutnya, Aryan pun nampak mengulaskan senyumnya. Senyum tersebut tampak begitu alami, hingga Karin sedikit terkejut dibuatnya. Melihat senyum itu, hati Karin rasanya berantakan, persis seperi lemari pakaiannya ketika ia belum sempat merapikannya.

Karin akhirnya memutuskan untuk kembali memeluk lengan Aryan ketika lelaki itu mulai memanuver mobilnya, rupanya lampu lalu lintas sudah berubah warna menjadi hijau.

Apa yang Karin lakukan tersebut berdasarkan atas kata hatinya. Tiba-tiba Karin ingin merasakan bagaimana hangatnya berada di pelukan Aryan. Lebih dari yang Karin bayangkan, ternyata rasanya begitu nyaman sekaligus membahagiakan.

Di tempat duduknya, Aryan sedang berusaha mengatakan pada dirinya sendiri untuk tetap fokus menyetir. Rupanya aksi kecil Karin tersebut mampu menciptakan dampak yang cukup besar bagi Aryan. Halus kulit Karin yang bersentuhan dengan kulit lengannya, tutur lembut ketika perempuan itu berucap, sukses membuat jantung Aryan membuncah hebat di dalam sana.

***

Karin baru saja kembali ke kamar setelah mengganti pakaiannya. Sedikit belum terbiasa, jadi Karin masih melakukannya di dalam kamar mandi. Kamar yang beberapa bulan lalu hanya ditempati olehnya seorang diri, kini keadaannya nampak berbeda. Karin tidak sendirian lagi, ia tahu ketika akan tidur akan ada seorang yang memandang wajahnya. Ketika ia membuka mata, akan ada sosok yang menatapnya sembari mengulaskan senyum surgawinya yang nampak begitu teduh.

Ketika Karin sudah menjamah kasur lebih dulu, tidak lama setelah itu Aryan menyusulnya.

“Kak, kamu pakai parfum yang mana?” tanya Karin sembari menautkan alisnya.

“Parfum aku yang biasa. Kenapa? Kamu kurang suka ya sama aromanya?” tanya Aryan.

Karin seketika menggeleng. “Suka kok,” ujar Karin.

“Parfumnya masih nempel banget, padahal kamu udah ganti baju,” tambah Karin lagi.

“Bagus dong, kalau gitu. Selama kamu suka sama aromanya,” celetuk Aryan dengan lugas.

Ucapan spontan Aryan itu seketika membuat keduanya terdiam. Dengan cepat dan tanpa bisa dicegah, kedua belah pipi Karin terasa memanas dan muncul rona kemerahan di sana. Aryan juga baru sadar akan ucapannya barusan. Keduanya pun teringat momen kemarin malam, di mana saat mereka tidur bersama dan entah siapa yang memulainya lebih dulu. Ketika pagi hari tiba, Aryan dan Karin sama-sama bersemu mendapati keadaan mereka yang tengah berpelukan. Entah gaya tidur macam apa yang telah mereka coba, sampai-sampai seharian Karin dapat merasakan wangi parfum Aryan menempel hampir di seluruh bagian tubuhnya.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Aryan dan Karin akhirnya telah sama-sama berbaring di kasur dengan posisi saling membelakangi. Sepertinya mereka memiliki pikiran yang sama. Entahlah, tapi kalau ingat malam itu, memang masih membuat keduanya malu.

Beberapa saat berlalu, Karin membalikkan tubuhnya untuk berhadapan dengan Aryan. Rupanya Karin belum tidur. Begitu pun dengan Aryan. Biasanya Aryan lebih cepat terlelap dibandingkan Karin, tapi kini Aryan justru hanya menatapnya lekat dengan matanya yang masih nampak segar.

“Karin, can I hug you?” tanya Aryan.

Pupil mata Karin nampak melebar kala mendengar pertanyaan tersebut. Waktu itu mereka melakukannya tanpa kesadaran seutuhnya dari masing-masing pihak. Namun kini secara sungguhan, dalam keadaan seratus persen sadar, Aryan memintanya kepada Karin.

Tidak sampai lima detik berselang, Karin mendekatkan dirinya terlebih dulu. Dengan perlahan tapi pasti, Karin akhirnya bergerak melesak ke dalam pelukan Aryan. Lengan Karin melingkari toroso Aryan, lalu Karin menyandarkan kepalanya di dada bidang Aryan.

Ruang yang sebelumnya hadir di antara mereka, kini telah menghilang begitu saja. Mereka saling mengisi satu sama lain, mendekap untuk menyalurkan kasih dan kehangatan. Ketika Karin sedikit mendongakkan kepalanya untuk kemudian meletakkan dagunya di bahu Aryan yang lebih tinggi, Aryan membalasnya dengan mengeratkan pelukannya di tubuh Karin.

Karin dapat merasakan Aryan memberikan suapan lembut yang terasa sangat menenangkan di punggungnya. Satu tangan Aryan yang lain berada di pinggang Karin, memeluknya mesra di sana.

Tanpa frasa apa pun, sebuah gestur cukup untuk menunjukkan suatu perasaan. Orang yang mendekap Karin saat ini, adalah orang yang Karin yakini dalam hatinya. Empat bulan, rasanya itu merupakan waktu yang singkat. Aryan tidak sempurna, tapi ketulusannya telah membuat Karin mencintai sosoknya. Aryan menunjukkan sosok yang apa adanya di hadapan Karin.

Karin melihat perjuangan Aryan dan pria itu mau belajar dari kesalahan di masa lalu. Perjuangan yang Aryan lakukan tidak sia-sia, itu membuahkan hasil. Perlakuan sederhana Aryan pada Karin, caranya memberi perhatian, telah menyentuh sisi terdasar ruang di hati Karin.

Saat Karin merasakan pelukan Aryan sedikit mengendur, Karin pun sedikit menjauhkan wajahnya agar dapat menatap wajah Aryan. Rupanya Aryan telah tertidur, helaan napas pria itu terdengar beraturan dan begitu damai.

I never expected that I will fall in love with you like this. Kak, I love you truly, madly, and deeply,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin ingat, ia pernah meminta takdir agar tidak berpihak untuknya dan Aryan. Karin ingin ia tidak jatuh cinta kepada Aryan. Namun Karin lupa meminta untuk tidak membuat Aryan memiliki perasaan terhadapnya.

Karin menyadarinya, sekeras apa pun dirinya berusaha, hatinya tetap akan memilih orang yang tepat. Seseorang yang telah ditakdirkan untuknya akan datang padanya, sekuat apa pun tembok yang sebelumnya memisahkan mereka.

Setelah puas dengan pikiran monolognya, Karin memutuskan untuk memejamkan matanya. Namun belum sempat itu terjadi, pergerakan Aryan kembali membuat Karin terjaga. Rasanya perasaan ini masih lucu, tapi itu lah adanya. Karin akan menghabiskan hidupnya dengan mendapati paras ini setiap matanya terbuka, di setiap ruang di hidupnya, Karin telah merelakan tempat tersebut diisi oleh Aryan.

“Karina, I love you,” ucap Aryan dengan matanya yang terlihat agak sayu.

Suddenly?”

I just want you to know,” jelas Aryan.

I knew it,” ujar Karin pelan.

Oke, that’s good.”

Karin tertawa kecil berkat tingkah random yang beberapa kali Aryan tunjukkan di depannya. Setelah tawanya mereda, Karin mendapati Aryan menatapnya dalam-dalam. “Karin, can we try something?”

Something what?” tanya Karin.

A kiss,” jawab Aryan kemudian.

Aryan memperhatikan reaksi Karin usai ucapannya tersebut. Kedua pipi Karin nampak berubah warna menjadi merah muda, terlihat sangat kontras dengan kulit cerahnya.

Tatapan intens Aryan pada Karin, perlahan-lahan mampu mendobrak pintu pertahanan Karin. Karin awalnya mengatakan malu untuk melakukannya, tapi ia ingin mencoba. Karin ingin menunjukkan perasaannya kepada Aryan. Setelah keraguan yang menguap itu, Karin pun akhirnya setuju untuk melakukannya.

Keduanya lantas sama-sama melemparkan sebuah senyuman. Rasanya membahagiakan dan seperti ada yang menggelitik di dalam perut. Aryan menatap Karin dengan lekat, Karin pun membalas tatapan itu, sebelum akhirnya Aryan memangkas jarak di antara mereka. Pandangan Aryan perlahan turun menuju ke arah bibir Karin, itu sukses membuat jantung Karin berdegup dengan kencang.

Begitu Aryan memajukan wajahnya mendekat, Karin dapat merasakan helaan napas hangat Aryan yang menyapa permukaan kulitnya.

Aryan mengarahkan tangannya untuk menangkup satu sisi wajah Karin, perlakuan Aryan itu dapat menghidupkan gelora asmara yang selama ini ada di dalam diri Karin. Seperti ketika berada di dalam pesawat yang akan lepas landas, dentuman jantung Karin begitu terasa keras dan perutnya terasa geli.

Berkat suasana yang hening tersebut, Aryan tersenyum kecil karena mendengar degup jantung Karin yang tidak seperti biasanya. Lantas Aryan kembali mendapati Karin bersemu malu.

You are so cute,” ucap Aryan pelan.

It’s gonna be our first time, Kak. Aku malu,” cicit Karin.

“Nggak papa, Karin. Kamu percaya sama aku?”

Karin menatap Aryan sejenak, tidak lama kemudian, ia pun menganggukkan kepala. “Aku percaya sama kamu,” ucap Karin seraya menyunggingkan senyum manisnya.

Karin merelakan sepenuhnya dirinya, ia telah memberikan kepercayaannya kepada Aryan. Tidak sampai lima detik kemudian, dengan perlahan dan pasti, Aryan sukses memangkas habis jaraknya dengan Karin. Gerakan Aryan begitu lembut saat lelaki itu mempertemukan bibirnya dengan bibir ranum Karin.

Sesuatu yang lembap dan kenyal itu mengulum bibir Karin, sensasinya membuat Karin serasa ingin terbang ke langit. Pertemuan tersebut terasa begitu indah, dan selama beberapa detik, Karin akhirnya mulai bisa merasa rileks dan menikmatinya. Awalnya memang terasa canggung dan sedikit malu, tapi keinginan kuat lebih mendominasi Karin. Rasa cintanya pada Aryan, mendorong Karin untuk melakukannya. Karin bahagia bisa melakukannya bersama Aryan.

Setelah hampir lima menit berlalu, bibir Aryan saat ini masih mengulum bibir Karin. Aryan melakukannya dengan lihai, tapi tetap terasa lembut, hingga membuat Karin terbuai. Di sela-sela kegiatan itu, Aryan mengurainya sejenak untuk berujar pada Karin.

“Kalau kekencengan, kamu bilang ya, atau kasih kode,” ucap Aryan yang lekas di angguki oleh Karin.

Mereka kembali mencobanya. Masih sama lembutnya, bibir Aryan mulai mencium kembali bibir Karin. Dari kegiatan keduanya tersebut, Karin dapat merasakan afeksi yang ingin Aryan salurkan padanya. Karin merasa Aryan menginginkan lebih, tapi lelaki itu masih berada di fase yang sama, masih mengecup dengan lembut dengan tempo yang cukup pelan.

Sepertinya Karin berhasil membuat Aryan si professional menjadi seorang pemula. Mereka layaknya anak kecil yang baru saja mempelajari hal yang baru. Learning by doing, itu lah yang mereka lakukan.

Kegiatan tersebut bukan hanya sekedar menyalurkan kasih, melainkan bentuk komunikasi antara kedua pasangan. Masing-masing perlu mempelajari apa yang pasangan sukai, apa yang tidak disukai, guna menumbuhkan rasa empati dan perasaan yang nyaman untuk kedua belah pihak.

Saat Aryan akan melepaskan pagutannya, gerakan dari Karin yang membalas ciuman itu dengan cukup lihai, membuat Aryan mengurungkan niatnya untuk menjauh.

Kini belah bibir Karin mengecup bibir Aryan terlebih dulu. Karin menggerakkan bibirnya di atas bibir Aryan. Karin memiringkan kepalanya sedikit, guna memudahkan segala kegiatan mereka. Penyatuan itu tidak terjadi terlalu lama, tapi mampu membuat Aryan merasa bahagia, mendapati Karin yang sukarela dan berani mencoba untuk memulai pergerakan terlebih dulu.

Begitu keduanya menjauh, Aryan mengusapkan tangannya yang masih berada di sisi wajah Karin. Cara Aryan menatapnya, Karin selalu menyukai itu. Karin dibuat jatuh cinta berkali-kali setiap detik Aryan menatapnya seperti ini.

You are so amazing. Karin, terima kasih,” ucap Aryan.

You are amazing too. You’re did it very well,” balas Karin.

Aryan lantas menyunggingkan senyum bahagianya. Hatinya dan hidupnya kini terasa sangat lengkap. Merasa begitu dicintai oleh seseorang yang dicintai, adalah hal yang tidak ternilai bagi Aryan.

“Kamu ngantuk? Kita tidur ya sekarang,” ucap Karin, ia memperhatikan wajah Aryan yang terlihat sedikit sayu.

“Nggak ada ronde dua?” tanya Aryan.

“Aku kira tadi udah 3 ronde,” jawab Karin.

Aryan lekas menggeleng. Bibirnya sedikit mencebik dan ekspresinya dibuat seolah lelaki itu kini sedang bersedih.

“Kamu mau lagi emangnya?” tanya Karin.

Aryan lekas mengangguk. Namun rupanya yang dimaksud Karin adalah ciuman di pipi. Karin pikir Aryan akan menolaknya dan kecewa, tapi lelaki segera mendekatkan wajahnya ke arah Karin. Aryan memberi isyarat supaya Karin mencium pipinya.

Karin akhirnya mendekatkan diri untuk memudahkan yang akan dilakukannya. Karin juga mengalungkan lengannya di bahu Aryan, dan dua detik berikutnya, Aryan merasakan sesuatu yang lembut mendarat di permukaan kulit pipinya. Dua kali, tiga kali, sampai lima kali, Karin memberikan ciuman itu untuknya. Aryan pun tidak bisa menahan senyuman lebar untuk terbit di wajahnya.

“Udah, kan? Atau masih mau lagi?” tanya Karin.

“Engga.”

“Oke.”

Karin menjauhkan dirinya sedikit dari Aryan. Jarak mereka masih minim, Aryan masih bisa melihat mata indah Karin yang selalu berbinar. Ketika Karin mengulaskan senyumnya, nampak dua buah eye smile yang begitu cantik di paras perempuan itu.

“Maksudnya engga sekarang, tapi besok. Boleh ya?” ujar Aryan.

Karin mengusap pelan pipi Aryan yang sebelumnya menjadi sasaran bibirnya, lalu Karin tersenyum dan mengangguki permintaan Aryan itu. “Iya, boleh,” ucap Karin yang langsung membuat Aryan tersenyum cerah.

Sebelum mereka akan pergi tidur, Aryan mengatakan ingin berbicara pada anaknya. Aryan merubah posisinya, satu tangannya di gunakan untuk menopang kepala, dan satunya lagi mengarah ke perut Karin. Begitu tangan Aryan mendarat di sana, hatinya membuncah bahagia. Aryan lantas mengusap perut Karin pelan, kemudian ia berujar di dekatnya, “Kamu seneng kan, Sayang?” tanya Aryan, lalu tatapannya tertuju ke arah Karin.

Aryan nampa menaik turunkan alisnya. Karin yang tidak mengerti maksud lelaki itu, lekas melemparkan tatapan tanya.

“Anak kita seneng, Karin. Papa sama Mamanya sekarang udah pacaran,” jelas Aryan.

“Ada-ada aja sih kamu. Kita kan udah nikah,” cetus Karin.

“Iya, kita udah nikah. Tapi kan baru pacaran sekarang. Atau … kamu udah naksir aku duluan ya dari awal kita nikah?” serbu Aryan, nadanya terdengar jenaka menggoda Karin.

“Enggak tuh,” Karin berusaha menghindari tatapan Aryan. Kalau tidak, mungkin ekspresinya bisa begitu jelas untuk menggambarkan jawabannya.

It’s oke. Kapan pun kamu mulai punya perasaan ke aku, itu nggak terlalu penting, Karin,” terang Aryan.

“Terus yang penting apa?” tanya Karin.

“Yang paling penting itu waktu saat ini yang kita jalani. Kita punya masa lalu untuk disimpan, masa sekarang untuk dijalanin, dan masa depan untuk ditunggu. Kita nggak tau apa yang bisa terjadi nanti, tapi aku akan selalu berusaha mewujudkan masa depan yang baik buat kita.” Aryan menjeda ucapannya sejenak. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Karin, lalu Aryan kembali berujar, “Keluarga yang lengkap yang kamu inginkan, aku ingin aku yang bisa mewujudkan itu.”

Selama dua puluh tahun hidupnya, setiap hari Karin selalu berharap dan berdoa. Karin ingin memiliki keluarga yang hangat dan lengkap. Karin pun berusaha menjadi pantas untuk seseorang yang akan bersamanya nanti, itu sudah jadi tekadnya. Karin akan melakukan itu untuk eseorang yang akan menjadi sandaran baginya dan bisa bersandar juga padanya.

Karin lantas melayangkan tatapannya kepada Aryan, ia mengamati setiap detail paras tampan itu. Alis tebal yang melengkung rapi, kedua mata kecil yang berbentuk sabit, hidung mancung, serta bibir penuh yang tampak begitu sempurna. “Kamu beneran suami aku nggak sih?” celetuk Karin dengan nada jenakanya.

“Maksud kamu? Aku kan emang suami kamu,” ujar Aryan nampak heran.

“Ohh iya, kamu bener suamiku. Ganteng banget ya suamiku,” puji Karin sembari mengamati setiap celah dan proporsi wajah Aryan. Sempurna, hanya itu yang terlintas di benak Karin.

“Kalau nggak ganteng, kamu masih mau nggak sama aku?” cetus Aryan tidak kalah jenaka.

Namun Karin lebih pintar untuk merangkai jawaban di kepalanya. “Enggak mau, lah. Nanti anakku nggak ganteng dong kalau papanya nggak ganteng.”

“Aku beruntung dong karena ganteng?” tanya Aryan.

Karin mengangguk dengan cepat, tapi sebenarnya Karin sedang berusaha untuk menahan senyumnya. “Aku juga beruntung, Kak.”

“Karena?”

“Aku beruntung karena Tuhan ngasih kamu buat aku. Kamu dan anak kita, kalian adalah jawaban dari semua doa-doa aku selama ini. Tuhan ngasih aku lebih dari apa yang aku minta,” terang Karin.

Masa lalu yang cukup berat dan menyakitkan yang Karin alami di usia remajanya, kini telah digantikan oleh sesuatu yang lebih indah. Karin ingat ketika ia menghadapi masa sulitnya, terlebih saat harus sendiri melewati masa mudanya. Karin harus terlihat kuat di hadapan Kavin, ia adalah pengganti orang tua untuk adiknya. Berpura-pura kuat hanyalah akan membuat seseorang semakin hancur di dalam. Namun rupanya Karin berhasil bertahan dengan kehancuran itu dan perlahan-lahan bisa bangkit.

Karin ingat satu hal bahwa ia tidak menyukai hujan. Menurutnya hujan akan hanya mengacaukan segalanya, membuat orang-orang repot, membuat seragam dan sepatu sekolah Karin basah ketika hujan turun begitu saja. Saat teman-temannya diantar ke sekolah oleh orang tua mereka, Karin hanya bisa menatap kejadian tersebut dengan tatapan nanar. Tanpa seorang pun yang mengulurkan payung atau menyelipkan jas hujan di tas sekolahnya, Karin pada saat itu adalah seorang gadis yang pernah menyalahkan keadaan.

Karin merasa bahwa kehadirannya di dunia tidak diharapkan oleh siapa pun. Sama halnya dengan hujan yang datangnya kurang diharapkan, bisa dihitung hanya beberapa orang yang menyukai kehadirannya. Namun tanpa hujan, Karin tahu bahwa sebuah pelangi yang indah tidak akan pernah muncul. Pelangi tersebut dapat diibaratkan seperti kebahagiaan. Meski pun harus melalui rasa sakit, kehadirannya adalah sesuatu yang patut untuk ditunggu.

Sebelum memejamkan matanya, Karin menatap Aryan dalam-dalam, lalu ia berucap, “Kak.”

“Iya, kenapa?” balas Aryan.

I love you,” ungkap Karin. “I’m forever yours,” pungkas Karin sembari menyematkan sebuah kecupan yang terasa begitu penuh afeksi di sisi wajah Aryan.

Aryan nampak terkejut mendapati ungkapan Karin yang tiba-tiba itu. Namun tidak lama setelahnya, Aryan segera membalasnya, “Aku juga sayang kamu. I love you more, Karin,” ucap Aryan sembari memberi sebuah kecupan di kening Karin. Kecupan di kening tersebut terasa sangat bermakna bagi Karin. Rasanya ia begitu disayangi, dilindungi, sekaligus dicintai.

Bagi Karin, Aryan dan anak mereka, merupakan anugerah tidak terduga sekaligus tidak ternilai dalam hidupnya. Tuhan telah menjawab doa-doa Karin selama ini, bahkan memberinya lebih dari apa yang Karin pinta.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin menemukan Rey sampai lebih dulu di cafe yang telah mereka sepakati untuk bertemu hari ini. Sebelumnya Karin telah menghubungi Rey dan memintanya untuk bertemu. Ada hal yang ingin Karin sampaikan kepada lelaki itu.

Tidak lama dari waktu mereka memesan, seorang pramusaji pun menyajikan dua buah minuman di atas meja. Secangkir caramel macchiato untuk Rey dan secangkir lagi adalah latte untuk Karin.

Karin meneguk minumannya sejenak, lalu kembali meletakkan cangkirnya di atas meja. Sesaat kemudian, Karin melihat Rey melakukan hal yang sama dengannya. Cara Rey menatapnya, semuanya masih terasa sama. Namun ada yang berbeda dan itu terjadi dengan Karin.

“Rey, hal yang mau aku sampaikan ke kamu adalah aku ingin mengakhiri hubungan kita,” ucap Karin.

Karin menatap Rey tepat di matanya. Iris itu seketika memancarkan luka yang Karin sendiri tidak dapat mendeskripsikannya melalui frasa.

“Karin, maksud kamu apa? Kamu nggak serius sama ucapan kamu, kan?”

“Aku serius, Rey,” ucap Karin dengan nada yakinnya.

Rey segera melayangkan tatapan tanyanya, ia meminta Karin untuk menjelaskan semuanya.

“Aku bakal ngejelasin semuanya sama kamu,” ucap Karin diiringi helaan napas beratnya.

“Rey, I was truly loves you, I did. Tapi aku nggak bisa memaksakan takdir yang nggak berpihak sama kita,” ujar Karin.

“Maksud kamu?”

“Kamu lelaki sempurna dan pacar yang baik. Aku bersyukur memiliki kamu, aku bahagia sama kamu. Tapi satu hal yang kamu harus tau, aku nggak ingin memaksakan semuanya yang akhirnya cuma akan nyakitin kita berdua,” jelas Karin.

Selamanya cinta tidak hanya tentang kesempurnaan. Karin belajar banyak, soal apa yang terjadi di antara mereka. Karin telah menemukan cinta pertamanya. Cinta pertama bukan orang yang pertama kali kamu temui dan kamu cintai untuk pertama kali. Namun cinta pertama adalah orang yang bisa membuat kamu jatuh cinta sedalam itu, untuk pertama kalinya. Kamu tidak akan menyangka kapan dan dimana kamu bertemu dengannya, begitupun dengan siapa cinta pertama kamu.

“Karin, apa dua tahun semudah itu digantikan sama yang beberapa bulan?” tanya Rey. Tanpa Karin menjelaskannya, Rey sudah tahu cinta pertama yang maksud oleh Karin.

Karin menghela napasnya, lalu ia mengangguk. Rey nampak tidak percaya akan jawaban yang diberikan oleh Karin. Rey masih berusaha menampiknya, ia tidak bisa menerima keputusan Karin ini.

“Karin, apa kamu menjadikan dia pilihan saat takdir nggak berpihak ke kita?” Rey bertanya lagi.

Karin mengerti maksud dari pertanyaan Rey tersebut, maka ia memiliki jawaban untuk itu.

“Rey, aku nggak pernah menjadikan kak Aryan pilihan. Pilihan dan memilih, itu dua hal yang berbeda,” ungkap Karin.

Karin menjelaskan pada Rey bahwa hatinya telah memilih Aryan. Karin jatuh cinta pada Aryan tanpa ia memintanya. Karin membutuhkan proses untuk sampai di tahap itu. Waktu yang Rey dan Karin lalui memang lebih lama ketimbang dengan Aryan. Namun rasa cinta dan chemistry itu tidak dapat dibohongi dan digantikan oleh waktu. Sekalipun Karin dan Rey tidak ditakdirkan untuk bersama, kalau hati Karin tidak memilih Aryan, maka Karin tidak akan memutuskan bersama Aryan.

Karin kembali menatap Rey, lalu itu berujar, “Suatu hari, kamu akan nemuin seseorang untuk membuka awal baru yang lebih baik. Terima kasih untuk dua tahun yang indah ini, makasih pernah ada untuk aku. Aku bersyukur karena pernah mengenal kamu.”

Usai ucapan Karin itu, suasana itu tiba-tiba terpecah begitu ponsel di tas Karin berbunyi. Karin lekas mengangkat panggilan tersebut, ia meletakkan ponselnya di dekat telinga.

“Iya, sebentar lagi aku selesai. Oke, kamu tunggu ya,” ucap Karin di telfon dan berikutnya sambungan pun diakhiri.

Karin kembali menatap Rey, ia mengatakan bahwa dirinya harus pergi sekarang. Seseorang telah menjemput Karin, dan Rey jelas mengetahui siapa sosok itu.

“Karin, boleh aku ngajuin permintaan terakhir sebelum aku ngelepas kamu?” tanya Rey yang membuat Karin terdiam di tempatnya. Karin memikirkan perkataan itu. Tergambar jelas di raut wajah Rey, sehancur apa lelaki itu saat ini.

“Kamu mau minta apa?” tanya Karin akhirnya. Karin setuju untuk memenuhi permintaan Rey barusan.

Can I hug you for the last? You know what, I will always loving you, Karina. You have your own place in my heart.”

***

Selama beberapa detik, Karin berada di pelukan hangat Rey. Karin membiarkan Rey untuk melakukannya. Bagaimana pun, Karin tidak sanggup melihat Rey lebih hancur dari ini. Pelukan itu masih terasa sama seperti dua tahun terakhir. Hanya saja yang berbeda, Karin tidak melingkarkan lengannya di pinggang Rey. Melainkan, Karin mengarahkan tangannya untuk menepuk punggung Rey sekilas. Selang lima detik berikutnya, Rey perlahan-lahan mengurai pelukannya di torso Karin.

You need to go. He must be waiting on you,” ucap Rey kemudian.

Karin mengangguk sekilas, lalu ia bergerak mengambil tasnya di kursi. “Rey, aku pamit dulu ya,” ujar Karin sebelum melangkah dari hadapan Rey. Ketika sudah beberapa langkah Karin pergi, Rey masih menatap punggung yang menjauh itu. Mata Rey setia tertuju pada Karin, hingga perempuan itu menghampiri sebuah BMW putih di parkiran milik kafe.

Perpisahan akan selalu menyakitkan. Namun perpisahan bukanlah akhir dari segalanya. Tugas Karin di hidup Rey telah usai, begitu juga dengan tugasnya di hidup Karin. Rey akan belajar merelakan cintanya pergi untuk menemukan cinta sejatinya. Sekalipun harus hancur berkeping-keping untuk itu, Rey pikir inilah level tertinggi cintanya untuk Karin, yakni merelakan cintanya bahagia meski itu bukan bersamanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Ada seseorang yang mengatakan pada Aryan bahwa dirinya ingin menghabiskan waktu bersamanya. Selama Aryan menjalani hidupnya, belum pernah ia merasa begitu dispesialkan seperti ini. Aryan mendapat kesempurnaan itu dari keluarganya, tapi belum pernah ada seorang dari luar yang memperlakukan ia sebegininya.

Sekitar pukul 11 siang, akhirnya mereka memutuskan untuk berangkat. Karin mengatakan tempat pertama yang akan menjadi tujuan mereka adalah Jakarta Aquarium Safari. Karin sengaja memilih waktu lumayan pagi, sehingga sat mereka sampai di aquarium indoor tersebut, tempat itu masih lumayan sepi.

Jenis pengunjung yang datang ke sana berbagai macam. Ada yang bersama keluarga, sahabat, dan mungkin sama seperti Aryan dan Karin, yakni sebagai sebuah pasangan. Dari luar mereka sungguh terlihat seperti itu, terlebih lagi ketika Aryan meraih tangan Karin dan menggenggamnya erat. Hal kecil yang begitu diperhatikan oleh Aryan, perlakuan sederhana lelaki itu padanya, membuat Karin merasa bahagia.

“Kak, kita harus ambil foto,” ucap Karin. Mereka kini berhenti tepat di depan sebuah kolam kaca di mana terdapat ubur-ubur cantik dengan berbagai warna. Latar belakang yang mereka miliki itu nampak indah, warna neon dari ubur-ubur tersebut sangat kontras satu sama lain dan terlihat begitu sempurna.

Aryan dan Karin akhirnya meminta seorang petugas untuk membantu mengambil foto mereka. Terdapat beberapa hasil jepretan. Sebagian memang tampak seperti hanya siluet karena tempat ini tidak terlalu cukup cahaya. Namun justru itu yang menjadikan hasil fotonya nampak estetik.

Karin & Aryan at Indoor Aquarium

Setelah mengucapkan terima kasih pada pegawai tersebut, Aryan dan Karin pun kembali melanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat hewan akuatik maupun non-akuatik lainnya.

“Kamu mau liat apa lagi habis ini?” tanya Aryan.

“Mermaid. Katanya sih hari ini ada pertunjukan mermaid. Habis liat mermaid, baru kita ke tempat kedua ya. Takutnya nanti hujan kalau terlalu sore,” ujar Karin.

“Emangnya kenapa kalau hujan?” tanya Aryan sembari menautkan alisnya.

“Kalau hujan, hadiah utamanya kemungkinan nggak jadi, Kak.”

“Oke. Kita bisa pergi dari sini sebelum hujan,” putus Aryan sembari menyunggingkan senyum semringahnya.

***

Hari ini tidak hanya Aryan yang merasa bahwa hidupnya spesial. Karin pun merasakan demikian. Rencana yang Karin susun nampaknya berhasil. Meskipun belum mengetahui hadiah darinya, Karin dapat melihat bahwa Aryan menganggap acara ini begitu berharga.

Dari ujung rambut sampai kaki, penampilan Aryan hari ini sangatlah sempurna. Itu juga yang terjadi dengan mobil yang mereka tumpangi. Karin tahu bahwa kemarin Aryan baru saja membawa mobilnya ke salon dan hari ini Karin tidak menemukan setitik pun debu di dalam BMW putih tersebut. Aryan membuatnya semuanya nampak spesial, selama di jalan menuju tempat kedua, Karin hampir tidak berucap sama sekali. Beginikah Aryan memperlakukannya. Ketulusan Aryan, Karin dapat begitu merasakan semuanya saat ini.

“Karin, kita udah sampai,” ucap Aryan yang seketika sukses membuyarkan lamunan Karin.

“Benar ini tempatnya?” tanya Aryan memastikan.

“Iya, benar ini tempatnya. Kita nggak ke mall-nya, tapi ke rooftop,” terang Karin.

Aryan nampak berpikir sejenak. Ia jelas tahu bahwa di rooftop bangunan ini merupakan tempat wahana bianglala yang cukup besar. Mall ini terletak di tengah ibukota dan menyajikan pemandangan gedung-gedung serta lampu kota yang begitu indah untuk malam hari. Sehingga rasanya begitu cocok menaiki wahana tinggi sembari di temani oleh pemandangan malam yang indah ini.

“Kita beli makanan dulu. Kamu laper, kan?” celetuk Karin.

Aryan pun segera mengangguk. Karin lantas menjelaskan rencana kencan terakhir mereka malam ini. Mereka akan menaiki bianglala sambil menikmati makan malam dengan suasana dan pemandangan perkotaan yang cantik dari atas nanti.

Aryan yang mendengar penjelasan Karin seketika terdiam sesaat. Begitu netra Aryan menangkap Karin hendak meraih pintu mobil dan membukanya, Aryan segera berujar, “Karin.”

“Ya?” Karin kembai menghadap ke arah Aryan, tangannya tertahan di pintu mobil.

That’s gonna be a beautiful date,” ucap Aryan.

Ini terasa sederhana, tapi memiliki makna yang besar untuk Aryan. Aryan akan melakukannya bersama orang yang tepat dan itu lebih dari sekedar indah untuknya.

***

Seperti yang sudah Aryan bayangkan sebelumnya, berada di dalam bianglala akan terasa begitu menakjubkan. Pemandangan kota terlihat sempurna malam ini dari atas, tempat di mana kini Aryan dan Karin berada. Namun jika keindahan hadir tanpa adanya seseorang yang terasa tepat di hati, semuanya mungkin akan terasa sia-sia dan hampa. Kini Aryan melakukannya bersama seseorang yang telah mengisi hatinya, jadi semuanya terasa begitu indah dan sempurna.

Bianglala

Ukuran satu bianglala yang cukup besar itu, membuat Aryan dan Karin dapat menikmati dengan leluasa makanan yang sempat mereka beli. Keduanya duduk berhadapan di bangku bianglala, sembari makan, sesekali mereka mereka membicarakan hal yang intim. Seperti tentang Karin yang jujur tentang alasannya ingin mengajak Aryan pergi seharian ini. Saat-saat yang mereka telah lewati bersama, membuat Karin mengerti apa yang dibutuhkan oleh Aryan. Maka Karin ingin mewujudkannya untuk lelaki itu malam ini. Karin ingin menghabiskan waktu bersama Aryan dan membuat lelaki itu merasa bahwa dirinya berharga dan spesial.

Aryan akhirnya mengerti, apa yang Karin lakukan karena perempuan itu begitu memikirkannya. Selama ini yang Aryan butuhkan hanyalah hal yang sederhana, tempat dan pemandangan hanya sebagai pelengkap. Bagian terpenting yang sejatinya Aryan inginkan adalah waktu yang dihabiskan bersama seorang yang berarti baginya.

Makanan dan minuman Aryan maupun Karin sedikit lagi sudah hampir habis. Mereka lantas merapikan bungkusan tersebut dan memasukkannya ke dalam satu plastik. Nanti saat turun, mereka bisa langsung membuangnya.

“Kak, aku mau nanya sesuatu ke kamu,” ucap Karin. Aryan seketika menoleh dan memfokuskan atensinya kepada Karin.

Are you happy this night?” Itulah pertanyaan yang dilontarkan Karin. Ia ingin tahu apakah dirinya berhasil memberi kebahagiaan itu untuk Aryan.

Aryan nampak berpikir sejenak setelah mendengar pertanyaan Karin barusan. Tentunya tingkah Aryan itu membuat Karin penasaran. Beberapa detik setelahnya, Aryan mengulaskan senyum jenakanya, membuat Karin mengernyitkan alisnya.

Raut wajah Karin terlihat memancarkan kecemasan. Namun Aryan tidak membiarkan itu berlangsung lama, lelaki itu segera meraih kedua tangan Karin. Menggunakan ibu jarinya, Aryan mengusap lembut punggung tangan Karin, lalu ia berujar, “Aku bahagia, Karin. Makasih buat waktu yang kamu kasih malam ini.”

Sebuah senyum seketika terbit di wajah Karin begitu mendengar jawaban itu. Sebuah senyuman yang begitu tulus dari dalam hatinya. “Kak, sebenernya aku akan ngasih jawaban ke kamu malam ini,” ucap Karin dengan gaya bicaranya yang lugas.

Sontak kalimat Karin itu membuat Aryan mematung. Perlahan-lahan Aryan merasakan Karin melepaskan tangannya dari genggaman Aryan. Bianglala yang mereka tumpangi kini tepat berada di atas dan memang sedang berhenti untuk beberapa saat. Hal ini dilakukan agar para penumpang dapat sekedar berfoto atau menikmati suasana malam di atas langit yang nampak begitu cantik.

Detik berikutnya, mata bulat Karin menatap tepat ke iris legam Aryan. Karin giliran melakukannya, ia meraih kembali kedua tangan besar Aryan dengan tangan kecilnya, lalu menggenggamnya di sana.

“Kak, aku bisa ngerasain kalau semua yang kamu lakuin untuk aku itu tulus. Aku bahagia setiap ngabisin waktu sama kamu. Perlakuan kamu dari yang paling besar sampai yang paling kecil, bikin aku percaya untuk membuat sebuah komitmen dalam rumah tangga, dan aku bersedia melakukan itu sama kamu,” Karin menjeda ucapannya sesaat, lalu dengan senyum kecil di paras cantiknya, Karin kembali berujar, “Kamu udah membuktikan pernyataan kamu waktu itu. Nggak cuma dari ucapan, tapi dari setiap perilaku kamu, kamu udah membuktikan perasaan itu.”

Aryan tidak hanya mengatakan perasaannya, tapi membuktikannya melalui melalui setiap aksi yang mungkin Aryan sendiri tidak menyadarinya. Aryan melakukannya dan berdampak besar terhadap Karin. Karin telah menyadari, bahwa perasaannya terhadap Aryan adalah perasaan cinta.

Karin paham bahwa sejatinya perasaan cinta kepada seseorang akan hadir dengan seimbang. Jika ada bahagia, maka juga ada luka di sana. Luka yang pernah Aryan berikan padanya, Karin tahu bahwa lelaki itu tidak berniat untuk melakukannya. Namun itu terjadi begitu saja, karena tanpa Karin juga sadari, ia telah menganggap Aryan bagian yang penting dalam hidupnya. Maka dari itu, setiap perlakuan Aryan padanya begitu reaktif terhadap Karin. Ketika Aryan menatapnya dengan tatapan kecewa karena salah paham di acara awards malam itu, Karin merasa begitu hancur.

Karin menyadari bahwa orang yang paling bisa menyakitimu sesungguhnya adalah orang yang paling besar posisinya di hatimu. “Karin, is it real?” tanya Aryan setelah dirinya berhasil berucap. Lidahnya beberapa saat lalu terasa begitu kelu, sehingga Aryan perlu waktu untuk mencerna semuanya.

Tidak beberapa lam kemudian, bianglala mereka mereka tumpangi telah sampai di bawah. Pintu di depan mereka pun di buka oleh seorang pegawai, menandakan keduanya harus segera turun dari sana. Setelah Aryan keluar lebih dulu, Karin pun langsung menyusulnya.

Beberapa langkah saat Aryan berjalan di depan Karin, lelaki itu kembali berbalik dan meraih tangan Karin, menggenggamnya untuk memastikan Karin berada di sisinya.

Karin hanya menatap genggaman tangan itu, lalu ia tertawa kecil. Begitu mereka berada di lift untuk turun ke parkiran di basement, Aryan berujar, “Karin, kamu belum jawab pertanyaan aku.”

“Pertanyaan yang mana Kak?”

Kini keduanya telah berada di dalam mobil. Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya, tapi mesinnya sudah dinyalakan. Aryan lantas memiringkan tubuhnya agar dapat berhadapan dengan Karin. Tatapannya lurus dan begitu lekat memandang Karin seutuhnya.

“Apa yang tadi kamu bilang di bianglala, semua itu benar?” tanya Aryan kemudian.

Dengan penuh kepastian, Karin pun menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan pasti. Berikutnya Karin hanya mendapati Aryan menghembuskan napasnya yang terdengar begitu lega. Karin memperhatikan Aryan dengan raut wajah bahagianya, sebuah senyum secara sukarela ikut mengembang di paras Karin.

Sejak awal, Karin sebenarnya telah merasakan perasaannya terhadap Aryan, tapi Karin mencoba untuk menampik semuanya. Ia tidak ingin perasaan itu menjadi sebuah kekeliruan, yang mana nanti hanya akan menyakiti Aryan maupun dirinya.

Saat ini Karin sudah memantapkan hatinya. Seperti janjinya pada Aryan sebelumnya, Karin akan berlari menuju Aryan kalau memang hatinya berkata bahwa Aryan adalah orangnya.

Seterjal apa pun jalan yang harus Karin lewati, ia akan bersedia untuk melaluinya. Karin tidak berjuang sendiri untuk menghadapinya, ia tahu bahwa Aryan akan selalu berada di sampingnya. Aryan pun akan melalukan hal sama yang seperti Karin lakukan, berjuang untuk hubungan mereka. Karin tidak perlu menanyakan itu, karena ia sudah mengetahui jawabannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mendapati Aryan datang ke rumah kakaknya secara tiba-tiba. Rey masih ada di sana juga, mereka sedang mengobrol di paviliun kecil yang berada di seberang kolam renang di halaman belakang.

Aryan menatap Rey sekilas, lalu menatap ke arah Karin. “Aku mau jemput kamu pulang. Aryan menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. “Kavin chat aku barusan,” tambah Aryan sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Karin dan Rey.

Aryan membiarkan Karin dan Rey untuk mengobrol berdua. Lelaki itu akan menunggu Karin selesai berurusan dengan Rey. Dulu ego begitu menguasai dirinya, tapi kini sisi terlemahnya yang justru tersentuh.

Aryan lebih bisa mengontrol emosinya. Sekarang Aryan dapat merasakannya. Jadi begini rasanya melihat orang yang kamu sukai bersama dengan orang lain. Aryan hanya memiliki Karin diatas hukum dan agama, tapi belum memiliki hatinya. Aryan pun memutuskan untuk tidak memuaskan egonya, ia membiarkan Karin bersama Rey. Aryan tahu, bahwa ia memiliki waktunya sendiri untuk meluluhkan hati Karin.

***

Karin mengantar Rey sampai ke teras rumah kakaknya. Setelah mengobrol cukup lama, Rey akhirnya berpamitan untuk pulang. Begitu Karin kembali dan langkahnya sampai di ruang tamu, ia mendapati Aryan tengah berada di sana. Karin pun segera berjalan menghampiri Aryan dan mengambil tempat di sofa di samping Aryan.

“Karin, kalau kamu masih mau nginep di sini, it’s oke. Sebentar lagi aku pulang,” ujar Aryan.

“Kamu bilang mau jemput aku tadi. Gimana jadinya?” balas Karin.

Aryan nampak gugup, ia tidak langsung dapat menjawab akan ucapan Karin barusan. “Kavin tadi chat aku, katanya dia khawatir sama kamu. Terus Kavin nyuruh aku ke sini.” Aryan menampakkan cengirannya.

Karin lantas menatap Aryan dengan tatapan aneh dan sedikit menyelidik.

“Kavin yang khawatir atau kamu?” tanya Karin dengan nada jenakanya tapi tetap terlihat tenang dan santai.

Skak mat.

Aryan sungguh dibuat mati kutu oleh Karin. Kalau yang sudah-sudah Aryan dikenal jagoannya flirt, justru kini dirinya yang seperti terkena tembakan panah cinta sampai menembus ulu hatinya. Aryan tidak dapat berkutik, ia pun akhirnya mengakuinya begitu saja.

“Hmmm … iya. Aku khawatir sama kamu,” ujar Aryan.

Detik berikutnya Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya. Lucu sekali ekspresi Aryan beberapa saat yang lalu. Karin baru pertama kali melihatnya dan ia berpikir apakah itu karena dirinya? Rasanya agak mustahil Karin berhasil membuat Aryan seperti itu. Lho, memangnya Karin habis melakukan apa barusan? Kenapa ia juga tidak menyadarinya sama sekali?

***

Karin tidak mengatakan soal sepenuhnya yang terjadi, tapi Aryan seolah mengerti. Karin masih membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi Aryan membiarkan Karin untuk tetap menginap di rumah kak Syerin malam ini.

Ini sudah pukul 10 malam, Karin masih mendapati Aryan di rumah kakaknya. Lelaki itu belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Karin yang belum bisa tidur pun menghampiri Aryan dan Kavin di ruang keluarga. Kavin yang mengerti akan situasinya, segera beranjak dari sana, membiarkan kedua sejoli itu memiliki waktu dan tempatnya hanya untuk mereka berdua.

“Kak, makasih ya kamu udah sempetin buat dateng ke sini,” ujar Karin membuka obrolan lebih dulu. Karin mempertemukan netranya dengan netra Aryan, detik berikutnya perempuan itu mengulaskan senyum tulusnya.

I feel better when I knew you here,” ujar Karin lagi.

Aryan sedikit tidak percaya mendengarnya ujaran Karin. Aryan pun balas menatap Karin dalam, berikutnya ia meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

“Kak, malam ini aku mau coba sesuatu,” ujar Karin kemudian.

Karin kembali mengulaskan senyumnya, kali ini nampak sedikit lebih lebar. Kemudian Karin membalas genggaman tangan Aryan di tangannya, bahkan memberikan sedikit usapan lembut di punggung tangan itu menggunakan ibu jarinya.

“Aku mau coba membangun rumah itu sama kamu, rumah kita,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Ia nampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Cara Aryan menatapnya seperti ini, tatapan yang lembut dan penuh afeksi itu, sudah cukup kuat untuk menghancurkan tembok pertahanan yang selama ini Karin bangun.

“Kak, kamu … mau tidur di sini malam ini?” pertanyaan Karin itu seketika sukses membuat seluruh indera yang Aryan miliki membeku. Tolong seseorang katakan pada Aryan bahwa barusan ia tidak salah mendengar.

***

Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, ditemani sebuah temaram lampu tidu, serta di bawah bed cover tebal, Aryan dan Karin kini saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Karin, kamu tau,” ucap Aryan membuka sebuah pembicaraan.

“Tau apa?” balas Karin.

Aryan kemudian mengarahkan tangannya untuk mendarat di sisi kiri dadanya, tepat di mana jantungnya berada. “It’s hurt, here,” ujar Aryan.

“Kamu serius? Kamu nggak papa kan, Kak? Kalau kamu becanda, ini nggak lucu lho.” Karin justru berujar panik.

Detik berikutnya Aryan nampak mengulaskan senyum lebarnya. Saat itulah Karin tahu bahwa Aryan tidak sedang serius.

“Tapi tadi di sini emang sakit, Karin,” ucap Aryan sembari membuat wajahnya menjadi memelas sebisa mungkin. Tangan Aryan masih menepuk tepat di mana jantungnya berada. “Aku cuma memiliki kamu di atas agama dan hukum, tapi aku nggak memiliki hati kamu. Ralat, bukan nggak, tapi mungkin belum. Makasih kamu udah ngasih kesempatan itu malam ini,” tutur Aryan sambil tidak lepas memandang wajah Karin.

Karin tatapannya berubah menjadi sendu. Mendengar apa yang dirasakan Aryan, itu begitu menyentuh sisi hatinya. Perlahan-lahan Karin memangkas jaraknya dengan Aryan, hingga kini ruang di antara mereka terasa lebih sempit.

“Kak, kamu udah ngantuk belum?” tanya Karin.

Meskipun tidur merupakan salah satu hobinya selain berenang dan basket, Aryan akan berusaha menahan kantuknya untuk malam ini.

“Nggak, aku belum ngantuk,” ucap Aryan akhirnya.

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu,” jelas Karin.

“Kamu mau cerita apa? You can tell me,” ujar Aryan.

Karin nampak memikirkannya sejenak. Ia mengatakan ia bersedia membagi cerita ini kepada Aryan. Hanya pada lelaki itu, Karin belum menceritakannya pada siapa pun, bahkan Kavin mau pun Dara, dua orang terdekat dalam hidupnya.

“Seminggu yang lalu, mamanya Rey minta aku untuk ketemu sama beliau,” ucap Karin memulainya. Dari sana lah akhirnya mengalir cerita soal orang tua Rey yang tidak merestui hubungannya dengan Rey. Karin begitu hancur pada saat itu, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat untuk menghadapi semuanya. Kenyataannya tidak semudah yang Karin bayangkan. Mendorong Rey menjauh dari hidupnya, bukanlah hal yang dapat Karin lakukan begitu saja. Rey adalah sosok yang selama ini ada untuknya, selama 2 tahun terakhir, Rey hadir di dalam hidup Karin dan memberikan kasih sayang yang Karin butuhkan.

“Akhirnya ini cuma akan nyakitin aku sama Rey. Harusnya sejak awal kita akhirin semuanya,” Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Kini Karin menatap Aryan, mengunci pandangan pria itu, lalu Karin berujar, “Kak, aku nggak ingin bersikap egois terhadap kita. Aku mau ngasih kamu ruang untuk memastikan perasaan kamu ke aku. Begitu pun aku, aku mau perasaan aku ke kamu nantinya adalah yang sebenar-benarnya. Aku nggak ingin kita saling menyakiti lagi suatu hari dan berakhir menyesali semuanya.”

Karin sadar bahwa sesuatu yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan menjadi baik. Karin meyakinkan Aryan, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal hubungan mereka, karena sejatinya seorang nahkoda tahu kemana harus mengarahkan kapalnya untuk sampai di pelabuhan yang tepat. Sama halnya dengan hati seseorang, ia tidak akan salah memilih kemana harus berlabuh. Karin akan berlari menuju Aryan, sekalipun jaraknya begitu jauh, jika memang Aryan adalah takdirnya. Karin mengatakan bahwa Aryan dapat memegang ucapannya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk. Ia mengerti maksud perkataan Karin. Aryan menerimanya dan ia siap akan keputusan Karin apa pun nantinya. Karin berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Kalau pun tidak bersama Aryan, lelaki itu akan merasakan sakit, tapi Karin akan bahagia. Itu adalah tujuan Aryan sejak menyadari perasaannya terhadap Karin. Aryan ingin Karin bahagia meskipun bukan bersamanya.

Melihat Karin dengan kesedihan di raut wajahnya, membuat Aryan ikut merasa hancur. Di satu sisi, hatinya memang sakit mendapati bahwa Karin begitu mencintai Rey. Namun rasa peduli itu lebih dominan menguasai dirinya. Aryan lebih mementingkan bagaimana cara membuat Karin merasa lebih baik. Karin terluka, maka Aryan bersedia menjadi sandaran untuk perempuan itu.

Ada yang lebih baik dari semua itu, yakni saat Aryan mengetahui bahwa Karin bersedia membagikan cerita tersebut kepadanya, hal itu terasa sangat berharga bagi Aryan.

Ketika Aryan mendapati sebulir cairan bening meluncur dari pelupuk mata Karin dan terjun hingga ke pipinya, Aryan lekas mengarahkan tangannya dan mengusap pipi Karin. Selama beberapa detik, Karin mengeluarkan semua bentuk curahan kesedihannya di hadapan Aryan. Karin sedikit tidak percaya ia melakukannya, tapi ia merasa lebih lega setelah itu. Karin merasa nyaman begitu Aryan menyeka air matanya.

Setelah Karin dapat menenangkan dirinya, ia menahan tangan Aryan yang hendak menjauh dari sisi wajahnya. Karin mengulaskan senyum kecilnya, itu sebuah senyuman yang tampak sedikit malu-malu.

“Kavin tadi chat apa ke kamu sampai kamu dateng ke sini?” tanya Karin setelah mengusap sekilas punggung tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Rasanya hangat, perlahan Karin mulai merasa lebih baik dengan semua yang terjadi, dengan kedatangan Aryan ke rumah kakaknya malam ini.

Aryan berdeham sekilas, sebelum akhirnya lealki itu berujar, “Kavin bilang, dia liat kamu dalam kondisi yang kurang baik. Menurut Kavin kamu butuh aku, jadi dia minta aku ke sini. Malam ini ada dua orang yang percaya sama aku, Kavin dan kamu. Karin, terima kasih ya kamu mau berbagi cerira itu sama aku. That’s a pleasure for me.”

Karin menyunggingkan senyumnya, kemudian ia tertawa sekilas. “Alright. ayaknya Kavin ada di tim kamu deh, Kak.”

“Jelas,” cetus Aryan cepat.

Mendengar ucapan Aryan dengan nada percaya dirinya serta tampang lempengnya khasnya, mau tidak mau membuat Karin tergelak cukup kuat. Tawa Karin berangsur terhenti setelah beberapa detik, itu bertepatan dengan Aryan yang mengunci tatapannya.

Aryan menatap Karin lembut, kemudian lelaki itu berujar, “Karin, I want to be a reason for that smile and laugh. Some times, I will see your tears, but that’s totally okay. You need to know that I would willing to rub that tears. Okey?”

Detik berikutnya, Karin pun mengangguk setuju. Malam ini, Karin telah mempercayai Aryan seutuhnya. Karin bersedia untuk membagikan kesedihannya yang selama ini mungkin sulit untuk ia lakukan, sekalipun kepada orang-orang yang telah lama hadir di hidupnya.

“Kak, aku tau kamu udah ngantuk sebenarnya,” celetuk Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan yang memang sudah terlihat mengantuk.

“Iya, aku emang udah ngantuk, tapi aku tetep mau dengerin cerita kamu,” ucap Aryan masih sambil menatap Karin, meski mata lelaki itu mungkin hanya tersisa 5 watt. Mungkin beberapa detik lagi Aryan akan terlelap, begitu pikir Karin.

“Kak, I have prepared a surprise for you. Are you curios about that?” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

Beberapa detik kemudian, Karin terkesiap begitu Aryan kembali membuka kelopak matanya yang sebelumnya telah setengah terpejam. Kini raut wajah Aryan tampak lebih segar dari sebelumnya, seolah rasa kantuk itu telah menguap dan hilang begitu saja.

“Kamu serius?” tanya Aryan yang lekas diangguki oleh Karin.

“Lusa kamu ada janji keluar nggak?” tanya Karin kemudian.

“Aku bisa cancel semuanya,” putus Aryan dengan cepat.

“Oke, lusa aku bakal ngasih kamu surprise-nya. I prepared a date for us,” ucap Karin seraya mengulaskan senyum misteriusnya.

Kalau sebelumnya Karin masih memiliki kendalinya, kini begitu Aryan menatapnya penuh arti seperti ini, Karin merasa bahwa hatinya telah berantakan. Kendali Karin telah terlepas, hingga kini rasanya dunia Karin sekarang terhenti berputar. Pandangan Karin hanya dapat tertuju kepada Aryan.

“Apa hadiahnya? Can I get a clue for the date?” ujar Aryan bertubi-tubi, tampak tidak sabar dan begitu penasaran.

“Kamu sabar dong, Kak. Udah, sekarang kamu tidur ya. Katanya tadi kamu ngantuk,” tutur Karin.

“Karin, kalau kayak gini aku malah jadi nggak bisa tidur,” aku Aryan blak-blakan.

“Kamu harus tidur, Kak. Kalau nggak, nanti aku nggak jadi kasih hadiahnya lho,” ujar Karin yang kini sudah membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Aryan.

Tanpa Aryan melihatnya, Karin nampak mengulaskan senyum lebarnya sembari berusaha membawa dirinya menuju ke alam mimpi.

Aryan akhirnya mengangguk setuju. Aryan pun pasrah, lelaki itu memutuskan akan segera tidur, meskipun saat ini justru terasa sulit baginya untuk memejamkan mata. Rasanya Aryan ingin membeli mesin waktu agar bisa segera sampai di hari yang dinantikannya itu. Aryan pun bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa apa pun yang berkaitan dengan Karin rasanya selalu membuat Aryan hampir gila? Aryan kurang pandai mengungkapkannya melalui perkataan, tapi yang jelas ia ketahui, sosok Karin telah menempati seluruh ruang di dalam hatinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mendapati Aryan datang ke rumah kakaknya secara tiba-tiba. Rey masih ada di sana juga, mereka sedang mengobrol di paviliun kecil yang berada di seberang kolam renang di halaman belakang.

Aryan menatap Rey sekilas, lalu menatap ke arah Karin. “Aku mau jemput kamu pulang. Aryan menjelaskan maksud kedatangannya ke sini. “Kavin chat aku barusan,” tambah Aryan sebelum akhirnya melenggang dari hadapan Karin dan Rey.

Aryan membiarkan Karin dan Rey untuk mengobrol berdua. Lelaki itu akan menunggu Karin selesai berurusan dengan Rey. Dulu ego begitu menguasai dirinya, tapi kini sisi terlemahnya yang justru tersentuh.

Aryan lebih bisa mengontrol emosinya. Sekarang Aryan dapat merasakannya. Jadi begini rasanya melihat orang yang kamu sukai bersama dengan orang lain. Aryan hanya memiliki Karin diatas hukum dan agama, tapi belum memiliki hatinya. Aryan pun memutuskan untuk tidak memuaskan egonya, ia membiarkan Karin bersama Rey. Aryan tahu, bahwa ia memiliki waktunya sendiri untuk meluluhkan hati Karin.

***

Karin mengantar Rey sampai ke teras rumah kakaknya. Setelah mengobrol cukup lama, Rey akhirnya berpamitan untuk pulang. Begitu Karin kembali dan langkahnya sampai di ruang tamu, ia mendapati Aryan tengah berada di sana. Karin pun segera berjalan menghampiri Aryan dan mengambil tempat di sofa di samping Aryan.

“Karin, kalau kamu masih mau nginep di sini, it’s oke. Sebentar lagi aku pulang,” ujar Aryan.

“Kamu bilang mau jemput aku tadi. Gimana jadinya?” balas Karin.

Aryan nampak gugup, ia tidak langsung dapat menjawab akan ucapan Karin barusan. “Kavin tadi chat aku, katanya dia khawatir sama kamu. Terus Kavin nyuruh aku ke sini.” Aryan menampakkan cengirannya.

Karin lantas menatap Aryan dengan tatapan aneh dan sedikit menyelidik.

“Kavin yang khawatir atau kamu?” tanya Karin dengan nada jenakanya tapi tetap terlihat tenang dan santai.

Skak mat.

Aryan sungguh dibuat mati kutu oleh Karin. Kalau yang sudah-sudah Aryan dikenal jagoannya flirt, justru kini dirinya yang seperti terkena tembakan panah cinta sampai menembus ulu hatinya. Aryan tidak dapat berkutik, ia pun akhirnya mengakuinya begitu saja.

“Hmmm … iya. Aku khawatir sama kamu,” ujar Aryan.

Detik berikutnya Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya. Lucu sekali ekspresi Aryan beberapa saat yang lalu. Karin baru pertama kali melihatnya dan ia berpikir apakah itu karena dirinya? Rasanya agak mustahil Karin berhasil membuat Aryan seperti itu. Lho, memangnya Karin habis melakukan apa barusan? Kenapa ia juga tidak menyadarinya sama sekali?

***

Karin tidak mengatakan soal sepenuhnya yang terjadi, tapi Aryan seolah mengerti. Karin masih membutuhkan waktu untuk sendiri, jadi Aryan membiarkan Karin untuk tetap menginap di rumah kak Syerin malam ini.

Ini sudah pukul 10 malam, Karin masih mendapati Aryan di rumah kakaknya. Lelaki itu belum menunjukkan tanda-tanda akan pulang. Karin yang belum bisa tidur pun menghampiri Aryan dan Kavin di ruang keluarga. Kavin yang mengerti akan situasinya, segera beranjak dari sana, membiarkan kedua sejoli itu memiliki waktu dan tempatnya hanya untuk mereka berdua.

“Kak, makasih ya kamu udah sempetin buat dateng ke sini,” ujar Karin membuka obrolan lebih dulu. Karin mempertemukan netranya dengan netra Aryan, detik berikutnya perempuan itu mengulaskan senyum tulusnya.

I feel better when I knew you here,” ujar Karin lagi.

Aryan sedikit tidak percaya mendengarnya ujaran Karin. Aryan pun balas menatap Karin dalam, berikutnya ia meraih satu tangan Karin dan menggenggamnya.

“Kak, malam ini aku mau coba sesuatu,” ujar Karin kemudian.

Karin kembali mengulaskan senyumnya, kali ini nampak sedikit lebih lebar. Kemudian Karin membalas genggaman tangan Aryan di tangannya, bahkan memberikan sedikit usapan lembut di punggung tangan itu menggunakan ibu jarinya.

“Aku mau coba membangun rumah itu sama kamu, rumah kita,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Ia nampak memikirkan kata-kata yang tepat untuk menyampaikannya. Cara Aryan menatapnya seperti ini, tatapan yang lembut dan penuh afeksi itu, sudah cukup kuat untuk menghancurkan tembok pertahanan yang selama ini Karin bangun.

“Kak, kamu … mau tidur di sini malam ini?” pertanyaan Karin itu seketika sukses membuat seluruh indera yang Aryan miliki membeku. Tolong seseorang katakan pada Aryan bahwa barusan ia tidak salah mendengar.

***

Di dalam sebuah kamar yang cukup luas, ditemani sebuah temaram lampu tidu, serta di bawah bed cover tebal, Aryan dan Karin kini saling berhadapan dan melempar pandangan.

“Karin, kamu tau,” ucap Aryan membuka sebuah pembicaraan.

“Tau apa?” balas Karin.

Aryan kemudian mengarahkan tangannya untuk mendarat di sisi kiri dadanya, tepat di mana jantungnya berada. “It’s hurt, here,” ujar Aryan.

“Kamu serius? Kamu nggak papa kan, Kak? Kalau kamu becanda, ini nggak lucu lho, Kak.” Karin justru berujar panik.

Detik berikutnya Aryan nampak mengulaskan senyum lebarnya.

“Kamu ada-ada aja sih. Kenapa akting begitu?” cetus Karin.

“Tadi di sini emang sakit, Karin,” Aryan membuat wajahnya menjadi memelas sebisa mungkin. Tangan Aryan masih menepuk di mana jantungnya berada. “Aku cuma memiliki kamu di atas agama dan hukum, tapi aku nggak memiliki hati kamu. Ralat, bukan nggak, tapi belum. Makasih kamu udah ngasih kesempatan itu malam ini,” tutur Aryan sambil tidak lepas memandang wajah Karin.

Karin tatapannya berubah menjadi sendu. Mendengar apa yang dirasakan Aryan, itu begitu menyentuh sisi hatinya. Perlahan-lahan Karin memangkas jaraknya dengan Aryan, hingga kini ruang di antara mereka terasa lebih sempit.

“Kak, kamu udah ngantuk belum?” tanya Karin.

Meskipun tidur merupakan salah satu hobinya selain berenang dan basket, Aryan akan berusaha menahan kantuknya untuk malam ini.

“Nggak, aku belum ngantuk,” ucap Aryan akhirnya.

“Aku mau cerita sesuatu sama kamu,” jelas Karin.

“Kamu mau cerita apa? You can tell me,” ujar Aryan.

Karin nampak memikirkannya sejenak. Ia mengatakan ia bersedia membagi cerita ini kepada Aryan. Hanya pada lelaki itu, Karin belum menceritakannya pada siapa pun, bahkan Kavin mau pun Dara, dua orang terdekat dalam hidupnya.

“Seminggu yang lalu, mamanya Rey minta untuk ketemu sama aku,” ucap Karin memulainya. Dari sana lah akhirnya mengalir cerita soal orang tua Rey yang tidak merestui hubungannya dengan Rey. Karin begitu hancur saat itu, ia tidak tahu apa yang harus ia perbuat untuk menghadapi semuanya. Kenyataannya tidak semudah yang Karin pikirkan. Mendorong Rey menjauh dari hidupnya, bukanlah hal yang dapat Karin lakukan begitu saja. Rey adalah sosok yang selama ini ada untuknya, selama 2 tahun terakhir, Rey hadir di dalam hidup Karin dan memberikan kasih sayang yang Karin butuhkan.

“Akhirnya ini cuma akan nyakitin aku dan Rey. Harusnya sejak awal kita akhirin semuanya,” Karin mengangkat wajahnya yang sebelumnya tertunduk. Karin menatap Aryan, mengunci pandangan pria itu, lalu Karin berujar, “Kak, aku nggak ingin bersikap egois terhadap kita. Aku mau ngasih kamu ruang untuk memastikan perasaan kamu ke aku. Begitu pun aku, aku mau perasaan aku ke kamu nantinya adalah yang sebenar-benarnya. Aku nggak ingin kita saling menyakiti lagi suatu hari dan berakhir menyesali semuanya.”

Karin sadar bahwa sesuatu yang dipaksakan pada akhirnya tidak akan menjadi baik. Karin meyakinkan Aryan, bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan soal hubungan mereka, karena sejatinya seorang nahkoda tahu kemana harus mengarahkan kapalnya untuk sampai di pelabuhan yang tepat. Sama halnya dengan hati seseorang, ia tidak akan salah memilih kemana harus berlabuh. Karin akan berlari menuju Aryan, sekalipun jaraknya begitu jauh, jika memang Aryan adalah takdirnya. Karin mengatakan bahwa Aryan dapat memegang ucapannya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk. Ia mengerti maksud perkataan Karin. Aryan menerimanya dan ia siap akan keputusan Karin apa pun nantinya. Karin berhak untuk menentukan jalan hidupnya. Kalau pun tidak bersama Aryan, lelaki itu akan merasakan sakit, tapi Karin akan bahagia. Itu adalah tujuan Aryan sejak menyadari perasaannya terhadap Karin. Aryan ingin Karin bahagia meskipun bukan bersamanya.

Melihat Karin dengan kesedihan di raut wajahnya, membuat Aryan ikut merasa hancur. Di satu sisi, hatinya memang sakit mendapati bahwa Karin begitu mencintai Rey. Namun rasa peduli itu lebih dominan mengisi dirinya. Aryan lebih mementingkan bagaimana cara membuat Karin merasa lebih baik. Karin terluka, maka Aryan bersedia menjadi sandaran untuk perempuan itu.

Ada yang lebih baik dari semua itu, yakni saat Aryan mengetahui bahwa Karin bersedia membagikan cerita tersebut kepadanya, hal itu terasa sangat berharga bagi Aryan.

Ketika Aryan sebulir cairan bening meluncur dari pelupuk mata Karin dan terjun hingga ke pipinya, Aryan lekas mengarahkan tangannya dan mengusap pipi Karin. Selama beberapa detik, Karin mengeluarkan semua bentuk curahan kesedihannya di hadapan Aryan. Karin sedikit tidak percaya ia melakukannya, tapi ia merasa lebih lega setelahnya. Karin merasa nyaman begitu Aryan menyeka air matanya.

Setelah Karin dapat menenangkan dirinya, ia menahan tangan Aryan yang hendak menjauh dari sisi wajahnya. Karin mengulaskan senyum kecilnya, itu sebuah senyuman yang tampak sedikit malu-malu.

“Kavin tadi chat apa ke kamu sampai kamu dateng ke sini?” tanya Karin setelah mengusap sekilas punggung tangan Aryan yang masih berada di wajahnya. Rasanya hangat, perlahan Karin mulai merasa lebih baik dengan semua yang terjadi, dengan kehadiran Aryan di sisinya.

“Kavin bilang, dia liat kamu dalam kondisi yang kurang baik. Menurut Kavin kamu butuh aku, jadi dia minta aku ke sini. Malam ini ada dua orang yang percaya sama aku, Kavin dan kamu. Karin, terima kasih ya kamu mau berbagi cerira itu sama aku. That’s a pleasure for me.”

Karin menyunggingkan senyumnya lalu ia tertawa sekilas. “Alright. ayaknya Kavin ada di tim kamu deh, Kak.”

“Jelas,” cetus Aryan cepat.

Mendengar ucapan Aryan dengan nada percaya dirinya serta tampang lempengnya khasnya, mau tidak mau membuat Karin tergelak cukup kuat. Tawa Karin berangsur terhenti setelah beberapa detik, itu bertepatan dengan Aryan yang mengunci tatapannya.

Aryan menatap Karin lembut, kemudian lelaki itu berujar, “Karin, I want to be a reason for that smile and laugh. Some times I will see your tears, but that’s totally okay. You need to know that I would willing to rub that tears. Okey?”

Detik berikutnya Karin mengangguk menyetujuinya. Malam ini Karin telah mempercayai Aryan seutuhnya. Ia bersedia dari dalam hatinya yang terdalam, membagikan kesedihannya yang selama ini mungkin sulit ia lakukan, sekalipun kepada orang-orang yang telah lama hadir di hidupnya.

“Kak, aku tau kamu udah ngantuk sebenarnya,” celetuk Karin sembari memperhatikan raut wajah Aryan yang memang sudah terlihat mengantuk.

Oke, that’s true. Tapi aku tetep mau dengerin cerita kamu,” ucap Aryan masih sambil menatap Karin dengan sisa kesadarannya. Mungkin beberapa detik lagi lelaki itu akan terlelap, begitu pikir Karin.

“Kak, I have prepared a gift for you. Are you curios about that?” ujar Karin pelan di dekat Aryan.

Beberapa detik kemudian, Karin terkesiap begitu Aryan kembali membuka kelopak matanya yang sebelumnya telah setengah terpejam. Kini raut wajah Aryan tampak lebih segar dari sebelumnya, seolah rasa kantuk itu telah menguap dan hilang begitu saja.

“Hadiah untuk aku? Kamu serius?” tanya Aryan.

“Aku kira kamu tadi udah tidur lho,” ujar Karin dengan raut keheranannya.

“Aku masih bisa denger, Karin. Apa hadiahnya? Atau ini surprise?” Karin pun segera mengangguk. “Iya, ini surprise. Lusa kamu ada janji keluar?” tanyanya kemudian.

“Aku bisa cancel semuanya,” putus Aryan dengan cepat.

“Hmmm … oke. Lusa aku mau ngasih kamu hadiahnya. I prepared a date for us,” Kalau sebelumnya Karin masih memiliki kendalinya, kini begitu Aryan menatapnya penuh arti seperti ini, Karin merasa bahwa hatinya berantakan. Kendali Karin telah terlepas, hingga kini rasanya dunia Karin sekarang terhenti berputar. Pandangan Karin hanya dapat tertuju kepada Aryan.

“Apa hadiahnya? Can I get a clue for the date?” ujar Aryan bertubi-tubi, tampak tidak sabar dan begitu penasaran.

“Kamu sabar dong, Kak. Udah, sekarang kamu tidur. Katanya tadi kamu ngantuk,” tutur Karin.

“Karin, kalau gini aku jadi nggak bisa tidur,” aku Aryan blak-blakan.

“Kamu harus tidur, Kak. Kalau nggak, nanti aku nggak jadi kasih hadiahnya lho,” ujar Karin yang kini sudah membalikkan tubuhnya untuk memunggungi Aryan.

Karin berusaha memejamkan matanya, tanpa Aryan melihatnya, Karin nampak mengulaskan senyum lebarnya.

Aryan akhirnya mengangguk setuju. Aryan pun pasrah, lelaki itu memutuskan akan segera tidur, untuk memastikan Karin memberikan hadiahnya sesuai janji perempuan itu padanya. Sekarang justru terasa sulit bagi Aryan untuk memejamkan matanya. Rasanya Aryan ingin membeli mesin waktu agar bisa sampai di hari yang dinantikannya. Apa pun yang berkaitan dengan Karin, rasanya membuat Aryan hampir gila.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sudah lebih dari seminggu belakangan ini, Rey menyadari bahwa sikap yang Karin tunjukkan padanya adalah bentuk usaha perempuan itu untuk menghindarinya. Karin selalu memiliki alasan untuk tidak bertemu dengannya. Malam ini pun, saat Rey bertanya pada Dara soal keberadaan Karin, manager kekasihnya itu mengatakan bahwa ia tidak bisa memberi tahu di mana Karin sekarang.

Satu-satunya kemungkinan adalah Karin berada di rumah Syerin. Maka dari itu, Rey kini sudah berada di depan pagar besar sebuah rumah tingkat dua bergaya minimalis. Begitu seorang satpam mempersilakannya untuk masuk, Rey berhadapan dengan Kavin yang membukakan pintu berpelitur coklat jati di hadapannya.

Kavin nampak sedikit terkejut begitu mendapati kehadiran Rey di sana. Setahu Kavin, semua tentang Rey dan kakaknya telah berakhir. Ada yang tidak bisa Rey jelaskan kepada Kavin. Intinya yang saat ini, Rey meminta Kavin untuk memberinya izin bertemu dengan Karin.

“Kak Syerin sama mama lagi nggak ada di rumah. Mungkin kalau mereka ada, Kak Rey nggak bisa ketemu sama kak Karin,” ucap Kavin yang akhirnya mengizinkan Rey memasuki rumah.

Sebelumnya Kavin juga sempat bertanya pada Karin dan membuat Rey menunggu di teras rumah itu. Karin sedang dalam kondisi kurang sehat, tapi Rey tetap bersikeras untuk bertemu. Rey mengatakan dirinya dan Karin harus berbicara serius mengenai hubungan keduanya.

***

Sudah dua hari Karin menginap di rumah Syerin. Sebelumnya ia telah meminta izin pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Karin membutuhkan waktu untuk menata hati dan pikirannya. Pertemuan Karin dengan ibunya Rey minggu lalu membuat Karin begitu hancur. Rasanya masih sulit bagi Karin mendorong Rey untuk menjauh dari hidupnya, ini bukanlah perkara yang mudah. Rey adalah sosok yang salama ini ada untuknya, di saat senang maupun di saat sedih.

Meskipun Karin berusaha menghindari tatapan Rey yang kini tertuju lurus dan intens padanya, Rey, lelaki itu dapat melihat mata sembap dan guratan kesedihan di wajah Karin.

“Karin, ada apa? Kamu mau cerita ke aku? Kenapa kamu ngehindarin aku akhir-akhir ini?” tanya Rey setelah beberapa saat mereka berdua hanya diam.

“Karin, look at me. Please, tell me what happened,” ucap Rey lagi, kali ini nada suara lelaki tiu terdengar sedikit frustasi.

Karin menghela napasnya sesaat, lalu ia berujar sambil menatap tepat diiris mata Rey. “Rey, aku mau fokus ke anak aku. Gimana pun, aku sama kak Aryan udah nikah. Aku sepantasnya menghormati kak Aryan, bertemu sama keluarganya untuk lebih saling mengenal. Aku sadar kalau keputusan aku untuk tetap berhubungan sama kamu disaat udah menikah, adalah hal yang kurang pantas. Waktu itu aku dan kak Aryan nggak punya pilihan,” Karin menjeda ucapannya sesaat. Begitu mengucapkannya hati Karin terasa seperti diiris iris. “Aku sama kak Aryan punya anak, tapi hati kita tidak bisa membohongi rasa cinta untuk pasangan masing-masing,” lanjut Karin.

Selama sepersekian detik Karin dan Rey hanya saling menatap. Rey tidak lagi dapat menyembunyikan tatapan kecewanya di hadapan Karin.

“Karin, aku mau tanya satu hal sama kamu,” ucap Rey kemudian. Rey nampak memejamkan matanya sesaat sebelum akhirnya menatap Karin lurus dan bertanya, “Kamu mau tau alasan kenapa aku pukul Aryan waktu itu? Kamu mau tau alasan kenapa aku benci sama dia?”

“Maksud kamu apa?” Karin justru balik bertanya karena ia tidak paham maksud pertanyaan yang Rey ajukan padanya.

“Aku takut dia ngerebut kamu dari aku, Karin. Rahasia terbesarku soal orang yang pernah suka sama kamu, aku tau kalau orang itu adalah Aryan,” ungkap Rey.

Rey menjelaskan ke Karin alasan mengapa dirinya membenci Aryan. Rey mengetahui fakta soal Aryan yang pernah memiliki perasaan pada Karin dua tahun yang lalu. Di kampus mereka sudah menjadi konsumsi publik bahwa banyak lelaki yang menyukai Karin. Begitu Rey tahu kalau salah satu dari mereka adalah Aryan, Rey takut kalau Aryan bisa lebih mendapatkan Karin dari pada dirinya.

Rey membandingkan dirinya dengan Aryan dan merasa kalau Aryan selalu lebih unggul ketimbang dirinya dari segi apa pun. Rey berpikir kalau Aryan berengsek. Aryan lah yang menjebak Karin malam itu. Selain itu, alasan Rey mengatakan kalau Aryan mirip papanya di masa lalu yakni, Aryan adalah lelaki brengsek yang hanya mementingkan kepuasannya. Rey sebelumnya telah mencari tahu masa lalu papanya Aryan. Jejak digital tersebut masih ada, hingga hal tersebut lah yang semakin memupuk kebencian Rey terhadap Aryan. Begitu Rey tahu Karin dan Aryan memiliki pengikat yang kuat di antara mereka, Rey merasa sangat hancur. Ketakutan terbesar Rey adalah Aryan mampu membuat Karin mencintainya dan suatu saat Karin akan meninggalkan Rey.

“Rey, semua dugaan kamu salah. Kak Aryan nggak menjebak aku sama sekali. Kita berdua di jebak. Lebih tepatnya, ada seseorang yang menjebak aku,” ucap Karin meluruskan.

Karin juga menjelaskan bahwa gosip yang masih ada di media digital mengenai papa mertuanya, semua itu hanyalah isu miring belaka. Semuanya pun terungkap, Karin tidak memihak siapa pun di sini, ia hanya mengatakan apa yang menjadi kebenarannya.

Karin masih termangu di tempatnya. Ia ingin merespon pengakuan Rey, tapi tidak tahu harus memulai menanggapinya mulai dari mana. Karin sama sekali tidak menduga hal tersebut. Sekali pun Karin sudah bersama Rey, namun Rey tetap belum bisa percaya pada dirinya sendiri. Padahal Karin mencintai Rey, tapi rupanya semua itu belum cukup membuat Rey paham akan value yang dimilikinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin melangkahkan kakinya memasuki restoran jepang yang khas dengan gaya bangunannya yang minimalis. Ketika sampai di bagian resepsionis, Karin lantas menyebutkan sebuah nama kepada pegawai di sana. Setelah pegawai perempuan di hadapannya mengecek pada bagian daftar tamu yang sudah melakukan reservasi, Karin segera diantar untuk sampai ke meja yang di maksud.

Dari jarak kurang dari 100 meter di hadapannya, kini Karin menangkap sosok perempuan paruh baya yang terlihat begitu fameliar baginya. Pegawai yang mengantarnya tadi sempat menarik kursi untuk Karin, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karin hanya berdua dengan wanita itu.

“Selamat malam, Karina,” sapa Catherine sembari mengulaskan senyum tipis di wajah anggunnya.

“Malam, Tante,” balas Karin dengan sebuah senyuman ramah di parasnya.

Catherine lalu mempersilakan Karin untuk mencoba minuman yang telah tersaji di meja. Karin mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya mengambil gelas tinggi di hadapannya, lalu meneguk minuman teh lucu tersebut.

“Makanannya sebentar lagi sampai. Sebelum kita makan, boleh saya sampaikan maksud saya mengundang kamu ke sini?” ujar Catherine.

Karin lantas menjawab Catherine dengan sebuah anggukan. Catherine terlihat mengambil gelasnya, dengan gerakan anggun ia meneguk minuman teh jasmine itu. Usai meletakkan gelasnya, Catherine pun berujar, “Apa Rey tau kalau kamu ketemu saya malam ini?”

Karin dengan lugas segera menjawab pertanyaan Catherine, “Sesuai yang Tante inginkan, saya tidak akan memberitahu Rey kalau mamanya ingin bertemu dengan saya,” ucap Karin.

Perbincangan keduanya pun terhenti sejenak kala dua orang pelayan mendatangi meja mereka untuk menyajikan makanan yang telah siap. Catherine pun mempersilakan Karin untuk menyantap makanannya. Di tengah-tengah kegiatan makan malam itu, Catherine kembali menatap Karin dan berujar, “Saya tahu anak saya sangat mencintai kamu, Karina.”

Karin pun juga tahu bahwa Catherine, mama dari Rey yang kini berada di hadapannya, tidak merestui hubungannya dengan Rey sejak tahu Karin telah mengandung.

Karin pun termenung, garpu dan sendok yang sebelumnya bergerak mengambil makanan di piring pun terhenti, kini hanya menggantung di tangannya begitu saja.

“Namun sebagai seorang ibu, tentunya saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Kamu paham kan maksud saya? Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu,” ujar Catherine lagi.

Setelah itu Catherine kembali menikmati makanannya dengan begitu tenang. Berbeda dengan Karin yang saat ini sudah kehilangan nafsu makannya. Ajakan Catherina untuk bertemu dengannya tidak dapat Karin tolak, meskipun ia sempat menduga bahwa Catherine memang akan mengatakan hal ini kepadanya.

“Saya meminta kerelaan kamu untuk menjauh dari hidup anak saya,” ucap Catherine. Seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, mungkin ini lah saatnya Karin menemui kehancuran yang selama ini ditakutinya.

Karin meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik. Catherine yang melihat hal tersebut lantas menautkan alisnya dan melayangkan tatapan tanyanya pada Karin.

“Kamu sudah selesai dengan makanannya?” tanya Catherine.

Karin menjawab pertanyaan Catherine dengan sebuah anggukan.

“Karin, kamu tahu kan, saya merestui kamu dan Rey sejak awal hubungan kalian. Kamu mahasiswi berprestasi di kampus, sopan, baik dan kamu juga cantik,” Catherine menjeda ucapannya. Tatapan Catherine yang sebelumnya masih ramah menatap Karin, kini berubah menjadi minim ekspresi.

“Saya pikir kamu sempurna untuk anak saya, tapi kejadian yang menimpa kamu membuat saya harus kembali berpikir. Saya nggak ingin kamu membawa pengaruh yang tidak baik untuk Rey. Jadi, saya minta kamu benar-benar menghilang dari hidup anak saya. Saya hanya ingin itu Karina, saya mohon lakukan permintaan saya.”

Pandangan Catherine mengenai Karin seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Semudah itu seseorang menilai orang lain dari apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga. Catherine hanya menganggap Karin sebagai perempuan yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu aib dan perilaku yang buruk.

“Tante, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan atau patut dijadikan contoh. Tapi apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan.”

Ucapan Karin tersebut anehnya terasa benar di dalam pemikiran Catherine. Namun lagi-lagi Catherine segera menampik semua itu dan tetap bersikap bahwa keputusannya meminta Karin meninggalkan Rey adalah yang terbaik.

“Karin, kamu bahkan mengkhianati anak saya. Kamu berselingkuh di belakangnya sampai kamu hamil anak lelaki lain. Kamu pikir orang tua mana yang rela anaknya bersama perempuan seperti itu?”

Mendengar seluruh kalimat yang dilontarkan Catherine, rasanya seperti dapat meremukkan hati Karin hingga hancur berkeping-keping. Dengan sisa kekuatan yang Karin miliki, ia berusaha menatap mata wanita berusia 50 tahunan di hadapannya ini. “Tante, terima kasih untuk undangan makan malamnya,” ucap Karin. “Saya akan berusaha melakukan permintaan Tante. Tapi satu hal yang mungkin Tante harus tahu, saya tidak pernah membiarkan Rey memperjuangkan apa yang dilarang oleh orang tuanya. Saya pernah merelakan Rey sejak awal, tapi Rey yang memilih untuk bertahan. Saya tahu Tante, seorang anak tetap harus menghormati orang tuanya. Saya permisi. Sekali lagi terima kasih.”

Catherine masih diam di tempatnya dengan segala kebingungan yang kini melandanya. Kalimat perempuan yang begitu dicintai anaknya itu memiliki pembenaran yang begitu kuat di dalam hatinya. Pada bagian kalimat Karin tentang apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan, begitu membuat batin Catherine bergejolak.

Karin melihat Catherine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Rupanya itu adalah beberapa lembar uang yang kemudian diletakkannya di atas meja. Sebelum Catherine melangkahkan kakinya dari meja itu, wanita itu pun kembali berujar di hadapan Karin, “Ternyata kamu memang pandai berbicara, Karin. Saya akui kamu perempuan yang pintar. Jadi, saya pikir kamu cukup tau bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Kalau kamu ada di posisi saya, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk anak kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin melangkahkan kakinya memasuki restoran jepang yang khas dengan gaya bangunannya yang minimalis. Ketika sampai di bagian resepsionis, Karin lantas menyebutkan sebuah nama kepada pegawai di sana. Setelah pegawai perempuan di hadapannya mengecek pada bagian daftar tamu yang sudah melakukan reservasi, Karin segera diantar untuk sampai ke meja yang di maksud.

Dari jarak kurang dari 100 meter di hadapannya, kini Karin menangkap sosok perempuan paruh baya yang terlihat begitu fameliar baginya. Pegawai yang mengantarnya tadi sempat menarik kursi untuk Karin, sebelum akhirnya pergi meninggalkan Karin hanya berdua dengan wanita itu.

“Selamat malam, Karina,” sapa Catherine sembari mengulaskan senyum tipis di wajah anggunnya.

“Malam, Tante,” balas Karin dengan sebuah senyuman ramah di parasnya.

Catherine lalu mempersilakan Karin untuk mencoba minuman yang telah tersaji di meja. Karin mengucapkan terima kasih, sebelum akhirnya mengambil gelas tinggi di hadapannya, lalu meneguk minuman teh lucu tersebut.

“Makanannya sebentar lagi sampai. Sebelum kita makan, boleh saya sampaikan maksud saya mengundang kamu ke sini?” ujar Catherine.

Karin lantas menjawab Catherine dengan sebuah anggukan. Catherine terlihat mengambil gelasnya, dengan gerakan anggun ia meneguk minuman teh jasmine itu. Usai meletakkan gelasnya, Catherine pun berujar, “Apa Rey tau kalau kamu ketemu saya malam ini?”

Karin dengan lugas segera menjawab pertanyaan Catherine, “Sesuai yang Tante inginkan, saya tidak akan memberitahu Rey kalau mamanya ingin bertemu dengan saya,” ucap Karin.

Perbincangan keduanya pun terhenti sejenak kala dua orang pelayan mendatangi meja mereka untuk menyajikan makanan yang telah siap. Catherine pun mempersilakan Karin untuk menyantap makanannya. Di tengah-tengah kegiatan makan malam itu, Catherine kembali menatap Karin dan berujar, “Saya tahu anak saya sangat mencintai kamu, Karina.”

Karin pun juga tahu bahwa Catherine, mama dari Rey yang kini berada di hadapannya, tidak merestui hubungannya dengan Rey sejak tahu Karin telah mengandung.

Karin hanya diam, garpu dan sendok yang sebelumnya bergerak mengambil makanan di piring pun terhenti, kini hanya menggantung di tangannya begitu saja.

“Namun sebagai seorang ibu, tentunya saya ingin yang terbaik untuk anak saya. Kamu paham kan maksud saya? Sebentar lagi kamu juga akan menjadi seorang ibu,” ujar Catherine lagi.

Setelah itu Catherine kembali menikmati makanannya dengan begitu tenang. Berbeda dengan Karin yang saat ini sudah kehilangan nafsu makannya. Ajakan Catherina untuk bertemu dengannya tidak dapat Karin tolak, meskipun ia sempat menduga bahwa Catherine memang akan mengatakan hal ini kepadanya.

“Saya meminta kerelaan kamu untuk menjauh dari hidup anak saya,” ucap Catherine. Seperti bom waktu yang bisa meledak kapan saja, mungkin ini lah saatnya Karin menemui kehancuran yang selama ini ditakutinya.

Karin meletakkan garpu dan sendoknya di atas piring dengan posisi terbalik. Catherine yang melihat hal tersebut lantas menautkan alisnya dan melayangkan tatapan tanyanya pada Karin.

“Kamu sudah selesai dengan makanannya?” tanya Catherine.

Karin menjawab pertanyaan Catherine dengan sebuah anggukan.

“Karin, kamu tahu kan, saya merestui kamu dan Rey sejak awal hubungan kalian. Kamu mahasiswi berprestasi di kampus, sopan, baik dan kamu juga cantik,” Catherine menjeda ucapannya. Tatapan Catherine yang sebelumnya masih ramah menatap Karin, kini berubah menjadi minim ekspresi.

“Saya pikir kamu sempurna untuk anak saya, tapi kejadian yang menimpa kamu membuat saya harus kembali berpikir. Saya nggak ingin kamu membawa pengaruh yang tidak baik untuk Rey. Jadi, saya minta kamu benar-benar menghilang dari hidup anak saya. Saya hanya ingin itu Karina, saya mohon lakukan permintaan saya.”

Pandangan Catherine mengenai Karin seperti berubah seratus delapan puluh derajat. Semudah itu seseorang menilai orang lain dari apa yang terlihat oleh mata dan terdengar oleh telinga. Catherine hanya menganggap Karin sebagai perempuan yang hamil di luar nikah, itu merupakan suatu aib dan perilaku yang buruk.

“Tante, saya tahu apa yang terjadi pada saya bukanlah sesuatu yang dapat dibenarkan atau patut dijadikan contoh. Tapi apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan.”

Ucapan Karin tersebut anehnya terasa benar di dalam pemikiran Catherine. Namun lagi-lagi Catherine menampik itu dan tetap bersikap bahwa keputusannya meminta Karin meninggalkan Rey adalah yang terbaik.

“Karin, kamu bahkan mengkhianati anak saya. Kamu berselingkuh di belakangnya sampai kamu hamil anak lelaki lain. Kamu pikir orang tua mana yang rela anaknya bersama perempuan seperti itu?”

Mendengar seluruh kalimat yang dilontarkan Catherine, rasanya seperti dapat meremukkan hati Karin hingga hancur berkeping-keping. Dengan sisa kekuatan yang Karin miliki, ia berusaha menatap mata wanita berusia 50 tahunan di hadapannya ini. “Tante, terima kasih untuk undangan makan malamnya,” ucap Karin. “Saya akan berusaha melakukan permintaan Tante. Tapi satu hal yang mungkin Tante harus tahu, saya tidak pernah membiarkan Rey memperjuangkan apa yang dilarang oleh orang tuanya. Saya pernah merelakan Rey sejak awal, tapi Rey yang memilih untuk bertahan. Saya tahu Tante, seorang anak tetap harus menghormati orang tuanya. Saya permisi. Sekali lagi terima kasih.”

Catherine masih diam di tempatnya dengan segala kebingungan yang kini melandanya. Kalimat perempuan yang begitu dicintai anaknya itu memiliki pembenaran yang begitu kuat di dalam hatinya. Pada bagian kalimat Karin tentang apa seseorang hanya akan melihat satu keburukan seseorang untuk menilainya secara keseluruhan, begitu membuat batin Catherine bergejolak.

Karin melihat Catherine mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Rupanya itu adalah beberapa lembar uang yang kemudian diletakkannya di atas meja. Sebelum Catherine melangkahkan kakinya dari meja itu, wanita itu pun kembali berujar di hadapan Karin, “Ternyata kamu memang pandai berbicara, Karin. Saya akui kamu perempuan yang pintar. Jadi, saya pikir kamu cukup tau bahwa apa yang saya katakan adalah benar. Kalau kamu ada di posisi saya, mungkin kamu juga akan melakukan hal yang sama untuk anak kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷