The Reason Behind Their Love
Management Olympics atau yang lebih di kenal dengan M-Olympics adalah acara yang dilaksanakan oleh Himpunan Mahasiswa Manajemen FEB Universitas Pelita Bhakti, guna memperingati ulang tahun HIMA Manajemen. M-Olympics tahun ini diadakan dengan lima rangkaian acara yang terdiri dari kegiatan ilmiah, sosial, dan seremonial.
Di minggu ketiga, di mana hampir sampai pada penghujung acara, sampailah pada rangkaian acara Bazar dan Art Festival. Para mahasiswa dan mahasiswi wajib untuk berpartisipasi dalam acara tersebut. Setiap angkatan di jurusan manajemen membagi tugas untuk kepanitian agar seluruh acara dapat terlaksana dengan baik dan sesuai tujuan program kerja yang telah disusun.
Karin dan beberapa sahabatnya berpartisipasti menjadi panitia dalam acara Bazar. Letak acara tersebut berada di sayap kiri aula luas milik FEB. Hari ini terlihat aula telah disulap menjadi tempat yang sangat keren. Mengusung tema peduli lingkungan, tempat itu di dekor dengan nuansa alam, hingga suasananya terasa seperti berada di dalam hutan peri yang dipenuhi dengan pepohonan dan karpet yang mirip dengan rerumputan.
“Rin, ayang lo jadi dateng nanti?” celetuk Aulia yang tepat berada di samping kanan Karin. Mereka sedang berkeliling untuk memastikan para pedagang telah siap dengan tenant makanan mereka. Sebentar lagi acara akan mulai, para panitia pun berpencar menjalankan tugas masing-masing sesuai job description yang telah di berikan.
Karin menoleh ke arah ke Aulia. “Jadi. Tadi udah ngabarin katanya mau dateng habis kelas,” ujar Karin menjawab pertanyaan sahabatnya itu.
Aulia pun mengangguk-angguk. “Sayang ya, nggak bisa satu kepanitiaan sama ayang. Emang doi ngambil acara apa Rin kemarin?”
“Marketing competition doang, di hari pertama kemarin. Soalnya jadwal magang sama kuliahnya lumayan padat,” jelas Karin.
“Ohiya, mahasiswa menuju akhir semester gitu ya. Cerah banget sih muka lo karena mau disamperin doi. Duh enaknya yang punya ayang,” goda Aulia.
Karin yang digoda seperti itu lantas hanya mengulaskan senyumnya. Seperti itulah yang terjadi beberapa minggu belakangan ini. Semuanya antara Karin dan Aryan berjalan dengan baik. Mereka menjalani hubungan yang sesungguhnya, bahkan di hadapan orang-orang yang seringkali membuat mereka mengira bahwa nikah muda adalah hal yang sangat menyenangkan.
Reaksi yang diberikan teman-teman Karin maupun Aryan rupanya juga sangat positif dan begitu me-support keduanya. Masa lalu yang Karin dan Aryan miliki kini sama-sama telah sampai di halaman terakhir sebuah buku. Sejak saat itu, lembar baru Aryan dan Karin pun sudah dimulai.
***
Aryan telah sampai di aula dan langsung menemukan Karin yang tengah berada di salah satu tenant makanan. Karin sedang bersama beberapa sahabatnya dan tengah menikmati sebuah jajanan khas korea.
Tempat tersebut seketika heboh ketik Aryan hadir di sana. Aryan menyapa teman-teman Karin dan rupanya hampir semua teman Karin sudah mengenalnya. Rupanya lelaki itu cukup tenar juga di kalangan adik tingkatnya.
“Cie, disamperin sama Ayang,” celetuk Beryl, salah satu teman laki-laki Karin.
“Review dong Rin, gimana rasanya nikah muda,” timpal salah satu teman perempuannya, Delia.
Obrolan singkat antara Aryan dan teman-teman Karin pun akhirnya mengalir begitu saja. Mereka membahas beberapa hal yang ringan atau sesekali menggoda Karin yang kerap menceritakan soal Aryan pada teman-temannya. Kartu AS Karin ada di teman-temannya, sehingga terjadilah sesi pembocoran rahasia di sana.
Aryan dapat dengan mudah membaur dan akrab dengan teman-temannya. Karin senang melihatnya. Rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan dari mempunyai sahabat yang ikut mendukung apa yang kita jalani. Pernikahan Aryan dan Karin, adalah salah satu bagian dari hidup Karin yang begitu didukung oleh sahabatnya.
“Kak Aryan, tadi Karin kepengen boba gula aren di tenant yang warna ungu di sana. Tapi karena stand-nya lumayan jauh sama ngantrinya penuh banget, jadi belum sempet beli deh tadi,” adu Sarah kepada Aryan. Seketika Aryan menoleh pada Sarah dan menanyakan hal tersebut pada Karin untuk memastikan.
“Aku beliin ya? Kamu tunggu di sini sebentar,” ujar Aryan kemudian.
Karin belum menjawab Aryan sampai Nadhifa lebih dulu menyeletuk, “Tenang Kak, Karin aman di sini sama kita-kita. Kakak beli aja bobanya.” Nadhifa lanas terkikik dan langsung diikuti oleh teman-temannya yang lain.
Akhirnya Aryan pun pergi dari sana untuk membeli minuman yang diinginkan oleh Karin. Saat Aryan mulai menjauh dan punggung lebarnya tidak lagi terlihat, Karin melayangkan tatapannya pada teman-temannya yang segera dibalas oleh senyuman penuh arti dan mereka kembali menggoda Karin untuk yang kesekian kalinya.
“Hmm … apa pun di lakukan demi ayang. Mantep lah, sweet banget Rin laki lo,” cetus Delia.
“Hari ini TMI banget ya guys,” ujar Karin.
“Nggak papa dong. Lo harus lebih tancep gas, Rin. Gue sih kalau jadi lo, punya suami kayak kak Aryan, udah gue kurung terus di rumah. Nggak akan gue biarin ada cewek yang ngelirik doi.”
***
Karin menunggu Aryan kembali cukup lama. Karin jadi tidak tega, pasti antreannya sungguhan panjang. Sebentar lagi akan ada live music yang diisi oleh bintang tamu yang merupakan salah satu penyanyi terkenal. Teman-teman Karin ingin menonton acara tersebut, tapi jadi tertunda karena harus menemani Karin duduk di salah satu bangku di dekat tenant.
“Guys, kalian kalau mau ke panggung, duluan aja. Gue nunggu kak Aryan dulu di sini, nanti gue nyusul,” ucap Karin pada teman-temannya.
“Kita nggak mungkin ninggalin lo di sini sendiri, Rin. Bumil harus dijagain. Santai lah, nonton dari agak jauh juga nggak papa,” ujar Delia.
Tidak lama berselang, Aryan pun akhirnya kembali. Namun pria itu tidak datang sendiri. Di sampingnya ada sosok perempuan yang begitu Karin dan teman-temannya kenali. Perempuan tersebut adalah Shakina, mantan pacar dari Aryan.
Teman-teman Karin terdiam dan saling melempar pandangan. Mereka nampak tidak suka dengan kehadiran Kina di sana. Sudah jelas-jelas yang mereka tahu antara Aryan dan Kina sudah berakhir. Bukan hanya mereka yang tahu, hampir di jurusan Manajemen baik di angkatan atas mau pun bawah, sudah mengetahui kabar tersebut berkat informasi yang tersebar dengan begitu cepat.
Karin mengarahkan tatapannya pada Aryan dan Kina, yang dibalas Kina dengan sebuah senyum tipis di wajahnya. Tidak sampai lima detik kemudian, begitu Kina hendak meraih tangan Aryan untuk digenggam, Aryan pun menghempaskannya dengan tegas.
Aryan beralih menuju ke sisi Karin. Rupanya saat membeli minuman boba untuk Karin tadi, Aryan bertemu dengan Kina dan perempuan itu tidak mau menjauh darinya. Shakina masih nekat mendatangi Aryan, padahal Aryan sudah memutuskan hubungannya secara tegas pada Kina.
Aryan nampak menghembuskan napasnya yang terdengar sedikit kasar. Kina tidak ingin pergi juga dari sana. Aryan pun mengatakan bahwa ia akan menegaskan sesuatu kepada Kina, di hadapan banyak orang, toh Kina sendiri bersedia untuk itu. Rupanya Kina pun cukup bermuka tebal.
“Kina, aku udah akhirin semuanya sama kamu. Di antara kita semuanya udah selesai,” ucap Aryan.
Kina masih dengan tampang lempengnya, maju selangkah lebih dekat pada Aryan dan Karin. Aryan dengan sigap melindungi Karin, menghela Karin untuk berada di balik punggungnya.
“Kamu yakin? Kamu udah nggak peduli soal kesepakatan yang kita buat waktu itu?” ujar Kina dengan berani.
Tidak sepantasnya ini dibicarakan di depan banyak orang. Di antara Aryan, Karin, dan Kina ini adalah persoalan yang cukup pribadi. Aryan pun melayangkan tatapan memperingatinya ke arah Kina.
“Kina, kamu bebas mau ngelakuin apa pun yang kamu mau,” Aryan menjeda ucapannya sesaat. Detik berikutnya Aryan meraih satu tangan Karin untuk digenggam erat dengan tangan besarnya. “Tapi kamu lebih baik tau, aku nggak akan tinggal diam kalau kamu sampai ngelakuin suatu ke Karin. Kamu tau kan, aku nggak pernah main-main sama apa yang aku bilang,” ucap Aryan tegas.
Usai kejadian itu, Aryan meminta izin pada teman-teman Karin untuk memberi ruang pada Karin, Aryan, dan Kina untuk berbicara. Teman-teman Karin mengatakan bahwa mereka mempersilakan itu, mereka memaklumi situasi yang tengah terjadi.
Aryan, Karin, dan Kina akhirnya menjauh dari keramaian. Di sini lah, di dekat parkiran mobil, ketiganya pun berhadapan dan harus menyelesaikan apa yang terjadi.
“Aku cuma mau ngomong berdua sama kamu, Aryan,” ucap Kina.
“Di antara kita udah selesai. Kalau kamu merasa masih punya urusan sama aku, artinya kamu juga punya urusan sama Karin,” tukas Aryan yang seketika membuat Kina terdiam.
“Kina, aku dan Karin udah tau semua yang kamu lakukan. Kita akan bawa kasus itu ke jalur hukum,” ujar Aryan lagi.
Sebelum semua ini, Aryan sudah mengatakan pada Kina bahwa hubungan mereka benar-benar berakhir. Aryan tidak peduli akan kesepatakan dan ancaman yang Kina berikan untuk menyakiti Karin. Selama Aryan berada di samping Karin, ia akan memastikan tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh perempuannya.
“Aryan, aku nggak ngerti apa yang kamu bilang. Maksud kamu kasus apa?” tanya Kina.
Aryan lantas mengulaskan senyum smirk-nya, lalu lelaki itu berujar, “Don’t even act like you don’t know anything. Kamu mungkin merasa pintar udah ngerencanain semuanya. Tapi satu hal, karena kamu berani melakukannya, kamu harus berani juga untuk nanggung resikonya.”
Kedua pupil mata Kina nampak membesar begitu otaknya dapat mencerna maksud dari perkataan Aryan. Dari ekspresi Kina saat ini, perempuan itu tidak dapat lagi mengelak dari semua perbuatannya. Wajahnya mengatakan kalau Kina paham betul apa yang Aryan katakan.
“Aryan, kenapa kamu lebih milih dia dibanding aku? Kita udah pacaran dua tahun, sedangkan kamu baru ketemu sama dia beberapa bulan,” ujar Kina bertubi-tubi.
“Kamu beneran mau tau alasannya?” tanya Aryan.
“Iya, aku mau tau,” balas Kina cepat.
Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin yang berada di sampingnya. Setelah dua detik menatap Karin dengan tatapan teduhnya, Aryan kemudian mengambil tangan Karin dan menggenggamnya.
Pandangan Kina pun tertuju kepada dua buah cincin serupa yang melekat di jari manis Aryan dan di jari manis Karin. Rahang Kina nampak mengeras dan air mukanya berubah menjadi agak merah.
“Mungkin ini kesalahan aku di masa lalu. Aku terlalu memperlakukan kamu dengan istimewa, Kina,” ucap Aryan.
Selama ini Aryan memperlakukan Kina layaknya seorang ratu, mungkin hal itu adalah faktor yang membuat Kina menjadi sosok yang egois, self oriented, dan selalu ingin menang sendiri. Kina mencintai Aryan, itu memang benar, tapi Kina lupa cara untuk menghargainya.
“Apa semuanya karena dia hamil anak kamu? Kamu jadi kasian sama dia,” ucap Kina. Kina menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan nyalangnya. “Karin, lo sengaja ngerencanain semua ini, kan? Lo mau ngerebut apa yang sebelumnya jadi milik gue. Gue nggak nyangka lo sejahat ini.”
Usai mendengar ucapan Kina itu, Karin merasakan genggaman tangan Aryan di tangannya mengerat. Karin memperhatikan air muka Aryan yang kini berbeda, lelaki itu nampak sedang menahan amarahnya.
Karin beralih menatap Aryan, ia mengusap lengan Aryan sekilas, berusaha untuk menenangkannya.
“Aku nggak pernah merebut apa pun milik orang lain, Kina,” Karin membuka suaranya. Karin lantas menatap Kina tepat di iris matanya, tatapan Karin tetap santai, tapi terasa tegas. “Kak Aryan punya masa lalu sama kamu. Tapi sekarang, dia punya masa depan sama aku. Aku akan mastiin dia bahagia sama aku. Aku pikir cukup pinter untuk ngerti semuanya,” pungkas Karin.
Kina terdiam sesaat. Beberapa detik kemudian, Kina kembali berujar sambil tidak melepas tatapannya dari Aryan. “Kenapa harus dia, Aryan? Kenapa? Aku bisa ngasih semua yang kamu mau, aku selalu ada buat kamu, aku cinta sama kamu. Kamu cuma terpengaruh sama dia, Aryan. Kamu nggak sadar itu?” Kina masih kekeuh dengan pikiran keras dan sikap egoisnya.
Aryan menatap Kina lurus, tatapan tersebut terasa begitu tegas dan menghunus. Aryan menghela napasnya panjang, lalu ia berujar, “Kina, ini terakhir kali aku bilang ini sama kamu. Kamu sama Karin beda. Karin menghormati aku, dia tau apa yang bener-bener aku butuhin dari sebuah hubungan, dari sebuah komitmen. Karin peduli sama aku tanpa ngeliat apa yang pernah aku lakuin sama dia. Aku pernah nyakitin Karin, tapi itu nggak sama sekali ngilangin rasa peduli dan hormatnya sama aku. Everything between you and me, is clear right now. Aku harap kamu bisa menghormati hubungan aku dan Karin.”
Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina ke arah Karin. Aryan mengulaskan senyum hangatnya untuk Karin. Berikutnya ia mengayunkan tangan Karin yang berada di genggaman tangannya, mengajak Karin untuk pergi dari sana. Karin mengangguk, ia segera mengikuti langkah Aryan untuk berjalan di sisinya.
Aryan berjanji pada Karin, selama lelaki itu berada di sampingnya, ia akan memastikan bahwa Karin aman. Sama dengan janji Aryan padanya, Karin pun akan melakukan yang sama. Karin akan berada di sisi Aryan, membalas genggaman tangannya, memastikan lelakinya bahagia dan mendapat kasih sayang yang cukup darinya.
Karin dan Aryan memang memiliki pengikat yang di awal telah mempersatukan mereka dalam sebuah ikatan pernikahan. Mereka dipertemukan dengan kejadian yang tidak terduga, sesuatu yang sama sekali tidak mereka harapkan. Namun rasa cinta yang tumbuh perlahan di antara mereka adalah rasa yang murni. Karin dan Aryan telah sama-sama hancur di awal, tapi berkat usaha dan tekad kuat keduanya, mereka berhasil mewujudkan kebahagiaan itu. Bukan hanya untuk Aryan dan Karin sendiri, melainkan juga untuk bayi mungil yang hidup di rahim Karin. Nyawa kecil itu merupakan alasan kedua setelah cinta yang membuat Karin dan Aryan memutuskan untuk bersatu.
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

