alyadara

Dua minggu kemudian

Sebuah venue dengan dominan berwarna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan Aryan dan Karin. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Aryan meraih tangan Karin dan menggenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan beberapa tamu yang tengah hadir menjadi saksi. Sambil masih menggenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya,” Aryan mengucapkannya dengan cukup lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin yang mengikrarkan janji itu. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Semua aturan yang dibutuhkan untuk menyatukan kedua insan, telah selesai dilakukan. Sekarang Aryan dan Karin telah resmi disebut sepasang kasih yang telah disatukan atas nama agama dan hukum yang sah. Acara pun dilanjutkan dengan memasangkan cincin secara bergantian di jari manis masing-masing.

Karin mendapati Aryan mengambil tangannya, mereka berbalik badan untuk menghadap para hadirin. Senyum bahagia terpancar dari sanak keluarga dan teman dekat yang diundang untuk menghadiri hari penting terseut.

Satu hal yang tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah sesi pemberian ciuman yang umum dilakukan dan juga sangat ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Terus kita harus gimana?” tanya Aryan dengan nada tidak kalah paniknya, ia berbisik di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam 12. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” tanya Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengarahkan pandangannya ke titik yang diberitaku oleh Karin sebelumnya. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengetahuan Aryan. Dari tempat Aryan saat ini, ia dapat melihat kekasihnya itu menatap lurus ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan-lahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa karena tidak ada ciuman pasca pemberkatan. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu.

Aryan and Karin Wedding

Ketika melewati kursi di mana Shakina berada, Karin mendapati tatapan terluka dari kedua mata Shakina. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan kejadian itu. Dari tatapan matanya, Karin tahu bahwa Aryan begitu mencintai kekasihnya.

***

Aryan's Apartment

Beberapa hari sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Aryan. Setelah mereka resmi menikah, Karin pun resmi untuk tinggal bersama Aryan.

Karin menyapukan pandangan pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas itu. Ketika baru saja masuk, mata Karin langsung dihadapkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang cukup besar. Apartemen itu memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra tanpa perlu menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu biasanya merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan baru saja turun dari sana. Lelaki itu baru saja membawakan barang Karin yang tersisa dan meletakkannya di lantai atas. Aryan masih mengenakan stelan lengkap tuxedonya, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih pernikahannya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu bisa tidur di kamar atas, biar aku tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara, kan?” tanya Karin.

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk bikin satu kamar lagi di atas.”

Karin pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Keduanya lekas memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai. Beberapa pakaian milik Aryan masih berada di lemari miliknya di atas, berdampingan dengan baju-baju Karin yang beberapa hari lalu sudah dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya untuk menaiki anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin mengiyakan ucapan Aryan itu. Detik berikutnya, Karin bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring di kasur dan berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya sebelum tidur, Karin sudah berniat untuk terlelap.

Karin memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, karena ia kehilangan napsu makannya di waktu-waktu tertentu.

“Oke, kita akan cari makanan. Kamu sabar yaa bayi kecil,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Karin pun bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya untuk menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa membelakangi posisi Karin saat ini.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang kemungkinan bisa ia angatkan di microwave. Namun Karin tidak menemukan bahan makanan mentah ataupun makan cepat saji yang dapat ia masak. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapan ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set di mana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara menghentikan aksinya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar sedikit serak itu. Karin pun menoleh ke belakangnya dan mendapati Aryan disana, dengan wajah menahan kantuknya.

Anything yang bisa dimakan. Aku ... laper,” cicit Karin beriringin dengan cengiran kecilnya.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh kan?” tanya Karin.

“Boleh, untuk sekali ini aja. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang untuk duduk di meja makan, menunggu Aryan selesai memasak. Tidak butuh waktu lama rupanya bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah pun tersaji di hadapan Karin.

Selagi Karin menyantap makanannya, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Ketika Aryan sudah selesai dengan kegiatannya, mie yang di makan Karin hampir habis sedikit lagi. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanan itu.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah mie itu. Kemudian Karin beralih melihat Aryan, “Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makanannya di sana.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya tersebut, ia mendapati Aryan masih berada di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Hmm ... makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah mengucapkannya, tapi Aryan menahannya.

“Kamu panggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Aryan dan Karin pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab pertayaan Aryan, ia terlihat bingung bagaimana harus menjelaskannya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan melakukannya. Itu cuma bentuk rasa hormatku karena kamu adalah ayahnya anakku,” jelas Karin.

“Aku nggak bermaksud apa pun. Aku hanya menerapkan apa yang keluargaku ajarkan,” terang Karin lagi.

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan. Beberapa langkah Karin menjauhi Aryan, rupanya Aryan masih setia berdiri di tempatnya. Aryan memikirkan setiap kata yang baru saja Karin ungkapkan. Setelah dipikir, semua itu terasa benar bagi Aryan. Karin menghormatinya bagaimana pun kondisi mereka saat ini. Aryan tidak menduga bahwa Karin akan menunjukkan sifat tersebut di hadapannya. Kenyataannya Aryan memang belum mengenal sosok Karin sepenuhnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Siang ini Dara mendapati sosok yang selama ini menjadi sasaran umpatannya berada di depan pintu apartemen Karin. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya itu menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Ada hal penting yang perlu gue omongin berdua sama Karin,” ujar Aryan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu lo omongin sama Karin. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, you better go. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

Rupanya tanpa Aryan tahu, dari dalam apartemennya, Karin mengetahui kedatangannya dan mendengar percakapan Aryan dengan Dara.

“Dara, tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Saat ini gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama,” ujar Aryan tampak tidak ingin menyerah begitu saja.

“Tanggung jawab bersama? Dari awal. lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin.”

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara adalah benar apa adanya dan ia pun mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal karena pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ucap Aryan. Dara pun berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan ia menemukannya di sana. Lelaki di hadapannya ini rupanya sungguh menyesal dan bertekad untuk mendapat izin darinya supaya bisa bertemu dengan Karin.

Dara menghela napasnya, “Oke. Gue izinin lo buat ketemu Karin.” Dara menggeser tubuhnya, membuka pintu apartemen lebih lebar.

“Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu hal yang lo harus tau. Kalau lo nyakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu,” pungkas Dara sebelum ia melangkah keluar dan menyuruh Aryan untuk masuk.

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sekembalinya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Setelah Karin mendengar pembicaraan Dara dan Aryan di depan pintu apartemennya, Dara mengatakan padanya kalau ia memberi waktu pada Aryan dan Karin untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya harus menyelesaikannya dengan berkomunikasi, bukannya lari begitu saja.

Karin duduk di kasurnya, menyandarkan punggungnya ke header kasur. Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya.

Aryan menatap Karin sesaat sebelum lelaki itu memulai pembicaraannya. “Karin, aku mau jelasin soal apa yang di bilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Aryan dapat menangkap kekhawatiran yang terpancar begitu jelas dari kedua mata bulat Karin.

“Bayinya saat ini baik-baik aja, tapi dokter bilang, kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkan kata demi kata itu. Aryan pun mendapati ekspresi terluka yang tergambar dari paras pucat Karin. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras, baik bagi Karin maupun bagi Aryan.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan. Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia,” ungkap Aryan.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” sambung Aryan ketika Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Mendengar kenyataan mengenai kondisi kandungannya, lantas membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa menjaga anak ini sampai lahir.

“Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu.”

Boom!

Kalimat yang barusan Aryan lontarkan terdengar seperti petir di tengah siang bolong bagi Karin.

“Kamu berpikir menikah semudah itu?” ujar Karin seraya melayankan tatapan bertanyanya pada Aryan.

“Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah demi anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah,” jelas Aryan.

Karin berusaha mengontrol emosi yang sedang menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya panjang, “Oke. It's easy then. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah,” papar Karin.

Aryan menatap Karin sesaat, lelaki itu berdeham sebelum berujar, “Oke, kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita bisa berpisah. Aku akan tetap memenuhi semua kebutuhan anak kita, sampai nanti dia besar. Apapun keputusan hak asuh anak, aku akan terima. Ada syarat yang mau kamu ajukan ke aku?”

Karin terlihat sedang memikirkan kalimat demi kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin pun mempertimbangkan bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Toh saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas tentang dirinya lebih dulu.

Selama Karin tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka harus berpisah. Anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya muapun dari Aryan. Meskipun rasanya akan berbeda untuk seorang anak ketika memiliki orang tua yang tidak bersama.

“Aku mau mengajukan satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan ini,” ucap Karin.

Of course. You can tell me.”

“Aku mau hanya kita dan pasangan kita yang tau soal kesepakatannya. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu di belakang keluarga. Keluargaku hanya tau kita akan menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan maksudku?”

“Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres,” ujar Aryan.

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Aku mau aku tetap bisa ketemu anakku kapan aja. Misalnya hak asuhnya jatuh ke tangan kamu,” ungkap Aryan.

Karin pun menganggukinya, “Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan melarang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

“Terima kasih, Karin.” Sebelum Aryan pamit dari sana, ia kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastikan kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara pun memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang ia bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat aja. Kalau lo butuh apa-apa, panggil gue ya, gue ada di ruang kerja.”

Karin mengangguki ucapan Dara, “Makasih ya, Dar.”

Dara pun mulai melangkah menjauhi Karin. Tidak lupa sebelum menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin memikirkan banyak hal mengenai kesepakatannya dengan Aryan. Karin mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi yang ada di kandungannya. Sebelum Karin benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran pun terlintas di benaknya. Pemikiran yang lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Pikirannya berseru bahwa seharusnya itu mudah bagi Karin. Ia dan Aryan seperti dua kutub yang sangat berbeda. Karin telah memiliki Rey, begitu pun Aryan yang sudah bersama Shakina. Namun hati Karin tiba-tiba mengatakan sebuah sanggahan yang bertolak belakang dengan pikiran logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin segera menggelengkan kepalanya. Ia pun lantas memanjatkan doa dalam hatinya, sembari memejamkan kedua matanya. Karin menginginkan 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada yang akan berpihak padanya dan Aryan. Karin sungguh berharap bahwa Tuhan bersedia mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Siang ini Dara mendapati sosok yang selama ini menjadi sasaran umpatan-umpatannya di depan pintu apartemen Karin. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya itu menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya. Kalau bisa, Dara ingin sekali menghabisi Aryan.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Ada hal penting yang perlu gue omongin berdua sama Karin,” ujar Aryan menjelaskan maksud kedatangannya.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu lo omongin sama Karin. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, you better go. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

Rupanya tanpa Aryan tahu, dari dalam apartemennya, Karin mengetahui kedatangannya dan mendengar percakapan Aryan dengan Dara.

“Dara, tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Saat ini gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama,” ujar Aryan tampak tidak ingin menyerah begitu saja.

“Tanggung jawab bersama? Dari awal. lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin.”

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara adalah benar apa adanya dan ia pun mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ucap Aryan. Dara pun berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan ia menemukannya di sana. Lelaki di hadapannya ini rupanya sungguh menyesal dan bertekad untuk mendapat izin darinya supaya bisa bertemu dengan Karin.

Dara menghela napasnya, “Oke. Gue izinin lo buat ketemu Karin.” Dara menggeser tubuhnya, membuka pintu apartemen lebih lebar.

“Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu hal yang lo harus tau. Kalau lo sakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu,” pungkas Dara sebelum ia melangkah keluar dan menyuruh Aryan untuk masuk.

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sekembalinya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Setelah Karin mendengar pembicaraan Dara dan Aryan di depan pintu apartemennya, Dara mengatakan padanya kalau ia memberi waktu pada Aryan dan Karin untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya harus menyelesaikannya dengan berkomunikasi, bukannya lari begitu saja.

Karin duduk di kasurnya, menyandarkan punggungnya ke header kasur. Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya.

Aryan menatap Karin sesaat sebelum lelaki itu memulai pembicaraannya. “Karin, aku mau jelasin soal apa yang di bilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Dari sorot matanya, nampak kekhwatiran yang begitu jelas dari kedua mata bulat itu.

“Bayinya saat ini baik-baik aja, tapi dokter bilang, kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkan kata demi kata itu. Begitu melihat Karin, Aryan mendapati ekspresi terluka dari paras pucatnya. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras baik bagi Karin maupun bagi Aryan.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan. Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia,” ungkap Aryan.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” sambung Aryan ketika Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Mendengar kenyataan mengenai kondisi kandungannya, lantas membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa menjaga anak ini sampai lahir.

“Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu, Karin.”

Boom!

Kalimat yang barusan Aryan lontarkan terdengar seperti petir di tengah siang bolong bagi Karin.

“Kamu berpikir menikah semudah itu?” ujar Karin seraya melayankan tatapan bertanyanya pada Aryan.

“Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah demi anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah,” jelas Aryan.

Karin berusaha mengontrol emosi yang sedang menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya panjang, “Oke. It's easy then. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah,” papar Karin.

Aryan menatap Karin sesaat, lelaki itu berdeham sebelum berujar, “Oke. Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita bisa berpisah. Apapun nanti keputusan hak asuh anak, aku akan terima. Ada syarat yang mau kamu ajukan ke aku?”

Karin terlihat memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin pun mempertimbangkan bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Toh saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas tentang dirinya lebih dulu.

Selama Karin tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka harus berpisah. Anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya muapun dari Aryan. Meskipun rasanya akan berbeda untuk seorang anak ketika memiliki orang tua yang tidak bersama.

“Aku akan ngajuin satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan ini,” ucap Karin.

Sure. You can tell me.”

“Aku mau hanya kita dan pasangan kita yang tau soal kesepakatannya. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu di belakang keluarga. Keluargaku hanya tau kita akan menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan maksudku?”

“Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres,” ujar Aryan.

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Aku mau aku tetap bisa ketemu anakku kapan aja. Misalnya hak asuhnya jatuh ke tangan kamu,” ungkap Aryan.

Karin pun menganggukinya, “Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan melarang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

“Terima kasih, Karin.” Sebelum Aryan pamit dari sana, ia kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastikan kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara pun memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang ia bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat ya. Kalau butuh apa-apa, panggil gue aja. Gue ada di ruang kerja.”

Karin mengangguki ucapan Dara, “Makasih ya, Dar.”

Dara pun mulai melangkah menjauhi Karin. Tidak lupa sebelum menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin memikirkan banyak hal mengenai kesepakatannya dengan Aryan. Karin mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi yang ada di kandungannya. Sebelum Karin benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran pun terlintas di benaknya. Pemikiran yang lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Pikirannya berseru bahwa seharusnya itu mudah bagi Karin. Ia dan Aryan seperti dua kutub yang sangat berbeda. Karin telah memiliki Rey, begitu pun Aryan yang sudah bersama Shakina. Namun hati Karin tiba-tiba mengatakan sebuah sanggahan yang bertolak belakang dengan pikiran logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin menggelengkan kepalanya. Ia pun segera memanjatkan doa dalam hatinya, sembari memejamkan kedua matanya. Karin menginginkan 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada yang akan berpihak padanya dan Aryan. Karin sungguh berharap semoga Tuhan mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan keluar dari ruangan dokter yang menangani Karin. Kurang lebih 30 menit yang lalu, dokter Fadly menjelaskan padanya mengenai kondisi Karin dan bayi yang di kandungnya.

Berbagai pilihan kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus memilih. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini merupakan kehamilan pertama, membuat kandungannya menjadi rentan. Di usia kehamilan yang muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatanya, terutama peran si ayah bayi merupakan salah satu peran yang paling penting.

Aryan merenungkan semuanya selama dalam perjalanannya. Jalanan kota Jakarta malam ini terlihat cukup lengang, membuat Aryan memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk melampiaskan pikiran kalut yang tengah melandanya.

Aryan pun teringat tentang perkataan Leon padanya tadi. Tidak akan ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya jika Aryan tidak membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubahnya.

***

Shakina menorehkan senyum semringahnya mendapati Aryan kembali datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, menggenggamnya dan mengajaknya masuk ke dalam.

“Kamu tadi kemana? Kok tiba-tiba aku ditinggal sih?” tanya Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di depan televisi berlayar tipis di ruang tamu, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan, nampak begitu nyaman ketika penciumannya menghirup parfum khas Aryan yang menguar dari torso lelaki itu.

“Maaf yaa aku ninggalin kamu tiba-tiba. Tadi aku habis dari rumah sakit,” ucap Aryan. Mendengar ucapan itu, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Aryan.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

Selama beberapa detik, Kina hanya terdiam setelah mendengar ucapan Aryan.

Kini kekasihnya itu menatap Aryan dengan tatapan tidak percaya, “Aku nggak salah dengar kan, Sayang? Kamu ... peduli sama dia?”

“Karin pendarahan tadi sore. Ini bukan tentang Karin, Kina. Ini tentang anak aku,” Aryan mencoba menjelaskan.

Kina menggelengkan kepalanya, pandangannya pada Aryan kini mengatakan seolah Aryan telah melukai hatinya.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata gitu aja saat ada kejadian menimpa Karin,” jelas Aryan.

Kina pun menghela napasnya kemudian menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba ngerti. Aryan, maaf, tadi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu akan ninggalin aku.”

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You will promise that?”

Aryan menatap Kina lembut seraya mengangguk, “Yes, I promise.”

Kina lantas mengulaskan senyumnya mendengar penurutan Aryan barusan. Dengan satu gerakan, Kina menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang Aryan dan lelaki itu balas mendekap tubuh ramping Kina menggunakan kedua lengannya.

I love you,” ujar Kina di tengah-tengah pelukan mereka.

Aryan perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menangkup kedua sisi wajah Kina menggunakan tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Aryan menatap Kina lekat, sorot matanya memancarkan afeksi yang sangat dalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya, Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekat wajahnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina lebih dulu mengecup bibir Aryan. Kina menciumnya dengan tempo yang pelan. Aryan pun mulai membalas kecupan lembut itu, pergerakannya tidak terkesan buru-buru, tapi berangsur-angsur semakin terasa intens. Tidak sampai lima menit cumbuan panas itu, Aryan pun mengurainya lebih dulu, membuat kelopak mata Kina seketika melebar.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happen?”

“Aku sudah memutuskan, aku akan menikah dengan Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan ... kamu becanda, kan? Kamu jangan bohongin aku.”

I'm not lying, Kina. Aku minta maaf, aku akan tetap menikahi Karin.”

Sorot mata Kina pun kini berubah menatap Aryan. Aryan tahu Kina akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan lain.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari aku menyesal karena harus kehilangan dia,” ungkap Aryan.

Then you hurted me, you know ... ?”

“Aku tau akan ada yang tersakiti dengan keputusan ini,” ujar Aryan.

“Kamu baru aja mengingkari janji kamu. You said that you never leave me. But you decided to marry her,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan bungkam. Pikirannya kini semakin kusut dan ia tidak menemui titik terang dari masalahnya.

Air mata pun terlihat mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” ujar Kina.

“Kamu menikah sama dia tanpa rasa cinta. Kamu yakin bisa melalui itu?” tanya Kina setelah beberapa saat perempuan itu berhasil meredakan tangisnya.

“Aku nggak punya pilihan, Kina. Aku cuma mikirin anak aku.”

“Kalau kamu nikah cuma karena anak, berarti kamu punya pilihan, Aryan. Kamu bisa ajukan win win solution ke Karin.”

“Maksud kamu?”

“Selama kamu nggak akan mencintai Karin, kamu bisa mengajukan solusi itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, sekalipun hak asuhnya nanti jatuh ke tangan Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat Aryan tiba di depan ruang rawat, ia menemukan Nayna dan Leon berada di sana. Leon mengatakan bahwa ia sudah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota untuk urusan pekerjaan. Jadi ia meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama berada di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

“Aryan, lo boleh masuk buat lihat kondisinya Karin,” ucap Leon ketika melihat Aryan hanya terdiam. Melihat sahabatnya tampak kalut, Leon pun menyusul langkah Aryan menuju kursi di kursi panjang di depan ruang UGD. Leon ikut duduk di samping Aryan, lalu lelaki itu menepuk pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan mengangkat wajahnya dan menatap Leon.

Leon dapat melihat sebuah penyesalan dari sorot mata Aryan. Leon menghela napasnya, lalu menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a mess, Bro. Tapi yang lebih penting sekarang, lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Penyesalan cuma akan bikin kehilangan lebih banyak dan lo nggak tau itu akan terjadi kapan.”

***

Karin masih memejamkan matanya kala Aryan memasuki ruang rawatnya. Sebelum Aryan datang tadi, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang menghadapi rasa sakitnya untuk mempertahankan bayi di kandungannya. Saat ini Karin sudah dipindahkan ke ruang rawat dan keadaannya akan rutin dipantau oleh dokter dan perawat.

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin yang nampak damai. Seperti yang di katakan oleh Leon, saat ini Aryan merasa sangat bersalah dan menyesal. Perbuatannya terhadap Karin tempo hari hampir saja membuat keduanya kehilangan calon anak mereka.

Beberapa jam yang lalu, Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini giliran Aryan yang merasakannya. Jantungnya seperti dihantam kuat, dadanya terasa begitu sesak. Aryan sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Karin merawat bayinya sendiri.

Di tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka matanya. Karin nampak sedikit terkejut mendapati keberadaan Aryan di sana.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan tangisnya untuk pecah.

Beberapa saat kemudian, Karin akhirnya membuka suaranya. “Gimana kondisi bayinya?” tanya Karin dengan nada dinginnya. Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, tapi ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku ... bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit bergetar dan tutur katanya berantakan.

Tidak lama setelah percakapan singkat Aryan dan Karin tersebut, terdengar ketukan di pintu sebanyak dua kali. Aryan pun bergegas untuk membuka pintunya dan mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan bahwa calon anaknya baik-baik saja saat ini. Untungnya Karin cepat dibawa ke UGD, kalau tidak, mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Setelah lega mendengar penurutan Aryan, mamanya segera menemui Karin. Perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung ketika melihatnya di pertemuan pertama mereka.

“Karin, maaf ya. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membuat Karin merasa nyaman dan tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil berusaha menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan boleh minta tolong sesuatu sama Papa?”

Karin memerhatikan interaksi antara Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahun itu, ada kekecewaan yang terpancar di sana. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetaplah menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Kamu mau minta tolong soal apa?” tanya Aryo beberapa detik kemudian pada Aryan.

“Tadi Leon ngasih tau kalau sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga dari sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Terima kasih, Pah.” Dari tatapan matanya Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli, pikirnya. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi rasa sayang seorang ayah memang tidak mudah dihilangkan begitu saja terhadap anaknya.

***

Setelah kedua orang tua Aryan dan adiknya perempuannya pamit pulang, Karin mendapati Rey datang ke ruang rawatnya. Rey tadinya ingin menginap untuk menjaga Karin, tapi Karin mengatakan bahwa lelaki itu tidak perlu menginap. Mbak Fitri akan menemaninya selama Karin di rawat dan itu cukup baginya.

Aryan masih ada di sana saat Rey datang. Jadi ketika dokter dan perawat melakukan visit ke ruangannya, dokter lelaki itu sempat melemparkan tatapan bingung dan akhirnya bertanya kepada Aryan dan Rey.

“Siapa di antara kalian yang merupakan ayah dari bayinya?” tanya dokter itu.

Spontan Aryan dan Rey saling melempar pandangan ke arah Karin. Situasinya sempat canggung, Karin hendak menjawab, tapi rupanya Aryan lebih dulu membuka suaranya, “Saya, Dok. Saya ayah dari bayinya,” ucap Aryan.

“Oke, kalau gitu, silakan Bapak ke ruangan saya. Ada yang perlu saya sampaikan terkait kondisi ibu dan bayinya,” tutur dokter itu sebelum keluar dari ruangan rawat Karin.

Aryan melihat ke arah Karin sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya keluar dari ruangan itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat Aryan tiba di depan ruang rawat, ia menemukan Nayna dan Leon berada di sana. Leon mengatakan bahwa dirinya sudah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan, jadi Syerin meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama berada di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

“Aryan, lo boleh masuk buat lihat kondisinya Karin,” ucap Leon ketika Aryan hanya terdiam. Melihat sahabatnya tampak kalut, Leon pun menghampiri Aryan yang melangkah menuju kursi di kursi panjang di depan ruang UGD. Leon ikut duduk di samping Aryan, lalu lelaki itu menepuk pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan mengangkat wajahnya dan menatap Leon.

Leon dapat melihat sebuah penyesalan dari sorot mata Aryan. Leon menghela napasnya, lalu menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a mess, Bro. Tapi yang lebih penting sekarang, lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Penyesalan cuma akan bikin kehilangan lebih banyak dan lo nggak tau itu akan terjadi kapan.”

***

Karin masih memejamkan matanya kala Aryan memasuki ruang rawatnya. Sebelum Aryan datang tadi, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang dengan segala rasa sakitnya untuk mempertahankan bayi di kandungannya. Saat ini Karin sudah dipindahkan ke ruang rawat dan keadaannya akan rutin dipantau oleh dokter dan perawat.

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin yang nampak damai. Seperti yang di katakan oleh Leon, saat ini Aryan merasa bersalah dan sangat menyesal.

Beberapa jam yang lalu, Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini Aryan yang giliran merasakannya. Jantungnya seperti dihantam kuat, dadanya terasa begitu sesak. Aryan sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Karin merawat bayinya sendiri.

Di tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka matanya. Karin nampak sedikit terkejut mendapati keberadaan Aryan di sana.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan tangisnya untuk pecah.

Beberapa saat berlalu, Karin membuka suaranya. “Gimana kondisi bayinya?” tanya Karin dengan nada dinginnya. Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku ... bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit serak dan tutur katanya berantakan.

Setelah percakapan singkat Aryan dan Karin itu, tidak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu. Aryan pun bergerak untuk membuka pintunya dan ia mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan keadaannya bahwa calon anaknya baik-baik saja saat ini. Untungnya Karin cepat dibawa ke UGD, kalau tidak, mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Setelah lega mendengar penurutan Aryan, mamanya segera menemui Karin. Perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung ketika melihatnya di pertemuan pertama mereka.

“Karin, maaf ya. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membuat Karin merasa nyaman dan tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil berusaha menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan boleh minta tolong sesuatu sama Papa?” ucap Aryan.

Karin memerhatikan interaksi antara Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahun tersebut, ada kekecewaan yang terpancar di sana. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetaplah menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Kamu mau minta tolong soal apa?” tanya Aryo beberapa detik kemudian pada Aryan.

“Tadi Leon ngasih tau kalau sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga dari sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Terima kasih, Pah.” Dari tatapan matanya Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli, pikirnya. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi rasa sayang seorang ayah memang tidak mudah dihilangkan begitu saja terhadap anaknya.

***

Setelah kedua orang tua Aryan dan adiknya perempuannya pamit pulang, Karin mendapati Rey datang ke ruang rawatnya. Rey tadinya ingin menginap untuk menjaga Karin, tapi Karin mengatakan bahwa lelaki itu tidak perlu menginap. Mbak Fitri akan menemaninya selama Karin di rawat dan itu cukup baginya.

Aryan masih ada di sana saat Rey datang. Jadi ketika dokter dan perawat melakukan visit ke ruangannya, dokter lelaki itu sempat melemparkan tatapan bingung dan akhirnya bertanya kepada Aryan dan Rey.

“Siapa di antara kalian yang merupakan ayah dari bayinya?” tanya dokter itu.

Spontan Aryan dan Rey saling melempar pandangan ke arah Karin. Situasinya sempat canggung, Karin hendak menjawab, tapi rupanya Aryan lebih dulu membuka suaranya, “Saya, Dok. Saya ayah dari bayinya,” ucap Aryan.

“Oke, kalau gitu, silakan Bapak ke ruangan saya. Ada yang perlu saya sampaikan terkait kondisi ibu dan bayinya,” tutur dokter itu sebelum keluar dari ruangan rawat Karin.

Aryan melihat ke arah Karin sekilas sebelum akhirnya melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruangan itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Di tengah-tengah kehamilan mudanya, Karin tetap ingin berusaha dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan. Karin memutuskan mengambil job photoshoot dengan clothing line dan kerja sama dengan brand untuk mempromosikan produk mereka. Beberapa merek masih percaya padanya dan ingin bekerja dengannya.

Saat ini Karin sedang berada di ruang ganti bersama dua orang stylist yang membantunya untuk mengganti pakaian. Ia masih ada pemotretan untuk beberapa pasang baju lagi. Setelah selesai dengan outfit-nya, Karin pun melakukan sedikit touch-up makeup di wajahnya.

Saat Karin menunggu gilirannya untuk difoto, ia mendapati Naya dan Jihan mendatanginya. Kedua sahabatnya itu sengaja datang ke studio untuk mengiriminya makanan dan minuman kesukaan Karin.

“Nih, gue bawain red velvet union kesukaan lo. Habisin yaa, biar bumil sama debaynya makin happy,” ujar Jihan. Ia meletakkan sebuah bungkusan kue yang nampak premium itu di meja yang berada di dekat Karin.

“Makasih Jihan,” balas Karin diiringi senyumnya.

Naya pun meletakkan 2 minuman kesukaan Karin, yakni minuman mango frappe with jelly dan chocolate mousse yang merupakan minuman favorit Karin.

“Rin, lo habis ini masih ada kerjaan atau langsung balik?” tanya Naya.

“Ini yang terakhir. Habis ini gue langsung balik kok,” jawab Karin.

Naya pun menganggukkan kepalanya. “Nice. Lo jangan kecapean dulu ya, Rin. Gue sama Jihan tungguin lo sampai beres, biar kita anter lo balik ke apart.”

“Gue balik sama Dara pakai supir kok nanti. Kalian nggak perlu repot-repot kayak gini,” ucap Karin. Ia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sungkan.

Naya dan Jihan memang sudah tahu mengenai kehamilannya dan apa yang terjadi pada Karin. Karin paham sahabatnya ingin berbaik hati padanya dan sangat peduli. Namun Karin tidak enak hati jika dirinya terus menjadi beban untuk sahabatnya.

***

Sekitar satu jam yang lalu Karin telah menyelesaikan photoshoot-nya. Kini ia dalam perjalanan pulang bersama Dara. Karin tengah menikmati minuman coklat yang di berikan oleh Naya. Sebuah senyum pun terukir di wajah Karin. Dara yang melihat aksi Karin itu ikut menyunggingkan senyumnya. Hatinya tersentuh melihat Karin bahagia meskipun hanya melalui hal kecil.

“Dar, besok gue ada kerjaan lagi nggak?” tanya Karin sambil menoleh pada Dara.

“Untuk besok nggak ada. Lo bisa full seharian istirahat.”

“Oke, thank you Dar.”

“Rin,” ujar Dara.

“Ya?”

“Lo yakin lo bisa membesarkan anak lo sendiri?” tanya Dara. Perlahan-lahan netra Dara pun nampak berkaca-kaca akan ucapannya sendiri. Beberapa minggu ini Dara telah menahan semuanya, ia sok kuat di hadapan Karin. Padahal kenyataannya ia sangat tidak tega melihat kondisi partner kerja sekaligus sahabatnya itu. Karin harus bekerja disaat perempuan itu tengah mengandung, itu tidak lah mudah.

“Gue yakin Dar,” ujar Karin menjawab pertanyaan Dara.

“Lo bilang keluarganya Aryan nggak akan biarin lo hadapin ini sendiri. Tapi nyatanya tuh cowok brengsek banget ya nyuruh lo gugurin gitu aja.”

“Dari awal antara gue sama dia, emang cuma kecelakaan, Dar. Dia punya hak untuk nggak menerima anaknya. Tapi sebagai ibunya, gue juga punya hak untuk memilih,” Karin menjeda ucapannya, ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya, “Gue milih buat pertahanin anak ini, gue udah sayang banget sama dia.”

***

Karin sampai di apartemennya dan langsung menuju ke kamarnya. Hari ini kegiatan yang dijalaninya cukup melelahkan bagi Karin. Dari pagi sampai siang, ia ada shooting untuk kampanye brand. Setelah itu dilanjut untuk photoshoot clothing line sampai akhirnya sore menjelang. Ketika sampai di apartemen, hari pun sudah gelap dan Karin merasa sekujur tubuhnya kini terasa pegal.

Karin melangkahkan kakinya menuju ranjang ukuran queen size di kamarnya. Ia ingin langsung memejamkan matanya, berharap ketika bangun nanti, tubuhnya dapat terasa jauh lebih baik. Namun tiba-tiba justru ia terbayang kejadian malam itu, dimana dirinya dan Aryan terjebak di dalam kamar hotel. Sekelabat bayangan itu pun datang padanya seperti sebuah kepingan-kepingan puzzle.

Teringat kembali entah kenapa seketika membuat mata Karin terasa memanas. Hatinya begitu sakit ketika mendapati Aryan menolak anaknya. Harusnya tidak begitu, bukan? Harusnya Karin tidak perlu memikirkan itu.

Karin bergerak tidak nyaman dalam posisinya. Ia berusaha untuk bangun dari baringannya dan menyandarkan punggungnya di header kasur. Kemudian Karin mengarahkan tangannya ke perutnya yang masih terasa rata. “Hai, anak Mama,” ucapnya sambil tersenyum kecil. “Mama harap, suatu hari nanti kamu baik-baik aja seandainya keluarga kita nggak lengkap. Nggak papa ya kalau kamu cuma punya Mama di dunia ini.”

Setelah memberi sebuah usapan di perutnya, Karin memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya. Ia mulai mencoba memejamkan mata bersamaan hatinya yang terasa sakit. Namun menit berikutnya yang terjadi adalah rasa sakit di hatinya berganti dengan rasa sakit di perutnya.

“Arghh,” rintih Karin bersamaan dengan sebuah kernyitan di keningnya. Rasa sakit itu lama-lama terasa semakin intens, hingga mengakibatkan bulir-bulir keringat mulai turun membasahi pelipis Karin.

Karin berusaha bergerak dari posisinya untuk mengambil ponselnya. Nomor yang ia hubungi pertama kali adalah nomor Aryan. Bagaimana pun Aryan perlu tahu keadaan anaknya. Karin tidak ingin menjadi orang tua yang egois dengan hanya memikirkan hatinya yang terluka.

Namun harapan kembali menghempaskan Karin. Aryan tidak mengangkat panggilannya atau pun membaca pesannya. Karin tidak ingin menyerah dan kalah terhadap rasa sakitnya. Ia pun berusaha menghubungi Nayna dan Leon. Tidak lama kemudian, Nayna membalas pesannya dan Leon menjawab panggilan telfonnya. Leon mengatakan bahwa dirinya dalam perjalanan menuju apartemen Karin dan akan berusaha untuk sampai ke sana secepat mungkin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dara sedang mengecek bagian inbox pada email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin sebagai beauty influencer dan model. Matanya memindai satu persatu pesan masuk itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapannya seketika sirna kala yang ia dapatkan justru keterbalikan dari harapannya. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja sama dengan Karin. Selain itu, rencana endorse yang sebelumnya sudah diajukan pun batal untuk melakukan dealing.

Dara mengambil ponselnya dan mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya terhubung.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, sudah menjelaskan semuanya.

We still have a chance, Rin. Don't be worry. Nanti malam gue apart lo ya. Lo lagi craving apaan gitu nggak? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada cerianya, berusaha membuat keadannya terlihat baik-baik saja.

“Dar, I'm sorry, I ruin everything. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah—”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Dengerin gue ya, apa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo. Lo harus inget itu.”

***

Di tempat lain, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin resmi kehilangan gelar mahasiswa berprestasi miliknya setelah pihak kampus mengetahui bahwa ia hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang padanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti siang ini, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberi tugas individu. Jadi Karin dapat langsung pulang ke apartemennya.

Semenjak Karin mengandung, ia merasa lebih cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang di alaminya relah membuatnya kehilangan konsentrasi ketika ia berada di kampus.

Saat Karin keluar dari lift dan sampai di lobi gedung, ia menemui Rey di sana. Hari ini Karin dan Rey memang sudah membaut rencana untuk pergi berdua.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

Karin menghela napasnya, “Oh iya tadi bilang mau ke apart sih, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6.”

Alright. Nanti kalau Dara dateng, aku pulang. Dara bisa nginep nggak malam ini di apart kamu?” tanya Rey.

“Masih ada beberapa kerjaan sih di studio. Mungkin Dara mau nginep. Kenapa kamu nyuruh Dara buat nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey ... kok kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya kan bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa kini ia dan Rey berjalan ke menuju parkiran mobil.

“Iya, aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey segera membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk.

Karin pun bergerak masuk ke dalam mobil itu. Dalam hatinya Karin membatin. Perempuan itu akhirnya mengerti apa yang sedang coba dilakukan oleh Rey untuknya.

***

Rey memerhatikan mata Karin yang tampak sayu. “Kamu ngantuk?” tanya Rey. Kegiatan kencan sederhana mereka hari ini adalah masak bersama, kemudian menonton siaran netflix dari TV layar tipis di ruang tamu apartemen Karin.

Rey lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan teduh sekali. Karin hanyut mendapati perlakuan Rey terhadapnya.

“Rey,” ujar Karin.

“Ya?”

I just want to say that I love you,” ucap Karin seraya mengulaskan senyumnya.

The everything happened and knowing that I still having you in my life, made me feel so grateful, Rey,” tutur Karin.

“Karin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Rey.

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey lekat. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey gamblang. Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu bagaimana harus menanggapi Rey.

“Rey, kamu becanda ya—”

“Aku serius, Karina. Aku nggak ingin liat kamu hadapin semuanya sendiri,” ungkap Rey. Lelaki itu mengatakan walau ia bukan ayah dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu sama seperti ia mencintai Karin.

“Rey, kamu tau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama orang tua kamu. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey,” terang Karin. Karin berusaha mengatakannya meskipun di waktu yang sama hatinya ikut merasakan sakit.

Rey mengambil kedua tangan Karin, ia menggenggamnya sembari menatap netra Karin lamat-lamat. “Aku akan berjuang untuk dapatin restu dari orang tuaku. Karin, aku mau tetap sama kamu dan bisa selalu jagain kamu. Kamu mau kan, nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Namun tidak bisa Karin pungkiri bahwa pikirannya mengatakan hal lain yang berbanding terbalik dengan hatinya. Kemungkinannya memang sangat kecil untuknya dan Rey bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin mencintai Rey dan menginginkan hidup bersamanya, tapi situasi yang telah terjadi mengakibatkan keadaannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dara sedang mengecek bagian inbox pada email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin sebagai beauty influencer dan model. Matanya memindai satu persatu pesan masuk itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapannya seketika sirna kala yang ia dapatkan justru keterbalikan dari harapannya. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja sama dengan Karin. Selain itu, rencana endorse yang sebelumnya sudah di ajukan pun batal untuk melakukan dealing.

Dara mengambil ponselnya dan mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya terhubung.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, sudah menjelaskan semuanya.

We still have a chance, Rin. Don't be worry. Nanti malam gue apart lo ya. Lo lagi craving apaan gitu nggak? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada cerianya, berusaha membuat keadannya terlihat baik-baik saja.

“Dar, I'm sorry, I ruin everything. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah—”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Dengerin gue ya, apa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo. Lo harus inget itu.”

***

Di tempat lain, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin resmi kehilangan gelar mahasiswa berprestasi miliknya setelah pihak kampus mengetahui bahwa ia hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang padanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti siang ini, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberi tugas individu. Jadi Karin dapat langsung pulang ke apartemennya.

Semenjak Karin mengandung, ia merasa lebih cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang di alaminya relah membuatnya kehilangan konsentrasi ketika ia berada di kampus.

Saat Karin keluar dari lift dan sampai di lobi gedung, ia menemui Rey di sana. Hari ini Karin dan Rey memang sudah membaut rencana untuk pergi berdua.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

Karin menghela napasnya, “Oh iya tadi bilang mau ke apart sih, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6.”

Alright. Nanti kalau Dara dateng, aku pulang. Dara bisa nginep nggak malam ini di apart kamu?”

“Kenapa kamu nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey ... kok kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya kan bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa kini ia dan Rey berjalan ke menuju parkiran mobil.

“Iya, aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey segera membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk.

Karin pun bergerak masuk ke dalam mobil itu. Dalam hatinya Karin membatin. Perempuan itu akhirnya mengerti apa yang sedang coba dilakukan oleh Rey untuknya.

***

Rey memerhatikan mata Karin yang tampak sayu. “Kamu ngantuk?” tanya Rey. Kegiatan kencan sederhana mereka hari ini adalah masak bersama, kemudian menonton siaran netflix dari TV layar tipis di ruang tamu apartemen Karin.

Rey lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan teduh sekali. Karin hanyut mendapati perlakuan Rey terhadapnya.

“Rey,” ujar Karin.

“Ya?”

I just wanna say that I love you,” ucap Karin seraya mengulaskan senyumnya.

Everything that happened and knowing I still having you in my life, I'm really grateful, Rey,” tutur Karin.

“Karin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Rey.

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey lekat. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey gamblang. Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu bagaimana harus menanggapi Rey.

“Rey, kamu becanda ya—”

“Aku serius, Karina. Aku nggak ingin liat kamu hadapin semuanya sendiri,” ungkap Rey. Lelaki itu mengatakan walau ia bukan ayah dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu sama seperti ia mencintai Karin.

“Rey, kamu tau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama orang tua kamu. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey,” terang Karin. Karin berusaha mengatakannya meskipun di waktu yang sama hatinya ikut merasakan sakit.

Rey mengambil kedua tangan Karin, ia mengenggamnya sambil menatap netra Karin lamat-lamat. “Aku akan berjuang untuk dapatin restu dari orang tuaku. Karin, aku mau tetap sama kamu dan bisa selalu jagain kamu. Kamu mau kan, nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Namun tidak bisa Karin pungkiri bahwa pikirannya mengatakan hal lain yang berbanding terbalik dengan hatinya. Kemungkinannya memang sangat kecil untuknya dan Rey bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin mencintai Rey dan menginginkan hidup bersamanya, tapi situasi yang telah terjadi mengakibatkan keadaannya sungguh jauh berbeda dari sebelumnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Koridor lantai 5 gedung tersebut terlihat lumayan ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa maupun mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama dengan yang dilakukan oleh Karin, perempuan itu berniat keluar kelas untuk ke kantin, tapi langkahnya seketika terhenti kala mendapati sosok yang fameliar di depan kelasnya.

Begitu melihat keberadaan Karin, lelaki bertubuh tinggi itu langsung menghampirinya.

“Karin, aku mau ngomong berdua sama kamu,” ucap Aryan. Setelah kejadian di lapangan waktu itu, dimana Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung darah dagingnya, Aryan baru menemuinya lagi. Aryan menjelaskan maksudnya bahwa ia ingin membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.

“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengutarakan maksudnya menemui Karin siang ini.

Karin mengikuti langkah Aryan, berjalan di sisinya. Saat mereka melewati beberapa orang, Aryan dan Karin tidak dapat mencegah orang-orang itu untuk tidak menatap ke arah mereka dengan tatapan ingin tahu. Selama ini yang publik tahu adalah Aryan kekasihnya Shakina. Aryan nampak tidak peduli dengan tatapan mereka. Terkadang kita hanya perlu membiarkan publik untuk menerka-nerka, karena tidak semuanya perlu menjadi bahan konsumsi.

“Kita ngobrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan memberikan atensinya kepada Aryan.

Karin pun menjawab bahwa ia ingin makan fast food yang ada di dekat gedung fakultas mereka.

“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.

***

Aryan memerhatikan Karin menikmati makanannya dan tampak sangat lahap. 15 menit pun berlalu dan Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi sekarang giliran Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.

Tidak lama berselang, Aryan sudah selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk colanya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.

Karin merapikan piring bekas makannya sekalian milik Aryan. Ia menggeser itu untuk menjauh, sebelum Aryan membuka suaranya.

“Karin, kamu tau kan ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap iris legam Karin. “Aku mau nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” sambung Aryan.

“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum memahami maksud perkataan Aryan sepenuhnya.

“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua. Kamu paham itu kan?” tutur Aryan.

Karin memandang Aryan selama beberapa detik. Saat ini ia sudah sangat mengerti maksud dari kalimat yang Aryan lontarkan padanya.

Karin berujar tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari Aryan, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini. Tapi aku nggak mau kehilangan dia.”

“Kamu nggak bisa rawat dia sendiri,” ujar Aryan lagi.

“Aku bisa,” kekeuh Karin.

Aryan berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang terjadi. Mereka tidak saling mencintai, bagaimana mungkin dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan. Aryan memberi solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya, pikirnya itu yang terbaik untuk masa depan Karin juga.

“Aryan, mungkin solusi itu yang terbaik buat kamu,” ujar Karin.

Aryan menatap Karin dengan tatapan bertanyanya.

Karin kembali menatap Aryan lekat, “Tapi satu hal yang perlu kamu tau, anak ini nggak salah apa-apa. Aku berhak untuk memperjuangkannya, karena dia juga anakku. I think you understand,” pungkas Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷