alyadara

Dua minggu kemudian

Sebuah venue dengan dekor dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan tersebut. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Karin mendapati Aryan meraih tangannya dan mengenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan beberapa tamu yang hadir menjadi saksi. Sambil masih mengenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.” Aryan mengucapkannya dengan cukup lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin yang mengikrarkan janji itu. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Begitulah yang dilakukan untuk mempersatukan dua insan. Sekarang Aryan dan Karin adalah sepasang kasih yang telah di satukan atas nama agama dan hukum yang sah. Acara pun di lanjutkan dengan memasangkan cincin secara bergantian di jari manis pasangan.

Karin mendapati Aryan mengambil tangannya, mereka berbalik badan untuk menghadap para hadirin. Senyum bahagia terpancar dari sanak keluarga dan teman dekat yang diundang untuk menghadiri hari penting ini.

Satu hal yang tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah sesi pemberian ciuman yang juga sangat ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Terus kita harus gimana?” bisik Aryan pelan di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam 12. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” tanya Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengikuti arah yang sebelumnya ditunjuk oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengtahuan Aryan. Kini terlihat kekasihnya itu menatap lurus ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa itu. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu di sepanjang jalan lurus di hadapannya.

Aryan and Karin Wedding

Ketika melewati kursi dimana ada Shakina di sana, Karin mendapati tatapan terluka di mata teman sejawatnya itu. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan itu. Dari tatapan mata Aryan, Karin tahu bahwa lelaki itu begitu mencintai Shakina.

***

Aryan's Apartment

Beberapa hari yang lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Aryan. Saat ini setelah resmi menikah, Karin resmi juga untuk di tempat tinggal barunya itu.

Karin menyapukan pandangan pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas itu. Ketika masuk akan dihadapkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang cukup besar. Apartemen itu memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra di dalam rumah tanpa menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu biasanya merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan baru saja turun dari sana. Lelaki itu masih mengenakan stelan tuxedonya lengkap, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih sebatas mata kakinya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu tidur di kamar atas, aku bisa tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara kan?”

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk bikin satu kamar lagi di atas.”

Karin mengangguk mengerti. Keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai. Beberapa pakaian milik Aryan masih berada di lemari miliknya di atas, berdampingan dengan baju-baju Karin yang waktu itu sudah mulai di bawa dan dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya di anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin mengiyakan ucapan Aryan itu. Detik berikutnya perempuan itu bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring di kasur dan berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya sebelum tidur, Karin sudah berniat untuk terlelap.

Karin memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, karena ia tidak bernapsu sama sekali.

“Oke, kita cari makanan. Kamu sabar yaa bayi kecil,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Setelah itu bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa membelakangi posisi Karin saat ini.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa ia angatkan di microwave. Namun pencariannay tidak menemukan apa-apa. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapannya ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set dimana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara menghentikan kegiatannya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar agak serak itu. Karin pun menoleh ke belakangnya dan mendapati Aryan disana, dengan wajah menahan kantuknya.

“Anything yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh kan aku masak itu?” tanya Karin.

“Boleh, untuk sekali ini aja. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang untuk duduk manis di meja makan, menunggu Aryan selesai memasak. Tidak butuh waktu lama rupanya bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah tersaji di hadapan Karin.

Selagi Karin menyantap makanannya, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Saat Aryan selesai dengan kegiatannya, mie yang di makan Karin hampir habis sedikit lagi. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanan itu.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah dari mie itu. Kemudian ia beralih ke arah Aryan, “Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makanannya di sana.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya itu, ia mendapati Aryan masih di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Hmm ... makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah ucapannya itu, tapi Aryan menahannya.

“Kamu manggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Keduanya pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab, ia terlihat bingung bagaimana harus mengatakannya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan pakai itu lagi. Itu cuma bentuk rasa hormat karena kamu adalah ayahnya anakku,” Karin mengatakannya dengan satu tarikan napasnya.

I don't mean anything with that. Di keluargaku menganut kalau kita harus menghormati seseorang, siapa pun dan bagaiamana pun situasinya,” terang Karin lagi.

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan. Beberapa langkah Karin menjauh darinya, Aryan masih berada di tempatnya. Ia memikirkan apa yang baru saja Karin katakan dan sifat yang tidak diduga Aryan akan ditunjukkan perempuan itu kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua minggu kemudian

Sebuah venue dengan dekor dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya pemberkatan pernikahan tersebut. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Karin mendapati Aryan meraih tangannya dan mengenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan beberapa tamu yang hadir menjadi saksi. Sambil masih mengenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland, untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.” Aryan mengucapkannya dengan lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin yang mengikrarkan janji itu. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Begitulah yang dilakukan untuk mempersatukan dua insan. Sekarang Aryan dan Karin adalah sepasang kasih yang telah di satukan atas nama agama dan hukum yang sah. Acara pun di lanjutkan dengan memasangkan cincin secara bergantian di jari manis pasangan.

Karin mendapati Aryan mengambil tangannya, mereka berbalik badan untuk menghadap para hadirin. Senyum bahagia terpancar dari sanak keluarga dan teman dekat yang diundang untuk menghadiri hari penting ini.

Satu hal yang tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah sesi pemberian ciuman yang juga sangat ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Terus kita harus gimana?” bisik Aryan pelan di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam 12. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” tanya Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengikuti arah yang sebelumnya ditunjuk oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengtahuan Aryan. Kini terlihat kekasihnya itu menatap lurus ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa itu. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu di sepanjang jalan lurus di hadapannya.

Aryan and Karin Wedding

Ketika melewati kursi dimana ada Shakina di sana, Karin mendapati tatapan terluka di mata teman sejawatnya itu. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan itu. Dari tatapan mata Aryan, Karin tahu bahwa lelaki itu begitu mencintai Shakina.

***

Aryan's Apartment

Beberapa hari yang lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Aryan. Saat ini setelah resmi menikah, Karin resmi juga untuk di tempat tinggal barunya itu.

Karin menyapukan pandangan pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas itu. Ketika masuk akan dihadapkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang cukup besar. Apartemen itu memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra di dalam rumah tanpa menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu biasanya merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan baru saja turun dari sana. Lelaki itu masih mengenakan stelan tuxedonya lengkap, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih sebatas mata kakinya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu tidur di kamar atas, aku bisa tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara kan?”

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk bikin satu kamar lagi di atas.”

Karin mengangguk mengerti. Keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai. Beberapa pakaian milik Aryan masih berada di lemari miliknya di atas, berdampingan dengan baju-baju Karin yang waktu itu sudah mulai di bawa dan dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya di anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin mengiyakan ucapan Aryan itu. Detik berikutnya perempuan itu bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring di kasur dan berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya sebelum tidur, Karin sudah berniat untuk terlelap.

Karin memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, karena ia tidak bernapsu sama sekali.

“Oke, kita cari makanan. Kamu sabar yaa bayi kecil,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Setelah itu bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa membelakangi posisi Karin saat ini.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa ia angatkan di microwave. Namun pencariannay tidak menemukan apa-apa. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapannya ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set dimana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara menghentikan kegiatannya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar agak serak itu. Karin pun menoleh ke belakangnya dan mendapati Aryan disana, dengan wajah menahan kantuknya.

“Anything yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh kan aku masak itu?” tanya Karin.

“Boleh, untuk sekali ini aja. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang untuk duduk manis di meja makan, menunggu Aryan selesai memasak. Tidak butuh waktu lama rupanya bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah tersaji di hadapan Karin.

Selagi Karin menyantap makanannya, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Saat Aryan selesai dengan kegiatannya, mie yang di makan Karin hampir habis sedikit lagi. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanan itu.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah dari mie itu. Kemudian ia beralih ke arah Aryan, “Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makanannya di sana.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya itu, ia mendapati Aryan masih di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Hmm ... makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah ucapannya itu, tapi Aryan menahannya.

“Kamu manggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Keduanya pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab, ia terlihat bingung bagaimana harus mengatakannya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan pakai itu lagi. Itu cuma bentuk rasa hormat karena kamu adalah ayahnya anakku,” Karin mengatakannya dengan satu tarikan napasnya.

I don't mean anything with that. Di keluargaku menganut kalau kita harus menghormati seseorang, siapa pun dan bagaiamana pun situasinya,” terang Karin lagi.

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan. Beberapa langkah Karin menjauh darinya, Aryan masih berada di tempatnya. Ia memikirkan apa yang baru saja Karin katakan dan sifat yang tidak diduga Aryan akan ditunjukkan perempuan itu kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dua minggu kemudian

Sebuah venue dengan dekor dominan warna putih, menjadi tempat berlangsungnya hari penting ini. Setelah berjalan melewati para hadirin dan sampai di depan altar, kini Karin mendapati Aryan meraih tangannya dan mengenggamnya.

Sesuai dengan tata cara pernikahan, Aryan akan terlebih dulu mengucapkan ikrar sucinya di hadapan pendeta dan beberapa tamu yang hadir menjadi saksi. Sambil masih mengenggam tangannya, Aryan menatap Karin tepat di iris legamnya, “Saya, Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu Karina Titania Roland untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Pada waktu susah maupun senang, pada waktu kelimpahan maupun kekurangan, pada waktu sehat maupun sakit, untuk saling mengasihi dan menghargai, sampai maut memisahkan kita.” Aryan mengucapkannya dengan lancar.

Setelah Aryan selesai, kini giliran Karin yang mengikrarkan janji itu. Karin mengucapkannya dengan lancar, hampir mirip dengan yang Aryan lakukan.

Begitulah yang dilakukan untuk mempersatukan dua insan. Sekarang Aryan dan Karin adalah sepasang kasih yang telah di satukan atas nama agama dan hukum yang sah. Acara pun di lanjutkan dengan memasangkan cincin secara bergantian di jari manis pasangan.

Karin mendapati Aryan mengambil tangannya, mereka berbalik badan untuk menghadap para hadirin. Senyum bahagia terpancar dari sanak keluarga dan teman dekat yang diundang untuk menghadiri hari penting ini.

Satu hal yang tidak dapat Aryan dan Karin hindari di atas altar adalah sesi pemberian ciuman yang juga sangat ditunggu-tunggu oleh para hadirin. Aryan mendapati wajah panik Karin begitu seruan itu semakin menjadi-jadi. Karin menggelengkan kepalanya sekilas, ia meminta Aryan untuk tidak melakukannya.

“Terus kita harus gimana?” bisik Aryan pelan di dekat Karin.

“Aku yakin kamu nggak akan melakukannya. Liat ke arah jam 12. Kamu nggak tau kalau pacar kamu datang ke sini?” tanya Karin balas berbisik di dekat Aryan.

Aryan pun menjauhkan tubuhnya dari Karin, ia mengikuti arah yang sebelumnya ditunjuk oleh Karin. Rupanya yang di katakan Karin benar. Shakina menghadiri pernikahannya tanpa sepengtahuan Aryan. Kini terlihat kekasihnya itu menatap lurus ke arahnya dan Karin.

Satu lengan Aryan yang memeluk pinggang ramping Karin pun perlahan menjauh dari sana. Aryan mengulaskan senyum palsunya di hadapan para tamu yang nampak kecewa itu. Aryan pun segera mengambil tangan Karin untuk ia genggam, lalu mereka berjalan melewati para tamu di sepanjang jalan lurus di hadapannya.

Aryan and Karin Wedding

Ketika melewati kursi dimana ada Shakina di sana, Karin mendapati tatapan terluka di mata teman sejawatnya itu. Aryan rupanya juga melihat ke arah Shakina dan Karin memerhatikan itu. Dari tatapan mata Aryan, Karin tahu bahwa lelaki itu begitu mencintai Shakina.

***

Aryan's Apartment

Beberapa hari yang lalu sebelum acara pemberkatan, Karin sudah memindahkan barang-barangnya ke apartemen Aryan. Saat ini setelah resmi menikah, Karin resmi juga untuk di tempat tinggal barunya itu.

Karin menyapukan pandangan pada apartemen yang bisa dibilang cukup luas itu. Ketika masuk akan dihadapkan pada sebuah dapur beserta kitchen set dan meja makan untuk 4 orang. Berjalan lurus ke depan, akan ditemui sebuah ruang tamu dengan sofa berbentuk L serta TV berlayar datar yang cukup besar. Apartemen itu memiliki model bangunan mezzanine, yakni terdapat ruang ekstra di dalam rumah tanpa menambah lantai bangunan. Jadi yang tampak dari bawah adalah sebuah balkon yang melayang dan itu biasanya merupakan kamar tidur.

Saat Karin menoleh ke arah tangga, ia mendapati Aryan baru saja turun dari sana. Lelaki itu masih mengenakan stelan tuxedonya lengkap, sama dengan Karin yang masih mengenakan gaun putih sebatas mata kakinya.

“Sementara kamarnya cuma ada satu. Kamu tidur di kamar atas, aku bisa tidur di sofa,” terang Aryan sambil mengarahkan tatapannya pada sofa abu-abu di ruang tamu.

“Ini cuma sementara kan?”

“Iya. Nanti aku akan usahakan untuk bikin satu kamar lagi di atas.”

Karin mengangguk mengerti. Keduanya memutuskan untuk membersihkan diri. Karin akan melakukannya lebih dulu di lantai atas sementara Aryan akan menunggu Karin selesai. Beberapa pakaian milik Aryan masih berada di lemari miliknya di atas, berdampingan dengan baju-baju Karin yang waktu itu sudah mulai di bawa dan dipindahkan.

“Karin,” ujar Aryan sebelum Karin melangkahkan kakinya di anak tangga pertama.

“Iya?” sahut Karin sembari menoleh pada Aryan.

“Kamu hati-hati naik dan turun tangganya.”

“Hmm,” Karin mengiyakan ucapan Aryan itu. Detik berikutnya perempuan itu bergegas naik ke atas untuk mengganti gaunnya menjadi pakaian rumahan.

***

Sudah hampir tiga puluh menit Karin berbaring di kasur dan berusaha memejamkan matanya, tapi usahanya tidak membuahkan hasil. Setelah mandi dan melakukan rutinitas lainnya sebelum tidur, Karin sudah berniat untuk terlelap.

Karin memegangi perutnya. Sebuah bunyi pun terdengar pelan dari sana. Karin memang belum makan sore, karena ia tidak bernapsu sama sekali.

“Oke, kita cari makanan. Kamu sabar yaa bayi kecil,” ucap Karin sambil mengusap pelan perutnya. Setelah itu bergerak dari kasur dan mulai melangkahkan kakinya menuruni tangga.

Sesampainya Karin di lantai bawah, ia langsung menuju dapur tanpa menyalakan lampu. Ia melewati Aryan yang tengah tertidur di sofa membelakangi posisi Karin saat ini.

Pertama kali yang Karin lakukan adalah membuka kulkas untuk mencari bahan makanan yang bisa ia angatkan di microwave. Namun pencariannay tidak menemukan apa-apa. Hanya ada botol minuman soda dan air mineral di kulkas itu.

Karin masih memiliki harapannya ketika matanya mengarah pada lemari kitchen set dimana biasanya makanan di simpan di sana. Saat Karin membuka lemari itu dan berusaha menjangkau sesuatu dengan tangannya, sebuah suara menghentikan kegiatannya.

“Kamu lagi cari makanan apa?” ujar suara yang terdengar agak serak itu. Karin pun menoleh ke belakangnya dan mendapati Aryan disana, dengan wajah menahan kantuknya.

“Anything yang bisa dimakan. Aku laper,” cicit Karin.

“Kenapa malam-malam begini?” tanya Aryan.

Karin pun mengedikkan kedua bahunya. “Tadi sore belum pengen. Kayaknya di lemari ada mie instan, aku mau masak itu aja. Boleh kan aku masak itu?” tanya Karin.

“Boleh, untuk sekali ini aja. Nanti aku minta tolong mbak buat belanja bahan makanan.”

“Oke. Makasih,” ucap Karin.

Begitu Karin mengambil bungkusan mie dari lemari dan hendak merebus air di panci, Aryan memintanya untuk duduk di meja makan. Lelaki itu mengatakan bahwa ia yang akan membuatkan mienya.

Karin pun menurut. Ia melenggang untuk duduk manis di meja makan, menunggu Aryan selesai memasak. Tidak butuh waktu lama rupanya bagi Aryan untuk membuat mie instan itu. Sekitar lima menit kemudian, semangkuk mie kuah tersaji di hadapan Karin.

Selagi Karin menyantap makanannya, Aryan mencuci peralatan masak yang sebelumnya ia gunakan. Saat Aryan selesai dengan kegiatannya, mie yang di makan Karin hampir habis sedikit lagi. Aryan memerhatikan Karin yang nampak lahap menikmati makanan itu.

“Kamu masih laper?” tanya Aryan.

Mendengar pertanyaan Aryan, Karin pun menghentikan aktivitasnya menyeruput kuah dari mie itu. Kemudian ia beralih ke arah Aryan, “Aku udah kenyang kok,” ujar Karin diiringi senyuman kecilnya. Lantas Karin membawa mangkuknya ke wastafel dan langsung mencuci bekas makanannya di sana.

Saat Karin selesai dengan kegiatannya itu, ia mendapati Aryan masih di sana. Karin berdeham sebelum mengarahkan tatapannya pada Aryan dan berujar, “Hmm ... makasih ya Kak buat makanannya,” ujar Karin.

Karin hendak berlalu dari hadapan Aryan setelah ucapannya itu, tapi Aryan menahannya.

“Kamu manggil aku apa barusan?” tanya Aryan.

Keduanya pun kini saling bertatapan. Karin tidak langsung menjawab, ia terlihat bingung bagaimana harus mengatakannya. “Kalau kamu nggak nyaman dengan itu, aku nggak akan pakai itu lagi. Itu cuma bentuk rasa hormat karena kamu adalah ayahnya anakku,” Karin mengatakannya dengan satu tarikan napasnya.

I don't mean anything with that. Di keluargaku menganut kalau kita harus menghormati seseorang, siapa pun dan bagaiamana pun situasinya,” terang Karin lagi.

“Yaudah, aku naik ke kamar dulu ya,” ucap Karin sebelum melangkah melewati Aryan. Beberapa langkah Karin menjauh darinya, Aryan masih berada di tempatnya. Ia memikirkan apa yang baru saja Karin katakan dan sifat yang tidak diduga Aryan akan ditunjukkan perempuan itu kepadanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Siang ini Dara mendapati sosok yang selama ini menjadi sasaran umpatan-umpatannya di depan pintu apartemen Karin. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya itu menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya. Kalau bisa, Dara ingin sekali menghabisi Aryan.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Ada hal penting yang perlu gue omongin berdua,” ujar Aryan menjelaskan maksudnya. Aryan mengerti dari sikap Dara padanya, kemungkinan besar ia tidak mendapat izin untuk menemui Karin.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu lo sama Karin omongin. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, you better go. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

Rupanya tanpa Aryan tahu, dari dalam apartemennya, Karin mengetahui kedatangannya dan mendengar semua percakapan Aryan dengan Dara.

“Dara, tolong izinin gue ketemu Karin. Saat ini gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama.”

“Tanggung jawab bersama? Dari awal lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin.”

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara adalah benar apa adanya dan ia mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ucap Aryan. Dara kini berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan ia menemukan itu di sana. Lelaki di hadapannya ini rupanya sungguh menyesal dan bertekad untuk mendapat izin darinya supaya bertemu dengan Karin.

Dara menghembuskan napasnya panjang, “Oke. Gue izinin lo ketemu Karin.” Dara menggeser tubuhnya, membuka pintu apartemen lebih lebar.

“Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu yang lo harus tau. Kalau lo sakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu,” pungkas Dara sebelum ia melangkah keluar dan menyuruh Aryan untuk masuk.

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sekembalinya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Setelah Karin mendengar pembicaraan Dara dan Aryan di depan pintu apartemennya, Dara mengatakan padanya kalau ia memberi waktu pada Karin dan Aryan untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya harus menyelesaikannya dengan berkomunikasi, bukannya lari begitu saja.

Karin duduk di kasurnya, menyandarkan punggungnya ke header kasur. Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya.

Aryan menatap Karin dan berdeham, sebelum lelaki itu memulai pembicaraannya. “Karin, aku mau jelasin soal apa yang di bilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Dari sorot matanya, nampak kekhwatiran yang begitu jels dari kedua mata bulat itu.

“Bayinya saat ini baik-baik aja. Tapi dokter bilang kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan nada pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkannya. Begitu melihat Karin, Aryan mendapati ekspresi terluka dari paras pucat itu. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras bagi Karin maupun dirinya.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan. Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia,” ungkap Aryan.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” sambung Aryan ketika Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Mendapati kenyataan mengenai kondisi kandungannya, membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa menjaga anak ini sampai lahir? Pikiran Karin saat ini begitu buntu.

“Tanggung jawab? Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu, Karin.”

Boom!

Kalimat yang Aryan lontarkan barusan terdengar seperti petir di tengah siang bolong bagi Karin.

“Kamu berpikir menikah semudah itu?” tanya Karin dengan nada pelannya.

“Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah demi anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah.”

Karin berusaha mengontrol emosi yang sedang menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya panjang. “Oke. It's easy then. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah,” tukas Karin.

“Oke. Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita bisa berpisah. Apapun nanti keputusan hak asuh anak, aku akan terima.”

Detik berikutnya Aryan berujar lagi, “Ada syarat yang mau kamu ajukan ke aku?””

Karin terlihat memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin mempertimbangkan bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Toh saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas tentnag dirinya lebih dulu.

Selama Karin tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka berpisah. Anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya muapun dari Aryan. Meskipun rasanya akan berbeda bagi seorang anak ketika memiliki kedua orang tua yang tidak bersama.

“Aku akan ngajuin satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan itu,” ucap Karin.

“Sure. You can tell me.”

“Aku mau hanya kita yang tau soal kesepakatan ini. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu di belakang keluarga. Keluargaku taunya kita akan menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan maksudku?”

“Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres,” ujar Aryan.

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Aku mau aku tetap bisa ketemu anakku kapan aja. Misalnya hal asuhnya jatuh ke tangan kamu.”

“Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan melarang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

Aryan mengangguk, “Terima kasih, Karin.”

Sebelum Aryan pamit dari sana, ia kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastiin kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

“Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara pun memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang ia bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat aja ya. Kalau butuh apa-apa, panggil gue. Gue ada di ruang kerja.”

“Makasih ya, Dar.”

Dara mengangguk dan melangkah menjauhi Karin. Tidak lupa sebelum ia menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin memikirkan banyak hal mengenai kesepakatannya bersama Aryan. Karin telah mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi yang ada di kandungannya. Sebelum Karin benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran pun terlintas di benaknya. Pemikiran yang lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Seharusnya itu mudah baginya, seru otaknya. Ia dan Aryan seperti dua kutub yang jauh berbeda. Karin telah memiliki Rey, begitu pun Aryan yang sudah bersama Shakina. Namun hati Karin tiba-tiba mengatakan sebuah sanggahan yang bertolak belakang dengan akal logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin menggelengkan kepalanya. Ia pun segera memanjatkan doa dalam hatinya, sembari kedua matanya ia pejamkan. Karin menginginkan 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada yang akan berpihak dan Aryan. Karin berharap semoga Tuhan mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Siang ini Dara mendapati sosok yang selama ini menjadi sasaran umpatan-umpatannya di depan pintu apartemen Karin. Aryan Sakha, lelaki yang merupakan ayah biologis dari anak yang di kandung sahabatnya itu menampakkan dirinya di hadapan Dara yang jelas-jelas nampak sekali ingin membunuhnya. Kalau bisa, Dara ingin sekali menghabisi Aryan.

“Ada kepentingan apa lo ke sini?” tanya Dara dengan nada tidak bersahabatnya.

“Tolong izinin gue buat ketemu sama Karin. Ada hal penting yang perlu gue omongin berdua,” ujar Aryan menjelaskan maksudnya. Aryan mengerti dari sikap Dara padanya, kemungkinan besar ia tidak mendapat izin untuk menemui Karin.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu lo sama Karin omongin. Kalau lo cuma mau nyakitin Karin, you better go. Karin nggak butuh kehadiran lo.”

Rupanya tanpa Aryan tahu, dari dalam apartemennya, Karin mengetahui kedatangannya dan mendengar semua percakapan Aryan dengan Dara.

“Dara, tolong izinin gue ketemu Karin. Saat ini gue sama Karin punya anak, kita punya tanggung jawab bersama.”

“Tanggung jawab bersama? Dari awal lo sendiri yang nolak anak itu dan nyuruh Karin buat gugurin.”

Aryan kehilangan kata-katanya. Apa yang diucapkan Dara adalah benar apa adanya dan ia mengakui itu.

“Gue minta maaf dan gue nyesal pernah minta Karin menggugurkan anak itu,” ucap Aryan. Dara kini berusaha mencari penyesalan dari mata Aryan dan ia menemukan itu di sana. Lelaki di hadapannya ini rupanya sungguh menyesal dan bertekad untuk mendapat izin darinya supaya bertemu dengan Karin.

Dara menghembuskan napasnya panjang, “Oke. Gue izinin lo ketemu Karin.” Dara menggeser tubuhnya, membuka pintu apartemen lebih lebar.

“Lo bisa ngomong sama Karin berdua, gue akan kasih lo waktu. Tapi satu yang lo harus tau. Kalau lo sakitin Karin lagi, gue pastiin lo dapat hukuman atas perbuatan itu,” pungkas Dara sebelum ia melangkah keluar dan menyuruh Aryan untuk masuk.

***

Sesuai yang diperintahkan oleh dokter, Karin harus menjalani bed rest selama 1 minggu sekembalinya ia dari rumah sakit. Ini terhitung hari pertama bagi Karin dan kegiatannya di apartemen hanya makan, mandi, dan tidur.

Setelah Karin mendengar pembicaraan Dara dan Aryan di depan pintu apartemennya, Dara mengatakan padanya kalau ia memberi waktu pada Karin dan Aryan untuk bicara berdua. Dara pun mengerti, bahwa bagaimanapun kini Karin dan Aryan memiliki tanggung jawab yang harus diemban bersama. Keduanya harus menyelesaikannya dengan berkomunikasi, bukannya lari begitu saja.

Karin duduk di kasurnya, menyandarkan punggungnya ke header kasur. Karin melihat Aryan mengambil kursi untuk duduk di samping tempat tidurnya.

Aryan menatap Karin dan berdeham, sebelum lelaki itu memulai pembicaraannya. “Karin, aku mau jelasin soal apa yang di bilang dokter tentang kandungan kamu.”

Karin balas menatap Aryan. Dari sorot matanya, nampak kekhwatiran yang begitu jels dari kedua mata bulat itu.

“Bayinya saat ini baik-baik aja. Tapi dokter bilang kondisi kandungan kamu lemah,” ucap Aryan dengan nada pelannya. Tenggorokan Aryan terasa kering kala mengucapkannya. Begitu melihat Karin, Aryan mendapati ekspresi terluka dari paras pucat itu. Fakta ini merupakan tamparan yang cukup keras bagi Karin maupun dirinya.

“Karin, aku minta maaf. Maaf karena pernah minta kamu untuk gugurin kandungan. Aku sadar akhirnya kalau aku menyayangi anak kita. Aku nggak ingin kehilangan dia,” ungkap Aryan.

“Aku akan bertanggung jawab atas kamu dan anak ini,” sambung Aryan ketika Karin hanya terdiam dan seperti tidak berniat mengeluarkan sepatah kata pun dari bibirnya.

Mendapati kenyataan mengenai kondisi kandungannya, membuat Karin tidak dapat berpikir jernih. Kini ia hanya memikirkan keselamatan anaknya dan bagaimana ia bisa menjaga anak ini sampai lahir? Pikiran Karin saat ini begitu buntu.

“Tanggung jawab? Maksud kamu tanggung jawab dalam bentuk apa?” tanya Karin.

“Aku akan menikahi kamu, Karin.”

Boom!

Kalimat yang Aryan lontarkan barusan terdengar seperti petir di tengah siang bolong bagi Karin.

“Kamu berpikir menikah semudah itu?” tanya Karin dengan nada pelannya.

“Itu mudah, Karin. Kita cuma menikah demi anak. Aku akan tetap berhubungan dengan Shakina setelah kita menikah.”

Karin berusaha mengontrol emosi yang sedang menguasai dirinya. Perempuan itu menghela napasnya panjang. “Oke. It's easy then. Aku juga ingin tetap berhubungan sama Rey selama kita menikah,” tukas Karin.

“Oke. Kamu bisa melakukannya. Setelah anak kita lahir, kita bisa berpisah. Apapun nanti keputusan hak asuh anak, aku akan terima.”

Detik berikutnya Aryan berujar lagi, “Ada syarat yang mau kamu ajukan ke aku?””

Karin terlihat memikirkan kalimat yang diucapkan oleh Aryan. Karin mempertimbangkan bahwa keputusan yang ia ambil tidak akan membuatnya menyesal suatu hari nanti. Toh saat ini bagi Karin yang terpenting adalah anaknya. Ia akan mengesampingkan prioritas tentnag dirinya lebih dulu.

Selama Karin tidak akan mencintai Aryan, maka dirinya tidak akan menyesal jika suatu saat mereka berpisah. Anaknya tetap akan mendapat kasih sayang yang penuh darinya muapun dari Aryan. Meskipun rasanya akan berbeda bagi seorang anak ketika memiliki kedua orang tua yang tidak bersama.

“Aku akan ngajuin satu syarat ke kamu sebelum menyetujui kesepakatan itu,” ucap Karin.

“Sure. You can tell me.”

“Aku mau hanya kita yang tau soal kesepakatan ini. Kita bisa berhubungan dengan pasangan kita selama itu di belakang keluarga. Keluargaku taunya kita akan menikah dan berpisah karena masalah ketidakcocokan. Kamu paham kan maksudku?”

“Iya, aku paham. Aku akan urus semuanya dan kamu tinggal terima beres,” ujar Aryan.

“Oke. Ada syarat yang mau kamu ajuin ke aku?” tanya Karin.

“Aku mau aku tetap bisa ketemu anakku kapan aja. Misalnya hal asuhnya jatuh ke tangan kamu.”

“Kamu tenang aja. Kamu bisa ketemu dia kapan pun yang kamu mau. Aku nggak akan melarang anakku untuk ketemu sama ayah kandungnya.”

Aryan mengangguk, “Terima kasih, Karin.”

Sebelum Aryan pamit dari sana, ia kembali pada Karin dan mengatakan sesuatu soal pernikahan mereka.

“Setelah masa bed rest kamu selesai, kita akan ke dokter untuk pastiin kondisi kamu dan bayinya. Kalau dokter bilang oke, kita bisa segera menikah.”

“Sure.”

Setelah ucapan Karin itu, Aryan pun pamit untuk pergi. Tidak lama berselang dari kepergian Aryan, Dara menemui Karin di kamarnya. Dara pun memutuskan tidak menanyai Karin soal apa yang ia bicarakan dengan Aryan.

“Lo istirahat aja ya. Kalau butuh apa-apa, panggil gue. Gue ada di ruang kerja.”

“Makasih ya, Dar.”

Dara mengangguk dan melangkah menjauhi Karin. Tidak lupa sebelum ia menutup pintu kamar, Dara mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur berwarna kuning.

Setelah Dara menghilang di balik pintu, Karin bergerak menaikkan selimut sampai menutupi hampir seluruh tubuhnya. Di bawah selimut tebal itu, Karin memikirkan banyak hal mengenai kesepakatannya bersama Aryan. Karin telah mencoba menyingkirkan pikiran-pikiran tersebut, ia tidak ingin stressnya bisa berdampak pada bayi yang ada di kandungannya. Sebelum Karin benar-benar terjun ke alam mimpinya, sebuah pemikiran pun terlintas di benaknya. Pemikiran yang lebih seperti pertanyaan untuk dirinya sendiri.

Apakah Karin bisa menjamin kalau dirinya tidak akan mencintai Aryan? Seharusnya itu mudah, seru otaknya. Namun hatinya mengatakan sebuah sanggahan yang bertolak belakang dengan akal logisnya. Dari banyaknya waktu yang akan ia lalui bersama Aryan, sekitar 9 bulan lamanya, terdapat 1 dari jutaan kemungkinan untuknya bisa jatuh cinta terhadap Aryan.

Karin menggelengkan kepalanya. Ia pun segera memanjatkan doa dalam hatinya, sembari kedua matanya ia pejamkan. Karin menginginkan 1 dari jutaan kemungkinan yang ada, tidak ada yang akan berpihak dan Aryan. Karin berharap semoga Tuhan mengabulkan doanya yang satu ini.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan keluar dari ruangan dokter yang menangangi Karin. Kurang lebih 30 menit yang lalu, dokter Fadly menjelaskan padanya mengenai kondisi Karin dan bayi yang di kandungnya.

Berbagai pilihan kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus memilih. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini merupakan kehamilan pertama, kandungannya pun sangat rentan. Di usia kehamilan yang muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatanya, terutama peran si ayah bayi adalah salah satu yang paling penting.

Aryan merenungkan semuanya selama dalam perjalanannya di tengah jalanan malam Jakarta yang cukup lengang. Sesekali pria itu memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk melampiaskan pikiran kalut yang tengah melandanya.

Aryan pun teringat tentang perkataan Leon padanya tadi. Tidak akan ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya jika Aryan tidak membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir tersebut.

***

Shakina menorehkan senyum semringahnya mendapati Aryan kembali datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, menggenggamnya lalu mengajaknya masuk ke dalam.

“Kamu tadi kemana? Kok tiba-tiba aku ditinggal sih?” tanya Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di depan televisi berlayar tipis di sana, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan, nampak begitu nyaman ketika penciumannya menghirup parfum khas Aryan yang menguar dari torso lelaki itu.

“Aku habis dari rumah sakit,” ujar Aryan. Mendengar ucapan itu, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Aryan.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

“Aku nggak salah dengar kan, Sayang? Kamu ... peduli sama dia?”

“Karin pendarahan tadi sore. Ini bukan tentang Karin, Kina. Ini tentang anak aku,” terang Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan tidak percayanya. Kina menggelengkan kepalanya, pandangannya kini pada Aryan mengatakan seolah Aryan telah sungguhan mengkhianati hubungan mereka.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang kondisinya aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata gitu aja saat ada kejadian menimpa Karin,” jelas Aryan.

Kina menghela napasnya kemudian menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba ngerti. Aryan, maaf, tapi aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu ninggalin aku.”

Aryan mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You will promise that?”

Aryan menatap Kina lembut, lalu ia menganggkuk, “Yes, I promise.”

Kina lantas mengulaskan senyumnya mendengar penurutan Aryan itu. Dengan satu gerakan, Kina menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang Aryan dan lelaki itu balas mendekap tubuh ramping Kina dengan kedua lengannya.

I love you,” ujar Kina di tengah-tengah pelukan mereka.

Aryan perlahan-lahan mengurai pelukannya, ia menangkup kedua sisi wajah Kina menggunakan tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Pandangan Aryan lekat menatap Kina, sorot matanya memancarkan afeksi yang sangat dalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya, Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekat wajahnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina mengecup bibir Aryan lebih dulu. Kina menciumnya dengan tempo pelan. Aryan mulai membalas kecupan lembut itu, pergerakannya tidak terkensan terburu-buru, tapi berangsur-angsur semakin terasa intens. Namun perlahan-lahan Aryan mengurai ciumannya lebih dulu, membuat kelopak mata Kina seketika melebar.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happen?”

“Aku udah memutuskan, aku akan menikahi Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan ... kamu becanda? Kamu jangan bohongin aku.”

I'm not lying, Kina. Aku minta maaf. Aku akan tetap menikahi Karin.”

Sorot mata Kina kini berubah menatap Aryan. Aryan tahu Kina akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan lain.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari aku menyesal karena harus kehilangan dia,” papar Aryan.

Then you hurted me, you know ... ?”

“Aku tau akan ada yang tersakiti dengan keputusan ini,” ujar Aryan.

“Aryan, kamu baru aja mengingkari janji kamu. You said that you never leave me. But then you will marry her,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan bungkam. Pikirannya kini semakin kusut dan ia menemui jalan buntu yang tidak memiliki cahaya.

Air matanya pun mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” sambung Kina.

“Kamu menikah sama dia tanpa rasa cinta. Kamu yakin bisa melalui itu?”

“Aku nggak punya pilihan, Kina. Aku cuma mikirin anak aku.”

“Kalau kamu nikah cuma karena anak, berarti kamu punya pilihan, Aryan. Kamu bisa ajukan win win solution.”

“Maksud kamu?”

“Selama kamu nggak akan mencintai Karin, kamu bisa mengajukan itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, sekalipun hak asuhnya nanti jatuh ke Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan keluar dari ruangan dokter yang menangangi Karin. Kurang lebih 30 menit yang lalu, dokter Fadly menjelaskan padanya mengenai kondisi Karin dan bayi yang di kandungnya.

Berbagai pilihan kini berkecamuk di dalam pikiran Aryan. Ia dihadapkan pada kondisi dimana dirinya harus memilih. Dokter menjelaskan bahwa kondisi kandungan Karin saat ini sangat lemah. Faktor stress yang dialami oleh Karin dan karena ini kehamilan pertama, menjadikan kandungannya rentan. Di usia kehamilan yang muda, seorang perempuan harus benar-benar mendapat perhatian dari orang-orang terdekatanya, terutama peran si ayah bayi adalah salah satu yang paling penting.

Aryan merenungkan semuanya selama dalam perjalanannya di tengah jalanan malam Jakarta yang cukup lengang. Sesekali pria itu memanuver mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata untuk melampiaskan pikiran kalut yang tengah melandanya.

Aryan pun teringat tentang perkataan Leon padanya tadi. Tidak akan ada yang tahu apa yang mungkin dapat hilang darinya jika Aryan tidak membuat keputusan. Penyesalan akan selalu datang di akhir dan ketika itu terjadi, tidak ada seorang pun yang dapat mengubah takdir tersebut.

***

Shakina menorehkan senyum semringahnya mendapati Aryan malam ini datang ke apartemennya. Shakina meraih satu tangan Aryan, menggenggamnya lalu mengajaknya masuk ke dalam.

“Kamu kemana aja sih? Aku kangen tau sama pacarku,” ujar Kina. Sesampainya mereka di sofa yang terletak di depan televisi berlayar tipis di sana, Kina menyandarkan kepalanya di lengan Aryan, nampak begitu nyaman ketika penciumannya menghirup parfum khas Aryan.

“Aku habis dari rumah sakit,” ujar Aryan. Mendengar ucapan itu, Kina pun mendongakkan wajahnya untuk menatap Aryan.

“Siapa yang sakit, Sayang? Mama kamu udah baik-baik aja, right?” tanya Kina nampak khawatir.

“Bukan mama, tapi Karin.”

“Aku nggak salah dengar kan, Sayang? Kamu ... peduli sama dia?”

“Karin pendarahan tadi sore. Ini bukan tentang Karin, Kina. Ini tentang anak aku.”

Kina menatap Aryan seolah pria itu tatapan tidak percayanya. Kina menggelengkan kepalanya, pandangannya kini pada Aryan mengatakan seolah Aryan telah sungguhan mengkhianati hubungan cinta mereka.

“Kina, kamu paham, kan? Sekarang kondisinya aku dan Karin punya anak. Aku nggak bisa menutup mata gitu aja,” jelas Aryan.

Kina menghela napasnya kemudian menghembuskannya, “Alright. Aku akan coba ngerti. Aryan, maaf aku nggak bermaksud kayak gitu. Aku cuma takut kalau nanti kamu ninggalin aku.”

Aryan menghela tangannya untuk mengusap lembut pipi Kina, “Hey, kamu ngomong apa sih? Aku nggak akan ninggalin kamu, Sayang.”

You will promise that?”

Yes, I promise.”

Kina pun mengulaskan senyumnya mendengar penurutan Aryan itu. Dengan satu gerakan, Kina menjatuhkan dirinya ke dekapan Aryan. Tangannya melingkar di pinggang lelaki itu dan Aryan balas mendekap Kina dengan kedua lengannya.

I love you,” ucap Kina.

Aryan perlahan mengurai pelukannya, ia menangkup kedua sisi wajah Kina dengan tangannya, “Aku juga sayang kamu,” tutur Aryan. Pandangan Aryan lekat menatap Kina, sorot matanya memancarkan afeksi yang sangat dalam untuk perempuan itu.

Detik berikutnya Kina bergerak memangkas jaraknya dengan Aryan. Aryan dapat merasakan hembusan napas hangat Kina di dekatnya. Mereka pun semakin dekat hingga Kina mengecup bibir Aryan lebih dulu. Kina menciumnya dengan tempo pelan dan Aryan membalasnya tidak kalah intim. Mereka melakukannya dengan intens, hingga perlahan Aryan mengurai ciumannya lebih dulu.

“Kina, ada yang harus aku sampaikan ke kamu,” ujar Aryan.

Oke, just tell me. What happen?”

“Aku udah memutuskan untuk menikahi Karin,” ucap Aryan apa adanya.

“Aryan ... kamu becanda? Kamu jangan bohongin aku.”

I'm not lying, Kina. Aku minta maaf, tapi aku udah mutusin ini.”

Sorot mata Kina kini berubah kala menatapnya. Aryan tahu Kina akan tersakiti dengan keputusannya ini, tapi Aryan tidak memiliki pilihan.

“Aku sayang sama anak aku. Aku nggak mau suatu hari aku menyesal karena harus kehilangan dia,” papar Aryan.

You hurt me, you know?”

“Aryan, kamu baru aja mengingkari janji kamu. You said that you never leave me. But then you will marry her,” ujar Kina dengan suara paraunya.

Aryan bungkam. Pikirannya kini semakin kusut dan ia menemui jalan buntu yang tidak memiliki cahaya.

Air matanya pun mengalir membasahi kedua pipi Kina. “Aku nggak mau kehilangan kamu, Aryan. Aku nggak bisa. Aku cinta sama kamu,” sambung Kina.

“Kamu menikah sama dia tanpa sebuah cinta. Kamu yakin bisa melalui itu?”

“Aku nggak punya pilihan, Kina. Aku cuma mikirin anak aku.”

Then, you have a choice. Kamu menikah sama Karin hanya demi anak. Kalau gitu kamu bisa ajukan win win solution.”

“Maksud kamu?”

“Selama kamu nggak akan mencintai Karin, kamu bisa mengajukan itu. Setelah anak kalian lahir, kamu dan Karin bisa berpisah. Kamu tetap bisa ketemu sama anak kamu, sekalipun hak asuhnya nanti jatuh ke Karin. Gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Begitu Aryan tiba di depan ruang rawat, ia menemukan Nayna dan Leon berada di sana. Leon mengatakan bahwa ia telah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan, jadi lah Syerin meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan mau ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

“Aryan, lo boleh masuk buat lihat kondisinya Karin,” ucap Leon ketika Aryan hanya terdiam. Melihat sahabatnya tampak kalut, Leon pun menyusul Aryan menghampiri Aryan yang melangkah menuju kursi di kursi panjang di depan ruang UGD. Leon ikut duduk di samping Aryan, lalu lelaki itu menepuk pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan mengangkat wajahnya, dan menatap Leon.

Leon dapat melihat sebuah penyesalan dari sorot mata yang Aryan pancarkan. Leon menghela napasnya lalu menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a messed, Bro. Tapi yang lebih penting sekarang, lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Lo akan kehilangan lebih banyak, nggak tau itu akan terjadi kapan.”

***

Karin masih memejamkan matanya kala Aryan menemuinya di ruangan rawat. Sebelum Aryan datang tadi, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang dengan segala rasa sakitnya untuk mempertahankan bayi di kandungannya.

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin yang nampak damai. Seperti yang di katakan oleh Leon, Aryan saat ini merasa bersalah dan begitu menyesal.

Beberapa jam yang lalu Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini Aryan yang merasakannya. Jantungnya seperti dihantam kuat, dadanya terasa begitu sesak. Aryan sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Karin merawat bayinya sendiri.

Di tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka netranya. Ia sedikit terkejut mendapati Aryan berada di sana.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan tangisnya pecah. “Gimana kondisi bayinya?” tanya Karin dengan nada dinginnya. Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku ... bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit serak dan tutur katanya berantakan.

Setelah percakapan singkat Aryan dan Karin itu, tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu ruangan. Aryan pun bergerak untuk membuka pintunya dan ia mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan keadaannya bahwa calon anaknya baik-baik saja saat ini. Untungnya Karin cepat di bawa ke UGD, kalau tidak mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Mamanya segera menemui Karin, perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung di pertemuan keduanya untuk yang kali pertama tersebut.

“Karin, maaf. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membaut Karin merasa nyaman, tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan mau minta tolong sesuatu,” ucap Aryan.

Karin memerhatikan interaksi Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahun tersebut, ada kekecewaan di sana. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetaplah menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Minta tolong soal apa?” tanya Aryo beberapa detik kemudian pada Aryan.

“Tadi Leon ngasih tau kalau sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga dari sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Thank you Pah,” ucap Aryan. Dari tatapan mata Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi rasa sayang seorang ayah memang tidak mudah dihilangkan begitu saja.

***

Setelah kedua orang tua Aryan dan adiknya perempuannya pamit pulang, Karin mendapati Rey datang ke ruang rawatnya. Rey tadinya ingin menginap untuk menjaga Karin, tapi Karin mengatakan bahwa lelaki itu tidak perlu menginap. Mbak Fitri akan menemaninya selama Karin di rawat dan itu cukup.

Aryan masih ada di sana saat Rey datang. Jadi ketika dokter dan perawat melakukan visit ke ruangannya, dokter lelaki itu sempat melemparkan tatapan bingung dan akhirnya bertanya pada Aryan dan Rey.

“Siapa di sini yang ayahnya bayinya?” tanya dokter itu.

Spontan Aryan dan Rey saling melempar pandangan ke arah Karin. Situasinya sempat canggung, Karin hendak menjawab, tapi rupanya Aryan lebih dulu membuka suaranya, “Saya, Dok. Saya ayahnya bayinya,” ucap Aryan.

“Oke. Kalau gitu, Bapak silakan ke ruangan saya. Ada yang ingin saya sampaikan terkait kondisi ibu dan bayinya,” tutur dokter itu.

Aryan melihat ke arah Karin sekilas sebelum lelaki jangkung itu melangkahkan kakinya mengikuti dokter dan perawat untuk keluar ruangan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Begitu Aryan tiba di depan ruang rawat, ia menemukan Nayna dan Leon berada di sana. Leon mengatakan bahwa ia telah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan, jadi lah Syerin meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan mau ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

“Aryan, lo boleh masuk buat lihat kondisinya Karin,” ucap Leon ketika Aryan hanya terdiam. Melihat sahabatnya tampak kalut, Leon pun menyusul Aryan menghampiri Aryan yang melangkah menuju kursi di kursi panjang di depan ruang UGD. Leon ikut duduk di samping Aryan, lalu lelaki itu menepuk pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan mengangkat wajahnya, dan menatap Leon.

Leon dapat melihat sebuah penyesalan dari sorot mata yang Aryan pancarkan. Leon menghela napasnya lalu menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a messed, Bro. Tapi yang lebih penting sekarang, lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Lo akan kehilangan lebih banyak, nggak tau itu akan terjadi kapan.”

***

Karin masih memejamkan matanya kala Aryan menemuinya di ruangan rawat. Sebelum Aryan datang tadi, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang dengan segala rasa sakitnya untuk mempertahankan bayi di kandungannya.

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin yang nampak damai. Seperti yang di katakan oleh Leon, Aryan saat ini merasa bersalah dan begitu menyesal.

Beberapa jam yang lalu Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini Aryan yang merasakannya. Jantungnya seperti dihantam kuat, dadanya terasa begitu sesak. Aryan sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Karin merawat bayinya sendiri.

Di tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka netranya. Ia sedikit terkejut mendapati Aryan berada di sana.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan tangisnya pecah. “Gimana kondisi bayinya?” tanya Karin dengan nada dinginnya. Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku ... bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit serak dan tutur katanya berantakan.

Setelah percakapan singkat Aryan dan Karin itu, tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu ruangan. Aryan pun bergerak untuk membuka pintunya dan ia mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan keadaannya bahwa calon anaknya baik-baik saja saat ini. Untungnya Karin cepat di bawa ke UGD, kalau tidak mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Mamanya segera menemui Karin, perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung di pertemuan keduanya untuk yang kali pertama tersebut.

“Karin, maaf. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membaut Karin merasa nyaman, tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan mau minta tolong sesuatu,” ucap Aryan.

Karin memerhatikan interaksi Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahun tersebut, ada kekecewaan di sana. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetaplah menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Minta tolong soal apa?” tanya Aryo beberapa detik kemudian pada Aryan.

“Tadi Leon ngasih tau kalau sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga dari sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Thank you Pah,” ucap Aryan. Dari tatapan mata Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi rasa sayang seorang ayah memang tidak mudah dihilangkan begitu saja.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Begitu Aryan tiba di depan ruang rawat, ia menemukan Nayna dan Leon berada di sana. Leon mengatakan bahwa ia telah mengabari Syerin, kakaknya Karin. Namun Syerin sedang berada di luar kota karena urusan pekerjaan, jadi lah Syerin meminta Mbak Fitri, asistennya, untuk membantu menjaga Karin selama di rumah sakit.

“Ko, gue udah telfon papa sama mama. Mereka dalam perjalanan mau ke sini,” ujar Nayna pada Aryan.

“Aryan, lo boleh masuk buat lihat kondisinya Karin,” ucap Leon ketika Aryan hanya terdiam. Melihat sahabatnya tampak kalut, Leon pun menyusul Aryan menghampiri Aryan yang melangkah menuju kursi di kursi panjang di depan ruang UGD. Leon ikut duduk di samping Aryan, lalu lelaki itu menepuk pundak sahabatnya.

“Lo masuk dulu sana, Karin dan anaknya butuh lo,” saran Leon. Aryan mengangkat wajahnya, dan menatap Leon.

Leon dapat melihat sebuah penyesalan dari sorot mata yang Aryan pancarkan. Leon menghela napasnya lalu menghembuskannya, “It's oke to ruin something. We always made a messed, Bro. Tapi yang lebih penting sekarang, lo jangan terlalu larut sama penyesalan. Lo akan kehilangan lebih banyak, nggak tau itu akan terjadi kapan.”

***

Karin masih memejamkan matanya kala Aryan menemuinya di ruangan rawat. Sebelum Aryan datang tadi, Karin berada di ruang UGD dan tengah berjuang dengan segala rasa sakitnya untuk mempertahankan bayi di kandungannya.

Aryan menarik kursi di samping ranjang Karin dan duduk di sana. Ia melayangkan tatapannya pada paras tertidur Karin yang nampak damai. Seperti yang di katakan oleh Leon, Aryan saat ini merasa bersalah dan begitu menyesal.

Beberapa jam yang lalu Karin yang harus merasakan rasa sakit itu. Kini Aryan yang merasakannya. Jantungnya seperti dihantam kuat, dadanya terasa begitu sesak. Aryan sadar bahwa ia begitu menyayangi calon anaknya. Ia tidak ingin kehilangan anaknya dan tidak bisa membayangkan bagaimana nanti Karin merawat bayinya sendiri.

Di tengah pikiran kacau Aryan, perlahan-lahan Karin mulai membuka netranya. Ia sedikit terkejut mendapati Aryan berada di sana.

Karin mengalihkan tatapannya dari Aryan ke arah lain. Hati Karin rasanya begitu sakit saat melihat Aryan, ia berusaha menahan tangisnya pecah. “Gimana kondisi bayinya?” tanya Karin dengan nada dinginnya. Karin berusaha menatap Aryan, meskipun itu terasa sulit, ia tidak ingin ego lebih menguasai dirinya.

“Aku belum ngomong sama dokternya untuk tau detailnya. Tapi dia ... maksud aku ... bayinya baik-baik aja,” jelas Aryan, nada suaranya sedikit serak dan tutur katanya berantakan.

Setelah percakapan singkat Aryan dan Karin itu, tidak lama kemudian terdengar ketukan di pintu ruangan. Aryan pun bergerak untuk membuka pintunya dan ia mendapati papa dan mamanya berada di sana.

Mamanya melemparkan tatapan khawatir sekaligus bertanya pada Aryan soal kondisi Karin dan bayinya. Aryan pun menjelaskan keadaannya bahwa calon anaknya baik-baik saja saat ini. Untungnya Karin cepat di bawa ke UGD, kalau tidak mungkin mereka sudah kehilangan nyawa kecil itu.

Mamanya segera menemui Karin, perempuan yang tengah mengandung cucunya itu nampak sedikit canggung di pertemuan keduanya untuk yang kali pertama tersebut.

“Karin, maaf. Tante baru sempat menemui kamu,” ujar Tiara sembari menatap Karin. Tatapan lembut dan keibuannya itu perlahan membaut Karin merasa nyaman, tidak terlalu canggung lagi.

“Nggak papa, Tante,” balas Karin sambil menyunggingkan senyum kecilnya.

Aryan mengarahkan tatapannya pada papanya sebelum berujar, “Pah, Aryan mau minta tolong sesuatu,” ucap Aryan.

Karin memerhatikan interaksi Aryan dan papanya. Terlihat dari tatapan pria kisaran usia 40 tahun tersebut, ada kekecewaan di sana. Namun bagaimana pun, seorang ayah tetaplah menjadi tempat bersandar dan meminta pertolongan bagi anak lelakinya.

“Minta tolong soal apa?” tanya Aryo beberapa detik kemudian pada Aryan.

“Tadi Leon ngasih tau kalau sekarang di lobi banyak media sama wartawan. Mereka berusaha masuk untuk dapat bahan berita soal Karin. Aryan boleh minta tolong sama Papa untuk ngirim bodyguard kesini? Untuk jaga-jaga dari sesuatu yang nggak diinginkan,” jelas Aryan.

Selesai Aryan dengan penjelasannya, papanya itu menganggukinya. “Oke. Papa akan bantu kamu,” putus Aryo.

“Thank you Pah,” ucap Aryan. Dari tatapan mata Aryan, nampak sebuah kebahagiaan kecil di sana. Rupanya papanya masih begitu peduli. Meskipun mungkin ini bukan ditujukan langsung untuknya, tapi rasa sayang seorang ayah memang tidak mudah dihilangkan begitu saja.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷