alyadara

Di tengah kehamilan mudanya, Karin tetap ingin berusaha dan berjuang untuk mendapatkan penghasilan. Karin memutuskan mengambil job photoshoot dengan clothing line dan kerja sama dengan brand untuk mempromosikan produk mereka. Beberapa merek masih percaya padanya dan ingin bekerja dengannya.

Karin sedang berada di ruang ganti bersama stylist yang membantunya untuk mengganti pakaian. Ia masih ada pemotretan untuk beberapa pasang baju lagi. Setelah selesai dengan outfit-nya, Karin melakukan sedikit touch-up makeup di wajahnya.

Saat Karin menunggu gilirannya untuk pemotretan, ia mendapati Naya dan Jihan mendatanginya. Kedua sahabatnya itu sengaja datang ke studio untuk mengiriminya makanan dan minuman kesukaaannya.

“Nih, gue bawain red velvet union kesukaan lo. Habisin yaa, biar bumil sama debaynya makin happy,” ujar Jihan. Ia meletakkan sebuah bungkusan kue yang nampak premium itu di meja yang berada di dekat Karin.

“Makasih Jihan,” balas Karin diiringi senyumnya.

Naya pun meletakkan 2 minuman kesukaan Karin, yakni minuman mango frappe with jelly dan chocolate mousse yang merupakan minuman favorit Karin.

“Rin, lo habis ini masih ada kerjaan atau langsung balik?” tanya Naya.

“Ini yang terakhir. Habis ini gue langsung balik kok.”

Naya pun menganggukkan kepalanya. “Nice. Lo jangan kecapean dulu ya, Rin. Gue sama Jihan tungguin lo sampai beres, biar kita anter lo balik ke apart.”

“Gue balik sama Dara pakai supir kok nanti. Kalian nggak perlu repot-repot kayak gini,” ucap Karin. Ia menatap kedua sahabatnya dengan tatapan sungkan.

Naya dan Jihan memang sudah tahu mengenai kehamilannya dan apa yang terjadi pada Karin. Karin paham sahabatnya ingin berbaik hati padanya dan sangat peduli. Namun ia tidak enak hati jika dirinya terus menjadi beban untuk sahabatnya.

***

Sekitar satu jam yang lalu Karin telah menyelesaikan photoshoot-nya. Kini ia dalam perjalanan pulang bersama Dara. Karin tengah menikmati minuman coklat yang di berikan oleh Naya. Sebuah senyum pun terukir di wajahnya. Dara yang melihat aksi Karin itu ikut menyunggingkan senyumnya. Hatinya tersentuh melihat Karin bahagia bahkan dari hal kecil sekalipun.

“Dar, besok gue ada kerjaan lagi nggak?” tanya Karin sambil menoleh pada Dara.

“Besok nggak ada. Lo bisa full seharian istirahat.”

“Oke, thank you Dar.”

“Rin,” ujar Dara.

“Ya?”

“Lo yakin lo bisa membesarkan anak lo sendiri?” tanya Dara. Perlahan-lahan netra Dara pun nampak berkaca-kaca akan ucapannya sendiri. Beberapa minggu ini Dara telah menahan semuanya, ia sok kuat di hadapan Karin. Kenyataannya ia begitu tidak tega melihat kondisi partner kerjanya sekaligus sahabatnya itu.

“Gue yakin Dar,” ujar Karin menjawab pertanyaan Dara.

“Lo bilang keluarganya Aryan nggak akan biarin lo hadapin ini sendiri. Tapi nyatanya tuh cowok brengsek banget ya nyuruh lo gugurin gitu aja.”

“Dari awal antara gue sama dia emang cuma kecelakaan, Dar. Dia punya hak untuk nggak menerima anaknya. Tapi sebagai ibunya, gue juga punya hak buat milih,” Karin menjeda ucapannya, ia menurunkan pandangannya ke arah perutnya, “Gue milih buat pertahanin anak ini, gue udah sayang banget sama dia.”

***

Karin sampai di apartemennya dan langsung menuju kamarnya. Hari ini cukup melelahkan baginya. Dari pagi sampai siang ia ada shooting untuk kampanye brand. Setelah itu di lanjut untuk photoshoot clothing line.

Karin menuju ranjang ukuran queen sizenya. Ia ingin langsung memejamkan matanya, berharap ketika bangun nanti tubuhnya dapat terasa jauh lebih fit. Namun tiba-tiba justru ia terbayang kejadian malam itu, dimana dirinya dan Aryan melakukannya. Sekelabat bayangan itu pun datang padanya seperti sebuah kepingan puzzle.

Mengingatnya entah kenapa membuat mata Karin terasa memanas. Hatinya begitu sakit ketika Aryan menolak anaknya. Harusnya tidak begitu kan? Harusnya Karin tidak perlu memikirkan itu.

Karin bergerak tidak nyaman dalam posisinya. Ia berusaha untuk bangun dari baringannya dan menyandarkan punggungnya di header kasur. Kemudian tangannya mengarah ke perutnya yang masih terasa rata. “Hai, anak Mama,” ucapnya sambil tersenyum kecil. “Mama harap suatu hari nanti kamu baik-baik aja seandainya keluarga kita nggak lengkap. Nggak papa ya kalau kamu cuma punya Mama di dunia ini,” ujar Karin panjang lebar.

Setelah memberi usapan di perutnya, Karin memutuskan untuk kembali membaringkan tubuhnya. Ia mulai mencoba memejamkan mata bersamaan dadanya yang terasa sakit. Namun menit berikutnya yang terjadi rasa sakit di hatinya berganti dengan rasa sakit di perutnya.

“Arghh,” rintih Karin diiringi kernyitan di dahinya. Rasa sakit itu kian terasa intens, hingga bulir-bulir keringat mulai turun membasahi pelipis Karin.

Karin berusaha bergerak dari posisinya untuk mengambil ponselnya. Nomor yang ia hubungi pertama kali adalah nomor Aryan. Bagaimana pun Aryan perlu tahu keadaan anaknya. Karin tidak ingin menjadi orang tua yang egois dengan hanya memikirkan hatinya yang terluka.

Namun harapan kembali menghempaskan Karin. Aryan tidak mengangkat panggilannya atau membaca pesannya. Karin tidak ingin menyerah dan kalah terhadap rasa sakitnya, ia pun berusaha menghubungi Nayna dan Leon. Tidak lama kemudian Nayna pun membalas pesannya dan Leon menjawab panggilan telfonnya. Sahabat Aryan itu mengatakan bahwa dirinya akan sampai secepat mungkin ke apartemennya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dara sedang mengecek bagian inbox pada email yang ia khususkan untuk urusan pekerjaan Karin sebagai beauty influencer dan model. Matanya memindai satu persatu email masuk itu, berharap mendapat balasan berupa kabar baik. Namun harapannya sirna seketika kala yang ia dapatkan justru keterbalikan dari sebuah harapan. Beberapa brand mengajukan pembatalan kontrak untuk bekerja dengan Karin, selain itu rencana endorse yang sebelumnya sudah di ajukan pun tidak jadi dealing.

Dara mengambil ponselnya dan segera mendial nomor Karin. “Halo Rin,” ucap Dara begitu sambungannya terhubung.

Karin yang berada di lokasi yang berbeda dengan managernya itu, dapat langsung menebak kabar apa yang akan Dara sampaikan. Helaan napas berat Dara, sudah menjelaskan semuanya.

We still have a chance, Rin. Don't be worry. Nanti malam gue apart lo ya. Lo lagi craving apaan gitu nggak? Bilang aja, nanti sekalian gue bawain,” ucap Dara dengan nada cerianya, berusaha membuat Karin merasa baik-baik saja.

“Dar, I'm sorry, I ruin everything. Selama ini lo udah kerja keras untuk karir gue, tapi gue malah—”

“Lo ngomong apa sih, Rin. Dengerin gue, pa pun yang terjadi sama lo, gue akan selalu ada buat lo. Lo inget itu.”

***

Di tempat lain, Karin baru saja mengakhiri sambungan telfonnya dengan Dara. Karin lekas memasukkan barang-barangnya ke dalam tote bag miliknya. Hari ini Karin resmi kehilagan gelar mahasiswa berprestasi setelah pihak kampus mengetahui bahwa ia hamil di luar nikah. Namun di antara banyak hal berat yang datang padanya, Karin berusaha mensyukuri kebaikan yang masih terjadi padanya. Seperti siang ini, dosennya memberi tahu bahwa tidak ada kelas dan hanya memberi tugas individu. Jadi Karin dapat langsung pulang ke apartemennya.

Semenjak Karin mengandung, ia merasa jadi cepat lelah. Belum lagi mual-mual yang di alaminya beberapa kali mengakibatkan konsentrasinya terganggu ketika ia berada di kampus.

Saat Karin keluar dari lift dan sampai di lobi gedung, ia menemui Rey di sana. Hari ini Rey mengatakan memang berencana mengantarnya pulang.

“Rey, kita date-nya di apart aku aja ya. Nggak papa, kan?” tanya Karin.

It's oke. Dara ada rencana mau ke apart kamu nggak?”

Karin menghela napasnya, “Oh iya tadi bilang mau ke apart sih, tapi agak maleman. Soalnya Dara masih ada kuliah sampai jam 6.”

“Kalau Dara dateng, nanti aku pulang. Dara bisa nginep nggak malam ini di apart kamu?”

“Kenapa nyuruh Dara nginep?”

“Buat temenin kamu di apart.”

“Rey, kok kita ke parkiran mobil? Kamu biasanya kan bawa motor,” ucap Karin saat baru sadar bahwa kini ia dan Rey berjalan ke arah parkiran mobil

“Iya, aku bawa mobil,” ujar Rey. Sesampainya langkah mereka di depan sebuah Honda HRV berwarna putih, Rey membukakan pintu penumpang di samping supir dan mempersilakan Karin untuk masuk.

Karin pun bergerak masuk ke dalam mobil itu. Dalam hatinya Karin membatin. Perempuan itu akhirnya mengerti apa yang sedang dilakukan oleh Rey untuknya.

***

“Kamu ngantuk?” tanya Rey sambil memerhatikan mata Karin yang tampak sayu. Kegiatan kencan sederhana mereka hari ini adalah masak bersama dan menonton siaran netflix dari TV layar tipis di ruang tamu apartemen Karin.

Rey lantas mengarahkan tangannya untuk mengusap kepala Karin. Ia menatap Karin dengan tatapan penuh afeksinya, lembut, dan teduh sekali. Karin hanyut mendapati perlakuan Rey terhadapnya.

“Rey,”

“Ya?”

I just wanna say that I love you,” ucap Karin sambil mengulaskan senyumnya.

Everything happened and knowing that I still having you in my life, I'm so grateful, Rey,” tutur Karin.

“Karin, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” ucap Rey.

“Kamu mau bilang apa?” Kini Karin menopang satu sisi wajahnya menggunakan tangan, menatap Rey lekat. Selama Karin masih menatapnya seperti itu, Rey tahu bahwa Karin sungguh mencintainya.

“Aku mau menikahi kamu,” ucap Rey gamblang. Tiga detik berlalu dan perkataan Rey itu masih membuat Karin terdiam. Karin tidak tahu harus menjawab apa.

“Rey, kamu—”

“Aku serius, Karina. Aku nggak ingin liat kamu sendirian hadapin semuanya sendiri,” jelas Rey. Lelaki itu mengatakan walau ia bukan ayah dari anak yang dikandung Karin, ia mencintai anak itu sama sepertia ia mencintai Karin.

“Rey, kamu tau orang tua kamu nggak setuju. Aku nggak ingin kamu melakukan sesuatu yang dilarang sama orang tua kamu. Mereka yang udah membesarkan kamu, Rey,” terang Karin. Karin berusaha mengatakannya meskipun di waktu yang sama hatinya sendiri terasa sakit.

Rey mengambil kedua tangan Karin, ia mengenggamnya sambil menatap netra Karin lamat-lamat. “Aku akan berjuang buat dapatin restu dari orang tuaku. Karin, aku mau tetap sama kamu dan bisa selalu jagain kamu. Kamu mau kan nunggu aku buat nikahin kamu?”

Karin menatap Rey sesaat sebelum ia menganggukkan kepalanya. Namun tidak bisa Karin pungkiri bahwa pikirannya mengatakan hal lain, berbanding terbalik dengan hatinya. Kemungkinannya sangat kecil untuknya dan Rey bisa bersatu dengan kondisinya saat ini. Karin mencintai Rey dan menginginkan hidup bersamanya, tapi situasinya sungguh jauh berbeda.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Koridor lantai 5 gedung itu nampak cukup ramai oleh lalu lalang orang. Di jam seperti ini, biasanya para mahasiswa maupun mahasiswi menggunakan waktu istirahat mereka untuk makan siang. Sama dengan yang dilakukan oleh Karin, perempuan itu berniat keluar kelas untuk ke kantin, tapi langkahnya seketika terhenti kala mendapati sosok yang fameliar itu di depan kelasnya.

Begitu melihat keberadaan Karin, lelaki bertubuh tinggi itu langsung menghampirinya.

“Karin, aku ingin ngomong berdua sama kamu,” ucap Aryan. Setelah kejadian di lapangan waktu itu, dimana Aryan mengetahui fakta bahwa Karin tengah mengandung darah dagingnya, Aryan baru menemuinya lagi. Aryan menjelaskan maksudnya bahwa ia ingin membicarakan soal apa yang saat ini terjadi di antara mereka.

“Oke.” Hanya itu yang terlontar dari bibir Karin setelah Aryan mengutarakan maksudnya menemui Karin siang ini.

Karin mengikuti langkah Aryan, berjalan di sisinya. Saat mereka melewati beberapa orang, Aryan dan Karin tidak dapat mencegah orang-orang itu untuk tidak menatap mereka dengan tatapan ingin tahu. Selama ini yang publik tahu adalah Aryan kekasihnya Shakina. Aryan nampak tidak peduli dengan tatapan mereka. Terkadang ktia hanya perlu membiarkan publik menerka-nerka, karena tidak semuanya perlu menjadi bahan konsumsi publik.

“Kita ngbrolnya sambil makan siang. Kamu mau makan sesuatu?” tanya Aryan pada Karin. Otomatis Karin menghentikan langkahnya dan menatap Aryan.

Karin pun menjawab bahwa ia ingin makan fast food yang ada di dekat gedung fakultas mereka.

“Oke. Kita ke sana,” putus Aryan.

***

Aryan memerhatikan Karin yang menikmati makanannya dengan lahap. 15 menit pun berlalu dan Karin selesai lebih dulu dibandingkan dengan Aryan. Jadi kini gantian Karin yang menonton Aryan menghabiskan makanannya.

Tidak lama berselang, Aryan sudah selesai dengan makanannya. Lelaki itu meneguk colanya lebih dulu, lalu mengatakan pada Karin bahwa ia akan memulai pembicaraannya.

Karin merapikan piring bekas makannya sekalian milik Aryan. Ia menggeser itu untuk menjauh, sebelum Aryan membuka suaranya.

“Karin, kamu tau kan ini nggak mudah buat kamu,” ucap Aryan sambil menatap iris legam Karin.

“Aku mau nawarin kamu solusi yang terbaik untuk kita berdua,” sambung Aryan.

“Maksud kamu solusi apa?” tanya Karin yang belum memahami arah perkataan Aryan.

“Kita masih terlalu muda untuk jadi orang tua. Kamu paham itu kan?” tutur Aryan.

Karin memandang Aryan selama beberapa detik. Saat ini ia sudah sangat mengerti maksud perkataan Aryan itu.

Karin mengucapkannya tanpa berniat mengalihkan tatapannya dari Aryan, “Nggak papa kalau kamu nggak menginginkan anak ini. Tapi aku nggak mau kehilangan dia.”

“Kamu nggak bisa rawat dia sendiri,” ujar Aryan lagi.

“Aku bisa.”

Aryan berusaha menjelaskan pada Karin tentang situasi yang terjadi. Mereka tidak saling mencintai, bagaimana mungkin dapat bersatu. Karin memiliki kekasih, begitupun dengan Aryan. Aryan memberi solusi pada Karin untuk menggugurkan kandungannya, pikirnya itu yang terbaik untuk masa depan Karin juga.

“Aryan, mungkin solusi itu yang terbaik buat kamu,” ujar Karin. Aryan menatap Karin dengan tatapan bertanyanya. “Tapi kamu perlu tau, anak ini nggak salah apa-apa. I think you understand about that,” pungkas Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald itu. Sesampainya Karin di meja penerima tamu, ia memberikan undangannya kepada petugas di sana. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawanya menuju sebuah kursi yang bertuliskan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey lagi ada kerjaan photoshoot untuk pre-wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan di kepalanya.

Beberapa detik kemudian, semua atensi para tamu seketika tertuju pada sosok yang baru saja naik ke atas panggung di depan sana. Seorang wanita dengan surai sebahu berwarna soft purple itu menaiki panggung dan mulai berbicara melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. I wanna say thank you for coming to Clairs Beauty party celebration. Clairs Beauty has to glad to make this huge project to support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu serta live music di atas panggung membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara sudah dimulai sekitar satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman orange juice yang tadi? Nggak ada kok, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya yang serak. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara, tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang dijawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin pun hanya menjawab Tasya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntun langkahnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama karyawan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara mengenai keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, tempat ini sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse ketimbang kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di atas lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa tidak beraturan. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah pandangannya dengan sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada bidang lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental di hadapannya itu. Alis rapi, mata sipit, serta bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan oleh tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, it's my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk,see,” balas lelaki itu sambil menghembuskan napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu bergerak mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin pun melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki tersebut memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak menyadari bahwa kini tangannya telah terbebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya pun turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuk yang begitu indah. Sempurn dan tanpa celah, ujar Karin dalam hati.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika netranya kembali bertemu dengan netra Aryan.

I want to taste you, but it's feels so wrong ... “ sambung Karin lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya di pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan, ia mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Detik berikutnya, Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya. Itu menciptakan sensasi menggelitik bagi Karin, ada sebuah desiran yang terasa hangat di rongga dadanya.

Aryan menatap Karin dalam-dalam, sebelum akhirnya mendekatkan diri dan mulai mengecup bibir Karin dengan mesra. Karin memberikan respon terkejutnya, tapi ia menikmati sensasi itu. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweating,” ucap Karin.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya bergerak mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membuat saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciuman sensualnya. Karin mendekap torso Aryan, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan lengannya di bawah kedua paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Karin bergerak dari posisinya, ia memosisikan tangannya melepas dress hitamnya, tapi nampak kesulitan untuk melakukan itu sendiri.

Aryan and Karin's Hotel Room

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika disentuh.

Aryan pun bergerak memosisikan tubuhnya di belakang Karin. Tangannya mulai menyentuh resleting gaun di punggung Karin, ia menariknya dengan satu tarikan.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan mendapati pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halus punggung Karin menggunakan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia memandangi paras Karin sesaat sebelum melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci bentuk wajah Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, guna menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan di kepalanya. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan menatap wajah Karin sesaat, sebelum akhirnya kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia memberikan hisapan dan gigitan di bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyut-nyutan di sana.

Kali ini Karin lumayan kualahan membalas lumatan Aryan, pria itu melakukannya dengan tempo yang lumayan cepat, hingga Karin dapat mendengar bunyi cecapan memenuhi indera pendengarannya. Karin meletakkan tangannya di pundak Aryan, mengusapnya dan meremasnya untuk memberikannya kekuatan.

Beberapa menit berlalu, Karin merasakan Aryan menjauhkan belah bibirnya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Aryan mencium area di sekitar ujung bibirnya. Melihat bibir Karin yang bengkak, membuat naluri Aryan tergerak untuk mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di sana, berharap Karin dapat merasa lebih baik.

I want you too so bad,” lirih Aryan di tengah napasnya yang beradu indah bersama Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Kabar besar soal Aryan dan Karin telah sampai juga ke telinga Edi dan Felicia, opa dan omanya Aryan. Felicia menghubungi putranya, meminta Aryo untuk membatalkan keputusannya tersebut. Namun yang terjadi adalah Aryo tetap kekeuh pada pendiriannya.

Tidak ada yang berhasil membujuk Aryo untuk tidak memberikan pelajaran berharga pada anak lelakinya. Tiara, Nayna, dan Felicia, ketiga perempuan yang dicintai Aryo itu, tidak dapat menggugurkan niatnya untuk mencabut fasilitas Aryan.

Hampir semua fasilitas yang Aryan miliki telah disita, kini lelaki itu hanya memiliki tabungan sebesar 10% dari dana tak terbatas yang ia punya sebelumnya. Seolah belum cukup dengan itu, papanya juga memintanya untuk pergi dari rumah.

Aryo menahan Tiara dan Nayna yang hendak menyusul langkah Aryan. Sebagai seorang ibu, Tiara mana tega melihat anaknya pergi dari rumah.

“Sayang, Aryan sudah besar. Dia harus belajar berpikir dan mengambil keputusan yang tepat,” ujar Aryo pada Tiara.

Tiara pun melayangkan tatapannya pada Aryo, “Setidaknya jangan minta dia pergi dari rumah. Nggak ada seorang ibu yang bisa melihat anaknya pergi dan nggak punya tujuan,” ucap Tiara.

Hati Aryan yang mendengar penuturan mamanya itu, seketika terasa seperti dihantam kuat. Beberapa langkah lagi, kakinya hampir sampai di pintu rumah. Sebelum benar-benar pergi, Aryan memutuskan untuk memutar balik langkahnya dan berbicara pada mamanya.

Aryan menatap Tiara, “Mama nggak perlu khawatir sama Aryan. Aryan akan berusaha menyelesaikan masalah Aryan,” ujar Aryan.

Setelah itu Aryan mengalihkan tatapannya kepada Aryo, tapi papanya itu terlihat tidak sudi untuk sekedar melihatnya. “Pah, Aryan tau kata maaf nggak cukup untuk semua rasa kecewa yang Papa dan Mama. Tapi Aryan janji, Aryan hanya akan kembali ke rumah setelah membuat Papa dan Mama bangga,” tutur Aryan.

Usai mengatakannya, Aryan berbalik dan melangkahkan kakinya untuk pergi. Tiara dan Nayna menatap kepergian Aryan dengan tatapan terlukanya. Nayna menghampiri mamanya dan menenangkanya, ia membawa Tiara ke dalam pelukannya.

“Mah, percaya sama koko ya. Koko bakal balik kok. Nayna tau, suatu hari koko akan membuat Mama dan Papa bangga.”

***

Nayna meminta tolong pada pak Hamid, supir pribadinya, untuk tidak langsung mengantarnya pulang ke rumah. Fakultas Ekonomi dan Bisnis menjadi tujuan perempuan dengan surai legam sebahu itu. Setibanya di gedung bernuansa biru dan putih tersebut, Nayna segera melangkahkan kakinya untuk masuk.

Nayna menempelkan ponselnya di telinga setelah mendial nomor Leon. Tidak lama kemudian, Leon pun mengangkat telfonnya. “Halo, kak Leon. Iya kak, gue udah di lobi. Oke kak, makasih ya.” Sambungan pun di akhiri dan Nayna menunggu Leon yang katanya akan segera menghampirinya.

Tidak membutuhkan waktu lama bagi Nayna menunggu Leon datang. Pria jangkung dengan potongan rambut undercut itu bersedia membantunya untuk bertemu dengan seseorang yang ia ingin temui.

Nayna mengikuti langkah Leon dan akhirnya mereka sampai di kantin fakultas. Bertemulah Nayna dengan sosok perempuan berambut hitam legam sepunggung. Sosok itu merupakan seorang diceritakan oleh Aryan kemarin padanya. Karina Titania Roland, perempuan itu menatap Nayna dan lantas mengulaskan senyum tipisnya.

“Lo berdua silakan ngobrol. Gue tinggal dulu ya Nay, Rin,” ucap Leon. Nayna dan Karin pun mengangguki Leon. Sampai punggung Leon menjauh dari pandangan mereka, Nayna maupun Karin belum ada yang membuka suara.

“Hai, Kak Karin. Kenalin, aku Nayna, adiknya Kak Aryan,” Nayna mengulaskan senyum sopannya sembari mengulurkan tangannya di atas meja.

Karin segera membalas uluran tangan itu, “Karin.”

“Aku minta maaf udah ganggu waktu Kak Karin hari ini. Sebelumnya aku emang minta tolong kak Leon untuk ketemu sama Kakak. Aku udah tahu juga soal Kakak dan Kak Aryan.”

Kedua mata Karin nampak melebar kala mendengar penuturan Nayna. Karin terdiam, ia tidak tahu harus memberi respon apa. Sejak kejadian di lapangan tempo hari, Karin memang belum mendengar apapun lagi soal Aryan.

“Kak Aryan udah ngasih tau papa dan mama soal semuanya. Rencananya hari ini mama mau ketemu sama Kak Karin, tapi beliau berhalangan. Tiba-tiba tadi pagi mama sakit dan harus di infus. Udah dua hari yang lalu mama kurang semangat untuk makan ataupun bangun dari tempat tidur,” terang Nayna.

“Nayna, apa itu karena masalah ini?” tanya Karin.

“Papa dan mamaku memang shock banget waktu dengar kabar ini. Kak Aryan dapat pelajaran dari papaku. Orang tuaku bilang, mereka nggak ingin kehilangan nyawa kecil itu, Kak. Mereka sayang sama bayi itu. Kakak mau pertahanin, kan?” tanya Nayna. Sorot matanya memancarkan tatapan penuh harap.

Karin mengerti apa yang sedang coba disampaikan oleh Nayna. Karin pun mengangguk. “Kakak nggak pernah berniat untuk gugurin kandungan ini, Nayna,” papar Karin.

Nayna yang mendengar itu lantas mengulaskan senyumnya. “Kalau mama udah sembuh, Kakak mau ketemu sama mama? Mama bilang mau bicarain semuanya, Nayna belum tau itu apa, tapi yang jelas, kita nggak akan membiarkan Kakak jalanin ini sendiri,” jelas Nayna.

Karin terlihat bingung untuk memberikan jawaban. Perempuan itu berdeham, sebelum akhirnya memiliki keputusan untuk menjawab. Karin pun menganggukkan kepalanya tanda ia setuju untuk bertemu dengan mamanya Aryan. Ia dan Nayna pun bertukar nomor ponsel sebelum keduanya harus berpisah.

“Oke, kalau gitu, kita ngobrol lagi ya nanti Kak. If you need anything, just text me. I’m an aunty right now,” ucap Nayna.

Mendengar perkataan Nayna, membuat seulas senyum tersungging di bibir Karin. “Nay, makasih ya,” ucap Karin.

Nayna menampakkan cengiran manisnya, “Anytime, Kak. Aku siap di repotin sebagai aunty.”

Di tengah situasi tersebut, kehadiran Leon menginterupsi Nayna dan Karin. “Udah selesai ngobrolnya?” tanya Leon.

Kedua perempuan di hadapan Leon itu lantas mengangguk untuk menjawab pertanyaannya. Nayna sekali lagi berpamitan pada Karin. Namun sebelum Nayna benar-benar pergi, Karin menahannya, “Nay, aku titip ini ya.” Karin menyerahkan sebuah wadah berbentuk tube berukuran sedang dari tasnya ke tangan Nayna.

Nayna memerhatikan benda yang kini berada di tangannya. “Ini buat siapa Kak?” tanya Nayna saat mendapati benda tersebut adalah obat untuk luka lebam.

“Buat Aryan. Di olesin ke lukanya 3 kali sehari, biar cepat sembuh,” jelas Karin.

Nayna lantas memasukkan obat itu ke dalam tas kecilnya. “Sure. Aku pastiin koko pakai ini 3 kali sehari. Makasih banyak ya Kak,” ucap Nayna sembari tersenyum simpul.

“Nay, Leon, aku duluan ya. Aku ada kelas lima menit lagi,” pamit Karin setelah mengecek arloji di pergelangan tangannya. Nayna menganggukinya dan membiarkan Karin untuk berlalu lebih dulu.

“Ceritanya kamu jadi kurirnya Aryan sama Karin, gitu Nay?” tanya Leon sepeninggalan Karin dari sana.

“Ya gitu deh, Kak,” Nayna tertawa sekilas. “Habisnya aku tuh khawatir banget lho sama koko. Aku yakin, dua hari ini dia pasti makan makanan instan. Sok-sokan bisa tinggal mandiri, padahal mah, koko tuh manja banget. Kak Leon tau lah koko gimana,” ujar Nayna panjang lebar.

Tadi Nayna memang mengatakan pada Karin bahwa setelah dari sini, ia akan mengunjungi apartemen dimana saat ini Aryan tinggal. Nayna khawatir terhadap kakaknya itu, ia tidak yakin Aryan akan melakukan semuanya dengan benar.

Di dalam perjalanan Nayna menuju apartemen, gadis itu kembali melihat obat luka lebam yang di berikan Karin untuk Aryan. Hal kecil, tapi kok rasanya dalam sekali.

Benda ini bukan untuk Nayna, ia hanya kurir, kalau kata Leon. Namun Nayna saja berhasil tersentuh, hingga sebuah senyum cerah terukir sempurna di wajahnya. Melalui benda kecil tersebut, Nayna yakin, kakaknya yang berhati baja itu akan tersentuh. Kali ini, Nayna bahkan berani bertaruh dengan dirinya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

“Terima kasih ya,” ucap Karin sebelum melangkahkan kakinya memasuki kamar berpintu putih itu. Tim Clairs Beauty yang mengantarnya pun berlalu dari sana setelah memastikan Karin masuk.

Karin melangkah lebih jauh ke dalam ruangan yang lebih besar dari dugaannya itu. Baiklah, tempat ini sangat lebih dari cukup untuknya beristirahat sejenak.

Karin meletakkan tas hitam kecil yang dibawanya di sebuah sofa. Sejauh apa lagi ia harus masuk untuk menemukan kamarnya? Tempat ini lebih pantas disebut penthouse ketimbang kamar hotel.

Karin berniat melepaskan high heels yang terasa menyakiti tumitnya, tapi kegiatannya itu tertahan ketika matanya menangkap 2 buah botol minuman alkohol di atas lantai marmer kamar itu. Aroma alkohol yang menguar di dekatnya, membuat Karin seketika mengernyit karena kembali merasakan pusing di kepalanya.

Karin berusaha berdiri tegak dan mengatur pernapasannya yang terasa tidak beraturan. Detik berikutnya, Karin mendengar derap langkah kaki yang mendekat padanya. Karin mendongakkan kepalanya dan bertemulah pandangannya dengan sosok bertubuh tinggi di hadapannya, mungkin tingginya hanya sebatas dada bidang lelaki itu.

How you can get here? Who are ... you?” tanya suara bernada rendah itu. Tanpa perlu lebih dekat, Karin dapat menghirup aroma alkohol yang menguar dari tubuh lelaki di hadapannya ini.

Jantung Karin rasanya berdetak lebih cepat dari biasanya, kala lelaki itu menyipitkan matanya dan memandangi wajah Karin lamat-lamat.

Karin balas menatap paras oriental di hadapannya itu. Alis rapi, mata sipit, serta bibir penuhnya membuat Karin meneguk salivanya dengan susah payah. Karin berusaha menepis sesuatu yang mendorong dirinya dari dalam. Karin sangat mengerti sinyal yang diberikan oleh tubuhnya, tapi sisa pikiran warasnya telah mencegahnya untuk melakukannya.

“Aku yang harusnya tanya ke kamu. Kenapa ada laki-laki di ruangan ini? Kamar ini khusus untuk tamu Clairs Beauty,” racau Karin dengan matanya yang setengah terpejam.

Hello, it's my room. Kamu yang masuk ke sini dengan keadaan mabuk,see,” balas lelaki itu sambil menghembuskan napas beratnya.

“Kamu yang mabuk,” Karin mengambil dua botol yang isinya telah habis di lantai, lalu ia menunjukkannya di hadapan lelaki itu.

Lelaki itu bergerak mendekat padanya, hendak mengambil botol yang ada di tangan Karin. Otomatis Karin pun melangkahkan kakinya mundur untuk menjauh. Tanpa perkiraan yang matang, tubuhnya sudah menyentuh salah satu dinding di kamar. Itu bertambah buruk saat lelaki tersebut memangkas jaraknya dengan Karin, membuat jantung Karin kembali berdetak tidak karuan di dalam rongga dadanya.

Karin tidak menyadari bahwa kini tangannya telah terbebas dari botol alkohol. Karin kembali memerhatikan paras tampan lelaki itu dan pandangannya pun turun pada bibir tebalnya. Karin berpikir bahwa bibir itu dipahat dengan sangat hati-hati, hingga tercipta bentuk yang begitu indah. Sempurn dan tanpa celah, ujar Karin dalam hati.

God was happy when he created you,” cetus Karin. Setelah mengucapkannya, kepala Karin hampir saja jatuh ke lantai kalau saja Aryan tidak menahannya. Aryan mengangkat wajah Karin menggunakan satu tangannya. Aryan Sakha, lelaki yang mengatakan bahwa kamar ini adalah miliknya, kini tengah menelusuri wajah Karin menggunakan iris hitamnya.

I'm dying when I'm try to not looked at you,” ucap Karin ketika netranya kembali bertemu dengan netra Aryan.

I want to taste you, but it's feels so wrong ... “ sambung Karin lagi.

You want it?” Aryan mengusapkan tangannya di pipi Karin. Ia dapat merasakan hawa panas di permukaan halus kulit perempuan itu. Karin pun menatap Aryan, ia mendapati mata pria itu terlihat sayu dan tatapannya menggelap.

Karin menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. Perlahan tapi pasti, tangannya pun bergerak menarik kerah kemeja hitam Aryan agar pria itu mendekat padanya.

Detik berikutnya, Karin dapat merasakan deru napas Aryan di dekat rahangnya. Itu menciptakan sensasi menggelitik bagi Karin, ada sebuah desiran yang terasa hangat di rongga dadanya.

Aryan menatap Karin dalam-dalam, sebelum akhirnya mendekatkan diri dan mulai mengecup bibir Karin dengan mesra. Karin memberikan respon terkejutnya, tapi ia menikmati sensasi itu. Pertama kali dalam hidup Karin, seseorang tengah mencium bibirnya. Karin tidak dapat mendeskripsikan bagaimana rasanya, ia hanya berusaha membalas lumatan yang Aryan lakukan. Aryan mencumbunya dengan sangat lembut, hati-hati, seolah tidak ingin menyakiti Karin.

Sekitar tiga menit berikutnya, Aryan mengurai ciumannya, “Hei, are you okay?” tanya Aryan saat ia memerhatikan kondisi Karin. Wajah Karin sepenuhnya memerah, Aryan pikir Karin lebih mabuk darinya.

Karin menggeleng, ia merasa tidak baik-baik saja saat ini. “I'm not feeling good and I'm sweating,” ucap Karin.

Just do it again, please,” pinta Karin. Ia menjinjitkan kakinya untuk meraih pundak Aryan, hingga kini tinggi keduanya menjadi sejajar. Karin memajukan wajahnya, ia segera melayangkan kecupan halus di bibir Aryan. Karin melakukannya dengan cukup baik, tidak hanya mengecup, tangannya bergerak mengusap tengkuk Aryan. Itu menciptakan sensasi mendebarkan bagi Aryan, ditambah kini Karin melesakkan lidahnya, membuat saliva mereka saling bertemu.

Are you sure you want it?” tanya Aryan begitu Karin mengakhiri ciuman sensualnya. Karin mendekap torso Aryan, menciptakan rasa hangat di tubuh keduanya.

I'm sure,” bisik Karin di dekat Aryan.

Karin memberikan usapan di punggung Aryan dengan gerakan searah, membuat pria itu seketika memejamkan matanya, menikmati sentuhan yang Karin berikan.

Setelah mendapat jawaban itu, Aryan meletakkan lengannya di bawah kedua paha Karin, ia menggendong Karin di depan tubuhnya. Sesampainya di kamar, Aryan membaringkan Karin di atas sebuah ranjang king size. Karin bergerak dari posisinya, ia memosisikan tangannya melepas dress hitamnya, tapi nampak kesulitan untuk melakukan itu sendiri.

Aryan and Karin's Hotel Room

Aryan ikut bergabung bersama Karin di atas kasur setelah pria itu melepas kemeja hitamnya. “Let me help you,” ucap Aryan. Pemandangan tubuh shirtless Aryan membuat Karin menggigiti bibir bawahnya. Pahatan otot tubuh sempurna Aryan, mendorong Karin untuk membayangkan bagaimana rasanya benda-benda itu jika disentuh.

Aryan pun bergerak memosisikan tubuhnya di belakang Karin. Tangannya mulai menyentuh resleting gaun di punggung Karin, ia menariknya dengan satu tarikan.

Beberapa detik kemudian, dress hitam Karin berhasil terlepas dari tubuhnya. Aryan mendapati pemandangan punggung putih dan halus milik Karin. Perasaan dari dalam diri Aryan begitu mendorongnya untuk merasakan halus punggung Karin menggunakan jemarinya.

Aryan lekas menempatkan Karin untuk berada di bawahnya. Ia memandangi paras Karin sesaat sebelum melesakkan jemarinya untuk menyisir surai lembut Karin. “You're so gorgeous,” ucap Aryan sambil menjelajahi setiap inci bentuk wajah Karin. Karin begitu cantik. Kedua mata yang berukuran agak besar, hidung kecil yang tinggi, serta bibir merah yang tipis itu. Karin sempurna dan indah.

Karin balas menatap paras rupawan Aryan, “God was happy when he created you,” ucap Karin.

“Kamu udah bilang itu tadi,” ujar Aryan diiringi tawa kecilnya.

“Oh iya? Aku lupa,” ucap Karin. “Di sini dingin banget, ta-tapi panas juga,” lanjut Karin sambil melengkungkan bibirnya ke dalam, guna menahan perasaan yang begitu bergejolak dari dalam dirinya.

“Ada selimut. Kamu mau?” tanya Aryan. Karin menjawab Aryan dengan sebuah gelengan di kepalanya. Aryan pun terlihat bingung dan lantas menanyakan apa yang Karin inginkan.

I-I just want you. I want you to hug me,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar parau.

Aryan menatap wajah Karin sesaat, sebelum akhirnya kembali mencumbu bibir merah ceri miliknya. Kali ini Aryan melakukannya dengan sedikit intens, ia memberikan hisapan dan gigitan di bibir bawah Karin sampai meninggalkan rasa nyut-nyutan di sana.

Kali ini Karin lumayan kualahan membalas lumatan Aryan, pria itu melakukannya dengan tempo yang lumayan cepat, hingga Karin dapat mendengar bunyi cecapan memenuhi indera pendengarannya. Karin meletakkan tangannya di pundak Aryan, mengusapnya dan meremasnya untuk memberikannya kekuatan.

Beberapa menit berlalu, Karin merasakan Aryan menjauhkan belah bibirnya. Mata mereka bertemu sesaat sebelum Aryan mencium area di sekitar ujung bibirnya. Melihat bibir Karin yang bengkak, membuat naluri Aryan tergerak untuk mengusapkan ibu jarinya dengan lembut di sana, berharap Karin dapat merasa lebih baik.

I want you too so bad,” lirih Aryan di tengah napasnya yang beradu indah bersama Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Balroom hotel

Karin melangkahkan kaki jenjangnya memasuki ballroom hotel mewah dengan nuansa warna hijau emerald itu. Sesampainya Karin di meja penerima tamu, ia memberikan undangannya kepada petugas di sana. Setelah itu, seorang penanggung jawab acara membawanya menuju sebuah kursi yang bertuliskan nama lengkapnya di sana. Di samping kanan dan kiri tempat duduknya, Karin bertemu dengan dua teman influencer yang dikenalnya. Mereka berbincang dan berfoto bersama sembari menunggu acara di mulai.

“Mana pacar lo Rin? Katanya doi mau ikut kemarin,” ujar Amanda.

“Nggak bisa ikut dia,” jawab Karin.

“Lho kenapa?” celetuk Tasya yang duduk di samping kiri Karin.

“Rey lagi ada kerjaan photoshoot untuk pre-wedding. Nah pas banget harinya bentrok sama project-nya Clairs,” terang Karin.

“Ohh gitu,” ujar Amanda diiringi anggukan di kepalanya.

Beberapa detik kemudian, semua atensi para tamu seketika tertuju pada sosok yang baru saja naik ke atas panggung di depan sana. Seorang wanita dengan surai sebahu berwarna soft purple itu menaiki panggung dan mulai berbicara melalui microphone. “Hello everyone,” sapanya diiringi sebuah senyuman.

With me right here, Iona, master of ceremony of this event. I wanna say thank you for coming to Clairs Beauty party celebration. Clairs Beauty has to glad to make this huge project for support our campaign this year. For all Clairs Beauty team and our beloved beauty influencer that attend tonight, let's enjoy the party to celebrate our hard work together. Cheers all!” ujar sang MC sebagai penanda bahwa acara telah di mulai.

***

Gemerlap lampu serta live music di atas panggung membuat suasana pesta malam itu terasa sempurna. Acara sudah dimulai sekitar satu jam yang lalu, tapi tidak ada satu pun di antara orang-orang yang hadir yang semangatnya terlihat surut. Berbeda dengan yang di rasakan oleh Karin saat ini. Tasya dan Amanda mengajaknya mendekati panggung musik untuk berdansa bersama, tapi Karin menahan tangan Tasya ketika tubuhnya terasa lunglai dan lemas.

“Sya, lo yakin minuman tadi nggak ada alkoholnya?” tanya Karin pada Tasya.

“Minuman orange juice yang tadi? Nggak ada kok, Rin. Gue kan juga minum sama kayak lo, gue mana bisa mabuk,” ujar Tasya.

Tasya pun memerhatikan air muka Karin yang tampak berbeda. “Rin, lo kenapa deh? Lo mabuk?”

“Kayaknya gue salah minum deh Sya,” balas Karin dengan suaranya yang serak. Hembusan napas Karin terdengar berat dan pandangannya mulai mengabur. Karin pun berusaha menghubungi Dara, tapi sampai 6 kali pun Karin mendial nomor managernya, tidak satu pun yang dijawab.

“Karin, are you okay? Gue anter lo ke kamar ya?” saran Tasya. Karin pun hanya menjawab Tasya dengan anggukan dan membiarkan Tasya menuntun langkahnya. Saat mereka melewati kerumunan orang-orang, seorang perempuan dengan stelan seragam Clairs Beauty menawarkan sesuatu pada Karin.

“Kak, kita punya ruangan yang diperuntukkan bagi para influencer beristirahat. Biar saya antar Kak, silakan,” ujar perempuan itu.

Sebelum pergi bersama karyawan itu, Karin menitipkan pesan pada Tasya untuk memberitahu Dara mengenai keberadaannya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk tulisan dan juga penulisnya.

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Melalui pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan. Ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Setelah puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lainnya yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh NIKI.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati caller ID yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey begitu Karin menempelkan ponselnya di telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually I'm not pretty interest about that. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lainnya juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey.

Thank you for what?”

Thank you for always be my best support system and I'm so glad to have you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu ya telfonnya? Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya, sebuah senyum manis pun terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mereka mengenal satu sama lain secara lebih personal. Setelah tiga bulan masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka pun menjalin hubungan sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara berlangsung. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan untuk Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Melalui pantulan kaca panjang di kamar hotel itu, nampak seorang perempuan yang sedang memerhatikan penampilannya. Tubuh ramping dan semampainya dibalut dress hitam sepanjang lutut dengan model lengan mengembang seperti balon. Elegan, tapi terkesan simpel dan tidak berlebihan. Ciri khas yang sangat menggambarkan perempuan itu.

Setelah puas mengecek gaun yang dikenakannya, perempuan itu mengambil sebuah lipstik berwarna merah ceri dari tas hitamnya. Kemudian ia berjalan menuju kaca meja rias dan mulai memoleskan pewarna bibir itu di bibir tipisnya. Sedikit sentuhan lagi dan penampilannya kini telah sempurna.

Karina Titania Roland, nama perempuan itu. Tadi siang pekerjaannya untuk pengambilan foto dan video berjalan dengan lancar. Malam ini ia berencana menghadiri after party bersama para influencer lainnya yang ikut dalam project untuk Clairs Beauty di Bali.

Di nakas samping tempat tidurnya, sebuah benda tipis berbentuk persegi panjang berdering, memutar lagi Every Summertime yang dinyanyikan oleh NIKI.

Karin berjalan untuk mengambil ponselnya dan mendapati caller ID yang tertera di sana adalah Rey❤️. Senyum Karin seketika mengembang, ia pun menggeser layar ponselnya untuk mengangkat panggilan dari kekasihnya.

“Halo Karin,” terdengar suara husky Rey begitu Karin menempelkan ponselnya di telinga.

“Halo Rey,” balas Karin detik berikutnya.

“Kamu jadi pergi ke after party malam ini?” tanya Rey.

“Jadi. Actually I'm not pretty interest about that. But yaa ... I should go. Teman-teman influencer yang lainnya juga datang semua,” jelas Karin.

“*It's sound nice, Babe. You should go and have fun. I wish I can be there to accompany you,” ujar Rey.

It's oke. Kamu harus ambil job wedding photoshoot itu. Keren banget pasti hasilnya buat di pajang di portofolio kamu,” ucap Karin.

“Karina, thank you,” ujar Rey.

Thank you for what?”

Thank you for always be my best support system and I'm so glad to have you. Aku jemput kamu di bandara nanti pas kamu pulang ya. Kamu flight besok kan ke Jakarta?” tutur Rey.

“Iya, besok aku udah balik. Berarti aku bilang ke Dara nggak perlu siapin supir ya.”

Alright.”

“Rey, aku tutup dulu ya telfonnya? Aku harus turun ke ballroom bawah, acaranya udah mulai.”

Well, oke. Have fun yaa Sayang. I'll see you tomorrow.”

See you, Rey.”

Sambungan telfon pun diakhiri. Sebelum memasukkan ponselnya ke dalam tas hitam yang akan di bawanya, Karin memerhatikan sebuah foto yang terpampang di lock screen ponselnya. Detik berikutnya, sebuah senyum manis pun terukir di wajah Karin.

Karin's Lock Screen Phone

Dua tahun yang lalu, Karin mengenal sosok Rey melalui kepanitiaan yang ia ikuti di kampus. Rey begitu baik padanya dan lambat tapi pasti, perilaku Rey membuat Karin menyukainya. Hubungan mereka berjalan baik dan semakin dekat, mereka mengenal satu sama lain secara lebih personal. Setelah tiga bulan masa pendekatan, Rey menyatakan perasaannya pada Karin dan mereka pun menjalin hubungan sampai saat ini.

Karin tersadar dari kegiatannya memandangi foto Rey ketika satu notif pesan masuk ke ponselnya dan itu dari Dara. Managernya itu menanyakan keberadaannya karena belum menemukan batang hidungnya di tempat acara berlangsung. Sebelum keluar dari kamarnya, Karin mengetikkan pesan untuk Dara dan mengatakan bahwa ia akan segera menuju ballroom.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷