alyadara

Tidak terasa, sebentar lagi Aryo akan menjadi seorang ayah. Usia kehamilan Tiara saat ini sudah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dilakukan dengan operasi caesar. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara menginginkan kelahiran anak pertama mereka lebih well prepared. Selain itu, jika mengambil jalan operasi, keduanya bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.

Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo merasa bahwa dirinya adalah pria yang luar biasa. Ketampanan, harta, dan jabatan yang di dimilikinya menjadikannya pria yang arogan. Ia tidak menganggap bahwa komitmen dalam suatu hubungan itu penting.

Sampai suatu saat ia bertemu dengan Tiara. Akibat perbuatannya, skandalnya dan Tira pun muncu. Rasanya ia bukan siapa-siapa kecuali pria pengecut dan bejat jika saja waktu itu ia memilih lari. Namun akhirnya kejadian tersebut membuat Aryo mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan dan menikahi Tiara.

Aryo pikir semua rentetan kejadian itu adalah takdir yang sudah digariskan. Tuhan telah mempertemukannya dengan Tiara dan menjawab semua keraguannya akan sesuatu bernama pernikahan. Kini ia memiliki kehidupan yang bahagia bersama orang yang sangat dicintainya dan Aryo sangat bersyukur atas itu.

Sesuai dengan tanggal yang Aryo dan Tiara inginkan, malam ini mereka berangkat ke rumah sakit dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk pasca bersalin. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Tiara baru saja kembali ke ruang inapnya setelah melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.

Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang tengah berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.

“Iya?”

“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.

Tiara menoleh ke arah Aryo, “Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujar Tiara sambil memegang lengan Aryo.

“Oke, nanti aku minta tolong Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.

“Besok pagi mama sama bunda jadi kesini?” tanya Tiara.

“Iya, kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”

Tiara pun mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang sedang menghubungi Egha setelah Tiara memberitahu makanan yang ia inginkan. Sekarang pukul 8 malam, Tiara ingin tidur untu beberapa saat, tapi matanya tidak mau terpejam. Tiara sedikit kepikiran soal operasi besok.

“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.

“Aku mau tidur sebentar aja, tapi nggak bisa. Kepikiran operasi besok,” ungkap Tiara.

“Yaudah, nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikannya dengan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Selang 20 menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu. Aryo pun bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.

“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan plastik di nakas samping ranjang. Ia mendapati Tiara baru selesai menyisir rambut lalu menggulungnya ke atas dan menjepitnya.

“Makasih, Sayang,” Tiara lantas mengambil makanan itu dan mulai menyantapnya. Aryo mengamati kedua mata Tiara yang nampak berbinar ketika perempuan itu baru saja melakukan suapan pertama.

“Hmm ... enak banget nih, Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.

“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo setelah mengunyah makanan di mulutnya.

“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan kini ia merasa begitu kenyang.

“Bayinya happy nih pasti, kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut bulat Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang Tiara, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluk istrinya dari samping.

“Nggak nyangka ya Ra besok aku jadi Papa,” ucap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Aryo, “Cie ... yang mau jadi Papa. Seneng banget yaa?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.

Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat, lalu ia menyematkan sebuah kecupan di punggung tangan itu.

“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucap Tiara yang seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Keduanya pun kembali menunggu anak mereka melakukan hal yang sama. Ekspresi mereka tampak begitu bersemangat menantikan momen itu.

Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi, Aryo dan Tiara mematung, mereka melihat kejadian itu dengan tatapan takjub. Jantung keduanya terasa meletup-letup karena perasaan bahagia.

Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berujar pada anaknya, “Hai, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu Papa dan Mama? Besok kita ketemu ya, Jagoan. Kamu jadi anak baik di dalam perut Mama, oke?”

“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo pun mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.

Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.

Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping, “Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku sudah salah menilai dan meragukannya. Tapi akhirnya aku sadar, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

“Ra,” ujar Aryo di dekat Tiara. “I want to live with you forever. I want to hug you and loving you, as much as I can,” ujar Aryo.

Beberapa detik berikutnya, Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan aku kurang manis lho Sayang,” ujar Tiara.

“Masa sih?” Aryo nampak kebingungan. Ia tidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan, “Perasaan manis kok Sayang.”

“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya di depan Aryo.

Aryo pun menghela napasnya sembari mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget sih kamu. Nanti aku balas ya, liat aja,” ujar Aryo sambil melayangkan tatapan gemasnya pada Tiara.

“Oke,” Tiara mengacungkan ibu jarinya di hadapan Aryo, “Aku siap kok menunggu balasan gombal dari Ayang. Tapi harus lebih sweet ya, awas aja lho kalau enggak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tidak terasa, sebentar lagi Aryo akan menjadi seorang ayah. Usia kehamilan Tiara kini sudah menginjak usia 38 minggu. Mereka telah konsultasi dengan dokter dan memutuskan agar kelahiran anak mereka dilakukan dengan operasi caesar. Tidak ada alasan khusus sebenarnya, Aryo dan Tiara menginginkan kelahiran anak pertama mereka lebih well prepared. Selain itu jika mengambil jalan operasi, keduanya bisa menentukan tanggal kelahiran anak mereka.

Sekitar satu tahun yang lalu, Aryo merasa bahwa dirinya adalah pria yang luar biasa. Ketampanan, harta, dan jabatan yang di dimilikinya menjadikannya pria yang arogan. Ia tidak menganggap bahwa komitmen dalam suatu hubungan itu penting.

Sampai suatu saat ia bertemu dengan perempuan bernama Mutiarani Ivanka Lubis dan munculnya skandal atas perbuatannya. Rasanya ia bukan siapa-siapa kecuali pria pengecut dan bejat jika saja waktu itu ia memilih lari. Namun akhirnya kejadian tersebut membuat Aryo mempertanggungjawabkan apa yang telah ia lakukan dan menikahi Tiara. Aryo pikir semua rentetan kejadian itu adalah takdir. Tuhan telah mempertemukannya dengan Tiara dan menjawab semua keraguannya akan pernikahan. Kini ia memiliki kehidupan yang bahagia bersama orang yang sangat dicintainya.

Sesuai dengan tanggal yang Aryo dan Tiara inginkan, malam ini mereka berangkat ke rumah sakit dengan membawa berbagai perlengkapan yang dibutuhkan untuk pasca bersalin. Jadwal operasi dilakukan besok pagi pukul 9. Tiara baru saja kembali ke ruang inapnya setelah melakukan pemeriksaan yang dibutuhkan sebelum melakukan operasi besok.

Aryo mengambil tempat di samping Tiara yang tengah berbaring di ranjang rawatnya. “Sayang,” ujarnya.

“Iya?”

“Kamu mau makan apa lagi sebelum puasa? Biar aku beliin,” ucap Aryo.

Tiara menoleh ke arah Aryo, “Kamu di sini aja. Minta tolong Egha yang beliin,” ujar Tiara sambil memegang lengan Aryo.

“Oke, nanti aku minta tolong Egha beliin. Kamu kasih tau aja yaa,” putus Aryo diiringi senyumnya.

“Besok pagi mama sama bunda jadi kesini?” tanya Tiara.

“Iya, kita kan mau doa bersama sebelum kamu masuk ruangan operasi.”

Tiara pun mengangguk. Ia memerhatikan Aryo yang sedang menghubungi Egha setelah Tiara memberitahu makanan yang ia inginkan. Sekarang pukul 8 malam, Tiara ingin tidur untu beberapa saat, tapi matanya tidak mau terpejam. Tiara sedikit kepikiran soal operasi besok.

“Kenapa Sayang? Nggak bisa tidur ya?” tanya Aryo.

“Aku mau tidur sebentar aja, tapi nggak bisa. Kepikiran operasi besok,” ungkap Tiara.

“Yaudah, nggak papa. Nanti habis makanannya dateng, kamu makan, baru coba tidur lagi ya,” tutur Aryo sambil membantu Tiara untuk merubah posisinya menjadi duduk. Aryo juga menyetel ranjang rawatnya dan menyesuaikannya dengan posisi Tiara agar istrinya itu nyaman. Selang 20 menit kemudian, terdengar sebuah ketukan di pintu. Aryo pun bergegas membukanya dan menerima makanan yang dibawakan oleh Egha.

“Sayang, ini makanannya,” Aryo meletakkan bungkusan plastik di nakas samping ranjang. Ia mendapati Tiara baru selesai menyisir rambut lalu menggulungnya ke atas dan menjepitnya.

“Makasih, Sayang,” Tiara lantas mengambil makanan itu dan mulai menyantapnya. Aryo mengamati kedua mata Tiara yang nampak berbinar ketika perempuan itu baru saja melakukan suapan pertama.

“Hmm ... enak banget nih, Sayang. Kamu mau? Sini aku suapin,” ujar Tiara. Aryo pun mendekat dan menerima suapan dari Tiara.

“Paling tau ya kamu jajanan enak,” celetuk Aryo setelah mengunyah makanan di mulutnya.

“Iya dong,” balas Tiara sambil menampakkan cengirannya. Tiara sudah selesai dengan makanannya dan kini ia merasa begitu kenyang.

“Bayinya happy nih pasti, kamu kasih makan terus,” cetus Aryo sembari mengarahkan tangannya untuk mengusap perut bulat Tiara. Aryo mengambil tempat di sisi ranjang Tiara, mereka duduk bersebelahan dan Aryo memeluk istrinya dari samping.

“Nggak nyangka ya Ra besok aku jadi Papa,” ucap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya mendengar ucapan Aryo, “Cie ... yang mau jadi Papa. Seneng banget yaa?” tanyanya sambil mengusapkan tangannya di sisi wajah Aryo. Aryo merebahkan kepalanya di bahu Tiara, tampak begitu nyaman di sana.

Aryo meraih satu tangan Tiara, membawanya mendekat, lalu ia menyematkan sebuah kecupan di punggung tangan itu.

“Aryo, barusan anak kita nendang,” ucap Tiara yang seketika membuat Aryo mengangkat kepalanya. Keduanya pun kembali menunggu anak mereka melakukan hal yang sama. Ekspresi mereka tampak begitu bersemangat menantikan momen itu.

Dua detik berikutnya, Tiara merasakan pergerakan di perutnya bahkan satu bagian di perutnya nampak menonjol akibat aksi bayi mereka. Keduanya menyaksikan hal itu bersama dan kala itu terjadi, Aryo dan Tiara mematung, mereka melihat kejadian itu dengan tatapan takjub. Jantung keduanya terasa meletup-letup karena perasaan bahagia.

Aryo mendekatkan dirinya di perut Tiara dan berujar pada anaknya, “Hai, bayi. Kamu nggak sabar ya ketemu Papa dan Mama? Besok kita ketemu ya, Jagoan. Kamu jadi anak baik di dalam perut Mama, oke?”

“Aryo, tuhan itu hebat yaa,” ucap Tiara. Aryo pun mendongak dan mempertemukan pandangan mereka.

Aryo mengangguk setuju. “Tuhan ngasih lebih dari apa yang aku minta, Ra. Tuhan hebat dan baik banget sama umatnya,” ujar Aryo.

Tiara bergerak memeluk Aryo dari samping, “Dulu aku pernah kecewa sama Tuhan. Aku sudah salah menilai dan meragukannya. Tapi akhirnya aku sadar, apa yang menyakiti kita hari itu adalah proses kita untuk sampai pada kebahagiaan. Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik.”

“Ra,” ujar Aryo di dekat Tiara. “I want to live with you forever. I want to hug you and loving you, as much as I can,” ujar Aryo.

Beberapa detik berikutnya, Tiara mengangkat wajahnya untuk menatap Aryo, “Pantes tadi makanan aku kurang manis lho Sayang,” ujar Tiara.

“Masa sih?” Aryo nampak kebingungan. Ia tidak merasakan hal yang sama dengan yang Tiara ucapkan barusan, “Perasaan manis kok Sayang.”

“Iya, kurang manis tau. Orang manisnya diambil sama kamu semua,” detik itu juga Tiara menampakkan senyum jenakanya di depan Aryo.

Aryo pun menghela napasnya sembari mendekap Tiara lebih erat lagi, “Gombal banget sih kamu. Nanti aku balas ya, liat aja,” ujar Aryo sambil melayangkan tatapan gemasnya pada Tiara.

“Oke,” Tiara mengacungkan ibu jarinya di hadapan Aryo, “Aku siap kok menunggu balasan gombal dari Ayang. Tapi harus lebih sweet ya, awas aja lho kalau enggak.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Saat ini ingin sekali membuka matanya, tapi nyatanya itu terasa sulit untuk dilakukan. Efek pasca operasi membuatnya merasa begitu mengantuk. Sekarang Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasinya telah berjalan lancar, dan anak lelaki mereka lahir dengan sehat dan sangat sempurna.

“Aryo ... ” gumam Tiara yang kelihatan setengah sadar.

“Iya, Sayang? Kamu tidur aja dulu yaa,” titah Aryo di sampingnya.

Perlahan Tiara membuka matanya, ia menatap Aryo samar-samar, “Mau liat baby,” ujarnya lirih.

“Iya, nanti ya Sayang,” Aryo mengusap kepala Tiara.

Tiara mengulaskan senyumnya, perempuan itu kembali memejamkam matanya, “Aryo, anak kita ganteng banget,” gumam Tiara. Detik itu juga Aryo tertawa pelan mendapati ucapan Tiara.

“Iya ganteng anak kita. Lebih mirip siapa ya Ra wajahnya?”

“Lebih mirip Papanya kayaknya,” ucap Tiara.

“Tapi matanya mirip kamu banget Sayang, nggak terlalu sipit kayak aku.”

“Oh iya ya,” Tiara tertawa pelan. “Adil dong, Sayang. Setengah mirip aku, setengahnya lagi mirip kamu.”

***

Namanya Aryan Sakha Brodjohujodyo, anak pertama dan cucu pertama laki-laki di keluarga itu mendapat begitu banyak cinta dari orang-orang tersayang yang menjenguknya.

“Melebihi ekspektasi banget ini wajahnya, ganteng ya,” ujar Alifia kala menggendong cucu pertamanya.

“Halo, koko kecil, anak ganteng. Ini matanya Tiara banget lho,” ucap Feli diiringi senyum bahagianya.

“Iya Mah, tapi hidung sama bibirnya mirip Aryo banget, kan? Liat deh,” celetuk Tiara.

Aryo lantas mendekati anaknya yang berada di gendongan Alifia, “Coba liat, semirip apa?” ujar Aryo.

Feli memerhatikan kedua lelaki beda generasi itu secara bergantian, “Mirip kamu banget ini hidungnya, Aryo.” ujarnya kemudian.

“Iya, ya. Aryan ini kayak Tiara versi laki-laki, tapi kalau di perhatiin lagi, wajahnya juga Aryo banget,” komentar Alifia.

Keluarga terdekat yang menjenguk satu persatu pun akhirnya pulang, agar si bayi dan ibunya dapat beristirahat. Sebelum pergi dari sana, mereka meninggalkan parcel buah serta beberapa kado untuk perlengkapan si bayi.

Terlihat di ruang rawat itu, Aryan Sakha sudah tertidur di pelukan ibunya dengan senyuman kecil yang seolah sudah diatur sedemikian rupa. Entah senyum itu mirip siapa, tapi yang jelas senyumnya begitu menghangatkan hati yang melihatnya.

“Papanya mana?” tanya Feli pada Tiara ketika mama mertuanya itu kembali dari toilet.

Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada Aryo yang tengah terlelap di sofa bed di pojok ruangan.

“Oalah ... anak itu udah jadi Bapak kok, malah tidur duluan. Harusnya kamu yang tidur, Aryo jagain bayinnya, gantian gitu lho,” ucap Feli.

“Nggak papa, Mah. Lagian Aryo nggak bisa ngasih susu nanti kalau bayinya bangun.” Tiara asik mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya dan sesekali mengusap rambut hitamnya.

“Tapi kasian kamu pasti capek ya, Sayang?”

Tidak lama kemudian, Aryo pun terbangun karena mendengar obrolan antara Tiara dan Feli. Nampak beberapa garis bekas cetakan sofa di wajah pria itu dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan.

“Hai,” sapa Aryo diiringi cengirannya.

Feli seketika menatap Aryo dengan tatapan memperingati. Baiklah, Aryo mengerti. Namun masalahnya ia begitu mengantuk tadi dan berakhir ketiduran di sofa bed.

“Dedek bayi juga tidur, yaudah Aryo tidur. Melek mau ngapain?” ujar Aryo dengan nada becandanya.

“Yaa, jagain anakmu dong. Gantian istrimu yang tidur. Kayak kamu yang melahirkan aja tadi pagi, jam segini kok udah tepar,” ujar Feli.

“Aryo mau main sama Aryan, tapi Aryannya tidur terus, Mah,” Aryo menoel noel pelan pipi tembam anaknya sambil nyengir tak bersalah saat bayi mungil itu kini bergerak karena ulahnya.

“Baru tidur ini Sayang, nanti susah lagi nidurinnya,” Tiara pun memperingati tingkah suaminya itu.

“Masa sih? Kalau aku sama kamu langsung tidur nyenyak tuh,” celetuk Aryo asal.

“Yaudah. kamu pulang aja sama papa. Biar Mama di sini jagain menantu dan cucu Mama. Gimana?” tawar Feli.

“Mama nggak perlu repot, tenang aja, semuanya aman. Aryo minum kopi nanti langsung segar lagi kok. Sayang, aku jangan di suruh pulang, ya ... ?” Aryo memasang tampang memelas dan ia bergerak untuk memeluk kedua cinta dalam hidupnya itu, Tiara dan Aryan.

“Yaudah Mama pulang dulu deh kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa, atau Tiara butuh bantuan, telfon Mama yaa Sayang,” ucap Feli.

“Iya Mah, makasih ya. Mama hati-hati,” ujar Tiara.

“Iya Sayang, sama-sama. Anak ganteng, Oma pulang dulu ya, besok jenguk Aryan lagi,” setelah mengusap pipi cucunya itu, Feli pamit pulang dan Aryo mengantar mamanya sampai ke depan ruang rawat.

“Ra, coba tebak kenapa anak bayi tidur terus?” Aryo telah kembali dan mengambil tempat di sisi ranjang Tiara.

Tiara tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang terdengar aneh itu, “Anak bayi kan masih kecil, Aryo. Ya, butuh tidur banyak dong,” ucap Tiara.

“Jawaban kamu salah,” balas Aryo dan saat itu juga kening Tiara berkerut.

“Terus yang bener jawabannya apa?” Tiara merasa sekarang ia ikutan konyol karena mengikuti permainan Aryo.

“Kamu jangan gampang nyerah dong, Ra. Kalau kamu gampang nyerah, gimana kamu mau mencintai aku?” Aryo mendekatkan wajanya pada Tiara.

“Alay kamu ah,” Tiara berusaha menjauhkan Aryo dari hadapannya dan melayangkan jarinya di legan Aryo.

“Aduh, jangan cubit-cubit dong, mending cium-cium aja.” Aryo memeluk Tiara dari samping, lalu pria bertubuh jangkung itu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.

“Ra kira-kira kapan dedek bayinya bangun ya?” celoteh Aryo.

“Nggak tau, Aryo. Suka-suka dia mau bangun kapan.”

“Kamu pegel nggak? Sini gantian gendong sama aku,” tawar Aryo.

Tiara pun memberikan instruksi pada Aryo untuk memegang kepala dan punggung bayinya ketika akan menggendong. Akhirnya Aryo bisa menggendong anaknya dan ia merasa begitu senang. Sementara Tiara pergi ke kamar mandi, Aryo menimang-nimang anaknya dalam dekapannya.

“Sayang, kamu bisa jalan ke kamar mandi sendiri? Perlu aku bantuin nggak?” tanya Aryo.

“Bisa, Sayang. Nggak papa kamu gendong Aryan aja,” Tiara menyahuti dari kamar mandi. Aryo pun mengangguki dan kini atensinya kembali pada Aryan yang berada di gendongannya.

“Hey Aryan, kamu tidur terus ya. Papa kan mau main sama kamu. Nak, ayo dong bangun,” Aryo berujar di depan wajah anaknya namun anaknya itu seolah mengejeknya. Aryan nampak memalingkan muka dan memajukan bibirnya. Kedua mata Aryan masih terpejam tapi bibirnya itu tetap aktif, terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

“Kenapa kamu ketawa sendiri?” suara Tiara memecah interaksi antara Aryo dengan Aryan kecil.

“Anak kamu nih Sayang, kecil-kecil udah pintar,” ucap Aryo.

“Emangnya dia ngapain?”

“Nih liat. Dia udah bisa manyunin bibir di depan Papanya.”

Tiara pun ikut tertawa dan memerhatikan wajah Aryan, “Lucu banget. Aahh ... Aryo lucu banget. Liat deh, dia senyum tuh,” Tiara meminta Aryo untuk ikut melihat wajah anak mereka.

“Astaga, anak kita hebat banget lho Ra.”

“Hebat gimana?”

“Waktu kamu yang lihat, dia senyum. Waktu aku yang lihat, dia manyun. Dia bisa ngubah ekspresinya dalam sekejap.”

“Iya, mungkin dia mau kembaran sama Papanya,” ujar Tiara sambil menampakkan tawa kecilnya.

“Kembaran apa?” tanya Aryo yang tidak mengerti.

“Bibir kalian tuh mirip banget. Kalau kamu tidur, aku perhatiin kamu suka manyun-manyun juga kayak Aryan gini, persis deh.”

“Masa sih? Oke kalau mirip, kamu lebih suka yang mana? Punya aku apa punyanya Aryan?” tanya Aryo sambil tidak melepas pandangannya dari Tiara sejengkal pun.

Tiara pun membulatkan kedua matanya. Suaminya ini benar-benar ajaib dan tiada duanya. Herannya lagi, ucapan Aryo itu selalu dapat langsung dimengerti oleh Tiara.

“Punya Aryan lah. Dia lebih imut dari pada kamu.” Tiara beralih mencubit pelan pipi anaknya dan menciumnya dengan gemas. Detik berikutnya, Tiara seketika merasakan cahaya di sekitarnya menggelap. Rupanya Aryo tengah memangkas jarak diantara mereka, sehingga bahkan udara saja enggan untuk bergabung dengan keduanya.

Mata Tiara dan mata Aryo bertemu, lalu saling mengunci satu sama lain. Seperti ada sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya Tiara ketika Aryo menatapnya penuh afeksi seperti ini. Tiara masuk ke dalam lingkaran sempit dan hangat itu, lingkaran yang bernama keluarga. Detik berikutnya, dengan lembut Aryo mulai menempelkan bibirnya di bibir Tiara. Benda kenyal itu selalu membuat Tiara candu, ia tidak tahan untuk tidak membalas dan bahkan sedikit memberikan gigitan di sana.

Sekitar 3 menit ciuman mereka berlangsung, Aryo pun mengurai pagutannya. Aryo kemudian mendekap dua hal miliknya yang paling ia cintai. Tidak, bukan hanya dua menurutnya, tapi lebih dari itu. Baginya Tiara dan Aryan adalah seluruh hal yang diinginkannya di dunia ini.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya?”

Jarak keduanya masih begitu intim, Aryo menatap Tiara dan Aryan bergantian. Anaknya tertidur pulas di tengah-tengah aktivitas cinta papa dan mamanya, itu membuat Aryo mengulaskan senyumnya.

“Aku pernah bilang mau punya anak yang matanya mirip sama kamu. Pasti lucu banget yaa,” ungkap Tiara.

“Iya, aku ingat itu. Kamu mau kita punya anak berapa?”

“Tiga atau empat, gimana menurut kamu?”

“Hmm ... boleh,” Aryo mengangguk-angguk dan mengulaskan senyumnya, tampak dua buah eye smile Aryo yang selalu Tiara suka dan tidak pernah bosan untuk dipandang.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap ke dalam dua mata indah Aryo, “Kalau anak kita perempuan dan matanya mirip kamu, dia pasti cantik banget.”

Introducing The New Family

Daddy Aryo

Mommy Tiara

1st Son Aryan

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Saat ini ingin sekali membuka matanya, tapi nyatanya itu terasa sulit untuk dilakukan. Efek pasca operasi membuatnya merasa begitu mengantuk. Sekarang Tiara sudah dipindahkan ke ruang rawat, operasinya telah berjalan lancar, dan anak lelaki mereka lahir dengan sehat dan sangat sempurna.

“Aryo ... ” gumam Tiara yang kelihatan setengah sadar.

“Iya, Sayang? Kamu tidur aja dulu yaa,” titah Aryo di sampingnya.

Perlahan Tiara membuka matanya, ia menatap Aryo samar-samar, “Mau liat baby,” ujarnya lirih.

“Iya, nanti ya Sayang,” Aryo mengusap kepala Tiara.

Tiara mengulaskan senyumnya, perempuan itu kembali memejamkam matanya, “Aryo, anak kita ganteng banget,” gumam Tiara. Detik itu juga Aryo tertawa pelan mendapati ucapan Tiara.

“Iya ganteng anak kita. Lebih mirip siapa ya Ra wajahnya?”

“Lebih mirip Papanya kayaknya,” ucap Tiara.

“Tapi matanya mirip kamu banget Sayang, nggak terlalu sipit kayak aku.”

“Oh iya ya,” Tiara tertawa pelan. “Adil dong, Sayang. Setengah mirip aku, setengahnya lagi mirip kamu.”

***

Namanya Aryan Sakha Brodjohujodyo, anak pertama dan cucu pertama laki-laki di keluarga itu mendapat begitu banyak cinta dari orang-orang tersayang yang menjenguknya.

“Melebihi ekspektasi banget ini wajahnya, ganteng ya,” ujar Alifia kala menggendong cucu pertamanya.

“Halo, koko kecil, anak ganteng. Ini matanya Tiara banget lho,” ucap Feli diiringi senyum bahagianya.

“Iya Mah, tapi hidung sama bibirnya mirip Aryo banget, kan? Liat deh,” celetuk Tiara.

Aryo lantas mendekati anaknya yang berada di gendongan Alifia, “Coba liat, semirip apa?” ujar Aryo.

Feli memerhatikan kedua lelaki beda generasi itu secara bergantian, “Mirip kamu banget ini hidungnya, Aryo.” ujarnya kemudian.

“Iya, ya. Aryan ini kayak Tiara versi laki-laki, tapi kalau di perhatiin lagi, wajahnya juga Aryo banget,” komentar Alifia.

Keluarga terdekat yang menjenguk satu persatu pun akhirnya pulang, agar si bayi dan ibunya dapat beristirahat. Sebelum pergi dari sana, mereka meninggalkan parcel buah serta beberapa kado untuk perlengkapan si bayi.

Terlihat di ruang rawat itu, Aryan Sakha sudah tertidur di pelukan ibunya dengan senyuman kecil yang seolah sudah diatur sedemikian rupa. Entah senyum itu mirip siapa, tapi yang jelas senyumnya begitu menghangatkan hati yang melihatnya.

“Papanya mana?” tanya Feli pada Tiara ketika mama mertuanya itu kembali dari toilet.

Tiara lantas mengarahkan tatapannya pada Aryo yang tengah terlelap di sofa bed di pojok ruangan.

“Oalah ... anak itu udah jadi Bapak kok, malah tidur duluan. Harusnya kamu yang tidur, Aryo jagain bayinnya, gantian gitu lho,” ucap Feli.

“Nggak papa, Mah. Lagian Aryo nggak bisa ngasih susu nanti kalau bayinya bangun.” Tiara asik mengelus pipi anaknya dengan ibu jarinya dan sesekali mengusap rambut hitamnya.

“Tapi kasian kamu pasti capek ya, Sayang?”

Tidak lama kemudian, Aryo pun terbangun karena mendengar obrolan antara Tiara dan Feli. Nampak beberapa garis bekas cetakan sofa di wajah pria itu dan rambutnya terlihat sedikit acak-acakan.

“Hai,” sapa Aryo diiringi cengirannya.

Feli seketika menatap Aryo dengan tatapan memperingati. Baiklah, Aryo mengerti. Namun masalahnya ia begitu mengantuk tadi dan berakhir ketiduran di sofa bed.

“Dedek bayi juga tidur, yaudah Aryo tidur. Melek mau ngapain?” ujar Aryo dengan nada becandanya.

“Yaa, jagain anakmu dong. Gantian istrimu yang tidur. Kayak kamu yang melahirkan aja tadi pagi, jam segini kok udah tepar,” ujar Feli.

“Aryo mau main sama Aryan, tapi Aryannya tidur terus, Mah,” Aryo menoel noel pelan pipi tembam anaknya sambil nyengir tak bersalah saat bayi mungil itu kini bergerak karena ulahnya.

“Baru tidur ini Sayang, nanti susah lagi nidurinnya,” Tiara pun memperingati tingkah suaminya itu.

“Masa sih? Kalau aku sama kamu langsung tidur nyenyak tuh,” celetuk Aryo asal.

“Yaudah. kamu pulang aja sama papa. Biar Mama di sini jagain menantu dan cucu Mama. Gimana?” tawar Feli.

“Mama nggak perlu repot, tenang aja, semuanya aman. Aryo minum kopi nanti langsung segar lagi kok. Sayang, aku jangan di suruh pulang, ya ... ?” Aryo memasang tampang memelas dan ia bergerak untuk memeluk kedua cinta dalam hidupnya itu, Tiara dan Aryan.

“Yaudah Mama pulang dulu deh kalau gitu. Nanti kalau ada apa-apa, atau Tiara butuh bantuan, telfon Mama yaa Sayang,” ucap Feli.

“Iya Mah, makasih ya. Mama hati-hati,” ujar Tiara.

“Iya Sayang, sama-sama. Anak ganteng, Oma pulang dulu ya, besok jenguk Aryan lagi,” setelah mencium cucunya itu, Feli pamit pulang dan Aryo mengantar mamanya sampai ke depan ruang rawat.

“Ra, coba tebak kenapa anak bayi tidur terus?” Aryo telah kembali dan mengambil tempat di sisi ranjang Tiara.

Tiara tertawa mendengar pertanyaan suaminya yang terdengar aneh itu, “Anak bayi kan masih kecil, Aryo. Ya, butuh tidur banyak dong,” ucap Tiara.

“Jawaban kamu salah,” balas Aryo dan saat itu juga kening Tiara berkerut.

“Terus yang bener jawabannya apa?” Tiara merasa sekarang ia ikutan konyol karena mengikuti permainan Aryo.

“Kamu jangan gampang nyerah dong, Ra. Kalau kamu gampang nyerah, gimana kamu mau mencintai aku?” Aryo mendekatkan wajanya pada Tiara.

“Alay kamu ah,” Tiara berusaha menjauhkan Aryo dari hadapannya dan melayangkan jarinya di legan Aryo.

“Aduh, jangan cubit-cubit dong, mending cium-cium aja.” Aryo memeluk Tiara dari samping, lalu pria bertubuh jangkung itu menjatuhkan kepalanya di pundak istrinya.

“Ra kira-kira kapan dedek bayinya bangun ya?” celoteh Aryo.

“Nggak tau, Aryo. Suka-suka dia mau bangun kapan.”

“Kamu pegel nggak? Sini gantian gendong sama aku,” tawar Aryo.

Tiara pun memberikan instruksi pada Aryo untuk memegang kepala dan punggung bayinya ketika akan menggendong. Akhirnya Aryo bisa menggendong anaknya dan ia merasa begitu senang. Sementara Tiara pergi ke kamar mandi, Aryo menimang-nimang anaknya dalam dekapannya.

“Sayang, kamu bisa jalan ke kamar mandi sendiri? Perlu aku bantuin nggak?” tanya Aryo.

“Bisa, Sayang. Nggak papa kamu gendong Aryan aja,” Tiara menyahuti dari kamar mandi. Aryo pun mengangguki dan kini atensinya kembali pada Aryan yang berada di gendongannya.

“Hey Aryan, kamu tidur terus ya. Papa kan mau main sama kamu. Nak, ayo dong bangun,” Aryo berujar di depan wajah anaknya namun anaknya itu seolah mengejeknya. Aryan nampak memalingkan muka dan memajukan bibirnya. Kedua mata Aryan masih terpejam tapi bibirnya itu tetap aktif, terlihat begitu lucu dan menggemaskan.

“Kenapa kamu ketawa sendiri?” suara Tiara memecah interaksi antara Aryo dengan Aryan kecil.

“Anak kamu nih Sayang, kecil-kecil udah pintar,” ucap Aryo.

“Emangnya dia ngapain?”

“Nih liat. Dia udah bisa manyunin bibir di depan Papanya.”

Tiara pun ikut tertawa dan memerhatikan wajah Aryan, “Lucu banget. Aahh ... Aryo lucu banget. Liat deh, dia senyum tuh,” Tiara meminta Aryo untuk ikut melihat wajah anak mereka.

“Astaga, anak kita hebat banget lho Ra.”

“Hebat gimana?”

“Waktu kamu yang lihat, dia senyum. Waktu aku yang lihat, dia manyun. Dia bisa ngubah ekspresinya dalam sekejap.”

“Iya, mungkin dia mau kembaran sama Papanya,” ujar Tiara sambil menampakkan tawa kecilnya.

“Kembaran apa?” tanya Aryo yang tidak mengerti.

“Bibir kalian tuh mirip banget. Kalau kamu tidur, aku perhatiin kamu suka manyun-manyun juga kayak Aryan gini, persis deh.”

“Masa sih? Oke kalau mirip, kamu lebih suka yang mana? Punya aku apa punyanya Aryan?” tanya Aryo sambil tidak melepas pandangannya dari Tiara sejengkal pun.

Tiara pun membulatkan kedua matanya. Suaminya ini benar-benar ajaib dan tiada duanya. Herannya lagi, ucapan Aryo itu selalu dapat langsung dimengerti oleh Tiara.

“Punya Aryan lah. Dia lebih imut dari pada kamu.” Tiara beralih mencubit pelan pipi anaknya dan menciumnya dengan gemas. Detik berikutnya, Tiara seketika merasakan cahaya di sekitarnya menggelap. Rupanya Aryo tengah memangkas jarak diantara mereka, sehingga bahkan udara saja enggan untuk bergabung dengan keduanya.

Mata Tiara dan mata Aryo bertemu, lalu saling mengunci satu sama lain. Seperti ada sengatan listrik yang mengaliri tubuhnya Tiara ketika Aryo menatapnya penuh afeksi seperti ini. Tiara masuk ke dalam lingkaran sempit dan hangat itu, lingkaran yang bernama keluarga. Detik berikutnya, dengan lembut Aryo mulai menempelkan bibirnya di bibir Tiara. Benda kenyal itu selalu membuat Tiara candu, ia tidak tahan untuk tidak membalas dan bahkan sedikit memberikan gigitan di sana.

Sekitar 3 menit ciuman mereka berlangsung, Aryo pun mengurai pagutannya. Aryo kemudian mendekap dua hal miliknya yang paling ia cintai. Tidak, bukan hanya dua menurutnya, tapi lebih dari itu. Baginya Tiara dan Aryan adalah seluruh hal yang diinginkannya di dunia ini.

“Aryo,” ujar Tiara.

“Iya?”

Jarak keduanya masih begitu intim, Aryo menatap Tiara dan Aryan bergantian. Anaknya tertidur pulas di tengah-tengah aktivitas cinta papa dan mamanya, itu membuat Aryo mengulaskan senyumnya.

“Aku pernah bilang mau punya anak yang matanya mirip sama kamu. Pasti lucu banget yaa,” ungkap Tiara.

“Iya, aku ingat itu. Kamu mau kita punya anak berapa?”

“Tiga atau empat, gimana menurut kamu?”

“Hmm ... boleh,” Aryo mengangguk-angguk dan mengulaskan senyumnya, tampak dua buah eye smile Aryo yang selalu Tiara suka dan tidak pernah bosan untuk dipandang.

Tiara mendongakkan kepalanya untuk menatap ke dalam dua mata indah Aryo, “Kalau anak kita perempuan dan matanya mirip kamu, dia pasti cantik banget.”

Introducing The New Family

Daddy Aryo

Mommy Tiara

1st Son Aryan

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

2 tahun berselang, Aryo dan Tiara kembali diberi kepercayaan oleh Tuhan. Di rahim Tiara, dititipkan seorang bayi perempuan yang kehadirannya begitu di tunggu oleh seluruh keluarga.

Akhirnya di usia tiga tahunnya, Aryan menjadi seorang kakak. Bocah lelaki itu sangat senang, bahkan seringkali mengajak adiknya untuk bermain koleksi mobil-mobilan miliknya. Meskipun bayi perempuan itu baru bisa berceloteh-celoteh tidak jelas, Aryan tetap senang mengajak mengobrol atau menjaganya ketika adiknya sedang tertidur.

Nayna Harla Brodjohujodyo, bayi perempuan dengan mata indah berkelopak monolid itu begitu cantik. Ketika baru lahir, Nayna memiliki kulit yang sangat putih sampai rona kulitnya berwarna pink. Aryo gemas sendiri terhadap anaknya. Katanya, Nayna itu mirip boneka cantik tapi versi hidup.

“Aryo, jangan digigit anaknya,” peringat Tiara ketika mendapati suaminya langsung menyerbu Nayna, ketika Tiara baru saja meletakkan anaknya itu sebentar di ranjang.

“Habis gemes Ra,” ucap Aryo.

“Yaa itu bayi, Aryo. Bukan boneka,” Tiara pun menatap Aryo dengan tatapan memperingati.

“Lucu banget, Ra. Pipi sama bibirnya warna pink,” Aryo mengamati anaknya yang baru saja selesai didandani oleh Tiara pagi ini. Nayna telah mandi dan Tiara suka sekali mendandaninya dengan baju-baju lucu dan juga aksesoris.

“Anak Papa cantik banget sih hari ini, wangi lagi,” seru Aryo sambil menciumi Nayna. Aryo sangat senang bermain dengan Nayna dan Aryan dan selalu ingin meluangkan waktunya barang sebentar. Di tengah kesibukannya bekerja, keluarganya adalah hal utama yang dapat menghiburnya dan menguapkan seluruh rasa lelahnya. Hari ini adalah hari libur, jadi Aryo berniat menghabiskan waktunya bersama istri dan anak-anaknya.

Tiara yang telah selesai mandi dan menyisir rambutnya, lekas menghampiri Nayna untuk menyusui anaknya itu.

“Nayna, gantian sama Papa boleh nggak, Nak?” celetuk Aryo.

“Gantian apa—”

Tiara menoleh dan mendapati cengiran di wajah Aryo. Seketika itu juga matanya membulat sempurna, “Aryo kamu nih ya,” Tiara pun melayangkan tangannya di lengan Aryo, memukulnya pelan.

“Aku kan juga mau Sayang,” Aryo nampak mencebikkan bibirnya.

“Kalau Nayna kan masih kecil, belum ada giginya. Kamu mah suka gigit,” cetus Tiara. Setelah Nayna puas menyusu dan sudah tertidur, Tiara menimang-nimang Nayna di gendongannya supaya anaknya itu cepat pulas.

“Aku nggak gigit, Sayang. Beneran deh,” ucap Aryo.

“Aryo, kamu ingat nggak? Kamu kan udah janji sama Aryan, mau beliin dia hot wheels limited edition,” ujar Tiara.

“Aku beliin Aryan mobil aslinya aja, gimana Sayang?”

“Buat apa, Aryan mana ngerti. Itu mah maunya kamu,” Tiara tertawa meledek Aryo.

Di tengah-tengah suasana itu, Aryan melenggang masuk ke kamar orang tuanya setelah bocah 3 tahun itu mengetuk pintunya.

“Aryan, Papa udah ketemu mobil hot wheels yang Aryan mau tuh kemarin,” ucap Tiara dan itu sukses membuat Aryan terlihat senang.

“Beneran, Pah?” tanya Aryan pada Aryo.

“Beneran dong, Sayang. Nanti siang mobilnya dianterin sama om Rama ke sini yaa,” ujar Aryo.

Saat Nayna sudah pulas, Tiara meletakkan anaknya itu ke dalam box bayi. Kemudian Tiara meminta Aryan unuk mendekat padanya dan ia pun membisikkan sesuatu.

Aryan lekas menghampiri Aryo setelah Tiara mengatakan sesuatu padanya, “Pah, Aryan maunya Papa yang ambil mobilnya sama Aryan. Nggak mau sama om Rama,” ujar Aryan.

Tiara lantas mendekati Aryo dan mengusap lengan suaminya itu, “Tuh, anaknya mau quality time sama kamu. Temenin dulu sana, nanti pulangnya aku kasih kamu hadiah,” Tiara melayangkan senyum penuh artinya ke arah Aryo.

“Hadiah apa Sayang?” tanya Aryo.

“Ada deh, rahasia. Tapi kayaknya kamu akan suka.”

“Oke, kalau gitu. Aku anterin Aryan beli mobil dulu ya Sayang,” Aryo kini beralih pada Aryan setelah ia mengambil kunci mobilnya.

Aryo pun mengulurkan tangannya pada Aryan, “Bro, let's go. Today is boys day out. Aryan nanti pilih aja mau yang mana, Papa beliin yang Aryan mau.”

Hot wheels, Pah?” tanya Aryan.

“Bukan, Nak. Mobil beneran yang besar, yang bisa jalan. Aryan mau warna apa? Merah atau biru?”

“Wow, keren banget dong, Pah. Aryan mau warna biru deh kalau gitu, boleh ya?” seru Aryan nampak gembira dan antusias. Bocah lelaki itu pun meraih tangan papanya untuk di genggam

“Bener-bener mirip kamu, Sayang. Hobi kok beli mobil,” celetuk Tiara.

“Iya, dong. Aryan, kamu boleh koleksi mobil nanti kalau sudah besar, ya. Papa buatin garasi khusus buat kamu dan kamu bisa pilih mau diisi sama mobil apa aja,” ujar Aryo.

Setelah berpamitan dan menyalami tangan Tiara, Aryan kecil segera menyusul langkah papanya melenggang dari kamar. Tiara memerhatikan punggung kedua lelaki itu yang mulai bergerak menjauh. Dua lelaki hebat yang selalu siap untuk melindunginya dan Nayna, memberikan cinta serta kehangatan di hidupnya.

Aryo menjadi papa yang begitu penyayang dan meletakkan keluarganya di prioritas utama. Tiara selalu bangga terhadap pria itu. Sejak mereka memiliki anak, Aryo menjadi sosok yang lebih baik dan mau belajar banyak hal. Aryan, menjadi kakak dan anaka lelaki yang pintar, penurut, dan selalu bersikap lembut terhadap mama dan adiknya. Terakhir Nayna, hadirnya bayi perempuan itu menjadi pelengkap yang begitu manis di hidup mereka.

Hidup Tiara kini terasa lebih dari cukup. Namun seperti yang pernah Aryo katakan padanya, pria itu tidak bisa selalu menjanjikan kebahagiaan pada Tiara. Kalau ada suka, maka akan ada duka juga. Beberapa orang melihat kehidupannya seperti fairytale yang memiliki happy ending. Seorang putri yang menemukan pangeran baik hati dan dikaruniai anak-anak yang pintar. Padahal tidak selalu seperti itu.

Tiara mengalihkan tatapannya pada foto pernikahan yang terpajang di bingkai besar di kamar. Pria yang berada di sampingnya di foto itu, bukanlah sosok yang sempurna. Namun Tiara menjadi sempurna ketika bersamanya.

Rasa cintanya kepada Aryo tanpa syarat. Saat Tiara berkali-kali dihadapkan pada alasan untuk tidak lagi mencintai pria itu, kenyataan yang terjadi ia adalah ia memilih untuk terus mencintai Aryo. Bersama Aryo, Tiara rela melewati hujan dan jalanan berlubang untuk menemukan pelangi di ujung jalan. Tiara bahagia, hanya dengan mendapati Aryo berada di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Sesederhana itulah perasaannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

2 tahun berselang, Aryo dan Tiara kembali diberi kepercayaan oleh Tuhan. Di rahim Tiara, dititipkan seorang bayi perempuan yang kehadirannya begitu di tunggu oleh seluruh keluarga.

Akhirnya di usia tiga tahunnya, Aryan menjadi seorang kakak. Bocah lelaki itu sangat senang, bahkan seringkali mengajak adiknya untuk bermain koleksi mobil-mobilan miliknya. Meskipun bayi perempuan itu baru bisa berceloteh-celoteh tidak jelas, Aryan tetap senang mengajak mengobrol atau menjaganya ketika adiknya sedang tertidur.

Nayna Harla Brodjohujodyo, bayi perempuan dengan mata indah berkelopak monolid itu begitu cantik. Ketika baru lahir, Nayna memiliki kulit yang sangat putih sampai rona kulitnya berwarna pink. Aryo gemas sendiri terhadap anaknya. Katanya, Nayna itu mirip boneka cantik tapi versi hidup.

“Aryo, jangan digigit anaknya,” peringat Tiara ketika mendapati suaminya langsung menyerbu Nayna, ketika Tiara baru saja meletakkan anaknya itu sebentar di ranjang.

“Habis gemes Ra,” ucap Aryo.

“Yaa itu bayi, Aryo. Bukan boneka,” Tiara pun menatap Aryo dengan tatapan memperingati.

“Lucu banget, Ra. Pipi sama bibirnya warna pink,” Aryo mengamati anaknya yang baru saja selesai didandani oleh Tiara pagi ini. Nayna telah mandi dan Tiara suka sekali mendandaninya dengan baju-baju lucu dan juga aksesoris.

“Anak Papa cantik banget sih hari ini, wangi lagi,” seru Aryo sambil menciumi Nayna. Aryo sangat senang bermain dengan Nayna dan Aryan dan selalu ingin meluangkan waktunya barang sebentar. Di tengah kesibukannya bekerja, keluarganya adalah hal utama yang dapat menghiburnya dan menguapkan seluruh rasa lelahnya. Hari ini adalah hari libur, jadi Aryo berniat menghabiskan waktunya bersama istri dan anak-anaknya.

Tiara yang telah selesai mandi dan menyisir rambutnya, lekas menghampiri Nayna untuk menyusui anaknya itu.

“Nayna, gantian sama Papa boleh nggak, Nak?” celetuk Aryo.

“Gantian apa—”

Tiara menoleh dan mendapati cengiran di wajah Aryo. Seketika itu juga matanya membulat sempurna, “Aryo kamu nih ya,” Tiara pun melayangkan tangannya di lengan Aryo, memukulnya pelan.

“Aku kan juga mau Sayang,” Aryo nampak mencebikkan bibirnya.

“Kalau Nayna kan masih kecil, belum ada giginya. Kamu mah suka gigit,” cetus Tiara. Setelah Nayna puas menyusu dan sudah tertidur, Tiara menimang-nimang Nayna di gendongannya supaya anaknya itu cepat pulas.

“Aku nggak gigit, Sayang. Beneran deh,” ucap Aryo.

“Aryo, kamu ingat nggak? Kamu kan udah janji sama Aryan, mau beliin dia hot wheels limited edition,” ujar Tiara.

“Aku beliin Aryan mobil aslinya aja, gimana Sayang?”

“Buat apa, Aryan mana ngerti. Itu mah maunya kamu,” Tiara tertawa meledek Aryo.

Di tengah-tengah suasana itu, Aryan melenggang masuk ke kamar orang tuanya setelah bocah 3 tahun itu mengetuk pintunya.

“Aryan, Papa udah ketemu mobil hot wheels yang Aryan mau tuh kemarin,” ucap Tiara dan itu sukses membuat Aryan terlihat senang.

“Beneran, Pah?” tanya Aryan pada Aryo.

“Beneran dong, Sayang. Nanti siang mobilnya dianterin sama om Rama ke sini yaa,” ujar Aryo.

Saat Nayna sudah pulas, Tiara meletakkan anaknya itu ke dalam box bayi. Kemudian Tiara meminta Aryan unuk mendekat padanya dan ia pun membisikkan sesuatu.

Aryan lekas menghampiri Aryo setelah Tiara mengatakan sesuatu padanya, “Pah, Aryan maunya Papa yang ambil mobilnya sama Aryan. Nggak mau sama om Rama,” ujar Aryan.

Tiara lantas mendekati Aryo dan mengusap lengan suaminya itu, “Tuh, anaknya mau quality time sama kamu. Temenin dulu sana, nanti pulangnya aku kasih kamu hadiah,” Tiara melayangkan senyum penuh artinya ke arah Aryo.

“Hadiah apa Sayang?” tanya Aryo.

“Ada deh, rahasia. Tapi kayaknya kamu akan suka.”

“Oke, kalau gitu. Aku anterin Aryan beli mobil dulu ya Sayang,” Aryo kini beralih pada Aryan setelah ia mengambil kunci mobilnya.

Aryo pun mengulurkan tangannya pada Aryan, “Bro, let's go. Today is boys day out. Aryan nanti pilih aja mau yang mana, Papa beliin yang Aryan mau.”

Hot wheels, Pah?” tanya Aryan.

“Bukan, Nak. Mobil beneran yang besar, yang bisa jalan. Aryan mau warna apa? Merah atau biru?”

“Wow, keren banget dong, Pah. Aryan mau warna biru deh kalau gitu, boleh ya?” seru Aryan nampak gembira dan antusias. Bocah lelaki itu pun meraih tangan papanya untuk di genggam

“Bener-bener mirip kamu, Sayang. Hobi kok beli mobil,” celetuk Tiara.

“Iya, dong. Aryan, kamu boleh koleksi mobil nanti kalau sudah besar, ya. Papa buatin garasi khusus buat kamu dan kamu bisa pilih mau diisi sama mobil apa aja,” ujar Aryo.

Setelah berpamitan dan menyalami tangan Tiara, Aryan kecil segera menyusul langkah papanya melenggang dari kamar. Tiara memerhatikan punggung kedua lelaki itu yang mulai bergerak menjauh. Dua lelaki hebat yang selalu siap untuk melindunginya dan Nayna, memberikan cinta serta kehangatan di hidupnya.

Aryo menjadi papa yang begitu penyayang dan meletakkan keluarganya di prioritas utama. Tiara selalu bangga terhadap pria itu. Sejak mereka memiliki anak, Aryo menjadi sosok yang lebih baik dan mau belajar banyak hal. Aryan, menjadi kakak dan anaka lelaki yang pintar, penurut, dan selalu bersikap lembut terhadap mama dan adiknya. Terakhir Nayna, hadirnya bayi perempuan itu menjadi pelengkap yang begitu manis di hidup mereka.

Hidup Tiara kini terasa lebih dari cukup. Namun seperti yang pernah Aryo katakan padanya, pria itu tidak bisa selalu menjanjikan kebahagiaan pada Tiara. Kalau ada suka, maka akan ada duka juga. Beberapa orang melihat kehidupannya seperti fairytale yang memiliki happy ending. Seorang putri yang menemukan pangeran baik hati dan dikaruniai anak-anak yang pintar. Padahal tidak selalu seperti itu.

Tiara mengalihkan tatapannya pada foto pernikahan yang terpajang di bingkai besar di kamar. Pria yang berada di sampingnya di foto itu, bukanlah sosok yang sempurna. Namun Tiara menjadi sempurna ketika bersamanya.

Rasa cintanya kepada Aryo tanpa syarat. Saat Tiara berkali-kali dihadapkan pada alasan untuk tidak lagi mencintai pria itu, kenyataan yang terjadi ia adalah ia memilih untuk terus mencintai Aryo. Bersama Aryo, Tiara rela melewati hujan dan jalanan berlubang untuk menemukan pelangi di ujung jalan. Kira-kira seperti itu lah yang dapat Tiara gambarkan. Tiara bahagia, hanya dengan mendapati Aryo berada di sampingnya dan menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Sesederhana itulah perasaannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara menemukan Aryo dan Aryan tengah bermain di ruang tengah. Beberapa mainan mobil-mobilan dan robot terlihat berserakan di lantai. Tiara lekas menghampiri keduanya dan meminta Aryo untuk memakai bajunya karena suaminya itu shirtless.

“Aryan, kenapa Papa nggak pake baju? Coba kasih tau Mama,” tanya Tiara pada putranya.

Aryan mengalihkan perhatiannya dari robot miliknya kepada Tiara “Kata Papa, Papa gerah Mah. Tadi Aryan sama Papa habis main hide and seek,” jelas Aryan.

“Aryan udah beli mobilnya tadi sama Papa?” tanya Tiara lagi.

“Udah dong, Mama. Warna mobilnya biru, sesuai yang Aryan mau,” kini Aryo yang menjawab pertanyaan itu. Pria itu lantas memindahkan posisinya agar berada di samping Tiara di sofa. Aryo meletakkan robot milik Aryan yang sebelumnya berada di tangannya.

“Nayna masih tidur, Sayang?” tanya Aryo.

“Masih. Kamu pakai baju dong Sayang, nanti masuk angin lho,” titah Tiara.

“Iya, nanti. Masih panas Ra. Oh iya, hadiah buat aku mana? Yang tadi kamu bilang,” pinta Aryo pada Tiara.

“Hmm ... kamu temenin Aryan main dulu hari ini. Besok kan kamu kerja, anak kamu mau main sama Papanya. Aku tunggu kamu di kamar, oke?” ucap Tiara dan hendak beranjak dari posisinya, tapi lebih dulu Aryo menahannya.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan bertanya. “Hadiahnya ada di kamar?” tanya Aryo.

“Iya, Papa,” ucap Tiara dengan nada lembut diiringi sebuah senyum menawan di wajahnya.

Sebelum benar-benar pergi dari sana, Tiara kembali mendekat kepada Aryo. Aryo yang shirtless membuat Tiara bisa menghirup aroma cinnamon bercampur mint yang menguar dari tubuh kekar suaminya. Saat tatapan mereka bertemu, dengan gerakan cepat Tiara menyematkan kecupan di pipi Aryo. Tiara pun segera pergi dari sana sebelum Aryo memberi balasan akan perbuatannya barusan. Nanti urusannya bisa panjang kalau Aryo membalasanya dan Tiara sangat tahu akan hal itu.

***

Tiara menunggu Aryo di kamar. Beberapa kali matanya melirik ke arah pintu, tapi belum juga mendapati Aryo di sana.

Cklek!

“Sayang,” suara fameliar itu seketika membuat Tiara menoleh ke sumbernya. Ia mendapati Aryo di sana, suaminya itu masih shirtless. Aryo hanya mengenakan jeans lengkap dengan ikat pinggang kulitnya. Saat Tiara perhatikan lebih jelas lagi, nampak underwear hitam balenciaga yang mengintip kecil di antara celana jeans yang Aryo

“Aku mandi dulu ya, panas banget cuacanya,” ujar Aryo dan hendak melenggang ke kamar mandi, tapi Tiara lebih dulu menahan lengannya.

“Sebentar,” ucap Tiara sembari mengalungkan lengannya di bahu Aryo, ia sedikit berjinjit untuk sepenuhnya memeluk tubuh suaminya.

“Lengket lho Sayang, aku keringetan gini,” ujar Aryo.

“Nggak papa, aku suka,” Tiara gamblang mengucapkannya. Di balik punggung Tiara, Aryo pun terlihat menyunggingkan senyumnya.

Tidak lama setelah itu, Tiara mengurai pelukan mereka dan meminta Aryo untuk tidak mandi.

“Aryo, aku mau pakai one set hitam itu, sebagai hadiah buat kamu. Would you still love ... that dress?” tanya Tiara.

Aryo memicingkan matanya dan sebuah seringai pun terulas di wajah tampannya. “Selama kamu yang pakai, aku suka one set itu, Sayang. I've said to you thousand times, that damn one set really looks amazing on you. You're always beautiful with anything you wear, I adore you so much, and have to know about that,” ungkap Aryo.

Oke, then. I'll be right back. Just wait here,” ucap Tiara sebelum ia berlalu dari hadapan Aryo.

Aryo pernah kehilangan dunianya dan tidak ingin itu terjadi lagi. Maka ia akan mencintai Tiara sepenuhnya dan rela berjuang untuknya. Tiara adalah istri dan ibu dari anak-anaknya yang telah membuat Aryo menyerahkan seluruh jiwa dan raganya untuknya.

Setiap kisah mustahil untuk memiliki akhir yang bahagia. Namun kebahagiaan sendiri menurutnya adalah keseimbangan antara suka dan duka. Di antara dirinya dan Tiara, tidak pernah ada akhir yang bahagia yang akan ditulis seorang penulis di lembar terakhir novelnya. Karena bagi Aryo, kisahnya dan Tiara tidak akan lekang oleh waktu, tidak akan berakhir.

Aryo menghargai Tiara, mencintainya tanpa kata 'kenapa', hingga ia menginginkan hanya maut yang dapat memisahkan raga mereka. Namun satu hal yang Aryo pahami, rasa cintanya pada Tiara akan tetap sama, walaupun ada saatnya salah satu mereka akan pergi lebih dulu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo

Tiara

12 tahun merupakan yang tidak sebentar untuk diarungi. Ada suka maupun duka, tapi Aryo dan Tiara rela untuk melaluinya.

Semalam terasa begitu indah. Diadakan sebuah perayaan yang cukup besar untuk merayakan 12 tahun pernikahan Aryo dengan Tiara.Set up dinner, lampu, bunga-bunga, dan kehadiran orang-orang tersayang membuatnya semuanya terasa lengkap.

Kini Aryo dan Tiara berada di suatu tempat, tapi yang jelas bukan di rumah, yang ada dua anak mereka. Aryo mengatakan bahwa ia ingin menikmati waktunya berdua saja dengan Tiara. Jadilah Aryan dan Nayna dititipkan di rumah Oma dan Opa. Kedua anaknya juga sudah besar dan bisa diberi pengertian.

Habis bagaimana, Aryo stuck mencintai Tiara. Caranya mencintai sepertinya terlihat agak berlebihan atau orang-orang seringkali menyebutnya bucin, tapi Aryo sama sekali tidak peduli soal itu.

Seseorang yang tersenyum di samping Aryo saat pagi hari adalah masih orang yang sama. Seseorang yang masih memberikan ciuman lembut di tengah malam maupun fajarnya, masihlah orang yang sama. Aryo memilih hidup bersama Tiara selama sisa waktu yang ia miliki.

Aryo memilih wanita yang pemberani dan tangguh, maka ia harus menerima kalau wanita yang dicintainya itu kadang juga keras kepala dan punya pemikiran sendiri. Wanita tidak ada yang sempurna. Namun Tiara telah membuat hidupnya terasa sempurna dan berarti setiap detiknya. Gamblang, Aryo begitu mencintai Tiara.

Aryo menoleh ke sampingnya, ia memerhatikan Tiara yang masih terlelap di dekapannya. Detik berikutnya, ia menyematkan satu ciuman di kening perempuan itu. Mereka satu selimut berdua, di pagi yang sejuk, serta suguhan pemandangan gedung perkotaan dari dinding kaca besar di kamar hotel.

“Ra ... ” panggil Aryo dengan nada manjanya. Aryo menoleh ke sampingnya danmendapati Tiara tengah membuka matanya.

“Apa?” masih dengan suara lesunya, Tiara menjawab. Ia selalu heran, mengapa Aryo punya seribu kekuatan untuk langsung mengumpulkan nyawanya di pagi hari. Walaupun sudah menjadi seorang ibu, Tiara tetaplah Tiara si perempuan yang doyan tidur. Ia tetap tidak bisa bangun terlalu pagi. Namun Aryo menerima kebiasaannya. Justru Aryo mengatakan itu dapat menjadi kesempatan untuk bermesraan di kasur sebelum memulai hari yang melelahkan.

“Cuma mau bilang, kamu tau kan aku sayang sama kamu,” ucap Aryo.

“Hmm ... iya. Aku udah tau.” Tiara nampak memanyunkan bibirnya.

“Bosen ah, gombalannya gitu mulu, nggak romantis,” sambung Tiara.

“Yang romantis itu kayak gimana sih Sayang, hmm ... ?” tanya Aryo.

Tiara terlihat menyipitkan matanya. “Kamu ... beneran mau nurutin yang aku minta?”

“Mau. Asal jangan minta yang itu tanpa pakai pengaman yaa. Kita belum ke dokter buat program KB lagi Sayang,” ucap Aryo. Pipi Tiara seketika memerah ketika tahu maksud Aryo adalah soal melakukan kegiatan agar mereka memiliki anak lagi.

“Jangan bahas itu detail dong, Sayang. Aku malu tau.” Tiara lekas membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.

“Istri aku malu nih ceritanya? Sayang sini, dengerin aku ya. Aku emang masih sanggup kerja untuk menghidupi kamu dan kedua anak kita dengan layak. Bahkan sampai sepuluh anak sekali pun,” tutur Aryo.

“Terus?” ucap Tiara yang masih membelakangi Aryo.

“Aku cuma khawatir sama keadaan kamu, Ra,” terang Aryo.

“Kita udah ke dokter dan konsultasi soal punya anak lagi. Dokter Lilian juga dokter yang sangat berpengalaman di bidangnya, beliau bilang hasil pemeriksaannya baik-baik aja, Aryo.”

“Aku cuma khawatir, Ra. Kamu tau itu. Aku nggak bisa lihat kamu berjuang antara hidup dan mati. Waktu Nayna lahir, aku bersyukur banget waktu tahu kamu masih di dunia ini. Satu keluarga khawatir dan kita hampir aja kehilangan kamu,” ujar Aryo panjang lebar.

Beberapa detik setelahnya, Aryo menyematkan kecupan di bahu Tiara, ia memeluk tubuh istrinya erat. Rasa takut itu sedikit kembali muncul membawa Aryo pada kenangan 9 tahun yang lalu.

Tiara tertegun. Dadanya terasa sesak mendengar kalimat Aryo barusan. Tiara pun berbalik, ia menatap Aryo dengan pandangan berkaca-kaca dan tatapan bersalahnya.

“Aryo maaf aku udah egois,” ujar Tiara.

Hey, no problem. Emang lucu kalau ada anak bayi lagi di rumah kita, Sayang. Tapi kalau hamil lagi membahayakan kamu, aku nggak mau mengambil resiko itu,” ujar Aryo.

Tiara lantas mengangguk pelan. Ia akhirnya menyetujui keputusan Aryo. Suatu kondisi telah membuat kemungkinan untuk hamil lagi sulit dan cukup berat untuk dijalani oleh Tiara. Akibat infeksi yang terjadi di rahimnya setelah melahirkan Aryan, untuk mengandung lagi akan beresiko tinggi bagi ibu maupun calon bayinya kelak.

“Kita tunggu Aryan menikah aja dan punya anak. Nanti akan ada bayi lucu lagi di rumah, kan? Gimana?” cetus Aryo.

“Itu masih lama, Aryo. Aryan kan masih kecil, astaga,” Tiara tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Di usia Aryan yang ke 20 tahun, kalau dia mau melanjutkan perusahaan, paling enggak dia harus sudah menikah, Sayang. Tapi kembali lagi, keputusan itu ada di tangannya, dia bisa bebas memilih,” terang Aryo.

“Oh iya, Aryan harus menikah dulu. Eh Sayang, tapi aku belum siap jadi grandma kalau Aryan punya anak nanti. Apa usia 20 itu nggak terlalu cepat? Aku masih cantik nggak kalau udah usia diatas 40 tahun? Gimana dong,” Tiara panik memikirkan banyak hal di kepalanya yang tiba-tiba saja terlintas, tapi Aryo malah menanggapinya dengan tertawa enteng.

“Kamu kenapa ketawa?” tanya Tiara yang memerhatikan Aryo masih tertawa.

“Kamu masih cantik, Sayang. Dimana tuanya? Masih kayak perawan gini.” Aryo menangkup wajah istrinya menggunakan kedua tangannya dan memerhatikan lekat-lekat paras cantik itu.

“Kalau masih perawan boleh dong, nyari perjaka?” tanya Tiara.

“Hmm ... berani kamu emangnya nyari perjaka?”

“Nggak jadi deh, habis aku punya pawang, dia galak. Aku takut,” ucap Tiara sambil memasang ekspresi pura-pura takutnya.

“Siapa emang pawangnya kamu?” tanya Aryo.

“Kamu kan pawangnya aku.”

“Sayang nggak sama pawangnya kamu?”

“Tiap hari minta bilang sayang terus. Dua belas tahun nggak cukup nempel kamu terus, hmm ... ?”

“Nggak cukup. Aku maunya selamanya sama kamu,” Aryo lantas mendekap tubuh Tiara halus. Udara dingin yang sebelumya Tiara rasakan, kini telah berubah menjadi cukup hangat. Tiara pun menyandarkan kepalanya di bahu Aryo dengan tangan yang balas mendekap torso suaminya.

Tiara melihat Aryo memejamkan matanya. “Aryo,” ujar Tiara pelan di dekat suaminya.

“Kenapa Sayang?” tanya Aryo dengan mata terpejamnya.

“Kamu masih simpan yang di kantong celana kamu nggak?” tanya Tiara.

“Apa yang di kantong?”

“Yang warna ungu itu lho Sayang, rasa blueberry,” cicit Tiara pelan.

Seketika kedua mata Aryo pun kembali terbuka. Kini ia mendapati Tiara tersenyum jahil tapi sekaligus sangat manis di hadapannya. Tiara mengalungkan lengannya di pundak Aryo, ia menatap Aryo dengan puppy eyes-nya, “Masih ada kan, Sayang? Aku ambil, ya?” tanya Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara menyapukan pandangannya pada unit penthouse yang kini berada di hadapannya. Mewah. Satu kata itu rasanya sangat cukup untuk menggambarkan tempat ini.

“Aryan, penthouse ini dalam rangka apa?” tanya Tiara pada Aryan.

Aryan lantas menyusul langkah Tiara memasuki unit penthouse lebih jauh. Penthouse ini sudah diisi oleh berbagai furnitur dan fasilitas pelengkap lainnya, jadi siap untuk dihuni kapanpun mereka ingin.

“Papa kamu beli penthouse lagi?” tebak Tiara.

Aryan mengambil sesuatu dari saku celananya,“Iya, Mah. Papa beli penthouse ini untuk Mama. Sertifikat hak miliknya juga atas nama Mama. Sudah serah terima kunci, dan ini kuncinya,” Aryan menyerahkan sebuah kunci ke tangan Tiara.

“Aryan kamu nggak lagi becandain Mama, kan?” Tiara memicingkan matanya ke arah anaknya itu.

“Engga dong, Mamaku sayang. Papa sama Nayna sebentar lagi nyusul kita ke sini. Papa masih ada urusan di kantor dan Nayna lagi on the way dari sekolahnya,” terang Aryan diiringi sebuah senyum di wajahnya.

***

Happy anniversary yang ke dua puluh satu yaa, Sayang. I love you,” ucap Aryo. Di balkon luas penthouse itu, Aryo muncul di hadapan Tiara sambil membawa sebuket bunga mawar yang nampak ranum.

Tiara mengulaskan senyumnya, ia menerima buket bunga itu dan bergerak untuk membawa torso Aryo ke dekapannya.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Tiara di dekat Aryo. Mata Tiara yang bertubrukan langsung dengan Aryan dan Nayna, mendapati kedua anaknya itu tersenyum bahagia menyaksikan orang tua mereka.

Tidak lama kemudian, Tiara mengurai pelukannya, “Jadi hadiah anniversary kita adalah penthouse ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo.

The Penthouse

Aryo pun melirik sekilas Aryan dan Nayna, lalu pria itu menatap Tiara lagi dan menganggukkan kepala.

“Hadiah ini atas ide Aryan dan Nayna juga, Sayang. Anak kita ingin Mama dan Papanya punya hunian masa tua yang cukup.”

“Aryo, tapi ini lebih dari cukup,” ujar Tiara.

So this is a good news, right?”

“Iya, penthouse ini bagus, tapi terlalu besar. Rumah kita udah cukup. Gimana Aryan? Nayna, menurut kamu gimana, Sayang?” Tiara menanyakan pendapat kedua anaknya.

Mom, this penthouse is definetely amazing. Unit ini punya akses lift sendiri dan area parkir pribadi untuk setiap pemilik. Lokasinya juga strategis, dekat pusat perbelanjaan,” itu pendapat Nayna. Sebenarnya Aryan dan Nayna tidak heran lagi dengan kebiasaan papanya membeli properti dan segala tetek bengeknya itu. Tiara pun juga begitu, ia sangat mengenal suaminya. Namun ia merasa ini semua terlalu berlebihan.

“Menurut Aryan, penthouse ini cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Papa dan Mama bisa menikmatinya berdua. Aryan sama Nayna sudah memikirkan ini, kita hanya mau yang terbaik buat Mama dan Papa,” Aryan melirik Nayna dan langsung diangguki oleh adiknya itu.

Tiara nampak terdiam sesaat. Dua detik berikutnya, Tiara menatap Aryo dan bergantian pada Nayna lalu Aryan. “Aryan, Nayna, terima kasih karena sudah memikirkan semuanya dan menginginkan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Mama menghargai yang kalian berikan. Tapi tempat sebesar ini akan terasa hampa tanpa hadirnya orang-orang yang kita sayang,” ungkap Tiara.

Dari ungkapan Tiara tersebut, Aryo, Aryan, dan Nayna pun menjadi paham. Tiara menghargai apa yang mereka usahakan, tapi semua itu akan sia-sia kalau kita justru merasa kesepian. Tiara ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya kelak. Itu hal sederhana tapi justru paling tidak ternilai baginya.

“Sayang, aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Kita akan tinggal sama-sama di sini, sama Aryan dan Nayna juga,” ucap Aryo.

“Mama, Nayna nggak kepikiran sama sekali soal itu. Maafin Nayna, Mah. Nayna nggak berniat bikin Mama kesepian atau ninggalin Mama dan Papa buat tinggal berdua,” Nayna menghampiri Tiara lalu segera memeluk mamanya. Aryan juga ikut melakukan hal yang sama dengan yang Nayna lakukan.

“Iya, Sayang. Nggak papa,” ucap Tiara sambil balas memeluk Nayna dan Aryan. Tiara pun mengurai pelukannya tidak lama kemudian, ia mengusap bergantian pipi Nayna dan Aryan.

“Aryan,” ujar Aryo.

Aryan pun menoleh pada papanya, “Iya Pah?”

“Kamu masih punya waktu untuk menentukan. Kalau kamu ingin meneruskan perusahaan, kemungkinannya kamu harus segera menikah. Kamu bisa menikah setelah kamu lulus kuliah,” ujar Aryo.

“Mah, Pah,” ujar Nayna yang lantas membuat Aryo dan Tiara menoleh padanya. “Koko tuh punya pacar, tapi nggak tau mau dikenalin ke Papa dan Mama kapan,” sambung Nayna diiringi senyum jenakanya.

Aryo menatap Aryan sembari memicingkan matanya, “Benar yang dibilang Nayna, Aryan?”

Tiara pun ikut menoleh ke Aryan, “Jadi perempuan yang waktu itu benar-benar pacar kamu?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum menggodanya kepada putra sulungnya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah adiknya lalu melemparkan tatapan mematikan. Nayna pun membalas Aryan dengan senyum santainya seolah ia tidak takut ditatap seperti itu oleh Aryan.

“Orang Koko sama pacarnya udah sering stay cation bareng,” cicit Nayna pelan. Seketika Aryo dan Tiara menatap Aryan dengan tatapan memperingati.

Aryo menghela napasnya, “Aryan, dengar nasihat Papa. Jangan berani kamu melakukan apapun kalau kamu belum siap menanggungnya, oke? Papa percaya kamu udah mengerti soal itu dan tahu batasannya. Soal meneruskan perusahaan, keputusan itu tetap ada di tangan kamu, Aryan. Kalau kamu serius dan bertekad terhadap perusahaan dan pasangan kamu, kamu harus siap menikah dan memikul perusahaan di kedua pundak kamu,” tutur Aryo panjang lebar.

“Aryan, kamu pikirin ini matang-matang dulu. Bicarakan juga sama pacar kamu baik-baik,” ujar Tiara.

“Mama ingin Aryan cepet-cepet menikah? Nanti Aryan akan punya kehidupan sendiri dan mungkin nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi” Gimana?” tanya Aryan.

“Nggak papa dong, Sayang. Asalkan kamu bahagia sama keluarga kecil kamu, Mama dan Papa akan bahagia juga. Kita kan bisa sering-sering main ke rumah kamu nanti, ya kan Pah?”

Aryo mengangguki, “Benar yang Mama bilang, kita pastinya bahagia kalau kamu bahagia. Oh iya, kamu mau mulai magang kapan di perusahan Papa? Biar Papa ajukan. Dari magang itu, nanti kamu bisa belajar punya tanggung jawab dan dapat penghasilan dari usaha kamu sendiri.”

“Kalau soal magang, secepatnya nanti Aryan infoin ke Papa. Aryan masih harus nunggu persyaratan dulu dari dosen,” jelas Aryan.

“Oke. Papa tunggu kabar dari kamu.”

“Udah Ko, nikah aja. Kata Oma, lo dapet warisan jalur VIP lho kalau nikah muda. Itung-itung magang dan dapat gaji itu buat lo latihan jadi calon kepala keluarga. Iya kan Pah, Mah?” ujar Nayna.

Aryo dan Tiara mengangguki ucapan Nayna dan tampak begitu setuju. Setelah itu Mama dan Papanya pamit untuk berlalu lebih dulu, meninggalkan Aryan yang masih ingin berada di balkon. Hembusan semilir angin menyapa halus kulit dan rambut bagian depan pria berparas oriental itu.

Nayna rupanya berbalik lagi setelah beberapa langkah mengikuti langkah papa dan mamanya. Nayna mengatakan, ia merasa empati dengan kakaknya itu. Cukup sulit rupanya menjadi anak sulung laki-laki karena memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha milik keluarga.

“Lo sama kak Shakina kan udah pacaran lumayan lama juga. Gue tahu, sebucin apa lo dan kak Kina. Kalau lo lamar dia, kemungkinan besar dia akan terima lo. Kenapa nggak coba aja lo purpose,” ucap Nayna.

Aryan menoleh ke arah Nayna dan berujar, “Nggak semudah itu untuk menikah, Nay. Menikah itu menyatukan dua keluarga, gue harus mikirin tanggapan keluarganya Kina juga soal pernikahan. Kina punya cita-cita yang mungkin buat dia nggak mau menikah cepat.”

Nayna pun mengangguk, “Oke, gue paham. Tapi ini menurut gue aja ya, Ko. Kalau dia benar-benar serius dan mantap banget sama lo, dia nggak akan nolak lamaran lo. Dalam berhubungan, sekarang komitmen ke jenjang serius adalah hal yang lumayan penting,” ujar Nayna.

“Jadi menurut lo gue harus coba lamar Kina?” tanya Aryan.

Yes, you should try. Saran gue sebelum lo purpose, lo pastiin dulu sekali lagi. Yakinin hati lo kalau emang she's the one for you. Good luck Ko, gue masuk ke dalam dulu ya. Di sini dingin banget,” Nayna menepuk pundak Aryan sebelum gadis itu berlalu.

Aryan jelas sudah memikirkan tentang masa depannya. Papanya memang memberikan pilihan untuk tidak meneruskan perusahaan dan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Namun ia memiliki tanggung jawab sebagai anak laki-laki pertama.

Aryan ingin papa dan mamanya dapat menikmati masa tua mereka tanpa memikirkan apapun. Poin tersebut sudah masuk ke dalam goals list teratas di hidupnya. Aryan akan mengusahakan itu, mempertimbangkan untuk melamar Shakina dan menikahi kekasihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷

Tiara menyapukan pandangannya pada sebuah unit penthouse yang begitu ... wow. Mewah. Satu kata itu rasanya sangat cukup untuk menggambarkan tempat ini.

“Aryan, penthouse ini dalam rangka apa?” tanya Tiara pada Aryan.

Putra sulungnya itu lantas menyusul langkah Tiara memasuki unit penthouse tersebut lebih jauh. Penthouse ini sudah diisi oleh berbagai furnitur dan fasilitas pelengkap lainnya, jadi siap untuk dihuni kapanpun mereka ingin.

“Papa kamu beli penthouse lagi?” tebak Tiara.

Aryan mengambil sesuatu dari saku celananya,“Iya, Mah. Papa beli penthouse ini untuk Mama. Sertifikat hak miliknya juga atas nama Mama. Sudah serah terima kunci, dan ini kuncinya,” Aryan menyerahkan sebuah kunci ke tangan Tiara.

“Aryan kamu nggak lagi becandain Mama, kan?” Tiara memicingkan matanya ke arah anaknya itu.

“Engga dong, Mamaku sayang. Papa sama Nayna sebentar lagi nyusul kita ke sini. Papa masih ada urusan di kantor dan Nayna lagi on the way dari sekolahnya,” terang Aryan diiringi sebuah senyum di wajahnya.

***

Happy anniversary yang ke dua puluh satu yaa, Sayang. I love you,” ucap Aryo. Di balkon luas penthouse itu, Aryo muncul di hadapan Tiara sambil membawa sebuket bunga mawar yang nampak ranum.

Tiara mengulaskan senyumnya, ia menerima buket bunga itu dan bergerak untuk membawa torso Aryo ke dekapannya.

“Terima kasih, Sayang,” ucap Tiara di dekat Aryo. Mata Tiara yang bertubrukan langsung dengan Aryan dan Nayna, mendapati kedua anaknya itu tersenyum bahagia menyaksikan orang tua mereka.

Tidak lama kemudian, Tiara mengurai pelukannya, “Jadi hadiah anniversary kita adalah penthouse ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo.

The Penthouse

Aryo pun melirik sekilas Aryan dan Nayna, lalu pria itu menatap Tiara lagi dan menganggukkan kepala.

“Hadiah ini atas ide Aryan dan Nayna juga, Sayang. Anak kita ingin Mama dan Papanya punya hunian masa tua yang cukup.”

“Aryo, tapi ini lebih dari cukup,” ujar Tiara.

So this is a good news, right?”

“Iya, penthouse ini bagus, tapi terlalu besar. Rumah kita udah cukup. Gimana Aryan? Nayna, menurut kamu gimana, Sayang?” Tiara menanyakan pendapat kedua anaknya.

Mom, this penthouse is definetely amazing. Unit ini punya akses lift sendiri dan area parkir pribadi untuk setiap pemilik. Lokasinya juga strategis, dekat pusat perbelanjaan,” itu pendapat Nayna. Sebenarnya Aryan dan Nayna tidak heran lagi dengan kebiasaan papanya membeli properti dan segala tetek bengeknya itu. Tiara pun juga begitu, ia sangat mengenal suaminya. Namun ia merasa ini semua terlalu berlebihan.

“Menurut Aryan, penthouse ini cocok banget untuk jadi tempat tinggal. Papa dan Mama bisa menikmatinya berdua. Aryan sama Nayna sudah memikirkan ini, kita hanya mau yang terbaik buat Mama dan Papa,” Aryan melirik Nayna dan langsung diangguki oleh adiknya itu.

Tiara nampak terdiam sesaat. Dua detik berikutnya, Tiara menatap Aryo dan bergantian pada Nayna lalu Aryan. “Aryan, Nayna, terima kasih karena sudah memikirkan semuanya dan menginginkan yang terbaik untuk Papa dan Mama. Mama menghargai yang kalian berikan. Tapi tempat sebesar ini akan terasa hampa tanpa hadirnya orang-orang yang kita sayang,” ungkap Tiara.

Dari ungkapan Tiara tersebut, Aryo, Aryan, dan Nayna pun menjadi paham. Tiara menghargai apa yang mereka usahakan, tapi semua itu akan sia-sia kalau kita justru merasa kesepian. Tiara ingin menikmati hari tuanya bersama anak, menantu dan cucu-cucunya kelak. Itu hal sederhana tapi justru paling tidak ternilai baginya.

“Sayang, aku ngerti apa yang kamu pikirkan. Kita akan tinggal sama-sama di sini, sama Aryan dan Nayna juga,” ucap Aryo.

“Mama, Nayna nggak kepikiran sama sekali soal itu. Maafin Nayna, Mah. Nayna nggak berniat bikin Mama kesepian atau ninggalin Mama dan Papa buat tinggal berdua,” Nayna menghampiri Tiara lalu segera memeluk mamanya. Aryan juga ikut melakukan hal yang sama dengan yang Nayna lakukan.

“Iya, Sayang. Nggak papa,” ucap Tiara sambil balas memeluk Nayna dan Aryan. Tiara pun mengurai pelukannya tidak lama kemudian, ia mengusap bergantian pipi Nayna dan Aryan.

“Aryan,” ujar Aryo.

Aryan pun menoleh pada papanya, “Iya Pah?”

“Kamu masih punya waktu untuk menentukan. Kalau kamu ingin meneruskan perusahaan, kemungkinannya kamu harus segera menikah. Kamu bisa menikah setelah kamu lulus kuliah,” ujar Aryo.

“Mah, Pah,” ujar Nayna yang lantas membuat Aryo dan Tiara menoleh padanya. “Koko tuh punya pacar, tapi nggak tau mau dikenalin ke Papa dan Mama kapan,” sambung Nayna diiringi senyum jenakanya.

Aryo menatap Aryan sembari memicingkan matanya, “Benar yang dibilang Nayna, Aryan?”

Tiara pun ikut menoleh ke Aryan, “Jadi perempuan yang waktu itu benar-benar pacar kamu?” tanya Tiara sambil mengulaskan senyum menggodanya kepada putra sulungnya itu.

Aryan pun akhirnya mengangguk pelan. Ia melirik sekilas ke arah adiknya lalu melemparkan tatapan mematikan. Nayna pun membalas Aryan dengan senyum santainya seolah ia tidak takut ditatap seperti itu oleh Aryan.

“Orang Koko sama pacarnya udah sering stay cation bareng,” cicit Nayna pelan. Seketika Aryo dan Tiara menatap Aryan dengan tatapan memperingati.

Aryo menghela napasnya, “Aryan, dengar nasihat Papa. Jangan berani kamu melakukan apapun kalau kamu belum siap menanggungnya, oke? Papa percaya kamu udah mengerti soal itu dan tahu batasannya. Soal meneruskan perusahaan, keputusan itu tetap ada di tangan kamu, Aryan. Kalau kamu serius dan bertekad terhadap perusahaan dan pasangan kamu, kamu harus siap menikah dan memikul perusahaan di kedua pundak kamu,” tutur Aryo panjang lebar.

“Aryan, kamu pikirin ini matang-matang dulu. Bicarakan juga sama pacar kamu baik-baik,” ujar Tiara.

“Mama ingin Aryan cepet-cepet menikah? Nanti Aryan akan punya kehidupan sendiri dan mungkin nggak tinggal sama Papa dan Mama lagi” Gimana?” tanya Aryan.

“Nggak papa dong, Sayang. Asalkan kamu bahagia sama keluarga kecil kamu, Mama dan Papa akan bahagia juga. Kita kan bisa sering-sering main ke rumah kamu nanti, ya kan Pah?”

Aryo mengangguki, “Benar yang Mama bilang, kita pastinya bahagia kalau kamu bahagia. Oh iya, kamu mau mulai magang kapan di perusahan Papa? Biar Papa ajukan. Dari magang itu, nanti kamu bisa belajar punya tanggung jawab dan dapat penghasilan dari usaha kamu sendiri.”

“Kalau soal magang, secepatnya nanti Aryan infoin ke Papa. Aryan masih harus nunggu persyaratan dulu dari dosen,” jelas Aryan.

“Oke. Papa tunggu kabar dari kamu.”

“Udah Ko, nikah aja. Kata Oma, lo dapet warisan jalur VIP lho kalau nikah muda. Itung-itung magang dan dapat gaji itu buat lo latihan jadi calon kepala keluarga. Iya kan Pah, Mah?” ujar Nayna.

Aryo dan Tiara mengangguki ucapan Nayna dan tampak begitu setuju. Setelah itu Mama dan Papanya pamit untuk berlalu lebih dulu, meninggalkan Aryan yang masih ingin berada di balkon. Hembusan semilir angin menyapa halus kulit dan rambut bagian depan pria berparas oriental itu.

Nayna rupanya berbalik lagi setelah beberapa langkah mengikuti langkah papa dan mamanya. Nayna mengatakan, ia merasa empati dengan kakaknya itu. Cukup sulit rupanya menjadi anak sulung laki-laki karena memiliki tanggung jawab untuk meneruskan usaha milik keluarga.

“Lo sama kak Shakina kan udah pacaran lumayan lama juga. Gue tahu, sebucin apa lo dan kak Kina. Kalau lo lamar dia, kemungkinan besar dia akan terima lo. Kenapa nggak coba aja lo purpose,” ucap Nayna.

Aryan menoleh ke arah Nayna dan berujar, “Nggak semudah itu untuk menikah, Nay. Menikah itu menyatukan dua keluarga, gue harus mikirin tanggapan keluarganya Kina juga soal pernikahan. Kina punya cita-cita yang mungkin buat dia nggak mau menikah cepat.”

Nayna pun mengangguk, “Oke, gue paham. Tapi ini menurut gue aja ya, Ko. Kalau dia benar-benar serius dan mantap banget sama lo, dia nggak akan nolak lamaran lo. Dalam berhubungan, sekarang komitmen ke jenjang serius adalah hal yang lumayan penting,” ujar Nayna.

“Jadi menurut lo gue harus coba lamar Kina?” tanya Aryan.

Yes, you should try. Saran gue sebelum lo purpose, lo pastiin dulu sekali lagi. Yakinin hati lo kalau emang she's the one for you. Good luck Ko, gue masuk ke dalam dulu ya. Di sini dingin banget,” Nayna menepuk pundak Aryan sebelum gadis itu berlalu.

Aryan jelas sudah memikirkan tentang masa depannya. Papanya memang memberikan pilihan untuk tidak meneruskan perusahaan dan memutuskan jalan hidupnya sendiri. Namun ia memiliki tanggung jawab sebagai anak laki-laki pertama. Aryan ingin papa dan mamanya dapat menikmati masa tua mereka tanpa memikirkan apapun. Poin itu sudah masuk ke dalam goals list nomor satu di hidupnya. Aryan akan mengusahakan itu, mempertimbangkan untuk melamar Shakina dan menikahi kekasihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya. Sampai di sini pertemuan kita di Emergency Married. Sampai bertemu di ceritaku yang selanjutnya.

Regards, Aya 🌷