alyadara

Sebuah pesta telah disiapkan di kediaman orang tuanya, sehingga Aryo dan Tiara tidak langsung pulang ke rumah mereka selepas dari hotel. Ini hanya acara kecil-kecilan berupa makan siang bersama sebagai bentuk syukur atas kelulusan Tiara.

Ayah dan bundanya juga datang bersama kedua adiknya. Pertemuan tersebut begitu terasa hangat dan membahagiakan. Beberapa keluarga yang hadir memberikan ucapan selamat pada Tiara sekaligus doa untuk bayi di dalam kandungannya.

“Dedeknya ikut sekolah Mamanya nih ya, ikutan pinter nih nanti kalau udah lahir,” ujar Namia, kakak dari mama mertuanya.

“Iyaa, dong. Calon jagoan Oma nih, anak ganteng dan pintar,” ucap Feli. Mertuanya itu mengarahkan tangannya untuk mengusap perut Tiara, senyum cerah tercetakdi wajah anggunnya.

Tiara begitu senang, kehadirannya di tengah-tengah keluarga Aryo dapat menghadirkan senyuman di wajah mereka. Terkadang kebahagiaan hanya butuh tercipta dari hal yang begitu sederhana dan tidak terbayang sama sekali.

“Tiara ... Tiaraa,” seru seorang gadis kecil yang hadir di tengah-tengah Tiara, Namia dan Feli.

“Christie, panggilnya Kak Tiara dong. Atau Cici juga boleh,” ujar Namia yang menasehati cucunya yang baru berusia 4 tahun itu.

“Cici Tiara ya, Oma?” tanya Christie yang diangguki Namia.

“Cici, Cici, liat nih. Christie di kasih angpao nih sama koko,” gadis itu memarkan lima lembar uang kertas merah muda di tangannya.

“Banyak banget, Sanag. Buat apa koko ngasih Christie ?” tanya Namia.

“Buat jemput Cici Tiara katanya. Ayo Ci, ikut sama Christie . Kalau engga, nanti uang Christie di ambil lagi sama koko,” celoteh gadis kecil itu. Akhirnya Tiara menuturi langkah Christie . Mereka berjalan dan sampai di sebuah ruangan berisi billiard dan beberapa arena permainan. Di sana beberapa saudara laki-laki Aryo sedang bermain bersama suaminya itu. Ketika menyadari kehadiran Tiara di sana dan Christie nampak melambaikan tangan padanya, Aryo lekas menaruh stick billiardnya dan berjalan menuju Tiara.

Aryo pamitan dengan saudara-saudaranya dan membawa Tiara keluar dari ruangan itu. Mereka menuju ruang keluarga dan mengambil temapt di sofa.

“Habisin dulu makanannya, jangan ngomong. Nanti kamu kesedak, Aryo,” ujar Tiara yang memerhatikan Aryo tengah menyemil kue yang diambilnya di meja. Aryo tampak ingin berbicara namun pria itu kesulitan karena akan melakukannya sambil mengunyah.

Tiara geleng-geleng kepala, hapal betul akan kebiasaan suaminya itu. Kalau sudah bertemu makanan kesukaannya, Aryo akan makan itu dengan lahap. Mulutnya penuh, depan, belakang, kanan kiri, di pakai untuk mengunyah semua.

“Lucu banget sih kamu kalau lagi makan gini,” celetuk Tiara yang masih foksu memerhatikan cara makan Aryo. Pipi suaminya tampak seperti gelembung yang besar saat ini.

“Tuh kan, tuh kan,” ucap Tiara ketika Aryo tersedak camilannya. “Bentar, aku ambilin minum dulu,” Tiara pun berlalu dari hadapan Aryo.

Tidak lama kemudian, Tiara kembali dan mendapati wajah Aryo yang memerah. Ia membantu Aryo meminum air putih dari gelas yang dibawanya.

“Lain kali kamu pelan-pelan kalau makan,” titah Tiara sambil menepuk-nepuk punggung Aryo.

“Iya, Sayang. Makasih ya,” ucap Aryo ketika rasa sesak di dadanya berkurang dan ia dapat kembali bernapas dengan lebih mudah.

Aryo meletakkan gelas yang sudah kosong di meja. Detik berikutnya ia mendapati ekspresi terkejut dan menahan sakit di wajah Tiara.

“Sayang, *you're okay? What happened?” tanya Aryo yang ikut khawatir saat Tiara memegangi perutnya.

Tiara nampak meringis dan satu tangannya meraih lengan Aryo untuk jadi pegangannya, “Aryo, perut aku kram,” rintihnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Kamu masih marah sama aku?” tanya Aryo pada Tiara. Ia mengekori langkah Tiara sampai akhirnya mereka masuk ke kamar.

“Menurut kamu aja,” ucap Tiara.

To the point, Ra. Kamu maunya apa?” ujar Aryo lagi.

Tiara tidak menjawab. Aryo yang melihat diamnya Tiara pun semakin dibuat bingung.

“Kalau kamu kayak gini, gimana aku bisa tau. Aku udah jemput kamu ke rumah mama, tapi tiba-tiba kamu maunya nginep di sini. Kamu nggak mau pulang sama aku, kenapa?”

Tiara lantas balas menatap Aryo, “Emang aku minta kamu jemput aku? Kamu bilangnya nyuruh aku nginep di rumah mama, karena kamu mau lembur. Tapi apa? Kamu yang tiba-tiba jemput.”

“Ra, please. Jangan kayak anak kecil gini dong. Aku bingung lho kamu maunya apa. Yang aku lakuin kayaknya salah terus menurut kamu,” ucap Aryo.

Usai kalimat itu keluar dari bibir Aryo, sepasang mata Tiara yang menatapnya kini berkilat. Mata Tiara berkaca-kaca dan tidak sampai dua detik kemudian, air matanya luruh. Dengan gerakan buru-buru, Tiara mengusap air matanya.

“Ra, maaf,” ucap Aryo yang merasa bersalah. “Maksud aku bukan kayak gitu,” sambung Aryo, nada suaranya terdengar begitu menyesal.

Mereka hanya saling berhadapan dan menatap selama beberapa detik. Kemudian Tiara berbalik begitu saja dan melangkah pergi dari hadapannya. Aryo segera menyusul langkah Tiara dan berakhir istrinya itu menemui Feli. Mamanya akhirnya meminta Aryo untuk menunggu, sementara Feli berbicara pada Tiara untuk menenangkan perasaannya.

Aryo pun menunggu Tiara di ruang tamu. Pria itu menghembuskan napasnya dan memijit pangkal hidungnya. Ia menyesal karena kelepasan melontarkan kalimat itu pada Tiara. Padahal kedatangannya yang tiba-tiba karena ingin membuat Tiara senang. Namun yang terjadi justru dirinya kebawa emosi lebih dulu, karena ia tidak memahami apa yang sebenarnya diinginkan oleh Tiara.

Sekitar 10 menit kemudian, Aryo mendapati mamanya menghampirinya.

“Tiara nggak bener-bener marah sama kamu. Mama udah jelasin juga sama dia, kalian salah paham aja. Tiara berharapnya kamu ngelakuin A, tapi kamu ngelakuin B. Baiknya kalau terjadi kayak gini lagi, kamu dan Tiara cepat selesaikan. Kalian bicarakan baik-baik dengan kepala dingin,” tutur Feli.

Aryo mengangguk mengerti. Feli lantas pamit dari hadapannya dan tidak lama Tiara menghampirinya di ruang tamu.

“Ra,” ujar Aryo lebih dulu.

“Maaf ya tadi aku kelepasan ngomong kayak gitu ke kamu. Aku nggak bermaksud Ra,” ucap Aryo. Perlahan Tiara mengangkat wajahnya dan Aryo mendapati mata istrinya yang sedikit sembap.

“Aryo, aku juga minta maaf,” ucap Tiara, suaranya terdengar sedikit serak. “Nggak seharusnya aku bikin kamu bingung. Aku sebenarnya nggak tau, aku maunya apa. Aku cuma mikir kalau kamu harus nurutin yang aku mau, tanpa aku harus bilang. Aku udah egois. Maafin aku ya,” tutur Tiara.

Karena sudah malam juga, akhirnya mereka memutuskan untuk menginap dan bergegas tidur di kamar. Aryo sudah selesai mandi dan Tiara tengah menunggunya di kasur.

“Sebenernya semalam aku mau tanyain kamu maunya apa, biar mood kamu lebih baik. Tapi waktu aku selesai mandi, kamu udah tidur,” ucap Aryo.

“Kenapa nggak bangunin aku?” tanya Tiara.

“Kasian, kamu tidurnya nyenyak banget. Besok paginya, aku harus ke kantor jam 7. Kamu masih tidur, jadi aku kiss kamu di pipi aja, terus aku berangkat kerja deh,” jelas Aryo.

Tiara terdiam sejenak. Ia menyadari bahwa dirinya terlalu bertingkah kekanakan dan hanya memikirkan diri sendiri, tanpa memikirkan posisi Aryo.

“Kamu tuh kenapa sebenarnya, hmm ... ?” tanya Aryo. Mereka kini berbaring dan saling berhadapan. Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara dan sesekali memberikan usapan di puncak kepala istrinya.

“Kemarin itu aku nggak bisa tidur. Udah tiga kali deh kayanya. Mungkin juga, karena bawaan bayi. Aku nggak tau bener apa engga, tapi setiap kamu pulang diatas jam 10, aku nggak bisa tidur. Sementara kamu emang harus pulang malam karena kerjaan di kantor. Aku jadi gampang bete dan sensitif sama hal sepele kayak gitu,” ungkap Tiara.

“Okee, aku ngerti sekarang,” Aryo menangkup kedua sisi wajah Tiara, ibu jarinya bergerak mengusap pipi gembil istrinya. “Lain kali, kalau ada kejadian kayak gini lagi, kita bicarain baik-baik ya. Kalau kamu mau sesuatu, kayak misalnya aku pulang lebih cepat, kamu bisa bilang. Aku akan usahain meskipun aku nggak bisa janji. Yaa, Sayang?” ucap Aryo.

Tiara akhirnya mengangguk dan ia setuju. Untuk kebaikan hubungn keduanya, mereka sama-sama akan mengutaman komunikasi dan lebih saling mengerti.

“Kamu kenapa tiba-tiba ke sini? Kamu bilang mau nginep di kantor, terus aku disuruh nginep di rumah mama,” ujar Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak, alis tebalnya pun bertaut. Sebelum menjawab, pria itu menaikkan bed cover sampai sebatas bahu Tiara. “Aku mau jemput kamu rencananya, mau ngasih tau kamu sesuatu. Ada kabar baik,” ucap Aryo.

“Kabar baik apa?” tanya Tiara terlihat antusias sekaligus penasaran.

“Soal perusahaan. Harga bangunan udah mulai naik, investor mau menyuntikkan dananya untuk pembanguan, dan pembelian sektor meningkat lumayan pesat. Aku mau kamu tau. Itu terjadi juga karena kamu, karena kamu selalu support aku,” ungkap Aryo.

Tatapan Tiara seketika berubah. Ia tidak menyangka bahwa hal besar yang terjadi di hidup Aryo, pria itu ingin membagikannya langsung pada Tiara. Itu hal sederhana dalam sebuah hubungan, tapi artinya begitu dalam bagi Tiara.

“Aku nggak tau gimana jadinya, kalau aku nggak ketemu kamu. Mungkin aku bukan Aryo yang sekarang. Saat ini aku juga masih punya banyak kekurangan. Tadi aku bikin kamu nangis, dan aku nyesel banget, Ra,” ujar Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. Dengan lembut, ia mengusap sisi wajah Aryo. Tatapan Tiara padanya begitu teduh seolah perempuan itu telah memberikan seluruh cinta dan kasih sayangnya untuk Aryo.

“Kamu udah ngelakuin yang terbaik, Aryo. Kekurangan kamu yang justru bikin kamu sempurna. Kamu mau belajar dan mencoba untuk jadi lebih baik setiap harinya. Aku bangga sama kamu. Bangga banget,” tutur Tiara. Sedetik kemudian, Tiara mendekatkan dirinya dan lantas membawa torso Aryo ke pelukannya. Ia memberikan usapan di punggung Aryo dengan gerakan searah.

“Aku mau manja dulu sama kamu,” ucap Tiara yang masih betah memeluk Aryo. Padahal sudah hampir 10 menit posisi mereka tidak berubah.

“Ini kamu yang mau manja atau dedek bayinya yang manja?” tanya Aryo. Tidak lama kemudian, Tiara pun mengurai pelukan mereka.

“Dedek bayinya mau manja sama Papanya. Iya kan, Jagoan?” ujar Tiara sambil mengusap perutnya dengan satu tangannya.

“Bilang aja mamanya yang mau,” ledek Aryo.

“Engga juga. Anak kamu nih, kangen sama kamu. Setiap kamu pulang, dia udah tidur.”

“Oh iya? Jagoan Papa udah bobo ya kalau Papa pulang? Maaf ya, Jagoan.” Aryo mendekatkan posisinya agar sejajar dengan perut Tiara. “Besok kalau Papa libur kerja, kita main ya, jalan-jalan juga. Oh iya Ra, aku baru inget sesuatu,” ujar Aryo ketika tiba-tiba ia teringat akan satu hal.

“Jadwal sidang skripsi kamu udah keluar?” tanya Aryo.

“Udah. Dua minggu lagi aku sidang. Terus acara wisudanya minggu depannya lagi. Kenapa emangnya?”

“Aku mau ngajak kamu ke Switzerland habis kamu wisuda. Kamu bilang, kamu mau kita babymoon, kan? Aku udah cari tau dan usia kandungan kamu udah boleh flight.”

“Kamu niat banget sih, astaga.” Tiara menyunggingkan senyum manisnya.

“Iya, dong. Aku kan suami dan calon papa siaga. Kamu belum jawab pertanyaan aku Ra, kamu mau kan kita ke Switzerland?”

“Iya, aku mau, Aryo.”

Aryo seketika tersenyum dengar jawaban itu. “Ra.”

“Iya?”

“Aku nggak bisa selalu janji, kamu akan bahagia sama aku,” ujar Aryo. Pria itu menatap Tiara dalam-dalam, “Ada saatnya kamu marah dan kesal sama sifat aku, tau bahkan kamu nangis.”

Kedua pipi Tiara di tangkup oleh Aryo dan pria itu menatapnya lekat. “Tapi aku mau selalu belajar dan berusaha untuk bikin kamu bahagia, aman, dan selalu merasa dicintai. Kamu harus tau, kamu nggak akan sendirian lagi, saat rasa sakit dari masa lalu kamu datang. Aku mau jadi tempat kamu berkeluh kesah, nangis, sekalipun tempat kamu marah. I love you, Tiara. I love you unconditionally,” ungkap Aryo panjang lebar.

Tiara terpaku sesaat. Bibirnya tersenyum melengkung ke dalam, tanda ia begitu terharu sekaligus bahagia menjadi satu.

“Aryo, aku nggak tau love languange kamu yang lebih dominan apa. Kita semua punya love 5 love languange, tapi ada yang lebih dominan. So I want to know what is your love language? Ini love languange yang kamu inginkan dari pasangan kamu,” ujar Tiara.

“Hmm ... I think ... physical touch?” ucap Aryo terdengar kurang yakin.

Are you sure?” Mata Tiara sukses membola dan tawanya pecah detik itu juga kala mendengar jawaban Aryo.

I'm sure,” jawab Aryo dengan nada yakinnya. Pria itu menganggukkan kepalanya dua kali, tanda ia sudah begitu yakin.

Oke. So I need to learn more about your love languange,” ucap Tiara.

“What do you mean? Why you want to learn it?

Because I want to give you the best love of me, cause you are my best, and you must to know about that.”

Setelah ucapan Tiara, keduanya bersamaan mengulaskan senyum. Tiara kembali mendekat pada Aryo, ia memerhatikan sesuatu di bawah mata kanan pria itu. “Lucu banget ini. Aku boleh kiss kiss?” ujar Tiara.

“Apa yang lucu?”

“Your little mole at you under eye. Looks so cute and make you hansome at the same time,” ucap Tiara. Tanpa sungguhan menunggu izin dari Aryo, Tiara mendekatkan diri lalu memberi kecupan di tahi lalat kecil di bawah mata Aryo itu.

“Barusan itu bagian dari physical touch?” tanya Aryo.

Yes. But it's just a little bit of the whole part. Are you ... nervous tho?” ujar Tiara sambil menekankan setiap perkatannya. Perempuan itu sukses tertawa memerhatikan Aryo yang kini kelihatan gugup.

Aryo lantas bergerak untuk memangkas habis jarak mereka. “I'm little bit nervous, but very excited at the same time,” Aryo menempelkan keningnya di kening Tiara, kemudian berujar pelan di dekatnya, “Can we do it again, Babe?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ballroom hotel dengan nuansa putih dan krem itu di penuhi oleh ratusan wisudawan. Tiara menjadi salah satu di antaranya. Ia di dampingi oleh dua orang tersayangnya, Aryo dan Bunda. Sebenarnya hari ini support systemnya datang lengkap. Namun untuk acara inti, pendamping yang masuk ke ballroom jumlahnya memang dibatasi. Jadi ayahnya, adiknya, dan kedua mertuanya akan datang menyusul nanti untuk acara penutupan.

Tiara nampak cantik menggunakan kebaya berwarna hitam dan rol batik di batas mata kaki. Sebuah topi toga menghiasi kepalanya dan rambut coklat legamnya di curly, sederhana tapi tetap kelihatan anggun.

Tiara menoleh ke samping kanannya. Satu tangannya meraih tangan Aryo di pangkuan, lalu mengenggamnya. Ia menatap suaminya sekilas dan senyuman di terukir di wajahnya.

Di samping kirinya, Alifia menatap putri sulungnya dengan tatapan terharu.

“Kak, Bunda bangga banget sama kamu,” ujar Alifia. Tiara balas menatap bundanya, seseorang yang merawatnya dan mengasihinya dengan tulus. Meskipun ia tidak lahir dari rahim wanita itu.

“Bun, makasih untuk semua yang Bunda berikan buat Tiara,” ucapnya.

Sessat setelah itu, dari panggung besar di depan, nama lengkap Tiara di panggil. “Mutiarani Ivanka Lubis, gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, meraih predikat cumlaude. Dipersilakan untuk menuju ke atas panggung,” suara pembawa acara terdengar memenuhi ruangan.

Tiara beranjak dari kursi dan melangkahkan kakinya, melewati para wisudawan lainnya, hingga sampai dirinya di atas panggung. Rektor Fakultas Komunikasi memberinyasertifikat penghargaan kelulusan, mengalungkan medali wisuda, serta ucapan selamat. Setelah tali toga di sampirkan ke kanan dan sesi foto bersama jejeran dekan dan rektor, Tiara melangkahkan kakinya untuk turun dari panggung.

Sesampainya Tiara di kursinya, ia menatap Alifia dan Aryo secara bergantian, “I did it, Bun. Sayang, I did it,” ucapnya sembari menunjukkan sertifikat dan medali toganya.

Alifia lantas merengkuhnya ke pelukan, “Ayah dan bunda pasti bangga sekali sama Michelle,” bisik Alifia pelan. Tiara mengangguk dan tersenyum. Meskipun Erlangga dan Clarissa tidak ada di sini, Tiara yakin orang tuanya ikut bahagia menyaksikannya apa yang telah ia capai.

Saat Alifia mengurai pelukannya, Tiara mendapati bundanya dan Aryo menatapnya dengan kedua mata yang nampak berkaca-kaca. Rasanya masih seperti mimpi bagi Tiara, dua orang tersayangnya kini menatapnya dengan bangga. Ia bisa memberikan sesuatu yang membuat mereka tersenyum bahagia.

Aryo sambil menggenggam tangannya, lalu pria itu mengusapkan ibu jarinya di sana, “You did it very well and I'm so proud of you. Selamat yaa, Sayang. Akhirnya kamu bisa wujudin apa yang jadi impian kamu.”

***

Ada sesi foto-foto dan penampilan dari para bintang tamu di penghujung acara. Selain mengundang beberapa penyanyi, band kampus membawakan dua buah lagu. Tiara mengatakan pada Vania, Wilda dan Cici bahwa dirinya ingin mencari seseorang. Sedari tadi memang Tiara belum bertemu dua orang itu.

Di antara ratusan orang yang ada di sana, setelah Tiara berusaha mencari, akhirnya ia menemukan Akmal lebih dulu. Tiara menghampirinya dan mengucapkan selamat.

“Mal, selamat ya atas kelulusan lo. Dengan segala kesibukan BEM, lo bisa tetap ngejar impian lo, lulus cumlaude. I'm a proud best friend,” ucap Tiara ketika tangannya berjabat dengan Akmal.

“Same like you. I'm very proud of you, Ra. Selamat ya atas gelar dan semoga ilmu kita bermanfaat di kemudian hari,” ujar Akmal.

Tiara mengangguk “Eh, kita belum foto berdua. Lo mau nggak foto sama gue?” tawar Tiara.

“Beneran nggak papa gue foto sama lo?”

“Loh, emangnya kenapa? Gue udah foto sama Vania and the geng. Sama keluarga gue juga udah tadi. Tinggal sama lo Mal. Masa kita nggak foto sih,” cerocos Tiara.

“Yaa gue takut ada yang cemburu aja nanti.”

Mendengar penuturan Akmal itu Tiara mau tidak mau tertawa. “Enggak, tenang aja,” ucap Tiara. Akhirnya Akmal setuju dan mereka pun mencari tempat yang cukup bagus untuk berfoto. Karena di dalam aula cukup ramai, mereka berjalan sedikit keluar dan menemukan spot yang bagus di koridor bangunan hotel ini.

Untuk mengambil fotonya, Cici bersedia menjadi fotografer mendadak bagi Tiara dan Akmal. Mereka pun mendapatkan jepretan berdua. Akmal mengatakan akan mengirim hasil fotonya nanti pada Tiara.

“Cie foto berdua sama mantan crush,” celetuk Cici pelan di dekat Akmal.

Akmal melebarkan matanya dan menoleh menatap Cici. Pandangannya meminta penjelasan atas ucapan perempuan itu. “Lo tau dari mana?” tanya Akmal pad Cici.

“Udah rahasia umum kali Mal, lo crush in Tiara. Gila ya, primadona banget Tiara. Selain lo, si Rafael juga pernah crush-in Tiara. Bayangin, Rafael. Si cassanova dan playboy kampus.”

“Guys, thank you ya for today,” ucap Tiara yang seketika membuat Cici dan Akmal menghentikan ucapan mereka. Akmal segera mengalihka tatapannya ke arah lain.

“Iya, Ra, sama-sama. Congrats juga ya buat lo,” Cici membalas pelukan Tiara. “Gue bakal kangen sama kalian, meet up ya kapan-kapan janagn lupa temen lo semua,” ujar Cici pada yang lainnya juga.

Tiara berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Vania, Wilda, Risa, Cici dan beberapa teman-temannya yang lain.

“Jangan lupa kita ad after party lho guys. Pada dateng ya, undangannaya gue kirim di grup,” seru Wilda.

“Siap, pasti dateng lah,” sahut Farhan.

“Lo mah party aja, paling kenceng nyautnya,” celetuk Risya.

“Tiaraa lo udah mau pulang yaa Beb?” tanya Wilda yang terakhir salaman sama Tiara.

“Kasian juga bumil berdiri lama, dedeknya nanti cape nih,” celetuk Cici yang ikutan nimbrung.

“Ohiya, pangerannya udah nungguin, Wil,” timpal Cici lagi. Dari balik punggung dua sahabatnya, Tiara mendapati sosok Aryo yang tengah berjalan ke arahnya.

“Bye guys, gue duluan ya. Pangeran gue udah dateng tuh,” ucap Tiara. Sebelum Aryo sampai di hadapannya dan sahabatnya, Tiara menjulurkan lidahnya meledek Wilda dan Cici.

Seketika dua sahabatnya berbalik dan benar saja. Wilda dan Cici mendapati sosok tampan yang disebut Tiara sebagai pangerannya di tengah-tengah mereka, seketika melebarkan matanya.

Aryo sempat menyapa kedua sahabatnya sebelum akhirnya Tiara pamit dari sana. Wilda dan Cici menyaksikan bagaimana Aryo menggenggam tangan Tiara dan memerhatikan agar Tiara berjalan di sisinya.

“Wil, anjir. Gue jadi mau nikah Wil,” spontan Cici begitu punggung Aryo dan Tiara sudah tidak nampak di pandangan mereka.

“Kerja dulu woy. Nikah nggak gampang kali, butuh biaya banyak.”

“Yaa, tau. Tapi kayak enak banget gitu lho nikah. Ada yang perhatian dan manjain lo. Rezeki kan nggak kemana Wil, bisa di cari juga seiring berjalannya waktu,” kilah Cici.

“Iya, rezeki emang bisa di cari. Mungkin bicara gampang, dan berlaku buat yang udah keturunan konglomerat . Nggak akan kemana-mana tuh hartanya sampai tujuh turunan sekalipun Ci,” ujar Wilda.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ini pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusan kuliahnya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di makeup.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya di kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa ya Mbak?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Orang baru pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu, jadi ia menahan tawanya, takut-takut makeup-nya jadi hancur karena ia tertawa.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih heran, kelakuan suaminya itu memang lumayan ajaib dan suka semaunya.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick ya. Udah selesai kok.”

“Oke. Makeupnya bagus banget Mbak, makasih ya,” ucap Tiara.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak panglingi makeupnya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di style model up hair style, sehingga menampakkan keningnya. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara. Senyum pun tidak pudar dari bibir perempuan itu. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya,” putus Tiara dan mengalihkan tatapannya dari Aryo.

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita bisa telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini.”

“Nggak ramah buat jantung, bintang satu buat kamu.”

“Aku kira bintang lima. Aku udah ganteng gini lho Sayang.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya di parkiran milik pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Iya, Bunda suka banget sama bunga lili putih. Tadi perjalanan ke sini aku hampir aja lupa, untung kamu ingetin,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo dan Tiara menjawabnya dengan anggukan kecil. Egha yang mendengar percakapan atasannya tersebut. lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung ya,” ujar Aryo pada Egha sebelum ia dan Tiara turun dari mobil.

Mereka berjalan bersisian memasuki area pemakaman, Aryo menggenggam tangan Tiara menggunakan satu tangannya. Aryo mengikuti langkah Tiara menuju pusara ayah dan bundanya.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua makam dengan batu nisan granit berwarna hitam yang nampak kembar. Di sana dua sejoli disandingkan bersama di kehidupan baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan ukiran kata Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan nisan di sebalahnya tertulis Clarissa Laura Manopo.

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua pahanya di atas tanah, begitupun Aryo melakukan hal yang sama. Kemudian Tiara meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara dua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo menaruh tangannya di atas tangan Tiara.

“Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama kalian,” Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya.

“Dia suami Michelle. Dia partner hidup Michelle,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, dunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal Ayah dan Bunda beberapa waktu belakangan. Aryo tau, kata maaf mungkin nggak akan bisa mengembalikan Ayah dan Bunda ke dunia ini. Maaf juga, atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun lalu,” lanjut Aryo. Pria itu menunduk, menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan hanya memikirkan keselamatan orang yang ia sayangi, hingga tidak sempat berpikir untuk membalas perbuatan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati Aryo mengangkat wajahnya dan mata pria itu nampak memerah. “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle, menggantikan tugas Ayah. Ayah nggak perlu khawatir saat ini, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” terang Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Air matanya pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya. He said he will be a selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus meluncur. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort. Everyday I spent my times with him, I feel so loved, truly,” tutur Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle ikhlas sepenuhnya untuk ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Tapi Michelle yakin, hati Michelle udah ikhlas. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo nggak sabar menunggu dia lahir. Ohiya, selamat yaa, kalian sebentar lagi akan punya cucu,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya. “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She turn me into a better person an I'm so lucky to met her,” ungkap Aryo.

Gerimis perlahan turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri kedua majikannya dan menyerahkan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara sambil mendongak menatap Aryo dari samping. Masih beberapa langkah lagi untuk mereka sampai di parkiran mobil.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia punya kamu sebagai menantunya. Makasih ya karena kamu udah hadir,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ini pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusan kuliahnya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di makeup.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya di kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa ya Mbak?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Orang baru pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu, jadi ia menahan tawanya, takut-takut makeup-nya jadi hancur karena ia tertawa.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih heran, kelakuan suaminya itu memang lumayan ajaib dan suka semaunya.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick ya. Udah selesai kok.”

“Oke. Makeupnya bagus banget Mbak, makasih ya,” ucap Tiara.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak panglingi makeupnya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di hair style model up hair, sehingga menampakkan keningnya. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara. Senyum pun tidak pudar dari bibir perempuan itu. Kemudian tangannya terangkat untuk merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya,” putus Tiara dan mengalihkan tatapannya dari paras Aryo.

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita bisa telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini.”

“Nggak ramah buat jantung, bintang satu buat kamu.”

“Aku kira bintang lima. Aku udah ganteng gini lho Sayang.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ini pukul 5 pagi di hari perayaan kelulusan kuliahnya. Tiara sudah bangun dan duduk di hadapan kaca besar untuk di makeup.

Hanna, makeup artist yang merias Tiara memerhatikan paras kliennya hari ini, “Bumil cantik banget, auranya beda ya,” ucapnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya, ia menatap pantulan dirinya di kaca. “Mbak, aku request lipstick-nya warna nude bisa ya Mbak?”

“Bisa, tenang aja,” sahut Mbak Hanna.

Di tengah-tengah kegiatan makeup tersebut, Tiara mendapati Aryo menghampirinya. Suaminya itu sudah mandi, tapi masih mengenakan kaus oblong hitam.

“Kamu ngapain liatin aku makeup?” ujar Tiara tanpa menoleh ke Aryo. Tangan Tiara yang ada di pangkuannya, di raih oleh Aryo dan digenggam ringan.

“Aryo?” ujar Tiara lagi ketika Aryo hanya diam saja. “Kamu masih ngantuk kan? Tidur aja dulu lagi. Acaranya kan jam 8,” sambungnya.

“Kamu makeup-nya masih lama?” tanya Aryo.

“Tanya nih sama Mbak Hanna, masih lama kan ya, Mbak? Orang baru pakai foundation,” jawab Tiara.

“Iyaa, masih lumayan lama. 2 jam lagi lah kira-kira,” ujar Mbak Hanna sambil mengulaskan senyumnya. Ia memerhatikan dua sejoli di hadapannya yang menurutnya lucu juga.

“Aku mau di sini aja nungguin kamu,” ucap Aryo.

“Mbak Hanna, sering nemuin klien yang kaya gini Mbak?” gurau Tiara yang justru menghiraukan Aryo.

“Lumayan langka yaa, ditunguin makeup. Tapi Masnya nggak papa lho kalau mau nungguin istrinya,” sahut Mbak Hanna.

Setelah satu jam berselang, Tiara sungguhan meminta Aryo untuk kembali ke kamar. Selama Aryo menungguinya, suaminya itu mengajaknya mengobrol terus dan sesekali mengeluarkan jokes-nya. Tiara aproved sebagian itu lucu, jadi ia menahan tawanya, takut-takut makeup-nya jadi hancur karena ia tertawa.

Akhirnya Aryo menurut padanya setelah dibujuk. Tiara kadang masih heran, kelakuan suaminya itu memang lumayan ajaib dan suka semaunya.

“Mbak, ini udah mau selesai ya?” tanya Tiara.

“Tinggal pakai lipstick ya. Udah selesai kok.”

“Oke. Makeupnya bagus banget Mbak, makasih ya,” ucap Tiara.

“Sama-sama. Saya bingung lho dandanin bumil cantik, takut nggak panglingi makeupnya.”

“Iya, cantik banget ya Mbak istri saya,” celetuk sebuah suara dan Tiara tahu itu adalah suara suaminya. Tiara menoleh setelah Mbak Hanna mengaplikasikan lipstick di bibirnya. Benar saja, ia mendapati Aryo di sana telah rapi dengan stelan tuxedo hitamnya. Rambutnya di hair style model up hair, sehingga menampakkan keningnya. Penampilan Aryo yang seperti ini, membuat Tiara terpesona.

Senyum tidak pudar dari bibir Tiara, ia mengarahkan tangannya merapikan sedikit kerah kemeja Aryo.

“Aduh, gantengnya,” celetuk Tiara.

Aryo balas menatap Tiara, ia menaikkan sebelah alisnya dan sedikit menggigit bibir bawahnya.

“Udah ah. Aku ganti baju dulu ya.”

“Hmm,” gumam Aryo. “Kita telat nanti Sayang, kalau kamu liatin aku terus gini.”

“Nggak ramah buat jantung, bintang satu buat kamu.”

“Lho, kirain bintang 5. Aku udah ganteng gini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya, di sebuah parkiran milik pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Iya, Bunda suka banget sama bunga lili putih. Tadi perjalanan ke sini aku hampir aja lupa, untung kamu ingetin,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo dan Tiara menjawabnya dengan anggukan kecil. Egha yang mendengar percakapan atasannya tersebut. lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung ya,” ujar Aryo pada Egha sebelum ia dan Tiara turun dari mobil.

Mereka berjalan bersisian memasuki area pemakaman, Aryo menggenggam tangan Tiara menggunakan satu tangannya. Aryo mengikuti langkah Tiara menuju pusara ayah dan bundanya.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua makam dengan batu nisan granit berwarna hitam yang nampak kembar. Di sana dua sejoli disandingkan bersama di kehidupan baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan ukiran kata Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan nisan di sebalahnya tertulis Clarissa Laura Manopo.

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua pahanya di atas tanah, begitupun Aryo melakukan hal yang sama. Kemudian Tiara meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara dua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo menaruh tangannya di atas tangan Tiara.

“Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama kalian,” Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya.

“Dia suami Michelle. Dia partner hidup Michelle,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, dunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal Ayah dan Bunda beberapa waktu belakangan. Aryo tau, kata maaf mungkin nggak akan bisa mengembalikan Ayah dan Bunda ke dunia ini. Maaf juga, atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun lalu,” lanjut Aryo. Pria itu menunduk, menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan hanya memikirkan keselamatan orang yang ia sayangi, hingga tidak sempat berpikir untuk membalas perbuatan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati Aryo mengangkat wajahnya dan mata pria itu nampak memerah. “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle, menggantikan tugas Ayah. Ayah nggak perlu khawatir saat ini, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” terang Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Air matanya pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya. He said he will be a selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus meluncur. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort. Everyday I spent my times with him, I feel so loved, truly,” tutur Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle ikhlas sepenuhnya untuk ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Tapi Michelle yakin, hati Michelle udah ikhlas. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo nggak sabar menunggu dia lahir. Ohiya, selamat yaa, kalian sebentar lagi akan punya cucu,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya. “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She turn me into a better person an I'm so lucky to met her,” ungkap Aryo.

Gerimis perlahan turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri kedua majikannya dan menyerahkan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara sambil mendongak menatap Aryo dari samping. Masih beberapa langkah lagi untuk mereka sampai di parkiran mobil.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia punya kamu sebagai menantunya. Makasih ya karena kamu udah hadir,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya, di sebuah parkiran milik pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Iya, Bunda suka banget sama bunga lili putih. Tadi perjalanan ke sini aku hampir aja lupa, untung kamu ingetin,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo dan Tiara menjawabnya dengan anggukan kecil. Egha yang mendengar percakapan atasannya tersebut. lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung ya,” ujar Aryo pada Egha sebelum ia dan Tiara turun dari mobil.

Mereka berjalan bersisian memasuki area pemakaman, Aryo menggenggam tangan Tiara menggunakan satu tangannya. Aryo mengikuti langkah Tiara menuju pusara ayah dan bundanya.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua makam dengan batu nisan granit berwarna hitam yang nampak kembar. Di sana dua sejoli disandingkan bersama di kehidupan baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan ukiran kata Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan nisan di sebalahnya tertulis Clarissa Laura Manopo.

Erlangga and Clarissa's Grave

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua pahanya di atas tanah, begitupun Aryo melakukan hal yang sama. Kemudian Tiara meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara dua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo menaruh tangannya di atas tangan Tiara.

“Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama kalian,” Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya.

“Dia suami Michelle. Dia partner hidup Michelle,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, dunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal Ayah dan Bunda beberapa waktu belakangan. Aryo tau, kata maaf mungkin nggak akan bisa mengembalikan Ayah dan Bunda ke dunia ini. Maaf juga, atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun lalu,” lanjut Aryo. Pria itu menunduk, menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan hanya memikirkan keselamatan orang yang ia sayangi, hingga tidak sempat berpikir untuk membalas perbuatan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati Aryo mengangkat wajahnya dan mata pria itu nampak memerah. “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle, menggantikan tugas Ayah. Ayah nggak perlu khawatir saat ini, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” terang Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Air matanya pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya. He said he will be a selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus meluncur. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort. Everyday I spent my times with him, I feel so loved, truly,” tutur Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle ikhlas sepenuhnya untuk ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Tapi Michelle yakin, hati Michelle udah ikhlas. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo nggak sabar menunggu dia lahir. Ohiya, selamat yaa, kalian sebentar lagi akan punya cucu,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya. “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She turn me into a better person an I'm so lucky to met her,” ungkap Aryo.

Gerimis perlahan turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri kedua majikannya dan menyerahkan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara sambil mendongak menatap Aryo dari samping. Masih beberapa langkah lagi untuk mereka sampai di parkiran mobil.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia punya kamu sebagai menantunya. Makasih ya karena kamu udah hadir,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Sebuah Pajero hitam terparkir bersamaan dengan mobil lainnya, di sebuah parkiran milik pemakaman. Langit sore yang terlihat dari kaca mobil nampak sedikit mendung, mungkin sebentar lagi hujan akan turun.

Aryo melirik bucket bunga lili putih yang berada di pangkuan Tiara. “Such a beautiful flower,” ujarnya.

Lily Flower

“Iya, Bunda suka banget sama bunga lili putih. Tadi perjalanan ke sini aku hampir aja lupa, untung kamu ingetin,” ucap Tiara.

“Mau turun sekarang?” tanya Aryo dan Tiara menjawabnya dengan anggukan kecil. Egha yang mendengar percakapan atasannya tersebut. lekas mematikan mesin mobilnya.

“Egha, saya minta tolong ya. Nanti kalau hujan, samperin saya dan Tiara sambil bawa payung ya,” ujar Aryo pada Egha sebelum ia dan Tiara turun dari mobil.

Mereka berjalan bersisian memasuki area pemakaman, Aryo menggenggam tangan Tiara menggunakan satu tangannya. Aryo mengikuti langkah Tiara menuju pusara ayah dan bundanya.

Setelah melewati dua buah belokan, mereka pun sampai di dua makam dengan batu nisan granit berwarna hitam yang nampak kembar. Di sana dua sejoli disandingkan bersama di kehidupan baru.

Aryo memerhatikan nisan di hadapannya. Di bawah tanda salib dan ukiran kata Rest In Peace di batu itu, tertulis nama Erlangga Sinaga dan di sebelahnya tertulis Clarissa Laura Manopo.

![Erlangga and Clarissa's Grave (https://i.pinimg.com/474x/1f/db/40/1fdb40d7291e7c001344dc114bf04366.jpg)

Dengan perlahan, Tiara menumpu tubuhnya menggunakan kedua pahanya di atas tanah, begitupun Aryo melakukan hal yang sama. Kemudian Tiara meletakkan bucket bunga yang dibawanya di antara dua pusara itu.

“Ayah, bunda,” Tiara menjeda ucapannya. Ia mengarahkan tangannya untuk mengusap batu nisan Erlangga dan Clarissa bergantian. Sebelum tangannya menjauh dari sana, Aryo menaruh tangannya di atas tangan Tiara.

“Hari ini Michelle datang karena ingin mengenalkan seseorang sama kalian,” Tiara menoleh ke samping sejenak, ia menatap Aryo dan sebuah senyum tercetak di wajahnya.

“Dia suami Michelle. Dia partner hidup Michelle,” ucap Tiara. Dari nada suara Tiara, Aryo dapat merasakan perasaan sedih sekaligus bahagia yang bercampur menjadi satu.

“Halo, ayah, dunda,” ucap Aryo. “Maaf, baru tau soal Ayah dan Bunda beberapa waktu belakangan. Aryo tau, kata maaf mungkin nggak akan bisa mengembalikan Ayah dan Bunda ke dunia ini. Maaf juga, atas perbuatan yang dilakukan seseorang sebelas tahun lalu,” lanjut Aryo. Pria itu menunduk, menatap rumput pendek di bawahnya dan membiarkan air matanya tumpah begitu saja.

“Ayah punya bukti itu, tapi beliau memilih nggak melaporkannya. Karena ayah tau, itu bisa mengancam keselamatan aku,” ujar Tiara. Di dalam rekaman suara yakni bukti pertama, Erlangga mengatakan ia ingin berkorban dan hanya memikirkan keselamatan orang yang ia sayangi, hingga tidak sempat berpikir untuk membalas perbuatan Reynaldi.

Tiara menoleh ke sampingnya, ia mendapati Aryo mengangkat wajahnya dan mata pria itu nampak memerah. “Ayah, Aryo udah dengar rekaman suara itu. Ayah mau ada seseorang yang melindungi Michelle, menggantikan tugas Ayah. Ayah nggak perlu khawatir saat ini, Aryo akan melakukan semua tugas itu,” terang Aryo.

Sepasang mata Tiara tidak lepas sejak Aryo mengatakan kalimatnya hingga selesai. Air matanya pun luruh dari kedua pelupuk matanya.

“Dulu Ayah selalu penasaran sama seseorang yang akan jadi menantunya. He said he will be a selective. He always want the best for me. He want make sure every detail about someone who will marry his girl,” Tiara mengusap air matanya yang terus menerus meluncur. “Ayah, sekarang Tiara sudah menemukan orang itu. He's the best for me. He likes to spoil me and made me feel comfort. Everyday I spent my times with him, I feel so loved, truly,” tutur Tiara.

Aryo telah melengkapi hidupnya dan mengajarkannya banyak hal tentang mencintai dan dicintai. Aryo adalah afeksi yang dikirim takdir untuk mengobati luka belasan tahun di hati Tiara, menjaganya, dan rela berjuang untuknya. Apapun itu, cinta akan rela melewatinya walaupun harus sakit dan berdarah. Aryo dan Tiara telah menemukan satu sama lain untuk saling melengkapi.

“Michelle ikhlas sepenuhnya untuk ayah dan bunda. Meskipun setiap hari, Michelle akan selalu kangen sama kalian. Tapi Michelle yakin, hati Michelle udah ikhlas. Ayah, bunda, nggak hanya Aryo yang sudah melengkapi hidup Michelle. Ada satu manusia kecil di perut Michelle yang semakin melengkapi kebahagiaan itu. Michelle sama Aryo nggak sabar menunggu dia lahir. Ohiya, selamat yaa, kalian sebentar lagi akan punya cucu,” ujar Tiara. Detik berikutnya, ia merasakan Aryo memeluknya dari samping.

Aryo menghela napasnya lalu menghembuskannya. “Ayah, Bunda, terima kasih ya. Terima kasih karena kalian sudah melahirkan Michelle ke dunia ini. She's such a best give for me. She turn me into a better person an I'm so lucky to met her,” ungkap Aryo.

Gerimis perlahan turun, menyapa permukaan kulit Aryo dan Tiara. Agar tidak kehujanan, keduanya akhirnya memutuskan untuk berpamitan pulang. Mereka mengatakan akan datang kembali di kemudian hari. Mungkin kedatangan selanjutnya, mereka tidak lagi berdua, tapi bertiga.

Hujan turun dengan lumayan cepat diluar perkiraan, membuat Aryo melepas jaket yang dikenakannya untuk melindungi Tiara dari air hujan. Sebelum mereka melangkah semakin jauh, Egha menghampiri kedua majikannya dan menyerahkan satu payung di tangannya.

Di sore hari di bawah langit gelap dan rintikan hujan, Aryo menghela Tiara untuk mendekat padanya. Satu tangan Aryo memeluk Tiara dari samping dan satunya lagi memegang payung untuk melindungi mereka berdua.

“Aryo,” ujar Tiara sambil mendongak menatap Aryo dari samping. Masih beberapa langkah lagi untuk mereka sampai di parkiran mobil.

“Iya Ra?” Aryo mengeraskan suaranya di tengah suara deru rintik hujan.

“Kamu adalah seseorang yang ayah harapkan untuk menggantikan tugasnya di hidup aku. Ayah pasti bahagia punya kamu sebagai menantunya. Makasih ya karena kamu udah hadir,” ujar Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷