alyadara

Aryo dan Tiara sudah memberi tahu kedua keluarga mengenai jenis kelamin anak mereka. Mama dan bunda yang terlihat paling antusias, keduanya sudah mempersiapkan berbagai hal untuk menyambut kelahiran cucu pertama mereka.

Tiara merasakan berbagai perubahan pada dirinya. Mulai dari bentuk fisiknya yang tidak seramping dulu dan sebagian pakaian tidak lagi lolos di tubuhnya. Memasuki usia 5 bulan kehamilannya, mual yang dirasakan Tiara sudah jauh berkurang. Kini justru napsu makannya yang meningkat cukup drastis. Tiara dapat menghabiskan 3 ayam goreng sekaligus, mengalahkan porsi makan Aryo.

Aryo sering mendapati istrinya itu mulai gampang lelah kalau berjalan terlalu lama. Aryo bilang kalau Tiara kecapean, Aryo sangat mampu untuk menggendongnya. Namun Tiara masih waras dengan menolak tawaran Aryo yang satu itu. Memangnya mereka mau mengundang perhatian orang-orang di toko perlengkapan bayi ini? Itu tidak akan mungkin terjadi.

“Ra, aku bisa gendong kamu. Beneran,” ujar Aryo masih kekeuh.

“Nggak di sini juga, Aryo.”

“Terus di mana?”

Tiara mengarahkan tangannya untuk menjepit kedua pipi Aryo, hingga kini bibir Aryo menyatu di tengah dan pria itu menjadi kesulitan bicara.

“Aku ngidam ngunyel-ngunyel kamu tau,” ujar Tiara setelah beberapa detik dan ia telah melepas jepitan tangannya di pipi Aryo.

“Boleh nggak aku gituin kamu?” tanya Tiara dan Aryo mengekori langkahnya menuju section lain di toko perlengkapan bayi itu.

“Boleh sih. Tapi kalau cium lebih bagus kayaknya deh, Ra,” bisik Aryo di dekat Tiara.

“Kenapa bisa gitu? Itu mah maunya kamu,” protes Tiara.

“Si bayi pasti happy kalau mamanya sayang-sayang papanya,” ujar Aryo sambil menampilkan senyum kotak khasnya.

“Aku dua puluh empat jam per tujuh sama kamu lho, masih kurang?” gurau Tiara.

“Oh iya Ra, ini udah lewat dari dua bulan ya?” ujar Aryo terdengar begitu yakin.

“Dua bulan apa?” tanya Tiara. Fokusnya tidak sepenuhnya ke Aryo, ia masih asik memilih baju bayi di hadapannya.

“Puasa yang dua bulan itu, Ra. Udah selesai kan puasanya?” jelas Aryo dengan menekankan kata 'dua bulan'. Tiara yang seketika paham langsung menoleh ke arah Aryo dan tatapan mereka bertemu, saling mengunci. Tiara pun tidak dapat menahan sebuah senyum terbit di wajahnya, begitu juga dengan Aryo. Kini ekspresi pria itu seperti baru saja memenangkan sebuah hadiah lotre.

***

Beberapa jam yang lalu, Aryo rela mengantre untuk membeli makanan yang diinginkan oleh Tiara. Sebenarnya mereka sudah makan, tapi Tiara mau nambah 1 burger lagi dan kentang goreng. Dijadikan prioritas seperti itu membuat Tiara terharu. Ada seseorang yang memerhatikannya lebih dari ia peduli terhadap dirinya sendiri. Bagi Tiara, kini tidak ada yang lebih berarti dari pada itu.

Aryo sedang mengambil stroller bayi yang tadi mereka beli. Sementara Tiara, sesampainya di lantai 2, ia langsung menuju kamar yang di persiapkan untuk anak mereka nanti. Ruangan itu sudah didekor. Mungkin mereka akan melengkapi beberapa perintilan lagi yang sekiranya akan dibutuhkan oleh si bayi.

Tiara menuju bagian walk in closet mini di kamar itu. Ia membawa paper bag yang berisi baju-baju bayi ukuran new born yang tadi ia dan Aryo beli. Sebagian section di lemari itu sudah terisi, dari mulai baju harian, celana, dan baju yang berjenis satu pasang. Sebenarnya semua isi kamar hampir lengkap, tapi waktu melihat sepasang kaus kaki dan sepatu bayi yang begitu lucu, Tiara memutuskan untuk membelinya. Aryo juga setuju, suaminya itu mengatakan ia bisa membelikan satu toko jika Tiara menginginkannya.

Baby Room

“Tiara ...” suara itu terdengar tidak begitu jauh dari posisi Tiara. Ia lantas meletakkan paper bag-nya di lantai dan mencari sumber suara tersebut. Rupanya suara itu berasal dari suaminya yang kini sedang berusaha membuka stroller bayi di ruang tamu lantai 2.

“Kamu ngapain?” tanya Tiara pada Aryo yang sibuk dengan stroller bayi mereka.

“Ini cara bukanya gimana ya, Ra? Kayaknya tadi tinggal pencet tombol di sini, tapi aku coba kok nggak bisa ya,” ujar Aryo tampak kebingungan.

“Ya ampun kamu nih,” Tiara menggelengkan kepalanya sambil menghampiri Aryo. Tiara mengambil tempat di sofa dan Aryo duduk bersila di atas lantai.

“Kayak gini lho, Sayang,” ujar Tiara dan voila! Stroller bayi itu sekarang bisa di gunakan. Padahal hanya tinggal menarik tuas kecil di sisi kirinya dan stroller lipat itu dapat langsung di gunakan dengan begitu praktis.

Aryo menatap Tiara dengan takjub. “Tuh kan, kamu udah cocok banget jadi mama, Sayang.”

“Ya, kamu harus belajar juga. Nanti kalau anak kamu nangis, kamu harus bisa bikin dia tenang lho,” ujar Tiara.

“Iya, aku mau belajar,” ucap Aryo diiringi senyum lebarnya. Sosok pria yang beberapa bulan lalu Tiara kenal dan ia anggap arogan, egois, serta sombong. Namun penilaiannya telah sedikit keliru. Seperti kata pepatah, kalau tidak kenal maka tidak sayang. Sebenarnya Aryo adalah sosok yang penyayang, hatinya lembut, dan begitu peduli terhadap orang-orang di sekitarnya.

“Sayang, kamar baby A kayaknya udah beres deh. Aku cek tadi semuanya udah lengkap. Kurang apa lagi ya? Kamu ada saran nggak?” tanya Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo yang menyipitkan matanya dan alis pria itu mengernyit. “Hmm.. kayaknya emang udah lengkap deh, Sayang. Tapi kamu bilang kemarin mau ganti warna temboknya, kan?”

“Iyaa, sih. Aku mau warna krem atau nude gitu. Biar kesannya lebih adem. Bagus nggak menurut kamu?” Tiara selalu menanyakan pendapatnya pada Aryo, untuk urusan apa pun itu. Menurut Tiara, begitulah sebuah hubungan harmonis dan itu yang ia dambakan dari dulu.

“Menurut aku bagus, Sayang. Besok kan aku libur kerja, aku yang cat kamar baby A, gimana?” ujar Aryo.

“Kamu bisa nge cat emang?”

“Kamu meragukan suami kamu?” Aryo menghela satu lengan Tiara untuk diletakkan di atas pundaknya. Ia memandangi wajah Tiara dengan jarak yang minim.

“Nggak gitu, Sayang,” Tiara pun terkekeh. “Kasian kamu, nanti capek lagi. Tapi sih kalau kamu emang mau, yaudah deh nggak papa.” Tangan Tiara yang masih berada di pundak Aryo lantas mengusapnya dengan sebuah usapan lembut.

“Oke. Nanti aku minta tolong Erza buat beli catnya. Kamu kasih tau aja sample warnanya kayak gimana,” tutur Aryo dan Tiara segera mengangguk setuju.

“Kamu kenapa, kok liatin aku kayak gitu?” Aryo keliatan salah tingkah ketika Tiara menatapnya tanpa mengucapkan apapun.

“Soal yang dua bulan itu lho,” ujar Tiara pelan.

“Iya, puasa yang dua bulan, kan? Kenapa Sayang?”

“Kamu mau kita ngelakuin itu? Kan puasanya udah selesai,” Tiara menjeda ucapannya dan ia tersenyum malu. Ia berusaha mengalihkan tatapannya kemana pun yang penting tidak ke mata Aryo.

“Kalau kamu mau, kita bisa. I mean, kata dokter udah nggak papa,” cicit Tiara.

“Liat sini dong,” ujar Aryo menggoda Tiara.

“Yaa, aku kan malu bilangnya,” aku Tiara.

Aryo pun sukses tergelak. “Yaudah, ayo. Nggak usah malu, Sayang.”

Detik berikutnya Tiara mendapati tubuhnya berada di gendongan Aryo. Pria itu menggendongnya ala bridal style dan mendekatkan wajahnya pada Tiara, sehingga membuat kening mereka bertubrukan.

“Sayang, aku berat nggak?” tanya Tiara saat mereka berjalan menuju kamar. Tiara mengalungkan kedua lengannya di leher Aryo dan memberikan kecupan lembut di pipinya.

“Engga, Sayang. Buktinya aku kuat gendong kamu.”

“Iya, kamu kan emang kuat. Kata dokter boleh ngelakuin itu tapi pelan aja. Soalnya nanti takut mancing kontraksi,” ujar Tiara.

“Oh gitu? Oke as the rules said.”

And the request too,” tambah Tiara.

Mereka tertawa bersama. “Cie ada yang seneng nih. Gimana Sayang rasanya puasa dua bulan?” ledek Tiara.

“Nggak enak rasanya, Ra,” ucap Aryo ketika mereka sudah sampai di kamar.

You know, I miss you really bad,” ungkap Aryo.

I miss you too,” ucap Tiara. Detik berikutnya Tiara membuat gerakan lebih dulu, ia menarik tengkuk Aryo dan mencium lembut bibir lelakinya. Ciuman itu terasa sangat mendamba dan ada rasa rindu yang begitu besar di sana. Tiara sedikit memiringkan kepalanya untuk memudahkan Aryo mencumbunya lebih dalam sekaligus melesakkan lidahnya ke dalam mulut Tiara.

Aryo and Tiara Kissing

Napas keduanya sama-sama memburu, mereka meluapkan perasaan rindu yang kian tidak terbendung. Dress fit body sebatas lutut yang dikenakan Tiara memudahkan Aryo untuk mengusap setiap jengkal tubuh Tiara. Kulit halus Tiara yang bersentuhan dengan permukaan kulitnya, membuat api cinta di diri Aryo membara dengan sempurna.

Damn it. You're so beautiful, Sweety,” ujar Aryo dengan nada lirihnya. Ia sudah sepenuhnya luluh lantak di hadapan Tiara. Warna kulit wajah Aryo pun berubah memerah dan itu tampak begitu menggemaskan bagi Tiara.

We will do it till the dawn? Like the title of our favorite song?” goda Tiara dan sebuah senyum manis terukir di wajahnya.

Aryo and Tiara Doing It

“Kamu yakin? Aku sih kuat aja, Sayang,” ujar Aryo. Tubuh keduanya yang telah polos membuat udara dingin terasa begitu menggelitik di sekujur kulit mereka.

“Kamu meragukan istri kamu? Kita buktiin aja kalau gitu, gimana?”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R Y O itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god Zayn Malik, aku suka banget sama dia. Suaranya itu lho,” cerocos Tiara dengan antusias. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

“Kenapa kamu suka Zayn Malik?” tanya Aryo.

“Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“Dua bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Satu minggu yang lalu, Aryo dan Tiara sudah kembali ke tempat tinggal awal mereka. Aryo telah meminta seluruh bodyguard-nya untuk memastikan bahwa keadaan rumahnya aman. Semua yang telah terjadi belakangan, membuat Aryo kini lebih waspada. Ia tidak ingin sesuatu yang berbahaya terjadi pada Tiara maupun calon anak di kandungannya.

Aryo menghampiri Tiara di ruang belajarnya. Ia membawakan segelas susu hangat rasa vanilla yang sudah jadi kesukaan istrinya itu.

“Makasih, Sayang,” ujar Tiara ketika mendapati Aryo di sana. Tiara menggeser sedikit laptopnya dan meminum susu di gelas.

“Manisnya pas nih, kamu udah jago bikinin susu buat aku sama dedek bayi,” cetus Tiara seusai ia meminum dua tegukan. Kemudian ia meletakkan gelasnya di nakas samping meja belajar.

“Masih mau lanjut ngerjain skripsi?” tanya Aryo.

“Iya ini tanggung bab 4 nya, dikit lagi selesai,” jawab Tiara.

“Aku temenin kamu begadang ya malam ini?” Aryo mengarahkan tangannya lalu menepuk-nepuk pelan puncak kepala Tiara.

Tiara kelihatan senang karena Aryo akan menemaninya malam ini. Beberapa kali Aryo ingin melakukannya, tapi Tiara melarang hal tersebut. Ia tidak ingin suaminya dua kali lipat lebih merasa lelah, sudah capek di kantor belum di tambah capek di rumah.

Aryo mengambil kursi dan meletakkannya di samping Tiara. Ia ikut melihat ke layar laptop dan membaca isi skripsi yang ditulis istrinya.

“Kayaknya skripsi aku malah nggak kelar deh kalau ada kamu di sini,” celetuk Tiara.

“Emangnya aku ngapain?” tanya Aryo kelihatan bingung. Tiara begitu suka saat suaminya itu sedang terlihat polos seperti ini.

“Kamu bikin aku nggak fokus,” aku Tiara.

“Yaudah aku nggak liat nih,” Aryo menutup kedua matanya. Tiara yang memerhatikan itu justru semakin merasa pertahanannya hancur. Kacau. Suaminya itu justru semakin terlihat menggemaskan dengan kedua mata tertutup dan bibir yang menahan senyuman.

“Nggak bisa. Kamu balik ke kamar aja deh, nanti aku nyusul,” ujar Tiara dengan nada menyerahnya.

Aryo lantas membuka matanya. “Yaudah aku balik ke kamar deh. Biar kamu fokus ngerjain skripsinya. Susunya jangan lupa kamu habisin ya,” tutur Aryo.

Sebelum beranjak dari kursinya, Aryo mendekatkan wajahnya dan menunjuk pipi kirinya.

“Apa?” tanya Tiara yang merasa bingung akan tingkah Aryo.

“Ini dulu,” ucap Aryo.

Tiara yang baru paham akhirnya langsung mendekatkan dirinya dan memberi kecupan manis di pipi Aryo.

“Udah, kan?” ujar Tiara dan ia menjauhkan dirinya dari Aryo.

“Aku tungguin kamu di sofa aja, gimana? Jadi kamu bisa tetap fokus dan aku bisa temenin kamu,” saran Aryo sambil menunjuk sofa di sudut ruangan belajar.

“Yaudah, oke. Sekali ini aja tapi ya.”

“Iya, Sayang. Kalau kamu butuh bantuan aku, kamu bilang aja. Mungkin aja aku bisa bantu skripsi kamu.”

Tiara lantas mengacungkan ibu jarinya dan Aryo beranjak ke sofa. Tiara memerhatikan Aryo merebahkan tubuhnay di sana dan mulai memejamkan matanya.

Tiara lantas kembali pada layar laptopnya dan jemarinya mulai fokus menari di atas keyboard. Hampir dua jam berselang Tiara mengerjakan skripsinya, perempuan itu akhirnya menyudahi kegiatannya, ia menyimpan file skripsinya, dan mematikan laptopnya.

Tiara menghampiri Aryo dan duduk bersila di samping sofa. Berusaha sehalus mungkin, Tiara menyisir rambut Aryo dengan jemarinya. Detik berikutnya Aryo bergerak dalam tidurnya dan perlahan membuka matanya.

“Udah selesai Ra?” tanya Aryo.

“Udah. Tadi aku mau minta tolong sama kamu, tapi kamu tidur. Kalau aku ke kirim ke email kamu aja, gimana? Tadi aku udah tulis di notes poin yang aku kurang paham dan kebetulan soal marketing komunikasi,” jela Tiara.

“Oke. Kamu kirim ke email aku aja. Nanti aku coba bantu,” ujar Aryo. “Ra, bukan aku doang yang bangga sama kamu. Ayah dan bunda, mama sama papa, juga bangga banget sama kamu. Kamu berusaha lulus kuliah dengan predikat cumlaude bahkan disaat kamu lagi hamil.”

Mendengar penuturan Aryo tersebut membuat hati Tiara menghangat. Rasanya tidak ada yang lebih berarti dari pada bisa membaut orang tersayangnya menatapnya dengan bangga.

“Kenapa kamu mutusin buat lulus lebih cepat? Padahal nggak papa juga kalau kamu mau nyusun skripsinya semester depan.”

“Iya, sebenernya bisa aja. Tapi aku mikirin sesuatu. Aku mau bikin orang yang aku sayang bangga. Kamu, ayah bunda, mama dan papa. Kalian udah ngelakuin banyak hal untuk aku. Jadi izinin aku buat ngasih sesuatu ke kalian.”

“Kok kamu ngeliatin aku kayak gitu?” tanya Tiara ketika Aryo hanya memandangnya.

Aryo lantas bangun dari posisinya dan duduk bersandar di sofa. Ia meminta Tiara mendekat lalu satu lengannya memeluk pinggang Tiara dari samping.

“Ra, dedek bayi kapan lahirnya sih?” tanya Aryo.

“Masih lumayan lama, 5 bulan lagi. Kamu nggak sabar banget kayaknya.”

“Lama banget ya anak bayi lahirnya.”

“Ya iya, dong. Kan 9 bulan, bukan bikin kue yang 1 jam juga jadi.” Tiara mau tidak mau tertawa keheranan.

“Oh iya, ya. Habis rasanya lama banget sih Ra.”

“Kamunya nggak sabar, Aryo. Emang kalau bayinya lahir mau kamu apain sih?”

“Mau aku ajak main sama unyel-unyel. Pasti gemes.”

Seketika Tiara merasakan usapan lembut di perutnya yang sudah tidak rata lagi. Tatapannya pun turun dan mendapati tangan Aryo di sana. Suaminya itu tersenyum selayaknya anak kecil yang takjub akan sesuatu.

“Bayi, kamu cepet lahir dong. Biar kita bisa main bareng,” ucap Aryo.

“Mau kamu ajak main apa emangnya?”

“Main motor sama bola. Oh iya, skateboard juga,” seru Aryo antusias. Keduanya sudah mengetahui bahwa anak mereka laki-laki dan Aryo begitu senang mengetahui fakta tersebut.

“Ra, kalau besok kita belanja perlengkapan buat si bayi, gimana?” saran Aryo.

Tiara nampak berpikir sejenak dan tidak lama ia menyetujuinya. “Boleh. Aku juga udah bikin buying list untuk keperluan si bayi.”

“Yang happy malah kamu ya,” sambung Tiara. Ia memerhatikan ekspresi gembira di wajah Aryo.

“Kamu tau nggak alasan lain aku mau lulus kuliah lebih cepat?” tanya Tiara.

“Apa alasannya?”

“Aku mau waktu si bayi lahir, aku udah lulus. Biar aku bisa fokus dan ngasih dia kasih sayang yang utuh.”

“Kamu akan jadi Mama yang hebat buat si bayi, Ra,” ujar Aryo sembari menyematkan ciuman di pipi Tiara.

“Kamu juga akan jadi Papa yang luar biasa buat dia. Ngajak dia main, nemenin dia ngelakuin hobinya, dan eksplor apapun yang dia suka. Dia akan dapat kasih sayang yang full dari orang tuanya.” Tiara mengusap perutnya dan merasakan kehadiran buah hatinya. Hal tersebut selalu berhasil membuat hatinya menghangat sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tepat dua minggu yang lalu, setelah menerima berkas perkara dan hasil penyidikan yang lengkap dari penyidik, surat dakwaan kasus Reynaldi dibuat oleh penuntut umum. Surat dakwaan dibuat setelah Jaksa berpendapat bahwa dari hasil penyidikan sudah cukup dan dapat dilakukan penuntutan.

Hari ini diadakan pelaksanaan sidang dakwaan yang merupakan tahap pertama dari persidangan kasus pidana. Beberapa anggota keluarga Brodjohujodyo ikut hadir di sana. Edi dan Felicia beserta Aryo dan Tiara tentunya turut datang ke sidang itu.

Berdasarkan surat dakwaan, terdakwa dinyatakan terkena pasal khusus yakni Pasal 340 KUHP mengenai Pembunuhan Berencana. Sidang yang berlangsung selama kurang lebih 2 jam tersebut menghasilkan sebuah keputusan oleh Jaksa Penuntut Umum. Jaksa Penuntut Umum mengeluarkan putusan bahwa terdakwa akan dihukum seumur hidup, yakni hukuman berlangsung sampai selama hidupnya terdakwa hidup di dunia.

Persidangan telah selesai dan satu persatu hadirin mulai berhamburan keluar dari ruangan. Aryo dan Tiara bertemu dengan Irene ketika mereka hendak keluar. Irene, istri Reynaldi yang menghadiri persidangan itu, melayangkan tatapan tidak sukanya kepada Tiara.

“Kamu itu pembawa sial dalam keluarga Brodjohujodyo. Apa kamu nggak malu? Sekarang keluarga kita jadi hancur dan terpecah belah,” ucap Irene.

“Tante Irene, cukup. Tante nggak berhak berbicara seperti itu,” ujar Aryo.

“Apa pun yang kalian lakukan, selamanya nggak akan mengembalikan Erlangga dan Clarissa ke dunia ini,” ujar Irene lagi tanpa rasa bersalahnya. “Kamu udah puas sekarang? Kamu ini istri macam apa, Tiara? Mana ada istri yang tega membuat keluarga dan perusahaan suaminya sendiri hancur. Kamu perempuan egois.” Setelah mengatakannya, Irene pun berlalu pergi dari hadapan Aryo dan Tiara.

Aryo menatap Tiara dan mengatakan bahwa istrinya itu tidak perlu memikirkan kata-kata Irene. “Tiara, kamu nggak perlu pikirin kata-kata tante Irene, oke?”

Tiara balas menatap Aryo. “Kita harus gimana kalau yang dibilang tante Irene benar terjadi?”

“Maksud kamu?”

“Sekarang perusahaan ada di bawah pimpinan kamu. Kasus ini akan berdampak juga ke reputasi perusahaan, kan?”

***

Pada hakikatnya, seseorang tidak bisa mengatur reaksi orang lain terhadap apa yang terjadi. Kita tidak bisa mengontrol apa yang akan dilontarkan dari mulut orang-orang untuk menanggapi sesuatu.

Berbagai tanggapan pun berdatangan dari keluarganya selama masa persidangan sampai keputusan final. Sebagian ada yang mendukungnya, sebagian kecewa terhadap apa yang terjadi. Mereka menyalahkan keputusan Aryo untuk menuntut Reynaldi, tanpa melihat dari sisi yang berbeda, bahwa selamanya yang bersalah akan tetap salah dan pantas mendapat hukuman.

“Silakan, Pak.” Sebuah suara menginterupsi pemikiran monolog Aryo. Pria itu mendongak dan segera melangkahkan kakinya untuk masuk ke ruangan di depannya.

Aryo duduk di hadapan sebuah pembatas kaca yang memiliki sebuah jendela kecil di sana. Dari lubang kecil itu, Aryo melihat sosok Omnya yang kini resmi di tahan, setelah sidang putusan final hari ini. Majelis hakim telah memberikan keputusan final bahwa Reynaldi dikenai pasal 340 KUHP dan mendapat hukuman seumur hidup penjara.

“Aryo ke sini karena ingin menyampaikan sesuatu sama Om,” ucap Aryo membuka pembicaraan.

Reynaldi hanya balas menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Aryo mencondongkan tubuhnya sedikit lebih dekat ke jendela kecil itu. “Nggak ada satu pun anggota keluarga yang ingin melihat anggota keluarganya sendiri hancur. Tapi Om perlu tau, semua perbuatan memiliki tanggung jawabnya.”

“Kamu melakukan ini demi perempuan itu. Perempuan yang baru kamu kenal dan kamu nikahi. Apa yang ada di pikiran kamu Aryo?” ujar Reynaldi.

“Om benar. Aryo memang melakukannya untuk Tiara. Ketika melihat seseorang yang Om cintai harus menerima rasa sakit selama bertahun-tahun, apa yang akan Om lakukan?” Aryo menjeda ucapannya, pria itu menghela napas dan menghembuskannya perlahan.

“Kayaknya Om sudah tau jawaban dari pertanyaan itu. Aryo nggak membenci Om sama sekali. Tapi perbuatan Om lah yang menyebabkan Aryo kehilangan rasa hormat itu,” ujar Aryo.

“Aryo sudah menyampaikan semua yang ingin disampaikan. Aryo pamit Om.” Aryo menatap Reynaldi sekali lagi, sebelum kakinya melangkah untuk pergi dari sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R Y O itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god Zayn Malik, aku suka banget sama suara dia,” cetus Tiara dengan antusias. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

He is your favorite male singer?” tanya Aryo.

Yes, of course. Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“Dua bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R Y O itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god, Zayn Malik, aku suka banget sama suara dia,” ungkap Tiara. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

He is your favorite male singer?” tanya Aryo.

Yes, of course. Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“2 bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R YO itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god, Zayn Malik, aku suka banget sama suara dia,” ungkap Tiara. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

He is your favorite male singer?” tanya Aryo.

Yes, of course. Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“2 bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Semoga kamu suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian dari kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Say 'Hai' lagi sama Pajero hitam yang sudah nangkring di parkiran gedung fakultas komunikasi. Ketika melihat mobil yang fameliar dengan plat nomor 4 R YO itu, Tiara segera berjalan menghampiri. Dari beberapa koleksi mobil yang dimiliki suaminya, kini Tiara tahu bahwa si Pajero hitam tetap jadi yang nomor satu bagi Aryo.

“Hai,” sapa Tiara begitu ia memasuki mobil.

“Hai,” balas Aryo.

Tiara meletakkan totebag Guccinya di jok belakang, “Kamu nunggu berapa jam tadi?” tanyanya.

Aryo melirik rolex di pergelangan tangan kirinya. “1 jam an lah kira-kira,” ujarnya.

“Ya ampun, lama juga. Kasian banget sih suami aku.” Dengan spontan Tiara mencondongkan tubuhnya mendekat pada Aryo dan menyematkam kecupan di pipi kirinya.

“Kita mau kemana? Katanya kamu nggak mau langsung pulang, kan?” tanya Tiara.

“Kemana aja, yang penting sama kamu,” jawab Aryo sambil menatap Tiara.

“Oke. Kita cari makan malem dulu ya.”

***

Sebuah warung kaki lima di dekat taman kota menjadi tujuan Aryo dan Tiara untuk mengisi amunisi. Warung itu menjual ayam geprek sambal hijau yang sudah terkenal cita rasanya dan Tiara merekomendasikannya. Aryo harus mencobanya, begitu kata Tiara.

Mereka perlu antre sekitar 20 menit untuk mendapat tempat duduk. Untungnya tidak lama setelah itu, pesanan mereka datang.

Sebelum menyantap makanan miliknya, Tiara lebih dulu memerhatikan Aryo. Ia ingin melihat reaksi pria itu mencoba makanan yang ia rekomendasikan.

“Gimana? Enak?” tanya Tiara seusai Aryo mencoba suapan pertamanya.

“Enak banget, Ra,” tiga kata singkat yang keluar dari bibir Aryo dan ekspresi bahagianya, sudah cukup membuat Tiara ikut senang.

“Kamu kasih rating berapa?” tanya Tiara lagi.

“10 per 10.”

“Oke.” Tiara pun tersenyum dan mulai menyantap makanan miliknya.

Aryo telah selesai makan lebih dulu dan Tiara bertanya padanya, “Mau nambah lagi nggak?”

“Mau,” jawab Aryo cepat. Tiara yang memerhatikan wajah Aryo dibanjiri oleh keringat karena kepedasan, mengambil tisu di meja dan memberikannya pada suaminya.

“Mas, nambah satu lagi ya ayam gepreknya,” ujar Tiara kepada penjualnya. Lalu ia beralih lagi pada Aryo, “Level berapa Sayang?” tanyanya.

“Level dua aja.”

“Ohh, level 2 aja Mas,” ujar Tiara dan langsung diiyakan oleh mas penjualnya.

“Aku lupa kamu nggak terlalu suka pedes, yang pertama tadi aku pesenin level 3,” ucap Tiara pada Aryo.

“Nggak papa, masih tetep enak kok,” ujar Aryo.

“Ra, kapan-kapan kita makan di kaki lima lagi, ya?” cetus Aryo setelah ia menyeruput es jeruknya.

“Iya. Kamu mau makanan apa emangnya?”

“Apa aja, yang penting rekomendasi dari kamu.”

Tiara tertawa pelan, “Okey, apapun rekomendasi aku ya.”

***

Tiara yang punya sejuta ide di dalam kepalanya itu, mengajak Aryo melewati jalan tol di malam hari. Mereka sengaja memperjauh perjalanan untuk sampai ke rumah. Jalanan tol yang lebar dan lempeng, lampu kota di malam hari, serta pemandangan gedung-gedung, terasa sempurna untuk menenangkan pikiran sekaligus memanjakan mata.

Mereka menyetel musik dari pemutar audio di mobil dan mengeraskan volume-nya. Setelah playlist milik Tiara selesai di putar, kini giliran playlist milik Aryo.

Lagu milik Khalid yang berjudul Young Dumb and Broke mulai mengalun dan memenuhi mobil.

So you're still thinking of me ... Just like I know you should I can not give you everything, you know I wish I could ... I'm so high at the moment I'm so caught up in this Yeah, we're just young, dumb and broke But we still got love to give ...

Aryo dan Tiara menyanyikan lagu itu bersamaan. Keduanya pun hapal lirik lagunya di luar kepala. Lagu yang menggambarkan masa muda yang penuh rintangan tersebut terasa begitu relate untuk mereka. Oh, mungkin juga bagi anak muda lainnya di luar sana.

Mereka sudah melewati dua jalan tol dan akhirnya memutuskan untuk pulang.

What's your favorite song from your playlist?” tanya Tiara.

“Lagu habis ini, lagu yang terakhir,” ujar Aryo.

Tiara pun mendengarkan dengan seksama lagu yang mulai terputar dan memasuki bagian intro. Suara yang femeliar lantas memasuki indera pendengaran Tiara. Suara husky penyanyi laki-laki dengan aksen british berpadu aksen khas timur tengah itu begitu sopan memasuki telinganya.

Cause I wanna touch you baby ... And I wanna feel you too I wanna see the sunrise On your sins just me and you ...

Oh my god, Zayn Malik, aku suka banget sama suara dia,” ungkap Tiara. Lagu Zayn Malik ft Sia berjudul Dusk Till Dawn menjadi lagu terakhir di playlist Aryo—yang katanya menjadi lagu favoritnya juga di antara lagu yang lain.

He is your favorite male singer?” tanya Aryo.

Yes, of course. Suara dia tuh khas banget, husky-husky enak gitu. Ganteng juga lagi, kurang apa coba Zayn Malik,” cerocos Tiara.

But you'll never be alone I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here I'll hold you when things go wrong I'll be with you from dusk till dawn I'll be with you from dusk till dawn Baby, I am right here

“Ra, kalau menurut kamu, aku kurangnya apa?” tanya Aryo tiba-tiba.

“Kurangnya kamu? Aku nggak kepikiran sih,” jawab Tiara.

“Kamu bilang Zayn Malik nggak ada kurangnya. Kalau aku kira-kira kurangnya apa?”

Kedua alis Tiara menyatu, perempuan itu nampak berpikir sejenak. “Kayaknya kamu nggak ada kurangnya deh. Ganteng, iya. Hmm ... uang, punya. Puji Tuhan, banyak lagi uang kamu.”

Tanpa alasan yang jelas, gelak tawa mereka menggelegar bersamaan. Padahal Tiara asal nyerocos aja. Suasana di dalam mobil pun menjadi agak sunyi karena lagu Dusk Till Dawn telah selesai diputar.

“Terus kamu perhatian banget sama aku, jemput aku pulang kuliah. Nurutin aku night ride di tol. Padahal kamu juga capek habis pulang kerja,” ujar Tiara.

Aryo pun tertawa pelan sembari mematikan penyetel audio di mobilnya. “Ra, thank you buat malam ini,” ucap Aryo sembari menatap Tiara dengan tatapan lembutnya. Mereka masih berada di dalam mobil, mesin sudah mati dan si Pajero telah terparkir sempurna.

Doing simple things like this night, made me feel alive,” ungkap Aryo. “Ngelakuin hal yang agak beda, tapi dengan orang yang sama, dan perasaan yang sama,” sambungnya.

Tiara tersenyum. “Aku tau kamu lagi kalut di kantor dan kondisi perusahaan lagi kurang baik,” ujar Tiara. Kini Aryo memiliki beban yang cukup berat dan nasib ribuan orang bergantung di kedua pundaknya.

“Kamu tau? Kenapa baru bilang waktu kita udah pulang?” tanya Aryo.

“Ya, nggak papa. Aku kan mau ngehibur kamu, mau buat kamu seneng.”

Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap lembut puncak kepala Tiara. Kemudian seulas senyum terbit di wajahnya, “Makasih ya. Aku seneng banget malam ini.”

Tiara balas mengulaskan senyumnya. “Aku juga seneng, kalau kamu happy kayak gini.”

“Oh iya Ra, dua bulan lagi ulang tahun kamu, kan?” tanya Aryo.

“Iya.”

“Hmm ... kira-kira kamu mau hadiah apa dari aku?” tanya Aryo sambil mendekatkan wajahnya pada Tiara, ia menatap wanitanya dengan seksama.

“Apa ya? Aku nggak tau. Apa aja deh terserah kamu,” ujar Tiara. Tidak terpikirkan apapun di benaknya soal hadiah ulang tahun yang ia inginkan.

“Kalau mobil gimana? Mau?” tanya Aryo.

“Koleksi mobil kamu di rumah udah banyak. Mama bilang udah nggak muat lagi garasinya.”

“Muat, Ra. Yang buat kamu mobilnya spesial.”

Tiara tertawa. “Spesial gimana maksud kamu?”

Aryo mengulaskan senyumnya, “Rahasia dong. Nanti kamu bakal tau di hari ulang tahun kamu.”

“2 bulan itu lumayan lama, Aryo. Kamu buat aku penasarannya dari sekarang. Kasih aku satu clue dong. Warna mobilnya aja deh,” pinta Tiara.

“Itu juga rahasia, Sayang. Nanti nggak surprise lagi dong kalau gitu,” ujar Aryo. “Aku berharap kamu akan suka sama hadiahnya,” lanjutnya.

“Yaudah deh. Tapi apapun itu, aku bakal suka, karena itu pemberian kamu.” Tiara tersenyum simpul, “That will be my first birthday gift from you and it really mean a lot for me.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mengendarai mobilnya dan sampai di kantor pagi ini. Di gedung pencakar langit berlantai 65 tersebut, cerita keluarganya belasan tahun yang lalu telah di mulai. Mereka membangun bersama sebuah perusahaan keluarga yang kini dikenal dan memiliki nama yang besar. Nama awal perusahaan itu adalah Prawira Group, yang kemudian diubah menjadi Harapan Jaya Group. Perubahan tersebut terjadi berkat usaha Reynaldi untuk menutupi semua perbuatannya di masa lalu.

Aryo bertemu Rama di lobi dan mereka menaiki lift bersama ke lantai 20.

Di dalam lift, beberapa karyawan dan petinggi perusahaan yang merupakan keluarganya, menatap Aryo dengan tatapan yang sedikit berbeda.

“Sudah lihat berita di media?” ujar seseroang.

“Sudah, Direktur.”

“Berita itu akan memberi dampak besar ke perusahaan. Saya nggak habis pikir,” ujar yang lainnya.

“Benar, harga saham kita bisa turun kalau begini terus. Presdir yang melakukan tuntutan itu. Harusnya perusahaan jadi prioritasnya.”

“Rumornya korban kecelakaan itu adalah ayah kandung istrinya Presdir. Mungkin itu alasannya.”

Aryo maupun Rama mau tidak mau mendengar percakapan orang-orang orang itu di lift. Aryo mengarahkan tatapannya pada Rama di sampingnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk tidak melakukan apapun.

Saat sampai di lantai 20, Aryo melangkah keluar lift diikuti oleh Rama.

“Kesel banget gue. Mereka jelas-jelas ngomongin lo kayak gitu, tapi lo diem aja,” serbu Rama ketika keduanya sampai di ruangan Aryo.

“Nggak ada yang salah dari omongan mereka, Ram. Apa yang mereka bilang memang benar,” ujar Aryo.

Rama menghela napasnya kasar. “Kalau bukan orang tua, udah gue kasih pelajaran tuh orang,” ujar Rama yang masih terlihat kesal.

“Gimana?” tanya Aryo.

“Apanya?” Rama terlihat bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya itu.

“Dampak berita itu ke perusahaan. Apa udah muncul?” tanya Aryo.

Mendengar penuturan Aryo tersebut, Rama lantas membuka laptopnya dan memperlihatkan laporan yang telah ia buat kepada Aryo.

“Harga saham kita udah turun lumayan drastis,” Rama menunjuk grafik saham yang mengalami penurunan di layar laptopnya. “Nama perusahaan jadi trending topic dimana-mana, di media offline maupun online. Ada rumor beredar kalau Erlangga adalah ayah kandungnya Tiara, padahal kasus dan persidangan dilakukan secara tertutup. Nggak habis pikir gue, info gampang banget bocor,” sambung Rama.

“Ada lagi?” tanya Aryo.

“Sebagian distributor besar kita ngajuin penarikan produk dari display store mereka. Brand impression kita menurun, ada pembatalan pesanan produk dan kerjasama antar brand,” papar Rama. Pria itu menutup layar laptopnya dan berusaha mengendalikan emosi serta perasaan kalut di dalam dirinya.

Aryo terdiam beberapa saat. Ia belum terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua ini.

“Masyarakat nggak akan percaya kalau kita bicara soal kebaikan perusahaan. Lo tau piring yang pecah nggak akan bisa balik lagi utuh, kan?” ujar Aryo.

Rama mengangguk. “Gue paham. Terus apa yang bakal lo lakuin untuk perbaiki semua ini?”

“Gue nggak akan berusaha untuk mengembalikan citra baik perusahaan. Tapi gue akan berusaha untuk membuka lembaran yang baru,” ucap Aryo.

***

Usaha bertahun-tahun yang selama ini sering dilakukan oleh keluarganya guna menutupi yang buruk demi citra yang baik, semua itu kini terasa sia-sia.

Eyang putri dan eyang kakung siang ini datang ke kantor dan menemui Aryo di ruangannya. Eyang putri menatap cucunya sekilas, lalu beliau menghembuskan napasnya pelan.

“Kamu rela melawan keluargamu sendiri dan menaruh posisi perusahaan di dalam bahaya, hanya untuk mengungkap kasus ini,” ujar Nurmala.

“Eyang putri kecewa sama kamu,” tutur Nurmala dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kini giliran eyang kakung yang menatapnya, “Aryo, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Prawira.

“Ada, Eyang. Ada dua hal yang akan Aryo sampaikan,” ucap Aryo.

“Silakan kalau begitu,” ujar Prawira.

Aryo berdeham lalu menatap Nurmala dan Prawira secara bergantian. “Eyang Putri, Eyang Kakung, apa yang sudah terjadi tidak bisa ditutupi. Sekalipun kita menghabiskan seluruh uang atau aset yang kita punya,” Aryo menjeda ucapannya.

Kalimat pertama yang Aryo lontarkan terasa seperti tamparan keras untuk Prawira dan Nurmala.

“Posisi Aryo adalah presdir Harapan Jaya dan Aryo punya tanggung jawab atas kesejahteraan usaha ini. Aryo akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan di lembaran yang baru,” Aryo menjadi ucapannya.

“Yang kedua, Aryo melakukan semua ini bukan semata karena memikirkan keluarga Aryo sendiri. Pilihan yang Aryo ambil adalah pilihan yang Aryo yakini benar. Akan ada yang pro dan kontra terhadap apapun yang kita lakukan, Eyang. Tapi berada di jalan yang benar, akan selalu jadi pilihan untuk Aryo,” tuturnya.

Prawira yang semula menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menatap Aryo dengan tatapan terharunya.

“Aryo,” ujar Prawira.

“Iya, Eyang?”

“Eyang mungkin belum sanggup mendidik anak-anak Eyang dengan baik,” ujar Prawira. Lelaki paruh baya itu menatap Aryo sebelum melanjutkan perkataannya, “Tapi Edi dan Feli sudah begitu berhasil mendidik kamu,” ujar Prawira.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mengendarai mobilnya dan sampai di kantor pagi ini. Di gedung pencakar langit berlantai 65 tersebut, cerita keluarganya belasan tahun yang lalu telah di mulai. Mereka membangun bersama sebuah perusahaan keluarga yang kini dikenal dan memiliki nama yang besar. Nama awal perusahaan itu adalah Prawira Group, yang kemudian diubah menjadi Harapan Jaya Group. Perubahan tersebut terjadi berkat usaha Reynaldi untuk menutupi semua perbuatannya di masa lalu.

Aryo bertemu Rama di lobi dan mereka menaiki lift bersama ke lantai 20.

Di dalam lift, beberapa karyawan dan petinggi perusahaan yang merupakan keluarganya, menatap Aryo dengan tatapan yang sedikit berbeda.

“Sudah lihat berita di media?” ujar seseroang.

“Sudah, Direktur.”

“Berita itu akan memberi dampak besar ke perusahaan. Saya nggak habis pikir,” ujar yang lainnya.

“Benar, harga saham kita bisa turun kalau begini terus. Presdir yang melakukan tuntutan itu. Harusnya perusahaan jadi prioritasnya.”

“Rumornya korban kecelakaan itu adalah ayah kandung istrinya Presdir. Mungkin itu alasannya.”

Aryo maupun Rama mau tidak mau mendengar percakapan orang-orang orang itu di lift. Aryo mengarahkan tatapannya pada Rama di sampingnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk tidak melakukan apapun.

Saat sampai di lantai 20, Aryo melangkah keluar lift diikuti oleh Rama.

“Kesel banget gue. Mereka jelas-jelas ngomongin lo kayak gitu, tapi lo diem aja,” serbu Rama ketika keduanya sampai di ruangan Aryo.

“Nggak ada yang salah dari omongan mereka, Ram. Apa yang mereka bilang memang benar,” ujar Aryo.

Rama menghela napasnya kasar. “Kalau bukan orang tua, udah gue kasih pelajaran tuh orang,” ujar Rama yang masih terlihat kesal.

“Gimana?” tanya Aryo.

“Apanya?” Rama terlihat bingung atas pertanyaan yang dilontarkan oleh atasannya itu.

“Dampak berita itu ke perusahaan. Apa udah muncul?” tanya Aryo.

Mendengar penuturan Aryo tersebut, Rama lantas membuka laptopnya dan memperlihatkan laporan yang telah ia buat kepada Aryo.

“Harga saham kita udah turun lumayan drastis,” Rama menunjuk grafik saham yang mengalami penurunan di layar laptopnya. “Nama perusahaan jadi trending topic dimana-mana, di media offline maupun online. Ada rumor beredar kalau Erlangga adalah ayah kandungnya Tiara, padahal kasus dan persidangan dilakukan secara tertutup. Nggak habis pikir gue, info gampang banget bocor,” sambung Rama.

“Ada lagi?” tanya Aryo.

“Sebagian distributor besar kita ngajuin penarikan produk dari display store mereka. Brand impression kita menurun, ada pembatalan pesanan produk dan kerjasama antar brand,” papar Rama. Pria itu menutup layar laptopnya dan berusaha mengendalikan emosi serta perasaan kalut di dalam dirinya.

Aryo terdiam beberapa saat. Ia belum terpikirkan apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki semua ini.

“Masyarakat nggak akan percaya kalau kita bicara soal kebaikan perusahaan. Lo tau piring yang pecah nggak akan bisa balik lagi utuh, kan?” ujar Aryo.

Rama mengangguk. “Gue paham. Terus apa yang bakal lo lakuin untuk perbaiki semua ini?”

“Gue nggak akan berusaha untuk mengembalikan citra baik perusahaan. Tapi gue akan berusaha untuk membuka lembaran yang baru,” ucap Aryo.

***

Usaha bertahun-tahun yang selama ini sering dilakukan oleh keluarganya guna menutupi yang buruk demi citra yang baik, semua itu kini terasa sia-sia.

Eyang putri dan eyang kakung siang ini datang ke kantor dan menemui Aryo di ruangannya. Eyang putri menatap cucunya sekilas, lalu beliau menghembuskan napasnya pelan.

“Kamu rela melawan keluargamu sendiri dan menaruh posisi perusahaan di dalam bahaya, hanya untuk mengungkap kasus ini,” ujar Nurmala.

“Eyang putri kecewa sama kamu,” tutur Nurmala dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kini giliran eyang kakung yang menatapnya, “Aryo, ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Prawira.

“Ada, Eyang. Ada dua hal yang akan Aryo sampaikan,” ucap Aryo.

“Silakan kalau begitu,” ujar Prawira.

Aryo berdeham lalu menatap Nurmala dan Prawira secara bergantian. “Eyang Putri, Eyang Kakung, apa yang sudah terjadi tidak bisa ditutupi. Sekalipun kita menghabiskan seluruh uang atau aset yang kita punya,” Aryo menjeda ucapannya.

Kalimat pertama yang Aryo lontarkan terasa seperti tamparan keras untuk Prawira dan Nurmala.

“Posisi Aryo adalah presdir Harapan Jaya dan Aryo punya tanggung jawab atas kesejahteraan usaha ini. Aryo akan berusaha memberikan yang terbaik untuk perusahaan di lembaran yang baru,” Aryo menjadi ucapannya.

“Yang kedua, Aryo melakukan semua ini bukan semata karena memikirkan keluarga Aryo sendiri. Pilihan yang Aryo ambil adalah pilihan yang Aryo yakini benar. Akan ada yang pro dan kontra terhadap apapun yang kita lakukan, Eyang. Tapi berada di jalan yang benar, akan selalu jadi pilihan untuk Aryo,” tuturnya.

Prawira yang semula menundukkan kepalanya, kini mendongak dan menatap Aryo dengan tatapan terharunya.

“Aryo,” ujar Prawira.

“Iya, Eyang?”

“Eyang mungkin belum sanggup mendidik anak-anak Eyang dengan baik,” ujar Prawira. Lelaki paruh baya itu menatap Aryo sebelum melanjutkan perkataannya, “Tapi Edi dan Feli telah begitu berhasil mendidik kamu,” ujar Prawira.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷