alyadara

2 minggu kemudian

Hari ini merupakan hari voting untuk pemilihan presiden direktur Harapan Jaya Group. Hadirin yang datang ke acara itu adalah dua calon kandidat, para petinggi perusahaan, pemegang saham, serta perwakilan dari Dewan Komisaris yang bertugas melakukan pengawasan dan pemberi nasehat atas pelaksanaan kegiatan tersebut.

Aryo berada dibagian sayap kanan dan Elnino berada di sayap kiri. Edi Brodjohujodyo hari ini hadir sebagai petinggi perusahaan sedangkan Felicia Batari Brodjohujodyo sebagai pemegang saham.

Ketika perwakilan Dewan Komisaris memasuki aula besar tersebut, menandakan bahwa acara akan segera dimulai. Kegiatan pertama adalah pembukaan acara oleh Dewan Komisaris yang sudah naik ke atas podium, Rico Brodjohujodyo, salah satu putra keluarga Brodjohujodyo.

Rangkaian acara dilakukan dengan singkat dan padat, sehingga tidak memakan waktu yang lama. Satu persatu orang bergantian maju ke depan untuk memberikan hasil suaranya yang dimasukkan ke dalam kotak kaca bening berukuran besar.

“Terima kasih untuk para partisipan pemilihan suara hari ini. Hasil voting akan diumumkan lusa pukul 10.00 ditempat yang sama. Saya akhiri, selamat siang,” ucap pembawa acara untuk menutup acara hari ini.

Para hadirin satu persatu mulai meninggalkan aula tersebut. Aryo yang masih duduk di tempatnya mendapati Elnino menghampirinya.

“Lo tau kan, eyang kakung berada dipihak gue.” El menghampiri Aryo dan menumpu satu tangannya di atas meja.

“Lo cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

“Udah jelas siapa yang akan mendapatkan posisi itu, Bro. You better back off than become a loser.

Aryo menatap El sejenak, lalu ia tertawa sekilas. Aryomemasang tampang santainya dan seolah ucapan sepupunya barusan tidak mengusiknya sama sekali.

“Lo bisa ngomong apa pun yang lo mau.” Aryo berdiri dari kursinya dan hendak melangkah melewati El namun pria itu menahan pundaknya.

Listen. Harusnya lo bisa berpikir lebih pintar. Kayaknya istri lo itu lebih berharga dari pada apa yang udah lo milikin sekarang. Kita liat, apa lo lebih milih melindunginya atau berjuang untuk mendapatkan posisi pewaris itu,” ujar El.

***

Ini kesekian kalinya dalam waktu dua minggu, Aryo berusaha untuk menemui Tiara. Aryo memakirkan Jeepnya di depan rumah mertuanya. Dua minggu yang lalu, Aryo tidak menemukan Tiara di rumah ketika ia pulang dari kantor. Tiara membawa hampir semua pakaiannya yang ada di lemari di kamar tidur mereka dan menolak untuk bertemu dengannya.

Sebelum mengetuk pintu coklat mahony di hadapannya tersebut, Aryo menggantungkan tangannya di udara karena ia mendengar percakapan dari dalam rumah.

Isi percakapan itu mengatakan bahwa kedua orang tua kandung Tiara telah meninggal sebelas tahun yang lalu. Aryo ingin coba memastikan lagi bahwa apa yang didengarnya barusan tidak lah benar. Terlebih ia tidak mengerti kemana arah pembicaraan tersebut.

“Kamu menikah sama dia tanpa ngasih tau Ayah sama Bunda, kalau keluarganya adalah penyebab orang tua kandung kamu tiada, Tiara,” suara Andi terdengar dari dalam.

Satu kalimat itu berhasil membekukan semua indera di tubuh Aryo. Aryo pun berniat untuk meluruskan apa yang barusan didengarnya. Pria itu mengetuk pintu di hadapannya dan menunggu untuk dibukakan.

Ketika pintunya dibuka, Pemandangan yang pertama dilihatnya adalah wajah Tiara. Wajah yang telah ia rindukan selama dua pekan belakangan.

***

Andi tidak memperbolehkan Aryo untuk bertemu dengan Tiara. Namun Aryo tetap bersikeras meminta penjelasan atas apa yang didengarnya.

Andi dan Aryo akhirnya duduk berdua di ruang tamu. Sorot mata mertuanya tersebut telah berubah dari pertama kali Aryo datang untuk melamar Tiara dan kemudian menikahi perempuan itu. Tatapannya tidak hangat dan bersahabat, padahal sebelumnya Andi memperlakukan Aryo seperti anak lelakinya sendiri.

“Tiara ingin bercerai dari kamu.” Kalimat tersebut adalah kalimat yang keluar dari mulut Andi.

Aryo menatap Andi, “Ayah, tolong izinin Aryo untuk dapat penjelasan soal orangtua kandung Tiara,” pinta Aryo.

“Seperti yang kamu dengar, saya dan istri saya bukan orang tua kandung Tiara. Saya adalah Omnya Tiara. Saya dan istri saya yang membesarkannya sejak usianya tujuh tahun, setelah kedua orang tua kandungnya meninggal. Ayahnya Tiara meninggal karena kecelakaan, tapi Rudi Abimana nemuin bukti yang mengungkap bahwa kecelakaan itu di sengaja. Kaarena kasus itu sudah lama, kasusnya resmi ditutup oleh kepolisian.”

Andi menceritakan rentetan kejadian sebelas tahun yang lalu. Berawal dari Erlangga Sinaga yang meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil. Setelah itu istri Erlangga, Clarissa Laura dan anaknya pergi ke Australia. Clarissa memiliki tujuan untuk melindungi diri dari orang yang berhubungan dengan kecelakaan Erlangga. Di Australia merupakan tempat tinggal Andi dan Alifia.

2 tahun berselang, Clarissa pergi menyusul Erlangga karena jatuh sakit. Atas amanat kakak iparnya dan rasa sayangnya terhadap Tiara, Andi berjanji di hadapan pusara Erlangga dan Clarissa, bahwa ia akan menjaga Tiara dan memastikannya hidup dengan aman.

Andi dan Alifia memutuskan menggunakan marga Lubis sebagai nama belakang mereka. Mereka juga merubah nama asli Tiara yakni ‘Michelle Taninka Sinaga’ menjadi ‘Mutiarani Ivanka Lubis’. Identitas Tiara yang merupakan anak Erlangga juga diubah menjadi anak kandung Andi. Hampir semua proses tersebut dibantu oleh Rudi Abimana, seorang detektif dari Badan Reserse Kriminal Kepolisian yang merupakan sahabat baik Erlangga.

Setelah mendengar semua cerita tersebut, Aryo merasakan sebuah cairan mendorong kuat dan hampir terjun dari pelupuk matanya. Hatinya terasa seperti dicabik-cabik mendapati fakta menyakitkan yang selama ini Tiara sembunyikan darinya.

***

Tiara tidak dapat menatap Aryo yang kini ada di hadapannya. Tiara takut tembok pertahanan sudah ia bangun hancur begitu saja. Pria yang masih berstatus suaminya itu tidak menyerah menemuinya dan memintanya untuk kembali.

“Tiara,” panggil Aryo dengan nada paraunya. Aryo hancur mendapati penyebab luka bertahun-tahun orang ia cintai adalah keluarganya sendiri. Tubuhnya bergetar dan sebuah bendungan air di mata di pelupuknya, akhirnya lolos begitu saja.

“Aku harap kita bisa bercerai secepatnya,” ujar Tiara sambil mencoba untuk menatap Aryo.

“Semuanya cuma kebohongan Aryo. Pernikahan kita, semua yang sudah kita laluin bareng, keinginan aku untuk punya anak, semua itu cuma kepalsuan bagi aku,” sambung Tiara.

“Maksud kamu apa Ra?” tanya Aryo dengan tatapan tidak percayanya.

“Apa kata-kata aku kurang jelas? Aku nikah sama kamu cuma karena ingin balas dendam. Aku ngerencanain semuanya, Aryo. Semuanya,” ucap Tiara penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.

“Nggak, Ra. Kasih tau ke aku kalau kamu lagi bohong,” ucap Aryo berusaha menampik fakta yang disampaikan oleh Tiara.

“Semua yang aku bilang benar. Aku nggak pernah cinta sama kamu,” Tiara mengalihkan pandangannya dari Aryo agar lelaki itu tidak dapat menangkap sorot matanya. Pandangan Tiara terasa sedikit buram dan ia pikir itu disebabkan oleh bendungan air di pelupuk matanya yang mendesak untuk keluar.

Tiba-tiba kepala Tiara terasa berat dan seperti ada sesuatu yang menghantamnya dengan sangat kuat. Sebelum semuanya menjadi gelap, Tiara mendapati wajah Aryo yang mencemaskannya.

***

Saat Tiara siuman, yang pertama kali ia temukan adalah Aryo menggenggam tangannya dan wajah pria itu nampak khawatir. Tiara masih merasa pusing di kepalanya dan tubuhnya tidak memiliki tenaga untuk digerakkan.

“Ra, kita ke dokter ya? Aku khawatir sama kamu,” ujar Aryo.

“Kayaknya nggak perlu ke dokter. Aku cuma kecapean,” balas Tiara.

“Oke, kalau itu mau kamu,” Aryo menjeda ucapannya. “Karena aku udah lihat kamu baik-baik aja, aku akan pulang. Ayah nggak ngizinin aku di sini lama-lama. Sejujurnya aku masih kangen sama kamu,” ucap Aryo gamblang.

Pria itu lantas mengambil jas abu-abunya yang ia sampirkan di kursi dan sedikit merapikan kemeja putihnya. Rambut Aryo nampak mulai memanjang di bagian depan dan hampir menyentuh mata dari terakhir kali Tiara melihatnya.

“Kamu istirahat ya, Ra. Aku pulang dulu,” Aryo menatapnya sekilas sebelum melangkah pergi dan menghilang di balik pintu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Khusus hari ini, Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukuman untuk Tiara adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo hanya ingin menikmati waktunya bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki profesional.

Candle Light Dinner

“Di resort dan pantai cuma akan ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan penutup setelah menyantap menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.

“Aku sewa pulau ini sepenuhnya, biar cuma ada kita,” terang Aryo.

Keduanya pun saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang otomatis menular pada Aryo.

“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara sambil menatap Aryo sangsi. Ia menebak bahwa makanan ini memiliki harga yang tidak di atas wajar.

“Bisa ditukar dengan satu kendaraaan roda dua,” jawab Aryo sambil terkekeh.

Tiara melongo mendengarnya. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tinggal tersisa setengah. Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.

The Golden Phoenix Cupcake

“Aryo, thank you for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum di bibir ranumnya.

I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat.

“Mungkin suatu hari kamu akan tau semuanya. Tapi aku mau kamu selalu ingat, perasaanku ke kamu nggak akan berubah.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diutarakan.

“Maksud kamu apa Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.

“Tiara, kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.

“Pembicaraan itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.

So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.

Yes. You’re already stuck in my mind. Always.

Mereka berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.

“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.

“Terus kamu mau aku ngapain?” tanya Aryo.

“Nggak tau. Pokoknya kamu nggak romantis,” Tiara menendang-nendangkan langkah kakinya ke pasir sambil menatap ke jalanan yang mereka lalui.

Tiara semakin merasa sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.

Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.

“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.

“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”

“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”

“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya kan romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.

Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.

“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya.

Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara tersebut membuat Aryo menurunkan posisi tangannya kembali menjadi posisi semula.

“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.

“Kalau gitu, suami juga harus romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.

Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal. Menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.

***

Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan masalah atau lari dari masalah tersebut. Aryo paham makna kalimat itu sekarang. Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada hal janggal tentang Tiara yang ia temukan sebelum mereka menikah. Mereka baru saja saling mengenal, terdapat banyak rintangan, dari menyatukan pikiran masing-masing hingga rahasia yang Aryo tahu Tiara masih menyimpan itu darinya.

Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia telah menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiara terhadapnya.

Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya dan mengulurkan tangannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar. Setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Situasinya pun berubah menjadi rumit, tapi Aryo justru memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat gadis itu mencintainya.

Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di halaman depan. Pria itu berjalan menuju kamar dan mencari keberadaan Tiara.

“Tiara?” panggilnya.

“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.

“Kenapa mandi malam-malam gini?” tanya Aryo dari depan pintu kamar mandi.

Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang mungkin membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.

Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.

Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandi setelah hampir 30 menit tidak ada tanda-tanda Tiara akan keluar dari sana.

“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara di sana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur coklat menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.

“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.

“Cuacanya lumayan panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.

Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya. “Masih marah?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo langsung tersenyum cerah.

“Masih sih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.

“Bukannya kita harus baikan? Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”

Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, lalu pria itu tersenyum sekilas. Entah berapa kali jantung Tiara berdebar hanya dengan menyaksikan senyum tersebut.

Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasananya nampak normal, tapi saat ini terasa sedikit berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.

Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.

“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang seketika membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.

Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran dengan jemari Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.

“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya di atas tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.

“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.

Tiara menatap Aryo sesaat. “Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?”

Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk yakin, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.

“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.”

Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara. “Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. I love you, Ra,” ucap Aryo dengan tulus.

Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.

You will be mine, tonight,” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman di dekapan pria itu.

***

“Aku mau tanya sesuatu, kamu jawab ya. Makanan apa yang paling kamu suka?” tanya Tiara.

“Hmm ... aku suka banyak makanan,” jawab Aryo sambil menyipitkan matanya. Ia pikir dirinya tidak terlalu pemilih kalau soal makanan.

“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya memberengut lucu. Aryo yang melihatnya pun menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.

“Oke, kalau cuma satu, aku pilih American food,” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat untuk mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.

“Banyak dong, curang kamu. Makanannya dong, bukan jenisnya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara meebarkan matanya dan menahan senyumnya.

Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.

“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.

“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”

“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kamu punya tempat impian yang mau kamu datengin?”

“Switzerland.”

“Kenapa Switzerland?”

Switzerland is like a paradise. It's such a beautiful place. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”

“Aku mau tahu lebih banyak tentang kamu,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.

Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku Tiara dan senyuman perempuan itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal kala menyaksikannya.

“Okee, kamu mau tanya apa lagi? Aku bisa jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.

“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”

“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena perceraian. Maksud kamu yang mana?”

“Perceraian, maybe.”

“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”

“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”

“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu. Aku nggak mau berpisah sama kamu.”

“Meskipun jalan yang harus dilaluin punya banyak duri yang bisa aja bikin kaki kamu berdarah?”

Aryo mengangguk. Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.

I want you to know. I’m who I am right now because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.

You are the reason, every hope and every dream I’ve had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.

“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap air mata di pipi Tiara setelah keduanya mengakhiri ciumannya.

“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku pergi sama mama ke dokter,” cerita Tiara.

“Oke. Mama punya ide apa lagi?”

“Cek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, jadi mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, Aryo junior akan segera hadir. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.

“Emang bisa secepat itu Ra?”

“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”

“Ya, Tuhan. Ramuan apa itu Tiara?” Kedua mata Aryo sukses melebar. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan tersebut begitu menguasai dan mendesaknya untuk menyentuh Tiara.

“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juga minum rumuannya. Tujuannya biar makin subur dan cepat jadi,” ucap Tiara dengan suara pelan. Perempuan itu lantas tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.

“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”

“Serius kamu mau?” tanya Tiara.

Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Menurut kamu gimana?”

***

Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa begitu berkesan bagi keduanya. Keduanya menikmati waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang menakjubkan ini.

Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang terlalu lama.

Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk ketika menyapa permukaan kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.

“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.

“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara membuatnya tampak tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.

“Aku kira kamu kode minta yang semalam diulang lagi.”

“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.

Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo.

Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup mumpuni untuk mereka melakukannya, mungkin sampai pagi hari tiba. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo.

Keduanya merasa sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintai Tiara, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.

Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.

“Aku nggak bisa cepet selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.

“Kita honeymoon-nya sebentar banget ya Ra,” ujar Aryo.

“Iya sih,” Tiara memasang wajah sedihnya. “Tapi bukannya hari pemilihan udah dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?” tanyanya memastikan.

“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?

I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau kerjanya udah selesai,” ujar Tiara.

Aryo pun mengulaskan senyumnya. Ia menghela tubuh Tiara, sehingga posisi mereka saat ini saling berhadapan.

“Iya. Aku akan langsung pulang,” ujar Aryo sembari mengulaskan senyumnya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping-keping, perlahan-lahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.

Namun tiba-tiba Tiara teringat satu hal, mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan Aryo tidak bisa selamanya menjadikan Tiara tempat untuk pulang.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon Felicia sebelum mereka berangkat. Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mah,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara mau minta maaf. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Nggak mau nunggu di mobil aja?” saran Tiara.

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Ketika Aryo baru masuk dan menghadap ke arah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak hal yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Yaudah gue turun dulu ya. Kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk turun, tapi Tiara menahan lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya, tapi terlihat bodoh disaat bersamaan. Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan yang tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, Aryo dan Tiara disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih. Selain itu alam cantik di sekitaran pantai nampak begitu menakjubkan, membuat pikiran terasa tenang dan rileks ketika memandangnya.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang dari sisinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan antusias. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, sambil menorehkan senyum jahil khasnya.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau begitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Atas alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membawa bencana indah ke dalam hidup saya, Nyonya Tiara,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Ra, I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menyelam ke iris legam Tiara. “I'm falling for you, Tiara,” Aryo mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me. I want to see your smile every day, and make you happy to be my side. I love you more than I can ever saying. Maaf, aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara mencerna semua kalimat yang Aryo utarakan, ia lantas menatap Aryo dengan tatapan harunya. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar merasa bahagia setiap waktu yang dijalaninya bersama Aryo. Momen tersebut akan selalu tersimpan di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

I will keep this happy moment with you in my memory,” Tiara mengangkat tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo. Aryo balas menatap Tiara penuh cinta, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap tangan Tiara yang masih berada di sisi wajahnya.

Tiara berpikir bahwa ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan pria ini. Meskipun saat itu Tiara belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tangan Tiara terangkat untuk menangkup kedua sisi wajah prianya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Aryo dengan tatapan sayangnya, “Thank you for loving me. You know, from the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

Tiara and Aryo at Beach

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara mengembang saat netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja putih yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian selatan. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang begitu luas. Ia dibuat terkagum-kagum dengan yang saat ini ada di hadapannya.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Di bagian utara ada tempat golf dan di sampingnya ada bar. Ada aula khusus untuk ngadain acara, kolam renang, arena bermain dengan tanah berpasir, jogging track yang luas, dan kebun. Kamu mau ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, lalu ia mengulaskan senyum bahagianya. “Terima kasih ya. Tempat ini lebih dari cukup dari yang aku inginkan.”

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising serta perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah keseluruhan area rumah yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang nampak tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah ketinggian 2000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 2000 kaki. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Mau dong,” jawab Tiara antusias. “ayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiara sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di pipi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu nampak gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu nggak perlu takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara mengulurkan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara dengan raut bahagianya. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasa bahagia. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tengah tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, “Ada-ada aja kamu, kepikiran kayak gitu,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

“Ohhh I see. Kalau gitu aku nggak perlu cemburu sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang aku buth mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main,” ujar Tiara.

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya. Ia tahu bahwa Aryo memiliki rival dan musuh yang akan selalu ada pihak yang kontra terhadap suaminya.

Aryo kemudian mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku bikin. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu muncul? Padahal kamu bisa aja nutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae juga lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk jadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be a better person since we met. Kamu membuat aku ingin coba mulai semuanya.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan. Drone itu berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya, setelah ia menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam, ia merasa beigut mengantuk karena pengaruh obat. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap Aryo yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju ke alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama, sehingga ia memintanya untuk berganti pakaian lebih dulu.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur untuk memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya dan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara mulai mencium Aryo lebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka saling mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka pun hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh wanitanya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin buat nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ungkap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga ya.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyumnya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu menawan.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya sih,” ucap Tiara. Ia merebahkan kepalanya di lengan Aryo, tampak begitu nyaman di sana. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membuat Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka saat ini.

“Suami kamu lah.” Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo. Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria paling beruntung karena telah memiliki Tiara dalam hidupnya.

Aryo kembali mencium bibirnya lebih dulu dengan begitu lembut, memindahkan posisi Tiara untuk berada di bawahnya. Aryo melepas satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara terlepas dan jatuh ke lantai.

Kali ini keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam waktu singkat, tapi tetap terasa begitu menakjubkan bagi keduanya.

Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil mem-pouty kan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk mata Tiara dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang siap meluncur itu, tapi dengan cepat perempuan itu menyekanya lebih dulu.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Aryo mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu dengan bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan cantik kayak kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, serta bibir penuh yang berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau punya mata sipit kayak kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Pasti lucu ya Ra kalau anak kita punya mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, akan tetap terlihat bagus,” ujar Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang sudah Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun dalam kondisi tertidur.

Tiara memperhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di pipinya.

Tiara memandang mata Aryo yang terpejam dan detik setelahnya Aryo kembali menciumi wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi. Bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin nyenyak, “You have to know, that everything will happen in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum akhirnya menyematkan kecupan tulus di pipi suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Senyum Tiara mengembang saat netranya menangkap pemandangan di hadapannya. Tatapannya turun pada tangannya yang digenggam oleh tangan Aryo. Hari ini mereka menggunakan pakaian berwarna senada. Aryo mengenakan kemeja putih yang bagian lengannya di gulung sampai siku dan chino pants berwarna coklat. Tiara mengenakan kemeja putih yang dilapisi jaket kulit coklat yang senada dengan chino pants yang di pakai Aryo.

Gucci black rayban yang digunakan Aryo dan Tiara menciptakan kesan elegan namun tetap terlihat simple. Bagaikan raja dan ratu, mereka dikawal dan disambut oleh para bodyguard di bagian selatan. Tiara memang belum mengetahui setiap bagian dari rumah ini yang memang begitu luas. Ia dibuat terkagum-kagum dengan yang saat ini berada di hadapannya.

Setelah sekitar lima menit menaiki sebuah white club car, mereka sampai di lapangan lepas landas dengan sisi kanan dan kirinya terdapat hamparan rumput hijau yang di pangkas rapih dan pendek. Terdapat taman kecil yang ditumbuhi bunga lily berwarna pink dan ungu di sisi utara helly pad. Setelah diberikan pengarahan tentang kegiatan penerbangan yang akan Aryo dan Tiara lakukan, mereka diantar menuju sebuah helikopter yang sudah siap untuk lepas landas.

“Tempat ini punya apa lagi yang aku nggak tau?” tanya Tiara pada Aryo.

“Di bagian utara ada tempat golf dan di sampingnya ada bar. Ada aula khusus untuk ngadain acara, kolam renang, arena bermain dengan tanah berpasir, jogging track yang luas, dan kebun. Kamu mau ada apa lagi? Aku bisa buatin,” ujar Aryo.

Tiara menatap Aryo, lalu ia mengulaskan senyum bahagianya. “Terima kasih ya. Tempat ini lebih dari cukup dari yang aku inginkan.”

Sekitar 5 menit kemudian, helikopter yang mereka tumpangi memulai lepas landasnya. Kegiatan itu menciptakan suara yang bising serta perasaan yang mendebarkan bagi keduanya. Pemandangan yang dapat dilihat Tiara saat ini adalah keseluruhan area rumah yang begitu luas. Tiara nampak antusias dan sama sekali tidak merasakan pusing atau mual, padahal baru pertama kali ia naik helikopter. Berbeda dengan Aryo yang hanya menatap istrinya yang terlihat bahagia dengan jemari mereka yang saling tertaut.

“Kamu nggak papa?” Tiara terlihat khawatir pada Aryo yang nampak tidak terlalu antusias.

“Aku kurang suka ketinggian.”

“Terus kenapa ajak aku naik ini? Kita terbangnya sebentar aja. Lagian aku udah puas,” ucap Tiara.

Aryo menghela pinggang ramping Tiara agar tubuh mereka menempel. Kemudian ia memeluk tubuh Tiara persis seperti anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.

“Lebih baik kalau sambil meluk kamu,” ucap Aryo.

“Kapan kita akan turun?” tanya Tiara.

“Setelah 1.000 kaki.” Aryo menengadahan kepalanya untuk menatap paras istrinya. Tiara mengulaskan senyumnya, tangannya bergerak membenarkan posisi kacamata rayban hitam yang sedikit turun dipangkal hidung Aryo.

Beberapa saat kemudian, pilot helikopter memberi tahu bahwa mereka sudah berada di ketinggian 1000 ft. Pemandangan siang hari menuju sore dengan langit biru dan awan putih yang nampak seperti lukisan, telah melengkapi suasana indah bagi dua insan yang sedang memadu kasih itu.

“Habis ini mau berkuda?” tanya Aryo.

“Mau dong,” jawab Tiara antusias. “ayaknya kamu bisa ngelakuin apa aja deh,” ujar Tiara sambil tertawa pelan.

“Emang. Aku bisa ngelakuin apa aja buat kamu.” Aryo memberikan sebuah kecupan lembut di pipi Tiara.

***

Seekor kuda thoroughbred dengan kulit coklat dan tail berwarna kuning keemasan yang terkenal dari Amerika Selatan itu, dipilih oleh Aryo untuk ditungganginya hari ini. Kuda itu nampak gagah dan berotot dengan tinggi mencapai 165 centi. Salah satu petugas membawa kuda tersebut kehadapan Aryo dan Tiara, setelah keduanya memakai perlengkapan keamanan untuk berkuda.

Aryo membantunya naik terlebih dahulu, lalu pria itu menyusul untuk berada di belakangnya. Tiara berusaha membuat tubuhnya rileks karena ini pertama kali ia menaiki kuda pacu.

“Aku akan peluk kamu, Tiara. Kamu nggak perlu takut, oke?” bisik Aryo di samping wajahnya seolah pria itu tahu sekali ketakutan Tiara.

“Oke,” jawab Tiara.

Jantung Tiara berdebar hebat di dalam sana ketika Aryo mulai memacu kudanya. Debaran ini adalah jenis debaran yang mengangumkan. Aryo menunggangi kudanya seperti seorang yang sangat profesional, hanya dengan satu tangan karena satu tangannya lagi memeluk pinggang Tiara.

Helaian rambut Tiara yang terlepas dari ponytail-nya, menyapa kulit wajahnya. Tiara mengulurkan satu tangannya ke udara, dan satunya lagi berada di atas tangan Aryo yang memeluk pinggangnya.

Setelah mendapat dua putaran, Aryo berhenti memacu kudanya. Aryo turun lebih dulu, lalu tangannya terulur untuk membantu Tiara turun.

“Gimana? Kamu suka?” tanya Aryo pada Tiara setelah pria itu selesai melepas peralatannya.

“Suka banget. Makasih ya,” ucap Tiara dengan raut bahagianya. Kemudian dengan sedikit berjinjit, Tiara memberikan kecupan di pipi Aryo.

Pemandangan tersebut disaksikan oleh para petugas dan bodyguard yang ada di sana. Momen itu sungguh terlihat romantis dan yang menyaksikannya ikut merasa bahagia. Para bodyguard berusaha memasang tampang netral ketika kedapatan oleh Tiara bahwa mereka tengah tersenyum.

“Mereka kayak nggak terbiasa ngeliatnya,” ucap Tiara sedikit berbisik pada Aryo.

“Maksud kamu?”

“Apa sebelumnya mereka memang nggak pernah ngeliat langsung?” Aryo dan Tiara berjalan bersisian menuju area parkir white club car yang sebelumnya membawa mereka ke sini.

Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan sayang, “Ada-ada aja kamu, kepikiran kayak gitu,” ucap Aryo diiringi kekehannya.

“Ohhh I see. Kalau gitu aku nggak perlu cemburu sama mantan-mantan kamu.”

“Dulu aku cuma punya beberapa bodyguard. Sekarang aku buth mereka lebih banyak,” jelas Aryo.

“Jadi kamu pernah berkuda sama salah satu mantan kamu?” tanya Tiara.

“Pernah. Kamu cemburu?”

“Enggak sih. Lagian kan cuma naik kuda. Itu biasa. Kalau cuma itu, aku nggak cemburu,” ucap Tiara.

“Kalau dulu kan cuma pacaran, jadi nggak butuh bodyguard. Sekarang butuh. Aku nggak mau kamu sampai kenapa-napa,” ungkap Aryo.

Langkah Tiara berhenti mendadak dan otomatis membuat langkah Aryo berhenti juga.

“Mama ngasih tau aku alasan kamu nggak ingin cepat-cepat nikah. Mama pikir kamu belum siap dan masih mau main-main,” ujar Tiara.

“Itu juga salah satu alasan aku. Tapi aku punya alasan lain untuk nggak nikah cepat,” terang Aryo.

“Kamu takut perempuan yang kamu nikahi akan berada dalam bahaya karena menikah sama kamu?” ucap Tiara mengungkapkan asumsinya. Ia tahu bahwa Aryo memiliki rival dan musuh yang akan selalu ada pihak yang kontra terhadap suaminya.

Aryo kemudian mengangguk dan Tiara agak terkejut sebenarnya bahwa tebakannya benar.

“Awal pernikahan kita, aku nggak tahu cara ngelindungin kamu. Aku buat kamu ngerasa asing dan tertekan dengan peraturan yang aku bikin. Maafin aku Ra, tapi aku nggak punya cara lain,” ujar Aryo.

“Terus kenapa kamu milih nikahin aku setelah skandal itu muncul? Padahal kamu bisa aja nutup skandal itu dengan bantuan pengacara. Ohya, aku pikir Aurorae juga lebih sempurna ketimbang aku,” ungkap Tiara.

“Menikah bukan tentang untuk jadi sempurna, Tiara. Menikah tentang bersama siapa kamu ingin menghabiskan hidup kamu. Kamu bisa membuat orang yang menikah dengan kamu menjadi lebih baik, begitu juga sebaliknya. You made me want to be a better person since we met. Kamu membuat aku ingin coba mulai semuanya.”

Tiara tertegun mendengar penuturan Aryo tersebut. Tidak sampai hitungan 5 detik kemudian, matanya menangkap sebuah drone yang terbang di udara dan nampak mencurigakan. Drone itu berada tepat dibelakang suaminya. Sebuah insting kuat membuat Tiara bergerak untuk menghalangi drone yang mendekati Aryo dengan membalikkan posisi mereka. Detik berikutnya, suara tembakan terdengar sangat keras di udara tepat saat Tiara mendapatkan Aryo di dekapannya.

Aryo tidak merasakan sakit apapun, begitu juga dengan Tiara. Namun dengan sigap Aryo mengerahkan bodyguard-nya untuk mencari penembak tersebut, karena besar kemungkinan pergerakan pelaku masih belum terlalu jauh. Aryo memastikan keadaan Tiara, perempuan itu terlihat syok atas kejadian yang baru saja terjadi.

“Tiara, kamu berdarah,” Aryo mendapati darah di tangannya, setelah ia menyibakkan rambut panjang Tiara yang menutupi bagian tengkuknya.

***

Tiara memejamkan matanya saat lukanya di obati oleh tenaga medis yang segera di datangkan. Beruntungnya peluru tersebut tidak menembus ke dalam tubuhnya, hanya melewati kulitnya kemudian melesat. Namun gesekan peluru itu meninggalkan luka kecil di tengkuknya. Tiara diberi obat supaya ia dapat tenang dari perasaan syok yang dialaminya.

“Aryo,” panggil Tiara dengan matanya yang masih terpejam, ia merasa beigut mengantuk karena pengaruh obat. Tiara belum sepenuhnya tertidur, ia merasakan tangannya digenggam oleh sesuatu yang hangat.

Tiara berusaha untuk membuka matanya. Ketika matanya terbuka, ia langsung menangkap Aryo yang sedang menggenggam tangannya. Tiara mengeratkan genggaman tangannya di tangan Aryo, lalu kembali memejamkan matanya. Sebuah usapan lembut di kepalanya membuat Tiara merasa nyaman dan semakin mudah untuk menuju ke alam mimpinya.

***

Ketika Aryo kembali ke kamar, ia mendapati Tiara sudah terbangun dari tidurnya. Wajah perempuan itu masih sayu dan sedikit memerah. Aryo menaruh punggung tangannya di kening Tiara dan merasakan sedikit hawa hangat di sana.

Everything is oke? How do you feel?” tanya Aryo.

I feel better now,” jawab Tiara.

Tiara memerhatikan Aryo masih mengenakan stelan yang sama, sehingga ia memintanya untuk berganti pakaian lebih dulu.

Don’t leave me,” ucap Tiara ketika Aryo kembali dari walk in closet dengan penampilannya yang sudah lebih santai.

I’m not gonna leave you.” Aryo mengambil tempat di tepi kasur dan Tiara langsung menghambur untuk memeluk torsonya.

Beberapa detik kemudian, Tiara mengurai pelukannya dan menatap Aryo ke dalam matanya. “I want you, right now,” setelah mengucapkannya, Tiara mulai mencium Aryo lebih dulu. Sebuah kecupan yang lembut, tapi terasa sedikit menuntut dan dipenuhi oleh gairah. Aryo merasakan Tiara menyesap bibir bagian bawahnya cukup kencang selama mereka saling mencumbu.

Aryo menghela tengkuk Tiara untuk mempermudah membalas ciuman wanitanya. Pergerakan tersebut semakin intens, hingga sukses menghadirkan perasaan mendebarkan yang luar biasa.

Tangan Tiara dengan lihai meremas rambut di bagian belakang kepala Aryo, memberi perintah tersirat supaya Aryo memperdalam ciumannya. Aryo pun memperdalam ciumannya, bibirnya sepenuhnya melahap bibir mungil Tiara.

Ciuman itu perlahan terlepas dan jarak wajah mereka pun hanya tersisa sekitar dua centi. Tatapan Aryo turun pada gaun tidur berwarna hitam berbahan silk yang digunakan Tiara—yang bagian dadanya cukup rendah.

Aryo menurunkan tali spaghetti gaun tidur tersebut dari bahu Tiara, sehingga gaun itu sempurna lolos hingga setengah bagian tubuh wanitanya.

“Aryo, apa kamu bahagia mutusin buat nikah sama aku?” tanya Tiara.

Aryo menatapnya penuh afeksi, “Aku bahagia, Tiara. Keputusanku menikah sama kamu adalah keputusan terindah dalam hidup aku,” ungkap Aryo.

Tiara menyunggingkan senyumnya dan otomatis menular pada Aryo. Selanjutnya Aryo bergerak untuk membaringkan Tiara ke ranjang. Tiara menunggu yang terjadi dengan gugup. Meskipun ini bukan pertama kali mereka melakukannya, tapi suaminya itu terlihat berbeda dari sebelumnya.

“Sayang, kali ini pelan aja ya?” pinta Tiara dengan menunjukkan puppy eyes-nya. Aryo telah menanggalkan kaus abu-abunya, sehingga Tiara dapat melihat pahatan sempurna otot tubuh dan perut six pack milik suaminya.

“Kenapa?” bisik Aryo di dekatnya dengan suara sensualnya.

Tiara mengerucutkan bibirnya. Aryo justru gemas melihat ekspresi itu. Ia lantas memberikan ciuman bertubi pada pipi Tiara yang gembil.

“Pipi aku sampai basah Aryo, astaga!” Tiara mengusap pipinya yang menjadi lembab karena ulah suaminya itu.

“Kamu tau, Ra. Kamu nggak perlu cemburu sama mantan-mantan aku. Karena kamu yang akan jadi ibu dari anak-anak aku nanti. Kamu yang akan merawat dan menyayangi mereka. Ohiya, jangan lupa tetap sayang sama aku juga ya.” Pria bermata sipit itu memamerkan senyumnya sampai membentuk dua buah eye smile yang begitu menawan.

“Ini yang ngomong suami aku atau buaya sih,” ucap Tiara. Ia merebahkan kepalanya di lengan Aryo, tampak begitu nyaman di sana. Aryo memeluk tubuhnya dari samping, membuat Tiara jadi terlihat mungil dengan posisi mereka saat ini.

“Suami kamu lah.” Tiara pun tertawa mendengar jawaban Aryo. Kemudian tatapan keduanya bertemu pada satu titik. Mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar ketika menatapnya, membuat Aryo merasa menjadi pria paling beruntung karena telah memiliki Tiara dalam hidupnya.

Aryo kembali mencium bibirnya lebih dulu dengan begitu lembut, memindahkan posisi Tiara untuk berada di bawahnya. Aryo melepas satu persatu pakaian yang tersisa di tubuh Tiara terlepas dan jatuh ke lantai.

Kali ini keduanya sama-sama mencapai puncak lebih cepat setelah sebuah pemanasan yang terjadi dalam waktu singkat, tapi tetap terasa begitu menakjubkan bagi keduanya.

Tiara melantunkan nama Aryo ketika semakin jauh dan dalam mereka bersatu. Tiara dapat merasakan milik Aryo sudah sepenuhnya berada dalam dirinya, kemudian Aryo menggerakkan pinggulnya dengan gerakan maju mundur dan dengan tempo yang lumayan cepat.

“Udah pelan kan, Sayang?” tanya Aryo.

“Apaan, kamu mah,” ringis Tiara sambil mem-pouty kan bibirnya.

“Ini pelan, Sayang.”

Aryo mengecup bibir ranum Tiara, lalu menghentakkan miliknya lagi cukup kuat dan mengeluarkan seluruh cairannya di dalam diri Tiara. Tiara merasa bagian bawahnya kini penuh, lembab, dan terasa begitu ngilu.

“Terima kasih, Ra,” ucap Aryo sambil membelai kepala Tiara yang sudah dibanjiri oleh peluh.

Aryo berbaring di samping Tiara dan menghela pinggang ramping wanitanya agar mendekat padanya.

“Aryo,” gumam Tiara pelan.

“Kenapa Sayang?”

You know, after i fell in love with you, I’m so in loved with my life,” ucap Tiara ketika ia berhasil mengatur kembali napasnya. Sebuah titik bening berada di pelupuk mata Tiara dan seperti ingin segera jatuh. Aryo sadar akan air mata Tiara yang siap meluncur itu, tapi dengan cepat perempuan itu menyekanya lebih dulu.

Tiara bergerak memeluk tubuh kekar prianya lebih dulu, ia mencari kehangatan di sana. Tiara mendongakkan kepalanya, menemukan wajah tampan surgawi milik Aryo yang juga sedang menatapnya dengan tatapan lembut. Aryo mengerucutkan bibirnya yang kemudian sengaja semakin di majukan agar bertemu dengan bibir Tiara. Sebelum bibir Aryo mendarat, Tiara lebih dulu menjemputnya dan mempersatukan belah bibir mereka.

Saat ciuman mereka terlepas, Aryo menatapnya dan mengusap kepala Tiara dengan sayang, “Ra, kalau kita punya anak perempuan, dia pasti akan cantik kayak kamu,” ucap Aryo sambil memerhatikan setiap seluk wajah cantik istrinya. Kedua mata bulat dengan iris coklat gelap, hidung mancung, kulit yang putih, serta bibir penuh yang berwarna pink alami.

“Aku juga bayangin dia akan lucu banget kalau punya mata sipit kayak kamu. Your eye smile is worth more than anything in this world,” ucap Tiara sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“You like my eyes?” tanya Aryo.

Totally. These eyes are so beautiful,” ujar Tiara sambil memerhatikan kedua pasang mata milik Aryo.

“Pasti lucu ya Ra kalau anak kita punya mata ini,” Aryo menunjuk matanya. “Gimana bibirnya? Kayaknya kalau dapat bibir kamu, mau dia cowok atau cewek, akan tetap terlihat bagus,” ujar Aryo lantas mendekap tubuh Tiara lebih erat. Namun Tiara belum berniat untuk memejamkan matanya seperti yang sudah Aryo lakukan. Perempuan itu justru menatapi wajah tertidur Aryo yang tetap terlihat tampan meskipun dalam kondisi tertidur.

Tiara memperhatikan setiap detail yang terpahat tanpa celah itu, ia mengulaskan senyumnya dan tanpa ia sangka, air matanya meluncur mulus di pipinya.

Tiara memandang mata Aryo yang terpejam dan detik setelahnya Aryo kembali menciumi wajahnya. Aryo memberikannya ciuman bertubi-tubi. Sebuah bunyi kecupan yang indah pun terdengar di kamar itu, membuat Tiara seketika mengulaskan senyumnya.

Tiara mengusapi sisi wajah Aryo untuk membuat tidurnya semakin nyenyak, “You have to know, that everything will happen in future, I will always love you like this. I’m crazy over you,” bisik Tiara sebelum akhirnya menyematkan kecupan tulus di pipi suaminya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Kedatangan Aryo ke acara keluarga besar mengundang tanya para anggota keluarga karena ia datang ke sana sendiri. Aryo tidak berniat menjelaskan apapun mengenai istrinya dan pernikahannya. Acara malam ini dilaksanakan untuk merayakan pengangkatan resmi presiden direktur Haraapan Jaya Group yang baru. Saat Aryo mengambil segelas minuman soda di meja, Prawira Brodjohujodyo datang menghampirinya.

“Aryo, selamat ya, atas jabatan kamu yang baru. Kamu pantas mendapatkannya,” ucap Prawira Brodjohujodyo diiringi sebuah senyum di wajahnya.

“Terima kasih, Eyang,” balas Aryo sopan.

Prawira menatap cucunya dan menepuk pundaknya. “Sekarang perusahaan berada di kedua pundak kamu. Eyang harap kamu bisa menjadi pemimpin yang bijak dan adil.”

Aryo pun mengangguk, “Ohiya Eyang, Aryo boleh menyampaikan satu hal?”

“Tentu. Kamu boleh mengatakannya.”

“Soal menjadi pemimpin yang bijak dan adil, Aryo masih perlu banyak belajar,” ujar Aryo sambil menatap sosok yang baru saja menghampiri mereka.

Prawira pun menoleh dan mendapati salah satu putranya bergabung dengannya dan Aryo.

“Mungkin Om Reynaldi bisa bantu Aryo. Aryo akan belajar lebih banyak lagi dari beliau,” ucap Aryo sebelum meneguk minuman dari gelasnya.

“Kamu benar. Kamu bisa belajar banyak dari Reynaldi. Dulu saat Reynaldi memimpin perusahaan, Harapan Jaya mengalami masa gemilangnya. Mungkin Eyang belum bisa bersikap adil terhadap keluarga sendiri, tapi Eyang percaya kamu dapat melakukannya, Aryo. Kamu dan El, kalian cucu Eyang yang sama-sama hebat. Kalian sudah melakukan yang terbaik sampai hari ini,” tutur Prawira.

“Aryo, selamat atas jabatan kamu yang baru. Om ikut senang, meskipun Om dan Eyang memberikan suara kami pada El. Tapi Om yakin, kamu bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita,” ujar Reynaldi sambil menatap Aryo, lalu pria itu tersenyum sekilas.

Aryo mengangguk, “Terima kasih Om. Om sudah mengajarkan banyak hal yang berharga untuk Aryo.”

***

Tiara mendapati ponselnya berdering ketika ia kembali dari kamar mandi. Tiara tidak langsung mengangkat panggilan tersebut ketika membaca ID call di layar ponselnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu ia menggeser layar ponselnya ke tanda hijau.

“Halo?” sapanya.

“Tiara,” sapa balik suara yang sangat fameliar itu.

Tiara menahan isakan yang ingin lolos dari bibirnya kala mendengar suara yang amat dirindukannya itu.

“Boleh aku ketemu kamu?” Aryo kembali berbicara di telepon ketika Tiara tidak mengatakan apapun.

“Malam-malam gini?”

“Iya. Aku harus ngasih tau kamu sesuatu yang penting.”

“Oke. Aku juga mau ngasih tau kamu sesuatu,” balas Tiara.

Setelah itu sambungan pun diakhiri. Tiara mengambil sesuatu dilaci nakas samping tempat tidurnya. Benda itu adalah sebuah amplop yang akan ia berikan kepada Aryo.

***

Aryo datang ke rumahnya dan meminta izin menemui Tiara kepada Ayah dan Bunda. Andi dan Alifia memberikan mereka izin untuk bertemu dan berbicara berdua.

“Gimana pun kalian masih suami istri. Ayah sama Bunda nggak punya hak melarang Aryo menemui istrinya,” ucap Andi sebelum membiarkan Aryo dan Tiara bicara berdua di ruang tamu.

Suasana malam hari di rumah Tiara sudah sepi karena kedua adiknya sudah tidur. Untung saja Kelvin tidak mendapati Aryo datang ke rumahnya. Adiknya itu kerap kali menanyakan soal Aryo dan alasan kenapa kakaknya kembali ke rumah bukannya tinggal bersama pria itu.

“Aku juga mau bilang sesuatu. Tapi kamu bisa duluan,” ujar Tiara membuka percakapan.

Aryo menatapnya dan pria itu sedikit berdeham sebelum berbicara. “Tiara, aku nggak ingin kita berpisah. Aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Aku tahu, kata maaf sebanyak apapun nggak akan pernah cukup untuk mengganti yang terjadi sebelas tahun lalu,” Aryo menjeda ucapannya.

“Semua yang udah kita lewatin, membuat aku punya satu tujuan, yaitu membahagiakan kamu. Aku akan berjuang untuk mengungkap kasus itu, Ra. Aku ingin ayah kamu mendapat keadilan itu.”

“Kamu mau ngelakuin apa?” tanya Tiara mencoba mencerna kalimat yang Aryo utarakan.

“Aku mau orang yang ngelakuin perbuatan itu mendapat balasan yang setimpal.”

Mata Tiara melebar dan ia menatap Aryo seolah omongan pria itu adalah lelucon. “Kamu tau, itu terlalu bahaya dan resikonya besar, Aryo. Kamu nggak bisa ngelawan keluarga kamu sendiri,” ucap Tiara dengan tatapan seriusnya.

“Aku ngelakuin ini sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami kamu, Tiara. Aku nggak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia ninggalin luka buat kamu.” Aryo mengambil kedua tangan Tiara untuk digenggam dengan tangannya.

“Kamu orang paling keras kepala yang aku tahu,” ucap Tiara.

“Aku tau, Ra,” Aryo menundukkan pandangannya. Sesaat kemudian, Aryo kembali menatap Tiara. “Ohiya, kamu mau ngomong apa ke aku? Aku udah selesai, dan aku harap kamu akan mendukung rencanaku.”

Tiara lantas menaruh sebuah amplop putih diatas meja. Aryo melihat benda itu dan melemparkan tatapan tanya pada Tiara.

“Gimana pun keadaan kita sekarang, kamu harus tetap tau soal ini,” ucap Tiara sebelum Aryo membuka amplop ditangannya dan mengambil kertas yang ada di dalam.

Aryo mulai membaca dengan seksama. Surat itu menyatakan hasil pemeriksaan kandungan atas nama Ny. Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo yang berasal dari rumah sakit. Setelah membaca isinya, Aryo meletakkan kertas tersebut di atas meja. Tiara pun mendapati tatapan terkejut bercampur haru yang Aryo tujukan padanya.

“Se-sejak kapan Ra?” tanya Aryo dengan sedikit terbata dan pandangannya yang berkaca-kaca.

“Kata dokter usianya baru 2 minggu. Waktu diperiksa, kondisinya sehat dan semuanya bagus,” jelas Tiara.

Tiara menatap Aryo dan tersenyum lembut, “Selamat ya. Kamu akan jadi seorang Ayah.”

Aryo nampak terkejut dan berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Tiara. “Ra, ini beneran kan?” tanya Aryo ingin memastikan dan Tiara langsung mengangguk.

Aryo menghembuskan napasnya, “Apa dia bikin kamu repot selama ini?” tanya Aryo.

“Sedikit sih. Dokter bilang itu hal yang wajar waktu awal kehamilan,” papar Tiara.

Aryo bergerak dari posisinya, ia lantas berlutut di lantai, lalu berbicara di dekat perut Tiara.

Hello, little one. Terima kasih yaa, kamu udah hadir di antara kita. Kamu harus tau, kita sayang banget sama kamu. Kamu sayang juga sama ibu, kan? Kalau gitu, jangan buat ibu terlalu cape ya. Kamu anak hebat, kan?” Aryo mengulaskan senyum bahagia bercampur harunya. Dadanya terasa berdesir hangat dan ia tidak dapat membendung air matanya lagi.

Tiara menyaksikan pertama kalinya Aryo menangis di hadapannya. Tiara merasakan dadanya berdegup dan berdesir hingga menimbulkan rona kemerahan di kedua belah pipinya.

This is such a best gift for me. Terima kasih Ra,” ungkap Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon Felicia sebelum mereka berangkat. Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mah,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan Mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara mau minta maaf. Kita udah buat Mama dan papa nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya. “Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo berjalan mendekati Tiara. “Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Nggak mau nunggu di mobil aja?” saran Tiara.

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Ketika Aryo baru masuk dan menghadap ke arah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak hal yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara dan Aryo pun nampak bingung.

“Yaudah gue turun dulu ya. Kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk turun, tapi Tiara menahan lengannya.

Tidak sampai dua detik setelahnya, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang, kedua mata mereka pun saling bertemu. Setelah sebuah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya, tapi terlihat bodoh disaat bersamaan. Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class. Perjalanan yang cukup menguras tenaga tersebut terbayarkan dengan pemandangan yang tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara.

Ketika menginjakkan kaki di Alimatha, salah satu pulau tercantik di Maldives, Aryo dan Tiara disambut oleh pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih. Selain itu alam cantik di sekitaran pantai nampak begitu menakjubkan, membuat pikiran terasa tenang dan rileks ketika memandangnya.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Tiara memperhatikan penampilan Aryo yang nampak berkali lipat lebih tampan dengan stelan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mendapati Tiara menghilang dari sisinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci dan ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ujar Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari mana gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggodanya pada Tiara. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas resort untuk menemukan keberadaan istrinya itu.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum dan ia mengangguk dengan antusias. Aryo mengikuti Tiara yang berjalan menyusuri pantai dan gadis itu mempercepat langkahnya. Tiara menoleh dan menjulurkan tangannya ke belakang, sambil menorehkan senyum jahil khasnya.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan guna mengalahkan deru ombak yang mengajak suaranya beradu.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya. “Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau begitu, Anda akan mendapatkan hukuman, Nyonya.”

Lengan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Atas alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Alasannya karena Anda telah membawa bencana indah ke dalam hidup saya, Nyonya Tiara,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu otomatis mengulaskan senyumnya.

“Ra, I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menyelam ke iris legam Tiara. “I'm falling for you, Tiara,” Aryo mengulaskan senyumnya hingga dua buah eye smile tercetak di wajahnya. “I want you to stay with me. I want to see your smile every day, and make you happy to be my side. I love you more than I can ever saying. Maaf, aku baru ngasih tau kamu soal perasaanku.”

Tiara mencerna semua kalimat yang Aryo utarakan, ia lantas menatap Aryo dengan tatapan harunya. Ia mengatakan bahwa dirinya benar-benar merasa bahagia setiap waktu yang dijalaninya bersama Aryo. Momen tersebut akan selalu tersimpan di dalam memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini.

I will keep this happy moment with you in my memory,” Tiara mengangkat tangannya untuk mengusap sisi wajah Aryo. Aryo balas menatap Tiara penuh cinta, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap tangan Tiara yang masih berada di sisi wajahnya.

Tiara berpikir bahwa ia sudah jatuh cinta pada Aryo sejak tangannya terulur dan menyebutkan namanya di hadapan pria ini. Meskipun saat itu Tiara belum yakin terhadap perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan berharap akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir pun menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang terpaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo,” Tiara menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Aryo dengan tatapan sayangnya, “Thank you for loving me. You know, from the day we met, I started fell in love with you. I don't have any idea with that, but that is the truth.

Tiara and Aryo at Beach

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika ada perempuan lain mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahan untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri sejak di stasiun, tapi sekarang ia tidak bisa menahannya lagi.

Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.

Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu berhubungan langsung dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.

Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan keluar untuk mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain karena kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu, kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan tenaga.

Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.

“Lagi cari apa?”

Tiara lantas menoleh ke arah sebuah suara yang menyapanya ketika ia baru akan menekan tombol lift.

“Cari suami gue,” ucap Tiara pada Aurorae.

“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu,” ujar Aurorae lagi.

“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”

“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae melipat kedua lengannya di depan dada.

“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah jadi suami orang, hmm?”

Tiara menorehkan senyumnya sekilas, lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.

“Lepas,” ucap Tiara.

“Lo harus tahu satu hal yang akan buat kamu terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”

Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia berusaha menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.

Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.

“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak percayanya.

“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan di sini.

“Ohh, dia penting banget ya buat lo?” tanya Tiara.

Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.

“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.

***

Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.

Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada di sana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.

“Udah ada info soal Tiara?” tanya Aryo pada Rama.

Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.

***

Aryo menghembuskan nafasnya sambil menatap pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah. Beberapa waktu lalu Aryo memang sudah mengganti akses masuk rumahnya, sehingga Tiara bisa mengaksesnya sendiri menggunakan visualnya.

“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.

Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan, ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.

“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.

“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi honeymoon sejak awal kita nikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja,” jelas Aryo.

Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.

“Gue nggak mau buat semuanya jadi semakin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga juga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah secepatnya. Keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, lo buka dulu pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintu sudah terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan kondisi Tiara yang nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.

“Ra, are you okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.

“Gue cuma demam,” ujar Tiara.

Aryo mengarahkan punggung tangannya untuk menyentuh kening Tiara.

“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.

“Lo emang harus cepat sembuh, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.

“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”

“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue yang kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinya ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung dimana letak kesalahan Aryo. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo, pria yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwa itu kesalahan Aryo.

“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun caranya,” sambung Aryo.

“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.

“Lo bisa kasih tau gue, apapun itu.”

“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh. Ohiya, gue juga mau lego disney yang unlimited edition itu.”

***

Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat yang cukup. Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.

“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya, memberi obat untuk Tiara, serta menemaninya menyusun lego disney baru yang seketika mencipatakan raut bahagia di paras Tiara.

“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.

“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.

“Berarti nanti dimaafin?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi tidak lama setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.

“Tadinya gue merasa egois banget karena mau lo lebih perhatian ke gue. Tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Ohh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.

Kesalapahaman di antara mereka akhirnya clear. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa yang terjadi adalah pembelajaran agar mereka lebih baik lagi kedepannya.

“Kita jadi pergi honeymoon, kan?” tanya Tiara sambil menatap Aryo lekat. Mata bulat gadis itu terlihat berbinar dan Aryo selalu suka menatap kedua mata indah itu.

“Lo belum sembuh total, Tiara,” ujar Aryo.

“Gue udah sembuh, Aryo. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue.” Tiara sengaja menatap Aryo dengan seksama hingga membuat Aryo salah tingkah.

“Oke, lusa kita ke Maldives. Atau lo mau kita kemana?”

“Maldives sounds good. Gue suka banget sama pantai.” Tiara tersenyum semringah hingga menampakkan deretan gigi depannya yang rapih.

Aryo memerhatikan Tiara yang masih fokus dengan legonya, padahal ia sendiri sudah merasa mengantuk. “Lo mau tidur jam berapa? Liat, ini udah jam dua belas. Besok lagi ya, nyusun legonya? Sekarang tidur dulu,” bujuk Aryo pada Tiara yang masih terlihat bersemangat menyusun perintalan mainannya yang jumlahnya tidak sedikit itu.

“Oke. Nyusun lego bisa di lanjutin besok. Yang penting kita jadi pergi ke Maldives.” Tiara langsung merapikan mainan barunya ke dalam boks dan meletakkannya di sudut kamar.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara mendapati Rama-lah yang menemuinya setelah ia menunggu hampir tiga puluh menit di lobi hotel. Rama mengutarakan permintaan maafnya karena telah membuat Tiara menunggu cukup lama.

“Rama, boleh gue tau dimana suami gue?” tanya Tiara pada Rama ketika mereka menaiki lift. Rama mengatakan Tiara bisa menunggu di kamar hotel sampai Aryo datang menemuinya.

“Pak Bos lagi tinjauan lokasi sama—”

“Aurorae?”

“Benar, Bu Bos. Pak Bos lagi tinjauan sama Mbak Aurorae dan timnya.”

“Kira-kira selesai jam berapa?”

“Kalau soal itu, tadi Bos bilang diusahain secepatnya.”

Tiara lantas mengulaskan senyum semringahnya mendengar jawaban Rama.

***

Aryo berpikir bahwa istrinya itu memang ajaib dan seperti tidak kehabisan akal. Satu malam keberadaannya di Lembang, ia mendapat sebuah kabar dari pihak hotel bahwa seorang wanita bernama Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo ingin menemuinya.

Sementara tadi siang Aryo masih harus melakukan tinjauan project yang berada di bawah tanggung jawabnya. Aryo terjebak macet di jalanan kota Lembang ketika perjalanan pulang. Tiba-tiba ia jadi teringat pembicaraannya dengan Aurorae tadi siang.

“Kamu kenapa sih seharian ini?” tanya Aurorae yang melihat gelagat Aryo yang berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat memikirkan hal lain sehingga beberapa kali Aurorae mendapati Aryo kurang fokus.

“Emangnya aku kenapa?” tanya Aryo.

“Kayak bukan kamu aja. Karena istri kamu? Udah aku bilang, lebih baik kamu nggak nikah sama dia.”

“Ini nggak ada hubungannya dengan menikahinya atau enggak, Aurorae.” Aryo menatap Aurorae, lalu pria itu menghembuskan napasnya. “Itu adalah keputusan yang aku ambil sendiri tanpa ada campur tangan siapa pun.”

“Kamu emang udah ada hubungan sama dia, kan? Apa itu sebelum kita memutuskan berpisah?” Aurorae menatapnya penuh luka dan matanya berkaca-kaca.

“Tiara nggak ada hubungannya sama sekali sama masa lalu kita. Aku harap kamu ngerti itu,” pungkas Aryo mengakhiri pembicaraannya dengan Aurorae.

“Bos, kita udah sampai.” Suara Rama menyadarkan Aryo dari pikiran yang barusan bersarang di kepalanya. Aryo mengucapkan terima kasih pada asistennya itu dan segera turun dari mobil.

***

Aryo melepas sepatunya ketika ia sampai di kamar hotel. Ia melenggang menuju kamar dan mendapati Tiara yang sudah menyatu dengan kasur.

Aryo memperhatikan cara tidur Tiara yang menurutnya ajaib. Hanya kepalanya yang nampak menyembul keluar dari selimut, sementara tubuhnya tenggelam di bawah selimut yang besar.

“Lo pulangnya lama banget ... “ Tiara berbicara di dalam tidurnya. Aryo yang mendengar ucapan tersebut lantas memberikan atensinya pada Tiara.

“Maaf ya,” ucap Aryo di dekat Tiara.

Tiara membalas ucapan Aryo dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Suaminya kerja sampe malam bareng mantannya. Bikin istrinya bete,” Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo.

Aryo melepas jas hitamnya, menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Ia berpindah untuk menghadap Tiara dan menumpu tubuhnya dengan kedua lutut di lantai.

“Kamu bete ya?” tanya Aryo sambil terkekeh.

“Iyalah. Perempuan itu sengaja ngatur semuanya buat ngerebut suami aku.” Tiara merentangkan satu tangannya ke udara, lalu diraih oleh Aryo untuk diturunkan kembali. Aryo bergerak memperbaiki posisi selimut yang turun hingga kembali menutupi tubuh Tiara sampai ke bahunya.

“Nggak ada yang saling merebut disini, Tiara,” ucap Aryo.

“Oke deh, aku percaya. Aku bakal bilang aku kangen kamu, kalau kamu juga bilang.”

Kedua alis Aryo bertaut mendengar kalimat yang diucapan Tiara, tapi sesaat kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Kamu diam aja, berarti nggak kangen aku ya??” gumam Tiara lagi.

“Aku kangen kamu,” ucap Aryo tulus dari dalam hatinya. Netranya memandang wajah Tiara dengan pandangan sayang.

“Aku juga kangen kamu. Makanya rela jauh-jauh ke sini,” ujar Tiara.

“Ohya? Kamu jauh-jauh ke sini karena kangen aku?”

Tiara mengangguk-anggukkan kepalanya dan Aryo tersenyum kecil melihat itu.

“Ayo kita tidur, aku ngantuk banget,” ucap Tiara.

“Aku mandi dulu ya—”

“Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pergi.”

Tangan Tiara mendarat di atas tangannya yang berada di sisi kasur. Aryo statis di posisinya, ia membiarkan Tiara memegangi tangannya sampai bebepa menit kemudian, gadis itu membuka matanya.

Tiara mendapat pemandangan pertamanya adalah Aryo, “Selamat ulang tahun ya. Maaf gue telat ngucapinnya secara langsung,” ucap Tiara dengan suara rendahnya khas bangun tidur. Mata sabit gadis itu kini telah sepenuhnya terbuka.

“Jauh-jauh cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya.

“Mau klarifikasi dan jauhin perempuan itu dari suami gue.” Tiara wajahnya berubah tidak suka ketika menyebutkan tujuan keduanya.

“Klarifikasi soal apa?”

Notes warna peach yang lo terima, bukan mama yang nulis.”

“Ohya? Terus siapa yang nulis notes itu?” Wajah Aryo nampak sedikit terkejut mendengar fakta tersebut.

“Gue yang nulis ucapan itu buat lo,” jelas Tiara.

Aryo menatapnya sejenak dan sekarang ekspresinya tambah terkejut, tapi perasaanya begitu bahagia. “Terima kasih, Tiara,” ucap Aryo lantas merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya.

“Sama-sama,” balas Tiara. Ia mengulaskan senyumnya, lalu tangannya bergerak membalas pelukan Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Kedatangan Aryo ke acara keluarga besar mengundang tanya para anggota keluarga karena ia datang ke sana sendiri. Aryo tidak berniat menjelaskan apapun mengenai istrinya dan pernikahannya. Acara malam ini dilaksanakan untuk merayakan pengangkatan resmi presiden direktur Haraapan Jaya Group yang baru. Saat Aryo mengambil segelas minuman soda di meja, Prawira Brodjohujodyo datang menghampirinya.

“Aryo, selamat ya, atas jabatan kamu yang baru. Kamu pantas mendapatkannya,” ucap Prawira Brodjohujodyo diiringi sebuah senyum di wajahnya.

“Terima kasih, Eyang,” balas Aryo sopan.

Prawira menatap cucunya dan menepuk pundaknya. “Sekarang perusahaan berada di kedua pundak kamu. Eyang harap kamu bisa menjadi pemimpin yang bijak dan adil.”

Aryo pun mengangguk, “Ohiya Eyang, Aryo boleh menyampaikan satu hal?”

“Tentu. Kamu boleh mengatakannya.”

“Soal menjadi pemimpin yang bijak dan adil, Aryo masih perlu banyak belajar,” ujar Aryo sambil menatap sosok yang baru saja menghampiri mereka.

Prawira pun menoleh dan mendapati salah satu putranya bergabung dengannya dan Aryo.

“Mungkin Om Reynaldi bisa bantu Aryo. Aryo akan belajar lebih banyak lagi dari beliau,” ucap Aryo sebelum meneguk minuman dari gelasnya.

“Kamu benar. Kamu bisa belajar banyak dari Reynaldi. Dulu saat Reynaldi memimpin perusahaan, Harapan Jaya mengalami masa gemilangnya. Mungkin Eyang belum bisa bersikap adil terhadap keluarga sendiri, tapi Eyang percaya kamu dapat melakukannya, Aryo. Kamu dan El, kalian cucu Eyang yang sama-sama hebat. Kalian sudah melakukan yang terbaik sampai hari ini,” tutur Prawira.

“Aryo, selamat atas jabatan kamu yang baru. Om ikut senang, meskipun Om dan Eyang memberikan suara kami pada El. Tapi Om yakin, kamu bisa melakukan yang terbaik untuk perusahaan kita,” ujar Reynaldi sambil menatap Aryo, lalu pria itu tersenyum sekilas.

Aryo mengangguk, “Terima kasih Om. Om sudah mengajarkan banyak hal yang berharga untuk Aryo.”

***

Tiara mendapati ponselnya berdering ketika ia kembali dari kamar mandi. Tiara tidak langsung mengangkat panggilan tersebut ketika membaca ID call di layar ponselnya. Ia menarik napas dan menghembuskannya, setelah itu ia menggeser layar ponselnya ke tanda hijau.

“Halo?” sapanya.

“Tiara,” sapa balik suara yang sangat fameliar itu.

Tiara menahan isakan yang ingin lolos dari bibirnya kala mendengar suara yang amat dirindukannya itu.

“Boleh aku ketemu kamu?” Aryo kembali berbicara di telepon ketika Tiara tidak mengatakan apapun.

“Malam-malam gini?”

“Iya. Aku harus ngasih tau kamu sesuatu yang penting.”

“Oke. Aku juga mau ngasih tau kamu sesuatu,” balas Tiara.

Setelah itu sambungan pun diakhiri. Tiara mengambil sesuatu dilaci nakas samping tempat tidurnya. Benda itu adalah sebuah amplop yang akan ia berikan kepada Aryo.

***

Aryo datang ke rumahnya dan meminta izin menemui Tiara kepada Ayah dan Bunda. Andi dan Alifia memberikan mereka izin untuk bertemu dan berbicara berdua.

“Gimana pun kalian masih suami istri. Ayah sama Bunda nggak punya hak melarang Aryo menemui istrinya,” ucap Andi sebelum membiarkan Aryo dan Tiara bicara berdua di ruang tamu.

Suasana malam hari di rumah Tiara sudah sepi karena kedua adiknya sudah tidur. Untung saja Kelvin tidak mendapati Aryo datang ke rumahnya. Adiknya itu kerap kali menanyakan soal Aryo dan alasan kenapa kakaknya kembali ke rumah bukannya tinggal bersama pria itu.

“Aku juga mau bilang sesuatu. Tapi kamu bisa duluan,” ujar Tiara membuka percakapan.

Aryo menatapnya dan pria itu sedikit berdeham sebelum berbicara. “Tiara, aku nggak ingin kita berpisah. Aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Aku tahu, kata maaf sebanyak apapun nggak akan pernah cukup untuk mengganti yang terjadi sebelas tahun lalu,” Aryo menjeda ucapannya.

“Semua yang udah kita lewatin, membuat aku punya satu tujuan, yaitu membahagiakan kamu. Aku akan berjuang untuk mengungkap kasus itu, Ra. Aku ingin ayah kamu mendapat keadilan itu.”

“Kamu mau ngelakuin apa?” tanya Tiara mencoba mencerna kalimat yang Aryo utarakan.

“Aku mau orang yang ngelakuin perbuatan itu mendapat balasan yang setimpal.”

Mata Tiara melebar dan ia menatap Aryo seolah omongan pria itu adalah lelucon. “Kamu tau, itu terlalu bahaya dan resikonya besar, Aryo. Kamu nggak bisa ngelawan keluarga kamu sendiri,” ucap Tiara dengan tatapan seriusnya.

“Aku ngelakuin itu sebagai pemimpin perusahaan dan sebagai suami kamu, Tiara. Aku nggak bisa membiarkan dia hidup tenang setelah dia ninggalin luka itu buat kamu.” Aryo mengambil kedua tangan Tiara untuk digenggam dengan tangannya.

“Kamu orang paling keras kepala yang aku tahu,” ucap Tiara.

“Aku tau, Ra,” Aryo menundukkan kepalanya. Sesaat kemudian ia kembali menatap Tiara. “Ohiya, kamu mau ngomong apa ke aku? Aku udah selesai dan aku harap kamu akan mendukung rencanaku.”

Tiara lantas menaruh sebuah amplop putih diatas meja. Aryo melihat benda itu dan melemparkan tatapan tanya pada Tiara.

“Gimana pun keadaan kita sekarang, kamu harus tetap tau soal ini,” ucap Tiara sebelum Aryo membuka amplop ditangannya dan mengambil kertas yang ada di dalam.

Aryo mulai membaca dengan seksama. Surat itu menyatakan hasil pemeriksaan kandungan atas nama Ny. Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo yang berasal dari rumah sakit. Setelah membaca isinya, Aryo meletakkan kertas tersebut di atas meja. Tiara pun mendapati tatapan terkejut bercampur haru Aryo yang diarahkan padanya.

“Se-sejak kapan Ra?” ucap Aryo dengan sedikit terbata.

“Kata dokter usianya baru 2 minggu. Waktu diperiksa, kondisinya sehat dan semuanya bagus,” ujar Tiara.

Tiara menatap Aryo dan tersenyum lembut, “Selamat ya. Kamu akan jadi seorang Ayah.”

Aryo nampak terkejut dan berusaha mencerna kalimat yang diucapkan Tiara. “Ra, ini beneran kan?” tanya Aryo ingin memastikan dan Tiara langsung mengangguk.

Aryo menghembuskan napasnya, “Apa dia bikin kamu repot selama ini?” tanya Aryo.

“Sedikit sih. Dokter bilang itu hal yang wajar waktu awal kehamilan,” papar Tiara.

Aryo bergerak dari posisinya, ia lantas berlutut di lantai, lalu berbicara di dekat perut Tiara.

Hello, little one. Terima kasih ya, kamu telah hadir di antara kita. Kamu harus tau, kita sayang banget sama kamu. Kamu sayang juga sama ibu kamu kan? Kalau gitu, jangan buat ibu terlalu cape ya. Kamu anak hebat, kan?” Aryo mengulaskan senyum bahagia bercampur harunya. Dadanya terasa berdesir hangat dan ia tidak dapat membendung air matanya lagi.

Tiara menyaksikan pertama kalinya Aryo menangis di hadapannya. Dadanya berdegup dan berdesir hingga menimbulkan rona kemerahan di kedua belah pipinya.

This is such a best gift for me. Terima kasih Ra,” ungkap Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷