alyadara

Tiara mendapati Rama-lah yang menemuinya setelah ia menunggu hampir tiga puluh menit di lobi hotel. Rama mengucapkan permintaan maaf padanya karena telah membuat Tiara menunggu cukup lama.

Tiara sebenarnya belum puas juga karena bukan Aryo yang menyambut kedatangannya.

“Rama, boleh gue tau dimana suami gue?” tanya Tiara pada Rama ketika mereka menaiki lift. Rama mengatakan Tiara bisa menunggu di kamar hotel sampai Aryo datang menemuinya.

“Pak Bos lagi tinjauan lokasi sama—”

“Aurorae?”

“Benar, Bu Bos. Pak Bos lagi tinjauan priject sama Mbak Aurorae dan timnya.”

“Kira-kira selesai jam berapa?”

“Kalau soal itu, tadi Bos bilang diusahain secepatnya.”

Tiara pun tersenyum semringah mendengar jawaban Rama tersebut.

***

Istrinya itu memang ajaib dan seperti tidak kehabisan akal. Satu malam keberadaannya di Lembang, ia mendapat sebuah kabar dari pihak hotel bahwa seorang wanita bernama Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo ingin menemuinya.

Sementara tadi siang Aryo masih harus melakukan tinjauan untuk project yang berada di bawah tanggung jawabnya. Aryo terjebak macet di jalanan kota Lembang ketika perjalanan pulang. Ia pun teringat pembicaraannya dengan Aurorae tadi sian.

“Kamu kenapa seharian ini?” tanya Aurorae yang melihat gelagat Aryo yang berbeda dari biasanya. Pria itu terlihat memikirkan hal lain sehingga beberapa kali Aurorae mendapati Aryo kurang fokus saat mereka melakukan tinjau lapangan.

“Emangnya aku kenapa?” tanya Aryo.

“Kayak bukan kamu aja. Karena istri kamu? Udah aku bilang, lebih baik kamu nggak menikahi dia, tapi kamu tetap aja.”

“Ini nggak ada hubungannya dengan menikahinya atau nggak, Aurorae.” Aryo menatap Aurorae lalu menghembuskan napasnya. “Itu adalah keputusan yang aku ambil sendiri.”

“Kamu emang sudah ada hubungan sama dia, kan? Apa itu sebelum kita memutuskan berpisah?” Aurorae menatapnya penuh luka dan matanya berkaca-kaca.

“Tiara nggak ada hubungannya sama sekali sama masa lalu kita. Aku harap kamu ngerti itu,” pungkas Aryo mengakhiri pembicaraannya dengan Aurorae.

“Bos, kita udah sampai.”

Suara Rama menyadarkan Aryo dari pikiran yang barusan bersarang dalam kepalanya. Aryo mengucapkan terimakasih pada asistennya itu, lalu turun dari mobil.

***

Aryo melepas sepatunya ketika ia sampai di kamar hotel. Aryo berjalan menuju kamar dan mendapati Tiara yang sudah menyatu dengan kasur.

Aryo memperhatikan cara tidur Tiara yang ajaib menurutnya. Kepala gadis itu menyembul keluar dari selimut, sementara tubuhnya tenggelam di bawah selimut yang besar.

“Lo pulangnya lama banget .... “ Tiara berbicara di dalam tidurnya. Aryo yang mendengar ucapan tersebut lantas memberikan atensinya pada Tiara.

“Maaf ya,” ucap Aryo.

Tiara membalas ucapan Aryo dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.

“Oke, dimaafin,” ujar Tiara masih dengan kedua mata yang terpejam.

“Istri udah maafin suaminya yang kerja sampai malam bareng mantannya, huft. Bikin aku bete,” Tiara membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi Aryo.

Aryo melepas jas hitamnya, menanggalkan kemeja abu-abu yang melapisi tubuh tegapnya. Ia berpindah untuk menghadap Tiara dan menumpu tubuhnya dengan kedua lutut di lantai.

“Kamu bete?” tanya Aryo sambil terkekeh.

“Iyalah. Perempuan itu sengaja ngatur semuanya untuk ngerebut suamiku.” Tiara merentangkan satu tangannya ke udara, kemudian diraih oleh Aryo untuk diturunkan kembali. Aryo bergerak memperbaiki posisi selimut yang turun sehingga kembali menutupi tubuh Tiara sampai ke bahunya.

“Nggak ada yang saling merebut disini, Tiara,” ucap Aryo.

“Oke-oke, aku percaya. Aku bakal bilang aku kangen kamu, kalau kamu juga bilang.”

Aryo menyatukan alisnya mendengar kalimat yang Tiara ucapkan, tapi sesaat kemudian sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Kamu diam aja, berarti nggak kangen aku ya??”

“Aku kangen kamu,” ucap Aryo tulus dari dalam hatinya. Netranya memandang wajah Tiara dengan pandangan sayang.

“Terima kasih. Aku juga kangen kamu. Makanya aku rela jauh-jauh ke sini,” ujar Tiara.

“Ohya? Kamu jauh-jauh kesini cuma karena kangen aku?”

Tiara kembali mengangguk-anggukkan kepalanya dan Aryo tersenyum kecil melihat itu.

“Ayo kita tidur, aku ngantuk banget,” ucap Tiara.

“Aku mandi dulu ya—”

“Nggak, nggak. Kamu nggak boleh pergi lagi.”

Tangan Tiara mendarat di atas tangannya yang berada di sisi kasur. Aryo statis di posisinya, ia membiarkan Tiara memegangi tangannya sampai dengan perlahan gadis itu membuka matanya.

Tiara menatap Aryo, “Hai, selamat ulang tahun ya. Maaf aku telat ngucapinnya,” ucap Tiara dengan suara rendahnya khas bangun tidur. Mata sabit gadis itu kini telah sepenuhnya terbuka.

“Jauh-jauh cuma mau bilang itu?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya.

“Mau klarifikasi dan jauhin perempuan itu dari suami gue.” Tiara wajahnya berubah tidak suka ketika menyebutkan tujuan keduanya tersebut.

“Klarifikasi apa?”

Notes warna peach yang buat lo, bukan mama yang nulis.”

“Ohya? Terus siapa yang nulis notes-nya?” Wajah Aryo nampak sedikit terkejut mendengar itu.

“Gue yang nulis ucapan itu,” jelas Tiara.

Aryo menatapnya sejenak. “Terima kasih, Tiara,” ucap Aryo lalu merengkuh tubuh Tiara ke dalam pelukannya.

“Sama-sama,” balas Tiara sambil tersenyum di balik punggung Aryo dan membalas pelukan lelaki itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Eyang putri keliatan sayang banget ya sama Tiara. Padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga kata kamu, Mbak. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir akan lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo, mengenai tujuannya kemari untuk mengambil makanan.

“Tiara, kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Selamat atas pernikahan kamu dan selamat datang di keluarga kita ya,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibirnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, tapi saat akan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan dari dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau soal itu. Eyang putri selalu ngelakuin sesuatu untuk nutupin semuanya dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tau? Cinta aja nggak akan cukup, membuat kamu bertahan di keluarga ini. Eyang kakung jatuh cinta sama perempuan lain dan akhirnya mutusin nikah lagi. Padahal eyang putri udah ngasih segalanya baut beliau, tapi kamu liat kan? Cinta aja nggak cukup,” jelas Sarah.

Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung memang mempunyai 2 orang istri. Jadi dapat dikatakan bahwa eyang putri telah di madu. Namun Tiara baru tau dari dari cerita tante Sarah bahwa eyang kakung lebih dulu punya anak, lalu menikahi perempuan itu.

Tidak berapa lama, Felicia datang menghampiri Tiara yang sedang bersama kedua istri adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nungguin kamu di ruang tamu,” ucap Feli sambil mengulaskan senyum lembutnya pada Tiara.

“Iya, Mah. Tiara ke sana sekarang ya. Permisi Tante.” Tiara berpamitan pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia masih berada di sana dan berniat untuk sedikit mengobrol dengan dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya, dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Felicia mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan ngasih keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” timpal Risma.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah dan saling mencintai, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir sempurna. Aryo menoleh pada Tiara dan mendapati ekspresi bingung di wajah gadis itu.

“Lo lagi mikirin apa?” tanya Aryo.

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Lo denger sesuatu di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha! Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari pria itu. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya, lalu ia memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang,” seru Tiara.

“Nggak semua orang, Tiara.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya, lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi sama kita.” Aryo mengedikkan bahunya, lalu pria itu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu, Aryo,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” peringat Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. Thankyou for take care of me. You said that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu lift terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua dan tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” papar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara sambil mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that eventhough we never try?” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara. Kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

We never try? Are you forgot? You kissed me in the fitness room. Oh remember, before we got married, we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkan itu, Tiara.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. It's only because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, tapi beralih pada jajaran produk dairy. Gadis itu mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called hubungan suami istri.”

Perkataan Aryo tersebut telah sangat menampar Tiara dan membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanya sekedar main-main. Memangnya Tiara pantas berharap? Bodoh sekali jika ia pernah bawha beberapa hal dilakukan Aryo untuknya adalah asli, tanpa kepalsuan sama sekali.

Tiara melanjutkan kembali kegiatan belanjanya. Ia memilih brand sausage sapi karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli untuk menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau ngakuin itu, sebelum kita sungguhan melakukannya?” tanya Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo dan menatap pria itu tepat di matanya, “You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara segera teringat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan.

Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar dari keluarga Brodjohujodyo kapan saja, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus berisi belanjaan yang cukup besar.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan pria itu meletakkan kardus belanjaannya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”

“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas, lalu menaruhnya di mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Selama satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue bisa anter lo habis gue meeting.”

“Gue berangkat sendiri aja.”

“Gue anter lo, Tiara. Lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ulang tahun Aryo jatuh berbarengan dengan papanya. Jadilah setiap tahun mereka akan merayakan ulang tahun untuk dua orang sekaligus. Aryo berpikir tahun ini akan sedikit berbeda karena kesibukan dan juga statusnya saat ini.

Aryo memasuki rumahnya sembari tangannya menekan layar sentuh di ponselnya. Kemudian ia menempelkan benda pipih itu ke telinga, menunggu seseorang di ujung sana mengangkat panggilannya.

“Tiara, gue pulang agak telat. Lo udah di rumah?” ujarnya ketika sambungan telah terhubung.

Aryo menunggu Tiara yang tidak kunjung menjawab, hingga sebuah kerutan muncul di dahinya dan langkah kakinya pun terhenti.

“Tiara?” panggil Aryo.

“Kenapa pulang telat?” sahut Tiara di ujung telefon.

“Ada sesuatu yang perlu gue ambil di rumah mama,” ujar Aryo.

“Oke, kalau gitu”

Aryo mengernyit curiga. Ia menyapukan pandangannya ke sekeliling rumah dan berjalan ke ruang tamu. Ia penasaran karena suara Tiara di telepon terasa begitu dekat dengannya. Aryo rasa ia mulai tidak waras karena berpikiran Tiara berada di sini.

“Di rumah kita?” Aryo bertanya dengan nada setengah yakinnya.

“Iya, gue di rumah. Emangnya gue di mana lagi?”

***

Setelah Aryo menemukan Tiara berada di rumah orang tuanya tanpa sepengatahuannya sama sekali, gadis itu membawanya untuk sampai di rooftop.

Malam ini taman yang terdapat di rooftop rumah orang tuanya, di dekor sedemikian rupa untuk merayakan sebuah acara ulang tahun. Satu buah meja dan empat kursi di tata rapi, makanan-makanan yang nampak lezat tersaji. Tidak lupa lampu-lampu cantik dan berkilau menambah indah suasana malam itu.

Papa dan mamanya memberinya ucapan selamat dan sebuah pelukan untuknya. Aryo bergantian memberi selamat dan panjatan doanya untuk sang papa.

Acara tersebut berjalan dengan sempurna. Setelah menyantap makanan utama, kini giliran menikmati makanan penutup yang terasa lezat dan lembut di mulut. Pemandangan langit malam dan perkotaan kota menjadi pelengkap keindahan acara tersebut.

“Malam ini, kalian nginap di sini aja ya?” ujar Felicia sambil menatap anak dan menantunya.

Aryo dan Tiara pun saling bertukar pandang ketika mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Felicia itu.

“Aryo, bukannya besok kamu harus ke Lembang untuk memantau progress project perusahaan di sana?” tanya Edi pada anak sematawayangnya itu.

“Iya, Pah. Besok emang Aryo harus ke sana,” jawab Aryo.

“Nginap semalam aja kan bisa. Aku kan juga ingin lihat anak dan menantuku. Rumah ini rasanya sepi banget lho Pah,” ujar Felicia sambil menatap suaminya.

“Lain kali jugs bisa, Mah. Lagian mereka nggak bawa persiapan untuk nginap,” ucap Edi menanggapi Felicia.

“Semua yang dibutuhin, ada disini. Tiara, tinggal bilang aja sama Mama, ya Sayang?” Felicia menatap menantunya dengan kedua netranya yang berbinar.

***

Tiara dan Aryo mau tidak mau tidur di dalam satu kamar yang telah disiapkan untuk mereka. Satu jam yang lalu, para asisten perempuan di rumah ini membantu dan melayani nyonya muda di rumah itu. Apa yang ia butuhkan Tiara semuanya ada di sini. Mulai shower gel, parfum, body lotion, hingga piyama untuknya.

Tiara memasuki kamar dan duduk di atas kasur setelah selesai dengan acara mandinya. Ia tidak tahu dimana keberadaan Aryo. Mungkin pria itu masih mandi atau sedang menyelesaikan pekerjaannya yang harus diselesaikan malam ini. Setahu Tiara, besok pagi-pagi sekali Aryo harus berangkat ke stasiun.

Pintu kamar yang terbuka membuat Tiara menoleh ke arah daun pintu. Ia menemukan Aryo di sana dengan stelan piyama biru dongkernya.

“Aryo, ada nggak kamar lain?” tanya Tiara.

“Ada, kamar tamu di lantai satu,” jawab Aryo setelah menutup pintunya dan berjalan menuju kasur.

“Berarti gue bisa tidur di kamar itu, kan?” Tiara hendak turun dari kasur, tapi Aryo menahan tangannya.

“Nggak bisa, Tiara.”

“Kenapa nggak bisa?”

“Mama di bawah masih nonton TV, beliau belum ke kamar. Lo mau turun ke bawah dan dapat pertanyaan dari mama?”

Tiara menghela napasnya panjang.

“Lagian mama ada benernya, nyuruh kita untuk nginap,” cetus Aryo.

“Gimana lo bisa bilang kayak gitu,” ucap Tiara dengan nada yang terdengar kurang setuju.

“Kalau kita kayak gini terus, gimana caranya kita bisa punya anak?” tanya Aryo yang lebih terdengar seperti sebuah pernyataan bagi Tiara.

Astaga, Tiara melupakannya. Padahal dirinya sendiri yang kekeuh dari kemarin mengenai hal itu.

“Kalau kita punya anak, apa itu akan buat posisi lo di perusahaan semakin kuat?” tanya Tiara yang lantas dijawab Aryo oleh sebuah anggukan.

***

“Ram, kita masih punya waktu berapa menit lagi?” tanya Aryo pada Rama.

“Kurang lebih tiga puluh menit lagi sebelum keretanya berangkat Bos,” jelas Rama.

“Oke, gue mau ke sana dulu sebentar,” ucap Aryo pada asistennya itu.

Rama mengangguki ucapan Aryo dan menyaksikan pemandangan di depannya saat ini. Aryo berjalan menghampiri Tiara yang berjarak sekitar 300 meter di sana.

Ketika Aryo berhadapan dengan Tiara, ia membungkukkan sedikit badannya, lalu menghela torso perempuan itu untuk berada di dekapannya.

“Kenapa? Ada yang ketinggalan?” tanya Tiara.

Tangan Tiara yang semula berada di sisi tubuhnya perlahan bergerak perlahan untuk membalas pelukan Aryo.

“Keretanya udah mau berangkat kan?” tanya Tiara ketika Aryo belum juga melepaskan pelukan mereka.

“Sebenernya gue sama Rama masih harus nunggu klien yang berangkat bareng kita,” jelas Aryo.

“Tapi sebentar lagi keretanya berangkat, Aryo. Nanti lo ketinggalan kereta gimana.”

“Masih tiga puluh menit lagi keretanya, Ra. Gue udah lumayan kenal juga sama kliennya,” jelas Aryo.

Tidak lama kemudian, orang yang ditunggu menghampiri Aryo dari arah yang berlawanan.

“Maaf yaa gue telat. Gue kira kita naik dari gerbong yang di sana. Oh hai, Tiara ya? Lo masih inget gue nggak?” Perempuan itu menyapa Tiara dengan sebuah senyuman di bibirnya. Perempuan itu hanya membawa tas tangannya sedangkan seorang asisten laki-laki di balik punggungnya membawakan dua buah koper berukuran sedang.

“Gue inget lo kok. Lo mantannya suami gue,” ucap Tiara dengan santai.

“Kita harus berangkat sekarang,” ucap Aryo.

Tiara menoleh pada Aryo yang memecah topik pembicaraannya dengan Aurorae. Tiara melemparkan tatapan sebalnya atas perlakuan Aryo yang menurutnya sedikit tidak adil padanya. Bagaimana pun, Tiara harus membungkam mulut mantan kekasih suaminya itu dengan mulutnya sendiri.

“Tiara, gue udah minta tolong sama Erza buat jemput lo disini. Lo pulang sama dia ya,” ucap Aryo pada Tiara dan gadis itu hanya bisa menahan keinginannya untuk melawan Aurorae.

Tiara mengulas senyumnya dan melirik Aurorae sekilas. Kemudian ia menatap Aryo, lantas mengambil tangan pria itu dan memberi sebuah kecupan di sana.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Ketika Tiara sampai di lantai satu, ia mendapati Aryo menunggunya di sana dan pria itu masih dengan stelan kantornya.

“Jam berapa ini Tiara?” tanya Aryo.

“Hampir jam sepuluh.”

“Ayo kita bicarain yang tadi sempat tertunda,” ujar Aryo.

“Gue pikir udah nggak ada yang perlu dibicarain.” Tiara menatap Aryo dengan tatapan datarnya.

“Kenapa? Tadi lo bersikeras diskusiin itu sama gue.”

Tiara termenung tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun.

“Lo tau, apa yang gue lakuin adalah untuk ngelindungin lo. Di saat gue ngelakuin itu, justru lo yang membahayakan diri sendiri.” Aryo menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Aryo mendapatkannya dari salah satu omnya yang memiliki jabatan tinggi di perusahaan. Omnya itu sangat mendukungnya, sehingga berbaik hati dengan menyerahkan foto-foto itu padanya untuk disimpan.

Good job for you. Gue nggak nyangka bisa nikah sama diktator yang keren kayak lo.” Tiara bertepuk tangan sambil menyunggingkan senyum smirk-nya. Kemudian Tiara hendak mengambil langkah pergi melewati Aryo, namun pria itu menahan pergelangan tangannya.

“Gue mau ke kamar, jadi tolong lepasin gue,” desis Tiara.

“Gue lepasin, setelah lo jelasin foto itu,” ujar Aryo.

“Lo nganggap gue istri lo, di saat lo cuma butuh kuasa atas gue, kan? Hello sir, you can’t do anything you want to do. Gue sama Akmal pergi berdua cuma buat ngerjain tugas fotografi,” jelas Tiara yang lantas membuat pegangan tangan Aryo terlepas pada tangannya.

Tiara tidak ingin perasaannya terhadap Aryo semakin dalam karena ia tahu pada akhirnya mereka tidak akan pernah bisa bersama. Dari awal pertemuannya dengan Aryo, Tiara sadar ia memiliki perasaan terhadap lelaki ini, tapi lebih baik membangun tembok antara dirinya dan Aryo demi kebaikan keduanya.

“Terus dengan mudahnya, lo berpikir ngasih keluarga keturunan? Lo pikir semudah itu untuk punya anak?” tanya Aryo.

Tiara berbalik kemudian menatap Aryo, “Bukannya gampang aja buat lo? Gue cuma aset lo untuk dapetin posisi itu. Asal nantinya lo nggak punya perasaan untuk gue, kita bisa punya anak. Setelah itu cerai. Gimana?”

“Gimana sama perasaan lo sendiri?” tanya Aryo.

It’s easy. Every woman never think about love only for one men. So can we start our project?

***

Siang ini Tiara mengunjungi rumah mertuanya. Mertuanya meminta supir menjemput Tiara agar datang ke sana. Mamanya itu berencana menyiapkan surprise untuk papa mertuanya dan suaminya, karena hari ini adalah hari ulang tahun keduanya yang jatuh berbarengan.

“Malam ini, kamu sama Aryo nginap disini aja ya?” ucap ibu mertuanya pada Tiara. Melihat reaksi menantunya itu, Felicia lantas menyunggingkan senyumnya.

“Tenang aja, suami kamu pasti mau kok. Sejak Aryo nikah, rumah ini makin sepi. Habis semua ini matang, tolong siapin bekal untuk diantar ke kantor suamimu ya,” tutur Felicia.

Tiara mengiyakan ucapan mertuanya diiringi sebuah senyuman. Bagaimanapun ia tidak enak menolak permintaan Felicia untuk menginap. Lagipula Aryo itu kan anak tunggal, jadi wajar mertuanya merasa rumah sebesar ini begitu kosong sejak anak satu-satunya menikah.

“Kenapa Tiara? Aryo sibuk banget ya di kantor? Dia jarang luangin waktunya buat kamu?” duga ibu mertuanya ketika memerhatikan raut wajah Tiara.

“Aryo besok harus ke luar kota untuk urusan kerjaan, Mah. Jadi kayaknya kita nggak bisa nginap malam ini,” ujar Tiara mengatakan alasan mungkin mereka tidak bisa menginap.

“Artinya Aryo akan ninggalin kamu berhari-hari? Padahal kalian itu kan pengantin baru. Harusnya dia bisa bagi waktu antara kerjaannya dan kamu,” ujar Felicia sambil berdecak heran.

Tiara membantu mertuanya membawa makanan yang telah matang ke meja makan. Sepertinya mertuanya salah menangkap. Kini mertuanya ingin dirinya dan Aryo menghabiskan waktu bersama hanya berdua.

“Kalau seperti ini terus, kalian susah punya waktu bareng. Yaudah gini aja, malam ini kalian harus nginap di sini ya. Mama pastiin Aryo setuju,” ucap Felicia sambil memegang tangan Tiara. Kemudian ibu mertuanya itu menepuk punggung tangannya itu dan tersenyum hangat.

***

Sekitar pukul tujuh malam, Aryo berada di perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan ibukota seperti biasa dipenuhi oleh kendaraan yang menyebabkan jalanan padat. Mobil Aryo mau tidak mau ikut terjebak macet dan hanya bergerak sedikit demi sedikit.

“Tuan, tadi ibu Feli bilang kalau Tuan harus ke rumah dulu untuk ngambil titipan ibu,” ujar supir pribadinya.

“Tumben. Biasanya mama langsung nelfon saya sendiri.”

“Ibu bilang, Tuan cuma diminta untuk mampir sebentar.”

“Oh yaudah Pak, kita langsung ke rumah mama aja,” tutur Aryo.

Aryo menoleh ke samping jok dan matanya mendapati tas bekal yang tadi siang diantar ke kantornya. Wajahnya mengernyit curiga, namun ia mengulaskan senyum semringah setelah kembali mengingat isi tulisan di notes di dalam tas kotak bekal.

Aryo tidak tahu mamanya bisa seromantis ini padanya di hari ulang tahunnya. Mamanya itu mengirimkan makan disertai notes kecil berwarna peach. Di dalam kertas tersebut, berisi untaian kalimat doa yang begitu indah di hari ulang tahunnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya tiba-tiba membatalkan kelas. Gadis itu berniat untuk pulang dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun ia membatalkan niatnya karena seseorang yang telah membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek di kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?” tanya suara di ujung sana.

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Lo kenapa?” tembak Tiara. Ia menyadari ekspresi sahabatnya itu nampak berbeda dari biasanya.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara telah sangat mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya dan beralih menatap atasannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.

“Untuk apa?” Aryo justru balik bertanya.

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram. Lo lupa?”

“Cuma ketemu sebentar elah. Kali aja lo kangen,” ujar Rama sambil menampakkan wajah jenakanya.

“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”

Rama pun seketika mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.

“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue. Bahkan gue tau lo di sini dari orang lain,” ucap Tiara.

“Tiara,” interupsi suara berasal dari belakang Tiara. Terlihat Akmal berjalan menghampiri keduanya.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal pada Aryo.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.

Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara seminar. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dengan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Kita jadi kan ngerjain tugas bareng?”

Tepat saat itu ponsel Tiara berbunyi dan ternyata Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara mengangguk. “Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya, Mal. Gue cuma aset yang akan bawa dia buat dapetin jabatan itu. So, that's the reason he really wants to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.

Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.

“Lo pernah nolak perasaan lo, saat lo suka sama seseorang?” tanya Tiara.

“Pernah,” jawab Akmal. Langkah kaki keduanya berhenti dan di depan mereka kini terpampang pemandangan matahari terbenam.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini,” jelas Akmal.

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.

“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini, padahal kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah-olah ia tengah marah besar pada Akmal.

She have someone, Ra.”

Tiara termangu mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, xkarena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Pantes aja di sini gelap.” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see a star, in front of me,” papar Akmal.

Where?

Here,” Akmal mengunci pandangan Tiara dengan kedua netranya. Tiara mendapati Akmal menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

Like a star, you light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menyadari satu hal hari ini. Sahabat lelakinya tengah menaruh perasaan padanya, sebuah perasaan untuk menjadi lebih dari seorang teman.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak ada kelas siang ini karena dosennya tiba-tiba membatalkan kelas. Gadis itu berniat untuk pulang dan cabut kelas yang masih tersisa di jam tiga sore nanti. Namun ia membatalkan niatnya karena seseorang yang telah membiayai kuliahnya. Pengaruh dan eksistensi Aryo telah memberikan dampak yang begitu besar bagi aspek-aspek di kehidupan Tiara.

Tiara keluar dari kelasnya dan mendapati ponselnya berbunyi.

“Dimana Ra?” ujar suara di ujung sana.

“Baru aja keluar kelas. Lo dimana?”

“Lo masih ada kelas kan nanti sore?”

“Iya. Kenapa emang Mal?”

“Sekarang lo sama siapa? Lo nggak sendirian kan?”

Tiara tidak langsung menjawab.

“Gue telfon Valdo ya?” ujar Akmal sebelum Tiara menjawabnya.

“Nggak usah, Mal. Ini orangnya lagi jalan ke arah gue.” Tiara menatap lurus pada sosok Valdo yang terlihat berjalan ke kearahnya di lorong lantai dua.

Ketika Valdo berada di hadapannya, sambungan telfonnya dengan Akmal pun berakhir.

“Akmal?” tebak Valdo.

“Iya, tadi hampir nelfon lo, tapi lo udah nongol.” Tiara dan Valdo berjalan bersama menuju lift untuk turun.

Tiara mengamati ekspresi Valdo yang nampak berbeda dari biasanya itu.

“Lo kenapa?” tembak Tiara. Ia menyadari ekspresi sahabatnya itu nampak berbeda dari biasanya.

“Nggak papa,” jawab Valdo.

Tiara telah sangat mengenal sahabatnya itu dan firasatnya mengatakan ada sesuatu yang Valdo sembunyikan dari Tiara.

“Do, lo tau kan gue nggak suka sahabat gue nyembunyiin sesuatu dari gue.”

***

“Acaranya masih lima belas menit lagi. Lo nggak mau ngasih tau istri lo?” Rama melihat arloji di tangannya dan beralih menatap atasannya. Mereka berada di satu ruangan khusus untuk menunggu yang telah di sediakan oleh panitia acara.

“Untuk apa?” Aryo justru balik bertanya.

“Ngasih tau lo ada di sini lah,” ujar Rama.

“Dia mahasiswi di sini Ram. Lo lupa?”

“Cuma ketemu sebentar elah. Kali aja lo kangen,” ujar Rama sambil menampakkan wajah jenakanya.

“Terus apa yang harus gue bilang, kalau ada yang orang yang liat?”

Rama pun seketika mengangguk mengerti. Kondisinya memang tidak memungkinkan bosnya itu bertemu istrinya di hadapan umum yang kemungkinan dapat memancing kehebohan.

“Tapi kalau akhirnya dia tau lo di sini, gimana?”

“Menurut lo dia akan marah nggak kalau tau dari orang lain?” Aryo terlihat berpikir dan ia meminta pendapat asistennya itu.

“Perempuan emang sulit ditebak, Bro. Tapi habis ngungkapin perasaan, biasanya mereka lebih sensitif. Saran gue, jangan nyembunyiin apapun dari istri lo. Insting seorang istri kuat coy, intel mah lewat.”

***

“Kita bisa bicarain ini di rumah, Tiara.”

“Kenapa nggak disini aja? Udah tujuh jam dari pertanyaan gue, tapi lo belum jawab,” kekeuh Tiara.

Aryo mendapati Tiara hadir di seminar itu dan kini gadis itu menemuinya di lorong menuju ruangan khusus tamu, setelah acara selesai. Tiara meminta Aryo menjawab soal diskusi mereka untuk memiliki anak.

“Lo ngehindarin gue. Bahkan gue tau lo di sini dari orang lain,” ucap Tiara.

“Tiara,” interupsi suara berasal dari belakang Tiara. Terlihat Akmal berjalan menghampiri keduanya.

“Maaf Pak Aryo, apakah Anda memiliki urusan penting dengan salah satu mahasiswi kami?” tanya Akmal pada Aryo.

“Mahasiswi yang kamu maksud adalah istri saya,” ucap Aryo.

Tiara bergantian menatap kedua orang yang saling melemparkan kalimat dengan tatapan dan nada yang terdengar tidak bersahabat itu.

“Tapi kehadiran Bapak di sini adalah sebagai pembicara seminar. Demi ketertiban acara, jika ada urusan pribadi dengan mahasiswi kami, mohon di selesaikan di luar area kampus,” tukas Akmal.

***

Saat Tiara keluar dari kelas terakhirnya sekitar pukul lima sore, Akmal sudah menunggunya di depan kelas gadis itu.

“Hai Mal,” sapa Tiara.

“Hai Ra. Kita jadi kan ngerjain tugas bareng?”

Tepat saat itu ponsel Tiara berbunyi dan ternyata Aryo yang menelfonnya.

“Suami lo?” tanya Akmal.

Tiara mengangguk. “Dia cuma bakal nanyain gue dimana terus minta gue pulang. Yang lo bilang ke gue ada benernya, Mal. Gue cuma aset yang akan bawa dia buat dapetin jabatan itu. So, that's the reason he really wants to protect me.”

***

“Mal gue mau nanya sesuatu deh sama lo,” ujar Tiara.

“Nanya apa Ra?”

Setelah mengambil beberapa foto pemandangan untuk keperluan tugas mata kuliah fotografi, mereka berjalan santai bersama beberapa orang yang sedang menikmati indahnya pantai di sore hari.

Semakin menjelang malam, pemandangan pantai yang merupakan reklamasi teluk di ibukota ini semakin indah. Bermacam-macam orang datang kesini dengan tujuan yang berbeda. Beberapa meter lagi, mereka akan sampai untuk melihat dengan jelas pemandangan matahari terbenam.

“Lo pernah nolak perasaan lo, saat lo suka sama seseorang?” tanya Tiara.

“Pernah,” jawab Akmal. Langkah kaki keduanya berhenti dan di depan mereka kini terpampang pemandangan matahari terbenam.

“Terus gimana?”

“Gue nggak bisa nolak perasaan itu selamanya. Jadi gue mutusin suka sama orang itu sampai saat ini,” jelas Akmal.

Tiara dan Akmal menikmati pemandangan sunset di tambah angin yang bertiup lembut, terasa begitu menenangkan pikiran.

“Lo nggak pernah cerita sama gue soal ini, padahal kita temenan lama. Lo emangnya nggak anggap gue sahabat lo?” tanya Tiara dengan nada seolah-olah ia tengah marah besar pada Akmal.

She have someone, Ra.”

Tiara termangu mendengarnya. Ia memutuskan tidak bertanya lebih lanjut karena tidak ingin membuat perasaan sahabatnya menjadi kacau.

“Ohya Ra, lo tahu kenapa gue suka banget sama tempat ini?”

“Kenapa?”

“Saat lo punya masalah, entah itu cinta, keluarga, atau lo khawatir dengan masa depan lo. Tempat ini bisa bikin lo tenang. Nggak akan ada yang ngeliat lo dengan tatapan ingin tau, xkarena mereka juga memiliki tujuan masing-masing ke tempat ini.”

“Lampu jalannya cuma ada dikit Mal. Pantes aja di sini gelap.” Tiara menyapukan pandangannya ke sekeliling untuk memastikan. Benar saja, lampu jalan disini sangat minim.

But I still can see a star, in front of me,” papar Akmal.

Where?

Here,” Akmal mengunci pandangan Tiara dengan kedua netranya. Tiara mendapati Akmal menatapnya dengan cara yang berbeda selama ia mengenal pria ini.

Like a star, you light up my world, Tiara.”

Tiara terdiam tanpa bisa mengeluarkan sepatah kata pun dari mulutnya. Ia menyadari satu hal hari ini. Sahabat lelakinya tengah menaruh perasaan padanya, sebuah perasaan untuk menjadi lebih dari seorang teman.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mendapat tugas mengajarinya memasak mulai hari ini hingga setidaknya sampai Tiara bisa masak makanan kesukaan pria itu.

Sebenarnya, Aryo tidak terlalu pemilih terhadap makanan. Namun terasa sulit bagi Tiara yang belum ahli memasak. Meski Tiara mengatakan, gadis itu sering membantu bundanya di dapur, tapi tetap saja ia harus belajar dari orangnya langsung agar racikannya sesuai dengan selera Aryo.

Setelah 30 menit di dapur, akhirnya Tiara mendapat tugas mencuci piring kotor. Aryo mengambil alih teflon dan melanjutkan memasak sarapan untuk mereka, setelah Tiara hampir saja membakar seisi dapurnya.

“Padahal tadi cuma kebesaran dikit apinya. Lo bisa lanjut ajarin gue masak, Aryo. Yaa ... boleh ya ...?” pinta Tiara sambil menunjukkan wajah memelasnya.

Tiara masih ingin melanjutkan sesi les memasaknya bersama Aryo, tapi lelaki itu justru menyuruhnya duduk manis dan menunggu makanannya siap. Rupanya Tiara tidak menyerah untuk meminta perhatian Aryo yang sedang fokus dengan kegiatan memasaknya itu.

“Nanti lo malah kenapa-napa,” ujar Aryo.

“Gue nggak bakal membakar rumah ini, Aryo.”

Indeed. Tapi lo membahayakan diri lo sendiri, Ra. Kita berdua bisa ada dalam bahaya.”

“Oke-oke. Karena lo udah berjasa untuk perut gue pagi ini, you can ask me for one wish. You can tell what you want.” Tiara mengekori Aryo yang membawa sepiring besar masakan yang sudah siap ke meja makan.

“Permintaan gue cuma satu. Gimana kalau kita nggak langgar perjanjian yang udah kita sepakatin?” ucap Aryo sambil menatap ke mata Tiara.

“Kenapa? Bukannya dengan punya keturunan akan menguntungkan posisi lo yang sekarang?”

You’re right, Tiara.”

“Keluarga lo juga menginginkan keturunan dari kita, kan?”

Aryo nampak berpikir sejenak, mereka duduk berhadapan setelah ia menarik kursi meja makan.

“Kita bakal cari cara, biar mereka nggak buru-buru minta anak dari kita.”

“Sebelum kita cerai, keluarga akan nuntut anak dari kita. Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Aryo. Kayak yang lo bilang sebelum kita nikah, mereka bisa curiga sama pernikahan kita. Keluarga lo bisa aja minta lo nikah lagi, karena kalau sama gue, lo nggak akan mendapatkannya.” Tiara mengambil piring dan mengisinya dengan nasi dan lauk, lalu ia menaruhnya di hadapan Aryo.

“Kenapa lo bisa nyimpulin kayak gitu?” tanya Aryo dengan kerutan yang muncul di dahinya.

“Kalau nggak ada keturunan dalam keluarga, pilihan itu bisa diambil, kan? Kalau gitu, lebih baik kita cerai lebih cepat aja. Karena gue nggak mau di madu dan gue nggak bisa ngeliat itu dengan mata kepala gue, Aryo.”

“Kenapa lo nggak bisa meihat itu?” tanya Aryo yang belum mengerti mengapa Tiara dapat berpikiran sedemikian rupa.

Tiara menghela napasnya sejenak, lalu ia menatap Aryo tepat di iris matanya, “I have a reason. Like you said before, about the feeling, I can’t ignore my feeling to you. I break the rules, because I started falling for you,” ujar Tiara sambil menatap tepat ke dalam mata Aryo.

***

“Kita akhiri rapat hari ini, kalian bisa istirahat.” Aryo mengakhiri rapat yang dipimpin olehnya. Satu persatu karyawan pun mulai meninggalkan ruangan.

Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangannya, memperkirakan sisa waktu yang dimilikinya sebelum jadwal berikutnya.

“Ram, tolong cek jadwal gue setelah makan siang nanti,” ucap Aryo pada asistennya ketika mereka keluar dari ruang rapat.

“Lo jadi pembicara di seminar kampus jam 2 siang,” ujar Rama.

“Oke, tolong siapin mobil untuk gue ke sana.”

“Siap Bos.”

***

Hari ini jadwal Aryo cukup padat dan banyak yang harus ia lakukan di kantor. Sebagai kandidat presiden direktur yang selanjutnya, pria itu harus bekerja dua kali lipat menjelang hari pemilihan. Ada dua kandidat, yakni dirinya dan sepupu laki-lakinya, Elnino.

Ketika terlahir dan dibesarkan di keluarga pebisnis, Aryo tahu apa yang harus ia lakukan untuk masa depannya. Bersaing dengan sepupunya sendiri, termasuk salah satu yang harus ia hadapi.

Aryo jadi ingat kalimat Tiara tentang adanya anak dalam pernikahan mereka. Soal gadis itu yang mengungkapkan perasaan padanya dan meminta cerai lebih cepat, jika dirinya memilih mengikuti jejak eyang kakung. Tiara berpikiran bahwa bersama gadis itu Aryo tidak akan memiliki keturunan.

Sepupunya yang merupakan rivalnya itu, sudah memiliki dua orang anak. Terlebih anak pertamanya yang kira-kira seumuran Kelvin, adalah laki-laki. Hal tersebut membuat posisi El sebagai calon penerus lebih kuat dibanding dirinya.

Pintu ruangannya di ketuk dan nampak asistennya muncul disana.

“Bos, mobil lo udah siap.”

“Oke.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara menunggu Aryo kembali ke rumah setelah satu minggu ia menginap di rumah orang tuanya. Tiara mengetahui jadwal Aryo yang sangat padat di kantor, karena jadwal pengangkatan presiden direktur yang baru semakin dekat. Beberapa kali Tiara berinisiatif menelfon Aryo, untuk memastikan pria itu makan dan tidur dengan benar.

Matanya menangkap sebuah mobil yang amat Tiara kenali. Kemudian ia mendapati sosok Aryo dengan tampilan formal khasnya. Tuxedo hitamnya yang ditenteng sehingga hanya menyisakan kemeja putih yang melapisi tubuh tegapnya. Dasi yang dikenakan pria itu sudah sedikit dikendurkan dan raut wajah lelahnya membuat Tiara sedikit khawatir.

Tiara berjalan kecil menghampiri Aryo, gadis itu menampakkan senyum cerianya ketika Aryo menatapnya dengan sedikit terkejut. Tiara memang tidak memberitahu Aryo tentang kepulangannya. Ini sudah menjelang malam, jadi Aryo berpikir mungkin Tiara memilih pulang besok pagi.

Sejenak tubuh Tiara terasa membeku kala Aryo meraih tubuhnya ke dalam pelukan pria itu.

Please, give me a five minutes for this,” ujar Aryo di dekatnya.

Biasanya Tiara akan membalas apapun itu ketika Aryo berbicara atau melakukan sesuatu terhadapnya. Namun kali ini kata-kata itu tertahan di bibirnya. Tiara mencoba mengerti akan sikap Aryo itu, guna membuatnya merasa lebih baik, dari apapun yang mungkin sedang di rasakannya saat ini.

Kemudian Tiara merasakan Aryo mengurai pelukan mereka.

“Lo bilang lima menit,” ujar Tiara.

I’m hungry.” Aryo menampakkan cengiran di wajahnya.

“Kayaknya gue mau makan masakan buatan lo,” sambung Aryo.

“Oke, lo mau makan apa?”

“Lo bisa masak nasi goreng?”

“Kalau cuma nasi goreng sih, gue bisa. Lo mandi dulu, abis itu makanannya bakal siap,” ucap Tiara.

***

Sepiring nasi goreng di tambah telur mata sapi, beserta segelas susu putih hangat telah tersaji di meja makan. Di hadapan Aryo, Tiara duduk sambil menopang wajah dengan kedua tangannya. Ia ingin menyaksikan Aryo memakan masakannya untuk yang pertama kali.

Aryo memulai dengan satu suapannya dan menatap ke arah Tiara yang justru menjadi gugup karena kelakuan pria itu.

“Gimana? Enak nggak?” Tiara memasang tampang harap-harap cemasnya.

“Ini enak, Tiara.”

Tiara tersenyum semringah dan menghembuskan napasnya lega. Ia memperhatikan Aryo menyantap masakannya dan itu membuatnya merasakan debaran luar biasa yang lebih intens dari yang sebelumnya.

Thank you for this, Ra.” Aryo selesai dengan makanannya. Kemudian Aryo juga menghabiskan susu putih hangatnya tanpa menyisakannya sedikit pun.

I have something for you,” ucap Aryo setelah menaruh piring dan gelas kotornya ke wastafel.

“Malem-malem gini?” tanya Tiara yang dijawab anggukan oleh Aryo.

“Serius ini udah malem, Aryo. Jangan yang aneh-aneh,” peringat Tiara.

Aryo hanya memintanya mengikutinya. Ternyata pria itu membawanya ke sebuah tempat yang belum Tiara kunjungi di rumah ini, yaitu sebuah ruangan movie theater.

Tiara menatap takjub ruangan itu. Matanya menyapu sekeliling ruangan dengan desain interior berwarna serba ungu dan sedikit sentuhan warna hitam, membuat tempat itu terlihat fancy. Pada bagian langit-langit, terdapat lampu-lampu kecil yang membuat suasana terasa seperti di luar angkasa.

Are you like it?” tanya Aryo ketika mereka sudah duduk bersebelahan dan siap menyaksikan film di layar yang besar.

Tiara mengangguk dengan cepat.

I really like it. Thankyou so much for this,” ucap Tiara.

Setelah itu mereka mulai menikmati film yang di putar. Selang satu jam film berjalan, Aryo memperhatikan wajah Tiara dari samping dan kepala gadis itu hampir saja membentur tangan kursi, kalau saja Aryo tidak sigap memberikan pundaknya sebagai sandaran.

Aryo tersenyum kecil melihat Tiara yang tertidur. Ia membiarkan gadis itu menggunakan pundaknya sebagai alas dan tidak membangunkannya.

Setelah filmnya selesai, Aryo memutuskan membawa Tiara ke kamarnya. Aryo menggendong Tiara ala bridal style dan membaringkan perempuan itu di kasur queen size-nya.

Setelah mematikan lampu kamar Tiara, Aryo memutuskan untuk pergi dari sana, tapi saat ia berbalik, lengannya di tahan.

“Aryo,” panggil Tiara.

“Ra, lo bisa tidur lagi.” Aryo mengusap tangan Tiara yang memegang lengannya itu.

Tiara menggelengkan kepalanya, lalu ia berusaha bangun dari posisinya.

Can we have this night? Only for us?” tanya Tiara. Tiara merasa udara di sekitarnya menipis dan kedua pipinya terasa memanas ketika jarak wajahnya dan Aryo begitu minim.

“Disini aja malam ini, ya?” pinta Tiara.

“Gue temenin sampai lo tidur,” ucap Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya. “Don’t leave me.”

“Tiara, apa lo sadar yang lo ucapin?” tanya Aryo.

“Apa ucapan gue salah?”

“Kita harus jaga batasan itu, Ra. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Aryo.

Why you care? Just don’t care about the feeling. We will eventually get divorced. Akhirnya kita akan tetep bercerai. We just enjoy the time,” ujar Tiara.

I want a baby,” sambungnya. Mata mereka bertemu dan dua detik setelahnya, Tiara menyatukan bibirnya dengan bibir Aryo. Dari hanya kedua belah bibir yang saling menempel, perasaan menggebu keduanya mendorong mereka untuk sampai ke penyatuan yang lebih dalam.

Aryo memperdalam ciumannya saat Tiara mengalungkan lengannya pada lehernya. Agar mempermudah segalanya, mereka mengambil posisi yang nyaman. Aryo mengunci tubuh kecil Tiara di bawahnya dan penyatuan itu kembali terjadi cukup lama.

Aryo mengisyaratkan pada Tiara untuk membuka mulutnya lebih lebar agar Aryo bisa memasukinya dan mengabsen setiap celah milik Tiara yang ada di dalam.

Mereka mengambil napas dengan melepaskan pagutan itu sejenak. Tidak sampai lima detik setelahnya, mereka melanjutkan adegan panas tersebut. Kali ini keduanya bergerak dengan tempo sedang yang tidak secepat dan seintens sebelumnya. Terjadilah sebuah ciuman dengan senyum di kedua bibir masing-masing, ketika lumatan berganti dengan hanya kecupan dan sesapan lembut.

Are you sure about that?” tanya Aryo atas pernyataan Tiara yang sempat tertunda berkat ciuman panas yang mereka lakukan barusan.

Yes, we can have a baby like others,” ujar Tiara lalu ia mengulaskan senyumnya dan mengusap sisi wajah Aryo dengan tangannya.

Tiara sedikit mendongak untuk menatap wajah Aryo begitu sebaliknya pria itu menatapnya sambil tersenyum.

“Artinya kita udah melanggar perjanjiannya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara dengan tatapan penuh arti. Tiara tersenyum kecil, lalu gadis itu mengangguki ucapan Aryo barusan.

***

Saat terbangun, kedua mata Aryo disuguhkan pemandangan wajah tertidur damai milik Tiara. Mata gadis itu masih terpejam tenang. Bibirnya terkatup dengan kedua ujungnya yang membentuk titik kecil. Aryo pikir Tiara sedang bermimpi indah, jadi gadis itu tersenyum dalam tidurnya.

Tidak sampai tiga puluh menit, Tiara terbangun dari tidur nyenyaknya dan mendapati Aryo yang menungguinya. Timbul sebuah perasaan bahagia sederhana yang tulus dari dalam hati Tiara.

“Lo bisa telat kerja nanti. Lo harus bangun untuk siap-siap, Aryo,” ucap Tiara ketika sadar bahwa hari sudah beranjak siang, namun yang dilakukan Aryo hanya menatap wajah bangun tidurnya.

Ini bukan yang pertama mereka tidur bersama seperti ini, tapi ada yang berubah yakni perasaannya terhadap Aryo, cara mereka saling menatap, dan perlakuan satu sama lain.

“Siapa yang mau kerja di hari minggu?” tanya Aryo.

My bad. Gue lupa kalau ini hari Minggu. Jadi, hari ini lo nggak ke kantor?”

Aryo mengangguk.

Nice. Kita bisa ngelakuin banyak hal,” ujar Tiara.

Do you have to do list?” tanya Aryo menahan Tiara yang hendak turun dari kasur.

Tiara kembali menatap Aryo, “Of course. I have a lot to do as a wife. Do a laundry, cooking, cleaning up and many more.”

So what can I do as husband?

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara merasa rindu dengan keluarga dan rumahnya. Selain perasaan rindunya tersebut, Tiara mengatakan pada Aryo alasannya pulang ke rumah adalah untuk mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal.

Ketika sampai di rumahnya, Tiara mendapati kedua adiknya yang sedang mengerjakan tugas sekolah di ruang tamu. Ketika adiknya menyadari kehadirannya, mereka langsung menghambur pada Tiara untuk memeluknya.

“Kakak, I missed you!” seru Kelvin ketika pelukan mereka terurai. Mata adiknya kemudian menuju pada sosok jangkung di belakang Tiara.

“Kak Aryo ikut ke sini? Tapi kan di rumah ini nggak ada kamar lagi. Kak Aryo nanti tidurnya dimana?” tanya Kelvin dengan polosnya.

“Kakak tidur di kamarnya Kak Tiara,” jawab Aryo sambil mengulaskan senyumnya pada Kelvin.

“Tidur berdua dong?” tanya bocah laki-laki itu lagi.

“Iya,” jawaban Aryo itu seketika membuat Tiara mengarahkan tatapan mematikannya kepada Aryo.

Kemudian kehadiran bundanya dari kamar menginterupsi pembicaraan mereka. Chelsea juga terlihat senang akan kedatangan Tiara dan menanyakan apakah kakaknya itu menginap atau hanya sekedar berkunjung.

“Kakak mau nginep di sini, karena kangen banget sama kalian. Kalian seneng nggak?” tanya Tiara pada kedua adiknya.

“Lho Kak, kamu mau nginap?” tanya Alifia.

“Iya, Bunda. Tiara udah izin sama Aryo kok,” jelas Tiara sambil melirik ke arah Aryo.

“Ohh, gitu. Tapi nanti Aryo siapa yang ngurus waktu kamu nginep disini?” tanya Alifia lagi.

Kedua adiknya mengajak Aryo untuk bermain di halaman rumah setelah Aryo menyalami tangan mertuanya itu.

Tiara menghampiri Alifia dan mereka duduk di sofa berhadapan. “Tiara nikah terlalu cepat dan semua ini rasanya mendadak banget buat Tiara, Bun. Tiara tetap menghormati Aryo sebagai suami dan Tiara nggak akan nginap kalau Aryo nggak ngasih izin,” jelas Tiara seolah mengerti kekhawatiran yang bersarang di pikiran Alifia.

“Emangnya Bunda nggak kangen sama Tiara?” sambung Tiara sambil meraih tangan Alifia untuk ia gengga,.

Alifia menggelengkan kepalanya, lalu tangannya bergerak untuk mengusap kepala Tiara dan menatapnya penuh kasih sayang.

“Mana mungkin Kak, Bunda nggak kangen kamu. Berat rasanya ngelepas kamu untuk nikah secepat ini. Bunda kangen kamu setiap hari, Tiara. Kamu sama Aryo baik-baik aja kan?”

“Kalau istri pulang ke rumah orang tuanya, apa artinya suami dan istri itu lagi nggak baik-baik aja, Bun?”

“Bunda cuma agak khawatir sama pernikahan kalian. Awalnya Bunda sempet takut pas ngelepas kamu nikah, tapi Bunda bahagia karena sekarang ada yang jagain kamu. Kamu keliatan bahagia sekarang. Ayah sama Bunda rasanya lega udah berhasil menjaga dan membesarkan kamu, Kak.”

***

Sebelum Aryo pulang dari rumahnya, Andi dan Alifia memintanya untuk makan malam bersama. Tiara mengambilkan piring untuk Aryo dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.

“Kak Aryo, kakak nggak boleh tidur di kamar Kak Tiara,” celetuk Kelvin yang duduk di samping kiri Aryo. Adik lelakinya dan Aryo terlihat lebih akrab dari pada sebelumnya.

Tiara yang duduk di samping kanan Aryo pun meminta penjelasan pada Aryo tentang Kelvin yang masih mengingat topik bahasan tersebut.

Andi dan Alifia yang duduk di depan mereka saling bertatapan kemudian tertawa kecil.

“Kelvin, sayang. Nggak boleh bicara kayak gitu ya Nak,” ujar Andi.

“Suami dan istri emang harus tidur berdua, Kelv. Kayak Ayah sama Bunda, kan? Jadi Kak Aryo dan Kak Tiara juga tidur berdua,” cerocos Chelsea.

Kelvin terlihat mem-pouty kan bibirnya setelah mendengar ujaran dari Chelsea itu.

“Kakak nggak boleh tidur sama Kak Tiara, karena Kakak udah janji mau ajarin Kelvin main game. Jadi tidurnya di kamar Kelvin aja,” pinta anak lelaki itu.

Semua orang yang ada di meja makan menjadi terkejut. Rupanya Kelvin yang biasanya selalu posesif dengan Tiara kini beralih posesif pada Aryo.

“Kelvin, Kak Aryo nggak bisa nginep di sini,” ujar Tiara.

“Kenapa?” sahut Kelvin cepat. Rona wajah anak itu memerah dan sedetik setelahnya ia mengeluarkan jurus andalannya yakni dengan menangis. Kelvin tidak mau tenang bahkan ketika bundanya yang turun tangan. Tiara akhirnya meminta tolong Aryo untuk menenangkan adiknya itu. Kelvin maunya di gendong oleh Aryo untuk ke kamarnya.

Tiara menghembuskan napas lega saat Kelvin mulai tenang dan Aryo membawanya ke kamar, padahal adiknya itu tadi sempat tantrum.

“Tiara, kamu ini suka usil sama adikmu sih,” ujar Andi.

Tiara beralih menatap ayahnya, “Bukan gitu Ayah, Aryo emang nggak bisa nginep di sini. Dia ada kerjaan kantor yang harus diselesaiin,” jelas Tiara.

“Setelah Kelvin tenang dan tidur, kamu anterin makanan untuk Aryo ya. Kasihan dia nggak jadi makan,” ucap Alifia dan Tiara pun mengiyakan.

***

Kedua tangan kecil Kelvin memeluk leher Aryo sementara pria itu setia menimangnya, memastikan bocah lima tahun itu tertidur pulas.

Aryo menyadari kehadiran Tiara di ambang pintu dengan membawa piring berisi makanan.

By the way, makasih ya udah mau direpotin sama Kelvin,” ucap Tiara sembari meletakkan piring makanan untuk Aryo di nakas samping kasur.

Selang sepuluh menit kemudian, rupanya Kelvin bersikap baik ketika Aryo meletakkannya di kasur. Anak lelaki itu terlihat tenang dalam tidurnya dan tidak menampakkan tanda-tanda akan menangis lagi.

“Tiara,” panggil Aryo.

“Ya?”

“Jaga diri lo ya selama di sini.”

Tiara mengangguk mengiyakan.

“Hmm ... boleh gue tanya sesuatu sebelum sebelum lo pulang dari sini?” tanya Tiara.

“Tanya aja.”

“Dalam perjanjian, apa masing-masing pihak dibolehin untuk punya hubungan sama lawan jenis, selama masih menikah?”

You have someone?” Aryo justru memberikannya pertanyaan balik.

Not yet. How about you?

“Kita nggak akan pernah tau perasaan seseorang kedepannya. Kalau suatu hari, perasaan itu muncul untuk siapapun itu, gue nggak bisa menolaknya. Begitupun lo, Tiara. Lo boleh memilih itu, selama keluarga nggak akan tau.”

Oke then. I got your answer.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Guys, gue udah di jemput nih. Gue duluan ya. Semangat buat presentasi besok, kita harus dapet nilai A pokoknya,” ujar Tiara sambil melakukan high five dengan satu persatu teman kelompoknya. Pekerjaannya bersama grupnya hari ini sudah selesai tepat pukul sembilan malam.

“Di jemput siapa lo Ra?” tanya Vania yang merupakan salah satu teman perempuannya.

“Suami gue. Udah nunggu di parkiran P1,” jawab Tiara.

“Cieee di jemput suami,” seru Fashan menggoda Tiara.

“Kok suami lo nggak jemput ke sini Ra? Boleh lah bawa ke kita, kenalin dulu gitu,” celetuk Wilda.

Guys, dia udah nungguin. Gue harus cabut sekarang, oke?” ucap Tiara sambil terkekeh menanggapi reaksi temannya ketika ia menyebutkan suaminya.

“Oke deh. Lo hati-hati Beb. Jangan lupa salamin buat suami lo yaa,” seru Vania sebelum Tiara melangkah pergi dari coffee shop itu.

***

Sebenarnya sama sekali tidak ada rencana bagi Aryo dan Tiara untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Namun ketika Aryo bilang dirinya belum makan malam dan di rumah tidak ada masakan, Tiara memberi saran untuk mereka makan di luar.

Keduanya menatap ke hamparan gedung perkotaan yang terlihat lebih kecil dari atas sini. Restoran sekaligus bar ini mengusung konsep rooftop. Sehingga rasanya sangat cocok untuk menikmati makan malam sambil memanjakan mata dengan pemandangan langit dan bangunan kota Jakarta.

“Gue tebak, lo belum pernah makan makanan pedagang kaki lima atau paling enggak rumah makan biasa,” cetus Tiara membuka pembicaraan.

“Gue pernah,” jawab Aryo.

“Lo masih inget itu kapan?”

Aryo terlihat mengingat beberapa detik. Kemudian menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tiara yang kedua itu.

Tiara mengatakan bahwa baginya restoran pilihan Aryo ini cukup mewah. Namun bagi Aryo, restoran ini masih terbilang biasa saja untuknya.

“Kapan-kapan lo mau nyobain makanan kaki lima? Gue bisa jamin, rasa makanannya nggak kalah jauh dari restoran mewah,” tutur Tiara dengan nada percaya dirinya. Ekspresi gadis itu terlihat sangat meyakinkan dan tidak ada keraguan sedikit pun dari ucapannya.

I bet you will like it,” timpal Tiara lagi.

Oke-oke, I'll try,” putus Aryo.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiara mulai menyantap sesuap makanannya dan Aryo menunggu reaksi gadis itu.

“Gimana rasanya? Lo kasih rate berapa makanan restoran mewah?” tanya Aryo.

“Delapan,” jawab Tiara.

Seriously? For me it's nine,” ujar Aryo sambil menatap Tiara dengan ekspresi terkejutnya.

“Bagi gue delapan, Aryo,” ujar Tiara sambil setengah berbisik.

Tiara menghabiskan makanannya lebih dulu dari Aryo. Sadar di perhatikan, gadis itu lantas memergoki Aryo yang tengah menatapnya dan membuatnya merasa gugup.

“Gue habis duluan karena gue laper banget,” jelas Tiara seolah ia dapat membaca apa yang sedang Aryo pikirkan terhadapnya.

“Oke-oke. Lo mau nambah makanannya? Biar gue pesenin lagi.”

Nope. Gue udah kenyang,” ujar Tiara lantas menyeruput minumannya.

“Kalau lo suka, gue juga bisa masa yang kayak gini,” cetus Aryo.

“Beneran?” tanya Tiara yang seketika membuat kedua netra gadis itu berbinar.

Aryo mengangguk. “Kalau makanan kaki lima yang lo bilang bisa bersaing sama makanan restoran, gue akan masakin lo. Gimana?”

“Oke, kita deal ya?”

Deal.”

***

Saat lampu merah di depan, Tiara menoleh pada Aryo dan ia menanyakan sesuatu yang membuatnya cukup penasaran.

You ever hated your life? “ tanya Tiara.

Aryo nampak berpikir sejenak dengan kedua alisnya yang menyatu, “I was. I hated my life and felt empty.”

Tiara menatap Aryo tidak percaya. Selama ini ia berpikir kehidupan pria itu sempurna karena telah memiliki segalanya.

“Tapi lo hampir punya segalanya yang mungkin orang di luar sana nggak punya. What's make you feel empty?” tanya Tiara lagi yang masih penasaran.

I lost someone I loved. I got privilege from my family, but I lost a lot too,” Aryo menoleh dan menatap Tiara. Dari tatapan itu, Tiara bisa menemukan kesedihan di sana.

“Lo pernah kehilangan seseorang dalam hidup lo?” tanya Aryo balik pada Tiara.

Tiara mengerjapkan matanya dan ia mengulaskan senyum getirnya. “I was. Gue kehilangan dua orang yang paling gue sayang,” ungkap Tiara.

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau dan Tiara mengingatkan Aryo. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara, lalu kembali memanuver mobilnya untuk membelah jalanan kota Jakarta.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷