alyadara

Aryo mengantar Tiara ke kampus pagi ini. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantarnya sampai ke gedung fakultasnya, tapi Tiara tidak mengizinkannya.

Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat Aryo memaksa ingin turun dari mobil.

“Kamu nggak boleh turun,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya..

Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”

“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin sampai satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.

“Oke,” putus Aryo.

Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo kemudian mengecupnya di sana.

“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.

“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”

“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”

Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.

Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.

“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.

“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.

Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.

“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go right now.

No kiss for me?” Aryo matanya masih fokus menatap Tiara.

You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan manis di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.

Aryo menunggui Tiara sampai perempuan itu masuk ke dalam gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.

Selesai memberi arahan pada Egha, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.

***

Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah periklanan internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya akan diadakan minggu depan.

Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti sejenak ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.

Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.

Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.

“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.

“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.

“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya,” ucap Egha.

“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.

“Nggak usah, nggak papa kok Mal. Makasih ya by the way udah mau nawarin.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.

Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.

***

Di perjalanan pulang, Tiara membaca pesan yang dikirim Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya becanda.

Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke

Sent.

Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Sekitar 30 detik kemudian, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali terkejut dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.

“Egha lo bisa jelasin sama gue, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.

“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.

Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”

“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.

Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai dengan benar jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.

“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.

“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.

Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.

Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, sebuah pengendara bermotor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.

Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.

“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara dengan nada marahnya.

“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.

“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.

Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal serta memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.

***

I love him.

Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.

Sebuah kenyataan harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.

Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan malam. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.

Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan, sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya—yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meskipun harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mengantar Tiara ke kampus pagi ini. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantarnya sampai ke gedung fakultasnya, tapi Tiara tidak mengizinkannya.

Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat Aryo memaksa ingin turun dari mobil.

“Kamu nggak boleh turun,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya..

Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”

“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin sampai satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.

“Oke,” putus Aryo.

Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo kemudian mengecupnya di sana.

“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.

“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”

“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”

Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.

Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.

“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.

“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.

Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.

“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go right now.

No kiss for me?” Aryo matanya masih fokus menatap Tiara.

You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan manis di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.

Aryo menunggui Tiara sampai perempuan itu masuk ke dalam gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.

Selesai memberi arahan pada Egha, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.

***

Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah periklanan internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya akan diadakan minggu depan.

Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti sejenak ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.

Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.

Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.

“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.

“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.

“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya,” ucap Egha.

“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.

“Nggak usah, nggak papa kok Mal. Makasih ya by the way udah mau nawarin.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.

Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.

***

Di perjalanan pulang, Tiara membaca pesan yang dikirim Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya becanda.

Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke

Sent.

Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Sekitar 30 detik kemudian, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali terkejut dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.

“Egha lo bisa jelasin sama gue, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.

“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.

Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”

“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.

Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai dengan benar jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.

“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.

“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.

Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.

Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, sebuah pengendara bermotor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.

Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.

“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara dengan nada marahnya.

“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.

“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.

Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal serta memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.

***

I love him.

Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.

Sebuah kenyataan harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.

Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan malam. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.

Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan, sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya —– yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meskipun harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo mengantar Tiara ke kampus pagi ini. Ketika mereka sampai di parkiran, Aryo mengatakan ingin mengantarnya sampai ke gedung fakultasnya, tapi Tiara tidak mengizinkannya.

Aryo tergelak ketika Tiara memegangi lengannya saat Aryo memaksa ingin turun dari mobil.

“Kamu nggak boleh turun,” ucap Tiara sambil menggelengkan kepalanya..

Aryo menyatukan alisnya. “Alasannya?”

“Nggak ada alasan. Udah yaa, aku turun dulu. Dosen aku lima menit lagi sampai kelas. Aku nggak mau kehilangan absen cuma karena telat beberapa menit.” Sebenarnya Tiara tidak ingin sampai satu fakultasnya menjadi heboh karena melihat suaminya.

“Oke,” putus Aryo.

Sebelum turun dari mobil, Tiara mengambil tangan Aryo kemudian mengecupnya di sana.

“Nanti kamu dijemput Egha ya,” ujar Aryo.

“Siap Pak Bos. Kamu pulang kantor jam berapa?”

“Belum tahu. Nanti aku kabarin kamu.”

Tiara lanats menghambur memeluk Aryo dan pria iu sedikit terkesiap. Namun sesaat kemudian, ia balas melingkarkan satu tangannya ke punggung Tiara dan tangan satunya lagi mengusap sayang kepala gadis itu.

Bye. Kamu hati-hati di jalan ya,” ucap Tiara saat ia mengurai pelukannya.

“Tiara,” panggil Aryo sebelum gadis itu membuka pintu mobil.

“Nanti aku telat lho—” ucapan Tiara tertahan ketika Aryo mencondongkan tubuhnya untuk memberikan kecupan di pipinya.

Tiara tidak bisa menahan sebuah senyum terbit di wajahnya. Senyum itu begitu cerah, hingga membuat Aryo khawatir banyak pria lain yang akan tergila-gila dengan senyum wanitanya.

“Cantik banget sih istri aku,” celetuk Aryo.

Tiara mengulaskan senyumnya, “I must go right now.

No kiss for me?” Aryo matanya masih fokus menatap Tiara.

You're lucky today, Sir,” Tiara mendekatkan tubuhnya untuk memberi sebuah kecupan manis di pipi Aryo. Kemudian gadis itu membuka pintu mobil dan beranjak dari sana.

Aryo menunggui Tiara sampai perempuan itu masuk ke dalam gedung fakultasnya. Kemudian Aryo menghubungi Egha dan mengatakan bahwa
ada yang harus pria itu persiapkan sebelum menjemput Tiara.

Selesai memberi arahan pada Egha, Aryo pun memanuver Jeep Rubicon putihnya untuk meninggalkan pelataran kampus.

***

Kelas Tiara berakhir pukul 6 sore dengan mata kuliah periklanan internasional. Miss Jessica menutup kelas hari ini dengan mengumumkan bahwa ujian akhir semester mata kuliahnya akan diadakan minggu depan.

Tiara memerhatikan teman-teman sekelasnya yang sempat terhenti sejenak ketika melewati pintu kelas untuk melihat sesuatu di sana.

Sosok yang jadi penarik mata itu berdiri tegap sambil memerhatikan satu persatu mahasiswa yang keluar dari kelas tersebut.

Tiara mengemasi barang-barangnya dan bergegas keluar. Akmal yang melihat Tiara berjalan keluar dari kelasnya lantas menyusulnya dan berniat menawarkan tumpangan.

“Non Tiara, Tuan Aryo ngasih saya tugas untuk menjemput Non,” ucap sosok yang rupanya sedari tadi menarik atensi anak-anak kelasnya.

“Oke,” jawab Tiara setelah mendapati bahwa pria itu adalah Egha.

“Biar saya bantu bawakan barang-barangnya,” ucap Egha.

“Ra, lo pulang sama siapa? Gue baru mau nawarin bareng,” ujar Akmal yang mendapati Tiara bersama Egha.

“Nggak usah, nggak papa kok Mal. Makasih ya by the way udah mau nawarin.” Tiara memberi tahu pada Akmal bahwa Egha adalah orang yang bekerja untuk Aryo, jadi Tiara akan aman bersamanya.

Egha yang berdiri di samping Tiara menerima dua tas bawaan Tiara yang perempuan itu berikan padanya. Tiara mengatakan pada Akmal kalau ia harus segera pulang. Akmal pun mengiyakan, tapi tetapannya tidak lepas dari punggung Tiara yang bergerak menjauhinya.

***

Di perjalanan pulang, Tiara membaca pesan yang dikirim Akmal padanya. Pria itu mengatakan bahwa ia akan mengikuti Tiara dari belakang untuk menjaganya. Tiara merasa aneh akan sikap Akmal yang berlebihan kepadanya, tapi Tiara pikir pria itu hanya becanda.

Mal, gue aman kok. Lo nggak perlu ikutin gue, it’s oke

Sent.

Tiara menaruh ponselnya di kantung celana jeans-nya setelah membalas pesan dari Akmal. Sekitar 30 detik kemudian, terdengar suara tembakan yang cukup kencang. Ternyata tembakan peluru itu mengenai kaca bagian belakang mobil, tapi tidak sampai menembus ke dalam karena tembakannya melesat. Egha yang menyetir di sampingnya tidak terlihat terkejut sama sekali terkejut dan hanya meminta Tiara untuk tetap tenang.

“Egha lo bisa jelasin sama gue, sebenarnya ada apa?” tanya Tiara. Egha tidak menggubrisnya, justru pria itu berkomunikasi menggunakan earphone wireless yang terpasang di telinganya.

“Lapor. Satu tembakan mengenai mobil bagian belakang. Sampai tujuan sekitar 10 menit lagi,” ujar Egha.

Setelah mendengar perintah dari ujung sana, Egha kembali bicara. “Lapor. Non Tiara aman. Perintah diterima dan akan dilaksanakan.”

“Non, tolong pakai jaket anti peluru yang ada di jok belakang,” perintah Egha pada Tiara.

Tiara yang tidak sempat meminta penjelasan pada Egha hanya menuruti perkataan pria itu. Tiara lantas memakai dengan benar jaket anti peluru yang ia ambil dari jok belakang.

“Jangan telfon Tuan Aryo, Non. Tuan saat ini tidak bisa menjawab panggilan Anda,” ucap Egha lagi.

“Tuan sengaja nyimpan semuanya dari Non Tiara karena nggak ingin membuat Non khawatir,” sambung Egha.

Diluar prediksi Egha, jarak tempuh untuk sampai tempat tujuan dengan kecepatan mengemudinya, tidak dapat mengimbangi frekuensi tembakan peluru yang menembaki mobil dari sisi kanan, kiri, maupun belakang.

Saat Egha fokus menyetir dan menambah kecepatan mengemudinya, sebuah pengendara bermotor menyalip mobilnya hingga menghadang mereka dan mobil pun berhenti. Tiara dan Egha mendapati pengendara itu adalah Akmal.

Akmal menghampiri pintu di samping Tiara dan membuka helm full face-nya. Tiara yang mendapati pengendara itu adalah sahabatnya, segera membuka jendelanya.

“Apa yang lo lakuin? Ini bahaya, Mal. Lo bisa celaka,” ucap Tiara dengan nada marahnya.

“Gue akan nganter lo sampai tujuan. Gue pastiin lo aman,” tutur Akmal.

“Itu pilihan yang lebih baik untuk sekarang, Non. Saya akan ngalihin perhatian mereka untuk melindungi keselamatan Non Tiara,” ucap Egha.

Tiara pun menurutinya. Ia segera turun dari mobil dan menaiki motor Akmal serta memasang helm di kepalanya. Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh setelah Tiara melingkarkan tangannya di pinggangnya.

***

I love him.

Tiga kata itu rasanya terus berputar di dalam benaknya. Setelah menyelamatkan gadis yang ia cintai dan mendapat pernyataan bahwa gadis itu mencintai lelaki lain, harapannya pupus detik itu juga.

Sebuah kenyataan harus ia terima, bahwa selama lima tahun tidak ada sedikit pun tempat untuknya di hati Tiara. Memang menyakitkan, tapi Akmal lebih tidak bisa melihat Tiara dalam bahaya atau ada yang menyakitinya. Bila kebahagiaan Tiara bukan bersamanya, Akmal akan mencoba untuk merelakan itu.

Akmal mengendarai motornya dengan kecepatan penuh menembus jalanan malam. Tiara mengatakan, gadis itu akan berjuang untuk cintanya, meski Akmal juga tahu bahwa itu akan sulit.

Cinta tidak membuat seseorang menutup matanya, bagi Tiara. Perempuan itu mengatakan, sebuah cinta telah mengobati luka belasan tahun di hatinya—-yang sebelumnya Tiara tidak tahu cara mengobati luka itu. Meskipun harus berdarah dan menghadapi berbagai tantangan, cinta akan bersedia untuk melaluinya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo menatap wajah cantik Tiara dengan seksama. Perempuan itu masih berada di dekapan kedua lengannya. Aryo menatap sepasang mata bulat milik Tiara yang selalu berbinar, ciri khas ketika perempuan itu berbicara dengan serius maupun antusias. Ketika Tiara hanya menatapnya, perempuan itu telah memberikan seluruh isi dunia yang ingin Aryo miliki.

Ketika sampai di kamar, Aryo membaringkan Tiara di atas kasur berukuran king size di sana. Setelah melepas jaket hitamnya, Aryo menghampiri Tiara dan memosisikan lengannya di sisi kanan dan kiri tubuh Tiara. Tiara jadi terlihat tambah mungil ketika Aryo memanjarakannya dengan kedua lengan kekar pria itu. Tangan Aryo menjepit kedua belah pipi Tiara yang gembil, hingga bibir gadis itu jadi menyatu di tengah dan kesulitan bicara. Berkat ulahnya itu, pipi Tiara memerah lagi seperti tadi di mobil.

“Hai, pipi tomat.” sapa Aryo dengan nada jahil setelah melepaskan pipi Tiara yang barusan telah menjadi sasarannya.

“Kamu cubit beneran, ya merah lah,” protes Tiara.

Lantas Aryo menjalarkan tangannya untuk menangkup pipi Tiara dan mengusapnya di sana.

“Masih sakit?” tanya Aryo dengan ekspresi khawatirnya.

“Udah nggak terlalu, tapi aku mau balas dendam ke kamu.”

“Apa—”

Tidak sampai dua detik kemudian, Tiara menarik tengkuk Aryo, lalu segera melumat lembut bibir pria itu. Aryo posisinya masih duduk, sementara Tiara sudah sepenuhnya berbaring di kasur yang membuat Aryo harus menjaga tubuhnya agar tidak menimpa tubuh Tiara.

Kurang dari 15 detik, Tiara menyudahi ciumannya dan bergerak dari posisinya untuk duduk. Tiara menyandarkan punggungnya di sandaran kasur. Perempuan itu lantas menampilkan senyum jahilnya dan ekspresinya yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalah.

“Barusan itu balas dendam?” tanya Aryo.

“Huum.”

Aryo wajahnya berubah serius menatap Tiara ketika Tiara masih memasang tampang lempengnya.

Mata mereka kembali bertemu. Aryo mendekatkan wajahnya pada wajah Tiara, memangkas sisa jarak yang ada untuk memagut bibir Tiara. Aryo memperdalam ciumannya dan melesakkan lidahnya untuk mengabsen apapun milik Tiara yang ada di dalam. Tiara mengusapkan tangannya di belakang kepala Aryo, mengisyaratkan prianya untuk memperlama aktivitas mereka. Setelah beberapa menit penyatuan yang indah itu, bibir keduanya sama-sama menyunggingkan senyum ketika sudah saling melepaskan.

Aryo menatap netra Tiara, menyelam ke dalam iris gelap yang binarnya sangat indah itu.

Posisi Tiara kini berada di bawah Aryo berkat aktivitas yang mereka lakukan. Napas keduanya saling berhembus memburu, mengisi kamar yang menjadi tidak begitu sunyi lagi. Jangan lupakan sprei putih yang bentuknya sudah berbeda dari saat mereka baru memasuki kamar ini.

Aryo mengangkat tangannya untuk mengusap kepala Tiara, sekaligus menyilakan helaian surainya yang jatuh di wajahnya ke belakang telinga. Beberapa helai rambut Tiara mencuat keluar dari ikatan ponytail-nya berkat ciuman mereka yang cukup brutal kali ini. Bibir Tiara rasanya sedikit nyeri dan nyut-nyutan karena Aryo menghisap bibir bawahnya dengan cukup kuat.

“Maaf Ra. Aku kelepasan tadi. Kekencengan ya?” Aryo mengusap bibir Tiara menggunakan ibu jarinya. Tiara tersenyum lembut dan meletakkan tangannya di sisi wajah Aryo.

“Oke, dimaafin.”

Setelah itu Tiara meminta Aryo untuk menunggunya. Aryo tidak punya ide tentang apa yang akan dilakukan perempuan itu. Rupanya Tiara tidak terlalu lama berada di walk in closet. Sekitar sepuluh menit kemudian, perempuan itu sudah kembali dengan pakaian yang berbeda. Aryo menyaksikan dengan kedua matanya, sebuah one piece all black yang menawan dan melekat begitu pas di tubuh ramping Tiara.

Aroma vanilla bercampur sedikit kopi yang manis menguar dari tubuh Tiara saat ia mendekat pada Aryo. Tiara mendapati suaminya hanya menatapnya tanpa berminat melihat ke arah lain ataupun berkedip satu kali saja. Posisi Aryo masih merebahkan tubuhnya di kasur, ia mengambil satu bantal untuk diletakkan dibawah kepala, lalu kembali memandangi Tiara yang duduk di tepi kasur yang tidak jauh darinya.

Aryo melepaskan rolex di pergelangan tangannya dan beberapa aksesoris yang melekat di jemarinya. Pria itu mengulaskan senyumnya, lalu tangannya merengkuh pinggang Tiara supaya tubuh perempuan itu lebih mendekat padanya. Seperti melakukan latihan sit up, Aryo memajukan tubunya untuk mengecup bibir Tiara. Kecupan yang singkat namun Aryo melakukannya bertubi-tubi.

Aryo lantas bangun dari posisinya, melepaskan ikatan ponytail Tiara sehingga surai panjang gadis itu terurai sampai sebatas punggungnya. Aryo memosisikan Tiara berada di bawahnya dengan jarak antara mereka hanya tersisa dua centi.

I love you, Tiara,” ucap Aryo.

Tiara langsung mencium Aryo dari posisinya. Mereka saling melepaskan apa yang masih melekat di tubuh keduanya, hingga saat ini satu helai benang pun tidak ada di sana.

“Kenapa one set itu susah banget dilepasin,” ucap Aryo.

Aryo menatap one piece all black yang sudah terdampar naas di lantai marmer putih, berkat kerja kerasanya beberapa menit yang lalu. Seperti melalui ebuah medan perang, pertama Aryo harus melepaskan resleting di bagian depannya, lalu beranjak ke pengait yang terdapat di bagian kanan dan kirinya. Ohya, jangan lupa tali yang ada pengaitnya di bagian kedua paha. Tadi Aryo sempat kesulitan melepaskan kaitan-kaitan tersebut.

“Kamu nggak sabaran sih ngelepasinnya, padahal kan bisa pelan-pelan,” jelas Tiara.

“Gimana aku bisa sabar? Istri aku cantik banget gini. Sejak kapan kamu punya baju itu? Aku nggak habis pikir. Kamu mau buat aku gila ya, Ra?”

I bought that one set before the wedding. That’s so sexy and beautiful. I think I must have one. Waktu kita honeymoon aku lupa pakai, jadi sayang kan, kalau nggak dipakai. Kamu suka nggak?”

Look so damn amazing on you. But you don’t have idea to wear it again.

“Kalau kita mau liburan ke pantai gimana? One set berenang bentuknya kan kayak baju tadi,” ucap Tiara.

You’re a naughty girl. Kita bisa berenang di indoor jacuzzi. Atau kamu aku buatin kolam renang pribadi yang besar?”

Tiara justru tertawa mendengar penuturan Aryo tersebut.

“Kok kamu ketawa?” tanya Aryo.

“Aku harus sering latihan biar nggak kesusahan kayak tadi.” Aryo kembali memangkas jarak antara mereka untuk mengecup bibir Tiara, tanpa memberi waktu untuk Tiara mengambil napasnya. Tiara dapat merasakan deru napas hangat Aryo menyapa permukaan kulitnya dari pipi, turun ke rahang, hingga sampai ke tengkuknya. Itu membuat dadanya berdesir bahagia dan buncahannya meletup-letup semakin kencang.

Tiara meremas sprei dengan tangannya dan kakinya menggeliat di bawah ketika Aryo mengecup tengkuknya. Itu memberikan sensasi nikmat sekaligus mendebarkan bagi Tiara. Rasanya saat ini jutaan kupu-kupu terbang di perutnya hingga menimbulkan rasa geli dan menggelitik.

Tiara menggigit bibir bawahnya ketika ciuman Aryo turun ke bagian puncak buah dadanya yang terasa sudah mengencang. Aryo memberi kecupan lembut di sana yang bisa membuat Tiara lebih rileks dan merasa nyaman.

“Ra, ini akan sakit. Kamu tahan ya,” ujar Aryo.

Tiara mengangguk sebelum Aryo memasukkan sesuatu pada bagian bawahnya. Itu memang terasa sakit sama seperti pertama mereka melakukannya. Namun kini Tiara lebih rileks dan terbiasa.

Aryo menambah satu lagi jarinya ketika Tiara mengatakan ia menginginkan lebih. Aryo menggerakkan jarinya di surga miliknya yang membuat Tiara melengkungkan bibirnya ke dalam. Tiara membelalakkan matanya saat Aryo semakin dalam melancarnya jarinya pada miliknya.

Pembukaan jalan Tiara sudah cukup besar dan miliknya sudah cukup lembab dan licin, sehingga Aryo lebih mudah melakukan puncak penyatuan mereka. Aryo mengecup bibirnya lembut saat puncak penyatuan itu terjadi dan memeluk tubuhnya, mengusapkan tangan hangatnya di punggung Tiara untuk membuatnya nyaman dan tenang.

Saat semakin dalam sesuatu panjang dan keras itu memasuki miliknya di bawah, Tiara merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Namun berkat rasa cintanya pada Aryo, ia dapat mengalahkan rasa sakit itu. Sebuah hormon memberi sinyal kepada otaknya untuk memunculkan sebuah perasaan bahagia.

Tiara mengalungkan lengannya di seputaran leher Aryo. Mata mereka saling bertemu, lalu tangan Tiara bergerak menyisir helaian rambut Aryo di sana. Tiara merasakan sesuatu itu kembali menghentaknya di bawah sana, menyebabkan pelupuk matanya mengeluarkan setitik air bening.

Aryo mengecup area sekitar matanya dengan lembut. Tiara dapat merasakan Aryo mencintainya dengan tulus dari cara pria itu memperlakukannya.

“Aaahhh sakittt,” rintih Tiara sambil memejamkan kedua matanya.

“Sayang, buka mata kamu. Kamu bisa lihat aku,” bisik Aryo. Suara Aryo rasanya seperti air lemonade di musim panas. Tiara tersihir dan akhirnya membuka matanya untuk bertemu dengan mata indah milik Aryo.

Saat Tiara membuka netranya, ia sudah tidak terlalu merasakan sakit. Justru perasaannya sangat bahagia, hanya dengan mengetahui fakta bahwa ia melakukannya bersama orang yang mencintainya dan juga ia cintai.

Aryo mengusapkan ibu jarinya di bibir Tiara yang terlihat hampir lecet karena Tiara sempat menggigit bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit dari penyatuan mereka.

Tiara melantunkan nama Aryo saat mereka berdua menemukan pelepasan masing-masing. Kemudian keduanya terengah bersama dan saling menikmati menatap wajah yang sudah dibanjiri oleh peluh. Aryo bergerak untuk berbaring di sampingnya dan mengamati setiap detail wajah Tiara. Paras yang tidak bisa ia lupakan sejak pertama kali pertemuan mereka dan membawanya untuk mencintai Tiara.

Let's sleep. Kamu besok kuliah, kan? Aku khawatir kamu nggak bisa bangun karena kecapean.” Aryo pun terkekeh jahil.

“ARYO!!” Tiara memukul pelan pundak polos suaminya. Aryo meraih pergelangan tangannya, lalu mengecup punggung tangannya di sana.

Aryo mendekap tubuh Tiara dengan pelukannya dan meletakkan dagunya di puncak kepala Tiara.

“Besok aku antar kamu ke kampus ya,” ucap Aryo.

“Emangnya kamu nggak kerja? Aku ada kelas pagi jam delapan lho.”

“Aku bisa datang telat ke kantor. Aku mau mastiin kalau istriku baik-baik aja.”

Tiara merasakan Aryo mengeratkan pelukan pada tubuhnya.

“Tiara, terima kasih,” ucap Aryo sembari menyematkan kecupan hangat di dahi Tiara.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo memutar stir menggunakan satu tangannya ketika memundurkan mobil. Setelah menarik rem tangan, mobil pun terparkir dengan sempurna di garasi basement rumah mereka.

Mesin mobil dan radio yang masih menyala memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar nyaman dan indah. Lagu milik Rex Orange Country berjudul Best Friend terdengar memenuhi mobil.

And that's because I wanna be your favorite boy… I wanna be the one that makes your day.. The one you think about as you lie awake.. I can't wait to be your number one.. I'll be your biggest fan and you'll be mine, But I still wanna break your heart and make you cry..

Usai penggalan lirik tersebut, tatapan Aryo dan Tiara otomatis bertemu. Tangan Aryo yang tidak lagi memegang stir, menghela sisi kanan wajah Tiara untuk mendekat, lalu ia mengusap lembut pipi Tiara dengan ibu jarinya.

I’m grateful to have you, Tiara,” ucap Aryo. Kehadiran Tiara terasa begitu cukup bagi Aryo di hidupnya.

Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara untuk mengecup bibir ranum perempuan itu. Tangan kanan Aryo yang bebas bergerak mematikan radio dan mesin mobil karena tidak ingin apapun mengangggu kegiatan mereka. Penyatuan itu terjadi dengan tempo yang lambat tapi begitu pasti dan terasa begitu sempurna.

Aryo dengan mudahnya menghela tubuh mungil Tiara untuk berpindah tempat ke pangkuannya. Ketika keduanya menggunakan waktu untuk mengambil napas, Aryo malah mendapat tatapan protes dari Tiara.

“Ada yang bilang nggak mau bikin istrinya kecapean. Tapi apa—”

Aryo memajukan tubuhnya untuk mengunci bibir Tiara dengan bibirnya, lagi. Hanya satu kecupan singkat yang langsung membuat Tiara bungkam. Aryo menjaga tubuh perempuan itu di pangkuannya dengan melingkarkan lengannya di pinggang Tiara. Wajah Tiara memberengut kecil tapi juga memerah malu.

“Kamu punya dua pipi tomat, Tiara,” ujar Aryo dengan nada menggodanya.

“Apa?” Tangan Tiara reflek memegangi keduanya pipinya yang terasa panas. Aryo tertawa menyaksikan warna merah yang kontras dengan kulit putih Tiara.

“Mesin mobilnya mati Aryo, pantes jadi panas,” kilah Tiara. Aryo mengunci pandangan Tiara yang membuat perempuan itu terdiam malu.

“Nggak di sini juga Aryo, ini sempit,” peringat Tiara ketika ia mengerti kemana mereka akan menuju selanjutnya.

“Kursinya bisa dimundurin,” ujar Aryo pelan.

Kemudian yang terjadi adalah Tiara mendapati Aryo memundurkan kursinya sehingga bagian mobil yang mereka tempati menjadi sedikit lebih luas.

“Laki-laki dengan semua idenya,” ujar Tiara.

“Tapi kamu suka kan,” ujar Aryo dan kembali melakukan penyatuan dengan Tiara. Kedua lengan kekar Aryo menghela pinggang Tiara semakin mendekat agar memudahkan aktivitas mereka.

Tiara yang merasakan penyatuan ini semakin intens, berusaha mendapatkan kekuatan, dengan melingkarkan lenganya di seputaran leher Aryo dan juga untuk mempermudah segalanya.

Tempo yang lebih cepat menjadikan kursi mobil bergerak dengan konstan. Pajero hitam itu menjadi saksi bisu atas aktivitas keduanya menyalurkan kasih di dalam.

Jemari Tiara menelusup masuk di antara helaian rambut hitam legam Aryo yang terasa halus. Ia meremas pelan surai itu ketika Aryo melancarkan kecupan di sekitar tengkuk hingga turun ke bagian atas dadanya.

We need a room,” ucap Tiara ketika Aryo menghentikannya kegiatannya.

Of course,” Aryo menyatukan keningnya dengan kening Tiara, tangannya bergerak mengusap sisi wajah Tiara yang permukaan kulitnya terasa lembab dan hangat. Peluh sama-sama membanjiri keduanya dengan perasaan mendebarkan yang menimbulkan gejolak perasaan bahagia.

***

“Sementara kalian bisa letakin barang-barang di lantai satu. Besok, tolong pindahin ke lantai dua,” tutur Aryo pada Erza dan Egha.

Keduanya pun menuruti perintah atasan mereka dan hanya membawakan barang-barang dari depan rumah sampai ke ruang tamu lantai satu. Erza dan Egha pun pamit dari hadapan Aryo dan Tiara sebelum meninggalkan kedua majikannya itu.

“Kenapa barang-barangnya nggak dibawa langsung ke lantai dua?” tanya Tiara yang bingung atas perintah Aryo itu.

“Biar tempat ini hanya jadi miliki kita, Tiara.” Aryo mengerahkan lengan kekarnya untuk meraih tubuh ramping Tiara dan menggendong perempuan itu persis seperti koala. Tiara yang terkejut atas perlakuan Aryo yang tiba-tiba itu, reflek mengaitkan lengannya di pundak Aryo untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.

Aryo menaruh lengannya di bawah kedua paha Tiara, menjaga perempuan itu tetap aman bersamanya. Masih tetap dalam posisi seperti itu, mereka menuju lantai dua. Tiara menyandarkan kepalanya di pundak Aryo sembari menatap wajah rupawan suaminya dari posisinya nyamannya saat ini.

“Kenapa kamu ngeliatin aku kayak gitu?” Aryo terkekeh karena tingkah Tiara yang sedari tadi hanya menatapnya.

Tiara menggeleng, membuat rambut panjangnya yang diikat ponytail bergerak lucu. Tiara mengeratkan pelukannya pada pundak Aryo, ia membenamkan wajahnya di dada bidang pria itu.

Mereka telah sampai di lantai dua dan keluar dari lift.

“Dimana kuncinya?” Aryo mencari-cari kunci kamar yang tidak ia temukan di kantong celananya.

“Kayaknya kita perlu minta tolong bantuan Erza atau Egha. Kamu pasti lupa naruh kuncinya,” saran Tiara.

“Nggak perlu. Rumah ini punya banyak kamar, Ra.”

Oh ya, benar juga, batin Tiara.

“Tempat ini lebih cocok untuk disewain,” ucap Tiara.

No.”

Why?

“Nanti tempat ini bakal ramai dengan kehadiran anak-anak kita.”

“Rumah ini besar banget, Aryo. Kamu mau punya anak berapa emangnya?”

We’ll see.” Aryo menatapnya sembari tersenyum simpul, lalu memutar langkahnya menuju kamar lain yang tadi pria itu sebutkan.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Siang harinya Aryo dan Tiara keluar dengan mengendarai vespa untuk menikmati pemandangan dan suasana kota. Aryo tidak membiarkannya melakukan apapun hari ini karena Tiara sedang menjalani masa hukumannya. Hukumannya itu adalah mereka berdua tidak melakukan apapun dan Aryo sangat ingin menikmati waktu seharian ini bersama Tiara. Mereka makan siang dan makan malam yang dimasak langsung oleh seorang koki yang handal.

“Kenapa di resort dan pantai ini cuma ada kita?” tanya Tiara ketika mereka menikmati hidangan dessert setelah menu makanan utama. Sebuah tempat tidak jauh dari area pantai, malam ini di dekorasi menjadi tempat candle light dinner untuk mereka.

“Aku sewa tempat ini untuk kita,” terang Aryo.

Keduanya saling bertatapan, Tiara mengulaskan senyumnya yang menular otomatis pada Aryo.

“Berapa harganya cupcake ini?” tanya Tiara dan ia menebak cupcake yang sedang di santapnya.

“Bisa ditukar untuk satu kendaraaan roda dua,” jelas Aryo.

Tiara melongo. Ia menatap piringnya yang berisi The Golden Phoenix Cupcake yang tersisa setengah dan tanpa sadar ia telah memakan sajian penutup yang sangat enak dan mahal ini.

Tiara meletakkan sendok kecil berwarna emas di piring yang memiliki warna serupa. Tiara berpikir mungkinkah peralatan makan ini terbuat dari emas sungguhan karena ternyata terdapat emas asli 24 karat hanya dalam sajian sebuah cupcake.

Thankyou for made this everything for me,” ucap Tiara diiringi senyum terharunya.

I want to tell you something, but for right now, I just I can’t.” Tiara hampir saja ingin mengatakan semuanya pada Aryo, tapi ia tidak siap mendapati reaksi pria itu terhadap hal yang selama ini ia tutup rapat dari suaminya. Suaminya yang telah ia cintai, tapi Tiara tahu mereka tidak bisa bersama untuk selamanya.

Aryo menatapnya dengan lembut dan berusaha mencerna kalimat yang barusan Tiara ucapkan.

Maybe someday you will find out. Everything. But I want you to know, I’ll always keep every happy moment with you in my memory.” Tiara mengulaskan senyum lembutnya, tapi tatapan matanya berkata lain. Seperti ada sesuatu yang teramat ingin ia sampaikan tapi terasa begitu sulit diungkapkan.

“Apa yang lagi kamu bicarain Tiara?” Aryo menatapnya dengan tatapan meminta penjelasan.

“Kenapa kamu bilang aku adalah bencana indah untuk kamu?” Tiara malah balik bertanya.

“Tiara. Kamu nggak perlu ngalihin topik awal pembicaraan kita,” ujar Aryo dengan nada tegasnya.

“Topik itu akan nyakitin kita berdua. Aku cuma mau kita bahagia, selama kita di sini.” Tiara memundurkan kursinya, lalu ia berdiri dan menghampiri Aryo. Tiara mengulurkan tangannya dan Aryo menggapainya, lalu ia mengenggam tangan besar dan hangat lelaki itu.

So I'm a beautiful disaster for you?” tanya Tiara.

Yes, and you’re already stuck in my mind. Always,” ungkap Aryo.

Mereka lantas berjalan berdua dengan tangan yang masih saling menggenggam.

“Kamu nggak romantis,” ujar Tiara.

“Terus kamu mau aku jawab apa?” tanya Aryo.

“Nggak romantis kamu mah,” Tiara menendang-nendangkan langkah kakinya ke depan sambil matanya yang melihat jalan berpasir putih yang mereka lalui.

Tiara semakin sebal karena Aryo tidak menggubrisnya. Dengan mendadak, Tiara menghentikan langkahnya, lalu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Aryo.

Aryo menatapnya dengan tatapan heran dan bertanya.

“Kenapa perempuan selalu dengan mood-nya masing-masing?” ucap Aryo yang tidak mengerti dengan kemauan istrinya itu.

“Terus kenapa laki-laki selalu nggak peka?”

“Bukan laki-laki yang nggak peka, Tiara. Perempuan selalu mau segalanya sesuai apa yang mereka rencanain.”

“Kita ini lagi bulan madu, Aryo. Harusnya emang romantis. Kalau cuma ngingep kayak gini, aku juga sering lakuin sama temen-temen aku,” cerocos Tiara.

Aryo membulatkan matanya dan menggelengkan kepala saat kalimat itu keluar dari bibir Tiara.

“Oke-oke. Romantis yang ada di kepala kamu itu kayak gimana?” tanya Aryo. Tiara terkejut ketika Aryo menatapnya dengan tatapan lebih berani dan justru seperti menantang balik dirinya. Tiara berkacak pinggang dengan satu tangannya. Melihat perilaku Tiara membuat Aryo menurunkan posisi tangan istrinya kembali menjadi posisi sebelumnya.

“Istri harus bersikap baik dan sopan sama suaminya,” ujar Aryo.

“Kalau gitu, suami juga harus bersikap romantis dong sama istrinya.” Tiara berjalan lebih dulu menuju resort dan meninggalkan Aryo di belakangnya.

Aryo mengambil langkah untuk menyusul Tiara. Aryo baru menyadari satu hal, bahwa menghadapi istrinya ternyata lebih sulit dari pada menghadapi para klien dan petinggi di perusahaannya.

***

Menikah bukanlah jalan yang dapat diambil untuk melupakan atau lari dari permasalahan. Aryo paham makna kalimat itu sekarang.

Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara meskipun ada sesuatu yang ia ketahui. Aryo memilih jalan menikah sebagai solusi dari itu semua karena ia menyadari perasaannya terhadap Tiara. Aryo memang tidak berpikir panjang saat itu, yang ada di pikirannya hanya ia tahu hatinya tidak sanggup untuk kehilangan Tiara. Rasanya ia terlalu egois dengan memikirkan dirinya sendiri tanpa tahu perasaan Tiar.

Aryo tidak tahu tepatnya sejak kapan, ia telah menyukai Tiara. Sepertinya sejak gadis itu menyebutkan namanya kemudian mengulurkan tangan untuk berjabatan dengannya. Perasaan itu semakin berkembang ketika Tiara menolongnya di bar dan setelah kejadian malam itu, Aryo berniat menyatakan perasaannya pada Tiara. Namun yang terjadi, ada oknum yang sengaja menyebarkan fotonya dan Tiara ke media dan terbentuklah skandal tersebut. Aryo memutuskan untuk menikahi Tiara dan akan membuat gadis itu mencintainya.

Aryo telah sampai di resort dan melepas sandalnya di teras. Pria itu berjalan menuju kamar untuk menemukan Tiara.

“Tiara?” panggilnya.

“Kita bisa bicarain ini baik-baik,” ujar Aryo yang tidak menemukan Tiara di kamar dan rupanya gadis itu sedang berada di kamar mandi.

“Kenapa mandi malam-malam gini?” anya Aryo dari depan pintu kamar mandi.

Aryo tidak habis pikir apa yang dilakukan Tiara dengan mandi malam-malam seperti ini. Terdengar suara derasnya air dari shower kamar mandi yang membuat Tiara tidak mendengar suaranya dari dalam sana.

Aryo menunggu Tiara di atas kasur. Sudah mandi malam-malam, kenapa juga memakan waktu yang begitu lama. Entah apa saja yang dilakukan istrinya itu di dalam sana.

Aryo berinisiatif untuk mengetuk pintu kamar mandinya setelah hampir 30 menit gadis itu tidak berniat keluar dari sana.

“Tiara, jangan macem-macem. Bisa buka pintunya? Apa yang kamu lakuin di dalam?” Aryo terdengar khawatir dari nada bicaranya. Berkali-kali mendapati sifat Tiara yang sedikit lain dari gadis biasanya sebelum mereka menikah, menjadikan Aryo berpikir Tiara melakukan hal diluar akal manusia normal.

Pintu kamar mandi terbuka dan menampakkan Tiara disana dengan bathrobe merahnya. Wangi vanilla bercampur rose menguar begitu pekat di sekelilingnya. Rambut coklat gelap Tiara yang setengah basah, ia biarkan tergerai begitu saja.

“Kenapa kamu mandi malam-malam?” tanya Aryo.

“Cuacanya panas,” jawab Tiara enteng sambil mengedikkan kedua bahunya.

Saat akan melewati Aryo, lelaki itu menahan tangannya.

“Masih marah?” tanya Aryo.

Tiara menggelengkan kepalanya yang membuat Aryo tersenyum cerah.

“Masih, sedikit,” jawaban Tiara seketika membuat senyuman di wajah Aryo memudar.

“Bukannya kita harus baikan?” Aryo menghembuskan nafasnya. “Aku nggak mau kita saling menjauh kayak gini dan cuma pertahanin ego masing-masing, Ra.”

Tiara terdiam beberapa detik dan setelahnya ia menatap Aryo sambil mengangguk setuju. Aryo mengunci mata Tiara beberapa saat, kemudian pria itu tertawa sekilas. Entah keberapa kalinya Tiara berdebar bahkan hanya dengan mendengar tawa itu.

Aryo menyugar rambut bagian depannya yang sudah mulai memanjang dan Tiara hanya memperhatikan hal tersebut terjadi. Beberapa detik yang lalu, suasana nampak normal, tapi saat ini terasa agak berbeda. Udaranya menjadi lebih panas, hingga menimbulkan bintik-bintik keringat di dahi Tiara.

Hey, Tiara cmon! He’s just play with his hair! ujar Tiara dalam hati.

“Ra, apa kita akan ngelakuin itu malam ini?” tanya Aryo yang membuat Tiara meneguk salivanya dengan susah payah.

Aryo menundukkan pandangannya, lalu mengaitkan jemarinya yang berukuran lebih besar dengan jemari Tiara yang berukuran lebih kecil. Aryo mengulas senyumannya dan secara otomatis menular pada Tiara. Tangan Aryo yang satunya lagi terangkat untuk mengusap lembut kepala Tiara hingga turun sampai ke pipinya.

“Kamu yakin?” Tiara menaruh tangannya pada tangan Aryo yang masih berada di pipi kanannya.

“Aku yakin. Kalau kamu gimana?” tanya Aryo.

Tiara menatap Aryo sesaat.

“Apa nanti kita bisa ngerawat dia, kalau dia hadir ke dunia ini?” Aryo menjawab pertanyaan Tiara dengan mengangguk cepat, tanda ia yakin bahwa mereka bisa merawat anak mereka bersama.

“Kita akan mencintai dan merawat dia sama-sama, Tiara.” Aryo menatapnya lembut sementara Tiara hendak bicara lagi, tapi Aryo lebih dulu menaruh telunjuknya di depan bibir Tiara.

“Apapun yang terjadi nanti, aku akan perjuangin kamu dan pernikahan kita. Kamu telah mengisi hati aku, Tiara. I love you,” ucap Aryo dengan tulus.

Aryo mencondongkan wajahnya untuk memberikan sebuah kecupan pada sisi wajah Tiara. Ciuman itu menimbulkan sebuah bunyi yang terdengar menggemaskan karena yang mengenai permukaan kulit pipi Tiara adalah hidung tinggi pria itu.

Please be mine tonight, Tiaram” ucap Aryo sebelum menggendong tubuh Tiara dengan mudah menggunakan kedua lengannya. Tangan Tiara otomatis berada di pundak Aryo untuk menjaga dirinya tetap aman berada di dekapan pria itu.

***

“Apa makanan kesukaan kamu?” tanya Tiara.

“Tiba-tiba” Alis Aryo menyatu mendengar pertanyaan Tiara itu.

Tiara pun mengangguk.

“Aku suka banyak makanan, Ra,” jawab Aryo.

“Pilih satu aja, Aryo,” ucap Tiara. Wajahnya cemberut lucu. Aryo yang melihatnya menjadi gemas. Kemudian sebuah senyum menawan terlukis di wajah pria itu dan perasaannya sungguh bahagia pagi ini.

“Oke, kalau cuma satu, aku pilih makanan Amerikam” Aryo menjawabnya setelah tangannya terangkat lalu ia mengusap pipi Tiara dan menatap matanya.

“Banyak dong, curgang kamu ih. Makanannya dong, bukan jensinya. Tapi aku juga suka American food sih. Jangan-jangan kita jodoh ya.” Tiara menyunggingkan senyumnya.

Don’t make your face like that, Tiara,” peringat Aryo sambil tertawa.

“Kenapa sih?” Tiara ikut tertawa.

“Aku jadi pengen cium kamu lagi.”

“Aku masih mau nanya lagi, jangan cium dulu. Kalau tempat favorit kamu dimana?”

“Switzerland.”

“Kamu udah pernah ke sana?”

“Belum. Kamu kenapa tiba-tiba nanya kayak gini?”

Tiara nampak berpikir. Ia juga tidak tahu pasti jawabannya. “Aku pengen tau aja. Aku mau tahu suamiku sukanya apa,” jawab Tiara diiringi senyum manisnya.

Aryo tertawa memerhatikan tingakah laku dan senyuman itu. Senyuman yang sukses memotivasi jantungnya untuk berdetak tidak normal.

“Oke, kamu mau tanya apa lagi? Aku bakal jawab semuanya.” Aryo menaruh lengannya di pinggang Tiara, ia merengkuh tubuh gadis itu agar lebih mendekat padanya.

“Hmm… gimana kalau misalnya kita harus berpisah, apa yang akan kamu lakuin?”

“Berpisah bisa karena dua hal. Berpisah karena kematian atau karena peceraian. Maksud kamu yang mana?”

“Perceraian, maybe.”

“Apa alasan pasangan harus bercerai? Karena udah nggak cinta lagi?”

“Banyak alasan yang bikin pasangan harus berpisah, Aryo. Nggak semata karena udah nggak cinta. Kalau ada sesuatu yang mengharuskan untuk berpisah, gimana?”

“Kamu harus tau, Tiara. Sesulit apapun jalan untuk kita, aku akan berusaha untuk laluin jalan itu.”

“Meskipun jalan itu punya banyak duri yang bisa bikin kaki kamu berdarah?”

Aryo lantas mengangguk.

Tiara menatap iris hitam legam milik Aryo. Ia amati setiap inci fitur wajah di hadapannya dan menyadari betapa ia telah jatuh cinta pada manusia di hadapannya ini.

I love you. I’m who I am because of you,” ungkap Tiara. Mata keduanya pun saling mengunci satu sama lain.

You are the reason, every hope and every dream I’ve ever had. No matter what happens to us in the future, every memory we have together, is the greatest day of my life. I will always be yours,” ucap Tiara dan sedetik setelahnya ia memulai ciuman yang lembut terlebih dulu. Tidak terasa air mata turun membasahi pipinya saat Aryo membalas ciumannya lebih dalam. Tidak ada kesan menuntut dan penuh hasrat. Itu hanya sebuah ciuman yang lembut dan manis.

“Kenapa kamu nangis?” Aryo mengusap jejak sungai di pipi Tiara setelah ciuman mereka terlepas.

“Kamu tau nggak? Sebelum kita pergi honeymoon, aku diam-diam pergi sama mama ke dokter,” ungkap Tiara.

“Oke. Mama punya ide apa lagi?”

“Ngecek kesuburan. Kata dokter aku lagi masa subur, makanya mama nyuruh kita honeymoon sekarang. Semua hasil pemeriksaannya juga bagus. Mungkin pulang dari sini, akan hadir Aryo junior. Kamu seneng nggak?” Tiara tersenyum semringah, ia memperhatikan raut wajah Aryo karena ingin melihat reaksi pria itu.

“Emang bisa secepet itu Ra?”

“Kamu beneran belum sadar ya? Oke, aku mau jujur satu hal lagi. Aku masukin ramuan ke minuman kamu waktu kita dinner tadi.”

“Oh, god. Ramuan apa itu Tiara?” Aryo membelalakkan matanya. Setelah ia coba mengingat lagi, sepertinya memang ada yang berbeda dari dirinya setelah acara makan malam spesial mereka. Seperti ada sebuah perasaan dari dalam dirinya yang sangat menggebu ketika melihat Tiara selesai mandi. Hanya dengan menghirup aroma semerbak dari tubuh istrinya, rasanya Aryo kepanasan dan perasaan itu sangat menguasai dan mendesak dirinya untuk menyentuh Tiara.

“Ramuan dari Ayah, aku sengaja minta itu sama beliau. Aku juag minum rumuannya. Tujuannya biar semuanya berjalan lancar dan bagus,” ucap Tiara dengan suara pelan. Lantas gadis itu tersenyum jahil dan mengacungkan ibu jarinya dari dalam selimut yang membungkus bersama tubuh polos mereka.

“Kenapa harus diam-diam? Kamu bisa kasih ke aku, aku akan minum ramuannya.”

“Serius kamu mau?” tanya Tiara.

Aryo pun mengganguk yakin. “Aku nggak sabar nunggu Tiara junior dan Aryo junior hadir di dunia ini. Kalau kembar kayaknya lebih lucu deh Ra. Gimana menurut kamu?”

***

Aryo dan Tiara akan meninggalkan tempat ini sore nanti. Satu minggu ini terasa sangat berkesan bagi keduanya. Mereka menghabiskan waktu berdua dan saling berbagi kasih. Namun sayangnya mereka tidak terlalu punya banyak watu untuk berada di tempat dengan alam yang indah ini. Aryo tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya di kantor. Selain itu Tiara juga tidak bisa meninggalkan kuliahnya untuk waktu yang lama.

Siang ini cuaca cukup cerah dan angin yang berhembus terasa sejuk saat menyapa kulit. Di lantai dua resort ini, Aryo menghampiri Tiara yang sedang merapikan pakaian mereka ke dalam koper.

“Kenapa?” tanya Tiara ketika Aryo mendekap tubuhnya dari belakang.

“Aku mau peluk kamu kayak gini,” Aryo menaruh dagunya di pundak Tiara. Tubuh mungil Tiara menjadikannya tenggelam di dalam pelukan tubuh tinggi dan besar Aryo.

“Aku kira kamu kode minta yang tadi malam diulang lagi.”

“Aku nggak mau kamu kecapean,” tutur Aryo.

Tanpa dapat Tiara cegah, pipinya memanas mendengar penuturan Aryo. Tiara tidak dapat menyalahkan Aryo juga atas kejadian malam itu yang akhirnya berlanjut ke malam-malam berikutnya. Sebenarnya tanpa minuman itu sendiri, stamina Aryo sudah cukup kuat untuk mereka melakukannya sampai pagi hari. Namun malam yang pertama itu membuat Tiara cukup kualahan menghadapi Aryo. Keduanya sangat bahagia bisa melakukannya bersama orang yang dicintai. Aryo mengatakan pada Tiara bahwa ia menginginkan anak karena mencintainya, bukan semata karena keluarga menuntut mereka untuk memberikan pewaris.

Tiara masih melanjutkan kegiatannya menaruh beberapa barang ke dalam koper seperti peralatan mandi dan bodycare miliknya maupun milik Aryo.

“Aku nggak bisa cepat selesai kalau kamu masih gelayutan gini, Aryo,” ucap Tiara karena Aryo memang tidak merubah posisinya sedikit pun.

“Kita honeymoon-nya sebentar banget Ra,” ujar Aryo.

“Iya sih. Tapi bukannya hari pemilihan semakin dekat? Kamu harus siapin semuanya, kan?”

“Iya. Aku akan lebih sibuk dari biasanya dan mungkin lebih sering lembur. Are you okay with that?

I’m okay. Tapi kamu harus langsung pulang ya kalau udah selesai,” ujar Tiara.

Aryo tersenyum. Ia merubah posisinya dan membalikkan tubuh Tiara sehingga mereka kini saling berhadapan.

“Iya. Aku langsung pulang. Janji,” ujar Aryo.

Tiara mengulaskan senyumannya mendengar jawaban Aryo. Namun tiba-tiba ia teringat kembali satu hal mengenai tujuannya menikah dengan Aryo. Tujuan yang mungkin menjadi alasan pria itu tidak akan selamanya bisa menjadikannya tempat untuk pulang.

Tiara mendapati Aryo tersenyum padanya. Senyuman itu terasa seperti air dingin yang menyiram luka belasan tahun lalu di hati Tiara. Rasanya begitu damai dan Tiara belum pernah merasakan hal yang seperti ini sebelumnya. Hatinya yang hancur berkeping bertahun-tahun lalu, perlahan mulai tersusun menjadi satu kesatuan yang utuh.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon mama sebelum mereka berangkat pagi ini. Mereka telah mempersiapkan semuanya untuk trip honeymoon.

Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mah,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara minta maaf ya. Kita udah buat keluarga nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya.

“Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo pun berjalan menghampirinya.

“Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Bisa naik ke mobil sebentar?”

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Tepat ketika Aryo baru masuk dan menghadap kearah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak cerita yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara yang membuat Aryo bingung.

“Gue turun dulu ya, kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk kembali turun, tapi Tiara menahannya.

Belum sampai dua detik kemudian, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang untuk kedua mata mereka saling bertemu. Setelah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu dengan hasrat yang terasa membara.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya tapi terlihat bodoh disaat bersamaan.

Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class.

Perjalanan yang cukup menguras tenaga terbayarkan dengan pemandangan tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara. Pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih, pasir putih yang belum tercemar, serta alam sekitarnya sejauh mata memandang, membuat pikiran terasa tenang ketika memandangnya.

Tiara benar-benar merasa bahagia. Momen ini akan tersimpan di memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini. Tiara pikir ia sudah jatuh pada Aryo sejak tangannya terulur kemudian menyebutkan namanya pada Aryo. Meskipun saat itu Tiara juga belum yakin dengan perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan Tiara berharap mereka akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang memaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Aryo selalu mampu membuatnya bahagia setiap detik keberadaan lelaki itu di dekatnya. Suaminya itu berkali lipat lebih tampan bahkan hanya dengan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mencarinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci. Kemudian ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ucap Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggoda. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas tempat ini untuk menemukan keberadaan Tiara.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum lalu ia mengangguk dengan semangat.

“Tiara.” Aryo memanggilnya ketika Tiara berjalan menyusuri pantai dengan mempercepat langkahnya.

Tiara menoleh ldan menjulurkan tangannya ke belakang diiringi senyum jahil khas gadis itu.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan.

Don't regret it then,” balas Aryo.

Pada akhirnya Tiara mengaku menyesal bahwa dirinya telah menantang Aryo. Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya.

Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau gitu, Anda akan mendapatkan sebuah hukuman, Nyonya.”

“Siapa yang ngasih hukuman itu?”

Tangan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Anda harus dihukum kalau gitu, Nyonya,” ujar Aryo dengan nadanya yang sok di buat tegas.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu lantas mengulaskan senyumnya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Ya?”

I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menatap Tiara lembut. “I'm fall for you, Tiara. I love you.” Aryo menjeda ucapannya dan pria itu mengulaskan senyumnya hingga nampak eye smilenya. “I want you to stay with me, see your smile every day, and make your life happy.”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan terharunya. Gadis itu lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo, thank you for loving me,” Tiara menjeda ucapannya beberapa detik. “From the day we met, I have started fell for you. Maaf ... aku ngasih tau kamu soal ini.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo dan Tiara memutuskan untuk menelfon mama sebelum mereka berangkat pagi ini. Mereka telah mempersiapkan semuanya untuk trip honeymoon.

Suara mama terdengar begitu bahagia mengetahui Aryo dan Tiara akan pergi honeymoon selama satu minggu.

“Mah,” ucap Tiara sebelum mengakhiri telefonnya dan menyusul Aryo untuk turun ke bawah.

“Iya Tiara, ada apa? Apa ada tips yang belum Mama kasih tau sama kamu?” tanya Felicia dengan nadanya yang terdengar bersemangat dan bahagia.

“Sebenarnya ada hal lain yang mau Tiara sampaikan mah,” ucap Tiara.

“Apa itu, Sayang?”

“Aryo dan Tiara minta maaf ya. Kita udah buat keluarga nunggu lama untuk ini.”

***

Tiara berada di dalam mobil sementara Aryo sedang turun untuk memastikan kondisi ban mobil mereka. Tiara membuka jendela di sampingnya dan melongokkan kepalanya.

“Masih lama?” tanyanya pada Aryo.

Aryo pun berjalan menghampirinya.

“Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tapi mobilnya nggak papa kan?”

“Cuma kurang angin, diisi nitrogen dikit udah bisa jalan lagi.”

“Oke. Bisa naik ke mobil sebentar?”

“Nunggu di luar kayaknya panas,” sambung Tiara terdengar meyakinkan.

Voila.

Aryo pun menurutinya.

Tepat ketika Aryo baru masuk dan menghadap kearah Tiara, gadis itu menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Bukan sebuah tatapan jahil atau jutek khasnya. Tatapan itu seperti menyimpan banyak cerita yang belum mampu untuk diungkapkan.

“Ra, kenapa?” tanya Aryo.

“Nggak papa,” jawab Tiara yang membuat Aryo bingung.

“Gue turun dulu ya, kayaknya udah selesai isi nitrogennya,” Aryo hendak membuka pintu mobilnya untuk kembali turun, tapi Tiara menahannya.

Belum sampai dua detik kemudian, Aryo mendapati Tiara mencium bibirnya. Awalnya Tiara hanya menempelkan bibirnya pada bibir Aryo. Kemudian mereka saling menjauh dan memberi ruang untuk kedua mata mereka saling bertemu. Setelah anggukan dan senyum kecil di bibir Tiara, Aryo mulai mengambil penuh kendalinya. Ia melumat lembut belah bibir Tiara dan perlahan Tiara mulai mencoba membalas ciuman itu dengan hasrat yang terasa membara.

“Kita lupa sesuatu,” ucap Tiara ketika ia memutus sepihak pagutan bibir mereka dan tangannya menahan dada bidang Aryo. Padahal Aryo baru akan mengabsen bagian dalam mulutnya.

Kini yang didapati Tiara adalah Aryo dengan wajah tampannya tapi terlihat bodoh disaat bersamaan.

Tiara pun tertawa mendapati ekspresi Aryo yang baru pertama kali ia saksikan itu.

“Kasian masnya nungguin lo buat bayar. Emang isi nitrogen selama ini?”

“Tapi tadi itu baru sebentar, Ra,” ucap Aryo dengan wajah memelasnya.

***

Tempat yang menjadi tujuan mereka ditempuh dalam waktu delapan jam dengan perjalanan udara menggunakan penerbangan first class.

Perjalanan yang cukup menguras tenaga terbayarkan dengan pemandangan tidak ternilai. Maladewa atau yang dikenal dengan Maldives itu menjadi destinasi honeymoon Aryo dan Tiara. Pemandangan air laut berwarna biru yang cantik dan begitu jernih, pasir putih yang belum tercemar, serta alam sekitarnya sejauh mata memandang, membuat pikiran terasa tenang ketika memandangnya.

Tiara benar-benar merasa bahagia. Momen ini akan tersimpan di memorinya. Momen bersama orang yang membuatnya merasakan perasaan cinta hingga sedalam ini. Tiara pikir ia sudah jatuh pada Aryo sejak tangannya terulur kemudian menyebutkan namanya pada Aryo. Meskipun saat itu Tiara juga belum yakin dengan perasaannya, Tiara sangat ingin Aryo mengingat pertemuan mereka dan Tiara berharap mereka akan dipertemukan di lain kesempatan. Takdir menjawab keinginannya. Namun kenyataan kembali menghempaskan Tiara ke dalam jurang yang memaksa memisahkan perasaannya pada Aryo. Sebuah kejadian di masa lalu yang mungkin akan menjadi penyebab retaknya rumah tangga mereka.

Tiara menoleh dan mendapati Aryo menghampirinya dari arah belakang. Aryo selalu mampu membuatnya bahagia setiap detik keberadaan lelaki itu di dekatnya. Suaminya itu berkali lipat lebih tampan bahkan hanya dengan kemeja oversized putih dan celana chino pendek berwarna caramel.

Tiara sudah tidak sabar menuju pantai, jadi Aryo sedikit kelimpungan ketika mencarinya. Aryo harus bertemu dengan pengurus resort terlebih dulu untuk mengambil kunci. Kemudian ia langsung mencari keberadaan Tiara.

“Gue kira lo ilang tadi,” ucap Aryo.

“Nggak mungkin lah gue ilang. Emang siapa juga yang mau nyulik gue. Lo tau dari gue di sini?”

“Pake perasaan nyarinya,” ujar Aryo sambil melemparkan tatapan menggoda. Padahal sebenarnya ia bertanya pada salah satu petugas tempat ini untuk menemukan keberadaan Tiara.

“Lo suka tempat ini?” tanya Aryo ketika ia berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara.

Tiara tersenyum lalu ia mengangguk dengan semangat.

“Tiara.” Aryo memanggilnya ketika Tiara berjalan menyusuri pantai dengan mempercepat langkahnya.

Tiara menoleh ldan menjulurkan tangannya ke belakang diiringi senyum jahil khas gadis itu.

Catch me if you can,” tantang Tiara dengan suaranya yang sedikit ia kencangkan.

“*Don't regret it,” balas Aryo.

Pada akhirnya Tiara mengaku menyesal bahwa dirinya telah menantang Aryo. Baru sekitar seratus meter ia berlari, Aryo sudah berhasil menangkapnya.

Say that you’re regret for teased on me,” ucap Aryo di dekat telinganya.

Never,” jawab Tiara dengan nada jahilnya.

“Kalau gitu, Anda akan mendapatkan sebuah hukuman, Nyonya.”

“Siapa yang ngasih hukuman itu?”

Tangan Aryo bergerak menghela tubuh Tiara agar mereka saling berhadapan. Kemudian dengan gerakan halus, Aryo menghela kedua lengan untuk Tiara melingkar di bahunya.

“Anda harus dihukum kalau gitu, Nyonya,” ujar Aryo dengan nadanya yang sok di buat tegas.

“Untuk alasan apa saya dihukum?” tanya Tiara.

“Karena Anda telah membuat bencana indah ke dalam hidup saya,” ujar Aryo sambil mengunci pandangan Tiara. Tiara yang ditatap seperti itu lantas mengulaskan senyumnya.

“Tiara,” ujar Aryo.

“Ya?”

I want to make a confession to you,” Aryo menjeda ucapannya dan menatap Tiara lembut. “I'm fall for you, Tiara. I love you.” Aryo menjeda ucapannya dan pria itu mengulaskan senyumnya hingga nampak eye smilenya. “*I want you to stay with me, see your smile every day, and make your life happy.”

Tiara menatap Aryo dengan tatapan terharunya. Gadis itu lantas menangkup kedua sisi wajah Aryo dengan tangannya. “Aryo, thank you for loving me,” Tiara menjeda ucapannya beberapa detik. “From the day we met, I have started falling. Maaf ... aku ngasih tau kamu soal itu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika seorang perempuan tengah mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahannya sejak di stasiunb untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri. Saat ini ia tidak bisa menahannya lagi.

Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.

Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu akan langsung berhubunagn dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.

Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain, kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan energi.

Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.

“Lagi cari apa?”

Tiara menoleh ke arah sebuah suara ketika ia baru akan menekan tombol pada pintu lift.

“Cari suami gue,” ucap Tiara.

“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu.”

“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”

“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae menyilangkan kedua lengannya.

“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah menjadi suami orang … hmm?”

Tiara menorehkan senyumnya sekilas lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.

“Lepas,” ucap Tiara.

“Lo harus tahu satu hal yang akan buat lo terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”

Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.

Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.

“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.

Tiara menatap Aryo dengan pandangan tidak percaya.

“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan disini.

“Ohh, dia penting bangt buat lo ya?” tanya Tiara.

Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.

“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.

***

Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.

Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada disana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.

“Ada info dimana istri gue?” tanya Aryo pada Rama.

Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.

***

Aryo mendesahkan nafasnya panjang di depan pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah.

“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.

Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.

“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.

“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi sejak awal kita menikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja.”

Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.

“Gue nggak mau buat semuanya jadi makin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah dan keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, buka pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintunya terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan dan kondisi perempuan itu nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.

“Ra, you're okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.

“Gue cuma demam,” ujar Tiara.

Aryo menyentuhkan punggung tangannya di kening Tiara.

“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.

“Lo emang harus sembuh cepat, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.

“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya, ya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”

“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinay ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung letak kesalahan Aryo dimana. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwaitu kesalahan Aryo.

“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun caranya,” sambung Aryo.

“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.

“Lo bisa kasi tau gue, apapun itu.”

“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh.”

***

Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat cukup Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.

“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya sampai memberi obat untuk Tiara agar gadis itu bisa istirahat setelah ini.

“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.

“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.

“Berarti nanti dimaafin kan?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.

“Tadinya gue merasa egois saat ingin dapet perhatian lebih dari lo, tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Oh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.

“Jadi, kita mau pergi honeymoon kemana?” lanjut Tiara sambil menatap Aryo lekat.

Aryo menyatukan alisnya mendengar itu. “Lo belum sembuh total, Tiara.”

“Gue udah sembuh kok. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue,” Tiara tersenyum menampakkan deretan giginya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bukan tipe perempuan yang akan mencucurkan air matanya ketika seorang perempuan tengah mencoba mendekati suaminya menggunakan alasan pekerjaan. Tiara sudah menahannya sejak di stasiunb untuk menyumpal mulut perempuan itu menggunakan kata-kata dari mulutnya sendiri. Saat ini ia tidak bisa menahannya lagi.

Sudah cukup kesempatan yang ia berikan pada perempuan itu. Aryo memang memintanya menunggu sampai pria itu pulang, lalu mereka berencana pergi ke suatu tempat di Lembang pada malam harinya. Namun semua itu menjadi gagal berkat perempuan bernama Aurorae Hartanto.

Tiara tahu dari Rama bahwa project yang sedang Aryo kerjakan itu akan langsung berhubunagn dengan Aurorae yang mana mewakili perusahaan milik kakeknya sendiri.

Tiara menunggu Aryo cukup lama di sebuah ruangan yang hanya terdapat meja dan sofa. Tiara hampir tertidur karena bosan menunggu. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar mencari Rama karena ingin meminta bala bantuan. Sebenarnya suaminya itu Rama atau Aryo sih. Namun tidak adalah pilihan lain, kini perutnya terasa sangat keroncongan dan ia harus mencari amunisi. Mana tahu ia akan bertarung dengan perempuan itu kan? Kalau begitu, Tiara tidak ingin sampai kalah hanya karena kekurangan energi.

Tiara berjalan melewati lorong lantai empat untuk menuju lift yang terdapat di ujung lorong.

“Lagi cari apa?”

Tiara menoleh ke arah sebuah suara ketika ia baru akan menekan tombol pada pintu lift.

“Cari suami gue,” ucap Tiara.

“Harusnya kalau dia suami kamu, nggak perlu mencarinya, dia akan datang ke kamu.”

“Harusnya juga, lo nggak berhak mencampuri urusan kita. Karena apapun urusan gue sama dia, adalah urusan antara suami dan istri.”

“Seberapa kamu tau tentang suami kamu? Jangan berpikir kamu tau semuanya, Tiara.” Aurorae menyilangkan kedua lengannya.

“Terus lo ini apa, Aurorae? Perempuan yang masih mengharapkan lelaki yang udah menjadi suami orang … hmm?”

Tiara menorehkan senyumnya sekilas lalu berniat melewati Aurorae begitu saja, tapi tangannya di tahan oleh Aurorae.

“Lepas,” ucap Tiara.

“Lo harus tahu satu hal yang akan buat lo terkejut, Tiara.” Aurorae menatapnya dengan tatapan penuh kemenangan. “Dia nggak cinta kamu dan selamanya kamu nggak akan bisa buat Aryo jadi milik kamu. Ekspresi kamu nunjukin bahwa apa yang aku bilang benar.”

Tiara beralih meraih tangan Aurorae yang memegang tangannya, lalu ia menggerakkan tangan gadis itu menjauh darinya dan Aurorae merintih kesakitan karena itu.

Saat kejadian itu berlangsung, orang yang menjadi topik dari perdebatan mereka datang dan melerai keduanya.

“Tiara.” Aryo menyebut namanya lebih dulu dan melepaskan cengkramannya dari pergelengan tangan Aurorae.

Tiara menatap Aryo dengan pandangan tidak percaya.

“Apa?” ucap Tiara ketika Aryo menatapnya seolah dirinyalah yang melakukan kesalahan disini.

“Ohh, dia penting bangt buat lo ya?” tanya Tiara.

Aryo hanya menatapnya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun untuk menjawab pertanyaannya.

“Oke, lo pilih dia aja. Gue pergi,” ucap Tiara sebelum melangkahkan kakinya untuk pergi dari hadapan Aryo dan Aurorae.

***

Rencananya dengan Tiara terpaksa batal karena kejadian semalam. Aryo terbangun di kamar hotel tanpa sedikit pun informasi tentang keberadaan Tiara dari asistennya. Beberapa orang yang bekerja untuknya, ia tugaskan untuk terus mencari keberadaan Tiara. Erza memberinya kabar melalui pesan bahwa Tiara sama sekali tidak kembali ke rumah mereka di Jakarta hingga saat ini.

Aryo kembali mengecek ponselnya dimana terakhir sebelum tidur hanya hal itu yang ia lakukan. Namun apa yang ia harapkan tidak ada disana. Tiara sama sekali tidak menghubunginya. Sesaat kemudian, terdengar ketukan di pintu kamarnya dan ternyata asistennya yang berada di sana.

“Ada info dimana istri gue?” tanya Aryo pada Rama.

Rama terlihat agak terkejut karena bosnya tidak pernah bersikap seperti ini kepada wanita manapun yang pernah berada di hidupya. Rama berpikir bosnya itu telah begitu mencintai istrinya.

***

Aryo mendesahkan nafasnya panjang di depan pintu berpelitur putih di hadapannya. Ia langsung menempuh perjalanan dari Bandung menuju Jakarta, ketika Egha mengiriminya pesan kalau Tiara sudah kembali ke rumah.

“Tiara,” panggil Aryo untuk yang kesekian kalinya. Ia belum menyerah meminta Tiara membuka pintu kamarnya karena gadis itu meguncinya dari dalam.

Aryo berusaha memutar otak agar setidaknya Tiara mau membuka pintunya. Masalah dimaafkan, Aryo akan dapatkan kata maaf itu belakangan ketika emosi Tiara sudah mulai pudar terhadapnya.

“Tiara, gue mau ngomong sesuatu sama lo,” ujar Aryo.

“Gue yakin lo bisa denger gue dari dalam. Mama udah minta kita untuk pergi sejak awal kita menikah. Tapi karena persetujuan yang harus kita sepakatin, gue bohong sama mama tenang semuanya. Mama dan papa cuma tau tahu kalau pernikahan kita baik-baik aja.”

Di dalam kamarnya, Tiara mendengarkan dengan seksama kalimat yang Aryo ucapkan. Tiara bangun dari posisi tidurnya, ia duduk di kasur dan mempertimbangkan haruskah ia membuka pintunya untuk Aryo.

“Gue nggak mau buat semuanya jadi makin sulit untuk lo. Gue tahu semua yang tante gue bilang ke lo waktu di rumah eyang. Keluarga udah mulai curiga tentang pernikahan kita. Kemungkinan terburuknya kalau nggak ada anak kita akan berpisah dan keluarga akan ngambil cara lain demi melanjutkan keturunan. Ra, buka pintunya, ya? Gue khawatir sama lo,” Aryo mengakhiri ucapannya.

Sesaat kemudian, terdengar bunyi pintu yang terbuka. Ketika pintunya terbuka, Aryo langsung membukanya lebih lebar agar ia dapat melihat Tiara. Aryo memerhatikan dan kondisi perempuan itu nampak berbeda. Wajahnya terlihat pucat pasi dan warna pink alami menghilang dari belah bibirnya.

“Ra, you're okay?” tanya Aryo dengan nada khawatirnya.

“Gue cuma demam,” ujar Tiara.

Aryo menyentuhkan punggung tangannya di kening Tiara.

“Besok juga sembuh sendiri,” sambung Tiara.

“Lo emang harus sembuh cepat, Tiara. Karena kita akan pergi honeymoon,” ujar Aryo.

“Siapa yang udah setuju? Tuan Aryo Bimo yang terhormat, jangan berpikir Anda memahami segalanya tentang saya, ya. Mungkin Anda lebih paham mantan pacar Anda yang sangat penting bagi Anda itu.”

“Tiara, gue minta maaf atas sikap gue kemarin. Gue nggak ingin dengan lo bertengkar sama dia, nantinay ada masalah baru lagi,” tutur Aryo. Tiara yang mendengar permintaan maaf itu sebenarnya juga bingung letak kesalahan Aryo dimana. Tiara sedikit ragu bahwa pria yang di hadapannya saat ini adalah Aryo Bimo yang selama ini ia kenal. Pria angkuh bin arogan itu kini tengah meminta maaf atas sesuatu yang sebetulnya Tiara tidak yakin juga bahwaitu kesalahan Aryo.

“Gue akan bikin lo maafin gue. Gimana pun acara,” sambung Aryo.

“Lo yakin mau ngelakuin apa aja?” tanya Tiara.

“Lo bisa kasi tau gue, apapun itu.”

“Oke kalau gitu. Jadi perawat gue sampai gue sembuh.”

***

Tiara beberapa kali tersenyum mendapati Aryo sungguhan merawatnya seharian ini. Meskipun pria itu terlihat kaku dan tidak pandai dalam urusan merawat orang sakit, tapi Tiara cukup senang. Sebenarnya Tiara tidak butuh dirawat. Ia bisa meminum obat dan istirahat cukup Namun rasanya nyaman sekali mendapati seseorang yang ia cintai ada untuknya saat kondisi terasa kurang baik.

“Tiara,” ujar Aryo usai ia mengangkat plester pereda demam di kening Tiara. Aryo sudah selesai dengan kegiatannya, dari mulai membuatkan Tiara makanan dan menyuapinya sampai memberi obat untuk Tiara agar gadis itu bisa istirahat setelah ini.

“Gue minta maaf ya,” ucap Aryo.

“Belum dimaafin,” balas Tiara dengan nada jahilnya.

“Berarti nanti dimaafin kan?” tanya Aryo sambil mengernyitkan alisnya. Tiara tersenyum jenaka, tapi setelahnya ia mengangguk. Aryo menghela napasnya tahu Tiara sudah memaafkannya.

“Tadinya gue merasa egois saat ingin dapet perhatian lebih dari lo, tapi bukannya itu wajar kalau kita mengharapkan untuk punya anak? Oh iya satu lagi, gue nggak pernah memulai pertikaian itu sama mantan lo,” papar Tiara.

“Jadi, kita akan pergi honeymoon kemana?” lanjut Tiara sambil neatap Aryo lekat.

Aryo menyatukan alisnya mendengar itu. “Lo belum sembuh total, Tiara.”

“Gue udah sembuh kok. Kayaknya lo yang terlalu khawatir deh sama gue,” Tiara tersenyum menampakkan deretan giginya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷