alyadara

Tiara merasa rindu dengan keluarga dan rumahnya. Selain perasaan rindunya tersebut, Tiara mengatakan pada Aryo bahwa ia ingin mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal di rumah.

Ketika sampai di rumahnya, Tiara mendapati kedua adiknya di ruang tamu sedang mengerjakan tugas sekolah. Ketika mereka menyadari kehadirannya, mereka langsung menghambur pada Tiara untuk memeluknya.

“Kakak, I miss you!” seru Kelvin ketika pelukan mereka terurai. Mata adiknya itu lalu menuju pada sosok jangkung di belakang Tiara.

“Kak Aryo ikut ke sini? Tapi kan di rumah ini nggak ada kamar lagi. Kak Aryo nanti tidurnya dimana?” tanya Kelvin dengan polosnya.

“Kakak tidur di kamarnya Kak Tiara,” ucap Aryo sambil mengulaskan senyumnya pada Kelvin.

“Tidur berdua dong?” tanya bocah laki-laki itu lagi.

“Iya,” jawaban Aryo itu seketika membuat Tiara mengarahkan tatapan mematikannya kepada Aryo.

Kemudian kehadiran bundanya dari kamar menginterupsi pembicaraan mereka. Chelsea juga terlihat senang akan kedatangan Tiara dan menanyakan apakah kakaknya itu menginap atau hanya sekedar berkunjung.

“Kakak mau nginep di sini karena kangen banget sama kalian. Kalian seneng nggak?” tanya Tiara pada kedua adiknya.

“Kamu mau nginep, Tiara?” tanya bundanya.

“Iya, Bunda. Tiara udah izin sama Aryo kok,” jelas Tiara.

“Ohh, gitu. Tapi nanti Aryo siapa yang ngurus waktu kamu nginep disini?” tanya Alifia lagi.

Suasananya menjadi canggung karena ucapan bunda. Lantas Tiara meminta Aryo mengajak kedua adiknya bermain di halaman rumah setelah Aryo menyalami tangan mertuanya itu.

“Tiara nikah terlalu cepat dan semua ini rasanya mendadak buat Tiara. Tiara tetep menghormati Aryo sebagai suami Tiara dan Tiara nggak akan nginep kalau Aryo nggak ngasih izin,” jelas Tiara seolah mengerti kekhawatiran Alifia.

“Emangnya Bunda tidak kangen sama Tiara ya?” sambung Tiara lagi.

Alifia menggelengkan kepalanya lalu wanita itu mengusap kepala Tiara dan menatapnya penuh kasih sayang.

“Mana mungkin, Bunda nggak kangen kamu. Berat rasanya ngelepas kamu untuk nikah secepat ini. Bunda kangen kamu setiap hari, Tiara. Kamu sama Aryo baik-baik aja kan?”

“Kalau istri pulang ke rumah orang tuanya, apa artinya suami dan istri lagi nggak baik-baik aja, Bun?”

“Bunda cuma agak khawatir sama pernikahan kalian. Walaupun Bunda sempet takut pas ngelepas kamu nikah, tapi Bunda bahagia sekarang ngeliat ada yang jagain kamu. Ayah sama Bunda rasanya lega udah berhasil menjaga dan membesarkan kamu, Nak.”

***

Sebelum Aryo pulang dari rumahnya, Andi dan Alifia memintanya untuk makan malam bersama terlebih dahulu. Tiara mengambilkan piring untuk Aryo dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.

“Kak Aryo, kakak nggak boleh tidur di kamar Kak Tiara,” celetuk Kelvin yang duduk di samping kiri Aryo. Adik lelakinya dan Aryo terlihat lebih dekat dengan Aryo dari pada sebelum saat Tiara baru saja menikahi pria itu.

Tiara yang duduk di samping kanan Aryo meminta penjelasan pada Aryo tentang Kelvin yang masih mengingat topik bahasan itu. Tiara tahu adiknya itu sangat pintar untuk seusianya, namun orang dewasa tentu lebih pintar untuk mengkompori anak kecil.

Andi dan Alifia di depan mereka saling bertatapan kemudian tertawa kecil.

“Kelvin, sayang. Nggak boleh bicara begitu ya,” ujar Andi.

“Yang Chelsea tahu, suami dan istri emang harus tidur berdua. Kayak Ayah sama Bunda, kan? Jadi Kak Aryo dan Kak Tiara juga tidur berdua,” ujar Chelsea.

Kelvin terlihat mem-pouty kan bibirnya setelah mendengar ujaran dari Chelsea itu.

“Kakak nggak boleh tidur sama Kak Tiara, karena Kakak udah janji mau ajarin Kelvin main game. Jadi tidurnya di kamar Kelvin aja,” pinta Kelvin.

Semua orang yang ada di meja makan menjadi terkejut. Rupanya Kelvin yang biasanya selalu posesif dengan Tiara kini beralih posesif pada Aryo.

“Kelvin, Kak Aryo nggak bisa nginep di sini,” ujar Tiara.

“Kenapa?” sahut Kelvin cepat. Rona wajah anak itu memerah dan sedetik setelahnya ia mengeluarkan jurus andalannya, yaitu menangis. Kelvin tidak mau tenang bahkan ketika bundanya yang turun tangan. Tiara akhirnya meminta tolong Aryo untuk menenangkan adiknya itu. Kelvin maunya di gendong oleh Aryo untuk ke kamarnya. Tiara menghembuskan napas lega saat Kelvin mulai tenang dan Aryo membawanya ke kamar, padahal adiknya itu tadi sempat tantrum.

“Tiara, kamu ini suka usil sama adikmu sih,” ujar Andi. Tiara menatap ayahnya, “Bukan gitu Ayah, Aryo emang nggak bisa nginep di sini. Dia ada kerjaan kantor yang harus diselesaiin,” jelas Tiara. “Setelah Kama tenang dan tidur, kamu anterin makanan untuk Aryo. Kasihan dia nggak jadi makan,” ucap Alifia dan Tiara mengiyakan.

***

Kedua tangan kecil Kelvin memeluk leher Aryo sementara pria itu setia menimang anak itu digendongannya, memastikan bocah lima tahun itu telah tertidur pulas.

Aryo menyadari kehadiran Tiara di ambang pintu dengan membawa piring berisi makanan.

“Lo makan dulu. Lo bisa taro Kelvin aja di kasurnya,” tutur Tiara.

“Nanti dia bangun Ra.”

“Iya juga sih. Kalau dia bangun, lo nanti malah nggak bisa pulang. By the way, makasih ya udah mau direpotin sama Kelvin,” ucap Tiara kemudian ia meletakkan piring makanan untuk Aryo di nakas samping tempat tidur.

Selang sepuluh menit kemudian, rupanya Kelvin bersikap baik ketika Aryo meletakkannya. Anak lelaki itu anteng dalam tidurnya dan tidak menampakkan tanda-tanda akan menangis lagi.

“Tiara,” panggil Aryo.

“Ya?”

“Jaga diri lo selama di sini.”

Tiara mengangguk mengiyakan.

“Boleh gue tanya sesuatu sebelum sebelum lo pulang dari sini?” tanya Tiara.

“Tanya aja.”

“Dalam perjanjian, apa masing-masing pihak dibolehin untuk punya hubungan sama lawan jenis selama masih menikah?”

You have someone?” Aryo justru memberikannya pertanyaan balik.

Not yet. How about you?

“Kita nggak akan pernah tau perasaan seseorang kedepannya. Kalau suatu hari, perasaan itu muncul kepada siapapun itu, gue nggak bisa menolaknya. Begitupun lo, Tiara. Lo boleh memilih itu, selama keluarga nggak akan tau.”

Oke, I got your answer.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara merasa rindu dengan keluarga dan rumahnya. Selain perasaan rindunya tersebut, Tiara mengatakan pada Aryo bahwa ia ingin mengambil beberapa barangnya yang masih tertinggal di rumah.

Ketika sampai di rumahnya, Tiara mendapati kedua adiknya di ruang tamu sedang mengerjakan tugas sekolah. Ketika mereka menyadari kehadirannya, mereka langsung menghambur pada Tiara untuk memeluknya.

“Kakak, I miss you!” seru Kelvin ketika pelukan mereka terurai. Mata adiknya itu lalu menuju pada sosok jangkung di belakang Tiara.

“Kak Aryo ikut ke sini? Tapi kan di rumah ini nggak ada kamar lagi. Kak Aryo nanti tidurnya dimana?” tanya Kelvin dengan polosnya.

“Kakak tidur di kamarnya Kak Tiara,” ucap Aryo sambil mengulaskan senyumnya pada Kelvin.

“Tidur berdua dong?” tanya bocah laki-laki itu lagi.

“Iya,” jawaban Aryo itu seketika membuat Tiara mengarahkan tatapan mematikannya kepada Aryo.

Kemudian kehadiran bundanya dari kamar menginterupsi pembicaraan mereka. Chelsea juga terlihat senang akan kedatangan Tiara dan menanyakan apakah kakaknya itu menginap atau hanya sekedar berkunjung.

“Kakak mau nginep di sini karena kangen banget sama kalian. Kalian seneng nggak?” tanya Tiara pada kedua adiknya.

“Kamu mau nginep, Tiara?” tanya bundanya.

“Iya, Bunda. Tiara udah izin sama Aryo kok,” jelas Tiara.

“Ohh, gitu. Tapi nanti Aryo siapa yang ngurus waktu kamu nginep disini?” tanya Alifia lagi.

Suasananya menjadi canggung karena ucapan bunda. Lantas Tiara meminta Aryo mengajak kedua adiknya bermain di halaman rumah setelah Aryo menyalami tangan mertuanya itu.

“Tiara nikah terlalu cepat dan semua ini rasanya mendadak buat Tiara. Tiara tetep menghormati Aryo sebagai suami Tiara dan Tiara nggak akan nginep kalau Aryo nggak ngasih izin,” jelas Tiara seolah mengerti kekhawatiran Alifia.

“Emangnya Bunda tidak kangen sama Tiara ya?” sambung Tiara lagi.

Alifia menggelengkan kepalanya lalu wanita itu mengusap kepala Tiara dan menatapnya penuh kasih sayang.

“Mana mungkin, Bunda nggak kangen kamu. Berat rasanya ngelepas kamu untuk nikah secepat ini. Bunda kangen kamu setiap hari, Tiara. Kamu sama Aryo baik-baik aja kan?”

“Kalau istri pulang ke rumah orang tuanya, apa artinya suami dan istri lagi nggak baik-baik aja, Bun?”

“Bunda cuma agak khawatir sama pernikahan kalian. Walaupun Bunda sempet takut pas ngelepas kamu nikah, tapi Bunda bahagia sekarang ngeliat ada yang jagain kamu. Ayah sama Bunda rasanya lega udah berhasil menjaga dan membesarkan kamu, Nak.”

***

Sebelum Aryo pulang dari rumahnya, Andi dan Alifia memintanya untuk makan malam bersama terlebih dahulu. Tiara mengambilkan piring untuk Aryo dan mengisinya dengan nasi beserta lauk pauknya.

“Kak Aryo, kakak nggak boleh tidur di kamar Kak Tiara,” celetuk Kelvin yang duduk di samping kiri Aryo. Adik lelakinya dan Aryo terlihat lebih dekat dengan Aryo dari pada sebelum saat Tiara baru saja menikahi pria itu.

Tiara yang duduk di samping kanan Aryo meminta penjelasan pada Aryo tentang Kelvin yang masih mengingat topik bahasan itu. Tiara tahu adiknya itu sangat pintar untuk seusianya, namun orang dewasa tentu lebih pintar untuk mengkompori anak kecil.

Andi dan Alifia di depan mereka saling bertatapan kemudian tertawa kecil.

“Kelvin, sayang. Nggak boleh bicara begitu ya,” ujar Andi.

“Yang Chelsea tahu, suami dan istri emang harus tidur berdua. Kayak Ayah sama Bunda, kan? Jadi Kak Aryo dan Kak Tiara juga tidur berdua,” ujar Chelsea.

Kelvin terlihat mem-pouty kan bibirnya setelah mendengar ujaran dari Chelsea itu.

“Kakak nggak boleh tidur sama Kak Tiara, karena Kakak udah janji mau ajarin Kelvin main game. Jadi tidurnya di kamar Kelvin aja,” pinta Kelvin.

Semua orang yang ada di meja makan menjadi terkejut. Rupanya Kelvin yang biasanya selalu posesif dengan Tiara kini beralih posesif pada Aryo.

“Kelvin, Kak Aryo nggak bisa nginep di sini,” ujar Tiara.

“Kenapa?” sahut Kelvin cepat. Rona wajah anak itu memerah dan sedetik setelahnya ia mengeluarkan jurus andalannya, yaitu menangis. Kelvin tidak mau tenang bahkan ketika bundanya yang turun tangan. Tiara akhirnya meminta tolong Aryo untuk menenangkan adiknya itu. Kelvin maunya di gendong oleh Aryo untuk ke kamarnya. Tiara menghembuskan napas lega saat Kelvin mulai tenang dan Aryo membawanya ke kamar, padahal adiknya itu tadi sempat tantrum.

“Tiara, kamu ini suka usil sama adikmu sih,” ujar Andi. Tiara menatap ayahnya, “Bukan gitu Ayah, Aryo emang nggak bisa nginep di sini. Dia ada kerjaan kantor yang harus diselesaiin,” jelas Tiara. “Setelah Kama tenang dan tidur, kamu anterin makanan untuk Aryo. Kasihan dia nggak jadi makan,” ucap Alifia dan Tiara mengiyakan.

***

Kedua tangan kecil Kelvin memeluk leher Aryo sementara pria itu setia menimang anak itu digendongannya, memastikan bocah lima tahun itu telah tertidur pulas.

Aryo menyadari kehadiran Tiara di ambang pintu dengan membawa piring berisi makanan.

“Lo makan dulu. Lo bisa taro Kelvin aja di kasurnya,” tutur Tiara.

“Nanti dia bangun Ra.”

“Iya juga sih. Kalau dia bangun, lo nanti malah nggak bisa pulang. By the way, makasih ya udah mau direpotin sama Kelvin,” ucap Tiara kemudian ia meletakkan piring makanan untuk Aryo di nakas samping tempat tidur.

Selang sepuluh menit kemudian, rupanya Kelvin bersikap baik ketika Aryo meletakkannya. Anak lelaki itu anteng dalam tidurnya dan tidak menampakkan tanda-tanda akan menangis lagi.

“Tiara,” panggil Aryo.

“Ya?”

“Jaga diri lo selama di sini.”

Tiara mengangguk mengiyakan.

“Boleh gue tanya sesuatu sebelum sebelum lo pulang dari sini?” tanya Tiara.

“Tanya aja.”

“Dalam perjanjian, apa masing-masing pihak dibolehin untuk punya hubungan sama lawan jenis selama masih menikah?”

You have someone?” Aryo justru memberikannya pertanyaan balik.

Not yet. How about you?

“Kita nggak akan pernah tau perasaan seseorang kedepannya. Kalau suatu hari, perasaan itu muncul kepada siapapun itu, gue nggak bisa menolaknya. Begitupun lo, Tiara. Lo boleh memilih itu, selama keluarga nggak akan tau.”

Oke, I got your answer.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Gue udah di jemput nih. Gue duluan ya guys. Semangat buat presentasi besok, kita harus dapet nilai A pokoknya,” ujar Tiara sambil ber-tosan satu persatu dengan teman-teman kelompoknya.

“Di jemput siapa lo Ra?” tanya Vania, salah satu temannya.

“Suami gue. Udah nunggu dia parkiran P1,” jawab Tiara.

“Cieeee di jemput suami,” seru Fashan menggoda Tiara.

“Kok suami lo nggak jemput ke sini Ra? Boleh lah bawa ke kita, kenalin dulu gitu,” celetuk Wilda.

Guys, dia udah nungguin. Gue harus cabut sekarang oke,” ucap Tiara sambil terkekeh.

“Oke deh. Lo hati-hati Ra. Jangan lupa salamin buat suami lo yaa Beb,” seru Vania sebelum Tiara melangkah pergi dari cafe itu.

***

Sama sekali tidak ada rencana bagi Aryo dan Tiara untuk mampir ke suatu tempat sebelum pulang. Aryo bilang dirinya belum makan malam, jadi mereka memutuskan untuk mampir terlebih dulu.

Mereka menatap ke hamparan gedung perkotaan yang terlihat lebih kecil dari atas sini. Restoran sekaligus *bar ini mengusung konsep rooftop, sehingga rasanya sangat cocok untuk menikmati makan malam sambil memanjakan mata dengan pemandangan kota Jakarta.

“Gue tebak, lo belum pernah makan makanan pedagang kaki lima atau paling enggak yang rumah makan biasa,” cetus Tiara membuka pembicaraan.

“Gue pernah.”

“Lo masih inget itu kapan?”

Aryo pun menggeleng untuk menjawab pertanyaan Tiara yang berikutnya.

Tiara mengatakan bahwa baginya restoran pilihan Aryo ini cukup mewah. Namun bagi Aryo, restoran ini masih terbilang biasa aja untuknya.

“Kapan-kapan mau nyobain makanan kaki lima? Gue bisa jamin, rasa makanannya nggak kalah jauh dari restoran mewah,” tutur Tiara dengan nada percaya dirinya. Ekspresi gadis itu terlihat sangat meyakinkan dan tidak ada keraguan sedikitpun dari ucapannya.

I bet you will like it,” timpal Tiara lagi.

Oke, I'll try,” putus Aryo.

Tidak lama kemudian, pesanan mereka pun datang. Tiara mulai menyantap sesuap makanannya dan Aryo menunggu reaksi gadis itu.

“Gimana rasanya? Lo kasih rate berapa makanan restoran mewah?” tanya Aryo.

“Delapan,” jawab Tiara.

Seriously? For me it's nine,” ujar Aryo sambil natap Tiara tidak percaya.

“Bagi gue delapan, Aryo.”

Tiara menghabiskan makanannya lebih dulu dari Aryo. Sadar di perhatikan, gadis itu lantas memergoki Aryo yang tengah menatapnya.

“Gue habis duluan karena gue laper banget,” jelas Tiara.

“Oke-oke. Lo mau nambah nggak? Biar gue pesenin lagi.”

“Nope. Gue udah kenyang,” ujar Tiara lantas menyeruput minumannya.

“Kalau lo suka, gue bisa masak yang kayak gini.”

“Beneran?”

Aryo mengangguk. “Kalau makanan kaki lima yang lo bilang bisa bersaing sama makanan restoran, gue akan masakin lo. Gimana?”

“Oke, deal ya?”

Deal.”

***

Saat lampu merah di depan, Tiara menoleh pada Aryo dan ia menanyakan sesuatu yang telah membuatnya cukup penasaran.

You have hated your life?”

Aryo nampak berpikir sejenak dan alisnya pun menyatu, “I've been there. I hated my life and felt empty.”

Tiara menatap Aryo tidak percaya. Selama ini ia berpikir kehidupan pria itu sempurna dan ia memiliki segalanya.

“Tapi lo hampir punya segalanya yang mungkin orang di luar nggak punya. What's make you feel empty?

I've lost someone I loved. I got privilege from my family, but I lost a lot too,” Aryo menoleh menatap Tiara. Dari tatapan itu Tiara menemukan kesedihan di sana.

Lampu lalu lintas pun berubah menjadi hijau dan Aryo lantas kembali memanuver mobilnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Eyang Putri keliatan sayang banget sama Tiara, padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga sih. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar potongan pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo mengenai tujuannya kemari.

“Jujur aja, Tiara. Kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Oh iya, sebelumnya Tante mau ngucapin selamat karena udah jadi bagian keluarga kita,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibir ranumnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, denger apa yang akan Tante kasih tau ke kamu. Keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan sejak dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau berita itu. Eyang Putri sering ngelakuin hal itu dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tahu? Cinta aja nggak akan cukup membuat kamu bertahan di keluarga ini. Kami emang mencintai suami kami, tapi tanpa keturunan dalam pernikahan, akan besar kemungkinan suami kita ngikutin jejak eyang kakung,” tutur Sarah.

Tiara mengerti maksud pembicaraan mereka. Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung mempunyai 2 orang istri, dapat dikatakan eyang putri telah di madu.

Tepat setelah mengucapkannya pada Tiara, Felicia mendapati Tiara bersama kedua adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nunggu kamu,” ucap Feli sambil melempar pandangan penuh arti padanya.

“Iya Mah. Tiara ke sana sekarang ya,” ujar Tiara lalu pamit berlalu pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia berniat untuk sedikit menanggapi dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Feli mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan nggak keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” sambar Sarah.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir dengan sempurna. Kemudian ia menoleh pada Tiara mendapati wajah bingung gadis itu.

“Lo lagi mikirin apa?”

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Apa lo denger perkataan om atau tante gue di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha. Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari Aryo. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya lalu memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang.”

“Nggak semua orang.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi dengan kita.” Aryo mengedikkan bahunya lalu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah kaki lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” ucap Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. But thankyou for take care of me. You just say that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu Ulift* terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” ujar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara dengan mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that, eventhough we never try.” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara, kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

“*We never try? Are you forgeted? You kissed me in fitness room. Oh remember, before we got married we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkannya, Ra.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. That's all because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, namun beralih pada jajaran produk dairy lalu ia mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called* hubungan suami istri.” Perkataan Aryo telah sangat menampar Tiara. Membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanyalah bermain-main.

Tiara memilih merek sausage sapi yang akan di masukkannya ke troli karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau mengakuinya kalau kita punya ikatan batin, sebelum kita sungguhan melakukannya?”

You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara menjadi ingat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan para kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan. Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar secepat mungkin dari keluarga Brodjohujodyo, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus yang berisi beberapa belanjaan yang tidak cukup di masukkan ke tas belanja.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan meletakkan kardusnya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Kira-kira lusa lo sibuk nggak?”

“Sebenernya gue libur, tapi ada meeting online paginya. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas lalu menaruhnya pada mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Untuk satu minggu, gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue anter lo ke sana habis gue meeting.”

“Gue bisa berangkat sendiri.”

“Karena lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Eyang Putri keliatan sayang banget sama Tiara, padahal baru berapa bulan jadi istrinya Aryo,” ujar seorang wanita.

“Bener juga sih. Kalau mereka bisa ngasih keturunan dalam waktu dekat, potensi Aryo untuk jadi presdir bakal lebih kuat dari El,” timpal wanita yang satunya lagi.

Tiara tidak sengaja mendengar potongan pembicaraan itu ketika ia sampai di dapur. Tiara mengulas senyumnya dan mengatakan dengan sopan pada dua wanita yang merupakan tantenya Aryo mengenai tujuannya kemari.

“Jujur aja, Tiara. Kamu harus tau sesuatu,” celetuk Tante Risma.

“Oh iya, sebelumnya Tante mau ngucapin selamat karena udah jadi bagian keluarga kita,” ucap wanita yang satunya lagi, Tante Sarah, sambil menyunggingkan senyuman di bibir ranumnya. Tiara sebenarnya sudah selesai mengambil makanannya, namun saat akan mengucapkan pamit pada kedua wanita itu, mereka menahannya.

“Tiara, denger apa yang akan Tante kasih tau ke kamu. Keluarga ini emang sangat baik dalam menutupi apapun, bahkan sejak dulu. Waktu eyang kakung nikah lagi, publik nggak langsung tau berita itu. Eyang Putri sering ngelakuin hal itu dengan sangat apik dan tersusun, demi melindungi citra baik keluarga ini,” jelas Risma.

“Kenapa Eyang Putri ngelakuin itu?” tanya Tiara.

“Emangnya kamu nggak tahu? Cinta aja nggak akan cukup membuat kamu bertahan di keluarga ini. Kami emang mencintai suami kami, tapi tanpa keturunan dalam pernikahan, akan besar kemungkinan suami kita ngikutin jejak eyang kakung,” tutur Sarah.

Tiara mengerti maksud pembicaraan mereka. Sejak ia menikah dengan Aryo, ia mengetahui fakta kalau eyang kakung mempunyai 2 orang istri, dapat dikatakan eyang putri telah di madu.

Tepat setelah mengucapkannya pada Tiara, Felicia mendapati Tiara bersama kedua adik iparnya itu.

“Tiara, suami kamu lagi nunggu kamu,” ucap Feli sambil melempar pandangan penuh arti padanya.

“Iya Mah. Tiara ke sana sekarang ya,” ujar Tiara lalu pamit berlalu pada Felicia dan kedua tante itu. Sementara Felicia berniat untuk sedikit menanggapi dua iparnya tersebut.

“Kakak perhatian banget sama menantu Kakak ya,” sindir Sarah.

“Iya dong. Perhatian sama menantu sendiri, apa nggak boleh?” Feli mengambil sebuah gelas kaca tinggi di meja lalu mengisinya dengan minuman infuse lemon.

“Menantu yang akan nggak keturunan untuk memenuhi keinginanan Kakak aja?” sambar Sarah.

Sambil mendekati kedua iparnya, Felicia berkata, “Pasangan yang menikah, tujuannya untuk apa selain memiliki keturunan? Kalian berdua udah nikah, tapi nggak paham soal hal itu. Kakak permisi dulu ya,” tukas Felicia sebelum pergi dari sana.

***

Di perjalanan pulang dari acara keluarga, Tiara memikirkan kata-kata tante Sarah dan tante Risma. Soal menutupi segalanya sejak dulu? Apakah itu ada hubungannya juga dengan informasi yang Tiara butuhkan untuk rencana balas dendamnya?

“Kita udah sampe,” suara Aryo membuat Tiara menoleh dan mendapati mobil mereka berhenti di parkiran sebuah pusat perbelanjaan.

Aryo menarik rem tangan setelah memastikan dari spion bahwa mobilnya telah terparkir dengan sempurna. Kemudian ia menoleh pada Tiara mendapati wajah bingung gadis itu.

“Lo lagi mikirin apa?”

“Gue nggak mikirin apa-apa,” jawab Tiara sambil tersenyum kikuk. Jujur saja, dirinya terkejut dengan Aryo yang dapat menebak bahwa dirinya memang sedang memikirkan sesuatu.

“Apa lo denger perkataan om atau tante gue di rumah eyang tadi?” tembak Aryo.

Gotcha. Tiara memang tidak akan bisa menghindar dari Aryo. Tiara mendesahkan napasnya tanda menyerah bahwa ia telah kalah dari Aryo. Tiara mengarahkan cermin kecil yang menggantung di depannya lalu memperhatikan pantulan wajahnya disana.

“Kenapa?” tanya Aryo sambil sedikit tertawa memperhatikan tingkah aneh Tiara itu.

“Ya habis lo kayak cenayang, bisa baca raut wajah orang.”

“Nggak semua orang.”

“Terus?”

“Mungkin karena kita udah nikah, jadi gue udah hapal tingkah laku lo.”

“Tapi pernikahan kita baru beberapa bulan. Don’t lie to me. Lo ngelakuin apa supaya bisa baca pikiran gue? I’m watching you.” Tiara mem-pouty kan bibirnya lalu ia bergerak untuk melepas seat belt-nya.

Aryo mengikuti yang dilakukan Tiara dan menatap matanya. “Gue pernah denger, katanya orang yang udah nikah akan punya ikatan dengan sendirinya. Mungkin itu yang lagi terjadi dengan kita.” Aryo mengedikkan bahunya lalu turun lebih dulu dari mobil.

Tiara mengikuti gerakan Aryo dan segera menyusul langkah kaki lelaki itu.

“Kita nggak punya ikatan itu,” ucap Tiara setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Aryo. Tiara mendongak untuk menatap Aryo karena pria itu lebih tinggi darinya. Sampai tiba-tiba lengannya dihela dan tubuhnya pun otomatis condong ke arah Aryo.

“Perhatiin langkah lo, Tiara,” ucap Aryo yang masih menahan tubuhnya. Tiara mengerjapkan matanya sesaat kemudian melepaskan tubuhnya agar menjauh dari Aryo.

“Tadi ada orang yang hampir nabrak lo,” jelas Aryo saat mereka menaiki lift dan hanya ada mereka berdua di dalam.

“Maaf gue kurang hati-hati. But thankyou for take care of me. You just say that we have a bonding, but I don’t think so.”

“Kenapa lo nggak berpikir seperti itu?”

Pintu Ulift* terbuka dan mereka keluar dari sana. Supermarket tujuan mereka berada di lantai dua yang tidak jauh dari posisi mereka saat ini.

“Ikatan itu cuma berlaku untuk pasangan yang menikah dan saling mencintai,” ujar Tiara.

Tiara mengambil troli di bagian depan pintu masuk supermarket. Aryo berjalan di samping gadis itu dan mereka memasuki pusat perbelanjaan.

“Karena kita juga belum pernah melakukannya. Semua itu udah jelas, Aryo,” lanjut Tiara dengan mengecilkan volume suaranya. Tiara mempercepat laju trolinya sehingga meninggalkan Aryo di belakangnya.

How you say like that, eventhough we never try.” Aryo berhasil menyamai langkahnya dengan Tiara, kini satu tangan pria itu ikut memegang troli sehingga Tiara tidak bisa bergerak lebih jauh untuk menghindarinya lagi.

“*We never try? Are you forgeted? You kissed me in fitness room. Oh remember, before we got married we do something that night in your apartment,” papar Tiara.

Its all happen only because of me? Lo juga menginginkannya, Ra.” Aryo memberikan ekspresi sedikit tidak terima dengan perkataan Tiara bahwa kejadian itu hanya dirinya yang menjadi andil.

Yes. That's all because of you.” Mata Tiara tidak lagi menatap Aryo, namun beralih pada jajaran produk dairy lalu ia mengambil sekotak susu cair dan memasukkannya ke dalam troli.

It’s different, Tiara. It's only cuddle and kissed, it’s not called* hubungan suami istri.” Perkataan Aryo telah sangat menampar Tiara. Membuktikan bahwa yang dilakukan pria itu selama ini padanya hanyalah bermain-main.

Tiara memilih merek sausage sapi yang akan di masukkannya ke troli karena ada lumayan banyak merek disini. Aryo beralih ke hadapannya, ia berdiri di depan troli menahan Tiara melanjutkan acara berbelanjanya.

“Lo nggak mau mengakuinya kalau kita punya ikatan batin, sebelum kita sungguhan melakukannya?”

You're right. Tapi itu nggak akan pernah terjadi. Can we finish our conversation?” Setelah mengucapkan kalimat itu, Tiara menjadi ingat tentang pernikahan tanpa keturunan yang dikatakan para kedua tantenya Aryo.

Jika dirinya dan Aryo tidak melakukan hubungan suami istri, maka tidak akan ada keturunan dalam pernikahan mereka. Itu artinya, kemungkinan pernikahannya tidak dapat bertahan. Keluarga Aryo dapat menendangnya keluar secepat mungkin dari keluarga Brodjohujodyo, jika Tiara tidak ingin di madu. Bahkan kemungkinan yang terburuk, keluarga Aryo akan mengetahui pernikahan mereka yang sebenarnya hanya untuk sebuah status.

***

Sesampainya di rumah, Tiara membantu membawakan tas belanja yang ringan sementara Aryo membawa yang berukuran lebih besar dan berat.

Tiara menuju dapur untuk meletakkan belanjaannya di sana. Setelah menaruhnya, Tiara memutuskan menunggu Aryo karena pria itu masih harus mengambil satu kardus yang berisi beberapa belanjaan yang tidak cukup di masukkan ke tas belanja.

“Aryo,” panggil Tiara ketika Aryo sampai di dapur dan meletakkan kardusnya di meja kitchen set.

“Kenapa?”

“Besok lo sibuk nggak?”

“Sebenernya besok gue libur, tapi ada meeting online pagi. Emangnya kenapa?” Aryo mengambil gelas lalu menaruhnya pada mesin otomatis yang menyatu dengan kulkas. Setelah mesin selesai bekerja, pria itu meneguk air dingin dari gelasnya.

“Gue mau minta izin untuk pulang ke rumah. Karena lo besok ada meeting, jadi gue izinnya sekarang aja. Untuk satu minggu gue mau nginep di rumah orang tua gue. Boleh kan?” tanya Tiara.

“Boleh. Gue anter lo ke sana habis gue meeting.”

“Gue bisa berangkat sendiri.”

“Karena lo udah mengenal keluarga gue sebagai istri gue, gue juga akan mengenal keluarga lo sebagai suami lo, Tiara,” pungkas Aryo.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara tidak mendapat akses masuk karena rupanya Aryo belum pulang. Tiara memutuskan menelfon Erza agar pria itu bersedia menemaninya di lobi pintu masuk sampai Aryo pulang.

“Za lo baik banget sih,” ucap Tiara ketika Erza datang.

“Udah jadi tugas saya untuk layaninNyonya.” Erza mengambil tempat di samping Tiara. Mereka duduk di salah satu kursi di area taman.

“Jangan panggil Nyonya dong, kan mulai kemarin lo temen gue, gue temen lo,” ujar Tiara.

“Gue nggak ngerti deh, kenapa orang kaya ngabisin duit buat bangun tempat tinggal sebesar ini, buat apa coba kalau dipikir-pikir.” Tiara mengayun-ayunkan kakinya dan menatap ke sneakers putihnya.

“Maksud Nyonya—”

“Jangan panggil gue Nyonya Za, please.”

“Tapi aya tetep harus menghormati Nyonya walaupun Tuan sedang tidak ada.”

“Ohya gitu ya? Yaudah deh, senyamannya lo aja.”

Erza tertawa sekilas lalu ia kembali lagi pada pernyataan Tiara yang sebenarnya asal saja ia ucapkan itu.

“Maksud Nyonya tempat ini?”

That’s right. Kenapa Aryo harus bangun tempat seluas dan semegah ini? Gue nggak tau apa yang dia pikirin. Padahal rumah sederhana aja yang penting layak ditinggalin, udah lebih dari cukup.” Tiara mengutarakan pemikirannya lagi.

“Mungkin bukan kayak gitu yang dimaksud samaTuan, Nyonya.” Balas Erza menanggapi pendapat Tiara.

“Jadi?”

“Tuan bangun tempat ini udah lumayan lama. Setelah nikah, Tuan bawa Nyoya tinggal disini, biar Nyonya nyaman dan senang dengan semua fasilitas yang ada, dan tentunya merasa aman.”

Tiara melongo tidak percaya dengan penuturan Erza barusan. Apanya yang bahagia? Tiara justru merasa Aryo telah mengekangnya dengan semua fasilitas dan peraturan yang pria itu berikan padanya.

“Yang ada, gue takut ngerasa kesepian di sini. Kayak sekarang, kalau Aryo belum pulang, gue nggak bisa masuk ke rumah ini. Tapi lebih baik di luar sih, nggak terlalu menakutkan dan untung ada lo yang nemenin gue.” Tiara berbalik untuk menatap bangunan rumah yang terlihat megah di hadapannya. Sepertinya setiap orang yang ditawari tinggal di sini akan setuju dan merasa sangat bahagia. Namun tidak bagi Tiara saat ini. Rasa sepi yang menyergapnya beberapa menit lalu, kembali mengingatkannya pada memori kelam itu.

“Maaf Nyonya, bukannya mau mencampuri kehidupan Nyonya dan Tuan. Nyonya tidak akan kesepian lagi nanti, rumah ini akan ramai,” tutur Erza.

“Maksud lo? I mean gimana caranya rumah ini—”

Perkataan Tiara terhenti saat ia menyadari maksud kalimat Erza soal rumah yang tidak akan sepi lagi. Jelas maksud Erza adalah dirinya dan Aryo yang akan memiliki anak. Tentu hal itu tidak akan pernah terjadi bahkan melintas dalam benaknya saja tidak pernah.

By the way, gue bosen nih. Lo mau nggak temenin gue jalan-jalan keliling tempat ini?” Tiara mencoba mengalihkan topik pembicaraan mereka.

“Sebentar lagi kayaknya Tuan sampe. Saya udah hubungim Tuan dan ngasih tau kalau Nyonya pulang lebih dulu dari tuan. Saya nggak kalau menghabiskan waktu terlalu banyak dengan Nyonya,” papar Erza.

Setelah memikirkannya kalimat Erza itu, Tiara menjadi paham maksudnya. Oh oke, ini tidak baik. Tiara pikir perilaku Aryo telah berlebihan terhadapnya.

“Enggak. Lo nggak boleh pergi. Biarin aja Aryo lihat gue sama lo. Lagian siapa suruh buat gue nunggu dia di sini sendirian.” Tiara menahan lengan Erza saat pria itu hendak pamit padanya.

Kali ini Erza tidak bisa menolak keingian Tiara untuk menemaninya di sini sampai Aryo pulang. Hari sudah cukup malam dan sebenarnya Erza juga tidak tega meninggalkan Tiara sendirian. Erza pun merasakan pundaknya sedikit berat dan ia mendapati Tiara tertidur dengan kepala gadis itu mendarat di bahunya.

“Nyonya,” Panggil Erza untuk membangunkan Tiara namun tidak ada jawaban apapun dari Tiara.

Beberapa saat kemudian, sebuah mobil terparkir sempurna tidak jauh dari posisi Erza dan Tiara.

Terlihat Aryo turun dari mobil dan mendapati Tiara dan Erza dengan istrinya yang tertidur di pundak Erza.

“Bangunin dia dan minta pake kakinya sendiri untuk masuk ke dalam,” ucap Aryo pada Erza, lalu tuannya itu melenggang setelah meninggalkan perintah pada orang yang bekerja untuknya itu.

“Baik, Tuan,” jawab Erza.

***

Meskipun sekujur tubuhnya terasa pegal dan matanya sungguh berat untuk diminta terbuka, Tiara tetap kekeuh mendemo Aryo atas semua tindakan yang telah dilakukan pria itu terhadapnya.

Aryo tersadar Tiara mengikutinya sampai ke depan kamar pria itu. Sebelum membuka knop pintuya, Aryo berbalik menghadap Tiara dengan tatapan dinginnya. Namun Tiara tidak menampakkan sama sekali raut terintimidasinya. Segala emosi telah mendobrak pintu rasa takutnya ketika harus menghadapi Aryo yang seperti ini.

Can you tell me why, you did this to me? You drive me crazy, dengan semua yang lo lakukan untuk mengekang gue,” ucap Tiara dengan napasnya yang tidak beraturan.

“Lo ngelakuin ini untuk ngelindungin reputasi lo dan perusahaan. Lo nggak sadar kalau itu nyakitin gue,” Tiara ingin meluapkan perasaannya agar Aryo tahu dan tidak bersikap berlebihan terhadapnya.

“Lo udah berlebihan, Aryo,” ucap Tiara dengan nadanya yang frustasi.

“Udah selesai?” tanya Aryo akhirnya setelah beberapa detik Tiara dapat menenangkan dirinya dan berhenti berbicara.

“Lo mungkin perlu waktu untuk nerima dan ngerti situasi baru ini. Gue minta maaf, kalau semua ini nyakitin lo, Tiara. Lo nggak salah pergi sama temen cowok lo, tapi setidaknya lo bisa kasih tau gue kemana lo pergi. If something happen to you, at least gue nggak akan terlambat ada di samping lo.” Aryo menghembuskan napasnya panjang untuk menjeda ucapannya. “Kita punya waktu satu tahun untuk jalanin ini dan saat lo nggak lagi menyandang status istri gue, lo bisa bebas dari semua yang nggak lo sukai,” tutur Aryo.

Tiara mencerna kalimat demi kalimat yang Aryo katakan itu. Aryo mengatakannya bahwa ia tahu Tiara pergi dengan siapa dan megizinkannya, tapi sifat Tiara yang tidak memberitahunya membuat Aryo justru semakin protektif terhadapnya. Ucapan Aryo perlahan mulai mencairkan es yang membeku di hatinya dan membuka pikirannya yang beberapa menit lalu terasa seperti tersumbat.

“Seiring berjalannya waktu, lo akan paham kenapa gue ngelakuin ini untuk lo,” ucap Aryo.

Tiara menatap Aryo dan ia merasa dirinya justru yang terlihat lebih egois saat ini dengan tidak mau mendengarkan apa yang baik dan buruk padahal itu untuk dirinya sendiri. Tiba-tiba melintas di pikiran Tiara membuat hubungannya dengan Aryo menjadi lebih baik, sehingga mendapakan informasi yang ia butuhkan akan lebih mudah.

You get the point?” tanya Aryo.

Tiara mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Aryo. “Gue akan coba untuk ngerti itu. Tapi boleh gue minta sesuatu dari lo?”

“Apa? Gue bakal coba pertimbangin.”

“Gue belum minta Erza atau Egha jelasin tentang apa aja yang harus gue lakuin sebagai istri lo. Gue nggak akan tanya ke mereka, karena gue mau lo yang ajarin gue. Gue pikir, cara itu lebih baik untuk kita berdua kedepannya.”

Keduanya saling bertatapan dengan jarak yang cukup dekat. Aryo menatapnya dengan ekspresi yang Tiara tidak bisa artikan dan pria itu sedikit memangkas jarak yang ada diantara mereka.

Are you sure with that?” Nada suara Aryo melembut. Tiara tidak pernah mendengar nada tersebut dari bibir Aryo ketika berbicara dengannya.

I’m sure. Kita bisa jalanin satu tahun ini dengan saling berdamai dan bersikap lebih saling ngerti satu sama lain,” ungkap Tiara.

“Oke. Kalau gitu, kita akan coba sesuatu yang lebih baik, mulai besok.”

So can I text you everywhere I go?” Tiara tersenyum menampakkan gummy smile-nya.

Aryo mengangguk, lantas ia mengulaskan sebuah senyum tipis di bibirnya. Tiara memerhatikan senyum itu dan jantungnya kembali berdetak tidak wajar ketika memerhatikan senyuman menawan itu.

***

Hari ini terhitung memasuki satu bulan Aryo dan Tiara sepakat menjalani pernikahan secara kooperatif. Keduanya akan saling membantu satu sama lain, agar pernikahan mereka berjalan dengan lebih baik. Sejauh ini berjalan lancar antara dirinya dan Aryo. Tidak banyak perdebatan yang terjadi. Jika ada masalah, mereka akan bicarakan dengan kepala dingin dan mencoba saling memahami satu sama lain.

Pagi ini Tiara turun ke lantai satu dan ia mendapati Aryo sedang menerima telepon dari mamanya.

“Iya Mah, Aryo sama Tiara dateng acara keluarga nanti siang.” Aryo mengakhiri percakapan dengan mamanya dan menatap kearah Tiara yang sudah berada di hadapannya.

Aryo berjalan menuju mini bar yang terletak di samping dapur, lalu ia kembali melanjutkan kegiatan sarapan paginya. Tiara mengambil tempat di samping Aryo, ia duduk di sana dan memperhatikan kegiatan yang sedang Aryo lakukan.

Aryo menyodorkan satu suap pada Tiara yang dibalas dengan tatapan sedikit terkejut dari gadis itu. Tiara pun menerima suapan itu, lalu mengunyah makanan yang terasa enak sekali hingga membuat sebuah senyum lebar terbit di wajahnya.

“Enak banget. Gue bisa masak kayak gini, tapi harus diajarin dulu,” ujar Tiara.

“Lo bisa ambil kursus masak kalau lo mau,” tutur Aryo.

Tiara mengomel dalam hati. Kenapa laki-laki itu ditakdirkan untuk memiliki rasa peka yang sangat minim.

“Kursus masaknya sama lo aja, gimana?” usul Tiara.

Aryo menghentikan kegiatan makannya dan meletakkan sendoknya.

“Emang lo mau masak buat siapa?”

“Buat lo lah. Sebelum lo berangkat kerja, gue bisa masakin sarapan buat lo,” jawab Tiara diiringi senyum kecilnya. Kemudian ia menyendok sendiri makanan yang ada di mangkok Aryo untuknya.

Tiara terlihat senang sekali bangun di pagi hari mendapat sarapan seenak ini. Ditambah pula, ia disuguhi pemandangan sosok bertubuh gagah yang sanggup membuat matanya tidak mengantuk lagi. Ia dapat dengan puas memandangi Aryo tanpa memerlukan banyak usaha. Saat gadis diluar sana mengidolakan lelaki di hadapannya ini dan berharap ada di posisinya, Tiara mendapatkannya secara gratis. Kalau di lihat-lihat, memang suaminya itu lumayan tampan, ah bukan lumayan, tapi hampir mendekati kata sempurna.

“Tiara, tugas lo yang utama itu bukan masak,” ucap Aryo memecah pembicaraan monolog Tiara di dalam kepalanya. Tiara berusaha berekspresi normal dan menghilangkan apapun yang ada di pikirannya barusan tentang memuja visual Aryo.

“Terus? Tugas gue kan jadi istri lo. Bukannya masak itu kewajiban seorang istri? Lagian gue nggak keberatan untuk itu,” cerocos Tiara.

“Oke, kalau gitu. Lo bisa pilih sendiri kursus masak mana pun yang lo mau.”

Tiara melukiskan senyumnya, “Ooh … jadi lo mau gue kursus masak terus ketemu chef chef yang ganteng dan gagah gitu? Gue pikir, itu nggak akan baik untuk reputasi suami gue di perusahaan and also for our marriage status.” Tiara asal saja mengucapkannya. Namun Tiara tidak ingin menjadi perempuan yang munafik. Jika disodorkan pria tampan, akan kecil kemungkinannya untuk menolak dan tidak tergoda.

Tiara memerhatikan Aryo yang tidak melanjutkan acara sarapannya itu.

“Lo nggak mau makanannya? Gue yang habisin ya? Sayang tau, kalau dibuang, kan mubazir makanan seenak ini.” Tiara hendak mengambil alih makanannya dengan menggeser mangkuk ke arahnya, namun ucapan Aryo menahan aksinya itu.

“Kita akan bahas ini nanti, habis dari acara keluarga. Lo bisa habisin makanannya, terus siap-siap. Dua jam lagi kita harus berangkat.” Aryo mengatakannya dan pria itu melenggang meninggalkannya.

Tiara berharap, rencananya untuk membuat Aryo percaya terhadapnya akan berjalan lancar. Melihat bagaimana pagi ini mereka dapat dengan tenang membicarakan sesuatu dan mendapatkan win win solution bagi kedua pihak. Aryo tidak telak mengucapkan ‘tidak’ pada keinginan Tiara yang memerlukan persetujuan pria itu, tapi mereka memilih diskusi agar bisa menemukan jalan keluarnya.

***

Aryo dan Tiara berjalan bersama melewati taman dan sampai di depan sebuah pintu masuk ganda berukuran besar.

Di perjalanan tadi, Aryo memberitahu Tiara bahwa rumah yang akan mereka datangi adalah rumah eyangnya. Hampir semua bibi, paman, dan keponakannya hadir pada acara spesial malam ini.

“Aryo, tunggu.” Tiara menahan lengan Aryo, sebelum mereka melepas sepatu di depan teras rumah yang luas itu.

“Kenapa?”

“Lo bilang, acara keluarga diadain kalau ada momen spesial. Jadi momen spesialnya itu apa?” tanya Tiara.

Aryo menghadap ke samping, sehingga kini dirinya dan Tiara saling berhadapan, “Momen spesial itu pernikahan kita,” jawab Aryo.

“Kenapa lo nggak bilang ke gue sebelumnya? Keluarga lo bisa aja curiga sama pernikahan kita yang sebenarnya. Nampak kekhawatiran di wajah Tiara.

“Bisa jadi mereka sedikit curiga. Tapi apapun itu, kita terikat sebuah pernikahan, Tiara. Kecurigaan mereka akan sia-sia, saat kita masih sama-sama. I will hold your hand like this.” Jawaban Aryo itu seperti meruntuhkan tembok ketakutan yang sebelumnya ada di dalam diri Tiara.

Tatapan Tiara pun turun ke arah dimana tangan Aryo menggenggam tangannya dan sebuah senyum tidak terlukis di wajah Tiara tanpa bisa ia cegah.

***

Ketika memasuki rumah bergaya eropa yang dipadukan dengan sentuhan minimalis tersebut, semua mata yang ada disana mengarah pada Tiara dan Aryo.

Setelah menyapa satu persatu keluarga Aryo yang hadir, termasuk kedua mertuanya, Tiara dan Aryo memberi salam hormat kepada kedua eyang yang mana adalah kakek dan neneknya Aryo. Ketika menyalami eyang putri, wanita paruh baya tersebut mengatakan sesuatu pada Tiara.

“Usia kalian masih mudabanget waktu menikah. Apa kalian ingin segera punya anak atau ditunda dulu?”

Tiara yang mendapat pertanyaan itu, tentu harus memberi jawaban yang dapat mendukung aktingnya dengan Aryo, agar tidak ada yang akan tahu soal pernikahan yang mereka jalani sesungguhnya.

“Tiara sama Aryo nggak nunda sama sekali, Eyang. Kita mau segera punya anak,” jawab Tiara sopan.

“Eyang, ngobrol apa aja sama istri Aryo? Eyang lagi interograsi Tiara ya?” ucap Aryo yang datang menghampiri kedua perempuan itu. Aryo mengambil tempat duduk di samping kiri eyangnya. Sementara Tiara berada di sisi kanan eyang dan keduanya saling bertukar pandang.

No. Eyang nggak lagi mengintrograsi istri kamu. Terus kenapa kalian cuma tatap-tatapan kayak gini? Eyang berasa nyamuk diantara pengantin baru deh,” celetuk wanita paruh baya itu.

“Bukan gitu, Eyang. Nggak papa dong, Eyang diantara kita. Aryo kan mau deket-deket sama istri Aryo.” Mendengar ucapan Aryo itu membuat Tiara terkejut dan rupanya eyang menyadari hal tersebut.

“Tiara, jangan dengerin anak ini. Meskipun dia suami kamu, kadang sikapnya masih kayak anak kecil, manja banget ya pasti dia sama kamu?” Eyang berbicara pada Tiara dan justru mengabaikan keberadaan Aryo.

“Tiara kan istrinya Aryo, Eyang,” ucap Aryo dengan nada sok memelasnya dan ekspresinya yang tidak sama sekali menunjukkan seorang pria dewasa berusia 24 tahun. Tiara melihat tepat ke ekspresi Aryo yang sebelumnya tidak pernah ia dapati pada pria itu.

Ekspresi Aryo tersebut terlihat lucu dimata Tiara dan jantungnya berdebar mendapati itu, tapi ditampik oleh kenyataan bahwa Aryo hanya sedang berakting saat ini. Tiara pikir Aryo pantas mendapatkan piala Oscar dengan kategori aktor terbaik.

“Eyang, boleh ya Tiara ngambilin makanan untuk Aryo dulu? Jangan Eyang ajak ngobrol terus dong istri Aryo,” ucap Aryo masih berusaha mendapat perhatian ketika dua perempuan yang mengabaikannya itu. Masih dicuekin, Aryo pun memutuskan untuk menjauh dari mereka dan bergabung dengan para keponakannya.

“Liat kan, Tiara. Cucu Eyang yang satu itu emang masih agak kekanak-kanakan sifatnya. Dari pada bahas soal perusahaan sama Om-omnya, dia milih main sama keponakannya,” ucap Eyang sambil tertawa kecil dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Tiara mengulaskan senyumnya pada Eyang, lalu matanya mengarah pada satu titik dimana Aryo bermain dengan para keponakannya yang masih kecil itu.

Aryo tidak menyadari diperhatikan, sampai Tiara sudah tidak lagi disana dan Aryo baru menoleh. Aryo pun meninggalkan keponakannya dan beralih mencari keberadaan Tiara.

“Eyang, Tiara dimana?” tanya Aryo pada eyangnya.

“Istri kamu ngambilin makanan untuk kamu,” jawab Eyang.

Aryo bernapas lega. Lagipula apa yang ada dipikirannya itu. Mana mungkin Tiara menghilang begitu saja atau diculik oleh seseorang. Kemana akal sehatnya beberapa detik yang lalu. Aryo kembali pada keponakannya dan akan menunggu Tiara membawakan makanan untuknya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara bersyukur ia masih mempunyai alasan untuk keluar dari tempat tinggalnya, yakni berkuliah. Tentu Tiara akan memanfaatkan waktu tersebut dan tidak langsung kembali ke rumah ketika perkuliahan sudah selesai.

Tiara sedang berada di kantin bersama Adrian dan Sandi sembari menunggu kelas selanjutnya dimulai. Biasanya Valdo selalu menempel dengan Sandi, tapi entah kemana perginya bocah itu kali ini. Kalau ada Valdo, mugkin cowok itu jadi yang paling ingin tahu soal pernikahan Tiara dan malam pertamanya. Tentu Tiara akan malas menjawab pertanyaan itu.

“Pulang ngampus lo nggak bareng Akmal lagi dong Ra?” tanya Adrian sebelum ia menghembuskan asap rokoknya. Memang biasanya Tiara pulang kampus bareng Akmal karena rumahnya dan Akmal searah dan jaraknya cukup dekat.

“Ada Akmal suruh matiin tuh rokok,” Sandi memperingati Adrian. Dengan berat hati cowok itu pun menurut. Adrian mematikan rokoknya yang baru ia hisap setengahnya itu. Biasanya tidak lama Akmal akan datang dimana itu ada Tiara.

Tiara merasakan pundaknya ditepuk dan ia langsung menoleh pada sosok yang kehadirannya saat ini tidak ia harapkan. “Gimana Ra, nikah enak nggak?” seru Valdo.

Valdo mengambil tempat duduk di sampingnya dan menaruh tasnya di atas meja. Pria itu tersenyum pada Tiara dan minta perempuan itu untuk menjawab pertanyaannya.

“Nggak enak, karena nggak sebebas sebelum nikah,” jawab Tiara apa adanya.

“Yahh, bakal susah nongkrong lagi dong sama kita,” celetuk Sandi sambil nampilin wajah sok sedihnya.

“Nanti gue pulang bareng sama Akmal,” celetuk Tiara.

“Akmal kayaknya sampe malem di kampus Ra, soalnya dia ada rapat. Dia kan ketua pelaksana acara untuk orientasi maahasiswa baru,” ujar Adrian.

“Iya, gue nunggu Akmal selesai rapat dulu,” timpal Tiara menanggapi ucapan Adrian.

***

Tiara dan Akmal berjalan bersisian menuju parkiran motor yang berada di belakang gedung fakultas mereka. Setelah selesai dengan rapat kepanitiannya, Akmal menepati janjinya untuk pergi berdua dengan Tiara.

Mereka sampai di parkiran dan Akmal pun memberikan sebuah helm bogo berwarna putih kepada Tiara.

“Masih lo bawa aja nih helm,” celetuk Tiara setelah selesai memakai helm di kepalanya.

“Eangnya lo nggak mau pulang bareng gue lagi?”

“Lo lupa gue udah jadi istri orang,” gumam Tiara diiringi tawanya sebelum Akmal menancapkan kunci di motornya.

Akmal menghadap Tiara dan tangannya bergerak memastikan pengait helm milik Tiara telah terpasang dengan sempurna.

“Ra, jangan buru-buru ngejalanin rencana ini,” Akmal wajahnya menampakkan kekhawatiran. Tiara mengerti arah kalimat yang diucapkan oleh Akmal tersebut.

Tiara mengulas senyumnya untuk meyakinkan Akmal semuanya akan baik-baik saja. Tiara menceritakan pada Akmal mengenai perjanjian yang telah ia sepakati dengan Aryo. Perjanjian itu berguna untuk mencegah resiko buruk yang bisa terjadi selama mereka menjalankan rencana.

“Jadi lo punya perjanjian sama dia?”

“Hmm. Gue akan berusaha untuk dapetin informasi tanpa Aryo curiga dan tau soal rencana kita.”

“Gimana caranya lo dapet informasi itu kalau ada jarak antara lo sama dia karena perjanjian itu?”

“Gue bisa ngelakuinnya dengan cara yang halus. Kayak yang di bilang dosen kita di mata kuliah marketing, it's called soft selling.”

“Gimana cara kerjanya?”

“Sekarang gue adalah istrinya. Pertama, gue akan bikin Aryo percaya sama gue dan pelan-pelan hubungan kita. Terus gue akan cari informasinya saat gue udah punya akses kesana. Nanti kita bahas ini lagi, kita harus berangkat sekarang nanti kita telat nontonnya lho,” Tiara menepuk pundak Akmal untuk menyadarkan cowok itu dari diamnya.

“Tunggu, Ra.” Akmal menahan pergelangan tangan Tiara dan menatap tepat ke manik mata coklat gelap milik gadis itu.

“Kenapa?”

“Gue cuma takut lo salah langkah dengan ngambil cara ini. Gue nggak bodoh untuk mengerti maksud kata-kata lo, Tiara.”

“Lo khawatir soal apa?” Mereka saling bertatapan dan Tiara tidak mengerti dimana letak kekhawatiran sahabatnya itu.

Akmal menggelengkan kepalanya, kemudian ia menancapkan kunci pada motornya dan meminta Tiara naik ke boncengan. Tiara yang tidak mengerti perkataan cowok itu hanya menurut dan naik ke boncengan motor milik Akmal.

***

“Makasih ya, hari ini udah nemenin gue,” ujar Tiara setelah mengembalikan helm yang ia pakai kepada Akmal.

“Gue masuk dulu ya, lo hati-hati di jalan Mak,” timpal Tiara sebelum berjalan ke arah bangunan yang saat ini menjadi tempat tinggalnya. Tiara meminta Akmal menurunkannya di jarak seratus meter lebih dari bangunan tingkat tiga itu.

“Tiara,” Akmal memanggilnya dan Tiara menoleh. Akmal turun dari motornya lalu berlari kecil untuk menghampirinya.

“Ada yang ketinggalan Mal?” tanya Tiara dan Akmal hanya menggeleng sebagai jawaban.

“Ohiya, anak-anak bilang satu bulan kedepan lo bakal sibuk ya sama acara.” Tiara teringat pembicaraan di kantin siang tadi dengan teman-temannya.

“Gue bakal sedikit sibuk. Tapi kalau ada apa-apa, lo bisa hubungin gue Ra,” ucap Akmal yang dijawab Tiara dengan sebuah anggukan. Akmal mengarahkan tangannya ke puncak kepala Tiara lalu menepuk pelan disana dan mengusapnya sekilas.

“Gue bakal kangen lo dan semua memori yang kita punya. Mungkin sekarang kita nggak bisa kayak dulu. Apa gue kedengeran kayak orang yang egois, Ra?”

“Kita tetep bisa kayak dulu kali, Mal. Selama lo bisa jagain gue, Aryo bolehin gue punya kebebasan sesuai dengan perjanjiannya,” jelas Tiara.

Keduanya pun sama-sama mengulas senyum, lalu Tiara sungguhan harus masuk. Akmal membiarkan Tiara pergi dari hadapannya dengan perasaan khawatir yang sebenarnya akan selalu ia sematkan untuk gadis itu.

Apalagi mengingat Tiara harus menyimpan rekaman memori pahit mengenai masa lalunya. Tiara adalah teman masa kecilnya yang perlahan memasuki relung hatinya. Perasaannya kepada Tiara berubah menjadi perasaan antara laki-laki dan perempuan yang sudah sama-sama dewasa.

Akmal tidak pernah menduga ia akan mencintai sahabatnya seperti ini. Gadis kecil yang dulu sangat ingin ia lindungi, kini sudah bertumbuh dewasa dan begitu cantik. Akmal bukanlah pria beruntung yang menikahi gadis itu. Namun disatu sisi, Akmal ingin mewujudkan keinginan Tiara, agar gadis itu tidak mendapatkan mimpi buruknya lagi.

Ketakutannya mengenai rencana Tiara barusan terasa terlalu berlebihan dan tidak berdasar untuk saat ini. Pria itu menyisir kebelakang rambut hitam legamnya dengan jari-jari tangannya sembari menghembuskan napasnya panjang. Sebelum pergi dari sana, Akmal memastikan punggung kecil Tiara tidak terlihat lagi oleh jarak pandangnya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seharian ini, Tiara berusaha memikirkan cara efisien agar bisa mendapatkan keinginannya melalui Aryo. Namun sudah menjelang malam, tidak ada satupun ide yang terlintas di benaknya. Kalaupun ada, resikonya akan berbahaya untuk keamanan rencananya.

Tiara tahu, ini tidak akan mudah, mengingat bagaimana karakter Aryo. Pria itu sepertinya terlatih untuk teliti dalam segala hal, perfeksionis, dan selalu memiliki cara untuk membuat Tiara menjadi gadis yang penurut.

Seperti yang sudah terjadi, keputusan mengenai tempat tinggal yang akan mereka tinggali permanen, merupakan keputusan dari Aryo. Mereka sepakat tinggal di rumah yang besar walaupun Aryo sudah membeli rumah berlantai dua yang lebih kecil di banding kawasan yang lebih mirip komplek perumahan ini. Tiara akhirnya setuju karena ia tidak mau ambil pusing lagi masalah tempat tinggal.

Tiba-tiba terlintas sebuah ide di pikiran Tiara karena ia merasa bosan. Sepertinya mengganggu Aryo saat ini akan sangat seru. Sejak tadi siang sampai sudah lewat senja, Aryo sibuk bekerja di ruang kerjanya dan mereka hanya bertemu saat makan siang. Sebenarnya, Tiara itu istri atau hanya pajangan Aryo saja di rumahnya ini, sih?

Tiara mengetuk pintu kayu berpelitur putih di hadapannya. Belum ada sahutan dari dalam, tapi gadis itu langsung membuka pintu dan masuk begitu saja. Tiara mendapati Aryo berada di balik meja yang diisi oleh tumpukan-tumpukan file dan kertas.

“Aryo ... gue bosen tau. Gue mau beli cemilan di minimarket, boleh nggak?” Tiara menampakkan puppy smile-nya.

“Jam kerja Erza sama Egha udah selesai hari ini,” ucap Aryo yang hanya sekilas melihat Tiara, kemudian pria itu kembali fokus pada pekerjaannya.

“Apa hubungannya sama jam kerja mereka?” Tiara nampak bingung.

“Mereka yang akan nganter lo.” Aryo mengambil ipad-nya dan kini fokusnya hanya tertuju pada benda elektronik itu, tidak menatap ke arah Tiara sama sekali.

“Gue bisa kok jalan sendiri,” ujar Tiara. Gini lho, ia berusaha menjadi istri yang baik dengan tidak merepotkan Aryo atas hal kecil yang ingin ia lakukan. Namun tidak juga sih, karena Tiara tidak bisa membuka sendiri pintu utama, apalagi kalau bukan akibat keegoisan pria dihadapannya ini yang menggunakan sensor identitasnya sebagai akses keluar dan masuk. Sepertinya Aryo membuat Tiara membutuhkan pria itu dan bergantung padanya. Tunggu, apa-apaan semua ini?!

“Lo udah tau apa jawaban gue. Ada banyak makanan dan cemilan di lemari dan kulkas, lo bisa ambil di sana,” ucap Aryo.

“Erza kayaknya bisa deh nemenin gue. Gue mau telfon dia,” Tiara mengambil ponsel dari saku cardigannya, lalu mendial sebuah nomor di sana.

Aryo masih tidak berkutik sampai seseorang di ujung sana mengangkat panggilan Tiara, dan gotcha! Aryo langsung meletakkan ipad-nya di meja dan memberikan atensi penuhnya pada Tiara.

“Halo ... Za? Boleh minta tolong nggak, temenin gue ke minimarket buat beli cemilan?”

Sambungan pun di akhiri dan Tiara menampakkan senyum semringahnya. “Erza mau tuh nemenin gue,” ucap Tiara dengan nada kemenangan seolah ia memang sudah menang dari Aryo.

“Lo boleh pergi sama Erza, tapi biarin gue periksa hp lo,” ucap Aryo pada akhirnya mengizinkan Tiara. Namun tetap saja pria itu punya syarat yang membuat Tiara tidak terima.

Tiara langsung melemparkan tatapan sebalnya. “Ada apa sih? Lo beneran jadiin istri lo tahanan dan pajangan di rumah ini, ya?”

“Oke, gue akan telfon Erza, biar dia lebih milih perintah bos utamanya,” ucap Aryo dengan wajah menyebalkannya itu menurut Tiara.

“Tapi kan gue juga Nyonya disini,” seru Tiara.

Aryo tidak mendengarkan ucapan Tiara dan sungguhan menelfon Erza, dengan hanya memencet salah satu tombol pada telfon wireless yang ada di atas mejanya.

Niat Tiara adalah mengerjai Aryo, namun yang terjadi justru dirinya yang harus kembali menuruti perintah pria itu. Dengan terpaksa, Tiara meletakkan ponselnya di meja. Aryo mengambil ponsel gadis itu dan menyimpannya di dalam laci.

***

Saat Tiara kembali, ia mendapati Aryo menunggunya living room lantai satu. Tiara menampakkan wajah malasnya. Kehidupannya sungguh seperti tahanan kalau seperti ini terus. Kalau saja Tiara tidak dalam misi menjinakkan Aryo, sudah ia muntahkan kalimat-kalimat sumpah serapah untuk pria itu.

Living Room

“Dimana hp gue?” tanya Tiara begitu dirinya dan Aryo sampai di lantai dua. Tiara menengadahkan tangannya di hadapan Aryo.

“Lo butuh buat apa?” Aryo memasukkan satu tangannya ke saku celananya.

“Buat komunikasi sama temen-temen gue lah,” balas Tiara.

“Sementara belum bisa lo pake. Mungkin besok.” Tiara mengekori Aryo sampai ke ruang kerja pria itu dan Aryo langsung mengusirnya dari sana.

“Balikin dulu hp gue. Lo nggak bisa buka-buka handphone gue, lo nggak inget perjanjian kita?”

“Lo mau tau kenapa gue minta hp lo?”

“Apalagi kalau bukan mau memonitor kehidupan gue.”

Tiara memanyunkan bibirnya dan kedua alisnya menyatu karena Aryo tidak menggubrisnya. Pria itu sepertinya siap untuk kembali pada pekerjaannya yang membuat Tiara rasanya ingin meledak sekarang juga.

“Apa ada hubungannya untuk menjaga image pernikahan? Erza said that you've planned all of this for taking care of me, even sebelum lo bawa gue kesini. Upsie ... how sweet my husband,” ujar Tiara yang pandangannya tidak lepas dari Aryo. Dengan sekejap, Tiara merubah ekspresinya dengan senyuman manis di bibirnya, lalu ia mengarahkan tangannya untuk memegang ujung kaus Aryo.

Tiara memperhatikan Aryo menjalarkan tangannya untuk menyentuh tangannya. Tiara sudah gembira dalam hati, namun detik setelahnya, Aryo malah menghempaskan tangannya dari sana.

“Lo bisa tidur di kamar lo, Tiara.”

Tiara melongo sambil menahan perasaan yang bergejolak di dalam dadanya. Astaga, ia malu sekali karena baru saja melakukan hal yang berorientasi pada memurahkan dirinya sendiri di hadapan pria yang ia benci ini.

“Nggak,” ujar Tiara tidak ingin menyerah dan kalah terlalu cepat.

“Nggak untuk apa?” sahut Aryo.

“Gue nggak akan tidur sebelum hp gue balik.”

“Gue nggak mau buang uang untuk seseorang yang nggak bisa menghargainya,” sindir Aryo.

“Emangnya lo buang uang untuk siapa? Untuk gue?”

“Semenjak kita nikah, jadi kewajiban gue untuk membiayai dan menafkahi lo. Itu termasuk uang kuliah dan kebutuhan lo yang lain. Jadi, cara paksaan bukan suatu kesalahan kalau gue harus melakukannya, ketika lo susah di atur,” papar Aryo panjang lebar.

“Oke. Kalau gitu, gue bisa kok tidur disini. Besok pagi, gue bakal bangun tepat waktu dan berangkat kuliah tanpa telat.” Tiara berjalan ke arah sofa yang ada di ruangan ini. Ia menepuk-nepuk permukaan sofa tersebut, lalu membaringkan tubuhnya di sana.

Aryo melirik sekilas ke arahnya, lalu menggelengkan kepala sambil berdecak heran pada kelakuan Tiara yang keras kepala dan tidak mau kalah darinya itu. Aryo terlihat tidak peduli dan memilih melanjutkan aktivitasnya yang sempat terganggu akibat ulah Tiara.

Di tempatnya, Tiara tidak sungguhan tidur. Gadis itu hanya pura-pura memejamkan matanya. Tiba-tiba terbesit di pikirannya, untuk apa Erza yang mengantarnya ke minimarket, padahal Aryo bisa melakukan itu untuknya kalau pria itu khawatir. Ohya, Tiara melupakan fakta bahwa Aryo mengkhawatirkannya karena Tiara adalah aset pribadi yang akan berpengaruh pada reputasi pria itu, kalau terjadi sesuatu padanya.

Sesekali Tiara membuka matanya untuk mengetahui apa yang sedang dilakukan Aryo di mejanya. Hanya hal biasa yang dilakukan pria itu, yakni membaca berkas-berkas, lalu menandatanganinya.

Tiara memberengut kesal dan membalikkan badannya agar tidak menghadap kearah Aryo. Ia memaksa matanya untuk terpejam dari pada harus bangun lalu berjalan secara sukarela ke kamarnya.

Berakting seolah dirinya berjalan saat tertidur, adalah pilihan yang tidak akan Tiara ambil. Bukannya menyelesaikan masalah yang ada, justru akan menambah adegan memalukan dirinya sendiri di hadapan Aryo.

Sekitar setengah jam berlalu, Tiara merasakan tubuhnya melayang di udara. Aroma cinnamon bercampur mint yang merupakan wangi khas Aryo itu, mengilhami indra penciuman Tiara dalam sekejap. Wangi itu rasanya sampai menelusup masuk ke dalam rongga dadanya, sehingga mengakibatkan jantungnya berdentum lebih kencang dari dentuman normal.

Sesampainya di kamar Tiara, Aryo membaringkan tubuhnya dengan perlahan di kasur. Kemudian terdengar bunyi pintu ditutup dan suara langkah kaki yang bergerak menjauh.

Tiara membuka matanya perlahan untuk memastikan Aryo sudah pergi dari kamarnya. Kemudian perempuan itu menghembuskan napas lega dan mengusapi dadanya yang tidak kunjung kembali bersikap dengan normal.

***

Saat Tiara terbangun di pagi hari, ia mendapati meja makan yang sudah terisi oleh menu sarapan. Tiara yang memiliki kebiasaan ‘harus sarapan’ dan perutnya terasa sangat keroncongan, langsung menarik kursi dan siap untuk mengisi energinya. Rasanya indah juga mendapatkan kehidupan seperti ini. Namun membayangkan para pengantin baru lain memiliki kehidupan pernikahan normal yang berbeda darinya, membuat Tiara tiba-tiba terpikirkan akan kehidupan pernikahannya.

Dirinya harus terjebak di tempat ini untuk menjadi istri seseorang yang akan membuka jalan bagi rencananya. Setelah tujuannya tercapai, ia akan bercerai. Tidak ada manusia yang menginginkan perceraian dalam pernikahannya, tapi Tiara tidak punya jalan lain.

“Egha yang bakal nganter lo kuliah,” ujar sebuah suara yang tidak lain dan tidak bukan adalah milik orang yang dua detik lalu baru saja berada di pikirannya.

Tiara melihat Aryo sudah berpenampilan rapi dengan kemeja formal dan celana panjangnya. Sial, tiba-tiba Tiara jadi teringat wangi parfum pria itu yang semalam sangat dekat dengan indra penciumannya. Aryo berjalan melewatinya dan terlihat keheranan, waktu Tiara tiba-tiba menjauhkan tubuhnya dengan sigap dari pria itu. Tiara tidak tahu pasti, gerakan spontan barusan terjadi karena apa. Kemudian gadis itu berusaha menelan salivanya yang kali ini terasa sulit untuk dilakukan.

“Gue bisa berangkat sendiri kok. Tapi makasih ya, udah kepikiran buat nganterin gue.” Tiara kembali fokus dengan sarapannya.

“Beberapa bulan lagi pemilihan jabatan presiden direktur yang baru. Lo tahu apa yang harus lo lakuin?” tanya Aryo.

“Apa?” Tiara sungguh tidak tahu apa yang harus dilakukannya sebagai istrinya Aryo.

Aryo pun mendaratkan ibu jari dan telunjuknya di kening Tiara.

“Aw!!” Tiara merintih kesakitan dan mengusapi keningnya yang jadi sasaran Aryo barusan.

“Gue beneran nggak tau. Gue harus ikut kampanye untuk support lo gitu, yaa?” Tiara menampakkan wajah bingungnya.

“Lo udah dikasih makan, tapi tetep aja masih lemot.” Aryo mengambil sarapan untuknya dan menarik kursi di hadapan Tiara.

Okey, I will do nothing.” Tiara mengedikkan bahunya, lalu ia memberikan senyum cerahnya pada Aryo. Kalau begitu, ia tidak akan punya pekerjaan selain kuliah dan tentunya menghabiskan uang Aryo yang menurutnya tidak akan habis sampai 10 keturunan sekalipun.

“Lo istri gue sekarang Tiara—”

“Emangnya siapa yang nanti akan gantiin posisi gue setelah kita cerai?”

We are not going to discuss about that. Karena lo istri gue dan saat ini banyak yang ingin menjatuhkan gue, untuk dapetin posisi presiden direktur itu. Secara otomatis, situasi ini bisa berdampak untuk lo juga.”

“Ohh ... kalau gue akan jadi trendsetter.”

“Lo pikir itu bagus?”

“Bagus dong. Nanti satu Indonesia bakal kenal gue sebagai istri calon presiden direktur Harapan Jaya. Itu akan jadi sesuatu yang keren,” ucap Tiara yang kemudian melanjutkan acara makannya dengan tenang dan bahagia.

Aryo lantas memijit pangkal hidungnya dan berdecak heran mendengar pemikiran gadis itu. Aryo sudah selesai dengan sarapannya dan ia beranjak dari meja makan.

“Lho? Apa yang salah sih?” Tiara mengekori Aryo sampai kedepan lift dan karena Tiara membuntutinya, Aryo pun menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Tiara.

“Nanti lo bisa tanyain sama Erza atau Egha soal ini. Gue harus berangkat sekarang.” Aryo mengecek Rolex di pergelangan tangan kirinya.

“Sebentar, gue butuh hp gue. Ada dimana?”

“Di laci meja kerja gue, lo bisa ambil di sana.”

“Oke. Lo hati-hati di jalan,” ucap Tiara canggung dan lidahnya terasa aneh ketika mengatakan itu.

Wait.” Aryo mengatakannya sambil menampakkan gestur mengingat sesuatu yang ia lupakan.

“Kenapa?”

“Siapa inisial R yang nelfon ke nomor lo sampe lima kali semalam?” Tiara terlihat sedikit terkejut namun ia berusaha mengontrol ekspresi di wajahnya.

“Bukan siapa-siapa,” jawab Tiara.

You know that person?

“Bukan orang asing, gue emang kenal,” Tiara memberikan senyumnya seolah tidak terjadi apapun.

Aryo pun mengangguk dan ia mengatakan pada Tiara kalau ia harus pergi. Tiara mengiyakan dan ia menatap punggung tegap Aryo yang mulai menjauh dari pandangannya. Tiara harus lebih berhati-hati dengan Aryo kalau tidak ingin rencananya dicurigai oleh pria itu.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara baru melakukan seperempat putaran mengitari area rumah, tapi sekujur tubuhnya sudah dibanjiri oleh keringat dan napasnya terdengar tidak beraturan. Matahari setia menemani kegiatan membakar kalori di tubuhnya pagi ini. Tiara memutuskan untuk menyudahi aktivitas jogging-nya dan kembali ke bangunan utama. Namun setelah melewati area taman, ia bertemu salah satu pria yang bekerja di sini.

“Gue boleh minta waktunya sebentar?” ucapan Tiara menahan aksi pria itu untuk berlalu setelah menyapanya dengan sopan.

“Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?”

“Panggil gue Tiara aja. Kayaknya kita seumuran deh,” Tiara tersenyum dan mengulurkan tangannya.

“Erza.” Pria itu membalas uluran tangan Tiara.

“Gue butuh bantuan lo. Tapi jangan bilang apapun ke Aryo, please?” Tiara tersenyum dengan menampakkan deretan gigi rapihnya.

“Bantuan apa Nyonya?”

“Sebenernya gue cuma mau bawa temen-temen gue ke tempat ini, untuk sesekali. Sayangnya Aryo nggak ngasih gue izin,” jelas Tiara.

Erza terlihat langsung mengerti dengan arah pembicaraan tersebut. “Saya mau bantu, tapi sayangnya permintaan Nyonya bertentangan dengan amanah yang diberikan Tuan Aryo pada saya.”

Tiara membelalakkan matanya. Mau taruh di mana mukanya setelah mendengar jawaban Erza itu. Tiara mencoba untuk tetap tenang, lalu ia menarik napas dan menghembuskannya lagi sebelum kembali berbicara.

“Oke ... tapi kan gue juga Nyonya lo. Bisa dong, lo coba pertimbangin permintaan gue?”

“Maaf, Nyonya. Tapi yang bisa mempertimbangkan permintaan Nyonya cuma Tuan, yaitu suami Nyonya sendiri.” Erza menjawabnya dengan seulas senyum santun di bibirnya.

Tiara memasang wajah tidak percaya dan menahan rasa kesal yang menjalar di dalam dirinya.

I can’t believe this. Why he's being a dictator,” Tiara menghembuskan napasnya frustasi dengan satu tangan yang ia letakkan di pinggangnya.

Tiara melihat Erza memegang walky talky dan berbicara dengan seseorang melalui benda itu. Erza hanya mengatakan bahwa ia mengerti dan pembicaraan tersebut berakhir.

“Nyonya, Tuan mengkhawatirkan Anda. Apa Tuan nggak tau kalau Nyonya lagi berkeliling tempat ini?”

“Lo serius? I mean he is not worry about me*. Dia cuma ingin ngekang gue, Za,” ucap Tiara.

“Saya nggak tahu pasti, Nyonya. Tapi Tuan udah siapin semuanya sebelum Nyonya datang ke sini, untuk menjamin keamanan Nyonya.”

***

Tiara menemui Aryo di fitness room yang berada di basement. Aryo sedang melakukan up and down sit up menggunakan alat bantu grip yang diletakkan di belakang kedua lengannya.

“Gimana jogging-nya?” tanya Aryo sambil menatap Tiara seolah tidak ada yang terjadi. Padahal kenyataannya, berkat pria itu Tiara merasa hidupnya telah dikekang.

“Gue kesini mau bicarain perjanjian itu sama lo. Sekarang juga,” ujar Tiara tanpa melepas sebuah senyum manis di bibir ranumnya.

“Lo nggak bisa ngekang gue, Aryo. Apalagi pakai alasan lo khawatir sama gue,” lanjutnya dengan nada bicara tenang seperti cara yang biasa Aryo gunakan untuk menghadapinya.

“Gue nggak ngelakuin itu hanya karena satu alasan, Tiara.”

“Terus, apa lagi alasannya?”

“Untuk melindungi status pernikahan kita.”

“Ohya? Buktiin kalau alasannya emang cuma itu.”

“Lo mau apa untuk pembuktian?” tanya Aryo.

“Dengan membuat peraturan dalam perjanjian. Kalau pernikahan kita ini cuma status, nggak lebih. Jadi, lo nggak bisa ngatur apa yang mau gue perbuat,” Tiara bergerak mendekat, lalu ia memosisikan tubuhnya berada di atas Aryo. Sehingga Aryo melakukan up and down sambil memangku tubuh Tiara dengan kedua pahanya.

“Kita punya privasi masing-masing dan nggak akan mencampuri urusan pribadi satu sama lain. Setelah satu tahun nikah, kita bisa bercerai untuk mengakhiri pernikahan ini,” Tiara terheran rupanya Aryo cukup kuat melakukan workout dengan menahan berat tubuhnya. Tiara mengalungkan lengannya di seputaran bahu Aryo untuk menjaga tubuhnya tetap seimbang dan aman.

“Lo udah siap dengerin syarat dari gue? Kalau lo setuju, gue akan menyepakati perjanjian kita,” ucap Aryo dengan hembusan napas yang sedikit lebih berat karena beban tubuh Tiara menambah jumlah energi yang harus ia keluarkan.

“Apa syaratnya?” tanya Tiara.

Kedua mata kecil Aryo memandang wajah Tiara yang hanya berjarak satu jengkal dari parasnya, “Gue ngasih lo kebebasan, selama lo bisa menjaga nama baik keluarga gue. Lo tetap istri gue, dan harus bisa bersikap layaknya seorang istri di hadapan publik, keluarga dan para petinggi perusahaan. Lo nggak bisa nginep di luar seperti sebelum menikah atau rencana apapun yang dapat mencurigakan status pernikahan kita.”

“Oke, gue pikir itu gampang. Jadi istri dihadapan publik aja, kan? Kalau kita lagi berdua gini, masing-masing bebas mau bersikap seperti apa. Syarat dari gue, lo nggak boleh membuat gue hamil apapun itu alasannya,” ujar Tiara.

We’re deal. Lo lagi ngelakuin kebebasan itu sekarang? It means, I free to do the same,” ucap Aryo sambil mengulas senyum tipis di bibirnya. Aryo melepas satu tangannya pada pegangan grip, lalu diarahkan untuk menarik lembut pinggang ramping Tiara.

What you’re gonna doing?” Tiara merasakan deru napas Aryo menyapu area pipinya. Mata Tiara tidak lepas sedetikpun dari Aryo, ia bersiaga atas apa yang akan dilakukan pria itu.

Hanya butuh dua detik bagi Aryo untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Tiara. Bibir Tiara langsung terasa lembab ketika Aryo menciumnya lembut tanpa melumat, melainkan hanya mengecupnya dengan halus. Lengan pria itu masih mendekap pinggangnya, hingga tidak sampai lima belas detik kemudian, ciuman mereka terlepas dan Tiara langsung bangun dari posisinya.

Tiara mencoba mengatur napasnya yang berkejaran, “Are you crazy?! You think this is a game that you can play anytime?” Tiara menatap Aryo dengan tatapan terkejut bercampur marahnya.

Sementara Aryo sedang mengatur napasnya yang lebih tidak beraturan dibanding dengan Tiara. Ibaratnya Aryo melakukan workout dengan beban yang ditambah tiga kali lipat.

Are you mad at me?” tanya Aryo dengan wajah tanpa dosanya itu.

“Lo selalu seenaknya ngelakuin apapun tanpa berpikir. Why do I married this guy?” Setelah mengucapkannya, Tiara pun berlalu meninggalkan Aryo di sana.

Aryo tidak mengerti, mengapa hanya ciuman bisa membuat istrinya semarah itu padanya?

Gym Room

Alat Gym

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara merutuki kecerobohannya yang tertidur saat di perjalanan. Ketika ia terbangun, tahu-tahu Aryo sudah membawanya ke tempat yang memiliki luas lebih dari tiga hektar dengan sistem keamanan yang super canggih dan ketat ini.

Saat mereka masuk ke bangunan utama, terdapat sensor khusus yang hanya bisa diakses dengan sensor visual Aryo Bimo Brodjohujodyo. Beberapa ruangan memiliki sensor untuk menyalakan lampu dan pendingin ruangan secara otomatis.

Dengan interior dan desain yang modern, di dalamnya terdapat elevator yang berfungsi menggantikan tangga untuk menuju ke lantai dua dan tiga. Rumah ini terdiri dari tiga lantai dan sebuah basement. Aryo mengatakan malam ini mereka akan menempati kamar di lantai dua.

“Gue nggak mau tinggal disini,” ucap Tiara saat mereka hanya berdua di dalam lift.

Sementara para asisten menaiki lift khusus barang yang berbeda dengan lift untuk tuan dan nyonya mereka.

“Lo nggak punya pilihan, Tiara,” ucap Aryo.

Ting!

Pintu lift terbuka dan mereka melangkah keluar. Tempat yang semula tanpa cahaya itu menjadi terang ketika mereka melewati batas sensor di lantai dua.

“Oke, kalau gitu. Ide bagus juga, tinggal di sini. Karena temen-temen gue bisa main ke sini kapan-kapan. Rumah ini sangat lebih dari cukup,” ucap Tiara dengan nada riangnya.

“Temen-temen mana yang lo maksud?” tanya Aryo.

“Temen kuliah gue dong,” jawab Tiara.

“Siapa yang ngizinin?”

Me. I just said that.”

Who own this place?”

“Lo pemiliknya. Nggak boleh emang gue ajak mereka kesini? Oke, kalau gitu, gue aja yang nyamperin mereka. Kita selalu nongkrong sampai malem, terus biasanya nginep, stay cation gitu.” Tiara tersenyum lebar, lalu kakinya melangkah untuk menjelajahi rumah ini. Rupanya di lantai dua terdapat balkon luas yang memberikan pemandangan ke seluruh tempat ini.

Lampu-lampu menyala menerangi sepanjang jalan dari pintu masuk, hingga dua paviliun yang terdapat di sisi kanan dan kiri.

Tiara menyadari bahwa Aryo menyusul langkahnya. Wajah pria itu masih sama, dengan eskpresi datar dan tenangnya yang nampak menyebalkan bagi Tiara.

Tiara menampakkan ekspresi beraninya. Padahal sebenarnya, ketika Aryo menatapnya seperti ini, ia sedang berusaha menjaga image-nya agar terlihat tidak terpengaruh dengan intimidasi pria itu. Beberapa kali ia telah mencoba untuk mengontrol emosi dan ekspresinya di hadapan Aryo.

C’mon, Tiara. You can do this, Tiara menyemangati dirinya sendiri dalam hati.

How beautiful this view. Oh my god, I love this lights, and this one too!” Tiara mencoba terlihat antusias. Ia memang menyukai tempat ini. Namun hanya berdua dengan Aryo di rumah bak istana tersebut, tidak pernah menjadi mimpi dalam hidupnya.

Condominium

This is such a good place,” ujar Tiara lagi sambil menikmati angin semilir yang menyapa lembut kulit wajahnya. Udaranya menjadi lumayan dingin karena Tiara hanya menggunakan blouse sutra tanpa lengan dan hotpants yang menjadi outfit favoritnya itu.

“Nggak akan ada perjanjian itu, kalau lo mau keinginan lo yang tadi gue turutin,” tutur Aryo sambil memasukkan kedua tangannya ke saku celana.

Tiara menatap Aryo dengan tatapan tidak terimanya. Dadanya bergemuruh dan emosi seketika menguasai dirinya. Tiara mengambil langkah untuk mendekati pria jangkung itu. “Gue perlu izin dari lo gitu?”

Aryo mengangguk. Tiara membalasnya dengan berdecih dan memutar bola matanya.

It’s you’re choice, Tiara. Kita nggak akan berdebat lagi soal ini. Ayo masuk, di sini dingin.” Aryo berbalik dan berjalan lebih dahulu meninggalkan Tiara di balkon. Tiara berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Ia memejamkan matanya sejenak, lalu segera menyusul Aryo dengan segala emosi yang sangat ingin ia luapkan pada pria itu.

***

Keduanya telah selesai membersihkan diri masing-masing. Aryo yang mandi setelahnya, keluar dari walk in closet dengan tampilan santai. Pria itu mengenakan kaus lengan pendek hitam dan sweat pants panjang berwarna abu-abu.

Selang waktu lima belas menit, Tiara melepas handuk di kepalanya dan mengeringkan rambutnya dengan hair dryer di walk in closet. Saat kembali, ia tidak mendapati Aryo di kamar. Tiara memutuskan untuk langsung tidur setelah melakukan kegiatan skincare malamnya.

Tiara baru akan terjun ke alam mimpinya, ketika merasakan pergerakan di atas kasur, yang seketika dapat menariknya kembali ke dunia nyata. Tercium semerbak aroma cinnamon yang manis bercampur mint segar di dekatnya.

“Ada yang mau gue bicarain sama lo, tapi kayaknya lo udah tidur,” ucap Aryo di dekat punggungnya, lalu Tiara merasakan pinggangnya di dekap ringan oleh lengan besar pria itu.

Tiara yang belum terpejam, lantas melepaskan tangan Aryo dari pinggangnya, lalu ia berbalik dan mereka pun berhadapan.

“Lo habis dari mana?” tanya Tiara pada Aryo.

I need to called someone to finish my work.”

“Apa gue nggak boleh denger, sampai lo harus nelfon di luar?”

“Kayaknya istri gue capek banget malam ini, jadi gue nggak mau ganggu dia,” ujar Aryo.

“Lo mau ngomong apa tadi? Ngomong aja,” Tiara menaruh satu tangannya di bawah wajahnya sambil menatap ke arah Aryo.

Oke, listen to me. Saat lo jadi istri gue, lo emang nggak bisa ngelakuin apa yang ingin lo lakukan. Lo nggak bisa sebebas dulu, Tiara. We are married without love and I don’t have a choice to marry you, and you too. Posisi lo saat ini adalah istri gue. Lo harus tau, apa yang boleh dan nggak boleh lo lakuin, untuk menjaga pernikahan dan nama baik keluarga gue,” jelas Aryo.

“Lo nyalahin gue atas pernikahan ini? Lo pikir, pernikahan ini nguntungin gue? Kalau lo mikir kayak gitu, lo salah.” Tiara sangat paham pembicaraan Aryo akan mengarah pada satu titik di mana mereka menikah hanya karena kesalahannya. “Gue nggak menginginkan pernikahan ini, you have to know that,” pungkas Tiara.

“Semuanya udah terjadi, Tiara. Kita bisa buat perjanjian dalam pernikahan ini. Kalau ada perjanjian, maka akan ada syarat dan ketentuannya. Kita bicarain lagi tentang ini besok,” jelas Aryo.

Alright. Lo bebas ngasih syarat, begitupun juga gue,” ucap Tiara lalu membalikkan badannya untuk memunggungi Aryo.

Tidak sampai sepuluh menit, bahu Tiara nampak naik turun dan napasnya mulai terdengar beraturan. Aryo menatap punggung kecil itu sebelum ia memutuskan untuk berbaring di samping Tiara.

Pikiran Aryo bercabang-cabang setelah membaca informasi yang ditemukan oleh Rama. Kepala bodyguard-nya itu mengirim sebuah email padanya dan mengatakan Aryo bahwa harus segera mengeceknya. Rama memaparkan bahwa ada sesuatu yang janggal setelah ia menyelidiki tentang Rudi Abimana. Aryo pun memutuskan menelfon Rama di luar kamar dan memintanya untuk menjelaskan lagi dengan lebih detail.

Semua informasi tentang Rudi, Bagas, dan Akmal, serta hubungan mereka dengan Tiara, membuatnya ingin mencari tahu lebih jauh tentang itu. Aryo merasa ada benang merah yang harus ia temukan.

Logikanya mengatakan bahwa tidak seharusnya ia mencari tahu lebih lanjut, karena akhirnya ia dan Tiara juga akan bercerai. Namun hatinya berkata lain. Aryo memutuskan meminta Rama dan timnya untuk melanjutkan pencariannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷