alyadara

Kaldera menatap pintu ruang UGD di hadapannya yang beberapa detik lalu baru saja ditutup. Sepanjang perjalanan sampai tiba di rumah sakit, Kaldera tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Pikirannya sungguh kalut, ia hanya memikirkan kondisi Zio.

Kafka yang melihat kondisi hancur Kaldera ikut merasa terpukul. Saat lelaki itu hendak menghampiri kekasih sahabatnya, Kaldera rupanya sudah lebih dulu mendongak menatapnya. Kilatan mata Kaldera memancarkan kekecewaan dan emosi yang begitu mendalam.

Detik berikutnya Kaldera mengalihkan tatapannya kepada Aksa yang berada tidak jauh darinya. Dengan langkah lebarnya, Kaldera menghampiri Aksa.

Kaldera yang tidak dapat berpikir jernih, menyalahkan Aksa atas apa yang terjadi dengan Zio. Aksa juga merasa bersalah, ia tidak menduga kejadiaannya berakhir seperti ini.

“Kal, maafin gue ... ” ucap Aksa dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Kaldera menatap Aksa dengan matanya yang kini memerah. “Kalau sampai Zio kenapa-napa, kata maaf lo nggak ada artinya Sa,” ucap Kaldera, air matanya meluncur lagi membasahi pipinya begitu saja.

Tidak lama berselang setelah Kaldera kembali ke kursinya, ia mendapati kedatangan dua orang yang penting di hidup Zio. Tante Indri dan mas Raegan, mama dan kakaknya Zio, mereka ada di sana.

Sosok pria jangkung berparas tegas itu berbicara pada salah satu perawat yang tadi membawa Zio ke dalam ruang UGD. Kaldera masih berdiri di tempatnya, ia menyaksikan tante Indri berderai air mata lalu beliau menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya.

Begitu perawat itu hadir di tengah-tengah mereka, Indri dan Raegan langsung berdiri dari posisi duduknya.

“Kondisi pasien sempat membaik beberapa saat lalu, tapi kini kondisinya kembali memburuk. Pasien meminta bertemu dua orang,” jelas perawat dengan jubah kesehatan berwarna hijau itu.

Setelah itu semua yang ada di sana saling melempar pandangan, berkat penjelasan yang diutarakan perawat itu. “Untuk saudara Kaldera dan Raegantara, silakan ikut saya ke dalam,” ujar perawat itu lagi sambil menatap memindai satu-persatu orang yang ada di sana.

***

Ini pertama kalinya Kaldera melihat sosok itu. Raegantara Rahagi Gumilar, seorang kakak yang selama ini kerap Zio ceritakan padanya. Kini di ruang UGD itu, Kaldera berada di sisi kanan ranjang Zio, sementara Raegan berada di sisi kirinya.

Zio memejamkan matanya sesaat, sebelum akhirnya membuka lagi. Pertama Zio menatap Kaldera, pandangannya nampak sendu, tapi lelaki itu mencoba untuk mengulaskan senyum tipisnya. “Kal,” ucap Zio, ia mengarahkan tangannya untuk mengusap sisa air mata di pipi Kaldera.

Berikutnya Zio mengalihkan tatapannya pada Raegan, dengan nada pelannya, Zio berujar, “Mas, gue punya satu permohonan sama lo. Kalau gue nggak bisa bertahan, gue minta tolong sama lo buat jagain Kaldera. Gue cuma percaya sama lo,” ucap Zio dengan susah payah, hembusan napasnya terdengar berat dan melemah.

Raegan tidak merespon ucapan adiknya itu. Baginya kalimat Zio hanyalah sebuah lelucon. Adiknya bisa bertahan, Raegan percaya itu.

Detik berikutnya Zio meraih tangan Kaldera, ia meminta Raegan menggenggam tangan kekasihnya. “Mas, dia berarti banget buat gue. Gue titip dia sama lo ya.”

Atas kalimat Zio itu, Kaldera menatapnya tidak percaya. Kaldera menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin mempercayai itu. Zio bisa bertahan, tidak mungkin Zio akan pergi meninggalkannya.

“Zio, kamu ngomong apa. Kamu bisa bertahan, Zio,” ucap Kaldera.

Seolah-olah ucapan Kaldera hanya angin lalu, Zio melanjutkan perkataannya. Ia mengatakan bahwa ini adalah wasiat terakhirnya sebelum ia pergi. Zio mempunyai firasat bahwa ia tidak akan bisa bertahan. Rasanya terlalu sakit, ia ingin tetap di sini, tapi seolah takdir tidak mengizinkannya.

“Mas Raegan, gue ngasih lo dua pilihan.”

“Lo nggak perlu wasiat itu, Zio. Lo bisa bertahan. Gue panggil dokter dulu—” ucapan Raegan terhenti berkat Zio yang menahan lengannya.

Zio mengatakan ia ingin menjadikan Kaldera bagian dari keluarganya. Zio tidak dapat memikirkan apa pun saat itu, meski keluarganya rumit, entah kenapa ia yakin Raegan bisa menjaga Kaldera dengan baik. Wasiat itu berisi dua pilihan. Pilihan yang pertama adalah mengangkat Kaldera menjadi anak, yang mana artinya Kaldera akan menjadi adik bagi Raegan dan anak kedua bagi Indri. Sementara pilihan yang kedua, menjadikan Kaldera menantu keluarga Gumilar. Untuk pilihan kedua itu, Zio meminta Raegan mencoba mencintai Kaldera dan menikahi kekasih adik kandungnya sendiri.

***

Kaldera menyapukan pandangannya ke penjuru rumah besar bernuansa putih ini. Di ruang tamu itu, terdapat sebuah figura besar. Di sana Kaldera dapat melihat potret sebuah keluarga kecil yang nampak begitu bahagia. Keluarga yang lengkap, sebuah keinginan yang terasa sederhana, tapi Zio tidak lagi memiliki itu.

Di rumah besar ini, pantas saja Zio merasa kesepian. Kaldera tidak dapat membayangkan bagaimana rasanya. Saat ini pasti Zio lebih merasa kesepian. Sama seperti dirinya tanpa lelaki itu, Kaldera tidak mempedulikan orang-orang yang berlalu lalang.

Ketika mereka mengucapkan belasungkawa, Kaldera hanya menoleh dan menatap dengan pandangan yang kosong. Kedua mata Kaldera nampak sembap.

Saat satu persatu pelayat mulai bergerak meninggalkan rumah duka untuk pergi ke pemakaman, Kaldera masih duduk di salah satu kursi di halaman rumah itu. Sebuah mobil ambulans baru saja membawa kekasih hatinya pergi.

“Kal,” ucap seseorang yang suaranya terasa fameliar. Atas panggilan itu, Kaldera menoleh ke arahnya. Kaldera lantas mendapati Risa, salah satu mantan pacar Zio yang Kaldera kenal dengan baik.

Seketika tangis Kaldera pecah lagi. Ia tidak dapat membendungnya dan saat itu juga Risa meraih Kaldera ke dalam pelukannya. Risa berusaha memberi kekuatan pada Kaldera, meskipun ia tahu mungkin itu tidak terlalu berarti besar untuk gadis itu.

“Kal, Zio beruntung banget punya lo, pernah kenal sama lo. Lo selamanya akan selalu di hati dia,” tutur Risa sembari mengusapkan tangannya di punggung Kaldera.

***

Di sore yang sedikit mendung itu, Kaldera berjalan bersisian dengan Indri. Mama dari kekasihnya itu memeluk lengannya, mereka sama-sama coba menguatkan meskipun tidak tahu usaha itu akan berhasil sampai seberapa jauh.

Setelah melewati lapangan golf yang luas dan hijau, mereka sampai di area pemakaman. Sebenarnya pemakaman ini memiliki dua jalan untuk sampai ke sana, tapi Indri mengatakan pada Kaldera bahwa ia ingin melewati lapangan golf. Indri ingin mempersiapkan hatinya dan menenangkan pikirannya, sebelum mengantar Zio pergi untuk selama-lamanya.

Raegan berjalan di belakang Indri dan Kaldera. Dari luar mungkin ia terlihat sebagai sosok yang paling kuat menghadapi kepergian adiknya. Namun tidak ada yang tahu bahwa Raegan mati-matian menahan kehancurannya. Kalau ia hancur, maka mamanya akan bersandar pada siapa lagi?

Pemakaman pun berjalan sebagaimana mestinya. Tanah coklat itu perlahan-lahan mulai mengubur sosok yang menjadi cinta bagi semua yang mengantar kepergiannya sore ini. Semua yang ada hanya akan menjadi kenangan di dalam hati. Begitu tanah telah sempurna tertutup dan sebuah nisan marmer hitam dipasang, Raegan mendapati kehadiran papanya di sana.

Kaldera yang berada di samping Raegan, melihat lelaki itu melangkah menuju seorang pria berusia 50 tahunan. Kaldera menebak bahwa orang yang Raegan hampiri itu adalah papanya Zio.

“Kaldera, kita tabur bunganya bareng ya Sayang,” ucap Indri yang seketika mengalihkan perhatian Kaldera.

Kaldera mengangguk pelan. Kemudian ia mengambil taburan bunga di keranjang dan menaburkannya di atas pusara Zio, diikuti oleh Indri yang melakukan hal yang sama dengannya.

Kaldera mengusap sekilas batu nisan itu. Ia berusaha menahan air matanya, tapi air bening itu mengalir lagi untuk yang kesekian kalinya. Beberapa saat kemudian, setelah memanjatkan doa, para pelayat satu persatu mulai berhamburan untuk pulang. Langit di sana tampak menggelap, Kaldera mendongak menatap awan yang sudah berubah menghitam itu.

“Indri, maaf saya datangnya telat,” ucap sebuah suara yang lantas menginterupsi Indri dan Kaldera.

Indri menoleh pada sosok itu, ia bangkit dari posisi berlututnya di samping makam Zio.

“Makasih kamu sudah datang,” Indri hanya mengucapkan itu sembari tersenyum getir.

Kaldera menyaksikan itu dengan mata kepalanya. Saat Satrio, papanya Zio, mengucapkan kata maafnya pada Raegan dan Indri, Raegan terang-terangan bersikap dingin dan seperti enggan menanggapi papanya.

Akhirnya untuk yang pertama kali, Kaldera bertemu seluruh anggota keluarga Zio. Papanya Zio ada di sana, beliau datang bersama beberapa ajudannya. Seperti yang Zio sering ceritakan padanya, papanya adalah pejabat negara yang cukup sibuk dengan pekerjaannya. Zio selalu mencoba mengerti kala papanya tidak dapat hadir di hari pentingnya, saat olimpiade olahraga basketnya. Atau bahkan saat hari kelulusan SMP nya.

Dari sekian banyak tempat di dunia ini, Kaldera mempertanyakan, mengapa harus di sini orang-orang yang Zio cintai akhirnya berkumpul? Mengapa mereka berkumpul atas alasan yang sama sekali tidak pernah diharapkan akan terjadi.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

2 bulan yang lalu, Aksa menerima tawaran pekerjaan sebagai seorang freelancer di bidang IT. Ia dikenalkan pada seseorang yang akan menggunakan jasanya senior yang merupakan alumni sekolahnya.

Aksa menerima pekerjaan tersebut tanpa memikirkannya lebih jauh. Aksa membutuhkan uang, bisnis keluarganya sedang mengalami masa sulit, dan sebagai anak lelaki pertama ia ingin bisa membantu ekonomi keluarganya itu.

Malam ini di sebuah kafe tempat biasa Aksa berkumpul dengan teman-temannya, ketidakhadirannya di sana segera mengundang tanya dari para temannya. Termasuk Redanzio, salah satu sahabat Aksa yang cukup dekat dengannya.

“Zio, lo tau si Aksa kemana?” tanya Aldi kepada Zio.

“Dia nggak ngasih tau gue kenapa nggak bisa dateng malem ini,” jawab Zio apa adanya.

Gilang, salah satu temannya menghampiri Zio dan duduk di sampingnya. “Kemarin gue nggak sengaja denger dia ngomong di telfon. Katanya malam ini dia mau dateng ke suatu tempat untuk urusan kerjaannya.”

“Tuh anak belakangan ini aneh banget deh. Dia sama sekali nggak cerita soal kerjaan freelancenya, nggak biasanya dia kayak gitu,” celetuk Karel sembari tangannya menyalakan pemantik untuk rokoknya.

Setelah percakapan itu, ponsel Zio yang berdering membuatnya berpamitan untuk mengangkat panggilan itu sejenak. Zio menjauh dari teman-temannya dan rupanya itu adalah telfon dari Kafka, sepupunya Aksa.

Zio mendengarkan perkataan Kafka dengan seksama. Kedua netranya seketika membola. Rupanya sikap aneh Aksa yang tidak ingin terbuka pada teman-temannya memiliki sebuah alasan.

“Aksa nge-share location ke gue. Gue nggak tau maksudnya apa, tapi firasat gue nggak enak. Gue mau ke sana.”

“Kafka,” ucap Zio yang menahan Kafka menutup telfonnya.

“Kaf, share lokasinya ke gue juga,” sambung Zio.

“Jangan bilang lo mau ke sana juga? Aksa kayaknya belum cerita ke lo soal pekerjaannya. Zio, tapi ini bahaya, atasannya Aksa ternyata bukan orang sembarangan. Kalau lo mau ke sana, lo nggak bisa bawa banyak orang.”

***

Malam ini Kaldera tidak bisa tidur setelah mendapat pesan dari Zio. Kekasihnya itu mengatakan kalau ia berniat pergi ke suatu tempat untuk membantu sahabatnya, yakni Aksa.

Zio hanya mengirimkan sebuah kalimat dan meyakinkan Kaldera kalau semuanya akan baik-baik saja. Namun entah kenapa Kaldera tidak dapat berpikiran jernih saat ini.

Kaldera khawatir dan sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Ini jam 10 malam dan Kaldera tidak tahu apa yang akan Zio lakukan di luar sana.

Tanpa berpikir panjang, Kaldera mengambil cardigan-nya, handphone, serta dompetnya. Ponsel Zio tidak aktif sehingga Kaldera tidak bisa menghubunginya untu mengetahui di mana lelaki itu sekarang.

Kaldera masih memiliki satu harapan yang dapat membuatnya mengetahui lokasi tujuan Zio. Kafka, sepupu Aksa itu pasti tahu apa yang sebenarnya tengah terjadi. Kafka berada di dalam situasi yang sulit. Ia adalah orang yang telah membuat Zio berkeinginan datang membantu Aksa. Meskipun Kafka tahu Zio tidak akan suka jika Kaldera terlibat, tapi di satu sisi Kafka juga tidak tega mendengar permohonan Kaldera kepadanya.

***

Kaldera berusaha memantapkan hatinya ketika melangkah memasuki bangunan tua itu. Ia kembali mengecek apakah benar ini lokasinya, berharap ia salah tujuan. Namun rupanya tidak. Lokasi ini sesuai dnegan yang diberitahu oleh Kafka.

Bangunan yang dulunya adalah ruko-ruko bertingkat yang menjual berbagai busana di tengah kota ini, telah lama menjadi tempat yang diasingkan dan tidak lagi terawat.

Kaldera melangkah semakin dalam, ia menelusuri bangunan itu di mulai dari lantai satu hingga saat ini kakinya sudah sampai di lantai 3. Cahaya yang minim di tempat itu, membuat Kaldera kesulitan menemukan keberadaan Zio. Kaldera ingin meminta bantuan, tapi ia tidak tahu kepada siapa harus memintanya. Satu-satunya yang mungkin dapat membantunya adalah keluarga Zio. Namun bukannya memperbaiki keadaan, sepertinya itu malah akan menambah masalah dengan membuat keluarga Zio khawatir.

Saat Kaldera sampai di lantai 4 bangunan itu, beberapa meter dari tempatnya kini, ia dapat melihat sosok yang dikenalnya. Di sana ada Zio dan Aksa. Namun yang membuatnya terkejut adalah kehadiran seorang pria yang mengenakan pakaian serba hitam. Wajahnya tidak begitu jelas dari jangkauan mata Kaldera, tapi yang jelas pria itu membawa sebuah senjata tajam di satu tangannya.

Kaldera berusaha tidak menimbulkan suara, meskipun ia terkejut bukan main. Kaldera ingin sekali berlari ke sana dan menarik Zio dari bahaya yang ada di depan matanya itu, tapi Kaldera tahu ia tidak dapat melakukannya. Di tengah pikiran kalutnya itu, Kaldera memutuskan untuk bersembunyi di antara etalase-etalase dan manekin pakaian yang cukup untuk menutupi keberadaannya di sana.

Dari tempat persembunyiannya, Kaldera dapat melihat kalau Aksa tengah berbicara dengan pria yang membawa senjata itu. Entah apa yang mereka bicarakan, sepertinya itu berhubungan dengan pekerjaan freelance yang dilakukan oleh Aksa.

Begitu Kaldera melihat pria itu melepaskan pelindung kulit dari pisau tajam di tangannya, entah apa yang ada di pikirannya, Kaldera mengaktifkan kamera di ponselnya. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kaldera memotret saat pria itu hampir saja mengarahkan senjatanya pada Aksa. Namun yang membuat Kaldera hampir saja menjatuhkan ponselnya, adalah ketika Zio berusaha mencegah pria itu dan berakhir justru ia yang tertusuk, benda tajam itu tertancap tepat di bagian perutnya. Kaldera menyaksikan itu semua dan ingin lari ke sana, tapi Kaldera tahu ia tidak bisa melakukannya saat ini.

Kaldera merasakan kedua matanya memanas, dadanya sesak tidak karuan, ia jelas-jelas menyaksikan di depan matanya seseorang yang dicintainya telah disakiti.

Segera setelah Zio jatuh ke lantai sambil memegangi area bawah perutnya, pria asing itu pergi dari sana. Usai kepergian orang itu, Kaldera tidak menunda lagi untuk keluar dari persembunyiannya.

Begitu melihat Kaldera di sana, Zio dan Aksa nampak terkejut. Kaldera menahan air matanya untuk meluncur, ia luluh lantak di samping Zio, kedua lututnya berusaha menumpu tubuhnya yang rasanya lunglai.

“Zio ... ” hanya itu yang terucap dari bibir Kaldera.

Kaldera mendekat pada Zio, membiarkan Zio memeluk tubuhnya untuk mencari kekuatan di sana. Kaldera tidak dapat mengucapkan apapun, tiba-tiba semua rasa takut menyerangnya.

“Kal ... makasih ya. Makasih kamu pernah hadir di hidup aku. Aku sayang kamu Kal,” Zio mengurai pelukannya dari tubuh Kaldera. Kedua netra coklat gelap Zio memandang Kaldera dengan tatapan penuh sayang.

“Kal, you are everything that I'm dreamed of. Walau nanti tanpa aku, janji kamu selalu bahagia. Yaa?”

Kata-kata Zio itu terus terngiang di benak Kaldera. Namun sampai saat Kafa datang bersama ambulans yang tadi sempat Kaldera hubungi, Kaldera belum bisa membuat janji yang Zio pinta padanya itu.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

KKaldera menoleh ke samping tempat duduknya yang langsung disambut sebuah senyum oleh Redanzio. Hari ini Zio mengajak Kaldera untuk bertemu dengan keluarganya, Zio ingin mengenalkan Kaldera sebagai kekasihnya. Ini rencana pertemuan yang kedua, setelah rencana pertama waktu itu tidak terlaksana sebagaimana mestinya.

“Kal, sebentar aku telfon mama dulu ya. Harusnya sih udah sampe, mungkin mama kejebak macet,” ucap Zio. Kaldera pun mempersilakan lelaki itu untuk menghubungi mamanya.

Zio menjauh dari Kaldera beberapa langkah. Kaldera tetap di tempatnya, tapi matanya tidak bisa lepas menatap punggung tegap Zio. Ada pancaran kekhwatiran dari tatapan itu. Jika kejadian gagak bertemu itu terulang lagi hari ini, Kaldera tidak mempersalahkannya sama sekali. Ini bukan tentang dirinya, tapi tentang Zio. Kaldera khawatir Zio kecewa lagi dan jadi merasa bersalah terhadapnya.

Begitu Zio kembali ke meja mereka, lelaki itu menorehkan senyum tipisnya. “Kal, barusan mama ngabarin kalau beliau mendadak nggak bisa dateng. Aku juga udah hubungin kakakku, tapi dia nggak angkat telfonnya. Kayaknya mereka nggak bisa dateng hari ini,” jelas Zio.

Dari tatapannya, Zio terlihat kecewa. “Kal, maaf ya. Aku udah buat kamu nunggu, tapi malah nggak jadi ngenalin kamu ke keluargaku,” ucap Zio.

It's oke, Zio. Aku yakin, akan ada waktu yang tepat untuk aku ketemu keluarga kamu. Masih banyak waktu, kan?” ujar Kaldera sembari mengulaskan senyum hangatnya. Kaldera mengatakan pada Zio bahwa ini bukan masalah yang besar dan Zio tidak perlu merasa bersalah padanya. Toh jika tidak sekarang, Kaldera yakin akan ada saatnya ia dapat mengenal keluarga Zio.

Kaldera lantas meraih satu tangan Zio, lalu ia menggenggamnya ringan. Zio seketika menoleh, menatap tangan besarnya yang digenggam oleh tangan kecil Kaldera.

Begitu Kaldera tersenyum padanya seperti saat ini, rasanya ada seberkas cahaya yang menerangi dunia Zio yang gelap. Zio dapat merasa lebih baik dengan keberadaan Kaldera di sisinya dan mengetahui ia memiliki seseorang untuk menjadi tempat pulang.

***

Kaldera dan Zio sudah menjalin hubungan selama satu tahun. Mereka adalah dua remaja yang dipertemukan dan kemudian saling jatuh cinta secara bertahap.

Kaldera mengisi hidup Zio yang terasa gelap dan hampa, terlebih sejak orang tua Zio bercerai. Sama seperti yang Kaldera lakukan, Zio juga mewarnai hari-hari Kaldera. Lelaki itu hadir seperti pelangi di hidupnya. Zio ingin sekali mengenalkan Kaldera kepada keluarganya.

Kaldera tidak ingin Zio mengenal keluarganya, ia mengeahui betul sifat dan karakter tantenya itu. Latar belakang keluarga Zio yang berkecukupan, berbeda dengan Kaldera, membuat tantenya kerap kali penasaran akan latar belakang kekasihnya itu dan berpikiran yang macam-macam.

Pikiran Kaldera seketika terhenti begitu ninja sport hitam Zio berhenti tepat di depan gang menuju rumahnya. Kaldera segera turun dari motor Zio, ia melepas helmnya dan memberikannya pada Zio.

“Makasih yaa untuk malam ini. Aku kenyang terus kalau jalan sama kamu,” ujar Kaldera diiringi cengiran kecilnya.

Zio nampak mengulaskan senyumnya, lalu tangannya terangkat untuk merapikan sedikit rambut Kaldera yang berantakan.

“Lain kali boleh aku anter kamu sampe depan rumah?” tanya Zio. Lelaki itu masih di sana, belum berniat menyalakan mesin motornya dan pergi begitu saja.

“Sampe sini aja nggak papa, Zio. Biar kamunya nggak kejauhan,” ujar Kaldera.

“Emang kenapa nggak boleh? Aku kan pacar kamu. Aku harus mastiin kamu aman sampe masuk rumah.”

“Iya, boleh. Tapi kapan-kapan aja, oke?”

Zio akhirnya menganggukinya. Lelaki itu lantas menatap Kaldera sesaat, kebiasaan yang ia lakukan sebelum mereka berpisah setelah bertemu.

“Kamu hati-hati di jalan, bawa motornya jangan ngebut lho,” peringat Kaldera.

“Iya, Kal. Yaudah aku pulang dulu ya,” ucap Zio.

Kaldera mengangguk sekilas. “Kalau kamu udah sampe rumah kabarin aku.”

Zio tersenyum, lalu mengacungkan dua ibu jarinya sekaligus. Begitu Zio mebuka kaca helm full facenya dan siap menjalankan motornya, Kaldera melambaikan tangannya sebelum lelaki itu benar-benar tidak terlihat lagi dari pandangannya.

Kaldera masih di sana saat Zio sudah pergi. Sejujurnya Kalder hanya tidak ingin Zio sampai bertemu tantenya. Ini hari Sabtu dan tantenya libur bekerja, jadi kemungkinan beliau ada di rumah. Entah sampai kapan Kaldera akan melakukannya. Ia tidak ingin sampai tantenya menyakiti Zio, entah dengan perkataannya ceplas ceplosnya atau apapun itu.

***

Sepi dan kosong. Itulah yang beberapa tahun ini Zio dapatkan ketika pulang ke rumahnya.

Zio mencoba baik-baik saja, tapi nyatanya ia tidak bisa terus membohongi dirinya sendiri. Zio merasa kesepian. Mengingat rumah ini yang dulunya terasa hangat, berbeda dengan situasi yang sekarang, merubah Zio menjadi pribadi yang dingin. Namun kepada beberapa sahabatnya ia membagi kesedihannya, menjadikan mereka tempat berbagi. Berbeda lagi kalau lagi sama Kaldera. Selain dapat mencurahkan perasaannya, Zio dapat menjadi pribadi yang lebih ceria, humoris, penyayang, dan sosok yang peduli.

Ketika sampai di teras rumahnya. Zio melepas sepatu converse-nya dan menaruhnya di rak sepatu.

Orang tuanya berpisah sejak Zio memasuki SMP. Mamanya yang sempat hancur, memilih lebih sering bekerja untuk melampiaskan kesedihannya. Harapan terakhir Zio adalah kakaknya. Zio mempunyai kakak laki-laki. Namun kakaknya juga sama saja. Kakaknya yang perfeksionis lebih mementingkan karirnya untuk dapat mencukupi kebutuhan keluarga. Zio mencoba mengerti bahwa saat ini kewajiban besar itu ada di pundak kakaknya, tapi semuanya yang telah berubah perlahan juga menghancurkan pribadi seorang Redanzio.

Klise.

Zio adalah anak broken home. Masa-masa emas remajanya berbeda dengan kebanyakan anak lain. Ia tidak memiliki rumah dalam artian yang sesungguhnya. Tempat tinggal yang berwujud ini hanyalah bentuk, tapi Zio tidak mengenal apa arti tempat pulang yang sebenarnya.

Kehadiran Zio di ruang tamu lantas disambut oleh mbak Yuni. Beliau adalah wanita yang sudah merawatnya dari kakaknya kecil sampai sekarang. Sekalipun sudah diberikan kesempatan untuk pensiun, mbak Yuni ini tidak mau meninggalkan keluarga yang sudah di anggapnya keluarga sendiri. Terlebih lagi, beliau tidak tega kalau harus meninggalkan Zio sendiri jika rumah sedang kosong seperti ini.

“Mas Zio, Mbakk udah siapin makan malam ya. Tadi ibu ngabarin, katanya malem ini nggak bisa pulang, harus dines ke luar kota. Kalau mas Raegan, beliau ada rapat, belum tau bisa pulang jam berapa.”

Setelah mengucapkannya, rasanya mbak Yuni rasanya tidak tega dan ikut merasa bersedih melihat tuan mudanya itu. Zio adalah anak yang baik, hanya saja keadaan yang memaksanya menjadi seperti ini.

“Mas Zio jangan ngerokok terus ya, mending makan nasi Mas. Nanti kalau Mas Zio ngerokok lagi Mbok bilangin mbak Kaldera lho Mas.”

Beberapa kali memang Zio cerita tentang Kaldera kepada Mbok Yuni, seperti tentang Kaldera yang kerap meminta Zio mengurangi rokoknya. Dari sikap Kaldera terhadap Zio itu, mbak Yuni pun senang juga melihat ada sosok yang begitu sayang dan perhatian terhadap tuan mudanya itu.

“Iya Mbak, Zio kurangin kok rokoknya.

Zio pun memilih naik ke lantai atas di mana kamarnya berada. Ia mengatakan pada mbak Yuni bahwa beliau bisa pulang dan tidak masalah kalau Zio harus sendiri di rumah.

Zio akan mencoba untuk tidur. Mungkin dengan beristirahat, bisa membuatnya merasa lebih baik. Zio pun berharap ia dapat melupakan soal keluarganya yang memang sudah berbeda, memang sudah tidak bsia kembali utuh dan bersama-sama.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Ini adalah hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang tidak menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan. Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat pergi dari tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat.

Kaldera membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke tasnya dan menutup lokernya, suara ramai yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya memindai mencari seseorang.

Begitu Kaldera menemukan sosok itu, hanya sekitar 5 detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi Zio dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Ketika Zio melempar bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka untuk menonton seorang kapten basket sekolah melakukan aksi kerennya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point itu, semua yang tengah menyaksikannya bersorak untuk memberi apreasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka heran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahu apa yang diucapkan Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan pada Kaldera.

***

“Kamu bete ya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

Kaldera menganggu pelan. “Nilai ulangan jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera hanya melihat aksi Zio yang melepas hoodie putihnya. Kemudian Zio menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat. Rooftop adalah tempat favorit keduanya. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, tempat ini merupakan tempat yang berarti untuk keduanya.

Angin berhembus cukup kencang, jadi Zio menyerahkan hoodienya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat, lalu berikutnya ia tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran dalam dirinya.

Kaldera masih menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberikan atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas saling nyontek, tapi mereka dapet nilai lebih bagus.”

“Berarti kamu nyontek juga?”

“Nyontek lah. Habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio.”

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera mengikuti arah pandang Zio yang beralih darinya kepada gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera berusaha nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera langsung mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunia mereka yang jelas terlihat sangat berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah i dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, i love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantungnya serasa ingin lompat bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera malah membalas perkataannya dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya.

Zio tertawa seolah ia sangat bahagia menyaksikan Kaldera.Eekspresi gadis itu dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih di dalam hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe..” Jawab Kaldera akhirnya sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu cantik sekali, Zio selalu bahagia melihatnya.

“Zio,” celetuk Kaldera tiba-tiba.

“Iya Kal?”

Can I ... follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan yang barusan diajukan oleh Kaldera.

“I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

“Why you want to follow me?” tanya Zio, lelaki itu menatap Kaldera dengan kedua alisnya yang menyatu.

Kaldera menahan senyum lebarnya. Ketika ia sudah dapat mengatur hatinya yang berbunyi dag dig dug, Kaldera kemduian berujar lagi, “Cause my mom and dad told me that I should follow my dream.”

***

Flashback 1 ago

Kaldera selalu suka rooftop. Baginya puncak atap sebuah bangunan selalu bisa membuatnya merasa lebih damai. Seolah-oleh beban yang dimilikinya dibawa terbang bersama angin saat ia berada disana. Seperti biasa, pada jam istirahat Kaldera sudah membawa kotak bekalnya dan berjalan menuju rooftop sekolahnya, tepatnya di ujung koridor lantai tiga dekat kelas sepuluh IPA 3.

Sesampainya Kaldera di sana, ia langsung duduk di atas sebuah tutup besi yang menutup mesin air. Kaldera pun membuka kotak bekalnya dan mulai menikmati makan siangnya itu.

Beberapa menit berselang, Kaldera merasakan bahwa ia tidak sendiri disini. Ia mendengar suara derap kaki melangkah dari arah belakangnya.

“Uhuk! uhukk!” Kaldera menutup mulutnya, napasnya tersengal-sengal dan matanya melotot dengan lucu. Kulit wajah Kaldera nampak memerah. Kaldera punya penyakit asma dan ia tidakk bisa menghirup asap rokok. Tunggu ... berarti ada asap rokok di sini?

Kaldera segera menoleh ke belakangnya. Rupanya benar saja, tidak jauh dari posisinya kini, ada seorang laki-laki yang tengah mencumbu sebatang rokok sambil bersandar pada pembatas besi di sana.

Astaga.

Kaldera segera meletakkan kotak bekalnya dan berjalan menghampiri lelaki itu.

“Kamu nggak tau peraturan sekolah ya? Kamu nggak ngekokok di area sekolah, ini malah ngerokok. Aku lagi makan, aku asma dan nggak bisa kena asap rokok—” ucapan Kaldera terhenti kala tangan lelaki itu membekap mulutnya.

“Lephasihhn..!” Kaldera berujar tidak jelas saat tangan cowok itu masih setia menutup mulutnya.

“Lo siapa ngelarang-larang gue?” ketus lelaki itu. Ia melepaskan Kaldera, hingga kini Kaldera menatap sebal ke arahnya.

“Aku terganggu sama rokok kamu. Aku punya penyakit asma dan aku mau makan di sini, jadi tolong jangan ngerkokok di sini,” ucap Kaldera.

“Lo pikir ini sekolah punya lo?” Lelaki itu berucap dengan nada arogannya, lalu mendorong bahu Kaldra cukup kencang seolah mengusir Kaldera dari hadapannya.

“Kamu laki-laki beneran bukan sih? Beraninya kok sama cewek. Tampilan kamu doang sok keren, tapi kelakuan kamu seperti bukan didikan guru di sekolah ini,” cerocos Kaldera.

“Lo aja yang pergi dari sini,” cetus lelaki itu sambil tidak menatap ke arah Kaldera.

“Nggak mau. Aku duluan di sini kok. Kamu aja yang pergi,” balas Kaldera dengan berani.

Kaldera tetap pada posisinya, ia menatap lelaki itu lekat, menandakan bahwa ia tidak terintimidasi dan mengalah begitu saja. Kaldera harus mendongak karena rupanya ia hanya sebatas dada cowok itu. Kalau tingginya sejajar dengan lelaki itu, sudah ia pastikan ia akan meninju wajah laki-laki tidak sopan dan arogan ini.

Lelaki itu menarik lengannya, membuat Kaldera mendekat sehingga iadapat mencium aroma rokok yang menguar dari seragam putih lelaki itu. Kemeja putihnya sedikit acak-acakan, matanya sayu ada lingkaran hitam di bawahnya. Kaldera mulai ciut dan pias, pasalnya ia tidak bisa kabur dan tenaganya dibandingkan cowok itu tentu tidak ada apa-apanya.

“Nama lo?” ujar lelaki itu di dekat Kaldera.

“Kaldera,” jawab Kaldera pelan. Apakah cowok ini akan menyakitinya karena telah menantangnya. Tiba-tiba Kaldera kepikrian hal-hal buruk yang bisa saja terjadi padanya.

“Gue akan buang rokok gue, tapi dengan satu syarat.” Cowok di hadapannya membuat angka satu dengan jari telunjuknya.

“Emangnya lo siapa ngajuin syarat ke gue seenaknya kayak gitu?” Kaldera susah tidak peduli dengan tata bicaranya. Kaldera dapat merasakan deru napas lelaki itu yang makin mendekatkan diri padanya.

“Apa lo punya sesuatu untuk di makan?” suara serak lelaki itu terdengar sedikit parau. Kaldera sempat merasa simpati selama 2 detik, tapi setelahnya tawa Kaldera menyembur begitu saja.

Kaldera tertawa sambil memegangi perutnya. Namun itu tidak berlangsung lama karena cowok itu menarik tangannya dan mencengkramnya cukup kuat.

“Kalo lo masih ketawa, gue cium lo,” ancam lelaki itu.

“Apa lo bilang? Berani-beraninya lo mau—apa?!” Kaldera pun brutal, ia memukuli lengan lelaki itu yang mencengkram lengannya, pundak, kemudian menendang tulang keringnya dengan satu tendangan maut. Lelaki itu tersungkur beberapa centi, tapi tenaganya seolah cepat sekali pulih sehingga berhasil menangkap Kaldera jauh sebelum ia kabur.

Kaldera merasa tubuhnya melayang dan buminya seketika terbalik. Kemudia tubuhnya terasa sedikit di banting dan pantatnya lumayan sakit.

Apa dia gila? Lelaki yang dihindari Kaldera rupanya sungguhan ada di dunia ini dan kini Kaldera berhadapan dengannya. Lelaki itu menggendong Kaldera layaknya ia adalah karung beras, lalu menghempasnya ke besi yang sebelumnya Kaldera tempati.

“Jangan sentuh makanan gue. Itu makanan terakhir gue!” seru Kaldera begitu matanya melihat lelaki itu mengambil kotak bekalnya.

“Makanan ini sekarang milik gue,” ujar lelaki itu dengan santai.

Rasanya Kaldera ingin menangis. Lelaki yang tidak dikenalnya itu melahap habis makanannya seperti belum melihat nasi 2 hari. Sekarang Kaldera tidak tahu apakah ia sanggup menahan rasa laparnya hingga nanti sore.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

Ini adalah hari Senin. Berbeda dengan mayoritas remaja seusianya yang tidak menyukai hari pertama masuk sekolah setelah libur akhir pekan. Kaldera justru menyukainya. Sekolah adalah salah satu alasannya untuk keluar dari rumah.

Saat pergi dari tempat tinggalnya itu, Kaldera bisa kembali tersenyum. Terlebih saat mengingat ia akan bertemu seseorang yang juga selalu menunggu pertemuan mereka di sekolah, Kaldera semakin bersemangat.

Kaldera membuka lokernya dan mengambil beberapa buku mata pelajaran yang dibutuhkan untuk kelas hari ini. Hari ini tidak ada matematika, tapi ada ulangan bahasa Jepang dan itu jam pertama. Kaldera memang tidak bersahabat dengan huruf-huruf hiragana dan katakana Jepang, tapi setidaknya mereka lebih baik ketimbang rumus-rumus matematika.

Setelah Kaldera memasukkan buku ke tasnya dan menutup lokernya, suara ramai yang terdengar dari arah lapangan membuatnya menghentikan langkah. Kaldera menatap ke arah lapangan utama sekolahnya dan matanya memindai mencari seseorang.

Begitu Kaldera menemukan sosok itu, hanya sekitar 5 detik, Kaldera segera memutuskan untuk pergi dari sana. Namun aksinya tersebut tertahan kala mendapati Redanzio menatap balik ke arahnya.

Kaldera terkejut di tempatnya, ia ingin pergi saat itu juga, tapi Zio dari bawah sana Zio mengisyaratkan padanya untuk tetap di tempatnya. Kaldera tidak dapat menebak apa yang akan lelaki itu lakukan. Zio terlihat mengambil bola basket dan akan melakukan lemparan three point.

Kaldera memperhatikan bagaimana Zio melakukannya. Ketika Zio melempar bolanya, beberapa siswi yang tengah melewati lantai satu menghentikan langkah mereka untuk menonton seorang kapten basket sekolah melakukan aksi kerennya itu.

Tepat ketika Zio berhasil mencetak lemparan three point itu, semua yang tengah menyaksikannya bersorak untuk memberi apreasi atas aksi tersebut. Namun ada yang membuat mereka heran dan akhirnya mengikuti arah pandang Zio.

Di koridor lantai dua itu, Zio hanya menatap sosok gadis cantik yang merupakan kekasihnya. Dari sana mereka tahu, Zio melakukan three point itu untuk Kaldera. Sebelum Kaldera menghilang dari sana, Zio mengatakan sesuatu padanya tanpa suara. Meskipun begitu, Kaldera dapat mengetahu apa yang diucapkan Zio.

'I did it for you'

Itu yang Zio katakan pada Kaldera.

***

“Kamu bete ya?” tanya Zio sembari memperhatikan raut wajah Kaldera.

Kaldera menganggu pelan. “Nilai ulangan jepang aku 75. Pas banget KKM,” ucap Kaldera diiringi helaan napas panjangnya.

Selanjutnya Kaldera hanya melihat aksi Zio yang melepas hoodie putihnya. Kemudian Zio menyerahkan benda itu ke pangkuannya, meminta Kaldera untuk memakainya.

Mereka kini tengah berada di rooftop gedung sekolah. Kaldera dan Zio biasa menghabiskan waktu bersama ketika jam istirahat. Rooftop adalah tempat favorit keduanya. Selain dapat menyaksikan pemandangan kota yang indah dari atas, tempat ini merupakan tempat yang berarti untuk keduanya.

Angin berhembus cukup kencang, jadi Zio menyerahkan hoodienya untuk dipakai oleh Kaldera.

“Kal, boleh aku rangkul kamu?” tanya Zio. Kaldera nampak berpikir sesaat, lalu berikutnya ia tersenyum kecil dan mengangguk. Kaldera selalu kagum akan sikap Zio yang menghormatinya. Ketika bersama Zio, Kaldera pun merasa aman dan tidak sama sekali ada kekhawatiran dalam dirinya.

Kaldera masih menatap lengan Zio yang kini tengah merangkul ringan pundaknya. Kaldera merasakan jantungnya berdegup kencang di dalam rongga dadanya. Debaran itu masih sama, bahkan setelah 1 tahun mereka bersama.

“Kal, nilai 75 bukannya udah bagus ya?” celetuk Zio yang langsung membuat Kaldera memberikan atensinya pada lelaki di sampingnya.

“Yaa lumayan sih. Tapi aku nggak terima, Zio. Orang sekelas saling nyontek, tapi mereka dapet nilai lebih bagus.”

“Berarti kamu nyontek juga?”

“Nyontek lah. Habis susah banget ulangannya. Aku udah belajar, tapi tetep susah, Zio.”

Zio lantas menyunggingkan senyum kecilnya. “Itu teguran namanya, Kal. Kamu kan udah belajar, coba lebih percaya diri sama kemampuan kamu. Aku tau kamu bisa, Kal. Kamu pasti lebih bangga kalau 75 kamu dapetin dari hasil sendiri.”

Kaldera memikirkan kalimat Zio dengan sungguh-sungguh. Kaldera mengikuti arah pandang Zio yang beralih darinya kepada gedung-gedung kota yang nampak kecil dari posisi mereka saat ini.

“Zio, ulangan berikutnya Kaldera berusaha nggak nyontek lagi. Kaldera bakal belajar lebih giat dan percaya diri,” ucap Kaldera kemudian.

“Nah, ini Kaldera yang aku kenal. Kal, kamu itu hebat. Aku akan selalu support kamu. Inget ya, kamu nggak sendirian, kamu punya aku,” tutur Zio. Otomatis senyum Kaldera langsung mengembang. Kaldera tidak pernah menyangka ia akan begitu mencintai sosok lelaki di hadapannya ini. Dunia mereka yang jelas terlihat sangat berbeda, latar belakang keduanya yang kontras, membuat Kaldera terkadang berpikir apakah i dan Zio bisa terus bersama nantinya?

“Kal, i love you,” ucap Zio sangat jelas dan Kaldera tentu mendengarnya. Kalimat Zio itu sukses membuat jantungnya serasa ingin lompat bebas dari rooftop ini.

“Kal, kok nggak dijawab?” tanya Zio, nadanya terdengar manja.

Kaldera malah membalas perkataannya dengan ekspresi loading dan sedikit kebingungannya.

Zio tertawa seolah ia sangat bahagia menyaksikan Kaldera.Eekspresi gadis itu dapat membuat Zio menghilangkan semua perasaan sedih di dalam hidupnya.

“Kaldera sayang Zio juga, hehe..” Jawab Kaldera akhirnya sambil menyunggingkan senyum kelincinya. Senyum itu cantik sekali, Zio selalu bahagia melihatnya.

“Zio,” celetuk Kaldera tiba-tiba.

“Iya Kal?”

Can i follow you?” tanya Kaldera.

Follow me where?” Zio nampak bingung akan pertanyaan Kaldera itu.

“I will follow you anywhere,” jawab Kaldera.

“Why you want to follow me?”

Kaldera menahan senyum lebarnya. Ketika ia sudah dapat mengatur hatinya yang dag dig dug, Kaldera berujar lagi, “Cause my mom and my dad told me that I should follow my dream.”

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Kaldera!!” panggilan itu memasuki indera pendengarannya Kaldera. Seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung masih nampak memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya.

“Kaldera!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat gangguan itu, Kaldera akhirnya membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya. Wajah itu, wajah yang mirip dengannya. Kaldera terkadang menyalahkan takdir, tapi beginilah adanya. Ia tidak memiliki siapa pun, selain tantenya ini.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia merawat kamu sejak orang tua kamu meninggal ya.”

Kaldera terdiam sesaat. Ia menatap bungkusan itu, tapi ketika tangannya akan meraih itu dari Laura, tantenya itu malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera beranjak dari posisinya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa bicara kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura barusan tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir Tante sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu menikah setelah lulus SMA.”

Atas kalimat Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar kasar, ia membuang pandangannya sesaat dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap Laura. Tidak lupa, ia mengambil paksa bungkusan di tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak ingin merepotkan Tante Laura. Kaldera akan mencri uang sendiri untuk kuliah.”

Laura menatap Kaldera dengan tatapan tajamnya dan seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang begitu lucu.

“Kamu bisa terus bermimpi, Kaldera. Silakan. Setidaknya kalau kamu ngga bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante keluarkan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji pegawai part time kamu di restoran cepat saji itu?” Laura memperhatikan Kaldera dengan tatapan menilai, dari atas sampai bawah, lalu Laura mengulaskan senyum smirknya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, ternyata kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Kaldera maish berdiri di sana sambil memegang hadiah berbungkus merah muda di tangannya. Pintu di tutup dengan cukup kencang, hingga terdengar bunyi bantingan yang keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 💜

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

“Kaldera!!” panggilan itu memasuki indera pendengarannya Kaldera. Seorang gadis remaja dengan rambut panjang sepunggung masih nampak memejamkan matanya sembari memeluk gulingnya.

“Kaldera!” lagi, panggilan itu terdengar menyentaknya. Berkat gangguan itu, Kaldera akhirnya membuka mata. Kaldera lantas mendapati sosok perempuan berusia 40 tahunan di hadapannya. Wajah itu, wajah yang mirip dengannya. Kaldera terkadang menyalahkan takdir, tapi beginilah adanya. Ia tidak memiliki siapa pun, selain tantenya ini.

“Tante, ini masih pagi. Kenapa bangunin aku?” tanya Kaldera dengan wajah kantuknya.

“Kamu yakin masih mau tidur? Kalau gitu, paket ini buat Tante aja, gimana?” ujar Laura sembari menunjukkan sebuah bungkusan kecil yang ada di tangannya.

Netra Kaldera langsung terarah pada bungkusan berwarna merah muda itu. “Itu paket dari siapa, Tante?” tanya Kaldera.

“Menurut kamu? Dari siapa lagi kalau bukan dari pacar kamu. Kaldera, ternyata Tante nggak sia-sia merawat kamu sejak orang tua kamu meninggal ya.”

Kaldera terdiam sesaat. Ia menatap bungkusan itu, tapi ketika tangannya akan meraih itu dari Laura, tantenya itu malah menjauhkannya dari jangkauan Kaldera.

Kaldera beranjak dari posisinya. Kini Kaldera dan Laura tengah berhadapan, tantenya menatap Kaldera dengan tatapan memicing.

“Maksud Tante apa bicara kayak gitu?” tanya Kaldera, ia meminta penjelasan atas kalimat Laura barusan tentang tidak sia-sia merawatnya sejak orang tuanya tiada.

“Kamu pikir Tante sukarelawan yang akan merawat kamu tanpa imbalan? Semua yang ada di dunia ini nggak gratis, Kaldera. Kamu punya pacar anak orang kaya, lebih baik kamu menikah setelah lulus SMA.”

Atas kalimat Laura itu, kedua belah bibir Kaldera sukses terbuka. Kaldera menghembuskan napasnya yang terdengar kasar, ia membuang pandangannya sesaat dari Laura.

Beberapa detik kemudian, Kaldera kembali menatap Laura. Tidak lupa, ia mengambil paksa bungkusan di tangan Laura. “Tante tenang aja. Kaldera nggak ingin merepotkan Tante Laura. Kaldera akan mencri uang sendiri untuk kuliah.”

Laura menatap Kaldera dengan tatapan tajamnya dan seolah-olah kalimat Kaldera tentang kuliah adalah lelucon yang begitu lucu.

“Kamu bisa terus bermimpi, Kaldera. Silakan. Setidaknya kalau kamu ngga bisa mencapai impian kamu, kamu harus menikah dengan lelaki kaya. Kalau enggak, Tante nggak yakin kamu bisa mengganti semua uang yang Tante keluarkan untuk merawat kamu. Kamu mau mengandalkan gaji pegawai part time kamu di restoran cepat saji itu?” Laura memperhatikan Kaldera dengan tatapan menilai, dari atas sampai bawah, lalu Laura mengulaskan senyum smirknya sambil berujar, “Padahal kamu cantik, Kaldera. Tapi sayang, ternyata kamu terlalu naif.”

Setelah mengatakan rentetan kalimat itu, Laura beranjak pergi dari hadapan Kaldera. Kaldera maish berdiri di sana sambil memegang hadiah berbungkus merah muda di tangannya. Pintu di tutup dengan cukup kencang, hingga terdengar bunyi bantingan yang keras di sana.

***

Terima kasih telah membaca The Expert Keeper 🔮

Silakan beri dukungan untuk The Expert Keeper supaya bisa lebih baik kedepannya. Support dari kalian sangat berarti untuk author dan tulisannya 🖤

Semoga kamu enjoy dengan ceritanya, sampai bertemu di part selanjutnya yaa~ 🥂

5 tahun kemudian

Siang ini sebuah supermarket di salah satu pusat perbelanjaan nampak cukup ramai oleh pengunjung. Mayoritas pengunjung di sana adalah para wanita muda sampai dengan yang berusia lebih tua. Ada yang berbelanja seorang diri, ada yang ditemani suami serta anak mereka, dan berbagai jenis pengunjung lainnya.

Di deretan produk dairy, nampak seorang perempuan berusia 36 tahun tengah melihat-lihat. Matanya memindai mencari sebuah merek dari kulkas yang menyajikan susu dengan berbagai rasa dalam kotak kemasan berukuran 1 liter. Begitu matanya menangkap sebuah kotak coklat yang fameliar, tangannya segera bergerak untuk mengambil barang tersebut.

Namun aksinya terhenti begitu saja kala tangannya bersinggungan dengan tangan seorang wanita. Begitu ia menoleh untuk melihat wanita itu, pandangannya seketika hanya tertuju pada sosok yang kini ada di hadapannya. Wanita paruh baya itu juga tengah menatapnya, matanya menyorotkan sebuah penyesalan yang begitu dalam.

“Mama,” ucap Karin akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

Karin tidak dapat menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang ulu hatinya. Rasanya seperti mimpi, entah harus bagaimana. Entah asa senang atau sedih yang kini harus dirasakannya. Karin tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya.

***

Di sebuah kafe bergaya minimalis dengan nuansa warna earthtone, Karin dan wanita yang ia panggil mama beberapa saat lalu, tengah duduk berhadapan di salah satu meja. Dua buah minuman tersaji di depan mereka, tapi belum ada yang berniat untuk menyentuh gelas itu.

Karin dan mamanya dipertemukan kembali setelah 21 tahun. Waktu yang cukup lama itu, rupanya begitu menorehkan luka di hati Karin dan Diana mengetahui itu. Dari tatapan Karin, Diana dapat merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.

“Karin, maafkan Mama,” ucap Diana membuka pembicaraan.

Mereka ke sini memang untuk menyelesaikan semua yang terjadi. Beberapa menit yang lalu, Diana mengatakan bahwa ia meminta kesediaan Karin untuk berbicara dengannya. Hanya sebentar dan Diana sungguh meminta Karin bersedia untuk melakukannya.

“Maaf, Mama gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu dan Kavin. Mama tau ini udah terlambat dan mungkin kamu nggak bisa memaafkan Mama. Kesalahan Mama begitu besar, Nak,” ujar Diana.

Karin hanya di sana mendengarkan Diana sampai selesai. Mamanya terus mengucapkan kata maaf padanya. Bertahun-tahun yang lalu, Karin berpikir bahwa kata maaf dari seseorang yang menyakitinya mungkin dapat mengobati lukanya di hatinya. Namun pada kenyataannya, pemikirannya itu salah. Kini Karin justru merasa begitu terluka melihat Diana yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Bagaimana pun mamanya, beliau tetaplah orang yang telah melahirkan Karin dan adiknya ke dunia ini. Karin sepantasnya menghormati dan berbakti kepada mamanya.

“Boleh Karin tanya sesuatu?” tanya Karin setelah keterdiamannya itu. Diana pun mengangguk.

Karin nampak berdeham sekali, lalu ia meneguk minumannya lebih dulu, setelah itu Karin bertanya. “Waktu itu, apa Mama punya alasan memutuskan pergi dari rumah?”

Mendapat pertanyaan itu dari Karin, Diana pun nampak sedikit terkejut. Anaknya rupanya benar-benar ingin tahu alasannya pergi.

“Karin, Mama tau kalau keputusan Mama pegi dari rumah, meninggalkan kamu dan Kavin, bukanlah keputusan yang bijak. Tapi saat itu Mama nggak punya pilihan lain, Nak.”

Akhirnya terkuaklah alasan mamanya meninggalkan Karin dan Kavin. Setelah kepergian papanya, mamanya didiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius. Diana menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Diana memutuskan meninggalkan Karin dan Kavin pada saat itu, ia tidak ingin membebani anak-anaknya dan pada akhirnya akan membuat keduanya hidup susah. Diana ingin kedua anaknya hidup cukup dan tidak terbebani. Maka dari itu, ia memutuskan pergi setelah sempat menghubungi Vanessa. Diana meminta tolong pada mantan istri almarhum suaminya untuk membantunya. Saat itu, Diana tidak punya alternatif lain untuk meminta bantuan. Diana juga tidak memberi tahu Vanessa mengenai penyakitnya. Diana akhirnya berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja, guna membiayai operasi pengangkatan tumor di rahimnya.

Diana mengakui bahwa dirinya telah berfsikap egois, maka dari itu ia lebih memilih pergi selamanya dan tidak pernah berniat menemui Karin dan Kavin. Ia tidak ingin kembali, rasanya dirinya tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Meskipun Diana sangat ingin menemui dua anaknya setelah bertahun-tahun, tapi menurutnya itu adalah keputusan yang terbaik. Vanessa kerap kali mengabarinya soal kehidupan Karin dan Kavin, dan itu sudah cukup bagi Diana saat mengetahui anak-anaknya sudah hidup bahagia sekarang.

Karin kini telah mengatahui semua itu. Karin berusaha memahami dan menerima penjelasan itu. Rasanya Karin masih sulit menerima keputusan Diana di masa lalu. Namun di benaknya juga terpikir bahwa yang dilakukan mamanya semata karena memikirkan ia dan Kavin, mamanya hanya memikirkan kebahagian anak-anaknya.

Karin terlihat buru-buru menyeka air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya. Karin menghela napasnya dan menghembuskannya panjang, sebelum akhirnya mengangkat panggilan telfon di ponselnya.

“Halo. Iya, ini aku lagi di kafe Beverly. Kamu sama anak-anak mau nyusul? Oh yaudah, oke aku tunggu di sini ya.”

Karin mengakhiri sambungan telfonnya. Karin kembali menatap Diana, lalu meraih tangan Diana di atas meja, meggenggamnya hangat.

“Mah, Mama mau ya tinggal sama Karin? Mama jangan tinggal sendiri lagi,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.

“Sebagai anak Mama, izinin Karin buat berbakti sama Mama, ya? Karin mau merawat Mama. Bulan depan, Kavin akan menikah Mah. Kavin pasti pengen banget Mama hadir di hari pentingnya,” sambung Karin.

Diana belum memberi jawabannya, air matanya hanya mengucur begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Detik berikutnya, situasi tersebut terinterupsi oleh kedatangan 4 orang anak-anak dan 1 orang pria dewasa. Satu anak perempuan di sana memanggil Karin dengan sebutan mama. Diana nampak sedikit terkejut, tapi ia tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.

Kemudian Karin berujar pada anak perempuan itu, memintanya dengan nada lembut, “Nak, salam dulu sama Oma.”

Akhirnya satu persatu anak-anak itu bergantian menyalami tangannya. Diana hanya bisa menatap itu terjadi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.

Anak-anak karin masih nampak bingung, tapi lelaki dewasa yang Diana duga adalah ayah dari anak-anak Karin, terlihat sudah mengerti apa yang terjadi.

“Mah, kenalin ini anak-anak Karin. Svarga, River, dan Taura. Yang perempuan paling kecil, ini Anjani.”

Setelah mengenalkan anak-anaknya, Karin gantian mengenalkan Aryan sebagai suaminya, sebagai papanya anak-anak. Aryan pun menundukkan badannya dan meraih tangan Diana untuk memberikan salam santunnya.

Di tengah-tengah situasi itu, Anjani tiba-tiba berceletuk, “Mommy, aku punya tiga oma? Kenapa bisa gitu? Aku kan udah punya Oma Vanessa sama Oma Tiara.”

Sontak mereka yang di sana saling melempar pandangan, mereka bingung memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak berusia 4 tahun.

“Sayang, Oma Diana juga Omanya Anjani. Oma Diana adalah mamanya mama, jadi Anjani bisa panggil Oma juga, yaa?” ujar Karin akhirnya berusaha memberi penjelasan untuk anaknya.

“Mama punya dua mama? Anjani sama Mas-Mas cuma punya satu Mama. Kenapa?” tanya Anjani lagi.

Akibat pertanyaan polos Anjani itu, akhirnya Aryan berinisiatif untuk mengajak anak-anaknya guna mengalihkan perhatian mereka. Di luar kafé itu, Aryan pun meminta Svarga untuk menjaga adik-adiknya sementara. Svarga yang sudah beranjak remaja dan berusia 15 tahun itu dapat dipercaya untuk menjaga para adiknya. Aryan mengatakan pada anak-anaknya bahawa ia akan cepat kembali. Aryan mengatakan bahwa ada urusan orang tua yang harus diselesaikan dan tugas anak-anak adalah menunggu papa dan mamanya dengan bersikap baik.

Aryan pun kembali ke dalam kafe, ia menemui Karin dan mama mertuanya, Diana. Karin akhirnya menjelaskan pada Aryan situasi yang tengah terjadi. Mengalirlah cerita tersebut dan istrinya juga menyampaikan padanya tentang niatnya mengajak Diana tinggal di rumah mereka.

Aryan dengan cepat menyetujui itu. Justru itu sangat baik, pikirnya. Diana dapat tinggal bersama mereka sehingga mama mertuanya tidak perlu tinggal sendiri lagi di hari tuanya.

Diana pun terharu akan perlakuan Karin dan Aryan yang begitu menerimanya. Luka yang pernah ia berikan pada Karin, rupanya tidak membuat rasa sayang seorang anak pada ibunya menghilang. Diana begitu bahagia dan merasa cukup, melihat akhirnya anaknya kini memiliki keluarga yang utuh dan begitu hangat. Karin memiliki anak-anak yang begitu lucu dan pintar. Selain itu, ada seorang pria yang terlihat begitu mencintai putrinya dan tahu cara memperlakukannya.

“Mah, besok Aryan sama Karin akan bantu urusan pindahannya. Mulai besok, Mama udah bisa tinggal sama kita,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyumnya.

Diana lantas menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Aryan, Karin, terima kasih ya, Nak.”

Diana mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada Aryan. Lelaki itu adalah sosok yang menjadi idaman bagi putrinya, sosok suami yang penuh kasih sayang, dan tentunya papa yang sangat hebat untuk anak-anaknya.

Lebih dari semua itu, Diana dapat melihat bahwa Aryan bukan hanya sekedar mencintai putrinya. Lelaki itu mencintai semua yang menyangkut putrinya, mengutamakan apa yang penting bagi Karin. Lelaki itu menempatkan Karin sebagai prioritas utamanya, salah satu bentuknya adalah cara lelaki itu memperlakukan Diana sebagai mama mertuanya. Perlakuan Aryan kepada Diana, sudah selayaknya perlakuannya terhadap orang tua kandungnya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun yang lalu. Karin mengatakan bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki sebuah komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan pudar karena terkikis oleh sebuah jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebut yang kini sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin. Karin menatap sebuah pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar. Nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapan Karin dan Svarga.

Detik itu juga, Aryan terlihat terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Seketika mata Aryan berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

Satu tangan Aryan yang bebas lantas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya. “Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ujar aryan.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuat perempuan itu terlihat mungil saat berada di dekapan lelakinya. Karin lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, dan itu rasanya sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mama ngajarin apa sih selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya dan mengajak Svarga bertosan ala lelaki.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga saat melihat mata Karin nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama kok nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy banget udah bisa ketemu Papa, soalnya Mama kangen Papa setiap hari,” celotek Svarga.

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Waktu Mama kangen Papa, pasti Mama nangis. Terus Mama bilang, Svarga, Mama kangen sama Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya kata Mama Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan kembali menarik Karin mendekat saat perempuan itu berusaha menjauh. Aryan lalu menyematkan sebuah kecupan halus di kening Karin. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” tanya Aryan pada Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin pun mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan bisa berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin sebelumnya memang telah mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan sebuah lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah yang biasa bernilai besar tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan tersebut, rasanya dapat begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, mereka sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi. Aryan merindukan bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat Aryan hirup ketika ia memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ujar Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling bertukar pandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan dijadikan oleh Karinsebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya begitu lekat.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall Papanya.”

Aryan lantas mengangguk seraya mengulaskan sebuah senyum. Aryan lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Anak-anak kita nanti?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati Karin menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimatnya seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” tanya Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga rasanya Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan Karin di prioritas utama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang ingin Karin capai di dalam hidupnya, dan Aryan akan mendukung Karin untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri, ia ingin mereka punya anak lagi, bahkan dalam waktu dekat. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi, aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan Karin.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan jawabannya tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan haru bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin lantas balas tatapan Aryan, ia memberikan afeksinya yang besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatap Karin dengan tatapan penuh memuja dan mendamba seperti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Kemudian seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna,kamu hanya perlu melakukan yang terbaik, memberikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Aryan teringat saat empat tahun yang lalu, saat di mana dirinya bertemu dengan Karin. Aryan dan Karin hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya mereka sama-sama berusaha menghancurkan tembok tersebut.

Hingga pernikahan keduanya yang sudah menginjak usia 5 tahun, Karin tetaplah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Namun Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit tersebut dengan cinta yang begitu tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisinya dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa sesuatu sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan, menyadarkan keterdiaman Aryan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Iya Sayang?” tanya Aryan seraya menampakkan senyum canggungnya.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya di satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin menyatu, detik berikutnya ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh diperlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see. Uhm ... I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question,” ucap Karin.

Alright, alright.” Kemudian Aryan berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, ia kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected. So please, have a dance with me.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum manisnya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini hampir mencapai akhir tahun, di mana di negara Australia sedang mengalami musim dingin. Salju turun cukup deras hingga memenuhi jalanana, dan rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca telah menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa, matanya lantas nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Ada rindu yang terasa menyiksa, ada hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Ketika Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin untuk mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, ia menghentikan ciumannya, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak,” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin lantas mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya dapat lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan ingin memastikan.

Karin segera menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan langsung bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan-kecupan kecil di pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, itu tidak akan cukup di satu area. Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin dan menjelajahi hampir semua bagian leher wanitanya. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepalanya, jemari lentik Karin menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Sweety,” ujar Aryan dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.

Karin lantas mengarahkan telunjuknya dan berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “Oke then, it's oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?” tanya Aryan.

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terdengar manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk asmara. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria yang biasanya bisa lebih cepat.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan, Karin menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, ketika merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan dua kali usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan ketika lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana.

Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan penuh cinta di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, ketika sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergerak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan bahwa dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat menggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka, kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya, Sayang. Janji deh nggak kayak gitu lagi. Okey?”

Karin lantas mengangguk sekali. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap torso Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak untuk merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi di atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin ingin tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi sebelum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” tanya Aryan.

Karin lantas bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. Gimana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadiahnya dulu, nanti baru aku lakuin,” ucap Karin.

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat, menggeliat mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya. Mereka pun menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan kedua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Di sela-sela kegiatan tersebut, Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Saat Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sadar bahwa ia sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan segera mengangguk, lalu netanya menjejalajahi paras cantik Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu Aryan ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan cukup tahu tentang cara menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari sejak hari tersebut, maka itulah yang dikatakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa babak lagi? We can do it until dawn if you want it too,” ujar Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” tanya Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan selalu punya jawaban di kepalanya. Kemudian sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas oriental itu berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuat suami kamu, Sayang. You want to prove it?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

5 tahun kemudian

Siang ini sebuah supermarket di salah satu pusat perbelanjaan nampak cukup ramai oleh pengunjung. Mayoritas pengunjung di sana adalah para wanita muda sampai dengan yang berusia lebih tua. Ada yang berbelanja seorang diri, ada yang ditemani suami serta anak mereka, dan berbagai jenis pengunjung lainnya.

Di deretan produk dairy, nampak seorang perempuan berusia 36 tahun tengah melihat-lihat. Matanya memindai mencari sebuah merek dari kulkas yang menyajikan susu dengan berbagai rasa dalam kotak kemasan berukuran 1 liter. Begitu matanya menangkap sebuah kotak coklat yang fameliar, tangannya segera bergerak untuk mengambil barang tersebut.

Namun aksinya terhenti begitu saja kala tangannya bersinggungan dengan tangan seorang wanita. Begitu ia menoleh untuk melihat wanita itu, pandangannya seketika hanya tertuju pada sosok yang kini ada di hadapannya. Wanita paruh baya itu juga tengah menatapnya, matanya menyorotkan sebuah penyesalan yang begitu dalam.

“Mama,” ucap Karin akhirnya setelah keduanya terdiam cukup lama.

Karin tidak dapat menahan rasa sesak yang tiba-tiba saja menyerang ulu hatinya. Rasanya seperti mimpi, entah harus bagaimana. Entah asa senang atau sedih yang kini harus dirasakannya. Karin tidak tahu bagaimana harus mendeskripsikannya.

***

Di sebuah kafe bergaya minimalis dengan nuansa warna earthtone, Karin dan wanita yang ia panggil mama beberapa saat lalu, tengah duduk berhadapan di salah satu meja. Dua buah minuman tersaji di depan mereka, tapi belum ada yang berniat untuk menyentuh gelas itu.

Karin dan mamanya dipertemukan kembali setelah 21 tahun. Waktu yang cukup lama itu, rupanya begitu menorehkan luka di hati Karin dan Diana mengetahui itu. Dari tatapan Karin, Diana dapat merasakan kekecewaan yang begitu mendalam.

“Karin, maafkan Mama,” ucap Diana membuka pembicaraan.

Mereka ke sini memang untuk menyelesaikan semua yang terjadi. Beberapa menit yang lalu, Diana mengatakan bahwa ia meminta kesediaan Karin untuk berbicara dengannya. Hanya sebentar dan Diana sungguh meminta Karin bersedia untuk melakukannya.

“Maaf, Mama gagal menjadi ibu yang baik untuk kamu dan Kavin. Mama tau ini udah terlambat dan mungkin kamu nggak bisa memaafkan Mama. Kesalahan Mama begitu besar, Nak,” ujar Diana.

Karin hanya di sana mendengarkan Diana sampai selesai. Mamanya terus mengucapkan kata maaf padanya. Bertahun-tahun yang lalu, Karin berpikir bahwa kata maaf dari seseorang yang menyakitinya mungkin dapat mengobati lukanya di hatinya. Namun pada kenyataannya, pemikirannya itu salah. Kini Karin justru merasa begitu terluka melihat Diana yang menatapnya dengan tatapan penuh penyesalan. Bagaimana pun mamanya, beliau tetaplah orang yang telah melahirkan Karin dan adiknya ke dunia ini. Karin sepantasnya menghormati dan berbakti kepada mamanya.

“Boleh Karin tanya sesuatu?” tanya Karin setelah keterdiamannya itu. Diana pun mengangguk.

Karin nampak berdeham sekali, lalu ia meneguk minumannya lebih dulu, setelah itu Karin bertanya. “Waktu itu, apa Mama punya alasan memutuskan pergi dari rumah?”

Mendapat pertanyaan itu dari Karin, Diana pun nampak sedikit terkejut. Anaknya rupanya benar-benar ingin tahu alasannya pergi.

“Karin, Mama tau kalau keputusan Mama pegi dari rumah, meninggalkan kamu dan Kavin, bukanlah keputusan yang bijak. Tapi saat itu Mama nggak punya pilihan lain, Nak.”

Akhirnya terkuaklah alasan mamanya meninggalkan Karin dan Kavin. Setelah kepergian papanya, mamanya didiagnosis mengidap penyakit yang cukup serius. Diana menceritakan semuanya, tanpa terkecuali. Diana memutuskan meninggalkan Karin dan Kavin pada saat itu, ia tidak ingin membebani anak-anaknya dan pada akhirnya akan membuat keduanya hidup susah. Diana ingin kedua anaknya hidup cukup dan tidak terbebani. Maka dari itu, ia memutuskan pergi setelah sempat menghubungi Vanessa. Diana meminta tolong pada mantan istri almarhum suaminya untuk membantunya. Saat itu, Diana tidak punya alternatif lain untuk meminta bantuan. Diana juga tidak memberi tahu Vanessa mengenai penyakitnya. Diana akhirnya berusaha mengumpulkan uang dengan bekerja, guna membiayai operasi pengangkatan tumor di rahimnya.

Diana mengakui bahwa dirinya telah berfsikap egois, maka dari itu ia lebih memilih pergi selamanya dan tidak pernah berniat menemui Karin dan Kavin. Ia tidak ingin kembali, rasanya dirinya tidak pantas disebut sebagai seorang ibu. Meskipun Diana sangat ingin menemui dua anaknya setelah bertahun-tahun, tapi menurutnya itu adalah keputusan yang terbaik. Vanessa kerap kali mengabarinya soal kehidupan Karin dan Kavin, dan itu sudah cukup bagi Diana saat mengetahui anak-anaknya sudah hidup bahagia sekarang.

Karin kini telah mengatahui semua itu. Karin berusaha memahami dan menerima penjelasan itu. Rasanya Karin masih sulit menerima keputusan Diana di masa lalu. Namun di benaknya juga terpikir bahwa yang dilakukan mamanya semata karena memikirkan ia dan Kavin, mamanya hanya memikirkan kebahagian anak-anaknya.

Karin terlihat buru-buru menyeka air mata yang tiba-tiba turun membasahi pipinya. Karin menghela napasnya dan menghembuskannya panjang, sebelum akhirnya mengangkat panggilan telfon di ponselnya.

“Halo. Iya, ini aku lagi di kafe Beverly. Kamu sama anak-anak mau nyusul? Oh yaudah, oke aku tunggu di sini ya.”

Karin mengakhiri sambungan telfonnya. Karin kembali menatap Diana, lalu meraih tangan Diana di atas meja, meggenggamnya hangat.

“Mah, Mama mau ya tinggal sama Karin? Mama jangan tinggal sendiri lagi,” ucap Karin dengan suaranya yang terdengar sedikit bergetar.

“Sebagai anak Mama, izinin Karin buat berbakti sama Mama, ya? Karin mau merawat Mama. Bulan depan, Kavin akan menikah Mah. Kavin pasti pengen banget Mama hadir di hari pentingnya,” sambung Karin.

Diana belum memberi jawabannya, air matanya hanya mengucur begitu saja dari kedua pelupuk matanya. Detik berikutnya, situasi tersebut terinterupsi oleh kedatangan 4 orang anak-anak dan 1 orang pria dewasa. Satu anak perempuan di sana memanggil Karin dengan sebutan mama. Diana nampak sedikit terkejut, tapi ia tidak dapat menyembunyikan raut bahagia di wajahnya.

Kemudian Karin berujar pada anak perempuan itu, memintanya dengan nada lembut, “Nak, salam dulu sama Oma.”

Akhirnya satu persatu anak-anak itu bergantian menyalami tangannya. Diana hanya bisa menatap itu terjadi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata dari bibirnya.

Anak-anak karin masih nampak bingung, tapi lelaki dewasa yang Diana duga adalah ayah dari anak-anak Karin, terlihat sudah mengerti apa yang terjadi.

“Mah, kenalin ini anak-anak Karin. Svarga, River, dan Taura. Yang perempuan paling kecil, ini Anjani.”

Setelah mengenalkan anak-anaknya, Karin gantian mengenalkan Aryan sebagai suaminya, sebagai papanya anak-anak. Aryan pun menundukkan badannya dan meraih tangan Diana untuk memberikan salam santunnya.

Di tengah-tengah situasi itu, Anjani tiba-tiba berceletuk, “Mommy, aku punya tiga oma? Kenapa bisa gitu? Aku kan udah punya Oma Vanessa sama Oma Tiara.”

Sontak mereka yang di sana saling melempar pandangan, mereka bingung memberikan penjelasan yang mudah dimengerti oleh anak berusia 4 tahun.

“Sayang, Oma Diana juga Omanya Anjani. Oma Diana adalah mamanya mama, jadi Anjani bisa panggil Oma juga, yaa?” ujar Karin akhirnya berusaha memberi penjelasan untuk anaknya.

“Mama punya dua mama? Anjani sama Mas-Mas cuma punya satu Mama. Kenapa?” tanya Anjani lagi.

Akibat pertanyaan polos Anjani itu, akhirnya Aryan berinisiatif untuk mengajak anak-anaknya guna mengalihkan perhatian mereka. Di luar kafé itu, Aryan pun meminta Svarga untuk menjaga adik-adiknya sementara. Svarga yang sudah beranjak remaja dan berusia 15 tahun itu dapat dipercaya untuk menjaga para adiknya. Aryan mengatakan pada anak-anaknya bahawa ia akan cepat kembali. Aryan mengatakan bahwa ada urusan orang tua yang harus diselesaikan dan tugas anak-anak adalah menunggu papa dan mamanya dengan bersikap baik.

Aryan pun kembali ke dalam kafe, ia menemui Karin dan mama mertuanya, Diana. Karin akhirnya menjelaskan pada Aryan situasi yang tengah terjadi. Mengalirlah cerita tersebut dan istrinya juga menyampaikan padanya tentang niatnya mengajak Diana tinggal di rumah mereka.

Aryan dengan cepat menyetujui itu. Justru itu sangat baik, pikirnya. Diana dapat tinggal bersama mereka sehingga mama mertuanya tidak perlu tinggal sendiri lagi di hari tuanya.

Diana pun terharu akan perlakuan Karin dan Aryan yang begitu menerimanya. Luka yang pernah ia berikan pada Karin, rupanya tidak membuat rasa sayang seorang anak pada ibunya menghilang. Diana begitu bahagia dan merasa cukup, melihat akhirnya anaknya kini memiliki keluarga yang utuh dan begitu hangat. Karin memiliki anak-anak yang begitu lucu dan pintar. Selain itu, ada seorang pria yang terlihat begitu mencintai putrinya dan tahu cara memperlakukannya.

“Mah, besok Aryan sama Karin akan bantu urusan pindahannya. Mulai besok, Mama udah bisa tinggal sama kita,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyumnya.

Diana lantas menjawabnya dengan sebuah anggukan. “Aryan, Karin, terima kasih ya, Nak.”

Diana mengatakan bahwa ia sangat berterima kasih pada Aryan. Lelaki itu adalah sosok yang menjadi idaman bagi putrinya, sosok suami yang penuh kasih sayang, dan tentunya papa yang sangat hebat untuk anak-anaknya.

Lebih dari semua itu, Diana dapat melihat bahwa Aryan bukan hanya sekedar mencintai putrinya. Lelaki itu mencintai semua yang menyangkut putrinya, mengutamakan apa yang penting bagi Karin. Lelaki itu menempatkan Karin sebagai prioritas utamanya, salah satu bentuknya adalah cara lelaki itu memperlakukan Diana sebagai mama mertuanya. Perlakuan Aryan kepada Diana, sudah selayaknya perlakuannya terhadap orang tua kandungnya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷