alyadara

Sore ini sekitar pukul 5, Aryan baru saja kembali ke apartemennya. Aryan menghabiskan waktunya bersama dengan Kina dan seolah memang tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aryan menepati janjinya kepada Kina untuk tidak meninggalkan perempuan itu. Dari luar semuanya terlihat baik-baik saja, tapi tidak dengan yang Aryan rasakan terhadap hatinya. Aryan tidak dapat berbohong, hatinya terasa begitu sakit saat dirinya harus bersama seseorang yang telah membuatnya merasakan rasa sakit tersebut.

Saat Aryan baru memasuki masa remajanya dan mulai mengerti mengenai latar belakang keluarganya, lelaki itu berpikir bahwa memiliki hampir segalanya dalam hidup adalah selalu tentang keberuntungan. Lambat laun Aryan pun belajar dari beberapa peristiwa yang terjadi saat dirinya beranjak dewasa. Harta, aset pribadi, tahta, latar belakang keluarga, membuatnya sulit untuk membedakan mana yang benar-benar tulus padanya atau sekedar memandang apa yang ia miliki.

Itu juga yang terjadi ketika Aryan menjalani hubungan percintaan. Aryan memutuskan memberi kepercayaannya kepada Shakina dua tahun yang lalu. Shakina membuatnya percaya bahwa Aryan pantas dicintai bukan karena apa yang ia miliki, tapi karena memang itu dirinya. Namun kenyataan yang Aryan dapati dari pembicaraan Shakina dengan teman-temannya malam itu, membuat semua rasa percaya itu hancur. Seperti sebuah benda pecah belah, Aryan tidak memiliki harapan untuk menyatukan kembali kepingan-kepingan yang telah pecah tersebut.

Ketika terdengar suaara yang menandakan bahwa ada yang datang dari pintu, Aryan bergerak dari posisinya. Sebelumnya Aryan setengah berbaring di sofa, tapi kini tubuhnya menegak kala menemukan sosok Karin di sana. Karin baru kembali dari studio di apartemennya untuk urusan pekerjaan.

Kehidupan Aryan dan Karin berjalan normal persis seperti awal mereka menikah. Karin menjalani harinya seperti biasa, Rey mengantar dan menjemputnya pulang. Begitu pun dengan Aryan. Ia menjalani kehidupannya seperti saat sebelum bertemu dengan Karin. Seolah pernikahannya dengan Karin hanyalah surat yang tertulis di atas hukum dan agama, kenyataannya mereka tidak menikah dalam artian yang sesungguhnya.

Setelah menaruh barang-barang yang dibawanya dan sedikit berbersih diri, Karin lekas menghampiri Aryan memandang lekat wajahnya. “Kak, are you okay?” tanya Karin.

Why? I’m okay.” Dusta Aryan.

Are you drunk?” tanya Karin begitu ia mencium aroma alkohol yang menguar dari tubuh Aryan.

“Just little bit, Karina,” ujar Aryan sembari mengulaskan senyum hambarnya di hadapan Karin.

“Aku tau toleransi alkohol kamu tinggi, tapi coba kamu kurangin dulu. Ya?” bujuk Karin. Karin menatap Aryan dengan tatapan tidak tega, ia melihat sendiri dengan mata kepalanya bahwa Aryan sekacau ini.

Karin memperhatikan wajah Aryan yang nampak pucat. Seketika Karin merasakan hawa panas yang menjalar ke permukaan kulit tangannya ketika ia menempelkan punggung tangannya di atas kening Aryan. Aryan pun mengatakan pada Karin bahwa ia begitu merasa sangat mengantuk sekarang.

“Kamu tidur dulu di atas dulu, ya? Biar aku masakin sesuatu. Nanti aku bangunin buat makan dan minum obat. Oke?” tutur Karin.

Karin akhirnya membantu Aryan bangun dan memapah tubuhnya untuk sampai ke kamar. Begitu Aryan merebahkan tubuhnya di kasur, Karin bergerak untuk menyelimutinya. Karin memperhatikan Aryan yang menggigil, bibir lelaki itu sedikit bergetar karena menahan rasa nyeri di sekujur tubuhnya.

“Karin,” ucap Aryan dengan nada lirihnya. Aryan nampak berusaha membuka matanya untuk menatap Karin di hadapannya. “It's oke for me to cry?” tanya Aryan.

Karin melihat ke arah tangan Aryan yang kini menggenggam tangannya. Perlahan-lahan Karin membalas genggaman itu, ia berusaha membuat Aryan merasa tenang dan lebih baik.

Dalam hidupnya Karin tidak pernah membayangkan akan melihat Aryan dan air matanya. Karin pun hanya sanggup termangu melihat semuanya terjadi. Karin dapat melihat bahwa Aryan benar-benar tulus. Rasanya tidak akan mungkin sesakit igu jika Aryan tidak sungguh-sungguh mengenai perasaannya terhadap Shakina.

***

Aryan merasa lebih baik setelah tidur selama kurang lebih satu jam. Meskipun begitu, Karin tetap memintanya untuk lanjut istirahat selesai Aryan makan dan meminum obatnya. Karin masih mencuci peralatan bekas masaknya ketika ia mendapati Aryan belum beranjak dari kursi meja makan.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

“Aku akan coba buat kurangin alkohol.”

Karin yang mendengarnya seketika menoleh ke arah Aryan. Karin mematikan keran air di wastafel dan menatap Aryan seolah lelaki itu adalah hantu di siang bolong.

“Kenapa kamu liatin aku kayak gitu?” tanya Aryan sembari tertawa.

“Kamu udah bisa ketawa. Berarti udah baikan ya,” ucap Karin diiringi seulas senyum kecil di wajahnya. Karin yang telah selesai dengan segala kegiatannya berberes, kini bergerak menghampiri Aryan dan berujar lagi, “Oke, itu ide bagus, kamu perlu kurangin alkohol sama vape.”

“Vape juga?”

Karin dengan cepat menggangukkan kepalanya, “ Iya, vape juga. Itu untuk kesehatan kamu, Kak.”

***

Rupanya Aryan belum tidur ketika Karin naik ke kamar. Aryan menyandarkan punggungnya di sandaran kasur dan langsung menoleh begitu Karin beranjak untuk bergabung bersamanya.

“Kamu nggak papa aku tidur di sini? Aku bisa tidur di sofa. Aku udah baikan, tadi cuma demam biasa dan karena efek alkohol,” ujar Aryan. Keduanya kini dalam posisi berbaring dan berhadapan dengan sebuah guling sebagai pembatas di tengah-tengah.

Karin mengerti bahwa Aryan memikirkan kenyamanannya. Bagaimana pun tentunya terasa agak aneh jika mereka tidur di satu ranjang yang sama. Aryan pun mengusulkan jika Karin ingin tinggal di apartemennya atau rumah kak Syerin untuk sementara, Aryan akan memperbolehkannya untuk pergi. Namun Karin justru memberikan jawaban sebaliknya.

“Aku nggak tega ninggalin kamu di sini sendiri,” ungkap Karin.

Aryan lantas mendapati Karin menatapnya dengan tatapan lembutnya. “Kak, kamu tau, setiap orang berharga dan pantas untuk dicintai. Saat seseorang memberi rasa sakitnya ke kamu, sebenarnya bukan kamu yang rugi. Dia yang rugi karena telah menyia-nyiakan perasaan kamu yang tulus.”

Nampaknya Karin begitu mengerti dengan rasa sakit yang kini Aryan rasakan. Seolah-olah Karin pernah mengalaminya sehingga begitu memahaminya.

Karin memang pernah merasakannya, itu merupakan luka lama Karin telah pendam. Namun Karin mengatakan ia bersedia untuk membagikannya kepada Aryan yang mungkin saja bisa menjadi pembelajaran berharga juga untuk lelaki itu. “Setelah pisah dengan mama Vanessa dan punya satu anak, yaitu kak Syerin, papaku menikah lagi. Dari pernikahan kedua, papa punya aku dan Kavin. Waktu umurku empat belas tahun, papa meninggal karena sakit. Mama kandungku pergi dan sampai sekarang aku maupun Kavin nggak tau soal keberadaan beliau. Akhirnya mama Vanessa dan kak Syerin memutuskan untuk merawat aku dan Kavin. Tapi aku nggak bisa terus bergantung sama mereka. Gimana pun aku harus berdiri di atas kakiku sendiri.”

Karin merasakan bagaimaan sakitnya ditinggalkan oleh sosok ibu yang mana ia begitu percaya. Namun terkadang memang takdir tidak selamanya indah dan berjalan mulus seperti yang manusia inginkan.

Karin memberi penjelasan pada Aryan bahwa lelaki itu perlu melihat lebih dekat. Aryan masih memiliki orang-orang yang begitu menyayanginya. Aryan memiliki keluarga yang lengkap dan sangat hangat, dan itu merupakan hal yang patut untuk disyukuri. Karin bukan ingin mengadu nasib dan membandingkan hidupnya dengan Aryan yang nampak sangat berbeda. Namun ada hal penting yang dapat dipetik dari setiap peristiwa dan rasa sakit. Kita perlu melihat pada hal baik dari pada hanya berlarut memikirkan satu hal buruk yang telah terjadi.

“Kak, nggak papa kalau sekarang kamu merasa sedih. Sometimes people need a time to crying and feeling sad. Tapi kamu harus percaya, suatu saat nanti, akan ada seseorang yang mencintai kamu dengan tulus. You deserved that, Kak. Every people deserved to be loved. Bukan karena dia siapa, bukan karena apa yang dia miliki, tapi karena dia dicintai karena itu dirinya.”

Usai kalimat Karin tersebut, Aryan pun mengangguk menyetujuinya. Aryan sekarang paham alasan Karin bisa menjadi sosok yang kuat dan tangguh. Setiap orang memiliki hidupnya masing-masing. Namun terkadang di luar sana, kita tidak pernah tahu ada ribuan bahkan jutaan orang yang mendambakan untuk memiliki kehidupan seperti kita.

Aryan tidak pernah tahu kehidupan yang Karin jalani selama ini nyatanya begitu sulit. Karin tidak memiliki figur seorang ibu yang menyayanginya, ia tidak berkesempatan merasakan kasih sayang tersebut. Menjalani kehidupan seperti itu tentu bukanlah hal yang mudah. Namun Karin dapat melaluinya dan itu justru menjadikannya sosok yang hebat seperti yang Aryan lihat saat ini.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

Aryan masih menatap Karin, entah untuk alasan apa, sebuah senyum terukir tulus di wajahnya. “Terima kasih kamu udah ngajarin aku sesuatu yang berharga.”

Aryan berpikir bahwa dua tahun lalu ia terpesona ketika melihat sosok Karin. Perasaan suka itu lantas menguap begitu saja dari hatinya. Aryan tidak memikirkan perasaannya lebih jauh. Aryan pun berpikir mungkin perasaannya pada Karin hanya sekedar rasa kagum, bukannya rasa cinta. Namun kini sebuah pernyataan mengejutkan baru saja menghampirinya. Aryan telah terpesona pada Karin untuk yang kedua kalinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyetir seperti orang gila. Semu darahnya seperti di pompa dengan cepat ke jantung, hingga rasanya dadanya berdegup tidak karuan. Aryan kembali menambah kecepatan laju mobilnya dan pegangan tangannya di setir pun tampak begitu erat. Aryan bersumpah tidak akan mengampuni Kina kalau sampai perempuan itu melakukan sesuatu di luar nalar kepada Karin.

Tidak sampai setengah jam kemudian, Aryan telah sampai di pelataran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki jangkung itu bergegas menuju gedung fakultas manajemen. Di sana nampak sepi, ini masih terbilang cukup pagi dan biasanya tidak ada jam kuliah di waktu seperti ini. Namun Aryan ingat bahwa hari ini Karin ada presentasi untuk ujian tengah semesternya. Jadi memang ada kemungkinan Karin berniat datang lebih pagi ke kampus karena ingin mempersiapkan semuanya dengan matang.

Aryan telah bertanya kepada beberapa orang sampai petugas keamanan sekali pun, tapi belum ada yang melihat sosok Karin di penjuru gedung. Aryan menyisir rambutnya ke belakang dan nampak frustasi. Di saat itu juga, ponselnya berbunyi dan rupanya itu panggilan dari Karin. Begitu Aryan mengangkat telfonnya, bukan suara Karin yang ia dengar, melainkan suara Kina.

“Halo, Sayang. Kamu lagi cari seseorang ya?” tanya Kina di telfon dengan nada pelannya.

“Kina, apa pun yang kamu rencanakan, aku pastiin kamu akan menyesal setelah ini,” ucap Aryan.

“Hei, hei, take it easy, Baby. Kalau kamu cari Karin, kamu sendiri yang harus berusaha untuk nemuin dia. Aku cuma mau bilang, sebaiknya kamu bisa menemukan Karin sebelum semuanya terlambat.”

***

Di gedung kampus itu, terdapat sebuah ruangan untuk tangga darurat. Keadaan yang masih sepi tersebut, dimanfaatkan oleh Kina untuk menjalankan aksinya. Karin berada di ujung tangga dengan Kina yang memegang lengannya.

Kina menatap Karin dan mengulaskan senyum tipisnya, “Karin, listen to me. Kamu nggak bisa mendapatkan apa yang nggak bisa aku dapatkan. Salah satunya adalah Aryan. Aryan akan ninggakin kamu kalau udah nggak ada anak di antara kalian. Semuanya permasalahan akan selesai dan kamu bisa selamanya pergi dari hidup Aryan,” ujar Kina.

Karin terdiam di tempatnya. Jika ia melawan untuk lepas dari Kina, maka kemungkinan terburuk dirinya bisa terjatuh dari tangga. Karin pun memutuskan untuk tidak menunjukkan rasa takutnya di depan Kina. Ia mengenal sosok Kina dan jika Karin kehilangan keberaniannya, maka Kina akan merasa semakin berada di atas awan.

“Kina, kamu perlu tau ini. Kak Aryan memang mencintai kamu, tapi satu hal, dia juga sangat mencintai anaknya. Kalau dia tau kamu berniat mencelakai anaknya, mungkin selamanya dia nggak bisa maafin kamu,” ujar Karin.

Kalimat yang dilontarkan Karin tersebut seketika membuat Kina nampak berpikir. Beberapa saat setelah itu, sebuah pintu menuju ruangan tangga tersebut di buka oleh seseorang. Karin melihat Aryan berada di sana dengan wajah khawatirnya.

“Kina, kamu lepasin Karin sekarang,” ujar Aryan.

Kina menyunggingkan senyum tipisnya seraya menatap Aryan dan berujar, “Kamu pikir bisa semudah itu? Kalau kamu mau sesuatu, kamu juga harus menukarnya dengan sesuatu, Aryan. Bukannya itu yang keluarga kamu ajarkan untuk membangun suatu bisnis yang sukses?”

Aryan menghembuskan napasnya dan lantas berujar, “Oke, kamu bisa bilang sama aku. Kamu mau menukarnya dengan apa?”

Mendengar ucapan Aryan tersebut, Karin lantas menggelengkan kepalanya. Aryan menatap Karin dengan tatapan lembutnya, dari matanya seolah Aryan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Karin tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.

“Permintaan aku cuma satu, Aryan. Kamu harus kembali sama aku dan selamanya kamu adalah milik aku. Kamu bisa menolak itu, tapi kamu tau resikonya, kan?”

Aryan memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan sesuatu. “Alright. Aku akan turutin permintaan kamu,” ujar Aryan diiringi tatapan getirnya.

Detik berikutnya Kina nampak mengulaskan senyum kemenangannya. “Well, kamu membuat keputusan yang bagus. Selama kamu menepati perjanjiannya, semuanya bisa diatur.” Kina menjauhkan dirinya dari Karin dan melepaskan tangannya di lengan Karin.

You will forever be mine, Aryan Sakha. I’ll see you tomorrow, I have to go right now,” sambung Kina sebelum melenggang pergi dari sana.

***

Saat Karin keluar dari kelas terakhirnya, ia mendapati Aryan berada di depan ruangan kelasnya. Kekhawatiran jelas tergambar di paras lelaki itu. Aryan pun langsung mengajak Karin untuk pulang, bahkan lelaki itu mengantarnya ke kamar dan menunggui Karin sampai tertidur.

Beberapa menit setelah Karin memejamkan matanya, perempuan itu kembali terjaga. Melihat Aryan masih berada di samping ranjangnya, Karin pun berujar, “Kamu pasti capek. Kamu juga butuh tidur, nggak perlu tungguin aku di sini.”

Aryan menatap Karin, lalu tangannya terangkat dan mengusap punggung tangan Karin sekilas. “Karin, aku khawatir sama kamu. Biarin aku di sini sampai kamu tidur, ya?”

Karin akhirnya mengangguk. Sebelum kembali memejamkan matanya, Karin menatap langit-langit sejenak, kemudian pandangannya beralih kepada Aryan. “Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

Karin bergerak dari posisi baringannya untuk duduk, ia menyandarkan punggugnya ke sandaran kasur. “Kamu mau tidur di sini?” tanya Karin sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. Sebelum semuanya nampak canggung, Karin mengambil satu buah guling dan meletakkannya di tengah.

“Nggak papa. We still have boundaries between us,” ujar Karin. Pandangan Karin tertuju pada kedua mata sayu Aryan. Bukti fisik yang terlihat tentu tidak bisa berbohong. Karin seperti tahu ada sesuatu yang terjadi tanpa Aryan mengatakannya.

Detik berikutnya, Aryan bergerak untuk berbaring di samping Karin. Keduanya kini saling berhadapan, Karin menatap Aryan dengan tatapan khawatirnya. “Kak, kamu semalam ke mana? Apa ada sesuatu waktu kamu nganter Kina pulang?” tanya Karin.

“Sebenarnya semalam aku mau buktiin sesuatu,” terang Aryan.

“Buktiin apa?”

“Aku sama Kina putus. We ended up last night. Aku tau akhirnya Kina nggak benar-benar tulus sama aku. She want to be with me just to feel lucky. She’s not truly loves me,” ujar Aryan.

Aryan pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Soal Kina yang hampir membuatnya tidur bersamanya, tapi Aryan sudah dapat menebaknya sejak Kina ada indikasi mengajaknya pesta bersama teman-temannya. Maka dari itu Aryan sengaja merencanakan semuanya untuk menangkap basah Kina dan memutuskan hubunga mereka saat itu juga. Aryan tidak ingin membuat Karin kepikiran, sehingga ia tidak mengatakan yang sebenarnya soal dirinya yang ingin membuktikan sesuatu.

“Karin, aku nggak akan tinggalin kamu lagi kayak kemarin. Aku janji,” ujar Aryan sembari menatap Karin dalam-dalam.

“Kak … tapi gimana janji kamu sama Kina?” Karin berucap dengan nadanya yang terdengar lirih. Karin mengatakan bahwa dirinya merasa bersalah pada Aryan. Aryan telah berusaha keluar dari rasa sakit saat bersama Kina, tapi justru harus kembali lagi menghadapi rasa sakit itu hanya untuk melindungi Karin dan bayinya.

“Karin, kamu dengerin aku ya. Aku akan urus semuanya. Kamu nggak perlu khawatir, aku cuma mau bikin Kina terkecoh. Tadi yang aku pikirin cuma kamu dan anak kita,” ucap Aryan. Aryan memandangi wajah Karin, ia menelusuri setiap inci paras Karin menggunakan netranya. “Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kalian,” sambung Aryan.

Kata-kata Aryan terasa menembus hati Karin dan memberikan kehangatan di dalam rongga dadanya. Karin tidak mampu mengeluarkan kata-katanya. Karin pun hanya mengulaskan senyumnya.

Hari sudah beranjak sore, udara yang sejuk yang terasa menelusup ke dalam kamar itu dari sela-sela jendela, membuat Karin dengan cepat dapat terlelap. Karin memeluk gulingnya, wajahnya nampak begitu damai tertidur. Rupanya Aryan belum melakukan hal yang sama seperti Karin, lelaki itu justru betah mengamati Karin yang tertidur.

Sesaat kemudian, Aryan bergerak menarik selimut tebal sampai menutupi bahu Karin. Sebelum memejamkan matanya, Aryan berujar di hadapan Karin yang tengah tertidur, “Karina, I was liked you. Two years ago.”

Pikiran Aryan pun melayang pada kejadian dua tahun yang lalu. Sebuah senyum kecil terukir lantas terukir di wajah Aryan kala mengingat saat-saat tersebut di dalam hidupnya. Saat itu Aryan yang berada di satu tingkat di atas Karin, menjadi panitia untuk orientasi mahasiswa baru. Dari sana untuk pertama kali Aryan mengetahui tentang Karin. Waktu itu satu angkatan memang sudah tahu kalau di jurusan mereka terdapat mahasiswa yang merupakan seorang public figure yang cukup terkenal. Berita itu heboh dan membuat para lelaki baik dari angkatan atas maupun seangkatannya membicarakan tenang Karin. Bahkan ada yang terang-terangan mengincar Karin sampai mengirimkan beberapa hadiah maupun bunga untuk menarik perhatian sang primadona.

Sosok Karina yang cantik, humble, dan pintar, membuat Aryan sempat mengangumi sosoknya. Namun yang terjadi saat itu, Aryan mengetahui bahwa Karin telah memiliki kekasih. Tidak lama dari waktu tersebut, Aryan bertemu dengan Kina dan hubungan keduanya mulai berjalan. Semuanya terjadi begitu saja. Mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tapi Aryan mengetahui tentang Karin. Beberapa kali Aryan pun berkesempatan bertemu Karin karena Kina bekerja di industri yang sama dengan Karin.

Tentunya Karin mengetahui Aryan sebagai kekasih Kina. Sejak kejadian malam itu, Karin meminta Aryan merahasiakannya karena ia tidak ingin menyakiti temannya sendiri. Sampai kemarin Aryan tahu bahwa Kina yang merencanakan semuanya, Aryan begitu kecewa dan marah terhadap Kina. Kenyataan bahwa Aryan telah menghancurkan hidup Karin, membuatnya merasa begitu buruk.

Aryan kembali menatap wajah Karin dalam-dalam. Karin yang ada dihadapannya saat ini, adalah sosok yang begitu ingin ia lindungi. Saat Karin menatapnya khawatir dan terdapat guratan sedih di wajah ini, entah mengapa Aryan merasa bahwa dirinya ikut hancur. “Karin, sebelum aku ketemu sama Kina, orang yang pernah aku sukai itu kamu. Kamu seseorang yang baik, pintar, dan berbakat. Aku kagum sama kamu,” ucap Aryan pelan.

Selang beberapa menit kemudian, Aryan mendapati Karin bergerak dalam tidurnya. Aryan pun seketika terkesiap. Tidak mungkin kan Karin mendengar semua perkataannya. Aryan pun berujar dalam hatinya. Bagaimana kalau Karin mendengarnya? Apa reaksi yang akan diberikan Karin kalau sampai tahu orang yang Aryan dulu sukai adalah orang Karin sendiri. Pikiran Aryan pun menjadi rumit sendiri memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Kak …” Karin bergumam dalam tidurnya.

“Karin kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan berusaha menenangkan Karin yang tengah mengigau.

“Kak kamu jangan pergi,” ucap Karin lagi. Aryan memperhatikan nampak sebuah kerutan di kening Karin, tapi kedua mata Karin masih terpejam.

Aryan mengangkat tangannya, lalu perlahan mendaratkannya di puncak kepala Karin, ia mengusapnya lembut di sana, “Ssshhh… ssshhh … aku di sini, Karin. Aku nggak pergi.”

Perlahan-lahan Karin mulai tenang kembali. Napasnya terdengar teratur dan igauannya telah berhenti. Aryan mengamati paras damai tertidur Karin. Rasanya Aryan dapat lebih tenang ketika memandang wajah ini. Segala tentang kekhawatiran dan ketakutannya, sedikit-sedikit mulai menguap dari hatinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan tidak ingat kapan terakhir kali ia menyetir seperti orang gila. Semu darahnya seperti di pompa dengan cepat ke jantung, hingga rasanya dadanya berdegup tidak karuan. Aryan kembali menambah kecepatan laju mobilnya dan pegangan tangannya di setir pun tampak begitu erat. Aryan bersumpah tidak akan mengampuni Kina kalau sampai perempuan itu melakukan sesuatu di luar nalar kepada Karin.

Tidak sampai setengah jam kemudian, Aryan telah sampai di pelataran kampus. Setelah memarkirkan mobilnya, lelaki jangkung itu bergegas menuju gedung fakultas manajemen. Di sana nampak sepi, ini masih terbilang cukup pagi dan biasanya tidak ada jam kuliah di waktu seperti ini. Namun Aryan ingat bahwa hari ini Karin ada presentasi untuk ujian tengah semesternya. Jadi memang ada kemungkinan Karin berniat datang lebih pagi ke kampus karena ingin mempersiapkan semuanya dengan matang.

Aryan telah bertanya kepada beberapa orang sampai petugas keamanan sekali pun, tapi belum ada yang melihat sosok Karin di penjuru gedung. Aryan menyisir rambutnya ke belakang dan nampak frustasi. Di saat itu juga, ponselnya berbunyi dan rupanya itu panggilan dari Karin. Begitu Aryan mengangkat telfonnya, bukan suara Karin yang ia dengar, melainkan suara Kina.

“Halo, Sayang. Kamu lagi cari seseorang ya?” tanya Kina di telfon dengan nada pelannya.

“Kina, apa pun yang kamu rencanakan, aku pastiin kamu akan menyesal setelah ini,” ucap Aryan.

“Hei, hei, take it easy, Baby. Kalau kamu cari Karin, kamu sendiri yang harus berusaha untuk nemuin dia. Aku cuma mau bilang, sebaiknya kamu bisa menemukan Karin sebelum semuanya terlambat.”

***

Di gedung kampus itu, terdapat sebuah ruangan untuk tangga darurat. Keadaan yang masih sepi tersebut, dimanfaatkan oleh Kina untuk menjalankan aksinya. Karin berada di ujung tangga dengan Kina yang memegang lengannya.

Kina menatap Karin dan mengulaskan senyum tipisnya, “Karin, listen to me. Kamu nggak bisa mendapatkan apa yang nggak bisa aku dapatkan. Salah satunya adalah Aryan. Aryan akan ninggakin kamu kalau udah nggak ada anak di antara kalian. Semuanya permasalahan akan selesai dan kamu bisa selamanya pergi dari hidup Aryan,” ujar Kina.

Karin terdiam di tempatnya. Jika ia melawan untuk lepas dari Kina, maka kemungkinan terburuk dirinya bisa terjatuh dari tangga. Karin pun memutuskan untuk tidak menunjukkan rasa takutnya di depan Kina. Ia mengenal sosok Kina dan jika Karin kehilangan keberaniannya, maka Kina akan merasa semakin berada di atas awan.

“Kina, kamu perlu tau ini. Kak Aryan memang mencintai kamu, tapi satu hal, dia juga sangat mencintai anaknya. Kalau dia tau kamu berniat mencelakai anaknya, mungkin selamanya dia nggak bisa maafin kamu,” ujar Karin.

Kalimat yang dilontarkan Karin tersebut seketika membuat Kina nampak berpikir. Beberapa saat setelah itu, sebuah pintu menuju ruangan tangga tersebut di buka oleh seseorang. Karin melihat Aryan berada di sana dengan wajah khawatirnya.

“Kina, kamu lepasin Karin sekarang,” ujar Aryan.

Kina menyunggingkan senyum tipisnya seraya menatap Aryan dan berujar, “Kamu pikir bisa semudah itu? Kalau kamu mau sesuatu, kamu juga harus menukarnya dengan sesuatu, Aryan. Bukannya itu yang keluarga kamu ajarkan untuk membangun suatu bisnis yang sukses?”

Aryan menghembuskan napasnya dan lantas berujar, “Oke, kamu bisa bilang sama aku. Kamu mau menukarnya dengan apa?”

Mendengar ucapan Aryan tersebut, Karin lantas menggelengkan kepalanya. Aryan menatap Karin dengan tatapan lembutnya, dari matanya seolah Aryan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja dan Karin tidak perlu mengkhawatirkan apa pun.

“Permintaan aku cuma satu, Aryan. Kamu harus kembali sama aku dan selamanya kamu adalah milik aku. Kamu bisa menolak itu, tapi kamu tau resikonya, kan?”

Aryan memejamkan matanya sejenak, sebelum akhirnya ia memutuskan sesuatu. “Alright. Aku akan turutin permintaan kamu,” ujar Aryan diiringi tatapan getirnya.

Detik berikutnya Kina nampak mengulaskan senyum kemenangannya. “Well, kamu membuat keputusan yang bagus. Selama kamu menepati perjanjiannya, semuanya bisa diatur.” Kina menjauhkan dirinya dari Karin dan melepaskan tangannya di lengan Karin.

You will forever be mine, Aryan Sakha. I’ll see you tomorrow, I have to go right now,” sambung Kina sebelum melenggang pergi dari sana.

***

Saat Karin keluar dari kelas terakhirnya, ia mendapati Aryan berada di depan ruangan kelasnya. Kekhawatiran jelas tergambar di paras lelaki itu. Aryan pun langsung mengajak Karin untuk pulang, bahkan lelaki itu mengantarnya ke kamar dan menunggui Karin sampai tertidur.

Beberapa menit setelah Karin memejamkan matanya, perempuan itu kembali terjaga. Melihat Aryan masih berada di samping ranjangnya, Karin pun berujar, “Kamu pasti capek. Kamu juga butuh tidur, nggak perlu tungguin aku di sini.”

Aryan menatap Karin, lalu tangannya terangkat dan mengusap punggung tangan Karin sekilas. “Karin, aku khawatir sama kamu. Biarin aku di sini sampai kamu tidur, ya?”

Karin akhirnya mengangguk. Sebelum kembali memejamkan matanya, Karin menatap langit-langit sejenak, kemudian pandangannya beralih kepada Aryan. “Kak,” ujar Karin.

“Iya?” sahut Aryan.

Karin bergerak dari posisi baringannya untuk duduk, ia menyandarkan punggugnya ke sandaran kasur. “Kamu mau tidur di sini?” tanya Karin sembari menepuk bagian kasur di sampingnya. Sebelum semuanya nampak canggung, Karin mengambil satu buah guling dan meletakkannya di tengah.

“Nggak papa. We still have boundaries between us,” ujar Karin. Pandangan Karin tertuju pada kedua mata sayu Aryan. Bukti fisik yang terlihat tentu tidak bisa berbohong. Karin seperti tahu ada sesuatu yang terjadi tanpa Aryan mengatakannya.

Detik berikutnya, Aryan bergerak untuk berbaring di samping Karin. Keduanya kini saling berhadapan, Karin menatap Aryan dengan tatapan khawatirnya. “Kak, kamu semalam ke mana? Apa ada sesuatu waktu kamu nganter Kina pulang?” tanya Karin.

“Sebenarnya semalam aku mau buktiin sesuatu,” terang Aryan.

“Buktiin apa?”

“Aku sama Kina putus. We ended up last night. Aku tau akhirnya Kina nggak benar-benar tulus sama aku. She want to be with me just to feel lucky. She’s not truly loves me,” ujar Aryan.

Aryan pun menceritakan apa yang terjadi semalam. Soal Kina yang hampir membuatnya tidur bersamanya, tapi Aryan sudah dapat menebaknya sejak Kina ada indikasi mengajaknya pesta bersama teman-temannya. Maka dari itu Aryan sengaja merencanakan semuanya untuk menangkap basah Kina dan memutuskan hubunga mereka saat itu juga. Aryan tidak ingin membuat Karin kepikiran, sehingga ia tidak mengatakan yang sebenarnya soal dirinya yang ingin membuktikan sesuatu.

“Karin, aku nggak akan tinggalin kamu lagi kayak kemarin. Aku janji,” ujar Aryan sembari menatap Karin dalam-dalam.

“Kak … tapi gimana janji kamu sama Kina?” Karin berucap dengan nadanya yang terdengar lirih. Karin mengatakan bahwa dirinya merasa bersalah pada Aryan. Aryan telah berusaha keluar dari rasa sakit saat bersama Kina, tapi justru harus kembali lagi menghadapi rasa sakit itu hanya untuk melindungi Karin dan bayinya.

“Karin, kamu dengerin aku ya. Aku akan urus semuanya. Kamu nggak perlu khawatir, aku cuma mau bikin Kina terkecoh. Tadi yang aku pikirin cuma kamu dan anak kita,” ucap Aryan. Aryan memandangi wajah Karin, ia menelusuri setiap inci paras Karin menggunakan netranya. “Aku nggak akan sanggup kalau harus kehilangan kalian,” sambung Aryan.

Kata-kata Aryan terasa menembus hati Karin dan memberikan kehangatan di dalam rongga dadanya. Karin tidak mampu mengeluarkan kata-katanya. Karin pun hanya mengulaskan senyumnya.

Hari sudah beranjak sore, udara yang sejuk yang terasa menelusup ke dalam kamar itu dari sela-sela jendela, membuat Karin dengan cepat dapat terlelap. Karin memeluk gulingnya, wajahnya nampak begitu damai tertidur. Rupanya Aryan belum melakukan hal yang sama seperti Karin, lelaki itu justru betah mengamati Karin yang tertidur.

Sesaat kemudian, Aryan bergerak menarik selimut tebal sampai menutupi bahu Karin. Sebelum memejamkan matanya, Aryan berujar di hadapan Karin yang tengah tertidur, “Karina, I was liked you. Two years ago.”

Pikiran Aryan pun melayang pada kejadian dua tahun yang lalu. Sebuah senyum kecil terukir lantas terukir di wajah Aryan kala mengingat saat-saat tersebut di dalam hidupnya. Saat itu Aryan yang berada di satu tingkat di atas Karin, menjadi panitia untuk orientasi mahasiswa baru. Dari sana untuk pertama kali Aryan mengetahui tentang Karin. Waktu itu satu angkatan memang sudah tahu kalau di jurusan mereka terdapat mahasiswa yang merupakan seorang public figure yang cukup terkenal. Berita itu heboh dan membuat para lelaki baik dari angkatan atas maupun seangkatannya membicarakan tenang Karin. Bahkan ada yang terang-terangan mengincar Karin sampai mengirimkan beberapa hadiah maupun bunga untuk menarik perhatian sang primadona.

Sosok Karina yang cantik, humble, dan pintar, membuat Aryan sempat mengangumi sosoknya. Namun yang terjadi saat itu, Aryan mengetahui bahwa Karin telah memiliki kekasih. Tidak lama dari waktu tersebut, Aryan bertemu dengan Kina dan hubungan keduanya mulai berjalan. Semuanya terjadi begitu saja. Mereka tidak saling mengenal secara pribadi, tapi Aryan mengetahui tentang Karin. Beberapa kali Aryan pun berkesempatan bertemu Karin karena Kina bekerja di industri yang sama dengan Karin.

Tentunya Karin mengetahui Aryan sebagai kekasih Kina. Sejak kejadian malam itu, Karin meminta Aryan merahasiakannya karena ia tidak ingin menyakiti temannya sendiri. Sampai kemarin Aryan tahu bahwa Kina yang merencanakan semuanya, Aryan begitu kecewa dan marah terhadap Kina. Kenyataan bahwa Aryan telah menghancurkan hidup Karin, membuatnya merasa begitu buruk.

Aryan kembali menatap wajah Karin dalam-dalam. Karin yang ada dihadapannya saat ini, adalah sosok yang begitu ingin ia lindungi. Saat Karin menatapnya khawatir dan terdapat guratan sedih di wajah ini, entah mengapa Aryan merasa bahwa dirinya ikut hancur. “Karin, sebelum aku ketemu sama Kina, orang yang pernah aku sukai itu kamu. Kamu seseorang yang baik, pintar, dan berbakat. Aku kagum sama kamu,” ucap Aryan pelan.

Selang eberapa menit kemudian, Aryan mendapati Karin bergerak dalam tidurnya. Aryan pun seketika terkesiap. Tidak mungkin kan Karin mendengar semua perkataannya. Aryan pun berujar dalam hatinya. Bagaimana kalau Karin mendengarnya? Apa reaksi yang akan diberikan Karin kalau sampai tahu orang yang Aryan dulu sukai adalah orang Karin sendiri. Pikiran Aryan pun menjadi rumit sendiri memikirkan berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Kak …” Karin bergumam dalam tidurnya.

“Karin kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan berusaha menenangkan Karin yang tengah mengigau.

“Kak kamu jangan pergi,” ucap Karin lagi. Aryan memperhatikan nampak sebuah kerutan di kening Karin, tapi kedua mata Karin masih terpejam.

Aryan mengangkat tangannya, lalu perlahan mendaratkannya di puncak kepala Karin, ia mengusapnya lembut di sana, “Ssshhh… ssshhh … aku di sini, Karin. Aku nggak pergi.”

Perlahan-lahan Karin mulai tenang kembali. Napasnya terdengar teratur dan igauannya telah berhenti. Aryan mengamati paras damai tertidur Karin. Rasanya Aryan dapat lebih tenang ketika memandang wajah ini. Segala tentang kekhawatiran dan ketakutannya, sedikit-sedikit mulai menguap dari hatinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Apartemen Kina yang cukup luas sangat memungkinkan tempat tersebut disulap menjadi tempat pesta yang meriah. Kina mengundang sekitar 20 orang temannya untuk datang ke pesta yang ia adakan malam ini.

Makanan, minuman, serta musik keras dari sang DJ membuat tempat itu nampak seperti bar sungguhan. Beberapa teman Kina yang datang bersama kekasih mereka, tengah berdansa bersama mengikuti alunan musik yang bertempo cepat. Seperti yang sudah tidak asing lagi di kota-kota besar, berbagai kejadian dapat terjadi di sebuah pesta yang biasanya diisi oleh anak-anak muda.

“Sayang, kamu mau minum apa?” tanya Kina pada Aryan. Di salah satu meja, kini Kina tengah duduk di samping Aryan. Hampir tidak ada jarak di antara mereka. Pemandangan yang dapat dilihat Aryan di depan matanya adalah sahabat Kina yang tengah asyik bersama kekasih mereka.

“Vodka, champagne atau apa pun yang kamu mau. You can tell me what you want,” ucap Kina.

“Kina,” ucap Aryan sambil menghela dagu Kina agar perempuan itu menatapnya.

Yes?

I won’t drink. I just want you,” ucap Aryan.

Mendengar ucapan Aryan tersebut, sebuah senyum lantas tersungging di bibir Kina. “Are you sure? Hmm … okey … we can have this night. Only for us, Baby,” bisik Kina dengan nada sensual setelah mencondongkan tubuhnya lebih dekat kepada Aryan.

Oke. Can I ask you something before?” tanya Aryan.

Sure. Kamu boleh minta apa pun sama aku. Just tell me,” ucap Kina sembari menyematkan kecupan lembut di pipi Aryan.

***

Sesuai yang diminta oleh Aryan, saat ini Kina berada di kamarnya bersama dua orang sahabatnya untuk mengambil sesuatu. Kina membuka lemari pakaiannya dan mengambil sebuah lingerie sutra berwarna merah dari sana.

Kina menunjukkan pakaian tersebut kepada Vivian dan Pricilla. “How do you think about this?” tanya Kina.

Looks so nice, Bestie. Ini bagus banget. Gue jamin malam ini lo akan dapetin Aryan seutuhnya,” ujar Pricil.

“Ohiya, gimana minumannya? Aryan udah minum yang lo tawarin?” tanya Vivian yang sontak membuat Kina beralih menatap sahabatnya yang satu itu.

Not yet. Tapi kayak yang Pricil bilang, dengan atau tanpa minuman itu, I will definitely make him mine tonight,” ujar Kina dengan nada percaya dirinya.

You’re the best, Kina. Lo beruntung banget bisa mendapatkan Aryan,” cetus Pricil.

You know, hampir semua perempuan di kampus kita mendambakan gimana rasanya jadi pacar Aryan Sakha. He have everything in his life. Good looking, rich parents, nice car. Oh my god, he’s definitely have everything.” Vivian menimpali.

Alright. Seharusnya gue yang menikah sama Aryan, tapi semuanya berantakan sejak perempuan itu datang. Tapi gue nggak akan biarin Aryan ninggalin gue. Kalian bisa pegang omongan gue,” ujar Kina sambil tersenyum penuh arti.

Pembicaraan ketiganya pun seketika terhenti begitu terdengar sebuah ketukan di pintu kamar. Vivian dan Pricil tersenyum penuh arti kepada Kina karena menebak sosok yang tengah berada di depan kamar adalah Aryan.

Benar saja, begitu Kina membuka pintunya, ia mendapati Aryan berada di sana. Kina lantas meminta dua sahabatnya untuk melenggang dari kamarnya. Sepeninggalan Vivian dan Pricil dari sana, Kina pun membuka pintunya lebih lebar dan mempersilakan Aryan untuk masuk.

Setelah menutup pintu kamarnya, Kina melangkahkan kakinya menuju Aryan. Aryan mengambil tempat di sisi ranjang queen size di kamar itu. Kina yang sudah berada di hadapannya pun langsung menempatkan lengannya di kedua pundak Aryan.

“Kina, I want to ask you something. Are you happy ... to be with me?” tanya Aryan sambil menatap Kina diiris matanya.

Tanpa babibu, Kina menjawabnya dengan sangat lugas, “Of course Baby, I’m happy to be with you. Kenapa tiba-tiba kamu nanya gitu?”

Aryan pun menggeleng sekilas. “No, you’re not happy to be with me, Shakina.”

“Maksud kamu? Aku bahagia bisa sama kamu, Aryan. Dua tahun kita pacaran, kamu masih nanya aku bahagia apa engga sama kamu. Really?”

Aryan lantas menyunggingkan senyum smirk-nya sesaat sebelum wajahnya kembali berekspresi datar. Aryan menatap Kina tepat di iris matanya dan berujar, “Dua tahun, aku coba mewujudkan kehidupan yang sempurna untuk kamu, tapi semua itu tetap nggak membuat kamu merasa cukup, Kina. You’re just obessed with me, you’re not purely loved me. Tujuan kamu bersama aku hanya untuk membuat kamu merasa beruntung di antara teman-teman kamu. Is it true, right?” ujar Aryan panjang lebar.

Kina seketika terdiam mendengar semua penuturan Aryan itu. Masih belum cukup rupanya, Aryan kembali memintanya mendengarkannya baik-baik. “Aku terlalu mencintai kamu, sampai aku nggak bisa melihat dan lupa untuk merasakan seseorang yang benar-benar mencintai aku dengan tulus.”

Aryan terlalu memperlakukan Shakina dengan sempurna, sampai dirinya tidak sadar dan lupa mementingkan soal apa yang sebenarnya ia butuhkan dari sebuah hubungan.

Aryan menatap Kina dengan tatapan intensnya, lelaki itu berdeham sebelum kembali berujar, “Kina, we are break up right now. I want to ended up everything with you.” Setelah mengatakannya, Aryan bergerak menghela tubuh Kina agar menjauh darinya. Aryan hendak melenggang dari sana, tapi Kina dengan cepat menahannya.

We can’t break up, Aryan. You have to know that I love you so much. Kamu meragukan aku? Setelah dua tahun kita bareng. Apa semudah ini kita berakhir? Apa kamu punya perempuan lain?” Kina mengajukan pertanyaan beruntun tersebut kepada Aryan.

Mendengar semuanya, Aryan pun melayangkan tatapan marahnya kepada Kina. “Kamu sebaiknya hati-hati sama apa yang kamu ucapkan, Kina,” ucap Aryan. Aryan menghela napasnya lalu menghembuskannya secara kasar. Aryan berusaha menahan emosinya, sambil masih menatap tajam ke arah Kina, Aryan pun berujar, “Dua tahun memang waktu yang lama, tapi itu nggak bisa jadi jaminan kalau seseorang bisa tulus mencintai. Di antara aku dan kamu,sekarang semuanya udah berakhir,” ucap Aryan dengan penekanan nada di setiap kata-katanya.

Setelah berhasil melepaskan pegangan Kina di lengannya, Aryan lekas berbalik dan berjalan menuju pintu. Saat Aryan hendak meraih knop pintu, Kina berujar lagi dan itu menahan aksi Aryan. “Kamu bisa pergi dari sini, Aryan. Tapi satu hal yang kamu harus tau. Aku nggak akan biarin kamu pergi dari hidupku. Aku akan buat kamu kembali, apa pun itu caranya.”

***

Jika Aryan mengatakan bahwa dirinya tidak hancur, maka itu adalah suatu kebohongan. Aryan mencintai Kina, perasaannya pun masih tertinggal dan tidak mudah dihapuskan begitu saja, tapi kini hatinya terlaku sakit karena rasa cinta itu sendiri.

Dua tahun menjalin hubungan dan Aryan mencoba untuk memberikan segalanya untuk Shakina, tapi sebuah kenyataan telah menjatuhkan Aryan ke dalam jurang yang begitu dalam. Aryan kecewa pada Kina dan merasa bahwa dirinya tidak berharga bagi Kina. Waktu, cinta, perhatian, semua yang Aryan berikan nyatanya tidak cukup bagi Kina. Kina sampai rela melakukan perbuatan di luar nalar untuk memenuhi kebahagiannya sendiri. Aryan pikir dirinya cukup untuk Kina, tapi nyatanya tidak.

Semalam Aryan mengingkari perkataannya kepada Karin. Aryan tidak pulang ke apartemen. Ia terlalu kacau dan membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Esok paginya saat Aryan membuka pintu apartemennya, ia tidak menemukan tanda-tanda Karin berada di sana.

“Karin,” panggil Aryan sembari menyisiri setiap sudut apartemen. Sampai ke atas kamar pun, Karin tidak ada di sana.

Begitu Aryan akan pergi meninggalkan apartemennya untuk menemukan Karin, sebuah sticky note kecil di meja makan membuat Aryan meliriknya. Aryan mengambil kertas berwarna merah muda itu dan membacanya.

Di sana tertulis bahwa Karin menunggunya pulang semalam. Pagi ini Karin yakin Aryan akan pulang, tapi Karin harus berangkat ke kampus karena ada kelas pagi. Seusai membacanya, pikiran Aryan pun melayang pada kemungkinan yang mungkin dapat terjadi. Aryan mengingat kata-kata yang Kina ucapkan padanya semalam. Aryan curiga bahwa Kina tidak akan diam begitu saja. Kina sangat berpotensi melakukan sesuatu pada Karin dan mungkin dapat lebih parah dari kejadian di acara awards waktu itu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan membuka pintu apartemennya dan langsung menemukan Shakina berada di sana. Shakina langsung mengulaskan senyum semringahnya dan mendekat pada Aryan. Detik berikutnya, Kina merangkul lengan Aryan sembari berujar, “Sayang, aku boleh masuk, kan? Karin ada nggak di dalam?”

“Ada Karin dan mamaku. Kamu nggak bisa masuk, Kina,” ujar Aryan.

“Kak, siapa yang dateng?”

Kehadiran Karin yang tiba-tiba di tengah keduanya, seketika itu membuat Aryan menoleh ke arah Karin.

“Karin, gue boleh masuk, kan?” ujar Kina sembari melayangkan tatapannya kepada Karin.

Karin masih terdiam di tempatnya, ia tidak menjawab pertanyaan Kina, sampai akhirnya Kina berujar lagi sembari menatap Aryan, “Aku telfon kamu dari kemarin, tapi hp kamu nggak aktif. Aku kangen banget lho sama kamu.”

Dengan perlahan Aryan berusaha melepaskan lengan Kina yang berada di lengannya. Namun Kina yang keras kepala, bergantian mengambil tangan Aryan lalu menggenggamnya.

“Kalau kamu mau masuk, silakan. Rencananya kita mau makan siang bareng mama juga,” ujar Karin yang seketika membuat Aryan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Namun Karin lebih dulu melenggang masuk ke dalam, berlalu dari hadapan Aryan dan Kina. Karin mengatakan bahwa ia harus kembali membantu mama memasak di dapur. Hidangan makan siang sebentar lagi pun akan siap dan mereka bisa makan bersama.

***

Aryan duduk di samping Kina, sementara di hadapannya ada Karin dan Tiara. Pagi tadi mamanya memang datang ke apartemennya dan berencana untuk memasak bersama Karin. Mamanya juga membawakan beberapa makanan yang rupanya merupakan makanan kesukaan Karin.

“Karin, gimana masakan Mama? Kira-kira rasanya kurang apa, Sayang?” tanya Tiara sambil menatap Karin.

Karin mengulaskan senyumnya ke arah Tiara dan berujar, “Rasanya hampir pas semua, Mah. Enak banget, makasih ya Mah,” ujar Karin.

“Sama-sama, Sayang. Buat menantu sama calon cucu, Mama senang banget kalau bisa berbuat sesuatu,” ucap Tiara diiringi seulas senyum di wajahnya.

Acara makan pun berlanjut dan tidak ada obrolan berarti yang terjadi. Ketika Karin hendak menuangkan minuman ke gelas Aryan, Kina bergerak lebih dulu mengambil teko air di meja dan melakukan hal yang hendak dilakukan oleh Karin.

Beberapa saat yang lalu, Kina telah mencoba untuk membuka obrolan agar akrab dengan Tiara, tapi ibu dari Aryan itu malah menjawabnya ala kadarnya. Justru Tiara terlihat sangat menyayangi Karin dan Kina seperti hanya mendapat angin kosong. Hal tersebut membuat Kina kesal, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya.

Selang 20 menit kemudian, acara makan pun selesai. Rupanya Tiara belum ingin pulang dari sana. Mamanya itu mengatakan masih ingin mengobrol bersama Karin. Sementara Kina mengatakan pada Aryan bahwa ia ingin pulang.

Aryan melenggang untuk menghampiri Karin di dapur dan mengatakan kalau ia akan mengantar Kina pulang. “Karin, aku anter Kina pulang dulu ya. Aku habis ini langsung pulang, kamu sama mama di sini dulu ya.”

Awalnya Tiara sempat tidak setuju kalau Aryan mengantar Kina. Tiara tentu sudah tahu semuanya soal Kina. Tiara berusaha sebisa mungkin bersikap baik di hadapan Kina, untungnya ia masih sanggup melakukan itu. Hal tersebut sebagian besar terjadi karena peringai Karin. Karin telah berusaha meyakinkan mertuanya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Ketika sampai di apartemennya, Kina menahan Aryan untuk pulang. Kina mengatakan bahwa sebentar lagi teman-temannya akan datang untuk melakukan pesta di apartemennya. “We can have this night for us. I know you well, Babe. You like party and vodka so much, and tonight I will give it for you,” ujar Kina.

Begitu Aryan hanya diam dengan wajah minim ekspresinya dan tidak lekas menjawabnya, Kina pun memicingkan matanya dan berujar, “Apa bener kalau kamu sama Karin udah punya perasaan khusus? Kamu mau ninggalin aku, Aryan?”

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina, tapi Kina berusaha membuat Aryan kembali menatapnya. Detik berikutnya, Kina lantas sedikit berjinjit dan segera menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Kina menciumnya, tapi alis Kina mengernyit kala Aryan tidak membalas ciuman itu. Aryan hanya mematung di sana dan perlahan menjauhkan tubuh Kina darinya, hingga bibir Kina pun terlepas begitu saja dari Aryan.

Oke, I will stay this night for the party,” ujar Aryan sambil menatap Kina tepat di iris coklat gelapnya.

Nice. You choosed the right choice. C’mon,” ucap Kina sembari meraih tangan Aryan dan mengajaknya masuk ke dalam apartemennya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan membuka pintu apartemennya dan langsung menemukan Shakina berada di sana. Shakina langsung mengulaskan senyum semringahnya dan mendekat pada Aryan. Detik berikutnya, Kina merangkul lengan Aryan sembari berujar, “Sayang, aku boleh masuk, kan? Karin ada nggak di dalam?”

“Ada Karin dan mamaku. Kamu nggak bisa masuk, Kina,” ujar Aryan.

“Kak, siapa yang dateng?”

Kehadiran Karin yang tiba-tiba di tengah keduanya, seketika itu membuat Aryan menoleh ke arah Karin.

“Karin, gue boleh masuk, kan?” ujar Kina sembari melayangkan tatapannya kepada Karin.

Karin masih terdiam di tempatnya, ia tidak menjawab pertanyaan Kina, sampai akhirnya Kina berujar lagi sembari menatap Aryan, “Aku telfon kamu dari kemarin, tapi hp kamu nggak aktif. Aku kangen banget lho sama kamu.”

Dengan perlahan Aryan berusaha melepaskan lengan Kina yang berada di lengannya. Namun Kina yang keras kepala, bergantian mengambil tangan Aryan lalu menggenggamnya.

“Kalau kamu mau masuk, silakan. Rencananya kita mau makan siang bareng mama juga,” ujar Karin yang seketika membuat Aryan menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.

Namun Karin lebih dulu melenggang masuk ke dalam, berlalu dari hadapan Aryan dan Kina. Karin mengatakan bahwa ia harus kembali membantu mama memasak di dapur. Hidangan makan siang sebentar lagi pun akan siap dan mereka bisa makan bersama.

***

Aryan duduk di samping Kina, sementara di hadapannya ada Karin dan Tiara. Pagi tadi mamanya memang datang ke apartemennya dan berencana untuk memasak bersama Karin. Mamanya juga membawakan beberapa makanan yang rupanya merupakan makanan kesukaan Karin.

“Karin, gimana masakan Mama? Kira-kira rasanya kurang apa, Sayang?” tanya Tiara sambil menatap Karin.

Karin mengulaskan senyumnya ke arah Tiara dan berujar, “Rasanya hampir pas semua, Mah. Enak banget, makasih ya Mah,” ujar Karin.

“Sama-sama, Sayang. Buat menantu sama calon cucu, Mama senang banget kalau bisa berbuat sesuatu,” ucap Tiara diiringi seulas senyum di wajahnya.

Acara makan pun berlanjut dan tidak ada obrolan berarti yang terjadi. Ketika Karin hendak menuangkan minuman ke gelas Aryan, Kina bergerak lebih dulu mengambil teko air di meja dan melakukan hal yang hendak dilakukan oleh Karin.

Beberapa saat yang lalu, Kina telah mencoba untuk membuka obrolan agar akrab dengan Tiara, tapi ibu dari Aryan itu malah menjawabnya ala kadarnya. Justru Tiara terlihat sangat menyayangi Karin dan Kina seperti hanya mendapat angin kosong. Hal tersebut membuat Kina kesal, tapi ia berusaha sebisa mungkin untuk menutupinya.

Selang 20 menit kemudian, acara makan pun selesai. Rupanya Tiara belum ingin pulang dari sana. Mamanya itu mengatakan masih ingin mengobrol bersama Karin. Sementara Kina mengatakan pada Aryan bahwa ia ingin pulang.

Aryan melenggang untuk menghampiri Karin di dapur dan mengatakan kalau ia akan mengantar Kina pulang. “Karin, aku anter Kina pulang dulu ya. Aku habis ini langsung pulang, kamu sama mama di sini dulu ya.”

Awalnya Tiara sempat tidak setuju kalau Aryan mengantar Kina. Tiara tentu sudah tahu semuanya soal Kina. Tiara berusaha sebisa mungkin bersikap baik di hadapan Kina, untungnya ia masih sanggup melakukan itu. Hal tersebut sebagian besar terjadi karena peringai Karin. Karin telah berusaha meyakinkan mertuanya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

***

Ketika sampai di apartemennya, Kina menahan Aryan untuk pulang. Kina mengatakan bahwa sebentar lagi teman-temannya akan datang untuk melakukan pesta di apartemennya. “We can have this night for us. I know you well, Babe. You like party and vodka so much, and tonight I will give it for you,” ujar Kina.

Begitu Aryan hanya diam dengan wajah minim ekspresinya dan tidak lekas menjawabnya, Kina pun memicingkan matanya dan berujar, “Apa bener kalau kamu sama Karin udah punya perasaan khusus? Kamu mau ninggalin aku, Aryan?”

Aryan mengalihkan tatapannya dari Kina, tapi Kina berusaha membuat Aryan kembali menatapnya. Detik berikutnya, Kina lantas sedikit berjinjit dan segera menempelkan bibirnya di bibir Aryan. Kina menciumnya, tapi alis Kina mengernyit kala Aryan tidak membalas ciuman itu. Aryan hanya mematung di sana dan perlahan menjauhkan tubuh Kina darinya, hingga bibir Kina pun terlepas begitu saja dari Aryan.

Oke, I will stay this night for the party,” ujar Aryan sambil menatap Kina tepat di iris coklat gelapnya.

Nice. You choosed the right choice. C’mon,” ucap Kina sembari meraih tangan Aryan dan mengajaknya masuk ke dalam apartemennya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin menginap di rumah Syerin dan belum tau kapan akan kembali. Rasanya Karin tidak ingin melihat Aryan. Ia terlalu takut dengan rasa sakit yang akan menghampirinya, entah untuk alasan apa Karin merasakannya. Harusnya Karin merasa baik-baik saja, toh sejatinya yang dilakukan Aryan sesuai dengan apa kata hatinya. Aryan jelas akan lebih memihak pada Kina apapun yang mungkin terjadi.

Karin teralihkan dari pikirannya begitu ponselnya berbunyi. Kali ini bukan Aryan yang coba menghubunginya, melainkan Nayna. Karin menatap layar ponselnya sesaat, ia tidak kunjung menjawab telfonnya sampai akhirnya sambungan tersebut terputus dengan sendirinya.

Rupanya tidak sampai lima detik kemudian, Nayna kembali menghubunginya. Karin akhirnya memutuskan mengangkat telfon itu, hatinya mendorongnya untuk melakukannya dan mungkin ada sesuatu penting yang akan disampaikan Nayna.

“Halo … Kak Karin,” ujar Nayna dengan suaranya yang terdengar panik.

“Halo Nay? Ada apa Nay?” balas Karin.

“Kak, koko baru aja tau soal pelaku dibalik kejadian di Bali.”

“Kak?” panggil Nayna lagi setelah Karin hanya terdiam.

“Iya Nay?”

“Kak, are you okay?

Setelah Nayna menjelaskan lebih detail mengenai kronologi kejadiannya, Karin tidak menyahuti panggilan Nayna di ujung sana. Karin masih terlalu shock dan tidak tahu harus memberikan respon apa.

“Nayna, kamu tau Kak Aryan sekarang di mana?”

“Barusan koko pergi Kak setelah tau semuanya. Papa sama om Rama coba cegah, tapi koko keburu pergi. Koko nggak pulang ke apartemen Kak?”

***

Karin memutuskan untuk kembali ke apartemen dengan membawa koper yang berisi sebagian bajunya. Begitu sampai di sana, Karin langsung mencari sosok Aryan. Namun kekhawatiran Nayna beberapa saat lalu benar terbukti. Aryan tidak pulang ke apartemen. Saat ini Karin merasakan hal yang sama, ia juga khawatir pada Aryan.

Karin mengambil ponselnya di tasnya, ia mencoba menelfon Aryan berkali-kali. Karin menunggu Aryan menjawabnya dengan harap cemas, tapi hasilnya nihil. Aryan tidak menjawab panggilannya dan pesan yang Karin kirimkan juga tidak dibaca.

Karin memang kecewa dengan keadaan yang terjadi. Setelah mengetahui pelaku di balik kejadian malam itu dan apa motifnya, tentu membuat Kairn merasa marah dan kecewa. Namun usai semua itu, Karin justru tetap memikirkan keadaan Aryan.

Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Karin. Karin pun memutuskan meminta bantuan seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Aryan. Karin tidak ingin tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi kepada Aryan.

***

Karin memutuskan untuk kembali setelah hampir jam ia dan Leon mencari Aryan. Mereka telah mendatangi beberapa tempat yang kemungkinan jadi tujuan Aryan. Tempat terakhir adalah apartemen Kina. Leon yang turun ke sana, sementara Karin tetap di mobil. Sekembalinya Leon ke mobil, tatapan lelaki itu sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Gimana Rin? Masih mau cari lagi?” tanya Leon begitu mereka sudah dalam perjalanan.

“Leon, tolong anter gue pulang aja ya,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Rin, lo yakin? Kita masih bisa cari Aryan kalau lo mau.”

“Gue yakin nanti Kak Aryan bakal balik. Gue percaya dia nggak ngelakuin hal yang kita semua khawatirkan.”

***

Karin sampai di apartemen dan memutuskan untuk tidur setelah mengganti pakaiannya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 malam dan belum ada tanda-tanda Aryan kembali. Karin beberapa kali turun ke lantai bawah untuk mengecek, tapi lagi-lagi hanya udara kosong yang menyambutnya.

Karin merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar sembari memanjatkan doa di dalam hatinya. Karin ingin Tuhan melindungi Aryan dengan segala yang telah terjadi dan semoga Aryan masih dapat berpikir jernih lalu memutuskan untuk kembali.

Tengah malam ketika Karin terjaga dari tidurnya, ia melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah. Saat netranya menangkap sosok dari arah balkon, Karin segera menuju ke sana. Meskipun lampu ruang tamu tidak dinyalakan, Karin tetap bisa melihat dari pintu kaca balkon bahwa Aryan tengah berada di sana. Dengan sebuah vape di satu tangannya, Aryan menghembuskan uap dari benda tersebut.

Karin masih berdiri di depan pintu ketika Aryan menyadari kehadirannya. Keduanya lalu saling bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Karin menggeser pintu kaca balkon dan kini berada tepat di depan Aryan.

Balcon

“Karin, kamu ngapain di sini? Kamu masuk ya, angin di sini kenceng,” ujar Aryan sembari mematikan vapenya lalu memasukkannya ke saku jaketnya.

Karin terlihat menghembuskan napasnya yang terdengar lega. “Kak, semua orang khawatir sama kamu lho,” ujar Karin sambil menatap Aryan lekat-lekat.

“Khawatir soal apa?” tanya Aryan.

“Waktu kamu tau semuanya, Nayna bilang kamu langsung pergi gitu aja. Nayna nelfon aku dan aku langsung pulang, tapi kamu nggak ada. Aku cari kamu sama Leon ke beberapa tempat, sampai ke apartemen Kina, tapi kamu juga nggak ada di sana.”

Aryan dapat melihat guratan kekhawatiran di wajah Karin. Aryan maju selangkah, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap bahu Karin sekilas.

“Aku nggak papa, Karin,” ucap Aryan.

Karin akhirnya mengangguk, lalu ia sedikit mendongak untuk menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu kenapa nggak jawab telfonku? Jam berapa kamu pulang? Kenapa nggak bangunin aku biar aku tau kamu udah pulang?” tanya Karin bertubi-tubi.

“Waktu aku nyampe tadi, aku langsung ke atas, aku liat kamu udah tidur. Koper kamu juga ada di sana. Kamu udah pulang dan tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin,” jelas Aryan.

Karin baru teringat. Kemarin ia pergi begitu saja dengan membawa sebagian bajunya, tanpa memberi tahu Aryan sama sekali.

“Maaf, aku ke nggak bilang kamu. Aku ke rumah kak Syerin kemarin dan nggak bilang apa-apa ke kamu.”

“Kenapa kamu tiba-tiba ke rumah kak Syerin?” Pertanyaan Aryan itu tidak memiliki jawaban yang pasti di dalam benak Karin. Karin ingin menceritakan yang sebenarnya pada Aryan soal kejadian Kina yang terjatuh, tapi Karin terlalu takut Aryan tidak akan mempercayainya.

It’s oke. Kita bahas itu nanti. Kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan.

Karin malah menggeleng, “Kak, kita harus bicara.”

“Soal apa?”

“Kamu nggak akan bikin kita semua khawatir lagi kan, Kak?” Di kedua mata Karin nampak sebuah kilatan bening. “Mama, papa, Nayna, om Rama, semuanya khawatir sama kamu.”

Setelah terdiam beberapa detik, Aryan pun mengeluarkan suaranya, “Iya, Karin. Aku nggak akan bikin kalian khawatir lagi. Aku janji,” ucap Aryan.

Karin yang duduk di hadapan Aryan, memperhatikan Aryan tengah menundukkan kepalanya. Fakta yang terungkap pasti sulit bagi Aryan saat ini, Karin bisa melihat bagaimana hancurnya lelaki itu.

Detik berikutnya, Aryan mendongakkan kepalanya dan menatap Karin tepat di iris matanya. “Karin, aku minta maaf sama kamu,” ujar Aryan dengan suara bergetar dan matanya yang nampak memerah dan berkaca-kaca. “Kamu harus mengandung, kamu harus siap menjadi ibu di usia yang muda. You trapped with me and I’ve ruined your life,” sambung Aryan.

Karin pun hanya menatap Aryan selama beberapa detik. Melihat Aryan seperti ini, entah mengapa Karin merasa sama hancurnya.

“Kak, ini bukan salah kamu. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu,” ucap Karin dengan nada lembutnya. “Apa yang udah terjadi, kita nggak bisa terus menyesalinya, Kak. Di balik ini semua, pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Buat kamu, buat aku, dan mungkin juga buat Kina. You don’t need to say sorry to me,” tambah Karin.

“Kamu ingat soal rencana kita buat mancing Kina?” tanya Karin.

Aryan pun mengangguk. “Iya, aku ingat. Kenapa?”

“Aku pikir itu berhasil. Waktu acara awards kemarin, Kina tiba-tiba nemuin aku di ruang tunggu. Aku mau jelasin ini ke kamu, tapi aku takut kamu nggak percaya sama aku,” ucap Karin.

Aryan lantas terdiam. Mungkin benar yang dikatakan oleh Karin. Bisa jadi saat itu Aryan tidak akan mempercayai penjelasan Karin. Aryan tahu di pikiran dan hatinya hanya ada sosok Kina dan dirinya terlalu buta untuk melihat sosok Kina yang sebenarnya.

“Karin, you can tell me. What is actually happened that night?” tanya Aryan.

Karin menatap Aryan, ia mengangguk dan mengatakan akan menceritakan semuanya. “Kina bilang, seharusnya piala itu jadi miliknya, bukan milikku. Kina yang harus menikah sama kamu, bukan aku. Aku harus menjauh dari kamu meskipun kita terikat pernikahan. Setelah Kina bilang semuanya, aku mau pergi dari sana, tapi Kina nahan aku. Dia bilang semuanya akan selesai kalau antara kita udah nggak ada seorang anak sebagai pengikat.”

Selanjutnya yang terjadi, Aryan hampir bisa menebaknya sendiri tanpa Karin menjelaskannya lebih lanjut. Karin memperhatikan reaksi Aryan setelah mendengar semuanya dari Karin. Lelaki itu terlihat sedang berusaha menahan amarahnya.

“Karin, aku akan memastikan Kina dapat pelajaran dari apa yang udah dia perbuat.”

“Maksudnya? Kamu mau bawa kasus ini ke jalur hukum?”

Aryan mengangguk, “Aku akan coba tanya pendapat ke kuasa hukum papa. Semuanya bisa diurus, aku akan mengusahakannya.”

Karin pun dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Aryan. Aryan terlihat sungguh-sungguh dan bertekad kuat atas apa yang dikatakannya sebelumnya.

Aryan kembali menatap Karin lekat, kemudian ia berujar, “Karin, aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak akan membiarkan semuanya selesai semudah ini. Kamu dan anak kita, kalian adalah prioritas utamaku. Aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kalian lagi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Pada sebuah papan besar yang berisi mood board para model, salah satu di sana terdapat nama Karina Titania. Di mood board itulah terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai oleh Karin dan dibawa berjalan di atas catwalk.

Sekitar dua minggu yang lalu, Karin beri tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan itu. Ia sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.

Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan cukup lancar. Di tempat itu, Karin bertemu dengan para model dari berbagai negara dan pastinya para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.

“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sambil memerhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih itu terlihat cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin's White Dress

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer itu. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.

I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager soon,” ucap Alicia lagi.

It's my plessure. Your design is very amazing. I will glad to wear it in next occassion,” balas Karin.

Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya dan Karin mengangguk tanda mengerti.

“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.

“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready bentar lagi.”

Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.

Kaki jenjang Karin membawanya ke menuju ke arah ruang tunggu yang di khususkan untuk keluarga para model. Ketika sampai di sana, mata langsung menangkap sosok yang begitu fameliar itu. Ketika Karin akan menghampirinya, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan langkah Karin.

Karin melihat ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Lelaki itu mengatakan kalau ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin pun membalas pesan Rey dan mengatakan Rey perlu menunggunya sebentar lagi.

Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana.

Lelaki itu lekas menghampiri Karin tanpa babibu. Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas denim jaket yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memerhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos kini telah tertutup dengan jaket itu.

“Acaranya udah selesai, kan? Biar kamu nggak kedinginan, pakai jaket aku ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.

“Udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.

Rupanya pertanyaan Karin barusan sukses memecah lamunan Aryan. “Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.

“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin.

Bahkan bibir Aryan sempat terbuka sedikit sebelumnya mendapati sosok Karin di hadapannya. Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.

“Kamu udah janjian sama Kina?” Karin bertanya pada Aryan.

“Udah. Cuma tadi ada asisten yang namanya Nia, dia tau aku suami kamu. Jadi dia saranin aku baut nunggu di sini. Aku udah coba telfon Kina, mungkin dia belum sempat pegang hp, jadi telfonku belum di angkat.”

Berbeda dengan yang diketahui oleh publik, mereka mengetahui bahwa Aryan adalah suaminya. Jadi sebelumnya Nia mengatakan pada Karin kalau ia melihat suaminya di ruang tunggu khusus keluarga para model. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin.

Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda untuk kali ini.

Aryan dan Karin akhirnya keluar dari ruang tunggu. Karin berniat mengantar Aryan ke backstage milik Kina, tapi langkah keduanya terhenti kala mendapati sosok Kina dari arah berlawanan.

“Sayang, maaf ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.

“Nggak papa,” balas Aryan sembari menorehkan senyumnya pada Kina.

Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang berada di samping Aryan. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.

Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu netranya menangkap sosok Rey di sana. Rey pun berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, Rey menatap Karin dengan tatapan bangganya.

You look so amazing tonight,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian nampak seulas senyum simpul pun terbentuk di wajah Rey.

Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau pikiran Karin, Rey pun berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempat liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey, kamu udah sempetin buat dateng.”

Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu pun sudah berada di hadapan Rey dan Karin.

“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.

Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.

I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir kalau publik curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.

Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini mengenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.

“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian rayain suksesnya fashion show aku dan Karin. Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”

***

Mereka berempat duduk berhadapan sembari menyantap sebuah hidangan makan malam yang di pesan dari restiran yang terletak di lantai bawah hotel ini.

“Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud untuk bersikap kayak gitu,” ujar Kina setelah meletakkan gelas minumannya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau kalau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina.

Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Ada kecanggungan pastinya. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf.

Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu mengangguk kecil dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja.

“Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, semua itu karena ketidaksengajaan.”

***

“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk bermain. Kina memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara Truth atau Dare.

Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.

Oke, I choose truth,” ujar Aryan.

Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan yang akan bertanya.

Did you have a crush before we met?” tanya Kina.

Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”

Can you give us more clue?”

Oke. The clue is you know her.”

Oh my god. Really?

Exactly. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just ... amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.

Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang memutar pulpennya dan tidak berapa lama kemudian benda itu berhenti menghadap tepat ke Rey.

Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.

Do you have a biggest secret in your life? Maybe you can only tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.

Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya ia berujar, “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.

Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini giliran Karin yang mendapat giliran.

I choose dare,” ucap Karin.

“Oke. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.

Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini. Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.

Mendengar ujaran Kina tersebut, seketika membuat Rey menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Keep calm, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”

“Kina, dengan lo bilang lo nggak ngeraguin pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.

“Lho, kalu gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.”

Is a dare, not a truth,” ujar Rey lagi.

“Kina, kamu bisa minta Karin lakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.

“Rey, it's oke,” ucap Karin sambil menatap Rey dan coba menenangkannya. “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare,” sambung Karin sembari mengalihkan tatapannya kepada Kina.

Well, it's a simple thing. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete.”

Ucapan Kina yang sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” ucap Aryan.

Kina menatap Aryan dan menyipitkan matanya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan sama Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan,” balas Kina tetap bersikap keras kepala.

Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.

“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik untuk kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.

“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama iniKak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku dan Rey permisi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Pada sebuah papan besar yang berisi mood board para model, salah satu di sana terdapat nama Karina Titania. Di mood board itulah terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai oleh Karin dan dibawa berjalan di atas catwalk.

Sekitar dua minggu yang lalu, Karin beri tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan itu. Ia sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.

Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan cukup lancar. Di tempat itu, Karin bertemu dengan para model dari berbagai negara dan pastinya para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.

“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sambil memerhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih itu terlihat cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin's White Dress

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer itu. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.

I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager soon,” ucap Alicia lagi.

It's my plessure. Your design is very amazing. I will glad to wear it in next occassion,” balas Karin.

Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya dan Karin mengangguk tanda mengerti.

“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.

“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready bentar lagi.”

Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.

Kaki jenjang Karin membawanya ke menuju ke arah ruang tunggu yang di khususkan untuk keluarga para model. Ketika sampai di sana, mata langsung menangkap sosok yang begitu fameliar itu. Ketika Karin akan menghampirinya, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan langkah Karin.

Karin melihat ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Lelaki itu mengatakan kalau ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin pun membalas pesan Rey dan mengatakan Rey perlu menunggunya sebentar lagi.

Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana.

Lelaki itu lekas menghampiri Karin tanpa babibu. Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas denim jaket yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memerhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos kini telah tertutup dengan jaket itu.

“Acaranya udah selesai, kan? Biar kamu nggak kedinginan, pakai jaket aku ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.

“Udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.

Rupanya pertanyaan Karin barusan sukses memecah lamunan Aryan. “Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.

“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin.

Bahkan bibir Aryan sempat terbuka sedikit sebelumnya mendapati sosok Karin di hadapannya. Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.

“Kamu udah janjian sama Kina?” Karin bertanya pada Aryan.

“Udah. Cuma tadi ada asisten yang namanya Nia, dia tau aku suami kamu. Jadi dia saranin aku baut nunggu di sini. Aku udah coba telfon Kina, mungkin dia belum sempat pegang hp, jadi telfonku belum di angkat.”

Berbeda dengan yang diketahui oleh publik, mereka mengetahui bahwa Aryan adalah suaminya. Jadi sebelumnya Nia mengatakan pada Karin kalau ia melihat suaminya di ruang tunggu khusus keluarga para model. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin.

Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda untuk kali ini.

Aryan dan Karin akhirnya keluar dari ruang tunggu. Karin berniat mengantar Aryan ke backstage milik Kina, tapi langkah keduanya terhenti kala mendapati sosok Kina dari arah berlawanan.

“Sayang, maaf ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.

“Nggak papa,” balas Aryan sembari menorehkan senyumnya pada Kina.

Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang berada di samping Aryan. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.

Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu netranya menangkap sosok Rey di sana. Rey pun berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, Rey menatap Karin dengan tatapan bangganya.

You look so amazing tonight,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian nampak seulas senyum simpul pun terbentuk di wajah Rey.

Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau pikiran Karin, Rey pun berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempat liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey, kamu udah sempetin buat dateng.”

Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu pun sudah berada di hadapan Rey dan Karin.

“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.

Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.

I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir kalau publik curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.

Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini mengenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.

“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian rayain suksesnya fashion show aku dan Karin. Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”

***

Mereka berempat duduk berhadapan sembari menyantap sebuah hidangan makan malam yang di pesan dari restiran yang terletak di lantai bawah hotel ini.

“Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud untuk bersikap kayak gitu,” ujar Kina setelah meletakkan gelas minumannya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau kalau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina.

Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Ada kecanggungan pastinya. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf.

Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu mengangguk kecil dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja.

“Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, semua itu karena ketidaksengajaan.”

***

“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk bermain. Kina memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara Truth atau Dare.

Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.

Oke, I choose truth,” ujar Aryan.

Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan yang akan bertanya.

Did you have a crush before we met?” tanya Kina.

Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”

Can you give us more clue?”

Oke. The clue is you know her.”

Oh my god. Really?

Exactly. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just ... amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.

Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang memutar pulpennya dan tidak berapa lama kemudian benda itu berhenti menghadap tepat ke Rey.

Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.

Do you have a biggest secret in your life? Maybe you can only tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.

Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya ia berujar, “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.

Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini giliran Karin yang mendapat giliran.

I choose dare,” ucap Karin.

“Oke. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.

Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini. Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.

Mendengar ujaran Kina tersebut, seketika membuat Rey menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Keep calm, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”

“Kina, dengan lo bilang lo nggak ngeraguin pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.

“Lho, kalu gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.”

Is a dare, not a truth,” ujar Rey lagi.

“Kina, kamu bisa minta Karin lakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.

“Rey, it's oke,” ucap Karin sambil menatap Rey dan coba menenangkannya. “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare,” sambung Karin sembari mengalihkan tatapannya kepada Kina.

Well, it's a simple thing. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete.”

Ucapan Kina yang sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” ucap Aryan.

Kina menatap Aryan dan menyipitkan matanya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan sama Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan,” balas Kina tetap bersikap keras kepala.

Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.

“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik dan kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.

“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama iniKak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku dan Rey permisi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin menginap di rumah Syerin dan belum tau kapan akan kembali. Rasanya Karin tidak ingin melihat Aryan. Ia terlalu takut dengan rasa sakit yang akan menghampirinya, entah untuk alasan apa Karin merasakannya. Harusnya Karin merasa baik-baik saja, toh sejatinya yang dilakukan Aryan sesuai dengan apa kata hatinya. Aryan jelas akan lebih memihak pada Kina apapun yang mungkin terjadi.

Karin teralihkan dari pikirannya begitu ponselnya berbunyi. Kali ini bukan Aryan yang coba menghubunginya, melainkan Nayna. Karin menatap layar ponselnya sesaat, ia tidak kunjung menjawab telfonnya sampai akhirnya sambungan tersebut terputus dengan sendirinya.

Rupanya tidak sampai lima detik kemudian, Nayna kembali menghubunginya. Karin akhirnya memutuskan mengangkat telfon itu, hatinya mendorongnya untuk melakukannya dan mungkin ada sesuatu penting yang akan disampaikan Nayna.

“Halo … Kak Karin,” ujar Nayna dengan suaranya yang terdengar panik.

“Halo Nay? Ada apa Nay?” balas Karin.

“Kak, koko baru aja tau soal pelaku dibalik kejadian di Bali.”

“Kak?” panggil Nayna lagi setelah Karin hanya terdiam.

“Iya Nay?”

“Kak, are you okay?

Setelah Nayna menjelaskan lebih detail mengenai kronologi kejadiannya, Karin tidak menyahuti panggilan Nayna di ujung sana. Karin masih terlalu shock dan tidak tahu harus memberikan respon apa.

“Nayna, kamu tau Kak Aryan sekarang di mana?”

“Barusan koko pergi Kak setelah tau semuanya. Papa sama om Rama coba cegah, tapi koko keburu pergi. Koko nggak pulang ke apartemen Kak?”

***

Karin memutuskan untuk kembali ke apartemen dengan membawa koper yang berisi sebagian bajunya. Begitu sampai di sana, Karin langsung mencari sosok Aryan. Namun kekhawatiran Nayna beberapa saat lalu benar terbukti. Aryan tidak pulang ke apartemen. Saat ini Karin merasakan hal yang sama, ia juga khawatir pada Aryan.

Karin mengambil ponselnya di tasnya, ia mencoba menelfon Aryan berkali-kali. Karin menunggu Aryan menjawabnya dengan harap cemas, tapi hasilnya nihil. Aryan tidak menjawab panggilannya dan pesan yang Karin kirimkan juga tidak dibaca.

Karin memang kecewa dengan keadaan yang terjadi. Setelah mengetahui pelaku di balik kejadian malam itu dan apa motifnya, tentu membuat Kairn merasa marah dan kecewa. Namun usai semua itu, Karin justru tetap memikirkan keadaan Aryan,

Sebuah pemikiran tiba-tiba terlintas di benak Karin. Karin pun memutuskan meminta bantuan seseorang untuk membantunya mencari keberadaan Aryan. Karin tidak ingin tidak ingin sesuatu yang tidak diharapkan terjadi kepada Aryan.

***

Karin memutuskan untuk kembali setelah hampir jam ia dan Leon mencari Aryan. Mereka telah mendatangi beberapa tempat yang kemungkinan jadi tujuan Aryan. Tempat terakhir adalah apartemen Kina. Leon yang turun ke sana, sementara Karin tetap di mobil. Sekembalinya Leon ke mobil, tatapan lelaki itu sudah dapat menjelaskan semuanya.

“Gimana Rin? Masih mau cari lagi?” tanya Leon begitu mereka sudah dalam perjalanan.

“Leon, tolong anter gue pulang aja ya,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Rin, lo yakin? Kita masih bisa cari Aryan kalau lo mau.”

“Gue yakin nanti Kak Aryan bakal balik. Gue percaya dia nggak ngelakuin hal yang kita semua khawatirkan.”

***

Karin sampai di apartemen dan memutuskan untuk tidur setelah mengganti pakaiannya. Saat ini waktu menunjukkan pukul 10 malam dan belum ada tanda-tanda Aryan kembali. Karin beberapa kali turun ke lantai bawah untuk mengecek, tapi lagi-lagi hanya udara kosong yang menyambutnya.

Karin merebahkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar sembari memanjatkan doa di dalam hatinya. Karin ingin Tuhan melindungi Aryan dengan segala yang telah terjadi dan semoga Aryan masih dapat berpikir jernih lalu memutuskan untuk kembali.

Tengah malam ketika Karin terjaga dari tidurnya, ia melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah. Saat netranya menangkap sosok dari arah balkon, Karin segera menuju ke sana. Meskipun lampu ruang tamu tidak dinyalakan, Karin tetap bisa melihat dari pintu kaca balkon bahwa Aryan tengah berada di sana. Dengan sebuah vape di satu tangannya, Aryan menghembuskan uap dari benda tersebut.

Karin masih berdiri di depan pintu ketika Aryan menyadari kehadirannya. Keduanya lalu saling bertatapan selama beberapa detik, hingga akhirnya Karin menggeser pintu kaca balkon dan kini berada tepat di depan Aryan.

“Karin, kamu ngapain di sini? Kamu masuk ya, angin di sini kenceng,” ujar Aryan sembari mematikan vapenya lalu memasukkannya ke kantung leather jaketnya.

Karin malah menghembuskan napasnya yang terdengar lega. “Kak, semua orang khawatir sama kamu lho,” ujar Karin sambil menatap Aryan lekat-lekat.

“Khawatir soal apa?” tanya Aryan.

“Waktu kamu tau semuanya, Nayna bilang kamu langsung pergi gitu aja. Nayna nelfon aku dan aku langsung pulang, tapi kamu nggak ada. Aku cari kamu sama Leon ke beberapa tempat, sampai ke apartemen Kina, tapi kamu juga nggak ada di sana.”

Aryan dapat melihat guratan kekhawatiran di wajah Karin. Aryan maju selangkah, lalu ia mengarahkan tangannya untuk mengusap bahu Karin sekilas.

“Aku nggak papa, Karin,” ucap Aryan.

Karin akhirnya mengangguk, lalu ia sedikit mendongak untuk menatap Aryan tepat di matanya, “Kamu kenapa nggak jawab telfonku? Jam berapa kamu pulang? Kenapa nggak bangunin aku biar aku tau kamu udah pulang?” tanya Karin bertubi-tubi.

“Waktu aku nyampe tadi, aku langsung ke atas, aku liat kamu udah tidur. Koper kamu juga ada di sana. Kamu udah pulang dan tidur nyenyak banget, aku nggak tega bangunin,” jelas Aryan.

Karin baru teringat. Kemarin ia pergi begitu saja dengan membawa sebagian bajunya, tanpa memberi tahu Aryan sama sekali.

“Maaf, aku ke nggak bilang kamu. Aku ke rumah kak Syerin dan pergi gitu aja.”

“Kenapa kamu tiba-tiba ke rumah kak Syerin?” Pertanyaan Aryan itu tidak memiliki jawaban yang pasti di dalam benak Karin. Karin ingin menceritakan yang sebenarnya pada Aryan soal kejadian Kina yang terjatuh, tapi Karin terlalu takut Aryan tidak akan mempercayainya.

It’s oke. Kita bahas itu nanti. Kamu tidur lagi ya,” tutur Aryan.

Karin malah menggeleng, “Kak, kita harus bicara.”

“Soal apa?”

“Kamu nggak akan bikin kita semua khawatir lagi kan, Kak?” Di kedua mata Karin nampak sebuah kilatan bening. “Mama, papa, Nayna, om Rama, semuanya khawatir sama kamu.”

Setelah terdiam beberapa detik, Aryan pun mengeluarkan suaranya, “Iya, Karin. Aku nggak akan bikin kalian khawatir lagi. Aku janji,” ucap Aryan.

Karin yang duduk di hadapan Aryan, memperhatikan Aryan tengah menundukkan kepalanya. Fakta yang terungkap pasti sulit bagi Aryan saat ini, Karin bisa melihat bagaimana hancurnya lelaki itu.

Detik berikutnya, Aryan mendongakkan kepalanya dan menatap Karin tepat di iris matanya. “Karin, aku minta maaf sama kamu,” ujar Aryan dengan suara bergetar dan matanya yang nampak memerah dan berkaca-kaca. “Kamu harus mengandung, kamu harus siap menjadi ibu di usia yang muda. You trapped with me and I’ve ruined your life,” sambung Aryan.

Karin pun hanya menatap Aryan selama beberapa detik. Melihat Aryan seperti ini, entah mengapa Karin merasa sama hancurnya.

“Kak, ini bukan salah kamu. Kamu nggak boleh bilang kayak gitu,” ucap Karin dengan nada lembutnya. “Apa yang udah terjadi, kita nggak bisa terus menyesalinya, Kak. Di balik ini semua, pasti ada pelajaran yang bisa diambil. Buat kamu, buat aku, dan mungkin juga buat Kina. You don’t need to say sorry to me,” tambah Karin.

“Kamu ingat soal rencana kita buat mancing Kina?” tanya Karin.

Aryan pun mengangguk. “Iya, aku ingat. Kenapa?”

“Aku pikir itu berhasil. Waktu acara awards kemarin, Kina tiba-tiba nemuin aku di ruang tunggu. Aku mau jelasin ini ke kamu, tapi aku takut kamu nggak percaya sama aku,” ucap Karin.

Aryan lantas terdiam. Mungkin benar yang dikatakan oleh Karin. Bisa jadi saat itu Aryan tidak akan mempercayai penjelasan Karin. Aryan tahu di pikiran dan hatinya hanya ada sosok Kina dan dirinya terlalu buta untuk melihat sosok Kina yang sebenarnya.

“Karin, you can tell me. What is actually happened that night?” tanya Aryan.

Karin menatap Aryan, ia mengangguk dan mengatakan akan menceritakan semuanya. “Kina bilang, seharusnya piala itu jadi miliknya, bukan milikku. Kina yang harus menikah sama kamu, bukan aku. Aku harus menjauh dari kamu meskipun kita terikat pernikahan. Setelah Kina bilang semuanya, aku mau pergi dari sana, tapi Kina nahan aku. Dia bilang semuanya akan selesai kalau antara kita udah nggak ada seorang anak sebagai pengikat.”

Selanjutnya yang terjadi, Aryan hampir bisa menebaknya sendiri tanpa Karin menjelaskannya lebih lanjut. Karin memperhatikan reaksi Aryan setelah mendengar semuanya dari Karin. Lelaki itu terlihat sedang berusaha menahan amarahnya.

“Karin, aku akan memastikan Kina dapat pelajaran dari apa yang udah dia perbuat.”

“Maksudnya? Kamu mau bawa kasus ini ke jalur hukum?”

Aryan mengangguk, “Aku akan coba tanya pendapat ke kuasa hukum papa. Semuanya bisa diurus, aku akan mengusahakannya.”

Karin pun dapat melihat kesungguhan yang terpancar dari mata Aryan. Aryan terlihat sungguh-sungguh dan bertekad kuat atas apa yang dikatakannya sebelumnya.

Aryan kembali menatap Karin lekat, kemudian ia berujar, “Karin, aku melakukannya untuk kamu. Aku nggak akan membiarkan semuanya selesai semudah ini. Kamu dan anak kita, kalian adalah prioritas utamaku. Aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kalian lagi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷