alyadara

Selama dalam perjalanan pulang, Dara tidak mendapat banyak penjelasan dari Karin. Karin hanya mengatakan bahwa ia sama sekali tidak mendorong Kina. Kejadian yang terlihat nyatanya bukan seperti itu.

Karin pun tidak bisa menjelaskan pada Dara tentang hatinya yang sakit begitu Aryan pergi bersama Kina dan hanya meninggalkan tatapan kecewa pada Karin.

Saat ini jam sudah menunjukkan pukul 1 malam. Karin berada di ruang tamu, ia menunggu Aryan untuk kembali. Namun kenyataan seperti terasa menampar Karin. Ia lekas bertanya pada dirinya sendiri, kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa ia harus mengharapkan Aryan kembali? Kina jelas punya posisi yang lebih tinggi darinya di hidup Aryan. Sementara Karin? Karin pun tidak merasa bahwa Aryan perlu mempercayai penjelasannya.

Karin tidak dapat lagi membendung air matanya. Perempuann itu terisak, mengeluarkan semua rasa perih dan kesalnya yang kini terasa menjadi satu. Aryan … kenapa lelaki itu dapat membuatnya sesakit ini?

***

Pagi harinya sekitar pukul delapan, Aryan baru kembali ke apartemennya. Semalam Kina meminta untuk ditemani, sehingga Aryan memutuskan tinggal malam itu di rumah Kina.

Begitu Aryan sampai, ia tidak menemukan Karin di setiap penjuru apertemen. Setelah mengecek ponselnya dan tidak menemukan pesan apa pun dari Karin, Aryan segera melangkahkan kakinya ke lantai atas.

Aryan membuka lemari pakaian dan menemukan sebagian pakaian Karin telah tiada dari sana. Sebuah koper di atas lemari yang biasa ada di sana, tidak juga Aryan temukan. Aryan pun mencoba untuk menghubungi Karin, tapi ia tidak mendapat jawaban apa pun.

Begitu Aryan akan melangkahkan kakinya turun ke lantai bawah, sebuah telfon masuk ke ponselnya menahannya. Itu adalah telfon dari papanya. Aryan pun lekas mengangkatnya dan mendengarkan semua yang papanya ucapkan dengan seksama.

“Oke Pah, Aryan ke sana sekarang ya,” ucap Aryan setelah papanya selesai berbicara. Sambungan telfon pun di akhiri dan Aryan bergegas keluar dari apartemennya sambil membawa kunci mobilnya.

Barusan melalui telfon, papanya mengatakan bahwa orang suruhannya telah menemukan dalang di balik kejadian di Bali. Tidak hanya itu, mereka juga berhasil mendapatkan orang suruhan di balik kejadian yang menimpa Aryan dan Karin malam itu.

***

Aryan menatap perempuan di hadapannya dengan tatapan datar dan dinginnya. Bagaimana tidak, sesaat lagi Aryan akan mendengarkan secara langsung dari perempuan itu mengenai apa yang terjadi di Bali. Perempun berambut sebahu di depannya ini adalah sosok yang telah membawa Karin ke kamarnya malam itu.

Air muka Aryan nampak memerah karena menahan amarah, rahangnya pun terlihat mengeras. Rama, kepala bodyguard papanya yang mengamati hal tersebut, berusaha mencegah sesuatu yang tidak diinginkan terjadi.

“Indira, silakan kamu jelaskan pada Aryan soal kejadian itu. Saya minta kamu mengatakan selengkap-lengkapnya, tanpa ada yang kamu tutupi,” ujar Rama.

Aryan nampak asing mendengar nama yang Rama sebutkan barusan, terlihat sebuah kerutan di kening lelaki itu. Aryan pun mengalihkan tatapannya pada orang kepercayaan papanya itu. “Om, dia bukannya Arumi? Terus Arumi Lestari itu siapa?” tanya Aryan.

“Kamu dengarkan dulu penjelasannya, Aryan. Indira, silakan,” ujar Aryo menjawab pertanyaan yang dilontarkan Aryan. Papanya itu melayangkan tatapan tegasnya pada Aryan, meminta Aryan untuk bersabar dan mendengarkan penjelasan dari Indira.

Indira kini mengangkat kepalanya yang sebelumnya tertunduk. Ia mendapati Aryan menatapnya dingin dan kilatan di matanya sangat menggambarkan sebuah amarah. Tania berdeham sekilas, sebelum akhirnya perempuan itu berani membuka suaranya, “Kejadian di Bali waktu itu, semuanya direncanakan. Saya diminta seseorang untuk melakukannya.”

“Siapa orang yang nyuruh kamu?” tanya Aryan.

“Orang yang nyuruh saya ingin menjatuhkan Karina dengan cara menjebaknya untuk tidur dengan pria lain. Tapi rencana malam itu nggak sepenuhnya berhasil.”

Aryan menghembuskan napasnya kasar. Apa yang barusan diucapkan Indira benar-benar membuatnya kehilangan kata-kata. Rupanya Indira juga adalah orang yang mencampur minuman Karin dengan obat perangsang. Rencana sudah disusun, tapi kenyataannya tidak semulus yang diharapkan.

“Rencananya nggak berhasil karena seharusnya bukan kamu laki-laki yang terjebak dengan Karin malam itu. Setelah membawa Karin ke sana, ternyata ada satu kesalahan. Key card yang diberikan Shakina salah, jadi Karin malah pergi ke kamar kamu.”

Saat Aryan melayangkan tatapan menghunusnya ke arah Indira, perempuan berusia 25 tahun itu nampak ketakutan. Aryo dan Rama pun segera menahan Aryan yang hendak menghampiri Indira dan mencegah sesuatu yang mungkin bisa saja terjadi.

“Aryan, kamu tenang dulu. Kasih waktu untuk Indira jelasin sampai selesai,” ujar Aryo.

“Apa maksud kamu membawa nama Shakina?” ucap Aryan dengan nadanya yang terdengar sedikit bergetar.

Aryan kembali duduk di bangkunya setelah ditenangkan oleh Aryo dan Rama. Aryan menghela napasnya dan menghembuskannya secara kasar, tatapannya kini kembali menatap Indira dengan intens.

Beberapa detik setelahnya, Indira pun kembali berujar, “Shakina menginginkan project Clairs Beauty di Bali waktu itu. Tapi karena Karin yang akhirnya mendapatkan project itu, Kina meminta saya untuk menjebak Karin. Saya nggak punya pilihan, saya butuh uang dan jumlah yang Kina tawarkan sangat cukup untuk biaya berobat ibu saya di rumah sakit. Saya terpaksa menerima pekerjaan itu.”

Indira melakukannya karena ingin mendapatkan uang dari orang yang menyuruhnya, yakni Shakina. Arumi Lestari yang merupakan ibu dari Indira, beliau harus menjalani pengobatan di rumah sakit dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Hal tersebut yang mendasari Indira menerima tawaran yang diajukan kepadanya.

“Saat Shakina tau Karin hamil, dia semakin membenci Karin. Karin mengandung anak pacarnya sendiri, Kina menyalahkan semua yang telah terjadi,” jelas Indira lagi.

Soal rumor perselingkuhan Aryan dan Karin di internet, Indira menjelaskan bahwa Kina sengaja merekayasa rumor tersebut untuk membuat seolah Karinlah yang bersalah. Kina ingin isu yang tersebar adalah Karin yang merebut kekasihnya sampai berujung dirinya mengandung anak dari pacar orang lain.

Aryan terlihat memejamkan matanya sejenak. Rasanya beribu tamparan kini seperti menghujam dirinya. Aryan tidak dapat berpikir dengan jernih. Fakta yang terungkap barusan berhasil membuatnya malu terhadap dirinya sendiri. Aryan tidak dapat memikirkan bagaimana jika Karin mengetahui semuanya, mungkin perempuan itu akan jauh lebih sakit ketimbang dirinya sekarang.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Malam ini sebuah acara bergengsi diadakan oleh Musse, yakni salah satu platform sosial media yang ternama. Musse sendiri merupakan platform sosial media yang berbasis video yang mewadahi para content creator Indonesia hingga dunia untuk berkarya dan menunjukkan kreativitasnya.

Musse Awards tahun ini digelar di salah satu gedung stasiun televisi yang cukup terkenal dan disiarkan secara live. Perhelatan meriah tersebut tidak hanya diisi dengan pembacaan nominasi dan pemberian hadiah bagi para pemenang, tapi juga ada penampilan spesial dari penyanyi papan atas.

Pembacaan nominasi dan pengumuman pemenang, diselingi dengan penampilan dari para performance. Para pemenang akan menaiki panggung untuk diberikan penghargaan dari kategori masing-masing. Kini tiba saatnya untuk pembacaan nominasi untuk kategori Top Beauty Influencer. Kategori tersebut merupakan alasan bagi Karin dan beberapa beauty influencer lainnya untuk datang ke acara ini. Mereka yang masuk ke dalam kategori mendapat undangan khusus untuk bisa menghadari Musse Awards.

Dari panggung di depan sana, dua orang pembaca nominasi akan membacakan pemenang kategori Top Beauty Influencer yang didapat hasil dari voting audiens.

“Setelah melihat siapa saja yang mengisi kategori top beauty influncer, berikut kami akan membacakan pemenang dari hasil voting,” ujar salah satu MC.

“Baiklah, pemenang kategori top beauty influencer Musse Awards 2043 diberikan kepada Karina Titania Roland. Kepada Karina, kami persilakan untuk menerima penghargaan di atas panggung.”

***

Karin menatap piala penghargaan yang kini berada di tangannya dan sebuah senyum terulas di wajahnya. Mungkin ini hanya sebuah simbol dengan ukiran namanya di sana. Namun bagi Karin ini lebih dari itu. Usaha dan ketekunannnya selama ini telah membuahkan hasil dan Karin cukup bangga dengan apa yang telah ia capai.

Karin kini tengah menunggu Dara yang sedang pergi ke toilet. Managernya itu memintanya untuk berada di ruang tunggu sebelum nanti mereka keluar dari gedung bersama. Acara malam ini telah selesai, beberapa teman-teman sejawat Karin ada yang sudah pulang dan sebagian memilih mengadakan acara after party seusai acara awards ini.

Tiba-tiba sebuah bunyi pintu yang dibuka dan suara langkah kaki yang mendekat, membuat Karin menoleh. Di ruangan itu yang sebelumnya hanya ada dirinya, kini terlihat sosok Shakina yang berjalan ke arah Karin dengan sebuah senyum tipis di bibir penuhnya.

Begitu Shakina sampai di hadapan Karin, perempuan bersurai coklat gelap sepunggung itu berdeham sebelum akhirnya berujar, “Jadi ini alasan kamu bisa jadi mapres dan mendapatkan segalanya yang kamu inginkan. Aku akuin, kamu emang pintar Karin. Kamu pintar untuk memanfaatkan keadaan,” ujar Kina.

Karin hanya menatap Kina dan mencerna ucapannya. Kedatangan Kina secara tiba-tiba ke ruangan yang dikhususkan untuknya ini, membuat Karin sedikit terkejut. Namun Karin berusaha menutupi itu, ia membiarkan Kina untuk menyelesaikan ucapannya.

“Piala yang kamu pegang sekarang, harusnya jadi milik aku. Orang yang kamu anggap sebagai suami kamu sekarang, dia yang nawarin kamu kesepakatan buat bercerai, tapi kamu tetap bersedia untuk menikah sama dia. Dia ngelakuin semua itu demi aku, Karin,” Kina menjeda ucapannya beberapa saat dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.

Setelah menghembusan napasnya dengan sedikit kasar, Kina kembali berujar, “Dia nggak peduli sama kamu, dia cuma peduli sama anaknya yang ada di kandungan kamu. Between you and him, itu semua cuma kecelakaan. So you better watch what you’re doing with my boyfriend,” ucap Kina sambil tidak melepas tatapannya dari Karin sedikitpun.

“Kamu udah selesai?” tanya Karin setelah ia menahan dirinya untuk tetap diam.

Kina tidak menjawab Karin, jadi Karin kembali membuka suaranya, “Kalau kamu udah selesai dengan ucapan kamu, aku permisi.”

Karin pun hendak melangkahkan kakinya melewati Kina, tapi pergerakannya tersebut ditahan oleh Kina yang kini memegang pergelangan tangannya.

“Kamu pikir, kamu bisa pergi gitu aja? Kamu pikir aku rela kamu dan Aryan menikah?”

Karin balas menatap Kina, dengan tatapan tenangnya, Karin pun berujar, “Aku nggak berniat ikut campur dalam hubungan kamu dan Kak Aryan. Andaikan aja malam itu kamu nggak nolak lamarannya, mungkin dia nggak akan menikahi perempuan lain. Kalau emang kamu benar-benar cinta sama Kak Aryan, harusnya kamu nggak menyakiti hatinya malam itu.”

Mendengar ucapan Karin bahkan dengan nadanya yang tenang, rupanya sukses membuat emosi Kina tersulit. Kilatan amarah di mata Kina terpancar, lalu detik berikutnya Kina mengarahkan tangannya lalu mendarat mulus di pipi Karin.

Karin merasakan pipinya memanas. Kina baru saja menamparnya. Karin nampak menundukkan kepalanya, ia berusaha menahan rasa perih itu dan air matanya yang hampir saja terdorong keluar dari pelupuk matanya.

Tanpa mengucapkan apapun lagi, Karin pun memutuskan untuk melangkah melewati Kina begitu saja. Namun belum sampai Karin di pintu, Kina lebih dulu menarik lengannya dan mencengkramnya erat.

“Dari awal semua permalasahan akan beres kalau bayi di kandungan kamu nggak ada. Bayi itu yang udah halangin hubungan aku dan Aryan,” ucap Kina dengan nada pelannya di dekat telinga Karin.

Kina kini tersenyum penuh kemenangan pada Karin yang tidak bisa berkutik di tempatnya. Karin sangat tahu apa yang akan Kina lakukan dan Karin hanya memikirkan anaknya saat ini. Dengan segala usaha Karin untuk lepas dari Kina, akhirnya Karin pun berhasil melakukan perlawanan dan meloloskan dirinya.

Rintihan kesakitan pun keluar dari mulut Kina bertepatan dengan pintu ruangan yang dibuka. Di sana nampak beberapa staff yang kini melihat kejadian tersebut. Kina terjatuh di lantai berkat usaha Karin melakukan perlawanan dan kakinya terkilir karena Kina mengenakan high heels yang cukup tinggi.

Belum selesai dengan semua itu, Karin mendapati kehadiran Aryan di sana yang rupanya sedari tadi tengah berusaha untuk menghubunginya. Aryan melayangkan tatapannya pada Karin selama beberapa detik sebelum akhirnya menatap ke arah Kina.

Karin menyaksikannya. Aryan berlutut di dekat Kina dan saat itu juga Kina mengatakan bahwa Karin-lah yang baru saja mendorongnya.

“Aryan, kaki aku sakit,” ujar Kina sambil menatap Aryan.

“Pelan-pelan ya,” ucap Aryan sambil perlahan membantu Kina untuk bangun dari posisinya. Kina mengatakan ia tidak bisa berjalan, jadi Aryan memutuskan untuk menggendongnya.

Tepat sebelum Aryan pergi membawa Kina dari sana, Dara pun muncul. Manager Karin itu meminta para staff untuk memberinya jalan. Ketika melihat Karin, Dara otomatis melayangkan tatapannya khawatirnya.

“Karin, lo nggak papa, kan? Ada kejadian apa sih barusan?” ujar Dara. Pandangan Dara juga tidak luput dari Aryan dan Kina. Seolah mengerti dengan situasinya, Dara pun segera mengajak Karin pergi dari sana. Namun Karin masih berada di sana, ia mendapati tatapan kecewa yang Aryan tujukan padanya.

“Karin, lo bisa jelasin apa yang sebenarnya terjadi ke gue. Oke?” bujuk Dara begitu Aryan dan Kina telah berlalu dari sana.

Karin belum menjawab pertanyaan managernya. Dara pun memperhatikan mata Karin yang kini nampak berkaca-kaca. Karin masih termangu di sana dengan semua rasa sakit yang tiba-tiba terasa meremas hatinya, menggantikan rasa perih di pipinya berkat tamparan Kina bebera saat lalu.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Ini sudah sepekan berlalu sejak acara fashion parade di Singapore. Dari kecurigaan yang Karin ungkapkan kepada Aryan, keduanya berencana untuk melakukan suatu tes. Mereka akan berkencan malam ini, tepat sekali di malam minggu. Ide ini Aryan yang mengungkapkannya. Memang di awal terdengar sedikit aneh, tapi Aryan punya tujuan dari rencananya tersebut.

Malam ini Aryan dan Karin sudah berencana untuk keluar makan malam bersama. Sebuah restoran grill dan barbeque pun menjadi pilihan keduanya.

“Kak, kamu yakin tes ini bisa berhasil?” tanya Karin begitu di hadapannya dan Aryan tersaji berbagai hidangan daging yang siap untuk di panggang sendiri.

Aryan terlihat mengambil satu jenis daging yang tadi ditunjuk Karin, lelaki itu akan memanggangnya.

“Kemungkinan berhasilnya delapan puluh persen. Aku tau Kina orang yang seperti apa,” ujar Aryan.

Karin pun mengulaskan senyumnya sekilas. “Alright,” ujar Karin sembari menuangkan minuman di gelasnya dan kemudian di gelas Aryan.

Beberapa menit berlalu, daging yang dipanggang oleh Aryan pun telah matang. Aryan lekas mengasurkan daging itu ke piring milik Karin lalu setelah itu ke piring miliknya sendiri . Keduanya lantas menikmati makanan dengan tenang. Karin makan dengan lahap dan lumayan banyak, matanya nampak berbinar ketika merasakan daging lembut dan nikmati yang tengah disantapnya.

“Kak, soal yang di Singapore, aku akan ceritain ke kamu detail yang aku denger,” ujar Karin setelah beberapa menit mereka menyantap makanan. Beberapa piring kecil yang sebelumnya berisi daging kini sedikit lagi hampir tandas.

“Kamu makan aja dulu, Karin,” ucap Aryan sambil tertawa pelan. “Habis kita makan, kamu bisa cerita ke aku. Alright?”

“Oke.”

***

Karin mengatakan bahwa perutnya kenyang sekali. Beberapa bulan yang lalu sejak tahu dirinya hamil, Karin tidak bisa makan daging kesukaannya. Sekarang saat rasa mualnya sudah berangsur berkurang di usia 12 minggu kandungannya, Karin dapat kembali menikmati makanan kesukaannya itu.

Karin menjadi kalap makan tadi, hingga kini mereka memutuskan untuk berjalan di alun-alun kota. Karin mengatakan pada Aryan bahwa dengan berjalan biasanya makanannya akan cepat turun dan begah di perutnya akan menghilang.

“Karin,” ujar Aryan yang membuat langkah Karin berhenti.

Karin mengalihkan atensinya dari pemandangan gedung dan lampu kota Jakarta kepada Aryan yang berada di sampingnya.

“Kenapa Kak?”

“Kamu mau foto di sini? Lampunya bagus untuk jadi background,” ucap Aryan.

“Boleh. Kamu fotoin yang bagus ya.”

“Iya.”

Sesi berfoto itu pun berlangsung dengan Karin yang berpose candid. Latar di belakangnya adalah lampu-lampu kota yang memiliki perpaduan warna yang nampak cantik. Karin melihat hasil fotonya yang Aryan ambil, perempuan itu mengatakan hasilnya lumayan bagus.

“Kak, gantian aku fotoin kamu.”

“Mau ngapan kamu foto aku?”

Karin pun nampak berpikir, alisnya sedikit menyatu. “Buat bahan tes kita malam ini dong, Kak. Nanti aku upload di Instagram story. Kalau malam ini nggak ada dokumentasinya, percuma, kan?”

Alright. Kamu bisa fotoin aku.” Aryan pun menyetujui ide tersebut.

***

Saat hari mulai beranjak semakin malam, Aryan dan Karin memutuskan untuk pulang. Mereka berada di dalam mobil dengan mesin yang dinyalakan dan baru saja menghabiskan dua mangkuk es buah yang dibeli di dekat alun-alun. Karin yang memintanya dan Aryan menurutinya. Karin mengatakan kalau dirinya lapar lagi, akhirnya Aryan mengikuti Karin dan mereka berakhir menikmati es buah di dalam mobil.

Karin mengatakan sebelum Aryan menjalankan mobilnya, Karin akan menceritakan detail yang ia dengar waktu di Singapore. “Aku nggak sengaja dengar info itu dari beberapa teman model lainnya. Di industri ini, hal kayak gitu memang udah lumrah. Apalagi kalau seseorang punya privilege tersebut, kecil kemungkinan untuk dia nggak menggunakan kesempatan itu. Selain itu, dua hari lalu aku dapat info dari Fannia, PR Clairs Beauty yang bersedia membantu kita cari tau soal Arumi.”

“Fannia bilang apa?”

Karin mengubah posisi duduknya sedikit untuk sepenuhnya menghadap Aryan. “Jadi sebelum Clairs dealing sama aku buat project di Bali, ada model yang menginginkan job itu. Aku nggak tau mekanismenya gimana, tapi akhirnya Clairs dealing-nya sama aku. Model yang mengincar project itu adalah Kina.”

Aryan pun berusaha menyambungkan benang-benang merah untuk dapat jawaban dari kejadian ini. Sebagian fakta yang telah terungkap, memang membuat panahnya mengarah pada Kina.

“Waktu itu ada seminar bisnis perusahaan papa di Bali dan aku diminta untuk datang ke sana. Kina bilang mau nyusul, karena dia juga ada kerjaan di Bali. Orang yang punya akses untuk ke kamar aku, cuma Kina. Siangnya Kina minta duplikat key card kamar hotelku. Aku baru ketemu sama Kina malamnya, setelah acara seminar,” ujar Aryan panjang lebar.

“Kalau emang cuma Kina yang punya akses ke kamar kamu, apa motif dia ngelakuin semua itu?” ujar Karin lebih ke sebuah pertanyaan yang terdengar sangat abu-abu.

Aryan terlihat menghembuskan napasnya dan terdengar sedikit kasar. Pegangan satu tangannya di kemudi mobil pun tiba-tiba mengerat. Tidak terpikirkan sedikit pun dalam kepalanya, kalau Kina adalah pelaku di balik kejadian antara dirinya dan Karin di Bali. Itu terasa tidak mungkin, tapi fakta yang dikatakan oleh beberapa saksi teman sejawat Karin, semakin menguatkan semua dugaan tersebut.

Ada potensi kuat penyebab Kina melakukannya adalah karena rasa persaingan di dalam pekerjaan. Antara Karin dan Kina, yang mungkin selama ini Karin hanya menganggapnya hal biasa, tidak menutup kemungkinan bahwa rasa cemburu itu mendorong seseorang melakukan sesuatu yang bahkan di luar nalar sekalipun.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin akan kembali dari Singapore ke Jakarta bersama para model lainnya. Sebelum berangkat ke bandara, teman-teman sejawatnya berencana berkumpul di suatu ruangan untuk sebuah perayaan kecil-kecilan. Karin juga akan datang ke sana, ia telah siap dan keluar dari kamar hotelnya bersama Dara untuk turun ke lantai bawah.

Saat melewati ruang busana sebelum sampai ke aula, Karin otomatis menghentikan langkahnya begitu mendengar percakapan dari ruangan yang pintunya terbuka setengah itu.

Melihat Karin berhenti, Dara pun ikut merasa penasaran topik apa yang membuat sahabatnya itu sampai ingin mengetahuinya. Di samping Karin, Dara akhirnya ikut mendengarkan percakapan 4 orang di ruangan itu.

“Lo tau nggak, seharusnya pekerjaan ini untuk teman gue. Awalnya bukan Kina yang di tunjuk untuk ngewakilin La Feme, tapi model lain,” ujar seorang perempuan.

“Serius lo? Gimana bisa sih? Emang semudah itu ya dia bisa geser posisi orang lain?” tanya perempuan lainnya di sana.

“Dia punya koneksi orang dalam, jadi dia bisa dapatin project ini dengan mudah. Sedangkan teman gue yang notabenenya nggak punya privilege itu, cuma bisa nerima nasib. Itu jadi resiko katanya, kalau dia mau tetap bertahan di industri ini.”

***

Karin masih berada di kamarnya untuk merapikan barang-barangnya yang tersisa sebelum meninggalkan tempat ini. Setelah acara singkat bersama teman-temannya, para model pun di beri waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke bandara.

Karin belum mengetahuinya secara pasti, tapi akhirnya ia tetap pada tekadnya untuk menghubungi Aryan. Tidak berapa lama setelah terdengar nada sambung di ponselnya, suara khas Aryan pun memasuki indera pendengaran Karin.

“Halo, Karin? Ada apa?” ujar Aryan.

“Kak, kamu lagi sama Kina sekarang?” tanya Karin.

“Rencananya aku sama Kina flight bareng ke Jakarta. Aku belum ketemu Kina, siang nanti jam 1 baru kita ketemuan di hotelku.”

“Oke. Aku mau bilang sesuatu sama kamu. Aku belum tau pasti soal ini, tapi aku bilang ke kamu cuma untuk berjaga-jaga.”

“Soal apa? Karin, kamu bisa bilang ke aku.”

Karin lantas menceritakan pada Aryan soal apa yang ia dengar tentang Kina. Karin mengatakan ia meminta Aryan untuk bersikap lebih waspada dan saat ini sebaiknya mereka patut berhati-hati. Kalau dipikir leboh cermat, siapa saja rasanya bisa menjadi andil pertemuan Karin dan Aryan di hotel Bali waktu itu.

“Karin, kenapa kamu seolah curiga ke Kina? Aku nggak bermaksud meragukan kamu, tapi apa yang kamu dengar memang punya kaitan dengan pelaku yang jebak kita malam itu?”

Karin terdiam sesaat, perempuan itu menghela napasnya sebelum kembali berujar, “Kak, maaf kalau aku terkesan mengarahkan ini ke Kina. Nanti aku jelasin ke kamu lebih detailnya secara langsung. Saat ini aku minta ke kamu untuk nggak memberitahu siapa pun soal rencana kita mencari pelakunya. Oke?”

“Oke. Untuk berjaga-jaga, aku pastiin hanya kita yang tau soal ini.”

“Kak, aku mau tanya satu lagi sama kamu. Apa kamu ingat siapa orang yang punya akses ke kamar kamu selain kamu sendiri?”

Atas pertanyaan Karin itu, Aryan pun kini yang dibuat terdiam. Sebuah benang merah yang terhubung di benak Aryan membuatnya kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Karin. Jawabannya tentu mengarah pada sosok yang sama dengan yang dicurigai Karin.

“Kak, kamu tahu. Dengan koneksi, seseorang bisa melakukan apa aja yang dia mau. Satu lagi, orang yang berpotensi paling besar menyakiti kamu adalah orang terdekatmu, karena dia yang paling besar memiliki akses untuk ngelakuin itu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Pada sebuah papan besar yang berisi mood board para model, salah satu di sana terdapat nama Karina Titania. Di mood board itulah terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai Karin dan dibawa berjalan di catwalk.

Sekitar dua minggu yang lalu, Karin beri tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan itu. Ia sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.

Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan cukup lancar. Di tempat itu, Karin bertemu dengan para model dari berbagai negara dan pastinya para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.

“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sambil memerhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih itu terlihat cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin's White Dress

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer itu. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.

“I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager soon,” ucap Alicia lagi.

“It's my plessure. Your design is very amazing. I will glad to wear it in next occassion,” balas Karin.

Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya dan Karin mengangguk tanda mengerti.

“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.

“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready bentar lagi.”

Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.

Kaki jenjang Karin membawanya ke menuju ke arah rooftop milik gedung tersebut. Namun belum sampai Karin di sana, ia melihat seseorang yang fameliar di ujung lorong, tepat di mana perkumpulan manusia agak senggang di sana.

Karin menangkap sosok itu hanya berjarak beberapa ratus meter darinya. Ketika Karin akan melangkah menghampirinya, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan Karin.

Karin melihat ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Lelaki itu mengatakan kalau ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin pun membalas pesan Rey dan mengatakan Rey perlu menunggunya sebentar lagi.

Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana.

Lelaki itu lekas menghampiri Karin tanpa babibu. Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas denim jaket yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memerhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos kini telah tertutup dengan jaket itu.

“Acaranya udah selesai, kan? In case kamu kedinginan, pakai jaket itu ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.

“Udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.

Rupanya pertanyaan Karin barusan sukses memecah lamunan Aryan. “Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.

“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin.

Bahkan bibir Aryan sempat terbuka sedikit sebelumnya mendapati sosok Karin di hadapannya. Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.

“Mau aku anter ke tempatnya Kina? Atau emang udah janjian sama Kina di sini?” Karin menawarkan pada Aryan. Kebetulan ia mengetahui dimana ruangan Kina berada.

“Kamu tau dari mana aku ada di sini?” Aryan justru melemparkan pertanyaan yang berbeda kepada Karin.

“Dari asistenku. Tadi dia bilang kalau dia lihat kamu di sini,” jelas Karin. Berbeda dengan yang diketahui oleh publik, mereka mengetahui bahwa Aryan adalah suaminya. Jadi sebelumnya Nia mengatakan pada Karin kalau ia melihat suaminya dan mungkin sedang mencari Karin. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin.

Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda untuk kali ini.

Sayang.” Sebuah suara lembut khas seseorang yang terdengar fameliar itu menginterupsi Aryan dan Karin.

Begitu menoleh, Aryan mendapati Kina tengah berjalan menuju ke arahnya.

Sorry ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.

“Nggak papa,” balas Aryan sembari tersenyum pada Kina.

Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang masih berdiri di sana. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.

Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu ia melihat sosok Rey. Rey pun berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, lelaki itu menatap Karin dengan tatapan bangganya.

“You look really amazing tonight*,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian nampak seulas senyum simpul terbentuk di wajah Rey.

Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau pikiran Karin, Rey pun berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempet liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang tiba-tiba itu.

Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey udah sempetin buat dateng.”

Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu pun sudah berada di hadapan Rey dan Karin.

“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.

Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.

I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir kalau publik curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.

Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini mengenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.

“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian rayain suksesnya fashion show aku dan Karin. Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”

***

Mereka berempat duduk berhadapan, menyantap sebuah hidangan makan malam yang di pesan dari restaurant yang terletak di lantai bawah hotel ini. “Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud kayak gitu,” ujar Kina setelah keletakkan gelas minumannya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina. Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Ada kecanggungan pastinya. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf. Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu mengangguk kecil dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja. “Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, itu karena ketidaksengajaan.”

***

“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk bermain. Kina memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara Truth atau Dare.

Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.

Oke, I choose truth,” ujar Aryan.

Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan yang akan bertanya.

Did you have a crush before we met?” tanya Kina.

Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”

Can you give us more clue?”

Oke. The clue is you know her.”

Oh my god. Really?

Exactly. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just ... amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.

Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang memutar pulpennya dan tidak berapa lama kemudian benda itu berhenti menghadap tepat ke Rey.

Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.

Do you have a biggest secret in your life? Maybe you can only tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.

Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya ia berujar, “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.

Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini giliran Karin yang mendapat giliran.

I choose dare,” ucap Karin.

“Oke. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.

Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini. Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.

Mendengar ujaran Kina tersebut, seketika membuat Rey menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Keep calm, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”

“Kina, dengan lo bilang lo nggak ngeraguin pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.

“Lho, kalu gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.”

Is a dare, not a truth,” ujar Rey lagi.

“Kina, kamu bisa minta Karin lakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.

“Rey, it's oke,” ucap Karin sambil menatap Rey dan coba menenangkannya. “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare,” sambung Karin sembari mengalihkan tatapannya kepada Kina.

Well, it's a simple thing. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete.”

Ucapan Kina yang sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” ucap Aryan.

Kina menatap Aryan dan menyipitkan matanya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan sama Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan,” balas Kina tetap bersikap keras kepala.

Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.

“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik dan kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.

“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama iniKak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku dan Rey permisi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Satu minggu telah berlalu sejak Karin meminta maaf pada Aryan dan lelaki itu juga telah menyadari kesalahannya. Keduanya sudah saling berdamai dan memutuskan untuk berkompromi dalam urusan yang berhubungan dengan anak mereka ke depannya.

Menekan ego tidak akan membuat seseorang mencapai tujuan yang baik. Justru sebaliknya, ego yang tidak bisa dikendalikan dapat menghancurkan satu sama lain. Aryan maupun Karin sama-sama belajar dari itu.

Pagi ini ketika matahari bahkan masih terlelap di peradabannya, Karin harus menghadapi morning sickness-nya. Rasanya hampir separuh isi perutnya kini sudah mengalir bersama air di wastafel. Kedua lutut Karin seketika lemas dan kepalanya terasa pusing. Usai dirasa tidak ada lagi yang ingin dikeluarkan, Karin mengambil tisu untuk mengusap sisa air bilasan di sekitar bibirnya.

Karin yang melihat Aryan mengambil gelas dan merebus air, lekas berjalan menghampiri lelaki itu. Karin berdiri di samping Aryan dan saat Aryan menoleh padanya, Karin bertanya, “Kak, kamu mau bikin apa?”

“Aku bikin teh chamomile buat kamu,” ucap Aryan.

Karin lantas mengangguk dan mengulaskan senyum kecilnya. Aryan pun meminta Karin untuk menunggu di sana dan selesai menyeduh tehnya, lelaki itu akan membawakannya untuk Karin.

Sesampainya Karin di ruang tamu, ia mendaratkan dirinya di sofa. Mata Karin terpejam dan otomatis jemarinya memijat pelipisnya saat rasa pening itu kembali menyerangnya.

Tidak lama kemudian, begitu mendengar derap langkah kaki, Karin segera membuka matanya dan mendapati Aryan di hadapannya membawakan secangkir teh.

“Masih pusing?” tanya Aryan.

Karin menjawab Aryan dengan sebuah anggukan lemah. Karin melihat Aryan menaruh cangkir tehnya di meja di dekat sofa, lalu Aryan melenggang dari hadapannya dan mencari sesuatu di nakas samping TV.

Aryan kembali pada Karin dan menyerahkan sebuah benda kecil dari tangannya. “Kamu pakai ya, biar pusingnya reda,” ujar Aryan. Karin pun memakai minyal aroma terapi dengan wangi laveder itu sekitar pelipisnya dan sedikit di bagian tengkuk. Rasa hangat dan wangi yang menenangkan itu seketika membuat Karin merasa lebih rileks dari sebelumnya.

“Hari ini kamu ada kuis atau presentasi di kampus?” tanya Aryan. Lelaki itu mengambil tempat di samping Karin, matanya menatap Karin dengan tatapan khawatir.

“Nggak ada,” jawab Karin. “Kenapa emangnya?”

“Kalau nggak ada, kamu istirahat aja. Nggak usah ke kampus dulu hari ini,” saran Aryan.

Karin kembali meletakkan cangkirnya setelah meminum tehnya. Karin tahu dari tatapannya, Aryan benar-benar peduli dan tulus terhadap anaknya. Karin melihat sisi lain dari seorang Aryan yang sebelumnya tidak pernah ia lihat dengan matanya sendiri.

“Karin?” panggilan Aryan seketika menyadarkan Karin dari lamunannya.

“Iya, hari ini aku di istirahat di apart aja,” putus Karin.

“Kak,” ujar Karin saat Aryan hendak beranjak dari posisinya. Lelaki itu akan membawa cangkir bekas minum Karin ke dapur.

Aryan lantas berbalik menghadap Karin, “Kenapa?”

“Makasih ya. Aku tau kamu benar-benar tulus dan dan sayang sama anak ini,” ujar Karin.

Samar-samar Aryan nampak mengulaskan senyumnya. Selama beberapa detik setelah terjadi keheningan di antara mereka, Aryan akhirnya membuka suaranya lebih dulu, “Kamu mau sarapan apa? Biar aku beliin sebelum aku berangkat.”

“Di dapur masih ada roti sama selai coklat. Nanti aku bikin roti bakar aja, Kak,” ujar Karin.

Aryan pun mengangguk mendengar jawaban Karin. Sebelum Aryan pergi dari hadapannya, Karin berujar lagi, “Hari ini mbak nggak dateng, buat sore aku mau order makanan. Kamu makan di rumah nggak? Kalau kamu makan di rumah, biar aku pesennya bisa agak banyakan.”

“Pesen banyakan aja. Nanti aku pulang jam 4.”

“Oke.”

***

Seperti yang dikatakan oleh Aryan sebelumnya, tepat pukul 4 sore, lelaki itu sudah menampakkan batang hidungnya di apartemen. Karin sedang berada di ruang tamu dan menyetel TV ketika Aryan berjalan ke sana.

“Kamu mau langsung makan? Biar aku panasin ayamnya di microwave,” ujar Karin pada Aryan.

“Boleh,” ucap Aryan sembari meletakkan kunci mobilnya di meja ruang tamu.

Sementara Karin melenggang ke dapur, Aryan memutuskan untuk naik ke atas untuk mengganti pakaiannya.

Tidak lama kemudian, begitu Aryan kembali ke lantai bawah, ia mendapati di meja makan telah tersaji ayam goreng krispi yang sudah dihangatkan.

Aryan segera mengisi piringnya dengan nasi dan mengambil satu potongan paha atas yang berukuran cukup besar, lalu ia melangkah menuju ruang tamu.

“Kak, kamu makannya di meja makan. Masa di ruang tamu,” ujar Karin saat matanya menangkap Aryan tengah duduk di sampingnya.

“Kamu udah makan?” Aryan justru melemparkan pertanyaan pada Karin.

“Aku udah makan. Nanti sofanya kotor lho, Kak. Kamu makannya di meja makan gih,” tutur Karin.

“Mau sambil nonton TV,” ujar Aryan dan Karin hanya bisa mengiyakan saja pada akhirnya. Omong-omong soal Karin yang mengubah panggilannya pada Aryan setelah mereka berdamai, itu merupakan hasil kesepakatan keduanya. Lebih tepatnya Aryan yang membahas itu lebih dulu. Karin pun setuju sejak saat itu. Selain faktor usia, Karin melakukannya untuk menghormati Aryan sebagai suami dan ayah dari calon anaknya kelak.

“Kak,” panggil Karin.

Aryan yang sebelumnya fokus pada layar TV dan makanannya, kini beralih menatap Karin. “Iya, kenapa?”

“Itu kulit ayamnya kamu makan nggak?” tanya Karin. Pandangan Aryan pun otomatis menuju ke arah yang sama dengan Karin, yakni ke piring yang berada di tangannya. Di sana terdapat satu kulit ayam yang cukup besar, kebetulan Aryan memang belum memakannya.

Aryan lantas mengambil kulit itu dari piringnya. “Kamu mau?” tanya Aryan sambil mengarahkan tangannya untuk menyuapi Karin. Karin pun mengangguk, sekilas ia tersenyum malu sebelum akhirnya menerima suapan dari Aryan. Begitu Karin mengunyah makanannya, Aryan hanya memperhatikan itu terjadi di hadapannya. Binar bahagia yang terpancar di mata Karin, seketika membuat Aryan ikut merasa senang.

“Karin,” ujar Aryan.

“Iya?”

“Kamu makan yang banyak ya. Kalau kamu happy, bayinya juga happy,” tutur Aryan.

Karin menatap Aryan selama beberapa detik. Tidak lama berselang, senyum simpul pun terukir di paras Karin dan perempuan itu menganggukkan kepalanya. “Dia happy banget lho hari ini, nurut sama aku. Cuma tadi pagi aja agak rewel, habis itu aku udah bisa makan banyak. Pinternya anak Mama,” ujar Karin sembari mengusap perutnya. Ketika netra Karin kembali bertemu dengan Aryan, Karin pun bertanya, “Kamu mau dipanggil apa sama anak kamu?”

“Papa,” cetus Aryan. Aryan pun tersenyum, lalu ia bertanya dengan kedua alis yang menyatu, “Is it good?”

Of course. It’s sounds nice.” Karin menurunkan pandangannya ke perutnya, lalu ia kembali berujar, “Nak, nanti kamu panggilnya Papa dan Mama ya.”

Tanpa Aryan bisa kehendaki, hatinya pun terasa berdesir hangat. Aryan kini dapat begitu merasakan ikatan kuat antara orang tua dan anaknya.
Keegoisannya waktu itu terjadi karena rasa takutnya akan kehilangan posisi yang seharusnya menjadi miliknya. Namun apa yang dikatakan oleh Karin adalah benar. Aryan tidak akan kehilangan tempat itu, baik sekarang maupun nanti. Meskipun pernikahannya dan Karin tidak dilandasi oleh perasaan cinta, keduanya akan selalu berusaha memberikan kasih sayang yang utuh untuk anak mereka.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru yang terjadi adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir kopi susu panas untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan dan seketika menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.

“Oke, kalau gitu kita bisa pulang bareng. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu menatap Aryan dan memamerkan senyum manisnya. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja kita dinner-nya. Oke?” ujar Aryan.

Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.

Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Kemudian memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah.

Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya yang perlu diubah. Tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar. Meskipun yang terjadi malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Hari ini merupakan hari Senin. Tepatnya kini sudah satu minggu sejak pernikahan Aryan dan Karin. Tidak banyak yang berubah dari keduanya. Namun pagi ini ada kejadian yang membuat Karin sedikit terkejut. Perempuan itu mendapati Aryan sudah terbangun dari tidurnya, tanpa usahanya untuk membangunkan lelaki itu. Ya, salah satu kebiasaan baru yang terjadi adalah Karin yang harus membangunkan Aryan. Terutama jika Aryan ada kuliah pagi, Karin harus mengerahkan tenaga ekstra untuk membuat Aryan bangun dari tidurnya yang kelewat nyenyak itu.

“Tumben bisa bangun sendiri. Kamu pasang alarm?” tanya Karin begitu Aryan menarik kursi di dapur, kemudian lelaki itu duduk di sana.

“Kebangun sendiri, aku nggak pasang alarm,” jawab Aryan.

Karin pun mengangguk-angguk, lalu kembali mengalihkan atensinya dari Aryan pada masakannya. Setelah semuanya siap, Karin mengambil dua piring untuk menyajikan sarapan. Satu untuk dirinya dan satu untuk Aryan.

Karin menarik kursi di hadapan Aryan setelah menaruh dua piring french toast yang dilengkapi dengan buah-buahan yang nampak segar. Karin juga menghangatkan segelas susu untuknya dan membuatkan secangkir kopi susu panas untuk Aryan.

Aryan and Karin's Breakfast

Setelah Karin menelan suapan pertama french toast-nya, alisnya pun mengernyit sembari menatap ke arah Aryan. “Kamu kebangun karena aku berisik masak di dapur, ya?” tanya Karin.

Aryan yang mendengar pertanyaan Karin seketika menganggukkan kepalanya. “Itu salah satu faktornya. Tapi mungkin faktor lainnya karena udah kebiasaan kamu bangunin, jadi nggak terlalu susah untuk bangun sendiri,” ujar Aryan.

Karin hanya beroh ria saja mendengar jawaban Aryan. Kemudian keduanya fokus menikmati sarapan masing-masing dan tidak ada percakapan lebih lanjut yang terjadi. Sekitar 10 menit berlalu, french toast di piring Aryan sudah bersih, begitupun dengan Karin. Namun Aryan masih setia di meja makan, lelaki itu tengah menikmati kopinya yang masih tersisa. Sementara Karin bergerak membawa piring kotor miliknya dan milik Aryan ke wastafel.

“Karin, piringnya nggak usah dicuci. Hari ini ada asisten yang dateng ke sini,” ujar Aryan dan seketika menghentikan aksi Karin.

Begitu Karin berbalik dari wastafel, ia mendapati Aryan sudah berada tepat di belakangnya. Aryan pun meletakkan gelas bekas kopinya yang telah kosong di wastafel.

“Kamu ada kelas jam berapa hari ini?” tanya Aryan.

“Jam 12 siang. Kelas terakhirku jam 5 sore,” jawab Karin.

Beberapa kali keduanya kerap berangkat dan pulang bersama. Jika jam mulai dan berakhir kelas mereka berdekatan, Aryan akan sekalian membawa Karin bersamanya.

Hari ini Karin tidak memiliki kegiatan lain setelah perkuliahan, baik BEM atau pun kepanitiaan. Jadi Karin bisa langsung pulang setelah kelas terakhirnya selesai.

“Oke, kalau gitu kita bisa pulang bareng. Nanti aku kabarin kamu lagi,” ucap Aryan.

***

Karin berada di mobil, ia duduk di kursi penumpang di belakang. Sementara Aryan sudah siap di balik kemudinya. Alasan mereka belum keluar dari pelataran parkir kampus adalah seorang perempuan yang kini baru saja membuka pintu di samping kemudi.

Begitu masuk ke mobil, Shakina menatap ke arah Karin sekilas, kemudian perempuan itu menatap Aryan dan memamerkan senyum manisnya. Shakina merangkul satu lengan Aryan dari samping, lalu menyandarkan kepalanya di sana.

I missed you,” ucap Kina sembari mendongakkan wajahnya untuk mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Detik berikutnya, Kina kembali menduselkan kepalanya di lengan Aryan, “I need five minutes for this.”

Beberapa hari yang lalu, Kina dan Aryan memang tidak bertemu dikarenakan perbedaan jadwal keduanya. Kina ada pekerjaan yang harus diselesaikannya sementara sehabis kelas, Aryan ada jadwal magang di perusahaan papanya.

“Sayang, kita nggak jadi dinner berdua ya?” tanya Kina setelah akhirnya melepaskan pelukannya di lengan Aryan.

“Besok aja kita dinner-nya. Oke?” ujar Aryan.

Well okey. Aku udah seneng kok, yang penting hari ini aku bisa ketemu sama kamu,” ujar Kina sembari mengulaskan senyumnya.

Aryan pun balas tersenyum ke arah Kina, sebelum akhirnya Aryan bergerak untuk mulai memanuver mobilnya keluar dari pelataran parkir fakultas.

Sebelumnya Aryan tidak menduga kalau Kina meminta diantar pulang hari ini dan kekasihnya itu mengatakan begitu merindukannya. Namun yang terjadi, Aryan juga tidak bisa membiarkan Karin pulang sendiri. Karin sudah mengatakan bahwa ia bisa naik taksi online, karena hari ini Rey tidak bisa mengantarnya pulang. Akhirnya Aryan pun memutuskan tetap membawa Karin dan tetap mengantar Kina. Toh Aryan bisa mengantar Kina lebih dulu baru setelah itu ia dan Karin pulang.

***

Aryan mendapati Karin tengah tertidur di jok belakang sesampainya mereka di parkiran apartemen. Aryan segera turun dan membuka pintu di samping Karin. Ketika tubuh Karin hampir saja limbung, Aryan segera menahannya menggunakan satu lengannya.

“Karin, kita udah sampai,” ujar Aryan di dekat Karin.

Respon yang didapatkan Aryan dari Karin hanyalah sebuah gumaman tidak jelas dan sedikit pergerakan dalam tidurnya.

Sesaat Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin. Kegiatan Aryan itu tidak berlangsung lama, dikarenakan Karin bergerak lagi dalam posisinya.

“Karin,” panggil Aryan lagi untuk membangunkan Karin. Sepertinya usaha Aryan tidak menunjukkan tanda-tanda akan berhasil, Karin terlihat sangat nyenyak dalam tidurnya.

“Oke, aku gendong kamu,” ucap Aryan. Berikutnya yang terjadi adalah Aryan menyelipkan lengannya di bawah lekukan kaki Karin, lalu lengan satunya lagi berada di balik punggung perempuan itu.

Aryan hampir saja melupakan sesuatu. Ia kembali berbalik untuk mengambil tas milik Karin dan berusaha sebisa mungkin menyampirkan benda itu di pundaknya. Begitulah Aran harus melakukannya hingga langkahnya sampai di unit apartemen mereka.

Ketika sampai di kamar, Aryan membaringkan Karin dengan perlahan di atas kasur. Setelah itu tidak lupa Aryan melepaskan flat shoes Karin, meletakkannya di lantai, dan bergerak menyelimuti tubuh Karin. Sebelum pergi dari sana, Aryan meletakkan tas Karin di kursi meja belajarnya. Kemudian memandang wajah Karin sesaat, lalu ia bergegas untuk mematikan lampu utama dan menyalakan lampu tidur.

Aryan berpikir bahwa kehidupan baru yang ia jalani ini tidaklah mudah. Ia memiliki istri, tapi juga memiliki kekasih. Namun ketika melihat Karin, Aryan tahu bahwa beban perempuan itu akan lebih berat darinya, mulai sekarang maupun nanti ke depannya. Karin akan mengandung selama sembilan bulan dan melahirkan seorang anak, itu bukanlah persoalan yang mudah.

Tidak sepatutnya Aryan mengeluh dan menyalahkan keadaan. Pola pikirnya yang perlu diubah. Tidak lama lagi ia akan menjadi seorang ayah dan memiliki tanggung jawab yang besar. Meskipun yang terjadi malam itu antara dirinya dan Karin adalah kecelakaan, Aryan tidak ingin menjadi lebih berengsek lagi dengan meninggalkan Karin dan membiarkan perempuan itu menjalani semuanya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sekitar pukul delapan malam, Karin baru saja kembali setelah menginap di apartemennya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Kavin, adik lelakinya yang barusan menjemput dan mengantar Karin pulang.

“Kak Aryan lagi nggak di sini Kak?” tanya Kavin begitu netranya tidak menemukan sosok Aryan di penjuru apartemen.

Sejenak Karin nampak berpikir sebelum menjawab pertanyaan Kavin. “Kayaknya lagi tidur di atas. Sebentar Kav, Kakak naik dulu ya,” ucap Karin dan segera melangkah meninggalkan Kavin di ruang tamu.

Sesampainya Karin di lantai atas, benar saja, ia menemukan Aryan tengah tertidur di kamar. Karin mengambil tempat di tepi kasur, selama beberapa detik, ia hanya memerhatikan paras damai tertidur Aryan.

Tidak sampai satu menit berlalu, Karin pun memutuskan untuk meninggalkan Aryan di kamar. Aryan terlihat lelap sekali tidurnya, Karin tidak tega kalau sampai lelaki itu terbangun karena terganggu oleh suara pergerakan di sekitarnya.

Karin pun turun dan menawarkan makan malam untuk Kavin. Karin juga belum makan, ia lantas bergegas menghangatkan mac and cheese menggunakan microwave. Ketika Karin dan Kavin menikmati makanan bersama di meja makan, keduanya mendapati Aryan tengah turun dari tangga dan berjalan menghampiri mereka.

Aryan pun menyapa Kavin dan mereka berakhir mengobrol bersama. Aryan sudah makan katanya, tapi ia butuh kopi. Jadi Karin membuatkan secangkir kopi susu kesukaan Aryan.

“Kak, malam ini gue boleh nginep di sini nggak?” tanya Kavin kepada Karin.

Karin yang telah selesai mencuci piring bekas makannya pun sontak menoleh ke arah Kavin. Otomatis pandangan Karin juga bertemu dengan Aryan. Mereka malah cuma jadi lihat-lihatan tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Selang beberapa detik kemudian, Karin akhirnya berujar, “Mau ngapain nginep? Kamu bilang mau langsung on the way ke Bekasi, besok ada kuliah pagi, bukannya?”

“Kelas gue besok siang, Kak. Ini udah malam juga, gue takut balik naik KRL. Lagian gue sama Kak Aryan mau begadang main game. Iya kan, Kak?” Kavin mengakhiri kalimatnya sembari mengarahkan tatapannya ke arah Aryan.

“Iya, Karin. Aku sama Kavin mau main game bareng. Nggak papa Kavin nginep di sini,” ujar Aryan.

Keputusan Aryan itu sontak membuat kelopak mata Karin melebar. Karin tidak percaya bahawa Aryan dengan mudahnya menyetujui keinginan bocah lelaki berusia 18 tahun itu. Bagaimana bisa Kavin menginap, sementara adiknya itu tidak tahu bahwa Karin dan Aryan memiliki kesepakatan pernikahan.

Aryan yang sebelumnya berada di ruang tamu bersama Kavin, kini menghampiri Karin di dapur.

“Kamu izinin Kavin nginep di sini?” tanya Karin pada Aryan dengan suara pelannya.

“Emang kenapa kalau Kavin nginep?” Aryan justru balik bertanya seolah tidak ada masalah yang akan terjadi kalau Kavin menginap.

“Oke, kalau gitu. Kamu silakan sharing sofa sama Kavin ya.” Karin pun menaruh piring yang telah ia cuci ke tempat tatakan piring bersih. Untung saja piring yang sudah kinclong itu tidak lolos begitu saja dari tangannya. Beberapa detik yang lalu, piring itu hampir saja meluncur dari tangannya saat Karin mengetahui bahwa Kavin akan menginap.

“Aku emang mau begadang sama Kavin. Kita nggak mungkin begadang bertiga, kan? Kamu silakan tidur di atas, kita berusaha nggak berisik supaya kamu tetap bisa tidur,” jelas Aryan.

Karin pun mengangguki ucapan Aryan. Benar juga apa yang dikatakan oleh Aryan. Kenapa pikiran Karin yang justru rumit memikirkan Kavin akan curiga tentang pernikahannya dengan Aryan. Tidak seharusnya setiap malam suami dan istri tidur bersama, bukan?

Khusus untuk malam ini, biarlah Kavin mengira bahwa hanya sekali Aryan dan Karin tidak tidur bersama. Toh Aryan dan Kavin akan bermain sampai malam atau bahkan pagi. Biasanya para lelaki akan melupakan segalanya kalau sudah bermain game. Sebuah senyum kemudian terulas di wajah Karin. Semuanya akan baik-baik saja, ujarnya dalam hati.

***

Waktu menunjukkan pukul 1 malam lebih 10 menit ketika Karin terjaga dari tidurnya. Karin pun mendengar suara gaduh dari lantai bawah yang seketika membuatnya menggelengkan kepala. Lelaki dan game, dua hal yang sulit terpisahkan jika sudah dipertemukan.

Karin memutuskan untuk mengambil air minum di bawah karena rasa haus yang tengah mengganggu tidurnya. Sesampainya Karin di dapur, ia segera mengambil botol minum dan mengisinya sampai hampir penuh. Karin akan membawa botol itu ke atas bersamanya.

Ketika Karin berjalan melewati ruang tamu, ia melihat Kavin tengah menangis. Rupanya itu terjadi karena sebuah game, adiknya itu baru saja kalah bermain.

Saat Karin melihat ke arah Aryan, lelaki itu nampak santai karena ia telah menang. “Kan bisa main lagi buat naikin levelnya. Gitu aja kok nangis sih,” komentar Karin. Ia sudah sering melihat lelaki dan game-nya, tapi rupanya Karin masih heran dengan dampak yang ditimbulkan akibat bemain game yang nyatanya cukup serius itu.

“Tadi Kak Aryan juga kalah sampai nangis kok. Bukan aku doang, Kak. Sayangnya Kak Karin nggak lihat,” adu Kavin.

Berkat ucapan Kavin itu, Karin pun menatap Aryan dan Kavin secara bergantian. “It’s okey. Nggak selamanya harus menang. Itu kan wajar, manusiawi,” ujar Karin sembari memamerkan senyumnya pada dua lelaki di hadapannya itu.

“Gue aja lo ledekin, giliran Kak Aryan lo bilang manusiawi. Paham banget gue mah,” Kavin masih fokus terhadap gamenya, tapi kalimat yang terlontar dari bibirnya itu berhasil membuat Karin seketika bungkam.

Begitu pandangan Karin bertemu dengan Aryan, Karin menangkap sebuah kesedihan dari pendar mata itu. Tidak, bukan begini biasanya binar mata Aryan. Karin tidak mengerti apa yang terjadi. Namun tiba-tiba ia terpikirkan akan satu hal. Apakah dua hari lalu ia telah kelewatan menyampaikan kalimatnya pada Aryan?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Rumah Aryo dan Tiara

Ini merupakan kedua kalinya bagi Karin menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Aryan. Penthouse yang bisa dibilang sangat mewah itu, malam ini menjadi tempat berkumpul para keluarga Brodjohujodyo.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus diadakannya acara malam ini. Aryan mengatakan pada Karin bahwa keluarganya memang biasa mengadakan pertemuan. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk mempererat hubungan kekeluargaan dan kekerabatan.

Rupanya Aryan dan Karin merupakan yang datang hampir terakhir. Di tengah-tengah para sanak saudara, keduanya pun lantas digadang-gadang sebagai bintang tamu utama.

“Sekarang Aryan udah gandeng istri ya. Padahal baru kemarin kayaknya Tante beliin hotwheels sama nitendo,” ujar seorang adik perempuan dari keluarga mamanya.

Waktu pernikahan Aryan dan Karin, memang tidak semua saudara dapat hadir. Jadi Aryan berinisiatif untuk mengenalkan Karin pada tante serta para omnya sebagai istrinya. Setelah sesi perkenalan itu, Aryan pun membawa Karin bertemu papa dan mamanya yang berada di sisi lain tempat ini.

Karin pun melihat sosok Tiara lebih dulu, mertuanya seperti biasa nampak begitu cantik dan anggun. Kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajah mertuanya dari mulai mata, dan bibir, sangat mirip dengan paras Aryan.

Saat netra Tiara akhirnya menangkap kehadiran Karin, wanita berusia 40 tahunan itu langsung melangkah menghampirinya dan bergerak memeluknya.

Sepersekian detik kemudian, Tiara mengurai pelukan hangatnya pada Karin. Karin lantas bergerak menyerahkan sesuatu yang dibawanya, “Mama, ini tadi Karin sama Aryan mampir ke toko kue. Kita beli kue coklat untuk Mama dan keluarga lainnya.”

Tiara segera menerima bungkusan itu dan kedua matanya nampak berbinar. “Terima kasih ya, Sayang,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum lembutnya.

“Yuk, ambil makan dulu. Kamu mau makan apa? Pasta, steik, atau kamu suka chinese food?” Tiara bergerak meraih tangan Karin dan menggandengnya menuju prasmanan yang menyediakan berbagai jenis makanan.

Karin sempat merasa canggung awalnya, tapi mertuanya dan keluarga Aryan yang lainnya bersikap sangat welcome padanya.

Semua yang hadir pun telah lengkap dan mereka sudah mengambil makanan masing-masing. Di sebuah meja makan yang cukup luas itu, mereka menikmati hidangan bersama. Aryan duduk di samping Karin, lelaki itu baru saja kembali dari mengambil minuman berwarna bening di sebuah gelas tinggi.

“Kak, kamu minum alkohol?” tanya Karin sembari menatap gelas yang Aryan letakkan di samping piringnya.

Aryan lantas menoleh ke arah Karin, “Iya,” jawabnya. Seakan mengerti maksud Karin, Aryan pun kembali berujar, “Aku nggak akan minum banyak kok.”

“Oke,” Karin pun menganggukkan kepalanya. Ia kembali menggulung memotong daging wagyu di piringnya, lalu menyuap untuk dirinya sendiri.

“Kita belum cheers lho ngomong-ngomong. Bisa lah cheers dulu,” celetukan itu tiba-tiba terlontar dari salah satu omnya Aryan yang duduk di ujung meja. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah pada pria berkulit putih dan bermata sipit itu.

“Wah iya, hampir lupa nih. Sebelum tuan rumah tepar, kayaknya kita harus cheers dulu,” sahut seorang anggota keluarga lainnya sambil melirik ke arah Aryo, papanya Aryan dan Nayna. Mama mertuanya, Tiara, yang duduk di samping kirinya pun mengingatkan suaminya agar tidak sampai mabuk berat karena minum.

“Aku kuat, Sayang. Kamu lihat ya,” ujar Aryo pada Tiara.

“Kamu tuh nggak sekuat dulu minumnya. Kamu udah kepala empat, berasa masih kepala dua aja,” ujar Tiara pada suaminya. Sontak semua yang ada di sana tertawa melihat kejadian itu.

Semua anggota keluarga sudah mengisi gelas mereka dengan champagne atau vodka, kecuali Karin, Nayna, dan beberapa tetua. Meskipun begitu, mereka yang tidak mengkonsumsi alkohol tetap ikut mengangkat gelasnya.

Semua orang kini telah siap berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke tengah, dan mempertemukan gelas di tangan masing-masing dengan gelas milik anggota keluarga yang lainnya.

This is for our family. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat oleh Tuhan dan saling menyayangi sesama anggota keluarga. Cheers!”

Cheers!!”

Usai acara tos gelas yang sedikit heboh itu, setiap anggota kembali menikmati makanan sembari mengobrol satu sama lain. Selain berbicara soal bisnis, baik dari kalangan tetua maupun muda-mudi, topik pun bergulir dan diajukan pertanyaan kepada Aryan dan Karin. Lebih tepatnya para keluarga menanyakan seputar kandungan Karin saat ini.

“Usianya sekarang jalan dua belas minggu, Tante, Om. Mohon doanya ya, semoga semuanya lancarkan,” ucap Karin menjawab pertanyaan tentang usia kandungannya.

“Dia masih kecil banget. Aryan sama Karin kemarin baru aja dengar detak jantungnya waktu cek kandungan. Dokter bilang semua hasil pemeriksaannya bagus,” jelas Aryan sambil menatap Karin yang ada di sampingnya. Begitu Aryan mengulaskan senyumnya, Karin pun otomatis ikut tersenyum.

Penjelasan Aryan dan Karin tentang anak mereka sontak menciptakan suasana hangat dan haru di tengah-tengah meja makan tersebut. Semua anggota keluarga begitu bahagia dan tidak sabar menunggu kehadirannya. Cucu dan cicit pertama yang begitu disayangi dan dinanti, begitu ujar mereka. Panjatan doa pun ditujukan untuk ibu dan si calon bayi agar dapat selamat dan sehat sampai nanti persalinan.

Karin sudah selesai dengan makanannya. Netranya dengan otomatis melirik ke gelas minuman Aryan yang kini sudah bersih. Aryan yang juga sedang melihat Karin di sampingnya, lantas berujar, “Aku nggak akan nambah minum, Karin.” Aryan pun terkekeh sekilas.

But actually you want it, right?”

Seventy percent is correct. Tapi aku harus nyetir dan aku bawa kamu. Aku nggak mau sampai membahayakan kamu dan anak kita,” terang Aryan.

Karin pun menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia meneguk minuman mocktail dari gelas miliknya. Sadar Aryan memperhatikannya ketika Karin minum, Karin pun mengeryitkan alisnya.

Aryan seketika mengalihkan tatapannya ke arah lain ketika tertangkap basah ia baru saja mengamati Karin. Lengan Aryan yang sebelumnya berada di sandaran kursi Karin, perlahan menjauh dari sana.

***

Waktu kini menunjukkan pukul 10 malam. Setelah berbicara dengan papanya, Aryan dan Karin pun pamit untuk pulang. Beberapa keluarga juga sudah berpamitan terlebih dulu.

Acara hari ini akhirnya selesai dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Aryan saat ini, ia mendapatkan kembali lamborghini kesayangannya. Kebekuan di hati papanya perlahan telah mencair, sehingga fasilitas yang Aryan miliki sebelumnya, satu persatu diberikan kembali untuknya. Kehidupan pernikahan Aryan dan Karin yang berjalan dengan baik, sikap Aryan yang sedikit-sedikit terlihat dewasa, rupanya telah membuat papanya tersentuh.

Mengenai permintaan Aryan pada Aryo, papanya mengatakan bahwa dirinya telah setuju membantu Aryan dan Karin untuk mendapat informasi tentang Arumi.

Aryan tidak dapat menahan senyum bahagianya, bahkan ketika dirinya dan Karin sudah berada di dalam mobil. Karin pun ikut merasa senang, ia sungguh melihat masih bentuk sayang nyata seorang ayah kepada anaknya.

Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya. Mesin hanya dinyalakan dan audio memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar menangkan.

“Kak, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Karin seraya memerhatikan air muka Aryan yang nampak memerah.

“Bisa. Aku nggak mabuk, Karin. See,” ucap Aryan.

“Muka kamu merah banget, Kak. Nggak mabuk gimana,” ucap Karin.

“Kamu tidur dulu sebentar, ya? 10 menit aja, habis itu kita baru jalan,” sambung Karin mengungkapkan sarannya.

“Oke.” Aryan pun menyetujuinya. Usai perkataan itu, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara keduanya. Karin pun memilih tidak mengeluarkan suara apa pun agar Aryan bisa tertidur.

“Karin,” celetuk Aryan sambil tangannya bergerak mematikan audio di mobil.

“Ya?”

Can I lay in your shoulder?” tanya Aryan dengan suara pelannya. Aryan menatap Karin lekat. Kadua mata sabit itu mengunci kedua mata bulat Karin. Selama beberapa detik, Karin pun tenggelam di dalam iris berwarna hitam pekat milik Aryan.

Tidak sampai lima detik kemudian, Aryan lantas memutus kontak matanya dengan Karin terlebih dulu.

“Karin, I'm sorry I asked you for that. Just forget about it,” ucap Aryan diiringi tawa hambarnya. Aryan pun memejamkan matanya dan berdecak samar. Dalam hatinya, Aryan mengutuk dirinya sendiri. Entah apa yang terucap dari mulutnya barusan. Aryan lantas berusaha menenangkan dirinya, ia berpikir bahwa ini hanya reaksi alami yang diberikan tubuhnya karena efek dari alkohol.

Karin terlihat mengulaskan senyumnya sekilas, kemudian ia berujar, “It's oke, if you want to sleep in my shoulder. You can do it, here.”

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Karin, sontak membuat Aryan kembali melayangkan tatapannya kepada Karin. Aryan mendapati senyum Karin yang tampak begitu tulus. Karin pun mengizinkan Aryan bersandar di pundaknya untuk terlelap sejenak.

Dengan gerakan sedikit canggung, Aryan mulai mendekatkan dirinya pada Karin. Tidak sampai lima detik berikutnya, Aryan sudah membaringkan kepalanya di bahu Karin. Pundak Karin kini terasa sedikit berat, tapi itu bukan masalah besar baginya.

“Karin, kalau udah 10 menit kamu bisa bangunin aku,” ujar Aryan. Sebentar lagi Aryan hampir menuju ke alam mimpinya, ia bergerak sedikit dari posisinya untuk membuat posisinya terasa lebih nyaman.

“Iya, nanti aku bangunin,” ucap Karin.

Mata Aryan pun perlahan-lahan semakin terasa berat dan akhirnya terpejam juga. Nafasnya mulai terdengar teratur, dari posisinya saat ini, Karin dapat mendengar hembusan itu dan merasakan aroma parfum citrus segar bercampur floral khas Aryan.

Karin tiba-tiba terpikirkan sesuatu di tengah kegiatannya menunggu Aryan tidur. Hari ini Karin merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga Aryan. Mereka menyambut kehadirannya dengan begitu hangat. Keluarga yang lengkap yang mungkin tidak Karin miliki. Namun Karin menginginkan anaknya memiliki keluarga yang tetap terasa lengkap, sekalipun tahu bahwa orang tuanya tidak akan bersama. Karin berpikir jika nanti hak asuh anaknya jatuh ke tangan Aryan, Karin rela untuk itu. Di mana jika dibandingkan dengan keluarganya, keluarga Aryan jauh lebih mampu mencukupi kebutuhan dari segi materi dan kasih sayang untuk si kecil nantinya.

Karin sangat mencintai anaknya. Ia yang mengandung dan akan melahirkannya ke dunia. Namun prioritas Karin saat ini dan selamanya adalah kebahagiaan anaknya. Menurutnya, cinta tidak selalu tentang mendekap seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Merelakan seseorang yang dicintai untuk bahagia, meski kebahagiaan itu berasal dari sumber yang berbeda, merupakan bentuk cinta yang sangat besar. Karin percaya bahwa Aryan mampu mewujudkan keluarga yang sempurna untuk anak mereka. Karin tahu Aryan begitu mencintai anaknya dan dapat menjadi orang tua yang baik nantinya.

Tiba-tiba Karin merasakan kedua matanya memanas. Kalau memikirkan soal anak, Karin sangat mudah merasa lemah.

Karin bergerak mengarahkan tangannya untuk mencegah sesuatu keluar dari pelupuk matanya. Detik berikutnya, Karin pun berujar dalam hati, “Nak, suatu hari nanti, Mama harap kamu bisa mengerti, meskipun ini akan sulit untuk kamu pahami. Kamu perlu tau, Mama dan Papa sangat mencintai kamu, hanya aja kita nggak bisa menentukan takdir dan rasa cinta seseorang. Papa dan Mama bukan dua orang yang saling mencintai, Nak. Namun itu nggak akan merubah sedikitpun rasa sayang kita ke kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷