alyadara

Karin akan kembali dari Singapore ke Jakarta bersama para model yang mewakili fashion brand dari Indonesia. Sebelum berangkat ke bandara, teman-teman sejawatnya berencana berkumpul di suatu ruangan untuk sebuah perayaan kecil-kecilan. Karin juga akan datang ke sana, ia telah siap dan keluar dari kamar hotelnya bersama Dara untuk turun ke lantai bawah.

Saat melewati ruang busana sebelum sampai ke aula, Karin otomatis menghentikan langkahnya begitu mendengar percakapan dari ruangan yang pintunya nampak terbuka setengah. Melihat Karin berhenti, Dara pun ikut merasa penasaran mengenai topik yang membuat sahabatnya itu sampai ingin mengetahuinya. Di samping Karin, Dara akhirnya ikut mendengarkan percakapan 4 orang di dalam ruangan itu.

“Lo tau nggak, seharusnya pekerjaan ini tuh untuk temen gue. Awalnya bukan Kina yang di tunjuk untuk ngewakilin La Feme, tapi model lain,” ujar salah satu perempuan.

“Serius lo? Gimana bisa sih? Emang semudah itu ya, dia bisa geser posisi orang lain?” tanya perempuan lainnya di sana.

“Dia punya koneksi orang dalam, jadi dia bisa dapatin project ini dengan mudah. Sedangkan teman gue yang notabenenya nggak punya privilege itu, cuma bisa nerima kenyataan. Itu udah jadi resiko katanya, kalau dia mau tetap bertahan di industri ini.”

***

Karin masih berada di kamarnya untuk merapikan barang-barangnya yang tersisa sebelum meninggalkan tempat ini. Setelah acara singkat bersama teman-temannya, para model pun di beri waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke bandara.

Karin belum mengetahui secara pasti, tapi akhirnya ia tetap pada tekadnya untuk menghubungi Aryan. Ia harus menyampaikan sesuatu yang dirasanya penting kepada lelaki itu. Tidak berapa lama setelah terdengar nada sambung di ponselnya, suara khas Aryan pun memasuki indera pendengaran Karin.

“Halo, Karin? Ada apa?” ujar Aryan.

“Kak, kamu lagi sama Kina sekarang?” tanya Karin.

“Rencananya aku sama Kina flight bareng ke Jakarta. Aku belum ketemu Kina, nanti siang jam 1 baru kita ketemuan di hotelku.”

“Oke. Aku cuma mau bilang sesuatu sama kamu. Aku belum tau pasti soal ini, tapi ini untuk berjaga-jaga.”

“Soal apa? Kamu bisa bilang ke aku.”

Karin lantas menceritakan pada Aryan soal apa yang ia dengar tentang Kina. Karin mengatakan ia meminta Aryan untuk bersikap lebih waspada dan saat ini sebaiknya mereka patut berhati-hati, pada orang terdekat sekali pun. Kalau dipikir lebih cermat, siapa saja rasanya bisa menjadi andil kejadian di Bali waktu itu.

“Karin, kenapa kamu seolah curiga ke Kina? Aku nggak bermaksud meragukan kamu, tapi apa yang kamu dengar memang punya kaitan dengan pelaku yang jebak kita malam itu?” Aryan pun mengutarakan pendapatnya.

Karin terdiam sesaat, perempuan itu menghela napasnya sebelum kembali berujar, “Kak, maaf kalau aku terkesan mengarahkan ini ke Kina. Nanti aku jelasin ke kamu lebih detail-nya secara langsung. Saat ini aku minta ke kamu untuk nggak memberitahu siapa pun soal rencana kita mencari pelakunya. Oke?”

Beberapa detik kemudian, Aryan akhirnya menjawab, “Oke. Untuk berjaga-jaga, aku pastiin hanya kita yang tau soal ini.”

“Kak, aku mau tanya satu lagi sama kamu. Apa kamu ingat siapa orang yang punya akses ke kamar kamu selain kamu sendiri?”

Atas pertanyaan Karin tersebut, kini giliran Aryan yang dibuat terdiam. Sebuah benang merah yang terhubung di benak Aryan pun membuatnya kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Karin. Jawabannya tentu mengarah pada sosok yang sama dengan yang dicurigai Karin. Hanya Kina yang memiliki akses untuk masuk ke kamarnya selain dirinya sendiri.

“Kak, kamu tahu. Dengan koneksi, seseorang bisa melakukan apa aja yang dia mau. Satu lagi, orang yang berpotensi paling besar menyakiti kamu adalah orang terdekatmu, karena dia yang paling besar memiliki akses untuk melakukan itu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Pada sebuah papan besar yang merupakan mood board untuk para model, salah satunya terdapat nama Karina Roland di sana. Di mood board tersebut terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai oleh Karin dan dibawa berjalan di atas catwalk.

Sekitar dua minggu yang lalu, Karin mendapat tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan yang diberikan padanya. Karin sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.

Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan dengan cukup lancar. Selain bertemu dengan para model dari berbagai negara, Karin juga bertemu dengan para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.

“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sembari memperhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih nampak begitu cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin's White Dress

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer perempuan bersurai blonde di hadadapannya. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.

I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager as soon as possible,” ucap Alicia lagi.

It's my plessure. Your design is very amazing too. I will glad to wear it in next project,” balas Karin.

Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya.

“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.

“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready sebentar lagi.”

Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.

Kaki jenjang Karin membawanya menuju ke arah ruang tunggu yang dikhususkan untuk keluarga para model. Ketika sampai di sana, mata Karin langsung menangkap sosok yang begitu fameliar baginya. Saat Karin akan menghampiri sosok itu, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan langkah Karin.

Karin pun melihat layar ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Rey mengatakan bahwa ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin segera membalas pesan Rey dan mengatakan kalau Rey perlu menunggunya sebentar lagi.

Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana dan segera melangkah menghampirinya.

Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas jaket denim yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memperhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos, kini telah tertutup oleh jaket itu.

“Acaranya udah selesai, kan? Biar kamu nggak kedinginan, pakai jaket aku ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran yang ada di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.

“Kamu udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.

“Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.

“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin. Beberapa detik yang lalu, Aryan sempat memperhatikan sampai tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Karin.

Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.

“Kamu udah janjian sama Kina?” Karin bertanya lagi pada Aryan.

“Udah. Cuma tadi ada asisten yang namanya Nia, dia tau kalau aku suami kamu. Jadi dia saranin aku buat nunggu di sini. Aku udah coba telfon Kina, mungkin dia belum sempat pegang hp, jadi telfonku belum diangkat.”

Aryan adalah suami Karin, itu lah yang diketahui oleh publik. Namun kenyataan yang terjadi sangatlah berbeda. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin. Jadi sebelumnya Nia memberitahu pada Karin bahwa suaminya sedang menunggunya di ruang tunggu khusus keluarga.

Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda.

Aryan dan Karin akhirnya keluar dari ruang tunggu. Karin berniat mengantar Aryan ke backstage di mana Kina berada, tapi langkah keduanya seketika terhenti kala mendapati sosok Kina dari arah yang berlawanan.

“Sayang, maaf ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.

“Nggak papa,” balas Aryan sembari menorehkan senyumnya kepada Kina.

Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang berada di samping Aryan. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.

Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu netranya menangkap sosok Rey yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Rey pun segera berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, Rey menatap Karin dengan tatapan bangganya.

You look so amazing tonight,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian seulas senyum simpul pun tercetak di wajah Rey.

Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau isi pikiran Karin, Rey pun kembali berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempat liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang mendadak.

Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey, kamu udah sempetin buat dateng.”

Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu rupanya sudah berada di hadapan Rey dan Karin.

“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.

Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.

I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir publik akan curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.

Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini menggenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.

“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian ngerayain suksesnya fashion show aku dan Karin,” ujar Kina. Detik berikutnya pun Kina mengalihkan tatapannya pada Karin dan Rey sembari berujar, “Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”

***

Mereka berempat duduk berhadapan sembari menyantap sebuah hidangan makan malam yang dipesan dari restoran yang terletak di lantai bawah hotel ini.

“Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud untuk bersikap kayak gitu,” ujar Kina setelah meneguk minumannya dan meletakkan gelasnya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau kalau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina.

Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina memang saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf.

Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu ia mengangguk dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja.

Karin menatap Kina sembari berujar, “Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, semua itu terjadi karena ketidaksengajaan.”

***

“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk melakukan sebuah permainan. Kina sudah memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara truth atau dare.

Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.

Oke, I choose truth,” ujar Aryan.

Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan menjadi orang yang akan melempar pertanyaan.

Did you have a crush before we met?” tanya Kina sembari menatap Aryan.

Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”

Can you give us more clue?” tanya Kina lagi.

Oke. The clue is you know her.”

Oh my god. Really?

Yes. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.

Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang mendapat giliran memutar pulpennya dan benda itu pun berhenti menghadap tepat ke arah Rey.

Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.

Do you have a biggest secret in your life? You can tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.

Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya menjawab. “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.

Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini Karin yang mendapat giliran untuk bermain.

I choose dare,” ucap Karin.

Alright. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.

Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini? Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.

Mendengar ujaran dari Kina, Rey langsung menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Tenang, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”

“Kina, dengan lo bilang lo nggak meragukan pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.

“Lho, kalau gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.” Kina menatap Karin dan Aryan secara bergantian. Aryan pun membalas tatapan Kina dengan tatapan memperingati.

“Kina, kamu bisa minta Karin ngelakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.

Karin pun menatap Rey dan mencoba untuk menenangkan kekasihnya. Beberapa saat kemudian, Karin mengalihkan tatapannya pada Kina dan berkata, “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare.”

“Oke, ini simple kok. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete,” ucap Kina.

Ucapan Kina yang terasa sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” tegas Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan memicingnya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan ke Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan. Kenapa seolah-olah kalian berdua lagi sama-sama nyembunyiin sesuatu?” balas Kina yang masih bersikap keras kepala.

Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey tersebut. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.

“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik untuk kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.

“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama ini Kak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku sama Rey permisi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin akan kembali dari Singapore ke Jakarta bersama para model lainnya. Sebelum berangkat ke bandara, teman-teman sejawatnya berencana berkumpul di suatu ruangan untuk sebuah perayaan kecil-kecilan. Karin juga akan datang ke sana, ia telah siap dan keluar dari kamar hotelnya bersama Dara untuk turun ke lantai bawah.

Saat melewati ruang busana sebelum sampai ke aula, Karin otomatis menghentikan langkahnya begitu mendengar percakapan dari ruangan yang pintunya terbuka setengah itu. Melihat Karin berhenti, Dara pun ikut merasa penasaran topik apa yang membuat sahabatnya itu sampai ingin mengetahuinya. Di samping Karin, Dara akhirnya ikut mendengarkan percakapan 4 orang di ruangan itu.

“Lo tau nggak, seharusnya pekerjaan ini untuk teman gue. Awalnya bukan Kina yang di tunjuk untuk ngewakilin La Feme, tapi model lain,” ujar salah satu perempuan.

“Serius lo? Gimana bisa sih? Emang semudah itu ya dia bisa geser posisi orang lain?” tanya perempuan lainnya di sana.

“Dia punya koneksi orang dalam, jadi dia bisa dapatin project ini dengan mudah. Sedangkan teman gue yang notabenenya nggak punya privilege itu, cuma bisa nerima kenyataan. Itu jadi resiko katanya, kalau dia mau tetap bertahan di industri ini.”

***

Karin masih berada di kamarnya untuk merapikan barang-barangnya yang tersisa sebelum meninggalkan tempat ini. Setelah acara singkat bersama teman-temannya, para model pun di beri waktu untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke bandara.

Karin belum mengetahuinya secara pasti, tapi akhirnya ia tetap pada tekadnya untuk menghubungi Aryan. Tidak berapa lama setelah terdengar nada sambung di ponselnya, suara khas Aryan pun memasuki indera pendengaran Karin.

“Halo, Karin? Ada apa?” ujar Aryan.

“Kak, kamu lagi sama Kina sekarang?” tanya Karin.

“Rencananya aku sama Kina flight bareng ke Jakarta. Aku belum ketemu Kina, siang nanti jam 1 baru kita ketemuan di hotelku.”

“Oke. Aku mau bilang sesuatu sama kamu. Aku belum tau pasti soal ini, tapi aku bilang ke kamu cuma untuk berjaga-jaga.”

“Soal apa? Karin, kamu bisa bilang ke aku.”

Karin lantas menceritakan pada Aryan soal apa yang ia dengar tentang Kina. Karin mengatakan ia meminta Aryan untuk bersikap lebih waspada dan saat ini sebaiknya mereka patut berhati-hati. Kalau dipikir leboh cermat, siapa saja rasanya bisa menjadi andil pertemuan Karin dan Aryan di hotel Bali waktu itu.

“Karin, kenapa kamu seolah curiga ke Kina? Aku nggak bermaksud meragukan kamu, tapi apa yang kamu dengar memang punya kaitan dengan pelaku yang jebak kita malam itu?”

Karin terdiam sesaat, perempuan itu menghela napasnya sebelum kembali berujar, “Kak, maaf kalau aku terkesan mengarahkan ini ke Kina. Nanti aku jelasin ke kamu lebih detailnya secara langsung. Saat ini aku minta ke kamu untuk nggak memberitahu siapa pun soal rencana kita mencari pelakunya. Oke?”

“Oke. Untuk berjaga-jaga, aku pastiin hanya kita yang tau soal ini.”

“Kak, aku mau tanya satu lagi sama kamu. Apa kamu ingat siapa orang yang punya akses ke kamar kamu selain kamu sendiri?”

Atas pertanyaan Karin itu, Aryan pun kini yang dibuat terdiam. Sebuah benang merah yang terhubung di benak Aryan membuatnya kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Karin. Jawabannya tentu mengarah pada sosok yang sama dengan yang dicurigai Karin.

“Kak, kamu tahu. Dengan koneksi, seseorang bisa melakukan apa aja yang dia mau. Satu lagi, orang yang berpotensi paling besar menyakiti kamu adalah orang terdekatmu, karena dia yang paling besar memiliki akses untuk ngelakuin itu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Pada sebuah papan besar yang merupakan mood board untuk para model, salah satunya terdapat nama Karina Roland di sana. Di mood board tersebut terdapat foto busana yang akan Karin kenakan pada fashion parade. Ada dua buah gaun cantik yang merupakan brand dari Indonesia, yang malam ini akan dipakai oleh Karin dan dibawa berjalan di atas catwalk.

Sekitar dua minggu yang lalu, Karin mendapat tawaran untuk menjadi perwakilan model dari brand Rachel & Rebecca untuk Fashion Parade di Singapore. Setelah mempertimbangkan berbagai hal, Karin memutuskan mengambil kesempatan yang diberikan padanya. Karin sudah mendiskusikannya pada Aryan dan lelaki itu mengizinkannya untuk pergi. Sebelumnya Karin juga telah meminta pendapat dokter kandungannya dan rupanya kondisinya juga baik, jadi Karin memutuskan mengambil pekerjaan ini.

Selama kurang lebih 3 jam termasuk persiapan, show tersebut berjalan dengan cukup lancar. Selain bertemu dengan para model dari berbagai negara, Karin juga bertemu dengan para desainer yang memiliki keunikan masing-masing pada setiap rancangan mereka.

“Karina, you look so beautiful and gorgeous,” ujar seorang desainer sembari memperhatikan Karin yang baru saja kembali ke backstage. Gaun off shoulder berwarna putih nampak begitu cantik membalut tubuh semampai Karin.

Karin's White Dress

Karin pun mengulaskan senyumnya pada desainer perempuan bersurai blonder di hadadapannya. “Thank you very much, Alicia,” ucap Karin.

I hope that next time you willing to wear my design. I will contact your manager as soon as possible,” ucap Alicia lagi.

It's my plessure. Your design is very amazing too. I will glad to wear it in next project,” balas Karin.

Percakapan Karin dengan Alicia pun berakhir ketika seorang asisten menghampiri Karin dan menyampaikan sesuatu padanya. Nia yang merupakan asisten sudah cukup kenal dengan Karin, menyampaikan sesuatu padanya.

“Oke Nia, makasih ya infonya,” ucap Karin.

“Sama-sama Mbak. Aku ke sana dulu ya, masih ada model yang harus ready bentar lagi.”

Karin pun menganggukkan kepalanya sebelum akhirnya Nia melenggang dari hadapannya. Saat Nia sudah menjauh dan menghilang di antara orang-orang, Karin pun bergegas keluar dari backstage.

Kaki jenjang Karin membawanya ke menuju ke arah ruang tunggu yang di khususkan untuk keluarga para model. Ketika sampai di sana, mata Karin langsung menangkap sosok yang begitu fameliar baginya. Saat Karin akan menghampiri sosok itu, sebuah bunyi tanda pesan yang masuk dari ponselnya pun menahan langkah Karin.

Karin pun melihat layar ponselnya. Itu adalah pesan dari Rey. Rey mengatakan bahwa ia telah sampai di gedung ini dan akan menemuinya. Karin segera membalas pesan Rey dan mengatakan kalau Rey perlu menunggunya sebentar lagi.

Setelah memberitahu Rey, Karin berniat menghampiri sosok jangkung itu. Namun ketika baru beberapa langkah, orang itu rupanya lebih dulu mendapati kehadiran Karin di sana dan segera melangkah menghampirinya.

Sesampainya sosok jangkung itu hadapan Karin, ia melepas jaket denum yang dipakainya dan mengangsurkannya ke bahu Karin. Sepersekian detik kemudian, Karin memperhatikan kedua bahunya yang sebelumnya terekspos, kini telah tertutup dengan jaket itu.

“Acaranya udah selesai, kan? Biar kamu nggak kedinginan, pakai jaket aku ya,” ujar Aryan seolah dapat membaca pikiran yang ada di dalam benak Karin. Karin pun hanya mengangguk sekilas.

“Kamu udah ketemu sama Kina?” tanya Karin setelah beberapa saat keduanya tidak mengatakan apa pun.

“Kak?” Karin pun kembali melontarkan pertanyaan kala Aryan malah cuma menatapnya.

“Oh iya, belum. Aku belum ketemu sama Kina.” Aryan pun segera menjawab dan mengalihkan tatapannya dari Karin. Kini netranya tidak seintens sebelumnya menatap Karin. Beberapa detik yang lalu, Aryan sempat memperhatikan sampai tidak mampu mengalihkan pandangannya dari Karin.

Karin nampak sangat cantik menggunakan dress itu, pikir Aryan.

“Kamu udah janjian sama Kina?” Karin bertanya lagi pada Aryan.

“Udah. Cuma tadi ada asisten yang namanya Nia, dia tau kalau aku suami kamu. Jadi dia saranin aku buat nunggu di sini. Aku udah coba telfon Kina, mungkin dia belum sempat pegang hp, jadi telfonku belum di angkat.”

Aryan adalah suami Karin, itu lah yang diketahui oleh publik. Namun kenyataan yang terjadi sangatlah berbeda. Sementara yang tidak diketahui publik, Aryan ada di sini untuk mencari Kina, bukan Karin. Jadi sebelumnya Nia memberitahu pada Karin bahwa suaminya sedang menunggunya di ruang tunggu khusus keluarga.

Aryan datang untuk Kina dan mungkin mereka memiliki rencana setelah ini. Karin tidak tahu pasti mengenai hal tersebut. Karin dan Kina berada di project yang sama, tapi mereka mewakili brand fashion yang berbeda.

Aryan dan Karin akhirnya keluar dari ruang tunggu. Karin berniat mengantar Aryan ke backstage di mana Kina berada, tapi langkah keduanya seketika terhenti kala mendapati sosok Kina dari arah yang berlawanan.

“Sayang, maaf ya, aku baru bisa pegang hp. Jadi baru baca chat kamu,” ujar Kina saat dirinya telah berada di hadapan Aryan.

“Nggak papa,” balas Aryan sembari menorehkan senyumnya kepada Kina.

Pandangan Kina sontak beralih dari Aryan kepada Karin yang berada di samping Aryan. Mereka bertiga saling bertatapan selama beberapa detik, sampai Karin akhirnya lebih dulu berujar untuk berpamitan dari hadapan Aryan dan Kina.

Namun saat Karin melangkah berbalik, langkahnya justru tertahan begitu netranya menangkap sosok Rey yang berjarak tidak jauh dari posisinya saat ini. Rey pun segera berjalan menghampiri Karin dan ketika sampai di hadapannya, Rey menatap Karin dengan tatapan bangganya.

You look so amazing tonight,” ucap Rey masih sambil menatap Karin. Kemudian seulas senyum simpul pun tercetak di wajah Rey.

Karin menatap Rey dengan tatapan bertanya. Seolah tau isi pikiran Karin, Rey pun kembali berujar, “As you see, aku dateng, Karin. Bahkan tadi aku sempat liat kamu di catwalk.” Sebelumnya Rey mengatakan bahwa ia tidak bisa datang, tapi rupanya Rey sudah berniat memberi kejutan untuk Karin dengan kehadirannya yang mendadak.

Senyum Karin pun terulas begitu saja, lalu perempuan itu berujar, “Makasih ya Rey, kamu udah sempetin buat dateng.”

Tentu di sana Rey menangkap sosok Aryan dan Kina yang tidak jauh dari posisinya dan Karin. Sebelum Rey menanyakan sesuatu pada Karin, Kina rupanya lebih dulu membuka suaranya dan perempuan itu rupanya sudah berada di hadapan Rey dan Karin.

“Kalian mau date juga setelah ini?” tanya Kina.

Rey dan Karin pun saling melempar pandangan akan pertanyaan Kina yang spontan itu.

I think the answer is yes. So same like me and Aryan. Gimana kalau kita double date aja? Nggak usah khawatir publik akan curiga soal hubungan kita. Kamarku lebih dari cukup untuk kita berempat. Aku pastiin semuanya akan aman,” ujar Kina lagi.

Rupanya Aryan sudah berada di samping Kina dan kini mengenggam tangannya. “Kina,” ujar Aryan sambil menatap Kina. Aryan seperti mengetahui maksud tujuan Kina dan lelaki itu mencoba untuk mencegahnya.

“Sayang, nggak papa dong kita double date. Ini buat sekalian ngerayain suksesnya fashion show aku dan Karin. Gimana Karin, Rey? Kalian mau kan join sama kita?”

***

Mereka berempat duduk berhadapan sembari menyantap sebuah hidangan makan malam yang dipesan dari restoran yang terletak di lantai bawah hotel ini.

“Karin, Rey, soal kejadian di lapangan waktu itu, gue minta maaf ya sama kalian. Gue nggak bermaksud untuk bersikap kayak gitu,” ujar Kina setelah meneguk minumannya dan meletakkan gelasnya di meja. “Gue hampir aja nyakitin Karin. Gue nyesel banget dan tau kalau gue salah. Karin, sekali lagi gue minta maaf ya,” sambung Kina.

Sebelum kejadian di Bali waktu itu, Karin dan Kina memang saling mengenal dengan baik. Namun kini hubungan keduanya terasa berbeda. Belum ada percakapan antara Karin dan Kina sejak itu, tapi kini mendadak Kina meminta maaf.

Rey pun menatap Karin sejenak, seolah tatapannya bertanya pada Karin mengenai sesuatu. Karin mengulaskan senyumnya, lalu ia mengangguk dan mengusap tangan Rey yang berada di bawah meja.

Karin menatap Kina sembari berujar, “Kina, aku udah maafin kamu. Kak Aryan mungkin udah kasih tau ke kamu soal malam itu. Aku mau memperjelas aja, kejadian di Bali antara aku dan Kak Aryan, semua itu terjadi karena ketidaksengajaan.”

***

“Oke, sebelum double date kita berakhir, kita akan main truth or dare,” ujar Kina memulai pembicaraan di meja itu.

Setelah makan malam selesai, mereka berempat setuju untuk melakukan sebuah permainan. Kina sudah memegang sebuah pulpen dan memutarnya di tengah meja. Saat benda kecil itu berhenti dan mengarah pada seseorang, maka orang itu harus memilih antara truth atau dare.

Oh my god, it's you're turn,” seru Kina begitu pulpennya berhenti dan mengarah ke Aryan.

Oke, I choose truth,” ujar Aryan.

Di antara Karin dan Rey yang tidak ingin memberi pertanyaan pada Aryan, Kina pun memutuskan menjadi orang yang akan melempar pertanyaan.

Did you have a crush before we met?” tanya Kina sembari menatap Aryan.

Sebelum menjawab, Aryan menatap satu persatu mereka yang ada di sana. Berakhirlah tatapannya pada Kina dan ia berujar, “Yes, I did.”

Can you give us more clue?” tanya Kina lagi.

Oke. The clue is you know her.”

Oh my god. Really?

Yes. But it's only a past. Nggak ada hubungannya dengan saat ini. I just amazed with her, I never think it is a love, that's it,” ungkap Aryan.

Permainan akhirnya dilanjut setelah Aryan menyelesaikan jawabannya. Kini Aryan yang mendapat giliran memutar pulpennya dan benda itu pun berhenti menghadap tepat ke arah Rey.

Rey pun memilih truth dan giliran Karin yang akan melontarkan pertanyaannya.

Do you have a biggest secret in your life? You can only tell us the clue, just a little bit,” ujar Karin sambil menatap Rey.

Rey nampak berpikir sejenak, alis tebal lelaki itu lantas menyatu. Rey berdeham sebelum akhirnya menjawab. “Oke, I have that one. I know someone who have crush on Karin. Just it,” ujar Rey memberikan jawabannya.

Permainan pun kembali dilanjutkan. Kini Karin yang mendapat giliran untuk bermain.

I choose dare,” ucap Karin.

“Oke. Gue akan kasih dare buat Karin,” sahut Kina tepat setelah Karin memilih.

Take a note guys, I'm just curious about this. Karin, apa lo punya perasaan ke seseorang di ruangan ini? Tentu selain Rey, karena udah jelas kan kalau lo mencintai Rey,” ujar Kina.

Mendengar ujaran dari Kina, Rey langsung menatap ke arah Kina. Kina yang mendapat tatapan kurang enak dari Rey itu kembali berujar, “Tenang, Rey. Ini cuma permainan, kan? Nggak menutup kemungkinan kalau Karin punya perasaan ke Aryan. Aku nggak meragukan pacarku, aku cuma penasaran aja.”

“Kina, dengan lo bilang lo nggak meragukan pacar lo, artinya lo meragukan Karin,” ujar Rey dengan nada sarkasnya.

“Lho, kalu gitu lo juga meragukan Karin dong? Kalau lo percaya sama Karin dan hubungan kalian, everything is oke if I asked Karin like that.” Kina menatap Karin dan Aryan secara bergantian. Aryan pun membalas tatapan Kina dengan tatapan memperingati.

Is a dare, not a truth,” ujar Rey dengan nada tegasnya.

“Kina, kamu bisa minta Karin ngelakuin sesuatu, tapi semua tetap ada aturannya. Kalau kamu nggak bisa ngikutin aturannya, lebih baik kita udahin aja permainan ini,” ujar Aryan.

“Rey, it's oke,” ucap Karin sambil menatap Rey dan coba menenangkan kekasihnya. “Kina, kamu bisa kasih tau aku apa yang harus aku lakuin untuk dare,” sambung Karin sembari mengalihkan tatapannya kepada Kina.

“Oke, ini simple kok. Kamu buktiin kalau kamu emang nggak ada perasaan ke pacarku. Kiss him and the dare will complete,” ucap Kina.

Ucapan Kina yang terasa sangat enteng keluar dari mulutnya itu rupanya dapat membuat emosi Rey tersulut. Rey masih diam di tempatnya, tapi Karin tau kekasihnya itu sedang berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak.

“Kina, kamu udah kejauhan. It's not make sense at all. We need to stop this,” tegas Aryan.

Kina menatap Aryan dengan tatapan memicingnya. “Oh, atau kamu udah mulai ada perasaan ke Karin? Nggak ada salahnya dengan kissing, kan? Kalau kalian nggak ada perasaan. Kenapa seolah-olah kalian berdua lagi sama-sama menyembunyikan sesuatu?” balas Kina yang masih bersikap keras kepala.

Tanpa aba-aba, Rey pun meraih tangan Karin dan memintanya untuk bangun dari duduknya. Karin mengangguki ajakan Rey tersebut. Ia akan mengambil tasnya di sofa baru kemudian mereka bisa pergi dari sana.

“Rey, sebentar,” ujar Karin menahan Rey ketika mereka hampir sampai di pintu. Karin pun berbalik untuk kembali berhadapan dengan Kina dan Aryan.

“Kina, seharusnya kamu nggak perlu pembuktian apa pun. Seharusnya kamu bisa melihat dan percaya. Selama ini Kak Aryan ngelakuin semua untuk kamu karena dia mencintai kamu,” ujar Karin. Setelah menatap Kina, kini Karin beralih menatap Aryan, “Kak, aku pamit dulu ya. Makasih buat makan malamnya, aku sama Rey permisi.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin mengambil sebuah dress di bawah lutut berwarna sage green dari dalam lemari pakaian. Ia pikir ini cukup bagus. Tampilannya terlihat simple, tidak terlalu berlebihan, jadi cocok untuk acara dinner dan piknik di tenda malam ini. Setelah siap dengan gaunnya, Karin mengecek lagi riasannya di kaca meja rias. Di rasa makeup-nya telah pas, Karin pun mengambil parfum beraroma manis vanilla bercampur sedikit scent floral yang segar. Karin menyemprotkan parfum tersebut di sekitar pergelangan tangan dan tengkuknya.

Karin pun telah siap. Ia memutuskan melangkah menuruni tangga untuk sampai di lantai bawah. Di ruang tamu, Aryan sudah siap lebih dulu beberapa menit yang lalu dari pada Karin. Saat netra Aryan menangkap kehadiran Karin di anak tangga terakhir, bahkan sampai perempuan itu sampai tepat di hadapannya, Aryan tidak bisa melepas pandangannya pada Karin. Aryan merasa bahwa dunianya telah berhenti dan hanya terarah pada satu titik.

Aryan pun buru-buru mengalihkan tatapannya agar Karin tidak menangkap basah dirinya. Beberapa detik yang lalu Aryan tengah memperhatikan Karin dan terpesona terhadap perempuan itu. Rupanya Karin sendiri sedang memperhatikan penampilan Aryan yang malam ini nampak berbeda dari biasanya. Aryan mengenakan kemeja coklat tua yang bagian lengannya sedikit di gulung dan celana bahan hitam panjang. Tidak lupa di pergelangan tangan kirinya, Aryan mengenakan jam tangan hitam dari merek favoritnya. Apa yang Aryan kenakan terasa pas di tubuh pria itu.

Karin tersadar bahwa beberapa detik yang lalu ia terlalu fokus hanya ke Aryan. Karin pun segera mengalihkan perhatiannya pada ke sisi kanan ruang tamu. Di sana sudah ada sebuah tenda putih yang berukuran cukup besar, lengkap dengan sebuah kasur lantai dan bantal-bantal yang telah ditata rapi. Tidak hanya itu, sebuah lampu hias yang digantung di dalam tenda menyempurnakan kecantikan dekorasi tersebut.

“Kak, tendanya bagus banget,” ucap Karin dengan kedua matanya yang nampak berbinar bahagia.

Mendapati Karin tampak senang dengan hasilnya, rasanya semua seperti terbayarkan, usaha Aryan tidak sia-sia. Meskipun pengerjaaan tadi siang di lakukan oleh mas-mas tukang, tapi Aryan berandil banyak untuk mewujudkan dekor impian Karin menjadi kenyataan.

Sebelum mencoba tenda tersebut, Aryan dan Karin akan menikmati makan malam terlebih dahulu. Karin punya andil untuk memasak makanannya. Masakan yang Karin buat cukup sederhana, tapi semua menunya ini adalah request dari Aryan. Karin mencoba untuk membuat makanan Chinese kesukaan Aryan setelah ia sempat mempelajarinya sedikit dari Tiara.

Aryan dan Karin duduk berhadapan bersila di lantai, di hadapan mereka kini mereka sudah tersaji dua jenis menu masakan. Begitu Aryan menyuap makanannya untuk pertama kali, Karin memperhatikannya karena ingin melihat reaksi Aryan.

Begitu netra keduanya bertemu, Aryan menatap Karin tepat di irisnya, lelaki itu pun serta merta mengulaskan senyum simpulnya. “Masakan kamu enak, Karin. Aku suka,” ucap Aryan.

“Kemarin aku sempat belajar dikit sama mama. Mama bilang ini Chinese food yang paling gampang dari sekian banyak yang kamu suka. Mungkin rasanya nggak seenak buatan mama, tapi untungnya kamu suka dan masih bisa dimakan,” ujar Karin sembari mengambil makanan untuk dirinya sendiri.

“Kamu bisa belajar lagi, suatu saat pasti bisa sama persis sama buatan mama. Mungkin bisa lebih enak,” cetus Aryan.

Karin lantas mengulaskan senyum kecilnya sembari mengangguk. Keduanya melanjutkan menikmati makanan masing-masing dan tidak ada pembicaraan selama itu berlangsung. Sepanjang makan sampai dengan selesai, Aryan pun terpikirkan akan ucapannya sendiri. Suatu saat Karin akan bisa membuat masakan yang lebih enak dari ini. Namun apakah Karin akan memasak untuknya atau untuk pria lain?

“Kak,” celetuk Karin.

Aryan segera tersadar dari lamunannya dan menatap Karin. “Iya?”

“Sebenarnya aku udah tau dari Nayna, alasan kamu ngadain acara malam ini,” ujar Karin.

Sontak Aryan pun membelalak begitu mendengarnya. Namun ia mencoba untuk tetap bersikap tenang. Aryan lantas mengulaskan senyumnya dan bertanya, “Nayna bilang apa ke kamu?”

Karin terdiam selama beberapa detik sambil akhirnya tidak dapat lagi menahan senyumnya. Bahkan Karin sedikit tertawa sebelum akhirnya berujar, “Nayna nggak bilang apa-apa ke aku. Aku cuma asal nebak aja, Kak.”

Karin masih terseyum bahkan kini terkesan senyumannya itu tengah meledek Aryan. “Kayaknya Nayna emang jadi kotak rahasia kamu ya. Ekspresi kamu nggak bisa bohong, Kak.”

“Ohya?” Aryan pun heran sendiri terhadap dirinya. Apakah semudah itu Karin dapat membaca apa yang ada di pikirannya.

Karin pun mengangguk dnegan cepat. Setelah itu Karin kembali menyuap makanannya yang belum habis. Namun ketika Karin melihat Aryan, justru kini dirinya yang seperti terkunci oleh tatapan Aryan itu. Aryan menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Karin berusaha untuk menampik itu, ia pikir apa yang ada dalam pikirannya saat ini tentang Aryan hanya perasaannya yang merupakan kekeliruan.

Karin pun akhirnya mengalihkan tatapannya dari Aryan. Asal tidak melihat Aryan, Karin bisa merasa lebih rileks dan jantungnya kembali berdetak dengan normal.

“Acara malam ini memang diadakan karena sebuah alasan,” ujar Aryan kemudian.

“Karin,” ucap Aryan yang lantas membuat Karin menatap Aryan.

“Setelah makan malam ini, aku ingin membuat sebuah pengakuan sama kamu. Dua hari yang lalu, aku memutuskan untuk bikin malam spesial ini buat kamu,” sambung Aryan masih sambil menatap Karin dengan tatapan teduhnya.

Karin pun balas menatap Aryan. Mendapati Aryan menatapnya dengan lembutnya, membuat Karin seketika terdiam. Kedua mata kecil Aryan yang indah itu, seperti membawa Karin kembali pada malam di Bali waktu itu. Rentetan kejadian tersebut sialnya malah membuat Karin merasakan jantungnya berdegup dengan begitu kencang.

Rasanya tatapan Aryan kini sama seperti tatapannya kala malam itu. Sebagian diri Karin memang terpengaruh oleh obat, tapi sebagian lain dirinya menyadari semua yang terjadi. Aryan adalah sosok yang membuat Karin terjatuh telak malam itu. Sosok yang Karin kagumi dengan kesadaran dan akal waras yang masih tersisa di benak Karin kala itu.

***

Setelah makan malam berakhir, Aryan dan Karin memutuskan untuk menikmati sajian dessert di dalam tenda. Seperti layaknya melakukan camping sungguhan, ini merupakan hal yang pernah Karin inginkan waktu ia kecil. Karin belum sempat mewujudkannya dan malam ini tanpa diduga olehnya, terjadi begitu saja dalam hidupnya.

Karin pun merasa bahagia malam ini. Sebenarnya bukan soal tenda, dekorasi, dan makanan yang enak, tapi yang Karin tidak duga adalah orang yang mengusahakan melakukannya setelah tahu bahwa Karin begitu menginginkannya.

Karin menoleh ke samping, rupanya tepat saat itu Aryan juga tengah melihat ke arahnya. Tenda ini berukuran cukup besar, jadi memungkinkan mereka berdua yang berada di dalam masih memiliki jarak yang cukup memisahkan keduanya.

Detik berikutnya Aryan meletakkan piring dessert miliknya dan milik Karin yang telah bersih di meja kayu kecil di luar tenda. Sekembalinya Aryan, ia menempatkan dirinya untuk berada lebih dekat dengan Karin. Jarak yang sebelumnya terasa besar itu, kini jadi terlihat kecil.

Aryan menatap Karin dalam-dalam, detik berikutnya yang terjadi, Aryan meraih kedua tangan Karin dan mengenggamnya. “Karin.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, lelaki berparas oriental itu mengulaskan senyumnya.

Sebuah senyum yang begitu mempesona di mata Karin. Karin pikir dirinya sudah tidak waras karena baru saja memuja Aryan layaknya seorang perempuan kepada seorang lelaki pada umumnya.

Aryan berdeham sekali sebelum akhirnya berujar, “Dinner dan piknik kecil-kecilan yang kamu inginkan, aku bersyukur bahwa aku bisa mewujudkan ini untuk kamu. Semua yang udah kita lalui, waktu aku kehilangan arah, kamu justru begitu peduli sama aku. Aku juga sangat bersyukur untuk itu.”

Aryan mengatakan bahwa ketika dirinya berada di dalam jurang yang gelap, Karin datang padanya tanpa memedulikan pembatas yang ada di antara mereka. Rasa empati dan peduli Karin selama ini, perlahan-lahan dapat membuat Aryan menemui seberkas cahaya, hingga Aryan dapat menemukan petunjuk untuk keluar dari jurang yang gelap itu.

Karin memperhatikan pergerakan Aryan yang mengambil sesuatu dari balik tumpukan bantal yang ada di tenda. Rupanya benda tersebut adalah sebuah buket bunga dengan nuansa pink yang nampak begitu cantik. Aryan memberikan bunga tersebut kepada Karin. Karin menatap buket tersebut sejenak, sebuah senyum kecil lantas tersungging di bibirnya ketika menerima bunga tersebut.

“Karin, you’re look so beautiful this night. I never realized that actually you’re always amazing in your own way,” ungkap Aryan.

Aryan menjeda ucapannya, ia merasa begitu gugup saat ini. Karin pun masih menunggu Aryan untuk mengungkapkan semuanya. Usai menghela napasnya dan menghembuskannya, Aryan kembali berujar, “Aku pikir dua tahun yang lalu aku cuma kagum sama kamu. Rasa itu mungkin hanya akan aku rasakan sebentar dan bisa hilang gitu aja. Aku nggak berpikir kalau kita akan bertemu dan menikah. Sampai akhirnya aku sadar, setiap waktu yang kita lalui, itu berharga buat aku. Karin, I love you. I really fell in love with you. Aku ingin melindungi kamu dan membuat kamu bahagia. Aku mau mewujudkan keluarga yang lengkap buat kamu dan anak kita nanti. Kalau kamu bersedia, aku ingin kita mencoba hubungan yang sesungguhnya dan mengakhiri kesepakatan pernikahan yang kita buat sebelum menikah.”

Aryan selesai dengan semua yang ingin ia ungkapkan kepada Karin. Aryan tahu bahwa Karin begitu mencintai Rey. Rey adalah sosok yang sempurna sebagai seorang kekasih dan tempat bagi Karin disaat senang dan terpuruknya.

Meskipun Aryan tahu jalan yang ia lalui tidak mudah, tapi Aryan akan tetap berusaha untuk memperjuangkan Karin. Selain anak mereka yang membuatnya bertahan dari kehancuran, rupanya Karin juga menjadi alasan bagi Aryan bangkit dan berjuang untuk menjadi sosok lebih baik.

Karin menatap Aryan dengan tatapan terharunya. Karin sedikit terkejut dengan pernyataan Aryan malam ini. Karin melihat bunga yang diberikan Aryan di tangannya, senyumnya pun terulas manis sekali.

Karin menatap Aryan tepat di matanya, lalu ia berujar, “Thank you for the dinner, the beautiful tent, and this flowers. Aku menghargai semua usaha yang kamu lakukan untuk mewujudkan malam ini. Aku nggak pernah berpikir kamu akan menyatakannya. But it just happened and I was very surprised for that.” Karin menjeda ucapannya sesaat. Tiba-tiba di benak Karin terputar memori-memorinya bersama Aryan beberapa bulan belakangan ini. Ada senang maupun sedih di sana. Namun tanpa Karin sadari, semua yang telah ia lalui bersama Aryan terasa berharga baginya. Setiap perhatian yang Aryan berikan padanya, rasanya begitu tulus. Bukan hanya untuk anak di kandungannya saja, tapi untuk Karin juga.

Masih sambil menatap Aryan, Karin pun kembali berujar, “Kak, aku butuh waktu untuk memberikan jawaban ke kamu. Kalau kamu bersedia untuk nunggu, aku akan berikan jawaban untuk mempertahankan rumah tangga kita atau enggak.”

Karin menjelaskan bahwa ia tidak ingin perasaannya keliru. Karin tidak ingin benar-benar merasakan perasaannya yang sejujurnya terhaap Aryan. Karin juga akan akan memberi Aryan kesempatan untuk membuktikan pernyataan cintanya tersebut, bukan hanya dari perkataan, tapi juga dari perbuatan.

Karin berikir bahwa jatuh cinta itu rumit. Apa mungkin seseorang bisa menemukan cinta lainnya disaat hatinya sudah bertuan? Mungkinkah Aryan sungguh-sungguh terhadap perkataannya? Apa Karin bisa mencintai Aryan ketika ada sosok sempurna yang jelas-jelas mencintainya selama ini?

Karin mendongak kala Aryan meraih satu tangannya yang tidak meemgang buket bunga untuk digenggam. “Karin, I will let you to do it. Aku akan memperjuangkan kamu dan menunggu kamu memberi jawaban.” Aryan menjelaskan ia bertekad memperjuangkan Karin dan bersedia menghadapi badai apa pun yang siap menanti di depan. Aryan akan bersedia terhadap keputusan apa pun yang nantinya Karin berikan padanya.

Jatuh cinta bukan hanya tentang perasaan kita sendiri, melainkan juga tentang perasaan orang lain. Aryan ingin membiarkan Karin merasakan perasaannya yang sesungguhnya dari dalam hatinya. Karin harus bahagia nantinya dengan keputusan apa pun yang akan dipilihnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dalam perjalanan dari Puncak menuju Jakarta malam ini, Aryan memikirkan keputusan yang akan diambilnya. Aryan telah berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Aryan hampir tidak fokus selama menjalani acara makrab dua hari satu malam bersama teman-temannya. Raganya memang berada di sana, tapi jiwanya seperti berada bersama Karin. Ia selalu memikirkan Karin di setiap waktunya.

Aryan merasakan sebuah perasaan yang begitu menggebu, ia pikir itu adalah rindu. Tadinya Aryan berniat mengajak Karin ke puncak dan ia merencanakan sesuatu untuk menyatakan perasannya pada Karin di sana. Namun Aryan perlu mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Karin juga sedang mengandung, jadi Aryan punya kekhawatiran jika harus membawa Karin pergi.

Saat kepergian Aryan diketahui oleh mamanya, mamanya pun langsung meminta Karin untuk menginap di rumah. Aryan mengingat perkataan Karin soal keinginannya punya keluarga yang lengkap, jadi Aryan pikir akan sangat bagus jika Karin menginap di rumah orang tuanya. Aryan berharap Karin dapat merasakan hangatnya keluarga yang sempurna seperti yang selama ini perempuan itu dambakan.

Beberapa jam yang lalu saat mereka akan pulang, Leon yang melihat Aryan uring-uringan pun memintanya untuk tidak menyetir. Jadi Leon memutuskan mengambil alih kemudi dari Puncak sampai Jakarta. Aryan duduk di samping kiri pengemudi, sementara kursi belakang ada William dan Andra yang tengah tertidur pulas.

“Leon,” ujar Aryan.

“Apaan?” Leon menyahuti sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.

I will make a confession to Karin.”

Perkataan Aryan seketika membuat Leon terkejut, bahkan lelaki itu sampai terdiam sesaat. Begitu keluar dari tol dan kini mereka sudah sampai di Jakarta, Leon pun menoleh sekilas pada Aryan sambil bertanya, “Lo serius?”

“Gue serius,” jawab Aryan diiringi sebuah anggukan di kepalanya.

“Nggak bisa bohong kan lo sama perasaan lo sendiri,” celetuk Leon.

“Tapi kalau Karin nolak gue gimana?” tanya Aryan tiba-tiba. Pemikirannya pun seketika dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Pikirin itu belakangan. Gue tau lo pinter. Jangan cuma pinter di akademik aja, masalah percintaan juga harus pinter. By the way, siapa aja yang udah tau soal ini?”

“Baru lo sama Nayna,” terang Aryan.

“Mantep. Nyokap lo kalau tau nanti juga pasti seneng. Tante Tiara keliatan sayang banget sama Karin. Kalau Nayna sih, udah pasti dukung seratus persen. Adek lo tuh di garda paling depan untuk urusan yang berhubungan sama lo dan Karin.”

Aryan menyetujui perkataan Leon barusan. Aryan bersyukur atas kenyataan bahwa Karin dapat akrab dengan keluarganya, sebaliknya keluarganya juga sangat menerima dan menyayangi Karin. Semuanya terasa lebih baik secara bertahap saat Karin datang ke hidupnya. Aryan mungkin terlambat menyadari itu, tapi ia masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Karin. Hatinya tidak lagi bisa berbohong, Aryan telah jatuh cinta kepada Karin. He’s really fall in love with her.

***

Aryan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya eropa modern berlantai tiga. Bangunan yang cukup luas itu membuatnya harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di halaman belakang.

Saat Aryan sampai di sebuah halaman seluas hampir 1 hektar, nampak tempat itu telah di penuhi dengan para saudaranya. Ada makanan dan minuman di meja prasmanan, lampu-lampu, bahkan sebuah musik yang di setel di area sudut halaman. Acara movie night-nya sudah selesai, kini tinggal acara bebas dan para tamu diperbolehkan untuk menikmati waktu sesuai keinginan masing-masing.

Aryan menyapa opa dan omanya, papa dan mamanya, serta beberapa keluarganya yang lain. Begitu berpapasan dengan Nayna, Aryan langsung menanyakan keberadaan Karin kepada adik perempuannya itu. Aryan belum melihat sosok Karin di antara banyaknya para tamu di sana.

“Acaranya hampir selesai, Ko. Gue tinggal kak Karin sebentar, pas gue balik, kak Karin ketiduran di sofa ruang tamu,” terang Nayna. Adik perempuan Aryan itu menjelaskan belum lama Karin tertidur, jadi memang belum berniat dipindahkan ke kamar karena takut Karin malah terbangun dari tidurnya.

Nayna pun meninggalkan Aryan setelah kakaknya itu berada di samping Karin yang tertidur di sofa. Posisi ruang tamu itu cukup jauh dari halaman, jadi sepengelihatan Aryan, kini Karin nampak nyenyak dengan tidurnya.

Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aryan mengusapkan tangannya di puncak kepala Karin. Aryan memberikan usapan lembut di sana, sebuah sentuhan yang halus dan terjadi begitu saja. Aryan menyadari bahwa hatinya membuncah bahagia hanya dengan memandang wajah Karin seperti ini.

“Hei, Karin. I missed you,” ucap Aryan masih sambil memandangi paras Karin. Tidak lama berselang dari itu, Aryan mendapati Karin bergerak dari posisinya dan perlahan-lahan Karin membuka matanya. Nampak sebuah kerutan di kening Karin ketika mendapati Aryan berada di hadapannya.

“Kamu udah nyampe dari tadi?” itu yang pertama Karin tanyakan setelah dirasanya nyawanya telah terkumpul sempurna.

“Engga, aku baru aja nyampe kok,” ujar Aryan.

Karin posisinya masih setengah berbaring, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dari jaraknya saat ini, Karin dapat melihat Aryan yang jaraknya cukup dekat darinya. Sayup-sayup tadi Karin mendengar apa yang Aryan ucapkan ketika ia tidur. Namun karena tidak ingin salah mengira, jadi Karin memutuskan menyimpannya sendiri.

“Karin,” ujar Aryan memecah pemikiran monolog Karin. Karin pun kembali menoleh dan memberikan atensinya kepada Aryan.

“Iya Kak? Kenapa?”

“Kamu senang selama nginep di rumah mama? Acara malam ini di rumah oma, apa kamu senang dengan semua ini?” tanya Aryan.

Tanpa berpikir lama-lama, Karin pun lekas menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. “Of course, I’m happy. I feel like have a complete family,” ucap Karin diiringu sebuah senyum simpul di wajahnya.

“Ohiya Kak, acaranya udah hampir selesai. Oma tadi bilang, kalau kamu mau, nanti bisa dibuatin lagi acaranya pas kamu ada. Kira-kira kamu bisanya kapan?”

“Kalau lusa gimana?”

Mendengar tiga kata yang diucapkan oleh Aryan, sontak membuat mata Karin membelalak. Sebelum Karin sempat menanggapi perkataan Aryan, Aryan lebih dulu berujar sambil menatap Karin dalam-dalam. “Karin, aku yang akan buat acaranya, tapi hanya untuk kita berdua.”

“Acara apa? Kamu nggak pernah bilang sebelumnya. Acaranya mendadak ya?”

“Sebenarnya nggak mendadak. Aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu, kita akan piknik di rumah. Kamu punya request untuk dekorasi atau makanannya?”

Setelah Aryan mengungkapkan maksudnya tersebut, kedua mata Karin pun tampak berbinar. Nampaknya Karin begitu suka dan bersemangat akan rencana yang telah Aryan susun. “Kak, kira-kira kalau pikniknya pakai tenda di dalam apartemen bisa nggak ya?” Karin akhirnya mengungkapkan permintaannya.

“Oke, kayaknya bisa. Nanti aku coba untuk usahain ya,” ucap Aryan. Karin mengangguk sembari mengulaskan sebuah senyum di wajahnya. Senyuman Karin dapat memancarkan kebahagiaan yang bisa Aryan rasakan juga sampai ke relung hatinya.

Beberapa saat kemudian, Karin kembali berujar sembari tidak melepaskan pandangannya dari Aryan, “Kak, makasih ya buat kesempatan yang kamu kasih malam ini. Aku bisa ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang lengkap. Ada papa dan mama, oma dan opa, dan masih banyak lagi keluarga yang lain.” Karin menjeda ucapannya. Bertemu dengan Aryan dan mengenal keluarganya dengan lebih dekat, dapat memberikan kehangatan dan sebuah kasih sayang yang mungkin selama ini hanya jadi mimpi buat Karin.

“Kak, meskipun nanti kita akan berpisah, I will always remember this night, the chance that someone gave to me. Thank you for everything, I’ve glad that I’ve met you and your family,” tutur Karin.

Aryan pun menatap Karin dalam-dalam. Aryan begitu ingin Karin mengetahuinya. Tiba-tiba Aryan tidak dapat membayangkan hari tersebut terjadi, yakni hari di mana saat dirinya dan Karin akan berpisah. Seperti yang dikatakan oleh Leon, Aryan tidak ingin dirinya menyesal jika suatu hari Karin benar-benar pergi dari hidupnya. Maka Aryan bertekad kuat untuk berjuang dan membuat Karin tetap tinggal di sisinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Dalam perjalanan dari Puncak menuju Jakarta malam ini, Aryan memikirkan keputusan yang akan di ambilnya. Aryan telah berencana untuk mengungkapkan perasaannya kepada Karin. Aryan hampir tidak fokus selama menjalani acara makrab dua hari satu malam bersama teman-temannya. Raganya memang berada di sana, tapi jiwanya seperti berada bersama Karin. Ia selalu memikirkan Karin di setiap waktunya.

Aryan merasakan sebuah perasaan yang begitu menggebu, ia pikir itu adalah rindu. Tadinya Aryan berniat mengajak Karin ke puncak dan ia merencanakan sesuatu untuk menyatakan perasaanya pada Karin di sana. Namun Aryan perlu mempersiapkan semuanya terlebih dulu. Karin juga sedang mengandung, jadi Aryan punya kekhawatiran jika harus membawa Karin pergi.

Saat kepergian Aryan diketahui oleh mamanya, mamanya pun langsung meminta Karin untuk menginap di ruamh. Aryan mengingat perkataan Karin soal keinginannya punya keluarga yang lengkap, jadi Aryan pikir akan sangat bagus jika Karin menginap di rumah orang tuanya. Aryan berharap Karin dapat merasakan hangatnya keluarga yang sempurna seperti yang selama ini perempuan itu dambakan.

Beberapa jam yang lalu saat mereka akan pulang, Leon yang melihat Aryan uring-uringan pun memintanya untuk tidak menyetir. Jadi Leon memutuskan mengambil alih kemudi dari Puncak sampai Jakarta. Aryan duduk di samping kiri pengemudi, sementara kursi belakang ada William dan Andra yang tengah tertidur pulas.

“Leon,” ujar Aryan.

“Apaan?” Leon menyahuti sambil tetap fokus pada jalanan di depannya.

I will make a confession to Karin.”

Perkataan Aryan seketika membuat Leon terkejut, bahkan lelaki itu sampai terdiam sesaat. Begitu keluar dari tol dan kini mereka sudah sampai di Jakarta, Leon pun menoleh sekilas pada Aryan sambil bertanya, “Lo serius?”

“Gue serius,” jawab Aryan diiringi sebuah anggukan di kepalanya.

“Nggak bisa bohong kan lo sama perasaan lo sendiri,” celetuk Leon.

“Tapi kalau Karin nolak gue gimana?” tanya Aryan tiba-tiba. Pemikirannya pun seketika dipenuhi oleh berbagai kemungkinan yang dapat terjadi.

“Pikirin itu belakangan. Gue tau lo pinter. Jangan cuma pinter di akademik aja, masalah percintaan juga harus pinter. By the way, siapa aja yang udah tau soal ini?”

“Baru lo sama Nayna,” terang Aryan.

“Mantep. Nyokap lo kalau tau nanti juga pasti seneng. Tante Tiara keliatan sayang banget sama Karin. Kalau Nayna sih, udah pasti dukung seratus persen. Adek lo tuh di garda paling depan untuk urusan yang berhubungan sama lo dan Karin.”

Aryan menyetujui perkataan Leon barusan. Aryan bersyukur atas kenyataan bahwa Karin dapat akrab dengan keluarganya, sebaliknya keluarganya juga sangat menerima dan menyayangi Karin. Semuanya terasa lebih baik secara bertahap saat Karin datang ke hidupnya. Aryan mungkin terlambat menyadari itu, tapi ia masih memiliki kesempatan untuk memperjuangkan Karin. Hatinya tidak lagi bisa berbohong, Aryan telah jatuh cinta kepada Karin. He’s really fall in love with her.

***

Aryan melangkahkan kakinya memasuki rumah bergaya eropa modern berlantai tiga. Bangunan yang cukup luas itu membuatnya harus berjalan sekitar beberapa meter untuk sampai di halaman belakang.

Saat Aryan sampai di sebuah halaman seluas hampir 1 hektar, nampak tempat itu telah di penuhi dengan para saudaranya. Ada makanan dan minuman di meja prasmanan, lampu-lampu, bahkan sebuah musik yang di setel di area sudut halaman. Acara movie nightnya sudah selesai, kini tinggal acara bebas dan para tamu diperbolehkan untuk menikmati waktu sesuai keinginan masing-masing.

Aryan menyapa opa dan omanya, papa dan mamanya, serta beberapa keluarganya yang lain. Begitu berpapasan dengan Nayna, Aryan langsung menanyakan keberadaan Karin kepada adik perempuannya itu. Aryan belum melihat sosok Karin di antara banyaknya para tamu di sana.

“Acaranya hampir selesai, Ko. Gue tinggal kak Karin sebentar, pas gue balik, kak Karin ketiduran di sofa ruang tamu,” terang Nayna. Adik perempuan Aryan itu menjelaskan belum lama Karin tertidur, jadi memang belum berniat di pindahkan ke kamar karena takut Karin malah terbangun dari tidurnya.

Nayna pun meninggalkan Aryan setelah kakaknya itu berada di samping Karin yang tertidur di sofa. Posisi ruang tamu itu cukup jauh dari halaman, jadi sepengelihatan Aryan, kini Karin nampak nyenyak dengan tidurnya.

Aryan memperhatikan wajah tertidur Karin selama beberapa detik, sebelum akhirnya Aryan mengusapkan tangannya di puncak kepala Karin. Aryan memberikan usapan lembut di sana, sebuah sentuhan yang halus dan terjadi begitu saja. Aryan menyadari bahwa hatinya membuncah bahagia hanya dengan memandang wajah Karin seperti ini.

“Hei, Karin. I missed you,” ucap Aryan masih sambil memandangi paras Karin. Tidak lama berselang dari itu, Aryan mendapati Karin bergerak dari posisinya dan perlahan-lahan Karin membuka matanya. Nampak sebuah kerutan di kening Karin ketika mendapati Aryan berada di hadapannya.

“Kamu udah nyampe dari tadi?” itu yang pertama Karin tanyakan setelah dirasanya nyawanya telah terkumpul sempurna.

“Engga, aku baru aja nyampe kok,” ujar Aryan.

Karin posisinya masih setengah berbaring, ia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Dari jaraknya saat ini, Karin dapat melihat Aryan yang jaraknya cukup dekat darinya. Sayup-sayup tadi Karin mendengar apa yang Aryan ucapkan ketika ia tidur. Namun karena tidak ingin salah mengira, jadi Karin memutuskan menyimpannya sendiri.

“Karin,” ujar Aryan memecah pemikiran monolog Karin. Karin pun kembali menoleh dan memberikan atensinya kepada Aryan.

“Iya Kak? Kenapa?”

“Kamu senang selama nginep di rumah mama? Acara malam ini di rumah oma, apa kamu senang dengan semua ini?” tanya Aryan.

Tanpa berpikir lama-lama, Karin pun lekas menjawab pertanyaan Aryan dengan sebuah anggukan. “Of course, I’m happy. I feel like have a complete family,” ucap Karin diiringu sebuah senyum simpul di wajahnya.

“Ohiya Kak, acaranya udah hampir selesai. Oma tadi bilang, kalau kamu mau, nanti bisa dibuatin lagi acaranya pas kamu ada. Kira-kira kamu bisanya kapan?”

“Kalau lusa gimana?”

Mendengar tiga kata yang diucapkan oleh Aryan, sontak membuat mata Karin membelalak. Sebelum Karin sempat menanggapi perkataan Aryan, Aryan lebih dulu berujar sambil menatap Karin dalam-dalam. “Karin, aku yang akan buat acaranya, tapi hanya untuk kita berdua.”

“Acara apa? Kamu nggak pernah bilang sebelumnya. Acaranya mendadak ya?”

“Sebenarnya nggak mendadak. Aku udah rencanain ini dari dua hari yang lalu, kita akan piknik di rumah. Kamu punya request untuk dekorasi atau makanannya?”

Setelah Aryan mengungkapkan maksudnya tersebut, kedua mata Karin pun tampak berbinar. Nampaknya Karin begitu suka dan bersemangat akan rencana yang telah Aryan susun. “Kak, kira-kira kalau pikniknya pakai tenda di dalam apartemen bisa nggak ya?” Karin akhirnya mengungkapkan permintaannya.

“Oke, kayaknya bisa. Nanti aku coba untuk usahain ya,” ucap Aryan. Karin mengangguk sembari mengulaskan sebuah senyum di wajahnya. Senyuman Karin dapat memancarkan kebahagiaan yang bisa Aryan rasakan juga sampai ke relung hatinya.

Beberapa saat kemudian, Karin kembali berujar sembari tidak melepaskan pandangannya dari Aryan, “Kak, makasih ya buat kesempatan yang kamu kasih malam ini. Aku bisa ngerasain gimana rasanya punya keluarga yang lengkap. Ada papa dan mama, oma dan opa, dan masih banyak lagi keluarga yang lain.” Karin menjeda ucapannya. Bertemu dengan Aryan dan mengenal keluarganya dengan lebih dekat, dapat memberikan kehangatan dan sebuah kasih sayang yang mungkin selama ini hanya jadi mimpi buat Karin.

“Kak, meskipun nanti kita akan berpisah, I will always remember this night, the chance that someone gave to me. Thank you for everything, I’ve glad that I’ve met you and your family,” tutur Karin.

Aryan pun menatap Karin dalam-dalam. Aryan begitu ingin Karin mengetahuinya. Tiba-tiba Aryan tidak dapat membayangkan hari tersebut terjadi, yakni hari di mana saat dirinya dan Karin akan berpisah. Seperti yang dikatakan oleh Leon, Aryan tidak ingin dirinya sampai menyesal ketika suatu hari Karin pergi dari hidupnya. Maka Aryan bertekad kuat untuk berjuang dan membuat Karin tetap tinggal di sisinya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Suasana kelas Analisis dan Permodelan E-Business siang itu terlihat sangat damai dan tenteram. Itu lah yang akan terjadi ketika dosen yang mengampu mata kuliah tersebut termasuk dalam jajaran dosen yang terkenal killer. Mata kuliah tersebut hanya hadir setiap 2 kali seminggu, tapi rasanya dua hari tersebut berjalan seperti dua abad lamanya.

Bapak Hari Tanjung, seorang dosen berusia 50 tahunan tersebut menyapukan pandangannya ke penjuru kelas, sebelum akhirnya beliau berujar, “Hari ini saya akan membagikan hasil ujian tengah semester kalian minggu lalu.”

Pak Hari mengambil salah satu kertas hasil ujian dari dalam map yang dibawanya. Setelah melihat sebuah nama di sana, beliau lantas memanggil satu nama tersebut. “Aryan Sakha Brodjohujodyo. Coba silakan maju ke depan,” ucap pak Hari.

Seketika semua mata di ruangan itu mengarah kepada sosok lelaki jangkung yang kebetulan duduk di baris kedua dari depan. Aryan memasang tampang lempengnya, seolah panggilan pak Hari barusan tidak membuatnya merasa panik atau terbebani barang sedikitpun. Berikutnya Aryan segera bergerak dari kursinya dan melangkahkan kakinya ke depan kelas.

Sesampainya Aryan di hadapan pak Hari, semua pasang mata masih menatap intens ke arahnya. Aryan tidak tahu apa yang terjadi, tapi ia tidak merasa membuat kesalahan pada dosen yang terkenal killer di hadapannya ini.

“Maaf Pak, ada apa keperluan apa memanggil saya ke depan?” tanya Aryan begitu pak Hari belum mengatakan apa pun padanya.

“Kamu mengerjakan ujian kemarin gimana? Menurut kamu mudah atau sulit, soal yang saya berikan?” tanya pak Hari.

Aryan pun menjawab bahwa soal yang diberikan pak Hari tidak mudah, tapi tidak terlalu sulit juga baginya. Saat teman-temannya kemarin belum selesai mengerjakan, Aryan termasuk yang cukup cepat menyelesaikannya sehingga ia bisa pulang lebih dulu.

“Aryan, Kamu dapat nilai 100 di ujian saya. Waktu saya buat soal ujiannya, saya pikir nggak ada yang akan bisa mendapat nilai sempurna. But again, congrats for your achievement. You made it,” ucap pak Hari sembari menyerahkan kertas di tangannya kepada Aryan.

***

Kantin rooftop siang ini nampak ramai oleh para mahasiswa maupun mahisiswi mempunyai waktu luang karena sedang menunggu kelas atau sekedar mengerjakan tugas di sana. Di tempat itu mereka biasa menghabiskan beberapa batang rokok atau menghembuskan uap vape, karena memang kantin atas merupakan smooking area. Mayoritas di tempat ini memang banyak yang digunakan untuk nongkrong, sementara kantin di bawah lebih sering digunakan bagi yang ingin menikmati makanan atau sekedar mengobrol santai.

Di salah satu meja yang diisi oleh para lelaki di pojok kantin itu, merka nampak sedang mengobrol mengenai beberapa hal. Topik pun tiba-tiba berganti, mereka membicarakan nilai 100 yang di dapat oleh Aryan di kelas pak Hari. Nilai sempurna yang sepanjang sejarah tidak pernah diberikan oleh dosen yang terkenal galak itu, kini telah pecah rekor.

Leon dan William, selaku sahabat Aryan sejak lama menganggung-agungkan nama lelaki itu. Mereka mengatakan bahwa pihak kampus tidak pernah keliru menjadikan Aryan salah satu mahasiswa berprestasi di jurusan mereka. Selain banyak memenangkan lomba yang berhubungan dengan mata kuliah jurusan, seorang mahasiswa berprestasi juga harus memiliki nilai akademik yang bagus. William bilang, rupanya Aryan tidak cuma modal tampang doang untuk membuatnya dikagumi para cewek cantik di kampus, tapi rupanya sahabatnya itu modal otak juga.

Leon nampak menggeser sekotak rokok ke hadapan Aryan. “Sebatang aja,” ujar Leon yang sudah lebih dulu menyalakan rokoknya dengan pemantik. Detik berikutnya Leon menghisapnya dan menghembuskan asapnya. Aryan pun menatap rokok yang disodorkan oleh Leon dan yang membuat Leon terkejut adalah Aryan kembali menolak tawarannya.

“Sini udah, buat gue aja kalau Aryan nggak mau,” seru William yang baru kembali dari membeli minuman.

“Lo beneran udah berhenti?” tanya Leon sambil menatap Aryan dengan tatapan penuh tanya.

“Bukan berhenti, gue coba buat kurangin,” jelas Aryan.

“Will, bener kan apa yang gue bilang. Lo nggak percaya sih sama gue. Sahabat lo beneran mau tobat ini,” ucap Leon pada William.

Kemarin William memang tidak percaya saat Leon bilang Aryan tidak datang ke club. Sekarang akhirnya William percaya setelah mendengar langsung pernyataan yang keluar dari mulut Aryan.

“Lo ada rencana buat sepenuhnya berhenti rokok?” tanya William pada Aryan.

“Ada sih gue rasa,” cetus Leon sebelum Aryan sempat menjawab pertanyaan dari William.

“Gila, keren banget lo Bro. Ngomong-ngomong bener kata Leon ini karna istri lo? Karin ngelarang lo clubbing gitu?” William yang masih penasaran itu pun mengkorek lebih jauh.

“Karin nggak ngelarang gue. Gue menghargai dia dan itu juga demi kesehatan gue. Gue harap lo berdua bisa respect sama keputusan gue,” ujar Aryan.

“Oke, gue akan respect keputusan lo itu,” ujar William akhirnya.

Tidak lama berselang, William berpamitan untuk pergi lebih dulu karena ia ada kelas yang berbeda, hingga tersisa Aryan dan Leon di sana.

“Nanti sore habis kelas lo ada acara?” tanya Leon.

“Ada,” jawab Aryan.

“Gue tebak pasti Karin lagi.”

“Iya. Gue mau nganterin Karin cek kandungan.”

“Kalau Juma’t gimana? Lo free?”

“Belum tau. Emang kenapa?”

“Anak-anak ngajakin makrab ke puncak. Anjir lah, kalau nanyain jadwal lo kayak gini, berasa lebih-lebih dari Karin gue. Emang beda ya kalau udah nikah.” Leon pun tertawa sekilas.

Aryan mengangguki Leon. “Sekarang gue punya tanggung jawab dan prioritas. Kina bukan lagi prioritas gue, tapi Karin dan anak gue sekarang yang utama.” Aryan pun mengatakan ia akan mengabari Leon seandainya memungkinkan ia ikut acara malam keakraban di puncak tersebut.

Leon terkesiap mendengarnya kalimat yang Aryan ucapkan. Leon tidak menyangka, perlahan-lahan ia dapat melihat perubahan positif dari sahabatnya itu.

“Aryan, lo dengerin gue deh. Gini ya, gue udah coba menganalisa perilaku lo ke Karin, gitu juga sebaliknya Karin ke lo,” ujar Leon.

“Maksud lo?” tanya Aryan yang tidak dapat menebak ke mana arah pembicaraan Leon tersebut.

“Gue melihat sikap lo ke Karin udah beda. Sebenernya lo udah mulai ada rasa ke Karin, tapi lo nggak sadar itu. Setiap aspek kehidupan lo sekarang, lo selalu bawa Karin di dalamnya. Beda sama awal-awal lo nikah sama dia. Yaelah, gue kenal lo udah berapa lama sih,” tutur Leon panjang lebar.

Leon yang notabenenya merupakan sahabat Aryan sejak SMP dan telah mengenal sosok Aryan, mengatakan bahwa sebenarnya sudah timbul perasaan antara Aryan pada Karin. Aryan hanya belum menyadarinya dan menganggap perilakunya ke Karin hanyalah bentuk rasa tanggung jawab terhadap anak mereka.

Aryan pun memikirkan kata-kata Leon selama beberapa saat. Namun akhirnya Aryan menampik dugaan yang Leon layangkan tersebut.

“Yee malah mau pergi nih anak,” decak Leon begitu melihat Aryan mengambil tasnya dan menyampirkannya di satu pundaknya.

Sebelum Aryan pergi dari sana, Leon kembali menahan Aryan dengan perkataannya. “Karin bisa ngasih dampak yang positif buat lo. Tanpa lo sadar, Karin yang mendorong lo buat jadi lebih baik. Gue harap sih lo secepatnya menyadari itu.”

“Terus apa yang gue harus lakuin kalau emang itu benar?” Aryan justru bertanya pada Leon. Kini Aryan semakin bingung usai memikirkan perkataan sahabatnya itu.

You need to tell about your feeling to her. Mungkin itu nggak akan mudah, tapi nggak ada salahnya lo coba dulu. Jangan sampai lo menyesal saat dia udah benar-benar pergi. Gue pikir Karin orang yang tepat dan dia pantas untuk lo perjuangin. Kalau lo butuh bantuan, lo bisa kasih tau gue. Good luck, Bro.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Ini sudah satu minggu sejak Aryan merasa bahwa dirinya berada di dalam jurang yang begitu gelap. Rasanya Aryan seperti hilang arah kala itu. Saat ini Aryan merasa kalau kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Karin, Aryan perlu melihat lebih dekat tentang apa yang sekarang ia miliki. Aryan harus berusaha untuk mensyukuri hidupnya dan mencoba bangkit dari rasa sakit itu.

Ini merupakan sabtu pagi yang cerah dan Aryan baru saja kembali dari latihan gymnya. Begitu sampai di apartemen, Aryan segera berbersih diri agar bisa sarapan di meja makan bersama Karin.

Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk berada kamar mandi. Sekitar puluh menit kemudian, lelaki itu sudah duduk di kursi meja makan dengan tampilannya yang nampak fresh. Aryan mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek di atas lutut. Surai legamnya masih setengah kering dan Aryan menyisirnya rapih ke belakang hingga menampakkan keningnya.

Aryan memperhatikan Karin yang mengambilkan sarapan ke piringnya. Baru setelah itu Karin mengambil untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Aryan.

“Kak, tadi pas kamu mandi, ada yang nelfon ke hp kamu,” ujar Karin setelah menelan satu suapan makanannya.

“Oh iya? Siapa yang nelfon?” tanya Aryan.

“Kina.”

Aryan seketika menghentikan aksi sarapannya. Aryan pun bergerak dari kursinya dan segera mengambil ponselnya di meja ruang tamu. Karin memperhatikan Aryan di hadapannya tengah menghubungi seseorang.

“Halo, Kina.”

“Iya, tadi aku nggak denger kamu nelfon. Aku udah bilang, aku nggak bisa keluar malam ini,” ujar Aryan di telfon.

It’s up to you. Intinya aku nggak bisa, Kina,” sambung Aryan.

Aryan mendengarkan balasan Kina di telfon sebelum akhirnya kembali berujar, “Aku minta kamu untuk ngerti. Oke, bye. See you.”

Setelah itu sambungan telfon pun diakhiri. Aryan kembali melanjutkan sarapannya, tapi fokusnya justru teralihkan kepada Karin ketika perempuan itu hanya menatapnya, bukannya memberikan atensinya pada makanan di piringnya.

“Kak, kamu ada acara nanti malam?” tanya Karin.

“Ohh nggak ada,” jawab Aryan.

Setelah itu Karin hanya mengangguk dan kembali fokus ke makanannya.

“Kamu hari ini di rumah, kan? Kerjaan kamu udah beres semua?” tanya Aryan kemudian.

“Udah,” jawab Karin.

Alright. Aku malam ini juga di rumah.” Aryan kembali menyuap sepotong daging bacon di piringnya. Kemudian Aryan meneguk kopi susu yang biasa dibuatkan oleh Karin untuknya.

“Kak, tadi kak Leon chat aku,” ucap Karin.

Mendengar kalimat tersebut, alis Aryan pun bertaut, lelaki itu meletakkan gelas kopinya di meja. “Leon chat kamu? Dia bilang apa?” tanya Aryan.

“Nanyain kamu.”

“Kenapa nggak langsung chat aku?”

Karin nampak mengedikkan kedua bahunya. “Kak Leon minta tolong aku untuk bujuk kamu. Ini kan malam minggu, kak Leon ajakin kamu ke clubbing. Katanya kamu nolak terus waktu diajak.”

Aryan nampak menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya Aryan tengah memaki Leon. Sialan Leon. Apa saja yang sahabatnya itu telah katakan pada Karin soal clubbing.

Setelah selesai dengan acara sarapannya, Aryan melenggang ke ruang tamu dan duduk di sofa. Waktu Karin melewati Aryan dan hendak melangkah ke naik ke kamar, samar-samar Karin mendengar pembicaraan antara Aryan dan Leon di telfon. Keduanya sedang membahas soal rencana pergi ke clubbing nanti malam.

“Malam ini Karin ada di rumah. Gue nggak mau ninggalin dia sendiri. Lo tau juga kan gue lagi berusaha ngurangin alkohol,” ujar Aryan di telfon.

Usai mendengar balasan Leon di ujung sana, Aryan pun kembali berujar, “Thank you lo udah ngerti. Maybe next time, I will join.”

***

Malam ini Aryan dan Karin pergi untuk membeli makan malam di luar. Mereka membeli dua boks pizza berukuran besar dengan topping yang berbeda. Karin nampak lahap memakan pizzanya. Aryan memperhatikan mata Karin yang berbinar ketika Karin menikmati makanan itu.

Satu kotak besar pizza rasa papperoni sudah hampir habis. Karin mengatakan bahwa perutnya sudah terisi penuh dan ia merasa sangat kenyang sekarang.

“Kamu di sini aja, aku ambilin minum,” ujar Aryan yang lantas di angguki oleh Karin. Sebelumnya keduanya telah memutuskan untuk menyetel tayangan TV sembari menikmati makan malam mereka di sofa ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Aryan kembali ke hadapan Karin membawakan sebuah botol besar berisi air dan dua buah gelas bening. Karin segera mengambil minumannya dan meneguknya.

“Kamu habis berapa potong pizzanya?” tanya Aryan.

“Lupa. Kayaknya empat deh, atau lima ya?” Karin nampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Karin pun menampakkan cengirannya di hadapan Aryan.

“Kak, kita belinya kebanyakan deh kayaknya. Padahal cuma kita berdua yang makan, sayang-sayang kalau nggak habis,” ujar Karin sembari menatap dua boks pizza yang kini masih tersisa beberapa potong. Padahal Karin maupun Aryan sama-sama sudah merasa kenyang.

“Nggak papa kalau sesekali. Aku beliin yang kamu mau.”

“Sayang uangnya, Kak. Tadi beli satu boks udah cukup sebenarnya. Besok aku masak aja ya, biar nggak beli di luar,” ujar Karin.

Aryan sebenarnya pernah mengatakan pada Karin bahwa ia sanggup membelikan apa yang Karin inginkan. Karin tidak perlu memasak kalau sedang tidak ingin melakukannya. Karin pun menghargai setiap pemberian yang Aryan berikan. Namun Karin mengatakan ia ingin Aryan menggunakan apa yang lelaki itu miliki dengan bijaksana. Sesekali mereka bisa memasak, selain lebih sehat, biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak dibandingkan membeli makanan di luar.

Perlahan-lahan perilaku Karin dapat membuat Aryan sadar dan bangkit. Aryan seperti menemukan seberkas cahaya di dalam jurang gelapnya. Aryan bisa merasakan bahwa Karin tulus peduli padanya, tanpa memandang latar belakang Aryan sama sekali. Setelah semua yang terjadi, Karin tidak melihat sisi kelamnya Aryan. Karin memperlakukannya selayaknya manusia memperlakukan satu sama lain. Setiap perlakuan Karin padanya, mendorong Aryan untuk menjadi sosok yang lebih baik.

“Kak, besok kamu ada acara keluar rumah?” tanya Karin.

“Belum tau. Kenapa?”

“Aku mau coba resep masakan baru. Resepnya sih keliatannya gampang, semoga aku bisa masaknya.”

“Oke, kamu masak aja. Aku besok di rumah. Maybe I can help you a little bit,” ucap Aryan.

Karin nampak memicingkan matanya dan tersenyum sangsi ke arah Aryan.

Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Karin, Aryan pun berujar, “Aku pernah bikinin kamu sandwich. Kamu suka sandwich buatan aku, kan? Aku bisa masak, Karin. Sedikit sih. Mama pernah buat semua orang yang ada di rumah untuk bantuin beliau masak.”

“Terus kamu ikutan masak juga?” tanya Karin tampak penasaran dengan cerita yang spontan yang Aryan ucapkan.

“Kalau mama yang udah ngasih perintah, nggak ada yang berani melanggar. Apalagi papa. Padahal papa paling nggak suka masak,” terang Aryan.

“Gimana ceritanya waktu papa ikutan masak?”

“Seperti dugaan semua orang, papa cuma bikin dapur berantakan dan akhirnya mama nggak nyuruh papa masak lagi.”

Karin tertawa hingga deretan gigi depannya nampak dan sebuah eye smile tercetak di wajahnya. “That’s a funny and nice story at the same time.”

Selama sepersekian detik Aryan hanya memperhatikan itu terjadi dengan netranya. Setelah tawa Karin mulai reda, pandangan keduanya pun bertemu di satu titik.

“Aku akan buktiin ke kamu besok,” ujar Aryan tiba-tiba.

“Kamu mau buktiin apa?” tanya Karin kemudian.

“Aku akan bantuin kamu masak. Aku nggak akan bikin dapur berantakan kayak yang papa lakuin. Gimana menurut kamu?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Ini sudah satu minggu sejak Aryan merasa bahwa dirinya berada di dalam jurang yang begitu gelap. Rasanya Aryan seperti hilang arah kala itu. Saat ini Aryan merasa kalau kondisinya sudah jauh lebih baik dari sebelumnya. Seperti yang dikatakan oleh Karin, Aryan perlu melihat lebih dekat tentang apa yang sekarang ia miliki. Aryan harus berusaha untuk mensyukuri hidupnya dan mencoba bangkit dari rasa sakit itu.

Ini merupakan sabtu pagi yang cerah dan Aryan baru saja kembali dari latihan gymnya. Begitu sampai di apartemen, Aryan segera berbersih diri agar bisa sarapan di meja makan bersama Karin.

Tidak butuh waktu lama bagi Aryan untuk berada kamar mandi. Sekitar puluh menit kemudian, lelaki itu sudah duduk di kursi meja makan dengan tampilannya yang nampak fresh. Aryan mengenakan kaus hitam polos dan celana pendek di atas lutut. Surai legamnya masih setengah kering dan Aryan menyisirnya rapih ke belakang hingga menampakkan keningnya.

Aryan memperhatikan Karin yang mengambilkan sarapan ke piringnya. Baru setelah itu Karin mengambil untuk dirinya sendiri dan duduk di hadapan Aryan.

“Kak, tadi pas kamu mandi, ada yang nelfon ke hp kamu,” ujar Karin setelah menelan satu suapan makanannya.

“Oh iya? Siapa yang nelfon?” tanya Aryan.

“Kina.”

Aryan seketika menghentikan aksi sarapannya. Aryan pun bergerak dari kursinya dan segera mengambil ponselnya di meja ruang tamu. Karin memperhatikan Aryan di hadapannya tengah menghubungi seseorang.

“Halo, Kina.”

“Iya, tadi aku nggak denger kamu nelfon. Aku udah bilang, aku nggak bisa keluar malam ini,” ujar Aryan di telfon.

It’s up to you. Intinya aku nggak bisa, Kina,” sambung Aryan.

Aryan mendengarkan balasan Kina di telfon sebelum akhirnya kembali berujar, “Aku minta kamu untuk ngerti. Oke, bye. See you.”

Setelah itu sambungan telfon pun diakhiri. Aryan kembali melanjutkan sarapannya, tapi fokusnya justru teralihkan kepada Karin ketika perempuan itu hanya menatapnya, bukannya memberikan atensinya pada makanan di piringnya.

“Kak, kamu ada acara nanti malam?” tanya Karin.

“Ohh nggak ada,” jawab Aryan.

Setelah itu Karin hanya mengangguk dan kembali fokus ke makanannya.

“Kamu hari ini di rumah, kan? Kerjaan kamu udah beres semua?” tanya Aryan kemudian.

“Udah,” jawab Karin.

Alright. Aku malam ini juga di rumah.” Aryan kembali menyuap sepotong daging bacon di piringnya. Kemudian Aryan meneguk kopi susu yang biasa dibuatkan oleh Karin untuknya.

“Kak, tadi kak Leon chat aku,” ucap Karin.

Mendengar kalimat tersebut, alis Aryan pun bertaut, lelaki itu meletakkan gelas kopinya di meja. “Leon chat kamu? Dia bilang apa?” tanya Aryan.

“Nanyain kamu.”

“Kenapa nggak langsung chat aku?”

Karin nampak mengedikkan kedua bahunya. “Kak Leon minta tolong aku untuk bujuk kamu. Ini kan malam minggu, kak Leon ajakin kamu ke clubbing. Katanya kamu nolak terus waktu diajak.”

Aryan nampak menghembuskan napasnya dan memejamkan matanya sesaat. Dalam hatinya Aryan tengah memaki Leon. Sialan Leon. Apa saja yang sahabatnya itu telah katakan pada Karin soal clubbing.

Setelah selesai dengan acara sarapannya, Aryan melenggang ke ruang tamu dan duduk di sofa. Waktu Karin melewati Aryan dan hendak melangkah ke naik ke kamar, samar-samar Karin mendengar pembicaraan antara Aryan dan Leon di telfon. Keduanya sedang membahas soal rencana pergi ke clubbing nanti malam.

“Malam ini Karin ada di rumah. Gue nggak mau ninggalin dia sendiri. Lo tau juga kan gue lagi berusaha ngurangin alkohol,” ujar Aryan di telfon.

Usai mendengar balasan Leon di ujung sana, Aryan pun kembali berujar, “Thank you lo udah ngerti. Maybe next time, I will join.”

***

Malam ini Aryan dan Karin pergi untuk membeli makan malam di luar. Mereka membeli dua boks pizza berukuran besar dengan topping yang berbeda. Karin nampak lahap memakan pizzanya. Aryan memperhatikan mata Karin yang berbinar ketika Karin menikmati makanan itu. Satu kotak besar pizza rasa papperoni sudah hampir habis. Karin mengatakan bahwa perutnya sudah terisi penuh dan ia merasa sangat kenyang sekarang.

“Kamu di sini aja, aku ambilin minum,” ujar Aryan yang lantas di angguki oleh Karin. Sebelumnya keduanya telah memutuskan untuk menyetel tayangan TV sembari menikmati makan malam mereka di sofa ruang tamu.

Tidak lama kemudian, Aryan kembali ke hadapan Karin membawakan sebuah botol besar berisi air dan dua buah gelas bening. Karin segera mengambil minumannya dan meneguknya.

“Kamu habis berapa potong pizzanya?” tanya Aryan.

“Lupa. Kayaknya empat deh, atau lima ya?” Karin nampak tidak yakin dengan jawabannya sendiri. Karin pun menampakkan cengirannya di hadapan Aryan.

“Kak, kita belinya kebanyakan deh kayaknya. Padahal cuma kita berdua yang makan, sayang-sayang kalau nggak habis,” ujar Karin sembari menatap dua boks pizza yang kini masih tersisa beberapa potong. Padahal Karin maupun Aryan sama-sama sudah merasa kenyang.

“Nggak papa kalau sesekali. Aku beliin yang kamu mau.”

“Sayang uangnya, Kak. Tadi beli satu boks udah cukup sebenarnya. Besok aku masak aja ya, biar nggak beli di luar,” ujar Karin.

Aryan sebenarnya pernah mengatakan pada Karin bahwa ia sanggup membelikan apa yang Karin inginkan. Karin tidak perlu memasak kalau sedang tidak ingin melakukannya. Karin pun menghargai setiap pemberian yang Aryan berikan. Namun Karin mengatakan ia ingin Aryan menggunakan apa yang lelaki itu miliki dengan bijaksana. Sesekali mereka bisa memasak, selain lebih sehat, biaya yang dikeluarkan juga tidak terlalu banyak dibandingkan membeli makanan di luar.

Perlahan-lahan perilaku Karin dapat membuat Aryan sadar dan bangkit. Aryan seperti menemukan seberkas cahaya di dalam jurang gelapnya. Aryan bisa merasakan bahwa Karin tulus peduli padanya, tanpa memandang latar belakang Aryan sama sekali. Setelah semua yang terjadi, Karin tidak melihat sisi kelamnya Aryan. Karin memperlakukannya selayaknya manusia memperlakukan satu sama lain. Setiap perlakuan Karin padanya, mendorong Aryan untuk menjadi sosok yang lebih baik.

“Kak, besok kamu ada acara keluar rumah?” tanya Karin.

“Belum tau. Kenapa?”

“Aku mau coba resep masakan baru. Resepnya sih keliatannya gampang, semoga aku bisa masaknya.”

“Oke, kamu masak aja. Aku besok di rumah. Maybe I can help you a little bit,” ucap Aryan.

Karin nampak memicingkan matanya dan tersenyum sangsi ke arah Aryan.

Seolah tahu apa yang tengah dipikirkan oleh Karin, Aryan pun berujar, “Aku pernah bikinin kamu sandwich. Kamu suka sandwich buatan aku, kan? Aku bisa masak, Karin. Sedikit sih. Mama pernah buat semua orang yang ada di rumah untuk bantuin beliau masak.”

“Terus kamu ikutan masak juga?” tanya Karin tampak penasaran dengan cerita yang spontan yang Aryan ucapkan.

“Kalau mama yang udah ngasih perintah, nggak ada yang berani melanggar. Apalagi papa. Padahal papa paling nggak suka masak,” terang Aryan.

“Gimana ceritanya waktu papa ikutan masak?”

“Seperti dugaan semua orang, papa cuma bikin dapur berantakan dan akhirnya mama nggak nyuruh papa masak lagi.”

Karin tertawa hingga deretan gigi depannya nampak dan sebuah eye smile tercetak di wajahnya. “That’s a funny and nice story at the same time.”

Sepersekian detik Aryan hanya memperhatikan itu terjadi dengan netranya. Setelah tawa Karin reda dan kini pandangan keduanya bertemu di satu titik, Aryan memecah suasana karena merasa sedikit canggung.

“Aku akan buktiin ke kamu besok,” ujar Aryan tiba-tiba.

“Kamu mau buktiin apa?”

“Aku akan lebih jago dari pada papa. I will not messed up the kitchen, I swear to you.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷