Bukan Dua Orang yang Saling Mencintai

Ini merupakan kedua kalinya bagi Karin menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Aryan. Penthouse yang bisa dibilang sangat mewah itu, malam ini menjadi tempat berkumpul para keluarga Brodjohujodyo.
Sebenarnya tidak ada alasan khusus diadakannya acara malam ini. Aryan mengatakan pada Karin bahwa keluarganya memang biasa mengadakan pertemuan. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menjalin kekerabatan dan kekeluargaan yang lebih erat.
Rupanya Aryan dan Karin merupakan yang datang hampir terakhir. Di tengah-tengah para sanak saudara, keduanya pun lantas digadang-gadang sebagai bintang tamu utama.
“Sekarang Aryan udah gandeng istri ya. Padahal baru kemarin kayaknya Tante beliin hotwheels sama nitendo,” ujar seorang adik perempuan dari keluarga mamanya.
Waktu pernikahan Aryan dan Karin, memang tidak semua saudara dapat hadir. Jadi Aryan berinisiatif untuk mengenalkan Karin pada tante serta para omnya sebagai istrinya. Setelah sesi perkenalan itu, Aryan pun membawa Karin bertemu papa dan mamanya yang berada di sisi lain tempat ini.
Karin pun melihat sosok Tiara lebih dulu, mertuanya seperti biasa nampak begitu cantik dan anggun. Kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajah mertuanya dari mulai mata, dan bibir, sangat mirip dengan paras Aryan.
Saat netra Tiara akhirnya menangkap kehadiran Karin, wanita berusia 40 tahunan itu langsung melangkah menghampirinya dan bergerak memeluknya.
Sepersekian detik kemudian, Tiara mengurai pelukan hangatnya pada Karin. Karin lantas bergerak menyerahkan sesuatu yang dibawanya, “Mama, ini tadi Karin sama Aryan mampir ke toko kue. Kita beli kue coklat untuk Mama dan keluarga lainnya.”
Tiara segera menerima bungkusan itu dan kedua matanya nampak berbinar. “Terima kasih ya, Sayang,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum lembutnya.
“Yuk, ambil makan dulu. Kamu mau makan apa? Pasta, steik, atau kamu suka chinese food?” Tiara bergerak meraih tangan Karin dan menggandengnya menuju prasmanan yang menyediakan berbagai jenis makanan.
Karin sempat merasa canggung awalnya, tapi mertuanya dan keluarga Aryan yang lainnya bersikap sangat welcome padanya.
Semua yang hadir pun telah lengkap dan mereka sudah mengambil makanan masing-masing. Di sebuah meja makan yang cukup luas itu, mereka menikmati hidangan bersama. Aryan duduk di samping Karin, lelaki itu baru saja kembali dari mengambil minuman berwarna bening di sebuah gelas tinggi.
“Kak, kamu minum alkohol?” tanya Karin sembari menatap gelas yang Aryan letakkan di samping piringnya.
Aryan lantas menoleh ke arah Karin, “Iya,” jawabnya. Seakan mengerti maksud Karin, Aryan pun kembali berujar, “Aku nggak akan minum banyak kok.”
“Oke,” Karin pun menganggukkan kepalanya. Ia kembali menggulung memotong daging wagyu di piringnya, lalu menyuap untuk dirinya sendiri.
“Kita belum cheers lho ngomong-ngomong. Bisa lah cheers dulu,” celetukan itu tiba-tiba terlontar dari salah satu omnya Aryan yang duduk di ujung meja. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah pada pria berkulit putih dan bermata sipit itu.
“Wah iya, hampir lupa nih. Sebelum tuan rumah tepar, kayaknya kita harus cheers dulu,” sahut seorang anggota keluarga lainnya sambil melirik ke arah Aryo, papanya Aryan dan Nayna. Mama mertuanya, Tiara, yang duduk di samping kirinya pun mengingatkan suaminya agar tidak sampai mabuk berat karena minum.
“Aku kuat, Sayang. Kamu lihat ya,” ujar Aryo pada Tiara.
“Kamu tuh nggak sekuat dulu minumnya. Kamu udah kepala empat, berasa masih kepala dua aja,” ujar Tiara pada suaminya. Sontak semua yang ada di sana tertawa melihat kejadian itu.
Semua anggota keluarga sudah mengisi gelas mereka dengan champagne atau vodka, kecuali Karin, Nayna, dan beberapa tetua. Meskipun begitu, mereka yang tidak mengkonsumsi alkohol tetap ikut mengangkat gelasnya.
Semua orang kini telah siap berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke tengah, dan mempertemukan gelas di tangan masing-masing dengan gelas milik anggota keluarga yang lainnya.
“This is for our family. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat oleh Tuhan dan saling menyayangi sesama anggota keluarga. Cheers!”
“Cheers!!”
Usai acara tos gelas yang sedikit heboh itu, setiap anggota kembali menikmati makanan sembari mengobrol satu sama lain. Selain berbicara soal bisnis, baik dari kalangan tetua maupun muda-mudi, topik pun bergulir dan diajukan pertanyaan kepada Aryan dan Karin. Lebih tepatnya para keluarga menanyakan seputar kandungan Karin saat ini.
“Usianya sekarang jalan dua belas minggu, Tante, Om. Mohon doanya ya, semoga semuanya lancarkan,” ucap Karin menjawab pertanyaan tentang usia kandungannya.
“Dia masih kecil banget. Aryan sama Karin kemarin baru aja dengar detak jantungnya waktu cek kandungan. Dokter bilang semua hasil pemeriksaannya bagus,” jelas Aryan sambil menatap Karin yang ada di sampingnya. Begitu Aryan mengulaskan senyumnya, Karin pun otomatis ikut tersenyum.
Penjelasan Aryan dan Karin tentang anak mereka sontak menciptakan suasana hangat dan haru di tengah-tengah meja makan tersebut. Semua anggota keluarga begitu bahagia dan tidak sabar menunggu kehadirannya. Cucu dan cicit pertama yang begitu disayangi dan dinanti, begitu ujar mereka. Panjatan doa pun ditujukan untuk ibu dan si calon bayi agar dapat selamat dan sehat sampai nanti persalinan.
Karin sudah selesai dengan makanannya. Netranya dengan otomatis melirik ke gelas minuman Aryan yang kini sudah bersih. Aryan yang juga sedang melihat Karin di sampingnya, lantas berujar, “Aku nggak akan nambah minum, Karin.” Aryan pun terkekeh sekilas.
“But actually you want it, right?”
“Seventy percent is correct. Tapi aku harus nyetir dan aku bawa kamu. Aku nggak mau sampai membahayakan kamu dan anak kita,” terang Aryan.
Karin pun menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia meneguk minuman mocktail dari gelas miliknya. Sadar Aryan memperhatikannya ketika Karin minum, Karin pun mengeryitkan alisnya.
Aryan seketika mengalihkan tatapannya ke arah lain ketika tertangkap basah ia baru saja mengamati Karin. Lengan Aryan yang sebelumnya berada di sandaran kursi Karin, perlahan menjauh dari sana.
***
Waktu kini menunjukkan pukul 10 malam. Setelah berbicara dengan papanya, Aryan dan Karin pun pamit untuk pulang. Beberapa keluarga juga sudah berpamitan terlebih dulu.
Acara hari ini akhirnya selesai dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Aryan saat ini, ia mendapatkan kembali lamborghini kesayangannya. Kebekuan di hati papanya perlahan telah mencair, sehingga fasilitas yang Aryan miliki sebelumnya, satu persatu diberikan kembali untuknya. Kehidupan pernikahan Aryan dan Karin yang berjalan dengan baik, sikap Aryan yang sedikit-sedikit terlihat dewasa, rupanya telah membuat papanya tersentuh.
Mengenai permintaan Aryan pada Aryo, papanya mengatakan bahwa dirinya telah setuju membantu Aryan dan Karin untuk mendapat informasi tentang Arumi.
Aryan tidak dapat menahan senyum bahagianya, bahkan ketika dirinya dan Karin sudah berada di dalam mobil. Karin pun ikut merasa senang, ia sungguh melihat masih bentuk sayang nyata seorang ayah kepada anaknya.
Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya. Mesin hanya dinyalakan dan audio memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar menangkan.
“Kak, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Karin seraya memerhatikan air muka Aryan yang nampak memerah.
“Bisa. Aku nggak mabuk, Karin. See,” ucap Aryan.
“Muka kamu merah banget, Kak. Nggak mabuk gimana,” ucap Karin.
“Kamu tidur dulu sebentar, ya? 10 menit aja, habis itu kita baru jalan,” sambung Karin mengungkapkan sarannya.
“Oke.” Aryan pun menyetujuinya. Usai perkataan itu, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara keduanya. Karin pun memilih tidak mengeluarkan suara apa pun agar Aryan bisa tertidur.
“Karin,” celetuk Aryan sambil tangannya bergerak mematikan audio di mobil.
“Ya?”
“Can I lay in your shoulder?” tanya Aryan dengan suara pelannya. Aryan menatap Karin lekat. Kadua mata sabit itu mengunci kedua mata bulat Karin. Selama beberapa detik, Karin pun tenggelam di dalam iris berwarna hitam pekat milik Aryan.
Tidak sampai lima detik kemudian, Aryan lantas memutus kontak matanya dengan Karin terlebih dulu.
“Karin, I'm sorry I asked you for that. Just forget about it,” ucap Aryan diiringi tawa hambarnya. Aryan pun memejamkan matanya dan berdecak samar. Dalam hatinya, Aryan mengutuk dirinya sendiri. Entah apa yang terucap dari mulutnya barusan. Aryan lantas berusaha menenangkan dirinya, ia berpikir bahwa ini hanya reaksi alami yang diberikan tubuhnya karena efek dari alkohol.
Karin terlihat mengulaskan senyumnya sekilas, kemudian ia berujar, “It's oke, if you want to sleep in my shoulder. You can do it, here.”
Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Karin, sontak membuat Aryan kembali melayangkan tatapannya kepada Karin. Aryan mendapati senyum Karin yang tampak begitu tulus. Karin pun mengizinkan Aryan bersandar di pundaknya untuk terlelap sejenak.
Dengan gerakan sedikit canggung, Aryan mulai mendekatkan dirinya pada Karin. Tidak sampai lima detik berikutnya, Aryan sudah membaringkan kepalanya di bahu Karin. Pundak Karin kini terasa sedikit berat, tapi itu bukan masalah besar baginya.
“Karin, kalau udah 10 menit kamu bisa bangunin aku,” ujar Aryan. Sebentar lagi Aryan hampir menuju ke alam mimpinya, ia bergerak sedikit dari posisinya untuk membuat posisinya terasa lebih nyaman.
“Iya, nanti aku bangunin,” ucap Karin.
Mata Aryan pun perlahan-lahan semakin terasa berat dan akhirnya terpejam juga. Nafasnya mulai terdengar teratur, dari posisinya saat ini, Karin dapat mendengar hembusan itu dan merasakan aroma parfum citrus segar bercampur floral khas Aryan.
Karin tiba-tiba terpikirkan sesuatu di tengah kegiatannya menunggu Aryan tidur. Hari ini Karin merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga Aryan. Mereka menyambut kehadirannya dengan begitu hangat. Keluarga yang lengkap yang mungkin tidak Karin miliki. Namun Karin menginginkan anaknya memiliki keluarga yang tetap terasa lengkap, sekalipun tahu bahwa orang tuanya tidak akan bersama. Karin berpikir jika nanti hak asuh anaknya jatuh ke tangan Aryan, Karin rela untuk itu. Di mana jika dibandingkan dengan keluarganya, keluarga Aryan jauh lebih mampu mencukupi kebutuhan dari segi materi dan kasih sayang untuk si kecil nantinya.
Karin sangat mencintai anaknya. Ia yang mengandung dan akan melahirkannya ke dunia. Namun prioritas Karin saat ini dan selamanya adalah kebahagiaan anaknya. Menurutnya, cinta tidak selalu tentang mendekap seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Merelakan seseorang yang dicintai untuk bahagia, meski kebahagiaan itu berasal dari sumber yang berbeda, merupakan bentuk cinta yang sangat besar. Karin percaya bahwa Aryan mampu mewujudkan keluarga yang sempurna untuk anak mereka. Karin tahu Aryan begitu mencintai anaknya dan dapat menjadi orang tua yang baik nantinya.
Tiba-tiba Karin merasakan kedua matanya memanas. Kalau memikirkan soal anak, Karin sangat mudah merasa lemah.
Karin bergerak mengarahkan tangannya untuk mencegah sesuatu keluar dari pelupuk matanya. Detik berikutnya, Karin pun berujar dalam hati, “Nak, suatu hari nanti, Mama harap kamu bisa mengerti, meskipun ini akan sulit untuk kamu pahami. Kamu perlu tau, Mama dan Papa sangat mencintai kamu, hanya aja kita nggak bisa menentukan takdir dan rasa cinta seseorang. Papa dan Mama bukan dua orang yang saling mencintai, Nak. Namun itu tidak akan merubah sedikitpun rasa sayang kita ke kamu.”
***
Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸
Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕
Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷


