alyadara

Rumah Aryo dan Tiara

Ini merupakan kedua kalinya bagi Karin menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Aryan. Penthouse yang bisa dibilang sangat mewah itu, malam ini menjadi tempat berkumpul para keluarga Brodjohujodyo.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus diadakannya acara malam ini. Aryan mengatakan pada Karin bahwa keluarganya memang biasa mengadakan pertemuan. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menjalin kekerabatan dan kekeluargaan yang lebih erat.

Rupanya Aryan dan Karin merupakan yang datang hampir terakhir. Di tengah-tengah para sanak saudara, keduanya pun lantas digadang-gadang sebagai bintang tamu utama.

“Sekarang Aryan udah gandeng istri ya. Padahal baru kemarin kayaknya Tante beliin hotwheels sama nitendo,” ujar seorang adik perempuan dari keluarga mamanya.

Waktu pernikahan Aryan dan Karin, memang tidak semua saudara dapat hadir. Jadi Aryan berinisiatif untuk mengenalkan Karin pada tante serta para omnya sebagai istrinya. Setelah sesi perkenalan itu, Aryan pun membawa Karin bertemu papa dan mamanya yang berada di sisi lain tempat ini.

Karin pun melihat sosok Tiara lebih dulu, mertuanya seperti biasa nampak begitu cantik dan anggun. Kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajah mertuanya dari mulai mata, dan bibir, sangat mirip dengan paras Aryan.

Saat netra Tiara akhirnya menangkap kehadiran Karin, wanita berusia 40 tahunan itu langsung melangkah menghampirinya dan bergerak memeluknya.

Sepersekian detik kemudian, Tiara mengurai pelukan hangatnya pada Karin. Karin lantas bergerak menyerahkan sesuatu yang dibawanya, “Mama, ini tadi Karin sama Aryan mampir ke toko kue. Kita beli kue coklat untuk Mama dan keluarga lainnya.”

Tiara segera menerima bungkusan itu dan kedua matanya nampak berbinar. “Terima kasih ya, Sayang,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum lembutnya.

“Yuk, ambil makan dulu. Kamu mau makan apa? Pasta, steik, atau kamu suka chinese food?” Tiara bergerak meraih tangan Karin dan menggandengnya menuju prasmanan yang menyediakan berbagai jenis makanan.

Karin sempat merasa canggung awalnya, tapi mertuanya dan keluarga Aryan yang lainnya bersikap sangat welcome padanya.

Semua yang hadir pun telah lengkap dan mereka sudah mengambil makanan masing-masing. Di sebuah meja makan yang cukup luas itu, mereka menikmati hidangan bersama. Aryan duduk di samping Karin, lelaki itu baru saja kembali dari mengambil minuman berwarna bening di sebuah gelas tinggi.

“Kak, kamu minum alkohol?” tanya Karin sembari menatap gelas yang Aryan letakkan di samping piringnya.

Aryan lantas menoleh ke arah Karin, “Iya,” jawabnya. Seakan mengerti maksud Karin, Aryan pun kembali berujar, “Aku nggak akan minum banyak kok.”

“Oke,” Karin pun menganggukkan kepalanya. Ia kembali menggulung memotong daging wagyu di piringnya, lalu menyuap untuk dirinya sendiri.

“Kita belum cheers lho ngomong-ngomong. Bisa lah cheers dulu,” celetukan itu tiba-tiba terlontar dari salah satu omnya Aryan yang duduk di ujung meja. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah pada pria berkulit putih dan bermata sipit itu.

“Wah iya, hampir lupa nih. Sebelum tuan rumah tepar, kayaknya kita harus cheers dulu,” sahut seorang anggota keluarga lainnya sambil melirik ke arah Aryo, papanya Aryan dan Nayna. Mama mertuanya, Tiara, yang duduk di samping kirinya pun mengingatkan suaminya agar tidak sampai mabuk berat karena minum.

“Aku kuat, Sayang. Kamu lihat ya,” ujar Aryo pada Tiara.

“Kamu tuh nggak sekuat dulu minumnya. Kamu udah kepala empat, berasa masih kepala dua aja,” ujar Tiara pada suaminya. Sontak semua yang ada di sana tertawa melihat kejadian itu.

Semua anggota keluarga sudah mengisi gelas mereka dengan champagne atau vodka, kecuali Karin, Nayna, dan beberapa tetua. Meskipun begitu, mereka yang tidak mengkonsumsi alkohol tetap ikut mengangkat gelasnya.

Semua orang kini telah siap berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke tengah, dan mempertemukan gelas di tangan masing-masing dengan gelas milik anggota keluarga yang lainnya.

This is for our family. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat oleh Tuhan dan saling menyayangi sesama anggota keluarga. Cheers!”

Cheers!!”

Usai acara tos gelas yang sedikit heboh itu, setiap anggota kembali menikmati makanan sembari mengobrol satu sama lain. Selain berbicara soal bisnis, baik dari kalangan tetua maupun muda-mudi, topik pun bergulir dan diajukan pertanyaan kepada Aryan dan Karin. Lebih tepatnya para keluarga menanyakan seputar kandungan Karin saat ini.

“Usianya sekarang jalan dua belas minggu, Tante, Om. Mohon doanya ya, semoga semuanya lancarkan,” ucap Karin menjawab pertanyaan tentang usia kandungannya.

“Dia masih kecil banget. Aryan sama Karin kemarin baru aja dengar detak jantungnya waktu cek kandungan. Dokter bilang semua hasil pemeriksaannya bagus,” jelas Aryan sambil menatap Karin yang ada di sampingnya. Begitu Aryan mengulaskan senyumnya, Karin pun otomatis ikut tersenyum.

Penjelasan Aryan dan Karin tentang anak mereka sontak menciptakan suasana hangat dan haru di tengah-tengah meja makan tersebut. Semua anggota keluarga begitu bahagia dan tidak sabar menunggu kehadirannya. Cucu dan cicit pertama yang begitu disayangi dan dinanti, begitu ujar mereka. Panjatan doa pun ditujukan untuk ibu dan si calon bayi agar dapat selamat dan sehat sampai nanti persalinan.

Karin sudah selesai dengan makanannya. Netranya dengan otomatis melirik ke gelas minuman Aryan yang kini sudah bersih. Aryan yang juga sedang melihat Karin di sampingnya, lantas berujar, “Aku nggak akan nambah minum, Karin.” Aryan pun terkekeh sekilas.

But actually you want it, right?”

Seventy percent is correct. Tapi aku harus nyetir dan aku bawa kamu. Aku nggak mau sampai membahayakan kamu dan anak kita,” terang Aryan.

Karin pun menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia meneguk minuman mocktail dari gelas miliknya. Sadar Aryan memperhatikannya ketika Karin minum, Karin pun mengeryitkan alisnya.

Aryan seketika mengalihkan tatapannya ke arah lain ketika tertangkap basah ia baru saja mengamati Karin. Lengan Aryan yang sebelumnya berada di sandaran kursi Karin, perlahan menjauh dari sana.

***

Waktu kini menunjukkan pukul 10 malam. Setelah berbicara dengan papanya, Aryan dan Karin pun pamit untuk pulang. Beberapa keluarga juga sudah berpamitan terlebih dulu.

Acara hari ini akhirnya selesai dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Aryan saat ini, ia mendapatkan kembali lamborghini kesayangannya. Kebekuan di hati papanya perlahan telah mencair, sehingga fasilitas yang Aryan miliki sebelumnya, satu persatu diberikan kembali untuknya. Kehidupan pernikahan Aryan dan Karin yang berjalan dengan baik, sikap Aryan yang sedikit-sedikit terlihat dewasa, rupanya telah membuat papanya tersentuh.

Mengenai permintaan Aryan pada Aryo, papanya mengatakan bahwa dirinya telah setuju membantu Aryan dan Karin untuk mendapat informasi tentang Arumi.

Aryan tidak dapat menahan senyum bahagianya, bahkan ketika dirinya dan Karin sudah berada di dalam mobil. Karin pun ikut merasa senang, ia sungguh melihat masih bentuk sayang nyata seorang ayah kepada anaknya.

Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya. Mesin hanya dinyalakan dan audio memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar menangkan.

“Kak, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Karin seraya memerhatikan air muka Aryan yang nampak memerah.

“Bisa. Aku nggak mabuk, Karin. See,” ucap Aryan.

“Muka kamu merah banget, Kak. Nggak mabuk gimana,” ucap Karin.

“Kamu tidur dulu sebentar, ya? 10 menit aja, habis itu kita baru jalan,” sambung Karin mengungkapkan sarannya.

“Oke.” Aryan pun menyetujuinya. Usai perkataan itu, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara keduanya. Karin pun memilih tidak mengeluarkan suara apa pun agar Aryan bisa tertidur.

“Karin,” celetuk Aryan sambil tangannya bergerak mematikan audio di mobil.

“Ya?”

Can I lay in your shoulder?” tanya Aryan dengan suara pelannya. Aryan menatap Karin lekat. Kadua mata sabit itu mengunci kedua mata bulat Karin. Selama beberapa detik, Karin pun tenggelam di dalam iris berwarna hitam pekat milik Aryan.

Tidak sampai lima detik kemudian, Aryan lantas memutus kontak matanya dengan Karin terlebih dulu.

“Karin, I'm sorry I asked you for that. Just forget about it,” ucap Aryan diiringi tawa hambarnya. Aryan pun memejamkan matanya dan berdecak samar. Dalam hatinya, Aryan mengutuk dirinya sendiri. Entah apa yang terucap dari mulutnya barusan. Aryan lantas berusaha menenangkan dirinya, ia berpikir bahwa ini hanya reaksi alami yang diberikan tubuhnya karena efek dari alkohol.

Karin terlihat mengulaskan senyumnya sekilas, kemudian ia berujar, “It's oke, if you want to sleep in my shoulder. You can do it, here.”

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Karin, sontak membuat Aryan kembali melayangkan tatapannya kepada Karin. Aryan mendapati senyum Karin yang tampak begitu tulus. Karin pun mengizinkan Aryan bersandar di pundaknya untuk terlelap sejenak.

Dengan gerakan sedikit canggung, Aryan mulai mendekatkan dirinya pada Karin. Tidak sampai lima detik berikutnya, Aryan sudah membaringkan kepalanya di bahu Karin. Pundak Karin kini terasa sedikit berat, tapi itu bukan masalah besar baginya.

“Karin, kalau udah 10 menit kamu bisa bangunin aku,” ujar Aryan. Sebentar lagi Aryan hampir menuju ke alam mimpinya, ia bergerak sedikit dari posisinya untuk membuat posisinya terasa lebih nyaman.

“Iya, nanti aku bangunin,” ucap Karin.

Mata Aryan pun perlahan-lahan semakin terasa berat dan akhirnya terpejam juga. Nafasnya mulai terdengar teratur, dari posisinya saat ini, Karin dapat mendengar hembusan itu dan merasakan aroma parfum citrus segar bercampur floral khas Aryan.

Karin tiba-tiba terpikirkan sesuatu di tengah kegiatannya menunggu Aryan tidur. Hari ini Karin merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga Aryan. Mereka menyambut kehadirannya dengan begitu hangat. Keluarga yang lengkap yang mungkin tidak Karin miliki. Namun Karin menginginkan anaknya memiliki keluarga yang tetap terasa lengkap, sekalipun tahu bahwa orang tuanya tidak akan bersama. Karin berpikir jika nanti hak asuh anaknya jatuh ke tangan Aryan, Karin rela untuk itu. Di mana jika dibandingkan dengan keluarganya, keluarga Aryan jauh lebih mampu mencukupi kebutuhan dari segi materi dan kasih sayang untuk si kecil nantinya.

Karin sangat mencintai anaknya. Ia yang mengandung dan akan melahirkannya ke dunia. Namun prioritas Karin saat ini dan selamanya adalah kebahagiaan anaknya. Menurutnya, cinta tidak selalu tentang mendekap seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Merelakan seseorang yang dicintai untuk bahagia, meski kebahagiaan itu berasal dari sumber yang berbeda, merupakan bentuk cinta yang sangat besar. Karin percaya bahwa Aryan mampu mewujudkan keluarga yang sempurna untuk anak mereka. Karin tahu Aryan begitu mencintai anaknya dan dapat menjadi orang tua yang baik nantinya.

Tiba-tiba Karin merasakan kedua matanya memanas. Kalau memikirkan soal anak, Karin sangat mudah merasa lemah.

Karin bergerak mengarahkan tangannya untuk mencegah sesuatu keluar dari pelupuk matanya. Detik berikutnya, Karin pun berujar dalam hati, “Nak, suatu hari nanti, Mama harap kamu bisa mengerti, meskipun ini akan sulit untuk kamu pahami. Kamu perlu tau, Mama dan Papa sangat mencintai kamu, hanya aja kita nggak bisa menentukan takdir dan rasa cinta seseorang. Papa dan Mama bukan dua orang yang saling mencintai, Nak. Namun itu tidak akan merubah sedikitpun rasa sayang kita ke kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Sesuai yang Aryan dan Karin rencanakan, hari ini keduanya akan pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek kandungan rutin. Begitu memasuki ruang periksa, Karin diminta untuk berbaring di atas tempat tidur.

Setelah dokter mengoleskan sebuah gel ke perut Karin dan mengarahkan sebuah alat ke sana, seketika layar di samping menunjukkan sebuah bentuk menyerupai lingkaran kecil.

“Nah, ini jantung bayinya,” ujar dokter sembari menunjuk ke satu titik di layar.

Dokter pun mempersilakan Karin dan Aryan untuk mendengarkan detak jantung bayinya. Aryan lantas mendekatkan dirinya ke sisi ranjang di mana Karin berbaring, pandangannya mengarah ke layar dan bergantian menatap Karin.

Begitu sebuah suara terdengar memenuhi ruangan itu, Karin mendapati mata Aryan nampak berkaca-kaca. Karin pun bahagia karena dapat merasakan kehadiran bayinya.

“Detak jantungnya normal ya, Bapak, Ibu. Hasil pemeriksaan lainnya juga bagus,” ujar dokter.

Aryan rupanya masih menatap Karin selama beberapa detik dan sebuah senyum hangat terlukis di wajahnya.

“Makasih ya Dok,” ujar Karin sembari bergerak bangun dari baringannya. Aryan pun membantu Karin yang hendak turun dari ranjang, lelaki itu membantu memegang satu lengan Karin.

Karin dan Aryan lantas diberi penjelasan sedikit oleh dokter terkait hal-hal tentang kehamilan. Sesi itu tidak memakan waktu yang lama, hanya sekitar 20 menit, keduanya sudah keluar dari ruangan itu. Dokter juga memberikan resep vitamin dan obat yang harus ditebus di apotek.

***

Karin duduk di salah satu kursi yang disediakan untuk menunggu, sementara Aryan sedang membayar biaya dokter. Karin mengambil kursi di depan apotek, karena setelah membayar biaya kontrol kandungan, Aryan akan menebus resep di apotek dan mereka telah janjian untuk bertemu di sini.

Karin menatap ke sekelilingnya. Hari ini merupakan weekdays, jadi kondisi rumah sakit tidak terlalu ramai seperti biasanya saat weekend. Begitu Karin menoleh ke sisi kirinya, jarak empat bangku kosong dari posisinya, ia melihat seseorang yang terasa fameliar di ingatannya.

Karin yakin bahwa penglihatannya tidak salah. Perempuan yang kira-kira berusia 25 tahunan tersebut adalah karyawan Clairs Beauty yang mengantarnya ke kamar malam itu.

“Arumi Lestari, antrian apotek nomor 83,” ujar seorang apoteker melalui pengeras suara.

Seketika perempuan yang Karin perhatikan itu beranjak dari tempatnya dan berjalan menuju apotek. Karin memerhatikan setiap pergerakan yang dilakukannya. Namun agar kegiatannya tidak dicurigai, Karin segera mengambil ponselnya dan berakting seolah ia tidak sedang mengamati gerak gerik perempuan itu.

Sampai perempuan itu berlalu dari pandangan Karin dan semakin menjauh dari apotek, Karin pun menghembuskan napasnya. Ia begitu yakin dan tidak mungkin salah melihat. Walaupun malam itu Karin seperti terkena pengaruh alkohol, ia masih ingat bahwa perempuan yang barusan dilihatnya adalah karyawan Clairs Beauty yang membuatnya datang ke kamar Aryan malam itu.

“Karin,” sebuah suara seketika membuat Karin tersadar dan menoleh ke samping. Ia mendapati Aryan berada di sana dan lelaki itu baru saja menyadarkan Karin dari lamunannya.

“Kak,” ucap Karin.

“Kenapa Karin?” Aryan pun melihat ke mana mata Karin menatap, tapi ia tidak menemukan apa pun. Hanya beberapa orang yang tampak sewajarnya berlalu lalang di area rumah sakit.

“Barusan aku liat karyawan Clairs Beauty yang waktu itu bawa aku ke kamar kamu.”

Selama beberapa detik Aryan hanya terdiam setelah mendengar penuturan Karin. Karin memang pernah mengatakan padanya bahwa malam itu ia masuk ke kamar Aryan atas kehendak seseorang. Karin tidak sama sekali memegang key card kamar hotel Aryan saat ia masuk ke sana.

“Karin, kamu yakin kalau yang kamu liat itu dia?”

“Aku yakin, Kak. Aku inget banget wajahnya. Aku nggak mungkin salah,” ujar Karin dengan nada yakinnya.

Setelah memikirkannya dengan kepala dingin beberapa hari yang lalu, ketika Karin juga mulai mengingat detail-detail kejadian malam itu, Aryan pun bertekad untuk mencari tahu siapa dalang di balik semuanya.

Aryan dan Karin kini memang telah bahagia dengan kehadiran anak mereka. Keduanya juga akan selalu berjuang untuk memberikan kasih sayang yang utuh untuk si kecil. Namun pada kenyataannya, bukankah seseorang tetap harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah dilakukannya?

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Rumah Aryo dan Tiara

Ini merupakan kedua kalinya bagi Karin menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Aryan. Penthouse yang bisa dibilang sangat mewah itu, malam ini menjadi tempat berkumpul para keluarga Brodjohujodyo.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus diadakannya acara malam ini. Aryan mengatakan pada Karin bahwa keluarganya memang biasa mengadakan pertemuan. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menjalin kekerabatan dan kekeluargaan yang lebih erat.

Rupanya Aryan dan Karin datang paling terakhir. Di tengah-tengah para sanak saudara, karena Aryan dan Karin datang paling terakhir, keduanya pun lantas digadang-gadang sebagai bintang tamu utama.

“Sekarang Aryan udah gandeng istri ya. Padahal baru kemarin kayaknya Tante beliin hotwheels sama nitendo,” ujar seorang adik perempuan dari keluarga mamanya.

Waktu pernikahan Aryan dan Karin, memang tidak semua saudara dapat hadir. Jadi Aryan berinisiatif untuk mengenalkan Karin pada tante serta para omnya sebagai istrinya. Setelah sesi perkenalan itu, Aryan pun membawa Karin bertemu papa dan mamanya yang berada di sisi lain tempat ini.

Karin pun melihat sosok Tiara lebih dulu, mertuanya seperti biasa nampak begitu cantik dan anggun. Kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajah mertuanya dari mulai mata, dan bibir, sangat mirip dengan paras Aryan.

Saat netra Tiara akhirnya menangkap kehadiran Karin, wanita berusia 40 tahunan itu langsung melangkah menghampirinya dan bergerak memeluknya.

Sepersekian detik kemudian, Tiara mengurai pelukan hangatnya pada Karin. Karin lantas bergerak menyerahkan sesuatu yang dibawanya, “Mama, ini tadi Karin sama Aryan mampir ke toko kue. Kita beli kue coklat untuk dinikmati bareng-bareng.”

Tiara segera menerima bungkusan itu dan kedua matanya nampak berbinar. “Terima kasih ya, Sayang,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum lembutnya.

“Yuk, ambil makan dulu. Kamu mau makan apa? Pasta, steik, atau kamu suka chinese food?” Tiara bergerak meraih tangan Karin dan menggandengnya menuju prasmanan yang telah tertata rapi.

Karin sempat merasa canggung awalnya, tapi mertuanya dan keluarga Aryan yang lainnya bersikap sangat welcome padanya.

Semua yang hadir pun telah lengkap dan mereka sudah mengambil makanan masing-masing. Di sebuah meja makan yang cukup luas itu, mereka menikmati hidangan bersama. Aryan duduk di samping Karin, lelaki itu baru saja kembali dari mengambil minuman berwarna bening di sebuah gelas tinggi.

“Kak, kamu minum alkohol?” tanya Karin sembari menatap gelas yang Aryan letakkan di samping piringnya.

Aryan lantas menoleh ke arah Karin, “Iya,” jawabnya. Seakan mengerti maksud Karin, Aryan pun kembali berujar, “Aku nggak akan minum banyak kok.”

“Oke,” Karin pun menganggukkan kepalanya. Ia kembali menggulung memotong daging wagyu di piringnya, lalu menyuap untuk dirinya sendiri.

“Kita belum cheers lho ngomong-ngomong. Bisa lah cheers dulu,” celetukan itu tiba-tiba terlontar dari salah satu omnya Aryan yang duduk di ujung meja. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah pada pria berkulit putih dan bermata sipit itu.

“Wah iya, hampir lupa nih. Sebelum tuan rumah tepar, kayaknya kita harus cheers dulu,” sahut seorang anggota keluarga lainnya sambil melirik ke arah Aryo, papanya Aryan dan Nayna. Mama mertuanya, Tiara, yang duduk di samping kirinya pun mengingatkan suaminya agar tidak sampai mabuk berat karena minum.

“Aku kuat, Sayang. Kamu lihat ya,” ujar Aryo pada Tiara.

“Kamu tuh nggak sekuat dulu minumnya. Udah kepala empat juga, berasa masih kepala dua aja,” ujar Tiara pada suaminya. Sontak semua yang ada di sana tertawa melihat kejadian itu.

Semua anggota keluarga sudah mengisi gelas mereka dengan champagne atau vodka, kecuali Karin, Nayna. Meskipun begitu, keduanya tetap ikut mengangkat gelas mereka.

Semua orang kini telah siap berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke tengah, dan mempertemukan gelas di tangan masing-masing dengan gelas milik anggota keluarga yang lainnya.

This is for our family. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat oleh Tuhan dan saling menyayangi antar sesama anggota keluarga. Cheers!”

Cheers!!”

Usai acara tos gelas yang sedikit heboh itu, setiap anggota kembali menikmati makanan sembari mengobrol satu sama lain. Selain berbicara soal bisnis, baik dari kalangan tetua maupun muda-mudi, topik pun bergulir dan diajukan pertanyaan kepada Aryan dan Karin. Lebih tepatnya para keluarga menanyakan seputar kandungan Karin saat ini.

“Usianya sekarang jalan 12 minggu, Tante, Om. Mohon doanya ya, semoga semuanya lancarkan,” ucap Karin menjawab pertanyaan tentang usia kandungannya.

“Dia masih kecil banget. Aryan sama Karin kemarin baru aja dengar detak jantungnya waktu cek kandungan. Dokter bilang semua hasil pemeriksaannya bagus,” jelas Aryan sambil menatap Karin yang ada di sampingnya. Begitu Aryan mengulaskan senyumnya, Karin pun otomatis ikut tersenyum.

Penjelasan Aryan dan Karin tentang anak mereka sontak menciptakan suasana hangat dan haru di tengah-tengah meja makan tersebut. Semua anggota keluarga begitu bahagia dan tidak sabar menunggu kehadirannya. Cucu dan cicit pertama yang begitu disayangi dan dinanti, begitu ujar mereka. Panjatan doa pun ditujukan untuk ibu dan si calon bayi agar dapat selamat dan sehat sampai nanti persalinan.

Karin sudah selesai dengan makanannya. Netranya dengan otomatis melirik ke gelas minuman Aryan yang kini sudah bersih. Aryan yang juga sedang melihat Karin di sampingnya, lantas berujar, “Aku nggak akan nambah minum, Karin.” Aryan pun terkekeh sekilas.

But actually you want it, right?”

Seventy percent is correct. Tapi aku harus nyetir dan aku bawa kamu. Aku nggak mau sampai membahayakan kamu dan anak kita,” terang Aryan.

Karin pun menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia meneguk minuman mocktail dari gelas miliknya. Sadar Aryan memerhatikannya ketika Karin minum, Karin pun mengeryitkan alisnya.

Aryan seketika mengalihkan tatapannya ke arah lain. Lengan Aryan yang sebelumnya berada di sandaran kursi Karin, perlahan menjauh dari sana.

“Karin,” ujar Aryan beberapa detik kemudian. Panggilan Aryan itu seketika membuat Karin memberikan atensinya kepada Aryan.

“Iya, Kak?”

“Sebelum pulang, kita ngomong sama Papa dulu ya. Papa adalah harapan terakhir kita buat dapetin info soal Arumi.”

***

Waktu kini menunjukkan pukul 10 malam. Setelah berbicara dengan papanya, Aryan dan Karin pun pamit untuk pulang. Beberapa keluarga juga sudah berpamitan terlebih dulu. Acara hari ini akhirnya selesai dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan. Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Aryan saat ini, ia mendapatkan kembali lamborghini kesayangannya. Kebekuan di hati papanya perlahan telah mencair, sehingga fasilitas yang Aryan miliki sebelumnya, satu persatu diberikan kembali untuknya.

Mengenai permintaan Aryan pada papanya, Aryo mengatakan bahwa dirinya telah setuju membantu Aryan dan Karin untuk mendapat informasi tentang Arumi Lestari. Melihat tekad kuat dan perilaku baik yang tulus dilakukan oleh Aryan, rupanya telah membuat papanya tersentuh.

Aryan tidak dapat menahan senyum bahagianya, bahkan ketika dirinya dan Karin sudah berada di dalam mobil. Karin pun ikut merasa senang, ia sungguh melihat masih sayang nyata seorang ayah kepada anaknya.

Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya. Mesin hanya dinyalakan dan audio memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar menangkan.

“Kak, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Karin seraya memerhatikan air muka Aryan yang nampak memerah.

“Bisa. Aku nggak mabuk, Karin. See,” ucap Aryan.

“Muka kamu merah banget, Kak. Nggak mabuk gimana,” ucap Karin.

“Kamu tidur dulu sebentar, ya? 10 menit aja, habis itu kita baru jalan,” sambung Karin mengungkapkan sarannya.

“Oke.” Aryan pun menyetujuinya. Usai perkataan itu, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara keduanya. Karin pun memilih tidak mengeluarkan suara apa pun agar Aryan bisa tertidur.

“Karin,” celetuk Aryan sambil tangannya bergerak mematikan audio di mobil.

“Ya?”

Can I lay in your shoulder?” tanya Aryan dengan suara pelannya. Aryan menatap Karin lekat. Kadua mata sabit itu mengunci kedua mata bulat Karin. Selama beberapa detik, Karin pun tenggelam di dalam iris berwarna hitam pekat milik Aryan.

Tidak sampai lima detik kemudian, Aryan lantas memutus kontak matanya dengan Karin terlebih dulu.

“Karin, I'm sorry I asked you for that. Just forget about it,” ucap Aryan diiringi tawa hambarnya. Aryan pun memejamkan matanya dan berdecak samar. Dalam hatinya, Aryan mengutuk dirinya sendiri. Entah apa yang terucap dari mulutnya barusan. Aryan lantas berusaha menenangkan dirinya, ia berpikir bahwa ini hanya reaksi alami yang diberikan tubuhnya karena efek dari alkohol.

Karin terlihat mengulaskan senyumnya sekilas, kemudian ia berujar, “It's oke, if you want to sleep in my shoulder. You can do it, here.”

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Karin, sontak membuat Aryan kembali melayangkan tatapannya kepada Karin. Aryan mendapati senyum Karin yang tampak begitu tulus. Karin pun mengizinkan Aryan bersandar di pundaknya untuk terlelap sejenak.

Dengan gerakan sedikit canggung, Aryan mulai mendekatkan dirinya pada Karin. Tidak sampai lima detik berikutnya, Aryan sudah membaringkan kepalanya di bahu Karin. Pundak Karin kini terasa sedikit berat, tapi itu bukan masalah besar baginya.

“Karin, kalau udah 10 menit kamu bisa bangunin aku,” ujar Aryan. Sebentar lagi Aryan hampir menuju ke alam mimpinya, ia bergerak sedikit dari posisinya untuk membuat posisinya terasa lebih nyaman.

“Iya, nanti aku bangunin,” ucap Karin.

Mata Aryan pun perlahan-lahan semakin terasa berat dan akhirnya terpejam juga. Nafasnya mulai terdengar teratur, dari posisinya saat ini, Karin dapat mendengar hembusan itu dan merasakan aroma parfum citrus segar bercampur floral khas Aryan.

Karin tiba-tiba terpikirkan sesuatu di tengah kegiatannya menunggu Aryan tidur. Hari ini Karin merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga Aryan. Mereka menyambut kehadirannya dengan begitu hangat. Keluarga yang lengkap yang mungkin Karin tidak miliki. Namun Karin ingin kelak anaknya memiliki keluarga yang tetap terasa lengkap, sekalipun tahu bahwa orang tuanya tidaklah bersama. Karin berpikir jika nanti hak asuh anaknya jatuh ke tangan Aryan, Karin rela untuk itu. Di mana jika dibandingkan dengan keluarganya, keluarga Aryan jauh lebih mampu mencukupi kebutuhan dari segi materi dan kasih sayang untuk si kecil nantinya.

Karin sangat mencintai anaknya. Ia yang mengandung dan akan melahirkannya. Namun prioritas Karin saat ini dan selamanya adalah kebahagiaan anaknya. Menurutnya, cinta tidak selalu tentang mendekap seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Merelakan seseorang yang dicintai untuk bahagia, meski kebahagiaan itu berasal dari sumber yang berbeda, merupakan wujud cinta yang paling besar. Karin percaya bahwa Aryan mampu mewujudkan keluarga yang sempurna untuk anak mereka. Karin tahu Aryan begitu mencintai anaknya dan dapat menjadi orang tua yang baik nantinya.

Tiba-tiba Karin merasakan kedua matanya memanas. Kalau memikirkan soal anak, Karin mudah merasa lemah.

Karin bergerak mengarahkan tangannya untuk mencegah sesuatu keluar dari pelupuk matanya. Detik berikutnya, Karin pun berujar dalam hati, “Nak, suatu hari nanti, Mama harap kamu bisa mengerti, meskipun ini akan sulit untuk kamu pahami. Kamu perlu tau, Mama dan Papa sangat mencintai kamu, hanya aja kita nggak bisa menentukan takdir dan rasa cinta seseorang. Papa dan Mama bukan dua orang yang saling mencintai, Nak. Namun itu tidak akan merubah sedikitpun rasa sayang kita ke kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Seperti pelaksanaan pemotretan pada umumnya, studio bernuansa putih itu kini nampak dipenuhi oleh beberapa orang yang memiliki perannya masing-masing. Dari mulai fotografer, asisten fotografer, pengarah gaya, pengatur lighting, makeup artist, serta masih banyak pekerjaan lainnya yang ada di sana. Tentunya dibalik sebuah hasil foto yang bagus, terdapat berbagai pekerjaan para profesional yang prosesnya juga tidaklah mudah.

Set Up Studio

Oke, good. One more take again,” seru seorang fotografer yang kini tengah melakukan pemotretan.

“Coba sebentar, tambah bunganya lagi. Lipstiknya juga sedikit kurang glossy,” ujar pengarah gaya tepat sebelum sang fotografer kembali memotret.

Sebagai model yang di foto, Karin pun perlu tetap bertahan di posisinya, guna menjaga angle yang sudah diarahkan dengan apik sebelumnya. Seorang makeup artist bergegas memoles kembali makeup di wajahnya dan seorang pengarah gaya menambahkan properti bunga sesuai arahan yang diberikan.

Beberapa menit kemudian, tatanan makeup dan properti telah selesai diatur sesuai keinginan. Karin pun diminta untuk memasang ekspresi innocent, pandangannya diarahkan untuk tidak menghadap kamera, guna mendapatkan pose foto candid.

Perfect. Kita shoot lagi ya,” ujar si fotografer yang sudah siap untuk mengambil gambar. Para pengatur lighting juga sudah siap dengan segala pencahayaan yang diletakkan di titik-titik yang sesuai dengan kebutuhan foto.

Ckrek!

Setelah dua kali bunyi khas keluar dari kamera, semua orang yang ada di sana pun lekas berseru gembira. “It’s a wrap guys!! Thank you semuanya, we did it well!” ujar salah satu mereka diiringi hembusan napas dan ekspresi bahagia.

Begitu juga yang terjadi dengan Karin. Perempuan itu menghembuskan napas leganya ketika ia diperbolehkan untuk keluar dari area pemotretan. Karin pun melenggang ke ruang ganti yang disediakan untuknya dan duduk di kursi di hadapan sebuah kaca.

Beberapa asisten bergegas untuk membantunya. Dari mulai menghapus makeup-nya, melepaskan aksesoris, sampai merapikan kembali tatanan rambutnya.

Karin mencintai pekerjaan yang dijalaninya. Ia merasa bisa menemukan jati diri dengan melakukan hal yang digemarinya sebagai sebuah pekerjaan. Meskipun kerap kali merasa lelah, ujung-ujungnya Karin akan tetap bekerja lagi keesokan harinya.

Awalnya Karin tidak mengetahui soal branding dan segala macam yang diperlukan untuk menjadi seorang model maupun beauty influencer. Namun atas tekadnya untuk dapat membiayai hidupnya sendiri, Karin pun giat mempelajari segalanya. Awalnya terasa sulit karena itu hal yang baru untuknya, tapi Karin mau berjuang dan kini telah menuai hasil dari usaha kerasnya.

Karin telah begitu mendapat banyak pelajaran baik dari teman, rekan bisnis, maupun para relasi yang lebih dulu terjun ke industri ini. Bicara tentang relasi, di dunia hiburan yang penuh persaingan ini, Karin telah belajar bahwa memiliki hubungan baik dengan siapa pun sangatlah diperlukan. Maka kini Karin dapat menuai hasil dari apa yang ia berusaha tanam di dalam dirinya. Ketika ia membutuhkan bantuan, hubungan baik tersebut bisa membantunya.

Karin kini berhadapan dengan seorang perempuan berusia 24 tahun. Namanya Fannia, seorang yang bekerja sebagai public realtions di Clairs Beauty. Karin sudah membuat janji temu dengan Fannia siang ini di studio, tepatnya setelah ia selesai melakukan pemotretan. Di ruang tunggu itu, Karin dan Fannia akhirnya memutuskan untuk bicara berdua.

“Fan, makasih ya sebelumnya udah mau luangin waktu buat ketemu aku,” ucap Karin.

“Nggak papa, aku senang bisa bantu kamu. Ini juga salah satu bentuk permintaan maaf Clairs Beauty atas apa yang terjadi di Bali. Brand kita meminta maaf atas kesalahan yang kami nggak sadari,” balas Fannia sambil mengulaskan senyumnya kepada Karin.

Detik berikutnya Fannia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Fannia pun menyerahkan sebuah map berwarna biru dari tangannya kepada Karin.

“Sesuai informasi yang udah kamu berikan soal perempuan itu, di perusahaan kami, Clairs Beauty Indonesia, tidak ada seorang karyawan yang kamu maksudkan. Dari berbagai divisi dan kantor cabang, aku sudah cek bahwa orang yang kamu cari bukan termasuk karyawan kami. Karena kejadiannya udah cukup lama, waktu kita kontak pihak hotel untuk minta CCTV, mereka bilang nggak bisa ngasih,” ujar Fannia.

Fannia nampak menghela napasnya sesaat sebelum kembali berujar, “Kamu bisa cek di map itu, semua nama lengkap dengan foto tim kami yang hadir waktu itu ada di sana. Kalau kamu membutuhkan bantuan lain dari Clairs, jangan sungkan hubungi aku lagi. Aku akan berusaha untuk bantu kamu.”

Karin mencermati semua perkataan Fannia. Saat ini segalanya terasa masuk asal. Sangat jelas bahwa kejadian malam itu sengaja direncanakan oleh seseorang. Belum terlihat motif dari tindakan tersebut, tapi yang jelas apa pun yang orang itu susun telah sangat apik. Segalanya terasa membingungkan bagi Karin. Namun satu hal yang kini terpikirkan oleh Karin. Disini yang dijebak adalah dirinya dan Aryan. Apa mungkin seseorang dibalik rencana ini memiliki hubungan dengan Aryan?

***

Begitu Aryan mengabari bahwa lelaki itu telah sampai, Karin segera berpamitan untuk pulang lebih dulu kepada beberapa orang tim yang masih berada di studio. Karin juga sudah mengatakan pada Dara bahwa hari ini ia akan pulang bersama Aryan.

Aryan's Car

Saat netra Karin menangkap sebuah mobil BMW sport hitam yang fameliar, ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Karin pun membuka pintu di samping kemudi dan masuk ke dalam.

Begitu Karin mendaratkan dirinya di jok mobil, ia menoleh pada Aryan dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan soal Arumi Lestari.

“Perempuan yang malam itu bawa aku ke kamar kamu, dia bukan karyawan Clairs Beauty. Jadi kita nggak bisa cari tau identitasnya melalui Clairs. Petunjuk kuat yang kita punya saat ini cuma informasi pasien atas nama Arumi Lestari dari rumah sakit itu,” jelas Karin.

Sebelumnya Karin dan Aryan memang telah berencana untuk menemukan perempuan itu melalui bantuan Clairs Beauty. Namun kini keduanya dihadapkan oleh sebuah kenyataan baru, yang mengharuskan mereka menemukan cari lain untuk mencari sosok Arumi Lestari.

Aryan terdiam dan nampak tengah memikirkan semua penjelasan yang barusan Karin berikan. Rupanya Aryan memikirkan hal yang sama dengan yang sebelumnya Karin pikirkan. Pasti ada motif dari sebuah perbuatan, tapi Aryan tidak terpikirkan siapa yang kira-kira memiliki tujuan terhadapnya maupun Karin.

Beberapa saat kemudian, sebuah pemikiran pun terlintas di benak Aryan. Lelaki berparas oriental itu ia memicingkan matanya dan berujar, “Kita bisa dapetin informasi soal perempuan itu dengan bantuan seseorang.”

“Kamu mau minta bantuan ke siapa?” tanya Karin.

Aryan meletakkan satu tangannya di kemudi dan satunya lagi menarik rem. Sebelum menekan gas mobilnya, lelaki itu berujar, “Aku akan coba untuk minta tolong sama papa. Dulu papa pernah menyelidiki sesuatu dan itu berhasil. Jadi ada kemungkinan papa bisa bantu kita. We will see.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Rumah Aryo dan Tiara

Ini kedua kalinya bagi Karin menginjakkan kakinya di kediaman orang tua Aryan. Penthouse yang bisa dibilang sangat mewah itu, malam ini menjadi tempat berkumpul para keluarga Brodjohujodyo.

Sebenarnya tidak ada alasan khusus diadakannya acara malam ini. Aryan mengatakan pada Karin bahwa keluarganya memang biasa mengadakan pertemuan. Tujuan diadakannya acara ini adalah untuk menjalin kekerabatan dan kekeluargaan yang lebih erat.

Rupanya Aryan dan Karin datang paling terakhir. Di tengah-tengah para sanak saudara, karena Aryan dan Karin datang paling terakhir, keduanya pun lantas di gadang-gadang sebagai bintang tamu utama.

“Aryan, sekarang udah gandeng istri ya. Padahal baru kemarin kayaknya Tante beliin hotwheels sama nitendo,” ujar salah satu adik perempuan dari papanya.

Waktu pernikahan Aryan dan Karin, memang tidak semua saudara dapat hadir. Jadi Aryan berinisiatif untuk mengenalkan Karin pada tante serta para omnya sebagai istrinya. Setelah sesi perkenalan itu, Aryan pun membawa Karin bertemu papa dan mamanya yang berada di sisi lain tempat ini.

Karin melihat sosok Tiara lebih dulu, mertuanya seperti biasa nampak begitu cantik dan anggun. Kalau diperhatikan lebih dekat, struktur wajah mertuanya dari mulai mata, dan bibir, sangat mirip dengan paras Aryan.

Saat netra Tiara akhirnya menangkap kehadiran Karin, wanita berusia 40 tahunan itu langsung melangkah menghampirinya dan bergerak memeluknya.

Sepersekian detik kemudian, Tiara mengurai pelukan hangatnya pada Karin. Karin pun bergerak menyerahkan sesuatu yang dibawanya, “Mama, ini tadi Karin sama Aryan mampir ke toko kue. Kita beli kue coklat untuk dinikmati bareng-bareng.”

Tiara segera menerima bungkusan itu, kedua mata Tiara seketika berbinar. “Terima kasih ya, Sayang,” ujar Tiara sembari mengulaskan senyum lembutnya.

“Yuk, ambil makan dulu. Kamu mau makan apa? Pasta, steik, atau kamu suka chinese food?” Tiara bergerak meraih tangan Karin dan menggandengnya menuju prasmanan yang telah tertata rapi.

Karin sempat merasa canggung awalnya, tapi mertuanya dan keluarga Aryan yang lainnya bersikap sangat welcome padanya.

Semua yang hadir pun telah lengkap dan mereka sudah mengambil makanan masing-masing. Di sebuah meja makan yang cukup luas itu, kini mereka menikmati hidangan bersama. Aryan duduk di samping Karin, lelaki itu baru kembali dari mengambil minuman berwarna bening di sebuah gelas ramping yang tinggi.

“Kak, kamu mium alkohol?” tanya Karin sembari menatap gelas yang Aryan letakkan di samping piringnya.

Aryan lantas menoleh ke arah Karin, “Iya,” jawabnya. Seakan mengerti maksud Karin, Aryan pun kembali berujar, “Aku nggak akan minum banyak kok.”

“Oke,” Karin hanya menganggukkan kepalanya. Ia kembali menggulung memotong daging wagyu di piringnya, lalu menyuap untuk dirinya sendiri.

“Kita belum cheers lho ngomong-ngomong. Bisa lah cheers dulu,” celetukan itu tiba-tiba terlontar dari salah satu omnya Aryan yang duduk di ujung meja. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah pada pria berkulit putih dan bermata sipit itu.

“Wah iya, hampir lupa nih. Sebelum tuan rumah tepar, kayaknya harus cheers dulu,” sahut seorang anggota keluarga lainnya sambil melirik ke arah Aryo, papanya Aryan dan Nayna. Mama mertuanya, Tiara, yang duduk di samping kirinya pun mengingatkan suaminya agar tidak sampai mabuk berat karena minum.

“Aku kuat, Sayang. Kamu lihat ya,” ujar Aryo pada Tiara.

“Kamu tuh nggak sekuat dulu minumnya. Udah kepala empat juga, berasa masih kepala dua aja,” ujar Tiara pada suaminya. Sontak semua yang ada di sana tertawa melihat kejadian itu.

Semua anggota keluarga sudah mengisi gelas mereka dengan champagne atau vodka, kecuali Karin dan Nayna. Meskipun begitu, keduanya tetap ikut mengangkat gelas mereka.

Semua orang kini telah siap berdiri dari kursinya, mencondongkan tubuh ke tengah, dan mempertemukan gelas di tangan masing-masing dengan gelas milik yang lainnya.

“This is for our family. Semoga kita semua selalu dilimpahi berkat oleh Tuhan dan saling menyayangi antar sesama anggota keluarga. Cheers!”

Cheers!!”

Usai acara tos gelas yang sedikit heboh itu, setiap anggota kembali menikmati makanan sembari mengobrol satu sama lain. Selain berbicara soal bisnis, baik dari kalangan tetua maupun muda-mudi, topik pun bergulir dan diajukan pertanyaan kepada Aryan dan Karin. Lebih tepatnya para keluarga menanyakan seputar kandungan Karin saat ini.

“Usianya sekarang jalan 12 minggu, Tante, Om. Mohon doanya ya, semoga semuanya lancarkan,” ucap Karin menjawab pertanyaan tentang usia kandungannya.

“Dia masih kecil banget. Aryan sama Karin kemarin baru aja dengar detak jantungnya waktu cek kandungan. Dokter bilang semua hasil pemeriksaannya bagus,” jelas Aryan sambil menatap Karin yang ada di sampingnya. Begitu Aryan mengulaskan senyumnya, Karin otomatis ikut tersenyum.

Penjelasan Aryan dan Karin barusan sontak menciptakan suasana hangat dan haru di tengah-tengah meja makan tersebut. Cucu dan cicit pertama yang begitu disayangi dan dinanti, begitu ujar mereka. Panjatan doa pun sematkan untuk ibu dan si calon bayi. Semua anggota keluarga begitu bahagia dan tidak sabar menunggu kehadirannya kelak.

Karin sudah selesai dengan makanannya. Netranya dengan otomatis melirik ke gelas minuman Aryan yang kini sudah bersih. Aryan yang juga sedang melihat Karin di sampingnya, lantas berujar, “Aku nggak akan nambah minum, Karin.” Aryan pun terkekeh sekilas.

But actually you want it, right?”

Seventy percent is correct. Hmm ... tapi aku harus nyetir dan aku bawa kamu. Aku nggak mau sampai membahayakan kamu dan anak kita,” terang Aryan.

Karin pun menganggukkan kepalanya. Detik berikutnya, ia meneguk minuman mocktail dari gelas miliknya. Sadar Aryan memerhatikannya ketika Karin minum, Karin pun mengeryitkan alisnya.

Aryan seketika mengalihkan tatapannya ke arah lain. Lengan Aryan yang sebelumnya berada di sandaran kursi Karin, perlahan menjauh dari sana.

“Karin,” ujar Aryan beberapa detik kemudian. Panggilan Aryan itu seketika membuat Karin memberikan atensinya pada Aryan.

“Iya, Kak?”

“Sebelum pulang, kita ngomong sama Papa dulu ya. Papa adalah harapan terakhir kita buat dapetin info soal Arumi.”

***

Waktu kini menunjukkan pukul 10 malam. Setelah berbicara dengan papanya, Aryan dan Karin pun pamit untuk pulang. Beberapa keluarga juga sudah berpamitan lebih dulu. Acara hari ini akhirnya selesai dengan penuh kebahagiaan dan kehangatan.

Begitu juga yang tengah dirasakan oleh Aryan, ia mendapatkan kembali lamborghini kesayangannya. Kebekuan di hati papanya perlahan telah mencair, sehingga fasilitas yang Aryan miliki sebelumnya, satu persatu diberikan kembali untuknya.

Mengenai permintaan Aryan pada papanya, Aryo mengatakan bahwa dirinya telah setuju membantu Aryan dan Karin untuk mendapat informasi tentang Arumi Lestari. Melihat tekad kuat dan perilaku baik yang tulus dilakukan oleh Aryan, rupanya telah membuat papanya tersentuh.

Aryan tidak dapat menahan senyum bahagianya, bahkan ketika kini dirinya dan Karin sudah berada di dalam mobil. Karin pun ikut merasa senang, ia sungguh melihat masih sayang nyata seorang ayah kepada anaknya.

Aryan belum berniat untuk menjalankan mobilnya. Mesin hanya dinyalakan dan audio memutar sebuah lagu yang melodinya terdengar menangkan.

“Kak, kamu yakin bisa nyetir?” tanya Karin seraya memerhatikan air muka Aryan yang nampak memerah.

“Bisa. Aku nggak mabuk, Karin. See,” ucap Aryan.

“Muka kamu merah banget, Kak. Nggak mabuk gimana,” ucap Karin.

“Kamu tidur dulu aja sebentar, ya? 10 menit aja, habis itu kita baru jalan,” sambung Karin mengungkapkan sarannya.

“Oke.” Aryan pun menyetujuinya. Usai perkataan itu, tidak ada percakapan lagi yang terjadi di antara keduanya. Karin pun memilih tidak mengeluarkan suara apa pun agar Aryan bisa tertidur.

“Karin,” celetuk Aryan sambil tangannya bergerak mematikan audio di mobil.

“Ya?”

Can I lay in your shoulder?” tanya Aryan dengan suara pelannya. Aryan menatap Karin lekat, mata sabit itu mengunci mata bulat milik Karin. Selama beberapa detik, Karin pun tenggelam di dalam iris berwarna hitam pekat itu.

Tidak sampai lima detik kemudian, Aryan lantas memutus kontak matanya dengan Karin terlebih dulu.

“Karin, I'm sorry I asked you for that. Just forget about it,” ucap Aryan diiringi tawa hambarnya. Aryan pun berdecak samar dan memejamkan matanya. Dalam hatinya, Aryan mengutuk dirinya sendiri. Entah apa yang terucap dari mulutnya barusan. Aryan lantas berusaha menenangkan dirinya, ia berpikir bahwa ini hanya reaksi alami yang diberikan tubuhnya karena efek dari alkohol.

Karin terlihat mengulaskan senyumnya sekilas, kemudian ia berujar, “It's oke, if you want to sleep in my shoulder. You can do it, here.”

Mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Karin, sontak membuat Aryan kembali melayangkan tatapannya kepada Karin. Aryan mendapati senyum Karin yang tampak begitu tulus. Karin pun mengizinkan Aryan bersandar di pundaknya untuk terlelap sejenak.

Dengan gerakan sedikit canggung, Aryan mulai mendekatkan diri pada Karin. Tidak sampai lima detik berikutnya, Aryan sudah membaringkan kepalanya di bahu Karin. Pundak Karin kini terasa sedikit berat, tapi itu bukan masalah besar baginya.

“Karin, kalau udah 10 menit kamu bisa bangunin aku,” ujar Aryan. Sebentar lagi Aryan hampir menuju ke alam mimpinya, ia bergerak sedikit dari posisinya untuk membuat posisinya terasa lebih nyaman.

“Iya, nanti aku bangunin,” ucap Karin.

Mata Aryan pun perlahan-lahan semakin terasa berat dan akhirnya terpejam juga. Nafasnya mulai terdengar teratur, dari posisinya saat ini, Karin dapat mendengar hembusan itu dan merasakan aroma parfum Aryan.

Karin tiba-tiba terpikirkan sesuatu di tengah kegiatannya menunggu Aryan tidur. Hari ini Karin merasa bahagia karena dapat bertemu dengan keluarga Aryan dan mereka menyambut kehadirannya dengan begitu hangat. Keluarga yang lengkap yang mungkin Karin tidak miliki. Namun Karin ingin kelak anaknya memiliki keluarga yang tetap terasa lengkap, sekalipun tahu bahwa orang tuanya tidak bersama. Karin berpikir jika nanti hak asuh anaknya jatuh ke tangan Aryan, Karin rela untuk itu. Dimana jika dibandingkan dengan keluarganya, keluarga Aryan jauh lebih mampu mencukupi kebutuhan dari segi materi dan kasih sayang untuk si kecil nantinya.

Karin sangat mencintai anaknya. Ia yang mengandung dan akan melahirkannya. Namun prioritas Karin saat ini dan selamanya adalah kebahagiaan anaknya. Menurutnya, cinta tidak selalu tentang mendekap seseorang atau sesuatu yang kita cintai. Merelakan seseorang yang dicintai untuk bahagia, meski kebahagiaan itu berasal dari sumber yang berbeda, merupakan wujud cinta yang paling besar. Karin percaya bahwa Aryan mampu mewujudkan keluarga yang sempurna untuk anak mereka. Karin tahu Aryan begitu mencintai anaknya dan dapat menjadi papah yang baik nantinya.

Tiba-tiba Karin merasakan matanya memanas. Kalau memikirkan soal anak, Karin sangat mudah merasa lemah.

Karin lantas berujar dalam hatinya, “Nak, suatu hari Mama harap kamu mengerti. Meskipun ini akan sulit untuk kamu pahami, kamu harus tau, Mama dan Papa sangat mencintai kamu. Hanya saja kita tidak bisa menentukan takdir dan rasa cinta seseorang. Papa dan Mama bukan dua orang yang saling mencintai. Namun itu tidak akan merubah sedikitpun rasa sayang kita ke kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan dan Karin mengantar Nayna sampai ke depan pintu apartemen. Tidak lama setelah adegan akting tersebut, Nayna mengatakan bahwa ia akan pulang karena Aryan sudah kembali. Adik perempuan Aryan itu menggoda Aryan dan Karin dengan menambahkan bahwa ia tidak ingin mengganggu pengantin baru yang tengah di mabuk cinta.

“Selamat menikmati waktu berdua, Koko dan Cici kesayanganku. Aku pulang dulu yaa, bye bye!” ucap Nayna sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Saat punggung Nayna mulai menjauh, Karin pun masuk lebih dulu dan Aryan mengikuti langkahnya di belakang perempuan itu. Karin berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tempat di sofa, Aryan pun duduk di hadapannya.

“Kak.”

“Karin.”

“Kamu duluan,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk bicara lebih dulu.

“Oke. Aku mau tanya, kenapa kamu udah pulang? Bukannya kamu bilang mau nginep dua hari.”

“Kina ada kerjaan mendadak yang harus diselesaikan. Kayak yang kamu lihat, jadinya aku cuma nginep semalam. Sekarang boleh aku gantian tanya?”

Karin pun menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Aryan untuk bertanya.

“Barusan yang kita lakuin itu apa?” tanya Aryan.

Karin menampakkan senyum segannya kala Aryan membahas kejadian tersebut. Karin menghela napasnya, kemudian perempuan itu berujar, “Itu cuma akting. Semuanya terjadi karena tiba-tiba Nayna curiga kalau kamu nginep sama Kina. Nayna ngasih syarat ke aku, dia akan percaya kalau aku bisa buktiin kamu emang pergi karena urusan kampus. I don’t have any idea how to proved it. So I just decided to acting like we are actually a real couple.”

Alright. Akting kamu bagus juga,” ucap Aryan diiringi tawa kecilnya. Aryan lantas menatap Karin lekat, membuat Karin langsung membuang pandangannya dari Aryan. Kalau mengingat kejadian tadi, rasanya Karin ingin menghilang saat ini juga dari hadapan Aryan.

“Akting kamu juga bagus. Malah sempurna banget, aku sampai kaget lho,” komentar Karin guna mencairkan suasana.

“Untung aku peka ya, coba kalau enggak,” timpal Aryan.

Well, I think you are good at it,” cetus Karin sambil mengedikkan kedua bahunya.

So … I think you have to paid me tho,” balas Aryan diiringi senyum tipis dan satu alisnya yang terangkat.

Kedua alis Karin pun tampak menyatu dan mata bulatnya membola. “Maksud kamu aku harus bayar kamu? Pakai apa? Aku juga akting lho tadi, bahkan kamu sendiri yang puji aktingku,” ujar Karin dengan nada tidak percayanya.

Setelah mengucapkannya, Karin pun hendak bangun dari posisinya. Namun belum sempat itu terjadi, Aryan lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Are you want to watch movie with me this night?”

***

Karin tidak memiliki alasan untuk menolak Aryan, ia hanya melakukannya begitu saja. Toh Karin berpikir bahwa tidak ada yang salah dari menonton film berdua.

Karin dan Aryan kini sudah berada di ruang tamu, setelah mengambil beberapa cemilan dan minuman dari dapur. Mereka memutuskan menonton film action sembari menikmati makanan ringan yang berada di pangkuan masing-masing.

Aryan dan Karin's Netflix and Chill

Selama satu jam film telah diputar, Karin pun fokus menikmati filmnya. Namun Karin dapat mengetahui bahwa Aryan tidak sepenuhnya fokus pada layar di depan mereka. Karin tidak berniat untuk bertanya mengenai alasannya. Karin pun berpikir ia tidak berhak untuk tahu lebih jauh soal kehidupan pribadi Aryan.

Netra Aryan yang sebelumnya melihat ke arah TV, kini beralih ke samping, lelaki itu menatap Karin lekat. “Karin,” ujar Aryan.

Karin yang merasa diperhatikan pun lantas memberikan atensinya kepada Aryan. “Iya Kak?”

In your opinion, what is love means?” tanya Aryan.

Karin nampak berpikir sejenak mendengar pertanyaan Aryan. Karin mengatakan bahwa jawabannya hanya akan berdasarkan dialaminya secara langsung.

“Menurut aku cinta itu tentang waktu. Saat seseorang membuat waktunya untuk seseorang yang dia cintai, bukan meluangkan sebagian waktu dari kesibukannya, itu bisa disebut sebagai cinta. Waktu itu nggak dicari, tapi dibuat,” ujar Karin.

Aryan lantas menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Karin. “That’s a great answer and it make senses.”

Suddenly asking?” tanya Karin.

I’m just curious,” jawab Aryan.

Tidak lama berselang, Aryan kembali menatap Karin setelah tadi mengarahkan tatapannya pada jemari-jemari di pangkuannya, “Sometimes I felt I’m worthless for her. I tried to gave her my best, but it can’t never made her to stay. She always left at the end and I’m just feeling so empty.”

Karin terdiam kala mendengarnya. Tanpa Aryan menyebutkannya, Karin tahu sosok yang Aryan maksud dalam kalimatnya.

You’ve done what the best, you must love her very much,” ujar Karin setelah beberapa menit keduanya hanya larut dalam diam.

Yes, I do,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Dari tatapan mata sekecil sabit milik Aryan, Karin dapat melihat ada sebuah guratan luka di sana.

“Malam itu di hotel Bali, aku melamar Kina. I gave her a ring. I asked her to marry me, but she said that she’s not ready yet.”

Karin membiarkan Aryan bercerita sampai selesai, ia tidak berniat untuk mengatakan apa pun sampai Aryan benar-benar tuntas mengungkapkannya.

“Aku bilang aku akan nunggu dia. Waktu aku tanya berapa tahun yang dia butuhin untuk siap menikah, Kina nggak bisa memberi jawaban itu. After all that failed purpose, she left me. I drunk, two bottle of champagne, and I met you.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan bersalahnya.

“Setelah aku tau kalau kamu hamil, aku malah hampir membuat kita kehilangan dia. I’m really sorry for that, Karin. Mungkin menikahi kamu nggak sepenuhnya bikin semua jadi lebih baik, aku tetap ngajuin kesepakatan itu ke kamu. Aku melakukannya karena aku nggak bisa kehilangan Kina. Aku pantas dapat pukulan dari Rey waktu itu. I deserved that.”

Karin terdiam sesaat, ia memikirkan ucapan Aryan. Apa yang Aryan katakan terasa wajar. Aryan begitu mencintai Kina, tapi disatu sisi juga mencintai anaknya. Begitu pun dengan Karin, ia juga tetap ingin bersama Rey meskipun jalan mereka terasa sulit.

Karin pun nampak menghela napasnya, lalu ia berujar. “Kak, apa pun itu yang kamu sesali sekarang, kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang punya sisi hitam dan putihnya, tapi setiap orang juga berhak untuk jadi orang yang lebih baik ke depannya. Aku percaya kalau kamu bisa. You already showed your love for our child and I’m really thankful for that,” tutur Karin panjang lebar.

Malam ini Aryan merasakan sebuah rasa sakit yang tidak dapat ia gambarkan. Seketika itu juga, rentetan kejadian dalam hidupnya belakangan seperti terputar kembali di dalam benaknya. Ketika melihat Karin, Aryan pun masih didatangi oleh perasaan bersalah dan menunjukkan seberapa berengsek dirinya selama ini. Namun malam ini juga, Aryan tidak menyangka bahwa seseorang yang disakitinya justru mengulurkan tangannya dan berusaha untuk membuatnya bangkit kembali.

“Karin, aku mau pegang anak kita. Boleh?” tanya Aryan.

Karin seketika mengarahkan tatapannya mengikuti arah pandang Aryan yang kini melihat ke arah perutnya. Karin pun mengulaskan senyum kecilnya dan mengangguk, “Boleh.”

Setelah anggukan Karin tersebut, Aryan lekas mengarahkan tangannya perlahan menuju perut Karin. Detik-detik Aryan menyentuhkan telapak tangannya di atas perut Karin, Aryan merasakan hatinya berdebar bahagia. Begitu Aryan mengusapkan tangannya di sana, ukurannya masih sangat kecil, tapi ia dapat merasakan gundukan itu di sana.

“Hai, anak Papa,” ucap Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tangannya masih berada di atas perut Karin, ia mengusapnya dengan satu kali usapan, setelah itu baru kembali menjauhkannya.

Usai Aryan melakukannya, Karin mendapati kedua mata Aryan berkaca-kaca diiringi sebuah senyum bahagia di wajahnya. Di antara berbagai kejadian yang menerpa hidupnya dan Aryan, Karin bersyukur bahwa satu keajaiban dapat menjadi sebuah penguat, bukan hanya untuknya saja, tapi juga untuk Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Seperti pelaksanaan pemotretan pada umumnya, studio bernuansa putih itu kini nampak dipenuhi oleh beberapa orang yang memiliki perannya masing-masing. Dari mulai fotografer, asisten fotografer, pengarah gaya, pengatur lighting, makeup artist, serta masih banyak pekerjaan lainnya yang ada di sana. Tentunya dibalik sebuah hasil foto yang bagus, terdapat berbagai pekerjaan para profesional yang prosesnya juga tidaklah mudah.

Set Up Studio

Oke, good. One more take again,” seru seorang fotografer yang kini tengah melakukan pemotretan.

“Coba sebentar, tambah bunganya lagi. Lipstiknya juga sedikit kurang glossy,” ujar pengarah gaya tepat sebelum sang fotografer kembali memotret.

Sebagai model yang di foto, Karin pun perlu tetap bertahan di posisinya, guna menjaga angle yang sudah diarahkan dengan apik sebelumnya. Seorang makeup artist bergegas memoles kembali makeup di wajahnya dan seorang pengarah gaya menambahkan properti bunga sesuai arahan yang diberikan.

Beberapa menit kemudian, tatanan makeup dan properti telah selesai diatur sesuai keinginan. Karin pun diminta untuk memasang ekspresi innocent, pandangannya diarahkan untuk tidak menghadap kamera, guna mendapatkan pose foto candid.

Perfect. Kita shoot lagi ya,” ujar si fotografer yang sudah siap untuk mengambil gambar. Para pengatur lighting juga sudah siap dengan segala pencahayaan yang diletakkan di titik-titik yang sesuai dengan kebutuhan foto.

Ckrek!

Setelah dua kali bunyi khas keluar dari kamera, semua orang yang ada di sana pun lekas berseru gembira. “It’s a wrap guys!! Thank you semuanya, we did it well!” ujar salah satu mereka diiringi hembusan napas dan ekspresi bahagia.

Begitu juga yang terjadi dengan Karin. Perempuan itu menghembuskan napas leganya ketika ia diperbolehkan untuk keluar dari area pemotretan. Karin pun melenggang ke ruang ganti yang disediakan untuknya dan duduk di kursi di hadapan sebuah kaca.

Beberapa asisten bergegas untuk membantunya. Dari mulai menghapus makeup-nya, melepaskan aksesoris, sampai merapikan kembali tatanan rambutnya.

Karin mencintai pekerjaan yang dijalaninya. Ia merasa bisa menemukan jati diri dengan melakukan hal yang digemarinya sebagai sebuah pekerjaan. Meskipun kerap kali merasa lelah, ujung-ujungnya Karin akan tetap bekerja lagi keesokan harinya.

Awalnya Karin tidak mengetahui soal branding dan segala macam yang diperlukan untuk menjadi seorang model maupun beauty influencer. Namun atas tekadnya untuk dapat membiayai hidupnya sendiri, Karin pun giat mempelajari segalanya. Awalnya terasa sulit karena itu hal yang baru untuknya, tapi Karin mau berjuang dan kini telah menuai hasil dari usaha kerasnya.

Karin telah begitu mendapat banyak pelajaran baik dari teman, rekan bisnis, maupun para relasi yang lebih dulu terjun ke industri ini. Bicara tentang relasi, di dunia hiburan yang penuh persaingan ini, Karin telah belajar bahwa memiliki hubungan baik dengan siapa pun sangatlah diperlukan. Maka kini Karin dapat menuai hasil dari apa yang ia berusaha tanam di dalam dirinya. Ketika ia membutuhkan bantuan, hubungan baik tersebut bisa membantunya.

Karin kini berhadapan dengan seorang perempuan berusia 24 tahun. Namanya Fannia, seorang yang bekerja sebagai public realtions di Clairs Beauty. Karin sudah membuat janji temu dengan Fannia siang ini di studio, tepatnya setelah ia selesai melakukan pemotretan. Di ruang tunggu itu, Karin dan Fannia akhirnya memutuskan untuk bicara berdua.

“Fan, makasih ya sebelumnya udah mau luangin waktu buat ketemu aku,” ucap Karin.

“Nggak papa, aku senang bisa bantu kamu. Ini juga salah satu bentuk permintaan maaf Clairs Beauty atas apa yang terjadi di Bali. Brand kita meminta maaf atas kesalahan yang kami nggak sadari,” balas Fannia sambil mengulaskan senyumnya kepada Karin.

Detik berikutnya Fannia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Fannia pun menyerahkan sebuah map berwarna biru dari tangannya kepada Karin.

“Sesuai informasi yang udah kamu berikan soal perempuan itu, di perusahaan kami, Clairs Beauty Indonesia, tidak ada seorang karyawan yang kamu maksudkan. Dari berbagai divisi dan kantor cabang, aku sudah cek bahwa orang yang kamu cari bukan termasuk karyawan kami. Karena kejadiannya udah cukup lama, waktu kita kontak pihak hotel untuk minta CCTV, mereka bilang nggak bisa ngasih,” ujar Fannia.

Fannia nampak menghela napasnya sesaat sebelum kembali berujar, “Kamu bisa cek di map itu, semua nama lengkap dengan foto tim kami yang hadir waktu itu ada di sana. Kalau kamu membutuhkan bantuan lain dari Clairs, jangan sungkan hubungi aku lagi. Aku akan berusaha untuk bantu kamu.”

Karin mencermati semua perkataan Fannia. Saat ini segalanya terasa masuk asal. Sangat jelas bahwa kejadian malam itu sengaja direncanakan oleh seseorang. Belum terlihat motif dari tindakan tersebut, tapi yang jelas apa pun yang orang itu susun telah sangat apik. Segalanya terasa membingungkan bagi Karin. Namun satu hal yang kini terpikirkan oleh Karin. Disini yang dijebak adalah dirinya dan Aryan. Apa mungkin seseorang dibalik rencana ini memiliki hubungan dengan Aryan?

***

Begitu Aryan mengabari bahwa lelaki itu telah sampai, Karin segera berpamitan untuk pulang lebih dulu kepada beberapa orang tim yang masih berada di studio. Karin juga sudah mengatakan pada Dara bahwa hari ini ia akan pulang bersama Aryan.

Aryan's Car

Saat netra Karin menangkap sebuah mobil BMW sport hitam yang fameliar, ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Karin pun membuka pintu di samping kemudi dan masuk ke dalam.

Begitu Karin mendaratkan dirinya di jok mobil, ia menoleh pada Aryan dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan soal Arumi Lestari.

“Perempuan yang malam itu bawa aku ke kamar kamu, dia bukan karyawan Clairs Beauty. Jadi kita nggak bisa cari tau identitasnya melalui Clairs. Petunjuk kuat yang kita punya saat ini cuma informasi pasien atas nama Arumi Lestari dari rumah sakit itu,” jelas Karin.

Sebelumnya Karin dan Aryan memang telah berencana untuk menemukan perempuan itu melalui bantuan Clairs Beauty. Namun kini keduanya dihadapkan oleh sebuah kenyataan baru, yang mengharuskan mereka menemukan cari lain untuk mencari sosok Arumi Lestari.

Aryan terdiam dan nampak tengah memikirkan semua penjelasan yang barusan Karin berikan. Rupanya Aryan memikirkan hal yang sama dengan yang sebelumnya Karin pikirkan. Pasti ada motif dari sebuah perbuatan, tapi Aryan tidak terpikirkan siapa yang kira-kira memiliki tujuan terhadapnya maupun Karin.

Beberapa saat kemudian, sebuah pemikiran pun terlintas di benak Aryan. Lelaki berparas oriental itu ia memicingkan matanya dan berujar, “Kita bisa dapetin informasi soal perempuan itu dengan bantuan seseorang.”

“Kamu mau minta bantuan ke siapa?” tanya Karin.

Aryan meletakkan satu tangannya di kemudi dan satunya lagi menarik rem. Sebelum menekan gas mobilnya, lelaki itu berujar, “Aku akan coba untuk minta tolong sama papa. Dulu papa pernah menyelidiki sesuatu dan itu berhasil. Jadi ada kemungkinan papa bisa bantu kita. We will see.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Seperti pelaksanaan pemotretan pada umumnya, studio bernuansa putih kini nampak dipenuhi oleh beberapa orang yang telah memiliki perannya masing-masing. Dari mulai fotografer, asisten fotografer, pengarah gaya, pengatur lighting, make up artist, stylist, dan masih banyak lagi pekerjaan lainnya di sana. Tentunya dibalik hasil foto yang bagus, terdapat banyak pekerjaan para profesional yang prosesnya juga tidaklah mudah.

Set Up Studio

Oke, good. One more take again,” seru seorang fotografer yang kini tengah melakukan pemotretan.

“Coba sebentar, tambah bunganya lagi. Lipstiknya jufa sedikit kurang glossy kelihatannya,” ujar pengarah gaya tepat sebelum sang fotografer kembali memotret.

Sebagai model yang di foto tersebut, Karin perlu tetap bertahan di posisinya, guna menjaga angle yang sudah diarahkan dengan apik sebelumnya. Seorang makeup artist pun bergegas memoles kembali makeup di wajahnya dan seorang stylist mengarahkan properti bunga sesuai arahan yang diberikan, agar kegiatan pemotretan dapat kembali dilanjutkan.

Beberapa menit kemudian, tatanan makeup dan properti telah selesai diatur sesuai keinginan. Karin pun diminta untuk memasang ekspresi innocent, pandangannya diarahkan untuk tidak menghadap kamera, guna mendapatkan pose foto candid.

Perfect. Kita shoot lagi ya,” ujar si fotografer yang sudah siap dengan kameranya. Para pengatur lighting juga sudah siap dengan segala pencahayaan yang diletakkan di titik-titik yang sesuai dengan kebutuhan foto.

Ckrek!

Setelah dua kali bunyi khas keluar dari kamera, semua orang yang ada di sana lantas berseru gembira. “It’s a wrap guys!! Thank you semuanya, we did it well!” ujar mereka diiringi hembusan napas dan ekspresi bahagia.

Begitu juga yang terjadi dengan Karin. Perempuan itu menghembuskan napasnya yang terdengar lega ketika ia diperbolehkan untuk keluar dari area pemotretan. Karin pun melenggang ke ruang ganti yang disediakan untuknya dan duduk di kursinya di hadapan sebuah kaca.

Beberapa asisten bergegas untuk membantunya. Dari mulai menghapus makeup-nya, melepaskan aksesoris, sampai tatanan rambutnya yang digunakannya untuk pemotretan barusan.

Karin mencintai pekerjaan yang dijalaninya. Ia bisa menemukan jati diri dan melakukan hal yang digemarinya sebagai sebuah pekerjaan. Meskipun kerap kali merasa lelah, ujung-ujungnya Karin akan tetap bekerja lagi keesokan harinya.

Awalnya Karin tidak mengetahui soal branding dan segala macam yang diperlukan untuk menjadi seorang seorang model maupun beauty influencer. Namun atas tekad besarnya untuk membiayai hidupnya sendiri, siang dan malam Karin giat mempelajari segalanya. Awalnya terasa sulit karena itu hal yang baru untuknya, tapi Karin mau berjuang untuk itu dan kini telah menuai hasil dari usaha kerasnya.

Karin telah begitu mendapat banyak pelajaran baik dari teman, rekan bisnis, maupun para relasi yang lebih dulu terjun ke industri ini. Bicara tentang relasi, di dunia hiburan yang penuh persaingan ini, Karin telah belajar bahwa memiliki hubungan baik dengan siapa pun itu sangat diperlukan. Maka kini Karin dapat menuai hasil dari apa yang ia berusaha tanam di dalam dirinya. Ketika ia membutuhkan bantuan, hubungan baik tersebut bisa membantunya.

Karin kini berhadapan dengan seorang perempuan berusia 24 tahun. Namanya Fannia, seorang yang bekerja sebagai public realtions di Clairs Beauty. Karin sudah membaut janji temu dengan Fannia siang ini di studio, tepatnya setelah ia selesai melakukan pemotretan. Di ruang tunggu itu, Karin dan Fannia akhirnya memutuskan untuk bicara berdua.

“Fan, makasih ya sebelumnya udah mau luangin waktu buat ketemu aku,” ucap Karin.

“Nggak papa, aku senang bisa bantu kamu. Ini juga salah satu bentuk permintaan maaf Clairs Beauty atas apa yang terjadi di Bali. Brand kita meminta maaf atas kesalahan yang kami nggak sadari,” balas Fannia sambil mengulaskan senyumnya kepada Karin.

Detik berikutnya Fannia mengeluarkan sesuatu dari tas yang dibawanya. Fannia pun menyerahkan sebuah map berwarna biru dari tangannya kepada Karin.

“Sesuai informasi yang udah kamu berikan soal perempuan itu, di perusahaan kami, Clairs Beauty Indonesia, tidak ada seorang karyawan yang kamu maksudkan. Dari berbagai divisi dan kantor cabang, aku sudah cek bahwa orang yang kamu cari bukan termasuk karyawan kami. Karena kejadiannya udah cukup lama, waktu kita kontak pihak hotel untuk meminta CCTV, mereka bilang nggak bisa ngasih itu. Kamu bisa cek di map itu, semua nama tim kami yang hadir di acara waktu itu ada di sana,” jelas Fannia.

Karin mencermati semua perkataan Fannia. Saat ini segalanya terasa masuk asal. Sangat jelas bahwa kejadian malam itu sengaja direncanakan oleh seseorang. Belum terlihat motif dari tindakan tersebut, tapi yang jelas apa pun yang orang itu susun telah sangat apik. Segalanya terasa membingungkan bagi Karin. Namun satu hal yang kini terpikirkan olehnya, disini yang dijebak adalah ia dan Aryan. Apakah artinya seseorang dibalik ini juga memiliki hubungan dengan Aryan?

***

Begitu Aryan mengabari bahwa lelaki itu telah sampai, Karin segera berpamitan untuk pulang lebih dulu kepada beberapa orang tim yang masih berada di studio. Karin juga sudah mengatakan pada Dara bahwa hari ini ia akan pulang bersama Aryan.

Saat netra Karin menangkap sebuah mobil BMW sport hitam yang fameliar, ia segera melangkahkan kakinya ke sana. Karin pun membuka pintu di samping kemudi dan masuk ke dalam. Begitu Karin mendaratkan dirinya di jok mobil, ia menoleh pada Aryan dan mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin ia sampaikan soal Arumi Lestari.

“Perempuan yang malam itu bawa aku ke kamar kamu, dia bukan karyawan Clairs Beauty. Jadi kita nggak bisa cari tau identitasnya melalui Clairs. Petunjuk kuat yang kita punya saat ini cuma informasi pasien atas nama Arumi Lestari dari rumah sakit itu,” ujar Karin.

Sebelumnya Karin dan Aryan memang telah berencana untuk menemukan perempuan itu melalui bantuan Clairs Beauty. Namun kini keduanya dihadapkan oleh sebuah kenyataan baru yang mengharuskan mereka menemukan cari lain untuk mencari sosok Arumi Lestari.

Aryan terdiam dan nampak tengah memikirkan semua penjelasan yang barusan Karin utarakan. Rupanya Aryan memikirkan hal yang sama dengan yang sebelumnya Karin pikirkan. Pasti ada motif dari sebuah perbuatan, tapi Aryan tidak terpikirkan siapa yang kira-kira memiliki tujuan terhadapnya maupun Karin.

Beberapa saat kemudian, sebuah pemikiran pun terlintas di benak Aryan. Lelaki berparas oriental itu ia memicingkan matanya dan berujar, “Kita bisa dapetin informasi soal perempuan itu. Aku akan coba minta tolong sama papaku. Dulu papa pernah menyelidiki sesuatu dan itu berhasil. Jadi ada kemungkinan papa bisa bantu kita. We will see.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan dan Karin mengantar Nayna sampai ke depan pintu apartemen. Tidak lama setelah adegan akting tersebut, Nayna mengatakan bahwa ia akan pulang karena Aryan sudah kembali. Adik perempuan Aryan itu menggoda Aryan dan Karin dengan menambahkan bahwa ia tidak ingin mengganggu pengantin baru yang tengah di mabuk cinta.

“Selamat menikmati waktu berdua, Koko dan Cici kesayanganku. Aku pulang dulu yaa, bye bye!” ucap Nayna sebelum akhirnya berbalik dan melangkah pergi.

Saat punggung Nayna mulai menjauh, Karin pun masuk lebih dulu dan Aryan mengikuti langkahnya di belakang perempuan itu. Karin berjalan menuju ruang tamu dan mengambil tempat di sofa, Aryan pun duduk di hadapannya.

“Kak.”

“Karin.”

“Kamu duluan,” ujar Aryan mempersilakan Karin untuk bicara lebih dulu.

“Oke. Aku mau tanya, kenapa kamu udah pulang? Bukannya kamu bilang mau nginep dua hari.”

“Kina ada kerjaan mendadak yang harus diselesaikan. Kayak yang kamu lihat, jadinya aku cuma nginep semalam. Sekarang boleh aku gantian tanya?”

Karin pun menganggukkan kepalanya dan mempersilakan Aryan untuk bertanya.

“Barusan yang kita lakuin itu apa?” tanya Aryan.

Karin menampakkan senyum segannya kala Aryan membahas kejadian tersebut. Karin menghela napasnya, kemudian perempuan itu berujar, “Itu cuma akting. Semuanya terjadi karena tiba-tiba Nayna curiga kalau kamu nginep sama Kina. Nayna ngasih syarat ke aku, dia akan percaya kalau aku bisa buktiin kamu emang pergi karena urusan kampus. I don’t have any idea how to proved it. So I just decided to acting like we are actually a real couple.”

Alright. Akting kamu bagus juga,” ucap Aryan diiringi tawa kecilnya. Aryan lantas menatap Karin lekat, membuat Karin langsung membuang pandangannya dari Aryan. Kalau mengingat kejadian tadi, rasanya Karin ingin menghilang saat ini juga dari hadapan Aryan.

“Akting kamu juga bagus. Malah sempurna banget, aku sampai kaget lho,” komentar Karin guna mencairkan suasana.

“Untung aku peka ya, coba kalau enggak,” timpal Aryan.

Well, I think you are good at it,” cetus Karin sambil mengedikkan kedua bahunya.

So … I think you have to paid me tho,” balas Aryan diiringi senyum tipis dan satu alisnya yang terangkat.

Kedua alis Karin pun tampak menyatu dan mata bulatnya membola. “Maksud kamu aku harus bayar kamu? Pakai apa? Aku juga akting lho tadi, bahkan kamu sendiri yang puji aktingku,” ujar Karin dengan nada tidak percayanya.

Setelah mengucapkannya, Karin pun hendak bangun dari posisinya. Namun belum sempat itu terjadi, Aryan lebih dulu menahan pergelangan tangannya. “Are you want to watch movie with me this night?”

***

Karin tidak punya alasan untuk menolak Aryan, ia hanya melakukannya begitu saja. Toh tidak ada yang salah kan dari menonton film berdua. Karin dan Aryan kini sudah berada di ruang tamu setelah mengambil beberapa cemilan dari dapur. Mereka menonton film action sembari menikmati makanan ringan yang sekarang sudah berada di pangkuan masing-masing.

Aryan dan Karin's Netflix and Chill

Selama satu jam film telah diputar, Karin pun fokus menikmati filmnya. Namun Karin dapat mengetahui bahwa Aryan tidak sepenuhnya fokus pada layar di depan mereka. Karin tidak berniat untuk bertanya mengenai alasannya. Karin pun berpikir ia tidak berhak untuk tahu lebih jauh soal kehidupan pribadi Aryan.

Netra Aryan yang sebelumnya melihat ke arah TV, kini beralih ke samping, lelaki itu menatap Karin lekat. “Karin,” ujar Aryan.

Karin yang merasa diperhatikan pun lantas memberikan atensinya kepada Aryan. “Hmm?”

In your opinion, what is love means?” tanya Aryan.

Karin nampak berpikir sejenak mendengar pertanyaan Aryan. Karin mengatakan bahwa jawabannya hanya akan berdasarkan dialaminya secara langsung.

“Menurut aku cinta itu tentang waktu. Saat seseorang membuat waktunya untuk seseorang yang dia cintai, bukannya meluangkan sebagian waktu dari kesibukannya, itu bisa disebut sebagai cinta. Waktu itu nggak dicari, tapi dibuat,” ujar Karin.

Aryan lantas menganggukkan kepalanya setelah mendengar jawaban Karin. “That’s a great answer and it feels make sense.”

Suddenly asking?” tanya Karin,

I’m just curious,” jawab Aryan. Detik berikutnya, Aryan kembali menatap Karin setelah tadi mengarahkan tatapannya pada jemari-jemari di pangkuannya, “Sometimes I felt I’m worthless for her. I’ve tried to gave her my best, but it can’t never made her to stay. She always left at the end and I’m just feeling so empty.”

Karin terdiam kala mendengarnya. Tanpa Aryan menyebutkannya, Karin tau sosok yang Aryan maksud dalam kalimatnya.

You’ve done what the best, you must love her very much,” ujar Karin setelah beberapa menit keduanya hanya larut dalam diam.

Yes, I do,” ucap Aryan dengan suara pelannya. Dari tatapan mata sekecil sabit milik Aryan, Karin dapat melihat ada sebuah guratan luka di sana.

“Malam itu di hotel Bali, aku melamar Kina. I gave her a ring. I asked her to marry me, but she said that she’s not ready yet.”

Karin membiarkan Aryan bercerita sampai selesai, ia tidak berniat untuk mengatakan apa pun sampai Aryan benar-benar tuntas mengungkapkannya.

“Aku bilang aku akan nunggu dia. Saat aku tanya berapa tahun waktu yang dia butuhin untuk siap menikah, Kina nggak bisa memberi jawaban itu. After all that failed purpose, she left me. I drunk, two bottle of champagne, and I met you.” Aryan menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin dengan tatapan bersalahnya.

“Setelah aku tau kalau kamu hamil, aku malah hampir buat kamu kehilangan anak kita. I’m really sorry for that, Karin. Mungkin menikahi kamu nggak sepenuhnya bikin semuanya jadi lebih baik, aku tetap ngajuin kesepakatan itu ke kamu. Aku melakukannya karena aku nggak bisa kehilangan Kina. Aku pantas dapat pukulan dari Rey waktu itu. I deserved that.”

Karin terdiam sesaat sebelum akhirnya ia berujar, “Kak, apa pun itu yang sekarang kamu sesali, kamu masih punya kesempatan untuk memperbaikinya. Setiap orang punya sisi hitam dan putihnya, tapi setiap orang juga berhak untuk jadi orang yang lebih baik ke depannya. Aku percaya kalau kamu bisa. You already showed your love for our child and I’m really thankful for that,” tutur Karin panjang lebar.

Malam ini Aryan merasakan sebuah rasa sakit yang tidak dapat ia gambarkan. Seketika rentetan kejadian dalam hidupnya belakangan seperti terputar kembali di dalam benaknya. Ketika melihat Karin, Aryan pun masih didatangi oleh perasaan bersalah dan menunjukkan seberapa berengsek dirinya selama ini. Namun malam ini juga, Aryan tidak menyangka bahwa seseorang yang disakitinya justru mengulurkan tangannya dan berusaha membuatnya untuk bangkit kembali.

“Karin, aku mau pegang anak kita. Boleh?” tanya Aryan.

Karin seketika mengarahkan tatapannya mengikuti arah pandang Aryan yang kini melihat ke arah perutnya. Karin pun mengulaskan senyum kecilnya dan mengangguk, “Boleh.”

Setelah anggukan Karin tersebut, Aryan lekas mengarahkan tangannya perlahan menuju perut Karin. Detik-detik Aryan menyentuhkan telapak tangannya di atas perut Karin, Aryan merasakan hatinya berdebar bahagia. Begitu Aryan mengusapkan tangannya di sana, ukurannya masih sangat kecil, tapi ia dapat merasakan gundukan itu di sana.

“Hai, anak Papa,” ucap Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tangannya masih berada di atas perut Karin, ia mengusapnya dengan satu kali usapan, setelah itu baru kembali menjauhkannya.

Usai Aryan melakukannya, Karin mendapati kedua mata Aryan berkaca-kaca diiringi sebuah senyum bahagia di wajahnya. Di antara berbagai kejadian yang menerpa hidupnya dan Aryan, Karin bersyukur bahwa satu keajaiban dapat menjadi penguat, bukan hanya untuknya saja, tapi juga untuk Aryan.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin dan Nayna baru saja selesai menyantap makan siang mereka. Semalam Nayna menginap di apartemennya, sesuai yang telah direncanakan. Kemungkinan Nayna akan menemani Karin sampai besok Aryan kembali.

“Koko beneran pergi buat urusan kampus, Kak?” celetuk Nayna secara tiba-tiba. Karin yang sedang meneguk minuman di gelasnya, hampir saja tersedak kala mendengar pertanyaan Nayna. Karin pun segera memasang ekspresi normal agar Nayna tidak mencurigainya.

“Koko pergi sama kak Kina ya?” tanya Nayna sebelum Karin sempat berujar. Kalimat itu lebih terdengar seperti pernyataan bagi Karin ketimbang pertanyaan.

Selama beberapa detik, Karin pun hanya terdiam. Karin berpikir bahwa Nayna pasti lebih mengenal sosok Aryan jika dibanding dengan dirinya. Tentu saja, Karin tidak mudah untuk membohongi orang yang jelas-jelas lebih tahu luar dan dalam soal Aryan.

“Oke, gini aja. Aku akan percaya koko nggak pergi sama kak Kina dengan satu syarat,” ucap Nayna disertai sebuah senyum tipis di wajahnya.

Karin tidak dapat menebak ke mana Nayna akan membawa pembicaraan ini. Terlebih lagi Karin khawatir tidak dapat memenuhi syarat yang diajukan oleh Nayna.

***

Dari jendela balkon apartemen yang menampilkan pemandangan di luar, langit nampak berwarna jingga ketika Karin dan Nayna mendapati ada yang datang. Tanpa disangka keduanya, sosok yang datang itu adalah Aryan. Sebelum langkah Aryan sampai di ruang tamu, Karin lebih dulu menghampiri lelaki itu.

Karin lantas berbisik di dekat Aryan, “Kak, Nayna curiga kalau kamu pergi sama Kina.”

“Koko kok udah pulang? Katanya dua hari nginepnya,” celetuk Nayna yang langsung membuat Aryan dan Karin saling melempar pandangan.

Aryan menatap Karin dengan tatapan bertanya, tapi bukannya menjawab, Karin malah meraih lengan Aryan dan memeluknya. Aryan nampak terkejut mendapati perlakuan Karin yang mendadak itu.

Setelah aksi Karin dan keterdiaman mereka, Aryan pun mengusapkan tangannya di tangan Karin yang masih setia berada di lengannya. Nayna masih menatap ke arah Aryan dan Karin, tatapannya begitu intens, dan Aryan seperti sudah paham akan situasi yang tengah terjadi.

Aryan lantas mengarahkan tatapannya pada Karin, lelaki itu menghela pinggang Karin untuk mendekat padanya, membuat tubuh keduanya hampir saja menempel. “Rencananya gue mau pulang besok, tapi karena urusannya bisa selesai lebih cepat dan gue kangen sama Karin, gue pulang sekarang. As you see, my sister,” jelas Aryan panjang lebar.

Wow, kakak dan adik ini rupanya begitu saling mengenal satu sama lain, ucap Karin dalam hati. Karin pun lumayan takjub dengan sandiwara yang dilakoni oleh Aryan.

I missed you,” ucap Aryan masih sambil mengarahkan tatapannya pada Karin. Karin pun mengulaskan senyumnya, mungkin aktingnya tidak akan sebagus Aryan, tapi ia akan mencobanya.

“Hmm … I missed you too,” balas Karin sambil menatap Aryan.

Lantas secara bersamaan, keduanya mengulaskan senyum ke arah Nayna yang rupanya sudah memasang tampang semringahnya sejak tadi. Karin pikir ini sudah berakhir, ternyata dugaannya salah. Sebelum Aryan melepaskan pelukannya di pinggang Karin, lelaki itu mendekatkan diri dan menyematkan sebuah kecupan di pelipis Karin. Sempurna. Adegan yang terjadi hari ini patut untuk meraih penghargaan akting terbaik, begitu pikir Karin.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷