alyadara

Sudah 3 hari Tiara tidak mengikuti pelajaran di kampusnya. Hari ini perempuan itu akan kembali masuk kuliah. Tubuhnya sudah terasa lebih baik dan mual-mualnya sudah sedikit berkurang. Saat Tiara menunggu ojek online-nya di depan rumah, ia mendapati Akmal berada sana.

“Ra, ada yang perlu gue omongin,” ujar Akmal pada Tiara setelah pria itu memarkirkan motornya di depan rumah.

“Ada yang gue mau gue omongin juga Mal,” balas Tiara.

Tidak lama ojek online yang dipesan Tiara datang berbarengan dengan sebuah BMW hitam. Seseorang turun dari mobil mewah tersebut dan menghampiri Tiara.

“Egha?” ujar Tiara sambil memerhatikan sosok asisten suaminya itu.

“Selamat pagi, Non Tiara. Saya yang akan mengantar Nona ke kampus hari ini,” ucap Egha padanya dengan sopan.

“Tapi ojek online gue udah dateng,” ucap Tiara memberitahu Egha.

Egha menghampiri ojek online tersebut dan menyerahkan selembar uang seratus ribu. Setelahnya yang terjadi adalah ojek online yang dipesan Tiara pergi begitu saja.

“Kenapa lo yang nganter gue ke kampus?” tanya Tiara pada Egha.

“Saya melakukan tugas yang diperintahkan Tuan Aryo. Tuan menyampaikan maafnya pada Non Tiara karena tiba-tiba pergi tanpa pamit. Ada pekerjaan yang harus segera dikerjakan oleh Tuan,” jelas Egha.

“Tuan khawatir dengan kondisi Non Tiara. Jadi Tuan memerintahkan saya mengantar Non ke kampus. Tuan Aryo ingin menjaga Non Tiara dan anak yang sedang Non kandung,” sambung Egha.

***

Saat ini kehamilannya sudah diketahui oleh Akmal karena pria itu mendengarnya secara langsung dari Egha, bodyguard yang diperintahkan untuk menjaganya. Tiara mengatakan pada Akmal untuk tidak memberitahu siapa pun dulu mengenai kondisinya. Rentetan kejadian yang hampir saja mencelakainya, membuat Tiara harus lebih hati-hati karena saat ia tidak membawa dirinya sendiri. Ia membawa satu nyawa kecil bersamanya yang begitu ia sayangi.

Setelah kelas terakhir mereka, Akmal dan Tiara memutuskan untuk mengobrol berdua.

“Gue khawatir target kita udah mencium semuanya dengan mereka sandera ayah gue. Apa lo tau sesuatu atau mereka udah mencurigai lo Ra?” Akmal mengutarakan hal yang mengganggu pikirannya beberapa hari belakangan.

“Sesuatu yang mau gue sampaikann ke lo, berhubungan sama apa yang barusan lo bilang. Gue belum tahu mereka udah mencurigai gue atau enggak.” Tiara menjelaskan pada Akmal Reynaldi selama ini telah memata-matai mereka dan hampir sabotase keamanan rumahnya. Sesuai dengan bukti 1 yang ditemukan Rudi, Reynaldi adalah orang disebut oleh Erlangga melalui rekaman suara tersebut.

“Aryo lagi cari tau apakah dia orang yang sama dengan orang yang nyandera om Rudi. Kalau dia orang yang sama, ada kemungkinan dia sandera om Rudi karena mau lenyapin bukti perbuatannya 11 tahun lalu,” papar Tiara. Tiara juga menjelaskan bahwa Aryo telah mengetahui tujuannya menikahi pria itu dan latar belakang orang tua kandung Tiara yang telah tiada.

Akmal nampak berpikir. Apa yang dikatakan Tiara besar kemungkinan adalah benar. Selama ini target sasaran mereka telah memantau apa yang terjadi dan menyandera Rudi karena ayahnya adalah sahabat baik Erlangga.

“Kita nggak bisa nunggu, Mal. Mereka bisa ngelakuin apa aja ke ayah lo. Gue nggak mau sampai mengorbankan orang lain dalam rencana ini. Aryo udah tau semuanya dan punya rencana untuk mengungkap Reynaldi dengan tangannya sendiri,” tambah Tiara.

“Ayah sama bunda sudah tau kalau gue menikah dengan seseorang dari keluarga yang menyebabkan ayah gue tiada. Tapi gimana pun, Aryo adalah suami gue, jadi ayah sama bunda juga nggak bisa larang Aryo ketemu gue dan anak yang gue kandung.”

“Apa rencana yang dia punya?” tanya Akmal.

“Sementara Aryo masih ngumpulin informasi dan dokumen sebanyak-banyak untuk dijadiin bukti yang kuat. Meskipun saat ini posisi Aryo bisa memberikan privilege lebih untuk ngejalanin rencananya, tapi ini nggak akan mudah,” Tiara menatap Akmal dengan tatapan penuh rasa bersalahnya. “Mal, gue minta maaf karena gue mengorbankan ayah lo sampai sejauh ini. Gue janji akan bawa om Rudi balik dengan keadaan selamat,” jelas Tiara.

You don't need to said that, Tiara. Om Erlangga adalah sahabat baiknya ayah dan ayah udah anggep lo kayak anaknya sendiri. Jadi lo nggak perlu minta maaf, okey?

“Tiara, gue mau nanya satu hal sama lo,” ujar Akmal.

You free to ask me.

“Lo bahagia sama dia?” tanya Akmal.

Tiara menatap Akmal sesaat, lalu ia menjawab pertanyaan lelaki itu dengan sebuah anggukan.

“Kalau lo bahagia sama dia, artinya dia orang yang tepat untuk lo. Lo pernah bilang sama gue, cinta akan rela berkorban meskipun harus berdarah untuk itu. Dia melakukannya demi lo Ra, tanpa mikirin seberapa bahayanya itu untuk dia.”

***

Aryo mempunyai pekerjaan yang cukup banyak hari ini. Jabatan barunya sebagai presiden direktur membuatnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Aryo berdiri sebentar dari kursinya untuk meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku dan pegal. Ia menghabiskan waktunya lebih banyak didepan layar dan duduk dikursi.

Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Aryo mempersilakan seseorang di balik sana untuk masuk. Ternyata Rama yang mengingatkannya tentang pukul berapa waktu sekarang. Kerutan di dahi Aryo muncul, tidak biasanya asistennya itu mengingatkan soal waktu padanya.

“Kantor tutup tiga puluh menit lagi Bos. Bener lo masih mau disini?”

“Sebentar lagi gue selesai.”

“Oke. Gue tungguin lo selesai.”

Rama memang sudah lama mengemban sebagai asistennya di kantor, lebih tepatnya sejak Aryo baru memulai karirnya di perusahaan ini sebagai karyawan biasa. Rama merangkap asisten sekaligus kepala bodyguard-nya dan selalu setia padanya.

“Ram, lo bisa pulang duluan,” ujar Aryo.

“Yaelah lo, kayak sama siapa aja.”

“Lo punya keluarga yang nunggu lo di rumah. Mereka akan khawatir kalau lo pulang telat,” ucap Aryo memperjelas perkataannya.

“Lo juga punya orang yang khawatir sama lo,” ujar Rama yang lantas membuat Aryo mengalihkan atensinya dari layar laptopnya.

Your wife. Dia peduli banget sama lo, sampe minta tolong sama gue buat pantau lo, biar lo nggak gila kerja mulu,” jelas Rama.

***

Rumahnya terasa hampa tanpa kehadiran Tiara. Aryo merasa seperti saat ia belum menikah, saat masih bujang dulu. Tidak ada yang menyambutnya ketika ia kembali, tidak ada yang menyiapkannya makanan, dan tidak ada yang menyiapkan pakaiannya setelah mandi.

Aryo memiliki alasan tidak ingin menikah cepat-cepat, meskipun keturunan merupakan hal yang begitu penting di keluarganya. Setiap pernikahan di keluarganya akan menghadirkan persaingan baru dan selalu ada pengorbanan. Aryo dibesarkan di keluarga pebisnis dan membuatnya tidak ingin menikah terlalu cepat. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga kecilnya dan mengorbankan apa yang ia cintai hanya karena persaingan tersebut.

Sebelumnya Aryo begitu menyukai kehidupannya yang tanpa ikatan pernikahan. Ia bisa menjalin hubungan dengan perempuan yang ia inginkan, tanpa terikat dan menjadikan orang yang ia cintai sebagai sasaran empuk rivalnya atau oknum-oknum yang tidak berada dipihaknya. Namun pertemuannya dengan Tiara merubah cara berpikirnya. Perempuan itu memberinya pelajaran pada hal kecil bernama ‘tanggung jawab’ yang masih sering ia lalaikan. Tiara mampu menariknya seperti magnet, membolak-balikkan hatinya dan membuatnya memiliki keinginan membangun sebuah keluarga. Ia ingin melindungi Tiara, menyayanginya, serta rela berkorban untuknya.

Aryo berpikir saat itu Tiara belum mencintainya. Aryo menemukan fakta bahwa Tiara memiliki tujuan menikah dengannya yang Aryo tidak belum tahu pasti apa tujuan tersebut. Aryo mendapatkan informasi itu dari Aurorae. Ternyata benar, Tiara memang memiliki tujuan mencari bukti kuat untuk mengungkap kecelakaan ayah kandungnya. Namun pada saat mengetahuinya, Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat perempuan itu mencintainya.

Aryo melewati lantai 1 rumahnya dan mendapati foto-foto pernikahannya dengan Tiara yang digantung di dinding. Ada satu yang berukuran paling besar, yakni foto ketika malam resepsi yang diambil secara candid. Di foto itu, Tiara terlihat menatapnya dari samping. Mata Tiara berbinar menatapnya dan saat itu Aryo tidak menyadari hal tersebut. Aryo mengulaskan senyumnya sambil memandangi foto itu.

Aryo meminta Tiara menikah dengannya tanpa mengetahui sebenarnya Tiara mencintainya atau tidak. Itu seperti sebuah kejahatan, pikir Aryo. Di usia Tiara yang masih muda, perempuan itu harus menikah secara tiba-tiba dengan orang yang baru ia kenal dan rasa cinta itu mungkin belum ada. Itu pasti terasa berat untuk Tiara dan Aryo kerap kali merasa bersalah karena telah membuat orang yang ia sayangi menderita. Setelah ia mengetahui bahwa Tiara juga mencintainya sejak tangan gadis itu terulur dan menanyakan namanya, Aryo merasa menjadi lelaki yang paling beruntung memiliki orang yang ia cintai juga mencintainya dan kini seutuhnya menjadi miliknya.

Aryo berjalan menuju dapur karena perutnya terasa keroncongan. Di atas meja makan dapur rumahnya, ia menemukan berbagai lauk makanan yang ditata rapi di dalam storage makanan. Makanan-makanan itu merupakan menu favoritnya. Apakah mungkin istrinya yang mengirimkan semua ini?

***

Semalam Aryo tertidur cukup nyenyak setelah beberapa hari lalu jam tidurnya tidak menentu. Ia baru tidur lewat tengah malam dan harus bangun pukul 7 pagi untuk berangkat ke kantor. Saat pertama membuka mata, yang pria itu cari adalah ponselnya. Andaikan saja ada Tiara saat ini, Aryo akan mendekap istrinya sampai nyawanya terkumpul sempurna. Tiara bagaikan isi daya untuknya, sehingga tanpa Tiara dirinya akan seperti robot tanpa baterai.

Aryo mengaktifkan ponselnya dan berniat menghubungi Tiara. Kalau saja rindunya dapat dijadikan harta, Aryo sudah menjadi Bill Gates kedua di dunia. Setelah menekan caller ID Tiara, Aryo pun menunggu sambungan teleponnya terhubung.

“Halo?” Beberapa detik kemdudian, terdengar suara lembut yang amat dirindukannya.

“Aryo, kenapa nelfon?” Tiara kembali bersuara setelah Aryo hanya diam.

“Aku nggak bisa bangun Ra ... ” ujar Aryo dengan nada manjanya.

“Maksud kamu? Gimana sih, kok nggak bisa bangun? Kamu kenapa?”

“Nggak ada tenaga,” jawab Aryo.

“Kamu kenapa?” Nada suara Tiara terdengar khawatir.

“Aku butuh isi daya biar nyawaku ke kumpul. Tapi pengisi dayaku lagi nggak ada di sini.”

“Ada-ada aja. Emang apa yang bisa ngisi daya kamu?”

“Istri aku.”

Keduanya pun sama-sama terdiam. Tanpa Aryo tahu, di sana Tiara sedang gugup dan menahan senyumnya.

“Ra.”

“Iya?

“Aku udah bisa bangun habis denger suara kamu.”

“Okee. Udah jam 8 lho ini. Kamu nggak siap-siap ke kantor?”

“Iya, habis telfon kamu aku mandi.”

“Oke. Kamu jangan telat makan lagi. Tidurnya jangan kemaleman. Ohiya, kamu suka nggak sama makanannya?” Sebenarnya Tiara hanya ingin mengalihkan pembicaraan. Sayangnya Aryo tidak dapat melihat senyum kecil yang tercetak di bibir istrinya.

“Makasih ya. Udah aku makan, enak semua. Aku suka banget.”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aryo beranjak bangun untuk membuka pintunya.

“Ra, nanti aku telfon lagi ya. Aku mau siap-siap. Bye,” ucap Aryo sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Tiara.

“Bye.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara berjalan keluarkamarnya dengan langkah mengendap karena tidak ingin membangunkan siapa pun yang ada di rumah. Ia membawa selimut tebal di pelukannya dan berjalan keluar menuju ruang tamu.

Sesampainya di sana, Tiara menyelimuti tubuh Aryo dan memastikan suaminya tidak terbangun karena kegiatannya. Dengan kegigihan Aryo, akhirnya ayah dan bundanya mengizinkan suaminya untuk menginap di rumah malam ini. Andi dan Alifia merasa mereka tidak berhak memisahkan keduanya. Terlebih sekarang Aryo dan Tiara mempunyai buah hati yang menjadi pengikat mereka.

Tiara hendak kembali ke kamarnya, tapi tiba-tiba perutnya terasa sangat mual dan sesuatu mendorong untuk segera dikeluarkan dari kerongkongannya. Tiara segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya.

Tiara mengeluarkan isi perutnya di wastafel dan merasakan ada seseorang yang membantu menepuk-nepuk pelan punggungnya dan memijat tekuknya. Kemudian membantunya juga menyilakan rambut panjangnya agar tidak terkena muntahan ataupun air dari wastafel.

Setelah mengeluarkan hampir setengah isi perutnya, Tiara merasa jauh lebih lega. Ia berbalik dan mendapati Aryo yang ternyata membantunya.

Tiara tersenyum kikuk begitu pun Aryo yang sedikit canggung. Dua detik setelahnya, sebuah suara terdengar di antara mereka. Tatapan keduanya mencari-cari sumber suara tersebut. Keduanya pun tersadar dan mendapati itu adalah suara perut Aryo. Aryo melebarkan matanya dan tampak kerutan di keningnya. Ini situasi yang sungguh memalukan, batinnya.

“Kamu belum makan?” tanya Tiara.

***

Tiara membawakannya piring berisi nasi yang lengkap dengan lauknya dan juga segelas air putih. Saat Aryo hendak mengambil suapan pertamanya, ia melihat Tiara menarik kursi meja makan di hadapannya, lalu duduk di sana.

“Kamu nggak balik ke kamar?” tanya Aryo setelah mengunyah makanannya.

“Aku nggak bisa tidur. Mungkin beberapa jam lagi baru ngantuk,” ujar Tiara.

“Sejak hamil?”

Tiara mengangguk. “Dokter bilang bisa beda-beda disetiap orang. Kamu makannya pelan-pelan.” Tiara memperingatkan Aryo agar pria itu tidak makan terburu-buru.

Aryo menahan kedua ujung bibirnya yang hampir saja saling tertarik membentuk sebuah senyuman. Aneh juga rasanya kalau tiba-tiba ia tersenyum seperti orang gila. Namun salahkan hatinya yang tidak bisa berbohong bahwa ia sangat senang karena Tiara masih memedulikannya.

“Tiara,” panggil Aryo ketika pria itu sudah selesai makan.

“Kenapa?”

Aryo berdeham, lalu menatap Tiara lekat, “Gimana kalau kita coba cara biar kamu bisa tidur? Kalau kamu berhasil tidur lebih cepat dengan cara ini, bukannya itu bagus juga buat kamu dan bayinya?”

“Tapi gimana caranya?”

***

“Kalau kamu udah tidur, nanti aku pindahin kamu ke kamar,” ujar Aryo.

“Maksud kamu kita tidur berdua disini?” Tiara menatap sofa yang ada di hadapan mereka.

Aryo mengangguk. Pria itu berdeham, sebelum mengutarakan pemikirannya, “Tapi kalau kamu nggak mau, nggak papa. Kamu bisa ke kamar,” ucap Aryo seolah mampu membaca apa yang sedang Tiara pikirkan.

Ide Aryo membuat Tiara teringat akan perkataan dokter yang menyarankannya untuk menjalin koneksi yang kuat dengan Ayahnya si bayi. Tujuannya supaya janin di kandungannya dapat merasakan kehadiran ayah dan ibunya secara bersamaan. Dengan begitu, memungkinkan si bayi merasa senang yang dapat mempengaruhi hormon si ibu, sehingga menjadi lebih stabil. Hormon kehamilan yang dialami Tiara membuatnya kesulitan tidur dan mengalami muntah-muntah saat tengah malam dan pagi hari.

Tiara akhirnya menyetujui ide Aryo dan ingin mencobanya. Ia membaringkan tubuhnya lebih dulu di sofa, baru setelah itu Aryo menyusulnya. Tiara memunggungi Aryo sementara pria itu di sampingnya, menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Aku akan nungguin kamu sampai tidur,” ujar Aryo.

Masih ada sedikit jarak di antara mereka dan muncul sebuah kecanggungan. Tiara belum bisa memejamkan matanya karena yang terjadi justru jantungnya berdegup cukup kencang di dalam rongga dadanya. Aryo telah menjadi aspek yang begitu besar di hidupnya, sehingga sulit sekali membangun tembok pertahanan itu. Terlebih saat ini mereka memiliki seorang buah hati yang menjadi pengikat batin keduanya.

“Ra, kayaknya cara ini nggak berhasil deh,” ujar Aryo.

“Kita emang nggak bisa nebak bayinya mau apa,” terang Tiara. Tiara juga bingung dengan apa yang terjadi padanya. Semenjak hamil tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.

“Disini dingin, walaupun udah pakai selimut. Kamu ke kamar aja ya,” putus Aryo. Pria itu bangun dari baringannya dan meminta Tiara untuk kembali ke kamar saja.

“Kayaknya cara kita salah. Kita coba sekali lagi, gimana?” Tiara mengungkapkan pemikirannya. Meski awalnya terasa canggung ketika Tiara meminta Aryo untuk memeluk pinggangnya dan saling mendekatakan diri, tapi keduanya berusaha melakukannya demi si buah hati. Seorang orang tua yang rasa sayangnya begitu besar akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.

“Kayak gini?” tanya Aryo setelah mereka membenahi posisi. Punggung Tiara menempel pada dada bidangnya dan perlahan Aryo menaruh dagunya di puncak kepala Tiara.

“Iya kayak gini,” balas Tiara. Sebenarnya ia juga merasa kurang yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

“Oke. Semoga ini berhasil,” ujar Aryo.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Tiara merasakan tubuhnya lebih rileks dan matanya yang mulai terasa mengantuk. Perempuan itu mulai memejamkan matanya seolah-olah ada sihir ajaib yang menuntunnya untuk pergi ke alam mimpi.

Aryo memerhatikan Tiara yang mulai terlelap, lantas ia ikut memejamkan matanya dan mengulaskan sebuah senyum tipis.

Great job, bayi kecil,” gumam Aryo sebelum menuju alam mimpinya.

***

Pemandangan pagi hari di ruang tamu adalah Tiara dan Aryo yang masih terlelap dengan posisi saling memeluk. Adik perempuan Tiara, Chelsea, mendapati pemandangan tersebut. Chelsea tersenyum melihatnya. Ia memang tidak mengerti hubungan orang dewasa yang menurutnya sangatlah rumit. Namun melihat Aryo dan Tiara bersama lagi, entah kenapa membuatnya bahagia.

Anak perempuan berusia 7 tahun itu dapat melihat perubahan pada kakak perempuannya sejak kembali ke rumah mereka. Kakaknya itu seperti boneka mainan miliknya ketika baterainya sedang habis, sehingga tidak bisa berfungsi dengan semestinya. Chelsea khawatir melihat Tiara yang berubah, walaupun saat di depan keluarga, Tiara berusaha menyembunyikan itu semua. Setahunya karena Tiara sudah menikah, kakaknya itu harus tinggal bersama suaminya. Maka dari itu Chelsea menyebut bahwa hubungan orang dewasa itu sungguh rumit, ketika mendapati Tiara pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama mereka lagi.

Chelsea terkejut saat ia ketahuan oleh Aryo tengah memerhatikan kedua orang dewasa itu. Aryo telah bangun lebih dulu dari Tiara, sementara istrinya itu masih tertidur di dekapannya. Aryo melemparkan sebuah senyum pada Chelsea, lalu ia meletakkan telunjuknya di depan bibir. Chelsea yang mengerti hal tersebut lantas mengacungkan ibu jarinya, tanda bahwa ia mengerti.

“Terima kasih, Chelsea,” ucap Aryo sedikit berbisik ketika anak perempuan itu akan berbalik pergi.

“Sama-sama. Terima kasih juga Kakak udah ke sini untuk jagain Kak Tiara,” ujar Chelsea dengan suara dipelankan. Kemudian gadis kecil itu mengulaskan senyum manisnya dan berlalu dari sana.

***

Setelah menggendong Tiara untuk memindahkan perempuan itu ke kamarnya, Aryo mendapat telfon dari kantor yang mengharuskannya untuk pergi sekarang.

Sebenarnya Aryo masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Tiara, tapi ini juga hal yang sangat penting. Aryo akan mengungkap kasus itu dengan semua kemampuan yang ia miliki. Ia tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang setelah apa yang diperbuatnya. Terlebih perbuatan tersebut menyebabkan luka belasan tahun yang sangat dalam bagi orang yang ia cintai.

Saat Aryo hendak melangkahkan kakinya dari kamar Tiara, lengannya di tahan oleh Tiara. Aryo tidak bergeming, ia tidak ingin membuat Tiara terbangun dari tidurnya.

“Aryo,” Tiara memanggil namanya dalam tidur. Aryo memerhatikannya dan sederhananya hal tersebut dapat membuat rongga dadanya menghangat.

“Jangan tinggalin aku,” ucap Tiara lagi.

“Emangnya kenapa aku nggak boleh ninggalin kamu?” Aryo iseng menanggapi igauan Tiara. Ia tidak berharap dapat jawaban yang relevan. Namun tanpa tanpa di sangka beberapa detik kemudian, Tiara menjawabnya pertanyaannya.

“Aku bohong waktu bilang nggak cinta sama kamu,” ucap Tiara. Setelah itu Tiara tidak mengingau lagi. Mungkin jika perempuan itu sedang dalam keadaan sadar, ia tidak akan mengatakan perasannya yang sebenarnya di hadapan Aryo. Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan lembut, lantas memberikan kecupan singkat di sana.

Aryo berjanji akan membawa Tiara kembali ke rumah setelah berhasil mengungkap kasus itu. Aryo tidak akan mundur meskipun ia harus melawan salah satu anggota keluarganya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Setelah memberi tahu Ayah dan Bunda, Aryo dan Tiara menuju penthouse yang Aryo katakan akan menjadi kediaman mereka yang baru. Mereka juga telah mengambil bebebrapa pakaian untuk di bawa. Andi dan Alifia perlu tahu rencana yang akan Aryo jalankan untuk mengungkap kejadian sebelas tahun yang lalu. Kejadian dimana Ayah kandung Tiara mengalami kecelakaan yang mengakibatkan Tiara kehilangan Ayahnya, kemudian disusul oleh kepergian Bundanya.

Saat diberitahu soal rencana tersebut, Andi dan Alifia sempat khawatir, tapi Aryo meyakinkan mereka. Ayah dan bundanya akhirnya menerima rencana itu. Ayahnya meminta maaf pada Aryo karena sebelumnya telah ragu pada pria itu dan beliau mengatakan keraguannya adalah hal yang keliru.

Alifia mengatakan pada Tiara saat mereka hanya sedang berdua, bahwa Aryo adalah menantu idamannya sejak awal pria itu datang melamar putrinya. Maka dari itu, sebenarnya bundanya yang paling kecewa saat mengetahui fakta bahwa orang yang menyebabkan kepergian Erlangga masih memiliki hubungan saudara dengan Aryo.

“Bunda bisa liat, dia benar-benar sayang sama kamu, Nak. Bunda sungkan bilangnya, jadi Bunda titip ke kamu ya. Bilang ke suami kamu, Bunda bahagia dan bangga banget memilikinya sebagai menantu. Dia keliatan sangat mencintai kamu dan bisa menjaga kamu dengan baik.” Begitu kira-kira perkataan Alifia. Tiara ingat ekspresi bundanya yang semringah ketika mengungkapkannya.

Tiara merasa sepertinya Aryo memiliki mantra yang bisa membuat Andi dan Alifia seketika luluh. Aryo dan Tiara menempuh perjalanan sekitar satu jam untuk sampai di sebuah penthouse eksklusif yang hanya terdiri dari 2 unit yang terdapat di lantai paling atas bangunan ini.

Sampai di lantai 50 dimana unit mereka berada, Aryo meminta bodyguard-nya untuk meletakkan barang-barang pentingnya di sudut ruang tamu.

“Gimana, Sayang? Kamu suka tempat tinggal kita yang baru?” tanya Aryo sambil menatap Tiara.

“Suka.”

“Lebih suka ini atau rumah kita yang dulu?”

“Aku suka dua-duanya. Tapi rumah itu besar banget. Aku takut kalau sendirian nggak ada kamu,” ungkap Tiara.

“Bilang aja kamu kangen aku. Tiara yang aku tahu adalah perempuan pemberani.”

“Dimana aja aku suka, asal sama kamu sih.”

Kali ini Tiara yang berhasil membuat Aryo nampak salah tingkah. Aryo mengalihkan tatapannya dari Tiara yang mana jika ia menatap matanya, Aryo tidak tahu lagi akan seaneh apa reaksinya.

“Kamu beneran baru beli penthouse ini?” tanya Tiara berusaha mengalihkan pembicaraan ketika ia juga merasa jantungnya berdebar hebat di dalam sana. Tiara merutuki ucapannya yang sebelumnya. Namun ia juga merasa senang karena gantian dirinya yang menggoda Aryo setelah berkali-kali suaminya berhasil dengan mudah membuatnya bersemu.

“Aku udah lama beli ini, tapi belum pernah di tempatin.” Aryo mengikuti langkah Tiara yang antusias melihat-lihat tempat tinggal mereka yang baru.

“Sayang, jangan langsung tidur lho. “Mandi dulu baru tidur. Oke?” seru Tiara memperingati Aryo.

“Gimana kalau kita mandi bareng Ra?” tanya Aryo diiringi senyum jahilnya.

“Astaga,” Tiara tertawa disusul wajah merah padamnya.

“Kamu mandi duluan aja, biar aku siapin tempat tidur. Jadi, habis mandi kamu bisa langsung tidur.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo yang tampak lelah itu.

“Mandi barengnya kapan?” rengek Aryo dengan nada manjanya. Pria itu mencebikkan bibirnya yang otomatis membuat Tiara gemas melihatnya.

Tiara lantas mengulaskan senyumnya. “Besok. Udah sana kamu mandi dulu.”

Aryo berlalu dari hadapannya dan Tiara melakukan tugasnya. Meski ia yakin setiap penjuru tempat ini telah dibersihkan dan dirawat secara berkala, tapi ia tetap akan menyiapkan tempat tidur mereka malam ini.

Tiara menuju kamar utama yang terletak di lantai atas. Tidak memakan waktu lama baginya untuk menyiapkan kasur karena memang semuanya sudah tertata rapi dan bersih. Tiara menyalakan humidifier yang terdapat di kamar itu supaya suasananya lebih nyaman dan rileks. Tiara juga akan mempersiapkan baju tidur untuk suaminya dan juga untuk dirinya.

***

Setelah kurang lebih 20 menit, Aryo selesai dengan kegiatannya dan ia mendapati boks besar berisi barang-barang pentingnya tidak ada di ruang tamu. Sambil masih mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil, Aryo mencari keberadaan Tiara.

Aryo menemukan Tiara di kamar utama di lantai atas. Ia melihat istrinya itu sedang merapikan barang-barang penting miliknya. Boks tersebut berisi beberapa berkas saat Reynaldi menjabat sebagai presiden direktur sekaligus CEO sebelas tahun lalu.

“Sayang, kamu liat isinya?” tanya Aryo dan seketika Tiara menoleh menatapnya.

Tiara menggeleng menjawab pertanyaan Aryo. Aryo lantas mengambil alih beberapa file yang ada di tangan Tiara dan pria itu menuju ruang penyimpanan yang terdapat di samping walk in closet.

“Di dalam sini, isinya beberapa bukti yang akan aku pakai untuk mengungkap perbuatan Reynaldi. Kamu mau lihat isinya?” tanya Aryo saat Tiara mengarahkan tatapannya pada file besar di tangannya.

Tiara tampak gugup. Sejujurnya ia memang ingin melihatnya, tapi entah mengapa sesuatu dalam dirinya masih menolak itu. Ada sebagian dalam dirinya yang masih merasakan trauma. Dengan melihat sesuatu yang berhubungan dengan Reynaldi akan membuatnya teringat lagi masa lalu itu.

“Kamu nggak perlu maksain diri, kalau itu bisa bikin kamu ingat kamu masa lalu kamu.”

You’re right. Kayaknya untuk saat ini aku belum sanggup,” ujar Tiara.

Aryo pun mengangguk, lalu ia memasukkan file tersebut ke dalam brankas besar miliknya dan menguncinya. Aryo mengenggam tangan Tiara dan mereka keluar dari ruangan penyimpanan itu.

Aryo sedang berganti pakaian dan Tiara menunggu suaminya itu sambil memerhatikan isi pakaian yang ada di walk in closet.

“Beberapa baju yang ada disini style kamu banget. Tempat ini juga bersih dan rapi,” ujar Tiara saat suaminya telah berganti stelan dengan piyama biru dongker yang telah Tiara siapkan.

“Sebenarnya aku lumayan suka penthouse ini dan aku beberapa kali nginep di sini.”

“Kalau ruangan di sana itu apa?” tanya Tiara penasaran pada sebuah connecting door yang terdapat di ruangan walk in closet.

“Kamu mau ke sana?”

“Boleh emangnya? Aku pikir itu ruangan rahasia. Soalnya cuma pintu ruangan itu yang dikunci.”

“Ruangan itu emang ruang rahasia. Aku punya niat, suatu hari aku akan tunjukin ruangan itu ke orang yang spesial.”

Aryo memasukkan sebuah kode untuk membuka pintu ruangan tersebut. Saat memasukinya dan melihat isi di dalamnya, Tiara dibuat terpana. Melalui sebuah tombol yang di tekan Aryo, lampu di ruangan ini berubah warna menjadi sebuah perpaduan warna yang terlihat seperti galaksi di angkasa.

Aryo mengajaknya melihat barang-barang yang ada di ruangan itu. Tidak terlalu banyak barang di ruangan ini. Namun bagi Aryo yang ada disini adalah yang pernah berarti dalam hidupnya.

Di sudut kanan terdapat lemari yang berisi koleksi minuman milik Aryo. Pria itu mengatakan bahwa minuman ini di dapatkannya dari teman-teman semasa kuliahnya dan beberapa dari kolega bisnisnya. Karena minuman-minuman ini dari luar negeri, sehingga langka dan mahal, Aryo menyimpannya dengan apik. Terdapat juga koleksi vape, shisha dan tumpukan kotak rokok yang disusun rapi di dalam sebuah lemari kaca. Aryo mengatakan semua itu miliknya, tapi hanya digunakan untuk teman-temannya jika mereka berkunjung kesini.

“Beneran, Sayang. Aku nggak konsumsi itu lagi,” ucap Aryo meyakinkan Tiara.

“Sesekali aja kalau lagi ingin,” sambung Aryo. Ia juga mengatakan, ia hanya minum beberapa minuman saat dirinya sedang kalut. Maka Aryo akan ke ruangan ini dan minum sendiri.

“Terakhir kapan?” tanya Tiara.

“Aku lupa. Tapi kayaknya udah lama. Sebelum ketemu sama kamu, aku pernah ke sini sekali, minum, terus ketiduran sampai pagi di ruangan ini.”

“Artinya itu belum lama, Aryo.”

“Kamu bener. Tapi sekarang aku nggak ingin semua ini lagi. Aku simpan untuk teman-temanku aja karena mereka bisa gila kalau aku jual atau buang.” Aryo terkekeh karena mengingat kelakukan teman-temannya yang sangat mencintai barang-barang seperti ini.

“Kenapa kamu nggak ingin lagi? Agak aneh karena setauku, karena teman-temanku juga susah banget lepas dari benda-benda kayak gini.”

“Aku nggak tahu alasan pastinya. Tapi sejak menikah, aku udah janji sama Tuhan. Aku akan menjaga kamu dan ingin berubah jadi yang lebih baik buat kamu. Selain itu untuk keluarga kecil kita kedepannya.”

Tiara terharu mendengar penuturan tersebut. Ia tidak pernah menyangka dan rasanya masih seperti mimpi bahwa ia dipertemukan dengan Aryo dan menikah dengan pria itu. Tiara mencintainya dan mendapat balasannya dengan merasa amat dicintai oleh Aryo setiap harinya. Tiara dapat merasakan, setiap detik kasih sayang yang pria itu berikan padanya.

Aryo menunjukkannya sebuah jar yang berisi sebuah kertas. Di dalam kertas itu, terdapat 9 list yang Aryo buat saat dirinya berusia 17 tahun.

“Aku belum pernah nunjukin ini ke siapapun,” ungkap Aryo.

“Ini apa?” tanya Tiara ketika Aryo menyerahkan jar itu ke genggamannya.

You allow to open and read this.

Tiara membuka kertas tersebut dan sebuah foto berukuran 3x4 meluncur dari dalam lipatan kertasnya. Tiara mengambil foto itu yang ternyata sebuah foto seorang perempuan.

“Kamu masih nyimpen foto mantan kamu. Kamu masih sayang dia?” ujar Tiara yang mendapati itu adalah potret Aurorae.

“Enggak gitu, Sayang. Ak-aku udah niat mau buang kok. Aku udah minta Erza buang ini tapi ternyata belum dibuang.”

Tiara lantas membuka kertas itu dan membaca isinya yang bertuliskan “9 Things I Will Do With My Future Wife”.

“Jadi future wife kamu itu Aurorae?”

“Kamu jangan marah dong, Sayang. Inicuma masa lalu. Sekarang yang aku nikahin kan kamu. Sekarang cuma kamu yang aku sayang.”

“Tetap aja. Kamu udah bikin aku bete.” Tiara menyerahkan kertas itu pada Aryo, lalu berbalik meninggalkan Aryo di sana sendiri.

Aryo bergegas menyusul langkah Tiara. Aryo mana tahu tiba-tiba foto itu ada di sana. Sungguh diluar ekspektasinya. Padahal suasananya sudah romantis dan momentum yang tepat untuk menunjukkan tulisan yang ia buat kepada istrinya.

***

Beberapa menit kemudian, Aryo menyusul Tiara ke kamar setelah ia membiarkan Tiara meredam emosinya. Aryo memerhatikan istrinya yang sudah berganti stelan tidur gaun sutra bunga-bunga itu. Semerbak harum bedak yang lembut dan parfum vanilla campur coklat khasnya mengilhami indera penciuman Aryo. Kalau seperti ini, Aryo bawaannya ingin langsung memeluk Tiara. Namun sepertinya istrinya itu masih marah padanya.

“Kamu masih bete?” tanya Aryo.

“Menurut kamu aja.” Tiara baru saja selesai melakukan kegiatan skincare malamnya, lalu ia beranjak ke kasur, menaikkan selimut sampai sebatas bahunya dan coba memejamkan matanya.

“Jangan lama-lama dong betenyam Sayang. Maaf yaa,” ucap Aryo lagi. Kali ini ekspresinya seperti anak anjing yang baru saja diomeli oleh empunya.

“Aku udah terlanjur liat, Aryo. Gimana nggak bete coba.” Tiara sebenarnya juga mempertanyakan dalam hatinya, kenapa ia bersikap begitu kekanakan seperti ini. Kalau dipikir-pikir, itu memang hal yang sepele. Aryo juga sudah jujur bahwa foto itu hanyalah sebuah masa lalu.

“Yaudah deh, kamu bete aja dulu, puasin ya. Tapi aku harap besok kamu nggak marah lagi sama aku,” ucap Aryo dan setelah itu Tiara tidak mendengar suara suaminya lagi. Apakah suaminya itu sudah tidur lebih dulu?

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati suaminya yang memamg sudah tidur. Tiara memutuskan untuk tidur juga, tapi yang terjadi adalah apa yang direncanakan tidak sesuai kenyataan. Tiara tidak bisa terpejam begitu saja.

Kedua mata Tiara menangkap kertas biru di meja kamar. Kertas itu adalah 9 list yang ditulis oleh Aryo. Rasa penasaran pun mendorong Tiara beranjak dari tempat tidur dan mengambil kertas tersebut, lalu ia membacanya.

“Kamu kenapa belum tidur?” sapa sebuah suara yang membuat Tiara berbalik. Ia menemukan Aryo dengan wajah kantuknya saat Tiara belum selesai membaca 9 list itu.

“Aku nggak bisa tidur.”

“Kamu baca tulisan aku?”

“Belum aku baca, aku cuma liat karena ada disini.”

“Kamu baca itu, Tiara.”

“Okey, iya aku baca,” ucap Tiara akhirnya ia memang tidak bisa berbohong kepada Aryo.

“Kamu nggak beneran tidur ya dari tadi?” selidik Tiara.

“Aku tau kamu belum tidur, jadi mana aku bisa tidur. Karena kamu nggak bisa tidur, kamu mau wujudin tulisan aku yang ada di list itu? Kayaknya kita bisa lakuin hal yang pertama.”

Playing UNO at midnight?

***

Aryo dan Tiara memainkan UNO sebanyak 4 kali dan setiap babaknya Tiara yang menang. Tiara nampak senang karena ia dapat mengalahkan Aryo.

“Gimana bisa kamu bikin list pengen main UNO tapi kamunya kalah terus,” ujar Tiara.

“Aku pura-pura kalah aja, Sayang. Biar kamunya seneng.”

“Alasan kamu mah.”

“Mau main sekali lagi?” tawar Aryo.

“Kamu kan besok harus kerja, gimana kalau kita udahan aja?” Aryo pun menyetujui saran Tiara. Memang benar besok dirinya harus ke kantor di pagi hari dan ini sudah pukul 1 malam.

“Terimakasih, Tiara,” ujar Aryo.

“Untuk?”

“Karena kamu udah jadi istri aku.”

“Sama-sama,” Tiara lantas mengulaskan senyumnya.

“Aku tau kamu marah karena kamu cemburu,” ujarAryo.

“Siapa yang cemburu, nggak ada tuh.”

It’s your emotion. When women show her emotion, it means she’s really love you.

“Fotonya kamu buang kan nanti?”

“Iya Sayang, astaga. Kamu serem ya kalau udah cemburu. Ohiya, aku mau tanya sama kamu. Apa kemungkinan insomnia kamu dateng karena suatu hal?”

“Aku nggak tahu pasti. Mungkin karena udah lama. Dulu waktu ayah pergi, bunda udah tidur tapi aku nggak bisa tidur. Bunda kebangun karena aku, dan akhirnya beliau peluk aku sampai bisa tidur,” cerita Tiara.

“Apa ada hubungannya sama berkas-berkas itu?”

Nope, it’s oke. Lagian harusnya aku nggak mindahin barang-barang kamu tanpa bilang dulu ke kamu.”

“Aku nggak akan pernah tahu rasanya apa yang kamu alami sebelas tahun lalu. Itu pasti sangat berat.” Aryo membayangkan apa yang terjadi pada Tiara pada saat itu. Saat mengetahui Tiara harus melewati hal tersebut, Aryo ikut merasakan rasa sakit di hatinya, meskipun ia tahu tidak akan sebanding dengan yang dirasakan Tiara.

“*I wish I could erase your sadness,” ujar Aryo.

“Kok jadi mellow sih? Kamu mah.” Tiara yang awalnya merasa biasa saja, malah terbawa suasana karena tatapan Aryo padanya. Tatapan itu seperti ada rasa marah, sedih, dan hancur secara bersamaan.

You already do. You erase my sadness and all my pain. Life with you is my happiness. Thank you for being here for me,” tutur Tiara.

Aryo mengulaskan senyumnya mendengar penuturuan Tiara tersebut. Ia sungguh bahagia mendapati bahwa dirinya adalah alasan Tiara bahagia.

“Oh iya, aku jadi ingat sesuatu. Waktu malam pertama setelah kita resepsi,” ujar Aryo.

“Kenapa?”

“Kamu nggak bisa tidur, persis kayak gini. Waktu aku tanya, kamu bilang itu bukan urusanku. Yaudah aku tidur duluan.”

“Kamu nggak peka.”

“Wanita emang sulit di pahamin. Walaupun aku pengen banget meluk kamu saat itu, tapi kayaknya bukan itu yang bener-bener kamu butuhin. Sekarang aku bisa meluk kamu kapan aja, kayak gini.” Aryo lantas merengkuhnya ke dalam pelukan hangatnya.

“Kamu bener. Tapi gimana ya, kalau pertemuan kedua kita bukan aku yang nolongin kamu.”

“Aku udah punya niat untuk ungkapin perasaan aku ke kamu.”

You kiss me that night. Jadi waktu itu kamu main-main doang atau serius sih?”

“Pengaruh alkohol itu tinggal dikit, kayaknya karena aku habis dipukulin preman-preman itu.” Aryo sangat ingat bahwa ia bersama Tiara dan menginginkan gadis itu tahu bahwa ia memiliki perasaan pada Tiara.

“Aku mau tau perasaan kamu ke aku. Waktu itu aku sama Aurorae udah nggak ada hubungan apapun. Tapi dia datang ke bar untuk nemuin aku.”

“Kenapa kamu putus sama Aurorae?”

“Kita hanya nggak bisa bareng lagi. Kadang sesuatu yang terlalu kuat, nggak bisa jamin bisa jadi satu.”

Tiara mengangguk paham akan perumpamaan yang Aryo jelaskan.

Who’s your first kiss?” tanya Tiara tiba-tiba.

You are my first kiss,” jawab Aryo cepat.

“Kamu keliatan kayak nggak percaya gitu,” sambung Aryo saat Tiara menatapnya dengan tatapan curiga.

“Ada beberapa bagian masa lalu yang seharusnya dibuang. Kamu harus tau, kamu perempuan pertama yang aku cium dan ingin aku nikahi.”

“Tapi kenapa kamu berani cium aku padahal kita baru kenal?”

Aryo tertawa mendengar penurutan Tiara barusan.

“Tuh kan kamu bohong. Pasti ciuman pertama kamu bukan aku.” Tiara nadanya ngambek lagi seperti sebelumnya.

“Maaf ya, karena malam itu aku telah lancang mencium kamu. Aku lumayan kacau malam itu dan kamu datang lebih mengacaukan semuanya.” Aryo mengungkapkan rasa penyesalannya sekaligus perasaan jujurnya.

“Maksudnya aku pengacau gitu?”

“Iya, kamu buat hati aku kacau.”

“Kamu tau, ayah bisa aja habisin kamu, kalau kamu nggak nikahin aku.”

“Kamu tenang aja, itu nggak akan terealisasikan. Aku udah bertekad akan membuat kamu suka sama aku. Sesuatu yang diawal keliatan buruk, ternyata punya rencana indah di akhir,” ujar Aryo dan Tiara setuju tentang itu.

“Apapun masa lalu kamu, itu cuma akan jadi sebuah memori. Kamu berhak memilikinya. Kamu yang ada di sini sekarang, adalah suami aku. I love what you are now and what will be in future.”

Aryo menatapnya dengan tatapan bangga dan terharu, lantas ia menyematkan sebuah kecupan di kening Tiara.

“Aku mau tanya satu hal,” ujar Tiara.

“Apa itu Sayang?”

“Waktu itu kamu yakin banget bisa buat aku suka sama kamu?”

“Buktinya bisa, kan? Kalau kamu nggak suka sama aku, si bayi nggak akan hadir sebagai anugerah untuk kita di sini,” ucap Aryo sambil tangannya mengusap perut Tiara. Ia dapat merasakan ada gundukan kecil di sana yang seketika menciptakan desiran hangat di rongga dadanya.

“Aryo, aku mau wujudin 9 list yang kamu buat.” Tiara meletakkan telapak tangannya di sisi wajah Aryo, ibu jarinya mengusap lembut permukaan kulit pipi suaminya.

“Oke. Kita akan ngelakuin delapan sisanya setelah aku berhasil mengungkap yang dilakukan Reynaldi pada Ayah kamu.”

“Bukannya rencana itu masih panjang? Mungkin akan makan waktu yang lama sampai selesai.”

“Kamu benar. Aku kepikiran suatu rencana yang mungkin bisa menjebak Reynaldi, supaya kita nyelamatin om Rudi secepatnya.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Malam ini digelar acara ulang tahun di kediaman keluarga besar Brodjohujodyo dan Tiara hadir di sana. Tiara memperkirakan bangunan ini lebih besar dua kali lipat dari rumah yang menjadi tempat tinggalnya setelah menikah dengan Aryo.

Tiara tidak berniat datang ke acara ini pada awalnya, karena ia tidak berani melanggar perintah suaminya untuk pergi. Bahkan Aryo tidak hadir di acara ini. Namun takdir berkata lain dan akhirnay membawanya datang. Tiara dikabari oleh Erza bahwa mama mertuanya mengunjungi rumahnya tadi siang. Tiara tidak ingin membuat mertuanya itu khawatir karena ketidakberadaannya di sana, jadi Tiara bergegas pergi ke sana dan Egha yang mengantarnya. Tiara mengatakan pada Egha untuk tidak memberitahu apapun pada Aryo.

Lantas Felicia mengajak Tiara menghadiri acara ulang tahun eyang dan Tiara terpaksa berbohong dengan mengatakan Aryo juga akan datang kesana. Suaminya akan menyusul karena masih memiliki pekerjaan yang harus di selesaikan. Tiara hanya tidak ingin membuat mertuanya khawatir dengan apa yang terjadi padanya dan Aryo.

Disatu sisi, berbohong memang bukanlah hal yang baik, tapi untuk saat ini mertuanya lebih baik tidak mengetahui dulu apa yang sedang terjadi. Tiara setuju untuk ikut ke acara ulang tahun ini bersama mertuanya karena ia memiliki sebuah tujuan, setelah Tiara tidak sengaja mendengar pembicaraan Aryo dengan Egha. Mereka mengatakan bahwa penyandra Rudi mengancam akan menghabisi Rudi dalam waktu yang tidak lama lagi.

Seperti perkataan Aryo, orang itu besar kemungkinan hadir di acara ini. Orang yang bertanggungjawab atas kepergian ayah kandungnya. Tiara ingin mencari informasi yang barangkali bisa ia dapatkan untuk menyelamatkan Rudi.

Tiara mengatakan pada Felicia bahwa ia akan menyusulnya untuk menemui keluarga Brodjohujodyo yang lain, karena ia harus mencari toilet untuk menyelesaikan panggilan alamnya. Tiara menggunakan alasan tersebut untuk menjalankan rencananya.

Tiara bertanya pada salah satu maid di lantai berapa biasanya para tetua berkumpul. Tempat ini sangat luas jadi tidak mungkin Tiara mengitarinya tanpa petunjuk sama sekali. Tiara menekan tombol lift di angka 5 sesuai dengan informasi diberikan oleh maid tadi.

Tiara sampai di lantai 5 yang memiliki desain interior yang sedikit berbeda dengan desain di lantai lainnya. Lantai ini di desain dengan gaya minimalis yang benuansa hitam, putih, dan sedikit sentuhan silver. Tiara menyusuri tempat yang memiliki banyak lorong yang tidak terlalu luas ini. Ia menghafalkan perjalanannya agar ia tidak tersesat saat nanti ingin kembali. Tiara tidak habis pikir apa tujuan tempat yang dibuat seperti labirin.

Tunggu.

Ya, itu dia tujuannya. Tiara menemukan benang merah di kepalanya. Lantai ini dibangun untuk menyesuaikan fungsiny, yakni tempat berkumpul para tetua. Tiara juga tidak tahu dengan pasti, tapi para tetua yang merupakan pemegang saham dan petinggi perusahaan tentu memerlukan privasi yang ketat dan bukankah sebuah rahasia harusnya disimpan dengan rapi?

Tiara melanjutkan langkahnya dan sebuah pikiran terlintas di benaknya. Bagaimana ia bisa mendapatkan informasi kalau ruangan-ruangan di lantai ini di desain kedap suara. Tiara sukses tidak dapat mendengar suara apapun ketika ia melewati lorong yang terdapat ruangan di kanan dan kirinya.

Tiara memperhatikan sekitarnya dan netranya menangkap sebuah tangga yang hanya terdiri dari beberapa anak tangga. Tangga tersebut menghubungkan ke sebuah ruangan yang tidak terlalu besar, jadi tempat itu terlihat seperti rumah pohon dari sini.

Tiara melangkahkan kakinya kesana. Ia menapaki anak tangga dan bersembunyi disamping sebuah pajangan guci mewah yang berukuran lebih besar dari tubuhnya itu. Dari tempatnya saat ini, tentu ia tidak bisa mencuri dengar pembicaraan orang yang ada di dalam, tapi Tiara tidak ingin menyerah begitu saja.

Saat Tiara mendengar bunyi ‘beep’ yang menandakan otomatic door ruangan itu terbuka, ia menutup mulutnya dengan tangannya sendiri untuk memastikan ia tidak menimbulkan suara sekecil apapun. Seorang pria paruh baya keluar dari ruangan itu bersama seorang pria muda.

Tiara tentu mengetahui siapa pria muda itu. Pria itu adalah El, rival suaminya untuk pemilihan jabatan presiden direktur. Namun pria paruh baya yang bersama El, Tiara tidak mengetahuinya meskipun wajahnya terasa fameliar.

“Bukannya semuanya akan lebih mudah kalau kita habisin Rudi?” ucap El.

“Keponakanku, kamu kayaknya masih perlu banyak belajar. Om emang akan habisin dia, tapi nanti. Bukan sekarang.”

“Kapan waktunya?”

“Nggak akan lama lagi. Rudi Abimana tau semuanya.”

El mengangguk mengerti. “Ohya, gimana dengan keturunan Erlangga? Apa om udah nemuin keberadaannya?”

“Belum. Om tidak akan percaya dia sudah mati, sebelum Om mendapatkan bukti kematiannya di depan mata Om.”

“Gimana kalau aku bisa bawa bukti itu ke hadapan Om?” tawar El.

“Hidup atau mati?”

“Om tinggal pilih. Om mau aku bawa dia hidup-hidup atau cuma jasadnya aja?”

“Terserah kamu. Lakukan itu untuk Om.”

“TErus apa yang akan aku dapatkan untuk balasannya?”

“Apapun yang kamu mau. Om tau kamu sudah memikirkan ini dari lama.”

“Aku cuma mau Aryo Bimo dan keluarganya hancur.”

“Itu gampang. Kalau gitu kita sepakat.”

Tiara mendengar semua isi percakapan tersebut dan dua orang itu hendak melangkah melewati tempat persembunyiannya. Tiara menahan nafasnya agar keberadaannya tidak diketahui karena sepertinya suara hembusan pelan napasnya saja bisa terdengar di sini.

Tepat sebelum dua orang itu melewatinya, tangannya di tarik kuat oleh seseorang dan sebuah tangan membekap mulutnya. Tiara ingin memberontak. tapi ia sadar ia tidak bisa melakukan itu untuk saat ini.

Tiara hampir ketahuan karena ia sempat menimbulkan suara dari mulutnya yang meminta dilepaskan oleh orang yang mendekapnya. Maka yang dilakukannya hanyalah menahan napasnya dalam dekapan orang yang tidak diketahuinya tersebut. Orang itu lantas membawa Tiara ke sebuah kamar bernuansa serba hitam. Pintu kamar terkunci otomatis tanpa menimbulkan suara ketika mereka masuk.

“Hey Tiara, it's me. Don’t worry.” Orang itu membuka topi hitam yang digunakannya ketika mereka hanya berdua di dalam kamar tersebut.

Tiara mendapati sosok Aryo yang hanya berjarak beberapa centi darinya saat ini. Baru saja Tiara menghembuskan napas lega, tiba-tiba semuanya menjadi gelap dan ia hampir saja tidak dapat melihat apapun.

“Aryo, ini kenapa mati lampunya?”

“Nggak papa, Sayang. Sebentar lagi lampunya akan nyala.”

Sesuai perkataan Aryo, tidak lama lampunya pun kembali menyala. Tiara mengamati suaminya yang berada dihadapannya itu.

“Gimana kamu tau aku disini?” tanya Tiara.

“Harusnya aku yang tanya kamu. Kenapa kamu datang ke acara ini?”

“Maaf Aryo aku—”

“Dengan kamu datang kesini, sama aja dengan membahayakan keselamatan kamu sendiri. Kita nggak tau kemungkiann apa yang bisa dia lakukan.”

“Aryo, aku udah tau semuanya. Aku dengar pembicaraan kamu sama Egha soal penyandra om Rudi. Kalau kamu tetap lanjutin penyelidikan ini, aku yang bisa kehilangan kamu. Orang itu dan El, mereka kerja sama buat hancurin kamu,” ucap Tiara dengan napasnya yang menggebu-gebu. Aryo meraih pergelangan tangannya, tapi Tiara langsung bergerak untuk menolaknya.

Aryo menghela dagu Tiara pelan, memitna perempuan itu menatapnya, “Tiara, dengerin aku.”

“Apa?”

“Aku nggak akan biarin mereka merealisasikan rencana itu.” Aryo meraih lengannya untuk membawa Tiara ke dekapannya.

“Kamu percaya ya sama aku?” tanya Aryo pelan.

“Aku percaya kamu. Tapi mereka bener-bener bahaya, Aryo. Aku nggak mau kehilangan untuk yang kedua kalinya. Kamu nggak ngerti ya,” ucap Tiara dengan nadanya teramat khawatir. Ada sebuah perasaan tidak nyaman yang bergelayut di pikirannya setelah ia mendengar percakapan Reynaldi dan El.

Aryo lantas mengurai pelukannya. Ia menatap wajah Tiara, lalu kedua tangannya menangkup kedua sisi wajah istrinya itu.

You are my whole world, Tiara. Kamu yang buat aku mau berjuang untuk memenangkan kasus ini. You don’t need to be worry, oke?” Aryo kembali memeluknya kali ini lebih erat. Pria itu menaruh tangannya di pinggang Tiara dan membelai rambut panjang istrinya.

“Sekarang kita turun dari lantai ini tanpa seorang pun yang akan tahu. Aku akan telfon mama dan bilang kamu pulang sama aku.” Aryo mengulurkan tangannya di hadapan Tiara untuk kemudian perempuan itu raih dan genggam.

***

“Tiara, aku terpaksa harus menghukum kamu,” ujar Aryo dengan nada tidak terbantahkannya saat mereka berhasil keluar dari temapt diadakannya pesta. Tiara tidak tahu caranya tetapi yang pasti Aryo mengatakan tidak akan ada yang tahu mereka keluar dari sana.

“Tapi—”

“Kamu tahu kan, kamu udah ngelakuin kesalahan?”

“Aku tau aku salah. Tapi kamu juga sembunyiin faktanya dari aku?”

“Kamu jahat.” Tiara masuk ke mobil lebih dulu dan Aryo segera menyusul istrinya.

“Hukumannya tetap harus kamu jalanin, Tiara,” ucap Aryo ketika ia sudah berada dengan Tiara di dalam mobil.

“Aku juga punya hukuman buat kamu,” ujar Tiara.

“Aku akan terima hukumannya.” Aryo mengakui dirinya juga salah dengan menyembunyikan fakta terkait penyandaraan Rudi Abimana. Aryo melakukannya karena ia punya alasan. Ia tidak ingin Tiara kepikiran dan menjadi stress karena itu dapat memengaruhi kondisi janin yang dikandung istrinya.

“24 jam kamu harus ada di sampingku. Ohya, tapi kayaknya nggak bisa. Kamu tetap harus ke kantor kan? Oke, gini aja. Selama kamu nggak di kantor, kamu harus sama aku dan ada di samping aku. Aku harus tahu apapun yang terjadi yang berkaitan sama kamu tanpa terkecuali,” ucap Tiara.

“Itu hukuman?” tanya Aryo sambil menyatukan alisnya dan sebuah senyum terbit di wajahnya.

“Iya, itu hukumannya,” ujar Tiara yakin.

“Ada hukuman lain?”

“Nggak ada. Cuma itu dan kita nggak akan berdebat lagi soal ini, Bapak Aryo Bimo, anda harus mematuhinya.”

“Oke, aku terima hukuman kamu. Aku sudah minta Erza siapun penthouse yang nggak terlalu besar untuk kita. Gimana kalau kita pindah ke sana?”

“Rumah kita yang sebelumnya emangnya kenapa?” tanya Tiara.

“Di sana udah nggak aman, Tiara. Kemungkinan besar mereka udah curiga soal kita.”

“Mereka masih curiga soal itu, Aryo. Mereka belum tau dengan pasti.”

“Maksud kamu?”

“Orang itu nggak akan percaya sebelum dapat bukti kematian Michelle Taninka Sinaga di depan matanya.”

***

Selama di perjalanan, Tiara memberi tahu pada Aryo semua isi percakapan yang ia dengar antara El dan Reynaldi. Beberapa minggu belakangan, Aryo meminta timnya untuk menyelidiki satu persatu riwayat para tetua yang sebelumnya menjabat sebagai Presiden Direktur Harapan Jaya Group. 11 tahun yang lalu, tepatnya saat Reynaldi Brodjohujodyo menjabat sebagai Presdir, ditemukan beberapa berkas mengenai hal yang dilakukan omnya itu selama masa menjabat. Berkas-berkas tersebut terdiri dari data pengeluaran perusahaan untuk pembelian property ilegal dan beberapa juga adalah pengeluaran yang dipergunakan untuk hal yang tidak ada korelasinya dengan kepentingan perusahaan.

Aryo tidak punya waktu lagi karena Reynaldi tidak akan segan menghabisi Rudi Abimana. Berdasarkan informasi yang didapat Tiara, untuk menarik musuh ke dalam perangkap, diperlukan sebuah umpan yang kuat. Reynaldi menginginkan bukti kematian keturunan Erlangga sampai ke tangannya sendiri, jadi Aryo harus memberi umpan tersebut pada Reynaldi.

Egha memerhatikan tuan dan nyonyanya dari kaca kecil dekat kemudi di jok belakang mobil. Aryo dan Tiara sudah lengket lagi seperti diberi power glue. Padahal beberapa menit yang lalu, tuan dan nyonyanya saling berdebat untuk menyuarakan pendapat masing-masing.

“Kamu harus minta maaf sama Egha,” ujar Aryo pada Tiara. Aryo merengkuh istrinya dari samping yang membuat Tiara nampak kecil di dekapannya.

“Aku tahu kesalahanku. Tapi kenapa minta maaf Egha?”

“Aku marahin dia karena nurutin kamu datang ke pesta itu. Bisa-bisanya Egha lebih nurut sama kamu ketimbang aku, bosnya sendiri.”

Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo yang berada lebih tinggi dari posisinya itu dengan bibir mem-pouty dan mata puppy eyes-nya.

“Bukan salah Egha, tapi salah aku. Maaf ya, aku udah buat kamu khawatir. Egha maafin gue juga ya,” ucap Tiara dengan nada penuh penyesalannya.

“Ohiya, kamu belum tahu hukuman kamu.” Aryo meletakkan telunjuknya di ujung hidung Tiara lalu sedikit menekannya gemas disana.

“Kamu tega ngehukum istri kamu?”

“Aku tega karena aku sayang kamu.”

“Oke. Jadi apa hukumannya?”

Aryo mengangkat tangannya dan mengusap sisi kepala Tiara dengan lembut, lalu ia mengambil mantel untuk memakaikannya di tubuh Tiara.

“Nyonya Mutiarani Ivanka Brodjohujodyo, hukuman untuk Anda adalah, Anda harus diawasi dengan bodyguard tambahan yang akan menjaga Anda selama 24 jam.”

“*Really? 24 jam?”

Aryo tertawa mendapati ekspresi Tiara yang menggemaskan menurutnya. “Intinya, kalau kamu pergi kemana pun, kamu akan selalu di kawal. Oke, Ma'am?”

Tiara nampak berpikir. Ia tidak bisa membayangkan hal tersebut. Namun situasinya mengharuskan begitu dan Tiara tidak ingin membuat Aryo khawatir terhadapnya.

Oke, Sir. I will accept the punishment.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Pak, bubur komplitnya dua ya.”

“Dibungkus atau makan di sini Mas?”

“Makan di sini aja Pak.”

“Siap Mas, ditunggu ya.”

Setelah memesan bubur, Aryo kembali pada Tiara yang menunggunya. “Lho Sayang, belum dapet kursi?”

“Belum ada, penuh banget. Apa kita makan di mobil aja ya?” ujar Tiara.

“Katanya kamu mau makan di sini karena ini tempat bubur favorit kamu.”

“Lain kali aja makan disininya nggak papa.”

“Permisi Bu, ada bangku lagi nggak ya? Soalnya istri saya ngidam makan bubur di sini.” Aryo bertanya pada ibu yang melayani di tempat jualan bubur itu.

“Istrinya lagi hamil ya Mas?”

“Iya, Bu. Bubur di sini kesukaan istri saya,” ujar Aryo sambil tersenyum ramah.

“Ohhh gitu ya, Mas. Sebentar saya carikan bangku tambahan ya kalau gitu.” Ibu itu tersenyum pada Aryo lalu beranjak pergi untuk mengambilkan bangku.

Beberapa pengunjung di sana sontak menatap ke arah mereka karena mau tidak mau percakapan Aryo dengan ibu tadi terdengar. Tiara tidak bisa menyembunyikan semburat merah di pipinya dan senyuman yang mengembang di wajahnya.

“Kamu nih,” ujar Tiara di dekat Aryo.

“Lho kenapa, Sayang?” Aryo memerhatikan wajah istrinya yang berubah kemerahan itu. Cantik sekali menurutnya. Kemudian ia paham apa yang membuat istrinya jadi bersemu di pagi hari yang cerah ini.

“Kamu malu? Masa punya suami seganteng ini malu sih?” goda Aryo dengan nada jahil.

“Suami aku pede banget ya.”

“Tapi emang ganteng kan?”

***

“Aku berangkat dulu ya,” ucap Aryo yang sudah rapi dengan stelan formalnya. Kalau sudah begini, suaminya itu terlihat berkali lipat lebih tampan dan berwibawa. Duh, Tiara jadi nggak mau ditinggal rasanya.

“Kamu jadi dateng ke ulang tahun eyang kan?” tanya Tiara.

“Kamu maunya aku dateng atau enggak?”

“Datengnya sama aku ya? Masa kamu dateng sendiri.”

“Nggak bisa, Sayang. Aku nggak mau kamu sampai ketemu sama dia, karena diantara salah satu keluarga aku yang datang, dia pasti hadir disana,” jelas Aryo.

Tiara akhirnya menurut pada suaminya itu. Ia mengatakan pada Aryo kalau suaminya tidak datang, suaminya harus mengirim hadiah ulang tahunnya untuk eyang.

Okey, I will sent a birthday gift for grandpa.

“Oke. Kamu hati-hati di jalan, jangan sampai telat makan di kantor.” Tiara mengambil tangan Aryo lalu memberikan ciuman di punggung tangannya.

Sebelum pergi, Aryo berbalik lagi menuju Tiara. Ia mendekap tubuh istrinya itu. Tiara balas memeluk torso Aryo dengan kedua tangan yang ia satukan di balik punggung suaminya.

“Nanti aku telfon kamu. Kamu kelas jam berapa aja hari ini?”

“Satu kelas doang. Kamu telfonnya jam 12 aja.”

“Oke. Aku berangkat dulu ya. I love you

Tiara tertawa ringan dan mengulaskan senyumnya, “I love you too.

***

“Pastikan hadiah saya langsung sampai ke tangan grandpa,” ucap Aryo pada orang suruhannya melalui telfon.

“Baik, Pak. Apa Bapak tidak akan datang ke acara malam ini?”

“Saya tidak bisa datang. Tolong sampaikan salam saya pada beliau.”

“Baik Pak, akan saya akan sampaikan.”

Aryo mengakhiri sambungan telfonnya dan teringat untuk menelfon Tiara. Hanya nada sambung yang didapatinya selama beberapa kali ia menelfon istrinya. Dahi pria itu menekuk. Entah kenapa, pikirannya melayang pada istrinya yang mungkin saja pergi ke acara ulang tahun eyangnya.

“Egha, tolong ke ruangan saya sekarang,” ucap Aryo lewat intercom wireless yang ada di ruangannya.

Kemunculan Egha diruangan Aryo langsung disambut oleh tatapan selidik dari atasannya itu.

“Minta beberapa bodyguard untuk mengawasi kediaman eyNG saya sekarang,” ujar Aryo. Ia lantas mengambil sebuah pistol dari laci mejanya dan dimasukkan ke dalam saku jasnya, “Kalau sampai sesuatu terjadi sama istri saya, kamu tahu kamu bertanggungjawab atas itu, kan?” Setelah mengucapkannya, Aryo bergegas unuk meninggalkan ruangannya.

“Lapor, ada perintah dari bos. Kirim beberapa bodyguard ke kediaman keluarga Brodjohujodyo sekarang.” Egha berbicara di earpods wireless pada seseorang. Kemudian pria bertubuh kekar itu lekas melaksanakan tugasnya sesuai yang diperintahkan oleh atasannya.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

“Aku nggak tahu pengen apa Aryo,” ucap Tiara untuk ketiga kalinya. Saat ini mereka sedang dalam perjalanan yang tidak memiliki tujuan, karena Tiara tidak tahu apa yang ia inginkan, tapi Aryo kekeuh ingin menuruti keinginannya.

Aryo meminta Egha untuk tidak mengganggu keduanya, jadi Egha tidak perlu menyupir untuk Tuan dan Nyonyanya itu.

“Kamu nggak ngidam sesuatu gitu?” tanya Aryo.

“Nggak ada sih kayaknya. Mungkin belum.”

Aryo memberhentikan mobilnya di depan sebuah bangunan yang tidak terlalu besar dengan nuansa putih dan biru. Bangunan itu memiliki desain interior yang lucu dan menggemaskan. Kebetulan mereka melewati toko tersebut dan sepertinya justru Aryo yang sekarang memiliki keinginan.

Mereka memasuki toko perlengkapan bayi yang beberapa saat lalu menarik penglihatan Aryo. Ya, toko perlengkapan bayi. Mungkin tokonya sebentar lagi sudah mau tutup, karena ini sudah malam. Tiara tidak habis pikir apa yang ada di pikiran Aryo dengan mengunjungi toko perlengkapan bayi malam-malam seperti ini.

“Halo, selamat datang. Ada yang bisa kami bantu Ayah dan Bunda?” Pelayan toko menyambut mereka dengan senyuman ramahnya.

Salah satu pelayan akhirnya membantu Tiara memilih beberapa perlengkapan untuk bayi new born.

“Kamu pilih aja yang kamu mau.” Aryo menatap istrinya sambil tersenyum. Aryo ikutan antusias membantu Tiara memilih-milih pakaian untuk bayi yang entah mengapa nampak sangat lucu di matanya. Ia berjalan ke section lain di toko itu, ketika ada yang menarik matanya, langsung ia putuskan untuk membelinya.

“Aryo, kita kan belum tau bayinya perempuan atau laki-laki,” ujar Tiara saat mereka ke section baju tidur untuk bayi. Berbagai warna dan model pun tersedia di sana. Pelayan toko juga membantu Tiara dan menjelaskan baju bayi yang cocok untuk usia new born.

Benar juga apa yang dikatakan Tiara. Kenapa juga Aryo melupakannya. Mereka belum dapat mengetahui jenis kelamin calon anak mereka. Ah, tapi itu tidak masalah bagi Aryo. Karena kebingungan mereka itu, beberapa baju yang dipilih ada yang berwarna feminin dan ada yang memiliki warna maskulin.

“Aryo.” Tiara menahan tangan suaminya yang menggandengnya keluar toko.

“Ya?”

“Kayaknya aku udah tau deh aku mau apa.”

“Ohya? Kamu kamu apa?” Aryo ekspresinya sangat antusias.

Tiara nampak menimang sejenak, “Kehadiran kamu.”

Aryo mengulaskan senyumnya mendengar penuturan Tiara.

“Kalau nanti kita udah tahu bayinya perempuan atau laki-laki, kita kesini lagi,” ujar Tiara.

“Oke. Kamu bisa pilih apapun dan aku akan beliin.”

“Duit kamu banyak banget ya? Konglomerat bukan?”

“Aku bahkan bisa beli toko ini,” ujar Aryo sambil menunjuk toko di hadapan mereka.

“Beli toko? Nggak usah macem-macem deh kamu,” ucap Tiara. Namun kalau dipikir-pikir lagi, suaminya itu sungguhan seorang konglomerat. Perusahaan Harapan Jaya yang memiliki property dan anak perusahaan dimana-mana yang jika dihitung nilainya akan cukup sampai 10 keturunan bahkan mungkin lebih.

“Aryo.”

“Yaa?”

“Jadi aku beneran nikah sama konglomerat ya?”

“Kamu kenapa tiba-tiba nanya gitu?” Aryo terbahak mendengar pertanyaan lucu Tiara.

“Jawab aja.”

“Bisa jadi. Semoga asset suami kamu ini nggak habis sampai dua puluh keturunan dan akan terus berlanjut.”

“Artinya apa anak kita harus jadi pewaris juga kayak kamu?”

“Bisa iya, bisa juga enggak. Aku akan tanya pendapat kamu lebih dulu. Karena kamu ibunya dan kamu yang mengandung dan akan melahirkan dia ke dunia ini. Kalau kamu nggak ingin dia jadi pewaris, aku nggak akan memintanya jadi penerus ayahnya.”

“Aku juga ingin dia bisa milih jalan hidupnya dan apa yang dia mau.” Tiara mengulaskan senyumannya. Ia sudah memikirkannya, kelak nanti ia ingin anaknya dapat menentukan keinginannya. Tugasnya dan Aryo hanya membimbing dan mengarahkan mana yang baik dan yang kurang baik, selebihnya biar anak mereka yang menentukan jalannya.

***

Seperti yang dikatakan Tiara, ia hanya menginginkan kehadiran Aryo di sisinya. Jadi Aryo menginap lagi di rumahnya malam ini. Sebagai asisten yang siap sedia, Egha diminta untuk menjaga Tuan dan Nyonyanya. Beberapa bodyguard di bawah pimpinan Egha pun dikerahkan untuk menjaga rumah Tiara.

Tiara sedang menunggu Aryo selesai mandi. Setelah mereka membeli baju bayi, mereka juga membeli baju tidur untuk Aryo berganti. Tiara telah mendapat jawaban bahwa ia sungguh menikahi seorang konglomerat. Harapan Jaya Group adalah perusahaan multi industri yang mengkombinasikan lebih dari 5 perusahaan yang menjalin bisnis yang secara keseluruhan berbeda dan jatuh di bawah satu kelompok perusahaan. Selain itu Harapan Jaya melibatkan sebuah perusahaan induk dan beberapa subsidier.

Aryo mengatakan jika Tiara mengizinkannya, Aryo sangat mampu membeli mall dan seisinya untuk Tiara. Tiara sekarang percaya Aryo bisa melakukannya, maka ia tidak mengizinkan Aryo membeli mall dan suaminya itu menuruti perkataannya.

Tiara mendapati dompet Aryo di nakas samping kasur dengan posisi terbuka. Nampak sebuah foto berukuran kecil disana. Saat Tiara coba melihatnya, ternyata itu adalah potret calon anak mereka yang beberapa hari lalu Aryo meminta duplikatnya pada Tiara. Tiara mengamati foto tersebut yang kemudian membuat ujung-ujung bibirnya teratik hingga membentuk sebuah senyuman.

Tiara merasa sangat kagum dengan hadirnya nyawa mungil yang tuhan titipkan di rahimnya. Selama kehamilannya, Tiara belum merasakan ngidam atau ingin melakukan sesuatu. Namun ia sadar kehadiran Aryo merupakan sesuatu yang paling ia inginkan. Makhluk kecil yang dititipkan Tuhan di rahimnya sungguh luar biasa dampaknya.

Saat Tiara merapikan jaket hitam milik Aryo yang suaminya itu letakkan di sandaran kursi, ia menemukan sebuah benda yang berukuran tidak terlau besar di bagian kantungnya. Itu adalah sebuah pistol. Tiara tidak mengerti alasan mengapa suaminya sampai perlu membawa benda tersebut bersamanya. Bukankan artinya apa yang sedang di hadapi suaminya bukanlah hal sepele dan mudah. Ini berhubungan dengan hal yang cukup berbahaya. Tiara menaruh benda itu kembali ke tempatnya dan menunggu Aryo selesai mandi.

Aryo yang beberapa menit kemudian selesai, mendapati Tiara menunggunya di depan kamar mandi.

“Tidur duluan aja kalau udah ngantuk Ra,” ujar Aryo yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan bercermin di depan kaca yang ada di kamar Tiara. Tiara melingkarkan lengannya di torso suaminya dari belakang. Aryo yang masih melakukan kegiatannya menjadi kesulitan berkat ulah Tiara. Lantas Aryo memutuskan menyudahinya aktivitasnya. Ia melepaskan handuk putih kecil dari tangannya dan berbalik bergantian untuk memeluk istrinya dari depan.

“Aryo, aku mau tanya. Pistol di jaket kamu buat apa?” tanya Tiara dengan suaranya yang sedikit bergetar. Tiara tidak lantas mendapat jawaban dari Aryo. Tiara mengurai pelukannya dan menuju ke kasur lebih dulu, ia membaringkan dirinya di sana dengan posisi membelakangi Aryo.

“Jadi gini istriku kalau lagi khawatir ya?” ujar Aryo yang segera menyusul wanitanya.

Tiara membalikkan tubuhnya dan mendapati Aryo berbaring di sampingnya sambil menatapnya.

“Tidurnya mau dipeluk atau enggak? Kalau mau sini, kamu jangan jauh-jauh.”

“Apa beneran bahaya sampai kamu membawa benda itu kemana-mana?”

“Cuma untuk jaga-jaga, Ra,” jelas Aryo.

“Aku ngerti kamu khawatir. Tapi aku mohon kamu percaya sama aku ya,” lanjut Aryo.

“Kamu hampir ngorbanin semuanya cuma untuk ini, Aryo.”

Aryo terdiam dan berusaha menyusun kalimat yang dapat membuat Tiara paham. “Aku mau ngelakuin sebagai bentuk terima kasih aku sama Ayah kamu. Aku mau jadi menantu yang berbakti untuk beliau,” ujar Aryo akhirnya.

“Terima kasih untuk apa?” tanya Tiara.

“Tanpa beliau, kamu nggak ada di sini. Kita nggak akan bertemu.” Aryo mengarahkan tangannya untuk mengusap surai coklat gelap Tiara.

“Aku udah janji sama mama untuk bawa kamu balik ke rumah. Artinya aku harus menangin kasus itu, Ra. Kalau aku nggak berhasil, mama minta aku buat ngelepas kamu. Mama ngasih pilihan bawa kamu kembali atau bercerai. Beliau tahu aku nggak akan milih pilihan yang kedua, jadi aku akan berusaha bawa kamu kembali ke rumah. Mama sayang banget sama kamu , Ra.”

“Mama udah tau soal kehamilan aku?” tanya Tiara. Mendengar penuturan Aryo membuat perasaannya menghangat. Tiara seketika membayangkan mertuanya itu pasti sangat bahagia jika mengetahui keberadaan calon cucu pertamanya.

“Aku belum ngasih tau ke mama. Mama pasti seneng banget kalau tau, tapi mungkin dalam waktu dekat ini nggak bisa ngasih tau dulu ke beliau. Keadaannya cukup kacau sekarang. Barusan aku dapat laporan kalau tim aku belum nemuin titik terang keberadaan om Rudi. Aku nggak mau ngambil resiko apapun dengan kamu berada di rumah. Saat ini, yang terbaik kamu tinggal dulu disini. Oke?” Aryo meraih tangan Tiara dan menggenggamnya dengan tangan besarnya.

“Kamu lebih suka nggak ada aku di rumah ya?” tanya Tiara pura-pura memasang wajah sedihnya.

“Gimana bisa kamu mikir gitu? Kamu tega suami kamu berasa jadi bujang lagi, nggak ada yang nemenin tidur gitu, hmm … ? Aku kangen banget sama kamu, Tiara,” ungkap Aryo.

“Aku juga kangen kamu. Kangen banget,” aku Tiara.

Aryo merasakan perasaan itu, rasanya begitu hampa tanpa kehadiran Tiara di sisinya. Setiap celah di dalam rumah, aspek kehidupannya, dan di benaknya sekalipun, telah dipenuhi oleh sosok di hadapannya saat ini. Bahkan orang-orang yang bekerja untuknya memiliki andil dengan mengemban tugas dari istrinya untuk memastikan kondisinya selama Tiara tidak berada di rumah.

You’re so cute, Darling,” ujar Aryo.

Don’t darling me.

I called you Darling cause you are my dear.” Aryo menatap Tiara hangat yang dibalas perempuan itu dengan senyum lembutnya.

“Sayang, aku mau itu,” celetuk Tiara spontan.

“Kamu ... panggil aku apa?”

“Sayang.”

“Kita nggak jadi pisah kan, Ra?” tanya Aryo.

“Enggak.” Tiara mau tidak mau tersenyum. Pipinya tampak sedikit memerah.

“Oke, Sayang. Kamu mau apa tadi?” Aryo tidak mengerti yang diinginkan oleh Tiara. Kedua alis Aryo menyatu menandakan ia sungguh tidak mengerti.

“Katanya kamu mau nurutin apa yang aku mau.”

“Tapi aku nggak paham ‘itu’ maksud kamu apa.”

Tiara mengarahkan telunjuknya ke bibirnya kemudian bergerak mengarah bibir Aryo. Aryo yang cepat tanggap dengan kode yang diberikan oleh Tiara, langsung tersenyum lebar.

“Sini.”

“Beneran?” Tiara matanya berbinar.

Tiara lantas menggerutu saat Aryo ternyata hanya memeluknya dengan sedikit digoyangkan gemas. Namun bukan sebuah pelukan yang saat ini diinginkan Tiara.

“Aku nggak mau kelepasan Ra,” ujar Aryo. Aryo sangat paham yang diinginkan istrinya karena ia juga begitu merindukan Tiara.

It’s only a kiss.

“Aku nggak mau nyakitin bayi kalau sampai kelepasan menginginkan kamu, Tiara. Kata dokter kan aku harus puasa dulu 2 bulan. Right?” Aryo menjauhkan wajahnya sedikit agar dapat melihat wajah istrinya, lalu ia memberi kecupan hangat dikening Tiara.

“Iya, 2 bulan. Lama juga ya—”

Secara tiba-tiba ucapan Tiara terhenti karena sesuatu yang kenyal dan lembab menyapa belah bibirnya.

“Tadi bilangnya nggak mau,” ucap Tiara saat Aryo melepas pagutan halus itu. Penyatuan itu terjadi dalam durasi yang singkat dan Aryo melakukannya dengan sangat lembut.

Dengan ibu jarinya, Aryo mengusap bibir Tiara yang saat ini tidak terlihat terlalu lembab seperti sebelumnya. Lip balm Tiara sepertinya sudah tertransfer sepenuhnya ke bibirnya sendiri.

You’re a good kisser. My lip balm is almost gone,” cetus Tiara dan Aryo membalasnya dengan gelak tawa.

I’ll give it back to you.” Aryo menghela satu sisi wajah Tiara untuk memangkas habis jarak mereka dan kembali mempertemukan belah bibirnya dengan bibir Tiara. Tiara membalas ciumannya dan itu membuat Aryo sedikit kualahan. Rasa bibir Tiara begitu lembut dan manis, hingga membuat Aryo ingin menikmatinya seperti permen.

Mereka sama-sama menginginkan lebih tetapi sepertinya saat ini waktunya kurang tepat.

“Kamu udah jago ya sekarang,” celetuk Aryo.

“Masa iya?”

Yes. You’re so cool, Babe.

“Iya, dong. Aku kan belajar langsung sama ahlinya.”

“Siapa?”

“Kamu ahlinya.”

Aryo lantas tertawa dan ia mendekat untuk mengecup kening Tiara.

“Kamu besok kerja?” tanya Tiara.

“Iya. Kenapa? Jadwal kamu periksa kandungan ya?”

“Periksa kandungan masih seminggu lagi. Tadi waktu kamu mandi, ada chat dari mama. Kata mama besok ada acara penting di rumah eyang.”

Not really important. It’s just grandpa birthday party.

“Itu acara penting, Aryo. Aku temenin kamu dateng ke sana, ya?”

Aryo terlihat berpikir, ia lantas menggeleng, “Ra, pasti juga hadir di sana.”

“Maksud kamu dia siapa?”

“Dia yang melakukan perbuatan itu sama ayah kandung kamu. Kalau kamu ketemu dia, aku khawatir itu bisa nyakitin kamu lagi. Aku nggak mau hal itu sampai terjadi.”

***

Tiara terbangun lebih dulu dibandingkan Aryo. Ini masih pukul 4.30 dan Tiara pikir ia terlalu pagi untuk bangun. Di sampingnya, netranya mendapati rupa surgawi suaminya yang membuatnya tersenyum kecil. Tiba-tiba terlintas di pikiran Tiara pertemuan pertamanya dengan Aryo. Kalau dipikir-pikir, lucu juga mengingat kejadian itu. Dimana dirinya dan Aryo seperti dua kutub magnet yang berbeda. Namun justru dua kutub magnet yang berbeda itulah yang membuat mereka saling terhubung, karena adanya daya tarik menarik yang mempertemukan keduanya. Merka di dekatkan kembali oleh sesuatu yang bernama takdir.

Meskipun banyak yang terjadi antara dirinya dan Aryo, tapi perjalanan mereka sudah sampai sejauh ini dan semua itu telah mengajarkan banyak hal. Mereka telah sama-sama bertahan dan berjuang untuk cinta mereka. Bahkan saat ini Tiara tidak ingin menyerah untuk rintangan apapun yang akan ia hadapi di depannya. Karena ia memiliki alasan untuk berjuang. Alasannya adalah manusia yang saat ini tertidur di sampingnya. Ohiya, satu lagi alasannya yaitu belahan jiwanya, buah hatinya bersama Aryo yang saat ini ada di dalam kandungannya. Meskipun belum bisa bertemu langsung, Tiara sangat menyayangi makhluk kecil yang tumbuh bersamanya saat ini.

Mengandung terasa sangat menakjubkan. Setiap hari ia selalu ingin mengetahui perkembangan bayinya dan menikmati setiap perubahan yang ia rasakan pada tubuhnya.

“Aryo ... kamu kapan bangunnya sih? Bangun dong,” ucap Tiara yang bosan karena ia tidak dapat melanjutkan tidurnya lagi.

Beberapa saat kemudian, Aryo perlahan membuka matanya, “Kamu mau tau cara bikin aku cepet bangun?” gumam Aryo.

“Emang bisa? Gimana caranya?”

Kiss me and I will wake up.” Aryo kembali terpejam, tapi sebuah senyum kecil terbit di wajahnya.

“Gampang. Gitu doang?” ujar Tiara dengan suarayang dipelankan dan segala indra Aryo seperti terbangun detik itu juga mendengar suara seksi istrinya.

Berhasil. Justru tanpa ciuman seperti yang dikatakan Aryo, pria itu membuka mata saat Tiara meluncurkan suara lembutnya.

“Kamu curang,” ujar Aryo yang seketika membuka penuh kelopak matanya.

“Lho aku nggak ngapa-ngapain. Kamunya aja gampang kepancing.”

“Kepancingnya suma sama kamu.”

Kini giliran netra Aryo yang menatap wajah cantik Tiara. Aryo memangkas jaraknya dengan Tiara, hingga membuat hidung mereka saling bersentuhan.

Hello, my life.” Aryo mengecup kening Tiara. Sebuah kecupan di pagi hari du saat udara terasa masih sangat sejuk. Di bawah satu selimut yang sama, jadi terasa lebih hangat karena hadirnya seseorang yang ada di dekapan dan begitu dicintai.

“Kamu dan baby mau sarapan apa?”

“Kayaknya aku ada ke pengen sesuatu deh, semalam kepikiran.”

“Ohya? Oke, kamu mau apa?”

“Tapi kalau susah dicarinya nggak usah nggak papa. Soalnya yang jualan kadang buka kadang enggak.”

“Egha akan cari kemana pun makanan itu sampai dapat. Kalau tempatnya nggak buka, nanti aku minta bodyguard aku buat bujuk penjualnya, biar jualan buat kamu aja.”

“Ohhh suami aku Egha ya bukan Aryo Bimo?”

“Kamu bisa bilang apa yang kamu mau. Aku yang beliin,” serbu Aryo cepat.

“Anak kamu maunya kamu yang beliin. Harus kamu dan cuma kamu.” Tiara mendongak sedikit untuk menatap suaminya, lalu ia mendapat kecupan gemas di kening lalu di kedua belah pipinya.

Watermark kamu banget ya?”

“Apa?”

“Kalau nyium sampai basah.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Aryo harus berhadapan dengan mamanya yang pagi ini mengunjungi rumahnya dan mendapatkan ketidakberadaan istrinya di rumah mereka.

Aryo tidak tahu harus mulai menjelaskan dari mana. Satu hal pasti, ia belum bisa menceritakan soal kejadian 11 tahun silam dan mengenai rencananya mengungkap perbuatan orang itu. Sebenarnya Aryo sangat ingin Felicia mengetahui bahwa Tiara tengah mengandung anaknya, tapi untuk saat ini bukan waktu yang tepat memberitahu kabar bahagia tersebut. Membutuhkan waktu menjelaskan semua hal pada mamanya dan Aryo tidak memiliki waktu yang banyak untuk menceritakan kabar itu saat ini.

“Bisa kamu jelasin apa yang terjadi antara kamu dan istrimu? Kenapa kalian pisah rumah?” tanya Felicia.

“Aryo akan jelasin semuanya tapi nggak bisa sekarang, Mah. Aryo harap Mama ngerti itu.”

“Kalian bertengkar?” Felicia menautkan alisnya.

“Aryo sama Tiara baik-baik aja. Aryo lagi ngelakuin sesuatu dan Aryo nggak ingin Tiara terlibat ke dalamnya.”

Aryo mengambil jeda untuk menghembuskan nafasnya yang terdengar sedikit berat, “Aryo janji akan bawa Tiara kembali ke rumah ini.”

Felicia menatap Aryo dan ia dapat membaca dari sorot mata putra sematawayangnya itu, bahwa putranya sungguhan mencintai Tiara. Awalnya Felicia sedikit ragu saat Aryo bersikeras untuk menikahi Tiara. Pernikahan di keluarga mereka biasa terjadi melalui sebuah perjodohan dengan tujuan memenuhi kepentingan bisnis. Namun Aryo bertekad memilih sendiri pendamping hidupnya.

Seiring berjalannya waktu, rupanya Tiara mampu menjadikan putranya pria yang tangguh yang ada di hadapannya saat ini. Pria yang bertanggungjawab dan juga dapat membuatnya bangga. Kini ada seorang perempuan hebat yang mendampingi putranya dengan kasih sayang dan penuh kesabaran. Felicia sangat tahu sifat anaknya yang keras kepala, perfeksionis, dan kadang egois. Sifat itu tidak hilang, tapi dengan cinta yang diberikan Tiara, segala kelebihan dan kekurangan Aryo itu menjadi kekuatan dan peluang baginya untuk menjadi lebih baik.

“Oke, Mama akan pegang janji kamu. Kamu harus bawa menantu Mama pulang. Kalau kamu nggak bisa nepatin itu, lebih baik kalian berpisah. Karena suami dan istri itu seharusnya tinggal bersama. Kalau kamu butuh bantuan Mama dan papa, jangan sungkan untuk meminta itu ya, Nak. Setangguh apapun kamu, kamu tetap anak Mama. Mama dan papa akan selalu ada buat kamu,” tutur Felicia.

***

Hari ini Aryo memiliki jadwal muay thai dan latihan menembak setelah jam kantornya. Egha menyiapkan mobil yang akan atasannya pakai ini sekaligus menyetir untuk tuannya itu.

“Gue bisa bawa mobil sendiri Gha,” ucap Aryo ketika diperjalanan. Tiba-tiba saja Egha mengatakan pria itu yang akan menyetir untuknya.

“Saya hanya menjalankan perintah Non Tiara, Tuan.”

“Maksud lo?”

“Non Tiara meminta saya mengantar Anda.”

Egha tidak sengaja mendapati ekspresi tuannya yang berubah cerah setelah kalimatnya berusan.

“Makanan yang semalam di meja makan juga atas perintah Non Tiara. Beliau tidak ingin Anda telat makan lagi, Tuan,” ungkap Egha.

***

Aryo sengaja menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat dan meminta tolong pada Rama untuk meng-handle beberapa pekerjaannya yang masih tersisa. Aryo ingin mengisi dayanya setelah melakukan kegiatannya yang cukup padat dan menguras tenaga hari ini. Tiara adalah sumber dayanya dan Aryo membutuhkan istrinya berada di sisinya.

Saat Tiara pergi dari rumah mereka, sebagian jiwanya terasa pergi bersama perempuan itu. Sebuah definisi yang tidak bisa dijelaskan oleh Aryo sendiri, yang jelas rasanya seperti ingin mati. Namun Aryo tidak ingin menyerah begitu saja. Aryo bertekad akan membawa Tiara kembali padanya. Ia percaya Tiara masih mencintainya dan tidak ada yang dapat merubah perasaannya pada Tiara. Istrinya itu sudah menempati setiap ruang di hati dan isi kepalanya.

Aryo sampai di rumah mertuanya dan mendapati Tiara sedang bersama sahabat-sahabat lelakinya berada di teras rumah, termasuk ada Akmal juga di sana. Mereka sedang mengobrol dan tidak ada satupun yang merokok disana. Jadi Aryo pikir, Tiara-nya aman bersama mereka. Tiara menghampiri Aryo begitu melihat sosoknya. Teman-teman Tiara seperti mengerti bahwa perempuan itu butuh waktu berdua dengan Aryo. Jadi lah mereka pamit pda Tiara untuk pindah ke kafe di samping rumahnya.

Tiara berhadapan dengan Aryo dan memperhatikan penampilannya yang masih mengenakan stelan kantor.

“Kamu baru pulang kantor?” tanya Tiara.

“Iya. Maaf ya, aku ke sini nggak ngabarin.”

It’s oke,” jawab Tiara.

“Kamu udah makan?” tanya Tiara.

“Udah. Egha yang beliin tadi.”

Tiara mengerutkan dahinya, “Egha bilang apa aja ke kamu?”

“Nggak bilang apa-apa,” dusta Aryo. Sepertinya biarkan seperti ini. Aryo bersikap seolah tidak tahu bahwa Tiara masih perhatian padanya.

“Egha mana?”

“Yang dicari Egha? Suami kamu di depan kamu lho ini.”

“Kamu nggak nyetir sendiri kan?”

“Aku punya supir, ngapain nyetir sendiri,” Senyum dibibir Aryo otomatis mengembang melihat tingkah istrinya yang sedang mengkhawatirkannya itu.

“Sekarang aku yang tanya, boleh?” tanya Aryo. Oh astaga, begini rasanya rindu, batinnya.

“Nanya apa?”

“Kamu udah makan? Udah minum vitamin dari dokter?”

“Udah.”

“Oke, satu pertanyaan lagi. Boleh aku peluk kamu?”

Tiara menatap Aryo dan menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukan. Ia membiarkan Aryo merengkuhnya ke pelukan pria itu. Tiara balas memeluk torso suaminya ketika Aryo merengkuhnya. Segala tentang suaminya yang ia rindukan, akan ia ungkapkan malam ini.

Sebuah perasaan menyakitkan yang tidak bisa Tiara gambarkan ketika ia harus pergi dari rumah meninggalkan Aryo. Hatinya sungguh sakit membayangkan perpisahan yang kelak mungkin harus dirinya dan Aryo hadapi.

“Aryo, aku minta maaf ya.” Suara Tiara bergetar dan perempuan itu terisak. Aryo masih memeluknya dan mendapati kemejanya basah karena air mata Tiara.

“Tiara … kenapa?” tanya Aryo dengan raut khawatirnya. Pelukan mereka lantas terurai.

“Aku nggak bener-bener mau ninggalin kamu waktu pergi dari rumah. Aku cuma nggak mau mereka nyakitin kamu karena aku,” ungkap Tiara. Ia mengatakan setelah kepulangannya ke rumah, rupanya Andi dan Alifia sudah mengetahui rencananya dengan Rudi untuk membuka kembali kasus kecelakaan itu. Ayah dan bundanya juga tahu soal tujuan Tiara menikah dengan Aryokarena ingin mencari bukti kuat supaya bisa menangkap orang yang menyebabkan Erlangga tiada. Indri, istri Rudi meminta pertanggungjawaban atas suaminya yang saat ini tidak di ketahui keberadaannya. Indri tahu semuanya bahwa Rudi diam-diam nekat membuka kasus sebelas tahun lalu yang padahal sudah resmi ditutup.

“Aku nggak tau mereka siapa. Mereka ngancam lewat telfon mau nyakitin kamu dengan cara apapun,” ujar Tiara menjelaskan maksud dari perkataannya.

“Apa aja yang mereka bilang ke kamu?”

“Selama kamu ada di deket aku, mereka bisa ngelakuin apa aja untuk nyakitin kamu.”

Aryo menghembuskan napasnya, “Ra, dengerin aku ya. Aku akan cari tahu soal mereka. Aku pastiin mereka nggak akan bisa nyakitin siapa pun. Kamu, aku, bahkan keluarga kita.”

“Om Rudi adalah detektif yang dulu nanganin kasus kecelakaan Ayah sekaligus orang yang selama ini bantuin aku. Tapi beberapa hari yang lalu, beliau dan tangan kanannya, om Bagas, di serang gerombolan orang dan sampai saat ini belum kembali. Om Bagas selamat, tapi Om Rudi di bawa sama mereka. Mereka nggak minta uang tebusan atau apapun, tapi mereka bilang bisa lakukan apa aja ke om Rudi. Apa mungkin mereka punya tujuan gunain om Rudi untuk ngancam kita? Kalau orang yang melakukan itu adalah orang yang sama dengan target kita, ada kemungkinan dia udah tau semuanya dan udah ngincer om Rudi dari lama,” ujar Tiara.

Aryo nampak memikirkan ucapan Tiara tersebut.

Kemudian pria itu berdeham sebelum berbicara, “Bisa jadi itu benar. Tapi sebaiknya kita jangan gegabah dulu hadapin ini. Aku akan cari om Rudi dan bawa beliau kembali dalam keadaan selamat. Aku akan berusaha untuk itu, Ra. Kamu percaya kan aku bisa?”

Tiara menatap suaminya lekat. Perasaannya kini campur aduk. Di satu sisi, ia ingin sekali orang yang sudah menyebabkan kepergian ayahnya mendapat balasan yang setimpal. Namun di sisi lain, rencana ini dapat membahayakan suaminya sendiri.

“Aryo, kamu mau nggak nurutin satu aja permintaan aku?” tanya Tiara.

“Apa itu?”

“Kalau aku minta kamu nggak usah terlibat dengan kasus ini, gimana?”

“Tapi Ra—”

“Ini bahaya, Aryo. Aku mohon dengerin aku. Aku khawatir, takut, dan cemas. Aku nggak mau kehilangan seseorang yang aku sayang untuk kedua kalinya,” ucap Tiara dengan gamblang. Pupil matanya bergerak ke kanan dan kiri, ia menatap Aryo dengan pandangan khawatir. “Aku nggak mau kehilangan kamu,” tukas Tiara.

Aryo yang mendengar rentetan perkataan istrinya itu malah mengulaskan senyum tipisnya.

“Aku lagi khawatir sama kamu, kamu malah senyum-senyum.” Tiara memerhatikan Aryo dan wajahnya berubah jadi masam.

Do you love me so?

“Kamu masih nanya? Ngapain aku khawatir kalau aku nggak cinta. Aku nggak tahu lagi kalau harus kehilangan kamu. Mungkin aku bisa gila, Aryo,” cerocos Tiara.

“Kamu nggak akan kehilangan aku, Tiara,” ucap Aryo berusaha meyakinkan Tiara. Pria itu menangkup kedua sisi wajah wanitanya, ia menatapnya dengan tatapan hangat.

“Nggak ada jaminan untuk itu, Aryo. Kamu sendiri tau, kamu akan berhadapan sama siapa. You’re stuborn.”

***

Sudah 3 hari Tiara tidak mengikuti pelajaran di kampusnya. Hari ini perempuan itu akan kembali masuk kuliah. Tubuhnya sudah terasa lebih baik dan mual-mualnya sudah sedikit berkurang. Saat Tiara menunggu ojek online-nya di depan rumah, ia mendapati Akmal berada sana.

“Ra, ada yang perlu gue omongin,” ujar Akmal pada Tiara setelah pria itu memarkirkan motornya di depan rumah.

“Ada yang gue mau gue omongin juga Mal,” balas Tiara.

Tidak lama ojek online yang dipesan Tiara datang berbarengan dengan sebuah BMW hitam. Seseorang turun dari mobil mewah tersebut dan menghampiri Tiara.

“Egha?” ujar Tiara sambil memerhatikan sosok asisten suaminya itu.

“Selamat pagi, Non Tiara. Saya yang akan mengantar Nona ke kampus hari ini,” ucap Egha padanya dengan sopan.

“Tapi ojek online gue udah dateng,” ucap Tiara memberitahu Egha.

Egha menghampiri ojek online tersebut dan menyerahkan selembar uang seratus ribu. Setelahnya yang terjadi adalah ojek online yang dipesannya pergi begitu saja. Akmal yang masih berada di sana terlihat tidak mengerti akan kondisi yang terjadi. Pria bertubuh tinggi dan berbadan kekar yang pagi ini ada di depan rumah Tiara adalah pria yang sama ketika menjemput Tiara di kampus waktu itu.

“Kenapa lo yang nganter gue ke kampus?” tanya Tiara pada Egha.

“Saya melakukan tugas yang diperintahkan Tuan Aryo. Tuan menyampaikan maafnya pada Non Tiara karena tiba-tiba pergi tanpa pamit. Ada pekerjaan yang harus dilakukan segera oleh Tuan,” jelas Egha.

“Tuan khawatir dengan kondisi Non Tiara. Jadi Tuan memerintahkan saya mengantar Non ke kampus. Tuan Aryo ingin menjaga Non Tiara dan anak yang sedang Non kandung,” sambung Egha.

***

Saat ini kehamilannya sudah diketahui oleh Akmal karena pria itu mendengarnya secara langsung dari Egha, bodyguard yang diperintahkan untuk menjaganya. Tiara mengatakan pada Akmal untuk tidak memberitahu siapa pun dulu mengenai kondisinya. Rentetan kejadian yang hampir saja mencelakainya, membuat Tiara harus lebih hati-hati karena saat ia tidak membawa dirinya sendiri. Ia membawa satu nyawa kecil bersamanya yang sangat ia sayangi.

Setelah kelas terakhir mereka, Akmal dan Tiara memutukan mengobrol berdua.

“Gue khawatir target kita udah cruiga soal rencana kita dengan mereka sandera ayah gue. Apa lo tau sesuatu atau mereka udah mencurigai lo Ra?” Akmal mengutarakan hal yang menganggu pikirannya beberapa hari belakangan.

Sesuatu yang mau gue sampaikan ke lo, berhubungan sama apa yang barusan lo bilang. Gue belum tahu mereka udah mencurigai gue atau enggak. Belakangan ini, ada oknum yang ngirim ancaman ke gue dan Aryo. Aryo lagi cari tau apakah dia orang yang sama dengan yang sandera om Rudi. Kalau dia orang yang sama, ada kemungkinan dia sandera om Rudi karena dia mau lenyapin bukti perbuatannya 11 tahun lalu,” papar Tiara. Tiara juga menjelaskan bahwa Aryo telah mengetahui tujuannya menikahi pria itu dan latar belakang orang tua kandung Tiara yang telah tiada.

Akmal nampak berpikir. Apa yang dikatakan Tiara ada benarnya juga.

“Kita nggak bisa nunggu, Mal. Mereka bisa ngelakuin apa aja ke ayah lo. Gue nggak mau sampai mengorbankan orang lain dalam rencana ini. Aryo udah tau semuanya dan punya rencana untuk mendapatkan orang itu dengan tangannya sendiri,” tambah Tiara.

“Ayah sama bunda sudah tau kalau gue menikahi seseorang dari keluarga yang menyebabkan orangtua kandung gue tiada. Tapi gimana pun, Aryo masih suami gue, jadi ayah sama bunda juga nggak bisa larang Aryo ketemu gue dan anak yang gue kandung.”

“Apa rencana yang dia punya?” tanya Akmal.

“Sementara Aryo masih ngumpulin informasi dan dokumen sebanyak-banyak untuk dijadikan bukti yang cukup kuat. Meskipun saat ini posisi Aryo bisa memberikan privilege lebih untuk ngejalanin rencananya, tapi ini nggak akan mudah,” Tiara menatap Akmal dengan tatapan penuh rasa bersalahnya. “Mal, gue minta maaf karena gue mengorbankan ayah lo sampai sejauh ini. Gue janji akan bawa om Rudi balik dengan keadaan selamat,” jelas Tiara.

You don't need to said that, Tiara. Om Erlangga adalah sahabat baiknya ayah dan ayah udah anggep lo kayak anaknya sendiri. Jadi lo nggak perlu minta maaf, okey?

“Tiara, gue mau nanya satu hal sama lo,” ujar Akmal.

You free to ask me.

“Lo bahagia sama dia?” tanya Akmal.

Tiara menatap Akmal sesaat, lalu ia menjawab pertanyaan lelaki itu dengan sebuah anggukan.

“Kalau lo bahagia sama dia, artinya dia orang yang tepat untuk lo. Lo pernah bilang sama gue, cinta akan rela berkorban meskipun harus berdarah untuk itu. Dia melakukannya demi lo Ra, tanpa mikirin seberapa bahayanya itu untuk dia.”

***

Aryo mempunyai pekerjaan yang cukup banyak hari ini di kantor. Jabatan barunya sebagai presiden direktur membuatnya memiliki tanggung jawab yang lebih besar. Aryo berdiri sebentar dari kursinya untuk meregangkan otot-otot di tubuhnya yang terasa kaku dan pegal. Ia menghabiskan waktunya lebih banyak didepan layar dan duduk dikursi.

Suara ketukan pintu yang terdengar membuat Aryo mempersilakan seseorang di balik sana untuk masuk. Ternyata Rama yang mengingatkannya tentang pukul berapa waktu sekarang. Kerutan di dahi Aryo muncul, tidak biasanya asistennya itu mengingatkan soal waktu padanya.

“Kantor tutup tiga puluh menit lagi Bos. Bener lo masih mau disini?”

“Sebentar lagi gue selesai.”

“Oke. Gue tungguin lo selesai.”

Rama memang sudah lama mengemban sebagai asistennya di kantor, lebih tepatnya sejak Aryo baru memulai karirnya di perusahaan ini sebagai karyawan biasa. Rama merangkap asisten sekaligus kepala bodyguard-nya dan selalu setia padanya.

“Ram, lo bisa pulang duluan,” ujar Aryo.

“Yaelah lo, kayak sama siapa aja.”

“Lo punya keluarga yang nunggu lo di rumah. Mereka pasti khawatir kalau lo pulang telat,” ucap Aryo memperjelas perkataannya.

“Lo juga punya orang yang khawatir sama lo.” Ujaran Rama itu lantas membuat Aryo mengalihkan atensinya dari layar laptopnya.

Your wife. Dia peduli banget sama lo, sampe minta tolong sama gue baut pantau lo, biar lo nggak gila kerja mulu,” jelas Rama.

***

Rumahnya terasa hampa tanpa kehadiran Tiara. Aryo merasa seperti saat ia belum menikah, saat masih bujang dulu. Tidak ada yang menyambutnya ketika ia kembali, tidak ada yang menyiapkannya makanan, dan tidak ada yang menyiapkan pakaiannya setelah mandi.

Aryo memiliki alasan tidak ingin menikah cepat-cepat, meskipun keturunan merupakan hal yang begitu penting di keluarganya. Setiap pernikahan di keluarganya akan menghadirkan persaingan baru dan selalu ada pengorbanan. Aryo dibesarkan di keluarga pebisnis dan membuatnya tidak ingin menikah terlalu cepat. Ia tidak ingin hal buruk terjadi pada keluarga kecilnya. Ia tidak ingin mengorbankan apa yang ia cintai hanya karena persaingan tersebut.

Sebelumnya Aryo begitu menyukai kehidupannya yang tanpa ikatan pernikahan. Ia bisa menjalin hubungan dengan perempuan yang ia inginkan, tanpa terikat dan menjadikan orang yang ia cintai sebagai sasaran empuk rivalnya atau oknum-oknum yang tidak berada dipihaknya. Namun pertemuannya dengan Tiara merubah cara berpikirnya. Perempuan itu memberinya pelajaran pada hal kecil bernama ‘tanggung jawab’ yang masih sering ia lalaikan. Seorang perempuan yang mampu menariknya seperti magnet, membolak-balikkan hatinya dan membuatnya memiliki keinginan membangun sebuah keluarga. Ia ingin melindungi Tiara, menyayanginya, dan rela berkorban untuknya.

Mungkin pada saat itu Tiara belum mencintainya. Aryo menemukan fakta bahwa Tiara memiliki tujuan menikah dengannya yang Aryo tidak belum tahu pasti apa tujuan itu. Aryo mendapatkan informasi tersebut dari Aurorae. Ternyata benar, Tiara memang memiliki tujuan mencari bukti kuat untuk mengungkap kecelakaan ayah kandungnya. Namun pada saat mengetahui hal tersebut dari Aurorae, Aryo tetap memutuskan menikahi Tiara dan bertekad membuat perempuan itu mencintainya.

Aryo melewati lantai 1 rumahnya dan mendapati foto-foto pernikahannya dengan Tiara yang digantung di dinding. Ada satu yang berukuran paling besar, yakni foto ketika malam resepsi yang diambil secara candid. Di foto itu, iara terlihat menatapnya dari samping. Mata Tiara berbinar saat menatapnya dan Aryo tidak menyadari itu. Aryo mengulaskan senyumnya sambil memandangi foto itu.

Aryo meminta Tiara menikah dengannya tanpa mengetahui sebenarnya Tiara mencintainya atau tidak. Itu seperti sebuah kejahatan, pikir Aryo. Di usia Tiara yang masih muda, perempuan itu harus menikah secara tiba-tiba dengan orang yang baru ia kenal dan rasa cinta itu mungkin belum ada. Itu pasti terasa berat untuk Tiara dan Aryo kerap kali merasa bersalah karena telah membuat orang yang ia sayangi menderita. Namun setelah tahu bahwa Tiara juga mencintainya sejak tangan gadis itu terulur dan menanyakan namanya, Aryo merasa menjadi lelaki yang paling beruntung memiliki orang yang ia cintai juga mencintainya dan kini seutuhnya menjadi miliknya.

Tiara mengatakan padanya bahwa ia berusaha membangun tembok pertahanan agar rasa cintanya pada Aryo tidak berkembang, karena bayangan masa lalunya membuat perempuan itu merasakan kembali sakitnya ketika berada di dekatnya.

Aryo berjalan menuju dapur karena perutnya terasa keroncongan. Di atas meja makan dapur rumahnya, ia menemukan berbagai lauk makanan yang ditata rapi di dalam storage penyimpanan makanan. Makanan-makanan itu merupakan menu favoritnya. Apakah mungkin istrinya yang mengirimkan semua ini?

***

Semalam Aryo tertidur cukup nyenyak setelah beberapa hari lalu jam tidurnya tidak menentu. Ia baru tidur lewat tengah malam dan harus bangun pukul 7 pagi untuk berangkat ke kantor. Saat pertama membuka mata, yang pria itu cari adalah ponselnya. Andaikan saja ada Tiara saat ini, Aryo akan mendekap istrinya itu sampai nyawanya terkumpul sempurna. Tiara bagaikan isi daya untuknya, sehingga tanpa Tiara dirinya akan seperti robot tanpa baterai.

Aryo mengaktifkan ponselnya dan berniat menghubungi Tiara. Kalau saja rindunya bisa dijadikan harta, Aryo sudah menjadi Bill Gates kedua di dunia. Aryo pun menunggu sambungan teleponnya terhubung.

“Halo?”Beberapa detik kemdudian, terdengar suara lembut yang amat dirindukannya.

“Aryo, kenapa nelfon?” Tiara kembali bersuara setelah Aryo hanya diam.

“Aku nggak bisa bangun Ra ... ” ujar Aryo dengan nada manjanya.

“Maksud kamu? Gimana sih, kok nggak bisa bangun? Kamu kenapa?”

“Nggak ada tenaga,” jawab Aryo.

“Kamu kenapa sih?” Nada suara Tiara terdengar khawatir.

“Aku butuh isi daya biar nyawaku ke kumpul. Tapi pengisi dayaku lagi nggak ada di sini.”

“Ada-ada aja. Emang apa yang bisa ngisi daya kamu?”

“Istri aku.”

Keduanya pun sama-sama diam. Tanpa Aryo tahu, di sana Tiara sedang gugup dan menahan senyumnya.

“Ra.”

“Iya?

“Aku udah bisa bangun habis denger suara kamu.”

“Udah jam 8 lho ini. Kamu nggak siap-siap ke kantor?”

“Iya ini mau siap-siap.”

“Oke. Kamu jangan telat makan lagi. Tidurnya jangan kemaleman. Ohiya, kamu suka nggak sama makanannya?” Sebenarnya Tiara hanya ingin mengalihkan pembicaraan. Sayangnya Aryo tidak dapat melihat senyum kecil yang tercetak di bibir Tiara.

“Makasih ya. Udah aku makan, enak semua. Aku suka banget.”

Tiba-tiba terdengar suara ketukan di pintu kamarnya. Aryo beranjak bangun untuk membuka pintunya.

“Ra, nanti aku telfon lagi ya. Bye,” ucap Aryo sebelum mengakhiri sambungan telfonnya dengan Tiara.

“Bye.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Tiara berjalan keluar kamarnya dengan langkah mengendap karena tidak ingin membangunkan siapa pun yang ada di rumah. Ia membawa selimut tebal di pelukannya dan berjalan keluar menuju ruang tamu.

Sesamnya di sana, Tiara menyelimuti tubuh Aryo dan memastikan suaminya tidak terbangun karena kegiatannya. Dengan kegigihan Aryo, akhirnya ayah dan bundanya mengizinkan Aryo untuk menginap di rumah malam ini. Andi dan Alifia merasa mereka tidak berhak memisahkan keduanya. Terlebih sekarang Aryo dan Tiara mempunyai buah hati yang menjadi pengikat keduanya.

Tiara hendak kembali ke kamarnya untuk tidur, tapi tiba-tiba perutnya terasa sangat mual dan sesuatu mendorong untuk segera dikeluarkan dari kerongkongannya. Tiara segera berlari ke kamar mandi untuk memuntahkan isi perutnya. Tiara mengeluarkan isi perutnya di wastafel dan merasakan ada seseorang yang membantu menepuk-nepuk pelan punggungnya dan memijat tekuknya. Kemudian membantunya juga menyilakan rambut panjangnya agar tidak terkena muntahan ataupun air dari wastafel.

Setelah mengeluarkan hampir setengah isi perutnya, Tiara merasa jauh lebih lega. Ia berbalik dan mendapati Aryo yang ternyata membantunya.

Tiara tersenyum kikuk begitu pun Aryo yang sedikit canggung. Dua detik setelahnya, sebuah suara terdengar di antara mereka. Tatapan keduanya mencari-cari sumber suara tersebut. Keduanya pun tersadar dan ternyata itu adalah suara perut Aryo. Aryo pun melebarkan matanya dan tampak kerutan di keningnya. Ini situasi yang memalukan, batinnya.

“Kamu belum makan?” tanya Tiara.

***

Tiara membawakannya piring berisi nasi yang lengkap dengan lauknya dan juga segelas air putih. Saat Aryo hendak mengambil suapan pertamanya, ia melihat Tiara menarik kursi meja makan di hadapannya kemudian duduk di sana.

“Kamu nggak balik ke kamar?” tanya Aryo setelah mengunyah makanannya.

“Aku nggak bisa tidur. Mungkin beberapa jam lagi ngantuk,” ujar Tiara.

“Sejak hamil?”

Tiara mengangguk. “Dokter bilang bisa beda-beda disetiap orang. Kamu makannya pelan-pelan.” Tiara memperingatkan Aryo agar pria itu tidak makan terburu-buru.

Aryo menahan kedua ujung bibirnya yang hampir saja saling tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. Aneh juga rasanya kalau tiba-tiba ia tersenyum seperti orang gila. Namun salahkan hatinya yang tidak bisa berbohong bahwa ia sangat senang karena Tiara masih memedulikannya.

“Tiara,” panggil Aryo ketika pria itu sudah selesai makan.

“Kenapa?”

Aryo berdeham, lalu menatap Tiara lekat, “Gimana kalau kita coba cara biar kamu bisa tidur? Kalau kamu berhasil tidur lebih cepat dengan cara ini, bukannya itu bagus juga buat kamu dan bayinya?”

“Tapi gimana caranya?”

***

“Kalau kamu udah tidur, nanti aku pindahin kamu ke kamar,” ujar Aryo.

“Maksud kamu kita tidur berdua disini?” Tiara menatap sofa yang ada di hadapan mereka.

Aryo mengangguk. “Tapi kalau kamu nggak mau, nggak papa. Kamu bisa ke kamar,” ucap Aryo seolah mampu membaca apa yang sedang Tiara pikirkan.

Ide Aryo membaut Tiara teringat perkataan dokter yang menyarankannya untuk menjalin koneksi yang kuat dengan Ayahnya si bayi. Tujuannya supaya janin di kandungannya dapat merasakan kehadiran ayah dan ibunya secara bersamaan. Dengan begitu, memungkinkan si bayi akan merasa senang dan hormon si ibu menjadi lebih stabil. Hormon kehamilan membuat Tiara kesulitan tidur dan mengalami muntah-muntah saat tengah malam dan pagi hari.

Tiara akhirnya menyetujui ide Aryo tersebut. Ia membaringkan tubuhnya lebih dulu di sofa, baru setelah itu Aryo menyusulnya. Tiara memunggungi Aryo sementara pria itu di sampingnya, menjaga tubuhnya agar tidak terjatuh.

“Aku akan nungguin kamu sampai tidur,” ujar Aryo.

Masih ada sedikit jarak di antara mereka dan muncul sebuah kecanggungan. Tiara belum bisa memejamkan matanya karena yang terjadi justru jantungnya berdegup cukup kencang di dalam rongga dadanya. Aryo telah menjadi aspek yang begitu besar di hidupnya, sehingga sulit sekali membangun tembok pertahanan itu. Terlebih saat ini mereka memiliki seorang anak yang sama-sama mereka nantikan kelahirannya ke dunia.

“Ra, kayaknya cara ini nggak berhasil deh,” ucap Aryo.

“Kita emang nggak bisa nebak bayinya mau apa,” ujar Tiara. Tiara juga bingung dengan apa yang terjadi padanya. Semenjak hamil tubuhnya seperti bukan miliknya lagi.

“Disini dingin, walaupun udah pakai selimut. Kamu ke kamar aja ya,” putus Aryo. Pria itu bangun dari baringannya dan meminta Tiara untuk kembali ke kamar saja.

“Kayaknya cara ktia salah. Kita coba sekali lagi, gimana?” Tiara mengungkapkan pemikirannya. Meski awalnya terasa canggung ketika Tiara meminta Aryo untuk memeluk pinggangnya dan saling mendekatakan diri, tapi keduanya berusaha melakukannya demi si buah hati. Seorang orang tua yang rasa sayangnya begitu besar akan melakukan yang terbaik untuk anaknya.

“Kayak gini?” tanya Aryo setelah mereka membenahi posisi. Punggung Tiara menempel pada dada bidangnya dan perlahan Aryo menaruh dagunya di puncak kepala Tiara.

“Iya kayak gini,” balas Tiara. Sebenarnya ia juga merasa kurang yakin, tapi tidak ada salahnya untuk mencoba.

“Oke. Semoga ini berhasil,” ujar Aryo.

Tidak sampai sepuluh menit kemudian, Tiara merasakan tubuhnya lebih rileks dan matanya yang mulai terasa mengantuk. Perempuan itu mulai memejamkan matanya seolah ada sihir ajaib yang menuntunnya untuk pergi ke alam mimpi.

Aryo memerhatikan Tiara yang mulai terlelap, lantas ia ikut memejamkan matanya dan mengulaskan senyum tipis.

“Great job, bayi kecil,” gumam Aryo pelan.

***

Pemandangan pagi hari di ruang tamu adalah Tiara dan Aryo yang masih terlelap dengan posisi saling memeluk. Adik perempuan Tiara, Chelsea, mendapati pemandangan tersebut. Chelsea tersenyum melihatnya. Ia memang tidak mengerti hubungan orang dewasa yang menurutnya sangatlah rumit.

Anak perempuan berusia 7 tahun itu dapat melihat perubahan pada kakak perempuannya sejak kembali ke rumah mereka. Kakaknya itu seperti boneka mainan miliknya yang ketika baterainya habis, yang mana tidak bisa berfungsi dengan semestinya. Chelsea khawatir melihat Tiara yang berubah, walaupun saat di depan keluarga, Tiara berusaha menyembunyikan itu semua. Setahunya karena Tiara sudah menikah, kakaknya itu harus tinggal bersama suaminya. Maka dari itu Chelsea menyebut bahwa hubungan orang dewasa itu sungguh rumit, ketika mendapati Tiara pulang ke rumah dan memilih tinggal bersama mereka lagi.

Chelsea terkejut saat ia ketahuan oleh Aryo tengah memerhatikan kedua orang dewasa itu. Aryo telah bangun lebih dulu dari Tiara, sementara istrinya itu masih tertidur di dekapannya. Aryo melemparkan senyum pada Chelsea, lalu ia meletakkan telunjuknya di depan bibir. Chelsea yang mengerti hal tersebut lantas mengacungkan ibu jarinya, tanda bahwa ia mengerti.

“Terima kasih, Chelsea,” ucap Aryo sedikit berbisik ketika anak perempuan itu akan berbalik pergi.

“Sama-sama. Terima kasih juga Kakak udah ke sini untuk jagain Kak Tiara,” ujar Chelsea dengan berbisik, lalu gadis kecil itu mengulaskan senyum manisnya dan berlalu dari sana.

***

Setelah menggendong Tiara untuk memindahkan perempuan itu ke kamarnya, Aryo mendapat telfon dari kantor yang mengharuskannya untuk pergi sekarang.

Sebenarnya Aryo masih ingin menghabiskan waktunya lebih lama dengan Tiara, tapi ini juga hal yang sangat penting. Aryo akan mengungkap kasus itu dengan semua kemampuan yang ia miliki. Ia tidak akan membiarkan orang itu hidup tenang setelah apa yang ia perbuat. Terlebih perbuatan itu menyebabkan luka belasan tahun yang sangat dalam bagi orang yang ia cintai.

Saat Aryo hendak melangkahkan kakinya dari kamar Tiara, lengannya di tahan oleh Tiara. Aryo tidak bergeming, ia tidak ingin membuat Tiara terbangun dari tidurnya.

“Aryo,” Tiara memanggil namanya dalam tidur. Aryo memerhatikan hal tersebut yang sederhananya dapat membuat rongga dadanya menghangat.

“Jangan tinggalin aku,” ucap Tiara lagi.

“Emangnya kenapa aku nggak boleh ninggalin kamu?” Aryo iseng menanggapi igauan Tiara. Ia tidak berharap dapat jawaban yang relevan. Namun tanpa tanpa di sangka beberapa detik kemudian, Tiara menjawabnya pertanyaannya.

“Aku bohong waktu bilang nggak cinta sama kamu,” ucap Tiara. Setelah itu Tiara tidak mengingau lagi. Mungkin jika perempuan itu sedang dalam mode sadar, ia tidak akan mengatakan perasannnya yang sebenarnya di hadapan Aryo. Aryo mengusap puncak kepala Tiara dengan lembut, lantas memberikan kecupan singkat di sana.

Ia berjanji akan membawa Tiara kembali ke rumah setelah ia berhasil mengungkap kasus itu. Aryo tidak akan mundur meskipun ia harus melawan salah satu anggota keluarganya sendiri.

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷

Seorang pria berusia 56 tahun menatap ke arah pemandangan langit malam serta gedung-gedung perkotaan melalui kaca besar di ruangannya. Ia berbalik dan menatap keponakannya yang meminta untuk menemuinya.

“Tanpa mengurangi rasa hormat Aryo sama Om, Aryo minta Om tidak melibatkan apapun urusan perusahaan dengan istri Aryo,” ucap Aryo pada omnya itu.

Siang ini Aryo memutuskan mengunjungi ruangan Reynaldi. Atas penyelidikan yang dilakukan anak buahnya, Aryo mendapat informasi bahwa omnya itu adalah oknum yang selama ini telah memata-matainya. Reynaldi mengintainya dan menyuruh orang untuk mengirim fotonya dengan Tiara di apartemen malam itu. Reynaldi juga yang meminta media untuk merekayasa berita skandal tersebut.

Beberapa kali anak buah Aryo mendapati bahwa keamanan rumahnya hampir di sabotase dan semua itu adalah perbuatan omnya.

Reynaldi Brodjohujodyo balas menatap salah satu keponakannya yang akan mewarisi perusahaan. “Sebagai calon pewaris, harusnya kamu tau, resiko yang perlu kamu hadapi untuk menduduki posisi itu. Di keluarga kita, selalu di tanamkan satu hal,” Reynaldi menjeda ucapannya, “Kamu harus berjuang untuk mendapatkan yang kamu inginkan, sekalipun taruhannya adalah orang yang paling kamu sayangi,” sambungnya.

“Aryo belajar banyak dari Om soal bisnis. Karena itu, awalnya Aryo sangat menghargai Om dan berterima kasih untuk itu,” Aryo menyunggingkan senyum tipisnya. Pria itu sedikit berdeham sebelum kembali berbicara. “Tapi ada satu hal yang perlu Om tahu. Aryo nggak akan belajar dari Om tentang mengorbankan orang yang disayang, hanya untuk mendapatkan posisi tersebut,” ujar Aryo sambil menatap Reynaldi dengan tatapan sarkastiknya.

Aryo in Suit

Reynaldi balas menatap Aryo dengan rahangnya yang mengeras. Di bawah sana, kedua tangannya mengepal dan ia hampir tidak dapat menahan emosinya.

Aryo menatap Reynaldi tepat di matanya, “Don’t ever think you can touch my wife,” tukas Aryo sebelum melangkah pergi meninggalkan ruangan itu.

***

Tiara terbangun dan mendapati sebuah lengan kekar merengkuh pinggangnya. Ia mengerjap dan mengusap kedua matanya. Tiara menghembuskan napas panjangnya, setelah memastikan suaminya ada di hadapannya dalam kondisi baik-baik saja.

Tidak lama setelah Tiara memandangi wajah tidur Aryo, suaminya pun membuka matanya.

“Aku mau marah dulu sama kamu,” ucap Tiara. Ia telah mengetahui semuanya dari Erza dan Egha mengenai oknum yang kontra terhadap suaminya dan selama ini telah memata-matai mereka.

“Aku tahu kamu akan marah. Maaf yaa, aku nutupin semuanya dari kamu. Hari pemilihan presdir semakin dekat, semuanya terjadi gitu aja. Aku nggak mau buat kamu khawatir, Ra,” jelas Aryo.

Tiara membalikkan tubuhnya untuk membelakangi Aryo. Aryo yang nyawanya belum terkumpul sepenuhnya itu, hanya bisa membiarkan Tiara marah padanya. Ia sudah meminta maaf dan menjelaskan alasannya, lelaki sejati sudah sepantasnya melakukan itu.

Tiara menyadari apa yang dilakukan Aryo adalah untuk melindunginya, tapi perasaannya terluka mendapati Aryo tidak menceritakan apapun padanya. Pria itu memilih menanggung semuanya sendiri tanpa melibatkan Tiara sama sekali.

“Ra, aku harus nerima laporan dari Egha soal kejadian kemarin. Kamu boleh marah, kalau masih mau marah sama aku. Tapi aku harap, kamu marahnya nggak lama-lama.” Setelah mengatakannya, Aryo bergegas keluar dari kamar.

***

“Kemungkinan besar, Reynaldi akan menggunakan istri anda untuk menjatuhkan Anda, Tuan,” ujar Egha.

“Saya mau liat dulu hasil CCTV di mobil kemarin. Sejauh apa mereka berani menyentuh istri saya,” ucap Aryo.

“Baik, Tuan.”

Layar besar di hadapan Aryo pun menyala dan menunjukkan rekaman CCTV dari dalam mobil dan luar mobil yang kemarin sengaja di pasang di sana. Video itu memperlihatkan kejadian yang dialami oleh istrinya kemarin. Mobilnya di tembaki dari arah belakang, lalu berlanjut dari arah kanan dan kiri. Kemudian sebuah motor berhenti menghadang mobil dan istrinya memilih turun dari sana, lalu menaiki motor tersebut.

“Langkah apa selanjutnya yang harus kita ambil, Tuan?” tanya Egha.

“Saat ini fokus utama saya adalah keselamatan Tiara. Hari ini tolong tambah jumlah bodyguard di seluruh area rumah. Saya ingin mengajak istri saya naik heli dan berkuda. Pastikan tidak ada yang mengganggu kegiatan saya dan istri saya.” Perintah Aryo pada Egha sebelum melangkah pergi dari sana.

***

Kali ini Aryo beruntung karena Tiara tidak mengunci pintunya. Ketika memasuki kamar, Aryo mendapati Tiara sudah mandi dan berdandan cantik sekali.

“Aku punya syarat biar aku maafin kamu,” ucap Tiara yang fokus menatap pantulan dirinya di cermin rias, seolah tidak memedulikan eksistensi Aryo di sana. Tiara mengambil sebuah parfum di botol keramik berwarna hitam, lalu menyemprotkannya di area tengkuk dan pergelangan tangannya. Seketika Aryo dapat menghirup aroma vanilla dan coklat manis dan lembut yang menguar dari tubuh Tiara.

Aryo mendekati istrinya itu, ia hendak merengkuh tubuhnya dari belakang, tapi Tiara dengan cepat menghindar dan membuat Aryo memasang eskpresi masam di wajahnya.

“Okey, apa syaratnya? Jangan yang aneh-aneh okee, Sayang?” pinta Aryo dengan wajah memelasnya.

“Syaratnya nggak aneh kok. Soal perjanjian pernikahan kita, aku mau batalin perjanjian itu. Bisa?” tanya Tiara yang langsung membuat kedua alis Aryo menyatu. Namun setelahnya pria itu justru tersenyum semringah.

“Kenapa kamu milih itu sebagai syarat?” tanya Aryo.

Because I want to spend my time with you.” Tiara mengucapkannya dari hatinya yang terdalam. Ketika Tiara berdiri dan berbalik, ia mendapati Aryo berada tepat di belakangnya, mengambil kursi dan hanya duduk sambil menatapnya. “Gimana? Kita sepakat?” tanya Tiara.

Dengan cepat Aryo mengangguk, “Oke, kita sepakat. Perjanjian diantara kita dibatalkan,” ujar Aryo dengan senyumnya yang semakin lebar.

Aryo memperhatikan penampilan istrinya yang sangat cantik hari ini.

“Kamu cantik banget sih hari ini,” ujar Aryo.

“Hari ini doang?”

“Setiap hari kamu cantik.”

“Kamu cemburu nggak kalau tau Akmal yang nolongin aku kemarin?”

“Aku udah tau dari rekaman CCTV di mobil kemarin. Selama kamu selamat dan baik-baik aja, aku nggak masalah siapa yang nolong kamu.”

Tiara mengerucutkan bibirnya. “Aku kira kamu cemburu gitu. Ohiya, aku akhirnya tau kalau Akmal punya perasaan buat aku. He was confessed it after five years.

“Terus kamu jawab apa?” tanya Aryo.

I said to him that I love you. Aku nggak bisa balas perasaan dia.” Tiara menjeda ucapannya, “He’s my best boy friend in my entire life. He will always have a place in my heart, you know.

“Kalau aku?”

“Apa?” Tiara nampak tidak mengerti akan pertanyaan Aryo.

I love you Tiara,” ucap Aryo ceapt ketika Tiara masih memasang tampang bingungnya.

Are you jealous?” cetus Tiara ketika ia sadar kemana arah pembicaraan mereka.

I'm pretty jealous. He has his own place in your heart,” ujar Aryo.

Tiara tergelak dan menatap Aryo dengan tatapan gemas. “I’m totally yours. Kamu dan dia punya tempat yang beda di hati aku. Kamu nggak perlu cemburu sama Akmal. Okeey ... ?”

“Okee, aku nggak cemburu lagi,” Aryo menjeda ucapannya, “Ra, terima kasih ya karena udah hadir di dunia ini. Aku sayang kamu,” ungkap Aryo sambil menatap ke dalam mata Tiara.

“Kamu jangan lucu gini, aku jadi gemes,” cetus Tiara.

Aryo mengarahkan tangannya untuk menghela pinggang Tiara, memangkas sisa jarak diantara mereka. Tiara berhasil berada di dekapan Aryo dengan satu tangannya berada di pundak pria itu. Tiara beralih untuk duduk di pangkuan Aryo dan mengalungkan lengannya di pundak prianya.

“Gini ya istri aku kalau lagi manja, hmm?” tanya Aryo sembari meletakkan lengannya di pinggang Tiara untuk menjaga perempuan itu tetap aman di dekapannya.

“Kamu ke kantor nggak hari ini?” Tiara mendongak untuk menatap wajah Aryo.

“Aku hari ini libur. Kenapa?”

Ekspresi Tiara seketika menjadi lebih cerah dari sebelumnya. “Aku mau ngurung kamu di rumah. Aku kan juga kangen kamu, kamunya kerja terus.”

Alright, Ma'am.”

“Seharian ini kita bisa pacaran. Gimana?”

Sounds great. Aku rencananya mau ajak kamu naik helly dan berkuda. Kamu mau?”

Mata Tiara sukses melebar mendengar perkataan Aryo. “Mau dong, pasti seru banget. Kita harus berangkat dulu ke helly pad-nya kan?”

“Engga, Sayang. Helly pad-nya ada di bagian selatan rumah kita.”

“Tempat kuda pacunya?”

“Ada di bagian selatan barat daya. Kamu mau apa lagi? Aku bisa wujudin semua keinginan kamu.”

***

Terima kasih telah membaca Emergency Married 💍

Berikan feedback berupa like, reply, hit me on cc, atau boleh juga dm aku ya. Aku menerima kritik dan saran yang membangun. Kalau ingin curhat apapun dan tanya-tanya juga boleh kok~

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🌷