alyadara

Saat dalam perjalanan pulang dan di depan mereka terpampang papan petunjuk rest area, Karin segera meminta Aryan agar mereka mampir ke tempat tersebut.

Aryan pun menuruti permintaan Karin. Begitu mobil mereka terparkir sempurna di antara mobil lainnya di rest area jalan tol tersebut, Karin segera melangkah turun dari mobil.

Karin bilang ia harus ke kamar mandi. Aryan yang khawatir, tadinya berniat untuk mengantar Karin. Namun mengingat tidak ada yang menjaga anak-anak mereka yang tengah terlelap di jok belakang, akhirnya Karin mengatakan tidak masalah kalau ia harus pergi sendiri.

Meskipun sebenarnya Aryan masih cemas karena Karin nampak pucat dan istrinya itu bilang bahwa kepalanya sedikit pusing, tapi pada akhirnya Aryan mengiyakan.

Pandangan Aryan tidak lepas melihat ke arah toilet wanita yang terletak tidak jauh dari posisi mobilnya terparkir. Sudah hampir 10 menit, tapi Karin belum kunjung kembali.

Saat Aryan hampir saja menyusul Karin, pertanyaan Svarga yang tiba-tiba terjaga dari tidurnya, menghentikan aksi Aryan. Svarga bertanya mengapa mereka berhenti di rest area dan ke mana perginya sang mama.

“Mama lagi ke toilet, Sayang. Kita tunggu mama sebentar ya,” ujar Aryan memberi Svarga penjelasan. Anak sulungnya ikut khawatir pada Karin, bahkan sempat meminta Aryan menyusul Karin dan tidak perlu mengkhawatirkan dirinya dan adik-adik.

Saat Karin akhirnya kembali dan mendapati Svarga yang khawatir, Karin segera memberi penjelasan bahwa dirinya sudah lebih baik. “Mama nggak kenapa-napa, Sayang. Tadi cuma pusing sedikit aja,” ucap Karin sambil mengusap puncak kepala Svarga sekilas.

“Sayang, kamu beneran nggak papa?” tanya Aryan begitu mereka sudah kembali melanjutkan perjalanan. Hanya sisa mereka berdua, Svarga telah pulas lagi setelah tahu mamanya sudah baik-baik saja.

Karin menoleh ke arah Aryan, lalu tangannya terarah untuk mengusap lengan suaminya. “Aku nggak papa, Sayang. Papa sama anaknya nggak beda jauh ya, sama-sama sweet,” ujar Karin.

Begitu mereka keluar dari tol dan kini tengah bergabung dengan kendaraan lainnya di jalan besar, Aryan menoleh sekilas ke arah Karin. Aryan menatap wanitanya yang kini nampak berseri-seri.

Aryan lantas mengernyit heran, padahal beberapa menit lalu Karin nampak tidak bersemangat akibat kondisi badannya yang kurang fit. Aryan berpikir mungkin Karin begitu karena faktor kelelahan, mereka baru saja menghadiri acara pernikahan Nayna dan William dari pukul 10 pagi sampai pukul 8 malam.

“Sayang,” ujar Aryan kemudian.

Karin langsung menoleh ke arah Aryan. “Iya?”

“Kamu mau pakai aroma terapi atau butuh sesuatu? Kamu beneran udah baikan atau belum?” tanya Aryan.

“Udah, Sayang. Tadi aku bawa minyak kayu putih di tasku, udah aku pake,” jawab Karin sambil mengulaskan senyum meyakinkannya.

Aryan pun segera mengangguk. Oke, terhempas sudah semua rasa khawatirnya. Aryan selalu ingin memastikan bahwa wanitanya baik-baik saja, dan pria itu telah melakukannya selama hampir 11 tahun pernikahan mereka. Hal terseut rupanya juga turun ke anak-anak mereka juga. Ketiga putra mereka perlahan-lahan tahu caranya menyayangi dan menghargai seorang perempuan.

***

Karin baru saja selesai mengantar Svarga ke kamarnya dan memastikan anaknya telah tertidur nyaman di sana. Dalam hal mengurus anak, Karin dan Aryan telah sepakat bahwa mereka akan selalu membagi tugas.

Aryan tadi kebagian menemani River dan Taura sampai mereka tidur di kamar. Dua anaknya yang masih kecil itu masih harus dibimbing agar cepat tidur, kalau tidak mereka bisa bermain sampai larut malam. Akhirnya Karin memutuskan menemani Svarga karena anak sulungnya itu sedang bersikap manja terhadapnya belakangan ini.

Kini Karin tengah menghampiri Aryan di kamar milik Taura yang memiliki connecting door dengan kamar River. Di sana tampak senyap, jadi dapat dipastikan bahwa anak-anaknya sudah tertidur. Oh, suaminya telah melakukan perkerjaan luar biasa, begitu pikir Karin. River dan Taura, perpaduan si aktif dan si penuh akal, adalah kombinasi komplit yang seringkali membuat Aryan maupun Karin kualahan.

“Hei,” ucap Karin begitu ia sampai di sana. Halus dan hangat tangan Karin yang menyentuh pundak Aryan, langsung membuat Aryan menoleh.

You did a great job. River sama Taura berhasil kamu taklukin. Kamu lebih hebat dari aku lama-lama,” ucap Karin.

Aryan menatap Karin lekat. “Aku dapet hadiah apa udah bisa nidurin mereka? Padahal tadi River sama Taura udah sempet aktif dan mau main lagi.”

“Hadiah? Orang nidurin anak sendiri, masa harus dapet hadiah sih. Kelakuan mereka juga nurunin kamu,” ucap Karin diiringi tawa pelannya.

Detik berikutnya, masih dalam posisi Aryan yang duduk di tepi kasur, lelaki itu menghela lembut pinggang ramping Karin untuk mendekat padanya.

I want to live forever with you,” ucap Aryan, nadanya terdengar begitu tulus.

Selama beberapa detik, Karin hanya mengamati rupa Aryan. Kemudian Karin meletakkan tangannya di satu sisi wajah Aryan, Karin mengusap pipi Aryan lembut, “Aku juga mau hidup selamanya sama kamu,” balas Karin diiringi senyum simpulnya.

Karin lantas menatap tepat di iris indah Aryan, dengan sukarela ia membiarkan dirinya tenggelam di sana. Saat Aryan menatapnya, Karin selalu bisa merasakan cinta dan kasih yang lelaki itu pancarkan untuknya.

“Udah sebelas tahun kita nikah. Nggak kerasa ya, Sayang. Kamu masih deg deg-an kalau ngeliat aku?” tanya Aryan.

Karin pun terdiam sesaat setelah mendapat pertanyaan Aryan. Karin mengerti maksud pertanyaan Aryan itu. Menjalani pernikahan untuk waktu yang lama, bukan tidak mungkin setiap pasangan akan merasa bosan. Sparks pernikahan diprediksi hanya sampai 5 tahun, sisanya yang dapat bertahan adalah karena komitmen. Namun Aryan tetaplah Aryan yang blak-blakan terhadap apa yang pria itu rasakan, jadi ia menanyakannya pada Karin.

“Uhmm ... gimana yaa ... ” gumam Karin.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan penuh selidik, lalu Karin justru tertawa mendapati wajah kebingungan Aryan tersebut.

“Ya masihlahm Kak. Kalau nggak, ngapain aku masih di sini, masih di depan kamu, hmm?”

Aryan lantas menggangukinya. Benar juga sih apa yang dikatakan Karin. Mereka masihlah dua orang yang sama, dua orang yang saling mencintai. Mungkin cara mencintai saja yang berbeda, Karin cenderung jarang mengucapkannya, tapi lebih melakukan aksi yang menunjukkan kasih sayangnya pada Aryan.

“Anak-anak udah tidur Sayang. Kita pacaran yuk,” celetuk Aryan.

“Mau ngapain emang?” tanya Karin, kedua alisnya menyatu.

“Mau cuddle sama kamu.”

“Bener ... cuddle doang?” tanya Karin sangsi.

“Bener, Sayang. Kamu kan hari ini lagi nggak enak badan, mana mungkin aku ngajakin kamu berhubungan. Meskipun aku mau sih.”

“Atau kamu udah sehat?” tanya Aryan saat Karin belum menjawabnya.

“Udah lumayan sih sekarang. Tadi masuk angin doang.” Jawaban Karin tersebut langsung mengundang binar bahagia di mata Aryan.

Detik berikutnya, Karin merasakan tubuhnya melayang di udara. Aryan tengah menggendongnya ala bridal style. Dengan posisi dan jarak seintim ini, Karin dapat menghirup aroma parfum dari tubuh Aryan. Harum khas itu selalu dapat membuat Karin candu.

Sampai akhirnya mereka sampai di kamar, sebelum Aryan merebahkan Karin di kasur king size milik mereka, Karin berujar di dekat Aryan, “Suami aku ganteng banget sih, makin-makin deh udah kepala tiga.”

Aryan masih menggendong Karin, dan tanpa dapat Aryan cegah, pipinya memanas dan muncuk semburat kemerahan berkat ucapan Karin barusan. Di usianya yang ke 32 tahun, Aryan memang tampak semakin tampan. Tubuh tinggi dan atletisnya, pinggang kecilnya, wajah tegas, semuanya terasa sempurna. Karin pikir suaminya itu pantas mendapat julukan hot papa anak tiga. Makin tua makin jadi, begitulah kira-kira sebutannya.

“Kak, I'm fell in love with you and still falling,” bisik Karin lagi, kali ini Karin memangkas habis jarak di antara mereka, lalu merebahkan kepalanya di dada bidang Aryan.

“Kebanyakan orang bilang, lima tahun setelah pernikahan, yang tersisa itu cuma komitmen. Kalau pun sparks cinta itu masih ada, itu jarang banget terjadi di mayoritas pasangan. Tapi bagi aku nggak kayak gitu,” Karin menjeda ucapannya sesaat.

“Komitmen sama cinta berjalan bersamaan, Kak. Dari awal, aku berkomitmen untuk mencintai kamu, untuk dampingin kamu, untuk hidup sama kamu sampai kita sama-sama tua. Sparks cinta itu masih ada karena aku akan selalu berusaha menumbuhkannya untuk kamu. You always tried to be a great husband and father for our kids, and I want to do same as you did. I love you Kak, always and forever.”

Dengan jarak mereka yang sedekat ini, Karin pun jadi bisa mendengar dentuman jantung Aryan yang menggebu di dalam rongga dadanya. Saat Aryan melayangkan tatapan meminta izinnya pada Karin, perempuan itu lekas menjawab dengan sebuah anggukan kecil.

Mereka pun segera mencumbu bibir satu sama lain. Dari ciuman kali ini, rasanya ada hasrat yang cukup besar yang begitu ingin disalurkan. Aryan selalu menginginkan Karin seindah ini. Caranya memperlakukan Karin, mengingat setiap detail kecil yang disukai perempuan itu ketika mereka memadu kasih, membuat Karin ingin memberikan cintanya yang besar untuk Aryan. Karin ingin memberikan afeksi yang utuh untuk Aryan, dan hanya Aryan, lelaki yang Karin inginkan selamanya.

Setelah 5 menit melakukan ciuman yang cukup panas, akhirnya Aryan membaringkan Karin di ranjang. Aryan tidak berniat berlama-lama untuk menyusul wanitanya ke sana.

Aryan kembali bergerak mencium Karin dengan lembut, terasa tidak ingin menyakiti. Aryan menahan tubuh besarnya agar tidak sampai jatuh menimpa Karin. Dari posisi Aryan saat ini, Karin dapat menyaksikan sosok indah ciptaan Tuhan dengan jarak yang begitu dekat. Gerakan demi gerakan Aryan ketika mencumbunya, tangan lelaki itu yang membelai lembut surainya, membuat Karin terhanyut.

Kini hembusan napas Aryan dan Karin terdengar tidak beraturan. Seperti yang sudah terjadi, mereka akan menjauh untuk mengambil napas karena yang tadi lumayan cukup intens.

Pandangan Aryan lantas tertuju pada gaun Karin yang terlepas sudah sampai sebatas bahunya. Aryan yang barusan melakukannya, tanpa ia sadari, ia hampir saja memintanya dari Karin. Padahal ia telah berjanji untuk tidak melakukannya karena kondisi Karin yang sedang kurang fit. “Karin, I'm sorry. I really want you this night. I just broke my promise,” ucap Aryan dengan wajah penuh penyesalan.

Aryan segera bergerak menjauh dari Karin dan nampak menarik rambutnya kebelakang menggunakan satu tangannya, lelaki itu nampak terlihat agak frustasi.

“Sayang, maafin aku,” ucap Aryan sembari membantu Karin memasang kembali resleting gaun di tubuh wanitanya. Kemudian dengan gerakan cepat, Aryan menarik bed cover tebal di kasur, ia menyelimuti Karin dan memastikan istrinya berada dalam posisi yang nyaman.

“Hei, it's oke,” ucap Karin, ia merubah posisinya menyamping agar bisa sepenuhnya menatap Aryan. Karin mengulaskan senyum hangatnya, mengisyaratkan pada Aryan bahwa tidak ada yang patut disalahkan.

“Kak, sebenernya aku kepengen juga,” ucap Karin pelan.

Setelah mendengarnya, Aryan pun nampak tidak percaya. Sebelumnya Aryan berpikir bahwa istrinya sedang tidak ingin melakukannya.

“Tapi ada alasan kenapa sebaiknya kita nggak mgelakuin itu dulu,” ujar Karin lagi.

“Alasan? Kamu baru aja datang bulan, Sayang?” tanya Aryan.

Karin menggeleng. Wah, Aryan semakin dibuat bingung ketika Karin memintanya untuk menunggu. Karin lantas beranjak dari kasur dan mengambil sesuatu dari tas tangan hitamnya.

“Aku mau ngasih tau kamu sesuatu,” ucap Karin. Detik berikutnya, Karin menunjukkan dua buah benda panjang berukuran sedang di tangannya. Aryan mendapati bahwa itu adalah testpack, alat yang digunakan untuk melakukan tes kehamilan. Aryan segera melihat garis di alat itu dengan seksama. Ada dua garis berwarna merah di sana dan testpack yang satunya lagi menampilkan sebuah kata. 'Pregnant', itulah yang tertulis di layar kecilnya.

Aryan pun nampak terkejut, dua belah bibirnya sukses terbuka. “Sayang, ini beneran? Kamu hamil lagi?” tanya Aryan.

Sambil tersenyum bahagia, Karin segera menganggukkan kepala sebagai jawaban atas pertanyaan Aryan barusan.

“Hasil testpack-nya sih positif. Dari sebelum pernikahan Nayna, aku sempet nggak enak badan, aku pikir masuk angin biasa. Pas tadi di jalan, aku mual banget, akhirnya aku mutusin buat tes di toilet rest area. Makanya aku agak lama, itu aku nungguin hasil tesnya dulu,” ujar Karin panjang lebar. Karin juga menjelaskan bahwa ia sudah telat datang bulan hampir satu minggu. Biasanya siklus menstruasinya selalu datang tepat waktu.

Setelah mendengar semua penjelasan Karin, lalu tanpa aba-aba, Aryan segera merengkuh tubuh Karin ke dalam pelukannya. Kemudian Aryan juga menghujani kecupan lembut di beberapa area di wajah Karin. Terakhir, Aryan menyematkan sebuah kecupan di kening yang rasanya begitu bermakna bagi seorang perempuan untuk mendapatkan perlakuan tersebut.

Aryan lalu mengurai pelukan mereka, tangannya menangkup halus dua sisi wajah Karin. “Sayang, aku bahagia banget. Makasih ya,” ucap Aryan.

Karin mengulaskan senyum hangatnya, lantas ia mengusap tangan Aryan yang masih setia berada di sisi wajahnya. “Selamat ya Sayang. Beberapa bulan lagi, kamu akan jadi Papa dari empat anak.”

Aryan mengangguk sekali. “Besok kita kasih tau ke anak-anak kalau mereka akan punya adik lagi.”

“Oke.”

“Sekalian kita ke dokter kandungan juga, gimana Sayang? Kita harus pastiin keadaan dia di rahim kamu, kan?”

“Iya, boleh. Besok kita ke obgyn. Ohiya, beberapa bulan kamu harus puasa dulu lho, Kak. Kita nggak bisa berhubungan sementara,” ucap Karin begitu teringat akan hal tersebut.

Alright. It's totally oke, Sayang. I will take care of you, aku bisa cuti kerja kalau kamu butuh aku di samping kamu.”

***

Keesokan harinya …

Kebiasaan yang dilakukan para anak-anak ketika melihat orang tua mereka pulang ke rumah setelah pergi hanya berdua, dilakukan juga oleh ketiga anak mereka. Apalagi hari ini Aryan libur bekerja, hal itu semakin mengundang pertanyaan dari anak-anak mereka mengapa papa dan mama pergi berdua, tapi tidak mengajak ketiganya. Biasanya Aryan dan Karin dapat langsung menjawab, tapi kali ini tidak.

Boys, dengerin ya. Papa dan Mama punya kabar bahagia yang akan kita sampaikan ke kalian,” ucap Aryan memulai. Karin yang duduk di sampingnya hanya mengulaskan senyum misterius yang justru membuat ketiga anaknya semakin merasa penasaran.

“Oke, jadi gini. Kalian akan punya adik lagi,” Aryan menjeda ucapannya sesaat, ia menatap Karin lalu mengarahkan tangannya untuk mengusap perut istrinya yang masih rata itu. “Di perut Mama, sekarang ada adik. Papa sama Mama tadi baru ke dokter, dan dokter bilang kalau adik kalian di sini sehat,” sambung Aryan.

Mereka berlima kini saling melempar pandangan. Dari ketiga anak mereka, belum ada yang membuka suara untuk memberi tanggapan. Sampai akhirnya, Taura yang lebih dulu merespon kabar tersebut.

“Mama, Papa, aku nggak mau punya adik,” ujar Taura, bibirnya mencebik lucu.

“Lho Sayang, kenapa Nak? Kenapa Taura nggak ingin punya adik?” tanya Karin sambil mengusap sayang puncak kepala anak bungsunya itu.

Taura langsung bergerak untuk memeluk tubuh Karin. Ia seperti bayi kecil yang manja, tidak mau jauh dari mamanya. “I don’t like baby, Mama. Anak bayi butuh perhatian yang banyak. Mama harus lebih sayangin adik nanti kalau dia udah lahir. Taura nggak mau,” jelas Taura.

Karin dan Aryan akhirnya hanya tersenyum mendengar penuturan Taura. Kemudian Aryan membiarkan Karin yang memberi penjelasan pada si calon kakak yang paling kecil itu.

“Waktu itu, pas Taura masih kecil, Taura inget nggak, Mama perhatian dan sayangin Taura?”

Taura nampak berpikir sejenak, kemudian tidak lama anak lelaki itu menganggukkan kepalanya.

Sambil menatap anaknya penuh sayang, Karin berujar lagi, “Sayangnya Mama, dibagi rata ke semua anak-anak Mama. Taura anak yang hebat dan pintar, Taura paham kalau adik butuh kasih sayang dan perhatian lebih dari Mama. Tapi walaupun seperti itu, rasa sayang Mama ke Mas Svarga, Mas River, dan ke Taura, nggak akan berubah atau berkurang. Kita semua saling sayang. Taura sayang sama adik?”

“Aku sayang adik, Mama,” celetuk Svarga yang langsung membuat Taura langsung menoleh ke arah kakaknya.

“Aku juga sayang adik. Adiknya perempuan atau laki-laki Mah?” tanya River yang nampak begitu antusias.

“Belum tau perempuan atau laki-laki, Nak. Nanti kita cek lagi ya, kalau adiknya sudah agak besar. Oke?” ujar Aryan.

“Oke, Pah. Aku nggak sabar adiknya lahir, soalnya mau aku ajak main,” ujar River lagi.

Perlahan-lahan akhirnya Taura mengurai pelukannya di tubuh Karin. Taura menjauhkan wajahnya sedikit agar bisa menatap mata mamanya. “Mama, aku sayang adik juga,” ucap bocah itu akhirnya. Ucapan lembut Taura dan tatapan tulusnya, seketika mampu membuat Karin terenyuh.

Taura yang begitu penyayang membuat Karin yakin bahwa anaknya itu tidak mungkin bisa menolak calon adiknya. Sebenarnya hati Taura tulus menyayangi, tapi terkadang pikiran kritis dan jeniusnya sering mendominasi dan membuat bocah itu membutuhkan penjelasan atas pertanyaan-pertanyaan di dalam kepalanya.

“Iya, makasih ya, Mas. Mas Taura sayang sama adik ya,” ucap Karin lembut.

Lantas mereka semua di sana menyaksikan tingkah Taura dengan sebuah senyuman bahagia dan hati yang terasa menghangat.

“Mama, Papa, aku mau adiknya perempuan,” ucap Taura.

“Kenapa Sayang? Kok maunya perempuan?” tanya Aryan.

“Kakak laki-laki pasti lebih kuat buat jagain adik perempuan. Taura mau jagain adik,” jawab Taura.

Karin yang mendengarnya seketika tersenyum penuh haru. Kemudian Karin bergerak memberi kecupan di kedua pipi Taura. Setelah itu tatapannya bertemu dengan Aryan, suaminya juga tengah tersenyum terharu sama sepertinya. Apa yang Aryan dan Karin usahakan selama ini, rupanya telah berhasil. Mereka mendidik anak-anak mereka dengan kasih sayang dan memberi mereka ruang untuk menjadi diri sendiri, untuk bisa mengungkapkan perasaan mereka.

Kepribadian seorang anak, caranya berbicara, merupakan hasil didik dari orang tua yang berperan sangat besar. Aryan dan Karin bahagia, mereka berhasil mewujudkan cita-cita yang telah mereka bangun bersama sebelumnya. Cerita ini adalah cerita yang keduanya ingin tulis di halaman terakhir kisah mereka. Kisah yang di awal tidak terduga dan memberikan luka, tapi rupanya memiliki akhir yang begitu indah. Aryan dan Karin percaya, bahwa pada hakikatnya, jika Tuhan sudah menggariskan suatu takdir, tidak ada seorang pun yang dapat merubahnya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Tujuh tahun yang lalu, Nayna Harla Brodjohujodyo ada;ah perempuan yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang desainer terkenal. Terkenal yang dimaksud di sini yakni, Nayna ingin rancangan-rancangan bajunya bisa go international, dipakai oleh model-model hebat, dan dapat membanggakan nama negaranya di kancah fashion dunia.

Tepat saat Nayna ingin pergi untuk mencoba peruntungannya di Paris kala itu, seorang laki-laki datang kepadanya. Lelaki itu mengatakan bahwa ia akan menunggu Nayna meraih mimpinya. 2 tahun, 5 tahun, atau bahkan mungkin 10 tahun lagi, lelaki itu bersedia untuk menanti.

Meskipun harus terhalang oleh jarak yang begitu jauh dan keduanya belum memiliki komitmen apa pun pada saat itu, itikad baik lelaki itu yang yang meminta restu pada kedua orang tuanya, membuat hati Nayna akhirnya tergerak. Mereka pun menjalani Long Distance Relationship dan itu bukanlah hal yang mudah. Namun justru itu juga yang membuat Nayna akhirnya menyadari bahwa ia sungguh mencintai lelaki itu.

Tujuh tahun akhirnya berlalu dan Nayna berhasil sukses membawa nama Indonesia di Paris Fashion Week. Impiannya telah terwujud, deretan model internasional yang selama ini hanya ia kagumi lewat majalah dan program siaran televisi, kini Nayna dapat melihat mereka mengenakan desain miliknya.

Malam itu ketika Nayna kembali, selepas acara perayaan kesuksesannya bersama para desainer lain dan juga tentunya para model, Nayna dibuat terpaku di depan pintu apartemennya. Nayna mendapati sosok fameliar bertubuh jangkung itu berdiri tepat di hadapannya. Hatinya membuncah bahagia dan saat Nayna akan berjalan menghambur memeluk sosok itu, lelaki itu lebih dulu membawa torso Nayna untuk didekap hangat. Rasa rindu selama 7 tahun akhirnya terbayar sudah. Mereka berpelukan hangat dan Nayna ingat ia tidak ingin melepaskan pelukannya sampai lebih dari 5 menit, atau bahkan lebih dari itu. Entahlah. Yang jelas, Nayna begitu bahagia malam itu.

I have something special for you,” ucap lelaki itu, ia mengeluarkan sesuatu dari kantung leather jacket-nya.

Detik berikutnya, Nayna dapat melihat sebuah kotak beludru merah. Ketika lelaki itu membuka kotaknya, nampak sebuah cincin bermata berlian yang begitu cantik dan menawan di dalam sana.

Nayna tidak sanggup berkata-kata, air matanya pun meluruh sempurna begitu melihat lelaki yang dicintainya berlutut di hadapannya dan mengatakan padanya, “Nayna Harla Brodjohujodyo, I want to take you to be my wife, my life partner, and a mother for our kids in future. With all my excess and lack, please marry with me.”

Is not a question?” tanya Nayna kemudian.

Lelaki itu segera mengangguk, “Yes, Baby, it's not a questuon. You don’t have an options to chose.”

Lelaki itu memang selalu memiliki cara yang berbeda. Berikutnya Nayna pun mengulaskan senyum lebarnya dan mengatakannya dengan segenap hati. Nayna mengatakan bahwa ia bersedia, memberikan dirinya untuk lelaki itu. Nayna bersedia menghabiskan sisa waktunya bersama lelaki itu, karena ia tidak memiliki pilihan, dan sejak awal lelaki itu tidak membiarkannya memilih. Tugas lelaki itu adalah membuat Nayna tidak bisa memilih, hingga akhirnya dengan hati yang tulus, Nayna bersedia menjadikan lelaki itu pacar pertama dan terakhirnya.

Now you are officially my ex, Babe,” ujar lelaki itu sembari menyunggingkan senyum tampannya.

What? So I'm your ex girlfriend?” tanya Nayna.

Yes. Because as soon as possible, you will be my wife, and you will take my last name. Do you?”

Sambil menatap lelaki di hadapannya dengan penuh cinta, Nayna mengatakannya, “Yes, I do.”

***

Menikahkan anak perempuan satu-satunya, rupanya dapat menghadirkan perasaan yang berbeda di hati seorang ayah, dibandingkan menikahkan seorang anak laki-laki. Ketika seorang ayah menikahkan anak perempuan, rasanya seperti melepas seseorang yang sebelumnya adalah milikmu, dan kamu akan melepasnya untuk pria lain.

Sebentar lagi acara pemberkatan akan dimulai. Dengan perasaan sedikit gugup, Aryo menatap pintu ganda berpelitur jati coklat di hadapannya. Aryo menghela napasnya, lalu menghembuskannya perlahan. Akhirnya setelah terdiam beberapa detik di sana, tangannya terangkat untuk mengetuk pintu itu sebanyak dua kali.

Saat pintu akhirnya terbuka, dari jarak yang tidak jauh dari tempatnya, Aryo dapat menangkap sosok putrinya yang hari ini nampak begitu cantik. Nayna terlihat anggun balutan gaun putih backless yang membalut tubuh rampingnya. Nayna Harla, bayi perempuan yang 29 tahun lalu lahir ke dunia dan pertama kali menggenggam tangannya, kini telah berubah menjadi wanita dewasa yang sesaat lagi akan menggenggam tangan lelaki lain.

“Hai, princess-nya Papa,” ucap Aryo ketika langkahnya sudah sampai di hadapan Nayna.

Nayna lantas menatap papanya dengan pandangan terharu. Kedua mata Nayna nampak berkaca-kaca, membuat Aryo jadi sedikit panik mendapati putrinya akan menangis.

Don’t ruined your makeup, Princess. Today you’re look very beautiful and stunning,” Aryo menjeda ucapannya sesaat. Masih menatap Nayna dengan tatapan sayangnya, pria berusia 60 tahunan itu berujar lagi, “Papa akan gandeng tangan kamu untuk jalan di altar dan menyerahkan kamu kepada lelaki pilihanmu. Papa selalu berharap agar kamu bahagia, Nak. It's not easy to let you go, but I knew I should*.”

Nayna mengangguk pelan, lalu ia mengulaskan senyum kecilnya untuk Aryo. “Pah, you are still be my best man. Terima kasih telah menjadi papa yang hebat buat Nayna. I’m still gonna be your little daughter, Pah,” ucap Nayna dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Alright. You’re too, Princess. You are an amazing and wonderful daughter for me. Terima kasih karena telah menjadi putri Papa.”

***

Para hadirin yang datang dan duduk memenuhi kursi di gedung tersebut, nampak sudah siap menyaksikan dengan begitu seksama acara pernikahan yang sebentar lagi akan berlangsung itu. Sebuah pintu ganda terbuka dan para bridesmaid memasuki gedung, berbaris rapih di kanan dan kiri red carpet, menandakan bahwa sebentar lagi sang mempelai wanita juga akan memasuki altar.

Di salah satu deretan kursi khusus keluarga inti, tampak dua sejoli yang begitu fameliar di sana. Aryan dan Karin, mereka hadir bersama ketiga anak mereka. Di samping mereka ada mamanya dan para tantenya yang hari ini juga menghadiri hari penting Nayna.

Karin yang duduk di samping kiri Aryan, mengikuti fokus penglihatan suaminya. Rupanya Aryan melihat ke arah lelaki yang akan menjadi suami Nayna sebentar lagi. Lelaki itu menatap lurus ke arah Nayna yang kini tengah berjalan menuju altar. Karin dan Aryan menyaksikan itu bersamaan, calon suami Nayna nampak berkaca-kaca. Kemudian detik berikutnya, nampak derai airmata yang terasa tidak lagi dapat terbendung.

“Sayang,” bisik Aryan pelan sembari mencondongkan tubuhnya lebih dekat ke arah Karin.

“Kenapa?” tanya Karin.

“Aku iri, aku nggak nangis waktu liat kamu jalan ke altar,” cetus Aryan masih berbisik.

Selama dua detik setelah Aryan mengucapkannya, Karin hanya diam saja. Ia tidak heran lagi akan sikap agak kekanak-kanakan suaminya itu kalau di depannya. Namun di tengah situasi mengharukan ini, bisa-bisanya suaminya itu memikirkan hal yang bahkan sama sekali tidak terlintas di benaknya.

Karin lantas menoleh ke arah Aryan, “Ada-ada aja sih kamu, anak udah 3 padahal,” ujarnya diiringi sebuah tawa pelan.

Kalau dipikir-pikir memang cukup menyakitkan. Ada momen-momen penting yang harusnya Aryan dan Karin lewatkan sebagai sepasang kekasih. Menyaksikan pernikahan Nayna hari ini, rasanya seperti dejavu 11 tahun lalu saat pernikahan Aryan dan Karin. Namun saat Aryan menelaah kembali, walaupun ia tidak menangis waktu Karin berjalan di altar, ada yang yang lebih penting, yakni apa yang mereka jalan saat ini. Mereka telah hidup bahagia dengan anak-anak mereka. Masa lalu biarlah ada untuk disimpan. Boleh sesekali diingat, tapi hanya untuk dijadikan cerita yang kadang bisa menggelitik perut kalau tidak sengaja teringat.

Saat akhirnya serangkaian acara pemberkatan telah selesai, Aryan mendapati papanya kembali ke deretan kursi khusus keluarga, mengambil tempat di samping mamanya. Papanya terlihat habis menangis, matanya nampak memerah.

Tiba saatnya sesi untuk pengantin berciuman, Aryan dan Karin meminta anak-anak mereka untuk menutup mata. Adegan ini cukup dewasa dan belajar dari pengalaman, Aryan tidak ingin anaknya dewasa lebih dulu karena pengaruh lingkungan sekitar. Selama ini Aryan berusaha tidak kelepasan saat mencium Karin, mereka bahkan mengunci kamar agar anak-anak dipastikan tidak menonton orang tuanya.

Boys, ayo tutup mata kalian. Ada adegan orang dewasa di depan altar,” ujar Aryan pada ketiga anak lelakinya. Mereka pun menurut. Meskipun Svarga si paling besar sudah sedikit mengerti, anak lelaki itu tetap mematuhi perkataan orang tuanya. Begitu juga dengan River, anak keduanya itu telah begitu pintar karena diajari oleh Svarga.

Karin yang posisinya dekat dengan Taura, anaknya yang paling kecil, mengarahkan tangannya di depan mata Taura dan membantu menutupinya. Bocah itu bertanya dua kali pada Karin mengapa ia harus menutup mata. Lantas Aryan yang menjelaskannya kepada Taura.

“Taura, semua hal di dunia punya aturannya masing-masing, Nak. Nanti kalau Taura sudah makin besar, Papa akan jelaskan lebih jauh biar Taura paham ya,” tutur Aryan.

Anaknya yang paling kecil ini memang cukup kritis untuk ukuran anak seusianya. Kadang Aryan maupun Karin seringkali kualahan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan oleh Taura. Tentunya anak kecil dan orang dewasa memiliki kemampuan pemahaman yang berbeda. Menjadi orang tua, membuat Aryan dan Karin belajar begitu banyak hal. Aryan dan Karin harus belajar lebih dulu dan benar-benar paham, untuk kemudian memberi pengertian pada anak-anak mereka.

***

Setelah acara pemberkatan, di sisi barat gedung tersebut, para tamu dipersilakan untuk memberi ucapan selamat kepada pengantin di pelaminan. Aryan dan Karin serta ketiga anak mereka turut serta di sana. Mereka sempat melakukan sesi foto khusus untuk keluarga inti. Selepas itu, baru lah sesi pemberian selamat.

“Nay, selamat ya,” ucap Karin pada Nayna. Adik iparnya itu segera memeluk Karin dan mengucapkan terima kasih.

“Kak, bagi tips malam pertama dong,” bisik Nayna begitu pelan.

“Nanti chat aja atau telfon, aku online buat kamu tanya-tanyain. Oke?” balas Karin memberi arahan pada Nayna.

“Siap Kak, makasih banyak ya Kak.”

Kemudian kedua perempuan itu sama-sama terkikik sekilas. Sementara di waktu yang sama, Aryan tengah menghampiri lelaki yang kini resmi menjadi adik iparnya itu. Aryan memeluk lelaki itu dan mengatakan sesuatu, “Congrats, Bro. Lo bener-bener memenangkan hati Nayna dan juga keluarga gue. Pastiin lo bahagiain dia, kalau nggak, artinya lo akan berurusan sama bokap gue, habis itu lo juga akan berurusan sama gue.”

Setelah mengucapkan itu, pelukan khas ala pria yang dilakukan keduanya pun terurai. Aryan mengulaskan senyumnya yang dibalas senyuman simpul di wajah oriental suami adiknya itu.

“Sesuai janji gue sama lo di awal, gue akan bahagiain Nayna. Gue udah berjanji di hadapan Tuhan, gue nggak ingin mengingkari janji itu dan jadi umat yang nggak taat.”

Aryan lantas menepuk pundak lelaki itu sekali. Siapa pun bisa berubah lebih baik karena hadirnya cinta. Kini itu sungguh terasa nyata dan Aryan sangat mempercayainya.

***

Tiba saatnya mencapai puncak acara, ada acara dansa yang memang sudah direncanakan. Konsep dansa yang sangat santai dan modern itu adalah keinginan dari sang mempelai wanita. Nayna mengatakan ingin berdansa bersama tamu-tamunya, jadi tidak ada gap antara pengantin dan semua hadirin. This party belongs to all people that attend this night, begitulah slogan acaranya.

Namun tanpa sepengatahuan dari Nayna, di sebuah layar besar tepat di samping orkestra musik, suaminya telah menyiapkan sebuah surprise untuknya. Begitu Nayna melihat ke layar itu, di sana tampak sebuah video yang menampilkan slide foto-foto kebersamaan keduanya dan ada potret-potret candid Nayna yang diam-diam lelaki itu ambil. Nayna sungguh merasa terharu. Nayna benar-benar dapat merasakan bahwa William sungguh mencintainya sedalam ini.

William Danendra, pria yang hari ini telah resmi Nayna nikahi, menatapnya dengan tatapan penuh cinta di hadapan ratusan tamu yang hadir. Para tamu juga menatap ke arah mereka, menyaksikan dua sejoli yang mulai berdansa dengan iringan alunan musik yang begitu indah. Tidak ingin kalah dengan pasangan itu, beberapa tamu mulai ikut melakukan dansa. Dari mulai para muda mudi, para tetua yang berpasangan pun juga ikut berdansa dengan begitu mesra.

Begitu beberapa menit acara dansa itu berlangsung, terdengar intro lagu Line Without A Hook, itu merupakan lagu kesukaan Nayna. Nayna ingat ia pernah mengatakan pada William bahwa lagu tersebut sangat menggambarkan perjuangan cinta keduanya. Bukan hanya William yang berjuang meyakinkan Nayna bahwa ia sungguh-sungguh mencintai gadis itu. Namun seperti dalam lagu yang mengatakan bahwa seseorang akan hancur tanpa kekasih hatinya, begitulah Nayna saat dirinya tanpa William. Sedangkan bagi William, ia adalah lelaki biasa yang memiliki banyak kekurangan, tapi Nayna memberinya kesempatan untuk berubah menjadi pria yang pantas untuknya. Sampai hari itu tiba, Nayna yang sudah yakin pada William, rela memberikan dirinya untuk lelaki itu.

Di antara tamu-tamu yang berdansa, Aryan dan Karin juga ada di sana, mereka tidak ingin melewatkannya. Sebagai pasangan, mereka juga ingin menikmati waktu ini. Saat masih berdansa diiringi lagu Line Without a Hook yang terdengar begitu merdu, Aryan mengatakan sesuatu pada Karin. “Karina Titania Roland, saya Aryan Sakha Brodjohujodyo, mengambil kamu untuk menjadi istri saya. Untuk saling memiliki dan menjaga, dari sekarang sampai selama-lamanya. Di saat sehat maupun sakit, di saat senang mau pun susah. Saya mencintai kamu dan berjanji di hadapan Tuhan bahwa hanya kamu satu-satunya wanita yang ada di hidup saya, yang akan saya berikan seluruh cinta yang saya miliki.”

Random sekali memang kelakuan Aryan barusan. Namun mau tidak mau, Karin pun dibuat tersenyum karenanya. Aryan mengatakan bahwa ia ingin mengucapkannya karena dulu ia tidak mengatakannya dengan sepenuh hati. Aryan ingin mengulag adegan tersebut dan membuat memori yang indah untuk mereka.

Sesaat kemudian, Karin bergerak meletakkan kedua lengannya untuk melingkar di bahu Aryan. Sambil menatap lelakinya dengan tatapan penuh cinta, Karin pun berujar, “Saya Karina Titania Roland, bersedia menerima kamu Aryan Sakha Brodjohujodyo, untuk menjadi suami saya. Saya mencintai kamu di saat senang maupun susah, di saat sakit maupun sehat. Saya berjanji di hadapan Tuhan, kamu adalah satu-satunya cinta di hidup saya.”

Usai Karin mengucapkan kalimatnya, tanpa aba-aba apapun, Aryan bergerak perlahan mencium bibir Karin. Karin merasakan sesuatu lembut dan kenyal itu tengah mengulum bibirnya dengan lumayan dalam. Otomatis rangkulan Karin di bahu Aryan mengerat, bahkan Karin sedikit berjinjit untuk dapat menyamai tinggi suaminya.

Di antara pasangan lain yang berdansa, rupanya hanya Aryan dan Karin yang melakukan ciuman. Dunia seolah berhenti berputar sesaat, Aryan dan Karin menjadi pemiliknya untuk beberapa detik.

Saat akhirnya pagutan mereka terurai, Karin lekas bertanya kepada Aryan, “Kalau kita punya anak lagi gimana, Kak? Kamu mau?”

Aryan lekas menjawab, “Bagus dong, Sayang. Anak itu kan anugerah,” ujarnya. Aryan mengatakan bahwa ia akan bekerja lebih keras lagi agar bisa mencukupi kehidupan mereka kelak. Aryan akan lebih semangat bekerja jika mereka punya anak lagi, ada motivasi untuknya membahagiakan istri dan anak-anaknya.

“Sayang, dengerin aku. Aku sih seneng banget kalau kita punya anak lagi. Tapi yang hamil dan melahirkan kan kamu, jadi aku akan menyerahkan keputusannya di kamu. Masih ada KB sama pengaman, kalau emang kamu merasa kita udah cukup dengan tiga anak.”

Karin pun mengangguk setuju pada akhirnya. Mereka spontan mengulaskan senyum, seperti anak ABG yang baru pacaran, padahal sudah 11 tahun usia pernikahan keduanya. Saat mereka akan berpelukan sambil kembali berciuman, suasana mesra itu terpecahkan begitu saja oleh kedatangan ketiga anak mereka.

Aryan dan Karin lantas sedikit menjauh dan melemparkan tatapan canggung di hadapan anak-anak.

“Papa sama Mama mau ngapain barusan?” celetuk Taura yang ceplas ceplos. Anaknya yang satu itu memang paling beda, sepertinya Karin kelebihan nutrisi waktu mengandung Taura.

“Barusan itu adalah tanda sayangnya Papa ke Mama, Nak. Tapi cuma boleh dilakukan jika sudah menikah. Contoh lainnya kayak aunty Nay dan Om Willy di altar tadi,” jelas Aryan.

“Papa kiss Mama doang?” tanya Taura lagi.

“Iya dong, kan Mama istrinya Papa. Kalau Papa kiss perempuan lain, Mama bisa marah. Papa akan berdosa juga, Sayang,” ujar Aryan.

“Papa, I want to marry Mama. Because I love her so much,” sela River tiba-tiba. Anak keduanya itu lantas mendekat pada Karin dan menggenggam tangan mamanya dengan posesif.

Aryan pun tersenyum sekilas, lalu ia memberi pengertian pada River. “You couldn’t marry Mama, River. Mama adalah istri Papa. Suatu hari, kamu akan bertemu perempuan baik yang kamu cintai, kamu akan menikahinya. Oke?”

Melihat kelakukan Aryan dan anak-anak mereka, Karin hanya dapat tersenyum maklum. Setiap hari ia sudah kenyang mengkonsumsi obrolan dari yang paling receh sampai yang paling jenius antara bapak dan anak itu.

Kemudian Aryan memiliki ide jahil, ia meminta anak-anak untuk nutup mata. Aryan mengatakan bahwa dirinya akan mencium Karin lagi. Anak-anaknya hanya menurut. Namun ketika Aryan hendak mencium Karin, Svarga si sulung yang paling cerdik itu langsung menarik tangan mamanya untuk menjauh dari Aryan. Aryan yang mendapati itu, segera memberi komandan kepada River dan Taura untuk menyusul Svarga dan Karin.

“Mama kita diculik sama Mas Svarga. Kita harus selamatin Mama, let’s go boys, we should get Mama back,” seru Aryan yang langsung diangguki oleh si polos River dan si kritis Taura.

Potret keluarga itu nampak begitu indah untuk dilihat. Aryan dapat menjadi layaknya seorang teman untuk anak-anaknya. Mereka sering bercanda dan bermain bersama. Ada waktunya untuk serius, dan ada waktunya bersenang-senang. Sementara Karin menjadi idola bagi ketiga anaknya, mereka begitu menyayangi dan menghormati sosok mamanya. Hal tersebut tentunya tidak terbentuk begitu saja, tapi banyak juga yang Karin dan Aryan lakukan untuk mendidik anak-anak mereka. Selain itu Aryan memberi andil yang cukup besar, perilaku Aryan yang menyayangi dan menghormati Karin di depan anak-anak mereka, membuat anak-anak dengan mudah menirunya. Karin begitu disayang oleh empat lelaki yang juga sangat ia sayangi dalam hidupnya. Karin dan Aryan telah sepakat untuk mendidik anak-anak mereka untuk menjadi diri mereka sendiri. Bukan menjadi sosok manusia baru yang mereka inginkan.

Svarga si paling penyayang namun sedikit jahil, River si manja dan sangat jujur terhadap perasaannya, serta Taura si paling kritis dan jenius. Anak-anak mereka unik, berharga, dan punya kelebihannya masing-masing. Aryan dan Karin mencintai anak-anak mereka dengan semua yang ada di diri mereka. Hadirnya Svarga, River, dan Taura, telah membuat Aryan dan Karin merasa begitu bahagia dan lengkap.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Suasana sore ini nampak begitu cerah. Gumpalan awan putih berpadu cantik dengan langit biru yang indah. Namun keadaan tersebut rupanya berbanding terbalik dengan suasana hati Catherine saat ini. Hatinya terasa campur aduk. Catherine sadar perlakuannya Karin di masa lalu terasa tidak benar.

Selesai acara arisan yang didatangi oleh Catherine, kini wanita berusia 60 tahunan itu tengah berada di mobil bersama anak lelakinya. Rey, anak keduanya yang menjemputnya dari acara tersebut. Tiba-tiba saja Catherine menoleh pada Rey dan menanyakan satu hal yang membuat Rey langsung terdiam. Rey tidak langsung menjawab pertanyaan mamanya itu, lebih tepatnya ia memang tidak memiliki jawabannya.

“Kakak kamu udah nikah dan punya dua anak. Mama udah tua Sayang, Mama juga ingin lihat kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu,” tutur Catherine lagi. Catherine baru saja menanyakan pada Rey soal kapan anak keduanya itu akan menikah. Catherine merasa bahwa usia Rey sudah sangat matang dan ia juga mengatakan ingin melihat Rey ada yang mengurus dan memperhatikannya.

Tidak kunjung mendapat jawaban dari anaknya, Catherine akhirnya kelepasan mengungkit masa lalu antara Rey dan Karin. “Apa karena kamu belum bisa melupakan perempuan itu, kamu tidak mau membuka hati untuk perempuan lain? Kamu terlalu menutup diri semenjak perpisahan kamu dan Karin,” ujar Catherine. Satu hal yang rupanya Catherine tidak ketahui, perkataannya tersebut telah begitu menghancurkan hati anaknya sendiri.

Rey yang sebelumnya masih berusaha menahan semuanya, pada akhirnya tidak sanggup lagi. Selama bertahun-tahun lelaki itu telah memendamnya dan mungkin ini saatnya ia akan mengungkapkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya.

“Mah, tolong berhenti lakuin semua ini,” ucap Rey, lelaki itu menghembuskan napasnya yang terdengar berat.

“Tanpa mama sadar, bertahun-tahun perilaku Mama yang selalu nuntut Rey ini dan itu, untuk bisa sama seperti kakak dari segi pretasi maupun karir, semua itu bikin Rey nggak nyaman Mah,” ungkap Rey sambil menatap Catherine dengan tatapan penuh lukanya.

Rey menjeda ucapannya sambil berusaha mengatur napasnya yang terasa naik turun. Dadanya sesak, seperti ada benda besar yang menghantamnya di sana. Rey tidak ingin menyalahkan keadaan, tapi terkadang sebagian besar yang dialami seseorang adalah hasil yang didapatkannya dari lingkungan sekitarnya. Sebagai anak kedua, Rey memang selalu lebih diprioritaskan oleh orang tuanya. Namun itu setara dengan apa yang ia tuai. Rey selalu dibandingkan dengan kakaknya, dituntut untuk bisa dalam segala hal. Mungkin itu yang membuat Rey sering merasa kurang percaya diri, padahal sebenarnya ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Mendapati perkataan Rey yang tiba-tiba itu, Catherine pun nampak begitu shock. Ia tidak percaya bahwa anak yang selama ini begitu patuh padanya, kini melontarkan kata-kata yang terasa menyakiti hatinya. Catherine terdiam tanpa bisa mengucapkan apapun, sampai akhirnya Rey kembali mengutarakan kalimatnya.

“Kalau aja Mama nggak minta Karin pergi dari hidup Rey, mungkin cita-cita Mama buat ngeliat Rey punya keluarga sendiri udah terwujud.”

Catherine menghela napasnya panjang, kemudian wanita itu berujar, “Sekalipun mama nggak minta dia pergi dari hidup kamu, dia akan tetap memilih lelaki itu, Rey. Nggak semua bisa kamu paksakan, kamu harus menerima takdir ini.”

Rey terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya sadar bahwa apa yang dikatakan mamanya itu ada benarnya. Sudah lima tahun berlalu, tapi Rey masih belum bisa move on dan melupakan sosok Karin. Rasanya begitu sulit membuka hati untuk orang baru di dalam hidupnya. Karin adalah cinta terindah yang pernah singgah di hati Rey dan begitu membekas. Namun lagi dan lagi, kenyataan yang terjadi terasa sangat pahit, saat takdir tidak memihak pada apa yang kita kehendaki.

“Rey, dia udah bahagia sama pilihannya. Mama barusan ketemu sama Karin dan keluarga lelaki itu. Mertuanya Karin adalah salah satu teman arisan Mama. Mungkin mertuanya Karin memang bangga sama Karin, tapi bisa aja itu terjadi karena dari awal anaknya udah ada hubungan sama Karin. Kadang apa yang kita lihat, kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya ada di balik semua itu kan.”

Catherine memang merasa bersalah dan begitu berdosa, tapi ego rupanya masih begitu mendominasi dirinya. Catherine percaya bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuk anaknya.

“Iya, Mama memang nggak pernah tau, Mah,” ucap Rey.

“Maksud kamu apa Rey?” tanya Catherine nampak tidak mengerti.

“Mama nggak pernah tau, tapi Mama selalu membuat asumsi sendiri. Karin perempuan yang terhormat dan dia nggak pernah selingkuh dari Rey, Mah. Karin dijebak malam itu,” Rey menjeda ucapannya, lelaki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan pada Catherine sebuah judul berita di layar ponsel itu.

Catherine membaca berita yang rupanya telah ramai menjadi perbincangan dan menuai ribuan komentar dari para pengguna internet. Selain itu, Rey juga menunjukkan karir Karin yang kini tengah sukses di dunia modelnya.

Meski sedang mengandung anak kedua, model cantik Karina Roland tetap menerima banyak tawaran job fashion show. Project yang paling bernilai tinggi miliknya adalah Paris Fashion Week yang akan diadakan Desember tahun ini.

Project PFW tersebut belum mendapat dikonfirmasi dari pihak Karina. Namun para penggemar Karina yang antusias, sangat berharap idola mereka dapat menghadiri pagelaran fashion ternama tersebut.

Usai membaca berita tersebut, Catherine kembali menyerahkan ponsel di tangannya kepada Rey. Sebelum Rey hendak menjalankan mobilnya, lelaki itu kembali mengatakan satu hal pada mamanya. “Mama hanya menilai seseorang dari apa yang terjadi dan bahkan belum bisa dipastikan kebenarannya. Rasanya itu nggak adil dan dalam pemikiran Rey, itu semua kurang benar, Mah. Karina adalah perempuan yang baik dan hebat, Mama sekarang udah tau kan. Jadi Rey pikir, pantas aja kalau mertuanya Karin sayang dan bangga banget sama dia.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Suasana sore ini nampak begitu cerah. Gumpalan awan putih berpadu cantik dengan langit biru yang indah. Namun keadaan tersebut rupanya berbanding terbalik dengan suasana hati Catherine saat ini. Hatinya terasa campur aduk. Catherine sadar perlakuannya Karin di masa lalu terasa tidak benar.

Selesai acara arisan yang didatangi oleh Catherine, kini wanita berusia 60 tahunan itu tengah berada di mobil bersama anak lelakinya. Rey, anak keduanya yang menjemputnya dari acara tersebut. Tiba-tiba saja Catherine menoleh pada Rey dan menanyakan satu hal yang membuat Rey seketika terdiam. Rey belum bisa memberikan jawaban atas pertanyaan mamanya itu.

“Kakak kamu udah nikah dan punya dua anak. Mama udah tua Sayang, Mama juga ingin lihat kamu bahagia dengan keluarga kecil kamu,” tutur Catherine lagi. Catherine baru saja menanyakan pada Rey soal kapan anak keduanya itu akan menikah. Catherine merasa bahwa usia Rey sudah sangat matang dan ia juga mengatakan ingin melihat Rey ada yang mengurus dan memperhatikannya.

Tidak kunjung mendapat jawaban dari anaknya, Catherine akhirnya kelepasan mengungkit masa lalu antara Rey dan Karin. “Apa karena kamu belum bisa melupakan perempuan itu, kamu tidak mau membuka hati untuk perempuan lain? Kamu terlalu menutup diri semenjak perpisahan kamu dan Karin,” ujar Catherine. Satu hal yang rupanya Catherine tidak ketahui, perkataannya tersebut telah begitu menghancurkan hati anaknya sendiri.

Rey yang sebelumnya masih berusaha menahan semuanya, pada akhirnya tidak sanggup lagi. Selama bertahun-tahun lelaki itu telah memendamnya dan mungkin ini saatnya ia akan mengungkapkan semua unek-unek yang mengganjal di hatinya.

“Mah, tolong berhenti lakuin semua ini,” ucap Rey, lelaki itu menghembuskan napasnya yang terdengar berat.

“Tanpa mama sadar, bertahun-tahun perilaku Mama yang selalu nuntut Rey ini dan itu, untuk bisa sama seperti kakak dari segi pretasi maupun karir, semua itu bikin Rey nggak nyaman Mah,” ungkap Rey sambil menatap Catherine dengan tatapan penuh lukanya.

Rey menjeda ucapannya sambil berusaha mengatur napasnya yang terasa naik turun. Dadanya sesak, seperti ada benda besar yang menghantamnya di sana. Rey tidak ingin menyalahkan keadaan, tapi terkadang sebagian besar yang dialami seseorang adalah hasil yang didapatkannya dari lingkungan sekitarnya. Sebagai anak kedua, Rey memang selalu lebih diprioritaskan oleh orang tuanya. Namun itu setara dengan apa yang ia tuai. Rey selalu dibandingkan dengan kakaknya, dituntut untuk bisa dalam segala hal. Mungkin itu yang membuat Rey sering merasa kurang percaya diri, padahal sebenarnya ia sudah melakukan yang terbaik yang bisa ia lakukan.

Mendapati perkataan Rey yang tiba-tiba itu, Catherine pun nampak begitu shock. Ia tidak percaya bahwa anak yang selama ini begitu patuh padanya, kini melontarkan kata-kata yang terasa menyakiti hatinya. Catherine terdiam tanpa bisa mengucapkan apapun, sampai akhirnya Rey kembali mengutarakan kalimatnya.

“Kalau aja Mama nggak minta Karin pergi dari hidup Rey, mungkin cita-cita Mama buat ngeliat Rey punya keluarga sendiri udah terwujud.”

Catherine menghela napasnya panjang, kemudian wanita itu berujar, “Sekalipun mama nggak minta dia pergi dari hidup kamu, dia akan tetap memilih lelaki itu, Rey. Nggak semua bisa kamu paksakan, kamu harus menerima takdir ini.”

Rey terdiam selama beberapa saat, ia akhirnya sadar bahwa apa yang dikatakan mamanya itu ada benarnya. Sudah lima tahun berlalu, tapi Rey masih belum bisa move on dan melupakan sosok Karin. Rasanya begitu sulit membuka hati untuk orang baru di dalam hidupnya. Karin adalah cinta terindah yang pernah singgah di hati Rey dan begitu membekas. Namun lagi dan lagi, kenyataan yang terjadi terasa sangat pahit, saat takdir tidak memihak pada apa yang kita kehendaki.

“Rey, dia udah bahagia sama pilihannya. Mama barusan ketemu sama Karin dan keluarga lelaki itu. Mertuanya Karin adalah salah satu teman arisan Mama. Mungkin mertuanya Karin memang bangga sama Karin, tapi bisa aja itu terjadi karena dari awal anaknya udah ada hubungan sama Karin. Kadang apa yang kita lihat, kita nggak pernah tau apa yang sebenarnya ada di balik semua itu kan.”

Catherine memang merasa bersalah dan begitu berdosa, tapi ego rupanya masih begitu mendominasi dirinya. Catherine percaya bahwa keputusannya adalah yang terbaik untuk anaknya.

“Iya, Mama memang nggak pernah tau, Mah,” ucap Rey.

“Maksud kamu apa Rey?” tanya Catherine nampak tidak mengerti.

“Mama nggak pernah tau, tapi Mama selalu membuat asumsi sendiri. Karin perempuan yang terhormat dan dia nggak pernah selingkuh dari Rey, Mah. Karin dijebak malam itu,” Rey menjeda ucapannya, lelaki itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan menunjukkan pada Catherine sebuah judul berita di layar ponsel itu.

Catherine membaca berita yang rupanya telah ramai menjadi perbincangan dan menuai ribuan komentar dari para pengguna internet. Selain itu, Rey juga menunjukkan karir Karin yang kini tengah sukses di dunia modelnya.

Meski sedang mengandung anak kedua, model cantik Karina Roland tetap menerima banyak tawaran job fashion show. Project yang paling bernilai tinggi miliknya adalah Paris Fashion Week yang akan diadakan Desember tahun ini.

Project PFW tersebut belum mendapat dikonfirmasi dari pihak Karina. Namun para penggemar Karina yang antusias, sangat berharap idola mereka dapat menghadiri pagelaran fashion ternama tersebut.

Usai membaca berita tersebut, Catherine kembali menyerahkan ponsel di tangannya kepada Rey. Sebelum Rey hendak menjalankan mobilnya, lelaki itu kembali mengatakan satu hal pada mamanya. “Mama hanya menilai seseorang dari apa yang terjadi dan bahkan belum bisa dipastikan kebenarannya. Rasanya itu nggak adil dan dalam pemikiran Rey, itu semua kurang benar, Mah. Karina adalah perempuan yang baik dan hebat, Mama sekarang udah tau kan. Jadi Rey pikir, pantas aja kalau mertuanya Karin sayang dan bangga banget sama dia.”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Menantu dan Istri Idaman

Siang itu di sebuah restoran bergaya eropa klasik, diadakan sebuah acara pertemuan untuk arisan para ibu-ibu. Di dalam grup tersebut, masing-masing mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Acara kali ini terlihat cukup unik karena beberapa tidak datang sendiri, ada yang mengajak cucu mereka ke sana. Acara pertama pun dibuka dengan sesi makan-makan, lalu dilanjut dengan sesi undian nama untuk mengetahui yang siapa yang mendapatkan arisan bulan ini.

Setiap bulan, nama yang keluar berhak mendapatkan uang senilai 120 juta. Jumlah yang bisa dibilang sangat fantastis dengan hanya anggota grup yang berjumlah 8 orang. Hal tersebut tentu didasari oleh para anggota dengan latar belakang pendapatan bulanan di atas rata-rata. Grup arisan wanita tersebut terdiri dari wanita karir yang sukses, istri seorang pejabat negara, pilot, bahkan abdi negara. Bahkan ada yang hanya tinggal duduk di rumah dan uang bulanan dari suami sudah sangat lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan yang berkecukupan.

Sekitar pukul 3 sore, acara tersebut akhirnya selesai. Satu persatu ibu-ibu di sana mulai berpamitan untuk pulang. Tampak beberapa mobil mewah yang menjemput mereka dengan seorang supir pribadi atau suami yang berpenampilan rapi dan terkesan elit, rata-rata yang terlihat adalah seperti itu.

“Jeng Tiara, ini siapa? Cucunya ya? Ganteng banget Jeng,” ujar seorang wanita dengan lipstick merah yang terpoles di bibirnya. Masih ada sesi berpamitan dan foto-foto untuk mengabadikan momen di sana, jadi acara tersebut belum sepenuhnya selesai.

“Iya, Jeng. Kenalin, ini cucu pertamaku. Aku culik dulu hari ini dari mama sama papanya,” ucap Tiara sambil dengan lembut meminta cucunya untuk menyalami teman satu grup arisannya itu.

“Ayo Nak, salam dulu sama teman Oma,” tutur Tiara kemudian. Lantas anak lelaki berusia 4 tahun di sampingnya itu segera mengulurkan tangan, menyalami perempuan yangterlihat berusia tidak jauh dari omanya tersebut.

“Emang papa sama mamanya ke mana, Jeng?” tanya perempuan itu lagi setelah sekilas mengusap kepala si anak lelaki yang merupakan cucu temannya.

“Papanya lagi kerja, mamanya juga kebetulan ada kerjaan hari ini,” jelas Tiara yang langsung diangguki oleh temannya.

Weekend begini masih kerja Jeng? Wah keren ya, sukses selalu ya Jeng buat anak dan menantunya.”

“Makasih yaa, Jeng. Ini malah untung mama papanya pada kerja, jadi omanya bisa ngajak cucu. Kebetulan sore ini kerjaannya udah selesai, habis ini katanya mau jemput ke sini,” jelas Tiara lagi.

Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba anak lelaki di samping Tiara itu berujar padanya, “Oma, itu Papa sama Mama udah dateng jemput kita.” Seketika Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Svarga, cucunya. Benar saja, jarak beberapa ratus meter dari posisi mereka, nampak dua sosok yang begitu fameliar berjalan menghampiri mereka.

Sampai tiba waktunya, di sana Tiara mengenalkan sosok papa dan mamanya Svarga kepada teman arisannya itu.

“Kenalin Jeng Catherine, ini anak dan menantu saya, papa dan mamanya Svarga,” ucap Tiara memperkenalkan dua orang yang kini tengah bergabung bersama mereka.

Di sana Catherine dan Karin sempat saling menatap selama beberapa detik. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka adalah dua orang yang sudah saling mengenal. Catherine sama sekali tidak tahu bahwa Tiara adalah mertua dari Karin. Serta anak laki-laki yang bersama Tiara itu adalah anak dari Aryan dan Karin.

Sebelum Aryan dan Karin datang, Tiara sempat menceritakan soal menantunya kepada Catherine. Dari cerita Tiara, terlihat sekali bahwa wanita itu begitu bangga pada Aryan dan Karin. Anaknya telah menjadi pemimpin untuk melanjutkan perusahaan milik keluarga. Kalau menantunya, Tiara mengatakan bahwa Karin adalah sosok wanita karir yang hebat, mandiri, dan begitu penyayang. Terkejutlah Catherine ketika mengetahui kalau menantu yang begitu dibangga banggakan Tiara adalah Karin, perempuan yang pernah ia pandang sebelah mata, perempuan yang pernah ia minta pergi dari hidup anak lelakinya.

Karin nampak mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Catherine, berusaha membuat semuanya tampak normal. Catherine pun segera membalas uluran itu. Di sana Karin menyebutkan namanya, begitu juga yang akhirnya dilakukan oleh Catherine.

Setelah acara perkenalan mendadak itu selesai, Tiara mengulaskan senyumnya yang tampak bahagia. “Saya udah mau punya cucu dua lho Jeng, menantu saya lagi hamil, usia kehamilannya udah dua bulan sekarang,” ucap Tiara tanpa bermaksud apa pun.

Catherine di sana tampak mengulaskan senyum sebisanya. Tiara yang nampak begitu bahagia dan akrab dengan menantunya, sampai rasanya tidak ada batasan antara anak dan menantu, saat itu juga membuat Catherine lumayan takjub.

Catherine hanya mampu terdiam melihat keluarga kecil yang nampak sangat bahagia itu. Sosok Karin yang sebelumnya ia nilai buruk karena hamil di luar nikah, rupanya adalah sosok yang begitu dikagumi dan disayangi oleh keluarganya.

Catherine berpikir sepertinya bukan hanya Karin yang beruntung memiliki mertua seperti Tiara. Namun mereka saling melengkapi. Tiara sangat beruntung memiliki menantu seperti Karin. Tiara merasa bahwa anaknya dan cucunya berada di tangan yang tepat. Karin adalah istri dan ibu yang sempurna. Sempurna bukan semata hanya dari tampilan luar saja, tapi juga dari hati yang begitu baik dan tulus.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Menantu dan Istri Idaman

Siang itu di sebuah restoran bergaya eropa klasik, diadakan sebuah acara pertemuan untuk arisan para ibu-ibu. Di dalam grup tersebut, masing-masing mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Acara kali ini terlihat cukup unik karena beberapa tidak datang sendiri, ada yang mengajak cucu mereka ke sana. Acara pertama pun dibuka dengan sesi makan-makan, lalu dilanjut dengan sesi undian nama untuk yang mendapatkan arisan bulan ini.

Setiap bulan, nama yang keluar akan mendapat uang sejumlah 120 juta. Jumlah yang bisa dibilang sangat fantastis dengan hanya anggota grup yang berjumlah 8 orang. Hal tersebut tentu didasari oleh para anggota dengan latar belakang penghasilan yang di atas rata-rata. Ada wanita karir yang sukses, ada istri seorang pejabat negara, pilot, serta abdi negara. Bahkan ada yang hanya tinggal duduk di rumah dan uang bulanan dari suami sudah sangat lebih dari cukup untuk menjalani kehidupan yang berkecukupan.

Sekitar pukul 3 sore, acara tersebut akhirnya selesai. Satu persatu ibu-ibu di sana mulai berpamitan untuk pulang. Tampak beberapa mobil mewah yang menjemput mereka dengan seorang supir pribadi atau suami yang berpenampilan rapi dan terkesan elit, rata-rata yang terlihat adalah seperti itu.

“Jeng Tiara, ini siapa? Cucunya ya? Ganteng banget Jeng,” ujar seorang wanita dengan lipstick merah yang terpoles di bibirnya. Masih ada sesi berpamitan dan foto-foto untuk mengabadikan momen di sana, jadi acara tersebut belum sepenuhnya selesai.

“Iya, Jeng. Kenalin, ini cucu pertamaku. Aku culik dulu hari ini dari mama sama papanya,” ucap Tiara sambil dengan lembut meminta cucunya untuk menyalami teman satu grup arisannya itu.

“Ayo Nak, salam dulu sama teman Oma,” tutur Tiara kemudian. Lantas anak lelaki berusia 4 tahun di sampingnya itu segera mengulurkan tangan, menyalami perempuan yangterlihat berusia tidak jauh dari omanya tersebut.

“Emang papa sama mamanya ke mana, Jeng?” tanya perempuan itu lagi setelah sekilas mengusap kepala si anak lelaki yang merupakan cucu temannya.

“Papanya lagi kerja, mamanya juga kebetulan ada kerjaan hari ini,” jelas Tiara yang langsung diangguki oleh temannya.

Weekend begini masih kerja Jeng? Wah keren ya, sukses selalu ya Jeng buat anak dan menantunya.”

“Makasih yaa, Jeng. Ini malah untung mama papanya pada kerja, jadi omanya bisa ngajak cucu. Kebetulan sore ini kerjaannya udah selesai, habis ini katanya mau jemput ke sini,” jelas Tiara lagi.

Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba anak lelaki di samping Tiara itu berujar padanya, “Oma, itu Papa sama Mama udah dateng jemput kita.” Seketika Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Svarga, cucunya. Benar saja, jarak beberapa ratus meter dari posisi mereka, nampak dua sosok yang begitu fameliar berjalan menghampiri mereka.

Sampai tiba waktunya, di sana Tiara mengenalkan sosok papa dan mamanya Svarga kepada teman arisannya itu.

“Kenalin Jeng Catherine, ini anak dan menantu saya, papa dan mamanya Svarga,” ucap Tiara memperkenalkan dua orang yang kini tengah bergabung bersama mereka.

Di sana Catherine dan Karin sempat saling menatap selama beberapa detik. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka adalah dua orang yang sudah saling mengenal. Catherine sama sekali tidak tahu bahwa Tiara adalah mertua dari Karin. Serta anak laki-laki yang bersama Tiara itu adalah anak dari Aryan dan Karin.

Sebelum Aryan dan Karin datang, Tiara sempat menceritakan soal menantunya kepada Catherine. Dari cerita Tiara, terlihat sekali bahwa wanita itu begitu bangga pada Aryan dan Karin. Anaknya telah menjadi pemimpin untuk melanjutkan perusahaan milik keluarga. Kalau menantunya, Tiara mengatakan bahwa Karin adalah sosok wanita karir yang hebat, mandiri, dan begitu penyayang. Terkejutlah Catherine ketika mengetahui kalau menantu yang begitu dibangga banggakan Tiara adalah Karin, perempuan yang pernah ia pandang sebelah mata, perempuan yang pernah ia minta pergi dari hidup anak lelakinya.

Karin nampak mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Catherine, berusaha membuat semuanya tampak normal. Catherine pun segera membalas uluran itu. Di sana Karin menyebutkan namanya, begitu juga yang akhirnya dilakukan oleh Catherine.

Setelah acara perkenalan mendadak itu selesai, Tiara mengulaskan senyumnya yang tampak bahagia. “Saya udah mau punya cucu dua lho Jeng, menantu saya lagi hamil, usia kehamilannya udah dua bulan sekarang,” ucap Tiara tanpa bermaksud apa pun.

Catherine di sana tampak mengulaskan senyum sebisanya. Tiara yang nampak begitu bahagia dan akrab dengan menantunya, sampai rasanya tidak ada batasan antara anak dan menantu, saat itu juga membuat Catherine lumayan takjub.

Catherine hanya mampu terdiam melihat keluarga kecil yang nampak sangat bahagia itu. Sosok Karin yang sebelumnya ia nilai buruk karena hamil di luar nikah, rupanya adalah sosok yang begitu dikagumi dan disayangi oleh keluarganya.

Catherine berpikir sepertinya bukan hanya Karin yang beruntung memiliki mertua seperti Tiara. Namun mereka saling melengkapi. Tiara sangat beruntung memiliki menantu seperti Karin. Tiara merasa bahwa anaknya dan cucunya berada di tangan yang tepat. Karin adalah istri dan ibu yang sempurna. Sempurna bukan semata hanya dari tampilan luar saja, tapi juga dari hati yang begitu baik dan tulus.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Menantu dan Istri Idaman

Siang itu di sebuah restoran bergaya eropa klasik, diadakan sebuah acara pertemuan untuk arisan para ibu-ibu. Di dalam grup tersebut, masing-masing mereka memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Acara kali ini terlihat cukup unik karena beberapa tidak datang sendiri, ada yang mengajak cucu mereka ke sana. Acara pertama pun dibuka dengan sesi makan-makan, lalu dilanjut dengan sesi undian nama untuk yang mendapatkan arisan bulan ini.

Setiap bulan, nama yang keluar akan mendapat uang arisan sejumlah 120 juta. Jumlah yang bisa dibilang sangat fantastis dengan hanya anggota grup yang berjumlah 8 orang. Hal tersebut tentu didasari oleh para anggota dengan latar belakang penghasilan yang di atas rata-rata. Ada wanita karir yang sukses, ada istri seorang pejabat negara, pilot, serta abdi negara. Bahkan ada yang hanya tinggal duduk di rumah dan uang bulanan dari suami sudah sangat lebih dari cukup untuk menjalani hidup yang mewah.

Sekitar pukul 3 sore, acara tersebut akhirnya selesai. Satu persatu ibu-ibu di sana mulai berpamitan untuk pulang. Tampak beberapa mobil mewah yang menjemput mereka dengan seorang supir pribadi atau suami yang berjas rapi, rata-rata yang terlihat adalah seperti itu.

“Jeng Tiara, ini siapa? Cucunya ya? Ganteng banget Jeng,” ujar seorang wanita dengan lipstick merah yang terpoles di bibirnya. Masih ada sesi berpamitan dan foto-foto untuk mengabadikan momen di sana, jadi acara tersebut belum sepenuhnya selesai.

“Kenalin Jeng, ini cucu pertamaku. Aku culik dulu hari ini dari mama sama papanya,” ucap Tiara sambil dengan lembut meminta cucunya untuk menyalami teman satu grup arisannya itu.

“Ayo Nak, salam dulu sama teman Oma,” tutur Tiara kemudian. Lantas anak lelaki berusia 4 tahun di sampingnya itu segera mengulurkan tangan dan menyalami perempuan yang berusia tidak jauh dari omanya tersebut.

“Emang papa sama mamanya ke mana, Jeng?” tanya perempuan itu lagi setelah sekilas mengusap kepala si anak lelaki yang merupakan cucu temannya.

“Papanya lagi kerja, mamanya juga kebetulan ada kerjaan hari ini,” jelas Tiara yang langsung diangguki oleh temannya.

Weekend begini masih kerja Jeng? Wah keren ya, sukses selalu ya Jeng buat anak dan menantunya.”

“Makasih yaa, Jeng. Ini malah untung mama papanya pada kerja, jadi omanya bisa ngajak cucu. Kebetulan sore ini kerjaannya udah selesai, habis ini katanya mau jemput ke sini,” jelas Tiara lagi.

Di tengah situasi tersebut, tiba-tiba anak lelaki di samping Tiara itu berujar padanya, “Oma, itu Papa sama Mama udah dateng jemput kita.” Seketika Tiara menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Svarga, cucunya. Benar saja, jarak beberapa ratus meter dari posisi mereka, nampak dua sosok yang begitu fameliar berjalan menghampiri mereka.

Sampai tiba waktunya, di sana Tiara mengenalkan sosok papa dan mamanya Svarga kepada teman arisannya itu.

“Kenalin Jeng Catherine, ini anak dan menantu saya, papa dan mamanya Svarga,” ucap Tiara memperkenalkan dua orang yang kini tengah bergabung bersama mereka.

Di sana Catherine dan Karin sempat saling menatap selama beberapa detik. Tidak ada yang tahu bahwa sebenarnya mereka adalah dua orang yang sudah saling mengenal. Catherine tidak tahu sama sekali bahwa Tiara adalah mertua dari Karin. Serta anak laki-laki yang bersama Tiara itu adalah anaknya Aryan dan Karin.

Sebelum keduanya datang, Tiara sempat menceritakan soal menantunya kepada Catherine. Dari cerita Tiara, terlihat sekali bahwa wanita itu begitu bangga pada Aryan dan Karin. Anaknya telah menjadi pemimpin untuk melanjutkan perusahaan milik keluarga. Kalau menantunya, Tiara mengatakan bahwa Karin adalah sosok wanita karir yang hebat, mandiri, dan begitu penyayang. Terkejutlah Catherine ketika mengetahui kalau menantu yang begitu dibangga banggakan Tiara barusan adalah Karin, perempuan yang pernah ia pandang sebelah mata, perempuan yang pernah ia minta pergi dari hidup anak lelakinya.

Karin nampak mengulurkan tangannya lebih dulu kepada Catherine, berusaha membuat semuanya tampak normal. Catherine pun segera membalas uluran itu, ia menjabat tangan Karin. Di sana Karin menyebutkan namanya, begitu juga yang akhirnya dilakukan oleh Catherine.

Setelah acara perkenalan mendadak itu selesai, Tiara mengulaskan senyumnya yang tampak bahagia. “Saya udah mau punya cucu dua lho Jeng, menantu saya lagi hamil, usia kehamilannya udah dua bulan sekarang,” ucap Tiara tanpa bermaksud apa pun.

Catherine di sana tampak mengulaskan senyum sebisanya. Tiara yang nampak begitu bahagia dan akrab dengan menantunya, sampai rasanya tidak ada batasan antara anak dan menantu, saat itu juga membuat Catherine takjub.

Catherine hanya mampu terdiam melihat keluarga kecil yang nampak sangat bahagia itu. Sosok Karin yang sebelumnya ia nilai buruk karena hamil di luar nikah, rupanya adalah sosok yang begitu dikagumi dan disayangi oleh keluarganya.

Sepertinya bukan hanya Karin yang beruntung memiliki mertua seperti Tiara. Namun mereka saling melengkapi. Tiara sangat beruntung memiliki menantu seperti Karin. Tiara merasa bahwa anaknya dan cucunya berada di tangan yang tepat. Karin adalah istri dan ibu yang sempurna. Sempurna bukan semata hanya dari tampilan luarnya saja, tapi juga dari hati yang begitu baik dan tulus.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Karin baru saja selesai memastikan Svarga tertidur dengan pulas di kamarnya. Setelah acara di rumah orang tua Aryan, mereka pulang ke rumah saat hari sudah beranjak sore. Kini waktu menunjukkan pukul 5, langit tampak berwarna jingga dan matahari sudah dalam perjalanan pulang ke peradabannya.

Ketika Karin menutup pintu kamar Svarga dan berbalik, ia menemukan Aryan di sana. Aryan menatapnya, lalu meraih tangan Karin dan menggenggamnya ringan. Aryan juga memberikan usapan di punggung tangan Karin, lalu sambil masih menatap iris mata Karin, Aryan berujar, “Sayang, makasih ya buat hari ini. Mungkin ada banyak kata terima kasih lainnya yang akan aku ucapkan ke kamu. Kamu dan Svarga, kalian adalah anugerah terbesar di hidup aku.”

Aryan mengatakan bahwa keluarga kecil mereka, Karin dan Svarga, merupakan wujud dari rasa syukurnya yang paling besar. Wujud paling besar kedua adalah orang tua dan keluarganya yang lain. Jadi akan ada banyak kata terima kasih, entah berapa jumlahnya. Selama Aryan masih hidup di dunia ini, ia akan sukarela mengutarakannya. Terutama kepada Karin, perempuan itu telah begitu banyak membawa berkat ke dalam hidupnya.

Sebenarnya tadi Karin mengira Aryan sudah tidur dan Karin akan menyusul ke kamar. Namun rupanya bayi besar Karin tersebut belum ingin terpejam. Karin memiliki tugas setelah menjadi istri dan seorang ibu. Karin akan memastikan bahwa kedua lelakinya mendapat kasih sayang yang cukup darinya, mendapat makanan enak, tidur dengan pulas, dan hal-hal lainnya sebagai wujud cintanya terhadap mereka.

Kini Aryan dan Karin saling berhadapan, mereka berpelukan ringan di bawah selimut tebal di atas kasur berukuran king size di kamar mereka. Mereka akan melakukan pillow talk sebelum tidur, salah satu kebiasaan yang menyenangkan dalam kehidupan pernikahan.

“Kak, aku bangga banget sama kamu,” ucap Karin. Karin menjeda ucapannya sesaat, ia mengamati paras Aryan dengan seksama, tatapannya terasa begitu dipenuhi oleh afeksi. “Kamu orang yang aku kagumin bukan cuma karena kamu suami dan ayah dari anak aku. Tapi aku kagum sama kamu secara personal. Kamu sosok yang tekun, pintar, dan bijaksana,” ungkap Karin.

Karin lalu mengatakan, ada sebuah kalimat dari lagu yang begitu menggambarkan perasaannya terhadao Aryan. Don’t want to give my heart away to another stranger. Salah satu kalimat dari lagu I’ll Never Love Again yang dinyanyikan oleh Lady Gaga tersebut, dapat begitu menggambarkan perasaan Karin terhadap Aryan. Aryan adalah orang asing terakhir yang membuat Karin rela memberikan seluruh hatinya. Aryan adalah orang yang terakhir yang ingin Karin sentuh, nama terakhir yang ingin selalu Karin ucapkan di dalam hatinya, serta cinta terakhir yang membuat Karin tidak ingin mencintai orang lain lagi.

“Kak,” ucap Karin tiba-tiba.

“Iya, Sayang? Kenapa?” Aryan lantas sedikit menjauhkan dirinya agar bisa sepenuhnya menatap paras wanitanya.

“Kamu pernah ke Maldives sama Kina berdua aja?” tanya Karin kemudian.

“Iya, pernah. Tapi nggak cuma berdua waktu itu,” jawab Aryan.

“Ngapain ke Maldives?”

“Kina ada kerjaan di sana, jadi aku temenin dia.”

“Kan ada Freya, managernya Kina.”

“Dulu kan aku pacarnya Kina.”

“Sekalian liburan berdua dong ya,” ucap Karin.

“Engga gitu, Sayang,” Aryan tergelak begitu saja.

“Nggak mungkin. Satu kamar pasti,” cicit Karin.

“Beneran, engga, Sayang,” Aryan tertawa lagi. Saat tawanya berangsur mereda, Aryan pun berujar lagi, “Aku sama Kina tetap punya boundaries. Kita beda kamar, Kina sekamar sama Freya.”

Karin kemudian hanya mengangguk sekali. Sela beberapa detik kemudian, Karin berujar lagi, “Harusnya aku gitu juga ya sama Rey. Waktu Rey ke Bali lima hari, aku ikut aja. Daripada nahan kangen.”

“Rey di Bali kerja?” tanya Aryan.

“Iya. Waktu itu ada project photoshoot di sana.”

“Kalau waktu itu kamu ikut Rey, emang kamu mau ngapain?”

“Mau cuddle lah malamnya di hotel,” ujar Karin sambil berusaha menahan senyumnya.

Cuddle doang, aku sama Rey juga punya boundaries, Kak,” Karin tertawa melihat ekspresi Aryan yang seketika berubah menjadi masam.

“Aku tau, Sayang. Aku tau kamu perempuan yang terhormat. Kamu nggak akan pernah melakukan itu,” ujar Aryan sambil mengulaskan senyum simpulnya.

“Tapi akhirnya aku melakukan itu sama pacarnya Kina, di Bali,” ujar Karin.

“Aku dulu pacarnya Kina. Tapi sekarang kan aku suami kamu.”

Senyum Karin seketika mengembang mendengarnya, “Takdir nggak terduga banget ya, Kak. Kapan dan di mana kita ketemu sama seseorang yang tepat. Kamu punya masa lalu sama Kina, aku punya masa lalu sama Rey. But at the end, we are together.”

Aryan pun menganggukinya. Aryan yang jadi penasaran akhirnya bertanya pada Karin, “Jadi apa alasan kamu tadi tiba-tiba tanya soal aku dan Kina?”

“Aku habis liat instagram Kina. Udah hampir lima tahun, Kina masih nyimpan kenangannya sama kamu. Terus aku pengen iseng aja nanya ke kamu.”

“Di instagramku udah aku hapus lho, Sayang,” ujar Aryan.

“Iya, aku udah liat, kamu udah hapus semuanya. Aku keliatan kayak istri posesif banget yaa Kak? Maaf ya, kamu pasti jadi nggak nyaman,” ujar Karin akhirnya.

“Nggak papa. Aku malah suka kamu jujur sama apa yang kamu rasain. Selama masih batas wajar, it’s totally oke, Sayang,” tutur Aryan.

“Cowok biasanya nggak suka di posesifin lho.”

“Oh iya? Tapi aku suka lho kamu cemburu kayak tadi. Asal masih dalam batas yang wajar, Sayang.”

“Siapa yang cemburu? Nggak ada, aku nggak cemburu tuh,” kilah Karin.

“Yaudah, iya. Kamu nggak cemburu.”

Jeda dua detik berikutnya, Aryan mendekatkan dirinya pada Karin dan memeluk torso wanitanya dengan erat.

“Kak, aku cemburu,” aku Karin akhirnya.

Aryan seketika tidak bisa menahan tawanya. Karin yang mendapati Aryan tertawa, lantas memanyunkan bibirnya sedikit.

Aryan bilang Karin itu lucu. Apakah perempuan memang seperti ini? Dia yang memulai, tapi akhirnya dia juga yang justru semakin uring-uringan.

“Sayang, gini ya. Dengerin aku,” Aryan menghela satu sisi wajah Karin, meminta perempuan itu menatapnya.

“Kamu nggak perlu pikirin itu. Kina cuma masa lalu aku. Aku udah punya masa sekarang dan menanti masa depan yang bahagia sama kamu. Menanti anak-anak kita lahir, kita mau punya anak banyak, kan Sayang?”

They staring to each other, deeply. Mata Karin nampak berkaca-kaca, perempuan itu akhirnya menganggukkan kepala sembari mengulaskan sebuah senyum simpul.

Aryan pun menjelaskan pada Karin bahwa ia telah meninggalkan seseorang yang pernah ia cintai untuk menemukan sosok yang mencintainya. Karin adalah sosok yang berhasil membuat Aryan seribu kali lipat akhirnya merasakan jatuh cinta yang begitu dalam.

Aryan telah menemukan pasangan dengan cara menemukan dirinya sendiri. Saat seorang lelaki sudah merasa lelah karena terus mencari sosok yang ia inginkan, sampailah pada suatu ketika ada seorang perempuan yang terlihat begitu cantik di mata lelaki tersebut. Perempuan itu nampak cantik dengan caranya sendiri. Dia punya daya pikat yang berbeda, yang akhirnya membuat si lelaki tertarik.

Dari pada mencari orang di luar sana dan berusaha menjadi sosok lelaki yang diinginkan oleh perempuan yang ia sukai, kenapa tidak mencoba mengenal diri sendiri. Hal itu dilakukan dengan tujuan untuk menaikkan value dan potensi yang ada di dalam dirinya. Sosok Karin yang apa adanya, sifat penyayangnya, sikapnya yang lembut, membuat Aryan ingin melakukan hal yang sama untuk Karin. Aryan ingin memberikan versi terbaik dirinya, ia ingin menjadi dirinya sendiri dan itulah wujud terbaik yang sesungguhnya.

Selesai dengan pikirannya, Aryan kembali menatap Karin. Berikutnya Karin bergerak dari posisinya untuk dapat menjangkau Aryan, lalu Karin memberikan kecupan lembut di pipi Aryan.

‘Cuph cuphh cuph’ bunyi menggemaskan itu terdengar kala Karin mengecup pipi Aryan bertubi-tubi .

Cara Karin menunjukkan kasih sayangnya, dapat membuat Aryan merasa begitu dicintai. Aryan berharga karena dirinya memiliki Karin yang mencintainya setulus ini.

“Kak, kamu punyaku,” ucap Karin.

“Iya, emang punya kamu,” balas Aryan sembari mengulaskan senyum tampan nan menggoda khasnya.

Tatapan keduanya lantas bertemu di satu titik yang sama. Aryan dan Karin, mereka adalah dua orang yang telah saling menemukan satu sama lain. Aryan dan Karin memiliki akhir yang bahagia. Even what they through is not easy, mereka punya kemauan untuk melalui itu dan berjuang demi mencapai sesuatu yang lebih baik di masa depan. Aryan menemukan takdir bahagianya. Masa lalu telah mengajarkannya, ia menjalani masa sekarang dengan baik, dan akan menuai yang lebih baik untuk masa depan.

“Kak, kira-kira kamu mau kita punya anak berapa?” tanya Karin.

Aryan sempat berpikir sejenak, ia belum memiliki jawaban itu di dalam kepalanya. “Kalau menurut aku, sampai kita punya enam atau tujuh anak, aku sanggup menghidupi kamu dan anak-anak kita. Tapi keputusannya ada di tangan kamu Sayang, karena kamu yang akan mengandung dan melahirkan mereka. Aku nggak ingin membebani kamu, kebahagiaan kamu tetap yang nomor satu bagi aku.”

Aryan begitu mencintai Karin dan anak mereka. Ada penyesalan kenapa dirinya dulu sempat tidak menginginkan anaknya. Kenyataannya, setelah Svarga lahir, hidup Aryan berubah menjadi jauh lebih baik. Orang di sekitar Aryan yang positif tentunya menghasilkan energi positif juga untuk dirinya. Aryan mendapatkan sumber cintanya yang tulus menyayanginya, yakni Karin dan Svarga. Aryan loves them both so much. He takes them to his number one priority.

Karin akhirnya menyetujui itu. Karin begitu takjub akan pemikiran Aryan. Karin mencintai Aryan dengan semua yang ada pada diri lelaki itu.

Bagi Aryan, jika seseorang mencari pasangan yang sempurna, maka orang itu akan terus mencari. Cinta itu hadirnya sederhana, hanya saja seringkali pikiran manusia yang menjadi terlalu rumit. Manusia ingin terus mencari yang sempurna, padahal tanpa disadari, cinta tidak selamanya tentang kesempurnaan. Justru sebaliknya, cintalah yang akhirnya bisa membuat seseorang merasa begitu sempurna.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Aryan 1

Aryan 2

Dua minggu yang lalu, Aryan telah berhasil mendapatkan gelar Magister Manajemen Bisnisnya. Akhirnya bersama Karin dan Svarga, mereka bertiga kembali ke Indonesia. Hari pemilihan calon CEO sekaligus Presiden Direktur yang baru pun semakin dekat. CEO yang sebelumnya menjabat, yakni papanya sendiri, Aryo Bimo Brodjohujodyo, telah melewati batas golden years-nya dan akan digantikan oleh pemimpin yang baru. Sudah 25 tahun Aryo mengemban tugas untuk perusahaan Harapan Jaya Group.

Saat ini tepat di usia Aryan yang ke-25, lelaki itu berhasil menjadi salah satu kandidat untuk meneruskan perusahaan milik keluarga. Aryan dapat sampai ditahap ini tentunya berkat dukungan orang-orang tersayangnya. Istri, anak, orang tua, adik, sahabat, serta keluarga besarnya yang selalu mendukung dan percaya bahwa ia bisa melakukannya.

Hari ini merupakan hari pemilihan CEO dan akan dilakukan melalui voting pemungutan suara. Tanpa sepengetahuan Aryan, rupanya Karin tengah berada di rumah orang tuanya. Karin di sana bersama mama mertuanya, adik iparnya, dan para asisten rumah tangga yang membantu mereka mempersiapkan surprise untuk Aryan. Tiara, mama mertuanya, sudah mendapat kabar bahwa hasil pemilihannya telah keluar.

Penthouse super besar dan mewah itu kini telah selesai didekorasi sedemikian rupa untuk menyambut pulangnya Aryan. Semuanya telah diatur, mereka hanya tinggal menunggu Aryan dan Aryo kembali dari kantor. Sebenarnya tadi pagi Aryan berniat mengajak Karin dan Svarga untuk menghadiri acara pengambilan suara tersebut. Namun karena satu dan lain hal, akhirnya Karin tetap di rumah dan Aryan sudah berangkat pagi-pagi sekali.

Karin menatap sebuah banner berwarna gold bertuliskan “CONGRATULATIONS to Aryan Sakha Brodjohujodyo. You are now a CEO of Harapan Jaya Group. Sincerely, your beloved family”

Karin pun mengulaskan senyum bahagianya. Hari ini bukan hanya suaminya yang akan mendapat sebuah kejutan. Namun ada kabar gembira yang telah Karin persiapkan untuk diberi tahu kepada seluruh keluarga. Dalam hatinya, Karin berharap agar keluarganya dapat selalu diberkati seperti ini, selalu bisa memiliki momen bersama di sela kesibukan masing-masing. Hal yang rasanya begitu sederhana, tapi terkadang sebagian orang melupakannya begitu saja.

***

“Kamu mampir dulu ke penthouse. Mama katanya mau ketemu sebentar,” ucap Aryo begitu dirinya dan Aryan sampai di parkiran khusus penghuni. Aryan memang berniat mengantar papanya baru setelah itu ia akan pulang.

Aryan pada akhirnya mengiyakan permintaan tersebut. Meskipun ia ingin sekali Karin dan Svarga juga ada di tengah-tengah keluarganya saat ini, tapi Aryan pikir mungkin itu bisa terjadi di lain kesempatan. Papanya sempat bertanya alasan mengapa Aryan urung membawa istri dan anaknya ke acara pemilihan. Aryan pun menjelaskan bahwa Karin sedang kurang fit kondisinya, jadi lebih baik hari ini Aryan tidak mengajak istri dan anaknya.

Aryan dan papanya melangkah bersisian menuju unit penthouse di mana merupakan kediaman keluarganya. Begitu sampai di sana, ketika Aryan akan membuka pintu ganda besar di hadapannya, pintu itu sudah terbuka lebih dulu. Aryan menatap papanya dengan tatapan bertanya, yang kemudian hanya dibalas dengan kedikan bahu.

Demi menjawab rasa penasarannya, Aryan pun segera membuka pintunya lebih lebar. Aryan langsung masuk ke dalam penthouse dan ternyata yang didapatinya adalah seluruh lampu disana telah padam. Aryan akhirnya melangkah ke dalam lebih jauh, ia ingin segera mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.

Begitu kaki jenjangnya sampai di bagian ruang tamu, saat itu juga seluruh lampu di tempat itu menyala satu persatu. Saat sepenuhnya lampu-lampu telah hidup, Aryan menangkap kehadiran orang-orang tercintanya di sana. Ada mamanya, adiknya, opa dan omanya, serta yang paling tidak disangkanya adalah eksistensi istri dan anaknya.

Aryan menatap sebuah banner berwarna gold yang digantung di langit-langit yang bertuliskan ucapan selamat dengan namanya di sana, membuat benang-benang di kepala Aryan akhirnya saling terhubung. Setelah beberapa detik terpaku di tempatnya, Aryan segera melangkahkan kakinya ke sana. Pertama kali Aryan menghampiri Karin, ia mendekap tubuh istrinya dan membisikkan ucapan terima kasih. Tidak lupa dengan jagoan kecil mereka, Aryan mengajak anaknya melakukan tos persahabatan antara ayah dan anak dan hanya mereka yang tahu cara melakukannya. Selanjutnya satu persatu Aryan memeluk keluarganya, mamanya, adiknya, serta opa dan omanya.

Terakhir tentu saja papanya. Begitu menjabat tangan besar itu, pandangan Aryan mendadak menjadi berkaca-kaca. Papanya menatap Aryan dengan tatapan bangga. Aryan sering mendapat tatapan itu dari orang tuanya sejak dulu dan beberapa orang terdekatnya, bahkan orang asing yang sama sekali tidak pernah singgah di hidupnya. Namun kali ini tatapan papanya terasa begitu dalam dan penuh makna. Aryan hampir saja menitikkan air matanya begitu papanya bergerak memeluknya.

Aryan merasakan papanya memberi dua kali tepukan di punggungnya sembari mengatakan sesuatu. “Papa bangga sekali sama kamu. Kamu sudah berhasil membuktikan kalau kamu pantas. Kamu anak yang baik, kamu cucu yang membanggakan. Kamu kakak yang hebat buat adik kamu, kamu suami yang penyayang dan papa yang hebat untuk anak kamu.”

“Makasih, Pah. Makasih untuk semuanya,” balas Aryan dengan suaranya yang sedikit bergetar.

Pelukan antara Aryan dan papanya akhirnya terurai. Aryan kembali menghadap keluarganya yang lain dan mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya. Tanpa dukungan mereka, rasanya mustahil Aryan bisa berdiri di sini dan mendapatkan jabatan yang akan memiliki tanggung jawab besar kedepannya.

Ketika mereka hendak mengambil foto bersama untuk mengabadikan momen, Aryan yang berada di samping Karin dan tengah merengkuh mesra pinggang istrinya, tanpa aba-aba segera memangkas jarak mereka dan memberikan sebuah kecupan di bibir Karin.

Karin yang terkejut seketika menjauhkan dirinya dari Aryan, membuat pagutan mereka secara spontan terlepas. Wajah Karin nampak memerah. Bagaimana tidak, Aryan melakukannya di depan seluruh keluarganya. Kejadian itu sontak mengundang perhatian semua orang di sana, tidak terkecuali anak mereka yang seolah nampak mengerti apa yang barusan dilakukan orang tuanya.

“Oma, liat deh, Papa kiss Mama!” seru Svarga dengan lancarnya, mengadukan kejadian yang barusan terjadi.

“Svarga mau dapet kiss juga dari Papa dan Mama?” tanya Aryan berusaha mencairkan suasana yang tengah berubah canggung itu. Karin lantas mengulaskan senyum manisnya juga ke arah anaknya, berusaha membuat anak lelakinya lupa akan yang dilakukan Aryan barusan.

Akhirnya Svarga mendapat kecupan di kedua pipi dari kedua orang tuanya. Saat momen itu terjadi, seorang fotografer yang hari ini ditugaskan khusus untuk mengabadikan perayaan hari ini, segera mengambil potret manis keluarga kecil itu.

Usai sesi tersebut, Aryan masih dengan tampang lempeng dan senyum jahilnya, mengatakan pada keluarganya bahwa ia kelepasan. “Aryan tadi kelepasan Mah, Pah. Oma Opa tadi liat juga ya? Maaf ya semuanya,” ucap Aryan.

“Nay, kamu liat juga?” tambah Aryan lagi sambil melempar tatapan ke adiknya.

“Koko emang gitu Oma, Opa. Suka kelepasan,” adu Nayna yang seketika membuat Aryan melebarkan mata ke arah adiknya.

“Nggak papa kalau sesekali, itu wajar. Itu artinya tanda cinta,” celetuk Oma.

“Nah, bener tuh yang dibilang Oma. Oma emang paling the best,” ucap Aryan.

“Ohiya, sebelum kita foto dan makan-makan, Aryan sama Karin mau menyampaikan suatu hal,” ujar Aryan lagi.

Aryan mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu lantas menampakkan senyum penuh maknanya. Karin tidak kepikiran soal apa yang ingin Aryan sampaikan. Apakah mungkin itu sama halnya dengan yang ingin Karin sampaikan juga sebelumnya.

Karin mendekat pada Aryan, lalu ia berbisik. “Kak, kamu mau bilang apa emangnya?”

“Itu lho, Sayang. Masa kamu nggak bisa nebak sih,” ujar Aryan ikut berbisik.

Semakin dibuat penasaran oleh aksi dua sejoli itu, akhirnya Tiara selaku yang paling ingin tahu soal dan seperti mempunyai firasat, lekas meminta Aryan dan Karin untuk segera menyampaikannya.

“Iya, Mama. Sabar dong, Aryan sama Karin akan sampaikan. Jadi gini,” Aryan menjeda ucapannya, lelaki itu bergerak melingkarkan lengannya di pinggang Karin. Kemudian satu tangan Aryan yang lain mengarah ke perut Karin dan mendarat di sana. Aryan mengusap perut istrinya yang terlihat rata itu. Sambil menatap satu persatu anggota keluarganya, Aryan pun berujar, “Puji tuhan, Aryan sama Karin dikasih kesempatan lagi buat punya anak. Usianya baru 2 minggu, dan sebenarnya hari ini kondisi Karin lagi kurang fit. Makanya Aryan pikir surprise-nya berhasil banget. Aryan sama sekali nggak tau kalau akan ada acara kayak gini. Makasih ya semuanya,” tutur Aryan. Kejutannya benar-benar berhasil. Aryan tidak menduga kalau istrinya bekerja sama dengan keluarganya untuk mewujudkan hari ini. Di tengah kondisi Karin yang sedang hamil muda, Aryan sama sekali tidak terpikirkan bahwa istrinya ikut merencanakan perayaan spesial untuknya.

Aryan lantas mengalihkan tatapannya pada Karin, lelaki itu mengulaskan senyum hangatnya. Karin langsung membalasnya tidak kalah hangat.

“Mama udah firasat lho tadi. Karin auranya keliatan beda, Mama kan juga pernah hamil dulu, jadi tau,” cetus Tiara kemudian.

“Ohiya? Emangnya beda gimana?” tanya Aryan.

“Beda dong, Aryan. Keliatan perempuan yang lagi mengandung, auranya akan terpancar. Selamat ya Karin, Aryan. Oma doain lancar semuanya, ibu dan bayinya sehat sampai lahiran nanti,” ujar omanya.

“Iya, Oma, Makasih ya,” ucap Karin sambil mengarahkan tatapannya ke arah Felicia.

“Kalau usia kandungannya baru dua minggu, kemungkinan pas di Aussie berarti ya?” cetus Tiara tiba-tiba. Seketika tatapan semua orang di sana mengarah padanya.

Aryan dan Karin pun saling melempar pandangan, lalu Aryan menyeletuk dengan tampang lempengnya. “Iya, kok Mama tau sih.”

“Mamamu kan lahir lebih dulu dari kamu dan udah hidup lebih lama,” ucap Felicia tampak gemas. Sontak semua yang di sana tertawa mendapati kejadian tersebut.

“Sebenarnya gini, Karin yang minta mau hamil lagi. Jadi Aryan iyain, gampang kan.” Seketika itu juga Karin yang ada di samping Aryan merasakan pipinya menghangat mendengar ucapan suaminya.

Di sana akhirnya hanya para lelaki yang tergelak. Aryan, papanya, dan opanya tidak lagi dapat menahan tawa. Papanya bahkan memuji Aryan dan mengatakan bahwa anaknya begitu hebat.

“Kok hebat sih, kamu nih,” ujar Tiara sambil menyenggol lengan suaminya.

“Hebat dong, Sayang,” Aryo menatap balik Tiara, lalu ia mengulaskan senyumnya. “Artinya bibitnya Aryan dan Karin bagus dan subur. Jadi cepat berhasil.”

Tiara akhirnya memelototi Aryo dan segera mencubit lengan suaminya itu. Namun pada akhirnya, hal itu diiyakan juga oleh Aryan dan Karin. Sebelumnya mereka sudah konsultasi dan dokter mengatakan bahwa memang sel milik Aryan maupun Karin kondisinya sangatlah bagus. Mereka juga melakukannya di waktu yang tepat, jadi pembuahan tersebut dapat langsung menghasilkan calon bayi di rahim Karin.

Tiara lantas geleng-geleng kepala. Akhirnya Karin dan Tiara pun setuju bahwa bapak dengan anak memang mirip sifatnya. Dua pria berbeda generasi tersebut, Aryan dan Aryo, bukan hanya terlihat mirip dari segi penampilan mereka hari ini. Namun kelakuan mereka juga sebelas dua belas. Dari segi wajah, Aryan memang banyak mengambil milik Tiara. Namun dari caranya menatap, gayanya ketika berbicara, serta sifatnya, lelaki itu mewarisi delapan puluh persen gen dari papanya.

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷

Saat Pabrik Kembali Berproduksi

Karin ingat perkataannya pada Aryan saat ia melepas lelaki itu pergi ke Aussie dua tahun yang lalu. Karin mengatakan bahwa sejatinya kasih sayang dan cinta tidak selalu tentang raga yang bersama. Selama dua orang sejoli memiliki kepercayaan tersebut di dalam hati mereka, memiliki sebuah komitmen yang kuat, maka cinta tidak akan memudar karena terkikis oleh sebuah jarak.

Justru rasa rindu yang begitu menggebu tersebut yang kini sukses menciptakan gelora-gelora cinta di hati Karin. Karin menatap sebuah pintu putih di hadapannya. Sebuah rumah sewa dengan pintu rumah bernomor 87 itu akhirnya terbuka, setelah Karin menekan bel yang ada di samping daun pintu.

“Papa!” Seruan gembira itu seketika terdengar. Nampak sosok lelaki jangkung tengah berdiri di hadapan Karin dan Svarga.

Detik itu juga, Aryan terlihat terkejut mendapati kehadiran Karin dan bocah lelaki yang nampak berbeda sejak terakhir mereka bertemu. Begitu Aryan melihat Svarga tengah menengadahkan wajahnya untuk menatapnya dan merentangkan tangan tanda meminta digendong, Aryan segera membawa anak lelakinya ke dalam gendongannya.

“Papa, we missed you so much,” Svarga mengucapkannya dengan begitu lancar. Seketika mata Aryan berkaca-kaca, anaknya sudah sehebat ini dalam berbicara.

Satu tangan Aryan yang bebas lantas meraih Karin untuk bergabung ke pelukannya. “Papa juga kangen banget sama Svarga dan Mama,” ujar aryan.

Tinggi tubuh Karin yang hanya sebatas bahu Aryan, membuat perempuan itu terlihat mungil saat berada di dekapan lelakinya. Karin lantas menengadahkan wajahnya untuk menatap Aryan, pandangan mereka bertemu, dan itu rasanya sudah cukup membayar semua rindunya selama dua tahun belakangan.

“Anak kita hebat banget. Mama ngajarin apa sih selama Papa nggak ada?” tanya Aryan.

“Aku ajarin bahasa Inggris, membaca, berhitung. Habis ini gantian kamu yang ajarin ya,” ucap Karin sembari menyunggingkan senyum simpulnya. Aryan lekas menganggukinya dan mengajak Svarga bertosan ala lelaki.

“Mama, are you crying?” celetuk Svarga saat melihat mata Karin nampak berkaca-kaca. Seolah dapat merasakan yang tengah Karin rasakan, Svarga berusaha menangkan mamanya itu.

It’s oke, Sayang. Mama ngga papa,” tutur Karin lembut.

“Mama kenapa tadi nangis?” tanya Svarga yang masih penasaran. Karin tahu bahwa anaknya itu pintar dan memiliki rasa ingin tahu yang tinggi.

“Papa tau kenapa Mama barusan nangis,” ujar Aryan yang seketika membuat perhatian Svarga teralih padanya.

Svarga lantas menoleh pada Aryan dan bertanya, “Emangnya kenapa Pah, Mama kok nangis?”

“Mama was cried because she was happy. Svarga, Papa, dan Mama udah ketemu lagi sekarang, makanya mama *happy. Are you happy too to met me?” tanya Aryan.

Yes! I’m happy Papa. Mama pasti happy banget udah bisa ketemu Papa, soalnya Mama kangen Papa setiap hari,” celotek Svarga.

“Emang Mama bilang apa, Nak?” tanya Aryan berusaha menggali informasi dari anaknya itu.

“Svarga, Mama kan nggak bilang apa-apa,” ucap Karin sembari mengulaskan senyum penuh arti ke arah anaknya.

Namun anak kecil tetaplah pada hakikatnya yang kelewat berbicara jujur. Sambil menampakkan senyum tampannya, bocah laki-laki berusia empat tahun itu akhirnya berujar, “Waktu Mama kangen Papa, pasti Mama nangis. Terus Mama bilang, Svarga, Mama kangen sama Papa. Terus Mama peluk Svarga deh, soalnya kata Mama Svarga mirip Papa.”

“Mana ada Mama kayak gitu,” elak Karin begitu Svarga selesai bercerita. Dua laki-laki beda generasi itu malah mengulaskan senyum penuh arti ke arah Karin. Berikutnya Aryan kembali menarik Karin mendekat saat perempuan itu berusaha menjauh. Aryan lalu menyematkan sebuah kecupan halus di kening Karin. “Bener gitu Sayang, yang dibilang Svarga?” tanya Aryan pada Karin.

Akhirnya dengan perlahan Karin pun mengangguk. Ia tidak bisa mengelak lagi, anak kecil adalah makhluk tersuci suci yang tidak akan bisa berbohong. Jadi pastilah Aryan langsung mempercayai omongan anaknya itu.

Masih sambil mendekap dua cinta di hidupnya, Aryan lantas berujar lagi pada Karin, “Sekarang udah nggak kangen lagi, kan? Kamu bisa peluk Svarga versi dewasanya sepuas yang kamu mau. Gimana?”

***

Karin sebelumnya memang telah mengabari Aryan bahwa dirinya dan Svarga akan sampai besok di Australia. Namun secara tiba-tiba dan tanpa sepengetahuannya, Aryan mendapati istri dan anaknya berada di depan rumahnya. Katakan bagaimana Aryan tidak terkejut? Rasanya melebihi seperti memenangkan sebuah lotre, meskipun dalam hidupnya Aryan belum pernah mendapat hadiah yang biasa bernilai besar tersebut.

Satu jam yang lalu, setelah bermain bersama Aryan, Svarga akhirnya tertidur karena kelelahan. Momen antara anak dan ayah yang baru saja Aryan dapatkan tersebut, rasanya dapat begitu membuat hatinya menghangat. Kini di kamar satunya, Aryan dan Karin tersisa, mereka sedang melepas rindu yang sedikit masih terasa.

Kini Karin dapat kembali merasakan hangatnya berada di pelukan tubuh besar dan kekar Aryan. Seperti yang Aryan katakan, Karin bebas memilikinya. Aryan tidak akan kemana-mana, ia berjanji bahwa mereka tidak akan terpisahkan lagi. Aryan merindukan bagaimana cara Karin mendekap torsonya, bagaimana perempuan itu memberi usapan di pipinya, hingga aroma parfum vanilla bercampur floral segar yang dapat Aryan hirup ketika ia memeluk tubuh Karin.

“Sayang, anak kita sekarang udah pinter banget ya. Pemikirannya, tutur katanya. Dia anak yang hebat, karena dia punya Mama sehebat kamu,” ujar Aryan.

Karin nampak mengulaskan senyum kecilnya, lalu mereka saling bertukar pandang. Posisi Karin kini berada di dalam dekapan lengan kekar Aryan. Satu lengan Aryan dijadikan oleh Karinsebagai bantalan, sehingga dengan posisi menyamping, Aryan dapat memandangi wajah perempuannya begitu lekat.

“Anak kita juga punya Papa sehebat kamu. Setiap hari dia selalu nanyain kamu, kadang dia sendiri yang minta sama aku buat telfon atau videocall Papanya.”

Aryan lantas mengangguk seraya mengulaskan sebuah senyum. Aryan lalu mengatakan pada Karin bahwa dirinya ingin sekali menjadi papa yang bisa menjadi contoh yang baik untuk anak-anak mereka kelak.

“Anak-anak kita nanti?” tanya Karin sambil masih setia menatap Aryan dengan lekat.

“Iya, Sayang. Anak-anak kita nanti.”

Karin nampak berpikir sejenak. Dua detik setelahnya, Aryan mendapati Karin menahan senyuman dengan melengkungkan kedua belah bibirnya ke dalam.

“Tapi kan anaknya belum ada, baru satu,” ucap Karin dengan suara pelannya.

“Yaa … kita bisa bikin lagi dong, Sayang. Aku sih siap kapan aja kamu mau.” Aryan mengucapkan kalimatnya seringan kapas yang terbang terbawa angin.

“Kak,” celetuk Karin kemudian.

“Iya, Sayang?” tanya Aryan seraya mengusapkan satu tangannya di sisi wajah Karin, itu terasa hangat ketika permukaan kulit tangan Aryan menyentuh kulit pipinya.

“Kamu mau nggak kalau kita punya anak lagi dalam waktu dekat?” tanya Karin. Tatapannya begitu dalam dan mendamba ketika menatap Aryan. Hingga rasanya Aryan dibuat hampir ingin gila, persis saat pertama kali mereka melakukan hubungan itu setelah resmi memutuskan bersama.

“Mau dong, Sayang. Kita bisa program untuk itu. Is it okey, kalau kamu hamil lagi? Pekerjaan dan cita-cita kamu, nanti gimana?”

Aryan selalu menanyakannya pada Karin terlebih dulu, lelaki itu selalu menempatkan Karin di prioritas yang pertama. Aryan tahu bahwa Karin mempunyai cita-cita untuk karir modelnya. Masih banyak yang Karin ingin capai di dalam hidupnya dan Aryan akan mendukung perempuan itu untuk mewujudkannya. Kalau Aryan sendiri, ia ingin mereka punya anak lagi, bahkan dalam waktu dekat. Namun ini bukan hanya tentang dirinya, pernikahan berjalan karena adanya dua orang. Jadi, aryan ingin benar-benar memastikan bahwa Karin siap, baik secara fisik maupun mental. Karin yang akan mengandung dan melahirkan, maka keputusan finalnya ada di tangan Karin.

Perlahan tapi pasti, akhirnya Karin mengangguk setuju. Karin mengatakan bahwa ia ingin hamil lagi, ia ingin mengandung anaknya Aryan. Saat Karin mengutarakan jawabannya tersebut, Aryan pun dibuat membuncah dan rongga dadanya terasa berdesir hangat.

Aryan lantas menatap Karin dengan tatapan haru bercampur memuja. Aryan tenggelam ke dalam mata bulat dengan iris legam yang tampak sempurna itu. Dari hanya sebuah tatapan, mereka tahu bahwa mereka sama-sama menginginkannya. Karin lantas balas tatapan Aryan, ia memberikan afeksinya yang besar. Saat seorang lelaki tahu cara mencintai dan menghargai perempuannya, maka ia akan mendapatkan balasan cinta yang lebih besar dari yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Karin, can I have you only for me, for this night?” tanya Aryan lembut. Cara Aryan menatap Karin dengan tatapan penuh memuja dan mendamba seperti ini, membuat Karin tersadar bahwa dirinya tidak akan bisa mencintai lelaki selain Aryan sedalam ini. Kalau bukan Aryan, maka Karin tidak menginginkannya.

“Kak, I’m all yours,” ucap Karin, nadanya yang terdengar begitu tulus.

Aryan mendapati netra Karin memindai menatapnya. Setiap celah paras Aryan, di sanalah iris Karin tertuju. Kemudian seraya mengulaskan senyum lembutnya, Karin kembali berucap, “If it’s not you, then I don’t want to.”

***

Pada hakikatnya, cinta adalah tentang memberi dan menerima. Jika kamu ingin mendapatkan seseorang yang tulus mencintaimu, maka lakukanlah yang terbaik, agar Tuhan yakin bahwa kamu pantas untuk mendapatkannya. Kamu tidak perlu menjadi sosok yang sempurna,kamu hanya perlu melakukan yang terbaik, memberikan versi terbaik yang ada di dalam dirimu.

Aryan teringat saat empat tahun yang lalu, saat di mana dirinya bertemu dengan Karin. Aryan dan Karin hanyalah dua orang asing yang memiliki tembok pembatas yang begitu tinggi. Sampai akhirnya mereka sama-sama berusaha menghancurkan tembok tersebut.

Hingga pernikahan keduanya yang sudah menginjak usia 5 tahun, Karin tetaplah perempuan yang sama. Karin adalah perempuan yang memiliki hati yang begitu tulus dan baik. Karin adalah perempuan yang menghormatinya karena Aryan adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Karin. Semenyakitkan apa pun posisi Karin saat itu, tidak sama sekali menggoyahkan hatinya untuk melangkah pergi dari hidup Aryan. Padahal waktu itu Karin bisa memilih pergi dan tidak peduli ketika Aryan hancur. Namun Karin justru datang padanya mengobati luka itu, membalutnya rasa sakit tersebut dengan cinta yang begitu tulus.

Pemikiran monolog Aryan tiba-tiba terpecah begitu terdengar suara pintu kamar yang terbuka. Dari celah pintu yang kecil itu, Aryan dapat melihat sosok Karin yang terlihat begitu menawan. Aryan segera bergerak dari posisinya dan membuka pintu itu lebih lebar.

Begitu sepenuhnya melihat sosok Karin di hadapannya, selama beberapa detik Aryan hanya mampu terdiam di tempatnya. Karin begitu mempesona dengan balutan gaun tidur berbahan sutranya. Aryan sekilas mengalihkan tatapannya dari Karin. Shit, Aryan mengumpat dalam hati. Mengapa sesuatu sudah menegang di bawah sana, padahal belum ada yang terjadi.

“Kak,” ujar Karin pelan, menyadarkan keterdiaman Aryan.

Seketika Aryan kembali menatap ke arah Karin. “Iya Sayang?” tanya Aryan seraya menampakkan senyum canggungnya.

“Kamu kenapa?” Karin nampak heran dengan ekspresi Aryan itu.

Aryan segera menjawab Karin dengan sebuah gelengan kecil. Ketika netra mereka akhirnya bertemu di satu titik dan saling mengunci, Aryan segera meraih lengan Karin dan meletakkannya di satu sisi pundak miliknya. Kemudian Karin merasakan pinggangnya dihela mendekat ke arah Aryan, hingga tubuh keduanya kini hampir saja menempel satu sama lain.

Do you like to dance with me, Sweety?” tanya Aryan dan ia menunggu Karin menjawabnya.

Karin nampak berpikir selama beberapa detik. Alis Karin menyatu, detik berikutnya ia berujar, “It sounds nice tho. But … I think, mostly women don’t like question.”

Karin menahan senyumannya begitu melihat kerutan muncul di kening Aryan. Karin sengaja melakukannya. Ia ingin mendapati berbagai ekspresi lucu lelakinya dan hanya boleh diperlihatkan di depannya saja, khusus untuknya.

Oke, we will see. Uhm ... I want to have a dance with you this night, would you like to?”

It’s still a question,” ucap Karin.

Alright, alright.” Kemudian Aryan berdeham dua kali dan sambil masih menatap Karin dengan tatapan penuh arti, ia kembali berujar, “Hai, Sweety. You look really wonderful this night. I adore you so much. I will give you the best of me, not a perfectness. Because when I’m with you, I’m already feel perfected. So please, have a dance with me.”

Detik berikutnya, Karin nampak mengulaskan senyum manisnya. Kemudian menggunakan satu tangannya, Karin mengusap sisi wajah Aryan dengan lembut. “Sure. I want to dance with you this night,” ucap Karin sambil kemudian meraih tangan Aryan, lalu Karin menyelipkan jemarinya di antara jemari besar milik prianya.

couple dancing close up

***

Udara di luar rumah yang saat ini terasa cukup sejuk, membuat beberapa orang memilih menghabiskan waktu akhir pekan mereka untuk berada di dalam rumah. Ini hampir mencapai akhir tahun, di mana di negara Australia sedang mengalami musim dingin. Salju turun cukup deras hingga memenuhi jalanana, dan rasanya heater di dalam rumah hampir gagal menjalankan tugasnya. Namun itu menjadi cukup bagus dan kini semuanya terasa sempurna untuk Aryan dan Karin. Cuaca telah menyempurnakan suasana romantis yang Aryan dan Karin telah ciptakan sebelumnya.

Di dalam kamar bernuansa putih itu, setelah usai berdansa ditemani sebuah lagu klasik yang sebelumnya telah di setel oleh Aryan, keduanya kini tengah saling mencumbu bibir satu sama lain.

Gif kiss close up

Karin masih mengenakan gaun sutranya, Aryan bilang lebih baik begitu untuk sementara. Lelaki itu tidak ingin Karin nanti kedinginan. Padahal sesuatu dari dalam diri Aryan telah bergejolak, otaknya memberi seruan agar ia segera menggalkan gaun tersebut dari tubuh Karin.

Ketika beberapa saat mereka mengurai cumbuan untuk saling mengambil napas, netra Karin yang sebelumnya menatap netra Aryan, kini perlahan-lahan turun ke arah bibir penuh pria itu. Karin memperhatikan belah bibir itu lekat, lalu ia berujar dengan lembut, “I missed this so bad.” Karin masih di sana, mengagumi bentuk ciptaan yang maha kuasa, matanya lantas nampak sedikit berkaca-kaca. “Dua tahun rasanya lama banget ya,” ujar Karin pelan.

Karin lalu menengadahkan wajahnya untuk kembali mempertemukan netranya dengan netra Aryan. Mereka sama-sama menunggu momen ini terjadi, melalui penantian demi penantian yang rasanya begitu panjang. Ada rindu yang terasa menyiksa, ada hangat tubuh dan aroma khas yang begitu didambakan.

Sebelum kembali melakukannya, Aryan memberikan usapan lembut di pipi Karin menggunakan ibu jarinya. Detik berikutnya, dengan sedikit menundukkan kepala, Aryan akhirnya bergerak mencumbu halus belah bibir Karin. Wanitanya menyambutnya dengan begitu mesra, rasanya ada rindu yang coba Karin salurkan melalui bibirnya yang kini membalas pagutan bibir Aryan.

Aryan pun memperdalam cumbuannya, seperti menikmati mie kuah favoritnya, begitu lah kira-kira gaya yang Aryan gunakan untuk memuaskan wanitanya. Ketika Aryan bergerak mempercepat temponya, ia dapat merasakan hembusan napas Karin dan mendengar lenguhan indah dari bibirnya, dan itu berhasil mengalirkan gelora-gelora asmara di sekujur tubuh Aryan.

Peluh nampak membanjiri pelipis Karin, selama mereka masih bercumbu, Aryan pun berusaha membantu Karin untuk mengusapnya. Dari pelipis hingga turun ke sisi wajah, rahang, dan kini tangan Aryan berhenti di pinggang ramping Karin. Aryan memberikan usapan sensual di sana, lelaki itu melakukannya dengan begitu apik. Karin juga memberikan respon yang baik, ia menahan tangan Aryan yang tengah berada di bagian belakangnya, mengisyaratkan lelaki itu untuk mengusap dua kembar miliknya di sana.

“Kak …” ucap Karin dengan napasnya yang terengah-engah.

“Iya, Sayang?” balas Aryan, ia menghentikan ciumannya, lalu sedikit menjauhkan wajahnya dari Karin untuk dapat menatapnya.

“Gerah banget, Kak,” Karin masih berusaha mengatur napasnya yang naik turun. Karin lantas mengalungkan kedua lengannya di leher Aryan, perempuan itu sedikit berjinjit agar pandangannya dapat lurus sejajar dengan Aryan.

Just open it, my gown,” ucap Karin lagi.

You sure?” tanya Aryan ingin memastikan.

Karin segera menganggukkan kepalanya. Berikutnya Aryan langsung bergerak mendekap tubuh Karin dengan kedua lengannya. Karin merasakan tangan Aryan sudah beranjak ke pundaknya, Aryan perlahan-lahan menurunkan gaun sutra itu dari sana, hingga bahu Karin kini tampak polos. Aryan menghujani kecupan-kecupan kecil di pundak Karin, tapi seperti yang sudah-sudah, itu tidak akan cukup di satu area. Aryan pun melancarkan kecupannya ke tulang selangka Karin dan menjelajahi hampir semua bagian leher wanitanya. Saat Aryan semakin dalam mencumbu, Karin memberikan usapan lembut di area belakang kepalanya, jemari lentik Karin menyelinap di antara helai halus surai legam milik Aryan.

You’re scent smell so good, Sweety,” ucap Aryan saat pria itu akhirnya selesai dengan kegiatannya. Aryan masih terengah di sana, rasanya seperti habis melakukan workout lebih dari 20 menit. Hampir semua tubuh bagian atas Karin telah Aryan jamah, gaun merah, tentu sudah tanggal dan terpental entah kemana.

Netra Aryan kini dengan jelas disuguhi tubuh bak jam pasir milik Karin. Hanya tersisa sebuah bra renda hitam dan underwear putih yang menutupi istrinya. Surai panjang Karin yang tergerai sepanjang punggungnya, menambah pesona menawan perempuan itu. Anggun dan cantik, Aryan hampir gila karena peringai Karina saat ini.

Damn it, you’re look freaking pretty, Sweety,” ujar Aryan dengan suaranya yang terdengar sedikit serak.

Karin lantas mengarahkan telunjuknya dan berhenti tepat di depan bibir Aryan, “Language, Baby,” ucap Karin seraya menampilkan sebuah senyum cantik di wajahnya.

Okey, I’m sorry Sweety. Aku tadi kelepasan.”

Karin tertawa pelan sekilas. “Oke then, it's oke. I think uhmm ... I like that, when you’re cursing.”

Really?” tanya Aryan sambil tersenyum, tapi ia masih tidak percaya kalau Karin justru menyukainya.

Yes. You look really hot while you’re doing it.”

You want more?” tanya Aryan.

Karin mengangguk sekali, “Hu-um, just do it when we’re doing it,” Karin menatap Aryan lekat, lalu ia kembali berujar, “And only for me*.” Karin menyukainya, ketika Aryan melakukannya. Umpatan yang justru terdengar manis saat Aryan mengucapkannya, serta gayanya ketika berbicara, membuat Karin ingin mendengarnya lagi dan lagi. Hanya ketika mereka melakukannya, hanya ketika mereka sama-sama dimabuk asmara. Mereka telah begitu jatuh satu sama lain, jatuh yang indah untuk yang kesekian kalinya.

***

Karin mengucapkan terima kasih kepada Aryan atas segalanya. Perlakuan pria itu padanya, selalu dapat membuat Karin merasa begitu dicintai. Aryan bersedia menunggu Karin menemui puncak pelepasannya. Mayoritas pada beberapa wanita, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menemui ujung sensasi kenikmatan saat bercinta, dibandingkan dengan pria yang biasanya bisa lebih cepat.

“Sayang, udah?” tanya Aryan sambil memperhatikan Karin yang berada di bawahnya. Napas Karin berhembus naik turun. Kemudian dengan perlahan, Karin menjawab dengan sebuah anggukan. Karin telah menemui pelepasannya, setelah mereka melakukannya beberapa kali, dari malam hingga kini waktu menunjukkan pukul 2 dini hari.

“Kak, you are so amazing. I adore you, truly,” ucap Karin dengan suara pelan. Karin memejamkan matanya secara otomatis, ketika merasakan cairan hangat kini tengah memenuhi miliknya di bawah sana.

Saat Karin kembali membuka matanya, Aryan menatapnya lekat dan pria itu berujar, “You are more amazing, Sweety. Thank you for everything that you gave to me.” Aryan memberikan dua kali usapan lembut di kepala Karin.

Karin hanya menatap ke binar indah di mata Aryan ketika lelaki itu bergerak sekali lagi di atasnya. Gerakan indah pinggul Aryan saat mereka melakukannya, selalu membuat Karin terpana.

Begitu Aryan memperdalam miliknya pada milik Karin, Aryan memberi kecupan penuh cinta di bibir Karin. Karin bercucuran air mata, ketika sepenuhnya dirinya telah dipenuhi oleh Aryan. Karin tidak lagi memejamkan matanya, ia ingin melihat mata Aryan. Karin ingin merasakan pancaran cinta yang lelaki itu berikan untuknya.

“Aku lepas ya, Sayang?” Aryan bertanya lagi pada Karin.

“Iya, tapi pelan-pelan ya,” jawab Karin.

Aryan lantas menganggukinya. Setelah menyemburkan cairannya di surganya dengan cara menghentaknya sekali lagi, sebisa mungkin, Aryan pun melepaskannya dengan lembut. Selama proses itu terjadi, suara Karin yang sangat seksi mengelukan namanya terdengar memenuhi indera pendengaran Aryan. Karin mengelukan nama Aryan, bahkan hingga beberapa kali dan diiringi oleh dua buah umpatan.

Babe, language,” ucap Aryan sambil tertawa kecil.

Karin segera mengatupkan bibirnya. Saat Aryan bergerak mengambil selimut untuk mereka berdua, Karin mengatakan bahwa dirinya juga kelepasan mengucapkannya begitu saja. Berikutnya Aryan justru mendapat tatapan memicing dari Karin.

“Kamu bilangnya tadi mau langsug dilepas. Malah tambah cepet,” omel Karin.

Aryan mau tidak mau akhirnya tergelak. Wajah istrinya terlihat menggemaskan saat ini. “Kamu gemes banget sih kalau lagi ngomel gini,” ujar Aryan.

“Apaan tuh maksudnya tadi. Kenapa nggak langsung dilepas?” Karin masih menggerutu.

Bukannya dapat jawaban, Karin justru merasakan tubuhnya langsung didekap oleh Aryan. Perlahan tapi pasti, Karin balas melingkarkan kedua lengannya di tubuh besar Aryan.

“Tadi masih sisa sedikit, Sayang. Siapa tau di antara yang terakhir itu ada calon anak kita, kan sayang kalau dibuang gitu aja,” ujar Aryan.

Detik berikutnya, Karin bergerak mengurai pelukan mereka. Mata bulat Karin kini semakin terlihat besar kala menatap Aryan.

“Kamu nih ya, iseng banget sih. Kebiasaan,” ujar Karin.

“Tapi kamu suka, kan?” tanya Aryan dengan nada jenakanya.

“Suka, tapi sakit. Besok kalau aku nggak bisa jalan gimana.”

“Kalau besok kamu nggak bisa jalan, kamu istirahat aja di kasur. I will service you, my queen. Kamu mau apa? Aku turutin semuanya buat kamu.”

Karin mana bisa lama-lama mempertahankan rasa marahnya pada Aryan kalau begini caranya. Tingkah suaminya itu terlalu manis untuk dilewatkan. Karin tidak sanggup kalau Aryan sudah mengeluarkan jurus-jurus cintanya seperti tadi.

“Dimaafin nggak akunya?” tanya Aryan, suaranya terdengar lembut.

“Iya, aku maafin,” ucap Karin akhirnya.

“Maafin aku ya Sayang, janji deh nggak kayak gitu lagi. Okey?”

Karin mengangguk sekali. Kemudian tanpa Aryan sangka, Karin lebih dulu bergerak memangkas jarak mereka untuk mendekap tubuh Aryan. Karin memberikan usapan sayang di punggung polos Aryan. Saat keduanya hampir saja terlelap, rupanya Karin kembali membuka matanya.

“Kak, aku mau dipangku sama kamu,” celetuk Karin.

Aryan sedikit terkejut akan permintaan Karin itu. Namun ia telah berjanji untuk menuruti semua keinginan Karin. Maka akhirnya mereka bergerak untuk merubah posisi. Masih dengan tubuh yang polos, Aryan duduk dan menyandarkan punggungnya ke header kasur. Kemudian Karin mengambil posisi di atas pangkuan Aryan, Karin melingkarkan lengannya di pundak Aryan dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar lelaki itu.

Katanya Karin ingin tidur dengan posisi mereka seperti ini. Karin sudah mulai mengantuk ketika sepuluh menit berlalu, tapi sebelum sempat memejamkan matanya, Karin mendongak lagi kala mendengar perkataan Aryan.

For the first time I heared you cursing, it is so cute, Sweety,” ujar Aryan.

It’s because of you,” balas Karin. Matanya terpejam, tapi jiwa Karin masih di sana.

Can I hear it again?” tanya Aryan.

Karin lantas bertanya dengan satu alisnya yang terangkat, “Hadiahnya apa kalau aku lakuin?”

“Hmm … hadiahnya satu paket ciuman dari Aryan Sakha. Gimana?”

Oke, deal. Tapi kasih hadiahnya dulu, nanti baru aku lakuin,” ucap Karin.

Aryan lantas mengangguk setuju. Kemudian dengan sedikit memiringkan kepala, Aryan mulai bergerak mengulum bibir Karin. Selama itu terjadi dan semakin jauh mereka bercumbu, Karin yang semula membaringkan tubuhnya pada dada bidang Aryan, kini telah menegakkan punggungnya. Masih duduk di atas pangkuannya Aryan, Karin pun membalas lumatan demi lumatan yang Aryan berikan padanya.

couple kissing sit down

“Akhh …” lenguh Karin sesaat setelah Aryan melancarkan lidahnya ke dalam rongga mulut Karin. Karin merasakann ini begitu nikmat, hingga tubuhnya memberi respon cepat, menggeliat mengikuti irama penyatuan tersebut.

Aryan mendekatp tubuh Karin untuk masuk kedalam pelukan hangatnya. Peluh mereka yang saling bertukar, merdunya lenguhan Karin, semuanya terasa begitu sempurna. Tidak hanya itu, Aryan tidak pernah lupa memberikan service luar biasa pada Karin. Jemari Aryan menari di punggung polos Karin, memberikan sensasi menakjubkan untuk wanitanya.

Shit.” Umpatan Karin akhirnya lolos begitu saja dari mulutnya. Mereka pun menjauh sesaat, Karin menatap Aryan dengan pandangan penuh cintanya, lalu tidak lama dari itu, Karin menangkup kedua sisi wajah Aryan menggunakan kedua tangannya. Sebelum kembali mencumbu milik prianya, Karin pun berujar, “I want you more, again, and always.”

Karin menjelajahi wajah Aryan, lalu Karin memberi ciuman di bibir lelakinya. Di sela-sela kegiatan tersebut, Karin tanpa sadar mengumpat lagi. “Fuck,” ujar Karin dengan napasnya yang tidak beraturan. Saat Aryan menatapnya sambil menampilkan senyum manisnya, Karin sadar bahwa ia sungguh dibuat gila karenanya.

Let’s do it again before we get sleep,” ujar Karin kemudian.

Aryan segera mengangguk, lalu netanya menjejalajahi paras cantik Karin. Sebelum hendak kembali mencumbu bibir manis Karin, Aryan mengatakan sesuatu. “Sayang, kemungkinan kamu bisa langsung hamil lho kalau gini.”

It’s good then,” balas Karin sambil menampakkan senyum kecilnya. Karin masih menatap Aryan lekat, ia mengatakan bahwa ada informasi yang perlu Aryan ketahui. “Kalau perhitungan aku nggak salah, ini hari ke sepuluh setelah hari pertama aku datang bulan.”

Aryan nampak mencerna ucapan Karin itu. Sebagai seorang suami, Aryan lumayan cukup tahu tentang cara menghitung siklus masa subur seorang perempuan. Perempuan biasanya menghitung masa subur mereka dari hari pertama menstruasi terakhirnya. 10-17 hari sejak hari tersebut, maka itulah yang dikatakan masa subur bagi seorang wanita.

Kedua kelopak mata Aryan lantas melebar. Detik berikutnya, mereka bersamaan mengulaskan sebuah senyuman.

“Sayang, kamu mau berapa babak lagi? We can do it until dawn if you want it too,” ujar Aryan.

“Kamunya kuat emang? Nggak capek?” tanya Karin sambil memicingkan matanya.

Aryan selalu punya jawaban di kepalanya. Lantas sambil menyunggingkan senyum menggoda, lelaki berparas orientel itu berujar, “Kamu bisa buktiin sendiri, seberapa kuat suami kamu, Sayang. You want to prove it?”

***

Terima kasih telah membaca Paradise Between Us 🌸

Berikan dukungan untuk Paradise Between Us supaya bisa lebih baik lagi kedepannya yaa. Support apapun dari kalian sangat berarti untuk author dan karyanya 💕

Semoga kamu enjoy sama ceritanya yaa, see you at next part!! 🍷